Anda di halaman 1dari 21

Arsitektur dalam budaya barat merupakan arsitektur yang

didasari dari pemikiran-pemikiran arsitektur klasik yang


berasal dari bangsa Yunani dan Romawi selanjutnya
berkembang yaitu masa renaissance yang merupakan
kelahiran kembali arsitektur klasik.

Arsitektur kolonial merupakan arsitektur yang digunakan pada


saat Indonesia dijajah oleh Belanda. Arsitektur kolonial lebih
mengarah kepada arsitektur gaya Belanda karena Belanda
merupakan negara yang menjajah Indonesia paling lama,
sehingga pemerintah Belanda sempat membangun berbagai
bangunan dengan gaya khas Belanda.
Arsitektur klonial Belanda adalah gaya desain yang cukup
popular di Netherland tahun 1624-1820. Ciri-cirinya yakni
(1) Facade simetris,
(2) Material dari batu bata atau kayu tanpa pelapis,
(3) Entrance mempunyai dua daun pintu,
(4) Pintu masuk terletak di samping bangunan,
(5) Denah simetris,
(6) Jendela besar berbingkai kayu,
(7) Terdapat dormer (bukaan pada atap) Wardani, (2009).

Karakteristik arsitektur kolonial dapat ditinjau dari periodisasi


perkembangan arsitekturnya maupun ornamen yang digunakan
bangunan.

Abad 16 sampai tahun 1800-an


Selama periode ini arsitektur kolonial Belanda kehilangan
orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda serta tidak
mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas. Yang lebih buruk lagi,
bangunan-bangunan tersebut tidak diusahakan untuk beradaptasi
dengan iklim dan lingkungan setempat.
Indonesia waktu itu diperintah
dengan tujuan untuk memperkuat
kedudukan ekonomi negeri
Belanda. Oleh sebab itu, Belanda
pada abad ke-19 harus
memperkuat statusnya sebagai
kaum kolonialis dengan
membangun gedung-gedung
yang berkesan grandeur (megah).
Bangunan gedung dengan gaya
megah ini dipinjam dari gaya
arsitektur neo-klasik yang
sebenarnya berlainan dengan
gaya arsitektur nasional Belanda
waktu itu.
Ciri Ciri dan Karakteristik :
Denah simetris penuh dengan satu Pilar menjulang ke atas sebagai
pendukung atap
lanmtai atas dan ditutup dengan
Terdapat gevel dan mahkota diatas
atap perisai. beranda depan dan belakang
Temboknya tebal Terdapat central room yang
berhubungan langsung dengan
Langit langitnya tinggi beranda depan dan belakang,kiri
Lantainya dari marmer kananya terdapat kamar tidur.
Beranda depan dan belakang Daerah servis dibagian belakang
dihubungkan dengan rumah induk
sangat luas dan terbuka oleh galeri.Beranda belakang
Diujung beranda terdapat barisan sebagai ruang makan.
pilar atau kolom bergaya Yunani Terletak ditanah luas dengan kebun
di depan, samping dan belakang.
(doric, ionic, korinthia)
Antara tahun 1902 kaum liberal di negeri
Belanda mendesak apa yang dinamakan
politik etis untuk diterapkan di tanah jajahan.
Sejak itu, pemukiman orang Belanda tumbuh
dengan cepat. Dengan adanya suasana
tersebut, maka indische architectuur menjadi
terdesak dan hilang. Sebagai gantinya, muncul
standar arsitektur yang berorientasi ke
Belanda. Pada 20 tahun pertama inilah
terlihat gaya arsitektur modern yang
berorientasi ke negeri Belanda. Salah satu
contoh bangunan pada masa ini adalah
bangunan Gaya De Stijl
Gaya De Stijl atau neoplastisisme adalah gerakan artistik Belanda
yang didirikan pada tahun 1917. Pendukung De Stijl ingin menunjukkan
keseimbangan ideal antara keharmonisan spiritual dan ketertiban. De
Stijl mengutamakan kesederhanaan dan abstraksi pokok dalam bidang
arsitektur maupun seni. Segi warna yang digunakan juga hanya
terbatas pada warna-warna pokok dan tiga warna nilai utama (hitam,
putih, abu-abu). Gaya ini ingin mencapai keseimbangan estetis dengan
menggunakan oposisi.
Pada tahun ini muncul gerakan pembaruan dalam arsitektur, baik
nasional maupun internasional di Belanda yang kemudian
mempengaruhi arsitektur kolonial di Indonesia. Hanya saja arsitektur
baru tersebut kadang-kadang diikuti secara langsung,
tetapi kadang-kadang juga muncul gaya yang disebut sebagai
ekletisisme (gaya campuran). Pada masa tersebut muncul arsitek
Belanda yang memandang perlu untuk memberi ciri khas pada
arsitektur Hindia Belanda. Mereka ini menggunakan kebudayaan
arsitektur tradisional Indonesia sebagai sumber pengembangannya.
Karakteristik Niuwe Bouwen adalah sebagai berikut:
Transparansi untuk ruang, cahaya dan udara
Simetris dan penyeimbangan bagian yang tidak rata
Penggunaan warna sebagai sarana ekspresi
Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. Walaupun
banyak kontroversi tentang hal itu (ada yang ngomong Belanda
baru menjajah kita selama 33 tahun karena Aceh baru dikuasai
Belanda pada tahun 1912), namun selama kurun waktu tersebut
bangsa Barat meninggalkan banyak bangunan bersejarah.
Beberapa di antaranya dikenal karena keindahannya dan masih
terawat hingga saat ini
Bangunan ini adalah bangunan Belanda paling terkenal senatero Indonesia. Bangunan
ini disebut Lawang Sewu oleh penduduk lokal lantaran banyaknya pintu yang ada di
gedung ini. Lawang Sewu didirikan pada 27 Februari 1904 sebagai kantor
perusahaan perkeretaapian Belanda, yaitu NIS. Arsiteknya adalah Prof. Jacob F.
Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag yang berdomisili di Amsterdam. Gedung tua
ini menjadi saksi pertempuran hebat antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta
Api) dengan Kempetai dan Kidobutai, Jepang pada Pertempuran Lima Hari di
Semarang (14 Oktober 19 Oktober 1945). Selain kedua menaranya, bangunan ini
juga terkenal karena hiasan kaca patrinya yang begitu indah.
Bangunan ini sekarang dikenal sebagai Museum Fatahillah, namun dulunya
adalah Balai Kota (Stadhuis) Batavia atau Jakarta. Bangunan ini dibangun
antara kurun waktu 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan van
Hoorn dan sengaja dibangun menyerupai Istana Dam di Amsterdam. Pada
bangunan ini juga terdapat patung Hermes dan meriam Si Jagur yang
terkenal.
Gereja Katedral Santa Maria Pelindung
Diangkat ke Surga adalah sebuah gereja
Katolik yang diresmikan tahun 1901.
Gaya arsitekturnya adalah neo-gotik
yang merupakan ciri khas arsitektur
gereja di Eropa. Arsiteknya adalah
Marius Hulswit asal Belanda. Awalnya,
bagian menara dirancang berbentuk
kubah pada ujungnya. Namun rencana ini
tak pernah terlaksana. Sebagai gantinya
dibangun menara dari logam, yang tidak
lazim untuk sebuah gereja gotik namun
perlu dilakukan karena wilayah Indonesia
rentan terhadap gempa. Pada tahun
1991, bagian balkon katedral dijadikan
museum.
Gedung London Sumatra ini dibangun pada tahun 1906 sebagai kantor
perusahaan perkebunan milik Harrisons & Crossfield Plc. yang berpusat di
London. Desain arsitekturnya menampakkan gaya transisi yang mirip dengan
rumah-rumah di London. Gedung ini terletak di Kelurahan Kesawan, Kecamatan
Medan Barat.
Gedung Bank Indonesia atau yang disebut de Javasche Bank pada zaman
penjajahan, diresmikan pada 1 April 1879 sebagai kantor cabang ke-8 di
Nusantara. Gedung ini dirancang oleh arsitek Hulswitt dan Cuypers dengan
bergaya arsitektural Eropa dengan dua menaranya yang kini dicat emas.
Bangunan ini terletak tak jauh dari Istana Kepresidenan RI.
Gereja Blendhuk adalah
gereja Kristen Protestan tertua
di Jawa Tengah yang
dibangun pada tahun 1753
dan bergaya arsitektur
baroque. Gereja ini mendapat
namanya karena kubah
bulatnya di bagian atasnya
yang dahulu dilapisi
perunggu. Nama
sesungguhnya dari gereja ini
adalah GPIB Immanuel.
Hingga kini, bangunan gereja
ini tetap digunakan dan
menjadi ikon kota Semarang
selain Lawang Sewu.
Bangunan ini merupakan kantor cabang
ke-5 De Javasche Bank yang dibuka
pada 1 Juli 1866 . Arsiteknya sama
dengan arsitek Gedung BI Yogyakarta,
yaitu F.D. Cuypers & Hulswit. Bangunan ini
sekarang beralamat di Jalan Yos Sudarso
no. 5 Cirebon. Ada dua keunikan gedung
ini dibandingkan gedung kolonial lain.
Pertama, ini adalah satu-satunya gedung
BI yang memiliki satu menara. Kedua, di
bagian depan bangunan utama gedung
ini, terdapat sepasang gapura bergaya
Majapahit dari batu bata merah.
Keunikannya tentu saja adalah keindahan
danau dan Kebun Raya Bogor yang
melingkupinya serta rusa-rusa jinak yang
sengaja didatangkan dari Nepal. Istana Bogor
dahulu disebut Buitenzorg yang artinya
tanpa kekhawatiran. Pada 1744, Gubernur
Jenderal van Imhoff terkesima dengan
kedamaian sebuah desa kecil di Bogor dan
berencana membangun istana di sini. Istana
Bogor awalnya dibuat 3 tingkat dan dibuat
menyerupai Blehheim Palace di Oxford, Inggris.
Pada 10 Oktober 1834, Gunung Salak meletus
dan menyebabkan istana ini roboh akibat
gempa vulkanik. Pada tahun 1850, istana ini
dibangun kembali, namun hanya satu lantai
karena kondisi Indonesia yang sering dilanda
gempa. Sejak tahun 1870-1942, istana ini telah
menjadi tempat kediaman resmi dari 38
gubernur jenderal Hindia Belanda dan satu
gubernur jenderal Inggris, siapa lagi kalau
bukan Raffles. Bak Gedung Putih, istana ini juga
menyimpan ratusan karya seni seperti lukisan
karya Basuki Abdullah, patung Hercules, dan
patung Pegasus.
Gedung ini dibangun pada tahun
1900 oleh biro arsitek Hullswit
dan bergaya arsitektur Eropa
yang indah. Pada keempat sisi
kubah terdapat jam dinding kuno
yang dulu dapat berdentang.
Gedung ini kini menjadi bagian
hotel Aston Medan dan
difungsikan sebagai restoran.
Asta Tinggi Sumenep adalah makam-makam raja Madura dan kerabatnya.
Dibangun pada tahun 1750, bangunan utama dari kompleks makam ini adalah
bangunan berkubah (cungkup) tempat raja-raja Madura dimakamkan. Konon,
jika kita berdoa di dalam cungkup ini, niscaya doa kita akan dikabulkan. Oleh
sebab itu, kawasan makam ini masih rajin dikunjungi warga Madura untuk
berziarah. Kompleks makam ini memang unik, sebab terdapat gerbang bergaya
Portugis.