Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM TOPIK III

PENGAMATAN SEL KELAMIN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Praktikum Struktur Perkembangan Hewan 2 yang dibina oleh
Dr. Umie Lestari, M.Si

Disusun oleh :
Dania Merit Novitasari (160342606251)
Devi Ayu Mandasari (160342606249)
Kharin Furaida Dwi (160342606293)
Miftahul Mufinadiroh (160342606244)
Riris Novia Azemi (160342606286)

Kelompok 5 / Offering G
Biologi 2016

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
September 2016
PENGAMATAN SEL KELAMIN

TUJUAN
Dengan dilakukannya praktikum pada kali ini, diharapkan mahasiswa
dapat:
1. Mengenal struktur morfologi spermatozoid dan sel telur pada amphibi
yang diwakili oleh katak.
2. Mengamati perbedaan sel kelamin yang diambil dari bagian-bagian sistem
reproduksi yang berbeda.

DASAR TEORI

Gametogenesis adalah proses pembentukan sel kelamin (gonad). Proses


pembentukan ovum (sel telur) dinamakan oogenesis dan proses pembentukan
spermatozoid dinamakan spermatogensis. Gamet jantan disebut spermatozoid dan
gamet betina disebut sel telur (ovum). Secara keseluruhan gametogenesis dapat
dibagi menjadi tiga periode yaitu periode perbanyakan, tumbuh dan pematangan.
Sperma adalah sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan di tubulus
seminiferus testis dan bertugas membawa informasi genetik jantan ke sel telur
dalam tubuh betina. Spermatozoa berbeda dari sel telur yang merupakan sel
terbesar dalam tubuh organisme, melainkan adalah gamet jantan yang sangat kecil
ukurannya dan mungkin terkecil. Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi
untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set gen
haploidnya ke telur dan mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur
(Sherwood, 2001).
Sel sperma akan membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan
kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio. Peran aktif
spermatozoon sebagai gamet jantan sehingga penting pada keberhasilan
munculnya individu baru, oleh karena itu di dalam reproduksi sering diperlukan
adanya standar kualitas spermatozoa (Guyton & Hall, 2006).
Pembentukan Gamet, sel-sel sperma sebenarnya hanya merupakan inti
berflagellum. Sperma dihasilkan dalam tubulus seminiferus testis oleh sel-sel
khusus yang disebut spermatonia. Spermatogonia yang bersifat diploid ini dapat
membelah diri secara mitosis membentuk spermatogonia atau dapat berubah
menjadi spermatosit primer. Meiosis dari setiap spermatosit primer menghasilkan
4 sel haploid adalah spermatid sekunder. Spermatid ini dalam proses tersebut,
kemudian kehilangan banyak sitoplasma dan berkembang menjadi sel sperma
(Scanlon & Sanders, 2003).
Sel sperma terdiri atas kepala yang terdapat kromosom dalam suatu
keadaan kompak inaktif, dua sentriol dan ekor. Salah satu sentriol merupakan
badan basal dari flagellum merentang sepanjang ekor. Mitokondria mengelilingi
bagian atas flagellum yang menyediakan energy untuk gerakan pukulan cambuk.
Menurut Nalbandov (1995), galea kapitis dahulunya hanya ditemukan pada
sperma dewasa, tetapi sekarang diketahui bahwa galea kapitis ini merupakan
bagian normal kepala sperma. Galea kapitis biasanya terlarut bila sperma diberi
pelarut lemak yang biasanya digunakan untuk pengecatan.
Kepala spermatozoa katak berbentuk oval memanjang dan datar pada satu
pandangan dan sempit pada pandangan lain yang melangsing ke apeks yang tipis.
Kepala sperma terisi sepenuhnya dengan materi inti, kromosom, terdiri dari DNA
yang bersenyawa dengan protein. Informasi genetik yang dibawa oleh
spermatozoa diterjemahkan dan disimpan di dalam molekul DNA yang tersusun
oleh banyak nukleotida. DNA adalah materi penerjemah genetik yang sangat
padat. Setiap spermatozoon mengandung kurang lebih 2,5 milyar informasi
penting untuk membentuk foetus walaupun diperlukan 300 milyar spermatozoa
untuk membentuk satu gram DNA. (Toelihere, 1991)
Ekor yang terdiri atas tiga bagian yaitu middle piece, principal piece dan
end piece. Ekor ini berfungsi untuk pergerakan menuju sel telur. Ekor yang motil
itu pada pusatnya sama seperti flagellum memiliki struktur axoneme yang terdiri
atas mikrotubul pusat dikelilingi oleh Sembilan doblet mikrotubul yang berjarak
sama satu dengan yang lainnya. Daya yang dihasilkan mesin ini memutar ekor
bagaikan baling-baling dan memungkinkan sperma meluncur dengan cepat.
Keberadan mesin pendorong ini tentunya membutuhkan bahan bakar yang paling
produktif yaitu gula fruktosa yang telah tersedia dalam bentuk cairan yang
melingkupi sperma.
Ada 6 jenis sel spermatogenik, yaitu spermatogonia primer, spermatogonia
sekunder, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid & spermatozoa.
Fase spermatogenesis yang merupakan fase perbanyakan sel, bakal sel kelamin
jantan memperbanyak diri secara mitosis, dan menghasilkan spermatogonium.
Periode ini berlangsung di dalam stadium embrio. Kemudian selanjutnya di dalam
testis. Fase Tumbuh didalam testis, spermatogonium akan tumbuh berkali-kali
lipat sehingga bertambah besar yang dinamakan spermatosit primer. Kemudian
spermatosit primer mempersiapkan diri untuk pematangan. Fase pematangan pada
periode pematangan, terjadi pembelahan meiosis untuk mendapatkan gamet yang
haploid. Di dalam tubulus seminiferus dari testis spermatosit I mengalami
pembelahan meiosis I. Dari satu spermatosit I akan menghasilkan dua spermatosit
II dan nantinya akan mengalami pembelahan meiosis II dan masing-masing
menghasilkan dua spermatid. Kemudian spermatid akan berdiferensiasi dan
berubah bentuk (transformasi) menjadi spermatozoid. (Djuhanda, 1981).
Kista sperma berkembang dan melepaskan spermatozoa ke duktus
pengumpul, yang kemudian diangkut ke saluran sperma, saluran Wolff dan
kloaka. Untuk pertama kalinya sel bersilia di epitel duktus Wolffian caecilian.
Kloaka dibagi menjadi urodeum dan phallodeum. Urodeum tersusun atas epitel
bersilia dan glandular pada daerah dorsolateral dan ventral, masing-masing
sebagai lapisan permukaan dalamnya. Fallodeum otot dilapisi oleh epitel bersilia.
Mullerian berpasangan sejajar dengan usus dan bergabung dengan kloaka. Bagian
posterior duktus dimodifikasi sebagai kelenjar Mullerian. Daerah yang paling
posterior adalah non-kelenjar dan dilapisi oleh epitel bersilia. (Pewhom, dkk.
2014)
Katak betina memiliki sepasang ovarium terletak pada bagian belakang
rongga tubuh yang diikat oleh mesovarium, memiliki rahim dan oviduk. Pada
sebelah kranialnya dijumpai jaringan lemak berwarna kuning (fat body). Saluran
reproduksi berupa oviduk yang merupakan saluran berkelok-kelok. Oviduk
dimulai dengan bangunan yang mirip corong dengan suatu lubang. Oviduk
mengadakan pelebaran yang disebut duktus mesonefrus, dan akhirnya bermuara
pada kloaka.
Selama musim kawin, dinding ovarium menjadi bertatahkan dengan
sejumlah besar folikel ovarium. Setiap folikel ovarium berisi telur yang
berkembang. Folikel ovarium bergerak menuju lumen ovarium. Ovarium dengan
kondisi demikian sangat jauh membesar dengan warna hitam serta bintik-bintik
kuning muda. Setiap saluran telur adalah tabung panjang yang sempit dan sangat
melingkar. Akhir anterior saluran telur membentuk corong oviducal lebar dan
berjumbai. Corong oviducal terletak di sisi dorsal paru-paru yang mengarah ke
saluran telur.
Sel telur (ovum) diproduksi didalam ovarium. Perkembangan sel telur
terjadi didalam folikel-folikel telur. Foliker telur yang matang akan mengalami
ovulasi, sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan masuk kedalam oviduk. Sel
telur (ovum) dilengkapi dengan membran sel disebut plasmalema atau oolema
yang berfungsi untuk melindungi sitoplasma, inti, yolk, dan organel-organel
dalam sel.
Menurut Tenzer, dkk (2001), selain oolema, kebanyakan sel telur (ovum)
dikelilingi oleh membran-membran telur. Membran telur yang disekresi oleh sel
telur sendiri disebut membran telur primer. Membran vitelin yang mengelilingi
oolema termasuk membran telur primer. Membran telur yang disekresi oleh sel-
sel folikel disebut membran telur sekunder. Sedangkan membran telur yang
disekresi oleh kelenjar-kelenjar oviduk dan uterus disebut membran sel tersier,
misalnya membran cangkang dan cangkang kapur pada telur reptil dan aves.
Pada katak betina, oogenesis dimulai dengan oosit yang tumbuh dan
berkembang secara bertahap, pertumbuhan oosit meningkat yang menyebabkan
yolk menjadi besar. Sel oogonia yang bersifat diploid membelah secara mitosis
menghasilkan oosit primer. Kemudian ribuan oosit primer memulai suatu periode
pertumbuhan yang masing-masing oositnya terselubung dalam seberkas sel yang
disebut folikel. Bahan makanan dialihkan dari sel-sel folikel tersebut ke oosit
yang sedang tumbuh. Ketika tahap ini selesai, sel telur diselubungi oleh membran
vitelin. Sel telur katak yang telah matang dan berjumlah sepasang ditampung oleh
suatu corong. Perjalanan ovum dilanjutkan melalui oviduk. Dekat pangkal oviduk
pada katak betina dewasa terdapat saluran yang menggembung yang disebut
kantung telur (uterus). Oviduk katak betina terpisah dengan ureter. Oviduk nya
berkelok-kelok dan bermuara pada kloaka.
Menurut Chumnanpuen, dkk (2016), tahap folikel meliputi germinal
oogonia dan oosit primer, folat previtellogenic awal dan akhir, folikel vitellogenik
dini dan akhir dan folikel atretik. Germinal oogonia terdiri dari sel oogonia dan
prefolikular. Oosit primer dikaitkan dengan sel folikel. Folat heritellogenic
awalnya membentuk selubung vitelline, lapisan sel theca dan bercak ooplasmic
glycoprotein. Folikel vitellogenic mengandung butiran kuning telur berukuran
heterogen.
Menurut Haddah & Prado (2005), amfibi terutama anuran (katak dan
kodok) menunjukkan keragaman model reproduksi yang lebih besar daripada
vertebrata tetrapoda lainnya. Dua puluh sembilan model reproduksi telah dikenali
untuk anuran, meningkat lebih dari 34% jumlah model reproduksi yang dikenal
dengan anuran di seluruh dunia. Model reproduksi yang baru dikenali untuk katak
ini meningkat hampir 48% jumlah model reproduksi anuran yang dikenal dengan
Neotropika.

ALAT DAN BAHAN

NO ALAT BAHAN

1. Seperangkat alat bedah Katak jantan dan katak betina

2. Papan bedah Larutan NaCl 0,9%

3. Gelas arloji Plastic

4. Kaca benda

5. Kaca penutup

6. Kaca pembesar

7. Pipet tetes
PROSEDUR KERJA

1. Pengamatan Sistem Reproduksi Jantan dan Betina.


2. Pengamatan Sel Kelamin Jantan dan Betina.

a. Pengamatan Spermatozoid

b. Pengamatan Sel Telur.


HASIL PENGAMATAN

No. Data Hasil Referensi/Literatur

Organ
1. Reproduksi
Katak Jantan

Sumber:
https://belajar.kemdikbud.go.id/Sumb
erBelajar/tampilajar.php?
ver=21&idmateri=80&mnu=Materi3
&kl=9

Organ
2. Reproduksi
Katak Betina

Sumber:
https://belajar.kemdikbud.go.id/Sumb
erBelajar/tampilajar.php?
ver=21&idmateri=80&mnu=Materi3
&kl=9
Sel Kelamin
3.
Katak Jantan

Sumber:
https://dokumen.tips/documents/2
sistem-reproduksi-dan-sel-
kelamin-katak.html

Sel Kelamin
4.
Katak Betina

Sumber:
https://dokumen.tips/documents/2
sistem-reproduksi-dan-sel-
kelamin-katak.html
ANALISIS DATA

Pada praktikum kali ini, dilakukan pengamatan terhadap organ reproduksi


dan sel kelamin katak jantan dan betina. Adapun hasil pengamatan diperoleh
praktikan dibandingkan dengan gambar yang diperoleh dari beberapa referensi
yang dapat menunjang.

Pada pengamatan organ reproduksi katak jantan dan betina didapati hasil
yang berbeda. Pada organ reproduksi katak jantan, djumpai adanya testis dengan
bentuk seperti kacang berwarna kuning sejumlah sepasang, vas deferens yang
transparan berkelok-kelok kecil menyambung dengan testis, dan kloaka yang
berupa muara akhir saluran reproduksi dan eksresi. Jika dibandingkan dengan
gambar literatur, maka yang tampak pada gambar hanya testis yang serupa dengan
data praktikan, vas deferens tidak tampak, dan kloaka tidak ditunjukkan, namun
terdapat vestigial oviduct yang tidak dijumpai praktikan. Pada organ reproduksi
katak betina, dijumpai adanya fat body atau lemak tubuh yang tampak seperti
rumbai-rumbai berwarna kuning, ovarium yang berwarna hitam dan bergerombol
di bagian kanan dan kiri, serta oviduk yang berupa saluran berwarna merah muda
berkelok-kelok dan terhubung dengan ovarium. Jika dibandingkan dengan gambar
literatur, maka yang tampak pada gambar adalah oviduk, ovarium, dan kloaka.
Posisi oviduk dan ovarium antara data praktikan dan sumber literatur sama,
namun pada data praktikan kloaka tidak ditunjukkan seperti pada sumber. Adapun
pada sumber literatur bahwa fat body atau lemak tubuh tidak ditunjukkan.

Pada pengamatan sel kelamin katak jantan dan betina juga didapati hasil
yang berbeda. Pada sel kelamin katak jantan, dijumpai keberadaan sel sperma
hidup yang sangat banyak. Didapati bentuk sel sperma katak yang terdiri dari
kepala dan ekor. Jika dibandingkan dengan gambar literatur, maka yang tampak
pada gambar lebih jelas bentuk sel sperma katak yang kepalanya lebih lonjong
dan pipih disertai ekor yang panjang. Pada sel kelamin katak betina, dijumpai
keberadaan sel ovum yang berbentuk bulat besar. Jika dibandingkan dengan
gambar literatur, bentuk ovum pada data praktikan sama dengan gambar.
PEMBAHASAN

A. Organ Reproduksi
Pada sistem reproduksi pada katak, baik katak jantan maupun katak betina
menunjukkan gambar yang relatif sama dengan yang terdapat pada literatur. Katak
jantan memproduksi sperma di dalam testis, tepatnya di dalam lobus-lobus yang
dapat kita temukan dengan mengamati irisan organ genital katak jantan, yakni
testis. Sistem reproduksi katak jantan tersusun atas organ seperti testis, vas
deferens dan kloaka. Sistem reproduksi pada katak dimulai dari testis, Testis pada
hewan vertebrata umunya berjumlah sepasang, biasanya lebih padat,
permukaannya lebih halus, dan berukuran lebih kecil dibandingkan ovarium dari
spesies yang sama. Testis ini berlokasi di rongga abdomen, tepatnya pada dinding
dorsal rongga abdomen. Didalam testis dibentuklah sel-sel spermatozoa didalam
lobus-lobus pada tubulus seminiferus, pembentukan testis ini dibantu oleh hormon
testosteron yang disekresikan oleh sel-sel leydig diantara lobus-lobus tersebut.
Selanjutnya sperma dikeluarkan dari testis menuju saluran reproduksi katak jantan
yakni ductus wolfii menuju vesikula seminalis dan selanjutnya dikeluarkan
menuju kloaka.

Saluran reproduksi pada vertebrata jantan berfungsi untuk menyalurkan


gamet jantan keluar tubuh hewan. Saluran reproduksi pada katak memiliki
hubungan yang erat dengan sistem ekskresi. Tubulus tubulus mesonefros bagian
anterior akan berkembang menjadi duktus eferens yang menghubungkan testis
dengan ginjal; duktus mesonefros yang semula hanya berfungsi untuk
menyalurkan urin juga berfungsi untuk menyalurkan sperma. Pada katak ini,
biasanya duktus mesonefros sebelum memasuki kloaka mengalami pelebaran,
membentuk vesikula seminalis yang berfungsi untuk menyimpan sperma
sementara. Pada pengamatan ini, belum ditemukan vesikula seminalis karena usia
dari katak yang masih muda, menyebabkan vesikula seminalis belum
berkembang.

Sedangkan sistem reproduksi pada katak betina dapat dilihat pada gambar
hasil pengamatan, dimana sistem reproduksi katak betina tersusun atas kelenjar
gonad, yakni ovarium serta saluran reproduksi betina yakni oviduk yang
kemudian bermuara pada kloaka katak betina. Pada sistem reproduksi katak betina
juga ditemukan adanya korpus adiposum (fat body) di dekat ovarium. Ovarium
pada katak telihat jelas dan dominan setelah dilakukan pembedahan pada
abdomen katak betina.

Ovarium katak betina dibentuk oleh masa ovum katak yang berbentuk
bulat dan berwarna hitam, putih, hitam dan putih bergerombol dengan tekstur
lembek. Katak membentuk sel telur (ovum) di dalam ovarium, sehingga di dalam
ovarium dapat ditemukan berbagai fase perkembangan sel telur katak betina.
Selanjutnya ovum dikeluarkan katak melalui saluran reproduksi (oviduk) yang
berwarna merah muda berlekuk-lekuk menuju kloaka untuk selanjutnya
dikeluarkan pada lingkungan eksternal untuk dibuahi oleh spermatozoa.

Saluran reproduksi pada katak betina adalah duktus muller yang


berkembang menjadi sepasang oviduk yang berupa saluran panjang dan berkelok-
kelok serta tidak berhubungan langsung dengan ovarium. Ujung anterior oviduk
berbentuk corong yang disebut infundilum dengan lubangnya yang disebut ostium
untuk menangkap sel sel telur yang diovulasikan oleh ovarium. Oviduk
mengandung banyak kelenjar untuk mengekskresikan lendir (jelly) sebagai
selubung telur. Bagian posterior oviduk membesar membentuk uterus atau
kantung telur untuk menyimpan telur sebelum terjadi pemijahan. Saluran
reproduksi berakhir dan bermuara di kloaka bagian dorsal.

B. Sel Kelamin

Sel kelamin jantan pada katak dihasilkan oleh kelenjar kelamin yang
disebut testis. di dalam testis terdapat tubulus seminiferus yang mengandung
lobus-lobus. Didalam lobus-lobus tersebut terjadi pembentukan sperma dengan
adanya hormon testosteron yang dihasilkan oleh sel-sel leydig. Pada gambar hasil
pengamatan diperoleh gambar lobus-lobus dalam tubulus seminiferus yang
terletak pada sisi kiri dan di sebelah kanannya terdapat gambar spermatozoa katak
jantan yang terlihat bening dan transparan membentuk kepala sperma yang
berbentuk lonjong berjumlah sangat banyak. Untuk memgamati spermatozoa
katak dapat dilakukan dengan mencincang testis katak yang diberi air lalu
diletakkan pada kaca benda dan diamati pada mikroskop cahaya. Hasil
pengamatan menunjukan hasil yang sama dengan literatur apusan spermatozoa
katak dalam hal bentuk spermatozoa karena pada saat pembuatan preparat testis
pada katak dicincang dengan silet, sehingga dihasilkan preparat yang penuh
dengan sperma di preparat sehingga terlihat kotor, padahal hal tersebut bukan
preparat yang kotor melainkan banyaknya sperma yang terdapat di preparat.
Selain itu, sel sperma dapat tetap hidup dikarenakan preparat yang masih segar
dengan adanya bantuan larutan NaCl 0,9%.

Sel kelamin betina (sel telur/Ovum) dapat diperoleh dengan mengiris


sedikit bagian dari ovarium katak dan selanjutnya diamati dibawah mikroskop
stereo. Ovum katak berbentuk bulat dengan berbagai warna yang menunjukkan
tingkat perkembangan ovum tersebut. Pada ovum yang masih muda ovum akan
berwarna putih, namun ovum akan mangalami perubahan baik ukuran maupun
warna ketika semakin matang hingga pada data praktikan diperoleh gambar ovum
dengan satu sisi berwarna hitam dan sisi yang lainnya berwarna putih.

Sisi ovum yang berwarna hitam atau gelap merupakan kutub animal,
sedangkan sisi ovum yang berwarna putih atau terang merupakan kutub vegetal.
Nantinya setelah mengalami pembuahan oleh spermatozoa, ovum yang telah
dibuahi akan mengalami pembelahan holoblastik dari kutub animal ke kutub
vegetal. Sel telur pada katak betina (Rana Sp.) ini termasuk dalam tipe sel telur
telolesital, dimana ovum memiliki banyak yolk yang tersebar tak merata dan
banyak tertimbun pada kutub vegetal.
EVALUASI

A. Pengamatan Sistem Reproduksi


1. Jelaskan fungsi setiap bagian saluran reproduksi betina pada katak.
Duktus Muller pada katak berkembang menjadi sepasang oviduk yang
berupa saluran panjang dan berkelok-kelok serta tidak behubungan langsung
dengan ovarium. Ujung anterior oviduk berbentuk corong yang disebut
infundibulum dengan lubangnya yang disebut ostium, untuk menangkap sel telur
yang diovulasikan ovarium. Oviduk mengandung banyak kelenjar untuk
mensekresikan lendir sebagai selubung telur. Bagian posterior oviduk membesar
membentuk kantung telur untuk menyimpan telur sebelum terjadi pemijahan.
Saluran reproduksi bermuara di kloaka.
2. Bagaimana hubungan saluran reproduksi dan saluran ekskresi pada katak?
Pada katak jantan tubulus mesonefros bagian anterior termodifikasi
menjadi duktus efern yang menghubungjan testis dan dutus mesonefros. Duktus
mesonefros berfungsi sebagai ureter juga duktus deferens dan bermuara di kloaka.
Pada katak betina, duktus mesonefros hanya berfungsi sebgai ureter yaitu
penyalur urin . muara saluran ini terpisah dari saluran genitalia.

B. Pengamatan Sel Kelamin


1. Sebutkan tempat penyimpan sperma sementara pada katak.
Pada katak bagian duktus mesonefros memasuki kloaka mengalami
pelebaran membentuk vesikula seminalis yang berfungsi sebagai menyimpan
sperma sementara.

DAFTAR RUJUKAN

Chumnanpuen. Muikham, K. Chatchavalvanich. & Srakaew. 2016. Ovum,


Microscopic structures of the ovary and female genital ducts of
Supachai's caecilian. Journal of Medical Science, (Online), 97 (4): 454-
463. (Wiley-Blackwell-www.wiley.com/; Acta Zoologica-
onlinelibrary.wiley.com/journal/10.1111/(ISSN)1463-6395), diakses pada
16 September 2017.

Djuhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. Armico: Bandung.

Guyton & Hall. 2006. Textbook of Medical Physiology. Philadelphia: Elsevier


Saunders.

Haddah, C. & Prado, C. 2005. Reproductive Modes in Frogs and Their


Unexpected Diversity in the Atlantic Forest of Brazil. Journal of
Agriculture, (Online), 55 (3): 207-217, (https://e-
resources.perpusnas.go.id:2171/docview/216475764?accountid=25704),
diakses pada 16 September 2017.

Nalbandov. 1995. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. Jakarta:


Universitas Indonesia.

Scanlon & Sanders. 2003. Essential of Anatomy and Physiology. Philadelphia: F.


A. Davis Company.

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Hewan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Suhandoyo, Ciptono. 2009. Reproduksi Dan Embriologi Hewan. Jurusan
Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Tenzer, A.,Lestari, U.,dkk. 2001,Struktur Perkebangan Hewan 1 Bagian 2.


Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Malang.

Tenzer, A., Handayani, N., Lestari, U., Listyorini, D., Judani, T. & Gofur, A. 2001.
Petunjuk Praktikum Perkembangan Hewan. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Toelihere, M. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung: Penerbit
Angkasa.

Pewhom, A., Chumnanpuen, P., Muikham, I., Chatchavalvanich, K. & Sreakaew,


N. 2014. Histomorphological studies of the testis and male genital ducts
of Supachai's caecilian. Journal of Anatomy and Morphology, (Online),
97 (1): 76-89. (Wiley-Blackwell-www.wiley.com/;Acta Zoologica-
onlinelibrary.wiley.com/journal/10.1111/(ISSN)1463-6395), diakses pada
16 September 2017.
LAMPIRAN

Pembedahan Katak

Katak Jantan sebelum Testis diambil

Katak Jantan setelah testis diambil Katak Betina