Anda di halaman 1dari 20

Perbedaan Perilaku Daur Ulang akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan

Masyarakat Hutan Kota Malabar, Kota Malang, Jawa Timur

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Pencemaran Lingkungan

yang dibimbing oleh Dr.H. Sueb, M.kes

Offering GHL

Kelompok 1

Devy Atika Farah (150342605754)

Rina Fiji Lestari (150342608273)

R.R. Adetiyas Fara Ulil M. (150342607686)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI

Maret 2017

1
Perbedaan Perilaku Daur Ulang akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan
Masyarakat Hutan Kota Malabar, Kota Malang, Jawa Timur

Devy Atika Farah, Rina Fiji Lestari, R.R. Adetiyas Fara Ulil M.,
Dr. Sueb M.Kes
Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Malang
sueb.fmipa@um.ac.id, rinafijilestari97@gmail.com

Abstrak : Pertambahan jumlah penduduk membawa implikasi terhadap


volume sampah yang diproduksi oleh masyarakat. Meningkatnya
volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. yaitu untuk
mengetahui Perbedaan Perilaku Daur Ulang akibat Perbedaan
Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota Malabar, Kota Malang,
Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan di Hutan Kota Malabar Kota
Malang, Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimental. Pengambilan sampel dilaksanakan pada hari senin
tanggal 13 Maret 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah warga
sekitar hutan Malabar, penggunjung hutan Malabar dan petugas
Dinas Kebersihan di daerah hutan kota Malabar. Sampel dalam
penelitian ini adalah 30 orang yang dipilih secara acak. Teknik
pengambilan sampel yaitu dengan menyebar kuesioner. Dari table
signifikan > 0,05 yang berarti H0 diterima, jadi H1 ditolak, sehingga
tidak ada Perbedaan Perilaku Daur Ulang yang signifikan akibat
Perbedaan Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota Malabar.
Kata Kunci : Daur Ulang, Tingkat Pendidikan, Perilaku masyarakat
Abstrac : The number of people carrying the implications on the volume of
waste produced by the community. The increasing volume of waste
requiring management. Behavior is to determine the difference due
to the difference Recycling Public Education Level Malabar Forest
City, Malang, East Java. This research was conducted at the Forest
City Malabar Malang, East Java. This research is an experimental
research. Sampling was carried out on Monday, March 13, 2017. The
population in this study were residents around the forest of Malabar,
Malabar forest penggunjung and Sanitation Department officials in
the urban forest area of Malabar. The sample in this study was 30
people chosen at random. The sampling technique is to spread out
the questionnaire. Of significant table> 0.05, which means that H0,
so H1 was rejected, so there is no difference Behavior significant
Recycling Rate Difference due Forest City Community Education
Malabar.

2
Keyword : Recycling, Level of Education, community behavior

3
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sampah rumah tangga adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau
proses alam yang berbentuk padat, yang terjadi pada skala rumah tangga.
Pengelolaan sampah rumah tangga adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan
berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah rumah
tangga (UU no 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah). Pengelolaan sampah
berbasis masyarakat adalah pelibatan masyarakat secara aktif dalam kegiatan
pengelolaan sampah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
(Dirgantara, 2013).
Permasalahan sampah merupakan fakta yang dihadapi oleh masyarakat di
kawasan permukiman perkotaan (Aziz, 2013). Perkembangan kota Malang yang
cukup pesat ditandai dengan bertambahnya jumlah penduduk yang tinggal di
kawasan permukiman kota Malang. Pertambahan jumlah penduduk membawa
implikasi terhadap volume sampah yang diproduksi oleh masyarakat
(Neolaka,2008) . Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan.
Pengelolaan sampah yang tidak mempergunakan metode dan teknik pengelolaan
sampah yang ramah lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatif
terhadap kesehatan juga akan sangat mengganggu kelestarian fungsi lingkungan baik
lingkungam pemukiman, hutan, persawahan, sungai dan lautan (Marliani, 2014).
Beberapa usaha yang telah berlangsung di TPS untuk mengurangi volume
sampah, seperti telah dilakukan pemilahan oleh pemulung untuk sampah yang dapat
didaur ulang. Ini ternyata sebagai mata pencaharian untuk mendapatkan penghasilan.
Sampah yang mudah busuk telah dilakukan usaha pengomposan. Namun usaha
tersebut masih menyisakan sampah yang harus dikelola yang memerlukan biaya
yang tinggi dan lahan luas. Penanganan sisa sampah di TPS sampai saat ini masih
dengan cara pembakaran di tempat terbuka dan pembusukan secara alami. Hal ini
menimbulkan permasalahan baru bagi lingkungan, yaitu pencemaran tanah, air, dan
udara (Andriyani & Maryono, 2010).
Menumpuknya sampah sebaiknya menyadarkan masyarakat untuk tidak
membuang sampah sembarangan dan mulai memperhatikan lingkungan banyak hal

4
yang dapat dilakukan untuk peduli lingkungan, misalnya melalui ceramah, cerita,
atau melalui kegiatan recycle (daur ulang). Menyebutkan bahwa praktik dari recycle
berarti memproses sampah menjadi barang yang dapat digunakan kembali. Terus
berputarnya siklus daur ulang alam merupakan kunci keselamatan bumi, yang
sebenarnya adalah tanggungjawab kita bersama untuk menjaga keselamatan bumi
(Wintoko, 2013). Daur ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa
didegradasi oleh alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan. Secara garis
besar, daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan, dan
pemprosesan material baru untuk proses produksi (Kristanto et al, 2015).
Pupuk kompos adalah jenis pupuk yang berasal dari sisa bahan organik, baik
dari tanaman, hewan, maupun limbah organik yang telah mengalami dekomposisi
atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan dalam pembuatan kompos
adalah jerami, sekam padi, pelepah pisang gulma, sayuran busuk, sisa tanaman
jagung, dan sabut kelapa. Sementara itu, bahan dari ternak yang sering digunakan
untuk kompos diantaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan
cairan biogas (Lee & Paik, 2011).
Dari penelitian ini kami ingin mengetahui Perbedaan Perilaku Daur Ulang
akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota Malabar, Kota
Malang, Jawa Timur. Kami memilih daerah Hutan Kota Malabar karena di daerah
tersebut terdapat pengolahan kompos. Sehingga, apakah masyarakat di daerah
tersebut memiliki kesadaran yang tinggi terhadap perilaku daur ulang.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Perbedaan Perilaku Daur Ulang
akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota Malabar, Kota
Malang, Jawa Timur?

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Perbedaan Perilaku Daur
Ulang akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota Malabar, Kota
Malang, Jawa Timur?

Hipotesis

5
Ada Perbedaan Perilaku Daur Ulang akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan
Masyarakat Hutan Kota Malabar, Kota Malang, Jawa Timur.

6
METODELOGI PENELITIAN

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitan komparasi yaitu penelitian yang


mencari perbedaan antara variabelnya.

Tempat & Waktu

Penelitian ini dilakukan di Hutan Kota Malabar Kota Malang, Jawa Timur.
Pengambilan sampel dilaksanakan pada hari senin tanggal 13 Maret 2017 pada pukul
12.00 14.00.

Gambar 1. Peta Lokasi Hutan Kota Malabar

Sumber: Google Maps

Populasi & Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah warga sekitar hutan Malabar, penggunjung
hutan Malabar dan petugas Dinas Kebersihan di daerah hutan kota Malabar. Sampel
dalam penelitian ini adalah 30 orang yang dipilih secara acak.

Teknik Pengambilan Sampel

Data penelitian diperoleh dari kuisioner terstruktur, bedasarkan WIT


Transactions on Ecology and The Environment, Vol 167, Selain kuesioner terstruktur,
wawancara terbuka juga dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai perilaku

7
daur ulang pada masyarakat. Kuisioner berisi 20 pernyataan dengan pilihan jawaban
SS (sangat setuju dengan skor 5 ),S (setuju dengan skor 4),N (Netral dengan skor
3),TS (tidak setuju dengan skor 2),STS (sangat tidak setuju dengan skor 1)

Alat & Bahan

1. Kertas Kuisioner
2. Alat Tulis
3. Kamera

Prosedur Kerja

Menyusun Kuisioner berdasarkan jurnal

Menentukan populasi dan sampel yang akan diberi kuisioner

Membagikan Kuisioner kepada masyarakat daerah hutan Kota Malab

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Varian (AnaVa). Jika


terdapat perbedaan nyata diantara perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji BNT
dengan taraf 5%.

8
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Table 1. Data Responden Berdasarkan pendidikan terakhir terhadap Perilaku


Daur Ulang pada Masyarakat Daerah Hutan Kota Malabar Kota Malang, Jawa Timur.

No Nama Jenis Umur Pendidikan Pekerjaan


Responden Kelamin Responden Terakhir
1 Krisnina M. Perempuan 19 tahun SD Pelajar
2 Livia Fortuna N. Perempuan 15 tahun SD Pelajar
3 Destria Audi N. Perempuan 15 tahun SD Pelajar
4 Naafi Amalia L. Perempuan 15 tahun SD Pelajar
5 Erlianatasya S. Perempuan 15 tahun SD Pelajar
6 Anisa Yasila perempuan 15 tahun SD Pelajar
7 Indra Laki-laki 19 tahun SMP Pelajar
8 Silvia Perempuan 19 tahun SMP Pelajar
9 Anggun S. Perempuan 19 tahun SMA Mahasiswa
10 Aby D.A. Laki-laki 20 tahun SMA Mahasiswa
11 Ibnu C.F. Laki-laki 40 tahun SMA THL
12 Suratmi Perempuan 50 tahun SMA PNS
13 Suhadak Laki-laki 53 tahun SMA PNS
14 Setiyawanto Laki-laki 35 tahun SMA PNS
15 Nurlaila D.O. Perempuan 20 tahun SMA Mahasiswa
16 Arrizal H.F. Laki-laki 20 tahun SMA Mahasiswa
17 M. Irvan N. Laki-laki 20 tahun SMA Swasta
18 M. Indra Laki-laki 17 tahun SMA Mahasiswa
19 Samsuri Laki-laki 39 tahun SMA Swasta
20 Billy Laki-laki 19 tahun SMA Mahasiswa
21 Didya I.M. Laki-laki 19 tahun SMA Mahasiswa
22 Loly lindawati Perempuan 19 tahun SMA Swasta
23 Kurniyati Perempuan 20 tahun SMA Mahasiswa
24 Yogi Gustian P. Laki-laki 20 tahun SMA Mahasiswa
25 Murni . Perempuan 26 tahun SMA PNS
26 Anita P. Perempuan 30 tahun SMA IRT
27 Iin setiawati Perempuan 28 tahun SMA IRT
28 Hamdani Laki-laki 48 tahun S1 PNS
29 Sri Wahyuni Perembuan 24 tahun S1 PNS
30 Nabila Perempuan 26 tahun S1 PNS

Table 2. Hasil Rerata Dari Jumlah Responden terhadap Perilaku Daur Ulang

No Pendidikan Terakhir Jumlah Responden Rerata


.

9
1 SD 6 56,5
2 SMP 2 60
3 SMA 19 60,52
4 S1 3 65

10
Diagram 1. Rerata jumlah responden berdasarkan tingkat pendidikan terhadap
perilaku daur ulang.

70

60

50

SD
40
SMP
SMA/SMK
30
S1

20

10

0
Rata-rata total score Jumlah responden

Bedasarkan data yang diperoleh dari kuisioner dan dibagikan kepada 30


responden yang terdiri dari perempuan sebanyak 17 dan pria sebanyak 13 Kemudian
responden dikategorikan bedasarkan pendidikan terakhir diperoleh data 6 orang
dengan pendidikan terakhir SD, 2 orang dengan pendidikan SMP, 19 orang dengan
pendidikan SMA/SMK dan 3 orang dengan pendidikan terakhir S1.

Table 3. Hasil uji homogenitas

Tests of Normalityc
Kolmogorov-
Smirnova Shapiro-Wilk
pendidikan Statist Statist
terakhir ic df Sig. ic df Sig.
jumlah skor SD .267 6 . .809 6 .070
*
perilaku 200
daur ulang SMP .260 2 .
SMA .323 19 .000 .622 19 .000
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

11
c. jumlah skor perilaku daur ulang is constant when pendidikan terakhir = S1. It
has been omitted.

Dari hasil homogenitas ini dapat dilihat pada table signifikan pada uji
Shapiro-wilk karena sampel pada uji ini < 50. Pada table uji signifikan hasilnya
adalah < 0,05 sehingga data tidak homogen.

Table 4. Uji test homogenitas varian

Test of Homogeneity of Variances


jumlah skor perilaku daur ulang
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1.016 3 26 .402

Pada tes homogenitas varian ini didapat hasil pada table signifikannya adalah
> 0,05 yang berarti varian datanya diasumsikan sama.

Tabel 5. hasil ANOVA

ANOVA
jumlah skor perilaku daur ulang
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 18.940 3 6.313 .702 .559
Within Groups 233.860 26 8.995
Total 252.800 29

Dilihat dari table signifikan bahwa nilai tersebut > 0,05 yang berarti H0
diterima, jadi H1 ditolak, sehingga tidak ada Perbedaan Perilaku Daur Ulang yang
signifikan akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota Malabar,
Sehingga tidak ada uji lanjut.

Pembahasan

Dalam penelitian ini jumlah responden terbanyak adalah responden yang


tingkat pendidikan terakhirnya SMA, yaitu sebanyak 19 responden dengan
persentase 63,3%. Terbanyak kedua yaitu pada tingkat SD sebanyak 6 responden
dengan persentase sebanyak 20%, yang ketiga yaitu S1 sebanyak 3 responden

12
dengan persentase sebanyak 10% dan yang terakhir yaitu SMP sebanyak 2
responden dengan persentase sebanyak 6,7%. Hal ini berarti tingkat pendidikan
berkorelasi positif dengan perilaku daur ulang masyarakat di kawasan hutan kota
malabar. Hal tersebut sesuai dengan (Handiwiyoto, 1983 dalam Riswan et al,. 2011)
yang menyatakan kebodohan merupakan salah satu faktor yang menimbulkan
masalah sampah. Jalan yang ditempuh dalam upaya meningkatkan kesadaran
masyarakat agar mengelola sampah hasil produksinya setiap hari salah satunya
dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui pendidikan formal maupun
non formal (Marliana,2014).

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh (Mulyadi et al,. 2010) yang
dilakukan di Kota Tembilan bahwa Dari hasil wawancara responden dapat dilihat
bahwa rerata dari jawaban responden menjawab tidak pernah sampai kadang-kadang.
Jelas bahwa peran serta pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah di Kota
Tembilahan yang menyentuh langsung ke masyarakat masih sangat minim hampir
keseluruhan kegiatan baik penyuluhan, pendataan, edaran, TPS serta pengawasan
75% - 90% tidak pernah dirasakan oleh masyarakat Tembilahan. Hal ini
mengakibatkan partisipasi masyarakat atau kesadaran dan kepedulian masyarakat
terhadap pengelolaan sampah rendah, dikarenakan masyarakat tidak dilibatkan
langsung oleh pemerintah sebagai objek dan subyek langsung. Belum lagi dari sarana
dan prasarana yang telah disediakan oleh pemerintah yang masih sangat terbatas.

Dari hasil uji Anava dari table signifikan bahwa nilai tersebut > 0,05 yang
berarti H0 diterima, jadi H1 ditolak, sehingga tidak ada Perbedaan Perilaku Daur
Ulang yang signifikan akibat Perbedaan Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota
Malabar. hal ini mungkin disebabkan karena semua responden banyak yang sudah
mendapatkan informasi dari daur ulang sampah. Hal ini dibuktikan dengan
banyaknya responden yang menjawab setuju dan sangat setuju pada kuesioner.

Saat ini dalam dari tingkat pendidikan SD dalam mata pelajarannya sudah
diajarkan bagaimana cara mendaur ulang sampah walaupun dengan cara yang
sederhana. Hal ini sesuai dengan (Ramadhani, 2015) yang menyatakan bahwa
Sebagai Sekolah Rintisan Adiwiyata, SD Negeri Giwangan Yogyakarta memberikan
jam khusus untuk mengajarkan keterampilan mendaur ulang sampah.

13
Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Riswan et al, 2011) yaitu Tingkat
Pendidikan. Sebagian besar responden (53%) berpendidikan rendah (tidak sekolah,
SD sederajat). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai signifikansi < 0,05
sehingga Ho ditolak, dengan koefisien korelasi sebesar 0,669. Hal ini berarti tingkat
pendidikan berkorelasi positif dengan pengelolaan sampah rumah tangga. Jadi,
penelitian yang kami teliti ini tidak sesuai dengan penelitian yang diteliti oleh
Riswan dan kawannya.

14
PENUTUP

Simpulan

Table signifikan bahwa nilai tersebut > 0,05 yang berarti H 0 diterima, jadi H1
ditolak, sehingga tidak ada Perbedaan Perilaku Daur Ulang yang signifikan akibat
Perbedaan Tingkat Pendidikan Masyarakat Hutan Kota Malabar

Saran

Mengacu pada hasil penelitian ini beberapa saran untuk penelitian


ini sebagai berikut:
1. Perlu ditingkatkannya sosialisasi menggenai daur ulang
sampah sehingga masyarakat tertaik dan mengerti mengenai
masalah daur ulang sampah.
2. Pemerintah juga sebaiknya memberikan pelatihan dan
bimbingan serta mengadakan lomba-lomba kebersihan dan
3R kepada aparatur pemerintah, masyarakat, pelajar dan
mahasiswa bahkan kepada anak-anak sedini mungkin.
Dengan penerapan 3R yang baik dan benar oleh masyarakat
diharapkan dapat membawa banyak dampak positif antara
lain, mengurangi timbulnya sampah yang berarti juga
mengurangi beban pemerintah dalam pengelolaan
kebersihan dan memperpanjang massa pakai TPA,
memanfaatkan potensi nilai ekonomi sampah, dan
peningkatan kualitas lingkungan.
3. Kepada Masyarakat umum hendaknya dapat meningkatkan
peran sertanya dalam pengelolaan sampah dan
melaksanakan prinsip 3R dengan baik agar dapat
menciptakan lingkungan yang bersih, sehat dan berkualitas.

15
Daftar Rujukan
Andriyani, R., & Maryono. 2010. Interaksi Pelaku Daur Ulang Sampah Melalui Uji
Regresi Linear Di Kelurahan Panggung Lor, Kuningan Dan Bandar Harjo
Kota Semarang. Jurnal Presipitasi Vol. 7 No.1 Maret 2010, Issn 1907-
187x.

Aziz, E. (2013). Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup Melalui Pendidikan Islam.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dirgantara, I.M.B. 2013. Pengetahuan Mendaur Ulang Sampah Rumah Tangga Dan
Niat Mendaur Ulang Sampah. Jurnal Studi Manajemen & Organisasi
Volume 10, Nomor 1, Januari, Tahun 2013, Halaman 1.

Kristanto, G. A., Gusniani, I., & Ratna, A. The Performance Of Municipal Solid
Waste Recycling Program In Depok, Indonesia. International Journal of
Technology (2015) 2: 264-272 ISSN 2086-9614.

Lee, S., & Paik, H.S. 2011. Korena Household Waste Management and recycling
Behavior. Building and Environment 46 (2011) 1159-1166.

Marliana, N. 2014. Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga (Sampah Anorganik)


Sebagai Bentuk Implementasi Dari Pendidikan Lingkungan Hidup. Jurnal
Formatif 4(2): 124-132, 2014 ISSN: 2088-351X.

Mulyadi, A., Husein, S., & Saam, Z. 2010. Perilaku Masyarakat Dan Peranserta
Pemerintah Daerah Dalam Pengelolaan Sampah Di Kota Tembilahan.
Jurnal Of Environtmental Sciens No. 2 Vol. 3.

Neolaka, Amos. 2008. Kesadaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta

Ranamadhani, A.R. 2015. Pelaksanaan Pembelajaran Keterampilan Daur Ulang


Sampah Dalam Implementasi Kurikulum 2013 Di SD Negeri Giwangan
Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Riswan, Sunoko, H.R., & Hadiyarto, A. 2011. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Di Kecamatan Daha Selatan. Jurnal Ilmu Lingkungan Vol.9, No. 1, April
2011.

16
Wintoko, B. (2013). Panduan Praktis Mendirikan Bank Sampah : Keuntungan
Ganda Lingkungan Bersih dan Kemapanan Finansial. Yogyakarta: Pustaka
Baru Press.

17
Lampiran

1. Kuisioner
Kuisioner Perilaku Daur Ulang pada Masyarakat Daerah Hutan Kota
Malabar Kota Malang, Jawa Timur
2.
3.

Nama Responden :

Jenis Kelamin :

Umur :

Pendidikan Terakhir :

Pekerjaan :

Alamat :

No Pernyataan SS S N TS STS
.
1 Menurut saya limbah dapat di daur ulang
2 Menurut saya limbah tidak dapat di daur
ulang
3 Menurut saya limbah dapat
mempersempit lahan
4 Menurut saya limbah tidak
mempersempit lahan
5 Menurut saya daur ulang sampah
menyebabkan ruangan menjadi tidak
nyaman
6 Menurut saya daur ulang sampah tidak
menyebabkan ruangan menjadi tidak
nyaman
7 Menurut saya mudah untuk mencari tempat
daur ulang sampah
8 Menurut saya tidak mudah (sulit) untuk
mencari tempat daur ulang sampah
9 Menurut saya daur ulang merupakan

18
salah satu cara penanggulangan
kerusakan lingkungan.
10 Menurut saya daur ulang bukan salah
satu cara penanggulangan
kerusakan lingkungan.
11 Menurut saya daur ulang mudah di lakukan
12 Menurut saya daur ulang tidak mudah di
lakukan
13 Menurut saya pemberian intensif (upah)
dapat membujuk orang orang untuk
mendaur sampah
14 Menurut saya pemberian intensif (upah)
tidak dapat membujuk orang orang untuk
mendaur sampah
15 Menurut saya daur ulang
membutuhkan waktu yang lama
16 Menurut saya daur ulang tidak
membutuhkan waktu yang lama
17 Saya merasa mendapatkan informasi yang
cukup untuk daur ulang sampah
18 Saya merasa tidak mendapatkan informasi
yang cukup(kurang) untuk daur ulang
sampah
19 Menurut saya daur ulang dapat
menumbuhkan interaksi antar
warga
20 Menurut saya daur ulang tidak dapat
menumbuhkan interaksi antar
warga

Keterangan

SS : Sangat Setuju

S : Setuju

N : Netral

19
TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

20