Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

CA COLON
MATRIKULASI KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PROGRAM ALIH JENJANG
PERTEMUAN TANGGAL 20 JULI 2017

I KADE ADI GUNAWAN


175070209111064

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
CA COLON

A. DEFINISI
Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati
area tertentu pada tubuh, dan merupakan neoplasma yang dapat
bersifat jinak atau ganas (FKUI, 2008 : 268). Kanker adalah sebuah
penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan
kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik
dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi)
atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis).
Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA,
menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan
fungsi lainnya.
Karsinoma atau kanker kolon ialah keganasan tumbuh lambat
yang paling sering ditemukan daerah kolon terutama pada sekum,
desendens bawah, dan kolon sigmoid. Prognosa optimistik; tanda dan
gejala awal biasanya tidak ada.
Kanker kolon adalah tumbuhya sel-sel ganas di permukaan
dalam usus besar (kolon) atau rektum. Lokasi tersering timbulnya
kanker kolon adalah di bagian sekum, asendens, dan kolon sigmoid,
salah satu penatalaksanaannya adalah dengan membuat kolostomi
untuk mengeluarkan produksi feces.

B. ETIOLOGI
Terdapat empat etiologi utama kanker (Davey, 2006) yaitu :
1. Diet
kebiasaan mengkonsumsi makanan yang rendah serat (sayur-
sayuran, buah-buahan), kebiasaan makan makanan berlemak
tinggi dan sumber protein hewani.

2
2. Kelainan kolon
a. Adenoma di kolon : degenerasi maligna menjadi
adenokarsinoma.
b. Familial poliposis : polip di usus mengalami degenerasi maligna
menjadi karsinoma.
c. Kondisi ulserative
Penderita colitis ulserativa menahun mempunyai risiko terkena
karsinoma kolon.
3. Genetik
Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma kolon
mempunyai frekuensi 3 kali lebih banyak daripada anakanak
yang orangtuanya sehat

C. EPIDEMIOLOGI
Kanker kolorektal adalah kanker urutan ketiga yang banyak
yang menyerang pria dengan persentase 10,0% dan yang kedua
terbanyak pada wanita dengan persentase 9,2% dari seluruh
penderita kanker di seluruh dunia. Hampir 55 % kasus kanker
kolorektal terjadi di negara maju dengan budaya barat.
Di Indonesia kanker kolorektal adalah keganasan yang sering
terjadi baik pada pria dan wanita setelah kanker prostat dan kanker
payudara dengan persentase 11,5% dari jumlah seluruh pasien
kanker di Indonesia.2 Insidensi kanker kolorektal di Indonesia cukup
tinggi, demikian juga angka kematiannya. Insidensi kanker kolorektal
pada pria sebanding dengan wanita dan lebih banyak terjadi pada
usia produktif. Hal ini berbeda dengan data yang diperoleh di negara
berat dimana kanker biasanya terjadi pada pasien usia lanjut.
Perbandingan insidensi pada laki-laki dan perempuan adalah 3
berbanding 1 dan kurang dari 50% kanker kolon dan rektum
ditemukan di rektosigmoid.

3
D. KLASIFIKASI
Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai
berikut
A : kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada
metastasis.
B1 : kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa.
B2 :kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan
propria.
C1 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening
sebanyak satu sampai empat buah.
C2 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening
lebih
dari 5 buah.
D : kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan
penyebaran yang luas & tidak dapat dioperasi lagi.

Tabel: stadium pada Ca Colon yang di temukan dengan system TMN

STADIUM TINGKAT PENYEBARAN


TIS Carsinoma in situ
T1 Belum mengenai otot dinding,
polipoid/papiler
T2 Sudah mengenai otot dinding
T3 Semua lapis dinding terkena, penyebaran ke
sekitar
T4 Sama dengan T3 dengan fistula
N Limfonodus terkena
M Ada metastasis

E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala sangat di tentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit,
dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan
dalam defekasi, darah pada feses, konstipasi, perubahan dalam

4
penampilan feses, tenesmus, anemia dan perdarahan rectal
merupakan keluhan yang umum terjadi.
1. Kanker kolon kanan
Isi kolon berupa cairan, cenderung teteap tersamar hingga
stadium lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi,
karena lumen usus besar dan feses masih encer. Anemia akibat
perdarahan sering terjadi, dan darah bersifat samar dan hanya
dapat dideteksi dengan tes Guaiak (suatu tes sederhana yang
dapat di lakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena tercampur
dalam feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin
dapat teraba, tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin
mengalami perasaan tidak enak pada abdomen, dan kadang-
kadang pada epigatrium.
2. Kanker kolon kiri dan rectum
Cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai
akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung
sering terjadi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering
timbul gangguan obstruksi. Feses bisa kecil dan berbentuk pita.
Baik mucus maupun darah segar sering terihat pada feses. Dapat
terjadi anemia karena kehilangan darah kronik. Pertumbuhan pada
sigmoid atau rectum dapat mengenairadiks saraf, pembuluh limfe
atau vena, menimbulkan gejala-gejala pada tungkai atau perineum.
Hemoroid, nyeri pinggang bawah, keinginan defekasi atau sering
berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat-alat
tersebut. Gejala yang mungkin dapat timbul pada lesi rectal adalah
evakuasi feses yang tidak lengkapsetelah defekasi, konstipasi dan
diare bergantian, serta feses berdarah.

5
F. PATOFISIOLOGI
Kanker kolon dan rektum terutama berjenis histopatologis
(95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel dalam
usus=endotel). Munculnya tumor biasanya dimulai sebagai polip jinak,
yang kemudian dapat menjadi ganas dan menyusup, serta merusak
jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitarnya. Tumor
dapat berupa masa polipoid, besar, tumbuh ke dalam lumen, dan
dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai striktura annular (mirip
cincin). Lesi annular lebih sering terjadi pada rektosigmoid, sedangkan
lesi polipoid yang datar lebih sering terjadi pada sekum dan kolon
asendens.
Tumor dapat menyebar melalui :
- Infiltrasi langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam
kandung kemih (vesika urinaria).
- Penyebaran lewat pembuluh limfe limfogen ke kelenjar limfe
perikolon dan mesokolon.
- Melalui aliran darah, hematogen biasanya ke hati karena kolon
mengalirkan darah balik ke sistem portal.
Stadium pada pasien kanker kolon menurut Syamsu Hidayat
diantaranya:
- Stadium I bila keberadaan sel-sel kanker masih sebatas pada
lapisan dinding usus besar (lapisan mukosa).
- Stadium II terjadi saat sel-sel kanker sudah masuk ke jaringan otot
di bawah lapisan mukosa.
- Pada stadium III sel kanker sudah menyebar ke sebagian kelenjar
limfe yang banyak terdapat di sekitar usus.
- Stadium IV terjadi saat sel-sel kanker sudah menyerang seluruh
kelenjar limfe atau bahkan ke organ-organ lain.

Kanker kolon dan rektum terutama (95 %) adenokarsinoma


(muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi
dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal
serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas

6
dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling
sering ke hati). Kanker kolon dapat menyebar melalui beberapa cara
yaitu :
a. Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke
dalam kandung kemih.
b. Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon.
c. Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirkan
darah ke system portal.
d. Penyebaran secara transperitoneal

Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain.


Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi
penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding
usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan
perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain

7
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Endoskopi: Pemeriksaan endoskopi perlu dikerjakan, baik
sigmoidoskopi maupun kolonoskopi. Gambaran yang khas
karsinoma atau ulkus akan dapat dilihat dengan jelas pada
endoskopi, dan untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan
biopsi.
2. Radiologi: Pemeriksaan radiologi yang dapat dikerjakan antara
lain adalah foto dada dan foto kolon (barium enema).
3. Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas
keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin
menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi
pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil
kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium
secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy.
4. Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa
dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat
menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis.
5. Pemeriksaan foto dada berguna selain untuk melihat ada tidaknya
metastasis kanker pada paru juga bisa digunakan untuk persiapan
tindakan pembedahan. Pada foto kolon dapat dapat terlihat suatu
filling defect pada suatu tempat atau suatu striktura.
6. Ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi
ada tidaknya metastasis kanker kelenjar getah bening di abdomen
dan di hati.
7. Histopatologi: selain melakukan endoskopi sebaiknya dilakukan
biopsi di beberapa tempat untuk pemeriksaan histopatologis guna
menegakkan diagnosis. Gambaran histopatologi karsinoma
kolorektal ialah adenokarsinoma, dan perlu ditentukan
differensiasi sel.
8. Laboratorium. Tidak ada petanda yang khas untuk karsinoma
kolorektal, walaupun demikian setiap pasien yang mengalami
perdarahan perlu diperiksa Hb. Tumor marker (petanda tumor)

8
yang biasa dipakai adalah CEA. Kadar CEA lebih dari 5 mg/ ml
biasanya ditemukan karsinoma kolorektal yang sudah lanjut.
Berdasarkan penelitian, CEA tidak bisa digunakan untuk
mendeteksi secara dini karsinoma kolorektal, sebab ditemukan
titer lebih dari 5 mg/ml hanya pada sepertiga kasus stadium III.
Pasien dengan buang air besar lendir berdarah, perlu diperiksa
tinjanya secara bakteriologis terhadap shigella dan juga amoeba.
9. Scan (misalnya, MR1. CZ: gallium) dan ultrasound: Dilakukan
untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik, dan evaluasi
respons pada pengobatan.
10. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum): Dilakukan untuk diagnostik banding
dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui
sum-sum tulang, kulit, organ dan sebagainya.
11. Jumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit: Dapat
menunjukkan anemia, perubahan pada sel darah merah dan sel
darah putih: trombosit meningkat atau berkurang.
12. Sinar X dada: Menyelidiki penyakit paru metastatik atau primer.

H. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan medis
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan
IV dan pengisapan nasogastrik. Apabila terjadi perdarahan yang
cukup bermakna terapi komponen darah dapat diberikan.
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering
dalam bentuk pendukung atau terapi ajuvan. Terapi ajuvan
biasanya diberikan selain pengobatan bedah. Pilihan mencakup
kemoterapi, terapi radiasi dan atau imunoterapi.
Kemoterapi yang diberikan ialah 5-flurourasil (5-FU).
Belakangan ini sering dikombinasi dengan leukovorin yang dapat
meningkatkan efektifitas terapi. Bahkan ada yang memberikan 3
macam kombinasi yaitu: 5-FU, levamisol, dan leuvocorin. Dari hasil

9
penelitian, setelah dilakukan pembedahan sebaiknya dilakukan
radiasi dan kemoterapi
2. Penatalaksanaan bedah
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebanyakan
kanker kolon dan rektal, pembedahan dapat bersifat kuratif atau
paliatif. Kanker yang terbatas pada satu sisi dapat diangkat dengan
kolonoskop. Kolostomi laparoskopik dengan polipektomi
merupakan suatu prosedur yang baru dikembangkan untuk
meminimalkan luasnya pembedahan pada beberapa kasus.
Laparoskop digunakan sebagai pedoman dalam membuat
keputusan dikolon, massa tumor kemudian di eksisi.
Reseksi usus diindikasikan untuk kebanyakan lesi kelas A
dan semua kelas B serta lesi C. Pembedahan kadang dianjurkan
untuk mengatasi kanker kolon kelas D. Tujuan pembedahan dalam
situasi ini adalah paliatif. Apabila tumor sudah menyebar dan
mencakup struktur vital sekitar, operasi tidak dapat dilakukan. Tipe
pembedahan tergantung dari lokasi dan ukuran tumor.
Prosedur pembedahan pilihan adalah sebagai berikut.
- Reseksi segmental dengan anastomosis (pengangkatan tumor
dan porsi usus pada sisi pertumbuhan, pembuluh darah dan
nodus limfatik)
- Reseksi abominoperineal dengan kolostomi sigmoid permanen
(pengangkatan tumor dan porsi sigmoid dan semua rektum serta
sfingter anal)
- Kolostomi sementara diikuti dengan reseksi segmental dan
anastomosis serta reanastomosis lanjut dari kolostomi
- Kolostomi permanen atau iliostomy (untuk menyembuhkan lesi
obstruksi yang tidak dapat direseksi)
3. Difersi vekal untuk kanker kolon dan rektum
Berkenaan dengan tehnik perbaikan melalui pembedahan,
kolostomi dilakukan pada kurang dari sepertiga pasien kanker
kolorektal. Kolostomi adalah pembuatan lubang (stoma) pada kolon

10
secara bedah. Stoma ini dapat berfungsi sebagai difersi sementara
atau permanen. Ini memungkinkan drainase atau evakuasi isi kolon
keluar tubuh. Konsistensi drainase dihubungkan dengan
penempatan kolostomi yang ditentukan oleh lokasi tumor dan
luasnya invasi pada jaringan sekitar.
4. Penatalaksanaan Keperawatan
- Dukungan adaptasi dan kemandirian.
- Meningkatkan kenyamanan.
- Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
- Mencegah komplikasi.
- Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit,
prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
5. Penatalaksanaan Diet
- Cukup mengkonsumsi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-
buahan. Serat dapat melancarkan pencemaan dan buang air
besar sehingga berfungsi menghilangkan kotoran dan zat yang
tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama
mengendap di usus akan menjadi racun yang memicu sel
kanker.
- Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari)
- Menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh dan
kolesterol tinggi terutama yang terdapat pada daging hewan.
- Menghindari makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik,
karena hal tersebut dapat memicu sel karsinogen / sel kanker.
- Menghindari minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.
- Melaksanakan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.

11
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, J Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.


Dalimartha, dkk. 2008. Care Your Self, Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus.
Daugirdas, J.T., Blake, P.G., Ing, T.S. 2007. Handbook of Dialysis.4th ed.
Phildelphia.Lipincott William & Wilkins.
Dochtman, et al. 2008. Nursing Interventions Classification (NIC) Fifth
Edition. Missouri: MOSBY.
Doenges, et al. 2010. Nursing Diagnosis Manual: Planning, Individualizing,
and Documenting Client Care, Edition 3. Philadelphia: F.A. Davis
Company.
Guyton, Arthur C. & Hall, John E. 2007. Fisiologi Kedokteran, edisi
ketujuh, terjemahan. Jakarta: EGC.
Herdman, T. Heather. 2012. NANDA International; Diagnosis
Keperawatan: definisi dan klasifikasi 2012-2014, terjemahan.
Jakarta: EGC.
et al. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition.
Missouri: MOSBY
Mubin, Halim. 2007. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan
Terapi.EGC : Jakarta.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2006. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed. 4. Balai Penerbitan Dep. IPP. FKUI.
Jakarta.
Smeltzer & Bare. 2010. Brunner & Suddarths Text Book of Medical-
Surgical Nursing 10th edition. Philadelphia: Lippincott William &
Wilkins.
Wilkinson, Judit M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan
Intervensi NIC dan Kriteria hasil NOC, Ed.7. EGC : Jakarta.

12