Anda di halaman 1dari 26

BAB I

A. PENDAHULUAN
1. KONSEP-KONSEP KUNCI
Promosi kesehatan adalah suatu proses membantu individu masyarakat
meningkatkan kemampuan dan keterampilannya mengontrol berbagai faktor yang
berpengaruh pada kesehatan,sehigga dapat meningkatkan derajat kesehatan nya
(WHO).Menurut Green dan Kreuter (1991),promosi kesehatan adalah kombinasi
dari pendidikan kesehatan dan faktor-faktor organisasi,ekonomi dan lingkungan
yang seluruhnya mendukung terciptanya perilaku yang kondusif terhadap
kesehatan.Adapun yang dimaksud dengan perilaku kesehatan menurut Kasl dan
Cobb (1996) meliputi : a) perilaku pencegahan, b) perilaku sakit, dan c) perilaku
peran sakit.
Misi dari promosi kesehatan adalah advokasi,mediasi dan pemberdayaan.Yang
dimaksud dengan advokasi adalah upaya meyakinkan para pengambil kebijakan
agar memberikan dukungan berbentuk kebijakan terhadap suatu program. Mediasi
adalah upaya mengembangna jejaring atau kemitraan, lintas program, lintas sector
dan lintas institusi guna menggalang duungan bagi implementasi program.
Adapun pemberdayaan berarti upaya meningkatkan kemampuan kelompok
sasaran sehingga kelompok sasaran mampu mengembangkan tindakan tepat atas
berbagai permasalahan yang dialami.
Konsep pemberdayaan mengemukan sejak dicanangkannya Strategi Global
WHO tahun 1984, yang ditindaklanjuti dengan rencana aksi dalam Piagam
Ottawa (1986). Dalam deklarasi tersebut dinyatakan tentang perlunya mendorong
terciptanya: a. Kebijakan berwawasan kesehatan, b. lingkungan yang mendukung,
c. Reorentasi dalam pelayanan kesehatan, d. Keterampilan individu, dan e.
gerakan masyarakat. Olehnya itu, untuk lebih jelasnya makalah ini akan
membahas masalah pemberdayaan masyarakat dalam konsep promosi kesehatan.

2. PETUNJUK
a. Pelajari materi bab I dengan tekun dan disiplin!

1
b. Penyajian setiap bab meliputi: judul bab dan konsep-konsep kunci,
petunjuk, kerangka isi, tujuan pembelajaran umum, tujuan pembelajaran
khusus, paparan materi, tugas dan latihan, rangkuman, dan soal-soal akhir
bab yang disertai dengan kunci jawaban.
c. Dalam uraian materi terdapat test sambil jalan. Test ini dapat menjadi
tuntunan pembaca dalam memahami uraian bahan ajar bagian demi
bagian.
d. Kerjakan soal-soal latihan dan soal akhir bab dengan tekun dan disiplin!
e. Bacalah sumber-sumber pendukung untuk memperdalam pengetahuan
dan wawasan anda.
f. Ikuti turutan penyajian setiap bab tahap demi tahap!
g. Selamat belajar, semoga sukses!

3. TUJUAN
a. Tujuan umum
Mengetahui teori promosi kesehatan
b. Tujuan Khusus
a) Menjelaskan pengertian pemberdayaan masyarakat
b) Menjelaskan prinsip pemberdayaan
c) Menjelaskan konteks pemberdayaan
d) Menjelaskan pendekatan pemberdayaan
e) Menjelaskan isu-isu dalam pemberdayaan masyarakat

BAB II
MATERI

A. POKOK BAHASAN
1. PENGERTIAN PEMBERDAYAAN
Munculnya istilah pemberdayaan (empowerment) sekitar akhir periode
1980-an pada hakikatnya dilatarbelakangi oleh adanya kelompok yang tidak

2
memiliki daya (powerless) sehingga mereka harus diberi kekuatan dari luar agar
kembali mampu memiliki daya untuk menolong dirinya sendiri. Konsep ini
merupakan suatu bentuk kritik terhadap model pembangunan yang dianggap telah
menciptakan ketimpangan sosial, ekonomi dan politik dalam kehidupan
masyarakat. Jim Ife (2002) memberikan definisi pemberdayan sebagai berikut
Konsep pemberdayaan ini berkaitan dengan pemberian daya (power)
kepadaindividu atau kelompok agar dapat mereka gunakan dalam melakukan
tindakan danmendistribusikannya kembali pihak yang tidak memiliki. Dalam
konteks ini jelas bahwa dalam proses pemberdayaan tersebut terjadi keberlanjutan
distribusi daya darisatu pihak ke pihak lainnya sehingga semua anggota akan
memiliki daya. Ruanglingkup tindakan atau aktivitas dalam pemberdayaan ini
mencakup semua aspekkehidupan manusia.Dalam pengertian lainnya ditegaskan
oleh Shardlow (1998) dalam Adi (2003),bahwa pengertian pemberdayaan pada
dasarnya berkaitan dengan bagaimanaindividu, kelompok atau komunitas
berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiridan mengusahakan untuk
membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.Begitu juga halnya
dengan Suhendra (2006) menyatakan bahwa pemberdayanmasyarakat adalah
pemberian dan penyebaran daya kepada masyarakat agarmereka mampu
menguasai atau berkuasa atas kehidupannya sendiri dalam semuaaspek kehidupan
yang meliputi politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, pengelolaanlingkungan,
dan sebagainya.Berdasarkan konsep ini, pada hakikatnyapemberdayaan
menekankan pada upaya bagaimana masyarakat yang tidak berdaya,mampu
mengembangkan keberdayaannya dengan kemampuan yang dimiliki, pihakluar
lebih bersifat sebagai katalisator yang memberikan keleluasaan masyarakat
untukmencapai tujuan yang dimaksud.Oleh karena itu, makna pemberdayaan
masyarakata pada dasarnyamemberikan dan mendistribusikan kekuatan agar
masyarakat mampu mandiri untukbangkit mengatasi kekurangan dan
kelemahannya baik pada level individu maupunkelompok. Pemberdayaan juga
meliputi penguatan pranata-pranatanya sehinggadalam kegiatan pembangunan
mereka mampu berperan aktif sebagai subyekpembangunan.Agar pemberdayaan
masyarakat dapat berlangsung secara efektif,maka reformasi kenegaraan harus
dilakukan pada tingkat nasional maupun daerah.Berbagai peraturan, ketentuan,

3
mekanisme kelembagaan, nilai-nilai dan perilakuharus disesuaikan untuk
memungkinkan masyarakat berinteraksi secara efektifdengan pemerintah.

2. PRINSIP PEMBERDAYAAN
Pemberdayaan sebagai konsep alternatif pembangunan menekankan pada
otonomi pengambilan keputusan suatu kelompok masyarakat yang berlandaskan
pada sumberdaya pribadi, partisipasi, demokrasi, dan pembelajaran sosial melalui
pengalaman langsung (Sumodiningrat, 2007). Pandangan ini menunjukkan bahwa
proses pemberdayaan merupakan sebuah proses depowerment dari system
kekuasaan yang mutlak-absolut (intelektual, religius, politik, ekonomi, dan
militer).
Doktrin konsep ini berlandaskan ideal manusia dan kemanusiaan
(humanisme) sehingga menurut Hikmat (2004) mirip dengan aliran neo-
Marxisme, Freudianisme, dan Sosiologi Kritik yang menolak industrialisasi,
kapitalisme dan teknologi.Dalam pandangan doktrin ini, ketiga hal tersebut
(industrialisasi, kapitalisme dan teknologi) dianggap dapat mematikan manusia
dan kemanusiaan. Dalam perspektif politis, Ife (2002) menyatakan bahwa
pemberdayaan berhubungan dengan usaha untuk memahami sifat power dalam
masyarakat modern dan dapat dibagi ke dalam empat perspektif : pluralis, elit,
struktural, dan poststruktural. Khusus dalam perspektif elit, pemberdayaan
memerlukan tidak hanya kemampuan pengetahuan berkompetisi bagi kekuatan
politik tetapi juga keterlibatan dalam sebuah permainan dengan aturan-aturan
yang telah ditetapkan oleh elit politik.
Proses pemberdayaan dalam perspektif elit ini dapat dilakukan dalam tiga
cara, yakni:
a) Bergabung dengan mereka dengan tujuan untuk merubah atau mempengaruhi
elit
b) Mencoba melakukan aliansi dengan elit untuk mengejar satu atau beberapa
tujuan, dan
c) Mencoba untuk mengurangi kekuatan elit melalui perubahan fundamental.

Konsep pemberdayaan tidak hanya pada aras individu, tetapi juga secara
kolektif. Karena itu menurut Pranarka dan Vidyandika, konsep pemberdayaan
pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan
beradab menjadi semakin efektif-efisien secara struktural, baik dalam kehidupan

4
keluarga, masyarakat, negara, regional maupun internasional, pada bidang politik,
ekonomi, hukum, dan lainnya.
Dalam konteks lain, Sumodiningrat (2007) memandang bahwa konsep
pemberdayaan merupakan hasil interaksi pada tingkat ideologis maupun praksis.
Pada tingkat ideologis, pemberdayaan merupakan hasil interaksi antara konsep
topdown dan bottom-up, antara growth strategy dan people centered strategy.
Sementara pada tingkat praksis, pemberdayaan merupakan hasil interaksi yang
terjadi lewat pertarungan antar otonomi.Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
konsep pemberdayaan mengandung makna keberpihakan pada masyarakat sebagai
kelompok yang tidak memiliki keberdayaan.
Berdasarkan berbagai konsep yang dikemukakan di atas terdapat dua kunci
utama dalam prinsip pemberdayaan masyarakat, yakni : distribusi power yang
berkeadilan dan keberpihakan kepada masyarakat. Distribusi power dari pihak elit
kepada masyarakat yang dianggap tidak memiliki keberdayaan merupakan strategi
utama yang harus dilakukan dalam konteks pemberdayaan
masyarakat.Masyarakat yang tidak memiliki keberdayaan merupakan sasaran
utama dalam prosespemberdayaan masyarakat.Mereka terpuruk dalam
ketidakberdayaan karena keterbatasan akses dan aset pembangunan. Bagaimana
membuat mereka dapat mengakses berbagai kegiatan pembangunan serta
kemampuan penguasaan akses pembangunan merupakan hal yang mutlak
dilakukan dalam proses pemberdayaan masyarakat.

3. KONTEKS PMBERDAYAAN
a. Ilmu Sosial Humanistik
Secara paradigmatik munculnya konsep pemberdayaan bisa dilacak dari
perlawanan ilmu-ilmu sosial humanistik terhadap positivisme yang sudah lama
menjadi ideologi hegemonik dalam tradisi ilmu-ilmu sosial.Positivisme adalah
sebuah aliran dalam tradisi keilmuan yang hendak membersihkan pengetahuan
dari kepentingan dan awal pencapaian cita-cita untuk memperoleh pengetahuan
demi pengetahuan, yaitu teori yang dipisahkan dari praksis kehidupan manusia.Ia
menganggap pengetahuan mengenai fakta obyektif sebagai pengetahuan yang

5
sahih. Ilmu, menurut positivisme, harus netral, bebas dari nilai, bebas dari
kepentingan dan lain-lain (A. Giddens dan V. Kraft).
Efisiensi satuan-Moeljarto Tjokrowinoto juga memberikan deskripsi
pembangunan yang berpusat pada rakyat (manusia) seperti di bawah ini:
1. Prakarsa dan proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat tahap demi tahap harus diletakkan pada masyarakat sendiri. Meskipun
pelbagai ketentuan secara formal telah mengatur bottom up planning, di dalam
realitanya, LKMD lebih berfungsi sebagai implementor proyek-proyek sektoral
dan regional.
2. Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
mengelola dan memobilisasikan sumber-sumber yang terdapat di komunitas untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Apa yang terjadi pada saat ini, arus dana yang
relatif lancar membatasi upaya untuk mengidentifikasi dan menggali sumber itu.
Counter fund bantuan desa, dan akhir-akhir ini "simpedes", mungkin menuju ke
arah identifikasi dan mobilisasi sumber tadi. Akan tetapi hal ini tidak boleh
merupakan adhocracy, akan tetapi harus melembaga.
3. Pendekatan ini mentoleransi variasi lokal dan karenanya, sifatnya flexible
menyesuaikan dengan kondisi lokal.
4. Di dalam melaksanakan pembangunan, pendekatan ini menekankan pada
proses social learning yang di dalamnya terdapat interaksi kolaboratif antara
birokrasi dan komunitas mulai dari proses perencanaan sampai evaluasi proyek
dengan mendasarkan diri saling belajar.
5. Proses pembentukan jaringan (networking) antara birokrasi dan lembaga
swadaya masyarakat, satuan-satuan organisasi tradisional yang mendiri,
merupakan bagian integral dari pendekatan ini, baik untuk meningkatkan
kemampuan mereka mengidentifikasi dan mengelola pelbagai sumber, maupun
untuk menjaga keseimbangan antara struktur vertikal maupun horizontal. Melalui
proses networking ini diharapkan terjadi simbiose antara struktur-struktur
pembangunan di tingkat local.
Dasar pemahaman terhadap pembangunan yang berpusat pada rakyat adalah
asumsi bahwa manusia adalah sasaran pokok dan sumber paling strategis.
Karena itu, pembangunan juga meliputi usaha terencana untuk meningkatkan
kemampuan dan potensi manusia serta mengerahkan minat mereka untuk ikut

6
serta dalam proses pembuatan keputusan tentang berbagai hal yang memiliki
dampak bagi mereka dan mencoba mempromosikan kekuatan manusia, bukan
mengabadikan ketergantungan yang menciptakan hubungan antara birokrasi
negara dengan masyarakat.

b. Civil society movement


Gerakan sosial (social movement) bukanlah fenomena baru baik dari sisi
wacana maupun praksis.Tetapi saya melihat sebuah pergeseran paradigmatik dan
strategi gerakan sosial sejak tahun 1980-an. Gerakan sosial lama umumnya
banyak dipengaruhi oleh tradisi Marxisme, yang mengambil bentuk gerakan sosial
berbasis kelas, yaitu perjuangan kelas buruh dan tani secara massal untuk
melawan negara maupun kaum kapitalis.Menurut Cohen dan Arato, gerakan sosial
lama ini mengambil paradigma mobilisasi sumberdaya. Paradigma lama ini
punya keyakinan bahwa gerakan sosial adalah sebuah aksi kolektif berbasis kelas
yang membutuhkan organisasi yang tangguh, pemimpin, kepentingan,
kesempatan, dan strategi yang jitu untuk mobilisasi massa dalam skala besar.
Keberhasilan mobilisasi massa dalam skala besar inilah yang menjadi penentu
keberhasilan gerakan sosial mendobrak struktur ekonomi dan politik secara
revolusioner.
Sejak tahun 1980-an gerakan sosial lama itu mulai kehilangan pengaruh.
Gerakan sosial baru sejak 1980-an tidak lagi berbasis kelas, melainkan melintasi
batasan kelas, etnis, agama, ras, dan lain-lain. Gerakan sosial baru inilah yang
disebut dengan civil society movement yang lebih demokratis, pluralis dan
inklusif (Cohen dan Arato, David Korten).Kekuatan rakyat menjadi kunci dalam
gerakan sosial baru, walaupun pengungkapannya harus mencakup lebih dari
sekadar unjuk-rasa massal yang sejenak berlalu. Ungkapan kekuatan rakyat
sebagai kekuatan untuk perombakan harus dipertahankan dan disalurkan melalui
perpaduan antara organisasi massa, prakarsa individu secara sukarela dan
organisasi sukarela.

4. PENDEKATAN PEMBERDAYAAN
Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan
martabat lapisan masyarakat bawah (grass root), agar mereka mampu berusaha

7
sendiri untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan.Ini
berarti bahwa pemberdayaan adalah memampukan dan memandirikan
masyarakat. Menurut Payne, proses pemberdayan pada dasarnya bertujuan untuk
membantu masyarakat memperoleh kekuatan dalam memutuskan dan menentukan
tindakan yang akan diambil dengan cara mengurangi dampak sosial atau
hambatan pribadi. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa
percaya diri untuk menggunakan kekuatan yang ada dan melalui transfer kekuatan
dari lingkunganmasyarakat. Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan
adalah menjadikan masyarakat sebagai subyek dalam pembangunan dan bukan
sebagai obyek dalam setiap kegiatan atau proyek pembangunan.Oleh karena itu
agar kegiatan pemberdayaan ini dapat mencapai tujuannya maka harus diciptakan
suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang.Dalam
hal ini termasuk berbagai pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat yang
sudah terbukti mampu menyesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Selain itu
juga perlu langkah nyata dalam penyediaan berbagai input serta memberikan
akses dan peluang yang dapat membuat masyarakat menjadi makin berdaya, yakni
dengan memberikan kepercayaan kepada mereka dalam mengelola input dan
peluang tersebut. Hal yang paling penting adalah upaya memberikan perlindungan
dan keberpihakan kepada masyarakat yang lemah. Menurut Ledwith (2005),
terdapat empat dimensi yang menjadi dasar dalam upaya pemberdayaan suatu
komunitas, yakni:
a. Pemberdayaan personal melalui pembelajaran, pengetahuan, kepercayaan diri,
dan skill
b. Aksi positif yang terkait dengan kemiskinan, kesehatan, ras, gender,
ketidakmampuan/cacat, serta aspekaspek diskriminasi yang menentang
struktur kekuasaan
c. Organisasi komunitas yang menyangkut kualitas dan keefektifan kelompok
komunitas serta hubungan masing-masing kelompok dan dengan pihak luar;
d. Partisipasi dan keterlibatan untuk menuju perubahan komunitas ke arah yang
lebih baik.

5. ISU-ISU DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


Mengacu pada konsep pemberdayaan masyarakat di atas, maka terdapat
berbagai ranah kajian yang dapat dijadikan sebagai isu penelitian. Ranah kajian
ini dapat ditinjau dari dimensi-dimensi yang terdapat dalam proses pemberdayaan

8
masyarakat itu sendiri. Ledwith (2005) mengemukakan ada empat dimensi yang
dalam pemberdayaan masyarakat, yakni
a) Pemberdayaan personal yang meliputi pembelajaran secara individual,
pengetahuan, kepercayaan diri dan skill
b) Aksi positif mencakup kegiatan yang berhubungan dengan kemiskinan,
kesehatan, ras, gender, ketidakmampuan dan berbagai aspek diskriminasi
struktur kekuasaan yang dominan;
c) Organisasi kemasyarakatan, mencakup jarak, kualitas dan keefektifan
kelompok masyarakat, hubungan satu sama lain serta dengan lingkungan yang
lebih luas lagi
d) Partisipasi serta keikutsertaan dalam mensukseskan perubahan dalam
masyarakat.
Mengacu pada pandangan Ledwith di atas, keempat dimensi dalam
pemberdayaan masyarakat tersebut menjadi dasar dalam upaya pengembangan
masyarakat.Barr dan Hashagen (2000) dalam Ledwith (2005) membuat indicator
untuk mengevaluasi pengembangan masyarakat yang disebut model ABCD
model, dimana keempat dimensi pemberdayaan masyarakat ini menjadi dasar
utamanya.Masalah kemandirian masyarakat merupakan isu yang sangat
kompatibel dengan pemberdayaan.Apakah benar pembangunan yang berorientasi
pada pertumbuhan ekonomi telah menciptakan ketergantungan dan
ketidakmandirian masyarakat.Ataukah ketidakberdayaan yang membuat mereka
selalu mengharapkan uluran tangan dan bantuan pemerintah. Persinggungannya
program-program pemberdayaanmasyarakat yang dikembangkan pemerintah
(seperti Program IDT, P3DT, PPK,Agropolitan, Minapolitan, Desa Mandiri
Pangan, DPM-LUEP, PUAP, dan lain-lain)dengan kempat dimensi di atas juga
merupakan isu aktual yang dapat ditelitimahasiswa Program MSAP Unlam.
Pada hakikatnya penelitian yang terkait dengan pemberdayaan
masyarakatmerupakan kajian terhadap upaya membangun kemampuan (capacity
building)masyarakat dan memberdayakan sumberdaya manusia melalui
pengembangankelembagaan, sarana dan prasarana serta pengembangan
pendampingan,penyuluhan dan pelayanan.Dalam konteks peranan kelembagaan
lokal danpendampingan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan isu
actualuntuk kegiatan penelitian.Pada berbagai kasus sering terjadi bahwa
upayapemberdayaan yang dilakukan tidak berhasil mengembangkan kemandirian

9
dankeberdayaan masyarakat karena tidak memperhatikan atau melibatkan
kelembagaanlokal masyarakat setempat.
Kajian terhadap pemberdayaan masyarakat ini dapat ditelaah pada
dimensipsikologis maupun struktural.Dimensi psikologis ini menekankan pada
unsurkepercayaan diri (trust), kontrol diri dan solidaritas yang tumbuh dalam diri
ataumasyarakat. Di sisi lain arah kajian pemberdayaan masyarakat ini dapat
bersifatpersonal maupun masyarakat. Hubungan antara dimensi dan aras
pemberdayaan ini digambarkan oleh Zubaedi (2007) sebagai rentang
pemberdayaan masyarakat ini meliputi psikologis-personal, struktural-personal,
psikologis-masyarakat, danstruktural-masyarakat.Mengembangkanpengetahuan,
wawasan,harga diri, kemampuan,kompetensi, motivasi,kreasi, dan kontrol
diri.Membangkitkan kesadarankritis individu terhadap sruktursosial politik yang
timpangserta kapasitas individu untukmenganalisis lingkungankehidupan
yangmempengaruhi dirinya.
Berdasarkan hubungan antara dimensi dan aras pemberdayaan
tersebut,pemberdayaan dari sisi struktural-masyarakat merupakan bentuk yang
paling krusialkarena menyangkut aspek yang luas serta berpengaruh terhadap
berbagai aspekkehidupan masyarakat. Pada ranah ini partisipasi masyarakat dalam
pembangunanakan berpengaruh luas terhadap tumbuhnya kemandirian dan
keberdayaan masing-masinganggota masyarakat.
Isu-isu Pemberdayaan Masyarakat dalam UU Desa

a. BAB I : Ketentuan Umum, Pasal 1

Pemberdayaan masyarakat desa adalah upaya mengembangkan


kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan
pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta
memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program,
kegiatan, dan pendampingan yangsesuai dengan esensi masalah dan
prioritas kebutuhan masyarakat Desa.

b. BAB I : Ketentuan Umum Pasal 2


Penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembagunan desa,
pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa

10
berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.
c. BAB IV : Kewenangan Desa, Pasal 18
Kewenangan desa meliputi kewenanga di bidang penyeleggaraan
pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan
kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan adat istiadat desa.

d. BAB IV : Kewenangan Desa, Pasal 22


Penugasan dari pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada desa
meliputi penyelenggaran pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan
desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat
desa.
e. BAB V : Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Bagian Kedua: Kepala
Desa, Pasal 26
Kepala Desa bertugas menyelenggarakan pemerintahan desa,
melaksanakan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan
pemberdayaan masyarakat desa.
f. BAB V: Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Bagian Kedua: Kepala
Desa, Pasal 26 Ayat (2)
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Kepala Desa berwenang :
1) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa.
2) Mengangkat dan memberhentikan perangkat desa.
3) Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan dan asset desa.
4) Menetapkan peraturan desa.
5) Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBD).
6) Membina kehidupan masyarakat desa.
7) Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat desa.
8) Membina da meningkatkan perekonomian desa serta mengintegrasikan
agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya
kemakmuran masyarakat desa.
9) Mengembangkan sumber pendapatan desa.
10) Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara
guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
11) Mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa.
12) Memanfaatkan teknologi tepat guna.
13) Mengoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif.

g. BAB VI : Badan Permusyawaratan Desa, Pasal 61

11
Badan Permusyawaratan Desa berhak :
1) Mengawasi dan meminta keterangan tentang penyelenggaraan
Pemerintahan Desa kepada Pemerintah Desa.
2) Menyatakan pendapat atas penyelenggaraan pemerintahan desa,
pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan
pemberdayaan masyarakat desa.
3) Mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBD)
h. BAB VI : Hak dan Kewajiban Desa dan Masyarakat Desa Pasal 67
Desa berkewajiban :
1) Melindungi dan menjaga persatuan, kesatuan, serta kerukunan
masyarakat desa dalam rangka kerukunan nasional dan keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2) Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat desa.
3) Mengembangkan kehidupan berdemokrasi.
4) Mengembangkan pemberdayaan masyarakat desa.
5) Memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat desa.
i. BAB VI : Hak dan Kewajiban Desa dan Masyarakat Desa Pasal 68 Ayat
(1)
Masyarakat desa berhak :
1) Meminta dan mendapatkan informasi dari pemerintah desa serta
mengawasi kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan
pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan
pemberdayaan masyarakat desa.
2) Memperoleh pelayanan yang sama dan adil.
3) Menyampaikan aspirasi, saran, dan pendapat lisan, atau tertulis secara
bertanggung jawab tentang kegiatan penyelenggaraan pemerintahan
desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan
desa, dan pemberdayaan masyarakat desa.
4) Memilih, dipilih, dan/atau ditetapkan menjadi :
a) Kepala Desa
b) Perangkat Desa
c) Anggota Badan Permusyawaratan Desa
d) Anggota Lembaga Kemasyarakatan Desa
5) Mendapatkan pengayoman dan perlindungan dari gangguan
ketentraman dan ketertiban desa.
j. BAB VI : Hak dan Kewajiban Desa dan Masyarakat Desa Pasal 68 Ayat
(2)
Masyarakat desa berkewajiban :
1) Membangun diri dan memelihara lingkungan desa.

12
2) Mendorong terciptanya kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa,
pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan
pemberdayaan masyarakat desa yang baik.
3) Mendorong terciptanya situasi yang aman, nyaman, dan tenteram di
desa.
4) Memelihara dan mengembangkan nilai permusyawaratan,
permufakatan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan di desa.
5) Berpatisipasi dalam berbagai kegiatan di desa.
k. BAB VIII : Keuangan Desa dan Aset Desa, Bagian Kesatu : Keuangan
Desa Pasal 74
(1) Belanja desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan
yang disepakati dalam musyawarah desa dan sesuai dengan prioritas
pemerintah daerah Kabupaten/Kota, pemerintah daerah Provinsi, dan
pemerintah pusat.
(2) Kebutuhan pembanguan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi, tetapi tidak terbatas pada kebutuhan primer, pelayanan dasar,
lingkungan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa.
l. BAB VIII : Keuangan Desa dan Aset Desa, Bagian Kedua : Pembangunan
Kawasan Perdesaan, Pasal 83
(1) Pembanguan kawasan perdesaan merupakan perpaduan pembangunan
antar desa dalam satu (1) Kabupaten/Kota.
(2) Pembangunan kawasan perdesaan dilaksanakan dalam upaya
mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan,
dan pemberdayaan masyarakat desa, di kawasan perdesaan melalui
pendekatan pembangunan partisipatif.
(3) Pembangunan kawasan perdesaan, meliputi :
a) Penggunaan dan pemanfaatan wilayah desa dalam rangka
penetapan kawasan pembangunan sesuai dengan tata ruang
Kabupaten/Kota.
b) Pelayanan yag dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat perdesaan.
c) Pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi perdesaan, dna
pengembangan teknologi tepat guna.
d) Pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan akses
terhadap pelayanan dan kegiatan ekonomi.

13
(4) Rancangan pembangunan kawasan perdesaan dibahas bersama oleh
pemerintah, pemerintah daerah Provinsi, pemerintah daerah
Kabupaten/Kota, dan pemerintah desa.
(5) Rencana pembangunan kawasan perdesaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) ditetapkan oleh Bupati/Walikota sesuai dengan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah.
m. BAB X : Badan Usaha Milik Desa, Pasal 89
Hasil usaha BUMD dimanfaatkan untuk :
1) Pengembangan usaha
2) Pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat desa, dan pemberian
bantuan untuk masyarakat miskin melalui hibah, bantuan sosial, dan
kegiatan dana bergulir yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan
dan Belanja Desa (APBD).
n. BAB XI : Kerjasama Desa, Bagian Kesatu: Kerjasama Antar Desa, Pasal
92
(1) Kerjasama antar desa meliputi :
a) Pengembangan usaha bersama yang dimiliki oleh Desa untuk
mencapai nilai ekonomi yang berdaya saing.
b) Kegiatan kemasyarakatan, pelayanan, pembangunan, dan
pemberdayaan masyarakat antar desa, dan/atau bidang keamanan
dan ketertiban.
(2) Kerjasama antar desa dituangkan dalam Peraturan Bersama Kepala
Desa melalui kesepakatan musyawarah antar Desa.
(3) Kerjasama antar desa dilaksanakan oleh badan kerjasama antar desa
yang dibentuk melalui Peraturan Bersama Kepala Desa.
(4) Musyawarah antar desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
membahas hal yang berkaitan dengan :
a) Pembentukan lembaga antar desa.
b) Pelaksanaan program pemerintah dan pemerintah daerah yang
dapat dilaksanakan melalui skema kerjasama antar desa.
c) Perencanaan, pelaksanaan, dna pemantauan program pembangunan
antar desa.
d) Pengalokasian anggaran untuk pembangunan desa, antar desa, dan
kawasan perdesaan.
e) Masukan terhadap program pemerintah daerah tempat desa tersebut
berada.
f) Kegiatan lainnya yang dapat diselenggarakan melalui kerjasama
antar desa.

14
(5) Dalam melaksanakan pembangunan antar desa, badan kerjasama antar
desa dapat membentuk kelompok/lembaga sesuai dengan kebutuhan.
(6) Dalam pelayanan usaha antar desa dapat dibentuk BUMD yang
merupakan milik dua (2) desa atau lebih.
o. BAB XI : Kerjasama Desa, Bagian Kedua: Kerjasama dengan Pihak
Ketiga, Pasal 93
(1) Kerjasama desa dengan pihak ketiga dilakukan untuk mempercepat dan
meningkatkan penyelenggaraan pemerintah desa, pelaksanaan
pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatn desa, dan pemberdayaan
masyarakat desa.
(2) Kerjasama dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dimusyawarahkan dalam musyawarah desa.
p. BAB XII : Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa,
Bagian Kesatu: Lembaga Kemasyarakatan Desa, Pasal 94
(1) Desa mendayagunakan lembaga kemasyarakatan desa yang ada dalam
membantu pelaksanaan fungsi penyelenggaraan pemerintahan desa,
pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan
pemberdayaan masyarakat desa.
(2) Lembaga kemasyarakatan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan wadah partisipasi masyarakat desa sebagai mitra
pemerintah desa.
(3) Lembaga kemasyarakatan desa bertugas melakukan pemberdayaan
masyarakat desa, ikut serta merencanakan dan melaksanakan
pembangunan, serta meningkatkan pelayanan masyarakat desa.
(4) Pelaksanaan program dan kegiatan yang bersumber dari pemerintah,
pemerintah daerah Provinsi, pemerintah daerah Kabupaten/Kota, dan
lembaga non-pemerintah wajib memberdayakan dan mendayagunakan
lembaga kemasyarakatan yang sudah ada di desa.
q. BAB XIII : Ketentuan Khusus Desa Adat, Bagian Kesatu: Penataan Desa
Adat Pasal 98
(1) Desa adat ditetapkan dengan peraturan daerah Kabupaten/Kota.
(2) Pembentukan desa adat setelah penetapan desa adat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan faktor
penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa,
pembinaan kemasyarakatan desa, serta pemberdayaan masyarakat
desa, dan sarana prasarana pendukung.

15
r. BAB XIII : Ketentuan Khusus Desa Adat, Bagian Kedua: Kewenangan
Desa Adat Pasal 106
(1) Penugasan dari pemerintah dan/ataupemerintah daerah kepada desa
adat meliputi penyelenggaraan pemerintahan desa adat, pelaksanaan
pembangunan desa adat, pembinaan kemasyarakatan desa adat, dan
pemberdayaan masyarakat desa adat.
(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan biaya.

s. BAB XIV : Pembinaan dan Pengawasan Pasal 112


(1) Pemerintah, pemerintah daerah Provinsi, dan pemerintah daerah
Kabupaten/Kota membina dan mengawasi penyelenggaraan
pemerintahan desa.
(2) Pemerintah, pemerintah daerah Provinsi, dan pemerintah daerah
Kabupaten/Kota dapat mendelegasikan pembinaan dan pengawasan
kepada perangkat daerah.
(3) Pemerintah, pemerintah daerah Provinsi, pemerintah daerah
Kabupaten/Kota memberdayakan masyarakat desa dengan :
a) Menerapkan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
tepat guna, dan temuan baru untuk kemajuan ekonomi, dan
pertanian masyarakat desa.
b) Meningkatkan kualitas pemerintahan dan masyarakat desa melalui
pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan.
c) Mengakui dan memfungsikan institusi asli dan/atau yang sudah ada
di masyarakat desa.
(4) Pemberdayaan masyarakat desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilaksanakan dengan pendampingan dalam perencanaan, pelaksanaan,
dan pemantauan pembangunan desa, dan kawasan perdesaan.

B. TUGAS DAN LATIHAN


1. Pemberian daya (power) kepada individu atau kelompok agar dapat mereka
gunakan dalam melakukan tindakan dan mendistribusikannya kembali ke
pihak yang tidak memiliki, merupakan pengertian dari pemberdayaan
menurut
a. WHO
b. Departemen Kesehatan
c. Kementerian Kesehatan
d. John Ife
e. Menteri Kesehatan
2. Apa latar belakang dari pemberdayaan?

16
a. Pemberian daya (power) kepada individu atau kelompok agar dapat
mereka gunakan dalam melakukan tindakan dan mendistribusikannya
kembali pihak yang tidak memiliki.
b. Adanya kelompok yang tidak memiliki daya (powerless) sehingga
mereka harus diberi kekuatan dari luar agar kembali mampu
memiliki daya untuk menolong dirinya sendiri.
c. Menciptakan ketimpangan sosial, ekonomi dan politik dalam kehidupan
masyarakat.
d. Keberlanjutan distribusi daya dari satu pihak ke pihak lainnya.
e. Agar masyarakat menjadi maju dan sejahtera.
3. Dibawah ini merupakan perspektif dari pemberdayaan menurut Ife, kecuali
a. Pluralis
b. Elit
c. Struktural
d. Pos-struktural
e. Non-struktural
4. Dibawah ini merupakan salah satu dari proses pemberdayaan dari perspektif
elit, yaitu
a. Mencoba untuk mengurangi kekuatan elit melalui perubahan
fundamental.
b. Mencoba untuk menambah kekuatan elit melalui perubahan yang
signifikan.
c. Mencoba untuk mengurangi kekuatan elit melalui perubahan politik.
d. Mencoba untuk menambah kekuatan elit melalui perubahan fundamental.
e. Mencoba untuk mengurangi kekuatan elit melalui perubahan yang
signifikan.
5. Yang termasuk ke dalam konteks pemberdayaan, yaitu
a. Ilmu sosial humanistik
b. Ilmu ekonomi
c. Ilmu sosial kemasyarakatan
d. Ilmu kependudukan
e. Promosi kesehatan
6. Ilmu menurut positivisme dalam konteks pemberdayaan haruslah
a. Netral, bebas dari nilai, bebas dari kepentingan lain-lain
b. Netral, bernilai sesuatu, bebas dari kepentingan lain-lain
c. Netral, bebas dari nilai, merupakan kepentingan dari salah satu golongan
d. Netral, bernilai sesuatu, kepentingan golongan
e. Netral, bernilai sesuatu, merupakan kepentingan salah satu individu
7. Menurut Cohen dan Arato, gerakan sosial lama mengambil paradigma
a. Mobilisasi masyarakat
b. Mobilisasi penduduk
c. Mobilisasi sumber daya
d. Mobilisasi individu
e. Mobilisasi pembaharuan

17
8. Berikut ini adalah salah satu dari empat dimensi yang menjadi dasar dari
upaya pemberdayaan suatu komunitas, yaitu
a. Pemberdayaan personal melalui pembelajaran, pengetahuan,
kepercayaan diri, dan skill
b. Pemberdayaan personal melalui pengalaman, dan agama
c. Pemberdayaan personal menurut keyakinan
d. Pemberdayaan personal melalui kemampuan
e. Pemberdayaan personal melalui kesehatan
9. Dibawah ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang
dibuat oleh pemerintah, yaitu kecuali
a. Desa mandiri pangan
b. Program IDP
c. Program Agropolitan
d. Program KB
e. Program Minapolitan
10. Dibawah ini merupakan hubungan antara dimensi pemberdayaan dan aras
pemberdayaan, yaitu
a. Psikologis-personal
b. Psikologis-religius
c. Personal-kemasyarakatn
d. Psikologis-individu
e. Psikologis-struktural
11. Dibawah ini merupakan hubungan antara dimensi pemberdayaan dan aras
pemberdayaan, yaitu, kecuali
a. Psikologi-personal
b. Psikologi-religius
c. Struktural-personal
d. Psikologis-masyarakat
e. Struktural-masyarakat
12. Kenapa pemberdayaan dari sisi struktural-masyarakat merupakan bentuk yang
paling krusial?
a. Karena menyangkut aspek yang luas serta berpengaruh terhadap
berbagai aspek kehidupan masyarakat.
b. Karena menyangkut aspek yang sempit serta berpengaruh terhadap
berbagai aspek kehidupan masyarakat.
c. Karena menyangkut aspek yang luas serta tidak memiliki pengaruh
terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.
d. Karena menyangkut aspek yang sempit serta tidak memiliki pengaruh
terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.
e. Karena menyangkut aspek yang sempit serta tidak ada pengaruhnya
terhadap aspek kehidupan masyarakat.
13. Istilah pemberdayaan mulai muncul sejak periode
a. 1990-an

18
b. 1970-an
c. 1965
d. 1980-an
e. 1998
14. Ruang lingkup dari pemberdayaan, yaitu
a. Lingkungan, kesehatan, dan pendidikan
b. Lingkungan, kesehatan, dan teknologi
c. Semua aspek kehidupan
d. Lingkungan, kesehatan, dan olahraga
e. Lingkungan, kesehatan, dan sosial
15. Pada tingkat praksis, pemberdayaan merupakan hasil dari interaksi yang
terjadi karena
a. Pertarungan antar pemerintah
b. Pertarungan antar politik
c. Pertarungan antar teknologi
d. Pertarungan antar pendidikan
e. Pertarungan antar otonomi

19
BAB III
PENUTUP
A. RANGKUMAN
1. Simpulan
Pemberdayaan pada dasarnya berkaitan dengan
bagaimanaindividu, kelompok atau komunitas berusaha mengontrol
kehidupan mereka sendiridan mengusahakan untuk membentuk masa
depan sesuai dengan keinginan mereka.Begitu juga halnya dengan
Suhendra (2006) menyatakan bahwa pemberdayanmasyarakat adalah
pemberian dan penyebaran daya kepada masyarakat agarmereka mampu
menguasai atau berkuasa atas kehidupannya sendiri dalam semuaaspek
kehidupan yang meliputi politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan,
pengelolaanlingkungan, dan sebagainya. Pemberdayaan sebagai konsep
alternatif pembangunan menekankan pada otonomi pengambilan
keputusan suatu kelompok masyarakat yang berlandaskan pada
sumberdaya pribadi, partisipasi, demokrasi, dan pembelajaran sosial
melalui pengalaman langsung (Sumodiningrat, 2007). Pandangan ini
menunjukkan bahwa proses pemberdayaan merupakan sebuah proses
depowerment dari system kekuasaan yang mutlak-absolut (intelektual,
religius, politik, ekonomi, dan militer).Terdapat dua konteks
pemberdayaan, yakni Ilmu Sosial Humanistik dan Civil society
movement.
Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah menjadikan
masyarakat sebagai subyek dalam pembangunan dan bukan sebagai obyek
dalam setiap kegiatan atau proyek pembangunan.Oleh karena itu agar
kegiatan pemberdayaan ini dapat mencapai tujuannya maka harus
diciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat
berkembang.Dalam hal ini termasuk berbagai pengetahuan lokal yang
dimiliki oleh masyarakat yang sudah terbukti mampu menyesuaikan
dengan kondisi masyarakatnya. Hubungan antara dimensi dan aras
pemberdayaan digambarkan oleh Zubaedi (2007) sebagai rentang
pemberdayaan masyarakat ini meliputi psikologis-personal, struktural-
personal, psikologis-masyarakat, danstruktural-masyarakat.

20
Mengembangkan pengetahuan, wawasan, harga diri, kemampuan,
kompetensi, motivasi, kreasi, dan kontrol diri. Membangkitkan kesadaran
kritis individu terhadap sruktur sosial politik yang timpang serta kapasitas
individu untuk menganalisis lingkungan kehidupan yang mempengaruhi
dirinya.

2. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah
ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun
bagi makalah ini agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian
hari dan semoga makalah dapat memberikan manfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.

B. TES AKHIR BAB

21
1. Pemberian daya (power) kepada individu atau kelompok agar dapat
mereka gunakan dalam melakukan tindakan dan mendistribusikannya
kembali ke pihak yang tidak memiliki, merupakan pengertian dari
pemberdayaan menurut
a. WHO
b. Departemen Kesehatan
c. Kementerian Kesehatan
d. John Ife
e. Menteri Kesehatan
2. Apa latar belakang dari pemberdayaan?
a. Pemberian daya (power) kepada individu atau kelompok agar dapat
mereka gunakan dalam melakukan tindakan dan mendistribusikannya
kembali pihak yang tidak memiliki.
b. Adanya kelompok yang tidak memiliki daya (powerless) sehingga
mereka harus diberi kekuatan dari luar agar kembali mampu
memiliki daya untuk menolong dirinya sendiri.
c. Menciptakan ketimpangan sosial, ekonomi dan politik dalam
kehidupan masyarakat.
d. Keberlanjutan distribusi daya dari satu pihak ke pihak lainnya.
e. Agar masyarakat menjadi maju dan sejahtera.
3. Dibawah ini merupakan perspektif dari pemberdayaan menurut Ife,
kecuali
a. Pluralis
b. Elit
c. Struktural
d. Pos-struktural
e. Non-struktural
4. Dibawah ini merupakan salah satu dari proses pemberdayaan dari
perspektif elit, yaitu
a. Mencoba untuk mengurangi kekuatan elit melalui perubahan
fundamental.
b. Mencoba untuk menambah kekuatan elit melalui perubahan yang
signifikan.
c. Mencoba untuk mengurangi kekuatan elit melalui perubahan politik.
d. Mencoba untuk menambah kekuatan elit melalui perubahan
fundamental.
e. Mencoba untuk mengurangi kekuatan elit melalui perubahan yang
signifikan.
5. Yang termasuk ke dalam konteks pemberdayaan, yaitu
a. Ilmu sosial humanistik
b. Ilmu ekonomi

22
c. Ilmu sosial kemasyarakatan
d. Ilmu kependudukan
e. Promosi kesehatan
6. Ilmu menurut positivisme dalam konteks pemberdayaan haruslah
a. Netral, bebas dari nilai, bebas dari kepentingan lain-lain
b. Netral, bernilai sesuatu, bebas dari kepentingan lain-lain
c. Netral, bebas dari nilai, merupakan kepentingan dari salah satu
golongan
d. Netral, bernilai sesuatu, kepentingan golongan
e. Netral, bernilai sesuatu, merupakan kepentingan salah satu individu
7. Menurut Cohen dan Arato, gerakan sosial lama mengambil paradigma
a. Mobilisasi masyarakat
b. Mobilisasi penduduk
c. Mobilisasi sumber daya
d. Mobilisasi individu
e. Mobilisasi pembaharuan
8. Berikut ini adalah salah satu dari empat dimensi yang menjadi dasar dari
upaya pemberdayaan suatu komunitas, yaitu
a. Pemberdayaan personal melalui pembelajaran, pengetahuan,
kepercayaan diri, dan skill
b. Pemberdayaan personal melalui pengalaman, dan agama
c. Pemberdayaan personal menurut keyakinan
d. Pemberdayaan personal melalui kemampuan
e. Pemberdayaan personal melalui kesehatan
9. Dibawah ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat
yang dibuat oleh pemerintah, yaitu kecuali
a. Desa mandiri pangan
b. Program IDP
c. Program Agropolitan
d. Program KB
e. Program Minapolitan
10. Dibawah ini merupakan hubungan antara dimensi pemberdayaan dan aras
pemberdayaan, yaitu
a. Psikologis-personal
b. Psikologis-religius
c. Personal-kemasyarakatn
d. Psikologis-individu
e. Psikologis-struktural
11. Dibawah ini merupakan hubungan antara dimensi pemberdayaan dan aras
pemberdayaan, yaitu, kecuali
a. Psikologi-personal
b. Psikologi-religius
c. Struktural-personal
d. Psikologis-masyarakat
e. Struktural-masyarakat

23
12. Kenapa pemberdayaan dari sisi struktural-masyarakat merupakan bentuk
yang paling krusial?
a. Karena menyangkut aspek yang luas serta berpengaruh terhadap
berbagai aspek kehidupan masyarakat.
b. Karena menyangkut aspek yang sempit serta berpengaruh terhadap
berbagai aspek kehidupan masyarakat.
c. Karena menyangkut aspek yang luas serta tidak memiliki pengaruh
terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.
d. Karena menyangkut aspek yang sempit serta tidak memiliki pengaruh
terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.
e. Karena menyangkut aspek yang sempit serta tidak ada pengaruhnya
terhadap aspek kehidupan masyarakat.
13. Istilah pemberdayaan mulai muncul sejak periode
a. 1990-an
b. 1970-an
c. 1965
d. 1980-an
e. 1998
14. Ruang lingkup dari pemberdayaan, yaitu
a. Lingkungan, kesehatan, dan pendidikan
b. Lingkungan, kesehatan, dan teknologi
c. Semua aspek kehidupan
d. Lingkungan, kesehatan, dan olahraga
e. Lingkungan, kesehatan, dan sosial
15. Pada tingkat praksis, pemberdayaan merupakan hasil dari interaksi yang
terjadi karena
a. Pertarungan antar pemerintah
b. Pertarungan antar politik
c. Pertarungan antar teknologi
d. Pertarungan antar pendidikan
e. Pertarungan antar otonomi

24
DAFTAR PUSTAKA

Adi, IR. 2003. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi


Komunitas.(Pengantar pada Pemikiran dan Pendekatan Praktis).Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Hikmat, H. 2004. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Humaniora


Utama.

Ifi, J. 2002. Community Development. . New South Wales: Pearson Education


Australia Pty Limited

Ledwith, M. 2005. Community Development.A Critical Approach.Bristol UK. The


Policy Press University of Bristol.

Pranarka, A.M.W. dan Vidyandika. 2006. Pemberdayaan. dalam Onny, S.P dan

25
A.M.W Pranarka (ed). Pemberdayan: Konsep, Kebijakan dan
Implementasi. Jakarta: CSIS.

Suhendra ,K. 2006. Peranan Birokrasi dalam Pemberdayaan Masyarakat.


Bandung: Alfabeta.

Sumodiningrat, G. 2007. Pemberdayan Sosial. Kajian Ringkas tentang


Pembangunan Manusia Indonesia. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Zubaedi. 2007. Wacana Pembangunan Alternatif. Ragam Perspektif


Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat. Jogjakarta:Ar-RuzzMedia.

26