Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONAL DISEASE (COPD)


MATRIKULASI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PROGRAM ALIH JENJANG
PERTEMUAN TANGGAL 10 JULI 2017

I KADE ADI GUNAWAN

175070209111064

PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
LAPORAN PENDAHULUAN COPD

A. Definisi
COPD adalah penyakit paru kronik denga karakteristik
adanya hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat
progresif nonreversible dan reversible parsial, serta adanya respon
inflamasi paruterhadap partikel atau gas yang berbahaya ( Gold,
2009).
COPD atau PPOK adalah suatu penyakit yang
dikarakteristikan oleh adanya hambatan aliran udara secara kronis
dan perubahan-perubahan patologi pada paru,dimana hambatan
aliran udara saluran nafas bersifat progresif dan tidak sepenuhnya
reversible dan berhubungan dengan respon inflamasi yang
abnormal dari paru paru terhadap gas atau partikel yang
berbahaya ( Hariman,2010).
PPOK merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan
dipnea saat beraktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar
udara paru-paru (Bruner & Suddarth, 2009)
COPD adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk
sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan
ditandai dengan obstruksi aliran udara sebagai gambaran
patofisiologi utamanya (Price & Wilson, 2005)

B. Etiologi
Merokok adalah risiko utama terjadinya PPOK. Sejumlah zat
iritan yang ada di dalam rokok menstimulasi produksi mucus
berlebih, batuk, merusak fungsi silia, menyebabkan inflamasi serta
kerusakan bronkiulus, dan dinding alveolus. Faktor resiko lain
termasuk polusi udara, perokok pasif, riwayat infeksi saluran nafas
saat kanak-kanak dan keturunan. Paparan terhadap beberapa
polusi industri di tempat kerja dapat meningkatkan resiko.

C. Epidemiologi
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa
menjelang tahun 2020 prevalensi PPOK akan meningkat sehingga
sebagai penyebab penyakit tersering peringkatnya meningkat dari
ke-12 menjadi ke-5 dan sebagai penyebab kematian tersering
peringkatnya juga meningkat dari ke-6 menjadi ke-3.
Di Eropa, tingkat kejadian PPOK tertinggi terdapat pada negara-
negara Eropa Barat sepert Inggris dan Prancis, dan paling rendah
pada negara-negara Eropa Selatan seperti Italia. Negara Asia
Timur seperti Jepang dan China memiliki kejadian terendah
PPOK, dengan jarak antara angka kejadian terendah dan
tertinggi mencapai empat kali lipat.
Pada 12 negara Asia Pasifik, WHO menyatakan angka
prevalensi PPOK sedang-berat pada usia 30 tahun keatas, dengan
tingkat sebesar 6,3%, dimana Hongkong dan Singapura dengan
angka prevalensi terkecil yaitu 3,5% dan Vietnam
sebesar 6,7%. Indonesia sendiri belumlah memiliki data
pasti mengenai PPOK ini sendiri, hanya Survei Kesehatan
Rumah Tangga Depkes RI 1992 menyebutkan bahwa PPOK
bersama-sama dengan asma bronchial menduduki peringkat ke-6
dari penyebab kematian terbanyak di Indonesia.
Kebanyakan pasien PPOK adalah laki laki. Hal ini
disebabkan lebih banyak ditemukan perokok pada laki-laki
dibandingkan pada wanita. Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional
tahun 2001 menunjukkan bahwa sebanyak 62,2 % penduduk laki-
laki merupakan perokok dan hanya 1,3 % saja perempuan yang
merokok. Sebanyak 92,0% perokok menyatakan kebiasaannya
merokok di dalam rumah, ketika bersama anggota rumah tangga
lainnya, dengan demikian sebagian besar anggota rumah tangga
merupakan perokok pasif.

D. Klasifikasi
Klasifikasi PPOK dibedakan menjadi 3 yaitu :
1. Asma Bronkial : suatu penyakit yang ditandai dengan
tanggapan reaksi yang meningkat dari trakea dan
bronkus terhadap berbagai macam rangsangan dengan
manifestasi berupa kesukaran bernafas yang disebabkan
penyempitan menyeluruh dari saluran pernafasan.
2. Bronkitis Kronis : gangguan klinis yang ditandai dengan
pembentukan mucus yang berlebihan dalam bronkus dan
dimanifestasikan dalam bentuk batuk kronis serta
membentuk sputum selam 3 bulan dalam setahun,
minimal 2 tahun berturut- turut.
3. Emfisema : perubahan anatomi parenkim paru ditandai
dengan pelebaran dinding alveolus, duktus alveolar, dan
destruksi dinding alveolar ( Muttaqim, 2008).

E. Patofisiologi
Faktor risiko utama dari PPOK adalah merokok. Komponen-
komponen asap rokok merangsang perubahan pada sel-sel
penghasil mukus bronkus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus
mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta
metaplasia. Perubahan-perubahan pada sel-sel penghasil mukus
dan silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan
menyebabkan penumpukan mukus kental dalam jumlah besar dan
sulit dikeluarkan dari saluran napas. Mukus berfungsi sebagai
tempat persemaian mikroorganisme penyebab infeksi dan menjadi
sangat purulen. Timbul peradangan yang menyebabkan edema
jaringan. Proses ventilasi terutama ekspirasi terhambat. Timbul
hiperkapnia akibat dari ekspirasi yang memanjang dan sulit
dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya peradangan
(GOLD, 2009).
Komponen-komponen asap rokok juga merangsang
terjadinya peradangan kronik pada paru. Mediator-mediator
peradangan secara progresif merusak struktur-struktur penunjang
di paru. Akibat hilangnya elastisitas saluran udara dan kolapsnya
alveolus, maka ventilasi berkurang. Saluran udara kolaps terutama
pada ekspirasi karena ekspirasi normal terjadi akibat pengempisan
(recoil) paru secara pasif setelah inspirasi. Dengan demikian,
apabila tidak terjadi recoil pasif, maka udara akan terperangkap di
dalam paru dan saluran udara kolaps (GOLD, 2009)

F. Manifestasi Klinis
Batuk merupakan keluhan pertama yang biasanya terjadi
pada pasien PPOK. Batuk bersifat produktif, yang pada awalnya
hilang timbul lalu kemudian berlangsung lama dan sepanjang
hari. Batuk disertai dengan produksi sputum yang pada awalnya
sedikit dan mukoid kemudian berubah menjadi banyak dan purulen
seiring dengan semakin bertambahnya parahnya batuk penderita.
Penderita PPOK juga akan mengeluhkan sesak yang
berlangsung lama, sepanjang hari, tidak hanya pada malam hari,
dan tidak pernah hilang sama sekali, hal ini menunjukkan adanya
obstruksi jalan nafas yang menetap. Keluhan sesak inilah yang
biasanya membawa penderita PPOK berobat ke rumah
sakit. Sesak dirasakan memberat saat melakukan aktifitas dan
pada saat mengalami eksaserbasi akut.
Gejala-gejala PPOK eksaserbasi akut adalah:
1. Batuk bertambah berat
2. Produksi sputum bertambah
3. Sputum berubah warna
4. Sesak nafas bertambah berat
5. Bertambahnya keterbatasan aktivitas
6. Penurunan kesadaran

G. Penatalaksanaan
Adapun tujuan dari peatalaksaan COPD ini adalah
1. Mencegah progresifitas penyakit
2. Mengurangi gejala
3. Meningkatkan toleransi latihan
4. Mencegah dan mengobati komplikasi
5. Mencegah dan mengobati eksaserbasi berulang
6. Mencegah dan meminimalkan efek samping obat
7. Memperbaiki dan mencegah penuruna faal paru
8. Meningktakan kualitas hidup penderita
9. Menurunkan angka kematian.
Tujuan tersebut dapat dicapai melalui 4 komponen yaitu:
A. Evalasi dan monitor penyakit
PPOK merupakan penyakit yang progresif, artinya fungsi
paru akan menurun seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu,
monitor merupakan hal yang sangat penting dalam
penatalaksanaan penyakit ini. Monitor penting yang harus
dilakukan adalah gejala klinis dan fungsi paru.

Riwayat penyakit yang rinci pada pasien yang dicurigai


PPOK atau pasien yang telah di diagnosis PPOK digunakan
untuk evaluasi dan monitoring penyakit :
Pajanan faktor resiko, jenis zat dan lamanya terpajan
Riwayat timbulnya gejala atau penyakit
Riwayat keluarga PPOK atau penyakit paru lain,
misalnya asma, tb paru
Riwayat eksaserbasi atau perawatan di rumah sakit
akibat penyakit paru kronik lainnya
Penyakit komorbid yang ada, misal penyakit jantung,
rematik, atau penyakit-penyakit yang menyebabkan
keterbattasan aktifitas
Rencanakan pengobatan terkini yang sesuai dengan
derajat PPOK
Pengaruh penyakit terhadap kehidupan pasien seperti
keterbatasan aktifitas, kehilangan waktu kerja dan
pengaruh ekonomi, perasaan depresi / cemas
Kemungkinan untuk mengurangi faktor resiko
terutama berhenti merokok
Dukungan dari keluarga
B. Menurunkan factor resiko
Berhenti merokok merupakan satu-satunya intervensi
yang paling efektif dalam mengurangi resiko berkembangnya
PPOK dan memperlambat progresifitas penyakit.
Strategi untuk membantu pasien berhenti merokok 5 A :
Ask (Tanyakan)
Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi semua
perokok pada setiap kunjungan
Advise (Nasehati)
Memberikan dorongan kuat untuk semua
perokok untuk berhenti merokok
Assess (Nilai)
Memberikan penilaian untuk usaha berhenti
merokok
Assist (Bantu)
Membantu pasien dengan rencana berhenti
merokok, menyediakan konseling praktis,
merekomendasikan penggunaan farmakoterapi
Arrange (Atur) :Jadwal kontak lebih lanjut
C. Tatalaksana PPOK stabil
1. Terapi Farmakologi
Bronkodilator
Secara inhalasi (MDI), kecuali preparat tak
tersedia / tak terjangkau
Rutin (bila gejala menetap) atau hanya bila
diperlukan (gejala intermitten)
3 golongan :
Agonis b-2: fenopterol, salbutamol,
albuterol, terbutalin, formoterol,
salmeterol
Antikolinergik: ipratropium bromid,
oksitroprium bromid
Metilxantin: teofilin lepas lambat, bila
kombinasi b-2 dan steroid belum
memuaskan
Dianjurkan bronkodilator kombinasi daripada
meningkatkan dosis bronkodilator monoterapi
Steroid
PPOK yang menunjukkan respon pada uji
steroid
PPOK dengan VEP1 < 50% prediksi (derajat III
dan IV)
Eksaserbasi akut
Obat-obat tambahan lain
Mukolitik (mukokinetik, mukoregulator) :
ambroksol, karbosistein, gliserol iodida
Antioksidan : N-Asetil-sistein
Imunoregulator (imunostimulator,
imunomodulator)
Antitusif : tidak rutin
Vaksinasi : influenza, pneumokokus
2. Terapi nonfarmakologis
Rehabilitasi : latihan fisik, latihan endurance, latihan
pernapasan, rehabilitasi psikososial
Terapi oksigen jangka panjang (>15 jam sehari): pada
PPOK derajat IV, AGD=
PaO2 < 55 mmHg, atau SO2 < 88% dengan
atau tanpa hiperkapnia
PaO2 55-60 mmHg, atau SaO2 < 88%
disertai hipertensipulmonal, edema perifer
karena gagal jantung, polisitemia
D. Penatalaksanaan PPOK eksaserbasi
Penatalaksanaan PPOK eksaserbasi akut di rujmah :
bronkodilator seperti pada PPOK stabil, dosis 4-6 kali 2-4 hirup
sehari. Steroid oral dapat diberikan selama 10-14 ahri. Bila
infeksi: diberikan antibiotika spektrum luas
(termasuk S.pneumonie, H influenzae, M catarrhalis).
Terapi eksaserbasi akut di rumah sakit:
Terapi oksigen terkontrol, melalui kanul nasal atau
venturi mask
Bronkodilator: inhalasi agonis b2 (dosis & frekwensi
ditingkatkan) + antikolinergik. Pada eksaserbasi akut
berat: + aminofilin (0,5 mg/kgBB/jam)
Steroid: prednisolon 30-40 mg PO selama 10-14 hari.
H. Pemeriksaan diagnostik
1. Pengukuran fungsi paru
2. Analisa gas darah
3. Pemeriksaan laboratorium
4. Pemeriksaan sputum
5. Pemeriksaan radiologi thoraks foto (AP dan Lateral)
6. EKG

I. Referensi
1. Alamsyah, Hariman. 2010. Efek latihan pernafasan terhadap
faal paru, derajat sesak nafas dan kapasitas fungsionl penderita
penyakit paru obstruksi kronik stabil. Thesis. Kota: Medan.
Universitas Sumatra utara.
2. Brunner & Suddart. 2009. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah edisi 10 volume 2. Jakarta, EGC.
3. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease.
2009. Global Strategy for The Diagnosis, Management, and
Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary
Disease. Barcelona: Medical Communications Resources.
Available from: http://www.goldcopd.org
4. Muttaqin,Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien
Dengan Gangguan Sistem Imunologi. Jakarta: Salemba Medika
5. Price S, Wilson L. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC.