Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

MATERI
KESETIMBANGAN FASA

Disusun Oleh :
Kelompok : VII / SELASA PAGI
1. ALFIN VANDENI (21030116120031)
2. ARLITA PRISMALIA HASNANTA (21030116140186)
3. ARY OCTAVIANI (21030116130141)

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
Kesetimbangan fasa

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN RESMI
LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II
UNIVERSITAS DIPONEGORO

Materi : Kesetimbangan Fasa


Kelompok : 7/ Selasa Pagi
Penyusun : 1. Alfin Vandeni (21030116120031)
2. Arlita Prismalia Hasnanta (21030116140186)
3. Ary Octaviani (21030116130141)

Semarang, Mei 2017

Mengesahkan,
Asisten Pembimbing

Andhika Pudji Utama


NIM 21030115130122

ii
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Ringkasan

Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua zat maka disebut larutan biner.
Misalnya alkohol dalam air. Jika larutan diuapkan sebagian, maka mol fraksi uap
dan mol fraksi air tidak sama karena volatilitas (mudahnya menguap) dan
masing-masing penyusun berbeda. Tujuan dari praktikum ini adalah mampu
memahami konsep kesetimbangan antara dua fasa (uap-cair) dari sistem (larutan)
yang terdiri dari dua komponen dan mampu membuat diagram komposis vs suhu
untuk larutan etanol air.
Menurut sifatnya dikenal larutan ideal dan larutan non ideal. Larutan ideal
adalah larutan yang gaya tarik menarik antar mulekul sejenis dan tidak sejenis
sama. Sedangkan larutan non ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik antar
mulekul sejenis dan tidak sejenis berbeda. Hukum roult hanya dapat di gunakan
untuk larutan ideal atau larutan yang sangat encer, karena pada larutan encer
hubungan antara jumlah zat terlarut dengan tekanan uapnya merupakan fungsi
linear. Sedangkan larutan yang tidak encer tidak linear. Pada praktikum ini bahan
yang digunakan adalah etanol dan aquadest sedangkan alat yang digunakan adalah
labu destilasi, thermometer, Pendingin Leibig, Thermostat, Erlenmeyer, Pipet,
Refraktometer, Adaptor, Statif-klem, Waterbath, Kaki tiga, Heater,
Thermocouple. Metode yang digunakan yaitu dengan dibuat kurva standar
hubungan komposisi etanol vs indeks bias, dan pembuatan 2 gram komposisi
versus suhu untuk larutan etanol air.
Berdasarkan hasil praktikum didapat hubungan antara komposisi etanol,
dengan indeks bias pada komposis (0-70)% , mengalami kenaikan karena faktor
kerapatan yang meningkat karena berat mulekul etanol-air lebih berat etanol. Lalu
terdapat penyimpangan pada (70-89.56)%, karena pengaruh ketidak idealan
larutan biner etanol-air. Hubungan antara komposisi destilat dan residu vs suhu.
Secara teoritis akan meningkat seiring bertambahnya %w. Terdapat
penyimpangan karena panambahan cairan destilat kembali dan penambahan
aquadest dapat menyebabkan perubahan nilai indeks bias, tetapi juga dapat
meningkatkan titik didih dan manurunkan tekanan uap.
Disarankan pada praktikan agar lebih teliti dalam mengguanakan alat
refraktometer. Disarankan agar asisten jaga berada di ruang asisten laboratorium
agar mempermudah pengamatan praktikum. Pada sisten prites agar menjelaskan
materi dengan detail agar praktikan paham dulu. Disarankan pada laboran
mengecek alat-alat praktikum setelah selesai praktikum.

iii
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Summary

Solution is a homogeneous phase containing more than one component. When


the system consists of only two substances it is called binary solution. For
example alcohol in water. If the solution is partially evaporated, then the mole of
the vapor fraction and the water fraction mole is not the same because of
"volatility" ( easy to evaporated ) and each constituent is different. The purpose of
this practicum is to understand the concept of equilibrium between two phases
(vapor-liquid) of the system (solution) consisting of two components. capable of
making a composition vs temperature diagram for water ethanol solution.
According to its nature is known ideal solution and non ideal solution. The
ideal solution is a solution that attracts between types of similar and not same.
While the non-ideal solution is a solution that tensile force between molecul
similar and not, different tensile. Roult law can only be used for ideal solutions or
very dilute solutions, since in dilute solutions the relationship between the amount
of solute and its vapor pressure is a linear function. While the aqueous solution is
not linear. In this experiment the material used is ethanol and aquadest while the
tools used are distillation flask, thermometer, Leibig Cooler, Thermostat,
Erlenmeyer, Pipette, Refractometer, Adapter, Statif-clamp, Waterbath, Triple,
Heater, Thermocouple. The method used is made with standard curve of ethanol
composition relationship vs. refractive index, and making diagram of composition
versus temperature for water ethanol solution.
Based on the results of the experiment obtained the relationship between
ethanol composition with the refractive index on the composition (0-70)%,
increased due to increased density factor due to ethanol-water weight more
ethanol weight. Then there is a deviation at (70-89.56)%, due to the non ideal
influence of an ethanol-water binary solution. The relationship between destilat
composition and residue vs temperature. Theoretically will increase % w.
Irregularities due to the addition of distillate fluid and the addition of aquadest
may cause a change in the refractive index value, but may also increase the
boiling point and lower the vapor pressure.
It is suggested to the practitioner to be more careful in using the refractometer
tool. It is recommended that the guard's assistant be in the laboratory assistant's
room to facilitate practicum observation. It is recommended to the labors to check
the tools of the practicum after practicum is done.

iv
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

PRAKATA

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa oleh karena
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Dasar
Teknik Kimia II. Oleh karena berkat dan rahmat-Nya pula kami dapat menyelesaikan
tujuh materi praktikum dengan baik dan lancar tanpa suatu hambatan yang berarti.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen yang
membimbing selama proses Praktikum Dasar Teknik Kimia II dan kesediaan para dosen
untuk memberi pretest materi sebelum praktikum. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada Dr. Ing Silvyana selaku penanggung jawab Labolatorium Dasar Teknik Kimia,
Bagas Guntur Pradana selaku koordinator asisten pembimbing, dan Andhika Pudji Utama
selaku asisten pembimbing laporan resmi ini yang dengan tulus dan setia mendampingi
dan membantu kami dalam proses Praktikum Dasar Teknik Kimia II dari awal hingga
akhir.
Laporan Resmi Praktikum Dasar Teknik Kimia II ini berisi materi Kesetimbangan
Fasa. Laporan resmi ini berisi hasil dari praktikum yang kami lakukan di Praktikum
Dasar Teknik Kimia II.
Kami berharap semoga laporan resmi ini dapat berkenan di hati pembaca dan bisa
bermanfaat bagi pembaca serta memohon maaf apabila ada salah kata ataupun hal-hal
yang kurang berkenan di hati pembaca.

Semarang, Mei 2017

Penyusun

v
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN................................................................................... ii
RINGKASAN ......................................................................................................... iii
SUMMARY ............................................................................................................. iv
PRAKATA................................................................................................................ v
DAFTAR ISI ........................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ................................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. ix
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Praktikum ...................................................................................... 1
1.3 Manfaat Praktikum .................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 2
2.1 Pengertian Kesetimbangan Fasa................................................................ 2
2.2 Hukum Raoult ........................................................................................... 2
2.3 Pengertian Destilasi ................................................................................... 4
2.3.1 Klasifikasi Destilasi ......................................................................... 4
2.3.2 Macam-macam Destilasi ................................................................. 4
BAB III METODE PRAKTIKUM ........................................................................... 7
3.1 Alat dan Bahan yang digunakan................................................................ 7
3.1.1 Bahan ............................................................................................... 7
3.1.2 Alat .................................................................................................. 7
3.2 Gambar Alat .............................................................................................. 7
3.3 Cara Kerja ................................................................................................. 8
3.4 Tabel Pengamatan ..................................................................................... 8
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 10
4.1 Hubungan Indeks Bias vs Komposisi...................................................... 10
4.2 Hubungan Komposisi Destilat dan Residu vs Suhu ................................ 12
4.3 Fungsi Penambahan Aquadest ................................................................ 13
BAB V PENUTUP ................................................................................................. 15
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 15
5.2 Saran........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 16

vi
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

LAMPIRAN
Data Hasil Praktikum .................................................................................... A-1
Lembar Perhitungan ..................................................................................... B-1
Lembar Grafik .............................................................................................. C-1
Lembar Kuantitas Reagen............................................................................. D-1
Referensi
Lembar Asistensi

vii
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Hubungan Komposisi Etanol dengan Indeks Bias ................................... 8


Tabel 3.2 Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi .................................................... 9
Tabel 4.1 Hubungan Komposisi Etanol dengan Indeks Bias ................................. 10
Tabel 4.2 Komposisi Destilat dan Residu dengan Suhu ....................................... 12

viii
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram Suhu Komposisi Asam Formiat-Air ............................................. 3


Gambar 2.2 Diagram Suhu Komposisi Ethanol-Air ........................................................ 3
Gambar 3.1 Gambar Rangkaian Alat Destilasi ................................................................ 7
Gambar 4.1 Grafik Hubungan Komposisi Etanol dengan Indeks Bias ......................... 10
Gambar 4.2 Grafik Hubungan Suhu Didih dengan Komposisi Destilat dan Residu ..... 12

ix
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua zat maka disebut larutan biner,
misalnya alkohol dalam air. Jika larutan diuapkan sebagian, maka mol fraksi
uap dan mol fraksi air tidak sama karena volatilitas ( mudahnya menguap )
dari masing-masing penyusunnya berbeda. Uap relatif mengandung lebih
banyak zat yang lebih volatil dari pada cairannya. Pada praktikum
kesetimbangan fasa mempelajari kesetimbangan antara fase uap dan fase cair
dari suatu larutan. Dari praktikum ini mahasiswa dapat membuat diagram
suhu versus komposisi dengan pengukuran nilai indeks bias. Prinsip
kesetimbangan fasa dapat digunakan dalam industri kimia pada proses
destilasi (pemisahan yang menggunakan perbedaan titik didih). Contohnya
untuk pemurnian etanol, dan pemisahan solven.
1.2. Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa diharapkan mampu memahami kesetimbangan antara dua fase
(uap-cair) dari larutan etanol-air yang terdiri dari dua komponen.
2. Mahasiswa diharapkan mampu membuat diagram komposisi versus suhu
untuk larutan etanol-air.
1.3. Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa dapat memahami konsep kesetimbangan fase (uap-cair) dari
suatu sistem larutan yang terdiri dari dua komponen
2. Membuat dan memahami diagram komposisi versus suhu.

1
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian Kesetimbangan Fase


Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua zat maka disebut larutan biner,
misalnya alkohol dalam air. Menurut sifatnya dikenal larutan ideal dan non
ideal. Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik antara molekul
yang sejenis dan tidak sejenis sama. Sedangkan larutan non ideal gaya tarik
menarik antara molekul yang sejenis maupun yang tidak sejenis berbeda.
Jika larutan diuapkan sebagian, maka mol fraksi dari masing-masing
penyusun larutan tidak sama karena volatilitas ( mudahnya menguap ) dari
masing-masing penyusunnya berbeda. Uap relatif mengandung lebih banyak
zat yang lebih volatil dari pada cairannya. Hal ini dapat dilihat dari diagram
kesetimbangan uap dan cairan pada tekanan tetap dan suhu tetap.
Pada percobaan kesetimbangan fase dipelajari diagram komposisi suhu
pada tekanan tetap. Komposisi etanol dan air di fase uap yang dinyatakan
dalam yi dan di fase cair yang dinyatakan dalam xi pada berbagai suhu.
Komposisi ini kemudian dipakai untuk membuat diagram Komposisi versus
Suhu pada sistem larutan biner.
2.2.Hukum Raoult
Proses distilasi satu stage digunakan untuk membuat diagram
kesetimbangan fase antara uap dengan cairan untuk sistem larutan biner ini.
Tekanan uap komponen air (A) dan etanol (B) dari larutan ideal mengikuti
Hukum Raoult :
PA = PA0 XA ....................(1)
PB = PB0 XB ....................(2)
Dengan :
PA = tekanan parsial Air
PB = tekanan parsial Etanol
PA0 = tekanan uap murni Air pada suhu tertentu
PB0 = tekanan uap murni Etanol pada suhu tertentu

2
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

XA = mol fraksi Air di dalam larutan


XB = mol fraksi Etanol di dalam larutan
Jika persamaan (1) dan (2) dimasukan ke persamaan Dalton, P = PA 0 XA +
PB0 XB, maka diperoleh persamaan :
P = PA 0 XA + PB0 XB ....................(3)
Dengan P adalah tekanan uap total dari sistem. Dalam larutan berlaku :
XA + XB = 1 ....................(4)
Jika persamaan (4) dimasukan ke persamaan (3) diperoleh :
P = PB0 - ( PA0 PB0 ) XA ....................(5)
Hukum Raoult hanya dapat digunakan untuk larutan ideal atau larutan
yang sangat encer, karena pada larutan encer, hubungan antara jumlah zat
terlarut dengan tekanan uapnya merupakan fungsi linier (semakin banyak
solute, maka tekanan uap akan semakin kecil), sedangkan pada larutan yang
tidak encer, hubungannya tidak linier (pengaruh jumlah solute terhadap
tekanan uap tidak tetap).
Dalam larutan yang mempunyai tekanan uap sistem yang lebih besar
jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan hukum
Raoult dikatakan sistem mempunyai deviasi positif (larutan non ideal),
seperti ditunjukkan pada gambar 2.1. Dikatakan deviasi negatif, jika tekanan
uap larutan lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh
dengan menggunakan Hukum Raoult seperti yang ditunjukkan pada gambar
2.2.

Gambar 2.1. Diagram Suhu-Komposisi Gambar 2.2. Diagram Suhu


Asam Formiat-Air Komposisi Ethanol-Air

3
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

2.3 Pengertian Destilasi


Destilasi didefinisikan sebagai sebuah proses dimana campuran dua atau
lebih zat liquid atau vapor dipisahkan menjadi komponen fraksi yang murni,
dengan pengaplikasian dari perpindahan massa dan panas. Pada proses
pemisahan secara destilasi, fase uap akan segera terbentuk setelah sejumlah
cairan dipanaskan. Uap dipertahankan kontak dengan sisa cairannya (dalam
waktu relatif cukup) dengan harapan pada suhu dan tekanan tertentu, antara
uap dan sisa cairan akan berada dalam keseimbangan, sebelum campuran
dipisahkan menjadi distilat dan residu. Fase uap yang mengandung lebih
banyak komponen yang lebih mudah menguap relatif terhadap fase cair,
berarti menunjukkan adanya suatu pemisahan. Sehingga kalau uap yang
terbentuk selanjutnya diembunkan dan dipanaskan secara berulang-ulang,
maka akhirnya akan diperoleh komponen-komponen dalam keadaan yang
relatif murni.
2.3.1 Klasifikasi Destilasi
Destilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Destilasi kontinyu
2. Destilasi batch
Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Destilasi atmosferis (0,4-5,5 atm mutlak)
2. Destilasi vakum ( 300 mmHg pada bagian atas kolom)
3. Destilasi tekanan ( 80 psia pada bagian atas kolom)
Berdasarkan komponen penyusunnya :
1. Destilasi sistem biner
2. Destilasi sitem multi komponen
Berdasarkan sistem operasinya terbagi dua, yaitu :
1. Single-stage Destilation
2. Multi stage Destilation
2.3.2 Macam-macam Destilasi
Umumnya destilasi juga dapat dibedakan sebagai berikut:
1.Destilasi Kilat (Flash Destilation)

4
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Destilasi kilat merupakan destilasi continue (steady state) satu tahap


tanpa refluks. Destilasi kilat ini terdiri dari penguapan sebagian dari
suatu keluar berada dalam keseimbangan dengan zat cair yang tersisa.
Uap tersebut dipisahkan dari zat cair dan dikondensasikan. Destilasi ini
digunakan untuk memisahkan komponen komponen yang memiliki titik
didih yang berbeda. Destilasi ini tidak efektif untuk memisahkan
komponen-komponen yang volatilitasnya sebanding.
2. Destilasi Continue dengan Refluks (Rektifikasi)
Neraca Bahan Plate n terlihat di dalam kolom terdapat plate ideal.
Jika plate ini diberi nomor dari atas ke bawah maka plate acuan adalah
plate ke-n dari puncak, di atasnya adalah plate ke-n-1 dan di bawahnya
adalah plate ke-n+1. Ada dua arus fluida yang masuk ke plate ke-1 dan
dua arus keluar, yaitu arus zat cair Ln-1 mol/jam dari plate ke-n-1 dan
arus uap Vn-1 mol/jam dari plate ke-n+ 1 yang mengalami kontak akrab
di plate ke-n:
a. Uap keluar dari plate, Yn
b. Zat cair yang keluar dari plate, Xn
c. Uap masuk ke plate, Yn+1
d. Zat cair masuk ke plate, Xn+1
3. Destilasi Vakum
Destilasi vakum adalah destilasi yang tekanan operasinya 0,4 atm
(300 mmHg absolut). Destilasi yang dilakukan dalam tekanan operasi
ini biasanya karena beberapa alasan yaitu:
Titik didih campuran yang diolah. Uap dan zat cair yang keluar dari
plate ke-n berada dalam kesetimbangan, sehingga Xn dan Yn
merupakan konsentrasi kesetimbangan. Bila uap yang keluar dari plate
ke-n+1 dan zat cair dari plate ke-n-1 dikontakkan secara akrab,
konsentrasinya cenderung bergerak kearah keadaan setimbang. Arus zat
cair berada pada titik gelembung (bubble point), sedangkan arus uap
berada pada pada titik embunnya (dew point), sehingga kalor yang
diperlukan untuk menguapkan komponen A harus didapat dari kalor
yang dibebaskan pada waktu kondensasi komponen B. Setiap plate

5
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

berfungsi sebagai piranti pertukaran pada saat komponen A berpindah


ke arus uap dan komponen B ke arus zat cair.
(Komariah, 2009)

6
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Bahan dan Alat yang digunakan


3.1.1 Bahan:
1. Etanol 200 ml
2. Air/Aquadest/Air demin 294 ml
3.1.2 Alat:
1. Labu destilasi 8. Adaptor 15. Pipet volume
2. Thermometer 9. Statif-klem 16. Gelas ukur
3. Pendingin Leibig 10. Waterbath 17. Beaker glass
4. Thermostat 11. Kaki tiga 18. Picnometer
5. Erlenmeyer 12. Heater 19. Corong
6. Pipet 13. Thermocouple 20. Pipet ukur
7. Refraktometer 14. Aspirator 21. Neraca
Analitik
3.2 Gambar Rangkaian Alat
Keterangan :

1. Statif
2. Klem
3. Labu Destilasi
4. Thermostat
5. Termometer
6. Pendingin Leibig
7. Erlenmeyer
8. Adaptor
9. Waterbath
Gambar 3.1 Rangkaian Alat Destilasi 10. Kaki Tiga
11. Heater
12. Thermocouple
13. Aliran air pendingin masuk
14. Aliran air pendingin keluar

7
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

3.3 Prosedur Praktikum


1. Membuat kurva standart hubungan komposisi etanol (larutan etanol-air)
versus indeks bias
a. Menentukan densitas etanol dan air dengan menggunakan piknometer.
b. Menentukan kadar etanol menggunakan tabel hubungan densitas
dengan kadar etanol.
c. Membuat larutan etanol-air pada komposisi 0; 10; 20; 30; 40; 50; 60;
70; 80; 89,5882 (%W).
d. Masing- masing larutan pada langkah c dilihat indeks biasnya dengan
refraktometer.
e. Dibuat kurva hubungan antara komposisi versus indeks bias
2. 100 ml air dimasukkan ke dalam beaker glass pirex 250 ml , dipanaskan
sampai mendidih dan dicatat titik didihnya.
3. Etanol dengan volume 120 ml dimasukkan ke dalam labu destilasi kosong,
dipanaskan menggunakan minyak yang dilengkapi dengan thermostat
sampai mendidih, kemudian dicatat suhu didihnya.
4. Labu destilasi tersebut didinginkan , lalu ditambahkan air dengan volume
20 ml ke dalam labu destilasi, selanjutnya dipanaskan sampai mencapai
suhu konstan dan catat titik didihnya , ambil cuplikan residu dan destilat
untuk diperiksa indeks biasnya masing-masing. Destilat yang telah diambil
sedikit untuk sampel dikembalikan lagi kedalam labu destilasi.
5. Prosedur nomor 4 dilakukan sebanyak 6 kali.
6. Dibuat kurva hubungan suhu dengan komposisi etanol atau kurva
hubungan suhu dengan komposisi aquadest/air.
Catatan : Komposisi etanol-air dinyatakan dalam fraksi berat.
3.4 Tabel Pengamatan
Tabel 3.1. Hubungan antara Komposisi Etanol (Larutan Etanol-Air)
dengan Indeks Bias
Komposisi Etanol Volume Etanol
Volume Air (ml) Indeks Bias
(% berat) (ml)

8
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Tabel 3.2. Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi


Volume Etanol Volume Suhu Didih Indeks Bias Indeks Bias
(ml) Air (ml) (oC) Residu Destilat

9
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hubungan Komposisi vs Indeks Bias


Tabel 4.1 Hubungan Komposisi Etanol dengan Indeks Bias
Komposisi Etanol (%W) Indeks Bias()
0% 1,331
10 % 1,332
20 % 1,334
30 % 1,336
40 % 1,337
50 % 1,338
60 % 1,339
70 % 1,340
80 % 1,335
89,5882 % 1,330
Pada praktikum yang telah dilakukan, didapatkan data komposisi etanol
0%W sampai kadar teoritisnya yaitu 89,5882%W serta diukur indeks biasnya
masing masing larutan seperti pada tabel diatas, dapat diamati bahwa pada
komposisi etanol 0%W hingga 70%W menunjukkan peningkatan indeks bias
tetapi pada 80%W dan seterusnya mengalami penurunan yang signifikan.

1,342 Indeks Bias ()


1,34
1,338
Indeks Bias

1,336
1,334
1,332
1,33
1,328
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95
Komposisi

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Komposisi Etanol dengan Indeks Bias


Pada data yang didapatkan terjadi kenaikan indeks bias pada komponen
0%W hingga 70%W. Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan

10
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

cahaya di dalam udara dengan kecepatan udara di dalam larutan pada suhu
tertentu. Kenaikan tersebut terjadi karena pengaruh kecepatan/cepat rambat
cahaya pada medium yang dibutuhkan. Cepat rambat gelombang cahaya di
ruang hampa sebesar C. Jika melalui sebuah medium akan mengalami
perubahan kecepatan menjadi V, dimana besar V jauh lebih kecil disbanding
cepat rambat cahaya di ruang hampa. Ketika cahaya merambat di suatu bahan,
kelajuan akan menurun sebesar factor yang ditentukan oleh bahan yang
dinamakan indeks bias (n).

= =

n : Indeks Bias
C : Laju cahaya di ruang hampa (3x108 m/s)
V : kecepatan cahaya dalam medium
Etanol
netanol : 1,36
3x108 m/s
= = = 220588235,3 /
1,36
Air/Aquades
nair : 1,333
3x108 m/s
= = = 225056264,1 /
1,333
Dari perhitungan diatas ,cepat rambat cahaya pada etanol lebih kecil
daripada cepat rambat cahaya pada aquades. Hal ini disebabkan oleh ukuran
molekul etanol lebih besar daripada molekul aquades. Etanol dengan rumus
molekul (C2H5OH)(BM=46 gr/mol) lebih besar dari molekul aquades dengan
rumus molekul (H2O)(BM= 18gr/mol) maka kecepatan molekul etanol-air
akan makin rapat seiring bertambahnya %W etanol, akibatnya cepat rambat
cahaya pada medium akan semakin lambat, sehingga indeks bias yang
dihasilkan akan semakin besar seiring dengan makin besarnya %W pada
campuran etanol-air. (Achmad,2013)
Namun pada saat komposisi 70%W terjadi penurunan indeks bias, hal ini
disebabkan larutan etanol-air merupakan larutan non ideal. Menurut Hukum
Roult, dimana larutan non ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik antar

11
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

molekul yang sejenis maupun tidak sejenis berbeda. (Castellan,1981).


Penambahan komposisi etanol yang seharusnya berbanding lurus dengan
indeks bias menjadi tidak berlaku akibat ketidakidealan larutan etanol-air pada
komposisi 70%W. (Endang,2014)
4.2 Destilat dan Residu vs Suhu
Tabel 4.2 Komposisi Destilat dan Residu dengan Suhu
Suhu Didih (C) Komposisi Destilat Komposisi Residu
(%W) (%W)
64 15% 30%
67 30% 50%
69,3 50% 70%
72,8 30% 70%
73 60% 50%
73,2 40% 60%
74 50% 50%

10 20 30 40 50 60 70 80
75
74
73
72
Temperatur (C)

71
70 destilat
69
68 residu
67
66
65
64
63
10 20 30 40 50 60 70 80 Komposisi (%W)

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Komposisi Destilat dan Residu dengan Suhu
a. Destilat
Pada gambar diatas dapat kita ketahui bahwa grafik hubungan
komposisi etanol dalam destilat mengalami kenaikan seiring bertambahnya
suhu, namun pada D3-D4 dan D5-D6 mengalami penurunan komposisi
etanol dalam destilat. Hal tersebut menyimpang dari teorinya karena
seharusnya komposisi etanol akan terus meningkat seiring dengan
bertambahnya suhu sampai titik azeotrop (berbanding lurus).

12
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Penyimpangan terjadi karena faktor pengaruh destilat yang dimasukan


kembali ke dalam labu destilasi. Pengaruhnya yaitu ketika destilasinya
dilakukan sampai 2-3 kali maka perolehan etanol murninya akan
berkurang. (Renqi Zhou,1998)
Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu maka kadar
etanol (%W) yang diperoleh dalam destilat semakin
meningkat.(Endang,2014)
b. Residu
Pada gambar diatas terjadi penyimpangan pada grafik hubungan
komposisi etanol dalam residu dengan kenaikan suhu yaitu pada titik R4-
R5 dan R6-R7 mengalami penurunan. Hal itu terjadi karena komposisi
etanol dalam residu berpindah (menguap) ke destilat karen a faktor suhu
yang tinggi. Karena proses destilasi yang dilakukan berulang dan hasil
destilasi dimasukkan kembali ke labu destilasi menyebabkan kemurnian
etanol menjadi berkurang setiap dimasukkan kembali hasil destilat
kedalam labu destilasi makan komposisi etanol juga berkurang (kemurnian
berkurang) dalam residu ketika suhu tinggi. (Renqi zhou,1998)
Maka dapat disimpulkan, bahwa semakin tinggi suhu destilasi maka
komposisi etanol (%W) residu dalam tabung destilasi akan semakin
berkurang. (Endang,2014)
4.3 Pengaruh Penambahan Aquadest
1. Peningkatan Titik Didih
Penambahan aquades pada larutan yang mengandung etanol dapat
meningkatkan titik didih larutan, hal itu karena air memiliki titik didih yang
lebih tinggi daripada etanol karena apabila larutan yang memiliki dua titik
didih yang berbeda maka titik didih larutan tersebut akan berada pada titik
diantara kedua titik didih semua (Ackland,2015)
2. Penurunan Tekanan Uap
Penambahan aquades dapat menurunkan tekanan uap campuran larutan
aquades dan etanol, hal tersebut dapat menyebabkan pengurangan fraksi
mol dalam persamaan :
P = PA 0 XA + PB0 XB

13
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Dilihat dari sifat fisiknya, etanol memiliki sifat lebih volatil daripada air
sehingga memiliki tekanan uap murni lebih tinggi daripada air. Dengan
demikian berkurangnya fraksi mol dari etanol mengakibatkan tekanan uap
larutan etanol-air berkurang. (Plambeck,2016)
3. Pengaruh Indeks Bias
Penambahan aquades yang terus menerus membuat penurunan indeks
bias karena pengaruh berat molekul air yang lebih kecil daripada berat
molekul etanol. Sehingga penambahan aquades dapat mengurangu
tumbukan cahaya seingga menyebabkan indeks bias turun. (Arief,2013)

14
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil praktikum hubungan antara komposisi etaol dengan
indeks bias pada komposisi (0-70)%W mengalami kenaikan karena ukuran
mulekul etanol yang lebih besar menyebabkan kecepatan cahaya pada
mulekul etanol-air makin rapat. Dan pada komposisi (70-89)%W,
mengalami penurunan indeks bias. Karena pengaru hketidak idealan
larutan biner etanol-air.
2. hubungan antara komposisi destilat dan residu vs suhu. Secara teori akan
meningkat karena akan bertambahnya %W, dan berdasarkan hasil
praktikum ditemukan penyimpangan. Hal itu terjadi karena pengembalian
cairan destilat kedalam labu destilasi dan penambahan aquades sehingga
semakin tinggi suhu maka %W semakin kecil.
3. Pengaruh penambahan air pada praktikum adalah untuk meningkatkan titik
didih. Menurunkan tekanan uap dan mempengaruhi besar indeks bias.

5.2 Saran
1. Diharapkan lebih teliti lagi dalam mengguanakan alat-alat praktikum
seperti pembacaan angka pada refraktometer
2. Disarankan agar asisten jaga berada di ruang asisten laboratorium ketika
praktikum sesuai jadwalnya.
3. Diharapkan asisten prites agar menjelaskan materi dengan detail agar
praktikan agar praktikan dapat memahami dengan baik.
4. Disarankan pada laboran mengecek kembali alat-alat praktikum setelah
selesai praktikum.

15
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

DAFTAR PUSTAKA

Ackland, T. 2015. Home Distillation of Alcohol. Diakses pada 17 April 2017


dari http://homedistillater.org/theory/theory
Alberty, R.A. and Daniels, F., 1983, Kimia Fisika, Edisi lima, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Arief, A. 2013. Indeks Bias Zat Cair. Diakses pada 17 April 2017 dari
http://fatysahinknowledge.wordpress.com/2011/06/27/destilasi
Castelan, G.,W., 1981, Physical Chemistry, 2nd edition, Tokyo.
Komariah, Leily Nurul. 2009. Tinjauan Teoritis Perancangan Kolom
Distilasi Untuk Pra-Rencana Pabrik Skala Industri. Jurusan Teknik
Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya.
Plambeck, J. 2016. Vapor Pressure. Diakses pada 17 April 2017 dari
http://www.lipi.com/msds/nef/vaporpressure.htm
Ronqi, Zhou. 1998. Destilasi Campuran Biner Etanol-Air.Diakses pada 17
April 2017 dari
http://kimia.pnl.ac.id/wpcontent/uploads/2016/09/JOBSHEET-
PRAKTIKUM-PEMISAHAN-DAN-PEMURNIAN-III-1617.PDF
Safitri, Endang Asih.2014. Energetika Kimia. Program Studi Kimia, FMIPA,
Institut Teknologi Bandung.
Zamroni, Achmad .2013. Pengukuran Indeks Bias Zat Cair Melalui Metode
Pembiasan Menggunakan Plan Paralel. Pendidikan IPA,Konsentrasi
Fisika,Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang.

16
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi :
KESETIMBANGAN FASA

OLEH:
Kelompok : 7/Selasa Pagi
Anggota :
1. Alfin Vandeni NIM : 21030116120031
2. Arlita Prismalia Hasnanta NIM : 21030116140186
3. Ary Octaviani NIM : 21030116130141

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017

Laboratorium Teknik Kimia Dasar II A


Kesetimbangan fasa

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa diharapkan mampu memahami kesetimbangan antara dua fase
(uap-cair) dari larutan etanol-air yang terdiri dari dua komponen.
2. Mahasiswa diharapkan mampu membuat diagram komposisi versus suhu
untuk larutan etanol-air.

II. PERCOBAAN
2.1 Bahan yang digunakan :
1. Etanol 200 ml
2. Air/Aquadest/Air demin 294 ml
2.2 Alat yang digunakan :
1. Labu destilasi
2. Adaptor
3. Pipet volume
4. Thermometer
5. Statif-klem
6. Gelas ukur
7. Pendingin Leibig
8. Waterbath
9. Beaker glass
10. Thermostat
11. Kaki tiga
12. Picnometer
13. Erlenmeyer
14. Heater
15. Corong
16. Pipet
17. Thermocouple
18. Pipet ukur
19. Refraktometer
20. Aspirator
21. Neraca Analitik

A-1
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Gambar Alat Keterangan :

1. Statif
2. Klem
3. Labu Destilasi
4. Thermostat
5. Termometer
6. Pendingin Leibig
7. Erlenmeyer
8. Adaptor
9. Waterbath
Gambar Rangkaian Alat Destilasi
10. Kaki Tiga
11. Heater
12. Thermocouple
13. Aliran air
pendingin masuk
14. Aliran air
2.3 Cara Kerja
pendingin keluar
a. Membuat kurva standart hubungan komposisi etanol (larutan etanol-air)
versus indeks bias
1. Menentukan densitas etanol dan air dengan menggunakan piknometer.
2. Menentukan kadar etanol menggunakan tabel hubungan densitas dengan
kadar etanol.
3. Membuat larutan etanol-air pada komposisi 0; 10; 20; 30; 40; 50; 60; 70;
80; 89,5882 (%W).
4. Masing- masing larutan pada langkah c dilihat indeks biasnya dengan
refraktometer.
5. Dibuat kurva hubungan antara komposisi versus indeks bias
b. 100 ml air dimasukkan ke dalam beaker glass pirex 250 ml , dipanaskan
sampai mendidih dan dicatat titik didihnya.
c. Etanol dengan volume 120 ml dimasukkan ke dalam labu destilasi kosong,
dipanaskan menggunakan minyak yang dilengkapi dengan thermostat sampai
mendidih, kemudian dicatat suhu didihnya.

A-2
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

d. Labu destilasi tersebut didinginkan , lalu ditambahkan air dengan volume 20


ml ke dalam labu destilasi, selanjutnya dipanaskan sampai mencapai suhu
konstan dan catat titik didihnya , ambil cuplikan residu dan destilat untuk
diperiksa indeks biasnya masing-masing. Destilat yang telah diambil sedikit
untuk sampel dikembalikan lagi kedalam labu destilasi.
e. Prosedur nomor 4 dilakukan sebanyak 6 kali.
f. Dibuat kurva hubungan suhu dengan komposisi etanol atau kurva hubungan
suhu dengan komposisi aquadest/air.
Catatan : Komposisi etanol-air dinyatakan dalam fraksi berat.
Tabel Pengamatan
Tabel 3.1. Hubungan antara Komposisi Etanol (Larutan Etanol-Air) dengan
Indeks Bias
Komposisi Etanol (% Volume Etanol Indeks
Volume Air (ml)
berat) (ml) Bias

Tabel 3.2. Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi


Volume Etanol Volume Air Suhu Didih Indeks Bias Indeks Bias
(ml) (ml) (oC) Residu Destilat

2.4 Hasil Percobaan


Titik didih air : 92 C

Titik didih etanol : 70 C

A-3
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

Komposisi Etanol Volume Air Volume Etanol


Indeks Bias
(% berat) (ml) (ml)
0 10 0 1,331
10 8,66 1,33 1,332
20 7,38 2,61 1,334
30 6,17 3,82 1,336
40 5,02 4,97 1,337
50 3,91 6,08 1,338
60 2,86 7,13 1,339
70 1,85 8,14 1,340
80 0,88 9,11 1,335
89,588 0 10 1,330

Indeks
Volume Volume Air Suhu Didih Indeks Bias
Bias
Etanol (ml) (ml) (oC) Destilat
Residu
120 0 64 1,336 1,333
120 20 67 1,338 1,336
120 40 69,3 1,340 1,338
120 60 72,8 1,340 1,336
120 80 73 1,338 1,339
120 100 73,2 1,339 1,337
120 120 74 1,338 1,338

Semarang, Mei 2017


PRAKTIKAN MENGETAHUI
ASISTEN PEMBIMBING

Andhika Pudji Utama


Alfin V. Arlita P.H. Ary O. NIM. 2103011513012

A-4
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

LEMBAR PERHITUNGAN
1. Mencari Densitas Etanol
Massa picnometer kosong : 16,576 gr
Massa picnometer+aquades : 43,243 gr
Massa aquades : (massa picnometer + aquades) massa
picnometer kosong
: 43,243 gr - 16,576 gr
: 26,667 gr
Suhu Aquades : 26 C
Densitas Aquades : 996,783 kg/m3 = 0,996783 gr/cm3
26,667 gr
= = gr = 26,753
0,996783 3

Massa picnometer kosong : 16,576 gr
Massa picnometer kosong+Etanol : 38,269 gr
Massa Etanol : (massa picnometer + Etanol) massa
picnometer kosong
: 38,269 gr - 16,576 gr
: 21,693 gr
21,693
= = = 0,810862 / = 0,810862 /3
26,753
2. Mencari %W Etanol
Y= X
0,82006 /3 0,7032
0,810862 /3 X
0,80752 /3 0,7956

1 1
=
2 1 2 1

0,810862 3 0,82006 3
= 0,7032
0,7956 0,7032
0,80752 3 0,82006 3


0,009198 3 0,7032
=
0,0924
0,01254 3

B-1
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

0,7032
0,73349 =
0,0924
0,067774 = 0,7032
= 0,770974
BM H2O = 18 gr/mol
BM C2H5OH = 46 gr/mol
. 46 0,770974 . 46
% = = = 0,895882
. 46 + (1 )18 0,770974 . 46 + (1 0,770974)18
X = 89,5882%
3. Volume Etanol pada berbagai komposisi

% =
( ) + ( )
V basis = 10 ml
0%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
0% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
= 0
10%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
10% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
10% =
9,96783 0.185921.
0,996783-0,0185921 = 0,726436
= 1,3379
20%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
20% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
20% =
9,96783 0.185921.

B-2
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

1,993566-0,0371842 = 0,726436
= 2,61067
30%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
30% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
30% =
9,96783 0.185921.
2,990345-0,0557763 = 0,726436
= 3,822932
40%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
40% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
40% =
9,96783 0.185921.
3,987132-0,0743684 = 0,726436
= 4,9789
50%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
50% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
50% =
9,96783 0.185921.
4,983915-0,0929605 = 0,726436
= 6,082421
60%

% =
( ) + ( )

0,810862 3 0,895882
60% =
gr
(0,810862 3 ) + 0,996783 cm3 (10 )

B-3
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

0,726436
60% =
9,96783 0.185921.
5,980698-01115526 = 0,726436
= 7,136968
70%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
70% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
70% =
9,96783 0.185921.
6,977481-0,1301447 = 0,726436
= 8,145736
80%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
80% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
%40 =
9,96783 0.185921.
7,974264-0,1487368 = 0,726436
= 9,111645
89,5882%

% =
( ) + ( )
0,810862 /3 0,895882
89,5882% =
(0,810862 /3 ) + 0,996783 gr/cm3 (10 )
0,726436
89,5882% =
9,967830.185921.
8,929999-0,1665632 = 0,726436
= 10

B-4
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

LEMBAR GRAFIK

C-1
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II
Kesetimbangan fasa

LEMBAR KUANTITAS REAGEN

MATERI : KESETIMBANGAN FASA


HARI/TANGGAL : SELASA / 7 MARET 2016
KELOMPOK : 7 / SELASA PAGI
NAMA : 1. ALFIN VANDENI
2. ARLITA PRISMALIA HASNANTA
3. ARY OCTAVIANI

ASISTEN : ANDHIKAPUDJI UTAMA


KUANTITAS REAGEN

NO JENIS REAGEN KUANTITAS

1 Kurva Standar Basis 10 ml


(0,10,20,30,. %W Kadar
etanol teknis)
2 Distilasi
Etanol 120 ml
Destilasi @ 6x (6 x 20 ml) = 120 ml

TUGAS TAMBAHAN:
Pengertian Destilasi
MSDS Bahan Praktikum

CATATAN:
SEMARANG, 17 MARET 2017
Bawa milimeter block, kapas, lap,
ASISTEN
kalkulator, dan trash bag

Andhika Pudji Utama


NIM. 21030115130122

D-1
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

NIM. 21030115130165
REFERENSI
Laporan Praktikum KI 2241
ENERGETIKA KIMIA
PERCOBAAN D-1, D-2 : SIFAT SIFAT KOLIGATIF

Nama : ENDANG ASIH SAFITRI


NIM : 10512030
Kelompok : 03
Tanggal Percobaan : 05 Februari 2014
Tanggal Pengumpulan : 12 Maret 2014
Asisten : ANTON P (30511011)
MEGA RINDU A (10510008)

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014
SIFAT SIFAT KOLIGATIF
I. TUJUAN
1. Menentukan keaktifan pelarut dan zat terlarut dengan menggunakan data
penurunan titik beku
2. Menentukan berat molekul zat terlarut dengan menggunakan data kenaikan
titik didih

II. TEORI DASAR


Secara termodinamika, pembekuan dan penguapan merupakan
kesetimbangan antara dua buah fasa seperti padat dengan cair dan cair dengan
uap (gas). Bila terjadi kesetimbangan fasa, syarat yang harus dipenuhi ialah
kesamaan potensial dikedua fasa tersebut.

Gambar 1. Perubahan potensial kimia pelarut dengan adanya kehadiran zat terlarut

Kehadiran zat terlarut dalam pelarut dapat menurunkan potensial kimia


larutan, potensial kimia larutan lebih rendah daripada potensial kimia pelarut
murni, akibatnya dapat dilihat digambar bahwa titik beku menurun sedangkan
titik didih mengalami kenaikan.
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya
zat terlarut tetapi bergantung pada jumlah atau kelompok partikel zat terlarut
(konsentrasi zat terlarut) di dalam larutan. Sifat koligatif meliputi: penurunan
tekanan uap jenuh (P), Kenaikan titik didih (Tb), Penurunan titik beku (Tf),
dan tekanan osmotik ()
Sifat koligatif larutan ditentukan oleh banyaknya partikel zat terlarut. Molalitas
yaitu jumlah partikel zat terlarut (mol) setiap 1 kg zat pelarut (bukan larutan).
Sehingga dapat didefinisikan dengan persamaan berikut:
jumlah mol zat terlarut
Molalitas (m) =
jumlah kg pelarut
massa zat terlarut (gram) 1000
Atau m =
Mr (gram/ mol) massa zat pelarut (gram)
Molalitas dapat diukur pada saat pelarut dalam wujud padatan dan hanya dapat
diukur massanya, bukan volumenya sehingga tidak mungkin dinyatakan dalam
bentuk molaritas.
Penurunan Titik Beku Larutan. Proses pembekuan suatu zat cair terjadi
bila suhu diturunkan, sehingga jarak antarpartikel sedemikian dekat satu sama
lain dan akhirnya bekerja gaya tarik menarik antarmolekul yang sangat kuat.
Adanya partikel-partikel dari zat terlarut akan mengakibatkan proses pergerakan
molekul-molekul pelarut terhalang, akibatnya untuk dapat lebih mendekatkan
jarak antarmolekul diperlukan suhu yang lebih rendah. Jadi titik beku larutan
akan lebih rendah daripada titik beku pelarut murninya. Perbedaan titik beku
akibat adanya partikel-partikel zat terlarut disebut penurunan titik beku (Tf).
Kenaikan Titik Didih Larutan. Adanya partikel zat terlarut yang tidak
mudah menguap dalam larutan dapat mengurangi kemampuan zat pelarut
untuk menguap, Cairan akan mendidih ketika tekanan uapnya menjadi sama
dengan tekanan udara luar. Titik didih cairan pada tekanan udara 760 mmHg
disebut titik didih standar atau titik didih normal. Jadi yang dimaksud dengan
titik didih adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama dengan
tekanan udara luar (tekanan pada permukaan cairan). Tekanan uap larutan lebih
rendah dari tekanan uap pelarutnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu
mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut sehingga kecepatan penguapan
berkurang.

III. KESIMPULAN
Dari hasil perhitungan menggunakan data penurunan titik beku hasil
percobaan diperoleh keaktifan zat terlarut naftalena dalam pelarut benzene () =
0.30733, dan dari hasil perhitungan menggunakan data kenaikan titik didih hasil
percobaan, diperoleh berat molekul zat terlarut naftalena adalah 64.9767
gram/mol, menurut literatur berat molekul naftalena adalah 128.17 gram/mol.
Perbedaan hasil antara percobaan dengan literatur dikarenakan kesalahan yang
dilakukan praktikan saat pengambilan data, yaitu berupa pemasangan alat titik
didih yang tidak benar, masih ada udara yang masuk ke alat karena kurang
kencangnya memasang kondensor, berubahnya tekanan udara dalam alat karena
ada udara yang masuk dapat mempengaruhi titik didih larutan.

IV. PUSTAKA
P. Atkins, J de Paula, Physical Chemistry, 8th edition ed.W.H. Freeman and
Company, New York, 2006. halaman 173
http://en.wikipedia.org/wiki/Beckmann_thermometer

V. LAMPIRAN
Jawaban pertanyaan
1. Larutan ideal terjadi apabila interaksi antarmolekul komponen-komponen
larutan sama besar dengan interaksi antarmolekul komponen-komponen
tersebut pada keadaan murni, Larutan ideal mematuhi hukum Raoult, yaitu
bahwa tekanan uap pelarut (cair) berbanding tepat lurus dengan fraksi
mol pelarut dalam larutan. Jika tekanan uap hasil pengamatan tidak sama
dengan tekanan uap berdasarkan perhitungan hukum Raoult, maka larutan
tersebut tak-ideal.
Persyaratan larutan ideal :
a. molekul zat terlarut dan molekul pelarut tersusun sembarang
b. pada pencampuran tidak terjadi efek kalor
Besaran besaran yang digunakan utnuk menggambarkan penyimpangan
dari keadaan ideal tersebut adalah tekanan uap.
2. Pengaruh ketidak idealan larutan terhadap sifat koligatif berupa kenaikan
titik didih larutan dan penurunan tekanan uap larutan. Jika tekanan uap hasil
pengamatan tidak sama dengan tekanan uap berdasarkan perhitungan hukum
Raoult, maka larutan tersebut tak-ideal, interaksi antara molekul dalam
larutan dapat menurunkan tekanan uap larutan, karena fraksi mol pelarut
berkurang. Ketidak idelan larutan yang disebabkan oleh interaksi molekul ini
juga dapat menyebabkan terjadi penyimpangan titik didih, seperti misalnya
campuran etanol- air dapat membentuk azeotrop dimana titik didihnya akan
mendekati titik didih air.
3. Kurva yang didapat saat melewati keadaan lewat beku / supercooled

4. Tekanan udara akan mempengaruhi titik didih larutan, sebagai contoh pada
tekanan udara 1 atm air akan mendidih pada suhu 1000C, pada tekanan udara
kurang dari 1 atm air akan mendidih pada saat suhu <1000C, begitu juga
dengan benzene dan sikloheksanol (pelarut) yang dugunakan dalam
percobaan.

5. Apabila zat terlarut mengalami disosiasi, zat terlarut akan terdistribusi merata
ke seluruh pelarut, apabila pelarut mengalami asosiasi, pelarut berikatan
dengan sesama pelarut, zat terlarut tidak terdistribusi secara merata. Kedua-
duanya akan berimbas pada kenaikan titik didih dan penurunan titik beku
larutan, semakin terdistribusi zat terlarut dalam pelarut maka kenaikan titik
didih dan penurunan titik beku semakin tinggi, sebaliknya semakin tidak
terdistribusinya zat terlarut dalam pelarut maka kenaikan titik didih dan
penurunan titik beku larutan semakin rendah.
LEMBAR ASISTENSI

DIPERIKSA

NO TANGGAL KETERANGAN TANDA


TANGAN