Anda di halaman 1dari 18

1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sama hal nya dengan manusia, bagi ternak untuk mendapatkan keturunan

keturunan yang dapat tumbuh dengan baik, sempurna, sehat, kuat, bertenaga,

perlu ditunjangn dengan gizi, vitamin serta mineral.

Syarat yang paling utama dan tidak boleh ditinggalkan untuk mendapatkan

keturunan ternak yang seperti yang telah disebutkan diatas, maka ternak selain

harus diberikan pakan yang cukup juga harus diberikan sumber vitamin

diantaranya ada vitamin A dan vitamin B. Salah satu fungsi vitamin ini adalah

untuk menghasilkan energy, mengganti sel sel yang rusak, untuk pertumbuhan

dan sebagai zat pelindung dalam tubuhnya. Apabila kekurangan vitamin akan

mengalami avitaminosis dengan gejala macam-macam penyakit. Sebaliknya

apabila kelebihan akan vitamin yang diperlukannya maka akan mengalami

hipertaminosis yang mengakibatkan kurang baik terhadap tubuh. Avitaminosis

maupun Hipervitaminosis sama-sama dapat menimbulkan gangguan terhadap


kesehatan tubuh ternak.

Vitamin digolongkan menjadi 2 bagian yaitu vitamin yang larut air dan

vitamin yang larut lemak. Vitamin yang larut air yaitu Vitamin B dan C sedangkan

Vitamin yang larut Lemak yaitu Vitamin A,D,E dan K. Setiap vitamin larut lemak

A,D,E dan K mempunyai peranan faali tertentu didalam tubuh. Sebagian besar

vitamin larut lemak diabsorpsi bersama lipida lain. Absorpsi membutuhkan cairan

empedu dan pancreas. Vitamin larut lemak diangkut kehati melalui system limfe

sebagai bagian dari lipoprotein, disimpan di berbagai jaringan tubuh dan biasanya

tidak dikeluarkan melalui urin.


2

1.2. Identifikasi Masalah

1. Apa pengertian dari vitamin.

2. Apa saja yang termasuk vitamin larut air.

3. Apa saja yang termasuk vitamin larut lemak.

1.3. Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui pengertian vitamin

2. Mengetahui golongan vitamin larut air.

3. Mengetahui golongan vitamin larut lemak.


3

II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Vitamin B adalah 8 vitamin yang larut dalam air dan memainkan peran

penting dalam metabolisme sel. Dalam sejarahnya, vitamin pernah diduga hanya

mempunyai satu tipe, yaitu vitamin B (seperti orang mengenal vitamin C atau

vitamin D). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa komposisi kimia di

dalamnya membedakan vitamin ini satu sama lain dan terlihat dalam contohnya

dalam beberapa makanan. Suplemen yang mengandung ke- 8 tipe ini disebut

sebagai vitamin B kompleks. Masing-masing tipe vitamin B suplemen

mempunyai nama masing-masing (contoh: B1, B2, B3) (Girindra 1986).

Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan

memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin ini juga

dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat.

Berdasarkan sifat kelarutannya vitamin terbagi menjadi dua, Adapun vitamin

dibedakan menjadi 2 kelas, yaitu: Vitamin yang larut dalam air: Tiamin (vitamin

B1), Riboflavin (vitamin B2) (Mulyono 2005).


Asam nikotinat, asam pantotenat, piridoksin (vitamin B6), biotin, asam

folat, vitamin B12, asam askorbat (vitamin C). Vitamin yang larut dalam lemak:

Vitamin A, Vitamin D, Vitamin E, Vitamin K. Vitamin C termasuk golongan

vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas

ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi

oleh panas, cahaya, dan logam. Buah-buahan, seperti jeruk, merupakan sumber

utama vitamin ini . Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu

sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang

rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat
4

menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan

(Lehninger 1996).

Vitamin C diperlukan untuk sintesis kolagen, komponen struktural penting

dari pembuluh darah, tendon, ligamen, dan tulang. Vitamin C juga berperan

penting dalam sintesis neurotransmitter , norepinefrin. Neurotransmiter sangat

penting untuk fungsi otak dan diketahui mempengaruhi suasana hati. Selain itu,

vitamin C diperlukan untuk sintesis karnitin , molekul kecil yang sangat penting

untuk pengangkutan lemak menjadi organel sel yang disebut mitokondria , di

mana lemak diubah menjadi energi. Penelitian juga menunjukkan bahwa vitamin

C adalah terlibat dalam metabolisme kolesterol untuk asam empedu , yang

mungkin memiliki implikasi terhadap kadar kolesterol darah dan kejadian batu

empedu (Harjadi 1986).

Vitamin C juga sangat efektif terhadap antioksidan protein. Bahkan jumlah

kecil vitamin C dapat melindungi molekul yang sangat diperlukan dalam tubuh,

seperti, lipid (lemak), karbohidrat, dan asam nukleat (DNA dan RNA), dari

kerusakan oleh radikal bebas dan reaktif oksigen spesies yang dapat dihasilkan

selama metabolisme normal maupun melalui hubungan ke racun dan polutan


(misalnya, asap rokokVitamin C juga mungkin dapat beregenerasi antioksidan

lain seperti vitamin E. Satu studi terbaru perokok ditemukan bahwa vitamin C

vitamin E regenerasi dari bentuk teroksidasinya (Fessenden 1982).


5

III

PEMBAHASAN

2.1 Metabolisme

Metabolisme adalah segala proses reaksi kimia yang terjadi di dalam

makhluk hidup, mulai makhluk hidup bersel satu yang sangat sederhana seperti

bakteri, protozoa, jamur, tumbuhan, hewan; sampai makhluk yang susunan

tubuhnya kompleks seperti manuasia. Di dalam proses ini, makhluk hidup

mendapat, mengubah dan memakai senyawa kimia dari sekitarnya untuk

mempertahankan hidupnya.

Metabolisme meliputi proses sintesis (anabolisme) dan proses penguraian

(katabolisme) senyawa atau komponen dalam sel hidup. Semua reaksi

metabolisme dikatalis oleh enzim. Hal lain yang penting dalam metabolisme

adalah peranannya dalam penawaracunan atau detoksifikasi, yaitu mekanisme

reaksi pengubahan zat yang beracun menjadi senyawa tak beracun yang dapat

dikeluarkan dari tubuh.

2.2 Metabolisme Vitamin

Vitamin yang larut lemak atau minyak, jika berlebihan tidak dikeluarkan
oleh, tubuh, melainkan akan disimpan. Sebaliknya, vitamin yang larut dalam air,

yaitu vitamin B kompleks dan C, tidak disimpan, melainkan akan dikeluarkan oleh

sistem pembuangan tubuh. Akibatnya, selalu dibutuhkan asupan vitamin tersebut

setiap hari. Vitamin yang alami bisa didapat dari sayur, buah dan produk hewani.

Seringkali vitamin yang terkandung dalam makanan atau minuman tidak berada

dalam keadaan bebas, melainkan terikat, baik secara fisik maupun kimia. Proses

pencernaan makanan, baik di dalam lambung maupun usus halus akan membantu

melepaskan vitamin dari makanan agar bisa diserap oleh usus. Vitamin larut
6

lemak diserap di dalam usus bersama dengan lemak atau minyak yang

dikonsumsi.

Vitamin diserap oleh usus dengan proses dan mekanisme yang berbeda.

Terdapat perbedaan prinsip proses penyerapan antara vitamin larut lemak dengan

vitamin larut air. Vitamin larut lemak akan diserap secara difusi pasif dan

kemudian di dalam dinding usus digabungkan dengan kilomikron (lipoprotein)

yang kemudian diserap sistem limfatik, baru kemudian bergabung dengan saluran

darah untuk ditransportasikan ke hati. Sedangkan vitamin larut air langsung

diserap melalui saluran darah dan ditransportasikan ke hati.

Proses dan mekanisme penyerapan vitamin dalam usus halus diperlihatkan

pada tabel berikut:

Jenis Vitamin Mekanisme Penyerapan

Vitamin A, D, E, K dan Dari micelle, secara difusi pasif, digabungkan

beta-karoten dengan kilomikron, diserap melalui saluran limfatik.

Vitamin C Difusi pasif (lambat) atau menggunakan Na+ (cepat)

Vitamin B1 (Tiamin) Difusi pasif (apabila jumlahnya dalam lumen usus


sedikit), dengan bantuan Na+ (bila jumlahnya dalam

lumen usus banyak).

Vitamin B2 (Riboflavin) Difusi pasif

Niasin Difusi pasif (menggunakan Na+)

Vitamin B6 (Piridoksin) Difusi pasif

Folasin (Asam Folat) Menggunakan Na+

Vitamin B12 Menggunakan bantuan faktor intrinsik (IF) dari

lambung.
7

2.3 Pengelompokan Vitamin Berdasarkan Kelarutan

Berdasarkan kelarutannya, vitamin dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

vitamin yang larut dalam air (vitamin C dan semua golongan vitamin B) dan yang

larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K). Oleh karena sifat kelarutannya

tersebut, vitamin yang larut dalam air tidak dapat disimpan dalam tubuh,

sedangkan vitamin yang larut dalam lemak dapat disimpan dalam tubuh.

Vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E dan K. Untuk

beberapa hal, vitamin ini berbeda dari vitamin yang larut dalam air. Vitamin ini

terdapat dalam lemak dan bagian berminyak dari makanan. Vitamin yang larut

dalam lemak akan disimpan di dalam jaringan adiposa (lemak) dan di dalam hati.

Vitamin ini hanya dicerna oleh empedu karena tidak larut dalam air. Vitamin ini

kemudian akan dikeluarkan dan diedarkan ke seluruh tubuh saat dibutuhkan.

Beberapa jenis vitamin hanya dapat disimpan beberapa hari saja di dalam tubuh,

sedangkan jenis vitamin lain dapat bertahan hingga 6 bulan lamanya di dalam

tubuh.

Berbeda dengan vitamin yang larut dalam lemak, jenis vitamin larut dalam

air hanya dapat disimpan dalam jumlah sedikit dan biasanya akan segera hilang
bersama aliran makanan. Saat suatu bahan pangan dicerna oleh tubuh, vitamin

yang terlepas akan masuk ke dalam aliran darah dan beredar ke seluruh bagian

tubuh. Apabila tidak dibutuhkan, vitamin ini akan segera dibuang tubuh

bersama urin. Oleh karena hal inilah, tubuh membutuhkan asupan vitamin larut

air secara terus-menerus.

2.3.1 Vitamin Larut Dalam Lemak

Setiap vitamin larut lemak A, D, E, dan K mempunyai peranan faali

tertentu dalam tubuh. Sebagian vitamin lipida larut lemak diabsorsi bersama lipida

lain. Absorsi membutuhkan cairan empedu dan pankreas. Vitamin larut lemak
8

diangkut ke hati melalui sistem limfe sebagai bagian dari lipoprotein, disimpan di

berbagai jaringan tubuh dan biasanya tidak dikeluarkan melalui urin.

Vitamin yang larut dalam lemak memiliki sifat-sifat umum, antara lain :

1. Tidak terdapat di semua jaringan

2. Terdiri dari unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen

3. Memiliki bentuk prekusor atau provitamin

4. Menyusun struktur jaringan tubuh

5. Diserap bersama lemak

6. Disimpan bersama lemak dalam tubuh

7. Diekskresi melalui feses

8. Kurang stabil jika dibandingkan vitamin B, dapat dipengaruhi oleh cahaya,

oksidasi dan lain sebagainya.

a. Vitamin A (retinol)

Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Secara

luas, vitamin A merupakan nama genetik yang menyatakan semua retinoiddan

prekursor atau provitamin A atau karotenoid yang mempunyai aktivitas bilogik

sebagai retinol. Vitamin A esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan


kelangsungan hidup. Disamping itu kekurangan vitamin A meningkatkan resiko

anak terhadap penyakit infeksi seperti penyakit saluran pernafasan dan diare,

meningkatkan angka kematian karena campak, serta menyebabkan keterlambatan

pertumbuhan.

Vitamin A dalam makanan sebagian besar terdapat dalam bentuk eter

esensial retinil, bersama karotenoid bersama lipida lain dalam lambung. Dalam

sel-sel mukosa usus halus, ester retinil dihiddrolisis oleh enzim-enzim pankreas

esterase menjadi retinol yang lebih efesien diabsorsi daripada ester retinil.

Sebagian karetonoid, terutama beta karoten di dalam sitoplasma sel mukosa usus
9

halus dipecah menjadi retinol. Dalam usus halus retinol bereaksi dengan asam

lemak dan membentuk ester dan dengan bantuan cairan empedu menyebrangi sel-

sel vili dinding usus halus untuk kemudian diangkut oleh kilomikron melalui

sistem limfe ke dalam aliran darah menuju hati. Hati merupakan tempat

penyimpanan terbesar vitamin A dalam tubuh.

Bila tubuh memerlukan, vitamin A dimobilasi dari hati dalam bentuk

retinol yang diangkut oleh Retinol Binding-Protein (RBD) yang disentesis oleh

hati. Pengambilan retinol oleh berbagai sel tubuh bergantung pada resepton

permukaan membran yang spesifik oleh RBP. Retinol kemudian diangkut melalui

membran sel untuk kemudian diikatkan pada Celluler Retinol Binding-Protein

(CRBD) dan RBP kemudian dilepaskan. Di dalam sel mata retinol berfungsi

sebagai retinal dan dalam sel epitel sebagai asam retinoat.

b. Vitamin D (colecalciferol)

Vitamin D adalah nama generik dari dau molekul, yaitu ergokalsiferol

(vitamin D2) dan kolekalsiferol (vitamin D3). Vitamin D mencegahdan

menyembuhkan riketsia, yaitu dimana penyaklit penyakit tulang tidak mampu

melakukan klasifikasi. Vitamin D dapat dibentuk tubuh dengan bantuan sinar


matahari. Bila tubuh cukup mendapat matahari konsumsi makanan tidak

dibutuhkan. Karena dapat disintesis dalam tubuh, vitamin D dapat dikatakan

bukan vitamin, tapi suatu prohormon. Bila tubuh tidak tidak cukup mendapat sinar

matahari, vitamin perlu dipenuhi melalui makanan.

Vitamin D diabsorsi dalam usus halus bersama lipidadenagn bantuan

cairan empedu. Vitamin D dari bagian atas usus halus diangkut oleh D-plasma

binding protein (DBP) ke tempat-tempat penyimpanan di hati, kulit, otak, tulang,

dan jaringan lain. Absorsi vitamin D dan pada orang tua kurang efesien bila
10

kandungan kalsium makanan rendah. Kemungkinana hal ini disebabkan oleh

gangguan ginjal dalam metabolisme vitamin D.

Vitamin D3 (kolekalsiferof) dibentuk didalam kulit sinar ultraviolet dari 7-

dehidrokolesterol. Vitamin D3 didalam hati diubah menjadi bentuk aktif 25-

hidroksi kolikasiferol {25(OH)D3} yang lima kali lebih aktif dari pada vitamin

D3. Bentuk {25(OH)D3} adalah bentuk vitamin D yang banyak di dalam darah

dan banyaknya bergantung konsumsi dan penyingkapan tubuh terhadap matahari.

Bentuk paling aktif adalah kolsitriol atau 1,25-dihidroksi kolekalsiferol

{1,25(OH)2D3} yang 10 kali lebih aktif dari vitamin D3. Bentuk aktif ini dibuat

oleh gnjal. Kalsitriol pada usus halus meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfor

dan pada tulang meningkatkan mobilisasinya.

Sintesis kalsitriol diatur oleh taraf kalsium dan fosfor didalam serum.

Hormon paratiroid (PTH) yang dikeluarkan bila kalsium dalam serum rendah,

tampaknya merupakan perantara yang merangsang produksi {1,25(OH)2D3} oleh

ginjal. Jadi tarf konsumsi kalsium yang rendah tercermin dalam taraf kalsium

serum yang rendah. Hal ini akan mempengaruhi sekresi PTH dan peningkatan

sintesis kalsitriol oleh gnjal. Taraf fosfat dari makanan mempunyai pengaruh yang
sama, tetapi tidak membutuhkan PTH.

c. Vitamin E (tokoferol)

Pada tahun 1922, diketemukan suatu zat larut lemak yang dapat menegah

keguguran dan sterilitas pada tikus. Vitsmin E kemudian pada tahun 1936 dapat

diisolasi dari minyak gndum dan dinamakan tokoferol. Semarang dikenal

beberapa bentuk tokoferol dan vitamin E biasa digunakan untuk menyatakan

setiap campuran tokoferol yang aktif secara biologik.


11

Adapun fungsi vitamin E, diantaranya :

1) Sebagai antioksidan yang larut dalam lemak dan larut dalam hidrogen dari

gugus hidroksil.

2) Melindungi asam lemak jenuh ganda komponen membran sel lain dari

oksidasi radikal bebas

Sebanyak 20-80 % tokoferol diabsorsi di bagian atas usus halus dalam

bentuk misel. Absorsi tokoferol dibantu trigliserida rantai sedang dan dihambat

asam lemak rantai panjang tidak jenuh ganda. Transprortasi dari mukosa usus

halus kedalam sistem limfe dilakukan oleh kilo micrn untuk dibawa ke hati. Dari

hati bentuk alfa-tokofeol diangkut oleh very low-density lipoprotein/VLDL masuk

kedalam plasma, sedangkan sebagian besar gama-tokoferol dikeluarkan melalui

empedu. Tokoferol di dalam plasma kemudian diterima oleh reseptor sel-sel

perifer low-density lipoprotein/LDL dan masuk ke membran sel. Tokoferol

menumpuk di bagian-bagian sel dimana produksi radikal bebas paling banyak

terbentuk, yaitu di mitokondria dan retikulum endoplasma.

d. Vitamin K (fitomenadion)

Vitamin K ialah 2-methyl, 1,4-naphthoquinone. Semarang terdapat


sejumlah derivat yang semuanya mempunyai bioaktivitas vitamin K. Bentuk

induk dari vitamin K disebut Menadion oleh IUPAC dan Menaquion oleh IUNS.

Vitamin K cukup tahan terhadap panastetapi tidak tahan terhadap alcali dan

cahaya.

Vitamin K tidak dapat disintesa oleh tubuh, tetapi suplai vitamin K bagi

tubuh berasal dari bahan makanan dan dari sintesa oleh mikroflora usus yang

menghasilkan menaquinone. Untuk penyerapan vitamin K diperlukan garam

empedu dan lemak didalam hidangan. Garam empedu dan lemak dicerna
12

membentuk misel (misell) yang berfungsi sebagai transport carrier bagi vitamin

K tersebut.

2.3.2 Vitamin Larut Dalam Air

Vitamin yang larut dalam air memiliki sifat-sifat umum, antara lain :

1. Tidak hanya tersusun atas unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen

2. Tidak memiliki provitamin

3. Terdapat di semua jaringan

4. Sebagai prekusor enzim-enzim

5. Diserap dengan proses difusi biasa

6. Tidak disimpan secara khusus dalam tubuh

7. Diekskresi melalui urin

8. Relatif lebih stabil, namun pada temperatur berlebihan menimbulkan

kelabilan.

a. Vitamin C (asam askorbat)

Vitamin C adalah cristal putih yang mudah larut dalam air. Dalam keadaan

kering vitamin C cukup stabil tetapi dalam keadaan larut, vitamin C mudah rusak

karena bersentuhan dengan udara terutama bila terkena panas. Vitamin C mudah
diabsorsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus

lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata absorsi adalah 90%

untuk konsumsi diantara 20 dan 129 mg sehari. Konsumsi tinggi sampai 12 gram

pada absorsi sebanyak 16% . Vitamin C kemudian dibawa ke semua jaringan.

Konsentrasi tertinggi adalah dalam jeringan adrenal, pituitari, dan retina.

b. Vitamin B1 (Tiamin)

Vitamin B1 merupakan anggota pertama dari suatu kelompok vitamin-

vitamin yang disebut B-kompleks. Vitamin B1 larut dalam air, tidak larut dalam
13

minyak dan dalam zat-zat pelarut lemak, stabil terhadap pemanasan pH asam,

tetapi terurai pada suasana biasa atau netral.

Tiamin mudah larut dalam air, sehingga di dalam usus halus mudah diserap

kedalam mukosa. Didalam sel epitel mukosa usus thiamin difosforilasikan dengan

pertolongan ATP dan sebagai TPP dialirkan oleh vena portae ke hati. Thiamin

dieskresikan di dalam urine pada keadaan normal, eskresi ini paralel terhadap

tingkat konsumsi, tetapi pada kondisi defisien hubungan paralel ini tidak lagi

berlaku.

c. Vitamin B2 (Riboflavin)

Vitamin ini tidak larut dalam minyak atau zat-zat pelarut lemak, stabil

dalam pemanasan dalam larutan asam mineral dan tahan terhadap pengaruh

oksidasi, tetapi sensitif terhadap larutan alkali, dimana ia terurai irreversibel oleh

sinar ultraviolet maupun oleh cahaya biasa. Vitamin ini diketemukan sebagai

pigmen kuning kehijauan yang bersifat fluoresen (mengeluarkan cahaya) dalam

susu. Dalam bentuk murni adalah kristal kuning, larut air, tahan panas, oksidasi

dan asam tetapi tidak tahan dengan alkali dan cahaya terutama sinar ultraviolet.

Riboflavin bebas terdapat di dalam bahan makanan dan larut di dalam air
sehingga mudah diserap dari rongga usus ke dalam mukosa. Didalam sel epithel

mukosa usus, riboflavin bebas mengalami fosforilasi dengan pertolongan ATP

dan sebagai FMN (Flavin Mononukleotida) dialirkan melalui vena portale ke hati.

d. Vitamin B3 (Niasin)

Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk

menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Di dalam tubuh, vitamin

B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi,

penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat

dinetralisir dengan bantuan vitamin ini. Vitamin B3 termasuk salah satu jenis
14

vitamin yang banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal,

daging unggas, dan ikan. Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya

yang juga mengandung vitamin ini dalam kadar tinggi, antara lain gandum dan

kentang manis. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan tubuh mengalami

kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan, muntah-muntah, dan mual.

e. Vitamin B5 (asam pantotenat)

Vitamin B5 (asam pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di

dalam tubuh. Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam berbagai

jenis metabolisme, seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan, terutama

lemak. Peranan lain vitamin ini adalah menjaga komunikasi yang baik antara

sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi senyawa asam lemak, sterol,

neurotransmiter, dan hormon tubuh. Vitamin B5 dapat ditemukan dalam berbagai

jenis variasi makanan hewani, mulai dari daging, susu, ginjal, dan hati hingga

makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau. Seperti halnya vitamin

B1 dan B2, defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah dan

bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita adalah keram otot serta

kesulitan untuk tidur.


f. Vitamin B6 (Piridoksin, Piridoksal, dan Piridoksamin)

Vitamin B6 merupakan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan tubuh.

Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa koenzim A yang digunakan

tubuh untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam lemak, seperti

spingolipid dan fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam

metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan

tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh. Vitamin

ini merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah didapatkan karena vitamin ini

banyak terdapat di beras, jagung, kacang-kacangan, hati, ikan, daging dan


15

sayuran. Vitamin ini merupakan bagian dari gugusan prostetik dari enxim

dekarboksilase dan transaminase tertentu. Piridoksin hidroklorida adalah bentuk

sintetik yang digunakan sebagai obat.

Beberapa fungsi vitamin B6, diantaranya :

1. Sebagai koenzim terutama dalam transaminasi

2. Dekarboksilasi

3. Reaksi lain yang berkaitan dengan metabolisme protein

4. PLP mengatur sintesis pengantar syaraf asam gama-amino butirat

(gamma-amino-butiric-acid/GABA).

Kekurangan vitamin B6 menimbulkan gejala-gejala yang berkaitan dengan

gangguan metabolisme protein, seperti lemah dan sukar tidur. Jika lebih lanjut

mengakibatkan kejang, anemia, penurunan pembentukan antibodi, peradangan

lidah, serta luka pada bibir, sudut-sudut mulut dan kulit dan dapat mengakibatkan

kerusakan sistem syaraf. Sedangkan jika kelebihan akan mengakibatkan kram.

g. Vitamin B12 (Kobalamin)

Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya

khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Oleh karena
itu, vegetarian sering kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat

kekurangan vitamin ini. Vitamin B12 merupakan satu-satunya vitamin yang

belum sanggup dibuat secara sintetis total, tetapi selalu diekstraksi dari media

tempat tumbuh mikroba, sebagai hasil fermentasi. Struktur vitamin B12 adalah

yang sangat kompleks dari struktur semua vitamin yang diketahui sampai

sekarang.

Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh. Vitamin

B12 juga termasuk dalam salah satu jenis vitamin yang berperan dalam

pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA,


16

pembentukkan platelet darah. Telur, hati, dan daging merupakan sumber makanan

yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12.

Anemia Persiosa adalah penyakit gangguan gizi yang dapat disembuhkan

dengan pemberian makanan yang mengandung 100-200 gram hati sapi. Bentuk

utama vitamin ini dalam makanan adalah 5-doeksiadenolsilkobalamin,

metilkobalamin, dan hidroksobalamin. Sianokobalamin adalah bentuk paling

stabil dan karena itu diproduksi secara komersial dari fermentasi bakteri.

Absorpsi vitamin B12 mempunyai mekanisme sangat rumit dan unik. Di

dalam sekresi gaster terdapat enzim transferase yang disebut Faktor Intrinsik (FI).

Faktor Intrinsik mengikat vitamin B12 yang membuat vitamin ini resistan

terhadap serangan mikroba yang menghuni rongga usus. Pada manusia, FI

dihasilkan oleh sel-sel cardia ventriculi.


17

IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul

kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme.

2. Golongan vitamin larut air yaitu vitamin B dan vitamin C.

3. Golongan vitamin yang larut dalam lemah diantaranya ; vitamin A,

vitamin D, vitamin E, dan vitamin K.


18

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka. Jakarta.

Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Erlangga : Jakarta.

Girindra A. 1986. Biokimia I. Gramedia : Jakarta.

Lal, H. 2000. Biochemistry for Dental Students. CBS Publishers and Distributor :

New Delhi.

Lehninger, A. L. 1998. Dasar-Dasar Biokimia I. Erlangga : Jakarta.

Morrison, F. B. 1958. Feeds and Feeding. Ninth Edition. The Morrison Research

Council Academy of Science, National. Washington DC, USA.

Mulyono HAM. 2005. Kamus Kimia. Bumi Aksara : Jakarta.

Murtidjo, B. A. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

Philips. 2008. Bahan Pakan Unggas. Kanisius. Jakarta.

Pujiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI Press : Jakarta.

Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.

_________. 2001. Seputar Makanan Ayam Kampung. Agromedia Pustaka :

Jakarta.
Sirajuddin, S. 2009.Penuntun Praktikum Biokimia. Laboratorium Terpadu

Kesehatan Masyarakat AIPTKMI Regional Indonesia Timur UNHAS :

Makassar.

Sulaiman, A.H.1995.Biokimia untuk Pertanian. USU-Press : Medan

Tim Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB. 2012.

Pengetahuan Bahan Makanan Ternak. CV Nutri Sejahtera. Bogor.

Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Ternak Unggas. Gadjah Mada University Press.

Yogyakarta.