Anda di halaman 1dari 5

Indonesia merupakan negara berkembang yang masih menghadapi

permasalahan pada perkembangan kotanya. Permasalahan tersebut salah satunya


berupa permintaan hunian yang meningkat namun pembangunannya yang tidak
merata. Salah satu faktor dari peningkatan permintaan hunian tersebut ialah tingginya
angka pertambahan penduduk serta faktor urbanisasi yang telah menjadi masalah
yang cukup serius bagi pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Urbanisasi
yang tidak terkontrol berakibat pada persebaran penduduknya yang tidak merata
sehingga permasalahan pada kehidupan sosial kemasyarakatan pun tak terelakkan.

Hunian pada dasarnya adalah kediaman yang digunakan oleh suatu individu
maupun kelompok dan diharapkan mampu mendukung kebutuhan dan menunjang
gaya hidup dari si pemilik hunian itu sendiri.

Pada Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang perumahan dan


permukiman tertera definisi dari perumahan dan permukiman itu sendiri. Perumahan
ialah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan (pasal 1
ayat 2).

Adapun permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan


lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi
sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang
mendukung perikehidupan dan penghidupan. Satuan lingkungan permukiman adalah
kawasan perumahan dalam berbagai bentuk dan ukuran dengan penataan tanah dan
ruang, prasarana dan sarana lingkungan yang terstruktur (pasal 1 ayat 3).

Perumahan dan permukiman memiliki fungsi dan peranan yang sangat


penting dalam kehidupan manusia. Hal ini tidak terlepas pada masyarakat Indonesia
khususnya. Bagi masyarakat Indonesia, rumah merupakan cerminan dari pribadi
manusianya, baik itu secara perorangan maupun dalam suatu kesatuan dan
kebersamaan dengan lingkungan alamnya.
Permasalahan perumahan dan permukiman merupakan sebuah isu utama yang
selalu mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Hal ini selalu menjadi isu utama
yang selalu menjadi primadona sejak dari jaman dahulunya hingga sekarang ini.
Permasalahan perumahan dan permukiman merupakan sebuah permasalahan yang
berlanjut dan bahkan akan terus meningkat, seirama dengan pertumbuhan penduduk,
dinamika kependudukan dan tuntutan-tuntutan sosial ekonomi yang semakin
berkembang.

Kekurangsiapan kota dengan sistem perencanaan dan pengelolaan kota yang


tepat, dalam mengantisipasi pertambahan penduduk dengan berbagai motif dan
keragaman, nampaknya menjadi penyebab utama yang memicu timbulnya
permasalahan perumahan dan permukiman.

Secara sederhana permasalahan perumahan dan permukiman ini adalah tidak


sesuainya jumlah hunian yang tersedia jika dibandingkan dengan kebutuhan dan
jumlah masyarakat yang akan menempatinya.

Permasalahan yang timbul dalam lingkungan perumahan maupun


permukiman mencakup beberapa bidang kehidupan baik lingkungan alam maupun
lingkungan sosial. Adanya kesenjangan sosial yang menonjol dalam kalangan
masyarakat perumahan berimbas terhadap kurang terintegrasinya masyarakat
perumahan, penggunanan lahan yang tidak semestinya yang dapat mengurangi
keindahan dan tata guna lahan, serta penggunaan unit yang tidak sesuai dengan
fungsinya. Kerusakan jalan yang tergenang air jika musim hujan merupakan dampak
dari adanya peningkatan jumlah penduduk perumahan.

Di kota-kota besar di Indonesia ditemukan adanya daerah kumuh atau


pemukiman miskin. Adanya daerah kumuh ini merupakan pertanda kuatnya gejala
kemiskinan, yang antara lain disebabkan oleh adanya urbanisasi berlebih di kota-kota
tersebut. Secara umum, daerah kumuh diartikan sebagai suatu kawasan pemukiman
atau pun bukan kawasan pemukiman yang dijadikan sebagai tempat tinggal yang
bangunan-bangunannya berkondisi substandar atau tidak layak yang dihuni oleh
penduduk miskin yang padat. Kawasan yang sesungguhnya tidak diperuntukkan
sebagai daerah pemukiman di banyak kota besar oleh penduduk miskin yang
berpenghasilan rendah dan tidak tetap diokupasi untuk dijadikan tempat tinggal,
seperti bantaran sungai, di pinggir rel kereta api, tanah-tanah kosong di sekitar pabrik
atau pusat kota, dan di bawah jembatan.
Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni karena
ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas
bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat. (Sumber: UU No.
1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman).
Jumlah penduduk global di perkotaan diperkirakan akan mencapai 60% pada
tahun 2030, dan 70% pada tahun 2050. Jumlah kota berpenduduk lebih dari 1 juta
jiwa akan mencapai 450 kota, dengan lebih dari 20 kota sebagai megacity, dengan
penduduk melampaui 10 juta jiwa. Kondisi kota-kota di Indonesia yang berkembang
dan berfungsi sebagai pusat-pusat kegiatan mengundang penduduk daerah sekitarnya
untuk datang mencari lapangan kerja dan kehidupan yang lebih baik. Mereka yang
bermigrasi ke perkotaan relatif meningkat dari tahun ke tahun. Mereka ini berasal
dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda-beda dan sebagian dari mereka
datang tanpa tujuan yang jelas.
Di lain pihak kota belum siap dengan rencana sistem perkotaan guna
mengakomodasi perkembangan kegiatan perkotaan dalam sistem rencana tata ruang
kota dengan berbagai aspek dan implikasinya termasuk di dalamnya menerima,
mengatur dan mendayagunakan pendatang. Akibatnya terjadi aktivitas yang sangat
heterogen dan tidak dalam kesatuan sistem kegiatan perkotaan yang terencana, yang
mengakibatkan terjadinya kantong-kantong kegiatan yang tidak saling menunjang,
termasuk dengan munculnya permukiman yang berkembang di luar rencana sehingga
terbentuklah permukiman-permukiman kumuh.
Terbatasnya dana yang dimiliki pemerintah untuk penataan dan pengelolaan
kota dalam menghadapi masalah kependudukan tersebut di atas juga telah
menyebabkan fasilitas perumahan dan permukiman menjadi terbatas dan mahal
pembiayaannya. Di daerah perkotaan, warga yang paling tidak terpenuhi kebutuhan
fasilitas perumahan dan permukimannya secara memadai adalah mereka yang
tergolong berpenghasilan rendah.
Jika pertumbuhan lingkungan permukiman kumuh ini dibiarkan, derajat
kualitas hidup masyarakat miskin akan tetap rendah. Akan mudah menyebabkan
kebakaran, memberi peluang tindakan kriminalitas, terganggunya norma tata susila,
tidak teraturnya tata guna tanah dan sering menimbulkan banjir yang akhirnya
menimbulkan degradasi lingkungan yang semakin parah. Penggusuran pada
permukiman kampung kota yang kumuh oleh pihak-pihak terkait tidak sepenuhnya
menyelesaikan masalah, selain cara ini tidak manusiawi, para pemukim kembali
menyerobot tanah terbuka lainnya sehingga hilang satu akan tumbuh dua atau lebih
permukiman kumuh yang baru lagi.

Pada dasarnya kemiskinan dapat ditanggulangi dengan adanya pertumbuhan


ekonomi yang tinggi dan pemerataan, peningkatan lapangan pekerjaan dan
pendapatan kelompok miskin serta peningkatan pelayanan dasar bagi kelompok
miskin dan pengembangan institusi penanggulangan kemiskinan. Peningkatan
pelayanan dasar ini dapat diwujudkan dengan peningkatan air bersih, sanitasi,
penyediaan serta usaha perbaikan perumahan dan lingkungan pemukiman pada
umumnya.

Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan masyarakat yang memiliki


rumah yang tidak layak huni dengan cara membantu dalam membangun dan
menyediakan perumahan yang harganya terjangkau untuk masyarakat yang
berpenghasilan rendah. Selain itu, pemerintah sebaiknya membuka banyak lapangan
pekerjaan maupun memberi pelatihan keterampilan kerja serta modal usaha seperti
kredit mikro bagi mereka yang belum punya pekerjaan agar mereka bisa membuka
tempat usaha sendiri sehingga dapat mengurangi pengangguran.
Pengelolaan kampung usaha bagi daerah-daerah yang selama ini dianggap
sebagai kantong kemiskinan pun dapat menjadi langkah yang baik untuk membasmi
kemiskinan di Indonesia dengan cara membina warga-warganya untuk menjadi
pengusaha dan mengembangkannya. Selain itu, pemerintah sebaiknya menjalankan
program perbaikan kampung yakni memperbaiki struktur atau fasilitas (sarana
prasarana) di desa sehingga masyarakat merasa nyaman dan mengurangi urbanisasi
agar permukiman kumuh yang sebagian besar diakibatkan oleh factor urbanisasi
dapat berkurang.