Anda di halaman 1dari 17

, -.

( Dosen Fakultas Hukum USM )

Semakin berkembangnya kegiatan ekonomi antar masyarakat dan antar bangsa, masalah yang
dihadapi oleh para pihak juga semakin beragam dan tidak menutup kemungkinan menimbulkan sengketa.
Sengketa berawal pada situasi di mana pihak yang satu merasa dirugikan oleh pihak lain.
Timbulnya sengketa di bidang perdagangan dalam perkembangannya dapat diselesaikan melalui
mekanisme litigasi (Pengadilan) maupun nonlitigasi (di luar pengadilan) atau alternatif penyelesaian
sengketa/APS. Dalam penyelesaian sengketa nonlitigasi harus didasarkan pada itikat baik dari para pihak,
sehingga proses penyelesaiannya dapat dilakukan secara cepat sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
undang-undang.
Pasal 1 butir 10 UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
menyebutkan bahwa Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda
pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian sengketa di luar pengadilan dengan
cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli. Sedangkan arbitrase juga merupakan
penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang didasarkan pada perjanjian arbitrase.
Penyelesaian sengketa nonlitigasi mulai dikenal oleh masyarakat, khususnya di bidang perdagangan.
Hal ini dapat dicermati dari berbagai kontrak di bidang perdagangan sudah mulai mencantumkan klausul
penyelesaian sengketa di luar pengadilan (khususnya arbitrase).
Kata kunci : penyelesaian sengketa, perdagangan, pengaturan dan mekanisme.

mestinya tidak hanya bersifat merusak


Perdagangan merupakan salah satu (destructive) dan merugikan (harmful),
sektor jasa yang menunjang kegiatan melainkan membangun (constructive),
ekonomi antar anggota masyarakat dan menarik/ menantang (challenging) serta
antar bangsa. Bagi Indonesia dengan dinamis sebagai katalisator perubahan (a
ekonominya yang bersifat terbuka, catalyst for change). 1
perdagangan sangat vital bagi upaya Timbulnya sengketa pada kegiatan
peningkatan pertumbuhan ekonomi perdagangan dalam perkembangannya
sekaligus guna memelihara kemantapan dapat diselesaikan melalui mekanisme
stabilitas nasional. litigasi (Pengadilan) maupun nonlitigasi
Merupakan hal yang wajar apabila atau penyelesaian sengketa di luar
dalam hubungan perdagangan pada suatu pengadilan (melalui Alternatif Penyelesaian
saat mengalami pertikaian atau konflik Sengketa/ APS). Dalam penyelesaian
(conflict), hal ini pada hakekatnya sengketa di luar pengadilan, pihak yang
merupakan salah satu bentuk dari interaksi bersengketa tidak melalui proses hukum
sosial dalam kehidupan bermasyarakat. formal yang seringkali mahal dan memakan
Konflik akan berkembang menjadi sengketa waktu. Para pihak cukup mengajukan
apabila pihak yang merasa dirugikan perkaranya pada pihak ketiga untuk
menyatakan rasa tidak puas pada pihak menyelesaikan persengketaan.
yang menimbulkan kerugian pada pihak
lain. !
Kata sengketa (conflict; dispute) " ## !$ % & $
' () * * ) + +

65
Bentuk-bentuk Alternatif Penyele- tugasnya adalah menyelesaikan sengketa
saian Sengketa dapat dibagi dalam : dengan menjatuhkan putusan (constitutive)
Pertama, alternative to ajudikasi yang terdiri misalnya menjatuhkan putusan atas
atas negosiasi dan mediasi; Kedua, sengketa waris, perbuatan melawan hukum
alternative to litigasi yang terdiri atas dan sebagian kecil tugasnya adalah
negosiasi, mediasi dan arbitrase.2 penangkalan sengketa dengan menjatuhkan
Undang-undang Nomor 30 Tahun penetapan pengadilan (deklaratoir) misalnya
1999 tentang Arbitrase dan Alternatif penetapan wali, penetapan anak angkat dan
Penyelesaian Sengketa, Pasal 1 butir 10 lain-lain.3
menyebutkan bahwa Alternatif penye- Nonlitigasi sebagai kebalikan dari
lesaian Sengketa adalah lembaga litigasi (argumentum analogium) adalah
penyelesaian sengketa atau beda pendapat untuk menyelesaikan sengketa di luar
melalui prosedur yang disepakati para pengadilan melalui perdamaian dan
pihak, yakni penyelesaian di luar penangkalan sengketa dengan perancangan-
pengadilan dengan cara konsultasi, perancangan kontrak yang baik. Penye-
negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian lesaian sengketa secara nonlitigasi meliputi
ahli. Adapun arbitrase dipersepsikan oleh bidang yang sangat luas bahkan mencakup
pembuat undang-undang seolah-olah bukan seluruh aspek kehidupan yang dapat
termasuk Alternatif Penyelesaian Sengketa, diselesaikan secara hukum. 4
padahal sebetulnya arbitrase juga termasuk Penyelesaian sengketa secara non-
Alternatif Penyelesaian Sengketa. litigasi adalah penyelesaian sengketa di luar
Berdasarkan uraian tersebut maka pengadilan yang didasarkan kepada
perlu dikaji lebih lanjut mengenai hukum, dan penyelesaian tersebut dapat
Pengaturan dan Mekanisme Penyelesaian digolongkan kepada penyelesaian yang
Sengketa Nonlitigasi di Bidang Perda- berkualitas tinggi, karena sengketa yang
gangan Melalui Mekanisme Nonlitigasi, diselesaikan secara demikian akan dapat
mengingat penyelesaian sengketa melalui selesai tuntas tanpa meninggalkan sisa
mekanisme nonlitigasi tersebut sudah kebencian dan dendam. Dengan demikian,
merupakan suatu kebutuhan bagi para penyelesaian sengketa secara nonlitigasi
pelaku usaha di bidang perdagangan dalam adalah penyelesaian masalah hukum secara
upaya memperoleh jaminan kenyamanan hukum dan nurani, sehingga hukum dapat
dan keamanan dalam melakukan dimenangkan dan nurani orang juga tunduk
hubungan-hubungan hukum. untuk mentaati kesepakatan/ perdamaian
secara sukarela tanpa ada yang merasa
kalah.
" Penyelesaian sengketa melalui proses
di luar pengadilan menghasilkan kese-
# $ %& $' pakatan yang bersifat win-win solution,
(% $ & dijamin kerahasiaan sengketa para pihak,
Litigation (bahasa Inggris) artinya dihindari kelambatan yang diakibatkan
pengadilan. Jadi nonlitigasi adalah di luar karena hal prosedural dan administratif,
pengadilan. Sebagai bahan perbandingan, menyelesaikan masalah secara kompre-
litigation (pengadilan), sebagian besar hensif dalam kebersamaan dan tetap
menjaga hubungan baik. Satu-satunya
kelebihan proses nonlitigasi ini sifat
(3) & * * ) &
* ! / ,6 6 0 %,! ( )
$ 4 , " ## + /7 ) #) # 8
$ - & * + + + / 9 * + +
.5 + ,
3)+

! ) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
kerahasiaannya, karena proses persidangan ahli. Dengan demikian, jelaslah yang
dan bahkan hasil keputusannya pun tidak dimaksud dengan Alternative Dispute
dipublikasikan. Resolution (ADR) dalam perspektif UU No.
Penyelesaian sengketa di luar 30 Tahun 1999 itu suatu pranata
pengadilan ini umumnya dinamakan penyelesaian sengketa di luar pengadilan
dengan Alternative Dispute Resolution (ADR). berdasarkan kesepakatan para pihak dengan
Ada yang mengatakan kalau Alternative mengesampingkan penyelesaian sengketa
Dispute Resolution (ADR) ini merupakan secara litigasi di pengadilan.
siklus gelombang ketiga penyelesaian
sengketa bisnis. Penyelesaian sengketa * $ $' + %&
bisnis pada era globalisasi dengan ciri $' (%$ &
moving quickly, menuntut cara-cara yang Seperti diuraikan di muka, bahwa
informal procedure and be put in motion sengketa bisnis adalah sengketa yang timbul
quickly. di antara pihak-pihak yang terlibat dalam
Alternative Dispute Resolution (ADR) berbagai macam kegiatan bisnis atau
merupakan istilah yang pertama kali perdagangan termasuk di dalamnya
dimunculkan di Amerika serikat. Konsep ini
meliputi pula unsur-unsur yang lebih luas,
merupakan jawaban atas ketidakpuasan seperti pekerjaan, profesi, penghasilan, mata
yang muncul di masyarakat Amerika pencaharian dan keuntungan.
Serikat terhadap sistem pengadilan mereka. Dalam penjelasan ketentuan Pasal 66
Ketidakpuasan tersebut bersumber pada UU No. 30 Tahun 1999 dirumuskan lebih
persoalan waktu yang sangat lama dan lanjut tentang ruang lingkup kegiatan
biaya mahal, serta diragukan kemam- perdagangan, yang meliputi antara lain
puannya menyelesaikan secara memuaskan. kegiatan di bidang perniagaan, perbankan,
Pada intinya Alternative Dispute Resolution keuangan, penanaman modal (investasi),
(ADR) dikembangkan oleh para praktisi
industry dan hak kekayaan intelektual
hukum maupun para akademisi sebagai (HaKI). Dalam prakteknya sengketa bisnis
cara penyelesaian sengketa yang lebih mengalami perkembangan dari waktu ke
memiliki akses pada keadilan. 5 waktu. 6
Pasal 6 UU No. 30 Tahun 1999 Pihak-pihak yang bersengketa dalam
mengatur mengenai pilihan dalam praktik dapat melakukan beberapa
penyelesaian sengketa melalui cara pendekatan dalam mengelola sengketa yang
musyawarah para pihak yang bersengketa, dihadapi. Secara umum ada beberapa
di bawah title Alternatif Penyelesaian pendekatan pengelolaan konflik atau
Sengketa, yang merupakan terjemahan dari
sengketa yang terjadi, yaitu : 7
Alternative Dispute resolution (ADR).
Pengertian Alternative Dispute Resolution di ( & ,
sini adalah lembaga penyelesaian sengketa Power Based merupakan pendekatan
atau beda pendapat melalui prosedur yang pengelolaan sengketa dengan mendasarkan
disepakati para pihak, yakni penyelesaian di pada kekuatan atau kekuasaan untuk
luar pengadilan dengan cara konsultasi, memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu
negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian atau tidak berbuat sesuatu. Misalnya
dengan cara mengancam, menakut-nakuti,
.
" (: ) (
; 8/9 2 blokade, boikot dan sebagainya. Pendekatan
<
(/2= ) *) 7 &) 9+ ' %)
) 9 ) : > /
?
( 8 /9 2 <
(/2= * 3 & (3 ) (
) $ & /9 @ ")
! ) $ ( > ) + . - + -+
5
+ + ,
3) + +

65 #
ini umumnya dilakukan apabila satu pihak tersebut, pilihan nonlitigasi dengan
memiliki posisi dan akses yang lebih kuat mempertimbangkan pada bahan-bahan
dari pihak yang lain. penjelasan pasal-pasal hukum, biaya-biaya
litigasi, pentingnya penyelesaian sengketa
- $) & , secara tuntas, tidak menyisakan dendam,
Right Based adalah pendekatan dengan menyentuh nurani, dan tidak
pengelolaan sengketa dengan mendasarkan melukainya dengan debat.
konsep hak (hukum), yaitu konsep benar
dan salah berdasarkan parameter yuridis
melalui prosedur adjudikasi, baik di
pengadilan maupun arbitrase. Dengan
Penyelesaian sengketa nonlitigasi
demikian pencari keadilan yang ingin
pada dasarnya adalah cara penyelesaian
menyelesaikan sengketanya harus terlebih
sengketa yang dilakukan melalui
dahulu mengajukan perkaranya ke
perdamaian. Landasan penyelesaian
pengadilan yang berwenang atau melalui
sengketanya adalah hukum, namun
arbitrase. Pendekatan seperti ini umumnya
konstruksi penyelesaiannya disesuaikan
mengarah pada keadaan win-lose solution, di
dengan kehendak para pihak dengan tujuan
mana ada pihak yang dimenangkan dan ada
agar para pihak merasa puas dengan cara
pula pihak yang dikalahkan di sisi lainnya.
penyelesaian sengketa tersebut.
Penyelesaian sengketa secara damai
. & & ,
dilandasi adanya kesepakatan yang oleh
Interest Based merupakan pendekatan
para pihak dianggap paling baik. Dianggap
pengelolaan sengketa dengan mendasarkan
baik artinya bahwa walaupun jalan
pada kepentingan atau kebutuhan pihak-
kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa
pihak yang bersengketa, bukan melihat
ini harus dilakukan dengan kesediaan untuk
pada posisi masing-masing. Solusi
saling berkorban, maka pengorbanan ini
diupayakan mencerminkan kepentingan
dinilai paling wajar dan dengan biaya yang
pihak-pihak yang bersengketa secara
tidak mahal, jika dibandingkan dengan
mutual (win-win solution). Termasuk
penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi.
pendekatan interest based diantaranya
Adapun landasan hukum
negosiasi, mediasi, dan konsiliasi.
penyelesaian sengketa nonlitigasi dapat
dikemukakan sebagai berikut :
Ruang lingkup penyelesaian sengketa
1. Pasal 1338 KUHPerdata yang
nonlitigasi adalah seluas ruang lingkup cara
menyatakan bahwa semua perjanjian
penyelesaian sengketa hukum kecuali
yang dibuat secara sah, berlaku sebagai
hukum-hukum yang bersifat memaksa dan
undang-undang bagi yang membuat-
hukum publik.8 Dengan demikian dapat
nya. Ketentuan ini mengandung asas
dikatakan bahwa ruang lingkup dari
perjanjian bersifat terbuka. Artinya,
penyelesaian sengketa nonlitigasi adalah
dalam menyelesaikan masalah, setiap
meliputi perbuatan hukum atau tindakan
orang bebas memformulasikannya
hukum yang dapat mendorong orang untuk
dalam bentuk perjanjian yang isinya
memilih penyelesaian persoalan hukumnya
apapun untuk dapat dijalankan dalam
secara damai, karena para pihak menyadari
rangka menyelesaikan masalah.
bahwa pilihan cara nonlitigasi adalah yang
Selanjutnya sebagaimana ditentukan
paling efektif, efisien dan aman bagi
dalam Pasal 1340 KUHPerdata bahwa
penuntasan sengketanya.
perjanjian hanya berlaku antara pihak-
Untuk mencapai perdamaian
pihak yang membuatnya. Untuk
penyelesaian sengketa nonlitigasi
-
,
3) + .+

* ) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
ketentuan tersebut menjadi penting pendapat melalui prosedur yang
dalam hal mengingatkan kepada para disepakati oleh para pihak yakni
pihak yang bersengketa bahwa penyelesaian di luar pengadilan
kepadanya diberikan kebebasan oleh dengan cara konsultasi, negosiasi,
hukum untuk memilih jalan dalam mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli.
menyelesaikan masalahnya yang dapat
dituangkan dalam perjanjian, asal
perjanjian itu dibuat secara sah, "
memenuhi syarat-syarat sahnya
perjanjian sebagaimana ditentukan # $ %& $"
dalam Pasal 1320 KUHPerdata. ' (%$ & , $
2. Pasal 1266 KUHPerdata menyebutkan , $ $
bahwa syarat batal dianggap selalu
dicantumkan dalam persetujuan tibal Pada asasnya, para pihak yang
balik, manakala salah satu pihak tidak terlibat dalam dunia bisnis ingin agar segala
memenuhi kewajibannya. Ketentuan sesuatunya dapat berjalan sesuai dengan
tersebut penting untuk mengingatkan apa yang direncanakan. Akan tetapi, dalam
para pihak yang membuat perjanjian praktik ada kalanya apa yang telah disetujui
dalam menyelesaikan masalahnya oleh kedua belah pihak tidak dapat
bahwa perjanjian harus dilaksanakan dilaksanakan karena salah satu pihak
secara konsekuen oleh para pihak. mempunyai penafsiran yang berbeda
3. Pasal 1851 s/d 1864 KUHPerdata dengan apa yang telah disetujui
tentang Perdamaian. Bahwa perda- sebagaimana yang tercantum dalam kontrak
maian adalah perjanjian, karenanya sehingga dapat menimbulkan perselisihan.
perjanjian perdamaian itu sah kalau Munculnya perselisihan tersebut
dibuat memenuhi syarat-syarat sahnya dapat menimbulkan berbagai hal yang tidak
perjanjian dan dibuat secara tertulis. diinginkan oleh kedua belah pihak. Oleh
Perdamaian dapat dilakukan di dalam karena itu, untuk merealisasikan kembali
Pengadilan maupun di luar Pengadilan. perjanjian diperlukan kesepakatan lagi.
Dalam penyelesaian sengketa nonli- Dengan demikian, ditinjau dari sudut bisnis
tigasi, perdamaian dibuat di luar jelas kurang menguntungkan karena hal ini
Pengadilan yang lebih ditekankan yaitu dapat menimbulkan kerugian bukan saja
bagaimana sengketa hukum dapat materiil, melainkan juga kemungkinan
diselesaikan dengan cara perdamaian terjadinya kerugian immaterial, yaitu nama
di luar Pengadilan dan perdamaian itu baik yang selama ini terjaga dengan baik.
mempunyai kekuatan untuk dija- Salah satu upaya yang dapat
lankan. ditempuh guna menyelesaikan masalah-
4. UU No. 30 Tahun 1999, menyebutkan masalah tersebut adalah dengan
bahwa arbitrase adalah cara digunakannya mekanisme penyelesaian
penyelesaian sengketa perdata di luar sengketa yang efektif, efisien, disertai biaya
peradilan umum yang didasarkan murah, yang tidak dapat ditunda-tunda lagi
kepada perjanjian arbitrase yang dibuat realisasinya guna terwujudnya kepercayaan
secara tertulis sebelum atau sesudah para pihak (produsen/ merchant dan
sengketa dengan menunjuk seorang konsumen) dalam kegiatan bisnis/
atau lebih arbiter untuk memberi perdagangan.
putusan atas sengketa. Selanjutnya Mekanisme penyelesaian sengketa
yang dimaksud dengan alternatif bisnis yang sifatnya konvensional/
penyelesaian sengketa adalah tradisional sangat dibatasi oleh letak
penyelesaian sengketa atau beda geografis dan hukum tempat aktivitas bisnis

65 /
dilakukan. Penentuan mengenai hukum tuan, cara dan syarat-syarat tersendiri untuk
serta pengadilan (yurisdiksi) manakah yang pemberlakuan formalitasnya, namun kedua-
berwenang memeriksa/ mengadili suatu duanya terdapat kesamaan mengenai
sengketa, sering menjadi masalah pada saat bentuk sengketa yang dapat diselesaikan,
para pihak akan membuat suatu kontrak, yaitu :
sekalipun akhirnya, dalam transaksi a. sengketa atau beda pendapat secara
konvensional penentuan hukum mana yang perdata di bidang perdagangan; dan
akan berlaku relatif lebih mudah b. menurut perundang-undangan, seng-
ditentukan. keta atau beda pendapat tersebut dapat
Undang-undang Nomor 30 Tahun diajukan dengan upaya damai
1999 tentang Arbitrase dan Alternatif (perdamaian).
Penyelesaian Sengketa (UUAAPS), Pasal 1
Menurut Priyatna Abdurrasyid,
butir 10 menyebutkan Alternatif
bahwa suatu penyelesaian sengketa
Penyelesaian sengketa adalah lembaga
nonlitigasi yang dapat memuaskan para
penyelesaian sengketa atau beda pendapat
pihak dapat dilakukan melalui suatu
melalui prosedur yang disepakati para
combined processes of disputes resolution
pihak, yakni penyelesaian di luar
technique/ mechanism. Digabungkannya
pengadilan dengan cara konsultasi,
beberapa mekanisme APS tersebut dengan
negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian
tujuan untuk menghemat tenaga, waktu,
ahli. Pengaturan alternatif penyelesaian
biaya, dan dapat menjamin keberlanjutan
sengketa telah membuat seolah-olah
pelaksanaan kontrak, yakni dengan
arbitrase bukanlah Alternatif Penyelesaian
menggunakan mekanisme pendahuluan,
Sengketa (APS), walaupun demikian
yaitu mediasi atau konsiliasi dan
arbitrase tetap merupakan bagian dari
determinasi dari ahli atau evaluasi ahli.
alternatif penyelesaian sengketa (APS).
Bilamana kedua mekanisme tersebut
Mengikuti alur pikir dari penyusun
ternyata tidak berhasil, dapat dilanjutkan
undang-undang, pembedaan semacam itu
melalui arbitrase dengan dibatasi oleh suatu
adalah wajar. Pembuat undang-undang
waktu yang ditetapkan oleh undang-
berpikir bahwa alternatif penyelesaian
undang atau ketentuan yang putusan
sengketa APS dilakukan oleh para pihak
akhirnya final dan mengikat. 9
sendiri baik dengan atau tanpa bantuan dari
Dengan landasan hukum bagi
pihak ketiga. Dengan demikian hasil yang
pelaksanaan APS ini, maka memberikan
diharapkan dari suatu APS adalah
kepastian hukum bagi berlakunya lembaga
perjanjian di antara para pihak sendiri.
penyelesaian sengketa nonlitigasi melalui
Pihak lain hanya berfungsi untuk
prosedur informal dan efisien. Di lain pihak,
mempertemukan perbedaan-perbedaan
hal ini memberikan kemudahan bagi
pendapat yang terdapat di antara para
masyarakat, khususnya pelaku usaha di
pihak. Di lain pihak, hasil yang diharapkan
bidang perdagangan/ bisnis untuk berperan
arbitrase adalah adanya putusan yang
serta dan mengembangkan mekanisme
diambil oleh pihak ketiga. Namun dalam
penyelesaian konfliknya sendiri dan
pengertian yang lain apa yang ditentukan
mendapatkan pilihan untuk menyelesaikan
oleh pembuat undang-undang tersebut
sengketa yang mungkin timbul.
kurang tepat karena arbitrase termasuk
Pada umumnya, sebagaimana
alternatif penyelesaian sengketa juga.
ditemukan dalam praktik atau aktivitas
Dengan demikian, alternatif
penyelesaian sengketa berdasarkan undang-
undang bertindak sebagai lembaga (3) )
) , ) 7 ) "
independen di luar arbitrase, dan arbitrase & * >&#! 6
oleh undang-undang mempunyai keten- ? + .+

) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
bisnis, dalam setiap perjanjian yang Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2008
dilakukan terutama dalam bidang perdata, tentang Prosedur Mediasi di
khususnya bidang perdagangan/ bisnis, Pengadilan, yang memberikan
masyarakat umumnya dihadapkan pada pengertian mengenai tahap pramediasi,
pilihan penyelesaian sengketa secara proses mediasi, serta tempat dan biaya
litigasi/ pengadilan, tetapi sekarang mediasi.
masyarakat dihadapkan atau dapat memilih c. Arbitrase, merupakan cara penyele-
untuk menggunakan sarana atau lembaga saian sengketa di luar peradilan,
penyelesaian sengketa nonlitigasi sebagai berdasarkan pada perjanjian arbitrase
pilihan penyelesaian sengketanya yang yang dibuat oleh para pihak, dan
mungkin timbul dalam aktivitas bisnis dilakukan oleh arbiter yang dipilih dan
mereka. diberi kewenangan mengambil
Untuk menyelesaikan sengketa keputusan. Sengketa yang dapat
perdagangan, khususnya melalui meka- diselesaikan melalui arbitrase hanya
nisme nonlitigasi pada umumnya terdapat sengketa di bidang perdagangan dan
beberapa cara yang dipilih. Cara-cara yang hak yang menurut hukum dan
dimaksud adalah sebagai berikut : peraturan perundang-undangan
dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang
a. Negosiasi, yaitu cara untuk
bersengketa.
penyelesaian masalah melalui diskusi
(musyawarah) secara langsung antara
Untuk negosiasi dan mediasi
pihak-pihak yang bersengketa yang
dilakukan dengan mendiskusikan
hasilnya diterima oleh para pihak
perbedaan-perbedaan yang timbul di antara
tersebut. Jadi, negosiasi tampak sebagai
para pihak yang bersengketa melalui
suatu seni untuk mencapai kesepakatan
musyawarah untuk mufakat dengan
dan bukan ilmu pengetahuan yang
tujuan untuk mencapai win-win solution.
dapat dipelajari. Dalam praktik,
Untuk berhasilnya penyelesaian sengketa
negosiasi dilakukan karena 2 alasan,
tersebut sangat tergantung pada keinginan
yaitu : (1) untuk mencari sesuatu yang
dan itikad baik para pihak yang
baru yang tidak dapat dilakukannya
bersengketa.
sendiri, misalnya dalam transaksi jual
Sedangkan cara penyelesaian
beli, pihak penjual dan pembeli saling
sengketa dengan menggunakan arbitrase,
memerlukan untuk menentukan harga,
merupakan pilihan yang paling menarik,
dalam hal ini tidak terjadi sengketa;
khususnya bagi kalangan pengusaha.
dan (2) untuk memecahkan
Bahkan arbitrase dinilai sebagai suatu
perselisihan atau sengketa yang timbul
pengadilan pengusaha yang independen
diantara para pihak.
guna menyelesaikan sengketa yang sesuai
b. Mediasi, yaitu upaya penyelesaian
dengan keinginan dan kebutuhan mereka. 10
sengketa dengan melibatkan pihak
Kecenderungan untuk menyelesaikan
ketiga netral, yang tidak memiliki
sengketa melalui arbitrase terlihat pada
kewenangan mengambil keputusan,
pencantuman arbitrase clause (klausul
yang membantu pihak-pihak yang
arbitrase) dalam kontrak-kontrak bisnis.
bersengketa mencapai penyelesaian
(solusi) yang diterima oleh kedua belah
pihak. Jika dicermati pengaturan
tentang mediasi berdasarkan UU No.
@ 9
30 Tahun 1999 sangat kurang memadai, ) & ) (3 )
sehingga memicu dikeluarkannya * , ) @
peraturan terkait seperti Peraturan (3 ) ") ) ,) $
@ ) # ? + +

65
* ' &1 %& $' pertukaran informasi, dan interaksi diantara
(% $ & , $ , $ $ para pihak pelaku negosiasi.
Menurut Garry Goodpaster,
Menghadapi tantangan penyelesaian
dikatakan meskipun mekanisme negosiasi
sengketa dagang era perdagangan bebas
sangat kompleks dan beragam, namun
(global market and competition) di masa
secara esensial ada tiga strategi dasar
datang, tidak ada cara lain, bangsa
negosiasi yaitu : 11
Indonesia perlu mencari sistem
penyelesaian sengketa model ADR sebagai 1). Bersaing (competiting);
alternatif penyelesaian sengketa di luar Negosiasi dengan cara bersaing atau
pengadilan dan mengembangkan metode kompetitif, disebut juga hard
serta cara-cara penyelesaiannya. Dunia bargaining (tawar-menawar bersike-
bisnis perlu mengkaji dan mengembangkan ras), distributif, posisional, zero-sum
berbagai bentuk ADR termasuk bargaining (menang tawar-menawar
mekanismenya yang diselaraskan dengan sebesar kekalahan pihak lawan) atau
kebutuhan penyelesaian sengketa dagang di win-lose bargaining (tawar-menawar
Indonesia, sehingga terdapat pemahaman menang kalah). Negosiasi bersaing
masyarakat mengenai manfaat dan mempunyai maksud memaksimalisasi
kelebihan negosiasi, mediasi dan arbitrase keuntungan yang didapat pelaku
dalam menyelesaikan sengketa. tawar-menawar kompetitif terhadap
Mekanisme penyelesaian sengketa pihak lain, yaitu untuk mencari
yang dimaksud di sini mengenai tata cara kemenangan, berupaya mendapatkan
atau proses penyelesaian sengketa melalui harga termurah, laba yang besar, biaya
nonlitigasi (negosiasi, mediasi dan arbitrase) rendah, persyaratan yang lebih
dan lika-likunya, seperti misalnya strategi menguntungkan dibandingkan dengan
dan tekniknya dari proses awal sampai pihak lain.
diperoleh putusan akhir. Cara tersebut akan 2). Kompromi (compromising);
diuraikan sebagaimana berikut ini : Strategi negosiasi kompromi disebut
juga soft bargaining (negosiasi lunak),
' &1 + %& & $' win-some-lose-some (mendapat dengan
, $ $(& & member) atau take and give bargaining.
Negosiasi sebagai sarana bagi para Hal ini berarti bahwa salah satu pihak
pihak yang bersengketa, untuk mendis- harus memberi ganti atas beberapa
kusikan penyelesaiannya tanpa keterlibatan yang diinginkan agar mendapat
pihak ketiga sebagai penengah, sehingga sesuatu. Pada prinsipnya satu pihak
tidak ada prosedur baku, akan tetapi harus mengorbankan sesuatu untuk
prosedur dan mekanismenya diserahkan mendapatkan kesepakatan, negosiator
kepada kesepakatan para pihak yang tidak mendapatkan semua yang
bersengketa tersebut. Penyelesaian sengketa diinginkannya, tetapi hanya sebagian.
sepenuhnya dikontrol oleh para pihak, 3). Kolaborasi pemecahan masalah
sifatnya informal, yang dibahas adalah (problem solving).
berbagai aspek, tidak hanya persoalan Negosiasi berkolaborasi pemecahan
hukum saja. masalah (problem solving) disebut juga
Supaya negosiasi dapat berhasil negosiasi integratif atau kepentingan
dengan baik dan memuaskan para pihak, (positive-sum atau win-win). Strategi ini
maka seorang negosiator harus meng-
gunakan strategi dan taktik. Strategi-strategi
@ @ )9 $A $ ) 9
negosiasi merupakan cara dasar dalam / ) & 4
mengendalikan hubungan kekuatan, (3 ) ,) @ ,) .
+ +

0 ) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
para pihak bertujuan memenuhi siapa yang bertanggung jawab
kepentingan sendiri , juga kepentingan menyediakan penerjemah. Selanjutnya
pihak mitra untuk memaksimalkan dilakukan simulasi (simulated role
keuntungan, para pihak harus playing), hal ini sangat bermanfaat
berkolaborasi guna menyelesaikan dalam mempersiapkan strategi
problem dari penemuan tindakan bernegosiasi.
bersama yang dapat mereka lakukan 2). Tahap tawaran awal (opening gambit)
guna memenuhi kepentingan masing- Dalam tahap ini seorang perunding
masing. melakukan strategi tentang siapa yang
Terdapat beberapa hal yang sangat harus lebih dahulu menyampaikan
mempengaruhi jalannya negosiasi, yaitu : tawaran, bagaimana menyikapi
(1) kekuatan tawar-menawar; (2) pola tawar- tawaran awal tersebut. Apabila ada dua
menawar; (3) strategi dalam tawar- tawaran dalam perundingan, biasanya
menawar. 12 Melakukan negosiasi untuk midpoint (titik diantara dua tawaran)
menyelesaikan sengketa harus melalui merupakan solusi atau kesepakatan,
tahapan-tahapan sebagaimana pendapat sebelum midpoint dijadikan kese-
Howard Raiffa (seperti dikutip oleh Suyud pakatan hendaknya dibandingkan
Margono) sebagai berikut : 13 dengan level aspiration para pihak.
3). Tahap pemberian konsesi (the negotiated
1). Tahap persiapan
dance)
Dalam mempersiapkan perundingan,
Konsesi yang harus dikemukakan
hal pertama yang harus dipersiapkan
tergantung pada konteks negosiasi dan
adalah apa yang dibutuhkan/
konsesi yang diberikan oleh pihak
diinginkan. Dengan kata lain,
lawan. Seorang perunding harus
negosiator harus mengenali dulu
melakukan kalkulasi yang tepat
kepentingan sendiri sebelum mengenali
tentang agresifitas, seperti bagaimana
kepentingan pihak lain, misalnya
menjaga hubungan baik dengan pihak
seberapa terbukanya informasi yang
lawan, empati terhadap pihak lawan,
harus diberikan, dimana perundingan
dan fairness. Negosiator mempunyai
akan dilaksanakan, apa sasaran yang
peranan penting dalam konsesi dan
diinginkan. Tahap ini sering
menjaga posisi tawar sampai pada
diistilahkan dengan know yourself.
tingkat yang diinginkan.
Dalam tahap persiapan ini, juga perlu
menelusuri berbagai alternatif lainnya, 4). Tahap akhir permainan (end play)
apabila alternatif terbaik atau maksimal Tahap akhir permainan ini meliputi
tidak tercapai atau disebut BATNA pembuatan komitmen atau
(Best Alternative To A Negotiated membatalkan komitmen yang telah
Agreement). Dalam tahap ini perlu juga dinyatakan sebelumnya.
menentukan hal-hal yang bersifat Lebih lanjut Howard Raiffa
logistik, seperti siapa yang harus menyatakan, agar suatu negosiasi dapat
bertindak sebagai perunding, perlukah berlangsung secara efektif dan mencapai
menyewa perunding yang mempunyai kesepakatan yang bersifat stabil, ada
ketrampilan khusus, apabila perun- beberapa kondisi yang mempengaruhinya,
dingan bersifat internasional bahasa di antaranya sebagai berikut :
apakah yang akan digunakan serta
1). Pihak-pihak bersedia bernegosiasi
,3)+
secara sukarela berdasarkan kesadaran
&0 ) 2 $ ( ) : : penuh (willingness);
' 3) " : & 8)# 8
2). Pihak-pihak siap melakukan negosiasi
- ) )" 9+:+ + -. +

65 2
(preparedness); saling ketergantungan (relative equal
3). Mempunyai wewenang mengambil bargaining power);
keputusan (authoritative); 5). Mempunyai kemauan menyelesaikan
4). Memiliki kekuatan yang relatif masalah.
seimbang sehingga dapat menciptakan

Gambar 1
Mekanisme Negosiasi
(Menurut UU No. 30 Tahun 1999)

- ' &1 %& $' (3) mediator assists parties in drafting


$ , & agreement. 14
Seperti halnya penyelesaian sengketa Dalam mekanisme penyelesaian
melalui negosiasi, maka penyelesaian sengketa menggunakan mediasi perlu
sengketa melalui mediasi juga memiliki dikemukakan mengenai peran dan fungsi
beberapa tahapan yang harus dilalui. mediator sebagaimana yang dikemukakan
Menurut Jacqueline M. & Nolan-Haley ada oleh Raiffa yaitu sisi peran yang terlemah
beberapa tahapan yang harus dilakukan hingga sisi peran yang terkuat. Sisi peran
dalam mediasi, yaitu : (1) screening; (2) terlemah adalah apabila mediator hanya
mediator describes process and role of mediator;
)" B9+ ' + +. . +

3 ) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
melaksanakan perannya, yakni : 15 yang satu kepada pihak lainnya melalui
1) Penyelenggara pertemuan; bahasa atau ungkapan yang enak
2) Pemimpin diskusi netral; didengar oleh pihak lainnya, tanpa
3) Pemelihara atau penjaga aturan mengurangi sasaran yang dicapai oleh
perundingan agar proses perundingan pengusul.
berlangsung secara beradab; 4) Sebagai narasumber (resource person),
4) Pengendali emosi para pihak; berarti seorang mediator harus
5) Pendorong pihak/ perunding yang mendayagunakan sumber-sumber
kurang mampu atau segan informasi yang tersedia.
mengemukakan pandangannya. 5) Sebagai penyandang berita jelek (bearer
of bad news), berarti seorang mediator
Sisi peran yang kuat oleh mediator harus menyadari, bahwa para pihak
bila dalam perundingan adalah dalam proses perundingan dapat
mengerjakan/melakukan hal-hal dianta- bersikap emosional, maka mediator
ranya : harus mengadakan pertemuan terpisah
1) Mempersiapkan dan membuat notulen dengan pihak-pihak untuk menam-
perundingan; pung berbagai usulan.
2) Merumuskan titik temu/ kesepakatan 6) Sebagai agen realitas (agent of reality),
para pihak; membantu para pihak agar berarti mediator harus berusaha
menyadari, bahwa sengketa bukan memberi pengertian secara terang
sebuah pertarungan untuk dime- kepada salah satu pihak bahwa
nangkan, tapi diselesaikan; sasarannya tidak mungkin/ tidak
3) Menyusun dan mengusulkan alternatif masuk akal untuk dicapai melalui
pemecahan masalah; perundingan.
4) Membantu para pihak menganalisis 7) Sebagai kambing hitam (scapegoat),
alternatif pemecahan masalah. berarti seorang mediator harus siap
disalahkan, misalnya dalam membuat
Menurut Fuller sebagaimana dikutip
kesepakatan hasil perundingan.
oleh Suyud Margono, menyebutkan 7
(tujuh) fungsi mediator, yakni : 16 Lebih lanjut, mekanisme mediasi
sebenarnya tergantung pada situasi sosial
1) Sebagai katalisator (catalyst) mengan-
dan budaya masyarakat dimana para pihak
dung pengertian bahwa kehadiran
berada. Secara garis besar dapat
mediator dalam proses perundingan
dikemukakan tahapan-tahapan mediasi
mampu mendorong lahirnya suasana
sebagai berikut :
yang konstruktif bagi diskusi.
2) Sebagai pendidik (educator) berarti 1) Tahap pembentukan forum.
seorang mediator harus berusaha Pada awal mediasi, sebelum rapat
memahami aspirasi, prosedur kerja, antara mediator dan para pihak,
keterbatasan politis dan kendala usaha mediator menciptakan atau
dari para pihak. Oleh sebab itu, ia membentuk forum. Setelah forum
harus berusaha melibatkan diri dalam terbentuk, diadakan rapat bersama.
dinamika perbedaan diantara para Mediator memberi tahu kepada para
pihak. pihak mengenai bentuk dari proses,
3) Sebagai penerjemah (translator), berarti menjelaskan aturan dasar, bekerja
mediator harus berusaha menyampai- berdasar hubungan perkembangan
kan dan merumuskan usulan pihak dengan para pihak dan mendapat
kepercayaan sebagai pihak netral, dan
.
,
3) + ..+
melakukan negosiasi mengenai
?
,
3) + .?+ wewenangnya dengan para pihak,

65
menjawab pertanyaan para pihak, bila kesimpulan atas penyajian masing-
para pihak sepakat melanjutkan masing pihak, mengulangi fakta-fakta
perundingan, para pihak diminta esensial menyangkut setiap perspektif
komitmen untuk mentaati aturan yang atau patokan mengenai sengketa.
berlaku. 3) Tahap ketiga, merupakan tahap
2) Tahap kedua: pengumpulan dan penyelesaian masalah.
pembagian informasi. Selama tahap tawar-menawar atau
Setelah tahap awal selesai, maka perundingan penyelesaian problem,
mediator meneruskannya dengan mediator bekerja dengan para pihak
mengadakan rapat bersama, dengan secara bersama-sama dan terkadang
meminta pernyataan atau penjelasan terpisah, menurut keperluannya, guna
pendahuluan pada masing-masing membantu para pihak merumuskan
pihak yang bersengketa. Pada tahap permasalahan, menyusun agenda
informasi, para pihak dan mediator untuk membahas masalah dan
saling membagi informasi dalam acara mengevaluasi solusi. Pada tahap ketiga
bersama dan secara sendiri-sendiri ini terkadang mediator mengadakan
saling bagi informasi dengan mediator, caucus dengan masing-masing dalam
dalam acara bersama. Apabila para mediasi. Suatu caucus merupakan
pihak setuju meneruskan mediasi, pertemuan sendiri para pihak pada
mediator kemudian mempersilakan satu sisi atau suatu pertemuan sendiri
masing-masing pihak menyajikan antara para pihak pada satu sisi dengan
versinya mengenai fakta dan patokan mediator. 17 Mediator menggunakan
yang diambil dalam sengketa tersebut. caucus (bilik kecil) untuk mengadakan
Mediator boleh mengajukan pertemuan pribadi dengan para pihak
pertanyaan untuk mengembangkan secara terpisah, dalam hal ini mediator
informasi, tetapi tidak mengijinkan dapat melakukan tanya jawab secara
pihak lain untuk mengajukan mendalam dan akan memperoleh
pertanyaan atau melakukan interupsi informasi yang tidak diungkapkan
apapun. Mediator memberi setiap pada suatu kegiatan mediasi bersama.
pihak dengar pendapat mengenai Mediator juga dapat membantu suatu
versinya atas sengketa tersebut. pihak untuk menentukan alternatif-
Mediator harus melakukan kualifikasi alternatif untuk menyelesaikannya,
fakta yang telah disampaikan, karena mengeksplorasi serta mengevaluasi
fakta yang disampaikan para pihak pilihan-pilihan, kepentingan dan
merupakan kepentingan-kepentingan kemungkinan penyelesaian secara lebih
yang dipertahankan oleh masing- terbuka. Apabila mediator akan
masing pihak agar pihak lain mengadakan caucus, harus menjelaskan
menyetujuinya. Para pihak dalam penyelenggaraan caucus ini kepada
menyampaikan fakta memiliki gaya para pihak, menyusun perilaku
dan versi yang berbeda-beda, ada yang mediator sehubungan dengan caucus
santai, ada yang emosi, ada yang tidak yang mencakup kerahasiaan yaitu
jelas, ini semua harus diperhatikan oleh mediator tidak akan mengungkapkan
mediator. Kemudian dilanjutkan apapun pada pihak lain, kecuali sudah
dengan diskusi terhadap informasi diberi wewenang untuk itu. Hal ini
yang disampaikan oleh masing-masing untuk menjaga netralitas dari mediator
pihak, untuk mengukuhkan bahwa dan akan memperlakukan yang sama
mediator telah mengerti para pihak, pada para pihak.
mediator secara netral membuat
5
@ @ )9 B9+ ' + + ?+

0! ) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
4) Tahap pengambilan keputusan. mereka setujui atau sepakati. Akhirnya
Dalam tahap ini para pihak saling para pihak yang sepakat berhasil
bekerja sama dengan bantuan mediator membuat keputusan bersama, yang
untuk memilih solusi yang dapat kemudian dituangkan dalam bentuk
disepakati bersama atau setidaknya perjanjian. Mediator dapat membantu
solusi yang dapat diterima terhadap untuk menyusun ketentuan-ketentuan
masalah yang diidentifikasi. Setelah yang akan dimuat dalam perjanjian
para pihak mengidentifikasi solusi agar seefisien mungkin, sehingga tidak
yang mungkin, para pihak harus ada keuntungan para pihak yang
memutuskan sendiri apa yang akan tertinggal di dalam perundingan.

Gambar 2
Mekanisme Mediasi
(Menurut UU No. 30 Tahun 1999)

. ' &1 %& $' umum tidak jauh berbeda dengan proses
$ - & pemeriksaan perkara di pengadilan. Karena
Mekanisme penyelesaian sengketa baik arbitrase maupun litigasi sama-sama
dengan arbitrase pada hakekatnya secara merupakan mekanisme adjudikatif, yaitu

65 0#
pihak ketiga yang dilibatkan dalam secara sukarela maupun dengan paksa
penyelesaian sengketa tersebut sama-sama melalui eksekusi oleh Pengadilan negeri.
mempunyai kewenangan memutuskan Setelah dikeluarkannya UU No. 30
sengketa tersebut. Arbitrase termasuk Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
adjudikatif privat sedangkan litigasi Penyelesaian Sengketa, maka secara lex
termasuk adjudikatif public. Sehingga baik generalis ketentuan mengenai penyelesaian
arbitrase maupun litigasi sama-sama sengketa nonlitigasi adalah berdasarkan UU
bersifat win-lose solution. No. 30 Tahun 1999 termasuk arbitrase.
Meskipun demikian pada umumnya Adapun mekanisme arbitrase menurut UU
dalam dunia bisnis orang lebih memilih No. 30 Tahun 1999 adalah sebagai berikut :
arbitrase karena memiliki beberapa
a) Permohonan arbitrase dilakukan dalam
keunggulan daripada cara litigasi, seperti
bentuk tertulis dengan cara
jaminan kerahasiaan/pemeriksaan dilaku-
menyampaikan surat tuntutan kepada
kan tertutup, menghindari kelambatan
arbiter atau majelis arbitrase yang
prosedural administrasi, mempunyai
memuat identitas para pihak, uraian
kebebasan memilih arbiter, bebas
singkat tentang sengketa yang disertai
menentukan pilihan hukum, dan tempat
dengan lampiran bukti-bukti dan isi
penyelenggaraan serta pelaksanaan putusan
tuntutan yang jelas. Kemudian surat
arbitrase, serta putusan arbitrase bersifat
tuntutan dan surat permohonan
final dan berkekuatan hukum tetap.
tersebut disampaikan kepada termohon
Berdasarkan UU No. 30 Tahun 1999,
yang disertai perintah untuk
pada prinsipnya mekanisme penyelesaian
memberikan tanggapan dan jawaban
sengketa dengan arbitrase adalah melalui
dalam waktu 14 (empat belas) hari
tiga tahapan, yaitu : tahap persiapan atau
sejak diterimanya tuntutan oleh
pra pemeriksaan, tahap pemeriksaan atau
termohon, selanjutnya diteruskan
penentuan dan tahap pelaksanaan. Tahap
kepada pemohon. Bersamaan dengan
persiapan adalah tahap untuk memper-
itu, arbiter atau ketua majelis arbitrase
siapkan segala sesuatunya guna sidang
memerintahkan kepada para pihak
pemeriksaan perkara. Tahap persiapan
untuk menghadap di muka sidang
antara lain meliputi :
arbitrase dalam waktu 14 (empat belas)
1) Persetujuan arbitrase dalam dokumen
hari terhitung sejak dikeluarkannya
tertulis;
surat perintah tersebut.
2) Penunjukan arbiter;
b) Pemeriksaan sengketa arbitrase harus
3) Pengajuan surat tuntutan oleh
dilakukan secara tertulis, kecuali
pemohon;
disetujui para pihak maka pemeriksaan
4) Jawaban surat tuntutan oleh termohon;
dapat dilakukan secara lisan. Semua
5) Perintah arbiter agar para pihak
pemeriksaan sengketa oleh arbiter atau
menghadap sidang arbitrase.
majelis arbitrase dilakukan secara
Tahap kedua adalah tahap tertutup. Jumlah arbiter harus ganjil,
pemeriksaan, yaitu tahap mengenai jalannya penunjukan 2 (dua) arbiter dilakukan
sidang pemeriksaan perkara, mulai dari oleh para pihak yang memiliki
awal pemeriksaan peristiwanya, proses wewenang untuk memilih dan
pembuktian, sampai dijatuhkannya putusan menunjuk arbiter yang ketiga yang
oleh arbiter. Selanjutnya adalah tahap nantinya bertindak sebagai ketua
pelaksanaan sebagai tahap terakhir, yaitu majelis arbitrase. Arbiter yang telah
tahap untuk merealisasi putusan arbiter menerima penunjukan tersebut tidak
yang bersifat final dan mengikat. dapat menarik diri, kecuali atas
Pelaksanaan putusan dapat dilakukan persetujuan para pihak.

0* ) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
Gambar 3
Mekanisme Arbitrase
(Menurut UU No. 30 Tahun 1999)

c) Dalam sidang pertama diusahakan sejak arbiter atau majelis arbitrase


perdamaian, bila dicapai kesepakatan terbentuk. Jangka waktu ini dapat
maka arbiter atau majelis arbitrase diperpanjang dengan persetujuan para
membuat suatu akta perdamaian yang pihak apabila diperlukan.
sifatnya final dan mengikat para pihak d) Atas perintah arbiter atau majelis
dan memerintahkan untuk memenuhi arbitrase atau atas permintaan para
ketentuan perdamaian tersebut. Jika pihak dapat dipanggil seorang atau
usaha perdamaian tidak berhasil, maka lebih saksi atau saksi ahli untuk
pemeriksaan terhadap pokok sengketa didengar kesaksiannya yang sebe-
akan dilanjutkan. Pemeriksaan atas lumnya disumpah. Saksi atau saksi ahli
sengketa harus diselesaikan dalam tersebut dapat memberikan keterangan
waktu 180 (seratus delapan puluh) hari tertulis atau didengar keterangannya di

65 0/
muka sidang arbitrase yang dihadiri tepat, karena arbitrase termasuk alternatif
oleh para pihak atau kuasanya. penyelesaian sengketa juga.
e) Putusan arbiter atau majelis arbitrase Dengan demikian, alternatif
diambil berdasarkan ketentuan hukum penyelesaian sengketa berdasarkan undang-
atau berdasarkan keadilan dan undang bertindak sebagai lembaga
kepatutan, putusan tersebut harus independen di luar arbitrase, dan arbitrase
diucapkan dalam waktu paling lama 30 oleh undang-undang mempunyai
(tiga puluh) hari setelah pemeriksaan ketentuan, cara dan syarat-syarat tersendiri
ditutup. Putusan arbitrase bersifat final, untuk pemberlakuan formalitasnya, namun
mempunyai kekuatan hukum tetap dan kedua-duanya terdapat kesamaan mengenai
mengikat para pihak. Selanjutnya bentuk sengketa yang dapat diselesaikan,
putusan tersebut didaftarkan kepada yaitu :
kepaniteraan Pengadilan Negeri a. sengketa atau beda pendapat secara
setempat. perdata di bidang perdagangan; dan
b. menurut perundang-undangan, seng-
Penyelesaian sengketa melalui
keta atau beda pendapat tersebut dapat
arbitrase dapat juga dilakukan dengan
diajukan dengan upaya damai
menggunakan lembaga arbitrase nasional
(perdamaian).
atau internasional berdasarkan kesepakatan
para pihak, yang dilakukan menurut Terdapat perbedaan mekanisme
peraturan dan acara dari lembaga yang penyelesaian sengketa nonlitigasi dalam
dipilih, kecuali ditetapkan lain. sengketa perdagangan, antara lembaga
arbitrase dengan penyelesaian sengketa
alternatif lainnya yaitu negosiasi dan
mediasi. Mekanisme penyelesaian sengketa
Undang-undang Nomor 30 Tahun
melalui arbitrase telah tersusun secara
1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
formal dan sistematis, sehingga para pihak
Penyelesaian Sengketa (UUAAPS), Pasal 1
tidak mempunyai keleluasaan untuk
butir 10 menyebutkan Alternatif
membuat proses beracara sendiri. Proses
Penyelesaian Sengketa adalah lembaga
beracara pada lembaga arbitrase di
penyelesaian sengketa atau beda pendapat
Indonesia telah diatur dalam UU No. 30
melalui prosedur yang disepakati para
Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
pihak, yakni penyelesaian di luar
Penyelesaian Sengketa, sedangkan beracara
pengadilan dengan cara konsultasi,
melalui negosiasi dan mediasi, mekanisme
negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian
pelaksanaannya diserahkan pada
ahli. Pengaturan alternatif penyelesaian
kesepakatan para pihak yang bersengketa
sengketa telah membuat seolah-olah
dengan dibantu oleh pihak ketiga yang
arbitrase bukanlah Alaternatif Penyelesaian
netral sebagai penengah atau fasilitator.
Sengketa (APS), walaupun demikian
arbitrase tetap merupakan bagian dari
4
alternatif penyelesaian sengketa (APS).
Mengikuti alur pikir dari penyusun '
undang-undang, pembedaan semacam itu Abdul Halim Barkatullah, Bentuk
adalah wajar. Pembuat undang-undang Perlindungan Hukum Bagi
berpikir bahwa alternatif penyelesaian Konsumen Dalam Penyelesaian
sengketa/ APS dilakukan oleh para pihak Sengketa Transaksi Elektronik
sendiri baik dengan atau tanpa bantuan dari Internasional Menurut UU No. 1
pihak ketiga. Namun dalam pengertian Tahun 2008. Jakarta : Jurnal Hukum
yang lain apa yang ditentukan oleh Bisnis, Vol. 29 No. 1, 2010.
pembuat undang-undang tersebut kurang

0 ) " ) *) )
/0 $ " 1*+ 2 &
Bambang Sutiyoso, Hukum Arbitrase Dan Resolution/ ADR). Jakarta : Indonesian
Alternatif Penyelesaian Sengketa. Center for Environment Law, 1995.
Yogyakarta : Gama Media, 2008. Yusuf Shofie, Penyelesaian Sengketa Konsumen
Garry Goodpaster, Tinjauan Terhadap Menurut UUPK Teori dan Praktik
Penyelesaian Sengketa. Jakarta : Penegakan Hukum. Bandung : PT Citra
Ghalia Indonesia, 1995. Aditya Bakti, 2003.
Gatot Soemartono, Persoalan Pilihan-pilihan
Pengadilan, Hukum, dan Arbitrase , $" , $
Dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang
Internasional. Jakarta : PT Gramedia Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Pustaka Utama, 2006. Sengketa.
Howard Raiffa, The Art and Science of Rules and Prosedure Badan Arbitrase
Negotiation. Masschusetts : Harvard Nasional Indonesia.
University Press, 1982.
I Wayan Wiryawan & I Ketut Artadi, ' %)
Penyelesaian Sengketa Di Luar
Priyatna Abdurrasyid, Penyelesaian Sengketa
Pengadilan. Denpasar -Bali : Udayana
Perdagangan Internasional Di Luar
University Press, 2010.
Pengadilan, makalah Seminar Nasional
Mas Achmad Santoso, Mekanisme Hukum Bisnis, Fakultas Hukum
Penyelesaian Sengketa Lingkungan UKSW, Salatiga, 1996.
Secara Kooperatif (Alternative Dispute

65 0