Anda di halaman 1dari 47

Nurmala

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional merupakan salah satu upaya
untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Sejalan dengan hal tersebut kenyataan yang ada pada masa sekarang
ini pertumbuhan ekonomi di negara kita yang berkembang cukup pesat, menyebabkan minat
masyarakat untuk berusaha dan terlibat dalam pembangunan ekonomi juga mulai nampak. Hal ini
ditandai dengan banyak munculnya perusahaan. Dalam dunia usaha suatu perusahaan tidak selalu
berjalan dengan baik dan seringkali keadaan keuangannya sudah sedemikian rupa, sehingga
perusahaan tersebut tidak mampu membayar utang-utangnya. Hal demikian dapat pula terjadi
terhadap perorangan yang melakukan suatu usaha (Victor M. Situmorang dan Hendri Soekarso,
1994:1).
Suatu perusahaan dalam rangka pengembangan usahanya dimungkinkan mempunyai utang.
Perusahaan yang mempunyai utang bukanlah merupakan suatu hal yang buruk, asalkan perusahaan
itu masih dapat membayar kembali. Perusahaan yang seperti ini biasanya disebut sebagai
perusahaan yang solvabel, artinya perusahaan yang mampu membayar utangnya. Sebaliknya, jika
suatu perusahaan yang sudah tidak mampu membayar utang-utangnya lagi disebut insolvable,
artinya tidak mampu membayar. Keadaan yang demikian ini banyak muncul pelanggaran terhadap
kewajiban pembayaran utang kepada Kreditor-kreditornya. Disinilah diperlukan peranan hukum
kepailitan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut baik melalui proses penundaan kewajiban
pembayaran utang oleh pihak Debitor kepada Kreditor maupun dengan jalan Debitor dipailitkan.
Di Indonesia, secara formal hukum kepailitan sudah ada dengan adanya Undang-Undang khusus
yaitu Faillisement Verordening (FV) Staatblad 1905 Nomor 217 jis Tahun 1906 Nomor 348, yang
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Kepailitan (FV) yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang
dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan yang pada tahun 2004 diubah lagi
dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang yang selanjutnya disebut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, sebagai salah
satu sarana hukum yang menjadi landasan bagi penyelesaian utang-piutang.
Lembaga kepailitan pada dasarnya merupakan suatu lembaga yang memberikan solusi berupa
penundaan kewajiban pembayaran utang terhadap para pihak apabila Debitor dalam keadaan
berhenti membayar atau tidak mampu membayar. Lembaga kepailitan pada dasarnya mempunyai
dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai berikut:
1. kepailitan adalah sebagai lembaga pemberi jaminan kepada Kreditor bahwa Debitor tidak akan
berbuat curang dan tetap bertanggung jawab terhadap semua utang-utangnya kepada Kreditor.
2. kepailitan sebagai lembaga yang juga memberikan perlindungan kepada Debitor terhadap
kemungkinan eksekusi massal oleh Kreditor-kreditornya. Jadi keberadaan ketentuan tentang
kepailitan baik sebagai lembaga atau sebagai upaya hukum khusus merupakan satu rangkaian
konsep yang taat asas sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata (Sri Rejeki
Hartono dalam Imran Nating, 2005:9).

Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata merupakan perwujudan adanya jaminan kepastian pembayaran
atas transaksi-transaksi yang telah diadakan oleh Debitor terhadap Kreditor-Kreditornya dengan
kedudukan yang proposional. Hubungan kedua pasal tersebut yaitu, kekayaan Debitor (Pasal 1131
KUHPerdata) merupakan jaminan bersama bagi semua Kreditornya ( Pasal 1132 KUHPerdata) secara
proporsional, kecuali Kreditor dengan hak mendahului ( preferen ) seperti Kreditor pemegang hak
kebendaan.
Tujuan utama kepailitan adalah untuk melakukan pembagian antara para Kreditor atas kekayaan
Debitor oleh Kurator (Mosgan Situmorang dalam Imran Nating, 2005:9). Kepailitan tersebut
dimaksudkan untuk menghindari terjadinya sitaan terpisah atau eksekusi terpisah oleh Kreditor dan
menggantikannya dengan mengadakan sitaan bersama sehingga kekayaan Debitor dapat dibagikan
kepada semua Kreditor sesuai dengan hak masing-masing karena kepailitan ada untuk menjamin
para Kreditor memperoleh hak-haknya atas harta Debitor Pailit.
Seorang Debitor yang berhutang kepada beberapa Kreditor dan diketahui cedera janji, maka para
Kreditor akan berusaha siapa yang paling cepat mendapatkan pembayaran paling banyak dengan
berbagai cara, baik yang sesuai dengan peraturan yang berlaku, maupun dengan cara-cara yang
mendekati tindak pidana. Dengan demikian jelas mengapa sejak berabad-abad telah ada peraturan
yang mengatur tentang kepailitan, karena dirasakan perlu untuk mengatur hak-hak dan kewajiban
Debitor yang tidak dapat membayar utang-utangnya serta hak-hak dan kewajiban Kreditor.
Menghindari hal yang telah diuraikan diatas, dan untuk menghentikan sitaan terpisah dan/atau
eksekusi terpisah oleh para Kreditor masing-masing dan menggantikannya dengan mengadakan
sitaan bersama sehingga kekayaan Debitor dapat dibagikan kepada semua Kreditor sesuai dengan
hak masing-masing pada saat putusan kepailitan diucapkan, diletakkan sitaan konservatoir secara
umum pada seluruh kekayaan kekayaan Debitor yang termasuk harta pailit, sedangkan pada saat
insolvensi dimulai sitaan ini bersifat sama dengan sitaan eksekutoir. Kekayaan Debitor yang tidak
masuk ke dalam harta pailit sebagaimana diatur dalam Pasal 20 Faillitssement Verordening atau
Undang-Undang Kepailitan yang diumumkan dalam staatblad 1905 No. 217 juncto Staatblad 1906
No. 348 sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun
1998 yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1998
Tentang Kepailitan dan pada tahun 2004 diubah dengan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tidak
disita.
Uraian diatas menjelaskan bahwa dimungkinkan adanya suatu tindakan Debitor yang meniadakan
arti Pasal 1131 KUHPerdata, yaitu Debitor yang merasa bahwa ia akan dinyatakan pailit melakukan
tindakan hukum untuk memindahkan hak atas sebagian kekayaannya atau secara lain merugikan
Kreditornya. Menyikapi hal ini Undang-Undang telah mengatur bagaimana cara untuk melindungi
Kreditor dari tindakan hukum Debitor yang merugikan Kreditor. Istilah yang dimaksud sebagai
perlindungan Kreditor adalah actio pauliana yang diatur dalam Pasal 1341 KUHPerdata, sedangkan
peraturan umum yang mengatur actio pauliana untuk kepailitan terdapat dalam Pasal 41 sampai
dengan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat istilah actio pauliana dalam
kepailitan dan membahasnya dalam bentuk skripsi. Karena dapat diprediksikan semakin banyak dan
semakin rumit kasus yang dihadapi dalam proses kepailitan, maka penulis mengangkat berbagai
permasalahan yang timbul di atas menjadi sebuah karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul :
MAKNA ACTIO PAULIANA SEBAGAI PERLINDUNGAN HUKUM KREDITOR DALAM KEPAILITAN.

Rumusan Masalah
1. Apakah latar belakang timbulnya actio pauliana dalam kepailitan?
2. Apakah ada perbedaan makna actio pauliana dalam KUHPerdata dan Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang?
3. Apakah akibat hukum actio pauliana dalam kepailitan?

Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui dan menganalisa latar belakang yang menimbulkan actio pauliana dalam
kepailitan;
2. Untuk mengkaji dan menganalisa perbedaan makna actio pauliana dalam KUHPerdata dan
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang;
3. Untuk mengetahui dan menganalisa akibat hukum actio pauliana dalam kepailitan.

Metode Penelitian
Metodologi merupakan cara kerja menemukan atau memperoleh atau menjalankan suatu kegiatan
untuk memperoleh hasil yang konkrit. Menggunakan suatu metode dalam melakukan suatu
penelitian merupakan ciri khas dari ilmu untuk mendapatkan suatu kebenaran hukum. Penggunaan
metode dalam penulisan suatu karya tulis ilmiah dapat digunakan untuk menggali, mengolah dan
merumuskan bahan-bahan hukum yang diperoleh sehingga mendapat kesimpulan yang sesuai
dengan kebenaran ilmiah untuk menjawab isu hukum yang dihadapi. Akhirnya dapat ditarik suatu
kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode yang tepat diharapkan dapat
memberikan alur pemikiran secara berurutan dalam usaha pencapaian pengkajian. Oleh karena itu,
suatu metode digunakan agar dalam skripsi ini dapat mendekati suatu kesempurnaan yang bersifat
sistematik dalam penulisannya. Adapun metode yang digunakan adalah sebagai berikut :

Pendekatan Masalah

a. Pendekatan perundang-undangan (statute approach) dilakukan dengan menelaah semua Undang-


Undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Adapun
peraturan perundang-undangan yang digunakan untuk memecahkan isu hukum yang timbul adalah
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang dan beberapa Undang-Undang atau peraturan lainnya yang terkait;
b. Pendekatan konseptual (conceptual approach) dilakukan dengan beranjak dari pandangan-
pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum. Dengan tujuan untuk
menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan
asas-asas hukum yang relevan dengan isu hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 137).

Bahan Hukum
Bahan hukum merupakan sarana dari suatu penulisan yang digunakan untuk memecahkan
permasalahan yang ada sekaligus memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogyanya. Bahan
hukum yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah:
a. Bahan hukum primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas.
Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah
dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2005:
141). Adapun yang termasuk sebagai bahan hukum primer yang akan dipergunakan dalam mengkaji
setiap permasalahan dalam penulisan skripsi ini yaitu: Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata
b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang diperoleh dari semua
publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi ini meliputi
literatur-literatur ilmiah, buku-buku, serta surat kabar yang bertujuan untuk mempelajari isi dari
pokok permasalahan yang dibahas (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 141).
c. Bahan non hukum
Bahan non hukum sebagai penunjang dari sumber bahan hukum primer dan sekunder, bahan hukum
yang memberikan petunjuk maupun memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan
sekunder, yaitu bahan yang diambil dari internet, kamus, serta wawancara (Peter Mahmud Marzuki,
2005: 165).

Metode Pengumpulan Bahan Hukum


Penulis menjawab permasalahan dengan mengumpulkan dan menganalisa bahan hukum primer,
bahan hukum sekunder dan bahan non hukum yang berhubungan dengan penulisan ini.

Analisa Bahan Hukum


Analisa bahan hukum merupakan sebuah proses yang digunakan untuk menemukan jawaban dari
pokok permasalahan yang ada. Langkah-langkah yang digunakan adalah : (1) mengidentifikasi fakta
hukum dan mengeliminir hal-hal yang tidak relevan untuk menetapkan isu hukum yang hendak
dipecahkan; (2) pengumpulan bahan hukum yang sekiranya dipandang mempunyai relevansi dan
juga bahan-bahan non-hukum; (3) melakukan telaah atas isu hukum yang diajukan berdasarkan
bahan yang telah dikumpulkan; (4) menarik kesimpulan dalam bentuk argumentasi yang menjawab
isu hukum; dan (5) memberikan preskripsi berdasarkan argumentasi yang telah dibangun di dalam
kesimpulan (Peter Mahmud Marzuki, 2005:171).
Metode yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah metode deduktif yaitu dengan cara
pengambilan kesimpulan dari pembahasan yang bersifat umum menjadi kesimpulan yang bersifat
khusus, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan yaitu menjawab rumusan masalah yang
ada.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perjanjian
2.1.1 Pengertian Perjanjian
Perjanjian diatur dalam Buku Ketiga KUHPerdata tentang Perikatan, karena perjanjian merupakan
salah satu sumber perikatan disamping Undang-Undang (Pasal 1233 KUHPerdata). Dalam Pasal 1313
KUHPerdata merumuskan bahwa Persetujuan adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih, akan menimbulkan perikatan dan menimbulkan
hak dan kewajinban bagi kedua belah pihak yang membuat perjanjian tersebut. Definisi
persetujuan dalam Pasal 1313 KUHPerdata tersebut hanya mengenai perjanjian sepihak dimana satu
orang mengikatkan dirinya pada orang lain tetapi orang lain tidak harus mengikatkan dirinya pada
pihak pertama. Beberapa ahli hukum memberikan definisi tentang perikatan, yaitu:
1. Prof. Subekti (dalam Hasanudin Rahman, 1998:135) memiliki pandangan berbeda: Perjanjian
adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu
saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal, dari peristiwa tersebut munculah hubungan hukum
antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan.

2. Menurut Abdul Kadir Muhammad (1996: 78) Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana
dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melakukan suatu hal dalam lapangan hukum
harta kekayaan,
3. Menurut R. Wirjono Prodjodikoro (2000:12) merumuskan lebih lengkap lagi, yaitu: Perjanjian
merupakan suatu hubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak, dalam mana satu pihak
berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau tidak melakukan suatu hal, sedang
pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.

4. Prof. Dr Sri Soedewi Masychoen Sofwan (dalam A. Qirom Syamsudin Meliala, 1985: 7) menyatakan
bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dimana seseorang atau lebih mengikatkan dirinya
dengan seseorang lain atau lebih.
Suatu perjanjian pada umumnya dapat dibuat secara bebas tidak terikat pada suatu bentuk tertentu.
Perjanjian dapat dibuat secara lisan maupun tertulis, namun untuk pengamanan dan kepastian
hukum, perjanjian lebih sering dilakukan secara tertulis baik dengan akta otentik maupun dengan
akta dibawah tangan. Dalam bentuk apapun itu, suatu perjanjian yang dibuat harus memenuhi
syarat sahnya suatu perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
Bahwa para pihak yang mengikatkan diri dalam suatu perjanjian harus memiliki kemauan yang bebas
untuk membuat suatu perjanjian dengan pihak lain dan kemauan tersebut dituangkan dalam kata
sepakat diantara para pihak mengenai bentuk dan isi pokok dari perjanjian yang dibuatnya. Dengan
kata lain bahwa para pihak yang mengikatkan dirinya dalam suatu perikatan harus bebas dari
paksaan, penipuan, maupun tekanan dari pihak manapun.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;
Para pihak yang membuat suatu perjanjian haruslah orang yang cakap untuk melakukan suatu
perbuatan hukum. Menurut ketentuan Pasal 1330 KUHPerdata seseorang dinyatakan tidak cakap
melakukan perbuatan hukum diantaranya adalah : orang yang belum dewasa, mereka yang berada
dibawah pengampuan dan ketentuan pasal 330 KUHPerdata menjelaskan tentang arti belum dewasa
dengan kriteria : belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun, tidak lebih dahulu telah kawin,
berada dibawah kekuasaan orang tua dan berada dibawah perwalian. Selain hal tersebut, ketentuan
yang terdapat pada Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
menjelaskan bahwa: Penghadap harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. paling sedikit berumur
18 (delapan belas) tahun atau telah menikah; dan b. cakap melakukan perbuatan hukum.
3. Suatu hal tertentu;
Dalam membuat suatu perjanjian, haruslah terdapat suatu hal tertentu yang menjadi objek atau
pokok perjanjian dan hal tersebut harus dapat ditentukan dengan jelas.
4. Suatu sebab yang halal.
Undang-Undang menghendaki adanya suatu sebab yang diperbolehkan, sebab dibuatnya suatu
perjanjian tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang, ketertiban umum dan kesusilaan.
Syarat pertama dan kedua diatas dinamakan syarat-syarat subjektif. Salah satu dari kedua syarat
tersebut tidak dapat dipenuhi maka perjanjian dapat dibatalkan oleh salah satu pihak yang tidak
cakap. Dapat dibatalkan oleh salah satu pihak artinya salah satu pihak dapat melakukan pembatalan.
Pihak yang membatalkan disini adalah pihak yang tidak cakap menurut hukum.
Syarat ketiga dan keempat disebut syarat-syarat objektif, yakni jika salah satu dari kedua syarat tidak
dipenuhi, maka perjanjian menjadi batal demi hukum (null and void). Batal demi hukum artinya
perjanjian yang dibuat para pihak tersebut sejak awal dianggap tidak pernah ada. Jadi para pihak
tidak terikat dengan perjanjian itu sehingga masing-masing pihak tidak dapat menuntut pemenuhan
perjanjian karena perjanjian sebagai dasar hukum tidak ada sejak semula.
Syarat-syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata jika telah
terpenuhi, maka berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata, perjanjian telah mempunyai kekuatan hukum
yang sama dengan kekuatan Undang-Undang. Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata juga
menegaskan bahwa semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi
mereka yang membuatnya.
Suatu perjanjian dinyatakan sah selain harus memenuhi syarat sahnya perjanjian (Pasal 1320 KUH
Perdata) juga tidak boleh bertentangan dengan asas-asas sebagai berikut:
1. Asas konsensualisme, yaitu kesepakatan bagi mereka yang mengikatkan diri;
2. Asas kebebasan berkontrak yaitu bahwa para pihak bebas menentukan akan membuat perjanjian
dengan siapa, bebas menentukan isi dan bentuk perjanjian, bebas menentukan jangka waktu
perjanjian;
3. Asas pacta sunt servanda, yaitu bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-
Undang bagi para pihak yang mengikatkan diri;
4. Asas itikad baik, yaitu suatu perjanjian yang dibuat harus dilandasi dengan itikad baik diantara
para pihak.
2.1.2 Pengertian Wanprestasi
Debitor di dalam suatu perikatan, berkewajiban untuk memenuhi prestasi. Apabila Debitor tidak
melaksanakan kewajiban tersebut, maka Debitor dianggap melakukan wanprestasi (ingkar janji).
Suatu perjanjian utang piutang, seperti pada perjanjian lainnya, biasanya diperinci hal-hal yang
apabila dilakukan oleh salah satu pihak, maka terjadilah wanprestasi dan menyebabkan pihak lain
dapat memutuskan perjanjian tersebut.
Menurut Subekti (1979:44) bahwa wanprestasi adalah :
Apabila si berutang tidak melakukan apa yang diperjanjikan maka ia ingkar janji. Atau ia melanggar
perjanjian bila ia melakukan atau berbuat sesuatu yang tidak dilaksanakan. Perkataan wanprestasi
berasal dari Bahasa Belanda yang berarti prestasi.

Menurut M. Yahya Harahap (1986:60) bahwa wanprestasi adalah :


Pelaksanaan kewajiban yang tidak layak. Kalau begitu seorang Debitor disebut berada dalam
keadaan wanprestasi apabila ia telah lalai melaksanakan prestasinya, sehingga terlambat dari jadwal
waktu yang telah ditentukan atau dalam melaksanakan prestasi tidak menentukan sepatutnya atau
selayaknya.

Perbedaan wanprestasi seperti tersebut diatas, menimbulkan suatu permasalahan apakah Debitor
yang tidak memenuhi prestasi tepat pada waktunya harus dianggap terlambat atau tidak memenuhi
prestasi sama sekali. Sebab apabila pada saat jatuh tempo si Kreditor belum memenuhi prestasi
sama sekali, wujudnya adalah sama saja kalau Kreditor tidak memenuhi prestasi sama sekali.
Pembatasan antara terlambat dan tidak memenuhi prestasi sama sekali tersebut adalah sebagai
berikut, dalam hal Debitor tidak mampu memenuhi prestasinya maka dikatakan Debitor tidak
memenuhi prestasi sama sekali. Sedangkan apabila prestasi Debitor masih dapat diharapkan
pemenuhannya, maka digolongkan kedalam terlambat memenuhi prestasi. Apabila Debitor
memenuhi prestasi secara tidak baik, ia dianggap terlambat memenuhi prestasi jika prestasinya
masih dapat diperbaiki dan apabila telah tidak dapat diperbaiki lagi, dianggap tidak memenuhi
prestasi sama sekali.

Debitor dalam hal melakukan wanprestasi (ingkar janji), maka Kreditor dapat menuntut:
1. Pemenuhan perikatan;
2. Pemenuhan perikatan dan ganti rugi;
3. Ganti rugi;
4. Pembatalan dan ganti rugi (Subekti, 2001:148)
Menentukan kapan saat terjadinya suatu wanprestasi, KUHPerdata memberikan pemecahannya
yaitu dengan penetapan lalai. Yang dimaksud dengan penetapan lalai adalah pesan Kreditor kepada
Debitor kapan selambat-lambatnya ia ( Kreditor) mengharapkan pemenuhan prestasinya, jika tidak
dipenuhi ia telah dinyatakan lalai atau wanprestasi (Pasal 1238 KUHPerdata). Dengan jalan ini
Kreditor menentukan dengan pasti pada saat kapankah Debitor dalam keadaan wanprestasi. Sejak
saat itu pula Debitor harus menanggung segala akibat yang merugikan Kreditor karena diakibatkan
tidak dipenuhinya prestasi.

2.2 Pengertian Perlindungan Hukum


Menurut Prof. Dr. Satjipto Raharjo, S.H., bahwa hukum melindungi kepentingan seseorang dengan
cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingan
tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur, dalam arti ditentukan keluasan dan
kedalamannya. Kekuasaan yang demikian itu yang disebut sebagai hak. Setiap kekuasaan dalam
masyarakat itu bisa disebut sebagai hak, melainkan kekuasaan tertentu saja, yaitu yang diberikan
oleh hukum kepada seseorang (Hermansyah, 2007:131).
Secara filosofi perlindungan hukum bermuara pada suatu bentuk kepastian hukum yang diberikan
oleh Pemerintah. Kepastian hukum oleh aliran yuridis dogmatis dipandang sebagai ilmu hukum
positif. Tujuan hukum dititik beratkan pada segi kepastian hukumnya, yang cenderung melihat
hukum sebagai suatu yang mandiri. Penganut pemikiran ini, hukum tidak lain hanya kumpulan
aturan yang tidak lain dari sekedar menjamin terwujudnya kepastian hukum. Adanya perlindungan
hukum dalam bentuk suatu kepastian hukum dapat dilihat dari beberapa aspek dasar, yaitu :
a. Aspek tujuan hukum, aliran normatif dogmatik beranggapan bahwa pada asas tujuan hukum
adalah semata-mata untuk menciptakan kepastian hukum (Ahmad Ali, 1999:84).
b. Aspek perlindungan dalam penegakan hukum, dalam hal ini hukum berfungsi sebagai
perlindungan kepentingan manusia, melalui penegakan hukum inilah hukum itu menjadi kenyataan
(Sudikno Mertokusumo, 1986:130).

2.3 Kepailitan
2.3.1 Pengertian Kepailitan
Secara etimologi, istilah kepailitan berasal dari kata pailit. Apabila ditelusuri lebih mendasar istilah
pailit dijumpai dalam perbendaharaan Bahasa Belanda, Prancis, Latin, dan Inggris dengan istilah yang
berbeda-beda. Dalam Bahasa Belanda, pailit berasal dari istilah failliet yang mempunyai arti ganda,
yaitu sebagai kata benda dan kata sifat. Dalam Bahasa Prancis, pailit berasal dari kata faillite yang
berarti pemogokan atau kemacetan pembayaran, sedangkan orang yang mogok atau berhenti
membayar dalam Bahasa Prancis dinamakan lefaili. Kata kerja failir berarti gagal. Dalam Bahasa
Inggris dikenal to fail dengan arti yang sama dengan kata failure. Di negara-negara berbahasa
Inggris, pengertian pailit dan kepailitan diwakili dengan kata-kata bankrupt dan bankruptcy
(Victor M. Situmorang dan Hendri Soekarso,1994: 18-19 dan Zainal Asikin dalam Rachmadi
Usman,2004:11).
Pengertian Kepailitan menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dalam Pasal 1 angka 1
menjelaskan bahwa kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang
pengurusannya dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Menurut Henry Campbell Black dalam Munir Fuady (2005:8), menyatakan apakah sebenarnya yang
dimaksud dengan kepailitan? Arti yang orisinil dari bangkrut atau pailit adalah seorang pedagang
yang bersembunyi atau melakukan tindakan tertentu yang cenderung untuk mengelabuhi pihak
Kreditornya. Dalam ensiklopedi ekonomi keuangan perdagangan disebutkan bahwa yang
dimaksudkan pailit atau bangkrut, antara lain adalah seseorang yang oleh suatu Pengadilan
dinyatakan bankrupt, dan yang aktivanya atau warisannya telah diperuntukkan untuk membayar
utang-utangnya (Abdurrahman. A dalam Munir Fuady,2005:8)
Umumnya orang sering menyatakan bahwa yang dimaksud pailit atau bangkrut itu adalah suatu
sitaan umum atas seluruh harta Debitor dan para Kreditornya atau agar dicapainya perdamaian
antar Debitor dan Kreditor atau agar harta tersebut dapat dibagi-bagi secara adil diantara para
Kreditor (Munir Fuady, 2005: 8)
Kepailitan merupakan suatu proses dimana seorang Debitor yang mempunyai kesulitan keuangan
untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan, dalam hal ini Pengadilan Niaga,
dikarenakan Debitor tersebut tidak dapat membayar utangnya (Djohansah dalam Imran Nating,
2005: 2).
Kepailitan adalah sita umum yang mencakup seluruh kekayaan Debitor untuk kepentingan semua
Kreditornya. Tujuan kepailitan adalah pembagian kekayaan Debitor oleh Kurator kepada semua
Kreditornya dengan memperhatikan hak-hak mereka masing-masing. Melalui sita umum maka
dihindari dan diakhiri sita dan eksekusi oleh para Kreditor secara sendiri-sendiri (Fred B.G. Tumbuan
dalam Imran Nating, 2005:4).

Para Kreditor harus bertindak secara bersama-sama (concursus creditorium) sesuai dengan asas
sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 1132 KUHPerdata.
2.3.2 Syarat-Syarat Permohonan Penyataan Pailit
Menurut Jono (2008:4) syarat-syarat permohonan pernyataan pailit terhadap Debitor terdapat
dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, antara lain:
Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang
yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas
permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih Kreditornya.

Syarat-syarat permohonan pailit sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 37 Tahun 2004 tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. syarat adanya dua Kreditor atau lebih (concursus creditorium);


syarat bahwa Debitor harus mempunyai minimal dua Kreditor, sangat terkait dengan filosofis
lahirnya hukum kepailitan. Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa hukum kepailitan merupakan
realisasi dari Pasal 1132 KUHPerdata. Dengan adanya pranata hukum kepailitan, diharapkan
perlunasan utang-utang Debitor kepada Kreditor-Kreditor dapat dilakukan secara seimbang dan adil.
2. syarat harus adanya utang;
Undang-Undang Nomor 4 tahun 1998 tidak mendefinisikan sama sekali mengenai utang. Oleh
karena itu, telah menimbulkan penafsiran yang beraneka ragam dan para hakim juga menafsirkan
utang dalam pengertian yang berbeda-beda.
Kontroversi mengenai pengertian utang, akhirnya dapat disatu artikan dalam Pasal 1 angka (6)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, yaitu:
Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik dalam
mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul
dikemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau Undang-Undang dan yang wajib
dipenuhi memberi hak kepada Kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan
Debitor.

Definisi utang yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 jelaslah harus ditafsirkan
secara luas, tidak hanya utang yang timbul dari perjanjian utang-piutang atau perjanjian pinjam
meminjam, tetapi juga utang yang timbul karena Undang-Undang misalnya pajak atau perjanjian
yang dapat dinilai dengan sejumlah uang.
3. syarat cukup satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.
Syarat bahwa utang harus telah jatuh waktu dan dapat ditagih menunjukkan bahwa Kreditor sudah
mempunyai hak untuk menuntut Debitor untuk memenuhi prestasinya. Syarat ini menunjukkan
bahwa utang harus lahir dari perikatan sempurna (adanya schuld dan haftung). Dengan demikian,
jelas bahwa utang yang lahir dari perikatan alamiah (adanya schuld tanpa haftung) tidak dapat
dimajukan untuk permohonan pernyatan pailit. Misalnya utang yang lahir karena perjudian.
Meskipun utang yang lahir dari perjudian telah jatuh waktu, hal ini tidak melahirkan hak kepada
Kreditor untuk menagih utang tersebut. Dengan demikian, meskipun Debitor mempunyai kewajiban
untuk melunasi utang itu, Kreditor tidak mempunyai alas hak untuk menuntut pemenuhan utang
tersebut. Dengan demikian, Kreditor tidak berhak memajukan permohonan pailit atas utang yang
lahir dari perjudian.
2.3.3 Pihak-Pihak Yang Berwenang Mengajukan Pailit
Menurut Jono (2008:12) sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, pihak yang dapat mengajukan
pailit adalah sebagai berikut:
1. Debitor
Undang-Undang memungkinkan seorang Debitor untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit
atas dirinya sendiri. Jika Debitor yang terkait dalam pernikahan yang sah, permohonan hanya dapat
diajukan atas persetujuan suami atau istri yang menjadi pasangannya (Pasal 4 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004.
2. Seorang Kreditor atau lebih
Sesuai dengan penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, Kreditor yang
dapat mengajukan permohonan pailit terhadap Debitornya adalah Kreditor konkuren, Kreditor
preferen, ataupun Kreditor separatis.
3. Kejaksaan
Permohonan pailit terhadap Debitor juga dapat diajukan oleh kejaksaan demi kepentingan umum
(Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004). Dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah No.
17 Tahun 2000 tentang Permohonan Pernyataan Pailit Untuk Kepentingan Umum, secara tegas
dinyatakan bahwa wewenang kejaksaan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit adalah
untuk dan atas nama kepentingan umum.

4. Bank Indonesia
Permohonan pailit terhadap bank hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia berdasarkan penilaian
kondisi keuangan dan kondisi perbankan secara keseluruhan. Hal ini diatur dalam Pasal 2 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.
5. Badan Pengawas Pasar Modal ( BAPEPAM )
Isi dari Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menyebutkan bahwa dalam hal
Debitor adalah perusahaan efek, bursa efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga
Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan
Pengawas Pasar Modal. Hal inilah yang menjadi patokan bahwa Badan Pengawas Pasar modal
mempunyai wewenang dalam kepailitan.
6. Menteri Keuangan.
Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan asuransi, perusahaan reasuransi, dana pensiun,
atau BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik hanya dapat diajukan oleh Menteri
Keuangan, dengan maksud untuk membangun tingkat kepercayaan masyarakat terhadap usaha-
usaha tersebut. Hal ini diatur dalam Pasal 2 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.

2.4 Kreditor
Pengertian Kreditor menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dalam Pasal 1 angka 2
menjelaskan bahwa Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-
Undang yang dapat ditagih di muka Pengadilan.
2.4.1 Pengertian Kreditor Separatis
Secara etimologi, istilah separatis berasal dari bahasa Inggris dan Belanda, yaitu separatis yang
berarti seseorang yang berada diluar kepailitan dan juga tidak turut memikul ongkos-ongkos (N.E
Agira. Dkk dalam Liliek Istiqomah, 2006: 20). Kreditor separatis adalah Kreditor yang karena sifatnya
sebagai pemilik suatu hak yang dilindungi secara super preferent serta dianggap berdiri sendiri dari
penjualan barang agunan yang terpisah dari harta pailit pada umumnya (Munir Fuady, 2005:99).
Definisi lain Kreditor separatis adalah Kreditor pemegang hak jaminan kebendaan (Kartini Muljadi
dan Gunawan Widjaja, 2004:99). Kreditor separatis ini selain memegang hak jaminan kebendaan
juga dapat bertindak sendiri. Golongan ini tidak terkena akibat putusan pernyataan pailit Debitor,
artinya hak-hak eksekusi mereka tetap dapat dijalankan seperti tidak ada kepailitan Debitor (Elijana
dalam Imran Nating, 2005:48). Tagihan mereka tidak jatuh pada boedel pailit tetapi mereka dapat
langsung melakukan eksekusi atas benda-benda yang menjadi jaminan bagi mereka (Sudargo
Gautama,1998:91).
Ada sedikit perbedaan antara Kreditor separatis dalam kepailitan dan PKPU. Pada prinsipnya,
kepailitan maupun PKPU tidak berlaku bagi Kreditor separatis (Pasal 55 untuk Kepailitan dan Pasal
244 ayat (1) huruf a untuk Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang). Meskipun terhadap keduanya
dikenakan kewajiban penangguhan eksekusi jaminan utang. Demikian juga pihak Kreditor separatis
(termasuk Kreditor yang di istimewakan ) tidak berhak untuk ikut voting dalam perdamaian PKPU
(Pasal 162 dan Pasal 151 serta Pasal 281 dan Pasal 286 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004).
Dalam kepailitan, Kreditor separatis harus mengajukan tagihannya untuk diverifikasi tanpa harus
melepaskan kedudukannya selaku Kreditor preferen (termasuk juga Kreditor yang diistimewakan ).
Dia tidak mempunyai hak suara dalam perdamaian, kecuali dia melepaskan haknya sebagai Kreditor
separatis sehingga menjadi Kreditor konkuren (Pasal 149 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004).
Sementara dalam penundaan kewajiban pembayaran utang, Kreditor separatis mempunyai hak
suara dalam perdamaian (Munir Fuady, 2005:178-179).
Kreditor seperti ini dapat menjual sendiri barang-barang yang menjadi jaminan seolah-olah tidak ada
kepailitan. Dari hasil penjualan tersebut, mereka mengambil piutangnya, sedang kalau ada sisanya
maka dimasukkan dalam kas Kurator sebagai boedel pailit (harta pailit). Sebaliknya bila hasil
penjualan tersebut ternyata tidak mencukupi, Kreditor tersebut untuk tagihan yang belum terbayar
dapat memasukkan kekurangannya sebagai Kreditor bersaing (konkuren) (Rajagukguk dalam Imran
Nating, 2005:48).
2.4.2 Pengertian Kreditor Preferen
Kreditor preferen atau Kreditor dengan hak istimewa adalah Kreditor seperti yang diatur dalam Pasal
1139 KUHPerdata dan Pasal 1149 KUHPerdata (Man S.Sastrawidjaja, 2006: 127), atau dengan kata
lain Kreditor yang karena sifat piutangnya mempunyai kedudukan istimewa dan mendapat hak
untuk memperoleh pelunasan lebih dulu dari penjualan harta pailit. Kreditor istimewa berada
dibawah pemegang hak tanggungan dan gadai. Pasal 1133 KUHPerdata mengatakan bahwa hak
untuk didahulukan diantara orang-orang berpiutang terbit dari hak istimewa gadai dan hipotik. Hak
istimewa dalam Pasal 1134 KUHPerdata adalah suatu hak yang oleh Undang-Undang diberikan
kepada seseorang berpiutang lainnya, semata-mata berdasarkan sifat piutangnya. Gadai dan Hipotik
adalah lebih tinggi dari pada hak istimewanya, kecuali dalam hal-hal dimana oleh Undang-Undang
ditentukan sebaliknya (Imran Nating, 2005:51).
2.4.3 Pengertian Kreditor Konkuren
Kreditor konkuren memiliki kedudukan yang sama dan berhak memperoleh hasil penjualan harta
kekayaan Debitor, baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari setelah sebelumnya
dikurangi dengan kewajiban membayar piutang kepada para Kreditor pemegang hak jaminan dan
para Kreditor dengan hak istimewa secara proporsional menurut perbandingan besarnya piutang
masing-masing Kreditor konkuren tersebut (berbagi secara pari passu dan pro rata parte) Kreditor
konkuren dikenal juga dengan istilah Kreditor bersaing. (Imran Nating, 2004:52).
Pasal 1132 KUHPerdata, menyatakan bahwa:
kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang menghutangkan
kepadanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu
menurur besar kecilnya tagihan masing-masing, kecuali apabila diantara berpiutang itu ada alasan-
alasan yang sah untuk didahulukan.
Ketentuan diatas dapat menjelaskan bahwa terdapat persamaan hak, persamaan kedudukan para
Kreditor terhadap (harta) seorang Debitor, tidak ada yang dilebihkan, sekalipun diantara mereka
mungkin ada yang mempunyai tagihan yang lebih tua, lebih dahulu adanya daripada yang lain.
Konkritnya seorang pada asasnya tidak berhak menuntut perlunasan lebih dahulu tagihannya atas
dasar bahwa tagihannya lahir lebih dahulu dari pada yang lain (J.Satrio, 2007:6-7).

2.5 Pengertian Debitor


Dikaitkan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, Debitor adalah
Orang yang mempunyai utang karena perjanjian atau Undang-Undang yang perlunasannya dapat
ditagih dimuka Pengadilan. Debitor dalam arti sempit adalah pihak yang memiliki utang yang timbul
semata-mata dari perjanjian utang-piutang saja. Sedangkan yang dimaksud dengan Debitor dalam
pengertian luas adalah adalah pihak yang memiliki kewajiban membayar sejumlah uang yang
timbulnya kewajiban itu dapat terjadi karena sebab apa pun juga, baik yang timbul karena perjanjian
utang-piutang maupun perjanjian lainnya maupun yang timbul karena Undang-Undang. US
Bankrupcy Code: bagi jenis Debitor yang berbeda berlaku aturan-aturan Bankruptcy yang berbeda
pula. Menurut UUK aturan kepailitan bagi perorangan, baik perorangan itu bukan pengusaha
maupun pengusaha, dan bagi perusahaan Debitor, baik perusahaan Debitor yang tergolong usaha
besar maupun yang tergolong usaha kecil atau menengah (UKM), serta bagi badan hukum lain
(koperasi dan yayasan) dan bentuk-bentuk hukum lain (persekutuan), sama saja aturan mainnya.
(http://hernathesis.multiply.com/reviews/item/16, diakses tanggal 10 Maret 2009).

2.6 Pengertian Kurator


Sejak tanggal putusan pernyataan pailit diputuskan, Debitor Pailit kehilangan haknya untuk
mengurus dan mengelola harta milik Debitor yang termasuk dalam boedel kepailitan. Urusan ini
harus diserahkan pada Kurator, Kuratorlah yang melakukan pengurusan dan pemberesan harta
kepailitan tersebut. Oleh karena itu, dalam putusan pernyataan kepailitan ditetapkan pula siapa
yang menjadi Kurator. Dahulu, yang menjadi Kurator hanya Balai Harta Peninggalan (BHP). Kini yang
menjadi Kurator tidak hanya BHP, tetapi bisa pula Kurator lain selain BHP, hal ini ditegaskan dalam
Pasal 70 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004. Kemungkinan lain yaitu dalam hal Debitor dan
Kreditor tidak mengajukan usul pengangkatan Kurator lain kepada Pengadilan, maka Balai Harta
Peninggalan bertindak sebagai Kurator. Istilah Kurator hanya dikenal dalam kepailitan, sedangkan
dalam penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dikenal dengan istilah pengurus.
Jabatan Kurator akan membuka lapangan kerja baru, namun perlu dicatat bahwa seorang Kurator
harus berpengetahuan dan berpengalaman khusus. Nampaknya, yang dapat dengan mudah
menjabat sebagai Kurator adalah para akuntan dan para ahli hukum. Kelompok ini mempunyai bekal
pengetahuan hukum perdata, termasuk pengetahuan dalam hukum transaksi komersial. Meskipun
begitu tentulah harus diingat bahwa tanggung jawab dan resiko profesi (professional liability) yang
diembannya sungguh berat (Kartini Muljadi dalam Rachmadi Usman, 2004:76). Menurut Pasal 70
ayat (2) huruf a dan b Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, Kurator lain adalah orang
perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam
rangka mengurus/ atau membereskan harta pailit, dan terdaftar pada kementerian yang ruang
lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan. Definisi
yang terdapat dalam standar profesi Kurator dan Pengurus, Asosiasi Kurator dan Pengurus
Indonesia menyatakan bahwa Kurator adalah perseorangan atau persekutuan perdata yang
memiliki keahlian khusus sebagaimana diperlukan untuk mengurus dan membereskan harta pailit
dan telah terdaftar pada Departemen Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia (sekarang Departemen
Hukum Dan Hak Asasi Manusia).
Ketentuan-ketentuan diatas berdasarkan peraturan Menteri Kehakiman Republik Indonesia
No.M.08.10.05.10 Tahun 1998 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Pendaftaran Kurator dan
Pengurus, yang ditetapkan dan diberlakukan pada tanggal 22 september 1998 sebagai berikut:
1. persyaratan untuk didaftar sebagai Kurator dan pengurus:
a. perorangan
1. berdomosili di Indonesia;
2. memiliki surat tanda lulus ujian yang diselenggarakan oleh asosiasi Kurator dan pengurus
Indonesia (AKPI).
b. persekutuan perdata (ditiadakan oleh Pasal 70 Undang-Undang No.37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang)
salah satu rekan atau patner dalam persekutuan perdata tersebut harus berdomisili di Indonesia dan
memiliki tanda lulus ujian yang diselenggarakan oleh asosiasi Kurator dan pengurus Indonesia (AKPI).
2. Mengajukan permohonan pedaftaran secara tertulis sebagai Kurator dan pengurus kepada
Direktur Jenderal Hukum Dan PerUndang-Undangan dengan cara mengisi formulir yang telah
disediakan, dengan dilampiri:
a. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk atau Paspor yang masih berlaku bagi perorangan atau
keterangan domosili bagi persekutuan perdata;
b. Fotokopi NPWP;
c. Fotokopi Surat Tanda Lulus Ujian Kurator dan Pengurus;
d. Fotokopi Surat Tanda Keanggotaan Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI);
e. Surat Pernyataan.
1. Bersedia untuk membuka rekening di bank untuk setiap perkara kepailitan;
2. Tidak pernah dinyatakan pailit;
3. Tidak pernah menjadi anggota direksi dan komisaris yang dinyatakan bersalah karena
menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit; dan
4. Tidak pernah menjalani pidana karena melakukan tindak pidana yang ancaman pidananya lebih
dari lima tahun.
Pemohon yang telah memenuhi persyaratan pendaftaran dapat didaftar sebagai Kurator dan
pengurus, selambat-lambatnya tiga hari terhitung sejak seluruh persyaratan dipenuhi (Imran Nating,
2005:60-62).

2.7 Actio Pauliana


2.7.1 Pengertian Actio Pauliana
Kata-kata actio pauliana ini berasal dari orang Romawi, yang maksudnya menunjuk kepada semua
upaya hukum yang digunakan guna menyatakan batal tindakan Debitor yang meniadakan arti Pasal
1131 KUHPerdata, yaitu Debitor yang merasa bahwa ia akan dinyatakan pailit melakukan tindakan
hukum untuk memindahkan hak atas sebagian kekayaannya atau secara lain merugikan para
Kreditornya
Actio pauliana (claw-back atau annulment of preferential transfer) adalah suatu upaya hukum untuk
membatalkan transaksi yang dilakukan oleh Debitor untuk kepentingan Debitor tersebut yang dapat
merugikan kepentingan para Kreditornya. Misalnya, menjual barang-barangnya kepada pihak ketiga
sehingga barang tersebut tidak dapat lagi disita dijaminkan oleh pihak Kreditor.
Pengaturan tentang actio pauliana dalam KUHPerdata terdapat di dalam Pasal 1341 yang berbunyi
sebagai berikut:
(1) Meskipun demikian, tiap orang berpiutang boleh mengajukan batalnya segala perbuatan yang
tidak diwajibkan yang dilakukan oleh si berutang dengan nama apapun juga yang merugikan orang-
orang berpiutang, asal dibuktikan, bahwa ketika perbuatan dilakukan, baik si berutang maupun
orang dengan atau untuk siapa si berutang itu berbuat, mengetahui bahwa perbuatan itu membawa
akibat yang merugikan orang-orang berpiutang.
(2) Hak-hak yang diperolehnya dengan itikad baik oleh orang-orang pihak ketiga atas barang-barang
yang menjadi pokok perbuatan yang batal itu, dilindungi.
(3) Untuk mengajukan hal batalnya perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan cuma-cuma oleh si
berutang, cukuplah si berpiutang membuktikan bahwa si berutang pada waktu melakukan
perbuatan itu tahu, bahwa ia dengan berbuat demikian merugikan orang-orang yang mengutangkan
padanya, tak peduli apakah orang yang menerima keuntungan juga mengetahuinya atau tidak.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 mengatur secara lebih komprehensif mengenai actio
pauliana ini, mulai dari Pasal 41 sampai dengan Pasal 49. lebih komprehensif dari ketentuan
KUHPerdata maupun dalam Peraturan Kepailitan yang lama (S.1905-217 juncto S. 1906-348). Pasal
41 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tersebut menyebutkan bahwa untuk kepentingan harta
pailit, dapat dimintakan pembatalan atas segala perbuatan hukum Debitor yang telah dinyatakan
pailit yang merugikan kepentingan Kreditor, yang dilakukan sebelum pernyataan pailit diucapkan
(Munir Fuady, 2005:87). Actio Pauliana merupakan sarana yang diberikan oleh Undang-Undang
kepada tiap-tiap Kreditor untuk mengajukan pembatalan atas segala perbuatan yang tidak
diwajibkan yang telah dilakukan oleh Debitor dimana perbuatan tersebut telah merugikan Kreditor
(Jono, 2008:135).
Hak yang merupakan perlindungan yang diberikan oleh hukum bagi Kreditor atas perbuatan Debitor
yang dapat merugikan Kreditor. Hak tersebut diatur dalam oleh KUHPerdata dalam Pasal 1341, yaitu
berupa tindakan Debitor yang karena merasa akan dinyatakan pailit melakukan tindakan hukum
memindahkan haknya atas sebagian dan harta kekayaannya yang dapat merugikan para Kreditornya.
Menurut Rudy A Lontoh & et.al (2001 : 302) bahwa penekanan Pasal 1341 KUHPerdata adalah:
meskipun demikian, setiap orang berpiutang (Kreditor) boleh mengajukan batalnya segala perbuatan
yang tidak diwajibkan dilakukan oleh si berutang (Debitor) dengan nama apapun juga yang
merugikan orang-orang berpiutang (Kreditor), asal dibuktikan bahwa ketika perbuatan itu dilakukan,
baik si berutang (Debitor) maupun orang dengan atau untuk siapa si berutang (Debitor) itu berbuat,
mengetahui bahwa perbuatan itu membawa akibat yang merugikan orang-orang berpiutang
(Kreditor)

2.7.2 Syarat-Syarat Agar Dapat Dilakukan Actio Pauliana


Menurut Munir Fuady (2005:88) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Pasal 41 Angka (1)
menyebutkan bahwa untuk kepentingan harta pailit, dapat dimintakan pembatalan atas segala
perbuatan hukum Debitor yang telah dinyatakan pailit yang merugikan kepentingan Kreditor, yang
dilakukan sebelum pernyataan pailit ditetapkan.
Syarat-syarat actio pauliana menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Pasal 41 adalah
sebagai berikut:
1. Dilakukan actio pauliana tersebut untuk kepentingan harta pailit;
2. adanya perbuatan hukum dari Debitor;
3. Debitor tersebut telah dinyatakan pailit, jadi tidak cukup misalnya jika terhadap Debitor tersebut
hanya diberlakukan penundaan kewajiban pembayaran utang;
4. perbuatan tersebut merugikan kepentingan (prejudice) Kreditor;
5. perbuatan tersebut dilakukan sebelum pernyataan pailit ditetapkan;
6. kecuali dalam dalam hal-hal berlaku pembuktian terbalik, dapat dibuktikan bahwa pada saat
perbuatan hukum tersebut dilakukan, Debitor tersebut mengetahui atau sepatutnya mengetahui
bahwa perbuatan hukum tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor;
7. kecuali dalam dalam hal-hal berlaku pembuktian terbalik, dapat dibuktikan bahwa pada saat
perbuatan hukum tersebut dilakukan, pihak dengan siapa perbuatan hukum itu dilakukan
mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan mengakibatkan
kerugian bagi Kreditor;
8. perbuatan hukum tersebut bukan perbuatan hukum yang diwajibkan, yaitu tidak diwajibkan oleh
perjanjian atau Undang-Undang, seperti membayar pajak misalnya.
Salah satu syarat sehingga actio pauliana dapat dilakukan adalah adanya suatu perbuatan hukum
yang dilakukan oleh Debitor. Yang dimaksud dengan perbuatan hukum adalah setiap tindakan dari
Debitor yang mempunyai akibat hukum. Misalnya, Debitor menjual melakukan hibah atas hartanya
itu, baik perbuatan tersebut bersifat timbak balik ataupun bersifat unilateral (berakibat luas kepada
pihak-pihak lainnya).
Minimal ada 2 (dua) elemen yang harus dipenuhi agar perbuatan tersebut dapat disebut sebagai
perbuatan hukum. Yaitu sebagai berikut:
1. berbuat sesuatu;
2. mempunyai akibat hukum (Munir Fuady, 2005:89).
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, melakukan sesuatu yang tidak mempunyai akibat hukum atau tidak
melakukan sesuatu, tetapi mempunyai akibat hukum tidak dianggap sebagai suatu perbuatan hukum
sehingga tidak terkena actio pauliana.
Beberapa tindakan dibawah ini tidak dapat dibatalkan dengan actio pauliana karena tidak memenuhi
elemen suatu perbuatan hukum yaitu:
1. Debitor memusnahkan asetnya;
2. Debitor menolak menerima sumbangan atau hibah;
3. Debitor tidak mengeksekusi (tidak memfinalkan) suatu kontrak yang sudah terlebih dahulu
diperjanjikannya (Munir Fuady, 2005:89).
2.7.3 Pengadilan yang Berwenang Memutus Actio Pauliana
Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan menambah satu bab baru yaitu Bab
Ketiga mengenai Pengadilan Niaga. Pembentukan peradilan khusus ini diharapkan dapat
menyelesaikan masalah kepailitan secara cepat dan efektif. Pengadilan Niaga merupakan diferensiasi
atas Peradilan Umum yang dimungkinkan pembentukannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 4
Tahun 2004 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kekuasaan Kehakiman.
Undang Nomor 37 Tahun 2004 yang merupakan pembaharuan dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1998 Tentang Kepailitan, tidak mengatur Pengadilan Niaga pada bab tersendiri, akan tetapi masuk
pada Bab V tentang Ketentuan Lain-lain mulai dari Pasal 299 sampai dengan Pasal 303. Demikian
juga dalam penyebutannya pada setiap Pasal cukup dengan menyebutkan kata Pengadilan tanpa
ada kata Niaga karena merujuk pada Bab I tentang Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 7 bahwa
Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam Lingkungan Peradilan Umum.
Tugas dan wewenang Pengadilan Niaga ini pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 diatur dalam
Pasal 280, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 diatur pada Pasal 300.
Pengadilan Niaga merupakan lembaga peradilan yang berada di bawah lingkungan Peradilan Umum
yang mempunyai tugas sebagai berikut (Rahayu Hartini, 2008 : 258 ):
1. Memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit;
2. Memeriksa dan memutus permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;
3. Memeriksa perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya ditetapkan dengan Undang-
Undang, misalnya sengketa di bidang HaKI.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 juga mengatur tentang kewenangan Pengadilan Niaga dalam
hubungannya dengan perjanjian yang mengandung klausula arbitrase. Dalam Pasal 303 Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004 ditentukan bahwa Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan
menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari pihak yang terikat perjanjian yang memuat
klausula arbitrase, sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 tentang syarat-syarat kepailitan. Ketentuan Pasal tersebut dimaksudkan untuk memberi
penegasan bahwa Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan
pernyataan pailit dari para pihak, sekalipun perjanjian utang piutang yang mereka buat memuat
klausula arbitrase.
Kompetensi relatif Pengadilan Niaga merupakan kewenangan atau kekuasaan mengadili antar
Pengadilan Niaga. Pengadilan Niaga sampai saat ini baru ada lima. Pengadilan Niaga tersebut
berkedudukan sama di Pengadilan Negeri. Pengadilan Niaga hanya berwenang memeriksa dan
memutus perkara pada daerah hukumnya masing-masing. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 menyatakan bahwa putusan atas permohonan pernyataan pailit diputus oleh Pengadilan Niaga
yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum Debitor, apabila Debitor telah
meninggalkan wilayah Negara Republik Indonesia, maka Pengadilan yang berwenang menjatuhkan
putusan atas permohonan pernyataan pailit adalah Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi
tempat kedudukan hukum terakhir Debitor. Dalam hal Debitor adalah persero suatu firma,
Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan hukum firma tersebut juga
berwenang memutuskan.
Debitor yang tidak berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia tetapi menjalankan profesi
atau usahanya di wilayah negara Republik Indonesia, Pengadilan yang berwenang adalah Pengadilan
yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan atau kantor pusat Debitor menjalankan profesi
atau usahanya di wilayah negara Republik Indonesia. Dalam hal Debitor merupakan badan hukum,
tempat kedudukan hukumnya adalah sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasarnya (Rudy A
Lontoh & et. al, 2001 : 159).
Kompetensi absolut merupakan kewenangan memeriksa dan mengadili antar badan peradilan.
Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur tentang
badan peradilan beserta kewenangan yang dimiliki. Pengadilan Niaga merupakan Pengadilan khusus
yang berada di bawah Pengadilan Umum yang diberi kewenangan untuk memeriksa dan memutus
permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Selain itu, menurut
Pasal 300 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, Pengadilan Niaga juga berwenang pula
memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan
Undang-Undang. Perkara lain di bidang perniagaan ini misalnya, tentang gugatan pembatalan paten
dan gugatan penghapusan pendaftaran merek. Kedua hal tersebut masuk ke dalam bidang
perniagaan dan diatur pula dalam Undang-Undang yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001
tentang Paten dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. Dengan kompetensi
absolut ini maka hanya Pengadilan Niaga sebagai satu-satunya badan peradilan yang berhak
memeriksa dan memutus perkara-perkara tersebut (Martiman Prodjohamidjojo.1999 : 17).
Sesuai dengan isi kesimpulan hasil pembahasan Materi Rapat Kerja Akbar Nasional Mahkamah
Agung R.I. dengan jajaran Pengadilan dari 4 (empat) lingkungan peradilan seluruh Indonesia tahun
2008, bahwa berdasarkan Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004, ditentukan bahwa
yang dimaksud dengan Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam lingkungan peradilan umum,
sedangkan Pasal 3 ayat (1) dalam penjelasannya, ditentukan bahwa yang dimaksud dengan hal-hal
lain adalah antara lain actio pauliana, perlawanan pihak ketiga terhadap penyitaan, atau perkara
dimana Debitor, Kreditor, Kurator, atau pengurus menjadi salah satu pihak dalam perkara yang
berkaitan dengan harta pailit termasuk gugatan Kurator terhadap direksi yang menyebabkan
perseroan dinyatakan pailit karena kelalaiannya atau kesalahannya.
Hukum acara yang berlaku dalam mengadili perkara yang termasuk hal-hal lain adalah sama
dengan hukum acara perdata yang berlaku bagi perkara permohonan pernyataan pailit termasuk
mengenai pembatasan jangka waktu penyelesaiannya (http://click-gtg.blogspot.com/,diakses
tanggal 10 Maret 2009).

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Latar Balakang Timbulnya Actio Pauliana Dalam Kepailitan


Putusan permohonan pernyataan pailit si Debitor telah diucapkan oleh Hakim Pengadilan Niaga,
maka sejak itu timbullah sejumlah akibat hukum terhadap perbuatan hukum yang dilakukan oleh
Debitor yang diberlakukan kepadanya oleh Undang-Undang. Akibat-akibat hukum tersebut berlaku
kepada Debitor dengan 2 (dua) macam pemberlakuan, yaitu berlaku demi hukum (by the operation
of law) dan berlaku secara Rule of reason (akibat hukum tidak berlaku secara otomatis)
Ada beberapa akibat hukum yang berlaku demi hukum (by the operation of law) segera setelah
pernyataan pailit dinyatakan atau segera setelah pernyataan pailit mempunyai kekuatan hukum
tetap ataupun setelah berakhirnya kepailitan. Dalam hal seperti ini, Pengadilan Niaga, Hakim
Pengawas, Kurator, Kreditor, dan siapapun yang terlibat dalam proses kepailitan tidak dapat
memberikan peranan secara langsung untuk terjadinya akibat hukum tersebut. Misalnya, larangan
bagi Debitor Pailit untuk meninggalkan tempat tinggalnya (cekal) seperti disebut dalam pasal 97
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, sesungguhnya dalam hal ini pihak Hakim Pengawas masih
mungkin memberi izin bagi Debitor Pailit untuk meninggalkan tempat tinggalnya.
Akibatakibat hukum tertentu dari kepailitan berlaku Rule of Reason. Maksudnya adalah bahwa
akibat hukum tersebut tidak otomatis berlaku, tetapi baru berlaku jika diberlakukan oleh pihak-pihak
tertentu, setelah mempunyai alasan yang wajar untuk diberlakukan. Pihak-pihak yang semestinya
mempertimbangkan berlakunya akibat-akibat hukum tertentu tersebut misalnya Kurator, Pengadilan
Niaga, Hakim Pengawas, dan lain-lain, (Munir Fuady,2005: 61-62)
Akibat kepailitan yang memerlukan rule of reason adalah tindakan penyegelan harta pailit. Dalam
hal ini, harta Debitor Pailit dapat disegel atas persetujuan Hakim Pengawas, jadi tidak terjadi secara
otomatis. Reason untuk penyegelan ini adalah untuk pengamanan harta pailit itu sendiri. Untuk
kategori akibat kepailitan berdasarkan rule of reason ini, dalam perundang-undangan biasanya
(walaupun tidak selamanya) ditandai dengan kata dapat sebelum disebutkan akibat tersebut.
Misalnya tentang penyegelan tersebut, Pasal 99 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
menyatakan bahwa atas persetujuan Hakim Pengawas, berdasarkan alasan untuk mengamankan
harta pailit dapat dilakukan penyegelan atas harta pailit.
Berlakunya akibat hukum tersebut tidak semuanya sama. Ada yang perlu dimintakan oleh pihak
tertentu dan perlu pula persetujuan institusi tertentu, tetapi ada juga yang berlaku karena hukum
(by the operation of law) begitu putusan pailit dikabulkan oleh Pengadilan Niaga. Seperti terlihat
dalam tabel berikut ini:

Tabel Tentang Berlakunya Akibat Hukum Tertentu Dalam Proses Kepailitan Dengan Dasar Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004

No. Jenis Tindakan Cara Terjadinya Dasar Hukum


1 Cekal Demi Hukum Pasal 96
2 Gijzeling Harus dimohonkan ke Pengadilan Niaga Pasal 93
3 Penyegelan Harus dimintakan ke Hakim Pengawas Pasal 99
4 Stay Demi Hukum Pasal 56 ayat (1)
5 Sitaan umum atas harta Debitor Demi Hukum Pasal 1 ayat (1)

Seperti telah disebutkan bahwa akibat hukum dari suatu kepailitan Debitor, adalah sebagai berikut:
1. Boleh dilakukan kompensasi piutang (set-off);
2. Kontrak timbal balik boleh dilanjutkan;
3. Berlaku penangguhan eksekusi jaminan hutang (stay);
4. Berlaku sitaan umum atas seluruh harta Debitor;
5. Termasuk terhadap suami atau istri dalam kaitannya dengan persatuan harta;
6. Debitor kehilangan hak mengurus dalam kaitannya dengan kekayaannya;
7. Perikatan setelah Debitor pailit tidak dapat dibayar;
8. Gugatan hukum harus dilakukan oleh atau terhadap Kurator;
9. Perkara pengadilan ditangguhkan atau diambil alih oleh Kurator;
10. Jika Kurator dengan Kreditor berperkara, Kurator dan Kreditor dapat minta perbuatan hukum
Debitor dibatalkan;
11. Pelaksanaan putusan Hakim dihentikan;
12. Semua penyitaan dibatalkan;
13. Debitor dikeluarkan dari penjara;
14. Uang paksa tidak diperlukan;
15. Pelelangan yang sedang berjalan dilanjutkan;
16. Balik nama atau pendaftaran jaminan hutang atas barang tidak bergerak dihentikan;
17. Daluwarsa dicegah;
18. Transaksi penyerahan barang (forward) dihentikan;
19. Sewa-menyewa dapat dihentikan;
20. Karyawan dapat di-PHK;
21. Warisan dapat diterima oleh Kurator atau ditolak;
22. Pembayaran hutang sebelum pailit oleh Debitor dapat dibatalkan;
23. Uang hasil penjualan surat berharga dikembalikan;
24. Pembayaran oleh Debitor sesudah pernyataan pailit dapat dibatalkan;
25. Teman sekutu Debitor Pailit berhak mengkonpensasikan hutang dengan keuntungan;
26. Hak retensi tidak hilang;
27. Debitor pailit dapat disandera (gijzeling) dan diberikan paksaan badan;
28. Debitor Pailit dilepas dari tahanan dengan atau tanpa uang jaminan;
29. Debitor Pailit demi hukum dicekal;
30. Harta pailit dapat disegel;
31. Surat-surat kepada Debitor pailit dapat dibuka oleh Kurator;
32. Barang-barang berharga milik Debitor pailit disimpan oleh Kurator;
33. Kurator jika memperoleh uang tunai dari Debitor/ harta Debitor harus disimpan di bank;
34. Penyanderaan dan pencekalan berlaku juga terhadap direksi;
35. Keputusan pailit bersifat serta merta;
36. Berlaku juga ketentuan pidana bagi Debitor;
37. Debitor Pailit, Direktur dan Komisaris perusahaan pailit tidak boleh menjadi Direktur atau
Komisaris di perusahaan lain;
38. Hak-hak tertentu dari Debitor Pailit tetap berlaku;
39. Berlaku actio pauliana, (Munir Fuady, 2005: 61-64).
Semua akibat hukum yang telah disebutkan di atas, terdapat kemungkinan sebelum pernyataan
pailit, pihak Debitor merugikan Kreditor-Kreditornya, misalnya secara tidak beritikad baik melakukan
transaksi dengan mengalihkan aset-asetnya kepada pihak lain (pihak ketiga). Dalam hal ini Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004 membolehkan pembatalan terhadap transaksi tersebut asalkan
memenuhi syarat-syarat seperti yang telah diuraikan dalam tinjauan pustaka hal 24. Hal tersebut
sering disebut dengan actio pauliana, yang dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 diatur
mulai Pasal 41 sampai dengan Pasal 50.
Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menyatakan secara tegas bahwa untuk
kepentingan harta pailit, segala perbuatan hukum Debitor yang telah dinyatakan pailit, yang
merugikan kepentingan Kreditor, yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan,
dapat dimintai pembatalan kepada pengadilan. Kemudian dalam Pasal 42 Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 diberikan batasan yang jelas mengenai perbuatan hukum Debitor tersebut, antara lain:
1. bahwa perbuatan hukum tersebut dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun sebelum putusan
pernyataan pailit;
2. bahwa perbuatan hukum tersebut tidak wajib dilakukan Debitor misalnya perbuatan hukum
bersifat sepihak dan bersifat timbal balik, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya oleh pihak Debitor
bahwa perbuatan tersebut wajib dilakukan oleh Debitor;
3. bahwa Debitor dan pihak dengan siapa perbuatan tersebut dilakukan dianggap mengetahui atau
sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi kreditor;
4. bahwa perbuatan tersebut dapat berupa:
a. merupakan perjanjian dimana kewajiban Debitor jatuh melebihi kewajiban pihak dengan siapa
perjanjian tersebut dibuat;
b. merupakan pembayaran atau pemberian jaminan untuk utang yang belum jatuh tempo dan/atau
belum atau tidak dapat ditagih;
c. merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh Debitor perorangan, dengan atau untuk
kepentingan:
1) suami atau istri, anak angkat, atau keluarganya sampai derajat ketiga;
2) suatu badan hukum dimana Debitor atau pihak sebagaimana dimaksud pada angka (1) adalah
anggota Direksi atau pengurus atau apabila pihak tersebut , baik sendiri-sendiri maupun bersama-
sama, ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan badan hukum tersebut lebih
dari 50% (limapuluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan hukum tersebut.
d. Merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum,
dengan atau untuk kepentingan:
1) Anggota Direksi atau pengurus dari Debitor, suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai
derajat ketiga dari anggota Direksi atau pengurus tersebut;
2) Perorangan, baik sendiri atau bersama-sama dengan suami atau istri, anak angkat, atau keluarga
sampai derajat ketiga, yang ikut secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan pada
Debitor lebih dari 50% (lima puluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan
hukum tersebut;
3) Perorangan yang suami atau istri, anak angkat, atau keluarganya sampai derajat ketiga, ikut serta
secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan pada Debitor lebih dari 50% (lima puluh
persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan hukum tersebut;
e. Merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum dengan
atau untuk kepentingan badan hukum lainnya, apabila:
1) Perorangan anggota Direksi atau pengurus pada kedua badan usaha tersebut adalah orang yang
sama;
2) suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga dari perorangan anggota Direksi
atau pengurus Debitor juga merupakan anggota Direksi atau pengurus pada badan hukum lainnya,
atau sebaliknya;
3) Perorangan anggota Direksi atau pengurus, atau anggota badan pengawas pada Debitor, atau
suami atau istri, anak angkat, atau keluarganya sampai derajat ketiga, baik sendiri atau bersama-
sama ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan pada Debitor lebih dari 50%
(limapuluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan hukum tersebut, atau
sebaliknya;
4) Debitor adalah anggota Direksi atau pengurus pada badan hukum lainnya, atau sebaliknya;
5) Badan hukum yang sama, atau perorangan yang sama baik bersama atau tidak dengan suami atau
istrinya, dan/atau para anak angkatnya, dan keluarganya sampai derajat ketiga, ikut serta secara
langsung atau tidak langsung dalam kedua badan hukum tersebut paling kurang sebesar 50% (lima
puluh persen) dari modal disetor.
f. Dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum dengan atau terhadap badan hukum lain
dalam satu grup dimana Debitor adalah anggotanya;
g. Ketentuan dalam huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f berlaku mutatis mutandis dalam hal
dilakukan oleh Debitor dengan atau untuk kepentingan:
1) Anggota pengurus dari suatu badan hukum, suami atau istri, anak angkat atau keluarga sampai
derajat ketiga dari anggota pengurus tersebut;
2) Perorangan, baik sendiri maupun bersama-sama dengan suami atau istri, anak angkat, atau
keluarga sampai derajat ketiga yang ikut serta langsung atau tidak langsung dalam pengendalian
badan hukum tersebut.
Pasal 41 dan 42 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, menjelaskan bahwa sistem pembuktian
yang dipakai adalah sistem pembuktian terbalik, artinya beban pembuktian terhadap perbuatan
hukum Debitor (sebelum putusan pernyataan pailit) tersebut adalah berada pada pundak Debitor
Pailit dan pihak ketiga yang melakukan perbuatan hukum dengan Debitor apabila perbuatan hukum
Debitor tersebut dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sebelum putusan pernyataan pailit yang
membawa kerugian bagi kepentingan Kreditor. Jadi, apabila Kurator menilai bahwa ada perbuatan
hukum tertentu misalnya jual-beli, hibah dan pemberian jaminan utang dari Debitor dengan pihak
ketiga dalam jangka waktu satu tahun (sebelum putusan pernyataan pailit) merugikan kepentingan
Kreditor, maka Debitor dan pihak ketiga wajib membuktikan bahwa perbuatan hukum tersebut
wajib dilakukan oleh mereka dan perbuatan hukum tersebut tidak merugikan harta pailit.
Berbeda, apabila perbuatan hukum yang dilakukan Debitor dengan pihak ketiga dalam jangka waktu
lebih dari satu tahun sebelum putusan pernyataan pailit, dimana Kurator menilai bahwa perbuatan
hukum tersebut merugikan kepentingan Kreditor atau harta pailit, maka yang wajib membuktikan
adalah Kurator dengan membuktikan bahwa perbuatan hukum tersebut tidak wajib dilakukan oleh
mereka dan perbuatan hukum tersebut merugikan harta pailit.

3.2 Perbedaan Makna Actio Pauliana Dalam KUHPerdata Dan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Asas Privity of Contract (asas personalia) terkandung dalam Pasal 1340 ayat (1) KUHPerdata yang
berbunyi sebagai berikut: Suatu Perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya.
Asas Privity of Contract tidaklah berlaku secara kaku, dalam arti masih dimungkinkan untuk
dikecualikan. Maksudnya adalah pihak-pihak yang tidak ikut terikat suatu perjanjian, dalam actio
pauliana pihak tersebut menjadi terikat, dalam hal ini adalah pihak ketiga. Dalam Pasal 1341
KUHPerdata diatur mengenai actio pauliana yang telah diuraikan dalam tinjauan pustaka hal 22 dan
23. Ada satu unsur penting yang menjadi patokan dalam pengaturan actio pauliana dalam Pasal
1341 KUHPerdata, yaitu unsur iktikad baik (good faith). Pembuktian ada atau tidak adanya unsur
iktikad baik menjadi landasan dalam menentukan perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang
tidak diwajibkan atau diwajibkan.
Jika dilihat dari Pasal 1341 ayat (1) dan ayat (2) KUHPerdata, dapat diketahui bahwa ada 2 (dua)
macam perbuatan hukum yang tidak diwajibkan, antara lain sebagai berikut:
a. Perbuatan hukum yang bersifat timbal balik (Pasal 1341 ayat (1) KUHPerdata) yaitu suatu
perbuatan hukum dimana ada dua pihak yang saling berprestasi. Contohnya: perjanjian jual beli,
perjanjian sewa-menyewa.
b. Perbuatan hukum yang bersifat sepihak (Pasal 1341 ayat (2) KUHPerdata) yaitu suatu perbuatan
hukum dimana hanya ada satu pihak yang mempunyai kewajiban atas prestasi terhadap pihak lain.
Contohnya : Hibah (Jono, 2008:136).

Lembaga perlindungan hak kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1341 KUHPerdata, yang
dikenal dengan nama actio pauliana, memperoleh peraturan pelaksanaannya dalam Undang-Undang
Nomor 37 Tahun 2004 sebagaimana terdapat dalam ketentuan pasal 41 sampai dengan pasal 50
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.
Menurut pasal 1341 KUHPerdata:
Meskipun demikian, tiap orang berpiutang boleh mengajukan batalnya segala perbuatan yang tidak
diwajibkan yang dilakukan oleh si berutang dengan nama apapun juga yang merugikan orang-orang
berpiutang, asal dibuktikan, bahwa ketika perbuatan dilakukan, baik si berutang maupun orang
dengan atau untuk siapa si berutang itu berbuat, mengetahui bahwa perbuatan itu membawa akibat
yang merugikan orang-orang berpiutang.

Hak-hak yang diperoleh dengan itikad baik oleh pihak ketiga atas barang-barang yang menjadi pokok
perbuatan yang batal itu, dilindungi. Perlindungan yang diberikan berupa jaminan bahwa perbuatan
yang dilakukan oleh Debitor dengan pihak ke tiga tersebut tidak dapat dibatalkan karena dalam actio
pauliana yang menjadi kunci pokok dikabulkan adalah adanya unsur itikad tidak baik oleh Debitor
Pailit. Untuk mengajukan hal batalnya perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan cuma- cuma
oleh Debitor, Kreditor cukup membuktikan bahwa Debitor pada waktu melakukan perbuatan itu
mengetahui bahwa dengan berbuat demikian merugikan para Kreditornya tanpa peduli apakah
orang yang menerima keuntungan itu juga mengetahuinya atau tidak bahwa perbuatan Debitor
tersebut merugikan para Kreditornya. Menurut Kartini Mulyadi dalam Sutan Remy Syahdeini (2009:
249) kata actio kadang-kadang dipertanyakan karena tidak perlu harus adanya tuntutan atau
gugatan untuk membatalkan suatu tindakan pauliana, karena tindakan hukum itu memang batal
(nietig) dan bukannya dapat dibatalkan (vernietigbaar). Selanjutnya Kartini Mulyadi dalam Sutan
Remy Syahdeini (2009: 249) menyatakan, tidak perlu diajukan gugatan untuk menyatakan suatu
tindakan pauliana batal, tetapi cukup Kurator menyatakan (inroepen) bahwa tindakan itu batal,
asalkan Kurator dapat membuktikan bahwa pada saat Debitor melakukan tindakan hukum tersebut,
Kurator dan pihak dengan siapa Debitor melakukan tindakan tersebut mengetahui dan sepatutnya
mengetahui bahwa perbuatan itu akan merugikan Kreditor. Ketentuan mengenai actio pauliana di
dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 merupakan ketentuan yang lazim ada pada
bankruptcy law dari banyak negara. Pencantuman ketentuan ini yang dikenal pula dengan nama
claw back provition atau actio pauliana, di dalam suatu Undang-Undang Kepailitan sangat perlu.
Actio pauliana yang diatur dalam Pasal 1341 KUHPerdata memperoleh ketentuan pelaksanaannya
dalam Pasal 41 sampai dengan 50 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 sebagaimana dijelaskan
dibawah ini. Sebagaimana telah dikemukakan Pasal 1341 KUHPerdata menentukan setiap Kreditor
dapat mengajukan pembatalan atas segala perbuatan yang tidak wajib dilakukan oleh Debitor
dengan nama apapun yang merugikan para Kreditor sepanjang dapat dibuktikan bahwa ketika
perbuatan itu dilakukan baik Debitor maupun pihak dengan atau untuk siapa Debitor itu berbuat
mengetahui bahwa perbuatan itu merugikan para Kreditor.
Menurut Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, untuk kepentingan harta pailit,
kepada pengadilan dapat dimintakan pembatalan segala perbuatan hukum Debitor yang telah
dinyatakan pailit yang merugikan kepentingan Kreditor, yang dilakukan sebelum putusan pernyataan
pailit diucapkan. Lebih lanjut ditentukan dalam Pasal 41 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 bahwa pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan apabila dapat
dibuktikan bahwa pada saat perbuatan hukum dilakukan, Debitor dan pihak dengan siapa perbuatan
hukum tersebut dilakukan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan hukum
tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor. Menurut penjelasan Pasal 41 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004, yang dimaksud dengan pihak dengan siapa perbuatan itu
dilakukan dalam ketentuan ini, termasuk pihak untuk kepentingan siapa perjanjian tersebut
diadakan.
Menurut Pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, dikecualikan dari ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah perbuatan hukum Debitor yang wajib dilakukan
berdasarkan perjanjian dan/atau karena Undang-Undang. Diberikan contoh dalam penjelasan Pasal
41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 bahwa perbuatan yang wajib dilakukan karena
Undang-Undang, misalnya kewajiban pembayaran pajak. Seperti dikemukakan oleh Fred B.G.
Tumbuan dalam Sutan Remy Syahdeini (2009: 250), apabila dicermati Pasal 41 Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan (yang isinya sama dengan Pasal 41 Undang-Undang Nomor
37 Tahun 2004) terdapat lima persyaratan yang harus dipenuhi agar actio pauliana berlaku.
Persyaratan tersebut adalah:
a. Debitor telah melakukan suatu perbuatan hukum;
b. Perbuatan hukum tersebut tidak wajib dilakukan Debitor;
c. Perbuatan hukum yang dimaksud telah merugikan Kreditor;
d. Pada saat melakukan perbuatan hukum tersebut Debitor mengetahui atau sepatutnya
mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan merugikan Kreditor; dan
e. Pada saat melakukan perbuatan hukum tersebut dilakukan pihak dengan siapa perbuatan hukum
itu dilakukan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan
mengakibatkan kerugian bagi kreditor.
Fred B.G. Tumbuan berpendapat, adalah tugas Kurator untuk membuktikan telah terpenuhinya
kelima persyaratan tersebut, (Sutan Remy Syahdeini, 2009: 250).
Ketentuan Pasal 41 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 itu, patut dipertanyakan
bagaimana halnya apabila pada saat perbuatan hukum tersebut dilakukan hanya Debitor yang
mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan mengakibatkan
kerugian bagi kreditor, sedangkan pihak dengan siapa perbuatan hukum itu dilakukan ternyata
beritikad baik. Hal ini tidak diatur oleh Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 akan tetapi diatur
dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Apabila Debitor itu
adalah suatu perseroan terbatas, maka berdasarkan Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, Pengurus dari perseroan terbatas itu harus bertanggung
jawab secara pribadi karena yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan itikat
buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi.
Menurut pasal 42 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, apabila perbuatan hukum yang merugikan
Kreditor dilakukan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan,
sedangkan perbuatan tersebut tidak wajib dilakukan Debitor, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya,
Debitor dan pihak dengan siapa perbuatan tersebut dilakukan dianggap mengetahui atau sepatutnya
mengetahui bahwa perbuatan tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, perbuatan tersebut
adalah :
a. Merupakan perjanjian dimana kewajiban Debitor jauh melebihi kewajiban pihak dengan siapa
perjanjian tersebut dibuat;
b. Merupakan pembayaran atas, atau pemberian jaminan untuk utang yang belum jatuh tempo
dan/atau belum atau tidak dapat ditagih;
c. Dilakukan oleh Debitor perorangan, dengan atau untuk kepentingan :
1. Suami atau istrinya, anak angkat, atau keluarganya sampai derajat ketiga;
2. Suatu badan hukum dimana Debitor atau pihak sebagaimana dimaksud pada angka 1) adalah
anggota Direksi atau Pengurus atau apabila pihak tersebut, baik sendiri-sendiri maupun bersama-
sama, ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan badan hukum tersebut lebih
dari 50% (lima puluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan hukum tersebut.
d. Dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum, dengan atau untuk kepentingan :
1. Anggota Direksi atau Pengurus dari Debitor, suami atau istri, anak angkat, atau keluarganya
sampai derajat ketiga dari anggota atau Pengurus tersebut;
2. Perorangan, baik sendiri atau bersama-sama dengan suami atau istri, anak angkat, atau keluarga
sampai derajat ketiga, yang ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan pada
Debitor lebih dari 50% (lima puluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan
hukum tersebut;
3. Perorangan yang suami atau istri, anak angkat, atau keluarganya sampai derajat ketiga, ikut serta
secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan pada Debitor lebih dari 50% (lima puluh
persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan hukum tersebut.
e. Dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum dengan atau untuk kepentingan badan
hukum lainnya, apabila :
1. Perorangan anggota Direksi atau Pengurus pada kedua badan usaha tersebut adalah orang yang
sama;
2. Suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga dari perorangan anggota direksi
atau Pengurus pada badan hukum lainnya, atau sebaliknya;
3. Perorangan anggota direksi atau Pengurus, atau anggota badan pengawas pada Debitor, suami
atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga, baik sendiri atau bersama-sama, ikut
serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan badan hukum lainnya lebih dari 50%
(lima puluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan hukum tersebut, atau
sebaliknya;
4. Debitor adalah anggota direksi atau Pengurus pada badan hukum lainnya, atau sebaliknya;
5. Badan hukum yang sama, perorangan yang bersama-sama, atau tidak dengan suami atau istrinya,
dan atau para anak angkatnya dan keluarganya sampai derajat ketiga ikut serta secara langsung atau
tidak langsung dalam kedua badan hukum tersebut paling kurang sebesar 50% (lima puluh persen)
dari modal disetor.
f. Dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum dengan atau terhadap badan hukum lain
dalam satu grup dimana Debitor adalah anggotanya;
g. Ketentuan dalam huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f berlaku mutatis mutandis dalam hal yang
dilakukan oleh Debitor dengan atau untuk kepentingan :
1. Anggota Pengurus dari suatu badan hukum, suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai
derajat ketiga, dari anggota Pengurus tersebut;
2. Perorangan baik sendiri atau bersama-sama dengan suami atau istri, anak angkat, atau keluarga
sampai derajat ketiga yang ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam pengendalian badan
hukum tersebut.
Penjelasan pasal 42 huruf c angka (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menjelaskan bahwa
yang dimaksud anak angkat adalah anak yang diangkat berdasarkan penetapan pengadilan
maupun anak angkat berdasarkan hukum adat Debitor Pailit. Yang dimaksud dengan keluarganya
adalah hubungan yang timbul karena perkawinan atau keturunan baik secara horizontal maupun
vertikal. Menurut penjelasan pasal 42 huruf c angka (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
bahwa yang dimaksud dengan anggota Direksi adalah anggota Badan Pengawas. Atau orang yang
ikut serta dalam kepemilikan, termasuk setiap orang pernah menduduki posisi tersebut dalam
jangka waktu kurang dari satu tahun sebelum dilakukanya perbuatan tersebut,
Menurut penjelasan pasal 42 huruf d Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 bahwa yang dimaksud
dengan kepemilikan adalah kepemilikan modal atau modal saham. Dalam penjelasan pasal 42
huruf e Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dikemukakan bahwa pengendalian adalah
kemampuan umtuk menentukan, baik langsung maupun tidak langsung dengan cara apapun
pengelolaan dan atau kebijaksanaan perusahaan. Pihak yang memiliki saham yang besarnya 25%
(dua puluh lima persen) atau lebih dari jumlah saham yang telah dikeluarkan dan mempunyai hak
suara pada perseroan dianggap mengendalikan perseroan tersebut, kecuali yang bersangkutan
dapat membuktikan tidak melakukan pengendalian, sedangkan pihak yang memiliki saham kurang
dari 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah saham yang telah dikeluarkan dan mempunyai hak
suara pada perseroan dianggap tidak mengendalikan perseroan tersebut, kecuali yang bersangkutan
dapat dibuktikan melakukan pengendalian.
Ketentuan pasal 42 huruf f Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, menjelaskan bahwa suatu badan
hukum yang merupakan anggota Direksi yang berbentuk badan hukum diperlakukan sebagai Direksi
yang berbentuk badan hukum tersebut. Dengan ketentuan pasal 42 Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 ini, maka bukan saja perbuatan hukum yang dilakukan setelah debitor dinyatakan pailit
dapat dibatalkan, tetapi juga perbuatan hukum yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit
ditetapkan dapat juga dibatalkan.
Pasal 42 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 mengatur dengan rinci jenis perbuatan hukum yang
apabila dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sebelum putusan pernyataan pailit ditetapkan,
dengan syarat :
1. Perbuatan tersebut tidak wajib dilakukan oleh debitor;
2. Debitor dan pihak dengan siapa perbuatan tersebut dilakukan dianggap mengetahui atau
sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut akan merugikan kreditor; dan
3. Perbuatan tersebut memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam pasal 42 huruf a
sampai dengan g Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang.
Menurut penjelasan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, dengan ketentuan ini, kurator tidak perlu membuktikan
bahwa penerima hibah tersebut mengetahui atau patut mengetahui bahwa tindakan tersebut akan
mengakibatkan kerugian bagi kreditor.
Menurut Pasal 43 dalam hubungannya dengan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004,
hibah yang dilakukan debitor dapat dimintakan pembatalan oleh Kreditor pada Pengadilan Niaga,
apabila kurator dapat membuktikan bahwa pada saat hibah tersebut dilakukan Debitor mengetahui
atau sepatutnya mengetahui tindakan tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor.
Menurut penjelasan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tersebut, dengan ketentuan ini
kurator tidak perlu membuktikan bahwa penerima hibah tersebut mengetahui atau patut
mengetahui bahwa tindakan tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor. Menurut Pasal 44
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya (oleh Debitor), Debitor
dianggap mengetahui atau patut mengetahui bahwa tindakan tersebut akan mengakibatkan
kerugian bagi Kreditor, apabila hibah tersebut dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sebelum
putusan pernyataan pailit diucapkan.
Membedakan pengertian Pasal 43 dan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dalam
penerapannya adalah sebagai berikut :

No. Pasal 43 Undang-Undang 37 tahun 2004 Pasal 44 Undang-Undang 37 tahun 2004


1 berlaku untuk hibah yang dilakukan lebih dari satu tahun sebelum putusan pernyataan pailit
diucapkan berlaku bagi hibah yang dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sebelum putusan
pernyataan pailit diucapkan
2 Kurator yang harus membuktikan bahwa pada saat hibah tersebut dilakukan, Debitor mengetahui
atau patut mengetahui bahwa hibah tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor Debitor
yang harus membuktikan bahwa pada saat hibah tersebut dilakukan Debitor tidak mengetahui atau
patut mengetahui bahwa hibah tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Kreditor

Pasal 45 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menentukan, pembayaran suatu utang yang sudah
dapat ditagih hanya dapat dibatalkan apabila dapat dibuktikan bahwa:
1. Penerima pembayaran mengetahui bahwa permohonan pernyataan pailit Debitor sudah
didaftarkan, atau
2. Dalam hal pembayaran tersebut merupakan akibat dari persengkokolan antara Debitor dan
Kreditor (Kreditor tertentu) dengan maksud menguntungkan Kreditor tersebut melebihi Kreditor
lainnya.
Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menentukan, berdasarkan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, pembayaran yang
telah diterima oleh pemegang surat pengganti atau surat atas tunjuk yang karena hubungan hukum
dengan pemegang terdahulu wajib menerima pembayaran, pembayaran tersebut tidak dapat
diminta kembali. Sementara itu Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
menentukan, dalam hal pembayaran dapat diminta kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
orang yang mendapat keuntungan sebagai akibat diterbitkannya surat atas tunjuk, wajib
mengembalikan kepada harta pailit jumlah utang yang telah dibayar oleh Debitor apabila :
1. Dapat dibuktikan bahwa pada waktu penerbitan surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
bersangkutan mengetahui bahwa permohonan pernyataan pailit Debitor sudah didaftarkan; atau
2. Penerbitan surat tersebut merupakan akibat dari persengkokolan antara Debitor dan pemegang
surat pengganti atau surat atas tunjuk pertama.
Ketentuan Pasal 45 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tersebut, timbul pertanyaan sebagai
berikut :
1. Apakah bagi Pasal 45 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tidak disyaratkan bahwa putusan
pernyataan pailit sudah diucapkan? Apa cukup syaratnya hanya apabila permohonan pernyataan
pailit debitor sudah didaftarkan. Artinya, pengajuan permohonan pembatalan tersebut tidak perlu
harus menunggu sampai setelah terdapat putusan pernyataan pailit (Debitor belum berstatus
sebagai Debitor Pailit).
2. Apakah berarti untuk utang yang sudah dapat ditagih sebagaimana dimaksud oleh Pasal 45
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tidak berlaku ketentuan Pasal 41 Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004? Apabila diberlakukan pasal 41 itu pembatalan hanya dapat dimintakan apabila
perbuatan hukum itu dilakukan oleh debitor yang telah dinyatakan pailit (telah berstatus sebagai
debitor pailit).
3. Bagaimana halnya apabila penerima pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004 tidak mengetahui bahwa permohonan pernyataan pailit sudah
didaftarkan? Apakah dalam hal yang demikian itu maka pembayaran tersebut tidak dapat
dibatalkan?
4. Bagaimana halnya bagi para kreditor yang bukan pemegang surat pengganti atau surat atas tunjuk
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, (Sutan Remy
Syahdeini, 2009: 255-256).
Yang harus atau berhak mengajukan permohonan pembatalan terhadap perbuatan pengalihan harta
kekayaan debitor dijelaskan oleh Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004. Menurut
Pasal 47 ayat (1) tersebut, tuntutan hak berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
41 sampai dengan Pasal 46 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dapat mengajukan bantahan
terhadap tuntutan kurator yang dilakukan berdasarkan kewenangan kurator sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004. Ketentuan pasal 47 ayat (1) dan ayat
(2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 itu adalah sebagai konsekuensi dan sejalan dengan
ketentuan Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.
Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menentukan bahwa yang dapat
mengajukan tuntutan berdasarkan ketentuan Pasal 41 sampai dengan Pasal 46 hanyalah Kurator.
Tidak ada ketentuan yang memungkinkan bagi Kreditor untuk mengajukan tuntutan. Menurut
penafsiran terhadap ketentuan Pasal 47 ayat (1) itu, apabila Kreditor menginginkan agar dilakukan
permohonan pembatalan sebagaiman dimaksud dalam Pasal 41 sampai dengan Pasal 46 Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004, Kreditor dapat memintanya kepada Kurator untuk mengajukan
permintaan pembatalan tersebut. Timbul persoalan, bagaimana apabila ternyata Kurator menolak
permintaan Kreditor tersebut? Bila kurator monolak, berarti timbul sengketa atau perbedaan
pendapat antara Kreditor dan Kurator. Bila terjadi hal yang demikian, Kreditor sebaiknya meminta
agar Hakim Pengawas mengambil sikap atas penolakan Kurator tersebut.
Menurut Pasal 48 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, dalam hal kepailitan berakhir
dengan disahkannya perdamaian, tuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 Undang-Undang
Nomor 37 Tahun 2004 gugur. Namun demikian, menurut Pasal 48 ayat (2), tuntutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 tidak gugur, jika perdamaian tersebut berisi pelepasan atas harta pailit,
untuk itu tuntutan dapat dilanjutkan atau diajukan oleh para pemberes harta untuk kepentingan
Kreditor. Para pemberes harta yang dimaksudkan dalam pasal 48 ayat (2) itu dalam penjelasannya
tidak mengemukakan apa-apa. Mengingat ketentuan Pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 yang mengatur mengenai tugas kurator, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan para pemberes harta adalah para Kurator. Tidak ada kejelasan alasan dalam Pasal 48 ayat (2)
tidak disebutkan saja para Kurator dan bukannya para pemberes harta sehingga tidak menimbulkan
keraguan dan kebingungan.
Akibat pembatalan perbuatan hukum sebagaimana dimaksud Pasal 41 sampai dengan Pasal 46
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 terhadap orang yang telah menerima pengalihan atas bagian
harta kekayaan Debitor Pailit. Pasal 49 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menentukan:
Setiap orang yang telah menerima benda yang merupakan bagian harta Debitor yang tercakup
dalam perbuatan hukum yang dibatalkan, harus mengembalikan benda tersebut kepada Kurator dan
dilaporkan kepada Hakim Pengawas.

Orang yang disebut terakhir itu apabila tidak dapat mengembalikan benda yang telah diterimanya
dalam keadaan seperti semula, menurut Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 ia
wajib memberikan ganti rugi kepada harta pailit itu. Namun demikian, menurut Pasal 49 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dalam hal hak pihak ketiga atas benda sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang diperoleh dengan itikad baik dan tidak dengan cuma-cuma, harus
dilindungi. Ketentuan Pasal 49 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tersebut sejalan
dengan ketentuan Pasal 1341 ayat (2) KUHPerdata. Menurut penjelasan Pasal 49 ayat (3), yang
dimaksud dengan itikad baik dan tidak dengan cuma-cuma termasuk juga pemegang hak agunan
atas benda tersebut.
Menurut Pasal 49 ayat (4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, benda yang diterima oleh Debitor
atau nilai penggantinya, wajib dikembalikan oleh Kurator sejauh harta pailit diuntungkan, sedangkan
untuk kekurangannya (apabila penerimaan tersebut nilainya masih berada dibawah nilai
piutangnya), orang terhadap siapa pembatalan tersebut dituntut dapat tampil sebagai Kreditor
Konkuren (untuk kekurangan tersebut). Istilah yang dipakai dalam pasal 49 Undang-Undang Nomor
37 Tahun 2004 adalah benda yang merupakan bagian dari harta Debitor atau hanya disebut benda
dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tidak pada keterangan apapun mengenai apa
yang dimaksudkan dengan benda. Mereka yang terkait dengan pelaksanaan atau penerapan Pasal 49
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 akan menjadi bingung apabila menafsirkan pengertian benda
secara sempit, yaitu hanya terbatas kepada atau diartikan sebagai barang. Pengertian benda di
dalam Pasal 49 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 harus diberikan pengertian yang
tidak sekadar dalam pengertian barang, tetapi harus diartikan sama dengan perbuatan hukum
seperti yang dimaksud dalam Pasal 41 dan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, sama
dengan hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004, dan sama dengan pembayaran suatu utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 dan Pasal
46 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.
Ketentuan Pasal 49 ayat (4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, yaitu ketentuan yang
mewajibkan Kurator untuk mengembalikan benda yang diterima oleh Debitor atau nilai
penggantinya sejauh harta pailit diuntungkan, timbul pertanyaan : Apakah kewajiban untuk
mengembalikan itu tetap berlaku apabila dengan pengembalian tersebut justru harta pailit
dirugikan? untuk lebih jelas dapat digambarkan keadaan sebagai berikut: Debitor pailit, beberapa
bulan sebelum dinyatakan pailit membeli rumah beserta tanahnya dengan harga Rp 3.000.000.000,-.
Kurator wajib mengembalikan rumah tersebut kepada penjual dengan mengembalikan harga
pembeliannya yaitu Rp 3.000.000.000,- apabila harga rumah tersebut turun. Oleh karena harganya
turun, seandainya rumah itu tetap dipertahankan sebagai harta pailit (tidak dikembalikan kepada
penjual), tentu saja kurator tidak mungkin memperoleh harga sebesar Rp 3.000.000.000,- (harga
pembelian) pada saat kurator melakukan tindakan pemberesan (likuidasi). Dengan demikian,
pengembalian barang tersebut menguntungkan harta pailit. Namun demikian, sebaliknya apabila
ternyata harga rumah itu naik, maka kurator tidak wajib (bahkan dilarang) mengembalikan barang
tersebut karena perbuatan itu hanya akan merugikan harta pailit.
Wajibkah penjual rumah dalam contoh di atas mengembalikan harga rumah sebesar Rp
3.000.000.000,- sedangkan ia mengetahui bahwa harga rumah telah turun di pasaran? Menurut
Pasal 41 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dan Pasal 1341 KUHPerdata, kewajiban untuk
mengembalikan harga rumah itu sebesar nilainya semula, yaitu sebesar Rp 3.000.000.000,-, hanya
berlaku bagi penjual apabila beritikad tidak baik, misalnya penjual bersekongkol dengan debitor
dalam melakukan jual beli rumah itu, sedangkan ia mengetahui bahwa debitor telah berada dalam
keadaan kesulitan keuangan yang dapat mengarah kepada kepailitan dan perbuatan penjualan
rumah itu dapat merugikan para kreditor. Sebaliknya berdasarkan ketentuan Pasal 49 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, penjual tidak wajib mengembalikan uang itu apabila dalam
menjual rumah itu ia beritikad baik. Dalam hal penjual beritikad baik, ia harus dilindungi.
Uraian yang telah dikemukakan di atas, yaitu uraian tentang Pasal 41 sampai dengan Pasal 49
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, adalah menyangkut pembatalan perbuatan debitor yang
dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan. Berikut ini adalah uraian mengenai
pembatalan perbuatan debitor sesudah putusan pernyataan pailit diucapkan.
Pasal 50 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 mengatur mengenai pembayaran piutang debitor
pailit yang dilakukan oleh kreditornya sesudah putusan pernyataan pailit diucapkan. Bunyi lengkap
Pasal 50 adalah sebagai berikut :
Pasal 50
1. Setiap orang yang sesudah putusan pernyataan pailit diucapkan tetapi belum diumumkan,
membayar kepada Debitor pailit untuk memenuhi perikatan yang terbit sebelum putusan
pernyataan pailit diucapkan, dibebaskan terhadap harta pailit sejauh tidak dibuktikan bahwa yang
bersangkutan mengetahui adanya putusan pernyataan pailit tersebut.
2. Pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilakukan sesudah putusan pernyataan
pailit diumumkan, tidak membebaskan terhadap harta pailit kecuali apabila yang melakukan dapat
membuktikan bahwa pengumuman putusan pernyataan pailit yang dilakukan menurut undang-
undang tidak mungkin diketahui di tempat tinggalnya.
3. Pembayaran yang dilakukan pada Debitor pailit, membebaskan Debitornya terhadap harta pailit,
jika pembayaran itu menguntungkan harta pailit.

Perlu kiranya diberi uraian mengenai ketentuan pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004. Menurut ketentuan Pasal 50 ayat (3) tersebut pembebasan debitor pailit terhadap harta pailit
dari pemenuhan kewajiban pembayaran hanya berlaku sepanjang pemenuhan kewajiban
pembayaran tersebut yang diterima oleh debitor pailit, dapat menguntungkan harta pailit tersebut.
Ketentuan ini merupakan kebalikan dari ketentuan Pasal 49 ayat (4) Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004.
Dapat diambil contoh yang merupakan kebalikan dari contoh ketika kita membahas Pasal 49 ayat (4)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004. Misalnya, Debitor sesudah dinyatakan pailit menjual rumah
beserta tanahnya dengan harga Rp 3.000.000.000,-. Sesuai dengan ketentuan Pasal 50 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, kurator wajib mengembalikan pembayaran sebesar Rp
3.000.000.000,- itu kepada pembeli apabila harga rumah naik. Dengan memperoleh kembali rumah
tersebut, kurator akan memperoleh harga yang lebih tinggi dalm proses kepailitan (likuidasi). Apabila
harga rumah turun, akan lebih menguntungkan bagi harta pailit apabila kurator tidak
mengembalikan harga penjualan rumah itu.
Apabila rumah tersebut telah berpindah tangan kepada pihak lain, maka menurut ketentuan Pasal
41 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dan Pasal 1341 KUHPerdata, keterikatan pembeli
rumah untuk mengembalikan rumah tersebut dan menerima harga semula adalah tergantung
kepada itikad baik pembeli. Apabila pembeli memang beritikad baik, yaitu pembeli dapat
membuktikan bahwa pada saat jual beli rumah tersebut dilakukan, pembeli tidak mengetahui atau
sepatutnya memang tidak mungkin mengetahui bahwa perbuatan hukum itu akan mengakibatkan
kerugian bagi para kreditor (hal itu mungkin saja terjadi karena ketentuan Pasal 50 Undang-Undang
Nomor 37 Tahun 2004 diberlakukan dalam hal putusan pernyataan pailit yang telah diucapkan oleh
hakim pengadilan niaga belum diumumkan), maka pembeli tidak berkewajiban untuk
mengembalikan rumah tersebut. Begitu pula sebaliknya apabila telah diumumkan maka pembeli
berkewajiban untuk mengembalikan rumah tersebut

3.3 Akibat Hukum Dari Actio Pauliana Dalam Kepailitan


Pasal 41 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dengan tegas menyatakan bahwa perbuatan
tersebut dapat dimintakan batal, dalam hal ini tentunya oleh pihak Kurator dari si Debitor Pailit. Jika
Debitor menjual suatu barang secara yang dapat dikenakan actio pauliana, jual beli tersebut
dibatalkan oleh Pengadilan Niaga atas permohonan Kreditor dan karenanya barang tersebut harus
dikembalikan kepada si Debitor Pailit. Jika barang tersebut karena sesuatu dan lain hal tidak dapat
dikembalikan lagi, menurut Pasal 49 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 pihak pembeli
wajib memberikan ganti rugi kepada Kurator.
Bagitu pula dengan harga barang yang telah diterima oleh Debitor Pailit. Harga barang tersebut akan
dikembalikan oleh pihak Kurator dengan syarat:
1. jika dan sejauh harga barang tersebut telah bermanfaat bagi harta pailit;
2. jika ada tersedia harga barang tersebut.
Harga barang tersebut jika tidak tersedia atau tidak cukup tersedia lagi, pihak ketiga tersebut (pihak
pembeli) hanya menjadi Kreditor konkuren dan akan mendapatkan haknya nanti ketika dilakukan
pemberesan dan pembagian harta pailit, sesuai dengan Pasal 49 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004.
Sebelum pembatalan jual beli dengan actio pauliana jika pihak pembeli telah mengalihkan barang
tersebut kepada pihak lain, dalam hal ini harus memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
1. apakah pengalihan barang tersebut oleh pihak pembeli kepada pihak ketiga lainnya dilakukan
dengan perbuatan timbal balik, misalnya jual beli. Jika misalnya pihak penerima hak yang baru
tersebut hanya menerima hak secara hibah atau hadiah, tidak alasan untuk melindungi pihak yang
menerima hibah atau hadiah tersebut. Apabila yang dilakukan adalah jual beli (jadi merupakan jual
beli kedua), harus dilihat pada faktor kedua point tersebut;
2. apakah jual beli kedua (dari pembeli pertama kepada pembeli kedua) dilakukan dengan itikad baik
(misalnya dilakukan dengan harga pasar). Apabila dilakukan dengan itikad baik, maka
pembelidengan itikad baik tersebut harus dilindungi oleh hukum. Tidak ada alasan untuk melindungi
pihak pembeli tidak dengan itikad baik misalnya membeli dengan harga dibawah harga pasar, (Munir
Fuady, 2005: 94-95).
Barang yang telah dijual kembali oleh pembeli pertama kepada pembeli lain (pembeli kedua) yang
beritikad baik, tidak berarti si pembeli pertama terlepas dari kewajibannya berdasarkan actio
pauliana. Apabila pembeli pertama tidak dapat mengembalikan lagi barang tersebut kepada harta
pailit, dia harus memberikan ganti rugi dalam bentuk uang atau dalam bentuk-bentuk lain apapun
yang senilai dengan uang ganti kerugian yang dapat diterima oleh pihak Kurator (pasal 49 ayat 2
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004). Begitu pula jika actio pauliana tersebut dilakukan terhadap
perbuatan yang berupa pemberian jaminan hutang kepada pihak kreditor tertentu. Dalam hal ini,
apabila actio pauliana diterima oleh hakim, sebagai konsekwensinya pihak bank yang diberikan hak
jaminan tersebut akan kehilangan atau dibatalkan hak jaminannya, (Munir Fuady, 2005:95).
Perlu juga ditekankan bahwa kompensasi dalam actio pauliana terserah pada pertimbangan Kurator.
Misalnya, jika harga pasaran barang adalah Rp. 2.000.000.000,00 ( dua miliar rupiah), tetapi dijual
dibawah harga, yakni Rp. 1.500.000.000,00 ( satu miliar limaratus juta rupiah), dan untuk itu dapat
dibatalkan dengan actio pauliana. Jika pihak pembeli bersedia untuk melakukan kompensasi dengan
menambah kekurangan sebanyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah) lagi, adalah terserah
kepada Kurator untuk menerima tambahan harga tersebut atau tidak. Biasa saja dalam hal-hal
tertentu memang lebih menguntungkan harta pailit atau lebih praktis jika barang tersebut tetap
dijual kepada pembeli tersebut dengan menambah harga yang kurang. Akan tetapi ini tentu bukan
lewat skenario actio pauliana, karena dengan actio pauliana yang ditekankan adalah unsur
membatalkan transaksi (Pasal 41 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004).
Jadi tujuan utama dilakukan actio pauliana adalah untuk memintakan batal atas segala perbuatan
yang telah dilakukan Debitor Pailit. Perbuatan hukum Debitor yang dapat dibatalkan adalah
perbuatan hukum yang dilakukan satu tahun sebelum adanya putusan pailit oleh Pengadilan Niaga
yang dinilai dan dibuktikan telah merugikan Kreditor dalam hubungannya dengan harta pailit sesuai
dengan Pasal 41 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004. Biasanya perbuatan yang dilakukan oleh
Debitor dengan pihak ketiga adalah jual-beli, pemberian jaminan utang kepada pihak Kreditor
tertentu, hibah, dan lain sebagainya yang pada akhirnya apabila hal tersebut telah terbukti
merugikan pihak Kreditor maka perbuatan tersebut akan dibatalkan dan seluruh kerugian yang
ditanggung pihak Kreditor akan menjadi tanggung jawab Debitor dengan pihak lain yang turut serta
melakukan perjanjian dalam kondisi Debitor akan dinyatakan pailit oleh Pengadilan.

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan dan pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa :
1. Latarbelakang timbulnya actio pauliana adalah adanya putusan permohonan pernyataan pailit
oleh Hakim Pengadilan Niaga yang menimbulkan 2 (dua) macam akibat hukum yang berlaku kepada
Debitor yaitu berlaku demi hukum (by the operation of law) dan ada yang perlu dimintakan oleh
pihak tertentu dan perlu pula persetujuan institusi tertentu (Rule of Reason). Salah satu akibat
hukum tersebut, terdapat kemungkinan sebelum pernyataan pailit, pihak Debitor merugikan
Kreditor-Kreditornya, misalnya secara tidak beritikat baik melakukan transaksi dengan mengalihkan
aset-asetnya kepada pihak ketiga. Dalam hal ini Undang-Undang membolehkan dilakukan actio
pauliana terhadap transaksi tersebut asalkan memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam Undang-
Undang.
2. Tidak ada perbedaan makna actio pauliana yang terdapat dalam Pasal 1341 KUHPerdata dan
dalam Pasal 41 sampai dengan Pasal 49 Undang Nomor 37 Tahun 2004. Pasal 1341 KUHPerdata
merupakan tinjauan actio pauliana secara umum dan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 1341 KUHPerdata yang merupakan tinjauan actio
pauliana secara khusus. Pasal 1341 KUHPerdata dan Pasal 41 sampai dengan Pasal 49 Undang
Nomor 37 Tahun 2004 tersebut membolehkan pembatalan atas segala perbuatan hukum Debitor
yang dinilai telah merugikan kepentingan Kreditor dengan syarat-syarat yang telah diatur Undang-
Undang
3. Akibat hukum yang ditimbulkan dari perbuatan Debitor Pailit yang dinilai telah merugikan
kepentingan Kreditor yang secara dapat dikenakan actio pauliana dapat dimintakan batal. Debitor
menjual suatu barang secara yang dapat dikenakan actio pauliana, jual beli tersebut dibatalkan dan
barang tersebut harus dikembalikan kepada si Debitor Pailit. Jika barang tersebut karena sesuatu
dan lain hal tidak dapat dikembalikan lagi, menurut Pasal 49 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 pihak pembeli wajib memberikan ganti rugi kepada Kurator. Jika actio pauliana tersebut
dilakukan terhadap perbuatan yang berupa pemberian jaminan hutang kepada pihak kreditor
tertentu, dalam hal ini, apabila actio pauliana diterima oleh hakim, sebagai konsekwensinya pihak
bank yang diberikan hak jaminan tersebut akan kehilangan atau dibatalkan hak jaminannya. Perlu
juga ditekankan bahwa kompensasi dalam actio pauliana terserah pada pertimbangan Kurator. Akan
tetapi ini tentu bukan lewat skenario actio pauliana, karena dengan actio pauliana yang ditekankan
adalah unsur membatalkan transaksi (Pasal 41 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004)

4.2 Saran
Saran yang diberikan dalam tulisan ini yaitu:
1. Untuk menghindari terjadinya actio pauliana, hendaknya Debitor yang telah dijatuhi putusan pailit
oleh Pengadilan Niaga menghormati dan tidak melakukan tindakan yang merugikan kepentingan
Kreditor dengan tidak beritikat baik mengalihkan aset-asetnya kepada pihak lain.
2. Makna yang terkandung dalam KUHPerdata maupun dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2004 hendaknya diperhatikan dan dilaksanakan oleh pihak-pihak yang terkait baik Kreditor, Debitor
Pailit, Kurator, Hakim Pengawas maupun Pihak lain dalam hal ini pihak ketiga agar dalam
pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar.
3. Akibat hukum yang timbul karena adanya actio pauliana hendaknya ditaati oleh semua pihak yang
terkait baik Kreditor, Debitor Pailit, Kurator, Hakim Pengawas maupun Pihak lain dalam hal ini pihak
ketiga karena seorang Hakim dalam mengeluarkan suatu putusan yang mempunyai akibat hukum
sudah berdasarkan pertimbangan hukum yang matang untuk tujuan keadilan.
DAFTAR BACAAN

Abdulkadir Muhammad, 1996, Hukum Perseroan Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Adrian Sutedi, 2008, Hukum Perbankan Suatu Tinjauan Pencucian Uang Merger Likuidasi dan
Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta.

A. Qirom Syamsudin Meliala, 1985, Pokok-pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya,


Liberty, Yogyakarta.

Fakultas Hukum Universitas Jember, 2006, Pedoman Penulisan Proposal Penelitian dan Skripsi,
Fakultas Hukum Universitas Jember, Jember.

Hasanuddin Rahman, 1998, Hukum Kredit dan Bank Garansi (The bankers hand book), Citra Aditya
Bakti, Bandung.

Imran Nating, 2005, Peranan dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan
Harta Pailit, PT Raja Grafindi Persada, Jakarta.

Jono, 2008, Hukum Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta.

J Satrio, 2007, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Kartini Mulyadi dan Gunawan Widjaja, 2004, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Raja Grafindo
Persada, Jakarta.

Man S Sastrawidjaja, 2006, Hukum Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, PT
Alumni, Bandung.

Martiman Prodjohamidjojo, 1999, Proses Kepailitan Menurut Peraturan Pemerintah Penganti


Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Kepailitan, CV
Mandar Maju, Jakarta.

Munir Fuady, 2005, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, PT, Citra Aditya Bakti, Bandung.

M Yahya Harahap, 1986, Segi-Segi Hukum Perjanjian,Alumni, Bandung.

Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta.

Rachmadi Usman, 2004, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Alumni, Bandung.

Rahayu Hartini, 2008, Hukum Kepailitan, Departemen Pendidikan Nasional.


Rudhy A Lontoh, & et, Al. (editor), 2001, Penyelesaian Utang Piutang Melalui Pailit Atau Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni Bandung.

R Wirjono Projodikoro, 2000, Asas-Asas Hukum Perjanjian. CV Mandar Maju. Jakarta

Subekti,1979, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Interamasa, Jakarta.


Sudargo Gautama, 1998, Komentar Atas Peraturan Kepailitan Baru Untuk Indonesia, Citra Aditya
Bakti, Bandung.

Victor M Situmorang dan Hendri Soekarso, 1994, Pengantar Hukum Kepailitan Di Indonesia, PT
Rineka Cipta, Jakarta.

Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Hasil Penelitian

Liliek Istiqomah, 2006, Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor Separatis Dalam Eksekusi Hak
Tanggungan, Lembaga Penelitian Fakultas Hukum Universitas Jember, Jember.

Internet

http.//hernathesis,multiply,com/reviews/item/16 [diakses tanggal 10 Maret 2009]

http.//library,usu,ac,id/download/fh/perdata-zulfichairi2,pdf [diakses tanggal 10 Maret 2009]


http://click-gtg.blogspot.com/,[diakses tanggal 10 Maret 2009]

MAKALAH HUKUM KEPAILITAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Permasalahan


Berkembangnya era globalisasi di dunia,sangat membawa dampak terhadap beberapa segi
kehidupan di Indonesia baik di bidang sosial,ekonomi,budaya,dan lain-lain.Khususnya di
bidang ekonomi,berkembangnya era globalisasi semakin mendongkrak daya pikir manusia
untuk melakukan suatu usaha ataupun pengembangan di bidang usaha.Berbagai cara
ditempuh oleh pelaku usaha untuk melakukan melakukan pengembangan usahanya agar
usahanya tidak tertinggal dengan pelaku usaha yang lain.Hal itu dilakukan dengan melakukan
iklan besar-besaran,membuka jalur-jalur investasi baik untuk investor dalam negeri maupun
investor luar negeri,membuka berbagai cabang perusahaan dan yang paling sering dilakukan
adalah melakukan utang untuk mengembangkan usahanya,karena di zaman sekarang untuk
melakukan suatu pengembangan usaha tidak membutuhkan biaya yang ringan.Utang bagi
pelaku usaha bukan suatu proses yang menunjukan bahwa perusahaan mempunyai neraca
keuangan yang buruk,utang dalam dunia usaha merupakan salah satu langkah infentif untuk
mendapatkan suntikan modal agar dapat melakukan pengembangan usaha.Namun konsep
tersebut berlaku apabila di masa jatuh tempo penagihan,perusahaan tersebut mampu
mengembalikan utang tersebut.
Yang menjadi permasalahan adalah ketika perusahaan sebagai debitor atau pihak yang
mempunyai utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasanya dapat ditagih di
pengadilan,tidak mampu mengembalikan utang dari kreditor atau pihak yang mempunyai
piutang utang karena perjanjian atau undang-undang yang pelunasanya dapat ditagih di
pengadilan.Oleh karena itu,dalam menjamin keadilan untuk masing-masing pihak,pemerintah
mengeluarkan peraturan tentang kepailitan..Pengaturan kepailitan sudah ada sejak zaman
penjajahan Belanda,yaitu S.1905-217 juncto S.1906-348.Untuk menjamin kepastian hukum
yang lebih pasti maka pada tanggal 22 April 1998 dikeluarkanlah Perpu Nomor 1 tahun 1998
yang kemudian disahkan dengan Undang-Undang No.1 Tahun 1998. Undang-Undang No.1
Tahun 1998 tersebut diperbaiki dan diganti dengan Undang-Undang No.37 Tahun 2004
tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Hutang .Kepailitan adalah sita
umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesanya dilakukan
oleh kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur didalam Undang-
Undang ini.Undang-undang ini semakin menjawab berbagi permasalahan kredit macet yang
ada di Indonesia pada waktu itu.
Pada dasarnya,kepailitan mencakup mengenai harta kekayaan dan bukan mengenai
perorangan debitur .Yang disebut dengan harta pailit adalah harta milik debitur yang
dinyatakan pailit berdasarkan keputusan pengadilan(ahmad hal 27).Ketentuan pasal 21
Undang-Undang Kepailitan secara tegas menyatakan bahwaKepailitan meliputi seluruh
kekayaan Debitor pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan serta segala sesuatu yang
diperoleh selama kepailitan.Walaupun demikian pasal 22 Undang-Undang Kepailitan
mengecualikan beberapa harta kekayaan debitur dari harta pailit.Selain itu,dalam pasal 1131
dan 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata juga menerangkan tentang jaminan
pembayaran harta seorang debitor kepada kreditor.Dalam pasal 1131 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata disebutkan bahwaSegala kebendaan si berutang,baik yang bergerak maupun
tak bergerak,baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari,menjadi
tanggungan perikatan perseorangan.,hal ini sangat memperjelas tentang obyek dari harta
pailit. Namun dalam perkembanganya,banyak debitor yang berusaha menghindari berlakunya
pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut dengan melakukan berbagai
perbuatan hukum untuk memindahkan berbagai asetnya sebelum dijatuhkanya putusan pailit
oleh Pengadilan Niaga.Misalnya menjual barang-barangnya sehingga barang tersebut tidak
lagi dapat disitajaminkan oleh kreditur.Hal ini sangat merugikan kreditur karena semakin
berkurangnya harta yang dipailitkan maka pelunasan utang kepada kreditor menjadi tidak
maksimal.Undang-Undang Telah melakukan berbagai cara untuk melindungi kreditor dengan
pasal 1341 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan pasal 41-49 Undang Undang No.37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran.Upaya-upaya yang
dilakukan oleh undang-nndang tersebut serind disebut dengan actio pauliana.Actio pauliana
adalah suatu upaya hukum untuk membatalkan transaksi yang dilakukan oleh debitor untuk
kepentingan debitor tersebut yang dapat merugikan kepentingan kreditornya. Namun dalam
upaya pembuktianya bahwa debitur telah melakukan berbagai perbuatan hukum yang
merugikan kreditur bukanlah sesuatu yang mudah.

B.Perumusan Masalah
1.Apakah perbedaan pengaturan actio paulinia di dalam KUHPerrdata dengan UU No.37
Tahun 2004?
2.Bagaimanakah cara membuktikan bahwa debitor telah melakukan perbuatan hukum yang
merugikan kreditor sehingga perlu dilaksanakanya Action pauliana?
3.Apakah akibat hukum dari Action Pauliana?

BAB II
PEMBAHASAN
Kata-kata actio pauliana ini berasal dari orang romawi,yang menunjukan kepada semua
upaya hukum yang digunakan untuk menyatakan batal tindakan debitur yang meniadakan arti
pasal 1131 KUHPerdata yang berbunyiSegala kebendaan si berutang,baik yang bergerak
maupun tidak bergerak,baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian
hari,menjadi tanggungan untuk segala perikatan perorangan.Jadi debitor berusaha
meniadakan atau menghilangkan arti penting dari pasal ini dengan cara memindahkan
sebagian aset-aset harta kepailitanya agar tidak menjadi aset yang digunakan untuk
pembayaran kreditor saat debitor tersebut dipailitkan.Karena semakin besar aset yang
dimiliki oleh seorang debitor maka akan menyebabkan semakin besar pula kewajiban
pengeluaran asetnya untuk memenuhi kewajiban pembayaran hutang kepada kreditor. Oleh
karena itu ketika debitor akan dinyatakan pailit,diperlukan suatu kewenangan hukum yang
dapat membatalkan perbuatan-perbuatan hukum dari seorang debitor,kewenangan hukum ini
sering disebut dengan actio paulinia.Pengaturan tentang actio pauliana diperkuat di dalam
pasal 1341 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyiMeskipun demikian,tiap orang berpiutang
boleh mengajukan batalnya segala perbuatan yang tidak diwajibkan yang dilakukan oleh si
berutang dengan nama apapun juga,yang merugikan orang-orang yang berpiutang,asal
dibuktikan,bahwa ketika perbuatan dilakuka,baik si berutang maupun orang dengan atau
untuk siapa si berutang itu berbuat,mengetahui bahwa perbuatan itu membawa akibat yang
merugikan orang-orang yang berpiutang..Dalam pasal 1341 ayat (1) tersebut dapat diartikan
bahwa terdapat hak dari seorang kreditur untuk mengajukan pembatalan terhadap tindakan-
tindakan hukum yang tidak diwajibkan,yang telah dilakukan oleh debitur.Yang dimana
perbuatan tersebut dapat merugikan pihak kreditor.Selain itu,paal tersebut juga membuktikan
tentang sifat dasar perjanjian yang mengikat kedua belah pihak.
Actio Pauliana merupakan sarana yang diberikan oleh undang-undang untuk membatalkan
perbuatan hukum yang dilakukan oleh debitor.Di dalam pasal 1341 ayat (2) yang berbunyi
Hal-hal yang diperolehnya dengan itikad baik oleh orang-orang pihak ketiga atas barang-
barang yang menjadi pokok perbuatan yang batal itu,dilindungi. juga ditambahkan tentang
asas itikad baik(good faith). .Jadi walaupun barang-barang atau aset-aset yang dimiliki oleh
debitur sudah dikuasai oleh pihak ketiga,maka aset-aset tersebut dapat diminta kembali
dengan actio paulinia dan untuk pihak ketiga yang terlanjur melakukan transaksi dengan
debitor yang akan dinyatakan pailit,akan diberikan pengembalian terhadap harga yang telah
dibayarnya oleh kurator.
Selain diatur di dalam KUHPerdata,Undang-Undang No.37 Tahun 2004 tentang kepailitan
juga mengatur tentang actio paulinia secara lebih komprehensif.Pengaturan actio paulinia di
dalam Undang-Undang No.37 Tahun 2004 diatur di dalam pasal 41 sampai dengan 49.Hal ini
dapat dibuktukan dengan isi dari pasal 41 Undang-Undang No.37 Tahun 2004 yang
menyebutkan Untuk kepentingan harta pailit, kepada Pengadilan dapat dimintakan
pembatalan segala perbuatan hukum Debitor yang telah dinyatakan pailit yang merugikan
kepentingan Kreditor, yang dilakukan sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.
Dalam melaksanakan tugasnya,seorang kurator juga harus memastikan terpenuhinya syarat-
syarat dari actio pauliana.Syarat-syarat dari actio pauliana menurut Undang-Undang
Kepailitan adalah sebagai berikut:
1.Dilakukan actio pauliana tersebut untuk kepentingan harta pailit
2.Adanya perbuatan hukum dari debitur
3.Debitur tersebut telah dinyatakan pailit
4.Perbuatan hukum tersebut merugikan kepentingan kreditor,contohnya:menjual barang
dengan harga dibawah standar,pemberian barang sebagai hibag atau hadiah,memberikan
kewajiban terhadapharta pailit,melakukan sesuatu yang merugikan rangking kreditor seperti
pembayaran terhadap kreditor tertentu saja.
5.Perbuatan hukum tersebut dilakukan sebelum pernyataan pailit ditetapkan
6.Kecuali dalam hal-hal berlaku pembuktian terbalik,dapat dibuktikan bahwa pada saat
perbuatan hukum tersebut dilakukan,debitur tersebut mengetahui atau sepatutnya mengetahui
bahwa perbuatan hukum tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi kreditur
7.Kecuaali dalam hal-hal berlaku pembuktian terbalik,dapat dibuktikan bahwa pada saat
perbuatan hukum tersebut dilakukan,pihak dengan siapa perbuatan hukum itu dilakukan
mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan hukum tersebut akan
mengakibatkan kerugian pada kreditor
8.Perbuatan hukum tersebut bukan perbuatan hukum yang diwajibkan,yaitu tidak diwajibkan
oleh undang-undang atau perjanjian.Contoh:memberikan jaminan kepadav kreditur yang
tidak diharuskan,membayar hutang yang belum jatuh tempo,menjual barang-barang dengan
kompensasi harga,membayar utang(sudah jatuh tempo atau belum) tidak secara tunainamun
diganti dengan hal yang lain seperti barang.
Seperti yang ada di dalam syarat-syarat actio pauliana bahwa perbuatan debitur harus
merupakan perbuatan hukum.Jadi dalam perbuatan yang dapat dibatalkan dengan actio
pauliana harus merupakan suatu perbuatan yang memiliki akibat hukum.Jadi apabila debitor
memusnahkan asetnya,debitor menolak untuk menerima sumbangan ataupun debitor tidak
mengeksekusi suatu kontrak yang sudah terlebih dahulu diperjanjikanya,tidak dapat
dilakukan actio pauliana karena tindakan-tinndakan tersebut bukanlah suatu perbuatan
hukum. Apabila ditelusuri pembayaran utang kepada kreditor,hal itu merupakan kewajiban
yang ada di dalam undang-undang maupun perjanjian.Namun pembayaran utang tersebut
masih bisa dibatalkan dengan actio pauliana apabila:
1.Dapat dibuktikan bahwa si penerima pembayaran mengetahui pada saat dibayarnya hutang
tersebut oleh debitur,kepada debitor tersebut telah dimintakan pernyataan pailit atau
pelaporanuntuk itu sudah dimintakan.
2.Adanya persengkongkolan antara kreditor dan debitor,sehingga hal tersebut lebih
menguntungkan kresitor tersebut dari pada kreditor-kreditor yang lain.
Selain hal tersebut,agar perbuatan yang dilakukan debitur kemudian dinyatakan
pailit,menurut doktrin untuk dapat dibatalkan dengan actio pauliana harus dipenuhi dua syarat
yaitu perbuatan tersebut diketahui dan patut diduga oleh pihak debitur dan pihak ketiga
bahwa perbuatan tersebut merugikan terhadap pihak kreditur.Sementara jika yang dilakukan
oleh debitur yang akan dipailitkan tersebut adalah hibah atau hadiah,terhadap pihak ketiga
yang menerima hibah atau hadiah tersebut tidak disyaratkan unsur diketahui dan patut diduga
oleh pihak debitur dan pihak ketiga bahwa perbuatan tersebut merugikan terhadap pihak
kreditur.Dalam hal ini tindakan patut diketahui dan menduga menjadi beban dari pemberi
hadiah dan hibah saja apabila hibah ini dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun sebelum
debitor pailit seperti yang diuangkapkan pasal 44.
Dalam Actio Pauliana untuk membuktikan perbuatan dari debitur yang mengarah pada
tindakan untuk mengalihkan aset-asetnya maka kurator wajib untuk membuktikan adanya
kerugian pada pihak kreditor akibat dari pembuatan perjanjian atau dilaksanakanya perbuatan
hukum tersebut.Selain itu kurator tersebut harus membuktikan bahwa perbuatan hukum
timbal balik yang dilakukan oleh debitor tersebut dalam upaya untuk merugikan kreditor .Di
samping itu juga dimungkinkan adanya suatu pembuktian terbalik,apabila saat dilakukanya
perbuatan tertentu yang merugikan harta pailit tersebut pihak debitor dan pihak siapaun
dengan siapa tindakan itu dilakukan(kecuali hibah) dianggap telah mengetahui atau patut
mengetahui bahwa perbuatan tersebut dapat merugikan kreditur kecuali dibuktikan
sebaliknya.Yaitu dapat dibuktikan bahwa pihak debitor dan pihak siapaun dengan siapa
tindakan itu dilakukan(kecuali hibah) tidak dalam keadaan mengetahui atau patut mengetahui
jika perbuatan tersebut merugikan kreditor.Jika perbuatan tersebut adalah hibah,maka
pembuktiab terbalik ini hanya dibebankan kepada debitor.Karena di dalam hibah tidak
disyaratkan adanya pembuktian bagi pihak siapaun dengan siapa tindakan itu
dilakukan.Syarat-syarat agar berlakunya pembuktian terbalik:
1.Perbuatan tersebut dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun sebelum putusan pernyataan
pailit ditetapkan.Sehingga disini berlaku asas Hukum Anti Perbuatan Menit Terakhir(Anti
Last Minute Grab Rule).
2.Perbuatan tersebut tidak wajib dilakukan oleh debitur
3.Hanya berlaku untuk perbuatan-perbuatan dalam hal tertentu saja,yaitu sebagai berikut:
a)Perbuatan hukum tersebut adalah hibah
b)Perbuatan tersebut merupakan perikatan dimana perikatan dimana kewajiban debitur
melebihi kewajiban pihak dengan siapa perikatan tersebut dilakukan.
c)Dilakukan oleh debitur perorangan,dengan atau terhadap:
1)Suami atau istrinya,anak angkat atau keluarganya sampai drajat ketiga
2)Suatu badan hukum dimana debitur atau pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam point 1
adalah anggota direksi atau pengurus atau apabila pihak tersebut, baik sendiri-sendiri maupun
bersamasama,ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan badan hukum
tersebut lebih dari 50% (lima puluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian
badan hukum tersebut.
d)Dilakukan oleh debitor yang merupakan badan hukummdengan atau terhadap:
1)anggota direksi atau pengurus dari Debitor, suami atau istri, anak angkat, atau keluarga
sampai derajat ketiga dari anggota direksi atau pengurus tersebut;
2)perorangan, baik sendiri atau bersama-sama dengan suami atau istri, anak angkat, atau
keluarga sampai derajat ketiga, yang ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam
kepemilikan Debitor lebih dari 50% (lima puluh persen) dari modal
3)perorangan yang suami atau istri, anak angkat, atau keluarganya sampai derajat ketiga, ikut
serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan pada Debitor lebih dari 50%
(lima puluh persen) dari modal disetor.
e)Dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum dengan atau untuk kepentingan

badan hukum lainnya, apabila:


1)Perorangan anggota direksi atau pengurus pada kedua badan usaha tersebut adalah orang
yang sama.
2)suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga dari perorangan anggota
direksi atau pengurus Debitor yang juga merupakan anggota direksi atau pengurus pada
badan hukum lainnya, atau sebaliknya
3)perorangan anggota direksi atau pengurus, atau anggota badan pengawas pada Debitor, atau
suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga, baik sendiri atau bersama-
sama, ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam kepemilikan badan hukum
lainnya lebih dari 50% (lima puluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan
hukum tersebut, atau sebaliknya
4)Debitor adalah anggota direksi atau pengurus pada badan hukum lainnya, atau sebaliknya
5)badan hukum yang sama, atau perorangan yang sama baik bersama, atau tidak dengan
suami atau istrinya, dan atau para anak angkatnya dan keluarganya sampai derajat ketiga ikut
serta secara langsung atau tidak langsung dalam kedua badan hukum tersebut paling kurang
sebesar 50% (lima puluh persen) dari modal yang disetor
Dalam hal pasal 41 Undang Undang Kepailitan dinyatakan bahwa tindakan-tindakan yang
digolongkan actio pauliana dapat dinmintakan batal tentunya dapat dinyatakan batal oleh
pihak kurator dari pihak debitor pailit.Jika debitor telah terlanjur untuk melakukan penjualan
terhadap asetnya,maka jual beli tersebut dapat dibatalkan dan aset dari debitor harus kembali
kepadanya.Namun jika karena alasan suatu hal aset tersebut tidak dapat
dikembalikan,menurut pasal 49 ayat 2 Undang Undang Kepailitan maka pihak pembeli harus
melakukan pengembalian kepada kurator.Selain itu harga barang yang telah diterima debitor
juga harus dikembalikan oleh pihak kurator dengan syarat bahwa harta barang bermanfaat
untuk harta pailit dan barang tersebut tersedia.

BAB III
KESIMPULAN

Pasal 1131 KUHPerdata digunakan sebagai dasar adanya suatu kepailitan karena dalam pasal
tersebut diterangkan bahwa segala kebendaan orang yang berutang menjadi tanggungan di
dalam perikatan.Oleh karena itu untuk menjamin berjalanya pasal 1131 tersebut maka
dibuatlah pasal 1341 KUHPerdata untuk menjamin hak-hak dari kreditor,dimana pasal ini
juga yang mengilhami lahirnya actio pauliana.Di dalam pasal ini juga terkandung adanya
suatu asas itikad baik yang menjadi landasan apakah perbuatan tersebut diwajibkan atau
tidak.Jadi walaupun barang-barang atau aset-aset yang dimiliki oleh debitur sudah dikuasai
oleh pihak ketiga,maka aset-aset tersebut dapat diminta kembali dengan actio paulinia dan
untuk pihak ketiga yang terlanjur melakukan transaksi dengan debitor yang akan dinyatakan
pailit,akan diberikan pengembalian terhadap harga yang telah dibayarnya oleh kurator.Dan
hak-hak yang diperoleh oleh pihak ketiga secara itikad baik tersebut dilindungi, artinya
perlindungan yang diberikan berupa jaminan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Debitor
dengan pihak ke tiga tersebut tidak dapat dibatalkan karena dalam actio pauliana yang
menjadi kunci pokok dikabulkan adalah adanya unsur itikad tidak baik oleh Debitor
Pailit.Untuk mengajukan actio pauliana,kreditor cukup membuktikan bahwa debitor pada
waktu melakukan perbuatanya tersebut mengetahui bahwa tindakanya tersebut merugikan
para Kreditornya tanpa peduli apakah orang yang menerima keuntungan itu juga
mengetahuinya atau tidak bahwa perbuatan Debitor tersebut merugikan para Kreditornya.Jadi
tidak perlu harus diajukanya suatu tuntutan atau gugatan terhadap tindakan debitor tersebut
karena pada asasnya bahwa tindakan debitor tersebut memang batal,bukan dibatalkan.Namun
dalam prakteknya cukup kurator menyatakan bahwa tindakan debitor tersebut batal,asalkan
kurator dapat membuktikan bahwa tindakan debitor tersebut dapat merugikan bagi pihak
kreditor.
Untuk mengatur ketentuan lebih lanjut dari pasal 1341 KUHPerdata tersebut maka dibuatlah
Undang-Undang No.37 Tahun 2004 khususnya pasal 30 dan 41-49 agar actio pauliana dapat
diatur lebih spesifik.Dasar dari actio pauliana diawali pada pasal 30 4membatalkan perbuatan
hukum yang dilakukan oleh pihak debitor yang dapat menyebabkan kerugian bagi pihak
kreditor.Lalu pada pasal 41-49 dimulailah pengaturan terhadap actio pauliana secara lebih
spesifik.Selain itu di dalam pasal 41 tersebut juga diterangkan bagaimana syarat-syarat atau
kriteria perbuatan yang dilakukan oleh pihak debitor yang dapat dibatalkan dengan actio
pauliana.
Selain itu di dalam Undang-Undang No.37 Tahun 2004 juga diterangkan bagaimana untuk
melakukan pembuktian terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh debitor
tersebut.Memang pada awalnya di dalam KUHPerdata telah diterangkan bahwa untuk
melakukan tindakan actio pauliana,pihak kreditor cukup membuktikan tindakan-tindakan
debitor yang dapat merugikan para kreditor,wa;aupun pada prakteknya memang hal ini sering
dilakukan kurator ketika aset-aset dari debitor tersebut telah menjadi wewenangnya.Namun
dalam Undang-Undang No.37 Tahun 2004 lebih mengatur secara spesifik dengan adanya
asas pembuktian terbalik kepada pihak debitor dan pihak dimana perbuatan itu dilakukan
apabila memenuhi syarat yang telah ditentukan di dalam pasal 42 Undang-Undang
Kepailitan.Apabila tindakan yang dilakukan oleh seorang debitor tersebut merupakan
hibah,maka tugas kurator untuk membuktikan bahwa tindakan tersebut debitor mengetahui
atau patut mengetahui tindakan tersebut untuk akan mengakibatkan kerugian dari debitor
seperti yang telah tercantum di dalam pasal 43 Undang-Undang Kepailitan.Namun pasal 44
membuat pengecualin apabila tindakan hibah tersebut dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun
sebelum keputusan pailit,maka akan berlaku pembuktian terbalik yang hanya dibebankan
pada pihak debitor,bukan orang dimana perbuatan itu dilakukan.Karena hanya debitorlah
yang dianggap mengetahui dan patut mengetahui bahwa tindakan tersebut dapat merugikan
pihak kreditor.
Selain itu apabila seorang debitur melakukan pembayaran utang yang sudah dapat ditagih
ketika pernyataan pailit untuk debitor telah didaftarkan,maka dalam pasal 45 Undang Undang
Kepailitan disebutkan bahwa tindakan tersebut dapat dibatalkan apabila dapat dibuktikan
bahwa perbuatan tersebut merupakan akibat dari persekongkolan antara pihak debitor dengan
kreditor dengan maksud menguntungkan kreditor tersebut melebihi kreditor lainya.Dari bunyi
pasal 45 Undang-Undang kepailitan,untuk menentukan apakah suatu pembayaran atas utang
yang sudah ditagih dapat dibatalkan atau tidak maka:
1. Dapat dibuktikan bahwa si penerima pembayaran mengetahui pada saat dibayarnya hutang
tersebut oleh debitur,kepada debitor tersebut telah dimintakan pernyataan pailit atau
pelaporanuntuk itu sudah dimintakan.
2. Adanya persengkongkolan antara kreditor dan debitor,sehingga hal tersebut lebih
menguntungkan kresitor tersebut dari pada kreditor-kreditor yang lain.
Dalam hal pembayaran yang telah diterima oleh pemegang surat pengganti atau surat atas
tunjuk yang karena hubungan hukum dengan pemegang terdahulu wajib menerima
pembayaran,pembayaran tersebut tidak dapat diminta kembali.Dalam hal pembayaran tidak
dapat diminta kembali tersebut,orang yang mendapat keuntungan sebagai akibat diterbitkanya
surat pengganti atau surat atas tunjuk,wajib menggembalikan kepada harta pailit jumlah uang
yang telah dibayar oleh debitur apabila:
1. Dapat dibuktikan bahwa penerbitan surat tersebut,yang bersangkutan mengetahui bahwa
permohonan pernyataan pailit debitor sudah didaftarkan;atau
2. Penerbitan surat tersebut merupakan akibat dari persekongkolan antara debitur dan
pemegang surat tersebut
Oleh karena itu kurator wajib membuktikan mengenai itikad baik dari penerbitan surat
tersebut.
Apabila actio pauliana berhasil untuk direalisasikan maka akibat hukum yang diterima tidak
hanya untuk debitor saja,namun akibat hukumnya juga dapat berhubungan dengan pihak ke 3
dimana debitor tersebut melakukan perbuatan hukum.Ketika debitor yang akan dipailitkan
melakukan penjualan kepada pihak ketiga maka jual beli tersebut dapat dibatalkan kareba
barang tersebut harus dikembalikan kepada debitor yang pailit.Jika barang tersebut karena
suatu hal tidak dapat dikembalikan maka pasal 49 Undang-Undang Kepailitan mewajibkan
pihak pembeli melakukan ganti rugi kepada kurator.Bila harga barang telah diterima oleh
debitor yang pailit maka harga barang tersebut akan dikembalikan kepada kurator dengan
syarat:
1. Jika dan sejauh harga barang tersebut telah bermanfaat bagi harta pailit
2. Jika harga baranng masih tersedia
Jika harga barang tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia lagi,pihak ketiga
tersebut(pembeli) akan menjadi kreditur konkuren dan akan mendapatkan haknya nanti ketika
dilakukan pemberesan harta pailit.Namun apabila pihak ketiga tersebut telah mengalihkan
hartanya kepada pihak lain,maka harus diperhatikan faktor-faktor:
1. Dilihat dengan apa pengalihan barang tersebut,apabila dilakukan dengan hibah atau hadiah
maka tidak ada alasan untuk melindungi pihak penerima hibah ataub hadiah tersebut karena
tidak adanya kontrak prestasi dari pihak tersebut.
2. Apabila dilakukan dengan jual beli secara etikad baik maka pembeli dengan itikad baik
tersebut akan mendapatkan perlindungan dari hukum.
Pihak pembeli pertama dengan memindahkan barang yang telah dibelinya kepada pihak
lain,tidak serta merta menjadikanya terlepas dari tanggung jawab dari adanya actio
pauliana.Karena apabila pembeli pertama tidak dapat mengembalikan harta pailit tersebut
maka pembeli pertama tersebut mempunyai kewajiban untuk mengembalikab barang dalam
bentuk uang atau lainya yang disetujui oleh kurator.
Apabila harta kepailitan tersebut dibebankan untuk hak tanggungan atau jaminan utang
terhadap kresitur tertentu maka kreditur tersebut akan kehilangan hak tanggungan.

DAFTAR PUSTAKA

Fuady Munir,Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek(Bandung:Citra Aditya Bakti,2005


Nating Imran,Peranan dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan dan Pembebasan
Harta Pailit(Jakarta:Raja Grafindo Persada,2004)
Jono,Hukum Kepailitan,(Tangerang:Sinar Grafika,2007)
Muljadi Kartini, Widjaja Gunawan,Pedoman Menangani Perkara Kepailitan,(Jakarta:Raja
Grafindo Persada,2003)

ACTIO PAULIANA SEBAGAI UPAYA


TERHADAP PERLINDUNGAN
KREDITOR DALAM KEPAILITAN
Februari 22, 2013 oleh mnfauzy in Uncategorized 2 Komentar

Image
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional merupakan salah satu
upaya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pembangunan ekonomi berkembang cukup pesat
sehingga minat masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan ekonomi semakin besar. Hal
ini ditandai dengan banyak munculnya perusahaan.

Suatu perusahaan, dalam dunia usaha, tidak selalu berjalan dengan baik dan seringkali
keadaan keuangannya membuat perusahaan tersebut tidak mampu membayar utang-
utangnya. Hal demikian dapat pula terjadi terhadap perorangan yang melakukan suatu
usaha[1].

Perusahaan, dalam rangka pengembangan usahanya dimungkinkan mempunyai utang.


Perusahaan yang mempunyai utang bukanlah merupakan suatu hal yang buruk, asalkan
perusahaan itu masih dapat membayar kembali. Perusahaan yang seperti ini biasanya disebut
sebagai perusahaan yang solvabel, artinya perusahaan yang mampu membayar utangnya.

Permasalahan akan timbul apabila debitor mengalami kesulitan untuk mengembalikan


utangnya tersebut. Dengan kata lain, debitor berhenti membayar utangnya, keadaan berhenti
membayar utang dapat terjadi karena tidak mampu membayar, atau tidak mau membayar[2].

Suatu perusahaan yang sudah tidak mampu membayar utang-utangnya lagi disebut
insolvable, artinya tidak mampu membayar. Keadaan yang demikian ini banyak muncul
pelanggaran terhadap kewajiban pembayaran utang kepada Kreditor-kreditornya. Pada saat
terjadi hal yang demikian, diperlukan peranan hukum kepailitan untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut baik melalui proses penundaan kewajiban pembayaran utang oleh
pihak Debitor kepada Kreditor maupun dengan jalan Debitor dipailitkan.

Di Indonesia, secara formal hukum kepailitan sudah diatur dengan adanya Undang-Undang
khusus yaitu Faillisement Verordening (FV) Staatblad 1905 Nomor 217 jis Tahun 1906
Nomor 348, yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Kepailitan (FV) yang
kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1998 Tentang Kepailitan yang pada tahun 2004 diubah lagi dengan Undang-Undang Nomor
37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang
selanjutnya disebut UU KPKPU, sebagai salah satu sarana hukum yang menjadi landasan
bagi penyelesaian utang-piutang.

Lembaga kepailitan pada dasarnya mempunyai dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai berikut[3]:

kepailitan adalah sebagai lembaga pemberi jaminan kepada Kreditor bahwa Debitor tidak
akan berbuat curang dan tetap bertanggung jawab terhadap semua utang-utangnya kepada
Kreditor.
kepailitan sebagai lembaga yang juga memberikan perlindungan kepada Debitor terhadap
kemungkinan eksekusi massal oleh Kreditor-kreditornya. Jadi keberadaan ketentuan tentang
kepailitan baik sebagai lembaga atau sebagai upaya hukum khusus merupakan satu rangkaian
konsep yang taat asas sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata.

Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata merupakan perwujudan adanya jaminan kepastian
pembayaran atas transaksi-transaksi yang telah diadakan oleh Debitor terhadap Kreditor-
Kreditornya dengan kedudukan yang proposional. Hubungan kedua pasal tersebut yaitu,
kekayaan Debitor (Pasal 1131 KUHPerdata) merupakan jaminan bersama bagi semua
Kreditornya ( Pasal 1132 KUHPerdata) secara proporsional, kecuali Kreditor dengan hak
mendahului ( preferen ) seperti Kreditor pemegang hak kebendaan.

Tujuan utama kepailitan adalah untuk melakukan pembagian antara para Kreditor atas
kekayaan Debitor oleh Kurator[4]. Kepailitan tersebut dimaksudkan untuk menghindari
terjadinya sitaan terpisah atau eksekusi terpisah oleh Kreditor dan menggantikannya dengan
mengadakan sitaan bersama sehingga kekayaan Debitor dapat dibagikan kepada semua
Kreditor sesuai dengan hak masing-masing karena kepailitan ada untuk menjamin para
Kreditor memperoleh hak-haknya atas harta Debitor Pailit.

Debitor mungkin dapat melakukan suatu tindakan yang meniadakan arti Pasal 1131
KUHPerdata, yaitu Debitor yang merasa akan dinyatakan pailit melakukan tindakan hukum
untuk memindahkan hak atas sebagian kekayaannya atau secara lain merugikan Kreditornya.

Undang-Undang telah mengatur bagaimana cara untuk melindungi Kreditor dari tindakan
hukum Debitor yang merugikan Kreditor. Istilah yang dimaksud sebagai perlindungan
Kreditor adalah actio pauliana yang diatur dalam Pasal 1341 KUHPerdata, sedangkan
peraturan umum yang mengatur actio pauliana untuk kepailitan terdapat dalam Pasal 41
sampai dengan Pasal 50 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004.

Salah satu contoh terjadinya gugatan Actio Pauliana adalah kasus PT. Ibist Consult, yaitu
Perseroan Terbatas, yang dipailitkan oleh kreditornya, kemudian kurator mengajukan gugatan
Actio Pauliana untuk membatalkan perbuatan-perbuatan pengalihan harta PT. Ibist Consult
kepada pihak ketiga, yang merugikan kreditor.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka kami merumuskan masalah menjadi sebagai berikut
:

Bagaimana pelaksanaan tugas kurator PT Ibist Consult dalam memaksimalkan harta


kekayaam debitor pailit ditinjau dari UU KPKPU?
Bagaimana Tindakan hukum dilakukan oleh komisaris sehubungan dengan pengalihan asset
perusahaan ditinjau dari UU Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas?

BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP KEPAILITAN, KURATOR, DAN ACTIO PAULIANA


DALAM KEPAILITAN

A. Hubungan Buku 3 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Undang-undang Nomor 37


Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Kepailitan dilatarbelakangi dengan adanya perjanjian utang-piutang antara seseorang yang


disebut Debitor dan mereka yang mempunyai dana yang disebut Kreditor.

Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang selanjutnya disebut KUH Perdata secara eksplisit
tidak mengatur perjanjian utang-piutang. Akan tetapi , dilihat dari landasannya, mengacu
pada perjanjian pinjam-meminjam yang diatur dalam KUH Perdata, yaitu Pasal 1754 sampai
dengan Pasal 1773 KUH Perdata.

Akibat dari perjanjian utang-piutang atau perjanjian pinjam meminjam tersebut lahir
perikatan diantara para pihak yang berupa hak dan kewajiban.

Kewajiban Debitor salah satunya mengembalikan uang yang dipinjamnya, sebagai suatu
prestasi yang harus dilakukan. Dalam perjalanannya, Debitor mengalami kesulitan di dalam
melakukan pembayaran atau pelunasan terhadap utangnya tersebut sehingga pebayaran
kepada Para Kreditor menjadi terhenti.

Keadaan berhenti membayar utang dapat terjadi karena Debitor tidak mampu membayar atau
tidak mau membayar[5].

Debitor yang tidak melakukan pembayaran sebagai wanprestasi. Upaya yang dapat di tempuh
terhadap wanprestasi yang dilakukan Debitor adalah mediasi atau perdamaian, gugatan
wanprestasi atau gugatan perdata, melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(selanjutnya disebut PKPU), atau melalui kepailitan.

Utang-piutang dasarnya adalah pinjam-meminjam, maka dalam menyelesaikan masalah


utang-piutang, dapat dilakukan berdasarkan pada KUH Perdata Buku 3 tentang perikatan,
khususnya perjanjian, dan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan
Penundaan kewajiban Pembayaran Utang (Selanjutnya disebut UU KPKPU).

Hubungan antara Buku 3 KUH Perdata dengan UU KPKPU adalah Buku 3 KUH Perdata
sebagai ketentuan umum (lex generalis) dan UU KPKPU sebagai ketentuan khusus (lex
specialis).

Syarat-syarat permohonan pailit sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1) UU KPKPU
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Syarat adanya dua Kreditor atau lebih (concursus creditorium);


Syarat bahwa Debitor harus mempunyai minimal dua Kreditor, sangat terkait dengan filosofis
lahirnya hukum kepailitan. Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa hukum kepailitan
merupakan realisasi dari Pasal 1132 KUHPerdata. Dengan adanya pranata hukum kepailitan,
diharapkan perlunasan utang-utang Debitor kepada Kreditor-Kreditor dapat dilakukan secara
seimbang dan adil.

Syarat harus adanya utang;

Undang-Undang Nomor 4 tahun 1998 tidak mendefinisikan sama sekali mengenai utang.
Oleh karena itu, telah menimbulkan penafsiran yang beraneka ragam dan para hakim juga
menafsirkan utang dalam pengertian yang berbeda-beda.

Kontroversi mengenai pengertian utang, akhirnya dapat disatu artikan dalam Pasal 1 angka
(6) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, yaitu:

Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang, baik
dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang
akan timbul dikemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau Undang-
Undang dan yang wajib dipenuhi memberi hak kepada Kreditor untuk mendapat
pemenuhannya dari harta kekayaan Debitor.

Definisi utang yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 jelaslah harus
ditafsirkan secara luas, tidak hanya utang yang timbul dari perjanjian utang-piutang atau
perjanjian pinjam meminjam, tetapi juga utang yang timbul karena Undang-Undang misalnya
pajak atau perjanjian yang dapat dinilai dengan sejumlah uang.

Syarat cukup satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Syarat bahwa utang harus telah jatuh waktu dan dapat ditagih menunjukkan bahwa Kreditor
sudah mempunyai hak untuk menuntut Debitor untuk memenuhi prestasinya.

B. Kurator sebagai pengurus harta debitor pailit.

Sejak tanggal putusan pernyataan pailit, Debitor Pailit kehilangan haknya untuk mengurus
dan mengelola harta milik Debitor yang termasuk dalam boedel kepailitan. Urusan ini harus
diserahkan pada Kurator, Kuratorlah yang melakukan pengurusan dan pemberesan harta
kepailitan tersebut. Oleh karena itu, dalam putusan pernyataan kepailitan ditetapkan pula
siapa yang menjadi Kurator.

Jabatan Kurator akan membuka lapangan kerja baru, namun perlu dicatat bahwa seorang
Kurator harus berpengetahuan dan berpengalaman khusus. Nampaknya, yang dapat dengan
mudah menjabat sebagai Kurator adalah para akuntan dan para ahli hukum. Kelompok ini
mempunyai bekal pengetahuan hukum perdata, termasuk pengetahuan dalam hukum
transaksi komersial. Meskipun begitu tentulah harus diingat bahwa tanggung jawab dan
resiko profesi (professional liability) yang diembannya sungguh berat[6].

Pasal 70 ayat (2) huruf a dan b UUKPKPU, Kurator lain adalah orang perseorangan yang
berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka
mengurus/atau membereskan harta pailit, dan terdaftar pada kementerian yang ruang lingkup
tugas dan tanggung jawabnya dibidang hukum dan peraturan perundang-undangan.
C. Actio Pauliana dalam Kepailitan Menurut Hukum Positif di Indonesia.

Pasal 1341 KUH Perdata menyebutkan bahwa :

Tiap orang berpiutang boleh mengajukan batalnya segala perbuatan yang tidak diwajibkan
yang dilakukan oleh si berutang dengan nama apapun juga, yang merugikan orang-orang
berpiutang, asal dibuktikan, bahwa ketika perbuatan dilakukan , baik si berutang maupun
orang dengan atau untuk siapa si berutang itu berbuat,mengetahui bahwa perbuatan itu
membawa akibat yang merugikan orang-orang berpiutang.

Dari uraian Pasal 1341 di atas dapat ditarik unsur-unsur : hak yan diberikan kepada seorang
berpiutang, ditujukan kepada tindakan hukum orang yang berutang, tindakan sukarela,
merugikan orang orang yang berpiutang dan tahu bahwa tindakan orang yang berutang
merugikan orang-orang yang berpiutang.

Dalam kepailitan orang atau pihak yang berutang disebut Debitor sebaliknya orang-orang
atau pihak yang berpiutang disebut Kreditor. Pasal 1342 KUH Perdata disebut sebagai istilah
actio pauliana.

Actio pauliana adalah hak yang diberikan kepada seorang Kreditor untuk memajukan
dibatalkannya segala perbuatan yang tidak diwajibkan untuk dilakukan oleh debitor tersebut,
sedangkan Debitor mengetahui bahwa dengan perbuatannya itu Kreditor dirugikan[7].

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa actio pauliana merupakan hak sekaligus
perlindungan kepada Kreditor yang diberikan Undang-undang atau hukum berkenaan dengan
perbuatan Debitor yang dapat merugikan Kreditor.

Istilah actio pauliana berasal dari bahasa Romawi[8], yang maksudnya menunjuk kepada
semua upaya hukum yang digunakan untuk menyatakan batalnya tindakan Debitor yang
meniadakan arti Pasal 1131 KUH Perdata, yaitu berupa tindakan Debitor yang karena merasa
akan dinyatakan pailit melakukan tindakan hukum memindahkan haknya atas sebagian dari
harta kekayaannya yang dapat merugikan para Kreditornya.

Maksud penuntutan pembatalan tersebut agar harta Debitor, yang dioperkan kepada pihak
lain melalui tindakan hukum yang dituntut pembatalannya dapat kembali kepada kekayaan
Debitor, agar tetap menjadi tanggungan perikatannya[9].

Selanjutnya J. Satrio mengatakan bahwa pembatalan tidak harus meliputi semua tindakan
hukum/perjanjian yang di buat oleh Debitor, tetapi hanya sejauh mencukupi untuk
melindungi kepentingan Kreditor-kreditor yang melancarkan actio pauliana[10].

Actio Pauliana lebih lanjut diatur dalam UUK dalam Pasal 41 sampai dengan Pasal 51.
Ketentuan mengenai actio pauliana dalam UUK merupakan ketentuan yang lazim ada pada
bankruptcy law dari banyak negara. Syarat pengajuan actio pauliana yang diatur dalam Pasal
1341 dan Pasal 41 UUK adalah sama. Fred Tumbuan dalam bukunya Sutan Remy[11]
berpendapat bahwa tugas kurator untuk membuktikan telah dipenuhinya syarat-syarat yang
terdapat dalam actio pauliana.

DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku

J.Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir dari Perjanjian,Buku II, Bandung,Citra
Aditya Bakti,1995.

Man S. Sastrawidjaja. Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.


Alumni, Bandung, 2010.

Imran Nating, Peranan dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan
Harta Pailit, PT Raja Grafindi Persada, Jakarta. 2005.

Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Alumni, Bandung.,


2004.

Situmorang, Victor M dan Hendri Soekarso, Pengantar Hukum Kepailitan Di Indonesia,


Rineka Cipta, Jakarta. 1994.

Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Faillissementsverordening Juncto


Undang-undang No.4 tahun 1998, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 2002.

Peraturan Perundang-undangan

Kitab Undang-undang Hukum Perdata

Undang-undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban


Pembayaran Utang.

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Artikel dan Internet

hukumonline.com, Ibist Consult akhirnya dipailitkan. diperoleh dari


http://202.153.129.35/berita/baca/hol16113/ibist-consult-akhirnya-dipailitkan pada tanggal 22
Oktober 2011 pukul 17.00 WIB.

[1] Situmorang, Victor M dan Hendri Soekarso, Pengantar Hukum Kepailitan Di Indonesia,
Rineka Cipta, Jakarta. 1994. Hlm. 1.

[2] Man S. Sastrawidjaja. Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Alumni, Bandung, 2010. Hlm. 1.

[3] Sri Rejeki Hartono dalam Imran Nating, Peranan dan Tanggung Jawab Kurator Dalam
Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, PT Raja Grafindi Persada, Jakarta.2005. Hlm. 9.

[4] Mosgan Situmorang dalam Imran Nating, Loc.Cit.

[5] Man S. Sastrawidjaja, op.cit. hlm.2.

[6] Kartini Muljadi dalam Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan
Terbatas, Alumni, Bandung., 2004. Hlm. 76.
[7]Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Faillissementsverordening Juncto
Undang-undang No.4 tahun 1998, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 2002. hlm.298.

[8] Kartini Muljadi dalam Rudhy Lontoh, Penyelesaian Utang-Piutang :Melalui Pailit atau
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bandung, Alumni, 2001, hlm.135. sebagaimana
dikutip oleh Sutan remy Sjahdeiny, Ibid.

[9] J.Satrio, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir dari Perjanjian,Buku II, Bandung,Citra
Aditya Bakti,1995, hlm. 260.

[10] Ibid. hlm.268.

[11] Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit., hlm.301.