Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PENDEKATAN ANALISIS GENGER DAN ALAT ANALISIS GANDER


UNTUK ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS

(Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata


kuliah Asuhan Kebidanan Komunitas)

Disusun oleh :
Ainul Yuli Wulandari 022015001 Firda Zhahara 022015015
Alda Malia Fasha 022015002 Ismi Siti Suaibah 022015020
Ananda Rizqia 022015003 Rizki Febian 022015030
Dinalia Betty 022015008 Sariningsih 022015034
Eva Rahma 022015010 Sholihah Kusumaningrum 022015037
Fiqhika Syifa 022015013 Siti Suhartina 022015041
Firda Ayu Arifah 022015014

PRODI D3-KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH BANDUNG
JL.KH. Ahmad Dahlan (Banteng) DalamNo. 6 Telp/Fax. (022)7305269
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
laporan diskusi yang berjudul Pendekatan Analisis Genger Dan Alat Analisis
Gander Untuk Asuhan Kebidanan Komunitas.

Kami mengucapkan terima kasih kepada IbuMaya Sukmayati,


S.ST.,M.KMselaku dosen pembimbing tutorial pada mata kuliah Asuhan Kebidanan
Komunitas yang telah membimbing kami dalam proses pembelajaran.

Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan. Dan
semoga tugas ini dapat bermanfaat para mahasiswa pada umumnya dan para pembaca
pada khususnya.

September, 2017

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1

A. Latar Belakang ................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 2

C. Tujuan ................................................................................................................ 2

BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................................... 3

A. Pengertian Gender dan Seks............................................................................... 3

B. Teori Gender ...................................................................................................... 5

C. Kondisi Sosial Budaya Gender .......................................................................... 6

D. Ketidakadilan Dan Kesetaraan Gender .............................................................. 8

E. Kesetaraan dan Keadilan Gender ..................................................................... 10

F. Pendekatan Analisis Gender ............................................................................ 11

G. Menjelaskan Alat Analisis Gender, Menurut: ................................................. 11

1. Harvard Analysis Framework ...................................................................... 11

2. Moser Framework ........................................................................................ 17

3. Gender Analisis Matrixs ............................................................................... 18

H. Ayat ................................................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata gender berasal dari Bahasa inggris yang berarti jenis kelamin.
Konsep gender dalam wacana ilmu sosial termasuk konsep yang relative masih
muda. Konsep gender berkembang sejak tahun 1970-an karena dalam kalangan
yang berkecimpung dengan asalah erempuan, terhadap ketidakpuasan dengan
konsep perempuan dalam pembangunan (woman in development) yang pada
dasarnya melihat kaum perempuan terpisah dari kaum laki-laki.
Konsep ini, kemudian berkembang di masyarakat menjadi salah satu
persepektif yang digunakan untuk menganalisis masalah sosial, termasuk
masuk masalah kesehatan. Namun demukian, dilingkungan masyarakat pada
umumnya, masih terdapat sejumlah kessalahpahaman mengenai konsep ini,
sehingga seolah-olah konsep ini dimaknai sama dengan konsep seks (jenis
kelamin). Padahal, kedua konsep tersebut merupak dua konsep yang berbeda.
Kesalahpahaman terhadap konsep ini, menyebabkan kekeliruan yang
berkepanjangan dalam proses sosialisasi dan optimalisasi pendidikan gender
bagi masyarakat Indonesia. Paling tidak, kesalahpahaman ini dapat
menyebabkan:
1. kesalahan sikap anggota masyarakat terhadap program perjuangan dan
penegakan hak-hak perempuan di masyarakat, misalnya menganggap
bahwa pendidikan gender sebagai upaya untuk melepaskan kaum
perempuan dari tanggungjawabnya sebagai perempuan.
2. Kesalah tempat mengenai duduk persoalan kewanitaan dalam konteks
masalah-masalah sosial kemasyarakatan misalnya memaksa perempuan
untuk melakukan hal-hal yang tidak di ingikannya.

1
2

3. Pencampuradukkan analisis dan kritikan terhadap berbagai konsep gender,


yaitu antara peran gender dengan jenis kelamin dan seolah-olah kedua hal
tersebut sebagai sesuatu hal yang sama.

Hal demikian, dapat menyebabkan prasangka yang kurang menguntungkan


bagi pengembangan perempuan di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian gender dan seks?
2. Bagaimana teori gender?
3. Bagaimana kondisi sosial budaya gender?
4. Bagaimana ketidakadilan dan kesetaraan gender?
5. Bagaimana kesetaraan dan keadilan gender?
6. Bagaimana pendekatan analisis gender?
7. Apa yang dimaksud dengan alat analisis gender?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian gender dan seks
2. Untuk mengetahui bagaimana teori gender
3. Untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial budaya gender
4. Untuk mengetahui bagaimana ketidakadilan dan kesetaraan gender
5. Untuk mengetahui kesetaraan dan keadilan gender
6. Untuk mengetahui bagaimana pendekatan analisis gender
7. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan alat analisis gender
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Gender dan Seks


Istilah Gender dikemukakan oleh para ilmuan social dengan maksud
untuk menjelaskan perbedaaan perepuan dan laki-laki yang mempunyai sifat
bawaan (ciptaan tuhan) dan berbentuk budaya (konstruksi social). Sering kali
orang memperadukan ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati (tdak berubah)
dengan yang bersifat nonkodrati (gender) yang bias berubah dan diubah.
Perbedaan peran gender ini juga menjadikan orang berfikir kembali tentang
pmbagian peran yang dianggap telah melekat, baik pada perempuan maupun
laki-laki.
Gender berasal dari Bahasa inggris yang diartikan sebagai perbedaan
peranan antara pria dan wanita yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan
norma social dan nilai social budaya masyarakat yang bersangkutan. Gender
menurut Menneg Pemberdayaan Perempuan, BKKBN, UNFPA (2001) adalah
perbedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang
dibentuk, dibuat, dan di konstruksi oleh masyarakat serta dapat berubah sesuai
dengan perkemabanga jaman akibat konstruksi social.
Peran gender adalah peran social yang tidak ditentukan oleh perbedaan
kelamin. Oleh karena itu, pembagian peran antara pria dan wanita dapat
berbeda diantara masyarakat dengan masyarakat yang lainnya sesuai dengan
lingkungan. Peran gender juga dapat beruah dari masa ke masa, karena
pengaruh kemajuan seperti pendidikan, teknologi, ekonomi, dan lain-lain. Hal
itu berarti, peran gender dapat diturkarkan antara pria dan wanita.
Seks adalah perbedaan jenis kelamin yang ditentukan secara biologis,
yakni alat kelamin pria (penis) dan alat kelamin perempuan (vagina). Sejak
lahir hingga meninggal dunia pria akan berjenis kelamin pria dan wanita akan

3
4

tetap berjenis kelamin wanita (kecuali operasi untuk berganti jenis kelamin).
Jenis kelamin itu tidak dapat ditukarkan antara pria dan wanita. Seks melekat
secara fisik sebagai alat reproduksi.Oleh karena itu, merupakan kodrat atau
ketentuan tuhan sehingga bersifat permanen dan universal.
SEKS GENDER
1. Ciptaan tuhan 1. Buatan manusia.
2. Bersifat kodrat (pemberian dari tuhan), 2. Tidak bersifat kodrat.
misalnya pada perempuan menstruasi, 3. Dapat berubah.
hamil, melahiirkan, menyusui, 4. Dapat ditukar.
sedangkan pada laki-laki hanya 5. Tergantung waktu dan budaya
memproduksi sperma. setempat.
3. Kodrat berlaku sepanjang masa dan
dimana saja.
4. Tidak dapat berubah.
5. Tidak dapat ditukar.

Beberapa istilah yang berkaitan dengan gender :


a. Emansipasi, yaitu kesetaran kedudukan, peran, tanggung jawab laki-laki
dan perempuan dalam segala aspek kehidupan.
b. Feminisme, yaitu ciri, karakter, sikap, perilaku yang banyak dimiliki
perempuan.
c. Maskulin, yaitu ciri, karakter, sikap, perilaku yang dimiliki laki-laki.
d. Bias gender, yaitu anggapan yang tidak mengakui persamaan peran,
kedudukan, tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam
keluarga dan masyarakat.
e. Relasi gender, yaitu hubungan laki-laki dan perempuan dalam kerja sama
yang seiring sejalan atau bertentangan.
5

f. Kesetaraan dan keadilan geder, yaitu suasana yang adil (equity) dan
setara (equality) dalam hubungan kerja sama laki-laki dengan
perempuan.
g. Issue gender, yaitu permasalahan yang terjadi sebagai konsekuensi
dengan adanya kesenjangan gender sehingga mengakibatkan
diskriminasi pada perempuan alam akses dan control sumber daya,
kesempatan, status, hak, peran, dan penghargaan.
h. Buta gender, yaitu tidak memperdulikan kebutuhan laki-laki dan
perempuan yang berlainan atau tidak menyebutkan secara eksplisit
perempuan dan laki-laki.
i. Manfaat gender, yaitu sejauh mana perempuan dan laki-laki
memperoleh keuntungan dari program dan kegiatan tersebut.

B. Teori Gender
Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) bukan saja menjadi perhatian
kaum perempuan, tetapi telah menarik perhatian para ahli dan politisi. Edward
Wilson dari Harvard University (1975 membagi perjuangan kaum perempuan
secara sosiologis atas kelompok besar, yaitu konsep nurture (konstruksi
budaya) dan konsep nature (alamiyah)
Disamping dua aliran tersebut, terdapat faham kompromistis yang dikenal
dengan keseimbangan (ekulibrium). Faham ini menekankan pada konsep
kemitraan dan kehamornisan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki.
1. Menurut teori nurture, adanya perbedaan perempuan dan laki-laki pada
hakikatnya adalah hasil kontruksi social budaya sehingga menghasilkan
peran dan tugas yang berbeda.
2. Menurut teori nature, adanya perbedaan perempuan dan laki-laki adalah
kodrat sehingga tidak dapat berubah dan bersifa universal. Pebedaan
biologis ini memberikan indikasi dan implikasi bahawa diantara dua jenis
tersebut memiliki peran yang berbeda.
6

3. Menurut teori ekulibrium, merupakan faham kompromistis yang dikenal


dengan keseimbangan (ekulibrium) yang menekankan pada konsep
kemitraan dan kehamornisan dalam hubungan antara perempuan dan laki-
laki.

C. Kondisi Sosial Budaya Gender


Kondisi sosial budaya adalah keadaan atau kondisi yang sengaja
dan/tidak sengaja dicipta atau dikreasi oleh orang-orang yang tinggal dalam
teritorial tertentu, kemudian menjadi sebuah kelaziman, lalu dengan sendirinya
terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bahkan menjadi identitas
atau ciri khas daerah dari/wilayah tersebut.
Inilah yang oleh beberapa antropolog dan ahli sosiologi dinamakan
konstruksi sosial (social contruction). Beberapa gambaran kondisi sosial
budaya yang mempengaruhi gender adalah sebagai berikut :
1. Sebagian besar masyarakat di Indonesia menganut budaya patriarki yaitu
suatu budaya dimana yang dominan dan memegang kekuasaan dalam
keluarga berada dipihak ayah. Budaya ini menjadikan kaum perempuan
sebabai subordinasi. Perempuan dianggap sebagai warga kelas dua setelah
laki-laki yang selayaknya ditempatkan diwilayah domestik: dapur, sumur,
dan kasur. Parahnya, budaya patriaki mengajarkan pikiran perempuan itu
sendiri merekapun meyakini bahwa tempat mereka diranah domestik.
2. Ungkapan bahwa anak laki-laki dan perempuan sama saja, ternyata tidak
berlaku pada masyarakat india. Tradisi memilih anak laki-laki, sekitar 10
juta janin perempuan telah digugurkan selama dua dekade terakhir.
3. Adanya budaya, adat istiadat yang bias gender (misalnya laki-laki tidak
boleh melakukan pekerjaan domestik, perempuan tidak perlu memperoleh
pendidikan tinggi).
7

4. Adanya budaya kawin muda dibawah umur (<14 tahun) yang diatur oleh
orang tua diberbagai negara terhadap anak perempuan dengan tingkat
perceraian yang tinggi dapat merendahkan martabat perempuan.
5. Diskriminasi dalam kesempatan pendidikan. Anak laki-laki lebih
diutamakan untuk bersekolah karena masih ada anggapan bahwa laki-laki
lebih memerlukan pendidikan dari pada perempuan. Dalam pola
pendidikan, anak laki-laki sampai besar lebih mendapat rangsangan untuk
menekuni bidang iptek. Ada pendapat stereotipe bahwa iptek tidak cocok
untuk perempuan karena tidak sesuai dengan bakat perempuan. Anak
perempuan lebih diarahkan untuk memilih pendidikan kejuruan sesuai
dengan sifat perempuan yang lembut seperti menjadi guru, sekertaris,
perawat, bidan, dll. Kesempatan memperoleh pendidikan setinggi-
tingginya, akses terhadap informasi yang rendah membuat perempuan tidak
dapat bersaing dengan laki-laki untuk memegang posisi-posisi kunci
dipemerintahan. Tidak banyak pemimpin perempuan baik untuk jabatan
eksekutif maupun legislatif.
6. Adanya norma didalam masyarakat bahwa anak perempuan lebih
diperlukan membantu orang tua dirumah, sedangkan anak laki-laki
memiliki tanggung jawab yang lebih besar utnuk membantu menambah
penghasilan keluarga. Keluarga kurang mendukung pengembangan karir
perempuan.
7. Patrial control. Dalam rumah tangga, perempuan tidak diberi peran dalam
pengambilan keputusan bahkan untuk kepentingan pribadi. Segalanya tetap
didominasi suami. Istri kerap menjadi korban dari keputusan salah yang
diambil oleh suami. Misalnya, suami menyerahkan urusan anak kepada
istri, sementara pengetahuan istri tentang hal tersebut tidak ada.
8. Faktor sosial budaya yang menganggap nilai anak laki-laki yang lebih
tinggi dalam keluarga dibanding anak perempuan sehingga dalam hal gizi
pun perempuan mendapat prosi dan nilai gizi yang tidak memadai sejak
8

masa anak-anak, remaja, dewasa, menikah, hamil sampai melahirkan.


Diskriminasi dalam hal gizi dan makanan sejak masih anak ini
mempengaruhi kesehatan perempuan pada masa selanjutnya.
Dalam pola asuh sehari-hari, sejak kecil orang tua telah membeda-
bedakan cara pengasuhan serta perlakuan antara anak laki-laki dan
perempuan, misalnya dalam memberikan mainan anak laki-laki diberi
mainan mobil-mobilan, pedang-pedangan, pistol-pistolan, dll yang
cenderung agresif serta mengandalkan kekuatan fisik. Sementara anak
perempuan diberikan mainan seperti boneka, merangkai bunga, masak-
masakan, panci-pancian dan lain-lain. Melalui proses ini anak menangkap
maskulin dan feminim kemudian (dengan hampir tidak disadarai) akan
melakukan internalisasi. Proses tersebut terus berlanjut dari satu generasi
ke generasi berikutnya.

D. Ketidakadilan Dan Kesetaraan Gender


Ketidakadilan gender merupakan bentuk perbedaan perlakuaan
berdasarkan alasan gender, seperti pembatasan peran, penyingkiran atau pilih
kasih yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran atas pengakuan hak asasinya,
persamaan anatara laki-laki dan perempuan, maupun hak dasar dalam bidang
sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain.
Diskriminasi berarti setiap pembedaan, pengucilan, atau pembatasan yang
dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai tujuan mengurangi atau
menghapus pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia
dan kebebasan pokok dibidang politik, ekonomi, dan lain-lain oleh perempuan,
terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar perssamaan antara
perempuan dan laki-laki.
9

Ketidakadilan gender dapat bersifat:


1. Langsung, yaitu pembedaan perlakuan secara terbuka dan berlangsung,
baik disebabkan perilaku atau sikap, norma atau nilai, maupun atauran
yang berlaku.
2. Tidak langsung, seperti peraturan sama, tapi pelaksanaannya
menguntungkan jenis kelamin tertentu.
3. Sistematik, yaitu ketidakadilan yang berakar dalam sejarah, norma atau
struktur masyarakat yang mewariskan keadaaan yang bersifat membeda-
bedakan.

Berikut adalah bentuk-bentuk ketidakadilan atau diskriminasi gender:


1. Stereotif atau citra baku
Yaitu pelabelan terhadap salah satu jenis kelamin yang sering kali bersifta
negatif dan pada umumnya menyebabkan terjadinya ketidakadilan.
Misalnya, karena perempuan dianggap ramah, lembut, rapi, maka lebih
pantas bekerja sebagai sekertaris, guru TK, kaum perempuan ramah
dianggap genit, kaum laki-laki ramah dianggap perayu.
2. Subordinasi atau penomerduaan
Yaitu adanya anggapan bahwa salah satu jenis kelamin lebih rendah atau
dinomerduakan posisinya dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya.
Contoh: sejak dulu, perempuan mengurus pekerjaan domestik sehingga
perempuan dianggap sebagai orang rumah atau teman yang ada
dibelakang.
3. Marginalisasi atau peminggiran
Yaitu kondisi atau proses peminggiran terhadap salah satu jenis kelamin
dari arus atau pekerjaan utama yang berakibat kemiskinan. Misalnya,
perkembangan teknologi menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara
manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang pada umumnya
dikerjakan oleh laki-laki.
10

4. Beban ganda atau double burden


Yaitu adanya perlakuan terhadap salah satu jenis kelamin dimana yang
bersangkutan bekerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis kelamin
lainnya. Kaum perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dari
rumah tangga. Oleh karena itu bagi perempuan yang bekerja diluar rumah,
selain bekerja diwilayah publik, mereka juga masih harus mengerjakan
pekerjaan domestik.
5. Kekerasan atau violence
Yaitu suatu serangan terhadap fisik maupun psikologis seseorang, sehingga
kekerasan tersebut tidak hanya menyangkut fisik (pemerkosaan,
pemukulan), tetapi juga non-fisik (pelecahan seksual, ancaman, paksaan
yang bisa terjadi dirumah tangga, tempat kerja dan tempat umum.

E. Kesetaraan dan Keadilan Gender


1. Kesetaraan gender
Kesetaraan (equality) adalah kondisi tanpa diskriminasi (sebagai
akibat dari perbedaan jenis kelamin) bagi laki-laki dan perempuan untuk
memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia agar mampu
berperan dan berpartisipasi dalma kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan dan keamanan, serta kesamaan dalam menikmati hasil
pembangunan maupun akses terhadap pelayanan.
2. Keadilan gender
Keadilan gender adalah gambaran keseimbangan yang adil (fairness)
dalam pembagian beban tangungg jawab dan manfaat antara laki-laki dan
perempuan yang didasari atas pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan
mempunyai perbedaan kebutuhan dan kekuasaan. Perbedaan ini perlu
dikenali dan diperhatikan untuk dipakai sebagia dasar atas penerapan
perlakuan yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan.
11

Dikatakan adil atau setara gender jika terdapat pembagian kerja atau peran
laki-laki dan perempuan sesuai dengan harkat dan martabatnya dalam hal
akses atau peluang, partisipasi, kontrol (keputusan atas diri sendiri), dan
dapat mengambil manfaat.
3. Keadilan gender dalam kesehatan
Derajat keadilan gender dalam kesehatan mengandung 2 aspek:
a. Keadilan dalam kesehatan, yaitu tercapainya derajat kesehatan setinggi-
tingginya bagi setiap individu, laki-laki dan perempuan.
b. Keadilan dalam pelayanan kesehatan, yaitu pelayanan diberikan sesuai
kebutuhan tanpa melihat kedudukan sosial seseorang

F. Pendekatan Analisis Gender


Analisis sosial yang berperspektif gender bentuk analisis yang
mempertanyakan hubungan kekusasaan laki-laki dan perempuan, memetakan
masalah sosial dalam lingkup domestic dan public, memperlakukan
pengalaman perempuan sebagai basis analisis, mendengarkan suara kelompok
yang terpinggirkan, melibatkan perempuan secara aktif dalam proses nanalisis
sosial, serta harus ada proses pemberdayaan perempuan.

G. Menjelaskan Alat Analisis Gender, Menurut:


1. Harvard Analysis Framework
a. Pengertian
Nama Harvard diambil dari salah satu institute yang ada di amerika
yaitu Harvard institute. Institute ini yang pertama kali mencetuskan
dan mengembangkan Harvard analisis framework (kerangka analisis
Harvard). Dasar dari analisis ini adalah asumsi tentang adanya
hubungan ekonomi dalam alokasi sumberdaya alam dengan pembagian
peran kerja antara laki-laki dan perempuan.
Adapun pengertian dari harvar analisi framework adalah alat
analisis gender yang kerangkanya merupakan berbentuk matrik atau
12

kotak-kotak yang dapat digunakan untuk pengumpulan data secara


mikro (skala rumah tangga dan komunitas).
b. Tujuan
Adapun tujuan dari Harvard anaisis adalah sebagai berikut:
1) Membantu perencanaan dalam sebuah program atau kegiatan agar
efisien dan produktif.
2) Melakukan pemetaan kerja yang dilakukan oleh perempuan dan
laki-laki
3) Dapat mengidentifikasi atau menandai kunci-kunci perbedaan kerja
perempuan dan laki-laki.
c. Komponen
Adapun komponen Harvard analisis adalah sebagai berikut:
1) Profil kegiatan
2) Profil akses dan control
3) Faktor-faktor yang mempengaruhi
4) Analisis siklus proyek
d. Profile kegiatan
Adapun profile kegiatan sebagai berikut:
1) Identifikasi tugas produktif dan reproduksi
2) Identifikasi siapa dan melakukan apa
3) Detail klasifikasi pekerjaan sesuai dengan bidangnya

Adapun parameter atau indicator dari profil kegiatan adalah sebagai


berikut:
1) Dominasi gender dan umur yaitu mengidentifiasi apakah
perempuan dewasa, laki-laki dewasa, anak perempuan, atau anak
laki-laki yang banyak melakukan tugas tersebut.
13

2) Alokasi waktu menggunakan untuk menentukan berapa persen


waktu yang di alokasikan untuk masing-masing kegiatan, dan
apakah termasuk musimman atau harian.
3) Tempat kegiatan dibutuhkan untuk analisis tempat kegiatan tersebut
dilakukan, yaitu didalam rumah, di luar rumah, sawah, took dan
sekolah.
e. Profil akses dan control
Adapun profil akses dan kontrol adalah sebagai berikut:
1) Akses merupakan siapa yang dapat menjangkau penggunaan
sumber.
2) Control adalah siapa yang memiliki kewenangan memutuskan
penggunaan sumber daya.

Profil akses dan control digunakan untuk hal sebagai berikut:


1) Mengidentifikasi akses dan control terhadap sumber daya yang
digunakan dalam kegiatan (sumber daya alam, waktu, aset, pasar,
politik, dan lain-lain)
2) Siapa yang mengakses dan mengontrol sumberdaya tersebut .
3) Keuntungan apa yang diperoleh dari kegiatan tersebut.
4) Siapa yang memanfaatkan keuntungan tersebut dan yang
mengontrol keuntungan.
5) Siapa yang melakukan control terhadap sumber daya tersebut.
f. Faktor faktor yang berpengaru dalam analisi Harvard
Adapun faktor yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut:
1) Norma norma masyarakat
2) Struktur kelembagaan, termasuk sifat birokrasi dan kelembagaan
pemerintah
3) Kondisi ekomoni misalnya: tingkat kemiskinan, inflasi, tingkat
pendapatn, dan lain-lain
14

4) Hokum dan peraturan lainnya


5) Budaya masyarakat
g. Analisis siklus program atau proyek
Adapun siklusnya dapat dijabarkan dalam dimensi dimensi sebagai
berikut :
1) Dimensi perempuan dalam identifikasi proyek atau program
a) Menguji kebutuhan kebutuhan perempuan
b) Mengidentifikasi tujuan umum proyek
c) Mengidentifikasi dampak negative
2) Diemensi perempuan dalam perencanan proyek
a) Dampak proyek terhadap kegiatan perempuan
b) Dampak proyek terhadap akses dan control perempuan
3) Dimensi perempuan dalam pelaksanaan proyek
a) Individu pelaksana, yaitu sejauh mana individu pelaksana
proyek atau program pedeli pada perempuan.
b) Struktur kelembagaan, yaitu sejauh mana struktur program
yang ada dapat mendukung kaum perempuan.
c) Operasional dan logistic, yakni lokasi dan waktu apakah dapat
diakses oleh perempuan.
d) Keuangan, yakni sejauh mana kebijakan program atau proyek
keuangan dapat menyentuh perempuan.
e) Fleksibelitas dalam arti apakah program atau proyek fleksibel
terhadap perubahan isu isu perempuan.
f) Data dan analisis, yaitu sejauh mana perempuan dilibatkan
dalam pengumpulan data dan interpretasi data.
h. Apllikasi kerangka analysis gender Harvard
Aplikasi kerangka analisi gender Harvard digunakan dalam
kebidanan komunitas digunakan untuk mengidentifikasi pemetaan
kerja laki laki dan perempuan di komunitas serta menandai point
15

point yang merupakan perbedaan kerja laki laki dan perempuan yang
meliputi waktu kerja, kegiatan yang dilakukan, produktif, reproduktif.
Apliaksi kerngka analysis gender Harvard dikomunitas dapat
dilakukan dengan alat seperti dibawah ini :
Tabel 2.1 alat 1 profil kegiatan

Anak
Laki Anak
Kegiatan soaial Waktu Perempuan Laki
laki Perempuan
laki
1. Kegiatan produktif
a. Pertanian
b. Kegiatan 1
c. Kegiatan 2
d. Penghasilan
e. Kegiatan 1
f. Kegiatan 2

2. Kegiatan reproduktif
a. Menyediakan sarapan
b. Mencuci
c. Membersihkan rumah
d. Memandikan anak
e. Mengantar anak sekolah
16

Table 2.2 contoh profil kegiatan

waktu kegiatan Peremp Laki - Anak Anak produktif Reproduktif Sosial


uan laki perempuan laki -
laki
04.00
04.30
05.00
05.30
06.00
06.30
07.00
07.30
08.00

Tabel 2.3 alat 2 profil akses dan konrol terhadap sumber daya dan
keuntungan

Profil Akses Control


( perempuan atau laki laki ) ( perempuan atau laki laki )
1. Sumber Daya
a. Harta (tanah,
rumah, tambak, dan
lainlain)
b. Pekerjaan
c. Modal
d. Pendidikan atau
pelatihan
e. Waktu, dana in-lain
17

2. Keuntungan
a. Pendapatan
b. Kepemilikan asset
c. Makanan, pakaian
d. Pendidikan
e. Kakuasaan (politik)
f. Waktu dan lainlain

Model Harvard merupakan salah pendekatan analysis sosial yang


dapat digunakan untuk analisis gender dikomunitas, tetapi model
Harvard memiliki kelemahan diantaranya yaitu : orientasi proyek tidak
sensitive terhadap dinamika komunitas ataupun nilai budaya dan
kompleksitas perempuan, serta status dan relasi gendernya cenderung
terabaikan.

2. Moser Framework
Kerangka analis moser atau pendekatan moser pertama dikenalkan
pada tahun 1993.Pendekatan ini lebih menekankan kepada kebutuhan
praktis dan strategis mengenai gender.
a. Kebutuhan praktis gender
Kebutuhan paktis gender mengacu pada peran gender yang dilekatkan
pada perempuan selama ini. Misalnya, perempuan dianggap sebagai
pencari nafkah penunjang keluarga ( program income generating). Jadi
, lebih mengarah pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek dalam
rangka perbaikan kondisi yang dihadapi perempuan dengan peran
gendernya.
b. Kebutuhan strategis gender
Kebutuhan strategi gender mengacu pada kondisi ideal adanya
kesetaraan gender dengan laki-laki.
18

Jadi, mengarah pada pemenuhan kebutuhan jangka panjang dalam


rangka perbaikan posisi perempuan dalam relasi gendernya.

3. Gender Analisis Matrixs


Gender analisis Matrix merupakan analisis berupa matrix yang digunakan
untuk menganalisis masalah kesenjangan gender (gender gap). Kesenjangan
gender diawali dengan melakukan identifikasi kebutuhan gender dengan
menggunakan metode rangkaian kegiatan yang berkesinambungan, metode
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Gender analisis pathway (GAP)
Gender analisi pathway adalah analisis gender dengan melalukan
iidentifikasi masalah gender pada kebijakan dan program yang telah ada
termasuk hubungan sebab akibat.
b. Policy Out Look and action Process (POP)
Policy Out Look and action Process adalah merupakan oprasionalisasi
pemecahan masalah dari kebijakan atau program yang responsif gender.

H. Ayat
DAFTAR PUSTAKA

Kumalasari Intan, dkk. 2014. Kesehatan reproduks. Salemba medika: Jakarta


Selatan.