Anda di halaman 1dari 25

BAHAN AJAR DAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

Sistem Ekresi pada Manusia

NAMA : FEBY AULYANA


NIM/BP : 1301611/2013
PRODI : PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2015
BAHAN AJAR
SISTEM EKRESI PADA MANUSIA

Kompetensi Inti :3. Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan
prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni,budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
Kompetensi Dasar :3.9 Menjelaskan struktur dan fungsi sistem eksresi pada manusia dan
penerapannya dalam menjaga kesehatan diri.

Indikator Pencapaian Kompetensi


3.9.1. Menyebutkan organ-organ penyusun sistem ekskresi pada manusia
3.9.2 Mendeskripsikan fungsi sistem ekskresi.
3.9.3 Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ ginjal
3.9.4 Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ paru-paru
3.9.5 Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ hati
3.9.6 Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ kulit
3.9.7 Mengidentifikasi kelainan dan penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi
3.9.8 Menyebutkan berbagai pola hidup untuk menjaga kesehatan sistem ekskresi

Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi pada bab VIII ini, peserta didik diharapkan dapat melakukan hal-hal
berikut.
1. Mendeskripsikan fungsi sistem ekskresi bagi manusia.
2. Mengidentifikasi organ-organ yang berperan dalam sistem eskresi.
3. Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ ginjal.
4. Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ paru-paru.
5. Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ hati.
6. Menjelaskan hubungan struktur dan fungsi pada organ kulit.
7. Mengidentifikasi kelainan dan penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi.
8. Menyebutkan berbagai pola hidup untuk menjaga kesehatan sistem ekskresi.
SISTEM EKRESI PADA MANUSIA

Proses metabolisme tubuh meiputi proses menghasilakan energi dan zat yang berguna
bagi tubuh. Dalam proses metabolisme, dihasilkan zat-zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh.
Zat-zat ini harus dikeluarkan dari tubuh karena dapat membahayakan tubuh. Proses pengeluaran
zat-zat sisa dari dalam tubuh disebut ekskresi. Zat tersebut diserap dan diangkut oleh darah dan
dikeluarkan bersama urine, keringat dan pernapasan. Defekasi adalah proses pengeluaran sisa-
sisa pencernaan atau zat yang tidak mengalami pencernaan. Zat tersebut berupa feses yang
dikeluarkan melalui anus.Organ-organ ekskresi pada manusia meliputi ginjal, kulit, paru-paru,
dan hati.

A. ORGAN-ORGAN PENYUSUN SISTEM EKRESI

1. Ginjal

Ginjal berbentuk seperti biji kacang merah. Panjangnya sekitar 10 cm, beratnya kurang lebih
200 gram, dan terletak di dalam rongga perut. Ginjal berjumlah 2 buah dan berwarna merah
keunguan. Ginjal bagian kiri letaknya lebih tinggi daripada ginjal bagian kanan. Ginjal
dibungkus oleh semacam selaput tipis yang disebut kapsul.

a. Anatomi Ginjal
Ginjal terdiri dari 3 bagian:

Korteks (Lapisan Terluar)


Pada kulit ginjal terdapat nefron yang berfungsi sebagai alat penyaring
darah. Korteks mengandung lebih kurang satu juta nefron. Setiap nefron tersusun
atas badan malphighi dan saluran panjang (tubulus) yang berkelok-kelok. Badan
malpighi tersusun atas glomerulus dan kapsul Bowman. Glomerulus merupakan
untaian pebuluh darah kapiler tempat darah disaring. Glomerulus dikelilingi oleh
kapsul Bowman.
Medulla (Sum-Sum Ginjal)
Pada Medulla dapat kita jumpai banyak tubulus keletivus (tubulus
pengumpul) yang bermuara pada pelvis renalis atau di sebut dengan Rongga
Ginjal. Tubulus ginjal terdiri atas tubulus kontortus proksimal, lengkung henle,
tubulus kontortus distal, dan tubulus kolektivus. Lengkung henle adalah bagian
tubulus yang melengkung pada daerah medula dan berhubungan dengan tubulus
proksimal dan tubulus distal. Bagian lengkung henle ada dua, yaitu lengkung
henle yang melengkung ke atas (ascenden) dan lengkung henle yang melengkung
ke bawah (descenden). Tubulus-tubulus ini mengalirkan urin ke rongga ginjal.
Rongga Ginjal (Pelvis)
Rongga Ginjal adalah tempat Menampung urine sebelum di alirkan ke
kantong kemih manusia.

b. Saluran Ginjal
Saluran ginjal terdiri dari :
Ureter
Urter berungsi untuk menyalurkan urin ke kantung kemih (vesica urinaria).
Kantung kemih
Kantung Kemih berfungsi untuk menampung urin sementara.
Uretra
Ureta berfugsi fungsi Untuk mengeluarkan urin ke luar tubuh

c. Fungsi Ginjal
1. Menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh.
2. Mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan.
3. Reabsorbsi (penyerapan kembali) elektrolit tertentu yang dilakukan oleh bagian
tubulus ginjal.
4. Menjaga keseimbanganan asam basa dalam tubuh manusia.
5. Menghasilkan zat hormon yang berperan membentuk dan mematangkan sel-sel
darah merah (SDM) di sumsum tulang.
6. Osmoregulasi, yaitu pembuangan kelebihan air agar keseimbangan konsentrasi
darah terjaga.

Adapun zat-zat yang terkandung dalam urine normal adalah sebagai berikut:
1.Urea
2.Amonia
3.Air
4.Zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin)
5. Zat yang berlebihan dalam darah seperti vitamin, obat-obatan.

d. Proses Pembentukan Urin

a. Penyaringan (Filtrasi)
Darah yang banyak mengandung zat sisa metabolisme masuk ke dalam ginjal
melalui pembuluh arteri ginjal (arteri renalis). Cairan tubuh keluar dari pembuluh
arteri dan masuk ke dalam badan malpighi. Membran glomerulus dan kapsul
Bowman bersifat permeabel terhadap air dan zat terlarut berukuran kecil sehingga
dapat menyaring molekul-molekul besar. Hasil saringan (filtrat) dari glomerulus dan
kapsul Bowman disebut filtrat glomerulus atau urin primer. Dalam urin primer masih
terdapat air, glukosa, asam amino, dan garam mineral.

b. Penyerapan Kembali (Reabsorpsi)


Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal. Hampir semua gula, vitamin,
asam amino, ion, dan air diserap kembali. Zat-zat yang masih berguna tadi
dimasukkan kembali ke dalam pembuluh darah yang terdapat di sekitar tubulus. Hasil
reabsorpsi berupa filtrat tubulus atau urin sekunder. Urin sekunder mengandung air,
garam, urea, dan pigmen empedu yang memberi warna dan bau pada urin.

c. Augmentasi
Di tubulus kontortus distal, beberapa zat sisa seperti asam urat, ion hidrogen,
amonia, kreatin, dan beberapa obat ditambahkan ke dalam urin sekunder sehingga
tubuh terbebas dari zat-zat berbahaya. Urin sekunder yang telah ditambahkan dengan
berbagai zat tersebut disebut urin. Kemudian, urin disalurkan melalui tubulus
kolektivus ke rongga ginjal. Dari rongga ginjal, urin menuju ke kantung kemih
melalui saluran ginjal (ureter).

d. Proses Pengeluaran Urin


Jika kandung kemih penuh dengan urin, dinding kantong kemih akan tertekan.
Kemudian dinging otot kantong kemih meregang sehingga timbul rasa ingin buang ir
kecil. Selanjutnya, urin keluar melalui saluran kencing (uretra). Pengeluaran air
melalui urin ada hubungannya dengan pengeluaran air melalui keringat pada kulit.
Pada waktu dara dingin, badan kita tidak berkeringat. Pengeluaran air dari dalam
tubuh banyak dikeluarkan melalui urin sehingga kita sering buang air kecil.
Sebaliknya, pada waktu udara panas, badan kita banyak mengeluarkan keringat dan
jarang buang air kecil.
Urin yang dikeluarkan oleh ginjal sebagian besar teidiri atas (95%) air dan zat
yang terlarut, yaitu urea, asam urat, dan amonia. yang merupakan sisa-sisa
perombakan protein: bermacam-macam garam terutama garam dapur (NaCl), zat
warna empedu yang menyebabkan warna kuning pada urin, dan zat-zat yang
berlebihan di dalam darah seperti vitamin B, C, obat-obatan, dan hormon.
Urin tidak mengandung protein dan glukosa. Jika urin mengandung protein,
berarti terjadi gangguan atau kerusakan ginjal pada glomerulus. Jika urin
mengandung gula, berarti tubulus ginjal tidak menyerap kembali gula dengan
sempurna. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya kerusakan pada tubulus ginjal, tetapi
dapat pula disebabkan oleh tingginya kadar gula di dalam darah sehingga tubulus
ginjal tidak dapat menyerap kembali semua gula yang ada pada filtrat glomerulus.
Kadar gula darah yang tinggi disebabkan oleh terhambatnya proses pengubahan gula
menjadi glikogen, akibatnya produksi hormon insulin terhambat. Kelainan ini dikenal
sebagai penyakit kencing manis (diabetes mellitus).

2. Hati

Hati merupakan kelenjar terbesar yang terdapat dalam tubuh manusia. Letaknya di
dalam rongga perut sebelah kanan. Berwarna merah tua dengan berat mencapai 2 kilogram pada
orang dewasa. Hati terbagi menjadi dua lobus, kanan dan kiri.

Hati mengeluarkan empedu yang berupa cairan kehijauan, rasanya pahit, pHnya netral,
dan mengandung kolesterol, garam-garam mineral, garam empedu, dan zat warna empedu yang
disebut bilirubin dan biliverdin. Garam-garam empedu berfungsi dalam proses pencernaan
makanan. Zat warna empedu yang berwarna hijau kebiruan berasal dari perombakan hemoglobin
sel darah merah di dalam hati. Zat warna empedu diubah oleh bakteri usus menjadi urobilin yang
berwarna kuning coklat yang memberikan warna feses dan urin. Sisa-sisa pencernaan protein
yang berupa urea dibentuk juga di dalam hati. Urea kemudian dibawa oleh darah dan
selanjutnya masuk ke dalam ginjal. Akhirnya, dari ginjal dikeluarkan bersama-sama dengan urin.

Selain sebagai alat ekskresi, hati juga mempunyai fungsi lain yang sangat penting bagi
tubuh, yaitu:

Sebagai tempat penyimpanan gula dalam bentuk glikogen.


Sebagai tempat pembentukan dan pembongkaran protein. Hati membentuk protein
akbumin, protrombin, fibrinogen, dan urea.
Sebagai tempat membongkar sel darah merah (eritrosit) yang telah tua atau rusak.
Hemoglobin dalam eritrosit dibongkar menjadi zat besi, globin, dan hemin. Hemin diurai
menjadi bilirubin dan biliverdin.
Pembentukan dan pengeluaran cairan empedu.
Menetralkan obat dan racun.
Tempat untuk membuat vitamin A dari provitamin A

3. Kulit

Kulit adalah organ pelindung yang menutupi seluruh permukaan tubuh. Kulit merupakan
lapisan sangat tipis dan tebalnya hanya beberapa milimeter. Kulit termasuk organ ekskresi
karena terdapat kelenjar keringat yang mengekskresikan zat-zat sisa. Selain sebagai organ
ekskresi, kulit juga berfungsi sebagai indera peraba dan perasa.
a. Bagian-Bagian Kulit
a. Kulit Ari (Epidermis)
Kulit ari tersusun atas tiga lapisan, yaitu lapisan tanduk (stratum korneum),
lapisan granula (stratum granulosum), dan stratum germinativum. Lapisan tanduk
(stratum korneum) berada pada bagian yang paling luar. Lapisan tanduk merupakan
jaringan mati dan terdiri atas berlapis-lapis sel pipih. Lapisan ini sering mengelupas dan
digantikan oleh jaringan di bawahnya. Lapisan ini berfungsi untuk melindungi sel-sel di
dalamnya dan mencegah masuknya kuman penyakit.
Lapisan granula (stratum granulosum) terletak di bawah lapisan tanduk. Lapisan
ini terdiri atas sel bergranula yang lama-kelamaan akan mati dan kemudian terdorong ke
atas menjadi bagian lapisan tanduk. Pada lapisan ini terdapat pigmen melanin yang
memberikan warna pada kulit dan melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Warna
pigmen kulit bermacam-macam sehingga ada orang yang berkulit hitam, sawo matang,
atau kuning langsat. Bila lapisan ini tidak mengandung pigmen kulit, orang tersebut
dikenal sebagai orang albino.
Stratum germinativum tersusun atas dua lapisan sel. Lapisan atas (stratum
spinosum) mengandung sel-sel baru. Sel-sel ini akan terdorong ke atas menjadi bagian
lapisan granula di bawahnya terbentuk sel-sel baru yang dibuat oleh sel-sel yang terus-
menerus membelah (stratum basal).

b. Kulit Jangat (Dermis)


Kulit jangat terletak di bawah lapisan kulit ari. Di dalam kulit jangat terdapat
pembuluh darah, kelenjar keringat (glandula sudorifera), kelenjar minyak (glandula
sebassea), dan kantung rambut. Selain itu, terdapat juga ujung-ujung saraf indera yang
terdiri atas ujung saraf peraba dingin (korpuskula krausse), peraba tekanan (korpuskula
paccini), peraba panas (korpuskula ruffinin), peraba sentuhan (korpuskula meissner), dan
peraba nyeri.
Kelenjar minyak menghasilkan minyak yang disebut sebum yang berguna untuk
meminyaki rambut agar tidak kering. Di bagian bawah kantung rambut terdapat
pembuluh kapiler darah yang mengangkut sari makanan ke akar rambut sehingga rambut
terus tumbuh. Di dekat akar rambut terdapat otot rambut. Pada waktu kita merasa takut
atau geli, otot rambut berkontraksi sehingga rambut menjadi tegak.
Kelenjar keringat berbentuk pipa terpilin, memanjang dari epidermis hingga
masuk ke bagian dermis. Pangkal kelenjarnya menggulung, dikelilingi oleh kapiler darah
dan serabut saraf simpatik. Dari kepiler darah inilah kelenjar keringat menyerap cairan
jaringan yang terdiri atas air, larutan garam, dan urea. Cairan jaringan tersebut
dikeluarkan sebagai keringat melalui saluran kelenjar keringat dan akhirnya dikeluarkan
melalui pori-pori kulit. Pengeluaran keringat dipengaruhi oleh cuaca (panas atau dingin),
aktivitas, makanan, atau minuman.

c. Jaringan Bawah Kulit (Subkutan)


Pada jaringan bawah kulit, terdapat jaringan lemak (adiposa). Jaringan lemak
berfungsi untuk menumpuk lemak sebagai cadangan makanan dan menjaga suhu tubuh
agar tetap hangat.

b. Fungsi Kulit
Fungsi utama kulit, yaitu sebagai alat ekskresi yang mengeluarkan keringat.
Selain itu, kulit juga menghasilkan minyak melalui kelenjar minyak. Minyak berfungsi
untuk mencegah kekeringan pada kulit dan menegrutnya kulit rambut.
Berikut fungsi kulit:
1). Sebagai alat indera
2). Sebagai pengatur suhu tubuh
3). Tempat pembentukan vitamin D dari provitamin D
4). Melindungi jaringan yang ada di bawahnya
5). Menyimpan kelebihan lemak

c. Proses Pembentukan Keringat


Bila suhu tubuh kita meningkat atau suhu udara di lingkungan kita tinggi,
pembuluh-pembuluh darah di kulit akan melebar. Hal ini mengakibatkan banyak darah
yang mengalir ke daerah tersebut. Karena pangkal kelenjar keringat berhubungan dengan
pembuluh darah maka terjadilah penyerapan air, garam dan sedikit urea oleh kelenjar
keringat. Kemudian air bersama larutannya keluar melalui pori-pori yang merupakan
ujung dari kelenjar keringat. Keringat yang keluar membawa panas tubuh, sehingga
sangat penting untuk menjaga agar suhu tubuh tetap normal.

4. Paru-Paru

Selain sebagai alat pernapasan paru-paru juga berungsi sebagai alat pengeluaran. Zat
yang dikeluarkan oleh paru-paru adalah karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) yang
dihasilkan dari proses pernapasan. Jadi, tugas paru-paru adalah mengeluarkan karbon dioksida
dan uap air yang tidak digunakan lagi oleh tubuh. Jika tidak dikeluarkan, zat-zat tersebut akan
menjadi racun. Reaksi kimia pada proses pernapasan anatara lain :
Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa paru-
paru manusia tidak dapat hidup. Dalam Sistem Ekskresi, paru-paru berfungsi untuk
mengeluarkan karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O).

Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida.
Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil
metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air
dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-paru melalui hidung.

Selain itu, paru-paru juga berfungsi untuk Menjaga Keseimbangan asam basa di dalam
tubuh, bila terjadinya acidosis maka tubuh akan mengkompenisasi dengan mengeluarkan banyak
karbon dioksida yang bersifat asam ke luar tubuh.

B. KELAINAN-KELAINAN PADA SISTEM EKRESI

1. Nefritis
Nefritis adalah peradangan pada nefron, yaitu kerusakan bagian glomerolus
ginjal. Nefritis disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococus. Nefritis mengakibatkan
masuknya kembali asam urin dan urea ke pembuluh darah (uremia) serta adanya
penimbunan air di kaki karena reabsorbsi air yang terganggu (oedema).
2. Anuria
Anuria adalah kegagalan ginjal menghasilkan urin. Anuria bisa disebabkan oleh
kurangnya tekanan untuk melakukan filtrasi atau radang glomerulus, sehingga plasma
darah tidak bisa masuk ke dalam glomerulus. Kurangnya tekanan hidrostatis bisa
disebabkan oleh penyempitan (konstriksi) arteriol efferen oleh hormon epinefrin atau
oleh pendarahan sehingga darah tidak dialirkan ke ginjal.

3. Glikosuria
Glikosuria adalah ditemukannya glukosa pada urin. Hal ini menunjukkan bahwa
telah terjadi kerusakan pada badan malphigi.

4. Albuminaria
Albuminaria adalah ditemukannya protein albumin dalam urin. Keberadaan
albumin yang berlebihan dalam urin menunjukkan adanya kenaikan permeabilitas
membran glomerulus. Albuminaria disebabkan karena luka pada membran glomerulus
sebagai akibat penyakit, kenaikan tekanan darah, dan iritasi sel-sel ginjal oleh zat-zat,
misalnya racun, bakteri, eter, atau logam berat.

5. Hematuria
Keberadaan sel-sel darah merah di dalam urin disebut hematuria. Penyebab
hematuria adalah radang organ-organ sistem urin karena penyakit atau iritasi oleh batu
ginjal. Jika darah ditemukan di dalam urin, kondisi ini menunjukkan adanya bagian
saluran urin yang mengalami pendarahan.

6. Bilirubinaria
Konsentrasi bilirubin dalam urin di atas normal disebut bilirubinaria. Bilirubinaria
menunjukkan adanya penguraian hemoglobin dalam darah merah yang berlebihan atau
adanya ketidakfungsian hati atau kerusakan empedu.

7. Batu Ginjal
Batu ginjal merupakan benda keras yang sering ditemukan di dalam saluran
ginjal, pelvis ginjal, mauoun saluran urin. Batu ini umumnya berdiameter 2-3 mm
dengan permukaan kasar atau halus. Kadang-kadang bisa ditemukan batu ginjal
bercabang yang besar. Penyusun utama batu ginjal adalah kristal-kristal asam urat,
kalsium oksalat, dan kalsium fosfat ditambah dengan kristal-kristal garam, magnesium
fosfat, asam urat atau sistin, dan mukoprotein. Terbentuknya batu ginjal bisa
disebabkan oleh konsentrasi garam-garam mineral yang berlebihan, penurunan jumlah
air, kebasaan, dan akeasamaan urin yang abnormal, atau aktivitas kelenjar paratiroid
yang berlebihan. Keberadaan batu ginjal bisa menyumbat ureter, menimbulkan tukak,
dan meningkatkan kemngkinan infeksi bakteri.

8. Pielonefritis
Pielonefritis merupakan radang pelvis ginjal, medula, dan korteks oleh infeksi
bakteri. Infeksi ini biasanya berawal dari pelvis ginjal kemudian melebar ke dalam
ginjal. Piolonefritis bisa menyebabkan kerusakan nefron dan korpuskulum renalis.

9. Kistitis
Kistitis adalah radang kantung kemih yang melibatkan lapisan mukosa dan
submukosa. kistitis bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, zat-zat kimia, atau luka
mekanis.

10. Nefrosis
Nefrosis merupakan kondisi bocornya membran glomerulus. Kebocoran ini
memungkinkan sejumlah besar protein berpindah dari darah menuju urin sehingga air
dan natrium menumpuk dalam tubuh menghasilkan pembengkakan (oedem),
khususnya di sekitar lutut, kaki, abdomen, dan mata. Nefrosis lebih umum terjadi pada
anak-anak, namun bisa terjadi pada semua usia. Meskipun tidak selalu
menyembuhkan, hormon steroid sintetis tertentu, seperti cortison dan prednison, yang
mirip hormon yang disekresi kelenjar adrenal, dapat menekan terjadinya nefrosis.

11. Polisistik
Polisistik bisa disebabkan oleh kerusakan saluran ginjal yang merusak nefron dan
mengkasilkan kista mirip dilatasi sepanjang saluran. Kelainan ginjal ini umumnya
dirurunkan. Dalam jaringan ginjal muncul kista, lubang kecil, dan gelembung-
gelembung berisi cairan. Kista ini perlahan-lahan bertambah besar hingga menekan
keluar jaringan normal. Gagal ginjal sebagai akibat penyakit pilisistik biasanya terjadi
pada usia 40 tahun ke atas. Perkembangan polisistik dapat diperlambat dengan diet,
obat, dan pemasukan cairan.

12. Gagal Ginjal


Gagal ginjal dihasilkan dari kondisi yang mengganggu fungsi ginjal, yatu nefritis
ginjal parah, trauma ginjal, atau tidak adanya jaringan ginjal karena tumor. Kondisi
tersebut menyebabkan kerusakan pada semua nefron sehingga tidak berfungsi. Gagal
ginjal yang parah menyebabkan penumpukan urea dalam darah. Gagal ginjal total bisa
menyebabkan kematian dalam waktu 1-2 minggu.

13. Albino (bule)


Albino terjadi karena tidak adanya pigmen melanin pada lapisan granulosum.

14. Diabetes Melitus


Penyakit diabetes melitus muncul karena pankreas tidak menghasilkan atau hanya
menghasilkan sedikit sekali insulin. Insulin ini merupakan hormon yang berfungsi
untuk mengubah glukosa menjadi glikogen, sehingga mengurangi kadar gula dalam
darah. Kadar glukosa di dalam urin dan darah penderita sangat tinggi. Hal ini
menyebabkan seringnya buang air kecil, cepat haus, dan lapar serta menimbulkan
masalah pada metabolism lemak dan protein.

15. Biang keringat

Biang keringat dapat mengenai siapa saja, baik anak-anak, remaja, ataupun orang
tua. Biang keringat terjadi karena kelenjar keringat tersumbat oleh sel-sel kulit mati
yang tidak dapat terbuang secara sempurna. Keringat yang terperangkap tersebut
menyebabkan timbulnya bintik-bintik kemerahan yang disertai gatal. Sel-sel kulit
mati, debu, dan kosmetik juga dapat menyebabkan terjadinya biang keringat. Orang
yang tinggal di daerah tropis dan lembap, akan lebih mudah terkena biang keringat.
Biasanya, anggota badan yang terkena biang keringat, yaitu leher, punggung, dan
dada.

16. Penyakit Kuning


Penyakit kuning disebabkan oleh tersumbatnya saluran empedu yang
mengakibatkan cairan empedu tidak dapat dialirkan ke dalam usus dua belas jari,
sehingga masuk ke dalam darah dan warna darah menjadi kuning. Kulit penderita
tampak pucat kekuningan, bagian putih bola mata berwarna kekuningan, dan kuku jari
berwarna kuning. Hal ini terjadi karena di seluruh tubuh terdapat pembuluh darah yang
mengangkut darah berwarna kekuningan karena bercampur dengan cairan empedu.

17. Hepatitis
Merupakan radang atau pembengkakan hati.

18. Sirosis
Merupakan penyakit hati yang kronis dan mengakibatkan guratan pada hati
sehingga hati menjadi tidak berfungsi.

19. Asma

Asma atau yang kadang lebih di kenal dengan sesak nafas. Asma Disebabkan oleh
alergi terhadap benda-benda asing yang masuk kedalam hidung.

20. Kanker paru-paru


Disebabkan oleh kebiasaan merokok atau terlalu banyak menghirup debu asbes,
kromium, produk petroleum, dan radiasi ionisasi yang memengaruhi pertukaran das di
paru-paru.
21. Emfisema
Merupakan penyakit pembengkakan alveolus yang menyebabkan saluran
pernafasan menyempit.

22. Jerawat
Merupakan gangguan pada kelenjar minyak yang umumnya dialami oleh anak
remaja.

23. Scabies atau kudis


Merupakan penyakit kulit karena tungau(Sarcoptes scabies).

24. Pruvitus kutanea


Merupakan penyakit kulit dengan gejala timbul rasa gatal yang dipicu oleh iritasi
saraf sensorik perifer.

25. Eksim atau alergi


Merupakan penyakit kulit karena infeksi atau iritasi bahan luar yang termakan
atau menyentuh kulit.

26. Gangren
Adalah kelainan pada kulit yang disebabkan oleh matinya sel-sel jaringan tubuh.
Ini disebabkan oleh suplai darah yang buruk di bagian tertentu salah satunya akibat
penekanan pada pembuluh darah tertentu(seperti balutan yang terlalu ketat).

C. CARA MENGATASI KELAINAN PADA ORGAN EKRESI

1. Pada Ginjal
Mengatasi Gagal Ginjal
Kemajuan ilmu pengetahuan, memungkinkan fungsi ginjal digantikan.
Penggantian fungsi tersebut dikenal dengan Renal Replacement Therapy (RRT) atau
Terapi Pengganti Ginjal (TPG). Ada dua cara TPG, yakni transplantasi/cangkok ginjal
dan dialisis/cuci darah . Dialisis/cuci darah dibedakan menjadi :
1. HD (Hemodialisis), dialisis dengan bantuan mesin
2. PD (Peritoneal Dialisis), dialisis melalui rongga perut
3. Batu Ginjal
Urine banyak mengandung mineral dan berbagai bahan kimiawi. Urin belum
tentu dapat melarutkan semua itu. Apabila kita kurang minum atau sering menahan
kencing, mineral-mineral tersebut dapat mengendap dan membentuk batu ginjal.
Batu ginjal merupakan kristal yang terlihat seperti batu yang terbentuk di ginjal.
Kristal-kristal tersebut akan berkumpul dan saling berlekatan untuk membentuk formasi
batu. Apabila batu tersebut menyumbat saluran kemih antara ginjal dan kandung
kemih, saluran kemih manusia yang mirip selang akan teregang kuat karena menahan
air seni yang tidak bisa keluar. Hal itu tentu menimbulkan rasa sakit yang hebat.

2. Pada Hati
Cara mengatasi kelainan-kelainan pada hati diantaranya adalah dengan:
1. Pemberian vaksinasi
2. Makan makanan yang sehat
3. Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang
4. Berolahraga dengan teratur
5. Sterilisasi penggunaan jarum suntik
6. Menghindari pergaulan bebas (berganti-ganti pasangan)

3. Pada Kulit

Kulit perlu mendapat perawatan yang tepat agar senantiasa sehat. Berikut 4 langkah
perawatan kulit yang sangat mendasar :
1.Makan
Makanan Yang Mengandung Nutrisi Kulit seperti juga organ tubuh lain, terdiri atas
sel-sel yang berkembang dan membutuhkan berbagai nutrisi. Nutrisi pada kulit
digunakan untuk mengaktifkan sirkulasi darah ke kulit, menjaga kelenturan dan
kekencangan kulit serta mencegah oksidasi lemak yang menyebabkan kulit menjadi
kering.
2. Minum Air Putih
Minimal 8 Gelas Setiap HariAir berfungsi sebagai media untuk mengangkut dan
membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh dan mencegah kekeringan. Selain 8
gelas air segar setiap hari, asupan cairan yang baik bagi kulit bisa didapatkan dari buah
dan sayuran.
3. Berolahraga Dengan Teratur
Olahraga teratur 3 kali seminggu akan membantu kelancaran sirkulasi darah,
sehingga asupan nutrisi kulit terpenuhi.
4. Mandi Untuk Membersihkan Badan
Mandi secara teratur menggunakan sabun, bermanfaat menghilangkan lemak dan
kotoran pada permukaan kulit. Namun kita perlu berhati-hati dalam memilih sabun,
karena detergen yang terkandung di dalamnya cenderung meningkatkan pH kulit
sehingga dapat menyebabkan kekeringan pada kulit.

4. Pada Paru-Paru

Upaya menghindari dan mengatasi kelainan-kelainan pada paru-paru adalah dengan


menjalankan pola hidup sehat, diantaranya:
1. Mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi
secara teratur
2. Berolah raga dengan teratur
3. Istirahat minimal 6 jam per hari
4. Mengindari konsumsi rokok, minum minuman beralkohol dan narkoba
5. Hindari Stress
PETA KONSEP
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK

Ringkasan Materi
Zat-zat yang terkandung dalam urine normal adalah sebagai berikut:
1.Urea
2.Amonia
3.Air
4.Zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin)
5. Zat yang berlebihan dalam darah seperti vitamin, obat-obatan.

Proses Pembentukan Urin

a. Penyaringan (Filtrasi)
Darah yang banyak mengandung zat sisa metabolisme masuk ke dalam ginjal melalui
pembuluh arteri ginjal (arteri renalis). Cairan tubuh keluar dari pembuluh arteri dan masuk ke
dalam badan malpighi. Membran glomerulus dan kapsul Bowman bersifat permeabel terhadap
air dan zat terlarut berukuran kecil sehingga dapat menyaring molekul-molekul besar. Hasil
saringan (filtrat) dari glomerulus dan kapsul Bowman disebut filtrat glomerulus atau urin
primer. Dalam urin primer masih terdapat air, glukosa, asam amino, dan garam mineral.
b. Penyerapan Kembali (Reabsorpsi)
Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal. Hampir semua gula, vitamin, asam amino,
ion, dan air diserap kembali. Zat-zat yang masih berguna tadi dimasukkan kembali ke dalam
pembuluh darah yang terdapat di sekitar tubulus. Hasil reabsorpsi berupa filtrat tubulus atau urin
sekunder. Urin sekunder mengandung air, garam, urea, dan pigmen empedu yang memberi
warna dan bau pada urin.
c. Augmentasi
Di tubulus kontortus distal, beberapa zat sisa seperti asam urat, ion hidrogen, amonia, kreatin,
dan beberapa obat ditambahkan ke dalam urin sekunder sehingga tubuh terbebas dari zat-zat
berbahaya. Urin sekunder yang telah ditambahkan dengan berbagai zat tersebut disebut urin.
Kemudian, urin disalurkan melalui tubulus kolektivus ke rongga ginjal. Dari rongga ginjal, urin
menuju ke kantung kemih melalui saluran ginjal (ureter).
d. Proses Pengeluaran Urin
Jika kandung kemih penuh dengan urin, dinding kantong kemih akan tertekan. Kemudian
dinging otot kantong kemih meregang sehingga timbul rasa ingin buang ir kecil. Selanjutnya,
urin keluar melalui saluran kencing (uretra). Pengeluaran air melalui urin ada hubungannya
dengan pengeluaran air melalui keringat pada kulit. Pada waktu dara dingin, badan kita tidak
berkeringat. Pengeluaran air dari dalam tubuh banyak dikeluarkan melalui urin sehingga kita
sering buang air kecil. Sebaliknya, pada waktu udara panas, badan kita banyak mengeluarkan
keringat dan jarang buang air kecil.
Urin yang dikeluarkan oleh ginjal sebagian besar teidiri atas (95%) air dan zat yang terlarut,
yaitu urea, asam urat, dan amonia. yang merupakan sisa-sisa perombakan protein: bermacam-
macam garam terutama garam dapur (NaCl), zat warna empedu yang menyebabkan warna
kuning pada urin, dan zat-zat yang berlebihan di dalam darah seperti vitamin B, C, obat-obatan,
dan hormon.
Urin tidak mengandung protein dan glukosa. Jika urin mengandung protein, berarti terjadi
gangguan atau kerusakan ginjal pada glomerulus. Jika urin mengandung gula, berarti tubulus
ginjal tidak menyerap kembali gula dengan sempurna. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya
kerusakan pada tubulus ginjal, tetapi dapat pula disebabkan oleh tingginya kadar gula di dalam
darah sehingga tubulus ginjal tidak dapat menyerap kembali semua gula yang ada pada filtrat
glomerulus. Kadar gula darah yang tinggi disebabkan oleh terhambatnya proses pengubahan gula
menjadi glikogen, akibatnya produksi hormon insulin terhambat. Kelainan ini dikenal sebagai
penyakit kencing manis (diabetes mellitus).

Uji urin yang Mengandung Gula


Reagen Benedik digunakan untuk menguji bahan makanan yang mengandung. Reagen ini
berwarna biru jernih. Setelah sample yang diuji ditetesi reagen benedik, akan terjadi perubahan
warna. Apabila sample berubah warna menjadi biru kehijauan atau kuning atau merah bata
berarti bahan makanan tersebut mengandung gula. Bergantung pada kadar gula dalam sample.
Uji urin yang Mengandung Protein
Reagen biuret digunakan untuk mengetahui adanya kandungan protein pada bahan
makanan. Reagen biuret reagen adalah larutan berwarna biru yang ketika bereaksi dengan
protein akan berubah warna menjadi merah muda sampai ungu.
Uji Urin

Apa yang akan kamu uji?


Menguji urin untuk mengidentifikasi kesehatan organ ekskresi manusia

Apa yang kamu duga?

Apa yang kamu sediakan?


- Tabung reaksi (satu tabung per sampel uji) - Penjepit tabung reaksi
- Rak tabung reaksi - Termometer
- Pipet tetes - Beker glas
- Kertas label - Air panas
- Kaki Tiga - Pembakar spiritus
- Urin

Apa tujuan kamu menguji?


a. Uji urin yang Mengandung Gula
1. Masukan 40 tetes (2 ml) sampel urin ke dalam tabung reaksi, beri label
setiap sampel
2. Tambahkan 10 tetes larutan benedik pada masing-masing tabung reaksi.
3. Panaskan tabung reaksi dalam beker gelas yang berisi air bersuhu 40- 50C selama lima menit.
4. Berhati-hatilah ketika menggunakan api, pada waktu mematikan pembakar spirtus jangan
ditiup, tapi lakukan dengan menutup spirtus dengan penutupnya.
5. Hati-hati pada waktu memanaskan tabung reaksi dalam beker gelas berisi air panas.
6. Perhatikan warna yang terjadi!

b. Uji urin yang Mengandung Protein


Apa yang kamu dilakukan ?
1. Masukan 40 tetes (2 ml) sampel urin ke dalam tabung reaksi, beri label
setiap sampel
2. Tambahkan 3 tetes reagen biuret untuk masing-masing tabung. Kocok
perlahan-lahan untuk mencampur.
3. Perhatikan perubahan warna yang terjadi!
Data pengamatan
Isikan data pengamatan kamu dengan cermat dan teliti sesuai dengan hasil praktikum
Sampel Uji Uji Ada/tidak Warna Gangguan
urin Glukosa Protein endapan yang
mungkin

Analisis
1. Apa yang kamu ketahui tentang kandungan yang ada pada urin pada
manusia !
2. Tulislah kelainan yang dapat diketahui dari hasil pemeriksaan urin!

Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ilmu Pengetahuan Alam /


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.--Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2014.