Anda di halaman 1dari 7

ACARA 2.2.

Respirasi Pada Kecambah Vigna radiata

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan sel hidup memperoleh energi untuk
menjalankan fungsinya yang demikian banyak. Energi tersebut dihasilkan lewat dua
tahap, yaitu bernapas dan respirasi. Bernapas merupakan proses menghirup gas oksigen
serta mengeluarkan gas karbondioksida melalui alat pernafasan. Sedangkan respirasi
merupakan proses penguraian senyawa kompleks menjadi sederhana untuk
menghasilkan ATP (Campbell et al., 2005). Energi berbentuk ATP ini digunakan oleh
setiap organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup.

Respirasi merupakan aktivitas mendasar yang dilakukan oleh semua mahkluk hidup.
Sekalipun tumbuhan tidak bergerak bebas, tumbuhan juga melakukan respirasi. Berbeda
dengan fotosintesis, respirasi merupakan proses perombakan zat dan tidak memerlukan
cahaya matahari dalam prosesnya. Selain menghasilkan energi untuk melakukan
metabolisme, proses respirasi menghasilkan zat-zat lain seperti karbondioksida dan uap
air. Keberlangsungan respirasi dapat diamati karena zat hasil respirasi memiliki ciri khas
masing-masing. Berdasarkan paparan diatas maka perlu dilakukan praktikum untuk
mengamati respirasi pada kecambah Vigna radiata.

B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk memahami proses respirasi yang terjadi pada
tumbuhan, khususnya kecambah Vigna radiata. Serta bertujuan untuk mengetahui zat
hasil respirasi dan bagaimana sifat zat tersebut.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Respirasi adalah proses penguraian bahan makanan yang menghasilkan energi.
Respirasi dilakukan oleh semua penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel
hewan dan manusia. Respirasi dilakukan baik pada siang maupun malam hari.
Sebagaimana kita ketahui dalam semua aktivitas makhluk hidup memerlukan energi
begitu juga dengan tumbuhan. Respirasi terjadi pada seluruh bagian tubuh
tumbuhan, pada tumbuhan tingkat tinggi respirasi terjadi baik pada akar, batang
maupun daun dan secara kimia pada respirasi aerobik pada karbohidrat (glukosa)
adalah kebalikan fotosintesis. Pada respirasi pembakaran glukosa oleh oksigen kan
menghasilkan energi karena semua bagian tumbuhan tersusun atas jaringan dan
jaringan tersusun atas sel, maka respirasi terjadi pada sel (Campbell, 2002).

Tumbuhan hijau bernapas dengan mengambil oksigen dari lingkungan, tidak semua
tumbuhan bernapas dengan menggunakan oksigen. Tumbuhan tak berklorofil
benapas tanpa memerlukan oksigen. Tujuan proses pernapasan, yaitu untuk
memperoleh energi. Pada peristiwa bernapas terjadi pelepasan energi. Tumbuhan
yang bernapas secara anaeraob mendapatkan energi dengan car menguraikan
bahan bahan tertentu dimana mereka hidup. Dalam proses pernapasan aerob /
anaerab. akan dihasilkan gas karbon dioksida dan uap air. Gas dan uap air tersebut
dikeluarkan dari tubuh. Oksigen diperlukan dan karbon dioksida yang dihasilkan
masuk dan keluar dari tubuh secara difusi. Gas gas tersebut masuk dan keluar
melalui stomata yang ada pada permukaan daun dan inti sel yang ditemukan pada
kulit batang pegangan. Akar yang berada dalam tanah juga dapat melakukan proses
keluar msuknya gas. Tumbuhan yang hidup di daerah rawa/berlumpur mempunyai
akar yang mencuat keluar deari tanah. Akar ini disebut akar panas. Kandungan
katalis disebut juga enzim, enzim sangat penting untuk siklus reaksi respirasi (sebaik-
baiknya proses respirasi ). Beberapa reaksi kimia membolehkan mencampur dengan
fungsi dari enzim atau mengkombinasikan sisi aktifnya. Penggunaan ini akan dapat
dilihat hasilnya pada inhibitor dari aktivitas enzim (Kimball, 1983).

Mahluk hidup memerlukan respirasi untuk mempertahankan hidupnya, begitu pula


pada tumbuhan. Respirasi pada tumbuhan menyangkut proses pembebasan energi
kimiawi menjadi energi yang diperlukan untuk aktivitas hidup tumbuhan. Pada siang
hari, laju proses fotosintesis yang dilakukan tumbuhan sepuluh kali lebih besar dari
laju respirasi. Hal itu menyebabkan seluruh karbondioksida yang dihasilkan dari
respirasi akan digunakan untuk melakukan proses fotosintesis. Respirasi yang
dilakukan tumbuhan menggunakan sebagian oksigen yang dihasilkan dari proses
fotosintesis, sisanya akan berdifusi ke udara melalui daun. Reaksi yang terjadi pada
proses respirasi sebagai berikut :

C6H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6 H2O

Reaksi penguraian glukosa sampai menjadi H2O, CO2 dan energi melalui tiga tahap,
yaitu glikolisis, daur Krebs, dan transpor elektron respirasi. Glikolisis merupakan
peristiwa perubahan glukosa menjadi 2 molekul asam piruvat, 2 molekul NADH yang
berfungsi sebagai sumber elektron berenergi tinggi dan 2 molekul ATP untuk setiap
molekul glukosa. Daur Krebs (daur trikarboksilat) atau daur asam sitrat merupakan
penguraian asam piruvat secara aerob menjadi CO2 dan H2O serta energi kimia.
Reaksi ini terjadi disertai dengan rantai transportasi elektron respiratori. Produk
sampingan respirasi tersebut pada akhirnya dibuang ke luar tubuh melalui stomata
pada tumbuhan. Respirasi banyak memberikan manfaat bagi tumbuhan. Proses
respirasi ini menghasilkan senyawa-senyawa yang penting sebagai pembentuk
tubuh. Senyawasenyawa tersebut meliputi asam amino untuk protein, nukleotida
untuk asam nukleat, dan karbon untuk pigmen profirin (seperti klorofil dan
sitokrom), lemak, sterol, karotenoid, pigmen flavonoid seperti antosianin, dan
senyawa aromatik tertentu lainnya, seperti lignin. Sedangkan energi yang ditangkap
dari proses oksidasi dalam proses respirasidapat digunakan untuk mensintesis
molekul lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu:


a. Ketersediaan substrat
Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi
dengan laju yang rendah pula. Demikian sebaliknya bila substrat yang tersedia cukup
banyak maka laju respirasi akan meningkat.

b. Ketersediaan Oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh
tersebut berbeda bagi masing-masing spesies. Bahkan, pengaruh oksigen berbeda
antara organ satu dengan yang lain pada tumbuhan yang sama.

c. Suhu
Umumnya, laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar
10 oC. Namun, hal ini tergantung pada masing-masing spesies.

d. Tipe dan umur tumbuhan


Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolisme sehingga
kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies.
Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibandingkan
tumbuhan yang tua (Ross, 1995).
Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu :

1. Respirasi Aerobik (aerob)


Respirasi aerob yaitu respirasi yang menggunakan oksigen oksigen bebas untuk
mendapatkan energi. Persamaan reaksi proses respirasi aerob secara sederhana
dapat dituliskan :

C6H12O6 + 6H2O 6H2O + 6CO2 + 675 kal

Dalam kenyataan reaksi yang terjadi tidak sesederhana itu. Banyak tahapan yang
terjadi dari awal hingga terbentuknya energi.

2. Respirasi Anaerobik (anaerob)


Respirasi anaerobik adalah reaksi pemecahan karbohidrat untuk mendapatkan
energi tanpa menggunakan oksigen. Respirasi anaerobik menggunakan senyawa
tertentu misalnya asam fosfoenol piruvat atau asetal dehida, sehingga pengikat
hidrogen dan membentuk asam laktat atau alcohol. Respirasi anaerobik terjadi pada
jaringan yang kekurangan oksigen, akan tumbuhan yang terendam air, biji-biji yang
kulit tebal yang sulit ditembus oksigen, sel-sel ragi dan bakteri anaerobik. Bahan
baku respirasi anaerobik pada peragian adalah glukosa. Selain glukosa, bahan baku
seperti fruktosa, galaktosa dan malosa juga dapat diubah menjadi alkohol. Hasil
akhirnya adalah alcohol, karbon dioksida dan energi. Glukosa tidak terurai lengkap
menjadi air dan karbondioksida, energi yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan
respirasi aerobik. Reaksinya :
C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2 + 21 Kal

Dari persamaan reaksi tersebut terlihat bahwa oksigen tidak diperlukan. Bahkan
bakteri anaerobik seperti klostidrium tetani (penyebab tetanus) tidak dapat hidup
jika berhubungan dengan udara bebas. Infeksi tetanus dapat terjadi jika luka
tertutup sehingga memberi kemungkinan bakteri tambah subur (Lukman, 1997).

2.2 Proses Respirasi


Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari lingkungan. Proses
transport gas-gas dalam tumbuhan secara keseluruhan berlangsung secara difusi.
Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan
dengan jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel.
Demikian juga halnya dengan CO2 yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel
dan masuk ke dalam ruang antar sel. Hal ini karena membran plasma dan
protoplasma sel tumbuhan sangat permeabel bagi kedua gas tersebut.
Setelah mengambil O2 dari udara, O2 kemudian digunakan dalam proses respirasi
dengan beberapa tahapan, diantaranya yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif,
siklus asam sitrat, dan transpor elektron.
Reaksi pembongkaran glukosa sampai menjadi H20 + CO2 + Energi, melalui tiga
tahap :
1. Glikolisis, yaitu tahapan pengubahan glukosa menjadi dua molekul asam
piruvat (beratom C3), peristiwa ini berlangsung di sitosol. As. Piruvat yang dihasilkan
selanjutnya akan diproses dalam tahap dekarboksilasi oksidatif. Selain itu glikolisis
juga menghasilkan 2 molekul ATP sebagai energi, dan 2 molekul NADH yang akan
digunakan dalam tahap transport elektron.Dalam keadaan anaerob, As. Piruvat hasil
glikoisis akan diubah menjadi karbondioksida dan etil alkohol. Proses pengubahan ini
dikatalisis oleh enzim dalam sitoplasma. Dalam respirasi anaerob jumlah ATP yang
dihasilkan hanya dua molekul untuk setiap satu molekul glukosa, hasil ini berbeda
jauh dengan ATP yang dihasilkan dari hasil keseluruhan respirasi aerob yaitu 36 ATP.
Peristiwa perubahan :
Glukosa berubah menjadi Glukosa 6 fosfat berubah menjadi Fruktosa 1,6
difosfat berubah menjadi 3 fosfogliseral dehid (PGAL) / Triosa fosfat Asam piravat.
Jadi hasil dari glikolisis : 2 molekul asam piravat, 2 molekul NADH yang berfungsi
sebagai sumber elektron berenergi tinggi dan 2 molekul ATP untuk setiap molekul
glukosa.
Enzim-enzim yang berperan dalam GLikolisis yaitu Heksokinase, Fosfoheksokinase,
Fosfofruktokinase, Aldolase, triosa fosfat isomerase, triosa fosfat dehidrogenase,
fosfogliseril kinase, fosfoglisero mutase, Enolase, dan piruvat kinase.

Manfaat glikolisis:

a. Mereduksi 2 molekul NAD+ menjadi NADH untuk setiap molekul heksosa yang
dirombak.
Setiap molekul heksosa yang dirombak akan dihasilkan 2 molekul ATP, jika
substratnya berupa glukosa- P-, glukosa 6-P, atau fruktosa-6-P maka akan dihasilkan
3 molekul ATP.
Melalui glikolisis akan dihasilkan senyawa- senyawa antara yang dapat menjadi
bahan baku untuk sintesis berbagai senyawa yang terdapat dalam tumbuhan.
2. Dekarboksilasi oksidatif, yaitu pengubahan asam piruvat (beratom C3) menjadi
Asetil KoA (beratom C2) dengan melepaskan CO2, peristiwa ini berlangsung di
sitosol. Asetil KoA yang dihasilkan akan diproses dalam siklus asam sitrat. Hasil
lainnya yaitu NADH yang akan digunakan dalam transpor elektron.
3. Daur Krebs (daur trikarboksilat) atau daur asam sitrat merupakan
pembongkaran asam piruvat secara aerob menjadi CO2 dan H2O serta energi kimia.
Siklus asam sitrat (daur krebs) terjadi di dalam matriks dan membran dalam
mitokondria, yaitu tahapan pengolahan asetil KoA dengan senyawa asam sitrat
sebagai senyawa yang pertama kali terbentuk. Beberapa senyawa dihasilkan dalam
tahapan ini, diantaranya adalah satu molekul ATP sebagai energi, satu molekul FADH
dan tiga molekul NADH yang akan digunakan dalam transfer elektron, serta dua
molekul CO2.

Fungsi utama Siklus Krebs adalah:

a. Mereduksi NAD+ dan FAD menjadi NADH dan FADH2 yang kemudian dioksidasi
untuk menghasilkan ATP.
Sintesis ATP secara langsung, yakni 1 molekul ATP untuk setiap molekul piruvat yang
dioksidasi
Pembentukan kerangka karbon yang dapat digunakan untuk sintesis asam- asam
amino tertentu, yang kemudian dapat dikonversi untuk membentuk senyawa yang
lebih besar.
4. Transfer elektron, yaitu serangkaian reaksi yang melibatkan sistem karier
elektron (pembawa elektron). Proses ini terjadi di dalam membran dalam
mitokondria. Dalam reaksi ini elektron ditransfer dalam serangkaian reaksi redoks
dan dibantu oleh enzim sitokrom, quinon, piridoksin, dan flavoprotein. Reaksi
transfer elektron ini nantinya akan menghasilkan H2O.

Dari daur Krebs akan keluar elektron dan ion H+ yang dibawa sebagai NADH2 (NADH
+ H+ + 1 elektron) dan FADH2, sehingga di dalam mitokondria (dengan adanya siklus
Krebs yang dilanjutkan dengan oksidasi melalui sistem pengangkutan elektron) akan
terbentuk air, sebagai hasil sampingan respirasi selain CO2.
Produk sampingan respirasi tersebut pada akhirnya dibuang ke luar tubuh melalui
stomata pada tumbuhan dan melalui paru-paru pada peristiwa pernafasan hewan
tingkat tinggi.

2.3 Respirasi Pada Tumbuhan Tinggkat Tinggi

Respirasi pada tumbuhan tingkat tinggi berlangsung secara aerob, pada pernafasan
ini terjadi proses pembebasan energi dari sari makanan di dalam sel tubuh melalui
proses oksidasi biologis, Oksidasi biologis ada;ah suatu reaksi antara sari makanan
dengan oksigen yang menghasilkan karbon dioksida ( CO2 ), air (H2O) dan
energi.Reaksikiia ini merupakan reaksi enzimatis, enzim berperan sebagai katalisator
( pemercepat proses reaksi ).
Energi yang dihasilkan dari pernafasan digunakan oleh tumbuhan untuk
mewlakukan berbagai kegiatan hidupnya, misalnya untuk pertumbuhan dan
melakukan kegiatan di dalam hidupnya, misalnya untuk pertumbuhan,,
pembentukan protein mengangkut mineral dari dalam tanah, berkembang biak,serta
melakukan proses fotosintesis.

2.4 Respirasi Pada Tumbuhan Tingkat Rendah

Respirasi pada tumbuhan tingkat rendah ada yang aerob dan ada yang anaerob.
Respirasi anaerob disebut juga dengan fermentasi ( proses pengubahan senyawa
utama menjadi senyawa bentuk lain dengan bantuan enzim ), misalnya proses
pembentukan alkohol dari glukosa dengan bantuan jamur ragi (Saccharomyces )
seperti pembuatan tempe (Wilskins, 1993).
III. METODE
A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum pengamatan respirasi pada kecambah Vigna
radiata antara lain: dua buah gelas musium yang berfungsi sebagai wadah perendaman
kecambah dan tempat menampung air. Selain itu terdapat kawat yang dipakai untuk uji
pembakaran, kapas yang berfungsi sebagai media pembakaran, serta korek api sebagai
sumber api. Pada praktikum ini juga digunakan stopwatch untuk menghitung lamanya
nyala api.

Bahan yang digunakan antara lain kecambah kacang hijau (Vigna radiata) dan air.
Masing-masing bahan direndam di dalam gelas musium tertutup selama 24 jam. Pada
praktikum ini juga dibutuhkan alkohol.

B. Cara Kerja

Berikut ini adalah cara kerja praktikum respirasi pada kecambah Vigna radiata.
Pertama, disiapkan alat-alat dan bahan berupa kecambah dan air (sebagai perlakuan
kontrol) yang telah direndam selama 24 jam. Kemudian, diambil kapas secukupnya dan
direkatkan pada ujung kawat untuk dibakar. Lalu kapas ditetesi alkohol dan korek api
dinyalakan. Setelah kapas dibakar, kawat berkapas tersebut diarahkan dengan cepat ke
dalam gelas musium berisi air, lalu dihitung waktu sejak kapas dimasukan hingga api
pada kapas padam. Kemudian waktu pada stopwatch dicatat.

Langkah yang sama dilakukan untuk percobaan pada gelas musium berisi kecambah.
Perlu diperhatikan bahwa gelas musium berisi kecambah harus selalu dalam keadaan
tertutup. Kawat berkapas yang dibakar dimasukkan dengan cepat ke dalam gelas
musium dan dihitung waktunya menggunakan stopwatch hingga api padam. Kemudian
waktu pada stopwatch dicatat. Setelah praktikum selesai, alat-alat dibersihkan dan
diletakkan kembali pada tempatnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Perlakuan Lama nyala api (detik)
Kecambah 24 jam 05.69
Air 24 jam (kontrol) 08.30

B. Pembahasan
Apa yang dimaksud respirasi?
Bagaimana reaksi respirasi?
Apakah hasil respirasi?
Mengapa nyala api pada gelas yang berisi kecambah lebih singkat dibanding pada
perlakuan kontrol?

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil perhitungan


waktu lama nyala api yang dimasukkan ke dalam masing-masing gelas musium.
Lama nyala api pada gelas musium berisi kecambah adalah 05.69 detik, sedangkan
nyala api pada gelas musium berisi air adalah 08.30 detik. Untuk mengetahui
penyebab terjadinya perbedaan waktu tersebut maka perlu ditinjau dari teori
tentang respirasi.
Secara umum, respirasi diartikan sebagai proses penguraian bahan makanan
yang terjadi di dalam sel untuk menghasilkan energi. Secara mendalam, respirasi
merupakan pemutusan ikatan kimia antara rantai atom C pada senyawa organik
primer untuk memperoleh cadangan energi dalam bentuk ATP. Respirasi dilakukan
oleh semua penyusun tubuh, baik sel-sel tumbuhan maupun sel hewan dan manusia
(Campbell, 2008). Respirasi melibatkan pertukaran gas antara organisme dan
lingkungan eksternal.
V. KESIMPULAN
VI. DAFTAR PUSTAKA
VII. LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai