Anda di halaman 1dari 30

BAB III

GEOTEKNIK DAN METODE PEMBONGKARAN

3.1. Kajian Geoteknik


Geoteknik tambang adalah penerapan ilmu kebumian yang mencakup
geologi, tanah dan mekanika batuan, serta hidrogeologi dalam pembuatan desain
dan fasilitas tambang (Andrew McG. Robertson and Jack Caldwell, 2015).
Salah satu potensi bahaya yang umum dan sering dihadapi pada tambang
terbuka adalah bahaya kelongsoran lereng, baik yang terjadi pada skala single
bench, skala interramp bench, atau dalam ukuran yang lebih besar yaitu pada
skala overall bench.
Untuk menjaga kondisi stabilitas lereng bukaan tambang selama operasi
penambangan, dan pada level resiko yang terkontrol, maka perlu ada suatu
sistem pengendalian stabilitas lereng yang komprehensif sejak proses desain
sampai implementasi/operasi penambangan, termasuk sistem pemantauan dan
evaluasi, untuk mendukung upaya perbaikan secara berkesinambungan. Agar
sistem dapat berjalan dengan baik, dan tambang dapat beroperasi dengan aman,
efektif sesuai desain, khususnya untuk tambang terbuka, maka para pelaksana
kunci dari pengelolaan suatu tambang, mulai dari Kepala Teknik, Manager
Tambang, Perencana Tambang, dan Pengawas Operasi Tambang, termasuk
Pengawas dari Dinas Pertambangan daerah, perlu mempunyai wawasan
pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang masalah-masalah geoteknik
tambang khususnya masalah stabilitas atau instabilitas lereng bukaan tambang
termasuk sistem pengendaliannya. Sistem pengendalian terutama adanya
kemungkinan terjadi kelongsoran akibat pemakaian alat berat dan adanya kegiatan
peledakan menambah pentingnya pengawasan geoteknik kaitannya dengan
keselamatan kerja dalam proses penambangan.
Dengan bertambahnya kedalaman tambang maka ukuran relatif blok-blok
struktur yang menyusun lereng semakin kecil dibandingkan dengan batuan

III - 1
seluruhnya, sehingga mekanisme runtuhan dapat berubah dari satu struktur ke
struktur yahg dikendalikan oleh karakter dari masa yang besar. Diagram
penyelidikan geoteknik untuk rancangan tambang terbuka dapat dilihat pada
Gambar 3.1 berikut ini.

Gambar 3.1
Geoteknik Untuk Penentuan Desain Lereng Tambang Terbuka (John Read and
Peter Stacey, 1942)

Peran geoteknik secara umum dalam suatu proyek pertambangan adalah:


1. Eksplorasi dan Mine Development

III - 2
Geoteknik diperlukan untuk penentuan arah desain pit yang optimal dan
aman sesuai dengan kriteria faktor keamanannya. Selain itu geoteknik diperlukan
dalam pembangunan infrastruktur tambang seperti stockpile, port, hauling road di
area lemah, juga analisis mengenai daya dukung tanah yang aman, cut fill volume,
serta langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi faktor keamanan
sehingga ketika dilakukan kontruksi dan digunakan tidak terjadi longsoran
(faillure).
2. Operasional Tambang
Pada kondisi atau saat kegiatan operasional tambang geoteknik memiliki
peran dalam melakukan pengawasan secara terus menerus terhadap kondisi pit
baik pada front penambangan maupun disposal dan stockpile serta infrastruktur
yang ada, sebagai contoh pengawasan pergerakan lereng tambang, zona-zona
potensi longsor di areal tambang (pit dan waste dump) akibat proses
penambangan, prediksi kapan longsor akan terjadi, apakah berbahaya untuk
operasional di pit atau tidak, langkah apa saja yang harus dilakukan untuk
mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi alat, melakukan penanggulangan
sebelum longsoran terjadi, serta melakukan pengeboran horizontal untuk
mengeluarkan air tanah, dll.
3. Post Mining (Pasca Penambangan)
Setelah kegiatan penambangan selesai, peran geoteknik bekerja sama
dengan safety juga untuk memastikan bahwa kondisi waste dump dan pit dalam
kondisi aman dan tidak terjadi longsor dalam jangka waktu lama, karena setelah
tambang selesai lahan tersebut akan dikembalikan kepada pemerintah dan
masyarakat dan menyangkut masalah citra perusahaan maupun keamanan bagi
warga sekir area penambangan bagi perusahaan yang berstatus green company hal
ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan.

Berdasarkan pada Kepmen Pertambangan dan Energi Nomor:


555.K/26/M.PE/1995 pada pasal 241 membahas mengenai Tinggi Permukaan
Kerja dan Lebar Teras Kerja. Penjabaran dari pasal 241 adalah sebagai berikut:
(1) Kemiringan, tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk
keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh.

III - 3
(2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang
mengandung pasir, tanah liat, kerikil, dan material lepas lainnya harus :
a. Tidak boleh lebih dari 2,5 meter apabila dilakukan secara manual;
b. Tidak boleh lebih dari 6 meter apabila dilakukan secara mekanik dan
c. Tidak boleh lebih dari 20 meter apabila dilakukan dengan menggunakan
clamshell, dragline, bucket wheel excavator atau alat sejenis kecuali
mendapat persetujuan Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.
(3) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak
boleh lebih dari 6 meter, apabila dilakukan secara manual.
(4) Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang
dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat, maka tinggi jenjang
maksimum untuk semua jenis material kompak 15 meter, kecuali mendapat
persetujuan Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang.
(5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila :
a. Tinggi jenjang keseluruhan pada sistem penambangan berjenjang lebih
dari 15 meter,dan
b. Tinggi setiap jenjang lebih dari 15 meter.
(6) Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1,5 kali tinggi jenjang atau
disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan
aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada
tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan
adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan
lainnya.

3.1.1. Uji laboratorium


Dari hasil pengujian batu andesit dilaboratorium maka diperoleh data
sebagai berikut:
1. Sifat fisik
Pengujian sifat fisik dilakukan dengan melakukan pengujian untuk beberapa
parameter seperti berat asli, berat jenuh, berat tergantung dan berat kering.
Berdasarkan hasil pengujian sampel di Laboratorium Mekanika Batuan Program
Studi Teknik Pertambangan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta,
sampel batu andesit dari Dusun Degan II, Desa Banjararum, Kecamatan

III - 4
Kalibawang, Kulon Progo mempunyai hasil uji sifat fisik seperti dalam Tabel 3.1
berikut :
Tabel 3.1
Hasil Uji Sifat Fisik Batu Andesit
Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel
Sifat Fisik batuan
1 2 3 4 5 6 7
Berat Asli (gr) 301.2 303.1 311.2 305.4 306.1 295 295.8
Berat jenuh (gr) 305.5 306.2 312.9 307.1 309.2 299.4 297.9
Berat Tergantung (gr) 176 175 180 180.5 180.3 168.5 175.6
Berat Kering (gr) 281.1 280.2 282.1 285.8 271.3 280.5 270.3
3
Bobot Isi asli (gr/cm ) 2.326 2.310 2.342 2.412 2.375 2.254 2.419
3
Bobot isi kering (gr/cm ) 2.171 2.136 2.123 2.258 2.105 2.143 2.210
3
Bobot isi jenuh (gr/cm ) 2.359 2.334 2.354 2.426 2.399 2.287 2.436
Apperent spesifik gravity 2.171 2.136 2.123 2.258 2.105 2.143 2.210
True spesifik gravity 2.675 2.663 2.763 2.714 2.981 2.504 2.854
Kadar air asli (%) 7.150 8.173 10.315 6.858 12.827 5.169 9.434
Kadar air jenuh (%) 8.680 9.279 10.918 7.453 13.970 6.738 10.211
Derajat kejenuhan (%) 82.377 88.077 94.481 92.019 91.821 76.720 92.391
Porositas (%) 18.842 19.817 23.175 16.825 29.403 14.439 22.567
Angka pori 0.232 0.247 0.302 0.202 0.416 0.169 0.291
Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel
Sifat Fisik batuan
8 9 10 11 12 13 14
Berat Asli (gr) 293.8 293.8 293.1 295 312.4 305.2 303.7
Berat jenuh (gr) 295.9 297.4 295.7 298.4 314.1 307.3 306.5
Berat Tergantung (gr) 168 170 176 172.2 179 187.4 188.3
Berat Kering (gr) 271 270.9 281.1 271.9 287.3 281.3 285.6
Bobot Isi asli (gr/cm3) 2.297 2.306 2.449 2.338 2.312 2.545 2.569
3
Bobot isi kering (gr/cm ) 2.119 2.126 2.348 2.155 2.127 2.346 2.416
3
Bobot isi jenuh (gr/cm ) 2.314 2.334 2.470 2.365 2.325 2.563 2.593
Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel Sampel
Sifat Fisik batuan
8 9 10 11 12 13 14
Apperent spesifik gravity 2.119 2.126 2.348 2.155 2.127 2.346 2.416
True spesifik gravity 2.631 2.685 2.675 2.727 2.653 2.996 2.935
Kadar air asli (%) 8.413 8.453 4.269 8.496 8.737 8.496 6.338
Kadar air jenuh (%) 9.188 9.782 5.194 9.746 9.328 9.243 7.318
Derajat kejenuhan (%) 91.566 86.415 82.192 87.170 93.657 91.923 86.603
Porositas (%) 19.468 20.801 12.197 20.998 19.837 21.685 17.682
Angka pori 0.242 0.263 0.139 0.266 0.247 0.277 0.215
Sumber: (Data PT. Sitompul Andesit Mining, 2016)

III - 5
2. Sifat Mekanik
Pengujian sifat mekanik pada sampel batuan dilakukan dengan pengujian
beban titik (point load index) yang kemudian didapatkan data kuat tekan uniaksial
dari konversi UCS = 23 Is (Bieniawski, 1975) dan untuk mengetahui nilai sudut
gesek dalam serta nilai kohesi didapatkan menggunakan software roclab 1.0
dengan memasukkan parameter data UCS, nilai GSI, mi, D, dan tinggi lereng.
Berdasarkan hasil pengujian sampel yang kemudian menggunakan software
roclab 1.0 untuk mendapatkan nilai kohesi dan sudut gesek dalam maka diperoleh
sifat mekanik sesuai dengan Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Data Pengujian Sampel Batuan
Point
Kuat tekan Koordinat
Nama Load
No. Sampel Uniaksial,c
Batuan Index,Is
(MPa) X Y Z
(MPa)
SA1/5-09-16 Andesit 1.611 37.057 411988 9144852 114
SA2/5-09-16 Andesit 1.806 41.549 411968 9144888 115
SA3/5-09-16 Andesit 2.172 49.947 412095 9144920 116
SA4/5-09-16 Andesit 1.596 36.716 412141 9144929 122
SA5/5-09-16 Andesit 1.739 39.987 412263 9144997 120
SA1/6-09-16 Andesit 2.595 59.674 412346 9145052 83
SA2/6-09-16 Andesit 2.893 66.546 412371 9145052 90
SA3/6-09-16 Andesit 1.602 36.843 412396 9145043 101
SA1/3-09-16 Andesit 0.921 21.177 412678 9145044 101
SA2/3-09-16 Andesit 1.585 36.462 412637 9145052 112
SA3/3-09-16 Andesit 0.883 20.299 412594 9145056 124
SA3/4-09-16 Andesit 0.989 22.739 412293 9145027 110
SA4/4-09-16 Andesit 1.153 26.529 412311 9145059 109
SA5/4-09-16 Andesit 0.811 18.650 412329 9145057 110
Rata-rata 1.597 36.727
Sumber: (Uji Laboratorium PT. Sitompul Andesit Mining, 2016)

Tabel 3.3
Data Hasil Pengujian Sampel Batuan Menggunakan Software Roclab 1.0
Tinggi
No. UCS RMR GSI mi D ( o) c (MPa)
lereng
1 37.057 82 77 25 1.0 33 58.81 0.722
2 41.549 82 77 25 1.0 33 59.46 0.784
3 49.947 82 77 25 1.0 33 60.33 0.904

III - 6
Tinggi
No. UCS RMR GSI mi D ( o) c (MPa)
lereng
4 36.716 82 77 25 1.0 33 58.58 0.724
5 39.987 82 77 25 1.0 33 59.35 0.759
6 59.674 82 77 25 1.0 17 63.51 0.958
7 66.546 82 77 25 1.0 17 63.74 1.061
8 36.843 82 77 25 1.0 17 61.83 0.626
9 21.177 82 77 25 1.0 24 57.68 0.439
10 36.462 82 77 25 1.0 24 59.89 0.674
11 20.299 82 77 25 1.0 24 57.40 0.427
12 22.739 82 77 25 1.0 7 63.27 0.368
13 26.529 82 77 25 1.0 7 63.46 0.427
14 18.650 82 77 25 1.0 7 62.13 0.314
Rata-
36.727 82.0 77.0 25.0 1.0 22.071 60.674 0.656
rata
Sumber: (Data PT. Sitompul Andesit Mining, 2016)

Berdasarkan analisis dengan menggunakan software roclab 1.0 di atas


didapatkan hasil pengujian rata-rata sebagai berikut:
a. Sudut gesek dalam () : 60,674
b. Kohesi (c) : 0,656 MPa

3.1.2 Analisis Longsoran


Analisa longsoran pada tambang terbuka sangat penting dilakukan oleh
suatu perusahan tambang baik sebelum kegiatan tambang dimulai sampai saat
penutupan tambang. Terdapat beberapa parameter yang dibutuhkan dalam
penentuan jenis longsoran adalah :
1. Arah umum bidang lemah dan kemiringannya (Dip/Dip direction)
Data ini diperoleh dari pengambilan data secara langsung di lapangan.
2. Arah umum lereng dan kemiringannya (Dip/Dip direction)
Data ini diperoleh dari pengambilan data secara langsung di lapangan.
3. Sudut geser dalam batuan ()

Parameter di atas didapatkan dari hasil pengambilan data di lapangan dalam


kegiatan eksplorasi serta hasil uji laboratorium. Selain ke tiga parameter di atas,
maka kita harus mengetahui jenis-jenis longsoran. Jenis longsoran perlu diketahui
agar kemungkinan longsoran dapat hindari sedini mungkin. Terdapat 4 jenis
longsoran yang ada dalam tambang terbuka yaitu longsoran bidang, longsoran

III - 7
baji, longsoran busur dan longsoran guling. Maka untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 3.2.

Gambar 3.2
Jenis Longsoran (Hoek & Brown, 1989)
1. Longsoran Bidang
Longsoran bidang merupakan suatu longsoran batuan yang terjadi sepanjang
bidang luncur yang dianggap rata. Bidang luncur tersebut dapat berupa bidang
kekar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan batuan. Syarat-syarat terjadinya
longsoran bidang :
a. Terdapat bidang lincir bebas (daylight) berarti kemiringan bidang lurus lebih
kecil daripada kemiringan lereng.
b. Arah bidang perlapisan dengan bidang lemah sejajar atau mendekati dengan
arah lereng ( 200).
c. Kemiringan bidang luncur atau lebih besar daripada sudut geser dalam
batuannya.
d. Terdapat bidang geser (tidak terdapat gaya penahan) pada kedua sisi
longsoran.

III - 8
Gambar 3.3
Bentuk Longsoran Bidang (Hoek, 1970 dalam William Hustrulid and Mark
Kuchta, 1998)

2. Longsoran Baji
Longsoran baji dapat terjadi pada suatu batuan jika lebih dari satu bidang
lemah yang bebas dan saling berpotongan. Sudut perpotongan antara bidang
lemah tersebut lebih besar dari sudut geser dalam batuannya. Bidang lemah ini
dapat berupa bidang sesar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan.Cara
longsoran baji dapat melalui satu atau beberapa bidang lemahnya maupun melalui
garis perpotongan kedua bidang lemahnya. Longsoran baji dapat terjadi dengan
syarat geometri sebagai berikut:
a. Sudut gesek dalam lebih kecil dari perpotongan 2 bidang diskontinu lebih
kecil dari kemiringan lereng.
b. Arah penunjaman garis potong harus lebih kecil daripada sudut kemiringan
lereng.
c. Bentuk longsoran dibatasi oleh muka lereng, bagian atas lereng dan kedua
bidang lemah.

III - 9
Gambar 3.4
Bentuk Longsoran Baji (Hoek & Bray, 1977)
3. Longsoran Busur
Longsoran busur adalah yang paling umum terjadi di alam, terutama pada
batuan yang lunak (tanah). Pada batuan yang keras longsoran busur hanya terjadi
jika batuan tersebut sudah mengalami pelapukan dan mempunyai bidang-bidang
lemah (rekahan) yang sangat rapat dan tidak dapat dikenali lagi kedudukannya.
Pada longsoran bidang dan baji, kelongsoran dipengaruhi oleh struktur bidang
perlapisan dan kekar yang membagi tubuh batuan kedalam massa diskontinuitas.
Pada tanah pola strukturnya tidak menentu dan bidang gelincir bebas mencari
posisi yang paling kecil hambatannya.
Longsoran busur akan terjadi jika partikel individu pada suatu tanah atau
massa batuan sangat kecil dan tidak saling mengikat. Oleh karena itu batuan yang
telah lapuk cenderung bersifat seperti tanah. Tanda pertama suatu longsoran busur
biasanya berupa suatu rekahan tarik permukaan atas atau muka lereng, kadang-
kadang disertai dengan menurunnya sebagian permukaan atas lereng yang berada
disamping rekahan. Penurunan ini menandakan adanya gerakan lereng yang pada
akhirnya akan terjadi kelongsoran lereng, hanya dapat dilakukan apabila belum
terjadi gerakan lereng tersebut.

III - 10
Gambar 3.5
Bentuk Longsoran Busur (Hoek & Bray, 1977)
4. Longsoran Toppling (Guling)
Longsoran guling terjadi pada batuan yang keras dan memiliki lereng terjal
dengan bidang-bidang lemah yang tegak atau 11elati tegak dan arahnya
berlawanan dengan arah kemiringan lereng. Longsoran ini 11ela berbentuk blok
atau bertingkat. Kondisi untuk menggelincir atau meluncur ditentukan oleh sudut
geser dalam dan kemiringan bidang luncurnya, tinggi balok dan lebar balok
terletak pada bidang miring.

Gambar 3.6
Bentuk Longsoran Guling (Hoek & Bray, 1977)

Kondisi geometri yang diperlukan untuk terjadinya longsoran guling, antara


lain :
a. Balok akan tetap mantap bila < dan b/h > tan .
b. Balok akan meluncur bila > dan b/h > tan .
c. Balok akan tergelincir, kemudian mengguling apabila > dan b/h < tan .

III - 11
d. Balok akan langsung mengguling bila < dan b/h < tan .

3.1.3 Analisis Kemantapan Lereng


1. Metode Kinematika
Data lapangan berupa arah dan kemiringan lereng yang terbentuk (dip/dip
direction), sudut geser dalam dan dip/dip direction dari pengukuran kekar di
lapangan selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan bantuan
program (software) dips. Berikut ini adalah hasil percobaan analisis longsoran
pada 610/ N 1290 E, 360/ N 1190 E.

Gambar 3.7
Analisa Longsoran Bidang pada 610/ N 1290 E

a. Hasil Analisa Longsoran Bidang pada kedudukan 610/ N 1290 E


Berdasarkan dari hasil software dips seperti pada Gambar 3.7 di atas maka
dapat dianalisis bahwa potensi longsoran bidang yang ada adalah 16,0216 %
N 360E /750
sehingga untuk daerah ini potensi terjadi longsoran tidak terlalu besar dan relatif
pada keadaan aman.

III - 12
Gambar 3.8
Analisa Longsoran Baji 360/ N 1190 E

b. Hasil Analisa Longsoran Baji pada 360/ N 1190 E


Berdasarkan dari hasil software dips seperti pada Gambar 3.8 maka dapat
dianalisis bahwa terdapat potensi longsoran baji namun tidak berpotensi
terjadinya longsoran tersebut karena:
1) Sudut gesek dalam < perpotongan 2 bidang diskontinu < kemiringan lereng,
yaitu 300 < 360 < 360. Tidak memenuhi syarat terjadi longsoran.
2) Arah bidang lemah searah dengan arah longsoran. Pada Gambar 3.9 dapat
dilihat bahwa arah lereng menghadap antara E-S sedangkan dan arah
longsoran pada posisi N-E. Tidak memenuhi syarat terjadi longsoran.
Berdasarkan analisis di atas maka pada daerah tersebut tidak berpotensi
terjadi longsoran baji karena arah longsoran tidak searah dengan arah lereng.

Kesimpulan analisis potensi longsoran dari analisis kinematika yang


dilakukan pada kedudukan lereng 610/ N 1290 E dan 360/ N 1190 E tidak
berpotensi terjadi longsoran baik longsoran bidang maupun baji. Untuk lebih
jelasnya, jenis longsoran dari ke empat percobaan diatas dapat dilihat pada Tabel
3.4.

Tabel 3.4
Hasil Analisis Data Kekar

III - 13
Arah Umum Bidang
Kekar
Lereng Sudut
Jumlah Dip/Dip Direction ()/
Gesek Potensi
No. Data (NE)
Dalam Longsor
Dip Kekar
Di ()
Directio Set 1 Set 2 Set 3
p
n
Tidak
1. N 129 E 61 50 30 65/139 - -
Ada
Tidak
2. N 119 E 36 15 30 75/036 - -
Ada

2. Metode Klasifikasi Massa Batuan


Metode Klasifikasi Massa Batuan merupakan metode dengan sistem
pengklasifikasian berdasarkan beberapa ahli seperti Klasifikasi Rock Mass
Ratting dan Geological Strength Index . Klasifikasi Rock Massa Ratting dibuat
pertama kali oleh Bieniawski pada tahun 1973. Sistem klasifikasi ini telah
dimodifikasi beberapa kali, terakhir pada tahun 1989.
Modifikasi dilakukan menggunakan data yang baru agar dapat digunakan
untuk berbagai kepentingan dan disesuaikan dengan standart internasional.
Klasifikasi Rock Massa Ratting (RMR) menggunakan parameter berikut ini:
a. Kuat tekan uniaksial dari material batuan
Kuat tekan batuan utuh dapat diperoleh dari Uji Kuat Tekan Uniaksial
(Uniaxial Compressive Strength, UCS) dan Uji Point Load (Point Load Index,
PLI). UCS menggunakan mesin tekan untuk menekan sampel batuan dari satu
arah (uniaxial). Sampel batuan yang diuji dalam bentuk silinder (tabung) dengan
perbandingan antara tinggi dan diameter (/D) tertentu.
Perbandingan ini sangat berpengaruh pada nilai UCS yang dihasilkan.
Parameter kekuatan batuan utuh diberi bobot berdasarkan nilai UCS atau nilai
PLI-nya seperti tertera pada Tabel 3.5 dibawah ini. Pada proses perencanaan
penambangan ini data yang digunakan adalah data dari hasil Point Load Index
yang kemudian dilakukan perhitungan untuk mendapatkan nilai kekuatan batuan
.
Tabel 3.5
Strength of Intact Rock Material
UCS/ uniaxial
Point Load
Diskripsi Kualitatif compressive strength Rating
Strength(Mpa)
(Mpa)

III - 14
Sangat kuat sekali (exceptionally strong) >250 >8 15
Sangat kuat(very strong) 100 -250 48 12
Kuat (strong) 50-100 2 4 7
Sedang (average) 25-50 1 2 4
Lemah (weak) 5-25 Penggunaan 2
Sangat lemah (veryweak) 1 -5 1
UCS lebih
Sangat lemah sekali (extremely weak) <1 0
dianjurkan
At compressive strength of rock material less than 1.0 Mpa many rock materials would be
regarded as soil.
Sumber : (Bieniawski, 1979)

b. Rock Quality Designation (RQD)


Pada tahun 1967 D.U. Deere memperkenalkan Rock Quality Designation
(RQD) sebagai sebuah petunjuk untuk memperkirakan kualitas dari massa batuan
secara kuantitatif. RQD didefinisikan sebagai persentasi dari perolehan inti bor
(core) yang secara tidak langsung didasarkan pada jumlah bidang lemah dan
jumlah bagian yang lunak dari massa batuan yang diamati dari intibor (core).
Hanya bagian yang utuh dari inti bor dengan panjang lebih besar dari 100
mm (4 inchi) yang dijumlahkan kemudian dibagi panjang total pengeboran (core
run) (Deere, 1967). Diameter inti bor (core) harus berukuran minimal NW (54.7
mm atau 2.15 inchi) dan harus berasal dari pemboran menggunakan double-tube
core barrel.
RQD (%) =100e-0,1 (0,1+1)....................................................... (3.1)
Keterangan :
= Frekuensi Kekar (m)
RQD dilihat sebagai sebuah petunjuk kualitas batuan di mana permasalahan
pada batuan seperti tingkat kelapukan yang tinggi, lunak, hancur, tergerus dan
terkekarkan diperhitungkan sebagai bagian dari massa batuan (Deere, 1988).
Dengan kata lain, RQD adalah ukuran sederhana dari persentasi perolehan batuan
yang baik dari sebuah interval kedalaman lubang bor. Hubungan antara nilai RQD
dan kualitas massa batuan seperti Tabel 3.6.
Tabel 3.6
Rock Quality Designation Rating
Qualitative Description RQD (%) Rating
)
Excellent 90 1000 20
Good 75 90 17
Fair 50 75 13
Poor 25 - 15
III 50 8

Very Poor <25 3


Sumber: (Bieniawski, 1979)

c. Jarak antar kekar


Terdapat beberapa definisi mengenai jarak antar kekar (Spacing
Discontinuities) ,diantaranya yaitu :
1) Didefinisikan sebagai jarak tegak lurus antara dua kekar berurutan
sepanjang garis pengukuran yang dibuat sembarang.
2) Elativ Eissa (1991) mendefinisikan spasi kekar sebagai suatu panjang utuh
pada suatu selang pengamatan.
3) ISRM, jarak antar (spasi) kekar adalah jarak tegak lurus antara bidang kekar
yang berdekatan dalam satu set kekar.
Parameter jarak antar kekar diberi bobot berdasarkan nilai spasi kekar-nya
seperti pada Tabel 3.7 di bawah ini:
Tabel 3.7
Spacing of Discontinuities

Description Spacing (m) Rating

Sangat lebar (very wide) >2 20


Lebar (wide) 0.6 2 15
Sedang (moderate) 0.2 0.6 10
Rapat (close) 0.006 0.2 8
Sangat rapat (very close) < 0.006 5
Sumber: (Bieniawski, 1979)

d. Kondisi kekar (Condition of discontinuities)


Ada lima karakteristik kekar yang masuk dalam pengertian kondisi kekar,
meliputi:
1) Kemenerusan (persistence/continuity)
Panjang dari suatu kekar dapat dinilai secara kasar yaitu dengan mengamati
panjang jejak kekar pada suatu bukaan. Pengukuran dengan cara ini masih sangat
kasar dan belum mencerminkan kondisi kemenerusan kekar sesungguhnya.
Seringkali panjang jejak kekar pada suatu bukaan lebih kecil dari panjang kekar

III - 16
sesungguhnya, sehingga kemenerusan yang sesungguhnya hanya dapat ditebak
atau tidak dapat dipastikan. Jika jejak sebuah kekar pada suatu bukaan berhenti
atau terpotong kekar lain atau terpotong oleh solid/massive rock ini menunjukkan
adanya kemenerusan.

2) Jarak antar permukaan kekar atau celah (separation/aperture)


Merupakan jarak tegak lurus antar dinding batuan yang berdekatan pada
bidang diskontinu. Celah tersebut dapat berisi material pengisi (infilling) atau
tidak.

3) Kekasaran kekar (roughness)


Tingkat kekasaran permukaan kekar dapat dilihat dari bentuk gelombang
permukaannya. Gelombang ini diukur relatif dari permukaan datar dari kekar.
Semakin besar kekasaran dapat menambah kuat geser kekar dan dapat juga
mengubah kemiringan pada bagian tertentu dari kekar tersebut.

4) Material pengisi (infilling/gouge)


Material pengisi berada pada celah antara dua dinding bidang kekar yang
berdekatan. Sifat material pengisi biasanya lebih lemah dari sifat batuan induknya.
Beberapa material yang dapat mengisi celah diantaranya breccia, clay, silt,
mylonite, gouge, sand, quartz dan calcite.

5) Tingkat kelapukan (weathering)


Penentuan tingkat kelapukan kekar didasarkan pada perubahan warna pada
batuannya dan terdekomposisinya batuan atau tidak. Semakin besar tingkat
perubahan warna dan tingkat terdekomposisi, batuan semakin lapuk. Parameter
diatas diberi bobot masing- masing, kemudian dijumlahkan sebagai bobot total
kondisi kekar. Nilai parameter kondisi kekar dapat dilihat pada Tabel 3.8 berikut :
Tabel 3.8
Guidelines for Classification of Discontinuity Conditions
Parameter Rating

Panjang kekar <1m 1-3 m 3-10 m 10-20 m >20 m


(persistence/continuity) 6 4 2 1 0

III - 17
Jarak antar permukaan kekar Tidak ada <0.1 mm 0.1-1 mm 1-5 mm >5 mm
(separation/aperture)
6 5 4 1 0
Sangat kasar Kasar Sedikit kasar Halus Slickensided
Kekasaran kekar(roughness)
6 5 3 1 0
Keras Lunak
Material pengisi Tidak ada
<5mm >5mm <5mm >5mm
(infilling/gouge)
6 4 2 2 0
Tidak lapuk Sedikit lapuk Lapuk Sangat lapuk Hancur
Kelapukan (weathering)
6 5 3 1 0
Sumber: (Bieniawski, 1993)

e. Kondisi air tanah (Groundwater conditions)


Kondisi air tanah adalah keadaan air yang terdapat dalam lapisan tanah atau
bebatuan dibawah permukaan tanah. Terdapat 5 jenis kondisi air tanah yang
ditemukan pada pengukuran kekar yaitu: kering (completely dry), lembab (damp),
basah (wet), terdapat tetesan air (dripping), atau terdapat aliran air (flowing).
Parameter kondisi air tanah dalam penilaian berdasarkan Tabel 3.9 di bawah:
Tabel 3.9
Condition Groundwater
Kering Lembab Basah Terdapat Terdapat aliran
Kondisi Umum (completely (damp) (wet) tetesan air air (flowing)
dry) (dripping)
Debit air tiap10 m
panjang Tidak ada <10 10 25 25 125 > 125
terowongan
(liter/menit)
Tekanan air pada
kekar/ >0.5
0 <0.1 0.1 0.2 0.2-0.5
Tegangan principal
mayor
Rating 15 10 7 4 0
Sumber : (Bieniawski , 1979)

f. Orientasi Lereng
Parameter ini merupakan penambahan terhadap kelima parameter
sebelumnya. Bobot yang diberikan untuk parameter ini sangat tergantung pada
hubungan antara orientasi kekar-kekar yang ada dengan metode penggalian yang
dilakukan. Oleh karena itu dalam perhitungan, bobot parameter ini biasanya

III - 18
dilakukan terpisah dari lima parameter lainnya. Hubungan antara Joint
Orientations dengan beberapa aspek dapat dilihat pada Tabel 3.10, Tabel 3.11
Tabel 3.10
Assessment of joint Orientation effect on Tunnels
Strike perpendicular to tunnel axis Strike parallel to Irrespective
Drive with dip Drive against dip axis of strike

Dip Dip Dip Dip Dip Dip Dip


450 900 200 450 450 900 200 450 200 450 450 900 00 200
Very
Very Unfavor
Favorable Fair Fair unfavor Fair
favorable able
able
Sumber : (Bieniawski, 1984)

Tabel 3.11
Adjusment of joint Orientation

Joint Orientation Very Very


Favorable Fair Unfavorable
Assessmentfor Favorable Unfavorable

Tunnels 0 -2 -5 -10 -12


Raft Foundation 0 -2 -7 -15 -25
Slopes* 0 -5 -25 -50 -60
*It is recommended to use slope mass rating
Sumber : Bieniawski ,1979

Tabel 3.12
Hasil Analisa Kekar dan RQD
Lokasi (kekar/m) RQD (%)
X: 412287, Y: 9145027 2,400 97,54
X: 412310, Y: 9145062 4,465 91,96
Sumber: (Data PT. Sitompul Andesit Mining, 2016)
Tabel 3.13

III - 19
Parameter Selang Nilai
Kuat Untuk kuat tekan rendah
PLI (MPa) >10 4-10 2-4 1-2
Tekan perlu UCS
1 Batuan >250
UCS (MPa) 100-250 50-100 25-50 5-25 1-5 <1
Utuh
Bobot 15 12 7 4 2 1 0
RQD (%) 90-100 75-90 50-75 25-50 <25
2
Bobot 20 17 13 8 3
Jarak Diskontinuiti (m) >2 0.6-2 0.2-0.6 0.06-0.2 <0.06
3
Bobot 20 15 10 8 5
Aliran/10m None
panjang tunnel <10 10-25 25-125 >125
Air (ltr/menit)
tanah Tek. Air pada 0
4 pada kekar/maks
<0.1 0.1- 0.2 0.2-0.5 >0.5
kekar tegangan utama
(MPa)
Kondisi Umum Kering Lembab Basah Menetes Mengalir
Bobot 15 10 7 4 0
Panjang kekar <1m 1-3 m 3-10 m 10-20 m >20 m
(persistence/continuity) 6 4 2 1 0
Jarak antar permukaan Tida
<0.1 mm 0.1-1 mm 1-5 mm >5 mm
kekar k ada
(separation/aperture) 6 5 4 1 0
Sangat
Kekasaran Kasar Sedikit kasar Halus Slickensided
kasar
5 kekar(roughness)
6 5 3 1 0
Tidak Keras Lunak
Material pengisi ada <5mm >5mm <5mm >5mm
(infilling/gouge)
6 4 2 2 0
Tidak Sangat Hancu
Sedikit lapuk Lapuk
Kelapukan (weathering) lapuk lapuk r
6 5 3 1 0
Strike perpendicular to tunnel axis Irrespectiv
Strike parallel to axis e of strike
Drive with dip Drive against dip
Dip Dip Dip Dip Dip Dip Dip
6 Orientasi Lereng 450 - 900 200 - 450 450 - 900 200 - 450 200 - 450 450 - 900 00 - 200
Very
Very Unfavor
Favorable Fair Fair unfavorabl Fair
favorable able
e
0 -5 -25 -50 -60
Analisis RMR

Tabel 3.14
Perhitungan RMR System Pada Lokasi Eksplorasi
Keterangan Nilai Bobot
Kuat Tekan Batuan (Mpa) 36,727 15
RQD (%) 95,241 20
Diskontinuitas 1,002 15
Halus , sedikit lapuk, tidak ada
Kondisi Diskontinuiti 22
material pengisi
Air Tanah Lembab 10
Total RMR 82

III - 20
Tabel 3.15
RMR Rock Class
No RMR (Rock Class)
1 100 81 80 61 60 41 40 21 < 20
2 Sangat Baik Baik Sedang Jelek Sangat Jelek

3. Metode Kesetimbangan Batas


Metode kesetimbangan batas untuk kestabilan lereng membagi massa
bidang gelincir menjadi irisan-irisan kecil. Gaya-gaya geser yang bekerja pada n
irisan diasumsikan mewakili seluruh bagian yang sama dari kuat geser
batuan/tanah di mana gaya geser ini bekerja. Perhitungan faktor keamanan (FK)
menggunakan software slide dengan memasukan parameter data pada Tabel 3.16
a. Analisis Faktor Keamanan pada Single Slope
Analisis geometri lereng yang pertama dibuat adalah untuk keadaan jenjang
1 slope, di mana keadaan ini terdapat di awal kegiatan penambangan akan
dilakukan. Data material properties yang digunakan sesuai dengan Tabel 3.16.
Tabel 3.16
Data Material Properties
No Parameter Nilai
1 Unit Weight 21.56559 kN/m3
2 Stength Type Gen. Hoek-Brown
3 UCS Intact 36.727 MPa
4 D 1.0
5 GSI 77
6 mi 25
7 mb 9.87944
8 s 0.1145588
9 a 0.500292
10 Seicmic Load 0.05
11 Distributed Load 106.70 kN/m

Gambar 3.9
Analisis FK pada Single Bench

Berdasarkan hasil analisis di atas, dengan tinggi geometri lereng 10 m dan


lebar jenjang 6.67 meter dan slope angle 800 didapatkan nilai Faktor Keamanan
11.578, sehingga dalam keadaan single slope saat penambangan dimulai kondisi
bench dalam keadaan Aman.

III - 21
b. Analisis Faktor Keamanan pada Overall Slope Tanpa Jalan Tambang
Analisis ini dilakukan untuk keadaan jenjang tanpa adanya jalan tambang,
geometri untuk jenjang ini diperlukan untuk bagian dinding penambangan bagian
utara dan bagian barat. Data material properties pada Tabel 3.17. Berdasarkan
hasil analisis sesuai Gambar 3.10 didapatkan nilai faktor keamana 4,837.
Tabel 3.17
Data Material Properties
No Parameter Nilai
1 Unit Weight 21.56559 kN/m3
2 Stength Type Gen. Hoek-Brown
3 UCS Intact 36.727 MPa
4 D 1.0
5 GSI 77
6 Mi 25
7 Mb 9.87944
8 s 0.1145588
9 a 0.500292
10 Seicmic Load 0.05
11 Distributed Load 106.70 kN/m

Gambar 3.10
Analisis FK pada Overall Slope dengan 4 Jenjang
c. Analisis Faktor Keamanan pada Interramp Slope 1
Analisis interramp slope angle-1 diperlukan untuk analisis faktor keamanan
bench yang terletak di atas jalan tambang. Data material properties sesuai Tabel
3.18.
Tabel 3.18
Data Material Properties
No Parameter Nilai

III - 22
1 Unit Weight 21.56559 kN/m3
2 Stength Type Gen. Hoek-Brown
3 UCS Intact 36.727 MPa
4 D 1.0
5 GSI 77
6 Mi 25
7 Mb 9.87944
8 s 0.1145588
9 a 0.500292
10 Seicmic Load 0.05
11 Distributed Load 106.70 kN/m

Gambar 3.11
Analisis FK pada Interramp Slope 1
Analisis IRA-1 diperlukan sebagai analisis bench di mana dibagian bawah
bench ini terdapat jalan tambang sehingga perlu adanya perhitungan faktor
keamanan untuk keselamatan kerja baik alat maupun karyawan yang melewati
jalan tambang.
Geometri jenjang dibuat dengan tinggi lereng 10 meter, lebar lereng 6,67
meter dan sudut jenjang 800 dengan hasil analisis Faktor Keamanan 7,813 yang
artinya dalam keadaaan aman.

d. Analisis Faktor Keamanan pada Interramp Slope 2


Analisis IRA-2 dilakukan untuk mengetahui factor keamanan dari jenjang
yang berada di bawah jenjang yang digunakan sebagai jalan tambang. Data
material properties yang digunakan sesuai dengan parameter yang ada pada
perhitungan analisis IRA-1.
Data geometri yang digunakan adalah untuk jalan tambang dibuat dengan
lebar 13 meter dan untuk dimensi jenjang dengan tinggi jenjang 10 meter, lebar

III - 23
jenjang 6,67 meter, dan sudut jenjang 800 didapatkan nilai Faktor Keamanan
6,851.

Gambar 3.12
Analisis FK pada Interramp Slope 2

e. Analisis Faktor Keamanan pada Overall Slope dengan Adanya Jalan


Tambang
Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan nilai faktor keamanan sesuai
dengan keadaan jenjang dengan adanya jalan tambang. Data material properties
dan geometri jenjang sesuai dengan data pada IRA-1 dan IRA-2 maka didapatkan
nilai FK 5,391.

Gambar 3.13
Analisis FK pada Overall Slope dengan Ramp

Nilai FK dari keseluruhan analisis di atas baik dapat dilihat pada Tabel 3.19.
Tabel 3.19
Hasil Analisi Software Slide Terhadap Dimensi Jenjang
Bench Geometry IRA-1 IRA-2 Overall Slope
Overall
Bench Bench Ket.
BFA Slope Ramp Angle FK Angle FK Angle FK
Height Width
Height
10 m 10 m 6.67 m Aman
800 800 11.578

III - 24
800 10 m 40 m 6.67 m Aman
55.930 4.837
800 10 m 40 m 6.67 m Aman
13 m 500 7.813
800 10 m 40 m 6.67 m Aman
13 m 500 6.851
800 10 m 40 m 6.67 m Aman
13 m 500 5.391

Kesimpulan dari percobaan analisa dengan menggunakan software slide


dengan metode Morgenstern-Price dan Spencer di atas dapat disimpulkan untuk
dimensi jenjang dengan rencana ketinggian jenjang 10 meter melalui perhitungan
untuk single slope, maupun multi slope dengan maupun tanpa ramp dan sudut
jenjang 800 sesuai data pada Tabel 3.17 memiliki kondisi yang aman.

3.2 Metode Penggalian


Untuk menentukan metode penggalian yang dapat digunakan untuk
membongkar batu andesit di Dusun Degan II, Desa Banjararum, Kec.
Kalibawang, Kab. Kulon Progo, maka dapat digunakan grafik hubungan Point
Load Index (Mpa) dengan Fracture Indeks m.
Kriteria penggalian ditentukan berdasarkan Indeks Kekuatan Batuan yang
diusulkan oleh Franklin, dkk (1971) dan Pettifer&Fookes, (1994). Klaifikasi
massa batuan berdasarkan dua parameter yaitu :
1. Fracture Index
Parameter ini digunakan sebagai ukuran karakteristik diskontinu dan
didefinisikan sebagai jarak rata-rata fracture dalam sepanjang bor inti atau massa
batuan.
2. Point Load Index (PLI)
Point Load Index atau pengujian titik beban merupakan substansi pengujian
dari faktor kehadiran bidang lemah yang mempengaruhi kecepatan rambat
gelombang ultrasonik dari suatu batuan (spesimen batuan).
Pengujian ini menggunakan masin uji point load dengan sampel berupa
silinder atau bentuk lain yang tidak beraturan. Pengujian point load ini
merupakan pengujian yang dapat dilakukan langsung dilapangan, dengan
demikian dapat diketahui kekuatan batuan dilapangan sebelum pengujian di

III - 25
laboratorium dilakukan. Ukuran batuan yang digunakan untuk pengujian
disarankan berbentuk silinder dengan diameter kurang lebih 50 mm.
Hasil dari pengukuran scanline pada footwall didapatkan fracture index =
0,745574 m (dari hasil scanline) dan Point Load Index = 1,597 Mpa. Nilai Point
Load Index berasal dari :
23 Is = UCS
23 Is = 36,727 MPa
Is = 1,597 MPa

Gambar 3.14
Kriteria Penggalian Franklin (1971)

III - 26
Gambar 3.15
Analisa Penggalian Pettifer&Fookes (1994)

Berdasarkan pada Kriteria penggalian Pettifer&Fookes (1994), maka


disimpulkan bahwa batu andesit termasuk dalam bahan galian yang sangat kuat
untuk digaru. Sedangkan berdasarkan kriteria penggalian Franklin (1971) batu
andesit termasuk bahan galian yang cara pembongkarannya menggunakan cara
peledakan.
Tujuan utama penambangan andesit adalah memperoleh batuan andesit
sesuai dengan spesifikasi alat yang digunakan dan sesuai dengan peruntukannya
sebagai batuan agregat. Alat yang digunakan dalam penambangan batu andesit
adalah peralatan peledakan, Excavator, Bulldozer. Cara penambangan sistem kuari
berjenjang meliputi :
1. Pembersihan Lokasi (Land Clearing)
Merupakan serangkaian pekerjaan membersihkan permukaan kerja dari
tumbuh-tumbuhan dan batu-batuan yang ada maupun dari pepohonan dengan
menggunakan alat Bulldozer. Sedangkan untuk pembuatan jalan tambang dan
permukaan kerja dengan menggunakan peralatan mekanis Excavator yang
berfungsi membersihkan lapangan (tempat kerja) dari batuan yang ada (lapuk),
mengisi tempat-tempat yang berlubang yang dianggap dapat mengganggu
aktivitas penambangan nantinya.

2. Pembongkaran (Disturbance)
Pembongkaran andesit dari batuan induknya dilakukan dengan pemboran
untuk peledakan dengan peralatan peledakan yaitu semua bahan atau alat-alat
yang dapat digunakan lebih dari satu kali pemakaian dalam operasional peledakan
seperti Crawler Rock Drill, kompresor, serta batang bor dan mata bor, selain itu
diperlukan juga perlengkapan peledakan yaitu semua bahan atau alat-alat yang
hanya dapat digunakan untuk satu kali peledakan seperti detonator, ANFO, in-
hole delay, sumbu api, sumbu ledak, booster.

III - 27
3. Pemuatan & Pengangkutan
Hasil penambangan batu andesit terlebih dahulu dikumpulkan pada
stockpile. Kemudian setelah terkumpul, batu andesit di muat ke atas dump truck
dengan menggunakan Backhoe Excavator yang akan dibawa menuju Stockpile
yang berada di lokasi pabrik pengolahan andesit, yang selanjutnya akan diproses
menjadi produk agregat batu andesit yang akan digunakan sebagai salah satu
bahan campuran dalam Asphalt Mixing Plant.

3.3 Analisis Daya Dukung Tanah


Uji Dynamic Cone Pnetrometer Test (DCP), pengujian ini digunakan
sebagai alternatif untuk mengevaluasi propertis dari lapisan perkerasan maupun
subgrade soils. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui dari kualitas tanah yang
nantinya direncanakan sebagai jalan tambang. Dari pengujian ini didapat hasil
akhir Daya Dukung Tanah (DDT) yang dapat dilihat pada tabel 3.20.
Tabel 3.20
Hasil Perhitungan DCP di Daerah Penelitian
Koordinat Pengukuran Hasil Perhitungan
No Daya Dukung Tanah
X Y Z (kg/cm2)
1 412342 9144972 102 5,910
2 412336 9144976 106 5,732
3 412336 9144992 110 6,306
4 412331 9144947 114 6,413
5 412338 9144925 119 3,592
6 412340 9144900 121 7,351
7 412484 9144877 133 8,142
8 412491 9144879 117 7,726
9 412490 9144800 120 7,769
10 412488 9144802 121 9,583
11 412468 9144738 118 7,915
12 412466 9144739 117 9,648
13 412310 9145041 108 7,104
14 412318 9145040 107 6,903
15 412440 9144930 119 6,031
16 412436 9144930 120 5,697
17 412495 9144880 122 7,701
18 412495 9144879 121 6,837

III - 28
Koordinat Pengukuran Hasil Perhitungan
No Daya Dukung Tanah
X Y Z
2
19 412298 9145056 121 (kg/cm
6,219 )
20 412296 9145058 114 5,428
21 412363 9145190 127 5,060
22 412361 9145194 128 7,208
23 412381 9145287 128 6,762
24 412382 9145292 127 7,373
Rata-rata 6,850
Sumber: (Data PT. Sitompul Andesit Mining, 2016)

Berdasarkan data hasil perhitungan daya dukung tanah di atas maka dapat
disimpulkan bahwa nilai rata-rata daya dukung tanah di wilayah IUP PT. Sitompul
Andesit Mining adalah 6,850 kg/cm2 , sehingga pemilihan alat angkut yang
mampu melewati jalan adalah sebagai berikut:
1. Hino FG 235 JJ
Diketahui :
Kapasitas maks. Dump Truck =19,585 ton
Jumlah roda = 6 buah (pembebanan roda depan 40% dan
60% roda belakang)
Lebar roda = 27,5 cm
Panjang kontak roda dengan permukaan tanah = 40 cm

Pembagian beban muatan:


- Roda belakang 60% = 60% x 19,585 ton
= 11,751 ton (4 buah roda)
Tiap roda mendapat beban = 11,751 : 4 buah roda
= 2,94 ton/roda
- Roda depan 40% = 40% x 19,585 ton
= 7,834 ton (2 buah roda)
Tiap roda mendapat beban = 7,834 : 2 buah roda
= 3,92 ton/roda
- Luas kontak antara ban dengan permukaan tanah:
Luas = Panjang kontak antara roda dengan permukaan tanah x lebar

III - 29
Roda
= 27,5 cm x 40 cm
= 1100 cm2
- Maka beban yang diterima tanah adalah :

Roda belakang = = 2,67 kg/cm2


Roda depan = = 3,56 kg/cm2

Berdasarkan perhitungan di atas, diperoleh beban yang diterima tanah dari


roda truk 3,56 kg/cm2 , sedangkan dari hasil pengujian DCP diperoleh DDT rata-
rata 6,85 kg/cm2. Maka, dapat disimpulkan bahwa kondisi tanah yang ada saat ini
mampu menahan beban dari truk.

III - 30