Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH EKONOMI PEMBANGUNAN

tentang
PERENCANAAN PEMBANGUNAN

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 6

ANGGOTA :

FADILLA SETYAWATI A1A014033


IKBAL A1A013051
IWAN SETIAWAN A1A014057
NINGGA MUNARIFFAH AMALIA A1A014095
NISA YUNITA PUTRI A1A014099
RIZA PAHLEPI A1A014117
RIZKA SAFITRI A1A014119

ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MATARAM
2015
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT serta shalawat dan
salam kami sampaikan hanya bagi tokoh dan teladan kita Nabi Muhammad SAW.
Diantara sekian banyak nikmat Allah SWT yang membawa kita dari kegelapan ke
dimensi terang yang memberi hikmah dan yang paling bermanfaat bagi seluruh umat
manusia, sehingga oleh karenanya kami dapat menyelesaikan tugas perencanaan
pembangunan ini dengan baik dan tepat waktu.

Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk
memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pada mata kuliah ekonomi
pembangunan. Dalam proses penyusunan tugas ini kami menjumpai hambatan,
namun berkat dukungan materil dari berbagai pihak, akhirnya kami dapat
menyelesaikan tugas ini dengan cukup baik, oleh karena itu melalui kesempatan ini
kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua
pihak terkait yang telah membantu terselesaikannya tugas ini.

Segala sesuatu yang salah datangnya hanya dari manusia dan seluruh hal yang
benar datangnya hanya dari agama berkat adanya nikmat iman dari Allah SWT, meski
begitu tentu tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala saran dan
kritik yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi perbaikan pada
tugas selanjutnya. Harapan kami semoga tugas ini bermanfaat khususnya bagi kami
dan bagi pembaca lain pada umumnya.

Mataram , Oktober 2015

Penulis

iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................... iii

DAFTAR ISI......................................................................................... iv

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan.................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan.................................................................. 2

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Perencanaan....................................................... 3
B. Sasaran pendekatan dalam pembangunan............................. 6
C. Tujuan perencanaan............................................................. 9
D. Manfaat perencanaan........................................................... 9
E. Langkah-langkah dan syarat perencanaan............................. 9
F. Ruang lingkup perencanaan.................................................. 10
G. Klasifikasi perencanaan........................................................ 11
H. Tahapan perencanaan........................................................... 13
I. Unsur unsur pokok perencanaan pembangunan.................. 15
J. Proses dan siklus perencanaan pembangunan........................ 15

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan............................................................................ v
B. Saran...................................................................................... v

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dalam melakukan pembangunan, setiap Pemerintaah memerlukan
perencanaan yang akurat serta diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap
pembangunan yang dilakukannya. Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan
bidang ekonomi, maka terjadi peningkatan permintaan data dan indikator-indikator
yang menghendaki ketersediaan data sampai tingkat Kabupaten/ Kota. Data dan
indikator-indikator pembangunan yang diperlukan adalah yang sesuai dengan
perencanaan yang telah ditetapkan.
Struktur perencanaan pembangunan diIndonesia berdasarkan hirarki dimensi
waktunya berdasarkan Undang-Undang Nomor25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional dibagi menjadi perencanaan jangka panjang,
jangka menengah dan jangka pendek (tahunan),sehingga dengan Undang-Undang ini
kita mengenal satu bagian penting dari perencanaan wilayah yaitu apa yang disebut
sebagai rencana pembangunan daerah, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJP-D), Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah (RPJM-D) dan
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) serta Rencana Strategis Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) dan RencanaKerja Satuan Kerja Perangkat Daerah
(Renja-SKPD) sebagai kelengkapannya.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada bab pembahasan yaitu :
1. Apakah yang dimaksud denganPerencanaan?
2. Apa sajakah sasaran pendekatan dalam pembangunan?
3. Apa sajakan tujuan perencanaan?
4. Apa sajakah manfaat perencanaan ?
5. Bagaimanakah langkah-langkah dan syarat perencanaan ?
6. Apakah yang dimaksud ruang lingkup perencanaan ?
7. Apa sajakah klasifikasi perencanaan ?
8. Bagaimanakah tahapan perencanaan ?
9. Apa sajakah unsur unsur pokok perencanaan pembangunan ?
10. Bagaimanakah proses dan siklus perencanaan pembangunan ?

1
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui defenisi perencanaan.
2. Mengetahui sasaran pendekatan dalam pembangunan.
3. Mengetahui tujuan perencanaan.
4. Mengetahui manfaat perencanaan
5. Mengetahui langkah-langkah dan syarat perencanaan
6. Mengetahui ruang lingkup perencanaan
7. Mengetahui klasifikasi perencanaan
8. Mengetahui tahapan perencanaan
9. Mengetahui unsur unsur pokok perencanaan pembangunan
10. Mengetahui proses dan siklus perencanaan pembangunan

D. Manfaat Penulisan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian perencanaan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui pendekatan dalam pembangunan.
3. Mahasiswa mampu menyebutkan tujuan perencanaan.
4. Mahasiswa dapat mengetahui manfaat perencanaan.
5. Mahasiswa dapat mengetahui langkah-langkah dan syarat perencanaan.
6. Mahasiswa dapat mengetahui ruang lingkup perencanaan.
7. Mahasiswa mampu menyebutkan klasifikasi perencanaan ?
8. Mahasiswa mampu menyebutkan tahapan perencanaan ?
9. Mahasiswa dapat mengetahui unsur unsur pokok perencanaan pembangunan ?
10. Mahasiswa dapat mengetahui proses dan siklus perencanaan pembangunan ? .

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perencanaan

Perencanaan adalah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk


dilaksanakan pada suatau periode tertentu dalam rangka tujuan yang ditetapkan.
Sedangkan menurut para ahli adalah : Bintarao Tjokroaminoto ialah proses
mempersiapkan kegiatan kegiatan secara sistematis yang dilakukan untuk mencapai
tujuan tertentu. Secara rinci Tjokroamidjojo (1977) menguraikan tahap-tahap dalam
suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan rencana, penyusunan program
rencana, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.

Pertama, penyusunan rencana meliputi unsur-unsur tinjauan keadaan (review)


yang dapat berupa tinjauan sebelum memulai suatu rencana maupun tinjauan terhadap
pelaksanaan rencana sebelumnya. Pada tahap ini pula dilakukan perkiraan keadaan
masa yang akan dilalui rencana (forecasting), karena itu dibutuhkan berbagai
informasi untuk mengetahui kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan
datang. Informasi yang diperlukan dapat berupa data statistik dan hasil penelitian
terdahulu yang relevan.Setelah semua perkiraan dilakukan, maka selanjutnya
penetapan tujuan rencana (plan objectives) dan pemilihan cara- cara pencapaian
tujuan rencana.Unsur kegiatan berikutnya adalah mengidentifikasi kebijakan (policy)
yang perlu dilakukan.Operasionalisasi unsur ini perlu didasarkan pada pilihan
alternatif terbaik dan skala prioritas.Setelah seluruh unsur kegiatan dinilai tuntas,
maka unsur kegiatan yang terakhir dari tahapan penyusunan rencana adalah
pengambilan keputusan (decision making) sebagai persetujuan atas suatu rencana.

Kedua, penyusunan program rencana yang dilakukan melalui perumusan yang


lebih terperinci mengenai tujuan atau sasaran dalam jangka waktu tertentu, suatu
perincian jadwal kegiatan, jumlah dan jadwal pembiayaan serta penentuan lembaga
atau kerja sama antarlembaga mana yang akan melakukan program-program
pembangunan. Tahap ini seringkali perlu dibantu dengan penyusunan suatu tahap
flow chart, operation plan atau network plan.

Ketiga, pelaksanaan rencana (implementasi). Implementasi menurut Salusu


(1996), adalah seperangkat kegiatan yang dilakukan menyusul suatu keputusan, atau
dengan kata lain dapat dikatakan sebagai operasionalisasi dari berbagai aktivitas guna
mencapai sasaran tertentu.

Keempat, pengawasan atas pelaksanaan rencana yang bertujuan untuk


mengusahakan supaya pelaksanaan rencana berjalan sesuai dengan rencana, apabila
terdapat penyimpangan maka perlu diketahui seberapa jauh penyimpangan tersebut
dan apa sebabnya serta dilakukannya tindakan korektif terhadap adanya
penyimpangan. Untuk maksud tersebut, maka diperlukan suatu sistem monitoring
dengan mengusahakan pelaporan dan feedback yang baik daripada pelaksana rencana.

3
Berdasarkan pelakunya, pengawasan dapat dibedakan ke dalam empat macam
jenis pengawasan, yakni pengawasan melekat, pengawasan fungsional, pengawasan
masyarakat, dan pengawasan legislatif. Pengawasan melekat adalah pengawasan
terhadap program yang dilakukan secara langsung oleh atasan terhadap bawahannya
yang bersifat preventif dan represif serta kontinue. Sementara pengawasan fungsional
dilaksanakan oleh aparat baik secara internal maupun eksternal yang ditunjuk khusus
(exclusively assigned) untuk melakukan audit secara independen. Lain halnya dengan
pengawasan masyarakat yang merupakan bentuk kontrol sosial baik secara langsung
maupun dalam bentuk pemberitaan melalui media massa. Sedangkan pengawasan
legislatif yaitu pengawasan yang dilakukan oleh lembaga legislatif yang memang
memiliki fungsi pengawasan, selain fungsi legislasi dan anggaran.

Kelima, evaluasi untuk membantu kegiatan pengawasan, yang dilakukan


melalui suatu tinjauan yang berjalan secara terus menerus (concurrent review). Di
samping itu, evaluasi juga dapat dilakukan sebagai pendukung tahap penyusunan
rencana yakni evaluasi sebelum rencana dimulai dan evaluasi tentang pelaksanaan
rencana sebelumnya. Dari hasil evaluasi ini dapat dilakukan perbaikan terhadap
perencanaan selanjutnya atau penyesuaian yang diperlukan dalam (pelaksanaan)
perencanaan itu sendiri. Dalam pengertian tersebut, terkandung makna bahwa pada
hakekatnya aspek perencanaan senantiasa terdapat dalam setiap jenis usaha manusia.
Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya (maximum
out put) dengan memberdayakan sumber daya yang ada agar tujuan dapat tercapai
secara efisien dan efektif. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perencanaan tidak
dapat terlepas dari kegiatan pengambilan keputusan dan penentuan faktor-faktor lain
yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Prajudi Atmosudirdja mendefinisikan perencanaan ialah perhitungan dan


penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan
tertentu , siapa yang melakukan , bilamana, di mana, dan bagaimana cara
melakukanya.

Handoko( 2003) meliputi:


(1) pemilihan atau penetapan tujuan tujuan organisasi.,
(2) penentuan strategi , kebijakan , proyek, program , prosedur, metode,
system, anggaran, dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Perencanaan pada hakikatnya adalah sauatu proses pengambilan keputusan


atas sejumlah alternatife mengenai sasaran dan cara cara yang akan dilaksanakan di
masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta pemantauan dan
penilaian atas hasil pelaksanaannya yang dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan.

4
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang disebut perencanaan
adalah kegiatan yang dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan.
Dari definisi perencanaan mengandung unsur-unsur (1) sejumlah kegiatan yang
ditetapkan sebelumnya, (2) adanya proses, (3) hasil yang ingin dicapai, dan (4)
menyangkut masa depan dalam waktu tertentu. Perencanaan tidak terlepas dari unsur
pelaksanaan termasuk pematauan , penilaian, dan pelaporan. Pengawasan diperlukan
dalam perencanaan agar tidak terjadi penyimpanagan-penyimpangan pengawasan
dalam perencanaan dapat dilakukan secara preventif dan respresif.

Pengawasan preventif merupakan pengawasa yang melekat dengan


perencanaanya, sedangkan pengawasan represif merupakan pengawasan fungsional
atas perencanaan rencana, baik yang dilakukan secara internal maupun eksternal oleh
aparat pengawas yang ditugasi. Selanjutnya keempat fungsi dapat dideskripsikan
sebagai berikut.
Perencanaan merupakan proses yang sitematis dalam mengambil keputusan
tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Perencanaan
juga merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematis disusun dan dirumuskan
berdasarkan data yang dipertanggungjawabkan serta dapat digunakan sebagai
pedoman kerja.
Perencanaan program pendidikan sedikitnya memiliki dua fungsi, fungsi yang
utama, pertama, perencanaan merupakan upaya sistematis yang menggambarkan
penyusuanan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan
organiosasi atau lembagadenagn mempertimbangkan sumber sumber yang tersediia
atau sumber asumber yang dapat dilakukan. Kedua, perencanaan meruoakan kegiatan
untuk mengarahkan atau menggunakan sumbner sumber terbatas secara efisien dan
efektif untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut Arthur W. Lewis (1965), Perencanaan pembangunan sebagai suatu


kumpulan kebijaksanaan dan program pembangunan unutk merangsang masyarakat
dan serta untuk menggunakan sumberdaya yang tersedia secara lebih produktif.
Menurut M. L. Jhingan (1984), menyatakan bahwa Perencanaan pembangunan pada
dasarnya merupakan pengendalian dan pengaturan perekonomian dengan sengaja oleh
suatu penguasa (pemerintah) pusat untuk mencapai suatu sasaran dan tujuan tertentu
di dalam jangka waktu tertentu pula.

Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004, Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (SPPN) adalah suatu kesatuan tata cara perencanaan
pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan jangka panjang,
jangka menegah dan tahunan, yang dilaksanakan oleh unsur peyelenggara negara dan
masyarakat di tingkat pusat dan daerah.

5
B. Pendekatan Dalam Pembangunan
1. Teori Modernisasi
Modernisasi dapat dipahami sebagai sebuah upaya tindakan menuju perbaikan
dari kondisi sebelumnya. Selain upaya, modernisasi juga berarti proses yang memiliki
tahapan dan waktu tertentu dan terukur. Modernisasi memiliki asumsi dasar yang
menjadi pangkal hipotesisnya dalam menawarkan rekayasa pembangunan.
Pertama, kemiskinan dipandang oleh Modernisasi sebagai masalah internal
dalam sebuah negara (Arief Budiman, 2000:18). Kemiskinan dan problem
pembangunan yang ada lebih merupakan akibat dari keterbelakangan dan kebodohan
internal yang berada dalam sebuah negara, bukan merupakan problem yang dibawa
oleh faktor dari luar negara. Jika ada seorang warga yang miskin sehingga ia tidak
mampu mencukupi kebutuhan gizinya, maka penyebab utama dari fakta tersebut
adalah orang itu sendiri dan negara dimana orang tersebut berada, bukan disebabkan
orang atau negara lain. Artinya, yang paling pantas dan layak melakukan penyelesaian
masalah atas kasus tersebut adalah orang dan negara dimana orang itu berada, bukan
negara lain.
Kedua, muara segala problem adalah kemiskinan, pembangunan berarti perang
terhadap kemiskinan.Jika pembangunan ingin berhasil, maka yang kali pertama harus
dilakukan adalah menghilangkan kemiskinan dari sebuah negara.
Cara paling tepat menurut Modernisasi untuk menghilangkan kemiskinan
adalah dengan ketersediaan modal untuk melakukan investasi.Semakin tinggi tingkat
investasi di sebuah negara, maka secara otomatis, pembangunan telah berhasil,
(Mansour Fakih, 2002:44-47). Teori Modernisasi adalah teori pembangunan yang
menyatakan bahwa pembangunan dapat dicapai melalui mengikuti proses
pengembangan yang digunakan oleh negara- negara berkembang saat ini. Teori
tindakan Talcott Parsons 'mendefinisikan kualitas yang membedakan "modern" dan
"tradisional" masyarakat.Pendidikan dilihat sebagai kunci untuk menciptakan individu
modern.

Teknologi memainkan peran kunci dalam teori pembangunan karena diyakini


bahwa teknologi ini dikembangkan dan diperkenalkan kepada negara-negara maju
yang lebih rendah akan memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor kunci dalam
Teori Modernisasi adalah keyakinan bahwa pembangunan memerlukan bantuan dari
negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang untuk belajar dari
perkembangan mereka. Dengan demikian, teori ini dibangun di atas teori bahwa ada
kemungkinan untuk pengembangan yang sama dicapai antara negara maju dan
dikembangkan lebih rendah.

6
2. Teori Dependensi (Ketergantungan).
Teori Dependensi lahir atas respon ilmiah terhadap pendapat kaum Marxis
Klasik tentang pembangunan yang dijalankan di negara maju dan berkembang. Aliran
neo- marxisme yang kemudian menopang keberadaan teori Dependensi ini. Tokoh
utama dari teori Dependensi adalah Theotonio Dos Santos dan Andre Gunder Frank.

Theotonio Dos Santos sendiri mendefinisikan bahwa ketergantungan adalah


hubungan relasional yang tidak imbang antara negara maju dan negara miskin dalam
pembangunan di kedua kelompok negara tersebut.Dia menjelaskan bahwa kemajuan
negara Dunia Ketiga hanyalah akibat dari ekspansi ekonomi negara maju dengan
kapitalismenya. Jika terjadi sesuatu negatif di negara maju, maka negara berkembang
akan mendapat dampak negatifnya pula. Sedangkan jika hal negatif terjadi di negara
berkembang, maka belum tentu negara maju akan menerima dampak tersebut. Sebuah
hubungan yang tidak imbang. Artinya, positif-negatif dampak berkembang
pembangunan di negara maju akan dapat membawa dampak pada negara, (theotonio
dos santos, review, vol. 60, 231).

Enam bagian pokok dari teory independensi adalah :


1. Pendekatan Keseluruhan Melalui Pendekatan Kasus.
Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang
memberi tekanan pada sistem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses
kapitalisme global, dimana negara pinggiran hanya sebagai pelengkap.
Keseluruhan dinamika dan mekanisme kapitalis dunia menjadi perhatian
pendekatan ini.

2. Pakar Eksternal Melawan Internal.


Para pengikut teori ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan
terhadap dua faktor ini, ada yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih
ditekankan, seperti Frank Des Santos. Sebaliknya ada yang menekan factor
internal yang mempengaruhi/ menyebabkan ketergantungan, seperti Cordosa dan
Faletto.

3. Ekonomi Melawan Analisi Sosiopolitik.


Raul Plebiech memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan
penyelesaian yang ditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang
ekonom, dalam analisisnya memakai disiplin ilmu sosial lainya, terutama
sosiologi dan politik. Dengan demikian teori ketergantungan dimulai sebagai
masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimana
analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi dan
interdisipliner analisis sosiopolitik menekankan analisa kelas, kelompok sosial
dan peran pemerintah di negara pinggiran.

4. Kontradiksi Sektoral/Regional Melawan Kontradiksi Kelas.


Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis
tentang hubungan negara- negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis
yang memakai kontradiksi regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan
kelompok lainya menekankan analisis klas, seperti Cardoso.
7
5. Keterbelakangan Melawan Pembangunan.
Teori ketergantungan sering disamakan dengan teori tentang keterbelakangan
dunia ketiga. Seperti dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori ketergantungan
yang lain seperti Dos Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan
dan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat
dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan.

6. Voluntarisme Melawan Determinisme.


Penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarah sebagai suatu yang
deterministic. Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke
kapitalisme dan akan kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank
kemudian mengubahnya melalui teori ketergantungan. Menurutnya kapitalisme
negara-negara pusat berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran.
Kapitalisme negara pinggiran adalah keterbelakangan karena itu perlu di ubah
menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah
penganut teori voluntaristik.

3. Teori Artikulasi
Teori ini menyikapi kegagalan kapitalisme yang dilakukan di negara satelit,
karena kapitalisme dapat berhasil dilakukan di negara maju. Minimal adadua alasan
utama yang menyebabkan kapitalisme gagal membawa negara berkembang untuk
mencapai kemajuan dalam pembangunan yang dilakukannya. Dua hal itu adalah
kegagalan cara dan proses produksi di negara satelit.
1. Kegagalan proses produksi di negara satelit
Teori ini berpendapat bahwa negara satelit telah gagal memahami proses
industrialisasi yang dicontohkan oleh negara maju. Pemahaman yang salah atas
kapitalisme ini kemudian menbawa kegagalan dalammewujudkan kapitalisme
dengan melakukan industrialisasi dalam negeri.Disinilah yang dimaksud dengan
kegagalan dalam pembangunan menurut teori Artikulasi. Negara Dunia Ketiga
gagal mengartikulasikan profil kemajuan dan kemandirian ekonomi yang telah
tercapai di negara maju dengan kapitalisasi ekonominya, sehingga kegagalan
inimembawa negara satelit tetap menjadi negara miskin.

2. Kesalahan cara produksi


Industrialiasi yang berjalan di negara satelit mengalami kesalahan dalam hal
produksi (made of production), sehingga pemanfaatan sumber daya alam tidak
dilakukan secara maksimal untuk menghasilkan produk barang industri.
Kesalahan cara produksi ini menyebabkan kapitalisme di negara satelit tidak
berjalan dan berkembang secara murni, sehingga pembangunan tidak berhasil
membawa kemajuan bagi negara tersebut.
Kegagalan cara produksi di negara Dunia Ketiga ini terjadi karena
keterbatasan teknologi industri yang dikuasai oleh para tenaga ahli di negara
Dunia Ketiga. Dengan terbatas dan sedikitnya teknologi industri yagng dikuasai,
maka produk industri yang dihasilkan oleh industri negara Dunia Ketiga tetap
akan mengalami kekalahan dalam persaingan di pasar konsumsi dengan produk
yang dihasilkan oleh industri negara maju. Dengan tidak lakunya barang-barang
produk industri negara Dunia Ketiga,maka pertumbuhan pendapatan industri-
industri domestik akan cenderung rugi atau hanya mendapatkan laba yang minim,
8
sehingga dengan keuntungan terbatas tersebut, karyawan dan para pekerja akan
terbatas mendapatkan pendapatan dari kerja yang telah mereka lakukan. Jika
pendapatan rendah, maka kemampuan konsumsi juga rendah. Maka negara Dunia
Ketiga tetap masih berada dalamketerbelakangan jika tidak mampu merubah cara
produksi industri yangada didalam negaranya. Cara tercepat untuk merubahnya
adalah dengan menguasai teknologi industri yang sangat menentukan mutu
produk industri itu sendiri. Tokoh teori ini adalah Claude Meillassoux dan Pierre
Philippe Rey, keduanya adalah antropolog yang berasal dari Perancis,(Arief
Budiman, 2000: 103-107).

C. Tujuan Perencanaan
1. Standar pengawasan yaitu mencocokan pelaksanaan dengan perencanaannya.
2. Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan
3. Mengetahui siapa saja yang terlibat (stuktur organisasinya) baik kualifikasinya
maupun kuantitasnya.
4. Mendapatkan kegiatan kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya tenaga
dan waktu.
5. Meminimalkan kegiatan kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya,
tenaga, dan waktu.
6. Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerja.
7. Menyerasikan dan memadukan beberapa subkegiatan.
8. Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui
9. Mengarahkan pada percapaian tujuan.

D. Manfaat perencanaan
1. Standar pelaksaanaan dan pengawasan
2. Pemilihan berbagai alternative terbaik.
3. Penyusunan skala prioritas , baik sasaran mauopun kegiatan,
4. Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi
5. Alat memudahkan dalam berkordinasi dengn pihak terkait
6. Alat untuk meminimalkan pekerjaan tidak pasti.

E. Langkah-langkah dan Syarat Perencanaan


Langkah-langkah dalam perencanaan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
2. Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan.
3. Mengumpulkan data dan informasi-informasi yang diperlukan.
4. Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
5. Merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan dipecahkan dan bagaimana
pekerjaan-pekerjaan itu akan diselesaikan.

9
Syarat-syarat perencanaan antara lain sebagai berikut:
a. Perencanaan harus didasarkan atas tujuan yang jelas.
b. Bersifat sederhana, realistis, dan praktis.
c. Terinci, memuat segala uraian serta klasifikasi kegiatan dan rangkaian tindakan
sehingga mudah dipedomani dan dijalankan.
d. Memiliki fleksibilitas sehinggga disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi dan
situasi sewaktu-waktu.
e. Terdapat pertimbangan antara bermacam-macam bidang yang akan digarap
dalam perencanaan itu, menurut urgensinya masing-masing.
f. Diusahakan agar sedapat mungkin tidak terjadi adanya duplikasi pelaksanaan.

Ciri-ciri dari suatu perencanaan pembangunan :


a. Usaha yang dicerminkan dalam rencana untuk mencapai perkembangan sosial
ekonomi yang mantap (steady socialeconomic growth). Hal ini dicerminkan
dalam usaha pertumbuhan ekonomi yang positif.
b. Usaha yang dicerminkan dalam rencana untuk meningkatkan pendapatan per
kapita.
c. Usaha untuk mengadakan perubahan struktur ekonomi. Hal ini seringkali disebut
sebagai usaha diversifikasi ekonomi.
d. Usaha perluasan kesempatan kerja.
e. Usaha pemerataan pembangunan sering disebut sebagai distributive justice.
f. Usaha pembinaan lembaga-lembaga ekonomi masyarakat yang lebih menunjang
kegiatan-kegiatan pembangunan.
g. Usaha secara terus menerus menjaga stabilitas ekonomi.

F. Ruang Lingkup Perencanaan

1. Perencanaan dari Dimensi Waktu


a) Perencanaan Jangka Panjang (Long Term Planning)
Perencanaan ini meliputi jangka waktu 10 tahun ke atas.Dalam perencanaan
ini belum di tampilkan sasaran-sasaran yang bersifat kuantitatif, tetapi lebih kepada
proyeksi atau prespektif atas keadaan ideal yang diinginkan dan pencapaian keadaan
yang bersifat fundamental. Contoh, Propenas.

b). Perencanaan Jangka Menengah (Medium Term Planning)


Perencanaan ini meliputi jangka waktu antara tiga sampai delapan tahun. Di
Indonesia umumnya lima tahun. Perencanaan jangka menengah ini merupakan
penjabaran atau uraian perencanaan jangka panjang.Walaupun perencanaan jangka
menengah ini masih bersifat umum, tetapi sudah ditampilkan saran-saran yang
diproyeksikan secara kuantitatif. Contoh, Propeda.

c). Perencanaan Jangka Pendek (Short Term Planning)


Jangka waktunya kurang maksimal satu tahun.Perencanaan jangka pendek
tahunan (annual plann) disebut juga perencanaan (annual operational planning).
Contoh, Proyek-proyek.

10
G. KLASIFIKASI PERENCANAAN
Perencanaan pembangunan dapat diklasifikasi berdasarkan beberapa dimensi,
diantaranya: dimensi pendekatan dan koordinasi, dimensi waktu, dan dimensi arus
penyunan. Ketiga klasifikasi ini akan diuraikan pada pembahasan berikut ini.

I. Dimensi pendekatan dan koordinasi


Pertama, perencanaan pembangunan makro adalah perencanaan pembangunan
nasional dalam skala menyeluruh. Dalam perencanaan makro ini dikaji berapa pesat
pertumbuhan ekonomi dapat dan akan direncanakan, berapa besar tabungan masyarakat
dan pemerintah akan tumbuh, bagaimana proyeksinya, da-n hal-hal lainnya secara makro
dan menyeluruh. Kajian ini dilakukan untuk menentukan tujuan dan sasaran yang
mungkin dicapai dalam jangka waktu rencana, dengan memperhitungkan berbagai
variabel ekonomi mikro.Perencanaan makro ini dilakukan dengan melihat dan
memperhitungkan secara cermat keterkaitannya dengan perencanaan sektoral dan
regional.

Kedua, perencanaan sektoral adalah perencanaan yang dilakukan dengan pendekatan


berdasarkan sektor.Yang dimaksud dengan sektor adalah kumpulan dari kegiatan-
kegiatan atau program yang mempunyai persamaan ciri-ciri serta tujuannya.Pembagian
menurut klasifikasi fungsional seperti sektor, maksudnya untuk mempermudah
perhitungan- perhitungan dalam mencapai sasaran makro. Sektor-sektor ini kecuali
mempunyai ciri-ciri yang berbeda satu sama lain, juga mempunyai daya dorong yang
berbeda dalam mengantisipasi investasi yang dilakukan pada masing-masing sektor.
Meskipun pendekatan ini menentukan kegiatan tertentu, oleh instansi tertentu, di lokasi
tertentu, faktor lokasi pada dasarnya dipandang sebagai tempat atau lokasi kegiatan
saja.Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan perencanaan lainnya yang terutama
bertumpu pada lokasi kegiatan.

Ketiga , Perencanaan dengan dimensi pedekatan regional menitikberatkan pada aspek


lokasi di mana kegiatan dilakukan. Pemerintah daerah mempunyai kepentingan yang
berbeda dengan instansi-instansi di pusat dalam melihat aspek ruang di suatu daerah.
Departemen/lembaga pusat dengan visi atau kepentingan yang bertitik berat sektoral
melihat lokasi untuk kegiatan, sedangkan pemerintah daerah dengan titik berat
pendekatan pembangunan regional (wilayah/daerah) melihat kegiatan untuk lokasi.
Kedua pola pikir itu dapat saja menghasilkan hal yang sama, namun sangat mungkin
menghasilkan usulan yang berbeda.

Pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan daerah mengupayakan


pendayagunaan ruang di daerahnya, mengisinya dengan berbagai kegiatan sedemikian
rupa sehingga menghasilkan alternatif pembangunan yang terbaik bagi daerah
tersebut.Pilihan daerah terhadap alternatif yang tersedia dapat menghasilkan
pertumbuhan yang tidak optimal dari sudut pandang sektor yang melihat kepentingan
nasional secara sektoral.Berbagai pendekatan tersebut perlu dipadukan dalam
perencanaan pembangunan nasional, yang terdiri dari pembangunan sektor-sektor di
berbagai daerah, dan pembangunan daerah yang bertumpu pada sektor-sektor.

11
Keempat, perencanaan mikro adalah perencanaan skala rinci dalam perencanaan
tahunan, yang merupakan penjabaran rencana-rencana baik makro, sektoral, maupun
regional ke dalam susunan proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan dengan berbagai dokumen
perencanaan dan penganggarannya. Secara operasional perencanaan mikro ini antara lain
tergambar dalam Daftar Isian Proyek (DIP), Petunjuk Operasional (PO), dan rancangan
kegiatan. Perencanaan ini merupakan unsur yang sangat penting, karena pada dasarnya
pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan.Efektivitas dan efisiensi yang menjadi
masalah nasional sehari-hari dapat ditelusuri penanganannya dalam perencanaan dan
pelaksanaan rencana di tingkat mikro.

II. Dimensi waktu Perencanaan pembangunan


Dimensi waktu Perencanaan pembangunan yang didasarkan oleh periode waktu
terdiri atas tiga klasifikasi umum.
Pertama, perencanaan jangka panjang. Perencanaan jangka panjang sekitar 10
sampai dengan 25 tahun.Perencanaan ini bukan merupakan pedoman kerja yang siap
pakai, melainkan keputusan kekuasaan tertinggi yang lebih bersifat dorongan atau
motivasi. Jenis perencanaan yang demikian ini bersifat berkesinambungan, tidak dapat
diputus-putus. Perencanaan pengentasan kemiskinan, perencanaan keluarga berencana,
dan proyek jalan raya merupakan contoh sederhana dari perencanaan jangaka panjang.
Kedua, Sementara perencanaan jangka menengah lazim disebut Repelita, oleh
karena periodesasinya dalam kurun waktu 5 tahunan. Perencanaan jangka menengah
biasanya dikaitkan dengan kebutuhan secara politis karena jangka waktu disesuaikan
dengan jabatan pemerintah yang sedang berjalan.
Ketiga, perencanaan jangka pendek.Perencanaan jangka pendek sering juga dikenal
dengan istilah rencana operasional tahunan yang hanya memiliki kurun waktu 1
tahun.Jenis perencanaan ini merupakan operasionalisasi atau penjabaran dari
perencanaan jangka menengah ke dalam perencanaan tahunan yang biasanya
disesuaikan dengan kemampuan atau kondisi riil suatu daerah tertentu.Kemampuan
yang dimaksudkan di sini terkait dengan anggaran (budget) yang populer disebut
APBN dan APBD.

Dalam pandangan Lewis (1994), rencana tahunan merupakan rencana pengontrol


dengan pengertian bahwa ini adalah tahun dimana tahun demi tahun menyesuaikan
sumber-sumber daya dengan hasil-hasil yang dapat diperoleh. Singkatnya dalam
pandangan Lewis bahwa rencana tahunan merupakan sebuah dokumen operasi.
Dengan demikian, sasaran dalam perencanaan jangka pendek tidak menyimpang dari
frame work kebijakan yang telah ditentukan dalam perencanaan jangka menengah dan
jangka panjang.

III. Dimensi arus penyusunan


Berdasarkan prosesnya, perencanaan ini dibagi menjadi perencanaan dari bawah ke
atas (bottom-up planning) dan perencanaan dari atas ke bawah (top-
downplanning).Perencanaan dari bawah ke atas dianggap sebagai pendekatan
perencanaan yang seharusnya diikuti karena dipandang lebih didasarkan pada
kebutuhan nyata.Pandangan ini timbul karena perencanaan dari bawah ke atas ini
dimulai prosesnya dengan mengenali kebutuhan di tingkat masyarakat yang secara
langsung yang terkait dengan pelaksanaan dan mendapat dampak dari kegiatan
pembangunan yang direncanakan.
12
Sedangkan perencanaan dari atas ke bawah adalah pendekatan perencanaan yang
menerapkan cara penjabaran rencana induk ke dalam rencana rinci. Rencana rinci yang
berada di bawah adalah penjabaran rencana induk yang berada di atas.Pendekatan
perencanaan sektoral acapkali ditunjuk sebagai pendekatan perencanaan dari atas ke
bawah, karena target yang ditentukan secara nasional dijabarkan ke dalam rencana
kegiatan di berbagai daerah di seluruh Indonesia yang mengacu kepada pencapaian target
nasional tersebut.Pada tahap awal pembangunan, pendekatan perencanaan ini lebih
dominan, terutama karena masih serba terbatasnya sumber daya pembangunan yang
tersedia. Di dalam implementasinya tidak terdapat lagi penerapan penuh pendekatan dari
atas ke bawah.Beberapa pertimbangan, misalnya ketersediaan tabungan pemerintah
sebagai sumber pembiayaan pembangunan dan kepentingan sektoral nasional, masih
menuntut penerapan pendekatan dari atas ke bawah. Namun, kini pendekatan tersebut
tidak lagi sepenuhnya dijalankan karena proses perencanaan rinci menuntut peran serta
masyarakat. Untuk itu, diupayakan untuk memadukan pendekatan perencanaan dari atas
ke bawah dengan perencanaan dari bawah ke atas.

Secara operasional pendekatan perencanaan tersebut ditempuh melalui mekanisme


yang disebut Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan di
Daerah (P5D) dengan memanfaatkan forum-forum Musyawarah Pembangunan
(Musbang) Desa, Musbang Kecamatan, Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang)
Dati II, Rakorbang Dati I, Konsultasi Regional Pembangunan (Konregbang), yaitu Dati I
sepulau/kawasan, dan puncaknya terjadi pada Konsultasi Nasional Pembangunan
(Konasbang). Di setiap tingkat diupayakan untuk mengadakan koordinasi perencanaan
sektoral dan regional.Usulan atau masalah yang lintas wilayah atau lintas sektoral yang
tidak dapat diselesaikan di suatu tingkat dibawa ke tingkat di atasnya. Proses berjenjang
ini diharapkan dapat mempertajam analisis di berbagai tingkat forum konsultasi
perencanaan pembangunan tersebut. Dengan demikian, perencanaan dari atas ke bawah
yang memberikan gambaran tentang perkiraan-perkiraan dan kemungkinan-
kemungkinan yang ada diinformasikan secara berjenjang, sehingga proses perencanaan
dari bawah ke atas diharapkan sejalan dengan yang ditunjukkan dari atas ke bawah.

H. Tahapan Perencanaan
Tiga Model Dasar
1. Model Pertumbuhan Agregat:
Memproyeksikan Variabel-variabel Makro Model perencanaan pertama dan pemula
yang digunakan hampir semua oleh negara berkembang adalah model pertumbuhan
agregat. (aggregate growth model). Model ini mengulas perekonomian secara
keseluruhan dengan menggunakan variabel-veriabel makroekonomi yang dinilai
paling mempengaruh tingkatan dan laju pertumbuhan output nasional, yaitu tabungan,
investasi, cadangan modal, nilai ekspor, impor, bantuan luar negeri, dan sebagainya.
Model pertumbuhan egregat ini merupakan model yang cocok untuk meramalkan
pertumbuhan output (dan mungkin juga ketenagakerjaan) dalam kurun waktu antara
tiga sampai dengan lima tahun. Hampir semua model yang tergolong model
pertumbuhan agregat ini memiliki kemiripan gagasan dengan model dasar Harrod-
Domar.

13
2 Model Input-Output dan Proyeksi Sektoral:
Gagasan Dasar Pendekatan lain yang jauh lebih canggih terhadap perencanaan
pembangunan menggunaka beberapa varian model-antar industri (inter-industry model)
atau model input- output (input-output model). Pendekatan ini memperhitungkan
kenyataan bahwa kegiatan ekonomi dalam sektor-sektor industri yang utama senantiasa
saling berhubungan satu sama lain dalam suatu bentuk himpunan persamaan aljabar
yang simultan yang pada akhirnya akan menunjukan proses produksi atau teknologi
yang digunakan dalam masing-masing sektor industri. Semua industri selain dianggap
selain sebagai produsen output tertentu juga sebagai konsumen atau pihak yang
menggunakan output dari industri yang lain sebagai input- inputnya. Sebagai contoh
adalah sektor pertanian. Selain sebagai produsen output tertentu (misalnya gandum)
sektor ini juga menggunakan input-input yang merupakan output-output , katakalah
sektor industri mesin dan sektor industri pupuk.

3 Penilaian Proyek dan Analisis Manfaat Biaya Sosial


Meskipun lembaga perencanaan di negara-negara berkembang pada umunya
menggunakan model perencanaan Harrod-Domar dengan aneka variasinya, serta model
output-input sektoral yang telah disederhanakan, namun dalam kegiatan operasional
sehari- harinya mereka lebih memperhatikan alokasi dana investasi pemerintah yang
selalu terbatas berdasarkan teknik analisis makroekonomi yang dikenal dengan nama
penilaian proyek (project appraisal). Namun hendaknya hubungan intelektual dan
operasional antara tiga teknik perencanaa yang penting tersebut tidak diabaikan.

Model pertumbuhan makro menyusun strategi yang luas, yang bila disertai dengan
analisis output-input, akan pelaksanaan upaya pemenuhan target sektoral domestik
secara konsisten, sedangkan penilaian proyek khusus dirancang untuk mennjamin
terciptanya perencanaan proyek yang efisien unutk masing-masing sektor.

Hubungan timbal balik antara ketiga tahap perencanaan tersebut akan sangat
banyak menentukan keberhasilan pelaksanaan perencanaan pembangunan tersebut.
Jenis perencanaan pembangunan dapat dilihat dari berbagai sisi yaitu :
1. Menurut Jangka Waktunya Perencanaan Jangka Panjang Perencanaan Jangka
Menengah Perencanaan Jangka Pendek
2. Menurut Sifat. Perencanaan dengan Komando Perencanaan dengan Rangsangan
3. Menurut Sumber Daya. Perencanaan Keuangan Perencanaan Fisik
4. Menurut Tingkat Keleluasaan Perencanaan Indikatif Perencanaan Imperatif
5. Menurut Sistem Ekonomi Perencanaan pembangunan dalam sistem kapitalis
Perencanaan pembangunan dalam sistem komunis Perencanaan pembangunan
dalam sistem campuran
6. Menurut Cara Pelaksanaan Perencanaan Sentralistik Perencanaan Desentralistik

14
Ciri-ciri perencanaan yang dipersiapkan dengan baik yaitu sebagai berikut:
a. Tersusun secara lengkap termasuk sektor swasta
b. Memasukkan evaluasi perekonomian masa lalu
c. Merinci tujuan dan prioritas pebangunan
d. Menterjemahkan tujuan kedalam target pembangunan
e. Strategi dan kebijakan bersifat spesifik Berisikan perencanaan kebutuhan
investasi
f. Memuat perkiraan atau proyeksi selama periode perencanaan
g. Mempunyai kaitan yang jelas dengan perencanaan pembangunan lainnya.

I. Unsur Pokok Perencanaan Pembangunan


Dalam melakukan pembangunan, harus memiliki perencanaan yang matang dan
mantap, agar pembangunan dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dalam
perencanaan pembangunan, tentunya ada unsur-unsur pokok yang harus dimiliki yaitu
seperti sebagai berikut:
1. Mengetahui Locus: mengerti, mengetahui, dan memahami kondisi umum
daerah yang dijadikan sasaran pembangunan.
2. Memiliki visi dan misi pembangunan: pelaksanaan pembangunan harus tetap
fokus, sehingga harus bersandar pada visi dan misi yang telah ditetapkan sebelumnya,
mengenai untuk apa, siapa, dan mengapa pembangunan itu harus dilaksanakan.
3. Mempunyai sasaran dan target pembangunan: mengetahui tindakan nyata yang
akan dilakukan serta jangka waktu yang dibutuhkan dari tujuan yang ingin dicapai.
4. Memiliki strategi pembangunan: bertujuan agar pelaksanaan berjalan secara
kronologis serta, mengutamakan pencapaian tujuan secara efektif dan efisien, dengan
tepat dan terarah. Berikut merupakan contoh strategi pembangunan seperti, strategi
menyeluruh dan strategi parsial, strategi fokus dan strategi campuran.
5. Adanya prioritas pembangunan: hal ini bertujuan agar tercipta
pengoptimalisasian terhadap pencapaian sasaran pembangunan dengan dana dan
sumberdaya yang terbatas.
6. Memiliki program dan kegiatan pembangunan yang jelas: sebagai bentuk
intervensi dari pemerintah dengan menggunakan sejumlah sumberdaya, termasuk
dana dan tenaga dalam rangka melaksanakan kebijakan pembangunan.

J. Proses dan Siklus Perencanaan


Pembangunan secara lebih rinci dapat dikemukakan tahap-tahap dalam suatu proses
perencanaan sebagai berikut :
1. Penyusun Rencana
a. Tinjauan Keadaan Tinjauan keadaan atau review ini dapat berupa tinjauan
sebelum memulai suatu rencana (review before take of) atau suatu tinjauan tentang
pelaksanaan rencana sebelumnya (review of performance). Dengan kegiatan ini
diusahakan dapat dilakukan dan diidentifikasi masalah-masalah pokok yang masih
dihadapi, seberapa jauh kemajuan telah dicapai untuk menjamin kontinuitas kegiatan-
kegiatan usaha, hambatan-hamabatan yang masih ada, dan potensi- potensi serta
prospek yang masih bisa dikembangkan.
b. Perkiraan keadaan masa yang akan datang akan dilalui rencana Sering juga
disebut sebagai forecasting. Dalam hal ini diperlukan data-data statistik, sebagai hasil
penelitian dan teknik-teknik proyeksi. Mekanisme informasi untuk mengetahui
kecenderungan-kecenderungan perpestik masa depan.

15
c. Penetapan tujuan rencana (Plan Objectives) Dalam hal ini seringkali nilai-nilai
politik, sosial masyarakat,memainkan peranan yang cukup penting. Secara teknis hal
ini didasarkan kepada tinjauan keadaan dan perkiraan tentang masa yang akan dilalui
rencana.
d. Identifikasi kebijakan Suatu kebijakan atau policy, mungkin perlu didukung
oleh program-program pembangunan. Untuk bisa lebih operasionalnya rencana
kegiatan-kegiatan usaha ini perlu dilakukan berdasar pemilihan alternatif yang
terbaik. Hal ini dilakukan berdasar opportunity cost dan skala prioritas. Bagi proyek-
proyek pembangunan identifikasinya didukung oleh feasibility studies dan survei-
survei pendahuluan.
e. Tahap persetujuan rencana Proses pengambilan keputusan disini mungkin
bertingkat-tingkat, dari putusan bidang teknis kemudian memasuki wilayah proses
politik. Disini diusahakan pula penyelarasan dengan perencanaan pembiayaan secara
umum dari pada program-program perencanaan yang akan dilakukan.

2. Penyususnan Program Rencana


Dalam tahap ini dilakukan perumusan yang lebih terperinci mengenai tujuan atau
sasaran dalam jangka waktu tertentu, suatu perincian jadwal kegiatan, jumlah dan
jadwal pembiayaan serta penentuan lembaga atau kerja sama antar lembaga mana
yang akan melakukan program-program pembangunan. Seringkali tahap ini perlu
dibantu dengan penyususnan suatu flow-chart, operation plan atau network plan.

3. Pelaksanaan rencana
Dalam hal ini seringkali perlu dibedakan antara tahap eksplorasi, tahap konstruksi
dan tahap operasi. Hal ini perlu dipertimbangkan karena sifat kegiatan usahanya
berbeda. Dalam tahap pelaksanaan operasi perlu dipertimbangkan kegiatan-kegiatan
pemeliharaan.

4. Pengawasan atas Pelaksanaan Rencana


a. Mengusahakan supaya pelaksanaan rencana berjalan sesuai dengan rencananya.
b. Apabila terdapat penyimpanan maka perlu diketahui seberapa jauh
penyimpangan tersebut dan apa penyebabnya.
c. Dilakukan tindakan korektif terhadap penyimpangan-penyimpangan.

5.Evaluasi
Evaluasi ini membantu kegiatan pengawasan. Dalam hal ini dilakukan suatu evaluasi
atau tinjaun yang berjalan secara terus menerus, seringkali disebut sebagai concurrent
review. Evaluasi juga dilakukan sebagai pendukung tahap penyusunan rencana, yaitu
tentang situasi sebelum rencana dimulai dan evaluasi tentang pelaksanaan rencana
sebelumnya. Dari hasil hasil evaluasi ini dapat dilakukan perbaikan terhadap
perencanaan selanjutnya atau penyesuaian yang diperlukan dalam pelaksanaan
perencanaan itu sendiri.

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manfaat dari Perencanaan adalah Diharapkan terdapat suatu pengarahan
kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan
kepada pencapaian tujuan pembangunan. Dapat dilakukan suatu perkiraan
terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan
dilakukan mengenai potensi dan prospek pengembangan, juga mengenai
hambatan dan resiko yang mungkin dihadapi. Memberi kesempatan untuk
memilih berbagai alternatif tentang cara yang terbaik atau kesempatan untuk
memilih kombinasi cara yang baik. Dapat dilakukan penyusunan skala
prioritas, memilih urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun
kegiatan usahanya .Akan ada suatu alat pengukur untuk mengadakan suatu
pengawasan dan evaluasi.Perkembangan ekonomi yang mantap atau
pertumbuhan ekonomi yang terus menerus dapat ditingkatkan.Dapat dicapai
stabilitas ekonomi.

Didalam melakukan pembangunan, Pemerintaah memerlukan


perencanaan yang akurat serta diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap
pembangunan yang dilakukannya.Seiring dengan semakin pesatnya
pembangunan bidang ekonomi, maka terjadi peningkatan permintaan data dan
indikator-indikator yang menghendaki ketersediaan data sampai tingkat
Kabupaten/ Kota.Data dan indikator-indikator pembangunan yang diperlukan
adalah yang sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.

B. Saran
Kritik dan saran yang membangun, kami harapkan dapat menjadi
perkembangan kelompok kami dalam menulis makalah ini.

17
Daftar pustaka
J. Timbergen, Rencana Pembangunan, Jakarta : Penerbit Universitas
Indonesia, 1987

J. Timbergen , Pusat Perencanaan , New Haven , 1964


v