Anda di halaman 1dari 13

EDISI REFORMASI

2014

TUGAS PRIBADI

ME-REVIEW BUKU

PENDIDIKAN PANCASILA

Judul Buku : Pendidikan Pancasila

Penulis : Prof. Dr. H. Kealan, M.S

Dosen Fakultas Filsafat

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Tahun : 2014

Reviewer : Ananda Vickry Pratama (11160930000007)


BAB I

A. Pendahuluan
Pancasila adalah dasar filsafat negara Indonesia yang resmi disahkan oleh PKI pada
tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum pada UUD 1945, diundangkan dalam Berita
Republik Indonesia tahun 11 No.7 bersama-sama dengan batang tubuh UUD 1945.
Dalam perjalanan sejarahnya, eksistensi Pancasila berkurang dikarenakan
digunakan untuk kepentingan politik pada saat itu. Maka dari itu, muncullah gerakan
reformasi yang berupaya mengembalikan eksistensi Pancasila, direalisasikan pada
Ketetapan Sidang Istimewa MPR tahun 1998 No.XVII/MPR/1998.
Dewasa ini, manipulasi pancasila pada masa lalu buat masyarakat beranggapan
Pancasila merupakan label politik orde baru. Bukti objektifnya, kesejahteraan belum
banyak dinikmati. Untuk itulah tanggung jawab kita bersama dalam mengkaji dan
mengembangkan Pancasila, karena elit politk kini belum paham betul apa itu Pancasila.
Mestinya kehidupan kenegaraan Indonesia konsisten pada Pancasila, dimana rakyat
adalah pemegang kedaulatan bukan elit politik, penguasa negara, partai politik serta
kalangan kapitalis.
Sebagai kaum intelektual kini, sudah semestinya kita mengembalikan kedudukan
dan fungsi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

B. Landasan Pendidikan Pancasila


a. Landasan Historis
Bangsa Indonesia mengalami perjalanan sejarah yang panjang sejak zaman
kerajaan. Beratus-ratus tahun Indonesia mesti menemukan jati dirinya, hingga
akhirnya setelah melewati proses yang sedemikian rupa lahirlah jati negara
Indonesia, yakni Pancasila, karena nilai-nilai Pancasila merupakan secara objektif
historis telah dimiliki telah berakar sejak lama. Yakni suatu prinsip tersimpul dalam
pandangan dan filsafat hidup bangsa berupa ciri khas, sifat, dan karakter. Itulah
kausa materialis Pancasila.
b. Landasan Kultural
Setiap bangsa memiliki ciri khas dan pandangan hidup yang berbeda dengan
bangsa lain. Maka, bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada suatu asas kultural yang dimiliki dan
melekat pada bangsa Indonesia. Yang dalam prosesnya merupakan hasil refleksi
filosofis para pendiri bangsa Indonesia, seperti Ir. Soekarno, Moh. Yamin, Moh.
Hatta, dan Dr. Soepomo.
c. Landasan Yuridis
Perkuliahan Pendidikan Pancasila tertuang pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Pada pasal 1 dan 2 disebutkan sistem pendidikan
nasional berdasarkan Pancasila. Kemudian, pada UU No. 12 Tahun 2012
disebutkan bahwa kurikulum pendidikan Indonesia mesti memuat Pendidikan
Pancasila, Kewarganegaraan dan Agama.
d. Landasan Filosofis
Pancasila secara filosofis merupakan filosofi bangsa Indonesia sebelum
mendirikan negara, karena sejak dahulu bangsa Indonesia merupakan bangsa yang
berketuhanan dan berkemanusiaan, sebab pada hakikatnya manusia merupakan
makhluk Tuhan yang Maha Esa.
Dalam perjalannya menuju status negara, Indonesia mesti mempunyai syarat
mutlak suatu negara yaitu negara berpersatuan dan berkerkyatan serta persatuan
perwujudan rakyat, karena pada asal mula kekuasaan negara secara ontologis
adalah rakyat.
Akibatnya dalam perwujudan yang menginterpretasikan rakyat, maka Pancasila
merupakan sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan dari berbagai aspek yang
ada.

C. Tujuan Pendidikan Pancasila


Dalam SK Dirjen Dikti. No.43/DIKTI/KEP/2006, dijelaskan bahwa tujuan materi
Pancasila mengarahkan pada moral yang diharapkan terwujud sesuai pada nilai-nila
Pancasila. Terlepas dari itu, tujuannya adalah menghasilkan peserta didik yang
mempunyai ketanggungjawaban, mampu mengenali masalah dan cara
penyelesaiannya, mampu beradaptasi pada perubahan dan perkembangan ilmu
pengetahuan, dan memaknai nilai-nilai sejarah.

D. Pembahasan Pancasila secara Ilmiah


Pembahasan Pancasila merupakan filsafat Pancasila, sebagai suatu kajian ilmiah,
maka harus memenuhi syarat-syarat ilmiah.
a. Berobjek
Maksud adalah semua ilmu pengetahuan harus memiliki objek. Dalam filsafat
ilmu pengetahuan, objek dibedakan menjadi: objek forma dan objek materia.
Objek forma Pancasila adalah dari sudut pandang apa pancasila itu dibahas. Ada
berbagai macam sudut, mulai dari pers, ekonomi, moral, dan filsafat. Atau bila
dijelaskan lebih lanjut bisa dibaca dengan sudut pers pancasila, ekonomi pancasila,
dan filsafat pancasila.
Objek materia Pancasila adalah sasaran pembahasan dan pengkajian Pancasila
baik yang bersifat empiris maupun non empiris. Jika empiris, maka objeknya adalah
benda-benda sejarah, benda-benda budaya naskah kenegaraan, lembaran sejarah
dll. Jika non empiris, maka objeknya adalah nilai-nilai moral dll.
b. Bermetode
Metode pembahasan Pancasila tergantung pada objek forma atau materia.
Berbagai metode Pancasila adalah analitico syntetic (metode Pancasila yang
merupakan perpaduan metode sintesis dan analisis), Hermeneutika (digunakan
untuk menemukan makna dibalik objek) analitika bahasa, serta metode
pemahaman, penafsiran dan interpretasi.
c. Bersistem
Bagian-bagian dari pengetahuan ilmiah itu harus merupakan suatu kesatuan,
baik saling memiliki hubungan (interlasi) maupun saling ketergantungan
(interpedensi). Dalam Pancasila, kelima sila adalah suatu kebulatan yang sistematik
dan utuh.
d. Bersifat Universal
Kebenaran ilmu pengetahuan tidak terbatas oleh waktu, ruang, keadaan, situasi,
kondisi, maupun jumlah tertentu.

E. Tingkatan Pengetahuan Ilmiah


a. Pengetahuan Deksriptif
Dengan menjawab pertanyaan bagaimana, kita dapat jawaban yang deksriptif.
Dalam mengkaji Pancasila kita harus bisa menjelaskan dan menguraikan Pancasila
secara objektif sesuai dengan kenyataan pancasila itu sendiri sebagai hasil budaya
bangsa Indonesia.
b. Pengetahuan Kausal
menjawab pertanyaan mengapa, kita dapat jawaban tentang sebab dan akibat.
Dalam terjadnya Pancasila diliputi empat kausa: kausa materialis, kausa formalis,
kausa effisien, dan kausa finalis.
c. Pengetahuan Normatif
Dengan menjawab pertanyaan ke mana, kita dapat jawaban mengenai arah
penerapan ilmu pengetahuannya. Pancasila mesti diamalkan, direalisasikan serta
dikongritisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Pengetahuan Essensial
Dengan menjawab pertanyaan apa, kita dapat tingkat pengetahuan yang
essensial. Pengetahuan essensial adalah tingkat pengetahuan untuk menjawab
tentang hakikat sesuatu. Dalam Pancasila, inti sari atau esensinya adalah kelima
silanya.

F. Beberapa Pengertian Pancasila


Kedudukan dan fungsi Pancasila bilamana kita kaji secara ilmiah memiliki makna
yang luas.
a. Secara Etimologis
Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta, panca dan syilla yakni batu sendi (i
vokal pendek) dan peraturan tingkah laku yang baik (i vokal panjang). Perkataan
Pancasila mula-mula terdapat di dalam kepustakaan Budha di India. Dengan
masuknya budaya India ke Indonesia, maka ajaran Budha masuk ke kepustakaan
Jawa. Setelah Majapahit runtuh dan agama Islam mulai berkembang, sisa-sisa
pengaruh Budha (Pancasila) masih dikenal masyarakat Jawa, yakni: Mateni
(membunuh), Maling (mencuri), Madon (berzina), Mabok (mabuk), dan Main
(berjudi).
b. Secara Historis
Proses perumusan Pancasila diawali saat sidang pertama BPUKI yang tokoh
nasional dimintakan usul. Pada tanggal 1 Juni 1945 di dalam sidang tersebut,
Soekarno berpidato mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia yang diberi
nama Pancasila. Kemudian, pada tanggal 22 Juni 1945 Panitia Sembilan menyusun
naskah Piagam Jakarta yang juga terkandung nilai Pancasila.
Secara spesifik, bisa dijelaskan dengan sebagai berikut:
Menurut Mr. Muhammad Yamin (29 Mei 1945): (1) Peri Kebangsaan, (2) Peri
Kemanusiaan, (3) Peri Ketuhanan, (4) Peri Kerakyatan dan (5) Kesejahteraan
Rakyat. Yang dituangkan menjadi : (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) Kebangsaan
Persatuan Indonesia, (3) Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, (4) Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, (5)
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menurut Ir. Soekarno (1 Juni 1945): (1) Nasionalisme / Kebangsaan Indonesia,
(2) Internasionalisme / Perikemanusiaan, (3) Mufakat / Demokrasi, (4)
Kesejahteraan Sosial, dan (5) Ketuhanan yang Berkebudayaan.
Menurut Piagam Jakarta (22 Juni 1945): Ketuhanan dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, (2) Kemanusiaan yang adil
dan beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam pemusyawaratan perwakilan, dan (5) Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
c. Secara Terminologi
Pada tanggal 18 Agustus 1945, UUD 1945 disahkan dan di dalam pembukaan
UUD yang terdiri dari empat alinea tersebut termuat Pancasila, kemudian ada 37
Pasal, peraturan peralihan (4 ayat) serta aturan tambahan (2 ayat). UUD 1945 inilah
yang secara konstitusional sah dan benar sebagai dasar NKRI. Tetapi saat
mempertahankan eksistensi ketatanegaraan Indonesia, ada pula rumusan pancasila
yang lain: Konstitusi RIS, Dalam UUDS, dan Rumusan Pancasila di Kalangan
Masyarakat. Namun yang sah hingga kini tetap yang di UUD 1945. Yakni yang
berisi:
1. Ketuhanan yang maha esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
BAB II
PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH BANGSA
INDONESIA
A. Pengantar
Perjuangan negara Indonesia terwujud dengan diwarnai penjajahan selama 3,5
abad, serta dari akar budaya yang dimiliki bangsa Indonesia itu sendiri. Kemudian
dalam mendirikan negara, bangsa Indonesia menggali nilai-nilai yang terkandung oleh
bangsa itu, yang merupakan local wisdom bangsa Indonesia sendiri, sebagai unsur
materi Pancasila. Nilai-nilai tersebut diolah dan dikembangkan dengan paham besar di
dunia dan disahkan menjadi dasar filsafat negara.
Untuk memahami Pancasila secara lengkap dan utuh terutama dalam kaitannya
dengan jati diri bangsa Indonesia, mutlak diperlukan pemahaman sejarah perjuangan
bangsa Indonesia untuk membentuk suatu negara yang berdasarkan suatu asas hidup
bersama demi kesejahteraan hidup bersama, yaitu negara yang berdasarkan Pancasila.

B. Nilai-nilai Pancasila dalam Sejarah Bangsa Indonesia


a. Zaman Kutai
Masyarakat Kutai yang membangun sejarah bangsa Indonesia pertama kaliinya
ini menampilkan nilai-nilai sosial politik, dan ketuhanan dalam bentuk kerajaan,
kenduri, serta sedekah kepada para Brahmana.
b. Zaman Sriwijaya
Dalam pembentukan negara, Indonesia melalaui tiga tahap: (1) Sriwijaya (600-
1400): berciri kedatuan. (2) Majapahit (1293-1525): bercirikan keprabuan. (3)
Negara Indonesia merdeka. Sebagai sebuah kerajaan yang mengembangkan tata
negara dan tata pemerintahan yang mampu menciptakan peraturan-peraturan, itu
memang sudah tercemin dalam Marvuat vanua criwijaya siddhayatra subhiksa,
yang berarti suatu cita-cita negara yang adil dan makmur, hal ini merupakan cita-
cita tentang kesejahteraan bersama dalam suatu negara yang sudah tercermin sejak
zaman kerajaan Sriwijaya.
c. Zaman Kerajaan Sebelum Majapahit
Sebelum kerajaan Majapahit muncul sebagai suatu kerajaan yang
memancangkan nilai-nilai nasionalisme, telah muncul kerajaan-kerajaan di Jawa
Tengah dan Jawa Timur secara silih berganti. Pada zaman ini diterapkan antara lain/
raja aiar langgi sikap tolerensi dalam beragama nilai-nilai kemanusiaan (hubungan
dagang dan kerjasama dengan benggala, chola, dan chompa) serta perhatian
kerjahteraan pertanian bagi rakyat dengan dengan membangun tanggul dan waduk.
Di zaman ini juga lambang negara Indonesia yang maknanya melambangkan sila-
sila Pancasila, dituangkan dalam burung garudan dengan seloka Bhineka Tunggal
Ika.
d. Zaman Kerajaan Majapahit
Empu Prapanca menilis Negarakertagama yang memuat istilah Pancasila.
Begitu juga Empu Tantular yang mengarang kitab Sutasoma yang memuat Bhineka
Tunggal Ika atau TanHana Dharma Magrua yang berarti walau berbeda namun
satu juga adanya sebab tidak ada agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal
ini menunjukkan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu Hindu dan
Budha. Jika ditelaah secara morfologis, maka Bhinneka: bhinna (beda) dan ika (itu),
serta tunggal ika adalah satu itu.
Kemudian, sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam
sidang Ratu dan Menteri-menteri di paseban keprabuan Majapahit tahun 1331, yang
berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut: Saya baru
akan berhenti berpuasa makan pelapa, jikalau seluruh nusantara bertakluk di bawah
kekuasaan negara. Impian ini telah mempersatukan silayah nusantara dalam
sebuah kesatuan menjadi kenyataan hingga saat ini. Namun karena perselisihan dan
perang saudara, kerajaan Majapahit perlahan mulai memudar dan akhirnya
mengalami keruntuhan.
e. Zaman Penjajahan
Setelah majapahit runtuhan maka berkambanglah agama islam dengan pesatn
di Indonesia. Bersama dengan itu, maka berkambang pula kerajaan-karajaan islam
seperti kerajaan Demak. Selain itu, berdatangan juga bangsa-bangsa eropa di
nusantara. Bangsa asing yang masuk ke Indonesia pada awalnya bertujuan hanya
untuk berdagang, namun kamudian berubah menjadi praktek penjajahan. Adanya
penjajahan tersebut membuat perlawanan dari rakyat indonesia di berbagai wilayah
nusantara, namun karena tidak adanya kesatuan dan persatuan di antara mereka
maka perlawanan tersebut senantiasa sia-sia.
d. Kebangkitan Nasional
Dimotivasi dengan bangkitanya dunia timur, seperti di India, maka hal itu
menyebabkan munculnya berbagai gerakan nasional untuk mewujudkan suatu
bangsa Indonesia yang merdeka. Gerakan itu ditandai dengan lahihrnya Budi
Utomo, kemudian berbagi organisasi lain muncul seperti SDI, SI, Indische Partij,
PNI dll. Munculnya berbagai organisasi yang mempunya visi satu yakni
kemerdekaan Indonesia, di situ menunjukan bahwa perlawanan melawan penjajah
sudah mulai terealisasikan.
e. Zaman Penjajahan Jepang
Indonesia jatuh ke tangan Jepang karena Belanda takluk pada Jepang. Tak ada
bedanya dengan Belanda, Jepang pun memeras tenaga rakyat untuk kepentingan
Jepang. Kemudian untuk menarik simpati masyarakat Indonesia, Jepang
menjanjikan kamardekaan tanpa syarat kapada bangsa indonesia. Bahkan
mendapatkan simpati dan dukungan dari bangsa indonesia maka sebagai realisasi
janji tersebut maka di bentuklah suatu badan yang bertugas / menyelidiki usaha-
usaha persiapan kemerdekaan indonesia yaitu badan penyelidik usaha-usaha
kemerdekaan indonesia (BPUPKI). Janji merdeka diberikan pada Indonesia
berkali-kali melalui BPUPKI dan PPKI. BPUPKI mengadakan sidang untuk
mewujudkan keinginan merdeka, sebagai berikut:
Sidang pertama BPUPKI dilaksanakan selama 4 hari. Beberapa tokoh diminta
untuk memberikan usalan:
Mr. Muh. Yamin (29 Mei 1945). Mengusulkan tentang negara Indonesia yang
dibentuk, jadi secara tidak langsung Muh. Yamin menguraikan rincian sila-sila
Pancasila, terutama dalam hubungannya dengan dasar negara Republik Indonesia.
Prof. Dr. Soepomo (31 Mei 1945). Dr. Soepomo mengemukakan teori-teori
negara sebagai berikut:
1. Teori negara perseorangan: negara adalah masyarakat hukum yang disusun
atas kontrak antara seluruh individu.
2. Paham negara kelas: negara adalah alat dari suatu golongan untuk menindas
kelas lain.
3. Paham negara integralistik: negara bukanlah jaminan untuk perseorangan
ataupun golongan, melainkan untuk masyarakat seluruhnya sebagai suatu
kesatuan.
Kemudian dalam kaitannya filsafat negara, Dr. Soepomo mengusulkan:
1. Negara yang bersatu dalam arti totaliter.
2. Warga mesti takut kepada Tuhan.
3. Dibentuk sistem badan permusyarawatan.
4. Ekonomi negara bersifat kekeluargaan masyarakat timur.
5. Indonesia memabatasi diri dengan menjadi anggota Asia Timur Raya.
Ir. Soekarno (1 Juni 1945). Soekarno mengusulkan formulasi rumusan dasar
negara yang Soekarno sampaikan dengan pidato lisan tanpa teks. Rumusannya
sebagai berikut:
1. Nasionalisme (kebangsaan Indonesia).
2. Internasionalisme (peri kemanusiaan).
3. Mufakat (demokrasi).
4. Kesejahteraan sosial.
5. Ketuhanan yang maha esa.
f. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Sidang PPKI
Proklamasi Jepang kalah perang melawan tentara sekutu, Jepang terdesak
memberikan kemerdekaan Indonesia melalui PPKI sebagai tim perancang
kemerdekaan Indonesia. PPKI beranggotakan 21 orang.
Maka dari itu pada tengah malam Soekarno-Hatta pergi ke rumah Laksamana
Maeda untuk menegaskan pemerintah Jepang tidak ikut campur dalam proklamasi
kemerdekaan Indonesia. Setelah mendapatkan kepastian, Soekarno dan beberapa
tokoh mulai merumuskan redaksi naskah proklamasi. Pada akhirnya, konsep
Soekarno lah yang diterima dan diketik oleh Sayuti Melik.
Tepat pada esok harinya, pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur
56 Jakarta, hari Jumat pukul 10 pagi WIB, Soekarno didampingi Hatta
membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sehari setelah kemerdekaan
Indonesia, PPKI melakukan sidang yang pertama.
Sidang Pertama (18 Agustus 1945) Sidang pertama PPKI dihadiri 27 orang dan
menghasilkan keputusan-keputusan sebagai berikut :
1. Setelah melakukan beberapa perubahan pada Piagam Jakarta yang kemudian
berfungsi sebagai Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
2. Menetapkan rancangan Hukum Dasar yang telah diterima dari Badan Penyelidik
pada tanggal 17 Juli 1945, setelah mengalami berbagai perubahan karena berkaitan
dengan perubahan Piagam Jakarta, kemudian berfungsi sebagai Undang-Undang
Dasar 1945.
3. Memilih Presiden dan Wakil Presiden yang pertama.
4. Menetapkan berdirinya Komite Nasional Indonesia Pusat sebagai badan
musyawarah darurat.
Sidang Kedua (19 Agustus 1945) Pada sidang kali ini, PPKI berhasil
menetapkan daerah Propinsi sebagai berikut : Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, Sunda Kecil.
Sidang Ketiga (20 Agustus 1945). Sidang ketiga ini dilakukan pembahasan
terhadap agenda tentang Badan Penolong Keluarga Korban Perang, adapun
keputusan yang dihasilkan adalah terdiri atas delapan pasal. Salah satu dari pasal
tersebut yaitu pasal 2, yang berisi dibentuklah suatu badan yang disebut Badan
Keamanan Rakrat (BKR).
Sidang Keempat (22 Agustus 1945) Pada sidang keempat membahas agenda
tentang Komite Nasional Partai Nasional Indonesia, yang pusatnya berkedudukan
di Jakarta.
g. Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan
Arti proklamasi kemerdekaan bagi Indonesia :
1. Secara yuridis, Proklamasi menjadi awal tidak berlakunya hukum kolonial,
dan mulai berlakunya hukum nasional.
2. Secara politis ideologis, Proklamasi berarti bahwa Indonesia terbebas dari
penjajahan danmemiliki kedulatan untuk menentukan nasib sendiri.
Pembentukan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS)
Sebelum persetujuan KMB, bangsa Indonesia telah memeliki kedaulatan. Oleh
karena itu, persetujuan KMB bukanlah penyerahan kedaulatan, melainkan pengalihan
atau pengakuan kedaulatan.
Maka secara otomatis, berlaku pula hasil KMB yang lain:
1. Konstitusi RIS menentukan bentuk negara serikat.
2. Berasaskan demokrasi liberal
3. Konstitusi RIS menghapuskan sama sekali jiwa dan semangat isi pembukaan UUD
1945
Terbentukanya NKRI pada Tahun 1950
Berdasarkan persetujuan RIS tanggal 19 Mei 1950, maka seluruh negara bersatu
dalam negara kesatuan, dengan konstitusi sementara waktu itu adalah yang berlaku
sejak 17 Agustus 1950. Tapi UUDS 50 masih ada sisa bekas demokrasi liberal, yang
tentunya bertentangan dengan Pancasila.
Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Ketidakstabilan negara disegala bidang membuat Presiden Soekarno mengeluarkan
Dekrit Presiden yang berisi :
1. Membubarkan Konstituante
2. UUDS 1950 tidak berlaku lagi dengan diberlakukannya UUD 1945
3. Dibentuknya MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Pengertian dekrit adalah suaut keputusan dari organ tertinggi yang merupakan
penjelmaan kehendak yang bersifat sepihak. Ladnasan hukum dekrit adalah Hukum
Darurat yang dibedakan menjadi dua macam:
1. Hukum Tatanegara Darurat Subjektif: suatu keadaaan hukum yang memberikan
wewenang kepada organ tertinggi untuk mengambil tindakan-tindakan yang bila
perlu melanggar undang-undang dan/ hak asasi rakyat.
2. Hukum Tatanegara Darurat Objektif: suatu keadaan hukum yang memeberikan
wewenang kepada organ tertinggi untuk mengambil tindakan-tindakan hukum,
namun masih berpatokan terhadap konstitusi yang berlaku.
Setelah dekrit presiden 5 Juli 1959 keadaan tatanegara Indonesia berangsur
membaik. Tetapi keadaan itu dimanfaatkan oleh kaum Komunis untuk menanamkan
ideologi bahwaideologi tidak akan pernah selesai sebelum tercapainya masyarakat
yang adil dan makmur. Akibatnya, terjadilah pemusatan kekuasaan di tangan presiden.
Sehingga presiden memiliki kewenangan misalnuya:
1. Presiden membekukan DPR.
2. Presiden membentuk MPRS dan DPA
3. Reorganisasi kabinet dengan perantaranya Menteri Koordinator.
Puncaknya terjadi pemberontakan yang dikenal dengan G 30 S PKI pada tanggal
30 September 1965 untuk merebut kekuasaan yang sah negara RI, disertai dengan
pembunuhan yang keji dari para Jendral yang tidak berdosa. Tujuan pemberontakan
tersebut guna mengganti dasar filsafat negara pancasila dengan ideologi Komunis.
Masa Orde Baru
Meletusnya G 30 S PKI disebut sebagai puncaknya Orde Lama. Maka setelah itu,
masuklah kita ke Orde Baru, yakni suatu tatanan masyarakat dan pemerintahan yang
menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. Munculnya orde
baru diawali dengan munculnya berbagai macam aksi masyarakat yang secara gatis
besar menyuarakan Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat, yakni berisi:
1. Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya
2. Pembersihan kabinet dari unsur G 30 S PKI
3. Penurunan harga barang pokok
Dengan dikeluarkannya Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret, maka
Jendral Soeharto mengemban tugas penting yakni menindas pengacau keamanan yang
dilakukan oleh PKI beserta ormas-ormasnya. Kemudian, dengan dikeluarkannya Tap
MPRS No. 9, maka tugas yang diemban makin berat meliputi:
1. Melaksanakan rencana lima tahun dalam rangka GBHN.
2. Membina kehidupan masyarakat agar sesuai dengan demokrasi Pancasila.
3. Melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Demikianlah Orde Baru berangsur-angsur melaksanakan progam-progaramnya
dalam upaya untuk merealisasikan pembangunan nasional sebagai perwujudan
pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 scara murni dan konsekuen.
Namun seiring berjalannya masa orde baru, berbagai peristiwa yang
mengisyaratkan bahwa orde baru yang dipimpin oleh presiden Soeharto tidak cukup
mumpuni untuk membawa Indonesia meimplementasikan nilai-nilai Pancasila maupun
UUD 1945. Karena dalam perjalanannya, Soeharto memimpin Indonesia dengan cara
diktator yang dimana asa demokrasi yang sesungguhnya tidak dimunculkan. Bukti
kediktatorannya, Soeharto menjabat sebagai presiden Indonesia hingga mencapai 33
tahun lebih lamanya.
Hal itu menimbulkan gejolak, sehingga pada tahun 1998 munculah gerakan
reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa guna meminta Soeharto meleakan
jawabatannya. Hingga pada akhirnya, Soeharto turun jabatan pada tahun tersebut.
Peristiwa turunnya Soeharto itulah yang menandai era Reformasi dimulai, di mana
kebebasan demokrasi yang dahulu pada orde baru dikekang dan disempitkan, mulai
terbuka luas hingga kini.