Anda di halaman 1dari 26

LAP O RAN R E S M I

P RAK T I K U M K I M IA PAN GAN


PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI
FK UNDIP

JUDUL:
IDENTIFIKASI DAN FERMENTASI SENYAWA KARBOHIDRAT

Disusun Oleh :

Nama : Indah Puspa Sari NIM : 22030113140132


: Alfia Nur Vidiarti NIM : 22030115120055
: Alvia Wahyu Arvena NIM : 22030115130131
: Amalia NIM : 22030115140133
: Kuni Khoirol Mustafida NIM : 22030115130139

: Almuthya Ahsin NIM : 22030115100141

U N IV E R S I TAS D I PO N E G O R O
FAK U LTAS K E D O K T E RAN
LAB O RAT O R I U M K I M IA K E D O K T E RAN
2016
IDENTIFIKASI DAN FERMENTASI SENYAWA KARBOHIDRAT

I. TUJUAN PERCOBAAN
Mengenal beberapa macam identifikasi karbohidrat.

II. DASAR TEORI


1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satu dari tiga golongan utama
makronutrien. Terkandung dalam makanan seperti gula dan pati, yang
merupakan sumber utama energi pada pola makan dan pada selulosa yaitu zat
polisakarida non pati yang utama.
Gula dihasilkan pada tanaman sebagai produk akhir fotosintesis dari
karbon dioksida dan air. Pada saat yang sama dihasilkan oksigen, diperlihatkan
pada persamaan berikut, pembentukan glukosa karbohidrat yang sederhana:
6CO2 + 12H2O C6H12O6 + 6O2 + 6H2O
Glukosa
Air berada pada dua sisi persamaan karena diketahui bahwa oksigen
dihasilkan dari air. Atom oksigen dalam gula dan molekul air pada kedua sisi
persamaan berasal dari kombinasi dengan karbon dalam karbon dioksida.
Persamaan tersebut relatif sederhana, namun hanya menujukkan bahan-bahan
pemula dan produk akhir dari serangkaian reaksi kimia yang kompleks.
Karbohidrat hanya mengandung karbon, hidrogen dan oksigen, kecuali
pada kasus yang jarang, selalu terdapat dua atom hidrogen untuk setiap
oksigen. Dengan demikian karbohidrat mempunyai rumusan umum Cx(H2)y
dengan x dan y adalah bilangan bulat dan justru dari simbol hidrat untuk
karbon inilah nama karbohidrat diturunkan. Tentu tidak terdapat molekul air
dalam molekul karbohidrat. Namun demikian pati terdapat secara alami dalam
bentuk hidrat (artinya berhubungan dengan molekul air). Sebagai contoh,
penyimpanan karbohidrat dan glikogen selalu melibatkan tambahan air.
Banyak jenis karbohidrat yang diketahui tidak dibuat secara alami
melainkan di sintesiskan di laboratorium. Karbohidrat yang terbentuk secara
alami mempunyai 6 atau kelipatan 6 atom karbon yang perannya sangat
penting. Contoh yang cukup dikenal misalnya glukosa C 6H12O6, sukrosa
C12H22O11 dan pati yaitu molekul yang ukurannya sangat besar dengan simbol
(C6H10O5)n.(Lean 2013)

2. Klasifikasi Karbohidrat
Klasifikasi Karbohidrat
1. Monosakarida
a. Berdasarkan gugus karbonilnya, monosakarida dapat berupa aldosa
(mengandung aldehid) dan ketosa (mengandung gugus keton).
Contoh aldosa : Glukosa (C6H12O6)
Contoh Ketosa : Fruktosa (C6H12O6)

b. Berdasarkan jumlah atom C, monosakarida terdiri dari biosa (2 atom C), triosa
(3 atom C), tetrosa (4 atom C), pentosa (5 atom C), heksosa (6 atom C) dan
heptosa (7 atom C)
Triosa : Gliserosa, Gliseraldehid, Dihidroksi aseton
Tetrosa : threosa, Eritrosa, xylulosa
Pentosa : Lyxosa, Xilosa, Arabinosa, Ribosa, Ribulosa
Hexosa : Galaktosa, Glukosa, Mannosa, fruktosa
Heptosa : Sedoheptulosa

2. Disakarida
Tiap molekul disakarida terdiri dari dua satuan monosakarida. Terbentuk dari
hasil reaksi penggabungan dua satuan monosakarida dengan mengeluarkan sebuah
molekul air. Dalam molekul disakarida, kedua monosakarida berikatan secara
ikatan glukosida. Contoh disakarida : sukrosa (gula tebu), maltosa (gula gandum)
dan laktosa (gula susu). Ketiganya memiliki rumus molekul C12H22O11.
Sukrosa
Hidrolisis sukrosa menghasilkan glukosa dan fruktosa. Sukrosa memiliki
tingkat kemanisan 100. Sukrosa bukan gula pereduksi dalam larutan air
karena sukrosa tidak memiliki gugus aldehid, dibuktikan dengan tidak
bereaksinya (mereduksi) dengan pereksi Fehling, Benedict dan Tollens.
Hidrolisis sukrosa dapat terjadi dengan menggunakan katalis asam encer
atau enzim invertase. Sukrosa mudah larut dalam air. Struktur cincin
molekul sukrosa :
Satuan glukosa Ikatan glukosida Satuan fruktosa
Maltosa
Maltosa (gula gandum) tidak terdapat bebas di alam, melainkan diperoleh
dari hasil hidrolisis amilum dengan katalis diastase atau hasil hidrolisis
glikogen dengan katalis amilase. Hidrolisis maltosa akan menghasilkan
dua satuan glukosa dengan menggunakan katalis enzim maltase atau
katalis asam. Maltosa merupakan gula pereduksi karena dapat mereduksi
pereaksi Fehling, Benedict dan Tollens. Struktur cincin maltose :

Ikatan glukosida
Laktosa
Laktosa (gula susu) terdapat dalam air susu. ASI mengandung 5-8%
laktosa, sedangkan sapi mengandung 4-6% laktosa. Hidrolisis laktosa
dengan katalis enzim laktase akan menghasilkan glukosa dan galaktosa.
Galaktosa dalam tubuh segera diubah menjadi glukosa dengan enzim
tertentu. Galaktosa dalam darah jika tidak diubah menjadi glukosa bisa
menimbulkan kekerdilan, keterbelakangan mental dan kematian. Laktosa
merupakan gula pereduksi karena dapat mereduksi pereaksi Fehling,
Benedict dan Tollens. Struktur cincin laktosa :

Satuan glukosa Ikatan glukosida Satuan galaktosa


3. Polisakarida
Polisakarida merupakan senyawa yang terdiri dari gabungan molekul-molekul
monosakardia dalam jumlah yang banyak. Hidrolisis polisakarida akan
menghasilkan sejumlah besar satuan monosakarida. Berikut beberapa macam
polisakarida :
Amilum
Zat ini terbentuk pada proses fotosintesis dalam klorofil daun dengan
bantuan energy matahari. Hidrolisis amilum dengan katalis enzim amilase
atau enzim diastase akan menghasilkan sejumlah satuan maltosa.
Selanjutnya maltosa dihidrolisis dengan katalis enzim maltase
menghasikan dua satuan glukosa. Susunan satuan glukosa dalam amilum :

Satuan glukosa
Amilum terdapat pada padi, kentang, gandum, kacang-kacangan, sayuran,
umbi-umbian, jagung dan sagu. Amilum sedikit larut air. Jika dipanaskan
dengan air akan menghasilkan lem yang merupakan koloid. Jika amilum
dihidrolisis dalam larutan asam (sebagai katalis) akan menghasilkan
berturut-turut dekstrosa, maltosa dan glukosa dengan larutan penguji
adalah laruan iodine (I2).
Glikogen
Glikogen atau pati hewan atau gula otot adalah karbohidrat yang menjadi
gudang energy pada manusia dan hewan. Glikogen disimpan dalam hati
dan otot. Dalam tubuh, glikogen dipecah untuk mendapatkan glukosa guna
memelihara kadar gula darah dan untuk memberi energy guna aktifitas
otot. Di dalam air, glikogen bersifat koloid dan memberikan warna cokelat
merah dengan larutan iodine. Hidrolisis glikogen dengan asam sebagai
katalis menghasilkan sejumlah satuan glukosa.
Selulosa
Selulosa merupakan struktur polisakarida utama dalam tanaman. Selulosa
terdapat pada dinding sel tanaman, misalnya pada jerami, bambu dan
pinus. Kapas adalah selulosa murni, katun terdiri dari 90% selulosa.
Hidrolisis selulosa dengan katalis asam (H2SO4) akan menghasilkan
sejumlah glukosa. Selulosa adalah zat padat berwarna putih serta tidak
larut dalam pelarut air dan hampir seluruh pelarut lainnya. Selulosa banyak
digunakan untuk membuat kertas, kain, rayon dan bahan peledak. Susunan
satuan glukosa dalam molekul selulosa :
3. Identifikasi Karbohidrat
1. Uji Umum Karbohidrat
a. Uji Molisch
Larutan karbohidrat dicampur dengan pereaksi molisch, yaitu alfa
naftol dalam alkohol, kemudian ditambah dengan asam sulfat pekat
dengan hati-hati. Warna violet yang dihasilkan menunjukkan adanya
karbohidrat.
Dasar uji ini adalah heksosa atau pentosa mengalami dehidrasi oleh
pengaruh asam sulfat pekat menjadi hidroksimetilfurfural atau furfural dan
kondensasi aldehida yang terbentuk ini dari alfa naftol membentuk
senyawa yang berwarna khusus untuk polisakarida dan disakarida. Reaksi
ini terjadi atas tiga tahapan, yaitu hidrolisis polisakarida dan disakarida
menjadi heksosa atau pentosa, dan diikuti oleh proses dehidrasi dan proses
kondensasi.

b. Uji Anthron
Larutan 0,2 % Anthron dalam asam sulfat pekat ditambah larutan
karbohidrat. Setelah didiamkan, terbentuk warna hijau atau hijau kebiruan.
Uji umum untuk karbohidrat ini prinsipnya sama dengan uji Molisch,
yaitu terjadi tiga tahapan reaksi untuk polisakarida atau disakarida dan dua
tahapan reaksi untuk monosakarida (heksosa atau pentosa).
Hidroksimetilfurfural atau furfural yang terbentuk karena kerja asam
sulfat pekat berkondensasi dengan Anthron membentuk senyawa
kompleks berwarna.

2. Uji terhadap Karbohidrat Pereduksi


a. Uji Fehling
Pereaksi Fehling terdiri atas Fehling A (34,65 gram kuprisulfat dalam
500 ml air) dan Fehling B (campuran 173 gram natrium hidroksida dan
125 gram kalium natrium tartrat dalam 500 ml air). Campuran larutan
Fehling A dan larutan Fehling B merupakan larutan berwarna biru.
Pereaksi Fehling ditambah karbohidrat pereduksi, kemudian
dipanaskan, akan terjadi perubahan warna dari biru hijau kuning
kemerah-merahan dan akhirnya terbentuk endapan merah bata kupro
oksida bila jumlah karbohidrat pereduksi banyak.
Dalam reaksinya, karbohidrat pereduksi akan diubah menjadi asam
onat, yang membentuk garam karena adanya basa, sedangkan pereaksi
Fehling akan mengalammi reduksi sehingga tembaga bermartabat dua
berubah menjadi tembaga bermartabat satu.

b. Uji Benedict
Modifikasi pereaksi Fehling adalah pereaksi Benedict, yang
merupakan campuran 17,3 gram kupri sulfat, 173 gram natrium sitrat, dan
100 gram natrium karbonat dalam 100 gram air.
Pemanasan karbohidrat pereduksi dengan pereaksi Benedict akan
terjadi perubahan warna dari biru hijau kuning kemerah-merahan
dan akhirnya terbentuk endapan merah bata kupro oksida apabila
konsentrasi karbohidrat pereduksi cukup tinggi.
Seperti halnya pereaksi Fehling, dalam reaksi ini, karbohidrat
pereduksi akan teroksidasi menjadi asam onat, sedangkan pereaksi
Benedict (sebagai Cu2+) akan tereduksi menjadi kupro oksida. Jadi, dalam
uji ini terjadi proses oksidasi dan proses reduksi.

c. Uji Tollens
Pereaksi Tollens dibuat dengan mereaksikan larutan perak nitrat
dengan larutan amonium hidroksida secara perlahan sehingga endapan
yang mula-mula terbentuk akan larut.
Bila karbohidrat pereduksi dipanaskan dengan peraksi Tollens dalam
tabung reaksi bersih, terbentuk lapisan tipis menyerupai cermin pada
bagian bawah tabung percobaan.
Dalam proses ini, karbohidrat pereduksi dioksidasi menjadi asam onat,
yang segera membentuk garam Amonium, sedangkan pereaksi Tollens
direduksi sehingga dibebaskan logam perak, yang segera melekat pada
bagian bawah dinding tabung percobaan berupa lapisan tipis menyerupai
cermin.

aldehid Asam Karboksilat Cermin Perak

d. Uji Asam Pikrat


Trinitrofenol atau asam pikrat jenuh dalam suasana basa dapat
digunakan untuk menunjukkan adanya karbohidrat pereduksi. Pada 5 ml
larutan karbohidrat pereduksi ditambahkan 2-3 ml asam pikrat dan 1 ml
natrium karbonat 10 %. Pada pemanasan, terjadi perubahan warna kuning
menjadi merah.
Reaksi yang terjadi dalam uji ini adalah oksidasi karbohidrat pereduksi
menjadi asam onat dan reduksi asam pikrat yang berwarna kuning menjadi
asam pikramat yang berwarna merah.

e. Uji Barfoed
Berbeda dengan peraksi yang lain yang digunakan untuk menunjukkan
karbohidrat pereduksi, pereaksi Barfoed bersifat asam. Pereaksi ini dibuat
dengan melarutkan 13,3 gram kristal kupri sulfat netral dalam 200 ml air.
Setelah disaring, filtrat ditambah dengan 1,8 ml asam asetat glasial.
Pada pemanasan karbohidrat pereduksi dengan pereaksi Barfoed,
terjadi reaksi oksidasi karbohidrat pereduksi menjadi asam onat dan
reduksi pereaksi Barfoed sebagai ion kupri (Cu 2+ ) menjadi endapan kupro
oksida.
Suasana asam dalam pereaksi Barfoed dapat mengakibatkan waktu
terjadinya pengendapan kupro oksida pada reaksi dengan disakarida dan
monosakarida berbeda. Pada konsentrasi dan kondisi yang sama, disakarida
memberikan endapan lebih lambat daripada monosakarida. Berdasarkan hal
ini, uji Barfoed dapat dilakukan untuk membedakan monosakarida dan
disakarida.

3. Uji Khusus untuk Ketosa


Uji Seliwanoff dipakai untuk menunjukkan adanya ketoheksosa,
misalnya fruktosa. Pereaksi Seliwanoff adalah resorsinol dalam asam klorida
encer. Pendidihan fruktosa dengan pereaksi Seliwanoff menghasilkan larutan
berwarna merah.
Dua tahap reaksi terjadi pada pendidihan ini, yaitu dehidrasi fruktosa
oleh HCl yang ada dalam pereaksi Seliwanoff membentuk
hidroksimetilfurfural dan kondensasi hidroksimetilfurfural yang terbentuk
dengan resorsinol membentuk senyawa merah.
Sakarosa akan memberikan hasil yang sama bila diuji dengan uji ini
sebab sakarosa akan mengalami hidrolisis menjadi glukosa dan fruktosa dalam
proses ini. Fruktosa yang terbentuk ini memberikan warna merah.
4. Analisa Bahan
a. Glukosa
Glukosa adalah salah satu monosakarida sederhana yang mempunyai
rumus molekul C6H12O6. Glukosa merupakan karbohidrat terpenting yang
digunakan sebagai sumber tenaga utama dalam tubuh. Glukosa merupakan
prekursor untuk sintesis semua karbohidrat lain di dalam tubuh seperti
glikogen, ribose dan deoxiribose dalam asam nukleat, galaktosa dalam
laktosa susu, dalam glikolipid, dan dalam glikoprotein dan proteoglikan.
b. Fruktosa
Fruktosa merupakan monosakarida (simple sugar), yang dapat digunakan
tubuh sebagai sumber energi, tanpa memberi peningkatan yang bermakna
terhadap kadar gula darah, dengan memiliki indeks glikemik yang rendah.
c. Laktosa
Laktosa adalah bentuk disakarida dari karbohidrat yang dapat dipecah
menjadi bentuk lebih sederhana yaitu galaktosa dan glukosa. Laktosa ada
di dalam kandungan susu, dan merupakan 2-8 % bobot susu keseluruhan.
Mempunyai rumus kimia C12H22O11.
d. Amilum
Amilum atau pati adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air,
berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Amilum merupakan bahan
utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan
glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Pati adalah
suatu polisakarida yang mengandung amilosa dan amilopektin.
e. Alfa naftol dalam alkohol
Alfa Naftol merupakan padatan kristalin putih bau seperti etanol, sangat
sedikit larut dalam air; Berat molekul 144,17 g/mol; Rumus molekul
C10H8O; Titik didih 2880 C; Titik lebur 94-96C; Titik nyala 1440 C;
Kerapatan 1,181 g/cm3; tegangan permukaan 51 dyne/cm; Tekanan uap
0.00139 mmHg pada suhu 25 C. Alfa naftol ini mudah larut dalam alkohol.
f. Asam Sulfat
Mempunyai rumus kimia H2SO4. Dalam keadaan murni asam sulfat
merupakan cairan kental dan berat yang tidak berwarna; berbobot jenis
1,85; membeku pada 10,4 C. Asam ini sangat korosif, pengoksidasi kuat
dan penarik air. Reaksi hidrasi dengan air sangat eksotermis. Sifat korosif
asam sulfat pekat dapat merusak benda-benda dari logam, karena logam
akan teroksidasi baik dengan asam sulfat encer maupun pekat.
g. Pereaksi Fehling
Pereaksi Fehling terdiri dari dua bagian, yaitu Fehling A dan Fehling B.
Fehling A adalah larutan CuSO4, sedangkan Fehling B adalah campuran
larutan NaOH dan Kalium Natrium Tartrat. Pereaksi Fehling dibuat
dengan mencampurkan dua larutan tersebut, sehingga diperoleh suatu
larutan yang berwarna biru tua.
h. Pereaksi Benedict
Pereaksi Benedict adalah larutan yang dibuat dari campuran kuprisulfat,
natrium karbonat dan natrium sitrat. Dengan bantuan pemanasan,
dilarutkan 173 g Na-sitrat dan 100 g Na2CO3 dalam 800 ml air . Disaring
lalu ditambahkan aquades sampai volume larutan 850 ml (Larutan I).
Dilarutkan 17,3 g CuSO4.5H2O dalam 100 ml air (dipanaskan bila perlu) .
Bila larutan diatas sudah dingin maka dengan perlahan-lahan ditambahkan
kedalam larutan I. Kemudian ditambahkan dengan akuades sampai 1 liter.
i. Resorsinol dalam asam klorida
Resorsinol dalam asam klorida merupakan reagen dari peraksi seliwanoff
yang digunakan dalam sebuah uji kimia yang
membedakan gula aldosa dan ketosa. Asam reagen ini menghidrolisis
polisakarida dan oligosakarida menjadi gula sederhana. Ketosa yang
terhidrasi kemudian bereaksi dengan resorsinol, menghasilkan zat
berwarna merah tua. Aldosa dapat sedikit bereaksi dan menghasilkan zat
berwarna merah muda.
j. Natrium Karbonat
Natrium karbonat dikenal juga sebagai (washing soda atau soda abu),
Na2CO3 adalah garam natrium dan asam karbonat. Bentuk paling umum
sebagai heptahidrat kristal, yang mudah effloresces untuk membentuk
bubuk putih, monohidrat tersebut. Natrium karbohidrat di dalam negeri,
terkenal untuk penggunaan sehari-hari sebagai pelunak air. Hal ini dapat
diekstrasi dari abu macam-macam tanaman. Hal ini secara sintesis
diproduksi dalam jumlah besar dari garam dan kapur dalam proses yang
dikenal sebagai proses Solvay.
k. Pereaksi Tollens
Pereaksi tollens ini dapat dibuat dari larutan perak nitrat, AgNO 3. Mula-
mula larutan ini direaksikan dengan basa kuat, NaOH(aq), kemudian
endapan coklat Ag2O yang terbentuk dilarutkan dengan larutan amonia
sehingga membentuk kompleks perak amoniakal, Ag(NH3)2+(aq).
l. Asam Pikrat
Asam pikrat adalah senyawa kimia yang bersifat eksplosive, terbentuk
karena reaksi antara fenol dan asam nitrat hingga menghasilkan 1,4,6-
trinitrofenol. Asam pikratberbentuk kristal berwarna kuning yang bersifat
toksik dan larut dalam sebagian besar pelarut organik. Asam pikrat lebih
sensitif dan berbahaya dibandingkan bentuk asamnya. Oleh karena itu, asam pikrat
sebaiknyadisimpan dalam botol kaca.
m. Ragi Roti
Ragi adalah mikro-organisme yang tumbuh di pabrik-pabrik ragi. Nama
ilmiah adalah Saccharomyces cerevisiae. Dalam kata ini Anda bisa
melihat kata Latin SACCHARO, yang berarti manis atau gula dan
kata myces, yang berarti, cetakan. Baker ragi adalah jamur
uniseluler yang mereproduksi melalui proses yang dikenal sebagai
tunas.
Ragi adalah tanaman, menurut ahli biologi, dan mampu mereproduksi
dirinya sendiri. Sepotong ragi terdiri dari sel-sel menit, dengan dinding
terdiri dari selulosa, dan interior hidup yang peduli disebut
protoplasma. Anda dapat makan dengan larutan gula untuk membuatnya
tumbuh, atau dapat membunuh karena kelaparan atau panas. Orang
dahulu tidak menggunakan ragi seperti yang kita kenal sekarang;
mereka menyiapkan ragi atau barm (yang memiliki tindakan yang
sama) dari tanah millet diremas dengan harus keluar dari anggur-bak.
n. Fenilhidrazin
C6H5NHNH2, larutan berminyak yang beracun, mendidih pada suhu
244C, larut dalam alkohol, eter, kloroform, dan benzene, sedikit larut
dalam air, digunakan dalam kimia analitik untuk mendeteksi gugus gula
dan aldehida, dan sebagai senyawa intermediate dalam reaksi kimia. juga
dikenal sebagai hidrazinobenzena.
o. Asam Nitrat
Asam nitrat merupakan larutan asam kuat yang mempunyai nilai pKa
sebesar -2. Di dalam air, asam ini terdisosiasi menjadi ion-ionnya, yaitu
ion nitrat NO3 dan ion hidronium (H3O+). Garam dari asam nitrat disebut
sebagai garam nitrat (contohnya seperti kalsium nitrat atau barium nitrat).

III. ALAT DAN BAHAN


1. ALAT
a. Tabung Reaksi
b. Penjepit
c. Pembakar Spiritus
d. Corong
e. Pengaduk Gelas
f. Pipet Paseur
g. Gelas Beker
h. Gelas Ukur

2. BAHAN
a. Glukosa
b. Fruktosa
c. Laktosa
d. Amilum
e. Alfa Naftol dalam Alkohol
f. Asam Sulfat
g. Pereaksi Fehling
h. Pereaksi Tollens
i. Pereaksi Benedict
j. Resorsinol dalam Asam Klorida
k. Natrium Karbonat
l. Asam Pikrat

IV. CARA KERJA


1. TES UMUM TERHADAP KARBOHIDRAT
Tes Molisch
Menyiapkan 4 tabung reaksi. Mengisi tabung 1 dengan glukosa, tabung 2
dengan fruktosa, tabung 3 dengan laktosa dan tabung 4 dengan amilum masing-
masing sebanyak 5 tetes. Menambahkan 5 tetes larutan alfa naftol dalam alkohol
pada masing-masing tabung sebanyak 5 tetes lalu menggojog dengan kuat.
Kemudian mengaliri 5 tetes asam sulfat secara hati-hati lewat dinding tabung.
Mengamati perubahan yang terjadi dan mencatat hasilnya dalam laporan.

2. TES KARBOHIDRAT PEREDUKSI


a. Tes Fehling
Menyiapkan 4 tabung reaksi. Mengisi tabung 1 dengan glukosa, tabung
2 dengan fruktosa, tabung 3 dengan laktosa dan tabung 4 dengan amilum
masing-masing sebanyak 5 tetes. Menambahkan campuran 5 tetes Fehling A
dan 5 tetes Fehling B pada masing-masing tabung. Mengamati perubahan
yang terbentuk. Kemudian memanaskan larutan dengan hati-hati. Mengamati
perubahan yang terjadi dan mencatat hasilnya dalam laporan.

b. Tes Benedict
Menyiapkan 4 tabung reaksi. Mengisi tabung 1 dengan glukosa, tabung
2 dengan fruktosa, tabung 3 dengan laktosa dan tabung 4 dengan amilum
masing-masing sebanyak 5 tetes. Menambahkan 5 tetes larutan Benedict pada
masing-masing tabung. Mengamati perubahan yang terbentuk. Kemudian
memanaskan larutan dengan hati-hati. Mengamati perubahan yang terjadi dan
mencatat hasilnya dalam laporan.

c. Tes Asam Pikrat


Menyiapkan 4 tabung reaksi. Mengisi tabung 1 dengan glukosa, tabung
2 dengan fruktosa, tabung 3 dengan laktosa dan tabung 4 dengan amilum
masing-masing sebanyak 5 tetes. Menambahkan 5 tetes Asam Pikrat jenuh dan
5 tetes Natrium Karbonat pada masing-masing tabung. Mengamati perubahan
yang terbentuk. Kemudian memanaskan larutan dengan hati-hati. Mengamati
perubahan yang terjadi dan mencatat hasilnya dalam laporan.

d. Tes Tollens
Menyiapkan 4 tabung reaksi. Mengisi tabung 1 dengan glukosa, tabung
2 dengan fruktosa, tabung 3 dengan laktosa dan tabung 4 dengan amilum
masing-masing sebanyak 5 tetes. Menambahkan campuran 5 tetes Tollens A
dan 5 tetes Tollens B pada masing-masing tabung. Mengamati perubahan yang
terbentuk. Kemudian memanaskan larutan dengan hati-hati. Mengamati
perubahan yang terjadi dan mencatat hasilnya dalam laporan.

3. TES KHUSUS UNTUK FRUKTOSA


Tes Seliwanoff
Menyiapkan 2 tabung reaksi bersih. Mengisi tabung 1 dengan glukosa dan
tabung 2 dengan fruktosa masing-masing sebanyak 5 tetes. Menambahkan
Pereaksi Seliwanoff pada masing-masing tabung. Kemudian memanaskan larutan
dengan hati-hati secara bersama-sama. Mengamati perubahan yang terjadi dan
mencatat hasilnya dalam laporan.

V. HASIL PENGAMATAN
I. TES UMUM KARBOHIDRAT
1. Tes Molisch

No. Percobaan Hasil


1. Glukosa + naftol, dialiri H2SO4 Warna: Bening
Terbentuk cincin ungu
2. Fruktosa + naftol, dialiri H2SO4 Warna: Bening
Terbentuk cincin ungu
3. Laktosa + naftol,dialiri H2SO4 Warna: Bening
Terbentuk cincin ungu kehitaman
4. Amilum+ naftol, dialiri H2SO4 Warna: Bening
Tidak terbentuk cincin ungu

II. TES KARBOHIDRAT PEREDUKSI


1. Tes Fehling

No. Percobaan Hasil


1. Glukosa + Fehling A+ Fehling B
Sebelum dipanaskan : Warna: Biru Bening
Setelah dipanaskan : Warna: Kecoklatan dan ada
endapan merah bata
2. Fruktosa + Fehling A+ Fehling B
Sebelum dipanaskan : Warna: Biru bening
Setalah dipanaskan : Warna: Biru Gelap dan tidak
terbentuk endapan
3. Laktosa + Fehling A+ Fehling B
Sebelum dipanaskan : Warna: Biru Bening
Setelah dipanaskan : Warna: Orange dan ada endapan
merah bata
4. Amilum + Fehling A+ Fehling B
Sebelum dipanaskan : Warna: Biru Bening
Setelah dipanaskan : Warna: Biru Bening dan tidak
terbentuk endapan

2. Tes Benedict

No. Percobaan Hasil


1. Glukosa + pereaksi benedict
Sebelum dipanaskan : Warna: Biru Bening
Setelah dipanaskan : Warna: orange kemerahan dan ada
endapan merah bata
2. Fruktosa + pereaksi benedict
Sebelum dipanaskan : Warna: Biru Bening
Setah dipanaskan : Warna: Biru Bening
3. Laktosa + pereaksi benedict
Sebelum dipanaskan : Warna: Biru Bening
Setelah dipanaskan : Warna: Orange Kemerahan dan
ada endapan merah bata
4. Amilum + pereaksi benedict
Sebelum dipansakan : Biru Bening
Setelah dipanaskan : Biru Bening

3. Tes Asam Pikrat

No. Percobaan Hasil


1. Glukosa + larutan asam pikrat +
Na2CO3Sebelum dipanaskan : Warna: kuning cerah
Setelah dipanaskan : Warna: merah orange cerah
2. Fruktosa + larutan asam pikrat +
Na2CO3Sebelum dipanaskan : Warna: kuning cerah
Setelah dipanaskan : Warna: kuning cerah
3. Laktosa + larutan asam pikrat +
Na2CO3Sebelum dipanaskan : Warna: kuning cerah
Setelah dipanaskan : Warna: orange-kuning cerah
4. Amilum+ larutan asam pikrat +
Na2CO3Sebelum dipanaskan : Warna: kuning cerah
Setelah dipanaskan : Warna: kuning cerah

4. Tes Tollens

No Percobaan Hasil
1. Glukosa + pereaksi Tollens A + Tollens
BSebelum dipanaskan : Warna: hitam jernih
Setelah dipanaskan : Warna: hitam gelap dan terbentuk
cermin perak
2. Fruktosa + pereaksi Tollens A+Tollens
BSebelumdipanaskan : Warna: Jernih
Setelah dipanaskan : Warna: Abu-abu dan tidak
terbentuk cermin perak
3. Laktosa + pereaksi Tollens A+ Tollens
BSebelum dipanaskan : Warna: abu-abu jernih
Setelah dipanaskan : Warna: hitam gelap dan terbentuk
cermin perak
4. Amilum + pereaksi Tollens A +Tollens
BSebelum dipanaskan : Warna: Jernih
Setelah dipanaskan : Warna: Abu-abu dan tidak
terbentuk cermin perak

III. TES KHUSUS FRUKTOSA


1. Tes seliwanoff

No. Percobaan Hasil


1. Glukosa + seliwanoff
Sebelum dipanaskan : Larutan kuning cerah
Setelah dipanaskan : Larutan kuning cerah
2. Fruktosa + seliwanoff
Sebelum dipanaskan : Larutan kuning cerah
Setelah dipanaskan : Larutan orange kemerahan cerah
VI. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini kami melakukan beberapa identifikasi senyawa
karbohidrat. Identifikasi yang kami lakukan adalah, tes umum terhadap
karbohidrat, tes karbohidrat pereduksi, dan tes khusus untuk fruktosa.

1. Tes Umum terhadap Karbohidrat


Tes Molisch
Dasar uji ini adalah heksosa atau pentosa mengalami dehidrasi oleh
pengaruh asam sulfat pekat menjadi hidroksimetilfurfural atau furfural dan
kondensasi aldehida yang terbentuk ini dari alfa naftol membentuk
senyawa yang berwarna khusus untuk polisakarida dan disakarida. Reaksi
ini terjadi atas tiga tahapan, yaitu hidrolisis polisakarida dan disakarida
menjadi heksosa atau pentosa, dan diikuti oleh proses dehidrasi dan proses
kondensasi.
Kami menggunakan empat sampel karbohidrat yaitu, glukosa, fruktosa,
laktosa dan amilum. Tes Molisch dilakukan dengan cara penambahan alfa
naftol dalam alkohol dan asam sulfat pekat melalui dinding tabung pada
masing-masing tabung reaksi. Hasil positif yang menunjukkan adanya
karbohidrat pada sampel ditandai dengan terbentuknya cincin ungu pada
larutan.
Reaksi yang terjadi pada tes Molisch:

Pada percobaan ini, sampel yang menghasilkan cincin ungu pada


larutannya yaitu glukosa, fruktosa dan laktosa. Sedangkan pada amilum
tidak terbentuk cincin ungu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel
yang mengandung karbohidrat adalah glukosa, fruktosa dan laktosa.
2. Tes Karbohidrat Pereduksi
Selanjutnya, identifikasi yang dilakukan adalah tes karbohidrat
pereduksi. Tes ini meliputi, tes Fehling, tes Benedict, tes Asam Pikrat dan tes
Tollens. Identifikasi ini menggunakan sampel yang sama dengan tes umum
terhadap karbohidrat, yaitu glukosa, fruktosa, laktosa dan amilum.
Tes Fehling
Percobaan ini dilakukan dengan cara menambahkan Fehling A dan Fehling
B ke dalam masing-masing larutan sampel. Kemudian di amati terlebih
dahulu warna yang dihasilkan oleh larutan, lalu larutan dipanaskan dengan
hati-hati hingga terjadi perubahan warna. Dalam reaksinya, karbohidrat
pereduksi akan diubah menjadi asam onat, yang membentuk garam karena
adanya basa, sedangkan pereaksi Fehling akan mengalami reduksi
sehingga tembaga bermartabat dua berubah menjadi tembaga bermartabat
satu.
Reaksi yang terjadi pada tes Fehling adalah:
CHO COONa
| |
H-C-OH + Cu + NaOH + H2O H-C-OH + Cu2O + 2H+
2+

Hasil positif yang menunjukkan adanya gula pereduksi pada


percobaan ini dinyatakan dengan terbentuknya endapan merah bata. Dan
pada percobaan ini, sampel yang menghasilkan endapan merah bata adalah
glukosa dan laktosa. Sedangkan pada sampel fruktosa dan amilum tidak
terjadi perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel yang
mengandung karbohidrat pereduksi adalah glukosa dan laktosa. Menurut
dasar teori yang ada, fruktosa merupakan karbohidrat pereduksi. Tetapi,
dalam percobaan ini fruktosa tidak menunjukkan hasil positif. Hal ini
disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah sampel fruktosa yang
mungkin sudah terkontaminasi sehingga tidak menunjukkan warna merah
bata.
Tes Benedict
Tes ini dilakukan dengan cara menambahkan pereaksi Benedict pada
masing-masing sampel. Kemudian di amati terlebih dahulu warna yang
dihasilkan oleh larutan, lalu larutan dipanaskan dengan hati-hati hingga
terjadi perubahan warna. Dalam reaksi ini, karbohidrat pereduksi akan
teroksidasi menjadi asam onat, sedangkan pereaksi Benedict (sebagai
Cu2+) akan tereduksi menjadi kupro oksida. Jadi, dalam uji ini terjadi
proses oksidasi dan proses reduksi.
Reaksi yang terjadi pada tes Benedict adalah:

Hasil positif yang menunjukkan adanya gula pereduksi pada percobaan


ini dinyatakan dengan terbentuknya endapan merah bata. Dan pada
percobaan ini, sampel yang menghasilkan endapan merah bata adalah
glukosa dan laktosa. Sedangkan pada sampel fruktosa dan amilum tidak
terjadi perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel yang
mengandung karbohidrat pereduksi adalah glukosa dan laktosa. Tetapi,
dalam percobaan ini fruktosa tidak menunjukkan hasil positif. Hal ini
disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah sampel fruktosa yang
mungkin sudah terkontaminasi sehingga tidak menunjukkan warna merah
bata.
Tes Asam Pikrat
Tes ini dilakukan dengan cara menambahkan Asam Pikrat Jenuh dan
Natrium Karbonat pada masing-masing sampel. Kemudian di amati
terlebih dahulu warna yang dihasilkan oleh larutan, lalu larutan dipanaskan
dengan hati-hati hingga terjadi perubahan warna. Reaksi yang terjadi
dalam uji ini adalah oksidasi karbohidrat pereduksi menjadi asam onat dan
reduksi asam pikrat yang berwarna kuning menjadi asam pikramat yang
berwarna merah.
Reaksi yang terjadi pada tes Asam Pikrat adalah:

Hasil positif yang menunjukkan adanya gula pereduksi pada


percobaan ini dinyatakan dengan perubahan warna larutan menjadi merah.
Dan pada percobaan ini, sampel glukosa dan laktosa mengalami perubahan
warna menjadi orange. Sedangkan pada sampel fruktosa dan amilum tidak
terjadi perubahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel yang
mengandung karbohidrat pereduksi adalah glukosa dan laktosa.
Tes Tollens
Tes ini dilakukan dengan cara menambahkan Tollens A dan Tollens B
pada masing-masing sampel. Kemudian di amati terlebih dahulu warna
yang dihasilkan oleh larutan, lalu larutan dipanaskan dengan hati-hati
hingga terjadi perubahan warna. Dalam proses ini, karbohidrat pereduksi
dioksidasi menjadi asam onat, yang segera membentuk garam Amonium,
sedangkan pereaksi Tollens direduksi sehingga dibebaskan logam perak,
yang segera melekat pada bagian bawah dinding tabung percobaan berupa
lapisan tipis menyerupai cermin.
Reaksi yang terjadi pada tes Tollens adalah:

Aldehid Asam Karboksilat Cermin Perak

Hasil positif yang menunjukkan adanya gula pereduksi pada percobaan


ini dinyatakan dengan terbentuknya cincin perak pada dinding tabung. Dan
pada percobaan ini, sampel glukosa, fruktosa dan laktosa terbentuk cermin
perak. Sedangkan pada sampel amilum tidak terbentuk cermin perak.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel yang mengandung karbohidrat
pereduksi adalah glukosa, laktosa dan fruktosa.
3. Tes Khusus terhadap Fruktosa
Tes Seliwanoff
Uji Seliwanoff dipakai untuk menunjukkan adanya ketoheksosa,
misalnya fruktosa. Pereaksi Seliwanoff adalah resorsinol dalam asam
klorida encer. Pendidihan fruktosa dengan pereaksi Seliwanoff
menghasilkan larutan berwarna merah. Dua tahap reaksi terjadi pada
pendidihan ini, yaitu dehidrasi fruktosa oleh HCl yang ada dalam pereaksi
Seliwanoff membentuk hidroksimetilfurfural dan kondensasi
hidroksimetilfurfural yang terbentuk dengan resorsinol membentuk
senyawa merah.
Pada tes Seliwanoff kami menggunakan dua sampel karbohidrat yaitu,
glukosa dan fruktosa. Pada masing-masing sampel ditambahkan peraksi
Seliwanoff. Kemudian di amati terlebih dahulu warna yang dihasilkan oleh
larutan, lalu larutan dipanaskan secara bersamaan dengan hati-hati hingga
terjadi perubahan warna.
Reaksi yang terjadi pada tes Seliwanoff adalah :
Hasil positif yang menunjukkan adanya fruktosa ditunjukkan dengan
terbentuknya warna merah pada larutan. Dan pada percobaan ini sampel
glukosa menghasilkan warna kuning, sedangkan pada sampel fruktosa
menghasilkan warna orange. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel
fruktosa menunjukkan hasil yang positif.

VII. KESIMPULAN
Identifikasi umum terhadap karbohidrat meliputi tes Molisch
Identifikasi karbohidrat pereduksi meliputi tes Fehling, tes Benedict, tes
Asam Pikrat dan tes Tollens
Identifikasi karbohidrat khusus untuk fruktosa meliputi tes Seliwanoff

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Lean, Michale J. 2013. Ilmu Pangan, Gizi & Kesehatan. Edisi ke-7. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.

Damin,Sumardjo. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa


Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EGC.

Winarno,F.G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta:Gramedia

Anonim. 2004. Pengertian Karbohidrat, Klasifikasi Karbohidrat dan


Metabolisme Karbohidrat.

Hutagalung, Haloman. 2004. Karbohidrat. Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran


Universitas Sumatera Utara

Anonim. 2014. Fruktosa.


http://habibana.staff.ub.ac.id/files/2014/08/3.-FRUKTOSA.pdf diakses pada hari
Sabtu, 26 Maret 2016 pukul 14.44 WIB

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/131/jtptunimus-gdl-umiaminatu-6537-3-
bab2.pdf diakses pada hari Sabtu, 26 Maret 2016 pukul 14.33 WIB
IX. JAWABAN PERTANYAAN
1. Tes umum terhadap karbohidrat
Tes Molisch
1. Kesimpulan apa yang saudara ambil dari percobaan tersebut?
Glukosa, fruktosa, laktosa dan amilum merupakan karbohidrat.
Terbentuknya cincin ungu pada tes Molisch menunjukan adanya
karbohidrat. Namun dari percobaan yang telah kami lakukan, sampel yang
membentuk cincin ungu adalah Larutan Glukosa, Fruktosa, dan Laktosa.
Sedangkan pada amilum tidak terbentuk cincin ungu. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa sampel yang mengandung karbohidrat adalah Glukosa,
Fruktosa, dan Laktosa mengandung karbohidrat.

2. Bagaimana analisa saudara jika tes miolisch dilakukan pada larutan


Maltosa dan potongan kertas saring?
Maltosa merupakan salah satu jenis karbohidrat yaitu disakarida,
seperti yang dilakukan pada percobaan sebelumnya, yaitu setiap larutan
sampel yang mengandung karbohidrat akan memberikan reaksi positif
berupa munculnya cincin ungu, sehingga apabila tes Molisch dilakukan
pada maltosa, maka larutan tersebut akan beraksi positif dan membentuk
cincin ungu.

3. Tulislah reaksi kimia yang terjadi pada tes Molisch secara umum!

2. Tes Karbohidrat Pereduksi


Tes Fehling
1. Apa yang terjadi jika tes fehling ini dilakukan pada maltosa?
Maltosa akan berubah warna menjadi kemerahan dan membentuk
endapan berwarna merah bata karena maltosa merupakan karbohidrat
pereduksi
2. Kesimpulan apa yang dapat saudara ambil dari percobaan diatas?
Pada percobaan tersebut didapatkan hasil bahwa Glukosa dan Laktosa
merupakan karbohidrat pereduksi, sedangkan fruktosa dan amilum bukan
merupakan karbohidrat pereduksi, hal ini dibuktikan dengan terbentuknya
endapan berwana merah bata ketika glukosa dan laktosa diatambahkankan
pereaksi fehling sedangkan fruktosa dan amilum tidak mengalami
perubahan setelah ditambahkan pereaksi fehling dan dipanaskan.
3. Tulislah reaksi yang terjadi secara umum!

CHO COONa
| |
H-C-OH + Cu + NaOH + H2O H-C-OH + Cu2O + 2H+
2+

4. Sebutkan beberapa contoh dari karbohidrat pereduksi dan karbohidrat


non pereduksi!
Karbohidrat pereduksi :glukosa, maltose, laktosa, gentibiosa, selobiosa,
turanosa, robinosa, melibiosa.
Karbohidrat non pereduksi :fruktosa, sukrosa, threhalosa, raffinosa, amilum,
trehalosa.

5. Apa isi dari pereaksi Fehling? Mengapa sebelum akan dipakai, larutan
Fehling A dan Fehling B tidak boleh dicampur dahulu?
Pereaksi Fehling terdiri dari dua larutan :
Larutan Fehling A berisi larutan cuprisulfat
Larutan Fehling B terdiri dari campuran larutan sodium hidroksida dan
larutan potassium sodium tartrat yang sering disebut garam Rochelle
atau garam Seignette.
Sebelum dipakai Fehling A dan Fehling B tidak boleh dicampur
terlebih dahulu karena campuran fehling A dan Fehling B mudah terurai
oleh warna.

6. Apa yang terjadi jika sedikit glukosa ditambah pereaksi Fehling


dibandingkan dengan glukosa dan larutan Fehling berada dalam
jumlah sama banyak. Jelaskan analisa jawabanmu!
Jika percobaan dilakukan dengan menggunakan glukosa yang sedikit
dan pereaksi fehling yang banyak maka tidak akan terbentuk endapan merah
bata dari Cu2O karena gula pereduksinya kurang. Bila gula dan perekasi
fehling sama banyak maka akan terbentuk endapan merah bata.

Tes Benedict
1. Apa yang akan terjadi jika percobaan ini dilakukan pada Maltosa?
Maltosa akan berubah warna menjadiorange kemerahan dan
membentuk endapan berwarna merah bata karena maltosa merupakan
karbohidrat pereduksi
2. Kesimpulan apa yang dapat saudara ambil dari percobaan diatas?
Pada percobaan tersebut didapatkan hasil bahwa Glukosa dan Laktosa
merupakan karbohidrat pereduksi, sedangkan fruktosa dan amilum bukan
merupakan karbohidrat pereduksi, hal ini dibuktikan dengan terbentuknya
endapan berwana merah bata ketika glukosa dan laktosa diatambahkankan
pereaksi Benedict sedangkan fruktosa dan amilum tidak mengalami
perubahan setelah ditambahkan pereaksi Benedict dan dipanaskan.

3. Tulislah Reaksi yang terjadi secara umum!


Reaksi
CHO COOH
| |
H-C-OH + Cu + H2O H-C-OH + Cu2O + 2H+
2+

4. Apa isi dari pereaksi Benedict? Mengapa pereaksi ini lebih baik dari
pada pereaksi fehling?
Pereaksi benedict berisi larutan kuprisulfat, Natrium karbonat dan
Natrium sitrat. Pereaksi benedict lebih baik daripada pereaksi Fehling
karena pereaksi Fehling mengandung NaOH yang dapat membuat isomer
glukosa. Sedangkan pereaksi benedict terdapat natrium karbonat yang
tidak dapat membuat isomer glukosa.

5. Apa yang terjadi jika glukosa dalam jumlah banyak ditambah


pereaksi benedict dalam jumlah sedikit. Jelaskan analisa jawabanmu!
Apabila percobaan menggunakan glukosa yang banyak dan pereaksi
benedict yang sedikit, lalu dipanaskan maka tidak akan terbentuk endapan
merah bata karena zat dalam pereaksi direduksi hanya sedikit.

Tes Asam Pikrat


1. Apa yang akan terjadi jika percobaan ini dilakukan pada maltosa?
Maltosa akan berubah warna menjadi merah orange cerah karena
maltosa merupakan karbohidrat pereduksi
2. Tuliskan reaksi yang terjadi secara umum!
CHO + AsamPikrat COOH + AsamPikramat
3. Kesimpulan apa yang dapat Saudara ambil dari percobaan diatas?
Pada percobaan tersebut didapatkan hasil bahwa Glukosa dan Laktosa
merupakan karbohidrat pereduksi, sedangkan fruktosa dan amilum bukan
merupakan karbohidrat pereduksi, hal ini dibuktikan dengan terbentuknya
larutan berwaran merah orange cerah ketika glukosa dan laktosa
diatambahkankan Asam Pikrat sedangkan fruktosa dan amilum tidak
mengalami perubahan yaitu tetap berwarna kuning terang setelah
ditambahkan pereaksi Asam Pikrat dan dipanaskan.

4. Tes Asam Pikrat dikerjakan dalam suasana apa? Warna apa yang
terbentuk dari reduksi Asam Pikrat?
Percobaan tes asam pikrat dikerjakan dalam suasana basa. Hasil
reduksi asam pikrat yang berwarna kuning adalah asam pikramat yang
berwarna merah.

Tes Tollens
1. Apa yang akan terjadi jika percobaan ini dilakukan pada maltosa?
Maltosa akan berubah warna menjadi hitam gelap dan membentuk
cermin perak karena maltosa merupakan karbohidrat pereduksi

2. Tuliskan reaksi yang terjadi secara umum!


Reaksi dari percobaan yang telah dilakukan:

Polisakarida/disakarida monosakarida

H-C=O + Ag (NH3)2OH O= C-ONH4 +Ag +H2O

3. Kesimpulan apa yang dapat Saudara ambil dari percobaan diatas?


Pada percobaan tersebut didapatkan hasil bahwa Glukosa dan Laktosa
merupakan karbohidrat pereduksi, sedangkan fruktosa dan amilum bukan
merupakan karbohidrat pereduksi, hal ini dibuktikan dengan terbentuknya
larutan berwarna hitam pekat dan terbentuk cermin perak di permukaan
tabung ketika glukosa dan laktosa diatambahkankan Asam Pikrat
sedangkan Fruktosa dan amilum berubah warna menjadi abu-abu namun
tidak menghasilkan cermin peraksetelah ditambahkan pereaksi Asam
Pikrat dan dipanaskan.

4. Bagaimana cara membuat pereaksi Tollens?


Cara membuat pereaksi Tollens yaitu dengan mereaksikan larutan AgNO 3,
dengan NH4OH berlebih hingga semua endapan yang terjadi dapat larut
AgNO3 + NH4OH Ag2O + H2O + NH4OH
AgNO3 + NH4OH Ag(NH3) 2O H + H2O

3. Fermentasi

1. Gambarlah tabung fermentasi dengan baik, dan jelaskan dengan singkat


bagaimana fermentasi dapat dilaksanakan dalam tabung tersebut!

Sebelum memfermentasikan
percobaaan tersebut dalam tabung
fermentasi, harus mencairkan percobaan
tersebut terlebih dahulu atau mensuspensikan.
Suspensi yang diperoleh dicampurkan dengan larutan glukosa yang akan diragikan.
Campuran tersebut di masukkan ke dalam tabung fermentasi. Biarkan beberapa waktu
dan perhatikan. Gelembung-gelembung gas akan timbul pada bagian atas tabung,
yang makin lama akan menekan cairan tersebut ke bawah.
2. Tulislah semua tingkat-tingkat reaksi fermentasi ini secara lengkap dalam
buku laporan resmi saudara.
3. Singkatan apakah ATP dan ADP ? Tulis rumus struktur dari ke dua snyawa
tersebut!
Adenosina trifosfat (ATP) adalah suatu nukleotida yang dalam biokimia dikenal
sebagai "satuan molekular" pertukaran energi intraselular; artinya, ATP dapat
digunakan untuk menyimpan dan mentranspor energi kimia dalam sel. ATP juga
berperan penting dalam sintesis asam nukleat. Molekul ATP juga digunakan untuk
menyimpan energi yang dihasilkan tumbuhan dalam respirasi selular. ATP yang
berada di luar sitoplasma atau di luar sel dapat berfungsi sebagai agen signaling yang
memengaruhi pertumbuhan dan respon terhadap perubahan lingkungan.

Adenosin difosfat, disingkat ADP, adalah sebuah nukleotida. Ia adalah


bentuk ester dari asam pirofosforat dengannukleobasa adenina. ADP terdiri
dari gugus pirofosfat, ribosa gula pentosa, dan nukleobasa adenina.
ADP adalah produk dari reaksi defosforilasi hidrolisis ATP pada ATPase. ADP dapat
kembali menjadi ATP oleh ATP synthase. ATP adalah energi yang penting dalam
molekul dalam sel.
ADP disimpan dalam granula platelet padat dan dilepaskan ketika platelet tersebut
diaktivasi. ADP berinteraksi dengan keluarga reseptor ADP yang ada di platelet
(P2Y1, P2Y12 dan P2X1), yang menyebabkan aktivasi platelet yang lebih jauh. ADP
dalam darah diubah menjadi adenosina oleh ecto-ADPase, yang menghambat aktivasi
platelet yang lebih jauh melalui reseptor adenosina. Obat anti platelet (Plavix /
clopidogrel) menghambat reseptor P2Y12.