Anda di halaman 1dari 3

Tujuan pengendalian intern adalah menjamin manajemen perusahaan/organisasi/entitas agar:

Tujuan perusahaan yang ditetapkan akan dapat dicapai.


Laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan dapat dipercaya
Kegiatan perusahaan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.

Pengendalian intern dapat mencegah kerugian atau pemborosan pengolahan sumber daya
perusahaan. Pengendalian intern dapat menyediakan informasi tentang bagaimana menilai
kinerja perusahaan dan manajemen perusahaan serta menyediakan informasi yang akan
digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan.

Tujuan Pengendalian Intern

Menurut AICPA, Pengendalian Intern itu meliputi struktur organisasi dan semua cara-cara serta
alat-alat yang dikoordinasikan yang digunakan di dalam perusahaan dengan tujuan untuk
menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data
akuntansi,memajukan efisiensi di dalam usaha, dan membantu mendorong dipatuhinya kebijakan
manajemen yang telah ditetapkan lebih dahulu.

Definisi di atas menunjukkan bahwa suatu system pengendalian intern yang baik itu akan
berguna untuk :
1. Menjaga keamanan harta milik suatu organisasi
2. Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi.
3. Memajukan efisiensi dalam operasi.
4. Membantu menjaga agar tidak ada yang menyimpang dari kebijakan manajemen yang telah
ditetapkan lebih dahulu.
Menurut Haryono (2001: 4) mengemukakan tujuh prinsip pengendalian internal yang pokok,
yaitu:

1. Penetapan tanggungjawab secara jelas.


2. Penyelenggaraan pencatatan perusahaan.
3. Pengasuransian kekayaan dan karyawan perusahaan
4. Pemisahan peralatan dan penyimpanan aktiva.
5. Pemisahan tanggungjawab atas transaksi yang berkaitan.
6. Pelaksanaan pemeriksaan secara independen.
7. Pemakaian peralatan mekanis bila memungkinkan.

Dari pendapat tersebut di atas, maka masing-masing tujuan dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Mengamankan harta perusahaan.


2. Harta perusahaan perlu diamankan dari segala kemungkinan yang merugikan, kecurangan
dan sebagainya. Dan untuk mengawasi kemungkinan tersebut, maka perlu dirancang
berbagai metode dan cara-cara tertentu untuk mencegah terjadinya hal-hal di atas.
3. Menguji ketelitian dan kebenaran data akuntansi perusahaan. Catatan akuntansi harus
terus-menerus diuji coba (internal check), agar kebenaran data akuntansi dapat di
pertahankan. Untuk melaksanakan uji coba tersebut, maka perlu dipisahkan berbagai
fungsi yang ada dalam struktur organisasi perusahaan terutama yang menyangkut
transaksi keuangan.
4. Meningkatkan efisiensi operasi perusahaan. Dengan menggunakan metode dan prosedur
untuk mengendalikan pemeliharaan, yaitu dengan menyusun pengendalian, pemeriksaan
intern akan menjadi alat yang efisien untuk mengendalikan pemeliharaan dengan tujuan
akhir menciptakan efektifitas.
5. Ketaatan pada kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pimpinan perusahaan.
Kebijaksanaan pimpinan yang telah ditetapkan dengan surat keputusan, juga memerlukan
berbagai aktivitas pengeluaran dan penerimaan dari pendapatan.

Dengan memperhatikan apa yang telah dikemukakan diatas mengenai tujuan pengendalian
intern, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pengendalian intern bukan hanya merupakan
prosedur untuk memeriksa dan menganalisa ketelitian data akuntansi, tetapi juga meliputi semua
metode dan kebijakan yang digunakan perusahaan dalam mengendalikan jalannya operasional
perusahaan agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari tujuan tersebut maka
sistem pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua yaitu pengendalian Intern Akuntansi
(Preventive Controls) dan pengendalian intern administratif (Feedback Controls). Pengendalian
intern akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga
kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh: adanya pemisahan
fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi. Pengendalian administratif dibuat untuk
mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakkan manajemen
(dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi) Contoh: pemeriksaan laporan untuk mencari
penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.

Komponen pengendalian intern menurut COSO adalah :

1. Lingkungan pengendalian (control environment). Faktor-faktor


lingkungan pengendalian mencakup integritas, nilai etis, dan kompetensi
dari orang dan entitas, filosofi manajemen dan gaya operasi, cara
manajemen memberikan otoritas dan tanggung jawab serta
mengorganisasikan dan mengembangkan orangnya, perhatian dan
pengarahan yang diberikan oleh board.
2. Penaksiran risiko (risk assessment). Mekanisme yang ditetapkan untuk
mengindentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko-risiko yang berkaitan
dengan berbagai aktivitas di mana organisasi beroperasi.
3. Aktivitas pengendalian (control activities). Pelaksanaan dari kebijakan-
kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan oleh manajemen untuk
membantu memastikan bahwa tujuan dapat tercapai.
4. Informasi dan komunikasi (informasi and communication). Sistem yang
memungkinkan orang atau entitas, memperoleh dan menukar informasi yang
diperlukan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan operasinya.
5. Pemantauan (monitoring). Sistem pengendalian internal perlu dipantau,
proses ini bertujuan untuk menilai mutu kinerja sistem sepanjang waktu. Ini
dijalankan melalui aktivitas pemantauan yang terus-menerus, evaluasi yang
terpisah atau kombinasi dari keduanya.