Anda di halaman 1dari 1

Contoh pengertian arbitrer tersebut dapat kita lihat sehari-hari dalam kehidupan kita, hal

tersebut terbukti antara rangkaian bunyi-bunyi dengan makna yang dikandungnya. Mengapa
bahan bakar sepeda motor disebut dengan bensin tidak kecap, binatang tertentu di Indonesia
disebut kuda, di Inggris horse, di Arab faras dan akan terus berbeda diwilayah-wilayah lain
tentang penyebutannya.
Itulah yang disebut dengan arbitrer atau manasuka yang tidak akan bisa ditemukan alasan
penyebutannya yang berbeda-beda dikarenakan sifat ke-arbitreran-nya. Andaikata bahasa itu
tidak arbitrer, sudah barang tentu dapat kita pastikan bahwa sebutan untuk kuda hanya akan
ada satu kata dalam bahasa manusia, tidak ada lagi penyebutan kuda, horse, faras dan lain
sebagainya, hanya akan ada satu penyebutan.

Bahasa Itu Konvensional


Meskipun hubungan antara lambang bunyi dan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi
penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya,
semua anggota masyarakat bahasa harus mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu
digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.
Contohnya adalah, adanya kesepakatan dalam masyarakat bahasa Indonesia untuk menyebut
suatu benda beroda dua yang dapat dikendarai dengan dikayuh, yang secara arbitrer
dilambangkan dengan bunyi sepeda, maka anggota masyarakat bahasa Indonesia
seluruhnya harus mematuhinya. Jika tidak diapatuhi dan kemudian diganti dengan dengan
lambang lain, maka komunikasi antar masyarakat akan terhambat.
Oleh karena itu, jika ke-arbitreran bahasa terletak pada antara lambang-lambang bunyi
dengan konsep yang dilambangkannya, maka ke-konvensionalan bahasa terletak pada
kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang-lambang itu sesuai dengan
konsep yang dilambangkan.

.Bahasa Itu Bermakna


Bahasa, sebagai sistem lambang yang berwujud bunyi sudah pasti melambangkan suatu pengertian
tertentu. Maka, yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide atau suatu
pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi tersebut. Karena lambang lambang itu mengacu
pada suatu konsep, ide atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu memiliki makna.
Contohnya adalah lambang bahasa yang berwujud bunyi kuda; lambang ini mengacu pada konsep
sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai, kemudian konsep tersebut dihubungkan
dengan benda yang ada didalam dunia nyata. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa kuda
merupakan lambang bunyi, sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai merupakan
konsep dan kuda yang ada didalam dunia nyata merupakan wujud dari lambang bunyi tersebut.