Anda di halaman 1dari 45

GENERAL BUSINNESS ENVIRONMENT

ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL TERHADAP EKSPANSI


KREDIT KORPORASI PT. BRI (PERSERO)

DISUSUN OLEH:
Deri Firmansyah (15/391909/PEK/21355)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah General Businness Environment

PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
JAKARTA
2017
DAFTAR ISI

Cover Depan...................................................................................................................... 1
Daftar Isi............................................................................................................................ 2

Bab 1: Pendahuluan
5.1. Latar Belakang.................................................................................................... 4
5.2. Rumusan Masalah............................................................................................... 4
5.3. Tujuan Penelitian................................................................................................. 5
5.4. Manfaat Penelitian.............................................................................................. 5
5.5. Metode Penelitia.................................................................................................. 5

Bab 2: Profil Perusahaan


2.1. Sejarah BRI........................................................................................................... 6
2.2. Visi BRI................................................................................................................. 7
2.3. Misi BRI................................................................................................................ 7
2.4. Struktur Organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia................................................... 8
2.5. Highlight Laporan Keuangan BRI 2016............................................................... 10
2.6. Highlight Rasio Keuangan BRI 2016.................................................................... 10

Bab 3: Analisis Eksternal


3.1. General Business Environtmen........................................................................... 12
3.2. Ekonomi Pembangunan dan Regional ................................................................ 13
3.3. Kebijakan Moneter dan Fiskal............................................................................ 14
3.4. Kebijakan Industri dan Sektoral.......................................................................... 16
3.5. Lingkungan Demografi....................................................................................... 17
3.6. Lingkungan Sosial Budaya................................................................................. 18
3.7. Lingkungan Politik Domestik dan Internasional................................................. 20
3.8. Lingkungan Teknologi........................................................................................ 21
3.9. Lingkungan Alami (Natural)............................................................................... 23
3.10. Lingkungan Pemerintahan.................................................................................. 25

Bab 4: Analisis Internal


4.1. Manajemen.......................................................................................................... 26
4.2. Produk BRI......................................................................................................... 27
4.3. Pemasaran ........................................................................................................... 30
4.4. Keuangan/Akuntansi. .......................................................................................... 32
4.5. Produksi/Operasi. ................................................................................................ 32
4.6. Penelitian dan Pengembangan............................................................................. 34
4.7. Audit System Informasi...................................................................................... 35
4.8. Analisa SWOT.................................................................................................... 38
4.9. Analisa Porter.................................................................................... ...................... 42
4.10. Analisa Generik Porter............................................................................................ 43

Bab 5: Kesimpulan dan Saran

2
5.6. Kesimpulan......................................................................................................... 44
5.7. Saran................................................................................................................... 44

Daftar Pustaka................................................................................................................... 46

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan pertumbuhan kredit mencapai Rp 635,3
triliun pada tahun 2016. Angka ini tumbuh 13,8 persen dibanding periode yang sama tahun 2015
yang mencapai Rp 558,4 triliun, pertumbuhan kredit yang dicapai BRI pada tahun 2016 tersebut
lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional.
Pertumbuhan ini ditopang kredit mikro yang memiliki porsi 33,3 % dari total penyaluran kredit

3
BRI. Kredit mikro BRI tumbuh 18,2 persen (yoy) pada tahun 2016, dari Rp 178,9 triliun pada
tahun 2015 menjadi Rp 211,5 triliun. Sektor UMKM merupakan utama dan menjadi fokus
bisnis utama BRI. Porsi penyaluran kredit ke sektor UMKM oleh BRI pada tahun 2016
mencapai 72,2 persen. Adapun penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh BRI pada tahun
2016 mencapai Rp 69,4 triliun kepada sekira 3,9 juta debitor. Dengan demikian, BRI
berkontribusi 91,1 persen dari total penyaluran KUR nasional.
Namun demikian BRI juga menyalurkan kredit kepada segmen korporasi, meskipun bukan
menjadi bisnis utama BRI tetapi segmen ini memberikan kontribusi terhadap pendapatn BRI.
Sebagai gambaran, saat ini ada tiga bisnis utama yang selama ini menjadi pendorong BRI dalam
bisnis korporasi. Tiga bisnis ini di antaranya adalah perkebunan, infrastruktur, dan industri
pengolahan kemudian kredit korporasi BRI menyumbang sekitar Rp 182,1 triliun atau 27% dari
total kredit. Pertumbuhan kredit korporasi di kuartal I 2017 cukup bagus yaitu 17,6% secara
yoy. Beberapa bisnis yang digarap BRI untuk meningkatkan kredit korporasi di antaranya
adalah infrastruktur dan perkebunan. Sampai kuartal II 2017, permintaan kredit korporasi
terutama swasta memang belum terlalu besar. Hal ini karena pengusaha banyak yang masih
melihat stabilitas politik akhir-akhir ini. Apalagi tahun 2019 akan ada pemilihan legislatif dan
juga pemilihan presiden. Seperti diketahui, dari total kredit korporasi BRI Rp 182,1 triliun pada
kuartal I 2017, sebanyak 53% masih didominasi oleh kredit korporasi pemerintah sedangkan
sisanya 47% dari korporasi swasta. Melihat potensi yang ada saat ini sebetulnya kontribusi
kredit korporasi BRI masih dapat ditingkatkan lagi guna menyumbang pendapatan BRI di masa
yang akan datang.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengaruh faktor lingkungan eksternal perusahaan terhadap kinerja peyaluran kredit
korporasi BRI?
2. Apakah peluang dan ancaman yang timbul akibat pengaruh faktor lingkungan eksternal
perusahaan terhadap kinerja peyaluran kredit korporasi BRI?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Menganalisis pengaruh faktor lingkungan eksternal kinerja peyaluran kredit korporasi BRI.
2. Menganalisis peluang dan ancaman yang timbul akibat pengaruh faktor lingkungan
eksternal terhadap kinerja peyaluran kredit korporasi BRI.

1.4 Manfaat Penelitian


Bagi Peneliti :
1. Penelitian ini dapat membantu peneliti dalam menyelesaikan tugas mata kuliah General
Business Environment

4
2. Bermanfaat bagi peneliti untuk mengetahui faktor-faktor eksternal apa saja yang sedang
dihadapi oleh BRI khususnya dalam menyalurkan kredit korporasi

Bagi Perusahaan :
1. Perusahaan dapat mengetahui faktor-faktor eksternal apa saja yang mempengaruhi kinerja
peyaluran kredit korporasi BRI
2. Perusahaan dapat mencari alternative strategi untuk setiap peluang dan ancaman yang
timbul.

1.5 Metode Penelitian


Metode Penelitian yang dengan metode sekunder dimana data diambil dari bagian portfolio dari
divisi bisnis korporasi BRI yang terdiri dari Divisi Bisnis Umum, Divisi Agribisnis, Divisi
BUMN 1 dan Divisi BUMN 2.

BAB 2
PROFIL PERUSAHAAN

2. Profil Perusahaan
2.1. Sejarah BRI
Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di
Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah
oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der
Inlandsche Hoofden atau "Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto",
suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi).
Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari
kelahiran BRI.
Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun
1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik

5
Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI
sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian
Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat.
Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan
Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan
Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres)
No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank
Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.
Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang
pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu,
Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama
Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara
Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).
Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok
Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral,
yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara
Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua
Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya
berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI
sebagai bank umum.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan
Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas.
Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun
2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga
menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.,
yang masih digunakan sampai dengan saat ini. (Sumber: http://bri.co.id/articles/9)

2.2. Visi BRI


Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.

2.3 Misi BRI


1. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada
usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.

6
2. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan
didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan teknologi informasi yang handal
dengan melaksanakan manajemen risiko serta praktek Good Corporate Governance (GCG)
yang sangat baik.
3. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang
berkepentingan (stakeholders).

7
Dengan visi yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah dan misi diatas maka bank BRI
di tuntut agar lebih mengutamakan pelayanan demi kepuasan kepada nasabah untuk mencapai suatu
tujuan. Pelayanan yang baik akan memberikan kesan positif bagi nasabah, pelayanan merupakan
sebuah kata kunci yang senantiasa diupayakan oleh suatu perusahaan dalam rangka untuk mencari
dan mempertahankan pelanggan yang ada dalam menunjangkeberhasilan pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Bagi Bank BRI kehilangan nasabah merupakan bencana besar, karena
tanpa nasabah apa artinya sebuah bank. Fungsi tambahan dalam lembaga keuangan ini yaitu
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bidang jasa perbankan meliputi berbagai kegiatan
dalam penyelenggaraan transaksi-transaksi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan
dunia usaha. Selain kegiatan operasional tentunya bank harus dapat memberikan pelayanan yang
terbaik agar dapat memiliki kualitas pelayanan yang baik dimata nasabah. Terciptanya kualitas
pelayanan tentunya menciptakan kepuasan terhadap pengguna layanan yang pada akhirnya dapat
memberikan beberapa manfaat, diantaranya terjadinya hubungan harmonis antara penyedia jasa
dengan nasabah. Peningkatan kualitas pelayanan perlu dilakukan secara terus menerus dalam
rangka menjaga kepuasan nasabah. Inovasi-inovasi pelayanan perlu dilakukan sesuai dengan
masukan-masukan dari nasabah dan dengan kemampuan unit pelayanan dalam memenuhi
keinginan nasabah tersebut. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan tidak
lepas dari upaya untuk mengukur kepuasan pelanggan, yang hasilnya merupakan bahan masukan

8
bagi upaya perbaikan Kualitas pelayanan yang diberikan perusahaan terhadap nasabah. Suatu
pelayanan akan memiliki kualitas yang baik apabila pelayanan tersebut mampu memenuhi harapan
pelanggan. Pelayanan dari Bank BRI ini juga mengutamakan usaha mikro, kecil dan menengah
untuk menunjang ekonomi masyarakat. Tidak hanya pelayanan saja melainkan Bank BRI juga
menggunakan teknologi informasi yang handal sehingga akses Bank BRI dapat dijagkau di seluruh
dunia. Dengan hal tersebut akan membuat Bank BRI menjadi bank terkemuka dan mampu bersaing
dengan para pesaing lainnya. Termukanya Bank BRI dengan banyaknya nasabah akan dapat
membuat keuntungan juga bagi para pemegang sahamnya.

2.4 Struktur Organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia

Sumber : Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016.

9
Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016).

10
2.5. Highlight Laporan Keuangan BRI 2016.

(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016).

Berdasarkan highlight laporan keuangan di atas BRI mengalami peningkatan total asset dari tahun
2015 ke 2016 sebesar 14,25% menjadi Rp. 1.003.644 Miliar dan total pinjaman meningkat sebesar
14,17% menjadi Rp. 663.430 Miliar kemudian dari sisi simpanan meningkat sebesar 12,78% atau
menjadi Rp. 754.526 Miliar.

2.6 Highlight Rasio Keuangan BRI 2016

(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016).

11
Berdasarkan rasio keuangan di atas BRI dikategorikan sebagai bank yang sehat, hal ini sesuai
dengan standart kategori bank sehat yang di tetapkan oleh BI. Rasio tersebut seperti rasio NPL
No Rasio BRI (%) BI (%) Kategori
1 CAR 22.91 CAR > 12 Sangat Sehat
2 NPL 2,03 2% < NPL 5 % Sehat
3 ROA 3,48 ROA > 1,5 Sehat
4 LDR 87,77 85 % < ROA > 100 % Cukup Sehat
5 GWM 6,67 % 5% Sehat
Sumber : Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/15/DPNP Tahun 2013

BAB 3

12
ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL
3.1. General Business Environtment
General Business Environtment atau Lingkungan makro atau disebut juga lingkungan jauh, menurut
Pearce (2000:71), Lingkungan Sosial, menurut Wheelen, (2003: 14), dan lingkungan makro,
menurut Hitt (1998:84). Lingkungan sosial termasuk kekuatan umum yang secara tidak langsung
berhubungan dengan aktivitas organisasi jangka pendek tetapi dapat dan sering mempengaruhi
keputusan jangka panjang.
Lingkungan sosial yang dimaksud yaitu (Wheelen, 2003: 14):
1. Kekuatan Ekonomi
2. Kekuatan Teknologi
3. Kekuatan hukum-politik
4. Kekuatan Sosial Budaya
Umar (2005:76) menyatakan bah-wa Lingkungan makro perusahaan terdiri dari faktor-faktor utama
yang pada dasarnya di luar dan terlepas dari perusahaan. Faktor-faktor utama yang diperhatikan
adalah faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi.
Disamping itu Griffin (2003:69) menyatakan lingkungan ini sebagai lingkungan umum (general
environment) dari suatu organisasi yang meru-25 Inovbiz, Volume 1, Nomor 1, Juni 2013, hlm. 25-
37 pakan serangkaian dari dimensi dan kekuatan yang luas yang berada disekitar organisasi yang
menciptakan keseluruhan konteks organisasi. Dimensi dan kekuatan ini tidak sepenuhnya terkait
dengan organisasi tertentu lainnya. Lingkungan umum dari sebagian besar organisasi memiliki
dimensi ekonomi, teknologi, sosial budaya, politik-hukum, dan internasional.
Analisis Eksternal juga merupakan upaya identifikasi tren kejadian dan faktor-faktor yang berada di
luar kendali suatu organisasi atau perusahaan, yang berpengaruh terhadap keputusan manajemen
suatu organisasi. Dalam kasus ini kita akan membahas analisis eksternal PT. Bank Rakyat Indonesia
Tbk. Analisis eksternal akan mengungkap peluang-peluang dan ancaman yang dihadapi oleh BRI
dalam menyalurkan kredit korporasi sehingga perusahaan dapat merumuskan strategi guna
mendapat keuntungan dari peluang-peluang dan menghindari atau meminimalkan dampak dari
ancaman yang ada. Analisis eksternal terdiri dari 9 Faktor Eksternal utama, yaitu :

1. Ekonomi Pembagunan dan Regional


2. Kebijakan Moneter dan Fiskal
3. Kebijakan Industri dan Sektoral
4. Lingkungan Demografi
5. Lingkungan Sosial dan Budaya
6. Lingkungan Politik Domestik dan Internasional
7. Lingkungan Teknologi
8. Lingkungan Alami (Natural)

13
9. Lingkungan Pemerintahan

Selanjutnya kita akan membahas satu per satu hubungan antara faktor-faktor Eksternal Utama
dan kaitannya dengan ekspansi kredit BRI ke segmen korporasi, dimana melalui analisis setiap isu-
isu terkini yang berhubngan dengan faktor tersebut termasuk kekuatan dan peluang-peluang serta
ancaman yang dihadapi oleh BRI.

3.2. Ekonomika Pembangunan dan Regional


Pelemahan Pertumbuhan Ekonomi dan Penurunan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar
Amerika :
a. Pembahasan :
Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 masih diprediksi mengalami peningkatan tipis
bertumbuh disekitar 5,2 %, dengan asumsi stimulus fiskal dari hasil penghematan subsidi
BBM akan efektif pada semester kedua. Sementara itu, inflasi diperkirakan berada di
tingkat yang lebih tinggi dibanding tahun ini.
Hal tersebut dikarenakan imbas dari kenaikan harga BBM dan listrik, kata Raden. Di lain
pihak, menguatnya perekonomian Amerika juga menyebabkan suku bunga di sana naik,
sehingga suku bunga acuan BI diperkirakan akan naik sampai 8,5 %. Nilai tukar akan
berada di sekitar Rp12.200 - Rp12.700 per US$. Maret 2015 ini nilai tukar Rupiah bahkan
sudah mencapai Rp12.800 Rp13.000 per US$.
Pelemahan pertumbuhan ini juga terjadi secara merata di hampir semua negara
berkembang, bahkan dialami negara ekonomi besar seperti China, India, Brazil dan
Indonesia. Kondisi ini kelak juga akan membuat permintaan barang dan harga komoditas
jadi melemah, jelas Raden.http://swa.co.id/business-research/tahun-2015-ekonomi-
indonesia-hadapitantangan-berat
b. Kekuatan :

Adanya skim kredit yang menggunakan mata uang Vallas dan ada fasilitas hedging
untuk para Importir
c. Peluang :

14
Lemahnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia ( 5,2-5,5%) namun masih dianggap
stabil, sehingga banyak pengusaha membutuhkan pinjaman ke bank untuk modal
usaha, melalui kredit modal usaha.
d. Ancaman :
Penurunan nilai rupiah terhadap dollar AS berdampak pada kurangnya daya beli
masyarakat indonesia, banyak industri yang mendapat laba sedikit, sehingga
kemampuan untuk berinvestasi juga lemah, akibatnya Layanan Kustodian (penitipan
efek) BRI minim digunakan. http://www.bri.co.id/articles/116
e. Strategi :
Membebrikan skim dan struktur kredit yang pas dan sesuai dengan usaha yang
bersangkutan sehingga dapat mengurangi resiko gagal bayar .
3.3. Kebijakan Moneter dan Fiskal
1. Adanya usaha pemerintah dalam mempertahankan suku bunga di kisaran 7,5 % (Kebijakan
Moneter)
a. Pembahasan :

15
Melalui kebijakan moneter Bank Indonesia dapat melakukan penurunan suku bunga untuk
mendorong aktifitas ekonomi. Penurunan suku bunga BI Rate menurunkan suku bunga
kredit akan direspon oleh dunia usaha dan rumah tangga melalui meningkatnya

permintaan kredit perbankan. Dengan peningkatan tersebut maka investasi oleh dunia
usaha dan konsumsi oleh rumah tangga akan meningkat, ceteris paribus. Penurunan suku
bunga kredit juga akan menurunkan biaya modal perusahaan untuk melakukan investasi.
Ini semua akan meningkatkan aktifitas konsumsi dan investasi sehingga aktifitas
perekonomian semakin bergairah. Upaya Bank Indonesia menjaga BI rate dikisaran 7,5%
dengan harapan agar suku bunga kredit turun dan pada gilirannya akan menggairahkan
investasi merupakan hal yang diperlukan (necessary condition). Hal tersebut tidak cukup,
harus diikuti dengan kebijakan-kebijakan lain yang dapat mendorong peningkatan
investasi (sufficient condition). Kebijakan termaksud antara lain iklim investasi yang sehat
dan kompetitif, birokrasi yang pro investasi, serta dukungan infrastruktur ekonomi baik
dari aspek kuantitas dan kualitas. Dengan demikian kebijakan moneter melalui instrumen
BI Rate harus dibarengi secara simultan dengan kebijakan fiskal dan kebijakan ekonomi
yang lain oleh pemerintah agar dapat mencapai sasaran yang optimal.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_moneter
b. Kekuatan :
BRI sebagai bank buku 4 terbesar di Indonesia sehingga suku bunga simpanan dan
pinjaman BRI yang relatif stabil
c. Peluang :
Perubahan BI Rate mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan.
Sehingga dengan menurunnya suku bunga di harapkan dapat menstimulus pertumbuhan
ekonomi
d. Ancaman :
Kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat berdampak pada ketidak stabilan suku bunga
sehingga potensi kenaikan suku bunga sangat besar
e. Strategi :
Monitoring secara periodik usaha debitur sehingga apabila debitur sudah mulai mengalami
tanda-tanda gagal bayar dapat segera ditindak lanjuti dengan restrukturisasi .

16
2. Meningkatkan jumlah pemasukan pajak melalui program tax amnesty
a. Pembahasan :
Langkah pemerintah untuk memperbaiki perekonomian dan defisit anggaran yang terjadi
kemudian diambil oleh pemerintah dengan mengeluarkan sejumlah paket kebijakan
ekonomi. Khusus untuk defisit anggaran sendiri, pemerintah mengeluarkan kebijakan
pengampunan pajak (Tax Amnesty). Kebijakan tax amnesty bertujuan untuk meningkatkan
penerimaan negara dari sektor pajak yang akan digunakan untuk mempercepat
pertumbuhan ekonomi, mendorong refomasi perpajakan, dan mempercepat pembangunan
(UU No. 11 Tahun 2016).
Upaya yang dilakukan pemerintah membuahkan hasil, kebijakan tax amnesty tahap I pada
periode Juli - September sukses memberikan tambahan penerimaan negara dengan jumlah
yang cukup fantastis. Realisasi penerimaan amnesti pajak periode I adalah sebesar 97,2
triliun rupiah, sedangkan deklarasi harta secara keseluruhan adalah sebesar 3.620 triliun
rupiah yang terdiri dari deklarasi luar negeri sebesar 951 triliun rupiah dan deklarasi dalam
negeri sebesar 2.532 triliun rupiah. Jumlah repatriasi sebesar 137 triliun rupiah, dan yang
paling menarik adalah jumlah peserta tax amnesty mencapai 366.768 wajib pajak (DJP,
2016).
Dilihat dari teori makroekonomi, kebijakan tax amnesty dan program percepatan
pembangunan infrastruktur merupakan kebijakan fiskal yang bersifat ekspansif. Kebijakan
fiskal ekspansif merupakan kebijakan yang dilakukan pemerintah dengan meningkatkan
belanja pemerintah atau dengan mengurangi pajak untuk meningkatkan output
perekonomian. Sehingga, kebijakan tax amnesty dan kebijakan percepatan pembangunan
infrastruktur yang merupakan usaha pemerintah dalam meningkatkan belanja negara
sangat erat hubungannya.
b. Kekuatan :
Nasabah korporasi BRI yang terdiri dari perusahaan besar seperti : Sinarmas, Kompas
Gramedia, Ciputra dan MNC
c. Peluang :
Potensi dana yang dapat dihimpun oleh BRI sangat besar sampai dengan September 2016
total dana yang dapat dihimpun sebesar Rp. 12 T hal dapat berpengaruh terhadap rasio
LDR BRI sehingg BRI memiliki kelongaran dalam
d. Ancaman :
Persaingan antar Bank dalam mengaet para wajib pajak yang memasukan dananya ke
Indonesia
e. Strategi :
Memberikan sosialisasi kepada para pengurus dan pemegang saham debitur-debitur BRI
agar bersedia melakukan tax amnesty, kemudian menciptakan skim kredit baru dimana
agunanya dapat menggunakan cash colleteral yang berasal dari dana tax amnesty

17
3.4. Lingkungan Industri dan Sektoral
Kebijakan OJK terkait dengan Tagihan atau Kredit yang dijamin oleh pemerintah pusat bobot
0% pada Aset Tertimbang Menurut Resiko (ATMR)
a. Pembahasan :
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan 35 kebijakan terkait sektor perbankan, pasar
modal, dan industri keuangan non-bank (IKNB). Kebijakan yang sebagian di antaranya
adalah pelonggaran kebijakan itu diharapkan bisa memberikan stimulus terhadap
perekonomian nasional. kebijakan tersebut dikeluarkan OJK agar industri keuangan bisa
berperan lebih besar dalam mendukung perekonomian nasional. Kebijakan-kebijakan
tersebut dibuat agar mampu menjaga pertumbuhan kredit perbankan, pertumbuhan pasar
modal, dan perkembangan Industri Keuangan Non Bank agar bisa mendorong
pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh sesuai target.
Dalam kebijakan ini, OJK mengeluarkan 12 kebijakan di sektor perbankan, 15 kebijakan
di sektor pasar modal, 4 kebijakan di sektor IKNB, serta 4 kebijakan di bidang edukasi
dan perlindungan konsumen. Beberapa kebijakan ini bersifat temporer selama dua tahun
dengan melihat perkembangan kondisi perekonomian ke depan.
Beberapa ketentuan yang dibuat OJK dalam rangka memberikan stimulus terhadap
perekonomian, antara lain, tagihan atau kredit yang dijamin oleh pemerintah pusat
dikenakan bobot risiko sebesar nol persen dalam perhitungan aset tertimbang menurut
risiko (ATMR) untuk risiko kredit. Hal lainnya adalah penilaian kualitas kredit terhadap
satu debitor atau satu proyek terkait dengan ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga,
dinaikkan dari paling tinggi Rp 1 miliar menjadi paling tinggi Rp 5 miliar.
b. Kekuatan :
Di BRI terdapat divisi Korporasi yang khusus menangani Pembiayaan BUMN sehingga
dengan adanya kebijakan ini resiko BRI dalam pembiayaan menjadi lebih kecil.
c. Peluang :
Banyaknya turunan dari bisnis korporasi tersebut dapat berpeluang menambah Fee Based
BRI. Contoh : Kredit Supplier, Trade Finance, CMS
d. Ancaman :
Belum semua BUMN berkinerja baik, sehingga resiko gagal bayar terhadap kredit tetap
ada.
e. Strategi :
Menyeleksi debitur korporasi baik BUMN atau Swasta dari awal mengunakan SID BI
sehingga didapat debitur yang sehat kemudian memanfaatkan bisnis turunan dari debitur
tersebut sehingga yang didapat tidak hanya bunga kredit tetapi juga Fee Based Income.
3.5. Lingkungan Demografi
Jumlah penduduk Indonesia yang banyak dan menempati posisi ke-4 di dunia.
a.Pembahasan :

18
Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 245 juta jiwa, menjadikan negara ini negara
dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Pulau Jawa merupakan salah satu daerah terpadat
di dunia, dengan lebih dari 107 juta jiwa tinggal di daerah dengan luas sebesar New York.
Indonesia memiliki budaya dan bahasa yang berhubungan namun berbeda. Sejak
kemerdekaannya Bahasa Indonesia (sejenis dengan Bahasa Melayu) menyebar ke seluruh
penjuru Indonesia dan menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi,
pendidikan, pemerintahan, dan bisnis. Namun bahasa daerah juga masih tetap banyak
dipergunakan.
Dari segi kependudukan, Indonesia masih menghadapi beberapa masalah besar anatara lain :
a. Penyebaran penduduk tidak merata, sangat padat di Jawa - sangat jarang di Kalimantan
dan Irian.
b. Piramida penduduk masih sangat melebar, kelompok balita dan remaja masih sangat
besar.
c. Angkatan kerja sangat besar, perkembangan lapangan kerja yang tersedia tidak
sebanding dengan jumlah penambahan angkatan kerja setiap tahun.
d. Distribusi Kegiatan Ekonomi masih belum merata, masih terkonsentrasi di Jakarta dan
kota-kota besar dipulau Jawa.
e. Pembangunan Infrastruktur masih tertinggal; belum mendapat perhatian serius.
f. Indeks Kesehatan masih rendah; Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi masih
tinggi.http://id.wikipedia.org/wiki/Demografi_Indonesia
b. Kekuatan :
Unit kerja dan Petugas BRI yang tersebar di seluruh Indonesia dari mulai Kota hingga
Pelosok.
c. Peluang :
Petugas BRI dapat menjangkau seluruh wilayah Indoneisa sehingga dapat membantu
kelancaran usaha debitur Korporasi BRi khususnya pada sektor Agribisnis dan Batu bara
d. Ancaman :
Besarnya ongkos operasional serta masih terbatasnya sarana prasarana beberapa unit kerja
BRI yang ada di pedalaman sehingga membuat layanan bagi debitur BRI menjadi kurang
optimal.
e. Strategi :
Memanfaatkan seluruh unit kerja BRI yang di wilayah Indonesia guna mendukung bisnis
debitur BRI
3.6. Lingkungan Sosial dan Budaya
Tingginya angka pengganguran yang diakibatkan adanya kebijakan efisiensi dari perusahaan
a. Pembahasan :
Permasalahan pengangguran juga merupakan permasalahan yang cukup serius bagi banyak
negara di dunia, bahkan hampir semua negara mengalami permasalahan tentang
pengangguran. Menjadi seorang pengangguran sendiri dapat mengakibatkan banyak hal
negatif bagi seseorang, baik dalam dirinya sendiri maupun di dalam kelompok sosialnya.

19
Pengangguran itu sendiri dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kemiskinan di
Indonesia sehingga pada akhirnya menyebabkan daya beli masyarakat kita sangat lemah.
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan
jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi
masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan
pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya
kemiskinan dan masalah-masalah sosial
lainnya.http://pikarustia.blogspot.com/2013/06/hubungan-antara-pengangguran-
dengan.html
Banyak sekali permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, yang
kemudian dari waktu ke waktu menjadi suatu permasalahan yang kompleks dan seakan-
akan sulit untuk dibenahi. Saat ini saya ingin membahas salah satu permasalahan sosial
yang sudah lama menjadi suatu permasalahan yang berlarut-larut dan bahkan semakin
parah.Permasalahan tentang pengangguran merupakan permasalahan yang sepertinya sudah
mendarah daging bagi masyarakat Indonesia , mengapa dapat dikatakan demikian? karena
masalah pengangguran sendiri dari hari ke hari semakin meningkat, menurut saya hal
tersebut di mulai dari masa krisis global yang melanda Indonesia , yang menyebabkan
banyak perusahaan gulung tikar dan mem PHK kan sejumlah karyawannya.
Permasalahan pengangguran juga merupakan permasalahan yang cukup serius bagi banyak
negara di dunia, bahkan hampir semua negara mengalami permasalahan tentang
pengangguran. Menjadi seorang pengangguran sendiri dapat mengakibatkan banyak hal
negatif bagi seseorang, baik dalam dirinya sendiri maupun di dalam kelompok sosialnya.
Pengangguran itu sendiri dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kemiskinan di
Indonesia sehingga pada akhirnya menyebabkan daya beli masyarakat kita sangat lemah.
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan
jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi
masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan
pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya
kemiskinan dan masalah-masalah sosial
lainnya.http://pikarustia.blogspot.com/2013/06/hubungan-antara-pengangguran-
dengan.html

b. Kekuatan :
Adanya Program TDB atau Trickle Down Bussines di BRI, Dimana selain membiayai
perusahaan korporasi BRI juga wajib membiayai sektor UMKM membuat potensi lapang
kerja baru dapat tercipta.
c. Peluang :

20
Banyaknya debitur-debitur baru yang merupakan turunan dari debitur Korporasi dapat
meningkatkan portofolio kredit BRI di sektor UMKM
d. Ancaman :
Belum lengkapnya data supplier dan distributor dibutur korporasi BRI membuat
penyaluran kredit belum optimal.
e. Strategi:
Melakukan pendataan dan kerja sama dengan cabang booking office sehingga didapat data
yang akurat, kemudian bekerja sama dengan divisi terkait seperti divisi mikro dan
program guna memberikan pendanaan pada sector UMKM turunan dari debitur korporasi.
3.7. Lingkungan Politik Domestik dan International
Kondisi Politik di Indonesia yang belum stabil ditambah rentannya gesekan antar partai dan
golongan.
a. Pembahasan :
Kurang stabilnya kondisi politik di Indonesia akhir-akhir turut memicu kestabilan dalam
dunia perbankan hal ini karena dunia perbankan sangat di pengaruhi oleh kondisi suatu
negara semakin tidak stabil suatu negara maka akan membuat kepercayaan pada negara itu
munurun sehingga menurunkan kepercayaan para pemilik uang untuk menanamkan
uangnya. Berikut beberapa kejadian yang mempegaruihi iklim politik di Indonesia.
1. Kondisi Politik di Indonesia
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas menyampaikan,
proses politik di Indonesia saat ini sedang mengalami penurunan demokrasi.
Hal itu karena lembaga politik di Indonesia tidak menegakkan identitas negara hukum.
Menurutnya, lembaga eksekutif dan legislatif sebagai penggerak negara semestinya
menerapkan prinsip demokrasi secara utuh.
"Dua pilar ini harusnya diimplementasikan dalam proses politik. Apakah undang-undang
kepolitikan mencerminkan negara hukum atau tidak? Menurut saya tidak.
Proses saat ini melahirkan demokrasi prosedural yang cacat," ujar Busyro dalam acara
diskusi di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa 25 November 2016.
Pada kesempatan itu, Busyro mengatakan, banyak kepala daerah hampir menjadi 'pasien'
KPK, karena ditemukan adanya 400 izin usaha pertambangan yang bermasalah.
"Sebagian besar yang menikmati itu asing yang difasilitasi. Bukannya kita anti asing.
Kemudian bila asing difasilitasi sedemikian rupa dan negara hukum menjadi rontok. Ini
fakta bahwa negara kita sedang dalam penggerusan demokrasi," ungkapnya.
(IRIBIndonesia/Sindonews/RM)
http://indonesian.irib.ir/international/asia-dan-pasifk/item/88565-saat-ini-politik-
indonesia-dalam-kondisi-cacat
2. Kondisi Hukum di Indonesia
Seperti yang kenyataan yang ada saat ini bahwa hukum di Indonesia memang bisa
dikatakan runcing ke bawah, tumpul ke atas. Maksudnya adalah dimana hukum hanya
berlaku dan bisa menjadi sangat keras kepada masyarakat biasa atau kalangan bawah.

21
Sedangkan bagi kalangan atas atau pejabat-pejabat negara hukum menjadi sangat lunak
bahkan tidak direalisasikan sama sekali meskipun perbuatan yang dilakukan termasuk
melanggar dan menyimpang dari hukum.
b. Kekuatan :
Sudah diterapkannya GCG dan KYC baik dari sisi simpanan dan pinjaman sebagai
antisipasi dini upaya money loundry
c. Peluang :
Merupakan salah satu sarana dalam menyeleksi debitur yang baik bagi BRI
d. Ancaman :
Banyaknya pengusaha-pengusaha nakal yang mencoba menaruh simpanan dan mencoba
mengajukan pinjaman ke BRI
e. Strategi :
Melakukan seleksi awal kepada debitur baik melalui KYC ataupun SID BI sehingga
didapat sebitur yang sehat dan dapat memberikan keuntungan bagi BRI
3.8. Lingkungan Teknologi
Berkembangnya teknologi jaringan serta cara bertransaksi yang semakin mudah dan cepat.
a. Pembahasan :
Telah diketahui bahwa Indonesia bertindak konsumtif terhadap teknologi dimana negara
kita akan menggunakan semua teknologi baru yang ditemukan negara-negara lain. Saat ini
semua aspek kehidupan kita tidak terlepas dari namanya teknologi. Penemuan-penemuan
terabaru dari fitur-fitur yang canggih semakin memanjakan kita semua sebagai masyarakat
yang konsumtif akan teknologi. Kemajuan teknologi dapat menciptakan pasar baru,
menghasilkan perkembangan produk baru yang lebih baik, serta meniadakan hambatan
biaya antar bisnis. Kekuatan teknologi juga akan membuat kita melakukan pekerjaan secara
efisien dan cepat, serta meningkatkan kemampuan teknis karyawan yang bekerja di
perusahaan atau organisasi.
Teknologi juga berperan penting dalam dunia perbankan. Bisnis perbankan sangat
mempengaruhi ekonomi dunia saat ini. semenjak ditemukannya computer pada tahun 1955,
Teknologi Informasi (TI) berkembang sangat cepat, perkembangan Teknologi Informasi
(TI) sangat bermanfaat dalam dunia perbankan. Semenjak itu dunia perbankan berkembang
sangat cepat dengan memanfaatkan Teknologi Informasi (TI). Pada awalnya dunia
perbankan hanya sebagai jasa tempat penukaran uang (money changer). Lalu kemudian
berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang, yang saat ini dikenal sebagai kegiatan
simpanan (tabungan). Kemudian berkembang lagi sebagai tempat peminjaman uang. Dan
masih terus berkembang hingga saati ini. Sekarang dunia perbankan telah berkembang
bersama Teknologi Informasi (TI) dan hasilnya adalah seperti yang kita lihat sekarang ini,
contohnya adalah E-banking dan lain-lain.
http://octhapoetra.blogspot.com/2013/06/pengaruh-teknologi-informasi-dalam.html

22
Bank Rakyat Indonesia pada tanggal 17 Juni 2016 telah meluncurkan satelitnya sendiri
yang akan di gunakan untuk menunjang aktivitas BRI. Selama ini BRI menyewa 23
transponder satelit dari beberapa perusahaan komunikasi di Indonesia dengan biaya
mencapai Rp500 miliar selama setahun. Sementara, BRIsat dibeli BRI dengan nilai
investasi sebesar Rp3,37 triliun dan pembayaran dilakukan dengan menggunakan metode
cicilan selama delapan bulan, atau sekitar Rp400 miliar per tahun dengan total nilai
investasi sebesar Rp3,37 triliun. Ini berarti nilainya relatif lebih murah dari pada menyewa.
Kondisi geografis di Indonesia juga menjadi salah satu indikator utama BRI untuk
meluncurkan satelit ini. BRI pun tak lagi perlu membangun fiber optik bawah laut untuk
menghubungkan antar pulau. Satelit ini juga diharapkan mampu meminimalisir gangguan
pelayanan seperti ATM bermasalah karena sinyal yang tidak kuat.
b. Kekuatan :
Semakin majunya teknologi BRI dan semakin luasnnya jangkauan jaringn BRI terutama
ditunjang oleh satelit BRI.
c. Peluang :
Dapat menciptakan aktivitas close financing dan meningkatkan jumlah transaksi dan Fee
Based Income.

d. Ancaman :
Kompleks dan mahalnya teknologi informasi, karena sebagian besar teknologi ini masih
disuplay oleh vendor-vendor luar negeri dan masih belum meratanya pemahaman pegawai
BRI
e. Strategi
Melakukan promosi fasilitas atau fitur-fitur terbaru yang berfungsi untuk mempermudah
aktivitas debitur korporasi BRI
3.9 Lingkungan Natural (Alami)
OJK melarang bank membiayai korporasi yang merusak lingkungan.
a. Pembahasan :
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan lembaga jasa keuangan untuk membiayai
proyek yang ramah lingkungan dengan memasukkan komponen dampak lingkungan dan
sosial (AMDAL) dalam persyaratan pemberian kreditnya. Kewajiban itu bakal diatur
melalui Peraturan OJK (POJK) yang diperkirakan akan keluar pada medio tahun depan.
Lembaga jasa keuangan didorong agar tidak hanya menyalurkan kredit dengan orientasi
profit, tapi juga mementingkan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable
Development Goals (SDGs). Lembaga jasa keuangan membiayai bisnis yang jelas-jelas
merusak lingkungan. Lembaga jasa keuangan diharapkan bisa membiayai proyek yang
ramah lingkungan atau bermanfaat secara sosial. Lembaga Keuangan yang tidak taat akan
dikenakan sanksi tersebut adalah demgan menurunkan tingkat kesehatan perbankan atau

23
bisa dianggap bank high risk. Saat ini sudah ada delapan bank nasional yang berkomitmen
melaksanakan pembiayaan dengan prinsip SDGs. Delapan bank itu adalah Bank Rakyat
Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Central Asia (BCA), Bank
Muamalat, Bank Artha Graha, BRI Syariah, serta Bank Jabar Banten (BJB).
b. Kekuatan :
Adanya syarat harus menyerahkan AMDAL dan UKL/UPL sebagai syarat pencairan di
BRI
c. Peluang :
BRI dapat terhindar dari resiko debitur dituntuu oleh LSM lingkungan
d. Ancaman :
Masih terdapat beberapa debitur yang masih kurang peduli terhadap pentingnya AMDAL
dan UKL/UPL

e. Strategi :
Melakukan edukasi kepada debitur tentang pentignya AMDAL atau UKL/UPL kemudian
diperlukan ketegasan dari Relationship Manager dalam pemenuhan syarat AMDAL dan
UKL/UPL
3.10 Lingkungan Pemerintahan
Proyek Pembagunan Infrastruktur yang dicanangkan oleh Jokowidodo gunan meratakan
pembangunan di Indonesia.
a.Pembahasan :
Pada era Jokowi sekarang ini bank dituntut dapat berperan serta dalam program pembangunan
infrastruktur yang digalakan oleh Pemerintah, salah satunya melalui pembiyaan pada
kontraktor yang mengerjakan proyek-proyek pemerintah melalui Kredit Modal Kerja
Kontruksi. Hal ini karena pemerintah terus berusaha mengejar ketertinggalan pembangunan di
sektor infrastruktur. Sebanyak 110 proyek pembangunan infrastruktur menjadi unggulan
Jokowi untuk memperlancar konektivitas nasional. Proyek-proyek tersebut meliputi 52 proyek
jalan tol, 13 pelabuhan, 17 bandara, dan 19 jaringan kereta api selain itu Pemerintahan Jokowi
juga memprioritaskan pembangunan banyak bendungan, jalan non-tol, serta infrastruktur
pariwisata, energi dan listrik. Targetnya semester dua tahun 2017 sejumlah proyek
infrastruktur senilai lebih Rp 8 triliun bakal mulai dikerjakan. Fokus proyek ini pada
pembangunan infrastruktur perdesaan, meliputi perumahan, irigasi, dan air minum di 11.000
desa. Selain itu, pemerintah juga tengah menyelesaikan proyek kompensasi kenaikan harga
bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Proyeknya berupa pembangunan sumber air minum,
dan irigasi di daerah tertinggal dengan nilai proyek masing-masing Rp 2 triliun. Presiden juga
menggalakan percepatan infrastruktur transportasi di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi
misalnya Terhadap sejumlah pembangunan infrastruktur pendukung transportasi seperti di

24
Kalimantan sudah dimulai jalan tol Balikpapan-Samarinda, kemudian Manado-Bitung.
percepatan ini dikarenakan saat ini biaya transportasi di Indonesia masih sangat mahal yaitu
sekitar 2,5 kali lipat dari Singapura dan Malaysia. Dengan semakin terjangkaunya biaya
transportasi dan logistik, ke depannya diharapkan harga barang dan komoditas juga akan
semakin terjangkau selain itu pelabuhan-pelabuhan besar sekarang dibangun di Kuala
Tanjung, Tanjung Priok New Port, dan Makassar New Port.
b. Kekuatan :
BRI sebagai bank pemerintah yang mendukung program pemerintah dalam mempercepat
infrastruktur.

c.Peluang :
BRI sebagai Bank pemerintah bertugas membantu para kontraktor yang terlibat dalam proyek
ini melalui skema pembiayaan Kredit Modak Kerja Kontruksi atau KMK W/A di mana BRI
memberikan dana talangan kepada kontraktor tersebut.
d. Ancaman :
Masih banyaknya kontraktor yang tidak professional dan cenderung merugikan bank, contoh :
tidak mau menyalurkan dan pembayaran pekerjaan proyek ke rekening BRI
e.Strategi :
Memberikan skim kredit yang menarik melalui bunga dan biaya yang bersaing sehingga dapat
menarik calon debitur.

25
BAB 4
ANALISIS INTERNAL
4.1. Manajemen
Suatu perusahaan menggunakan konsep-konsep manajemen strategis untuk
merumuskan strategi yang baik sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat menguntungkan
perusahaan. Bank BRI menerapkan konsep-konsep manajemen strategis tersebut. Dalam
rangka meningkatkan kualitas penerapan tersebut, BRI mengimplementasikan Good
Corporate Governance (GCG) melalui 3 (tiga) tahapan yaitu: perumusan, implementasi serta
monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan untuk
memastikan tercapainya tahapan/tujuan akhir yang diharapkan yaitu GCG Excellent. Di
bawah ini adalah skema mengenai tahapan-tahapan yang direncanakan Bank BRI dalam
mengimplementasikan GCG.

(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 323)
Pada tahun 2016, tingkat turnover BRI adalah sebesar 1.36%, yang dikategorikan
sangat rendah. Rasio ini juga lebih rendah dibandingkan tahun 2013 sebesar 1,86%. Hal
tersebut adalah salah satu hasil dari penciptaan lingkungan kerja yang kondusif, berupa
suasana yang sehat, aman, nyaman yang mampu menumbuhkan semangat berkarya dan
berinovasi pada seluruh jajaran (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tahun 2016 halaman 106 dan 497).

26
Struktur organisasi dari Bank BRI sesuai dengan apa yang dibutuhkan saat ini.
Apalagi, guna pengembangan organisasi, Bank BRI membentuk fungsi dibawah Direksi
untuk melakukan koordinasi di bidang-bidang utama bisnis BRI. Terdapat 4 koordinator baru
yang dibentuk, yaitu: Koordinator Bisnis Ritel, Koordinator Teknologi dan Sistem Informasi,
Change Management,serta Audit Intern (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 55).
4.2. Produuk BRI
BRI memiliki begitu banyak layanan perbankan dengan biaya yang terjangkau. Misalnya saja
produk simpanan Simpedes dengan setoran awal yang ringan, hanya dengan Rp 100 ribu saja
Anda sudah memiliki rekening tabungan di Bank BRI dengan berbagai fasilitas yang menarik
dan canggih.
Hingga kini BRI telah melayani nasabah lewat 9.808 unit kerja. Tak hanya produk
tabungan saja, Bank BRI juga memiliki layanan e-banking mulai dari ATM, SMS
Banking, Internet Banking, Mobile Banking, dan masih banyak lagi kemudahan lainnya
bagi nasabah yang ingin melakukan transaksi transfer maupun pengecekan saldo lewat
internet maupun telepon seluler. Berikut ini daftar produk dan layanan yang dimiliki
oleh Bank BRI:

Simpedes

Tabungan BritAma

BritAma Bisnis

Tabungan BRI BritAma edisi Anak Muda

Simpedes TKI
Tabungan
Tabungan BRI Simpel

Tabungan Haji

BritAma Rencana

BritAma Valas

Tabungan BRI Junio

Deposito Rupiah

Deposito Deposito Valas

Deposit on Call

Giro BRI Giro BRI Rupiah

27
Giro BRI Valas

Pinjaman Mikro KUPEDES

Kredit Modal Kerja

Kredit Investasi

Kredit Agunan Kas


Pinjaman Ritel Komersial & Menengah
Supply Chain Financing

Kredit Waralaba

Bank Garansi

BRI Guna Karya

Pinjaman BRI Guna BRI Guna Purna

BRI Guna Umum

KPEN-RP

Pinjaman Program KKPE Tebu

KKPE

Kredit Usaha Rakyat (KUR) KUR BRI

BRI Trade Finance & Services

BRI Fast Remittance

Internasional Financial Institution

BRI Money Changer

Unit Kerja Luar Negeri

Jasa Bank Garansi


Jasa Bisnis
Jasa Kliring

Bill Payment

Jasa Penerimaan Setoran


Jasa Keuangan
Transaksi Online

Transfer dan LLG

Jasa Kelembagaan SPP Online

28
Cash Management BRI

ATM BRI

SMS Banking BRI

Internet Banking BRI

E-Buzz

KIOSK BRI
E-Banking
Mini ATM BRI

BRIZZI

MoCash

EDC Merchant

BRI Link

Foreign Exchange

Money Market
Treasury
Fixed Income

Produk Derivatif

Kartu VISA
Kartu Kredit
Kartu Master

KPR BRI
Kredit Pemilikan Rumah
KPRS BRI

KKB Mobil Baru & Bekas

Kredit Kendaraan Bermotor KKB Refinancing

KKB Harley Davidson

4.3. Pemasaran
Sebagian besar dari jasa perbankan yang ditawarkan oleh BRI, seperti KUPEDES dan
KUR BRI, disasarkan untuk segmen UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Pada
tahun 2013, perusahaan mencatat 72,29% dari kredit outstanding merupakan dana untuk
segmen UMKM, sementara 24,58% digunakan untuk mendanai segmen korporat, dan 3,13%
sisanya merupakan dana untuk segmen Syariah. (Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tahun 2016 Halaman 249)

29
Berdasarkan segmentasi pasar yang berfokus pada sektor UMKM, BRI sukses
mencapai posisi yang sangat baik dibanding para pesaingnya. BRI sukses memposisikan diri
sebagai bank yang spesialis UMKM. Pangsa pasar BRI pada tahun 2012 adalah 28,08%
dari keseluruhan pasar, dan berkembang menjadi 29,50% pada tahun 2013. (Sumber: Laporan
Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 Halaman 100)
Sebagai perusahaan yang bergerak dalam jasa perbankan, pelayanan yang ada
merupakan hal yang penting untuk menunjang distribusi dana ke masyarakat Indonesia. BRI
telah menyediakan dan terus mengembangkan kemudahan akses ke berbagai layanan yang
disediakan. Contohnya adalah penyediaan electronicchannel yang mendukung fitur i-banking
dan m-banking, sehingga konsumen dapat mengakses berbagai layanan perbankan tanpa harus
berkunjung ke ATM atau Kantor Cabang. Bahkan untuk mendukung perkembangan
electronic channel yang dimiliki, BRI memutuskan untuk membeli satelit sendiri. Satelit yang
dinamai BRIsat tersebut akan diluncurkan pada Juni 2016 dan memiliki izin orbit selama 15
tahun. (Sumber: http://swa.co.id/corporate/bri-miliki-satelit-sendiri-untuk-efiensi-dan-
meningkatkan-mutu-layanan)
Dalam upaya memberikan respon terbaik kepada masing-masing segmen pasar, BRI
menyusun struktur organisasi penjualannya dengan berfokus pada segmen-segmen pasarnya
(Bagian UMKM, Bagian Konsumer Pribadi, Bagian Bisnis Komersial, sertaBagian
Kelembagaan dan BUMN). Penetapan struktur organisasi ini memungkinkan BRI untuk
menjadi lebih reaktif terhadap dinamika yang terjadi dalam masing-masing segmen pasar. Hal
ini terbukti efektif dengan pangsa pasar BRI, terutama pada segmen pasar UMKM yang terus
bertumbuh dari tahun ke tahun.
BRI juga terus berupaya menjaga kualitas kredit yang diberikan, yang berimbas pada
keamanan dana nasabah. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan dari tingkat NPL (Non-
Payable Loan) yang berkelanjutan. Tingkat NPL yang rendah menunjukkan bahwa resiko
kredit macet yang dihadapi BRI sangat kecil.

30
Tingkat Non-Payable Loan BRI Tahun 2013
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2013 Halaman 13)

Dengan kualitas kredit yang terjamin, BRI menawarkan dana dengan suku bunga yang
amat menarik. Berikut perbandingan suku bunga dasar kredit dari BRI dengan beberapa
pesaingnya:

Suku Bunga Dasar Kredit (%)

Kredit Kredit Kredit Kredit Konsumsi

Nama Bank Korporasi Ritel Mikro KPR Non KPR

PT BANK RAKYAT INDONESIA


10.50 9.75 17.50 10.25 12.50
(PERSERO), Tbk
PT BANK MANDIRI (PERSERO), Tbk 10.25 9.95 18.75 10.25 12.25

PT BANK CENTRAL ASIA, Tbk 9.75 10.50 - 10.00 6.68


PT BANK NEGARA INDONESIA
10.25 9.95 - 10.50 12.50
(PERSERO), Tbk
PT BANK CIMB NIAGA, Tbk 10.00 10.75 18.26 10.01 10.26
PT BANK TABUNGAN NEGARA
11.00 11.75 - 10.25 11.50
(PERSERO), Tbk
(Sumber: www.bi.go.id/ id/perbankan/suku-bunga-dasar, diakses pada 03 Agustus 2017)

Unsur lain dalam bauran pemasaran yang tak kalah pentingya adalah promosi. BRI
terus berusaha meningkatkan brand awareness masyarakat akan jasa-jasa yang ditawarkan.
Salah satu strategi promosi yang gencar dilakukan secara periodik adalah program undian
Untung Beliung Britama. Dapat diamati bahwa setiap tahun BRI mempromosikan program
tabungannya secara masif melalui bermacam media, terutama media internet dan televisi.
Dapat disimpulkan bahwa BRI telah menempuh langkah-langkah yang efektif dalam
memasarkan layanan perbankan yang ditawarkan. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai
prestasi yang diraih oleh BRI dan layanannya. Pada 2016, BRI memperoleh Top Brand award
untuk:
1. Kategori Banking dan Finance
a. Tabungan Britama
b. BRI Syariah
c. BritAma Junio
d. Deposito Bank BRI
2. Kategori e-channel
a. BRI mobile
b. Internet Banking BRI
c. Call BRI
(Sumber:http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2016)

31
4.4. Keuangan/Akuntansi
Bank Rakyat Indonesia telah menyajikan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi
keuangan, dan sudah sepenuhya sesuai dengan PSAK No. 1 Tentang Penyajian Laporan
Kuangan. Laporan Keuangan Bank Rakyat Indonesia meliputi laporan posisi keuangan,
laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan. Analisis menggunakan metode Capital, Asset, Management, Earnings dan
Liquidity pada Bank Rakyat Indonesia serta Rata-rata Bank Pemerintah tahun 2015 2016
disimpulkan bahwa : Bank Rakyat Indonesia dan Rata-rata Bank Pemerintah dinilai SEHAT,
dimana Bank mampu dan memiliki ketahanan dalam menghadapi gejolak perekonomian dan
pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan eskternal bank. Dengan demikian jawaban atas
kelesuan ekonomi serta dalam rangka meningkatkan perekonomian dapat terjawab dengan
hadirnya layanan perbankan yang berkualitas baik dalam hal informasi laporan keuangan
maupun tingkat kesehatannya.
4.5. Produksi/Operasi
BRI terus berupaya menyelaraskan pengembangan bisnisnya dengan perkembangan
demografi masyarakat dengan senantiasa mengembangkan layanannya sesuai dengan
kebutuhan masyarakat Indonesia. Selain fokus pada segmen UMKM, BRI juga terus
mengembangkan berbagai produk consumer banking dan layanan institusional bagi
masyarakat perkotaan. Untuk mendukung upaya tersebut, BRI terus mengembangkan jaringan
kerja sehingga kini tercatat sebagai bank terbesar dalam hal jumlah unit kerja di Indonesia,
yaitu berjumlah 10.396 unit kerja termasuk 3 kantor cabang yang berada di luar negeri, yang
seluruhnya terhubung secara realtime online.
Dengan basis jumlah nasabah yang besar tercermin dari jumlah rekening yang lebih dari 49
juta rekening simpanan, BRI terus mengembangkan layanan e-banking yang dapat diakses
masyarakat melalui internet, telepon, pesan singkat (ShortMessage Service/SMS), maupun
melalui layanan electronic channel lainnya seperti Automatic Teller Machine (ATM), Cash
Deposit Machine (CDM), Electronic Data Capture (EDC), dan KiosK dengan total jaringan
e-channel ini telah mencapai 152.443 unit.
Melalui 10.396 unit kerja konvensional serta layanan e-banking yang didukung oleh 20.792
unit ATM serta 131.204 unit EDC yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, BRI bertekad
untuk terus mendukung peningkatan efisiensi kegiatan perekonomian nasional sekaligus
meningkatkan kenyamanan dan kemudahan transaksi nasabah sesuai perkembangan
kebutuhan jasa layanan perbankan seluruh lapisan masyarakat Indonesia (sumber: Laporan
Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 66-67). Kesimpulannya,
fasilitas, sumber daya, dan pasar dari Bank BRI memiliki lokasi yang strategis, dimana
fasilitas yang dimiliki Bank BRI berada di seluruh pelosok Indonesia.

32
Bank BRI memiliki banyak teknologi dan selalu berinovasi menyediakan teknologi-teknologi
terbaru untuk memuaskan nasabahnya. Salah satu teknologi yang nantinya akan diluncurkan
pada pertengahan tahun 2016 adalah BRI-Sat (Program Satelit BRI). Satelit yang akan
dikelola oleh Bank BRI sendiri ini bertujuan untukmenghubungkan Kantor Pusat, Kantor
Wilayah, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, BRI Unit,Kantor Kas, Teras BRI dan
Teras Keliling dengan jumlah total lebih dari 10.000 outlet, serta lebih dari100.000 jaringan
e-Channel (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016
halaman 123). Selain itu, satelit ini bertujuan meningkatkan kualitas pertukaran data dan
mengantisipasi pengembangan aplikasi berbasis teknologi informasi dimasa mendatang
(sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 238).
Kebijakan Bank BRI dalam rangka memajukan teknologi adalah kebijakan paperless system.
Kebijakan ini juga sebagai wujud tanggung jawab BRI terhadap lingkungan. Aplikasi yang
digunakan adalah:
a. E-office untuk kegiatan surat menyurat.
b. Loan Approval System.
c. E-SPJ untuk dokumentasi perjalanan dinas.
d. Portal SDM.
e. Sosialisasi kebijakan melalui public folder.
f. SMK Online untuk monitoring kinerja pekerja.
g. Perubahan Absensi manual dengan kertas menjadi dengan EDC
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 507).
Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Bank BRI dalam kondisi cukup baik. Tetapi, berdasarkan
hasil survey yang dihasilkan oleh pihak independen maupun secara internal menunjukkan
bahwa terdapat beberapa catatan yang perlu mendapatkan perhatian di masa mendatang.Di
antaranya adalah perlunya perbaikan dalam hal pelayanan dan fitur produk serta jasa BRI
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 117).
Kesimpulannya, fasilitas perlengkapan, mesin, dan kantor dalam kondisi cukup baik.
4.6. Penelitian dan Pengembangan
BRI secara berkesinambungan melakukan pembinaan dan pengembangan kompetensi pekerja
agar memiliki keahlian dan kompetensi yang dapat menjawab tantangan bisnis perusahaan di
masa kini dan masa datang. Melalui hal tersebut, pekerja BRI diharapkan dan diarahkan
menjadi sumber daya manusia yang memiliki kemampuan belajar, kemauan berubah,
berinovasi dan memberikan daya dorong kreatif bagi kemajuan perusahaan.
Program training yang diberikan BRI kepada seluruh pekerjanya bertujuan untuk
meningkatkan kompetensi dalam tiga hal pokok, yang menyangkut keahlian aplikatif, teknis
dan analitis, serta mengasah kemampuan manajerial pekerja. Selain itu, terkait dengan adanya
program Satelit BRI - BRIsat, BRI merasa perlu untuk mengirim pekerjanya mengikuti
program pendidikan satelit di luar negeri yang ditujukan untuk mendukung program satelit

33
BRI BRIsat sehingga dapat memberikan hasil yang optimal. Terciptanya kompetensi
leadership yang baik dari para pekerja merupakan tujuan kegiatan learning & developing di
BRI. BRI memandang bahwa kehandalan kompetensi leadership dan manajerial pekerja
khususnya pada level manajemen akan membawa tata kelola perusahaan yang lebih baik
seiring dengan pencapaian visi dan misi Bank.
Untuk itu, BRI memasukkan pendidikan leadership dalam kurikulum pendidikan
pengembangan dan pembekalan pekerja pada level jabatan tertentu, serta mengikutsertakan
pekerja dalam program pendidikan pembekalan leadership yang diselenggarakan oleh pihak
eksternal.
Terdapat setidaknya tiga kategori training yang dijalankan BRI dalam meningkatkan
kompetensi SDM, yaitu:
1. Program Pendidikan Pembekalan (Recruitment)
Kegiatan pendidikan yang diberikan kepada calon pekerja BRI atau pekerja BRI yang
akan menduduki suatu jabatan tertentu dengan tujuan memberikan bekal kompetensi agar
mampu melakukan tugasnya.
2. Program Pendidikan Aplikasi (Enhancement)
Kegiatan pendidikan yang diberikan kepada pekerja BRI dengan tujuan untuk
meningkatkan kompetensi dalam menjalankan tugas saat ini baik yang diselenggarakan
oleh internal perusahaan maupun pihak ketiga (eksternal).
3. Program Pendidikan Pengembangan (Development)
Kegiatan pendidikan yang diberikan kepada pekerja BRI dengan tujuan untuk
meningkatkan kompetensi dalam rangka persiapan menduduki jabatan yang lebih tinggi.
4.7. Audit Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen (SIM) pada Bank BRI sangat kompleks dan banyak digunakan
di hampir semua divisi. Semua direksi pada Bank BRI menggunakan Sistem Informasi.
Contohnya, Komite Kebijakan Sumber Daya Manusia (SDM) menggunakan sistem informasi
untuk pengambilan keputusan bidang kebijakan SDM, Direktur Operasional menggunakan
sistem informasi untuk mengaudit baik internal maupun eksternal di bidang operasional, dan
masih banyak lagi (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun
2016 halaman 382 dan 432). Kesimpulannya, semua manjer dalam Bank BRI menggunakan
sistem informasi untuk membuat keputusan.
BRI telah membentuk komite-komite di bawah Direksi dengan tujuan untuk mendukung
efektifitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab operasional. Ada 7 komite dan salah
satunya adalah Komite Pengarah Teknologi dan Sistem Informasi (Information System and
Technology Steering Committee/ITSC). ITSC merupakan komite yang bertanggung jawab
memberikan arahan dan rekomendasi tentang kebijakan, pengembangan, dan implementasi
teknologi dan sistem informasi BRI. Struktur dan Keanggotaan ITSC meliputi Ketua
(Direktur Operasional), Wakil Ketua (Direktur Kepatuhan), Sekretaris (Kepala Divisi

34
Teknologi dan Sistem Informasi), dan memiliki 19 Kepala Divisi yang terdiri dari Divisi
Bisnis, Divisi Operasional, dan Audit Intern. Zulhelfi Abidin merupakan Koordinator/Kepala
Divisi Teknologi dan Sistem Informasi. Koordinator ini baru dibentuk dan disahkan pada
tahun 2016 bersamaan dengan 3 Koordinator lainnya, yaitu Koordinator Bisnis Ritel, Change
Management, serta Audit Intern. Tujuan pembentukkan kordinator tersebut untuk penguatan
peran teknologi & sistem informasi sebagai business enabler termasuk jaringan komunikasi
satelit dalam rangka mendukung peran BRI untuk pengembangan financialinclusion serta
mewujudkan destination statement tahun 2017 sebagai integrated bankingsolution (sumber:
Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 55, 433, 434,
dan 537). Kesimpulannya, Bank BRI memiliki posisi CEO atau direktur sistem informasi,
yaitu adanya Koordinator Divisi Teknologi dan Sistem Informasi.
Bank BRI memiliki 4 tanggung jawab kepada konsumennya, dan salah satunya adalah
melaksanakan pengembangan sistem, pelaksanaan Program Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT). Cara untuk dapat melaksanakan tanggung jawab
tersebut adalah dengan maintenance data nasabah secara berkala sehingga data nasabah
akurat dan update (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun
2016 halaman 519). Implementasi teknologi informasi seperti CBS yang telah dilakukan oleh
BRI menjadikan sistem yang ada dalam perusahaan tersebut menjadi terintegrasi. Kondisi ini
tentu akan mempermudah perusahaan untuk mengetahui perkembangan bisnisnya setiap saat
karena data yang ada dalam sistem tersebut adalah data yang online dan up to date dengan
demikian perusahaan akan dapat mengetahui aktivitas sehari-hari dari tiap departemen dan
kantor cabangnya. Dengan CBS, dapat menghubungkan kantor pusat dengan unit BRI yang
tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Kondisi ini tentu akan mempermudah perusahaan dalam
melakukan kontrol untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses bisnis, dan apabila
kesalahan telah terjadi perusahaan dapat langsung mengetahui sehingga perusahaan dapat
meminimalisasi kerugiannya (Sumber: https://inapuspita40.wordpress.com/category/sistem-
informasi-manajemen/). Kesimpulannya, data dalam sistem informasi pada Bank BRI
dimutakhirkan (update) secara teratur.
Disamping pengembangan program, penambahan fitur-fitur aplikasi serta upgrading
infrastruktur TI, BRI juga melaksanakan program peningkatan kompetensi SDM di Divisi
bidang TI. Peningkatan kompetensi SDM di Divisi TSI dilakukan melalui berbagai training
yang relevan disertai rotasi antar bagian maupun promosi pekerja ke Kantor Wilayah.
Pendidikan bagi petugas IT dan e-channel kantor cabang divisi TSI meliputi pendidikan IT
praktis berupa maintenance dan troubleshooting perangkat IT serta e-channel.Dalam rangka
mendukung integrasi kegiatan operasional khususnya terkait jaringan komunikasi unit kerja di

35
seluruh wilayah Indonesia, BRI telah mempersiapkan program satelit. Terkait hal tersebut
BRI juga melaksanakan sejumlah training terkait persiapan program dimaksud. Beberapa
jenis training yang dipersiapkan meliputi:
a. Satellite engineering: Space system engineer development program, Satellite
communication system, Satellite Network Engineering.
b. E-Learning: Pengantar Teknologi Informasi, Security Awareness.
c. Soft skill: Problem Solving & Decision Making; Business Lobbying and Effective
Negotiation Skill; Dynamic Time Management & Stress Management; Managing Time,
Priorities, Pressure & Stress; Leadership; Team Building.
d. IT Best Practice Standard: CCNA, CISA, IT-IL, TOGAF, ECCHFI, Data Center
Professional.
e. IT Risk Management.
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 122).
Kesimpulannya, lokakarya dan pelatihan komputer disediakan bagi pengguna sistem
informasi.
Setiap pengguna sistem informasi pasti memiliki kata sandi. Hal ini bertujuan agar apa
yang sudah di input oleh pengguna dapat terjaga dengan aman dan terkendali. Selain itu,
mencegah dari adanya kebocoran informasi yang dapat merugikan Bank BRI dan
menguntungkan kompetitor lainnya. Selain itu, semua sistem informasi yang ada pada Bank
BRI ramah pengguna (user friendly), karena para pemakai sebelumnya telah dilatih, jadi pada
saat menggunakan sistem informasi, para pemakai dapat menggunakannya dengan mudah.
Sistem informasi pada Bank BRI secara terus-menerus diperbaiki sehingga menghasilkan
sistem informasi yang lebih terperinci, lebih baik, dan lebih berkualitas. Di bawah ini adalah
sistem informasi manajemen yang dimiliki oleh Bank BRI dan sudah diperbarui untuk
meningkatkan kualitas dan efektifitas implementasi Good Corporate Governance (sampai saat
ini).

36
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2016 halaman 326).
Dalam membuat suatu keputusan, para penyusun strategi sebisa mungkin mengerti
strategi kompetitor sehingga apa yang akan dihasilkan nantinya dapat bersaing dengan para
kompetitor lain. Bank BRI dapat mengetahui strategi kompetitor dengan memberikan survey.
BRI secara periodik melakukan survey persepsi nasabah untuk mengetahui tingkat kualitas
layanan BRI.Survey tersebut dilakukan baik secara internal maupun eksternal oleh pihak
independen. Survey internal dilakukan minimal dua kali dalam setahun oleh setiap unit kerja
operasional BRI di seluruh Indonesia. Sementara itu, survey kepuasan nasabah oleh pihak
independen (eksternal) dilakukan setiap triwulan disertai perbandingan dengan kompetitor di
industri perbankan (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun
2016 halaman 117). Kesimpulannya, para penyusun strategi perusahaan mengetahui sistem
informasi perusahaan pesaing, dilihat dari survey internal dan eksternal.
4.8. Analisis SWOT
Matriks Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (Strenghs Weakness OpportunitiesThreats-
SWOT) adalah sebuah alat pencocokan yang penting dalam membantu para
manajermengembangkan empat jenis strategi. Empat strategi tersebut adalah strategi SO, WO, ST,
dan WT. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai 4 strategi tersebut.

Strategy SO (Strength-Opportunity). Strategi ini menggunakan kekuatan internal


perusahaan untuk meraih peluang-peluang yang ada di luar perusahaan.

37
Strategy ST (Strength-Threat). Melalui strategi ini perusahaan berusaha untukmenghindari
atau mengurangi dampak dari ancaman eksternal. Hal ini bukan berarti bahwa perusahaan
yang tangguh harus selalu mendapatkan ancaman. Jadi kesimpulannya, strategi yang
diterapkan adalah penghindaran kompetisi secara langsung.

Strategy WO (Weakness-Opportunity). Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan


peluang yang ada, dengan cara mengatasi kelemahan-kelemahan yang dimilki.

Strategy WT (Weakness-Threat). Strategi ini merupakan taktik untuk bertahan(defensif)


dengan cara mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman. Suatu perusahaan
yang dihadapkan pada sejumlah kelemahan internal dan ancaman eksternal sesungguhnya
dalam posisi yang berbahaya.

Strength Weakness

1. Memiliki ratusan cabang yang 1.Adanya pengendapan saldo di


tersebar di Indonesia rekening

2. Produk dan fasilitas yang diberikan 2. Strategi pemasaran kurang luas


Sudah dikenal nasabah

3. Program marketing lebih lengkap 3. Fasilitas gedung kurang besar


dan variasi

4.Sumber daya manusia yang 4. Karyawan kurang mengikuti SOP


kompetitif

5. Training yang dilakukan Secara 5. Job karyawan terlalu banyak,


berkala dan pengajar profesional kurang spesifik

6. BRI menggunakan system yang


terkomputerisasi

7. BRI memperbaruhi sistem 6. Seringnya kerjaan yan berkesan


menggunakan flash teknologi mendadak

Peluang Strategi SO Strategi WO

MenciptakanProdu Memperbanyakprogram promosi atau Memanfaatkan jenis


k dan pemasaran kepada masyarakat branchlessbankinguntukmeningkatk
an
Program yang
bervariasi Faktorefisiendanefektifitas

38
lokasi

Membangun 35 ribu Merealisasikan Menyusun progam marketing


branchless banking pembangunancabangbranchlessbankin Yang inovatif agar tujuan promosi
(bank tanpa kantor) g agar semakin memudahkan
di seluruh Indonesia masyarakat Sepenuhnya tercapai

Dalam bertransaksi
Memperluas Menjaga kepercayaan pelanggan Memikirkan strategi atau inovasi
promosi iklan dengan memperbaharui terus system untuk Product Development agar
(pemasaran) produk yang terkomputerisasi pemasaran dapat dikembangkan

Melakukan transaksi Memperbaharui terus produk kredit Dengan pembelian satelit di


online banking bank agar semakin meningkatkan harapkan kelemahan BRI dalam sisi
untuk minat konsumen dan memperluas jaringan dapat teratasi
pangsa terutama untuk sector UKM
mempermudah
nasabah

Munculnya UKM Merupakan peluang BRI baik dari sisi Masih usaha-usaha baru yang
baru yang simpanan ataupun pinjaman sebelumnnya belum pernah di
membutuhkan biayai oleh BRI
pinjaman untuk
Modal usaha.

Tersebarnya unit- Memudahkan perusahaan yang Dengan mengunakan satelit BRI di


unit BRI pada setiap mempunyai unit kerja di daerah harapkan kendala jaringan yang
daerah yang jauh terpencil Contohnya : Industri sering dihadapi saat ini dapat
Pertambangan dalam bertransaksi
dari perkotaan. teratasi.

Kecenderungan pola Menjadi peluang bagi Divisi Perlunya analisa lebih mendalam
hidup Konsumer BRI untuk memberikan terkait profil dan kesanggupan
Masyarakat yang fasilitas bagi konsumen BRI bisa debitur sehingga kualitas kredit
konsumtif, berupa Kartu Kredit, KPR (Kredit
selalu terjaga.
Merupakan salah Rumah), KKB (Kredit Mobil)
satu peluang
Yang perlu dicermati
untuk meningkatkan
jenis produk jasa
kredit perbankan dan
kualitas pelayanan
bagi nasabah

Ancaman Strategi ST Strategi WT

Banyak Memikirkan program pemasaran Meningkatkan variasi produk


bermunculan bank Baru yang inovatif agar mampu berkualitas yang inovatif agar
komersil yang Bersaing dengan competitor lain mampu bersaing dengan competitor
menyediakan produk
dan jasa

39
Tingkat inflasi yang Menjaga kualitas SDM yang
terus meningkat berkualitas agar mampu menambah
mengurangi minat nilai
masyarakat untuk
menabung

Bank bank pesaing


asing membuka
cabang-cabang
sehingga
menimbulkan
kompetitor

Kebijakan
pemerintah yang
membatasi jumlah
bank.

Tarif bank pesaing


yang lebih
kompetitif

Dari matriks SWOT diatas dapat kita lihat bahwa ada lambang di setiap akhir
strategi yang kelompok kami buat. Lambang tersebut berupa : (S3, O3) , yang
menandakan bahwa point strategi 3 dan opportunity 3 merupakan dasar pemikiran
untuk strategi alternatif SO poin 1 dan begitu juga seterusnya. Hal ini melandasi
bahwa strategi itu tidak muncul dari kekosongan melainkan dari faktor internal dan
eksternal yang telah disesuaikan untuk menentukan strategi yang diinginkan.
Contohnya, perhatikan strategi WO poin 1 yaitu Memanfaatkan jenisbranchless
bankinguntuk meningkatkan faktor efisien dan efektifitaslokasi (W3, O2) , hal ini
menandakan bahwa strategi tersebut muncul karena adanya dasar berupa kelemahan
poin ke 3 dari Bank BRI yaitu fasilitas gedung kurang besar, kemudian
dikolaborasikan dengan peluang poin ke 2 yang dimiliki, berupa Membangun 35
ribu branchless banking (bank tanpa kantor) di seluruh Indonesia. Dari matriks
SWOT diatas, dapat dilihat bahwa strategi-strategi yang dihasilkan itu bukan untuk
menentukan mana strategi yang terbaik, oleh sebab itu tidak semua strategi dalam
matriks SWOT akan digunakan atau diterapkan.

Kelompok kami menyimpulkan bahwa Bank BRI lebih dominan dalam


strategi SO, dimana Bank BRI menggunakan kekuatan internal yang dimilikinya dan

40
mengambil kesempatan untuk meraih peluang-peluang yang ada di lingkungan
eksternal perusahaan.

Dari gambar dibawah ini gambar 2.3 dapat kita lihat bahwa Bank BRI
terletak pada posisi kuadran 1. Hal ini menunjukkan bahwa BRI memiliki kekuatan
dan peluang, sehingga dapat mengarahkan seluruh potensi internal perusahaan untuk
memanfaatkan peluang yang ada. Posisi ini mendorong pihak BRI untuk mendukung
strategi agresif yaitu menyerang dengan penuh inisiatif dan terencana. Strategi
agresif tersebut dapat berupa pengembangan pasar, penetrasi pasar, pengembangan
produk, integrasi ke depan, integrasi kebelakang, dan integrasi horizontal serta
diversifikasi konsentrik. Tahapan ini mendorong sebuah perusahaan untuk
melakukan ekspansi atau pertumbuhan lebih karena posisinya yang kuat.

BERBAGAI
PELUANG
Penciutan Ekspansi /pertumbuhan
3. Mendukung 1. Mendukung
Strategi Turn Strategi
Around Agresif

KEKUATAN KEKUATAN
EKSTERNAL INTERNAL

4. Mendukung 2. Mendukung
Strategi Strategi
Stabilisasi
BERBAGAI Kombinasi
ANCAMAN
Gambar 2.3. Kuadran Matrik SWOT Bank BRI

41
4.9. Analisis Porter
1. Persaingan antar perusahaan
Dalam menghadapi persaingan antarperusahaan BRI memiliki keunikan dengan harga
yang terjangkau dalam menyediakan fasilitas berupa produk tabungan bagi para
nasabahnya. Di mana seluruh unit kerja BRI tersebar di seluruh Indonesia, hal ini
menjadi nilai tambah untuk mendukung aktivitas debitur BRI
2. Potensi masuknya pesaing baru
Dalam industri perbankan jarang muncul pesaing baru karena dibutuhkan modal yang besar
dengan resiko yang tinggi sehingga sebagian besar investor yang ingin membuka usaha lebih
tertarik pada usaha yang sedang tren saat ini yakni bidang teknologi. Oleh karena itu BRI
lebih fokus untuk bersaing dengan pesaing yang ada saat ini dengan berusaha untuk menjadi
bank nomor satu di Indonesia.
3. Potensi pengembangan produk-produk pengganti
Dalam industri perbankan tidak ada produk karena yang diberikan adalah pelayanan Jasa
Keuangan.
4. Daya tawar pemasok
Dalam industri perbankan tidak ada tawar menawar di antara pemasok.
5. Daya tawar konsumen
Dalam industri perbankan konsumen tidak dapat melakukan tawar menawar karena harga
telah ditetapkan oleh bank berdasarkan harga pasar.

4.10. Lima Strategi Generik Porter


Tipe 1: Kepemimpinan Biaya - Biaya Rendah
Tipe 2: Kepemimpinan Biaya - Nilai Terbaik
Tipe 3: Diferensiasi
Tipe 4: Fokus Biaya Rendah
Tipe 5: Fokus Nilai Terbaik
1. Strategi Kepemimpinan Biaya (Tipe 1 & Tipe 2)
Bank BRI menjalankan strategi kepemimpinan biaya tipe 1 dan tipe 2 sehingga dapat
melayani berbagai segmen masyarakat. Selain itu nilai terbaik yang diberikan bank BRI
yaitu menyediakan banyak kelebihan di antaranya pembagian hadiah, mudah dalam
melakukan kredit, dengan potongan administrasi yang rendah. Berkat strategi ini bank
BRI dapat menjadi Bank yang memiliki rekening nasabah terbanyak.

42
2. Strategi Diferensiasi (Tipe 3)
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bank BRI memiliki keunikan dalam varian jenis
tabungan dengan harga yang terjangkau dan fasilitas yang lengkap seperti bank-bank
pada umumnya. Fasilitas itu antara lain, internet banking dan sms banking yang dapat
melakukan segala jenis transaksi antara lain pembayaran SIM dan STNK, pembayaran
zakat dan infaq, pembayaran tiket pesawat, pembayaran biaya pendidikan, pembelian
pulsa dan sebagainya.

3. Strategi Fokus (Tipe 4 & Tipe 5)


Bank BRI berfokus untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat mulai dari
masyarakat kalangan atas hingga bawah, dari masyarakat kota hingga masyarakat desa.
Dengan fokus ini BRI menerapkan strategi biaya rendah dengan berusaha memberikan
fasilitas terbaik, yang tidak kalah dengan fasilitas yang diberikan oleh bank lainnya.
Untuk menunjang fokus BRI yaitu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, maka BRI
menerapkan kemudahan dan user friendly. Kemudahan yang diberikan antara lain
nasabah dapat melakukan berbagai transaksi perbankan tanpa harus datang ke bank atau
ATM. User friendly yang diberikan yaitu nasabah dapat menggunakan kode singkat
untuk memilih fitur phone banking

43
BAB 5
KESIMPULAN & SARAN

5.1. Kesimpulan

BRI merupakan bank buku 4 terbesar di Indonesia yang terdiri dari 1 Kantor Pusat 19
Kantor Wilayah 461 Kantor Cabang (termasuk 3 Unit Kerja Luar Negeri) 584 Kantor Cabang
Pembantu 971 Kantor Kas 5.293 BRI Unit 2.457 Teras BRI 610 Teras BRI Keliling 152.443
Jaringan e-channnel (ATM, EDC, CDM, E-Buzz) di seluruh Indonesia. mencatatkan aset di akhir
2016 sebesar Rp 1.003,6 triliun. Aset tersebut naik 14,3% dibandingkan periode yang sama tahun
2015 sebesar Rp 878,4 triliun.
BRI bank yang berfokus pad sektor UMKM, dengan porsi penyaluran kredit ke sektor
UMKM oleh BRI pada tahun 2016 mencapai 72,2 persen atau sekitar Rp 211,5 triliun namun
demikian terdapat segmentasi lain di BRI yaitu Segmen Korporasi dimana segmen ini pada tahun
2016 mengalami pertumbuhan yang baik dengan menyumbang sekitar Rp 182,1 triliun atau 27%
dari total kredit. Namun demikian segmen ini sangat sensitif terhadap beberapa faktor eksternal
sebagai berikut :
Ekonomika Pembangunan
Kebijakan industrial
Kebijakan Moneter dan Fiskal
Kondisi Politik
Dimana faktor faktor tersebut mengakibatkan ketidaksetabilan ekonomi dan perubahan suku
bunga, oleh karena itu dalam upaya untuk meningkatkan kinerja ekspansi segmen korporasi perlu
adanya perlu adanya kajian terkait peluang apa yang bisa di manfaatkan, apa kekuatan BRI,
bagaimana ancaman pesaing dan cara untuk menjalan strategi tersebut kajian ini dikenal dengan
nama General Business Environtment. Dengan adanya kajian ini diharapkan perusahaan dapat
mengambil langkah yang tepat untuk memutuskan tindakan apa yang harus diambil.
5.2. Saran
1. Berdasarkan annual report 2016 segmen korporasi hanya memberikan kontribusi sekitar 27
% dari laba BRI, tentu saja hal masih bisa ditingkatkan lagi sehingga segmen korporasi
dapat berkontribusi lebih besar.
2. Adanya TDB merupakan suatu cara agar BRI tidak kehilangan jati diri sebagai Bank
UMKM di mana selain membiayai korporasi tetapi BRI juga membiayai turunannya pada
bidang UMKM

44
Daftar Pustaka
Thompson, Peteraf, Gamble, and Strickland, 2016, Crafting & Executing Strategy: The Quest for
Competitive Advantage Concepts and Cases, 20E. McGraw-Hill International Edition

BRI, Annual Report, 2016, Jakarta

https://inapuspita40.wordpress.com/category/sistem-informasi-manajemen/

http://bri.co.id/articles/9

http://swa.co.id/business-research/tahun-2015-ekonomi-indonesia-hadapitantangan-berat

http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_moneter

45