Anda di halaman 1dari 30

ANGGARAN DASAR & ANGGARAN RUMAH TANGGA (ADART)

HIMPUNAN PERAWAT PENCEGAH DAN PENGENDALI INFEKSI


INDONESIA (HIPPII)

Tahun 2016

1
2
3
ANGGARAN DASAR
HIMPUNAN PERAWAT PENCEGAH DAN PENGENDALI INFEKSI
INDONESIA

MUKADIMAH

Kami komunitas keperawatan Indonesia yang bergerak di bidang pencegahan dan


pengendalian infeksi meyakini bahwa kami memerlukan suatu wadah bagi perjuangan
profesi dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia melalui penerapan pencegahan
dan pengendalian infeksi sehingga tercapai pelayanan kesehatan yang berkeadilan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Atas Karunia Tuhan Yang Maha Esa dan didorong niat luhur serta upaya yang telah
kami tempuh, maka sampailah kami pada cita-cita terbentuknya suatu wadah bagi
berhimpunnya perawat yang bergerak dalam pencegahan dan pengendalian infeksi di
Indonesia. Wadah dimaksud adalah Himpunan Perawat Pencegah dan Pengendali
Infeksi Indonesia (HIPPII).

Bahwa HIPPII sesuai dengan kehendak Undang-Undang RI no 38 tahun 2014 tentang


keperawatan, dibentuk untuk dapat melindungi, mengayomi, membina dan
mengembangkan komunitas keperawatan yang bergerak dalam pencegahan dan
pengendalian infeksi di Indonesia, sebagai sarana yang kuat bagi komunitas perawat
pencegah dan pengendali infeksi dan mampu mewujudkan pelayanan profesional bagi
kepentingan masyarakat dan ikut serta dalam peningkatan kesejahteraan komunitas
keperawatan Indonesia.

Sebagai landasan untuk mencapai keinginan tersebut, maka disusunlah pedoman


organisasi HIPPII dalam bentuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
Himpunan Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi Indonesia.

4
ANGGARAN DASAR
HIMPUNAN
PERAWAT PENCEGAH DAN PENGENDALI INFEKSI INDONESIA
( HIPPII)

BAB I
IDENTITAS ORGANISASI
Pasal 1
Nama Organisasi
Organisasi ini bernama Himpunan Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi
Indonesia disingkat HIPPII, atau dalam bahasa inggris dengan sebutan Indonesian
Infection Prevention And Control Nurse Association (INPACNA)

Pasal 2
Bentuk Organisasi
Organisasi HIPPII berbentuk kesatuan dimana Kedaulatan tertinggi ditangan anggota
melalui Kongres Nasional (KONAS).

Pasal 3
Waktu Pendirian
HIPPII dibentuk pada tanggal 30 Januari 2006 di Jakarta untuk waktu yang tidak
ditentukan.

Pasal 4
Kedudukan
HIPPII berkedudukan di Wilayah Hukum Negara Republik Indonesia dengan pengurus
Pusat berada di Ibukota Negara.

Pasal 5
Lambang HIPPII
Lambang organisasi adalah tulisan HIPPII berada pada telapak tangan terbuka dan
gambar air mengalir diatasnya. Logo ini bermakna kebersihan tangan adalah pilar
utama dari pencegahan dan pengendalian infeksi.

5
BAB II
SIFAT, AZAS DAN FUNGSI
Pasal 6
Sifat
HIPPII adalah Organisasi Profesi Perawat yang bergerak khusus dalam pencegahan
dan pengendalian infeksi dan bersifat kolektif kolegial.

Pasal 7
Azas
HIPPII berazaskan Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dan kode
etik Keperawatan serta dalam kebijakan umum keperawatan Indonesia tunduk dan
patuh terhadap keputusan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Pasal 8
Fungsi
HIPPII berfungsi sebagai :
1) Pemersatu dalam pelayanan, pendidikan, penelitian dibidang pencegahan dan
pengendalian infeksi di Indonesia.
2) Pengembangan dan pengawasan dibidang pencegahan dan pengendalian infeksi di
Indonesia.

BAB III
MAKSUD dan TUJUAN ORGANISASI
Pasal 8
Maksud
Menjadikan HIPPII sebagai wadah yang kuat untuk menyuarakan dan menerapkan
pentingnya pencegahan dan pengendalian infeksi dalam pemberian pelayanan
kesehatan serta mampu mengembangkan profesionalisme anggota.
Pasal 9
Tujuan
1) Mempersatukan dan memberdayakan perawat pencegah dan pengendali infeksi
dalam rangka menunjang pembangunan kesehatan di Indonesia.
2) Meningkatkan dan atau mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, martabat
dan etika profesi perawat pencegah dan pengendali infeksi.

6
BAB IV
KEGIATAN
Pasal 10
(1) Membina dan memantapkan persatuan dan kesatuan yang kokoh antar perawat
pencegah dan pengendali infeksi khususnya dan antar perawat umumnya.
(2) Menyelenggarakan pelayanan, pendidikan dan penelitian dibidang pencegahan
dan pengendalian infeksi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan.
(3) Mengembangkan dan mengawasi kegiatan dibidang pencegahan dan
pengendalian infeksi di Indonesia.
(4) Memperjuangkan peningkatan jenjang karir dan prestasi kerja bagi tenaga
perawat pencegah dan pengendali infeksi.
(5) Melaksanakan kerjasama dengan organisasi lain, lembaga dan institusi lain baik
didalam maupun di luar negeri melalui PPNI

BAB V
KEANGGOTAAN
Pasal 11

Anggota HIPPII terdiri dari :


1) Anggota biasa
2) Anggota luar biasa

BAB VI
STRUKTUR ORGANISASI
Pasal 11
Struktur Organisasi
Struktur Organisasi terdiri dari :
1) Pengurus
2) Dewan Pertimbangan

7
Pasal 12
Pengurus
Pengurus sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 huruf a merupakan badan eksekutif
dan terdiri dari :
1) Pengurus tingkat Nasional disebut Pengurus Pusat disingkat PP
2) Pengurus di tingkat Provinsi disebut Pengurus Cabang disingkat PC

Pasal 13
Komposisi Kepengurusan
(1) Komposisi Pengurus terdiri dari Pengurus Harian dan Pengurus Pleno
(2) Kepengurusan bersifat kolektif kolegial

Pasal 14
Masa kepengurusan
(1) Pengurus sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dipilih untuk masa bakti 5
(lima) tahun.
(2) Ketua Umum dan Ketua Cabang tidak dapat dipilih kembali untuk masa jabatan
berikutnya setelah menjabat 2 (dua) periode berturut-turut.

Pasal 15
Dewan Pertimbangan
(1) Dewan Pertimbangan merupakan badan yang berwenang memberikan arahan,
petunjuk dan pertimbangan, saran serta nasihat kepada Pengurus sesuai dengan
tingkatannya
(2) Dewan Pertimbangan terdiri dari dari :
a. Dewan Pertimbangan Pusat
b. Dewan Pertimbangan Cabang
(3) Dewan Pertimbangan dibentuk melalui keputusan Kongres Nasional (KONAS) dan
Kongres Cabang (Koncab)

8
BAB VI
KEKAYAAN ORGANISASI
Pasal 17
Kekayaan organisasi dapat berasal dari sumber:
1) Uang Pangkal
2) Uang Iuran
3) Hibah dan Sumbangan
4) Usaha-usaha lain yang syah dan tidak mengikat

BAB VII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal 18
Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat diubah melalui Kongres Nasional ( KONAS)

BAB VIII
PEMBUBARAN ORGANISASI
Pasal 19
Pembubaran Organisasi
1) Organisasi hanya dapat dibubarkan melalui Kongres Nasional (KONAS)
2) KONAS yang membahas pembubaran organisasi dianggap sah apabila dihadiri
minimal 50 % di tambah 1 dari jumlah Cabang.
3) Apabila organisasi dibubarkan maka kekayaan organisasi dihibahkan kepada
lembaga sosial melalui PPNI

BAB IX
PERATURAN PERALIHAN DAN PENUTUP
Pasal 20
Peraturan Peralihan
Semua Pengurus Cabang paling lambat bulan September 2017 harus sudah
melaksanakan Kongres Cabang (Koncab) untuk menyesuaikan masa kepengurusan
dengan AD/ART ini.

9
Pasal 21
Penutup
1) Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga dan Peraturan Organisasi sepanjang tidak bertentangan dengan
Anggaran Dasar.
2) Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan

Di tettapka di : Bandung
Tanggal : 24 September 2016

10
ANGGARAN RUMAH TANGGA
HIMPUNAN PERAWAT PENCEGAH DAN PENGENDALI INFEKSI INDONESIA

BAB I
Pasal 1
Ketentuan Umum
1) Yang dimaksud dengan Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi adalah Perawat
yang bekerja di lingkup fasilitas pelayanan kesehatan dan pendidikan yang memiliki
kriteria dan kompetensi khusus di bidang Pencegahan dan pengendalian Infeksi
(sertifikat IPCN) (saran di hillangkan aja) dan atau Surat Keputusan (SK) dari
Pimpinan Institusi dengan memegang teguh kode etik keperawatan serta mampu
bekerja dan berupaya melakukan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.
2) Himpunan Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi Indonesia (HIPPII) adalah
organisasi profesi yang menghimpun perawat yang bekerja di bidang pencegahan
dan pengendalian infeksi dan telah memiliki sertifikat PPI dan sertifikat IPCN
3) HIPPII merupakan bagian tak terpisahkan dari badan kelengkapan organisasi PPNI.

BAB II
IDENTITAS ORGANISASI
Pasal 2
Lambang Organisasi

Lambang HIPPII memliki arti :


1) Tulisan Himpunan Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi Indonesia berbentuk
bulat berwarna merah terang bermakna berani menegakkan kebenaran dalam
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.

11
2) Telapak tangan terbuka berwarna coklat muda bermakna bebas dari
mikroorganisme.
3) Air mengalir berwarna biru muda bermakna kejujuran, ketulusan dan kejernihan hati.

BAB III
KEANGGOTAAN
Pasal 4
Syarat-syarat anggota dan pengurus
1) Syarat anggota biasa :
a) Warga Negara Indonesia.
b) Memiliki latar belakang pendidikan Sarjana keperawatan atau Minimal D-III
Keperawatan pengalaman kerja lebih dari 5 lima tahun atau sarjana
kesehatan lainya dengan pendidikan Dasar Perawat
c) Anggota PPNI dan memiliki NIRA Nasional
d) Memiliki sertifikat minimal PPI Dasar baik dalam maupun di luar negeri.
e) Memiliki minat dan komitmen
f) Menyatakan diri bersedia menjadi anggota HIPPII dengan mengisi formulir
kesediaan.

2) Syarat Anggota Luar Biasa :


a) Perawat Warga Negara Asing yang bekerja di Indonesia dan berkecimpung
di bidang Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dan memiliki sertifikat PPI
Dasar baik dalam maupun luar negeri.
b) Menyatakan diri bersedia menjadi anggota HIPPII dengan mengisi dan
menandatangani formulir kesediaan.

3) Syarat Pengurus :
a) Bertaqwa kepada Tuhan YME
b) Pendidikan minimal sarjana (keperawatan atau kesehatan lainnya) dengan
pendidikan dasar keperawatan
c) Anggota PPNI dan memiliki NIRA Nasional
d) Berpengalaman sebagai IPCN Purnawaktu maupun paruh waktu, baik aktif
maupun non aktif

12
e) Berpengalaman sebagai IPCLN di Rumah Sakit
f) Wawasan luas tentang pengendalian infeksi dan mempunyai komitmen
terhadap organisasi dan profesi IPCN
g) Mempunyai sertifikat minimal PPI Dasar
h) Menyatakan diri bersedia menjadi anggota HIPPII dengan mengisis dan
menandatangani formulir kesediaan

Pasal 5
Tata cara penerimaan anggota
1) Mendaftarkan diri dengan mengisi blangko permohonan sebagai anggota untuk
menjadi anggota HIPPII melalui Sekretariat Pengurus Cabang.
2) Pengurus Cabang mengusulkan kepada Pengurus Pusat untuk diterbitkan
Nomor Induk Register Anggota (NIRA) dan kartu anggota sesuai jenis
keanggotaaan bagi anggota yang telah diterima .
3) Mengisi dan menandatangani: formulir pendaftaran anggota, formulir kesediaan
mengikuti kegiatan HIPPII dan formulir kesediaan mentaati AD/ART HIPPII serta
formulir kesediaan mentaati Kode Etik Perawat Indonesia
4) Pengurus Cabang dapat menerima calon anggota tersebut apabila telah
memenuhi persyaratan yang telah di syaratkan

Pasal 6
Kewajiban Anggota
1) Anggota Biasa
a) Mengikuti peraturan-peraturan di HIPPII
b) Mentaati dan menjalankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
(ADART) Organisasi HIPPII
c) Mentaati dan melaksanakan keputusan organisasi
d) Menjungjung tinggi nama baik organisasi
e) Menghadiri rapat-rapat yang diadakan oleh organisasi
f) Menyampaikan usul usul dan saran-saran untuk mencapai tujuan yang
digariskan dalam program kerja organisasi untuk kemajuan HIPPII
g) Menjaga kerukunan dalam organisasi secara konsekwen dan konsisten
pada hal-hal yang bersifat positif

13
h) Membayar uang pangkal menjadi anggota organisasi sebesar Rp. 25.000
i) Membayar iuran bulanan sebesar Rp. 5.000

2) Anggota Luar Biasa


Mempunyai kewajiban yang sama dengan anggota biasa

Pasal 7
Hak Anggota
(1) Anggota biasa berhak untuk mengajukan pendapat, usul atau pertanyaan baik lisan
maupun tertulis kepada pengurus HIPPII,
(2) Mengikuti seluruh kegiatan organisasi, memilih dan dipilih sesuai jenjang
kepengurusan organisasi.
(3) Anggota Luar Biasa berhak untuk mengajukan pendapat usul atau pertanyaan baik
lisan maupun tertulis kepada pengurus HIPPII, mengikuti seluruh kegiatan organisasi,
tetapi tidak berhak dipilih menjadi pengurus.
(4) Setiap anggota berhak mendapatkan kesempatan menambah atau
mengembangkan ilmu dan keterampilan di bidang Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi dan dalam bidang keilmuan keperawatan yang diselenggarakan organisasi
sesuai program dan kemampuan organisasi serta memenuhi persyaratan
(5) Setiap anggota berhak mendapatkan perlindungan dan pembelaan dalam
melaksanakan tugas organisasi dan profesi, apabila memenuhi:
a) Ketentuan organisasi
b) AD/ART
c) Kode Etik Keperawatan Indonesia
d) Standar Kompetensi
e) Standar Praktik
f) Peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 8
Pemberhentian Anggota
Anggota diberhentikan/ hilang keanggotaannya apabila:
1) Meninggal dunia

14
2) Permintaan sendiri secara tertulis, setelah melakukan konsultasi dengan Pengurus
Cabang Bidang Organisasi dan di teruskan ke Pengurus Pusat
3) Diberhentikan oleh Pengurus Pusat atas usul Pengurus Cabang

Pasal 9
Tata Cara Pemberhentian Anggota

(1) Pemberhentian atas permintaan sendiri hanya dapat dilakukan dengan


pemberitahuan secara tertulis kepada Pengurus Cabang dimana ia terdaftar, setelah
terlebih dahulu berkonsultasi dengan Pengurus Cabang yang membidangi bidang
organisaasi dengan berkoordinasi dengan pengurus pusat dan diajukan sekurang-
kurangnya satu bulan sebelumnya.
(2) Seorang anggota dapat dikenakan pemberhentian sementara oleh Pengurus
Cabang setelah didahului dengan peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali dengan
jarak waktu masing-masing 1 (satu) bulan dengan tembusan kepada Pengurus
Pusat
(3) Paling lama 6 (enam) bulan setelah penetapan pemberhentian sementara Pengurus
Cabang dapat merehabilitasi kembali dan atau mengusulkan pemberhentian tetap
kepada Pengurus Pusat, apabila tidak menunjukkan perubahan kearah perbaikan.
(4) Dalam kondisi luar biasa yang mengancam organisasi, Pengurus Pusat dapat
melakukan pemberhentian langsung, kemudain memberitahukan kepada Pengurus
Cabang

Pasal 10
Pembelaan

(1) Anggota yang diberhentikan sementera dapat membela diri di hadapan rapat pleno
Pengurus Cabang
(2) Bila dipandang perlu, anggota yang dikenakan pemberhentian tetap dapat
mengajukan pembelaannya pada Kongres Wilayah dan atau dalam Konas
(3) Keputusan Kongres Wilayah dan atau Keputusan Konas dapat membatalkan dan
atau memperkuat tindakan pemberhentian tetap tersebut dengan ketentuan bahwa

15
keputusan tersebut memenuhi quorum yakni didukung sekurang-kurangnya 50% di
tambah satu dari jumlah utusan yang hadir Kongres Wilayah dan atau Konas.

Pasal 11
Pengkaderan
(1) Untuk kesinambungan upaya organisasi perlu dibina kader-kader kepemimpinan di
HIPPII
(2) Kader-kader yang akan dipromosikan telah disaring dengan kriteria:
a. Memiliki prestasi, dedikasi dan loyal terhadap HIPPII
b. Mempunyai bakat dan pengetahuan serta pengalaman dalam kepemimpinan
organisasi keperawatan
c. Telah melalui proses pendidikan dan atau pelatihan khusus untuk itu
d. Tidak pernah melakukan tindakan yang tercela
(3) Ketentuan terkait pengkaderan dapat diatur tersendiri dalam peraturan organisasi
(PO) sepanjang tidak bertentangan dengan AD/ART HIPPII.

Pasal 12
Sanksi
(1) Bagi Anggota yang tidak melaksankan kewajiban organisasi dapat diberikan sanksi
(2) Tata cara pemberian sanksi harus diatur lebih lanjut melalui Peraturan Organisasi
yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat
(3) Jenis sanksi yang dapat diberikan berupa :
a) Teguran lisan
b) Teguran tertulis
c) Penghentian sementara dari keanggotaan
d) Penghentian permanen dari keanggotaan

Pasal 13
Kartu Anggota
Kartu Anggota dan nomor induk anggota dikeluarkan oleh Pengurus Pusat dengan
ditandatangai oleh Ketua Umum dan Sekretaris

16
BAB IV
MUSYAWARAH DAN RAPAT

Pasal 14
Kongres Nasional

(1) Status:
a) Kongres Nasional selanjutnya disingkat KONAS merupakan pelaksanaan
kedaulatan tertinggi organisasi di tingkat nasional.
b) KONAS diselenggarakan setiap 5 (lima) tahun sekali oleh Pengurus Pusat
melalui badan khusus yang disebut Panitia KONAS, yang diangkat dan
bertanggung jawab kepada Pengurus Pusat.
c) Panitia Konas terdiri dari Steering Commity (SC) dan Organising Commity (OC)
d) Dalam keadaan luar biasa dapat dilakukan sewaktu-waktu KONAS Luar Biasa,
atas usul sekurang-kurangnya 3 (tiga) Cabang dan disetujui 50 % di tambah satu
cabang dari jumlah Cabang yang ada.
e) KONAS dapat menyelenggarakan sidang ilmiah diluar sidang organisasi

(2) Kewenangan
a) Mengesahkan jadwal acara dan peraturan tata tertib KONAS
b) Memilih dan mengesahkan Pimpinan KONAS
c) Menyempurnakan atau menetapkan Anggara Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga Organisasi, pedoman-pedoman pokok, garis-garis besa program kerja
Organisasai dan pernyataan sikap.
d) Menilai pertanggungjawaban Pengurus Pusat mengenai pelaksanaan hasil
KONAS sebelumnya, apabila pertanggungjawaban Pengurus Pusat sudah
dinyatakan selesai oleh Konas, maka Pengurus Pusat dinyatakan demisioner,
dan selanjutnya Pengurus Pusat mempunyai status anggota biasa.
e) Memilih dan melantik Ketua Umum
f) Menunjuk Ketua terpilih sebagai Ketua Tim Formatur
g) Memilih Anggota Tim Formatur
h) Memberikan Mandat kepada Tim Formatur untuk melengkapi Personel Pengurus
Pusat, Dewan Pertimbangan Pusat

17
i) Memberikan mandat kepada Ketua terpilih untuk menetapkan Pengurus Pusat
dan Dewan Pertimbangan Pusat yang kemudian akan dilantik dan disyahkan
oleh PPNI
j) Menetapkan garis-garis besar program kerja Pengurus Pusat
k) Menetapkan tempat KONAS berikutnya.

(3) Pedoman Umum KONAS


a) KONAS diselenggarakan oleh Pengurus Pusat melalui Panitia KONAS yang
terdiri dari panitia pengarah (SC) dan panitia pelaksana (OC) yang diangkat
dengan hak otonomi penuh dan bertanggung jawab kepada Pengurus Pusat.
b) Tempat pelaksanaan KONAS ditetapkan pada KONAS sebelumnya.
c) Panitia Pengarah (SC) bertugas menyelesaikan seluruh materi yang berkaitan
dengan Konas dan Panitia Pelaksana (OC) KONAS bertanggung jawab dari segi
teknis penyelenggaraan KONAS
d) Peserta KONAS :
1) Utusan, terdiri dari
a) Utusan Pengurus Pusat 5 (lima) orang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua,
Sekretaris, Ketua Bidang Organisasi dan atau perwakilan pengurus
lainnya.
b) Utusan Pengurus Cabang 3 (tiga) orang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
atau perwakilan bidang organisasi atau pengurus lainnya.
c) Utusan Dewan Pertimbangan Pusat 1 (satu) orang
2) Peninjau adalah Pengurus Pusat, Pengurus Cabang, Pengurus Dewan
Pertimbangan, diluar utusan dan undangan lain yang berminat menghadiri
KONAS
e) KONAS sah apabila dihadiri oleh 50% ditambah satu jumlah Cabang yang ada
f) Apabila Cabang yang hadir tidak mencapai 50% ditambah satu jumlah cabang
yang ada maka konas wajib ditunda paling lambat 3 bulan, dan setelah itu
KONAS dianggap sah dengan peserta KONAS yang hadir.
g) Selama masa penundaan Konas, Pengurus Pusat dilarang mengambil
keputusan yang bersifat strategis dan wajib mensosialisasikan rencana Konas
kepada seluruh Pengurus Cabang.
h) Utusan mempunyai hak bicara, hak memilih dan dipilih, sementara peninjau
hanya mempunyai hak bicara dan hak dipilih saja

18
i) Sidang Paripurna KONAS dipimpin oleh Pimpinan KONAS yang terdiri dari
seorang Ketua, seorang Wakil Ketua dan seorang sekretaris. Kecuali sidang
paripurna pengesahan Jadwal Acara, Tata Tertib Konas dan Pemilihan Pimpinan
KONAS dipimpin oleh Steering Commity (SC)
j) Tempat penyelenggaraan KONAS ditetapkan pada KONAS sebelumnya.
k) Hal-hal yang belum tercantum dalam Pedoman Umum ini akan diatur dalam Tata
Tertib KONAS.

Pasal 15
Kongres Cabang (Koncab)
(1) Status :
a) Kongres Wilayah selanjutnya disingkat (koncab) merupakan pelaksanaan
kedaulatan tertinggi organisasi di tingkat Cabang.
b) KONCAB diselenggarakan setiap 5 (lima) tahun sekali oleh Pengurus
Cabang melalui badan khusus yang disebut Panitia KONCAB, yang diangkat
dan bertanggung kepada Pengurus Cabang
c) Panitia KONCAB terdiri dari Steering Commity (SC) dan Organising Commity
(OC) di tingkat cabang
d) Dalam keadaan luar biasa dapat dilakukan sewaktu-waktu Kongres Cabang
(Koncab) Luar Biasa, atas usul sekurang-kurangnya 1/3 (satu pertiga) jumlah
anggota dan disetujui 50 % di tambah 1 dari jumlah Anggota di Cabang
bersangkutan.
e) KONCAB dapat menyelenggarakan sidang ilmiah diluar sidang organisasi
dengan diketahui dan di koordinasikan dengan Pengurus Pusat

(2) Kewenangan
a) Mengesahkan Jadwal Acara dan Peraturan Tata Tertib KONCAB
b) Memilih dan mengesahkan Pimpinan KONCAB
c) Menilai pertanggung jawaban Pengurus Cabang mengenai amanat yang
diberikan oleh KONCAB sebelumnya, apabila pertanggungjawaban
Pengurus Cabang sudah dinyatakan selesai dan disetujui oleh KONCAB,
maka Pengurus Cabang dinyatakan demisioner, dan selanjutnya Personel
Pengurus Cabang mempunyai status anggota biasa.

19
d) Memilih Ketua Pengurus Cabang yang selanjutnya Ketua Pengurus Cabang
dilantik oleh Ketua Umum dan atau Pengurus Pusat atas nama Ketua Umum
dengan disaksikan oleh dan dihadiri oleh Ketua PPNI atau yang mewakili
tingkat wilayah atau DPW
e) Menunjuk Ketua Cabang terpilih sebagai Ketua Tim Formatur
f) Memilih Anggota Tim Formatur Cabang
g) Memberikan mandat kepada Tim formatur untuk menyusun dan
mengusulkan personel Pengurus Cabang, Dewan Pertimbangan Cabang.
Setelah terbentuk kepengurusan lengkap, secara otomatis Tim Formatur
Cabang dianyatakan bubar
h) Memberikan mandat kepada Ketua Pengurus Cabang terpilih untuk melantik
Personel Pengurus Cabang dan Personel Dewan Pertimbangan Cabang.
i) Menetapkan garis-garis besar program kerja Pengurus Cabang (PC) yang di
adob atau diturunkan dari garis-garis besar program kerja Pengurus Pusat
(PP)

(3) Pedoman Umum Kongres Cabang (Koncab)


a) KONCAB diselenggarakan oleh Pengurus Cabang melalui Pantia Pelaksana
KONCAB yang diangkat oleh Pengurus Cabang.
b) Tempat pelaksanaan KONCAB ditetapkan pada KONCAB sebelumnya
c) Panitia Pengarah (SC) bertugas menyelesaikan seluruh materi yang
berkaitan dengan KONCAB dan Panitia Pelaksana (OC) KONCAB
bertanggung jawab dari segi teknis penyelenggaraan KONCAB
d) Peserta KONCAB terdiri dari Pengurus Cabang dan anggota.
i. Utusan:
1) Pengurus Cabang
2) Dewan Pertimbangan Cabang
3) Anggota cabang bersangkutan
ii. Peninjau adalah Pengurus Pusat, Pengurus Cabang, Dewan
Pertimbangan Cabang, Anggota Cabang diluar utusan dan undangan
yang berminat menghadiri KONCAB.
e) KONCAB sah apabila dihadiri oleh 50 % ditambah satu jumlah anggota
cabang

20
f) Apabila KONCAB dihadiri kurang dari 50 % ditambah satu jumlah anggota
Cabang bersangkutan, Kongres Wilayah wajib ditunda paling lambat 3 bulan
dan setelah itu Kongres Wilayah dianggap sah dengan peserta Kongres
Wilayah yang hadir.
g) Selama masa penundaan KONCAB, Pimpinan sementara dipegang oleh
ketua SC cabang dan Pengurus Cabang dilarang mengambil keputusan yang
bersifat strategis dan wajib mensosialisasikan rencana Kongres Wilayah
kepada seluruh Anggota atau jika ada hal yang harus di putuskan dengan
segera dan bersifat strategis maka pimpinan SC cabang dapat berkoordinasi
dengan ketua umum pusat atau bidang organisasi pusat
h) KONCAB dipimpin Pimpiinan Kongres Wilyah yang terdiri dari seorang Ketua
merangkap Anggota, seorang Wakil Ketua merangkap Anggota seorang
Sekretaris merangkap Anggota. kecuali sidang paripurna pengesahan Jadwal
Acara, Tata Tertib dan pemilihan Pimpinan Kongres Wilayah dipimpin oleh
Steering Committee cabang .
i) Hal-hal yang belum tercantum dalam Pedoman Umum ini akan diatur dalam
Tata Tertib Kongres Wilayah

Pasal 16
Rapat Kerja Nasional
(1) Status:
a) Rapat kerja nasional disingkat RAKERNAS adalah rapat kerja Pengurus Pusat
yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Pusat, Perwakilan Dewan Pertimbangan
Pusat dan Perwakilan Pengurus Cabang
b) RAKERNAS diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam satu periode
kepengurusan
c) Dalam keadaan luar biasa Rakernas dapat dilakukan sewaktu-waktu atas usul
Pengurus Pusat atau Pengurus Cabang dan mendapat persetujuan sekurang-
kurangnya 50 % di tambah satu jumlah Cabang yang ada.

21
(2) Kewenangan :
a) Menilai pelaksananan program kerja amanat KONAS, menyempurnakan dan
memperbaiki untuk diaksanakan pada sisa periode kepengurusan selanjutnya
b) Membahas isu-isu yang dianggap penting untuk keberlangsungan atau
perkembangan organisasi
c) Membahas bahan-bahan yang akan dibahas pada KONAS yang akan datang
d) Mengambil Keputusan Organisasi secara nasional yang harus diikuti oleh
seluruh pengurus dan anggota HIPPII.

(3) Tata Tertib Rapat Kerja Nasional:


a) RAKERNAS diselenggarakan oleh Pengurus Pusat dengan Panitia Pelaksana
Pengurus Cabang dan Pengururs Pusat yang ditunjuk
b) Panitia Pelaksana RAKERNAS bertanggung jawab mengenai teknis
penyelengaraan rapat kerja nasional
c) RAKERNAS dihadiri oleh sekurang-kurangnya 50 % di tambah 1 Pengurus pusat,
50 % di tambah 1 Perwakilan Pengurus Cabang dan perwakilan Dewan
Pertimbangan Pusat
d) RAKERNAS dipimpin oleh Pengurus Pusat
e) Hal-hal lain yang belum diatur dalam tata tertib ini diatur dalam peraturan
organisasi (PO), selama tidak bertentangan dengan AD/ART

Pasal 17
Rapat Kerja Cabang
(1) Status:
a) Rapat Kerja Cabang disingkat Rakercab adalah rapat kerja Pengurus Cabang
yang dihadiri oleh utusan Pengurus Pusat, seluruh Pengurus Cabang
bersangkutan dan Anggota Cabang bersangkutan.
b) Rakercab diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam satu periode
kepengurusan
c) Dalam keadaan luar biasa Rapat Kerja Cabang dapat dilakukan sewaktu-waktu
atas usul Pengurus Cabang dan atau atas usul sekurang-kurangnya 50 %
ditambah satu orang Anggota Cabang bersangkutan yang disetujui oleh Ketua
pusat

22
Kewenangan:
d) Menilai pelaksananan program kerja amanat Kongres Wilayah,
menyempurnakan dan memperbaiki untuk diaksanakan pada sisa periode
kepengurusan selanjutnya
e) Membahas isu-isu yang dianggap penting untuk kelangsungan atau
perkembangan organisasi
f) Membahas bahan-bahan yang akan dibahas pada Kongres Wilayah yang akan
dating

(2) Tata Tertib Rapat Kerja Cabang :


a) Rakercab diselenggarkan oleh Pengurus Cabang dengan Panitia Pelaksana dari
Pengurus Cabang dan Anggota.
b) Panitia Pelaksana Rakercabl bertanggung jawab mengenai teknis
penyelengaraan Rakerda
c) Rakercab dihadiri oleh sekurang-kurangnya 50 % ditambah satu Pengurus
Cabang, perwakilan Dewan Pertimbangan Cabang, dan sekurang-kurangnya
50 % ditambah satu Anggota Cabang bersangkutan.
d) Rakercab dipimpin oleh Pengurus Cabang
e) Hal-hal lain yang belum diatur dalam tata tertib ini diatur dalam peraturan
tersendiri, selama tidak bertentangan dengan AD/ART

BAB V
SUSUNAN ORGANISASI DAN KEPENGURUSAN

Pasal 18
Susuan Organisasi
(1) Pengurus Pusat, disingkat PP adalah kepengurusan yang berkedudukan di Ibu Kota
Negara dengan rentang kewenangan meliputi seluruh wilayah hukum Negara
Kesatuan Republik Indonesia.

23
(2) Pengurus Cabang, disingkat PC adalah kepengurusan yang berkedudukan di Ibu
Kota Provinsi dengan rentang kewenangan meliputi seluruh wilayah hukum dalam
satu Provinsi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
(3) Tugas pokok dan fungsi dari masing-masing posisi dalam struktur pengurus diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Organisasi selama tidak bertentangan dengan AD/ART

Pasal 19
Pengurus Pusat
(1) Pengurus Pusat terdiri dari Pengurus Harian dan Pengurus Pleno
(2) Pengurus Harian terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Ketua
Bidang
(3) Pengurus Pleno terdiri dari Pengurus Harian dan para Ketua Bidang serta Anggota
Departemen
(4) Komposisi Pengurus Pusat terdiri dari :
Ketua
Wakil Ketua
Sekretaris
Wakil Sekretaris
Bendahara
Wakil Bendahara
Ketua Bidang
1) Ketua Bidang Organisasi
2) Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan
3) Ketua Bidang Pelayanan
4) Ketua Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri
5) Ketua Bidang Kesejahteraan
Anggota-anggota Departemen
1) Anggota Bidang Organisasi
2) Anggota Bidang Pendidikan dan Pelatihan
3) Anggota Bidang Pelayanan
4) Anggota Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri
5) Anggota Bidang Kesejahteraan

24
Pasal 20
Pengurus Cabang

(1) Pengurus Cabang terdiri dari Pengurus Harian dan Pengurus Pleno
(2) Pengurus Harian terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris,
Bendahara dan Wakil Bendahara
(3) Pengurus Pleno terdiri dari Pengurus Harian dan para Ketua Bidang serta Anggota
Bidang
(4) Komposisi Pengurus Cabang terdiri dari :
Ketua Cabang
Wakil Ketua Cabang
Sekretaris Cabang
Wakil Sekretaris Cabang
Bendahara Cabang
Wakil Bendahara Cabang
Ketua ketua Bidang:
1) Ketua Bidang Organisasi
2) Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan
3) Ketua Bidang Pelayanan
4) Ketua Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri
5) Ketua Bidang Kesejahteraan
Anggota-anggota Bidang
1) Anggota Bidang Organisasi
2) Anggota Bidang Pendidikan dan Pelatihan
3) Anggota Bidang Pelayanan
4) Anggota Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri
5) Anggota Bidang Kesejahteraan

25
Pasal 21
Rangkap Jabatan
(1) Pengurus HIPPII dilarang rangkap jabatan
(2) Rangkap Jabatan seperti dimaksud ayat (1) adalah rangkap Jabatan dalam
posisi Pengurus pada organisasi lain.

Pasal 22
Kewenangan Pengurus

(1) Pengurus Pusat berwenang :


(a) Menentukan kebijakan organisasi di tingkat nasional berdasarkan AD/ART dan
Rekomendasi Konas dan atau hasil Rapat Kerja Nasional
(b) Menentukan dan mensyahkan kompetensi IPCN bersama dengan PPNI
(c) Melalui pembahasan dalam Konas mengusulkan seseorang yang berjasa
terhadap professi Keperawatan untuk diangkat menjadi Anggota Kehormatan
PPNI
(d) Bertindak untuk dan atas nama organisasi sebagai pelaksana kerjasama HIPPII
dengan pihak lain baik dalam maupun luar negeri dengan diketahui dan atau
rekomendasi oleh PPNI
(e) Kebijakan seperti dimaksud pada ayat (a) di atas dinyatakan syah apabila
ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal
(f) Mewakili organisasi didalam dan diluar pengadilan
(g) Mensahkan komposisi dan personalia Pengurus Cabang.

(2) Pengurus Cabang


Menentukan kebijakan organisasi di tingkat wilyah kerjanya berdasarkan AD/ART,
Rekomendasi Kongres Nasional, Rapat Kerja Nasional, dan Kebijakan Pengurus
Pusat, Kongres Wilayah dan Rapat Kerja Daerah.

Pasal 23
Kewajiban
(1) Pengurus Pusat
(a) Menyampaikan pertanggungjawaban organisasi dalam Konas
(b) Melaksanakan segala ketentuan organisasi sesuai dengan AD/ART

26
(c) Memberikan pengakuan kompetensi IPCN Indonesia bersama PPNI
(d) Melaksanakan pembinaan organisasi kepada Pengurus Cabang

(2) Pengurus Cabang


(a) Menyampaikan pertanggung jawaban organisasi dalam Kongres Wilayah
(b) Melaksanakan segala ketentuan organisasi sesuai dengan AD/ART
(c) Melaksanakan dan tunduk kepada keputusan yang telah diambil oleh
Pengurus Pusat

Pasal 24
Pergantian Antar Waktu
(1) Untuk menjaga keberlangsungan dan kekompakan jalannya roda organisasi
dapat dilakukan pergantian antar waktu (PAW) terhadap personel pengurus
dalam kurun waktu periode kepengurusan
(2) PAW dapat dilakukan atas dasar permintaan sendiri, berhalangan tetap atau
diberhentikan dari kepengurusan
(3) Seorang pengurus yang berniat berhenti atas permintaan sendiri harus
mengajukan surat pengunduran diri
(4) Seorang pengurus yang berhalangan tetap selama 6 (enam) bulan terus
menerus dapat dilakukan PAW
(5) Pengurus yang tidak mengikuti kegiatan organisasi 3 (tiga) kegiatan terus
menerus dapat diberhentian dan dilakukan PAW setelah diberikan peringatan 3
(tiga) kali dan pemberhentiannya diputuskan dalam rapat pengurus pleno

BAB VI
DEWAN PERTIMBANGAN

Pasal 25
Pembentukan

Dewan Pertimbangan Pusat dibentuk melalui keputusan Kongres Nasional dan Dewan
Pertimbangan Wilayah dibentuk melalui Kongres Wilayah

27
Pasal 26
Kewenangan
Dewan Pertimbangan merupakan badan yang berwenang memberikan arahan, petunjuk
dan pertimbangan, saran serta nasihat kepada Pengurus HIPPII sesuai dengan tingkat
kepengurusan organisasi

Pasal 27
Susunan dan Komposisi Kepengurusan
(1) Dewan Pertimbangan berada di tingkat Pengurus Pusat, Pengurus Cabang
(2) Komposisi Dewan Pertimbangan terdiri dari Ketua merangkap Anggota, Wakil Ketua
merangkap Anggota, Sekretaris merangkap Anggota dan dua orang Anggota.

Pasal 28
Tugas Pokok
Memberikan pertimbangan, arahan, nasehat, saran dan petunjuk kepada Pengurus
HIPPII baik Di tingkat pusat mauun cabang dalam lingkup tingkat kepengurusan yang
bersangkutan baik diminta maupun tidak diminta demi kemajuan dan pengembangan
organisasi dan profesi Keperawatan.

BAB VII
KEKAYAAN

Pasal 29

(1) Besarnya uang pangkal dan uang iuran keanggotaan ditetapkan oleh Konas
(2) Iuran anggota sebesar Rp 5.000,- (lima ribu rupiah)/orang/bulan
(3) Besaran uang pangkal bagi anggota baru adalah Rp 25.000,- (dua puluh lima
ribu rupiah)
(4) Pengalokasian uang pangkal dan iuran bulanan anggota ditetapkan sebagai
berikut:
a. Pengurus Pusat sebesar 20%
b. Pengurus Cabang sebesar 80%
(5) Pembagian uang hasil usaha dari unit-unit pelaksana teknis atau usaha-usaha
lain yang mengatasnamakan HIPPII sebagai berikut :

28
a. Pelaksana usaha yang bersangkutan 75%
b. Fee organisasi sebanyak 25% dengan rincian:
i. Pengurus Cabang :15%
ii. Pengurus Pusat :10%
Jika kegiatan tersebut dilakukan oleh organisasi lain, bukan oleh
HIPPII Cabang
Jika kegiatan tersebut dilakukan oleh HIPPII cabang maka
pengaturanya adalah 75 % SHU untuk pelaksana/ HIPPII Cabang dan
25 % untuk pusat.
(6) Pemasukan dan pengeluaran keuangan organisasi wajib didokumentasikan
sesuai dengan system yang berlaku untuk organisasi nirlaba dan wajib
dilaporkan tiap akhir kepengurusan
(7) Pemasukan dan pengeluaran keuangan organisasi wajib
dipertanggungjawabkan dalam Konas dan atau Kongres Wilayah

29
BAB VI
ATURAN TAMBAHAN
Pasal 27

(1) Setiap anggota HIPPII dianggap telah mengetahui isi dari Anggaran Dasar dan
Rumah Tangga HIPPII
(2) Perselisihan dalam penafsiran Anggaran Dasar dan Rumah Tangga HIPPII ini
diputuskan oleh Pengurus Pusat setelah berkonsultasi dengan Pengurus Pusat
PPNI yang dibuktikan dengan Berita Acara Konsultasi dan Keputusan Akhir
terhadap penyelsaian perselisihan penafsiran AD/ART HIPPII.
(3) Hal-hal yang belum diatur di dalam Anggaran Rumah Tangga PPNI ini diatur
dalam Peraturan Organisasi sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran
Rumah Tangga

30