Anda di halaman 1dari 47

BAB 1

PENDAHULUAN
Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
- Menjelaskan tentang Ilmu Lingkungan, Ilmu Kimia dan Kimia Lingkungan
- Menjelaskan tentang siklus Nitrogen, siklus air, siklus karbon dan siklus oksigen
- Menyebutkan penyebab terjadinya penurunan kualitas lingkungan
- Menjelaskan tentang polutan dan kontaminan

I.1 Pengertian Ilmu Lingkungan, Ilmu Kimia dan Kimia Lingkungan


Lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar kita yang meliputi
komponen benda mati (abiotik) dan benda hidup (biotik). Komponen abiotik meliputi air, udara,
dan tanah. Sedangkan semua makhluk hidup (manusia, hewan dan tumbuhan) termasuk
komponen biotik. Air, udara, tanah dan lingkungan hidup serta efek teknologi pada komponen
tersebut dikaji dalam Ilmu Lingkungan. Secara tradisional, Ilmu Lingkungan dibagi menjadi
beberapa kajian yaitu atmosfer, hidrosfer, geosfer dan biosfer.
Atmosfer merupakan lapisan udara tipis yang menyelimuti permukaan bumi. Fungsi
atmosfer adalah : Sumber gas-gas yang dibutuhkan untuk kehidupan, menjaga planet bumi dari
radiasi sinar ultraviolet (UV) dari matahari, menjaga suhu bumi dan berperan dalam siklus air.
Hidrosfer merupakan seluruh air yang ada di bumi termasuk air yang di daratan, laut, udara dan
yang terdapat pada makhluk hidup. Geosfer terdiri atas bagian bumi yang padat termasuk tanah.
Geosfer merupakan komponen yang mendukung kehidupan tanaman. Bagian dari geofer yang
secara langsung terlibat dalam proses lingkungan melalui kontak dengan atmosfer, hidrosfer dan
makhluk hidup adalah litosfer padat. Sedangkan biosfer merupakan semua benda hidup yang ada
di bumi. Hubungan antara atmosfer, hidrosfer, geosfer dan biosfer dapat digambarkan pada
gambar 1.1.
Materi mineral
Atmosfer partikulat, CO2, H2O Geosfer
CO2, O2,
Uap air Air, garam

Mineral,
N2, N terfiksasi, bahan baku,
CO2, O2, air, energi
Polutan

Presipitasi, uap Nutrisi, materi


air, siklus
Antrosfer
Organik
hidrologi, energi, Energi,
CO2, O2. Nitrogen

Biopolimer, pestisida,
Transportasi, toksikan, Rekayasa
Ca2+, bahan baku, genetika
HCO3- air industri

Biomasa, Nutrisi, Biosfer


Hidrosfer
H2O, CO2, O2

Gambar 1.1 Hubungan antara Atmosfer, geosfer, biosfer dan hidrosfer melalui antrosfer
(diambil dan dimodifikasi dari Manahan).

Ilmu lingkungan merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji interaksi yang komplek
yang terjadi antara daratan, perairan, atmosfer, makhluk hidup dan lingkungan antropogenik.
Ilmu lingkungan meliputi semua disiplin ilmu seperti Kimia, biologi, ekologi, sosiologi, dan
pemerintahan.
Ilmu Kimia memegang peranan penting dalam ilmu lingkungan. Ketika mendengar kata
Kimia, orang awam mungkin akan terbayang dengan zat-zat atau bahan-bahan yang
berbahaya, beracun, mudah meledak, mudah terbakar atau sifat-sifat yang menakutkan lainnya.
Padahal cakupan kimia lebih luas lagi dari apa yang selama ini dipikirkan oleh kebanyakan
orang. Ilmu Kimia atau disingkat saja Kimia merupakan cabang ilmu MIPA yang mempelajari
materi baik berupa struktur maupun komposisinya, serta perubahan-perubahan yang
menyertainya.
Materi adalah segala sesuatu yang memiliki masa dan menempati ruang. Semua yang ada
di sekitar kita memiliki masa dan menempati ruang. Sehingga, apabila kita melihat cakupan
kajian kimia seperti yang dijelaskan sebelumnya, maka semua yang ada di sekitar kita menjadi
kajian dari kimia. Jadi, kimia tidak sesempit seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.
Zat atau materi terkadang menimbulkan masalah apabila pemanfaatan atau penggunaanya
tidak tepat. Penggunaan bahan kimia yang keliru bisa merusak lingkungan termasuk manusia.
Kita bisa melihat dampak dari kerusakan lingkungan yang terjadi seperti banjir, tanah longsor,
dan yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dunia adalah pemanasan global. Zat atau materi yang
terkait dengan lingkungan dikaji di dalam suatu cabang ilmu Kimia yaitu Kimia Lingkungan.
Kimia Lingkungan merupakan salah satu cabang dari Ilmu Kimia yang membahas
tentang asal usul, transport, reaksi, efek, dan nasib suatu spesies kimia di lingkungan (air, udara,
tanah dan lingkungan hidup) dan pengaruhnya terhadap aktifitas manusia (Manahan, 2001).
Khusus tentang bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan termasuk makhluk hidup dikaji
dalam suatu cabang ilmu yaitu Toksikologi Lingkungan.

I.2. Materi dan Siklus materi


Lingkungan kita ini tidak statis akan tetapi selalu berproses. Tekanan fisik secara kontinu
akan mengubah bumi melalui kondisi cuaca, fenomena alam seperti gunung meletus akan
menghasilkan asap dan debu ke atmosfer yang kemudian akan kembali ke darat atau ke laut pada
jarak yang cukup jauh. Materi di alam semesta ini mengalami siklus yang berlangsung secara
alami. Gangguan terhadap salah satu tahap dalam siklus tersebut akan menyebabkan
ketidakseimbangan pada alam semesta. Beberapa contoh siklus materi adalah: Siklus air, Siklus
Nitrogen, Siklus Karbon dan lain-lain.
Atmosfer

Denitrifikasi Fiksasi Fiksasi Fiksasi


atmosfer industri biologi

N di material
organik

Tanah

Gambar 1.2 Siklus Nitrogen


Sebagian besar, udara terdiri atas gas nitrogen. Nitrogen bebas dapat diikat oleh makhluk
hidup terutama oleh tanaman kacang-kacangan dengan bantuan bakteri azetobakter. Mahluk
hidup akan melepaskan Nitrogen dalam bentuk gas amonia (NH3). Nitrogen dapat dilepas
kembali ke udara bebas melalui perubahan dari NH3 menjadi nitrit dan nitrat yang selanjutnya
mengalami denitrifikasi menjadi N2. Untuk lebih detail tentang siklus nitrogen dapat dilihat pada
gambar 1.2.

C di udara dalam bentuk


CO2, CH4 dan CO
isi
Fotosintes

Respirasi

Respirasi
Pembakaran

Fotosintesis

Samudra, laut, Biomasa, tanah,


karbonat terlarut, gambut
organik
Pelarutan
Deposisi

Erosi

Sedimen Batuan sedimen Bahan bakar fosil:


Batubara, minyak, gas

Gambar 1.3 Siklus Karbon (diambil dari John Wright)


Unsur karbon diperlukan oleh makhluk hidup untuk perkembangannya. Unsur karbon diambil
oleh tanaman dari udara bebas dalam bentuk gas karbondioksida (CO 2) yang digunakan untuk
fotosintesis. Karbon kemudian tersimpan dalam bentuk biomasa. Kandungan karbon juga bisa
tersimpan dalam tanah gambut. Karbon dalam makhluk hidup akan dilepaskan kembali ke udara
bebas melalui proses respirasi. Sedangkann karbon yang ada di dalam tanah dan tanah gambut
dapat dilepaskan kembali ke udara bebas melalui proses pembakaran. Siklus karbon secara detail
dapat dilihat pada gambar 1.3

Oksigen dikonsumsi
oleh gas dari gunng api

Respirasi oleh hewan

Konsumsi oksigen oleh


pembakaran bahan bakar Fotosintesis
fosil Pelapukan oksidatif
mineral-mineral

Gambar 1.4 Siklus Oksigen (diambil dari Manahan)

I.3. Penurunan kualitas lingkungan


Pertumbuhan jumlah penduduk dunia menjadi pemicu ketidakseimbangan lingkungan.
Jumlah penduduk yang meningkat menuntut pemenuhan kebutuhan yang juga semakin besar
misal pemenuhan tempat tinggal, makanan dan lain-lain yang terkait dengan lingkungan. Hal ini
menyebabkan kualitas lingkungan menjadi menurun. Ketersediaan air bersih semakin
berkurang. Peningkatan jumlah penduduk juga menyebabkan jumlah gas karbondioksida (CO2)
yang dihasilkan juga meningkat yang menyebabkan turunnya kualitas udara. Dengan kata lain,
jumlah limbah yang dihasilkan akan meningkat dengan semakin bertambahnya jumlah
penduduk. Limbah-limbah yang dihasilkan akan menimbulkan pencemaran lingkungan atau
istilah lainnya adalah semakin meningkatnnya polusi.
Kata polusi sudah sering kali kita dengar dan mungkin kita memiliki konsep tersendiri
tentang polusi. Definisi polusi menurut Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi
adalah: masuknya suatu zat atau energi ke dalam lingkungan yang dilakukan oleh manusia baik
secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan dampak buruk alam semesta yang
membahayakan kesehatan manusia atau mempengaruhi kegunaan lingkungan lainnya.
Sedangkan zat atau energi yang masuk tersebut kita kenal dengan sebutan polutan. Polutan
merupakan zat yang berada dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan keberadaan alamiahnya
akibat aktifitas manusia yang berdampak pada lingkungannya atau pada sesuatu yang bernilai
pada lingkungan tersebut.

Apakah kontaminan digolongkan polutan?.


Kontaminan termasuk golongan polutan apabila menyebabkan dampak buruk atau menyebabkan
penyimpangan dari kondisi normal penyusun suatu lingkungan.

Polutan berasal dari suatu sumber di mana sumber ini merupakan sesuatu yang sangat
penting karena secara logika, di sinilah tempat untuk menghilangkan polusi. Polutan yang
dilepaskan dari sumber akan diterima oleh reseptor. Reseptor merupakan segala sesuatu yang
terkena dampak dari polutan. Dampak dari polutan ini bisa terjadi pada semua kompartemen
lingkungan yaitu udara, tanah, air, dan makhluk hidup.
Latihan Soal-soal
1. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Lingkungan, Ilmu Kimia dan Kimia Lingkungan
2. Apakah yang dimaksud dengan materi
3. Coba jelaskan tentang siklus Nitrogen, siklus air, siklus karbon dan siklus oksigen!
4. Coba jelaskan penyebab terjadinya penurunan kualitas lingkungan akhir-akhir ini!
5. Apa yang dimaksud dengan polutan dan kontaminan
BAB 2
ATMOSFER

Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
- Menyebutkan fungsi atmosfer bagi keberlangsungan kehidupan di bumi
- Menyebutkan lapisan-lapisan atmosfer
- Menjelaskan karakteristik masing-masing lapisan atmosfer
- Menjelaskan tentang efek rumah kaca
- Menjelaskan tentang terjadinya lubang ozon

2.1 Pengertian atmosfer


Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelimuti permukaan bumi. Lapisan udara ini
batasnya tidak bisa ditentukan secara tepat. Atmosfer tersusun atas suatu sistem komplek yang
mengandung gas-gas dan partikel partikel padat yang bersifat sebagai fluida. Penyusun atmosfer
dihasilkan dari reaksi-reaksi kimia dan biokimia yang berlangsung di bumi. Keberadaan atmosfer
sangat penting artinya bagi keberlangsungan planet di bumi ini termasuk segala isinya.

2.2 Fungsi atmosfer


Lapisan atmosfer memiliki fungsi dalam melindungi planet bumi yaitu:
- Sebagai sumber (reservoir) gas-gas yang diperlukan untuk kehidupan di bumi
- Menjaga suhu bumi agar tetap moderat (tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah).
- Menyerap radiasi sinar ultraviolet yang membahayakan.
- Membawa energi dari dari ekuatorial
- Berperan sebagai jalur pergerakan fase uap dari air dalam siklus hidrologi.

2.3 Pembagian lapisan atmosfer


Lapisan atmosfer di bagi menjadi beberapa lapisan yaitu Troposfer, stratosfer, mesosfer,
eksosfer dan eksosfer atau termosfer atau ionosfer. Pada umumnya pembagian ini didasarkan
kepada variasi temperatur sebagai akibat kenaikan ketinggian.
Keterangan:
Termosfer
- Tekanan atmosfer akan
turun dengan kenaikan
ketinggian dari dasar laut.
Mesopause - Tekanan atmosfer
merupakan gaya gravitasi
Ketinggian (dalam Kilometer)

2
yang dihasilkan oleh masa
udara pada satu satuan
Mesosfer
udara secara langsung di
atasnya.
Stratopause
- Garis yang ditandai dengan
no.1 menunjukan
1
bagaimana tekanan udara
Stratosfer
berubah dengan kenaikan
ketinggian

Tropopause

Troposfer

Suhu (dalam Kelvin)

Gambar 2.1: Karakteristik lapisan atmosfer

Troposfer
Troposfer merupakan lapisan udara yang paling rendah dari permukaan bumi. Troposfer
memiliki rentang ketebalan dari 8 km di kutub bumi sampai 16 km di atas ekuatorial. Troposfer
bagian atas dibatasi oleh tropopause, yaitu suatu batas yang ditandai dengan suhu yang stabil. Di
atas troposfer terdapat lapisan stratosfer. Pada troposfer, suhu akan turun dengan kenaikan
ketinggian. Lapisan troposfer bawah lebih rapat dibandingkan lapisan yang berada di atasnya.
Hal ini dikarenakan adanya berat udara dari atas yang menekannya. Troposfer mengandung 75%
masa dari atmosfer yang sebagian besar disusun oleh Nitrogen (78%) dan oksigen (2%) dan
sebagian kecil gas-gas lainnya. Hampir semua uap air dan embun berada di lapisan troposfer.
Stratosfer
- Stratosfer merupakan lapisan utama kedua dari atmosfer yang terletak di atas troposfer dan
dipisahkan dari lapisan ini dengan lapisan tropopause.
- Wilayah atmosfer yang termasuk stratosfer adalah ketinggian sekitar 12 sampai 50 km
walaupun sebenarnya batas bawahnya cenderung lebih tinggi untuk yang dekat ekuator dan
lebih rendah untuk yang dekat kutub.
- Stratosfer merupakan suatu lapisan yang di tandai dengan kenaikan suhu dengan naiknya
ketinggian. Hal ini disebabkan oleh penyerapan sinar ultraviolet dari matahari oleh lapisan
ozon yang terdapat pada lapisan stratosfer.
- Pada bagian atas stratosfer, lapisan tipis udara menjaga suhu mendekati 0 oC.
- Profil suhu pada stratosfer tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang stabil dan di lapisan
ini tidak terjadi turbulansi udara seperti yang terjadi di troposfer. Konsekuensinya adalah
tidak terdapat awan atau bentuk cuaca yang lain di stratosfer.

Mesosfer
- Mesosfer (lapisan tengah) adalah lapisan tertinggi ketiga atmosfer yang berada di atas
troposfer dan stratosfer dan di bawah termosfer, dengan rentang wilayah ketinggian dari 50
km sampai 80 km di atas permukaan bumi.
- Mesosfer dipisahkan dari stratosfer oleh stratopause dan dari termosfer oleh mesopause.
- Suhu di lapisan mesosfer turun sampai sekitar -100oC dengan naiknya ketinggian.
- Mesosfer merupakan lapisan atmosfer yang paling dingin bahkan lebih dingin daripada suhu
terendah yang tercatat di antartika.
- Mesosfer merupakan lapisan di mana meteor akan terbakar ketika memasuki atmosfer bumi.

Ionosfer
- Ionosfer merupakan lapisan udara atmosfer yang terionisasi yang berada di atas 80 km dari
ketinggian 600 km atau lebih permukaan bumi
- Ionosfer tidak termasuk lapisan atmosfer yang lain
- Ionosfer menempati wilayah atmosfer bagian atas.sebagai termosfer.
- Pada lapisan ini, energi matahari sangat kuat yang menyebabkan molekul-molekul dan atom
akan pecah/terurai menjadi bentuk ion.
- Ionisasi molekul udara disebabkan oleh sinar ultraviolet dari sinar matahari dan kelebihan
sedikit partikel berenergi tinggi dari sinar matahari dan juga dari sinar kosmik.
- Keberadaan jumlah elektron bebas yang cukup banyak di lapisan ionosfer memungkinkan
perambatan gelombang elektromagnetik.
- Ionosfer merupakan lapisan udara tempat terjadinya aurora.

Termosfer
- Termosfer (lapisan panas) merupakan lapisan terluar atmosfer yang dipisahkan dari mososfer
oleh mesopause.
- Di dalam termosfer, suhu naik secara kontinu sampai di luar batas 1000 oC
- Beberapa molekul yang berada di lapisan termosfer menerima energi lebih dari matahari
menyebabkan lapisan menghangat sampai suhu tinggi tersebut.
- Suhu udara merupakan ukuran energi kinetik molekul bukan energi total yang disimpan oleh
udara.
- Karena udara di dalam termosfer sangat tipis, nilai suhu tersebut tidak dapat dibandingkan
dengan suhu pada troposfer atau stratosfer.
- Meskipun suhu terukur sangat tinggi, termosfer sebenarnya akan terasa sangat dingin
terhadap kita karena energi total dari sebagian kecil molekul udara yang ada di sana tidak
cukup untuk mentransfer panas ke kulit kita.

Eksosfer
- Eksosfer merupakan lapisan tertinggi atmosfer yang bersama-sama dengan ionosfer
membentuk lapisan termosfer.
- Eksosfer membentang sampai 10.000 km di atas permukaan bumi.
- Eksosfer merupakan batas atas atmosfer
- Atmosfer di sini menyatu dengan langit dalam udara yang sangat tipis.
- Atom udara dan molekul secara konstan meninggalkan eksosfer menuju langit
- Pada wilayah atmosfer ini, komponent utama yang ada adalah hidrogen dan helium dan
berada kerapatan yang sangat rendah.
- Eksosfer adalah wilayah orbit satelit bumi.
2.4 Efek Rumah Kaca
Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan hidup juga
meningkat dan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, aktifitas manusia mengalami peningkatan.
Peningkatan aktifitas manusia ini menyebabkan berdampak pada semakin banyaknya limbah
yang dibuang ke lingkungan terutama udara misalnya aktifitas industri dan kendaraan bermotor.
Salah satu zat yang banyak dihasilkan ke udara sebagai akibat aktifitas manusia adalah gas
karbondioksida (CO2).
Secara alami, gas CO2 sudah ada di atmosfer salah satunya dihasilkan dari pernapasan
makhluk hidup dan juga dari penguraian senyawa organik oleh mikroorganisme. Keberadaan
CO2 sangat diperlukan oleh makhluk hidup terutama tumbuhan untuk melakukan fotosintesis.
Akan tetapi, dengan semakin meningkatnya aktifitas manusia, jumlah CO 2 yang ada di udara
menjadi meningkat dan bahkan menimbulkan masalah bagi lingkungan.
Keberadaan gas CO2 yang cukup tinggi akan menyebabkan suhu permukaan bumi menjadi
meningkat. Sinar matahari yang masuk ke permukaan bumi akan terperangkap dan tidak dapat
meninggalkan permukaan bumi karena terhalang gas CO2 dan gas-gas lainnya. Efek ini disebut
dengan efek rumah kaca.
Istilah efek rumah kaca dipakai pada peristiwa ini karena sama dengan peristiwa yang terjadi
pada rumah kaca. Rumah kaca adalah rumah yang seluruh bagiannya terbuat dari kaca. Sinar
matahari yang masuk ke dalam rumah kaca tidak akan terperangkap dan tidak akan bisa keluar.
Akbibatnya, suhu di dalam rumah kaca akan meningkat. Sinar matahari yang masuk ke dalam
rumah kaca memiliki panjang gelombang dalam rentang uv visible. Setelah masuk ke dalam
rumah kaca, energi matahari tersebut berkurang, karena ada yang diserap. Akibatnya sinar
matahari tersebut panjang gelombangnya bertambah (energi berkurang) sehingga tidak bisa
keluar dari rumah kaca. Rumah kaca ini biasanya dipakai untuk menumbuhkan tanaman di
daerah yang memiliki empat musim yang suhunya relatif rendah.
Gas CO2 dalam hal ini bertindak sebagai kaca. CO2 bukanlah satu-satunya gas yang berperan
pada terjadinya efek rumah kaca. Ada beberapa gas yang juga berperan pada terjadinya peristiwa
efek rumah kaca yaitu Uap air (H2O), gas metana (CH4), gas NOx , HFCs (Hydrofluorocarbons),
PFCs (Perfluorocarbons) dan SF6 (Sulphur hexafluoride). Efek rumah kaca dari gas CH4, NOx,
HFCs, PFCs dan SF6 (satu molekul) lebih besar dibandingkan satu molekul CO 2. Akan tetapi
karena konsentrasi CO2 di udara lebih besar dibandingkan gas-gas tersebut, maka efek rumah
kaca yang dihasilkan dari CO2 lebih signifikan. Uap air juga berperan dalam terjadinya efek
rumah kaca. Walaupun efek rumah kaca yang ditimbulkan satu molekul uap air lebih kecil dari
satu molekul gas-gas tersebut, tetapi konsentrasi uap air di udara cukup besar sehingga efeknya
cukup signifikan (walaupun masih lebih kecil dibanding CO2). Efek rumah kaca yang
ditimbulkan oleh uap air dapat kita rasakan ketika cuaca mendung di mana banyak uap air di
udara yang berakibat suhu yang kita rasakan cukup panas. Gas-gas yang menyebabkan terjadinya
efek rumah kaca ini disebut dengan gas rumah kaca. Efek rumah kaca akan menyebabkan suhu
permukaan bumi akan meningkat. Peningkatan suhu permukaan bumi yang berlangsung secara
menyeluruh dan progresif dikenal dengan Pemanasan Global (Global Warming).

2.5 Lubang Ozon


Ozon merupakan molekul yang tersusun atas tiga atom oksigen dengan rumus kimia O3.
Ozon pertama kali terbentuk di permukaan bumi setelah oksigen dibebaskan oksigen antara 2000
dan 600 juta tahun yang lalu sebelum manusia pertama tercipta. Ozon merupakan gas yang
sangat penting apabila terbentuk di stratosfer. Akan tetapi, apabila terbentuk di permukaan bumi,
tempat tinggal makhluk hidup, ozon menjadi suatu polutan karena bersifat sebagai oksidator
(pengoksidasi) yang sifat merusak segala sesuatu yang dikenainya dan mengganggu sistem
pernapasan. Pada konsentrasi beberapa molekul tiap satu juta molekul udara (ppm = part per
million = per sejuta) terutama pada penderita asma dan gangguan pernapasan, ozon bersifat
mematikan.
Seperti yang disampaikan sebelumnya bahwa ozon pada stratosfer merupakan gas yang
sangat penting karena ozon dapat mencegah radiasi sinar ultraviolet (UV) panjang gelombang
pendek mencapai permukaan bumi dengan cara menyerapnya. Radiasi sinar UV panjang
gelombang pendek yang mencapai permukaan bumi akan merusak sel-sel penyusun tanaman dan
hewan. Kehidupan di muka bumi ini tidak akan berlangsung tanpa adanya ozon di stratosfer.
Secara alami, di stratosfer terjadi siklus pembentukan dan perusakan ozon. Siklus ini
berlangsung secara seimbang. Akhir-akhir ini keseimbangan reaksi pembentukan dan perusakan
ozon terganggu dengan masuknya senyawa-senyawa tertentu yang dihasilkankan oleh aktifitas
manusia. Senyawa-senyawa tertentu tersebut mengganggu proses pembentukan ozon di stratosfer
yang mengakibatkan penurunan konsentrasi ozon di suatu tempat/lokasi tertentu yang dikenal
dengan istilah Lubang Ozon. Konsentrasi ozon diukur dalam DU (Dobson Unit). Satu DU
didefinisikan sebagai 0,01 mm ketebalan ozon pada STP ketika semua ozon pada kolom udara di
atas suatu area dikumpulkan dan dibentangkan sepanjang seluruh area. Jadi 1 mm tebal ozon =
100 DU.

Soal-soal Latihan
1. Sebutkan fungsi atmosfer bagi keberlangsungan kehidupan di bumi!
2. Sebutkan lapisan-lapisan atmosfer yang menyelimuti bumi!
3. Jelaskan karakteristik dari masing-masing lapisan atmosfer!
4. Jelaskan proses terjadinya efek rumah kaca!
5. Jelaskan proses terjadinya lubang ozon!
BAB 3
PENCEMARAN UDARA

Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
- Membedakan antara pencemar primer dengan pencemar sekunder
- Menjelaskan contoh pencemar primer
- Menjelaskan sumber pencemar primer dan akibatnya terhadap makhluk hidup dan
lingkungan
- Menjelaskan proses terjadinya hujan asam

3.1 Polusi
Polusi merupakan dampak perubahan buruk di lingkungan kita yang memiliki efek yang
berbahaya bagi hewan, tanaman, dan kehidupan manusia. Zat atau material penyebab terjadinya
polusi disebut dengan polutan. Kelimpahan polutan di lingkungan lebih banyak dibandingkan
kelimpahannya secara alami. Hal ini dikarenakan aktifitas manusia yang cenderung
menghasilkan berbagai produk buangan. Misalnya: gas karbondioksida (CO2) secara alami sudah
terdapat di atmosfer yang diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan di lingkungan. Dengan
adanya aktifitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil untuk industri dan kendaraan
bermotor, yang menghasilkan gas CO2, maka gas CO2 yang ada di atmosfer menjadi berlimbah
dan akan bertindak sebagai gas rumah kaca.
Polusi udara sudah berlangsung pada zaman dulu akibat peningkatan penggunaan batu
bara. Efeknya baru disadari sekitar 700 tahun yang lalu di London yang berbentuk polusi asam.
Peristiwa ini menyebabkan Raja Edward I mengeluarkan undang-undang tentang antipolusi yang
membatasi penggunaan batubara sebagai pemanas domestik tahun 1273. Polusi udara menjadi
masalah yang serius selama revolusi industri di Inggris. Pada tahun 1952 terjadi bencana yang
disebut London Smog yang menewaskan lebih dari 4000 jiwa akibat akumulasi polutan udara
di kota London selama 5 hari.
Polusi udara mulai meningkat pada permulaan abad 20 dengan perkembangan sistem
transportasi dan penggunaan secara luas minyak bumi dalam skala besar. Polusi udara yang
disebabkan oleh gas buang menjadi masalah yang serius akhir-akhir ini negara-negara
berkembang termasuk di Indonesia.
Polusi udara berlangsung dikarenakan keberadaan partikel gas atau padatan yang
tidak dikehendaki di udara dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan
lingkungan. Polusi udara bisa akibatkan oleh aktifitas alam dan aktifitas manusia. Contoh
peristiwa alam yang dapat menyebabkan terjadinya polusi udara adalah letusan gunung berapi
yang akan menghasilkan debu, abu, gas belerang dan gas-gas lainnya. Contoh yang lain adalah
kebakaran hutan yang akan menyebabkan pelepasan ke atmosfer zat-zat yang terkandung di
dalam kayu dan juga peningkatan gas karbondioksida. Di samping karena peristiwa alam,
sumber polutan yang di udara berasal dari aktifitas manusia. Aktifitas manusia seperti industri,
transportasi, merokok dan pembakaran sampah menjadi hal yang potensial mencemari udara.
Polutan yang dilepaskan langsung dari sumbernya dan berefek langsung pada lingkungan disebut
dengan pencemar primer. Misalnya gas CO2 yang dihasilkan langsung oleh industri akan
berkontribusi langsung pada efek rumah kaca. Di samping itu, ada juga polutan yang dilepaskan
dari sumbernya akan mengalami reaksi di udara dan menghasilkan produk yang akan mencemari
lingkungan. Polutan ini namanya pencemar udara sekunder.

3.2 Pencemar Primer


Ada 7 polutan primer yang secara bersama-sama berperan pada 90% polusi udara yang
terjadi yaitu karbon oksida (CO dan CO2), timbal (Pb), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3),
belerang oksida (SOx), senyawa organik volatil, dan material partikulat tersuspensi.

a) Karbon monoksida dan karbondioksida


Karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan
bersifat beracun. Gas CO ini bisa menyebabkan gangguan kesehatan seperti: sakit kepala,
lemah mental, pusing, lemas, mual, meningkatkan kemudian menurunkan laju pernapasan
dan bisa menyebabkan pingsan. Gas ini dihasilkan ketika material organik (senyawa
hidrokarbon) seperti gas alam, batu bara dan kayu dibakar tidak sempurna (kekurangan
oksigen). Gas buang kendaraan bermotor adalah penyumbang terbesar gas CO terutama
kendaraan-kendaraan yang sudah tua dan tidak melalui uji emisi kendaraan bermotor.
Karbon monoksida merupakan polutan yang tidak persisten dan dengan proses alam dapat
menyebabkan senyawa ini berubah menjadi senyawa lain yang tidak berbahaya. Akan tetapi,
apabila CO masuk ke dalam darah, CO akan berikatan denga hemoglobin sehingga akan
menghalangi darah untuk mengikat gas oksigen (O2). Akibatnya tubuh akan kekurangan O2
dan akan mengganggu metabolisme tubuh.

Gas CO dihasilkan dari pembakaran senyawa hidrokarbon dalam keberadaan miskin oksigen.
Apabila keberadaan oksigen cukup, maka pembakaran senyawa hidrokarbon akan
menghasilkan gas CO2. Sebenarnya secara alami, gas CO2 sudah ada di alam yang dihasilkan
dari pernapasan makhluk hidup dan reaksi-reaksi kimia yang berlangsung secara alami.
Kelimpahan gas CO2 menjadi meningkat dengan adanya aktifitas manusia.

Keberadaan gas CO2 yang melebihi kondisinya normalnya akan berperan dalam terjadinya
efek rumah kaca di mana panas matahari yang sampai ke bumi akan terperangkap oleh gas-
gas rumah kaca seperti CO2.

b) Timbah (Pb
Timbal merupakan salah satu logam berat yang berupa padatan berwarna putih kebiruan.
Timbal memiliki bentuk seperti debu dan memiliki rentang warna dari gelap sampai keabuan.
Efek yang ditimbulkan apabila terekspos dengan timbal adalah: kondisi fisik menurun,
kelelahan, susah tidur, sakit kepala, sakit tulang dan otot, konstipasi,sakit perut dan nafsu
makan menurun.

Sebagian besar timbal dihasilkan dari gas buang kendaraan bermotor terutama kendaraan
bermotor yang menggunakan bensin yang ditambah aditif yaitu TEL (tetraethyl lead). TEL
merupakan senyawa organo timbal yang ditambahkan pada bensin untuk meningkatkan
angka oktan bensin.
CH3

CH2

H3C C Pb C CH3
H2 H2
CH2

CH3

Gambar 3.1 : Struktur TEL (tetraethyl lead)

c) Nitrogen Oksida (NOx)


Nitrogen oksida merupakan suatu gas beracun berwarna coklat kemerahan sampai coklat ke
gelapan dengan bau yang menyengat. Efek yang ditimbulkan oleh gas NOx adalah iritasi
pernapasan, batu, sakit kepala, sakit perut, sakit dada, inflamasi paru paru dan pneumonia.
Gas NOx juga sebagian besar dihasilkan dari gas buang industri dan kendaraan bermotor.
Gas NOx terbentuk dari pembakaran bahan bakar (minyak bumi) yang mengandung nitrogen.
Gas ini dapat menyebabkan terjadinya hujan asam (pencemar sekunder).

d) Ozon
Ozon (O3) merupakan gas yang apabila berada pada lapisan stratosfer sangat berperan
penting dalam melindungi kehidupan di bumi dari radiasi sinar ultra violet (UV). Ozon di
lapisan stratosfer akan menyerap radiasi sinar ultraviolet sehingga tidak akan sampai ke
permukaan bumi. Akan tetapi, ozon juga bersifat merugikan apabila berada pada lapisan
troposfer. Ozon merupakan oksidator yang kuat yang dapat merusak benda-benda yang
dikenainya. Gas ini akan menyebabkan batuk-batuk, nyeri dada, dan gangguan pernapasan.

Ozon yang berada pada lapisan troposfer (dekat dengan permukaan bumi) terbentuk dari
reaksi antara zat yang dihasilkan pada gas buang (industri atau kendaraan bermotor) yaitu
oksida dari nitrogen (NOx) dengan senyawa organik volatil (VOC = volatil organic carbon)
dengan keberadaan panas dan sinar matahari. Reaksi pembentukan ozon di lapisan troposfer
dapat dituliskan sebagai berikut:
VOC + NOx + Panas + Sinar matahari Ozon
e) Belerang Oksida (SO2)
Belerang dioksida merupakan gas yang tidak berwarna dan memiliki bau yang tidak enak.
SO2 akan menyebabkan beberapa keluhan pada manusia seperti iritasi tenggorongan dan paru
paru, akumulasi cairan di tenggorokan dan di paru paru atau pendarahan pada hidung.

Belerang dioksida dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung belerang
sehingga gas SO2 ini sebagian besar dihasilkan dari gas buang industri dan kendaraan
bermotor. SO2 juga berperan dalam pembentukan polutan sekunder yaitu hujan asam

f) Senyawa organik volatil (VOC = Volatil Organic Compound)


VOC merupakan senyawa hidrokarbon (mengandung unsur C dan H) yang mudah menguap.
Golongan senyawa ini masuk ke udara dari penguapan senyawa hidrokarbon yang
terkandung di dalam bahan bakar. Di samping itu, keberadaan senyawa hidrokarbon ini di
udara juga berasal dari sisa senyawa hidrokarbon di dalam bahan bakar yang tidak ikut
terbakar, penguapan pelarut, proses industri dan pembuangan limbah padat. Polutan yang
masuk ke udara ini bisa terbawa oleh hujan. Efeknya terhadap kesehatan manusia tidak
berlaku umum tetapi tergantung pada senyawanya masing-masing. VOC bersama sama
dengan gas NOx berperan pada pembentukan ozon di lapisan troposfer.

g) Material Partikulat (PM = Particulate matter)


Di atmosfer, material partikulat (PM) terdiri atas beberapa bentuk yaitu:
1) Asap
Kita bisa menentukan PM itu asap dari warnanya yang gelap atau reflektansinya ketika di
serap pada suatu filter. Asap memiliki ukuran di bawah 10-15m.
2) Material partikulat tersuspensi total (TSP = Total Suspended Particulate Matter). Material
ini memiliki ukuran sekitar 20m.
3) Material Partikulat berdiameter aerodinamik di bawah 10m (PM10)
Material ini merupakan partikel yang dapat terhirup ke dalam sistem pernapasan manusia.
4) Material Partikulat berdiameter aerodinamik di bawah 2,5m (PM2,5)
Material ini merupakan partikel yang mendekati atau sedikit lebih halus daripada debu
hisap yang banyak digunakan di kesehatan industri untuk mengidentifikasi debu yang
masuk paru-paru
PM dihasilkan dari kegiatan yang melibatkan perusakan tanah atau bahan baku yang terjadi
pada aktifitas industri yaitu proses penggalian, pembukaan area pertambangan, menuangkan,
aktifitas bangunan, pengerjaan dengan alat-alat berat atau karena tiupan angin pada
permukaan tanah terutama pada musim kemarau. Di samping itu, kegiatan pembakaran juga
menjadi salah satu penyebab timbulnya PM (terutama asap) yang masuk ke atmosfer.

3.3 Pencemar sekunder


Polutan yang dihasilkan dari sumbernya terkadang mengalami reaksi atau perubahan
menjadi senyawa atau zat lain yang juga memiliki sifat polutan. Polutan atau pencemar ini
dikenal dengan pencemar sekunder. Contohnya adalah hujan asam dan ozon. Pembentukan
pencemar sekunder melibatkan beberapa proses antara lain: dispersi, reaksi kimia, dan deposisi.

Tetesan
Reaksi
Ketinggian campuran

Hujan
angin
Dispersi
pembilasan
Transformasi Kimia
(fase gas)

Emisi Deposisi kering Deposisi basah

Gambar 3.2 Proes yang melibatkan emisi dan deposisi (diambil dari Harrison, 1999)

3.3.1 Hujan Asam


Air hujan bersifat sedikit asam (pH sekitar 5,5) meskipun tidak mengandung polutan. Hal
ini disebabkan adanya gas CO2 yang ada di atmosfer. Hujan asam adalah hujan yang memiliki
pH<5. Hujan asam ini memiliki beberapa efek buruk terhadap lingkungan termasuk manusia,
hewan dan tumbuhan.
Efek hujan asam terlihat pertama kali pada danau dan aliran sungai di Skandinavia yang
mengakibatkan punahnya ikan dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Penyebabnya merujuk
pada hujan asam yang disebabkan oleh gas SO2 dan NOx dan dalam hal ini, Inggris menjadi
negara yang dipersalahkan karena.
Kasus tentang efek hujan asam juga terjadi di Negara Jerman pada tahun 1980an dan di
batas timur negara Republik Ceko. Pada kasus ini hujan asam menyebabkan terjadinya
kerusakan hutan di mana pohon-pohon menjadi berwarna hitam. Kasus ini dikenal dengan The
Black Forest. Walaupun hujan asam dianggap sebagai penyebab kerusakan hutan ini, akan
tetapi hujan asam tidak semata-mata hanya disebabkan oleh hujan asama dan kasus ini masih
menjadi bahan perdebatan. Kerusakan hutan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti banjir
dan ketinggian tempat serta pada beberapa kasus , penyakit menjadi salah satu faktor.
Efek lain yang diakibatkan oleh hujan asam adalah kerusakan bangunan. Kasus ini terjadi
di Eropa, Amerika Utara dan Asia di mana polusi udara merusak bangunan yang memiliki nilai
sejarah. Kasus ini tercatat misalnya di Kota Krakow di Polandia, Akropolis di Atena dan Taj
Mahal di India. Diperkirakan SO2 akan bereaksi dengan kapur (CaCO3) membentuk gipsum
(CaSO4.H2O) yang lebih stabil dan mudah tercuci oleh air.
Penyebab utama terjadinya hujan asam adalah gas SO2 dan NOx yang melibatkan proses
dispersi, reaksi kimia dan deposisi. Gas SO2 dan NOx dihasilkan dari sisa pembakaran bahan
bakar terutama pada industri dan kendaraan bermotor. Peningkatan jumlah dan industri dan
kendaraan bermotor akan meningkatkan jumlah emisi SO2 dan NOx.
Gas SO2 dioksidasi di udara membentuk asam sulfat yang segera akan diserap oleh hujan.
Prosesnya berlangsung melalui berbagai mekanisme. Gas SO2 dioksidasi sebagian besar oleh
radikal hidroksida (OH*). Gas SO2 dapat larut di dalam tetesan awan menghasilkan SO2 terlarut,
ion bisulfit (HSO3-) dan ion sulfit (SO32-). Reaksi pembentukannya adalah sebagai berikut:

SO2 + H2O SO2.H2O KH = [SO2.H2O]/pSO2


SO2.H2O HSO3- + H+ K1 = [HSO3-][H+]/[SO2.H2O]
HSO3- SO32- + H+ K2 = [SO32-][H+]/[HSO3-]
Di mana KH adalah Konstanta Hendry, K1 dan K2 merupakan tetapan disosiasi pertama dan
kedua. Pada air hujan yang memiliki pH sekitar 3-6, sebagian besar SO2 larut sebagai ion
bisulfat. Total spesies terlarut (S(IV)) dirumuskan dengan:

(S(IV)) = [SO2.H2O] + [HSO3] + [SO32-]

Di dalam tetesan awan, S(IV) dapat dioksidasi oleh hidrogen peroksida (H2O2) dan Ozon (O3)
yang terlarut menjadi ion sulfat (SO42-). Di dalam udara yang sudah tercemar, logam-logam
seperti besi dan mangan bisa mengkatalisis oksidasi SO2 oleh O2 di dalam tetesan awan. Reaksi
ini sangat tergantung pada pH. Laju oksidasi akan meningkat dengan meningkatnya pH. Oksida
nitrogen yang dihasilkan pada proses pembakaran akan diubah menjadi asam nitrit di atmosfer,
terutama pada reaksi fase gas.
Selain gas SO2, polutan lain juga bisa memicu terjadinya hujan asam. Oksida nitrogen
yang dihasilkan selama pembakaran juga akan diubah menjadi hujan asam di atmosfer terutama
pada reaksi fase gas. Asam klorida yang terdapat pada pembangkit listrik pada konsentrasi
rendah, kontribusinya sangat kecil pada pembentukan hujan asam.
Proses alami seperti gunung meletus dan kebakaran hutan dapat melepaskan gas-gas yang
merupakan senyawa perantara spesies yang akan meningkatkan keasaman hujan asam. Di
samping itu, aktifitas plankton dan penguraian yang dilakukan mikroorganisme di laut dan tanah
akan menghasilkan spesies belerang tereduksi seperti hidrogen sulfida (H2S) dan dimetil sulfida,
(CH3)2S. Di atmosfer, spesies-spesies ini akan dioksidasi menjadi SO2. Proses alami lain yang
dapat meningkatkan keasaman hujan asam adalah keberadaan asam-asam organik lemah seperti
asam formiat dan asam asetat.
Aliran polutan dapat mencapai tempat yang cukup jauh yang disebut dengan LRTAP
(long-range transport of air pollutants) yang menjadi isu politik karena menyangkut negara lain
terutama negara yang berbatasan langsung.
Senyawa belerang di udara dapat dihilangkan melalui proses deposisi. Gas akan larut
dalam tetesan awan. Sementara itu, partikel debu akan bergabung ke dalam tetesan awan bisa
sebagai inti awan yang mengalami kondensasi (CNN= Cloud Condensation Nuclei) di sekitar
awan yang mengembang. Penggabungan partikel debu dan molekul gas ke dalam tetesan hujan
yang jatuh disebut dengan pencucian. Proses ini yang dirujuk sebagai deposisi basah. Sedangkan
deposisi kering melibatkan sedimentasi partikel dag gas pada suatu permukaan.

3.3.2 Ozon
Ozon merupakan salah satu pencemar udara sekunder dan penyusun utama asbut (asap
kabut) fotokimia pada lapisan troposfer. Penyebab terbentuk ozon di lapisan troposfer adalah
karena adanya fotodisosiasi NO2 oleh sinar matahari. Reaksinya adalah:
NO2 + h NO + O
O + O2 O3

Ozon kemudian mengoksidasi NO menjadi NO2

O3 + NO NO2

Ozon berdampak buruk pada kesehatan manusia terutama pada sistem pernapasan batuk,
sesak napas, nyeri dada, dan iritasi tenggorokan. Ozon juga dapat menekan kemapuan sistem
kekebalan dalam melawan infeksi. Ozon dapat menyebabkan kerusakan pada karet dan merusak
benda benda tekstil seperti nilon dan poliester.
Secara langsung, ozon susah untuk ditanggulangi akan tetapi kita bisa menanggulanginya
dengan mengontrol senyawa pembentuk ozon yaitu NOx yang dihasilkan dari gas buang industri
dan kendaraan bermotor.

Soal-soal Latihan
1. Apa perbedaan antara pencemar primer dengan pencemar sekunder?
2. Sebutkan contoh-contoh pencemar primer!
3. Jelaskan sumber pencemar primer dan akibatnya terhadap makhluk hidup dan lingkungan!
4. Jelaskan terjadinya hujan asam.
BAB 4
LAPISAN HIDROSFER

Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
- Menjelaskan tentang keberadaan air di permukaan bumi
- Menjelaskan tentang peristiwa siklus air
- Menyebutkan sifat-sifat air
- Menjelaskan karakteristik lapisan-lapisan badan air
- Menjelaskan proses-proses kimia yang berlangsung di dalam air
- Menghitung kelarutan gas di dalam air menggunakan Hukum Henry
- Menjelaskan tentang DO, BOD dan COD
- Menjelaskan sistem CO2-HCO3- - CO32- di dalam air
.

4.1 Siklus Air


Hidrosfer merupakan air yang berada di planet bumi, bisa berada di atmosfer, lautan, sungai,
danau, gletser, salju dan air tanah. Air dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya
melalui : Penguapan (evaporasi), pengembunan (kondensasi), presipitasi, deposisi, longsor,
infiltrasi, sublimasi, transpirasi dan aliran air tanah. Model yang menggambarkan pergerakan air
dari satu kompartemen ke kompartemen yang disebut siklus (daur) air.
Presipitasi Presipitasi
Presipitasi Presipitasi

Evaporasi Transpirasi
Es Evaporasi
Evaporasi

Sungai Danau Run off


infiltrasi

Samudra
Aliran air tanah
Air tanah

Es

Daratan

Gambar 4.1 Siklus Air

Air yang berada di sungai, danau, laut dan air di permukaan bumi lainnya akan menguap apabila
dikenai energi yang cukup. Proses penguapan di mana terjadi perubahan wujud dari air yang
berwujud cair menjadi gas disebut dengan evaporasi. Evaporasi akan berlangsung apabila
kelembaban atmosfer lebih rendah daripada kelembaban permukaan evaporasi. Di samping
penguapan air yang ada di permukaan bumi, penguapan juga terjadi pada air yang berada pada
tanaman. Proses penguapan air pada tanaman ini disebut dengan transpirasi. Transpirasi
berlangsung melalui mulut daun (stomata).

4.2 Sifat-Sifat Air


Air memegang peranan penting dalam kehidupan di bumi ini. Air sangat diperlukan oleh
makhluk hidup dalam proses metabolisme untuk keberlangsungan hidupnya. Air sebagai
medium reaksi-reaksi biokimia yang berlangsung dalam tubuh organisme. Air memiliki sifat-
sifat yang sangat unik yang memungkinkan air sangat berperan dalam kehidupan ini. Adapun
sifat-sifat air tersebut adalah:
Air adalah pelarut yang bagus.
Sifat ini memungkinkan air mampu membawa nutrisi yang dibutuhkan oleh sel tubuh dan
membuang sisa produk yang tidak berguna lagi dalam proses metabolisme.

Memiliki konstanta dielektrik yang paling tinggi dibandingkan pelarut umum lainnya.
Dengan adanya sifat ini, air memiliki kelarutan yang tinggi untuk senyawa ionik dan
ionisasinya di dalam larutan. Apabila suatu senyawa ionik misalnya garam natrium klorida
(NaCl), dilarutkan ke dalam air, maka garam ini akan terdisosiasi menjadi ion-ionnya dan
akan terdistribusi merata di dalam air. Karena air adalah cairan yang mobile (mudah
bergerak), maka garam-garam dan zat-zat lainnya mudah dilepaskan kepada tanaman.

Memiliki tegangan permukaan yang lebih tinggi dibandingkan pelarut lainnya.


Konsekuensinya adalah, air dapat mengatur faktor dalam fisiologi yaitu membangun tetesan
pada permukaan.

Transparan terhadap sinar tampak (visibel) dan UV dengan panjang gelombang yang
lebih panjang.
Keunikan sifat air ini menyebabkan air bersifat tidak berwarna, yang memungkinkan sinar
matahari bisa masuk ke dalam perairan untuk proses fotosintesis tanaman.

Memiliki densitas maksimum sebagai cairan pada suhu 4oC.


Pada suhu 4oC, air memiliki kerapatan maksimum sebesar1 g/cm-3. Dalam bentuk es padat,
kerapatannya adalah 0,9 g/cm-3 yaitu setengah lebih kecil dari yang seharusnya. Hal ini
menyebabkan es yang berada di perairan mengapung di permukaan. Es memiliki daya hantar
panas yang rendah sehingga ketika es berada di permukaan air, es bersifat sebagai isolator
yang melindungi lapisan air di bawahnya supaya tidak membeku. Efek yang lain adalah tidak
dimungkinkan terjadi sirkulasi vertikal di dalam badan air. Sifat unik air ini dikarenakan
adanya orientasi ikatan hidrogen antara molekul air yang membantu menjaga molekul
tersebut terpisah dan menyebabkan padatan membentuk struktur terbuka.
Panas penguapan yang lebih tinggi dibandingkan pelarut lainnya.
Perubahan entalpi standar penguapan untuk air relatif tinggi yaitu 2.260 kJ.kg-1. Akibatnya
laju penguapan air tidak terlalu cepat. Sifat ini menentukan transfer panas dan molekul air
antara atmosfer dan badan air.

Memiliki panas laten penggabungan yang lebih tinggi dibandingkan cairan lainnya
kecuali amonia.
Perubahan entalpi standar penggabungan untuk air juga tinggi apabila dibandingkan dengan
zat lainnya yaitu 333 kJ. Kg-1. Sifat ini menyebabkan air memiliki temperatur yang stabil
pada titik bekunya yang membantu melindungi makhluk hidup dari efek pembekuan atau
peleburan karena kondisi cuaca.

Memiliki kapasitas panas yang lebih tinggi dibandingkan cairan lainnya kecuali
amonia.
Apabila dibandingkan dengan zat cair lainnya, air memiliki kapasitas panas spesifik yang
tinggi yaitu sebesar 4,18 J.C-1.g-1. Artinya, dibutuhkan energi yang cukup besar untuk
menaikan suhu air pada level yang mungkin berbahaya, sehingga air dapat menstabilkan
suhu baik pada tubuh makhluk hidup maupun pada lingkungan geografis.
4.3 Badan Air
Air yang terdapat pada badan air memiliki suhu yang bervariasi antara lapisan permukaan,
lapisan tengah dan lapisan yang lebih dalam. Variasi suhu ini dikenal dengan Stratifikasi.

O2 CO2

Epilimnion
Kaya O2 terlarut Fotosintesis berlangsung
Spesies kimia dalam bentuk teroksidasi

Termoklin
Miskin O2 Spesies kimia dalam
terlarut bentuk tereduksi

Hipolimnion

Gambar 4.2: kondisi badan air

Lapisan bagian permukaan dari badan air disebut dengan epilimnion. Lapisan ini adalah
lapisan yang secara langsung kontak dengan atmosfer sehingga pada lapisan ini terdapat
kesetimbangan gas-gas termasuk oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) antara atmosfer dengan
lapisan epilimnion. Di samping gas-gas, cahaya matahari juga mampu menembus lapisan ini.
Adanya gas CO2 dan cahaya matahari memungkinkan terjadinya fotosintesis yang dilakukan
oleh tumbuhan yang terdapat pada lapisan in.i. Karena lapisan ini kaya akan oksigen, maka
spesies kimia yang terdapat pada lapisan ini berada dalam bentuk teroksidasi.
Lapisan bagian terdalam dari badan air dikenal dengan Hipolimnium. Lapisan ini miskin
akan oksigen sehingga spesies kimia yang terdapat pada lapisan ini berada dalam bentuk
tereduksi. Cahaya matahari tidak mampu menembus sampai lapisan ini, sehingga tidak
memungkinkan terjadinya fotosintesis. Organisme yang hidup pada lapisan ini adalah organisme
pengurai yang menguraikan organisme yang sudah mati secara anaerobik (tanpa oksigen).
Lapisan yang memisahkan epilimnion dengan hipolimnion disebut dengan termoklin.
Pada lapisan ini, terjadi perubahan suhu yang sangat cepat. Pada saat musim panas, air pada
lapisan epilimnion akan menerima energi dari sinar matahari sehingga kerapatan air pada lapisan
ini menjadi berkurang. Akibatnya, air tersebut tetap mengapung di atas lapisan hipolimnion.
Apabila terjadi perbedaan suhu di antara lapisan epilimnion dan hipolimnion, proses
pencampuran (mixing) tidak akan terjadi. Masing-masing lapisan bersifat independen dan
memiliki sifat kimia dan fisika yang sangat berlainan.
Fenomena yang berbeda terjadi pada musim dingin (winter). Pada saat musim dingin, air
pada lapisan epilimnion menjadi dingin sehingga kerapatannya meningkat. Akibatnya, masa air
yang dingin ini akan tenggelam dan jatuh ke bawah yang mengakibatkan terjadinya
pencampuran antara air pada lapisan epilimnion dan air pada lapisan hipolimnion. Adanya
pencampuran ini menyebabkan stratifikasi sudah tidak ada lagi. Akibat dari pencampuran ini
dikenal dengan istilah overturn. Selama overturn, sifat-sifat fisika dan kimia badan air menjadi
lebih seragam dan terjadi perubahan biologi. Aktifitas biologi meningkat akibat adanya
pencampuran nutrisi.

4.4 Proses Kimia di Perairan


Perairan merupakan sistem yang sangat komplek, tempat hidup berbagai hewan dan tumbuhan.
Proses kimia yang berlangsung di dalamnya juga sangat komplek. Proses-proses yang
berlangsung di dalam perairan dapat dilihat pada gambar.
Pertukaran gas dengan atmosfer O2

kelasi potosintesis
2HCO3- + hv
CH2O + O2 (g) + CO32-
NO3- CO2
Asam-basa
CO32- + H2O HCO3- + OH-

Oksidasi
Cd2+ Presipitasi
Ca2+ + CO32- CaCO3(s)
Mikrobial
2 CH2O + SO42- + 2H+
H2S(g) + 2H2O + 2CO2 (g)

Reduksi
uptake Leaching
Air tanah NH4+

Sediment

Gambar 4.3: Proses-proses yang terjadi di dalam air.

4.5 Gas di dalam air


Salah satu proses yang berlangsung di dalam sistem akuatik adalah pertukaran gas antara
atmosfer dengan badan air terutama gas-gas yang menentukan keberlangsungan kehidupan
makhluk hidup di dalam air yaitu gas oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). Kelarutan gas-gas
di dalam air bergantung pada tekanan parsial gas tersebut yang kontak dengan air yang
dirumuskan dalam Hukum Henry yaitu:

Sgas = kH x Pgas

Di mana:
- Sgas : kelarutan suatu gas dalam air dengan satuan mol/L.
- Pgas : tekanan parsial gas di atas cairan dengan satuan atm.
- kH adalah konstanta Henry dan memiliki nilai tertentu untuk kombinasi gas-cairan pada
T tertentu. kH memiliki satuan mol/L . atm
Pada perhitungan kelarutan suatu gas dalam air, tekanan parsial gas tersebut harus dikoreksi
dengan tekanan parsial uap air dengan mengurangkannya dari tekanan total gas.

Contoh:
Tekanan parsial uap air pada 25oC adalah 0.0313 atm. Tentukan kelarutan gas oksigen (O2) pada
25oC dan tekanan 1 atm apabila persentase O2 (v/v) dalam udara kering adalah 20.95%.(kH =
1.28.10-3 g/L.Atm.)

Penyelesaian:
PO2 = (1-0.0313) atm x 0.2095
= 0.2029 atm

SO2 = kH x PO2 = 1.28.10-3 x 0.2029


= 2.60 x 10-4 M
= 2.60 x 10-4 x 32 g/L
= 8.32 mg/L = 8.32 ppm
Kelarutan gas akan turun dengan adanya kenaikan suhu. Hal ini dinyatakan dalam persamaan
Clausius-Clayperon yaitu:

Di mana:
Huap = perubahan entalpi dari air menjadi uap.
S2 dan S1 = kelarutan gas pada T1 dan T2
T = temperatur

Karbondioksida di dalam air


Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa salah satu gas yang mengalami
kesetimbangan antara atmosfer dan badan air adalah karbondioksida. Karbondioksida (CO2)
merupakan gas yang secara alami terdapat di dalam sistem akuatik yang menentukan
keberlangsungan kehidupan di sana. CO2 juga dihasilkan dari degradasi senyawa organik yang
terlarut di perairan. Kesetimbangan antara CO2 di atmosfer dan sistem perairan dapat di tuliskan
sebagai berikut:
CO2 (atmosfer) CO2 (air)
Gas CO2 yang terlarut di dalam air murni akan membentuk asam lemah yaitu asam karbonat
(H2CO3) yang menentukan kondisi kimia air. Asam karbonat merupakan salah satu contoh asam
poliprotik yaitu asam yang memiliki lebih dari satu konstanta disosiasi. Kesetimbangan antara
CO2 terlarut dengan asam karbonat dapat dituliskan sebagai berikut:
CO2(g) + H2O(l) H2CO3(aq)

Dengan menerapkan Hukum Henry untuk kelarutan gas maka:

SCO2 = KH x PCO2
SCO2
KH = --------
PCO2
Apabila tekanan parsial CO2 pada 25oC adalah 3,5 x 10-4 atm dan KH = 3,38 x 10-2 mol.L-1.atm-1,
maka kelarutan CO2 dalam air murni seharusnya adalah sebesar 1,18 x 10-5 mol/L

Asam karbonat di dalam air akan terdisosiasi menjadi ion bikarbonat (HCO3-) yang kemudian
akan terdisosiasi lagi menjadi ion karbonat (CO32-). Sistem CO2 - HCO3- - CO32- dapat dituliskan
dalam persamaan kesetimbangan berikut:
CO2(aq) + H2O HCO3- + H+
[ ][ ]
Ka1 = = 4,45.10-7
[ ]

HCO3- CO32- + H+
[ ]
Ka2 =
[ ]
= 4,69.10-11

Fraksi CO2 ( ), fraksi HCO3- ( ) dan fraksi CO32- ( ) dapat dinyatakan dalam

persamaan berikut:
[ ]
=
[ ]+[ ]+[ ]
[ ]
=
[ ]+[ ]+[ ]
[ ]
=
[ ]+[ ]+[ ]

Dengan memasukan nilai Ka1 dan Ka2 dalam persamaan untuk fraksi
[ ]
=
[ ] + 1[ ] + 1. 2
1[ ]
=
[ ] + 1[ ] + 1. 2
1. 2
=
[ ] + 1[ ] + 1. 2

Gambar 4.4: Distribusi diagram spesies untuk sistem CO2 - HCO3- - CO32- di dalam air
Soal-soal Latihan
1. Jelaskan tentang keberadaan air yang ada di permukaan bumi!
2. Jelaskan tentang terjadi siklus air!
3. Sebutkan sifat-sifat air!
4. Jelaskan karakteristik dari badan air!
5. Jelaskan proses-proses kimia yang terjadi di dalam badan air!
6. Apa yang dimaksud dengan DO, BOD dan COD?
7. Hitunglah konsentrasi CO2 dalam minuman berkarbonasi di mana tekanan parsial CO2 di
atmosfer di atas cairan adalah 4,0 atm pada 25oC. Tetapan Henry untuk CO2 di dalam air
pada suhu tersebut adalah 3,1 x 10-2 mol/(Lt.atm)!
8. Jelaskan tentang sistem CO2-HCO3- - CO32- di dalam air!
BAB 5
PENCEMARAN AIR
Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
- Menyebutkan jenis-jenis pencemar air yang umum
- Menjelaskan asal dari masing-masing pencemar air
- Menjelaskan efek dari masing-masing pencemar air terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

5.1 Sumber Polutan air


Pencemaran air adalah penambahan zat yang memilik dampak buruk pada air atau makhluk
hidup yang bergantung pada air. Zat yang menyebabkan pencemaran air disebut dengan polutan.
Polutan yang mencemari air dihasilkan dari berbagai macam sumber. Ada 3 sumber utama
polutan yang masuk ke sistem perairan yaitu limbah manusia, limbah industri dan limbah yang
dibawa aliran air pada permukaan tanah (runoff).
Polutan masuk ke air dimulai dari titik awal tempat pembuangan zat tersebut. Sumber polusi
dibedakan berdasarkan bagaimana polutan ini masuk ke badan air. Berdasarkan sumbernya
polusi di bedakan menjadi:
a) Polusi pada titik pembuangan
Polusi terjadi di sumber atau tempat pembuangan polutan pertama kalinya. Misalnya
pembuangan limbang di air sungai akan mencemari air sungai tersebut.

Gambar 5.1: polusi terjadi pada titik di mana polutan pertama kali dilepaskan
b) Polusi bukan pada titik pembuangan
Pada tipe ini, polutan yang dilepaskan oleh suatu sumber/tempat pembuangan di bawa jauh
dari sumbernya oleh pembawa (bisa air, angin atau perantara lain) ke suatu tempat dan
mencemari tempat tersebut.

hutan

Pedesaan
Jalan kota

Lahan
pertanian

Sumber
polutan Peternakan

Pembangunan suburban

Gambar 5.2 : Polusi bukan pada titik pembuangan

5.2 Pencemar air


Zat-zat yang mencemari badan air jumlahnya bervariasi. Polutan yang secara umum mencemari
air dapat kita kelompokan menjadi:
o Senyawa radioaktif
o Zat organik
o Logam berat
o Asam
o Nutrien

5.2.1 Zat Radioaktif


Limbah radioaktif merupakan salah satu sumber polusi air. Zat radioaktif banyak digunakan
di dalam pembangkit tenaga nuklir, industri, medis dan proses ilmiah lainnya. Zat radioaktif juga
bisa dijumpai pada jam tangan, komponen televisi dan mesin sinar X. Zat radioaktif juga dapat
terbentuk secara alami.
Ada beberapa cara zat radioaktif masuk ke badan air yaitu:
- Zat radioaktif yang ada di udara jatuh dan terdeposit pada permukaan air.
- Terjadinya erosi sepanjang air tanah pada kegiatan yang dilakukan manusia misalnya
pertambangan, pertanian dan aktifitas industri.
- Zat radioaktif yang terdeposit pada kerak mengalami pelarutan dan mengalir bersama air
menuju air tanah.

Beberapa zat radioaktif larut dan mengalami mobilisasi bersama air. Sebagian ada juga yang
terdeposit pada sedimen atau tanah atau batuan. Umumnya kandungan zat radioaktif pada air
minum sangat rendah sehingga zat radioaktif bukan termasuk zat yang perlu diperhatikan dari
segi kesehatan. Radon yang berasal dari sumber radium di dalam bumi merupakan kasus khusus
gas terlarut pada konsentrasi yang relatif tinggi.
Meskipun dari segi kesehatan, zat radioaktif bukan termasuk zat yang perlu diwaspadai,
tetapi zat ini menjadi perlu mendapat perhatian ketika sudah mencapai konsentrasi yang tinggi,
karena keberadaan alami, pelepasan zat radioaktif saat terjadi kebocoran reaktor nuklir atau
pembuangan limbah yang tidak tepat.

5.2.2 Zat Organik


Zat organik yang mencapai badan air biasanya berasal dari limbah industri dan domestik,
kebocoran tangki minyak di laut, dan bahan zat organik yang digunakan dalam pertanian seperti
pestisida dan herbisida. Masuknya polutan organik ke dalam perairan akan menurunkan kualitas
air sehingga akan berpengaruh pada kesehatan manusia dan lingkungan. Zat organik yang ada di
dalam perairan akan diurai oleh bakteri dengan menggunakan Oksigen terlarut (DO =
Dissolved Oksigen).
Ada dua istilah dalam kaitannya dengan dekomposisi senyawa organik dengan
menggunakan oksigen terlarut yaitu BOD dan COD. BOD (biochemical oxygen demand
merupakan sejumlah oksigen yang diperlukan (dalam satu satuan volume air) untuk menguraikan
zat organik dengan bantuan mikroorganisme disebut dengan. BOD merupakan parameter umum
yang digunakan dalam menentukan kebutuhan oksigen pada air yang masuk dan keluar instalasi
pengolahan limbah atau air buangan industri. BOD juga dipakai untuk mengevaluasi efisiensi proses
pengolahan limbah dan juga secara tidak langsung sebagai ukuran biodegradabilitas senyawa organik
di dalam air. BOD merupakan salah satu ukuran suatu perairan tercemar atau tidak.
Sedangkan COD (Chemical oxygen demand) adalah jumlah oksigen yang dikonsumsi
(dalam satuan masa oksigen per volum larutan) untuk mengoksidasi secara sempurna senyawa
organik menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O). Di dalam Kimia Lingkungan, COD merujuk
pada senyawa kimia yang terdapat pada air yang tidak bisa terurai oleh mikroorganisme atau paling
tidak terurainya sangat lambat. Seperti halnya BOD, COD juga merupakan salah satu indikasi air
yang tercemar dan indikasi kualitas air.
Kebanyakan senyawa organik yang menjadi polutan bagi perairan adalah senyawa sintesis
yang dipakai dalam bidang pertanian terutama pestisida, dan dalam bidang industri yang digunakan
sebagai pelarut, pembersih, pelumas, produk minyak, produksi plastik dan lain-lain. Pada awalnya
senyawa-senyawa ini dapat masuk ke dalam tanah dan terakumulasi di dalam lapisan akuifer atau
permukaan air. Senyawa-senyawa ini dapat mencemari air mminum melalui proses runoff pada
permukaan air atau merembes ke dalam air tanah.
Pestisida bisa mencapai lapisan akuifer dan akan sulit mengalami degradasi. Hal ini
dikarenakan tidak adanya organisme pengurai di lapisan akuifer, tidak cahaya yang menembus
sampai lapisan ini, dan rendahnya suhu. Beberapa jenis pestisida yang mungkin mencapai lapisan
akuifer adalah golongan herbisida dari asam karboksilat dan triazin. Beberapa pestisida yang kadang-
kadang ditemui pada air minum adalah : atrazin, klortoluen, isoproturon, MCPA (4-Chloro-2-
methylphenoxy)acetic acid), mekoprop dan simazin. Sedangkan jenis pestisida yang umum
dijumpai pada air minum adalah 2,4-D, dikamba, dikloroprop,dimetoat, linuron, dan 2,4,5-T.
Sumber pestisida musiman pada perairan alami adalah berasal dari kapal selam. Penggunaan
pestisida golongan organofosfor yang menggantikan pestisida golongan organoklor yang lebih
persisten seperti lindan sudah menurun terkait resiko kesehatan penggunanya. Penggunaan
piretrin sebagai alternatifnya juga menimbulkan permasalahan yaitu menyebabkan kematian
organisme yang hidup di sungai di Inggris. Piretroid merupakan jenis pestisida yang tidak
persisten di lingkungan dan umumnya tidak bersifat toksik terhadap mamalia tetapi sangat toksik
terhadap hewan golongan invertebrata. Pestisida golongan piretroid diperkirakan 100 kali lebih
toksik di sistem perairan dibandingkan pestisida organofosfor.
Di samping sektor pertanian dan industri, senyawa organik sintesis juga dihasilkan dari
kegiatan rumah tangga. Contoh senyawa organik sintesis yang dihasilkan dari industri rumah
tangga adalah surfaktan. Surfaktan adalah zat yang dapat menurunkan tegangan permukaan
cairan, tegangan di antara dua cairan atau antara suatu cairan dan suatu padatan. Setiap molekul
surfaktan memiliki suatu bagian hidropobik (lipofilik) dan suatu bagian hidrofilik sehingga
surfaktan akan terkonsentrasi pada antarmuka yang memisahkan fase yang tidak saling
bercampur dan tegangan antarmuka pun akan turun.
Berdasarkan sifat hidrofiliknya yang terkait dengan afinitas air, surfaktan dibagi menjadi
beberapa golongan yaitu surfaktan amfoter, non ionik, kationik, dan anionik. Surfaktan anionik
merupakan surfaktan yang sudah digunakan sejak lama dan surfaktan yang paling banyak
digunakan.
Surfaktan anionik di dalam larutan alkali telah banyak digunakan dalam bidang industri
seperti proses tekstil, pencucian logam, pencucian botol, karet, bahan bakar, emulsi makanan,
pertanian dan seterusnya. Karena sangat luasnya penggunaannya, surfaktan anionik dihasilkan
dalam jumlah besar dan sebagian besar harganya murah. Secara esensial, surfaktan merupakan
bahan kimia pembersih. Setelah dipakai, sebagian besar surfaktan dibuang ke lingkungan dan
mencapai perairan dalam jumlah yang cukup besar.
Salah satu contoh surfaktan anionik adalah alkil benzen sulfonat (ABS). ABS merupakan
salah satu komponen penyusun detergen. Sehingga penyumbang utama zat ini adalah dari limbah
rumah tangga dan usaha jasa pencucian (Laundry).

SO3

Gambar 5.3: Struktur alkil benzen sulfonat


5.2.3 Logam Berat
Logam berat merujuk pada logam yang memiliki masa jenis yang besar dan bersifat
toksik (beracun) pada konsentrasi rendah misalnya merkuri (Hg), arsenik (As),timbal (Pb),
kadmium (Cd) dan lain lain . Secara alami, logam berat sudah ada di dalam kerak bumi dan tidak
terdegradasi atau terurai. Pada konsentrasi rendah, logam berat diperlukan oleh tubuh manusia
untuk metabolisme misalnya tembaga (Cu), selenium (Se) dan seng (Zn). Akan tetapi pada
konsentrasi yang tinggi, logam berat bersifat toksik. Keracunan logam berat bisa berasal dari
berbagai sumber antara lain dari air minum dan makanan.
Beberapa kasus pencemaran logam berat yang terjadi antara lain adalah kasus Minamata
yang terjadi pada tahun 1932-1952. Kasus ini bermula dari pembuangan limbah yang
mengandung merkuri (Hg) ke dalam Teluk Minamata (Jepang) yang menyebabkan akumulasi
merkuri di dalam tubuh biota di Teluk Minamata. Insiden keracunan pertama terlihat pada
masyarakat yang tinggal dekat dengan Teluk Minamata yang mengkonsumsi ikan yang tercemar
merkuri dan menimbulkan hampir 1000 keluhan.
Kasus yang lain yang terkait keracunan logam berat adalah kasus Sandoz yang terjadi
pada 1 Nopember 1986 di Basel di mana air yang mengandung Fungisida digunakan untuk
memadamkan kebakaran hebat. Fungisida yang terkandung dalam air mengandung merkuri dan
air yang digunakan ini mencemari Sungai Rhine yang menyebabkan kematian ikan-ikan di
dalamnya.

Merkuri (Hg)
Merkuri merupakan logam yang pada suhu biasa berwujud cair. Merkuri jarang
ditemukan di alam dalam keadaan bebas. Sebagian besar merkuri ditemukan sebagai bijih
sinabar (HgS) di Spanyol dan Italia. Merkuri mudah bergabung dengan logam lain seperti emas,
perak dan timah membentuk paduan amalgam sehingga merkuri sering dipakai untuk
memisahkan emas dari bijihnya.
Merkuri dapat menimbulkan efek buruk pada kesehatan manusia seperti kerusakan sistem
syaraf, kerusakan DNA yaitu merusak kromosom, alergi yang berakibat pada timbulnya
kelelahan dan sakit kepala, dan gangguan sistem reproduksi seperti kematian sperma dan
kerusakan janin.
Merkuri yang mencemari air sebagian besar berasal dari penggunaan pupuk-pupuk
pertanian dan pembuangan limbah industri. Kandungan merkuri cukup signifikan pada
permukaan air yang bersifat asam. Ketika pH air antara 5-6, konsentrasi merkuri di dalam air
meningkat akibat dari mobilisasi merkuri yang ada di dalam tanah. Ketika merkuri mencapai
permukaan air, mikroorganisme dapat mengubahnya menjadi metil merkuri yaitu turunan
merkuri yang diserap sangat cepat oleh mikroorganisme dan menyebabkan kerusakan syaraf.
Ikan adalah organisme yang dapat menyerap metil merkuri dalam jumlah besar setiap harinya
dari permukaan air. Merkuri dapat terakumulasi di dalam tubuh ikan dan rantai makanan.
Transportasi Hg0 di atmosfer

Deposisi Hg2+ dan Hg0 Hg2+,


Hg2+,
Hg0
Hg0
Hg

Atmosfer evaporasi

Tanah

deposisi

Hg0 Hg2+ (CH3)Hg

Komplek organik dan


(CH3)Hg Hg2+ Hg0 anorganik
HgS

(CH3)Hg Hg2+ Hg0

Sedimen HgS Komplek organik dan


anorganik

Gambar 5.4: Spesiasi merkuri di lingkungan


Arsenik (As)
Arsenik merupakan salah satu logam berat yang bisa dijumpai pada air tanah. Arsenik yang
mencapai air tanah berasal dari batuan yang mengandung arsenik dan juga dari tanah yang
kemudian dibawa oleh air melalui proses erosi atau disolusi. Arsenik yang terdapat di dalam air
dapat berada dalam bentuk organik. Di dalam air yang alami, arsenik lebih dominan berada
dalam bentuk anorganik.

Mineral sulfida merupakan salah satu sumber arsenik alami di dalam air tanah. Mineral
arsenopirit (FeAsS) dapat mengalami oksidasi dan akan melepaskan arsenik dalam konsentrasi
yang cukup tinggi.

4FeAsS(s) + 13O2(g) + 6H2O 4Fe2+ + 4AsO43- + 4SO42- + 12H+

Valensi dan spesies arsenik anorganik bergantung pada kondisi redoks, p dan pH air. Arsenit,
yaitu bentuk tereduksi yang bervalensi tiga, [As(III)], umumnya dijumpai pada air tanah (kondisi
anaerobik). Dan arsenat, bentuk teroksidasi yang bervalensi lima, [As(V)], dijumpai pada
permukaan air (kondisi aerobik). Ada beberapa air tanah yang hanya dapat dijumpai As(III),
yang lainnya hanya As(V) dan ada yang lain yang mengandung gabungan As(III) dan As (V).
Arsenat dapat dijumpai dalam 4 bentuk di dalam larutan yang bergantung pada pH yaitu
H3AsO4, H2AsO4-, HAsO42, dan AsO43. Sedangkan arsenit dapat berada dalam 5 bentuk yaitu:
H4AsO3+, H3AsO3, H2AsO3, HAsO32 and AsO33.
Udara
Asam kakodilik

Toksisitas
oksidasi

Volatil
Sangat toksik
Air
trimetil arsin Dimetil arsin

Jamur Bakteri

sedimen
Bakteri Bakteri Bakteri

Arsenat Arsenit Asam metil arsonik Asam dimetil arsonik

Gambar 5.5: Spesiasi arsen dilingkungan

Arsenik anorganik bervalensi 3, As (III) dapat berikatan dengan gugus SH pada enzim dan
memiliki toksisitas lebih besar pada manusia dibandingkan dengan arsenik anorganik bervalensi
5, As(V). Di dalam tubuh manusia, As (V) dapat diubah menjadi As (III) sebagai bagian dari
jalur biometilasi ekskresi.

As (V) As (III) MMAA DMAA


Di mana MMMA adalah (CH3AsO(OH)2 dan DMAA ((CH3)2AsO(OH).

Timbal (Pb)
Sebagian besar timbal (Pb) yang masuk ke lingkungan berasal dari sisa pembakaran
bahan bakar pada industri atau kendaraan bermotor. Timbal yang berasal dari sisa pembakaran
bahan bakar akan masuk ke atmosfer. Dari atmosfer, timbal dapat masuk kompartemen
lingkungan yang lain yaitu tanah dan air. Timbal yang ada di atmosfer bisa sampai ke perairan
salah satunya melalui proses deposisi. Timbal yang ada di atmosfer bisa langsung terdeposit
pada permukaan air. Selain deposit langsung dari atmosfer, timbal yang ada di dalam air bisa
berasal dari pergerakan timbal yang di bawa oleh air melalui proses erosi atau disolusi.
Timbal juga bisa dijumpai pada air minum. Masuknya timbal sampai ke air minum
berasal dari pipa timbal. Pada suasana asam, unsur timbal bersifat solubel (mudah larut)
dikarenakan oksidasi oleh oksigen. Lebih jauh, senyawa karbonat dan hidroksi karbonat dari
timbal seperti PbCO3 dan Pb(CO3)2(OH)2 yang melapisi pipa kemungkinan akan larut pada
kondisi asam.
O2 + 4H+ 4e 2H2O E0 = 1,229V
Pb2+ + 2e Pb(s) E0 = -0,126 V
O2(g) + 4H+ + 2Pb(s) 2Pb2+ + 2H2O E0 = 1,355 V

Kadmium (Cd)
Kadmium adalah salah satu jenis logam berat dan non esensial. Masuknya Cd ke
lingkungan terutama ke air dapat berasal dari penggunaan air limbah untuk mengairi sawah.
Sewage sludge memiliki kandungan Cd yang cukup tinggi. Aplikasi sewage sludge bersama-
sama air keluaran instalasi pengolahan limbah pada area pertanian menjadi penyumbang
keberadaan Cd pada tanah dan juga air.
Logam Cd yang mencemari area pertanian bisa masuk ke dalam tanaman yang akhirnya
masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi tanaman yang tercemar Cd. Di dalam tubuh, Cd
dapat menggantikan ion Ca2+ karena memiliki ukuran yang relatif sama sehingga manusia yang
mengkonsumsi Cd dapat mengalami kerusakan tulang.

Selenium (Se)
Selenium merupakan salah satu unsur non logam dan salah satu unsur esensial. Selenium
biasanya ditemukan bersama-sama mineral yang mengandung belerang. Selenium banyak
dijumpai pada gunung api, sediment dan batuan karbonat. Selenium terbakar di udara dan tidak
dipengaruhi oleh air. Akan tetapi Se larut dalam larutan asam nitrat dan alkali pekat .
Selenium banyak dipakai dalam bidang elektronik seperti photocells dan solar cells.
Penggunaan selenium terbesar adalah pada industri gelas. Di samping itu, selenium banyak
dipakai pada makanan ternak dan suplemen makanan dalam bentuk nantrium selenit. Selenium
juga dapat berasal dari penggunaan pupuk di area pertanian. Selenium dapat terdeposit pada
tanah bahkan juga pada air.
Selenium yang ada di tanah dapat berada dalam beberapa bentuk tergantung keadaan
oksidasinya yaitu : selenida (Se2-), selenium unsur bentuk amorf atau polimerik (Se0), selenit
(Se4+) dan selenat (Se6+). Pada kondisi asam, selenit dapat direduksi menjadi selenium unsur.
Sedangkan pada kondisi basa, pembentukan selenat akan lebih dominan. Karena selenit dan
selenat larut dalam air, selenium akan mengalami leaching pada tanah dengan pH basa yang
teraerasi dengan baik. Selenium yang mengalami leaching ini bisa mencemari air. Sedangkan
selenium unsur dan selenida tidak larut dalam air dan cenderung tertahan pada tanah basah yang
kurang teraerasi. Akibatnya, selenium dalam tanah alkali akan lebih banyak di serap oleh
tanaman sedangkan selenium pada tanah asam cenderung dibatasi oleh adanya adsorpsi selenit
dan selenat pada sol oksida besi dan aluminium.
Selenium diperlukan oleh tubuh dalam jumlah sedikit untuk membantu metabolisme.
Selenium dapat mengubah hormon tiroid, tiroksin menjadi bentuk aktifnya yaitu triiodotironin.
Kekurangan selenium dapat menimbulkan gejala hipotiroidis yaitu kelelahan, lemah mental,
gondok dan kretinisme.
Pada konsentrasi berlebih, selenium dapat bersifat toksik. Salah satunya adalah selenosis.
Gejalanya adalah napas berbau bawang, rambut rontok, kelelahan, mudah mengalami iritasi, dan
kerusakan syaraf.

Seng (Zn)
Seng merupakan mineral esensial yang juga diperlukan dalam membantu proses
metabolisme tubuh. Seng adalah logam ke-4 yang paling banyak digunakan sehingga keberadaan
zinc di lingkungan cukup tinggi termasuk di dalam air.
Secara alami, seng sudah ada di dalam air. Konsentrasinya di dalam air akan meningkat
dengan masuknya seng dari beberapa sumber seperti : bijih seng (ZnS dan ZnCO 3), pembuangan
limbah industri seperti industri galvani, produksi baterai. Seng dalam bentuk senyawa banyak
dipakai dalam berbagai keperluan seperti seng klorida digunakan untuk produksi perkamen, Seng
oksida dipakai sebagai komponen salep, cat dan katlisator. Seng vitriol digunakan sebagai pupuk
dan seng basitrasin digunakan sebagai stimulan pertumbuhan pada ternak.
Seng dalam jumlah sedikit sangat penting dan diperlukan oleh tubuh. Seng dapat
membantu proses enzimatis dan juga berperan dalam replikasi DNA. Kekurangan seng akan
menimbulkan beberapa keluhan antara lain: penyakit liver, penyakit ginjal, dan penyakit kronis
lainya. Gejala ringan kekurangan seng sangat bervariasi.

5.2.4. Asam
Air yang kontak langsung dengan udara bebas memiliki pH yang sedikit asam
dikarenakan adanya kesetimbangan gas karbondioksida yang ada di atmosfer. Kondisi pH pada
perairan sangat besar perannya untuk menjamin kelangsungan hidup dari makhluk yang hidup di
dalamnya. Tiap-tiap makhluk hidup bisa hidup pada kondisi pH tertentu. pH air akan
mempengaruhi kondisi kimiawi air.
Masuknya suatu zat dari luar ke dalam air dapat memungkinkan perubahan kondisi fisik
dan kimia di dalam air misalnya pH. Salah satu penyebab perubahan pH di dalam air adalah
hujan asam. Hujan asam yang merupakan pencemar udara sekunder akan masuk ke dalam
perairan melalui proses deposisi. Hujan asam ini akan menyebabkan perairan bersifat asam dan
akan menyebabkan kerusakan ekosistem perairan. Salah satu kasus pencemaran air karena hujan
asam adalah kasus yang terjadi pada danau dan aliran air sungai di Negara Skandinavia yang
menyebabkan punahnya ikan dan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

5.2.5 Nutrien
Penggunaan pupuk pada lahan pertanian menimbulkan dampak baru bagi lingkungan
termasuk perairan. Fosfat dan nitrat, komponen penyusun pupuk yang terdapat pada lahan area
pertanian dapat terbawa oleh air melalui proses erosi atau run off sampai ke daerah perairan. .
Nutrien ini akan menyebabkan pertumbuhan biomasa seperti ganggang dan eceng gondok
menjadi tidak terkendali.
Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali pada perairan ini akan
menyebabkan faktor-faktor pendukung kehidupan di perairan seperti gas oksigen dan sinar
matahari mengalami kesulitan untuk masuk ke dalam perairan tersebut. Kondisi ini akan
menyebabkan makhluk hidup yang ada di perairan seperti ikan, akan sulit untuk hidup bahkan
dapat mengalami kematian.
Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali karena adanya nutrien
tersebut dikenal dengan istilah Eutrofikasi. Perairan di mana pertumbuhan biomasanya tinggi di
kenal dengan perairan eutropi. Perairan ini biasanya keruh akibat kurangnya oksigen yang
diperlukan untuk mendegradasi zat organik yang ada di dalamnya. Kebalikan dari perairan
eutropi adalah perairan oligotropi. Perairan ini memiliki produksi biomasa yang rendah dan
berwarna jernih pada musim panas.

Soal-soal latihan
1. Sebutkan Jenis-jenis polutan air yang umum!
2. Jelaskan sumber polutan air tersebut!
3. Jelaskan efek dari masing-masing pencemar air terhadap makhluk hidup dan lingkungan