Anda di halaman 1dari 23

Defenisi Home Care

Home care adalah komponen dari pelayanan kesehatan yang disediakan


untuk individu dan keluarga ditempat tinggal mereka dengan tujuan
mempromosikan, mempertahankan, atau memaksimalkan level kemandirian serta
meminimalkan efek ketidakmampuan dan kesakitan termasuk di dalamnya
penyakitnya terminal.

Defenisi
Ini menggabungkan komponen dari home care yang meliputi pasien,
keluarga, pemberian pelayanan yang professional (multidisiplin) dan tujuannya,
yaitu untuk membantu pasien kembali pada level kesehatan optimum dan
kemandirian (Bukit, 2008). Neis dan Mc. Ewen (2010) menyatakan home care
adalah system dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di
rumah kepada orang-orang cacat atau orang-orang yang bagus harus tinggal di
rumah kerena kondisi kesehatannya.
Menurut Amerika Medicine Associatin, Home care merupakan
penyediaan peralatan dan jasa pelayanan keperawatan kepada pasien di rumah
yang bertujuan untuk memulihkan dan mempertahankan secara maksimal tingkat
kenyamanan dan kesehatan. Dalam kasus apapun efektifitas perawatan berbasis
rumah membutuhkan upaya kolaboratif pasien, keluarga, dan professional.
Sedangkan Dapertemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care adalah
pelayanan kesehatan yang berkesinabungan dan komperhensif yang diberikan
kepada individu dan keluarga ditempat tinggal mereka yang bertujuan untuk
meningkatkan, mempertahankan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan
meminimalkan akibat dari penyakit.
Menurut Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Depertemen Kesehatan
RI dalam makalahnya pada seminar Nasional 2007 tentang Home Care: Bukti
Kemandirian Perawat menyebutkan bahwa pelayanan keperawatan kesehatan di
rumah sebagai salah satu bentuk praktik mandiri perawat. Pelayanan keperawatan
di rumah merupakan sintesis dari pelayanan keperawatan kesehatan komunitas
dan ketrampilan teknis keperawatan klinik yang berasal dari spesialisasasi
keperawatan tertentu. Pelayanan keperawatan kesehatan, memelihara ,dan
meningkatkan kesehatan fisik, mental, atau emosi pasien. Pelayanan diberikan di
rumah dengan melibatkan pasien dan keluarganya atau pemberi pelayanan yang
lain.
Dari beberapa literature yang didapatkan home care dapat didefenisikan
sebagai berikut:
1. Perawatan di rumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan dari rumah
sakit yang sudah termasuk rencana pemulangan dan dapat dilaksanakan
oleh perawat rumah sakit semula oleh perawat komunitas dimana pasien
berada atau tim keperawatan khusus yang menangani perawatan dirumah.
2. Perawatan di rumah merupakan bagian dari asuhan keperawatan keluarga
sebagai tindak lanjut dari tindakan unit rawat jalan atau puskesmas.
3. Pelayanan kesehatan berbasis di rumah merupakan suatu komponen
rentang keperawatan kesehatan yang berkesinanambungan dan
komperhensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal
mereka.
4. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga,
direncanakan, dikoordinasikan, dan disediakan oleh pemberi pelayanan
yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau
pengaturan berdasarkan perjanjian kerja atau kontrak (Warola, 1980.
Dalam pengembangan model praktek mandiri keperawatan di rumah yang
disusun PPNI dan Departemen Kesehatan )

Landasan hukum home care


Fungsi hukum dalam praktik perawat adalah :
1. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana
yang sesuai hukum.
2. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain.
3. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan
mandiri.
4. Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan
meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.

Landasan hukum praktek perawat adalah :


1. UU Kes. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan.
2. PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.
3. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah.
4. UU No. 29 tentang praktik kedokteran.
5. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat.
6. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
7. Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan
puskesmas.
8. SK Menpan No. 94 /KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal
perawat.
9. PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan .
10. Permenkes No. 920 tahun 1966 tentang pelayanan medik swasta (Ode, 2012)

Tujuan Home Care


Menurut Stanhope (1996), tujuan utama dari home care adalah mencegah
terjadinya suatu penyakit dan meningkatkan kesehatan pasien. Tujuan yang paling
mendasar dari pelayanan home care adalah untuk meningkatkan, mempertahankan
atau memaksimalkan tingkat kemandirian, dan meminimalkan akibat dari
penyakit untuk mencapai kemampuan individu secara optimal selama mungkin
yang dilakukan secara komperhensif dan berkesinambungan (Tribowo, 2012).
Menurut Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Depertemen Kesehatan RI
dalam makalahnya pada seminar nasional 2007 tentang home care: Bukti
Kemandirian Perawat menyebutkan bahwa tujuan umum dari pelayanan
kesehatan di rumah adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan
keluarga. Secara khusus home care bertujuan untuk meningkatkan upaya
promotif, prefentif, kuratif, dan rehabilitative, mengurangi frekuensi hospitalisasi,
meningkatkan efisiensi waktu, biaya, tenaga, dan pikiran. Menurut Direktorat
Bina pelayanan Keperawatan Dapertemen RI dalam makalahnya pada seminar
nasional 2007 tentang Home Care:Bukti Kemandirian Perawat menyebutkan
bahwa tujuan khusus dari pelayanan kesehatan di rumah antara lain:
1) Terpenuhi kebutuhan dasar bagi pasien secara bio-psiko-sosio-spritual
2) Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga dalam pemeliharaan dan
perawatan anggota keluarga yang memiliki masalah kesehatan
3) Terpenuhi kebutuhan pelayanan keperawatan kesehatan di rumah sesuai
kebutuhan pasien

Manfaat Home Care.


Manfaat dari pelayanan Home Care bagi pasien antara lain :
1. Pelayanan akan lebih sempurna, holistik dan komprenhensif.
2. Pelayanan lebih professional
3. Pelayanan keperawatan mandiri bisa diaplikasikan dengan di bawah
naungan legal dan etik- keperawatan
4. Kebutuhan pasien akan dapat terpenuhi sehingga pasien akan lebih
nyaman dan puas dengan asuhan keperawatan yang professional (Tribowo,
2012)

Lingkup Pelayanan Home Care


Menurut Nuryandari (2004), menyebutkan ruang lingkup pelayanan home care
adalah:
1. Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
2. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
3. Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik
4. Pelayanan informasi dan rujukan
5. Pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kesehatan
6. Hygiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
7. Pelayanan perbaikan untuk kegiatan social (Ode, 2012)
Prinsip Prinsip Home Care
1. Mengelola pelayanan keperawatan kesehatan di rumah dilaksanakan oleh
perawat/TIM yang memiliki keahlian khusus bidang tersebut.
2. Mengaplikasi konsep sebagai dasar mengambil keputusan dalam praktik.
3. Mengumpulkan dan mencatat data dengan sistematis, akurat dan
komprehensif secara terus menerus.
4. Menggunakan data hasil pengkajian untuk menetapkan diagnosa
keperawatan.
5. Mengembangkan rencana keperawatan didasarkan pada diagnosa
keperawatan yang dikaitkan dengan tindakan-tindakan pencegahan, terapi
dan pemulihan.
6. Memberikan pelayanan keperawatan dalam rangka menjaga kenyamanan,
penyembuhan, peningkatan kesehatan dan pencegahan komplikasi.
7. Mengevaluasi secara terus menerus respon pasien dan keluarga terhadap
intervensi keperawatan.
8. Bertanggung jawab terhadap pasien dan keluarga akan pelayanan yang
bermutu melalui manejemen kasus, rencana penghentian asuhan
keperawatan (discharge planning) dan koordinasi dengan sumber-sumber
di komunitas.
9. Memelihara hubungan diantara anggota tim untuk menjamin agar kegiatan
yang dilakukan anggota tim saling mendukung.
10. Mengembangkan kemampuan professional dan berkontribusi pada
pertumbuhan kemampuan professional tenaga yang lain.
11. Berpartipasi dalam aktifitas riset untuk mengembangkan pengetahuan
pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.
12. Menggunakan kode etik keperawatan dalam melaksanakan praktik
keperawatan (Tribowo, 2012).
Lingkup praktek keperawatan di rumah (home care)
Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan
perinatal, asuhan keperawatan neonatal, asuhan keperawatan anak, asuhan
keperawatan dewasa, asuhan keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa
dan asuhan keperawatan gerontik dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang
dan tanggung jawab.
Keperawatan yang dapat dilakukan dengan:
1. Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian
bio, psiko, sosio, spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung,
melakukan observasi, dan wawancara langsung, menentukan masalah
keperawatan, membuat perencanaan, dan melaksanakan tindakan
keperawatan.
2. Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang diberikan kepada
klien, dokumentasi ini diperlukan sebagai pertangungjawaban dan
tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa
pelayanan yang diberikan.
3. Melakukan kooordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan
secara berkelompok
4. Sebagai pembela/pendukung (advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan
asuhan keperawatan klien di rumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut
ke rumah sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan
standart dan pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan atau
asuhan yang diterima oleh klien.
5. Menentukan frekuensi dan lamanya perawatan kesehatan di rumah
dilakukan mencakup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus
dilakukan.

Mekanisme pelayanan home care


Pasien atau klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat
merupakan rujukan dan klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun
puskesmas, namun klien dapat langsung menghubungi agens pelayanan
keperawatan di rumah atau praktek keperawatan per orangan untuk memperoleh
pelayanan.
Mekanisme yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pasien pasca rawat inap atau rawat jalan harus terlihat terlebih dahulu oleh
dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk dirawat di
rumah atau tidak.
2. Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat
dirumah, maka dilakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang
merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan di rumah,
kemudian bersama-sama klien dan kelurga akan menentukan masalahnya
dan membuat perencanaan, membuat keputusan, membuat kesepakatan
mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien, kesepakatan juga
mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem pembayaran,
serta jangka waktu pelayanan.
3. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan
keperawatan di rumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau
pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan di rumah. Pelayanan
dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus, setiap kegiatan yang
dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh
koordinator kasus.
4. Secara periodik koordinator kasus akan melakukan monitoring dan
evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan
kesepakatan (Ode, 2012)
Persyaratan klien yang menerima pelayanan perawatan di rumah adalah :
1. Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggung jawab atau
menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola.
2. Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi
(informed consent).
3. Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan
kesehatan di rumah untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab dan
haknya dalam menerima pelayanan (Bukit, 2008).
Tahapan mekanisme pelayanan home care adalah :
1. Proses penerimaan kasus
a. Home care menerima pasien dari rumah sakit puskesmas, sarana lain,
keluarga.
b. Pimpinan home care menunjuk manajer kasus untuk mengelola kasus.
c. Manajer kasus membuat surat perjanjian dan proses pengelolaan kasus.
2. Proses pelayanan home care
a) Persiapan
1. Pastikan identitas pasien
2. Bawa denah/petunjuk tempat tinggal pasien
3. Lengkap kartu identitas unit tempat kerja
4. Pastikan perlengkapan pasien untuk di rumah
5. Siapkan file asuhan keperawatan
6. Siapkan alat bantu media untuk pendidikan
b) Pelaksanaan
1. Perkenalkan diri dan jelaskan tujuan
2. Observasi lingkungan yang berkaitan dengan keamanan perawat
3. Lengkapi data hasil pengkajian dasar pasien
4. Membuat rencana pelayanan
5. Lakukan perawatan langsung
6. Diskusikan kebutuhan rujukan, kolaborasi, konsultasi, dll.
7. Diskusikan rencana kunjungan selanjutnya dan aktifitas yang akan
dilakukan
8. Dokumentasikan kegiatan.
c) Monitoring dan evaluasi
1. Keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal
2. Kesesuaian perencanaan dan ketepatan tindakan
3. Efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tindakan oleh pelaksanaan.
d) Proses penghentian pelayanan home care dengan kriteria:
1. Tercapai sesuai tujuan
2. Kondisi pasien stabil
3. Program rehabilitasi tercapai secara maksimal
4. Keluarga sudah mampu melakukan perawatan pasien
5. Pasien di rujuk
6. Pasien menolak pelayanan lanjutan
7. Pasien meninggal dunia (Ode, 2012).

Pemberi pelayanan Home Care


1. Dokter
Pemberian Home Care harus berada di bawah perawatan dokter. Dokter
harus sudah menyetujui rencana perawatan sebelum perawatan diberikan
kepada pasien. Rencana perawatan meliputi: diagnosa, status mental, tipe
pelayanan dan peralatan yang dibutuhkan, frekuensi kunjungan, prognosis,
kemungkinan untuk rehabilitasi, pembatasan fungsional, aktivitas yang
diperbolehkan, kebutuhan nutrisi, pengobatan, dan perawatan.
2. Perawat
Bidang keperawatan dalam home care, mencakup fungsi langsung dan
tidak langsung. Direct care yaitu aspek fisik actual dari perawatan, semua yang
membutuhkan kontak fisik dan interaksi face to face. Aktivitas yang termasuk
dalam direct care mencakup pemeriksaan fisik, perawatan luka, injeksi,
pemasangan dan penggantian kateter, dan terapi intravena. Direct care juga
mencakup tindakan mengajarkan pada pasien dan keluarga bagaimana
menjalankan suatu prosedur dengan benar. Indirect care terjadi ketika pasien
tidak perlu mengadakan kontak personal dengan perawat. Tipe perawatan ini
terlihat saat perawat home care berperan sebagai konsultan untuk personil
kesehatan yang lain atau bahkan pada penyedia perawatan di rumah sakit.
3. Physical therapist
Menyediakan perawatan pemeliharaan, pencegahan, dan penyembuhan
pada pasien di rumah. Perawatan yang diberikan meliputi perawatan langsung
dan tidak langsung. Perawatan langsung meliputi: penguatan otot, pemulihan
mobilitas, mengontrol spastisitas, latihan berjalan, dan mengajarkan latihan
gerak pasif dan aktif. Perawatan tidak langsung meliputi konsultasi dengan
petugas home care lain dan berkontribusi dalam konferensi perawatan pasien.
4. Speech pathologist
Tujuan dari speech theraphy adalah untuk membantu pasien
mengembangkan dan memelihara kemampuan berbicara dan berbahasa. Speech
pathologist juga bertugas memberi konsultasi kepada keluarga agar dapat
berkomunikasi dengan pasien, serta mengatasi masalah gangguan menelan dan
makan yang dialami pasien.
5. Social wolker (pekerja social)
Pekerja social membantu pasien dan keluarga untuk menyesuaikan diri
dengan faktor sosial, emosional, dan lingkungan yang berpengaruh pada
kesehatan mereka.
6. Homemaker/home health aide
Tugas dari home health aide adalah untuk membantu pasien mencapai
level kemandirian dengan cara sementara waktu memberikan personal hygiene.
Tugas tambahan meliputi pencahayaan rumah dan keterampilan rumah tangga
lain (Bukit, 2008).

Skill dasar yang harus dikuasai perawat


Home Care, SK Dirjen YAN MED NO HK. 00.06.5.1.311 menyebutkan
ada 23 tindakan keperawatan mandiri yang bisa dilakukan oleh perawat home care
antara lain :
1. Vital sign
2. Memasang nasogastric tube
3. Memasang selang susu besar
4. Memasang kateter
5. Penggantian tube pernafasan
6. Merawat luka dekubitus
7. Suction
8. Memasang peralatan 02
9. Penyuntikan (IM, IV, IC, SC)
10. Pemasangan infuse maupun obat
11. Pengambilan preparat
12. Pemberian huknah
13. Kebersihan diri
14. Latihan dalam rangka rehabilitasi medis
15. Pendidikan kesehatan
16. Konseling kasus terminal
17. Pengambilan sampel darah
18. ROM
19. Memberian diet pasien
20. Perawatan luka
21. Kegawat daruratan
22. Pemeriksaan KGD, Kolestrol, Asam urat
23. EKG

Landasan teori penelitian


Penilaian dari gambaran suatu kegiatan merupakan pengumpulan
informasi yang sistematik tentang kegiatan, karakteristik dan hasil dari kegiatan
tersebut yang digunakan untuk 1) Mengurangi ketidakpastian, 2) Memperbaiki
efektifitas, 3) Membuat keputusan. Dari penelitian Sri L Wulan (2006) Penilaian
mempunyai tiga dimensi yaitu: 1. Sumber-sumber (input) yang berhubungan
dengan tenaga, peralatan dan bahan, biaya, standar atau pedoman cara kerja, 2.
Proses adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan tindakan
keperawatan, 3. Hasil (output) yaitu akibat dari kegiatan keperawatan. Ruang
lingkup penilaian suatu program kegiatan pelayanan kesehatan dibedakan dalam 6
jenis yaitu : status kesehatan yang dihasilkan (health status outcomes), kualitas
pelayanan yang diselenggarakan (estimated quality of services), kuantitas
pelayanan yang dihasilkan (quantity of services provided), sikap masyarakat
terhadap program kesehatan (attitude of recipients), sumber daya yang tersedia
(resources made available), biaya yang dipergunakan (cost of the program)
(Roemer, dalam Azwar, 1996).
Berdasarkan teori James dalam Wulan (2006) dengan pendekatan
komponen sistem dari suatu program atau kegiatan yang meliputi komponen
input, proses dan output. Gambaran pelaksanaan pelayanan home care di RS.
Murni Teguh sebagai dasar penilaian dari suatu pelaksanaan kegiatan atau
program dilakukan dengan melihat komponen dari sistem pelayanan home care
yang meliputi aspek.
a. Input
Adalah sumber daya, baik manusia, sarana dan prasarana yang menunjang
pelaksanaan pelayanan home care, meliputi tenaga (pengelola, perawat),
peralatan, prosedur tetap, biaya pelaksanaan, format laporan
(dokumentasi) pelayanan home care.
b. Proses
Adalah segala kegiatan yang dilakukan terkait dengan pelaksanaan asuhan
keperawatan pasien home care meliputi: pengorganisasian, pelaksanaan
pelayanan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses asuhan
keperawatan (terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi keperawatan), dan pendokumentasian pelaksanaan pelayanan
pasien home care.
c. Output
Adalah tingkat pencapaian hasil dari pelaksanaan pelayanan pasien home
care yaitu kepuasan pasien dan keluarga. Menurut Parasuraman dalam
Wulan (2006), dalam perkembangannya penilaian kualitas pelayanan yang
dikaitkan dengan kepuasan pasien merupakan model yang merupakan
model yang komprehensif yang berfokus pada aspek fungsi dari
pelayanan. Penilaian kualitas dari masing-masing pelayanan spesifik oleh
pasien dan keluarga meliputi lima dimensi yaitu: tangibles (wujud nyata)
meliputi fasilitas fisik, peralatan yang digunakan dan kerapian penampilan
petugas pemberi pelayanan; reliability (kehandalan) yaitu kemampuan
memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan;
responsiveness (daya tanggap) adalah keinginan dan kemampuan dalam
memberikan pelayanan dengan tanggap; assurance (jaminan pelayanan)
mencakup kemampuan, kesopanan, sikap dapat dipercaya, bebas dari
bahaya, resiko dan keragu-raguan; emphaty (kemudahan melakukan
hubungan dan memahami kebutuhan pasien).

PELAYANAN HOME CARE DILUAR NEGERI


Di Amerika, home care (HC) yang terorganisasikan dimulai sejak sekitar
tahun 1880-an, dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit infeksi dengan
angka kematian yang tinggi. Meskipun pada saat itu telah banyak didirikan rumah
sakit modern namun pemanfaatannya masih sangat rendah, hal ini dikarenakan
masyarakat lebih menyukai perawatan dirumah. Kondisi ini berkembang secara
professional, sehingga pada tahun 1900 terdapat 12.000 perawat terlatih diseluruh
USA (visting nurse / VN : memberikan asuhan keperawatan dirumah pada
keluarga miskin, publik helath nurses, melakukan upaya promosi dan prevensi
untuk melindungi kesehatan masyarakat serta perawat praktek mandiri yang
melakukan asuhan keperawatan pasien dirumah sesuai kebutuhannya)
Di UK, home care berkembang secara professonal selama pertengahan
abad 19. Dengan mulai berkembangnya Distric Nursing, yang pada awalnya
dimulai oleh para biarawati yang merawat orang miskin yang sakit dirumah.
Kemudian mereka mulai melatih wanita dari kalangan menegah kebawah untuk
merawat orang miskin yang sakit. Kondisi ini terus berkembang sehingga pada
tahun 1992 ditetapkan peran Distric Nurse (DN) adalah :
a. Merawat orang sakit dirumah, sampai klien mampu mandiri
b. Merawat orang sakratul maut dirumah agar meninggal dengan nyaman dan
damai
c. Mengajarkan keterampilan keperawatan dasar kepada klien dan keluarga,
agar dapat digunakan pada saat kunjungan perawat telah berlalu
Selain Distric Nurse (DN), di UK juga muncul perawat health visitor (HV) yang
berperan sebagai DN ditambah dengan peran lain :
a. Melakukan penyuluhan dan konseling pada klien, keluarga maupun
masyarakat luas dalam upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan
b. Memberikan saran dan pandangan bagaimana mengelola kesehatan dan
kesehjahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi setempat.

PELAYANAN HOME CARE DALAM NEGERI


Di Indonesia, layanan home care (HC) sebenarnya bukan merupakan hal
yang baru, karena merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh anggota
keluarga yang dilatih dan atau oleh tenaga keperawatan melalui kunjungan rumah
secara perorangan, adalah merupakan hal biasa sejak dahulu kala. Sebagai contoh
dapat dikemukakan dalam perawatan maternitas, dimana RS budi kemulyaan di
Jakarta merupakan RS pendidikan bidan tertua di Indonesia, sejak berdirinya
sampai sekitar tahun 1975 telah melakukan program home care (HC) yang disebut
dengan partus luar. Dalam layanan partus luar, bidan dan siswa bidan RS
Budi Kemulyaan melakukan pertolongan persalinan normal dirumah pasien,
kemudian diikuti dengan perawatan nifas dan neonatal oleh siswa bidan senior
sampai tali pusat bayi lepas. Baik bidan maupun siswa bidan yang melaksanakan
tugas partus luar dan tindak lanjut, harus membuat laporan tertulis kepada RS
tentang kondisi ibu dan bayi serta tindakan yang telah dilakukan. Kondisi ini
terhenti seiring dengan perubahan kebijakan DepKes yang memisahkan organisasi
pendidikan dengan pelayanan.

forbetterhealth.wordpress

PELAYANAN HOME CARE KOTA MAKASSAR


Home Care adalah pelayanan interkolaborasi yang diberikan kepada
pasien di rumahnya. Pelayanan interkolaborasi ini mencakup pelayanan medis,
keperawatan, fisioterapi, dan pelayanan kesehatan lainnya sesuai kebutuhan
pasien,
Pelayanan Home Care Kota Makassar meliputi :
1. Home Care pada pasien Emergency
Pelayanan Home Care Emergency adalah pemberian pelayanan medis/
keperawatan untuk pasien gawat darurat baik berupa pertolongan pertama,
terapi maupun fasilitas rujukan (bila dibutuhkan)
2. Home Care for Followed Up Patient
Home Care for Followed Up Patient adalah pemberian pelayanan Home
Care yang diberikan kepada pasien yang membutuhkan perawatab lanjutan
guna memaksimalkan proses penyembuhan pasien serta mempertahankan
dan meningkatkan kesehatan fisik, mental/ emosi pasien.
3. Home Care for Visited Patient
Home Care for visit Patient adalah pelayanan medis/ keperawatan untuk
pasien yang memiliki ketidakmampuan untuk dating ke puskesmas.
PROSEDUR PELAKSANAAN
HOME CARE FOLLOW UP PASIEN
BAGI TIM HOME CARE RUMAH SAKIT

Identifikasi Pasien

Assesment Pasien

Melapor ke Pengelola
Home Care Rumah
Sakit

Pengelola Home Care Rumah


Sakit melapor ke Call Center
Home care Dinas Kota
Makassar

Call Center Home care


mengidentifikasi puskesmas terdekat

Call Center Home care


mengkonfirmasi jadwal pelaksanaan
Home care

Melaksanakan pelayanan
Home care
PROSEDUR PELAKSANAAN
HOME CARE FOLLOW UP PASIEN
BAGI TIM HOME CARE PUSKESMAS

Call Center Home care


Menghubungi puskesmas

Tim Home care


mengunjungi
Pasien Home care

Tim Home Care membuat perencanaan


Terkait assessment Home Care
lanjutan

Tim Home Care memberikan


informed
Consent pelayanan Home care
pasien
Pasien menandatangani Informed-
consent
Pelayanan Home care

Tim Home Care


melaksanakan pelayanan Home
care sesuai perencanaan

Bila ada keluhan pasien d


dapat menghubungi Tim Home care
puskesmas untuk konsulltasi
langsung
PROSEDUR PELAKSANAAN
HOME CARE VISITED PATIENT

Permintaan Pelayanan
Home Care Visit Patient

Call center menghubungi


Tim Home Care Puskesmas
(paling lambat 60 menit)

Tim Home Care puskesmas


Melakukan kunjungan
(paling lambat 1 hari)

Pelaksanaan pelayanan
Home Care Visited Patient

Penandatanganan
Informed Concent

Tim Home Care Puskesmas


Membuat perencanaan
PROSEDUR PELAKSANAAN
HOME CARE EMERGENCY

Pasien/ keluarga pasien menghubungi


Call Center Home Care

Call Center Home Care


menghubungi
Tim Home Care Puskesmas
(Paling lambat 5 menit)

Tim Home Care Puskesmas


Segera mengunjungi Pasien

Pemberian Pertolongan Pertama

Penandatanganan Informed Concent

Pelaksanaan Home Care


Sesuai perencanaan
PROSEDUR MONITORING DAN
EVALUASI PASIEN HOME CARE

Pendokumentasian

Penilaian

Membaik Memburuk

Pelayanan Pasien dirujuk


HOME CARE ke rumah sakit
dilanjutkan dengan
membawa form
assesment

Pelaporan
PROSEDUR PENGHENTIAN
LAYANAN HOME CARE

Tim Home care puskesmas


Melakukan assessment kondisi
pasien

Penghentian pelayanan Home Care


Jika telah memenuhi criteria
yang ditetapkan

Tim Home Care melakukan edukasi


kepada pasien dan keluarganya

Tim Home Care melaporkan


penghentian pelayanan Home care
pasien kepada Call center Home
care

Call center Home care melaporkan


Penghentian layanan Home care
Kepada pengelola
Home care rumah sakit
DISKUSI

Home care menurut Habbs dan Perrin, 1985 adalah merupakan layanan kesehatan
yang dilakukan di rumah pasien. Home care menjadi penting karena :
- Dapat membantu meringankan biaya rawat inap yang makin mahal, karena
dapat biaya akomodasi pasien transportasi dan konsumsi keluarga
- Mempererat ikatan keluarga, karena dapat selalu berdekatan pada saat
anggota keluarga ada yang sakit
- Merasa lebih nyaman karena berada dirumah sendiri
- Makin banyaknya wanita yang bekerja diluar rumah, sehingga tugas
merawat orang sakit yang biasanya dilakukan ibu terhambat oleh karena
itu kehadiran perawat penggantinya.
Kepala dinas provinsi Sulawesi selatan melaporkan sejak tahun 2014,
Puskesmas kassi-kassi mengeluarkan berbagai inovasi pelayanan yaitu mobil
home care, telemedicine, layanan Hem reduction, klinik lansia dsb. Puskesmas ini
akan menjadi percontohan bagi Puskesmas lainnya.
Menteri kesehatan mengapresiasi adanya telemedicine yang dapat
mempermudah untuk konsultasi jarak jauh dan mobil home care yang dinilai
sangat efektif menjangkau pasien sampai kerumah rumah warga dan layak
dijadikan percontohan nasional, karena mobil yang dahulu pernah dilihat
dibelanda, saat ini sudah ada di Makassar, Indonesia. Mobil home care atau
dikenal Dottoro ta (dokter kita) dilengkapi dengan peralatan medis, seperi
tabung oksigen, alat infus, layar pasien monitor untuk memantau kondisi pasien
dan dilengkapi dengan Global Positioning sytem (GPS).
Dalam upayanya memberikan pelayanan kepada masyarakat maka
Pemerintah Kota Makassar mulai menerapkan pelayanan home care pada April
2015. Dengan adanya sistem ini maka pasien yang sakit yang ada di Makassar
tidak perlu lagi ke rumah sakit karena akan ada tenaga medis yang datang ke
rumah. Untuk penerapan tahap awal ini, sebanyak 48 unit mobil disiapkan guna
memberikan pelayanan kesehatan yang langsung berkunjung ke rumah pasien.
Alur pelayanan home care secara keseluruhan hampir sama disetiap daerah
ataupun negara. Yang mana pasien akan didatangi langsung oleh dokter/perawat
penanggung jawab ke rumah dan jika memerlukan perawatan tim kami akan
menyusun protap dan membuat kesepakatan dengan keluarga. Pelayanan yang
akan diperoleh oleh pasien adalah perawatan penuh.
Sejauh ini home care dalam penerapannya masih terbatas oleh tenaga medis dan
paramedis yang turun kelapangan. Serta promosi kesehatan yang belum merata
sampai kemasyarakat disamping masyarakat kita pun yang tidak sadar kesehatan.