Anda di halaman 1dari 4

PEMBACAAN SERTIFIKAT KALIBRASI OVEN

Oven merupakan salah satu alat ukur dalam penetapan kadar air pada laboratorium pengujian benih tanaman
pangan dan hortikultura. Kadar air merupakan salah satu parameter mutu benih yang ada pada label benih,
sehingga akurasi oven harus selalu dipelihara untuk mendapatkan hasil yang valid.

Dalam penerapan sistem mutu laboratorium yang mengacu pada SNI ISO/IEC 17025:2008 klausul 5.5.2
dinyatakan bahwa peralatan yang digunakan untuk pengujian harus mampu menghasilkan akurasi dan
spesifikasi yang disyaratkan oleh metode pengujian. Peralatan pengujian (sebelum digunakan) harus
dikalibrasi atau dicek agar peralatan pengujian tersebut memenuhi spesifikasi metode/standar yang
digunakan.

Sertifikat kalibrasi diperoleh setelah peralatan uji dikalibrasi. Sertifikat kalibrasi merupakan dokumen
penting untuk mengetahui apakah peralatan pengujian masih sesuai dengan spesifikasi metode pengujiannya.
Informasi yang terdapat pada sertifikat kalibrasi minimal terdapat nilai koreksi dan nilai ketidakpastian
pengukuran. Salah satu peralatan laboratorium penguji benih yang harus dikalibrasi adalah oven. Berikut
adalah cara penggunaan sertifikat kalibrasi oven yang digunakan untuk menurunkan kandungan uap air
dengan memanaskan sample/contoh pada suhu yang diinginkan atau yang dipersyaratkan. Oven yang
digunakan dalam pembahasan sertifikat kalibrasi oven ini adalah oven yang dimiliki oleh Balai Besar PPMB-
TPH dengan ketelitian alat 10C dan memiliki kapasitas maksimum 2500C. Oven tersebut dikalibrasi oleh Balai
Kalibrasi Direktorat Pengembangan Mutu Barang pada tanggal 10 Juli 2015.
Gambar 1. Sertifikat Kalibrasi Oven

Berdasarkan data sertifikat hasil kalibrasi oven (Gambar 1), diperoleh beberapa informasi yaitu:

a. Saat kalibrasi oven disetting pada suhu 103 oC


b. Pembacaan suhu indikator pada display oven adalah 103 oC
c. Nilai aktual terkoreksi hasil kalibrasi didalam oven dengan 9 titik pantau berdasarkan pembacaan
termometer standar yang dimiliki Dit.PMB, adalah:
c.1 Hasil kalibrasi pada titik pantau 1, 2, 3, dan 4 (posisi pada rak/baki atas) berfluktuasi pada suhu
yang sama yaitu 101.8oC ~ 102.4oC dengan ketidakpastian pengukuran 1.5 oC. Fluktuasi suhu
aktual pada titik pantau 1, 2, 3, dan 4 dengan memasukan nilai ketidakpastian pengukurannya
adalah 100.3oC ~ 103.9oC. Berdasarkan persyaratan ISTA Rules (suhu 103oC, toleransi 2oC)
maka dapat disimpulkan bahwa lokasi titik pantau 1, 2, 3, dan 4 tidak layak pakai untuk
pengujian kadar air.
c.2 Hasil kalibrasi pada titik pantau 5, 6, 7, dan 8 (posisi pada rak/baki bawah) berfluktuasi pada
suhu yang hampir sama, sehingga pembahasan cukup satu titik pantau saja. Sebagai contoh, titik
pantau 5 dengan fluktuasi suhu 100.7oC ~ 101.2oC, dengan memasukan nilai ketidakpastian
1.5 oC diperoleh Fluktuasi suhu aktual adalah 99.2oC ~ 102.7oC. Berdasarkan hasil kalibrasi
dan persyaratan ISTA Rules dapat disimpulkan bahwa lokasi titik pantau 5, 6, 7, dan 8 tidak
layak pakai untuk pengujian kadar air.
c.3 Hasil kalibrasi pada titik pantau 9 (posisi pada rak/baki tengah) berfluktuasi pada suhu 100.6oC
~ 101.7oC, dengan memasukan nilai ketidakpastian 1.5oC diperoleh Fluktuasi suhu aktual
adalah 99.1oC ~ 103.2oC. Titik pantau 9 juga dinyatakan tidak layak pakai untuk pengujian
kadar air.

Gambar 2. Posisi ukur (titik pantau) thermometer standar dalam oven

Berdasarkan hasil analisis pada kesembilan titik pantau dalam oven dapat disimpulkan bahwa oven sudah
tidak layak lagi digunakan untuk pengujian kadar air.

Penggunaan Sertifikat kalibrasi oven

Hasil analisis diperoleh bahwa oven sudah tidak layak lagi untuk mengujian kadar air berdasarkan
persyaratan ISTA Rules. Walaupun demikian ada langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh analis agar oven
tersebut tetap dapat digunakan untuk pengujian kadar air, yaitu:

a. Mengatur (setting) oven berdasarkan hasil pembacaan sertifikat kalibrasi

Analis dapat mengatur (setting) kembali indikator oven agar fluktuasi suhu didalam oven yang
dipersyaratkan metode pengujian mencapai atau masuk dalam rentang toleransi. Berdasarkan hasil
pembacaan sertifikat oven pada gambar 1 maka analis dapat mengatur (setting) indikator suhu oven
dengan menambahkan/menaikan suhu sebesar 2oC (ketelitian oven 1oC). Harapannya pembacaan
indikator suhu oven naik menjadi 105oC. (Kasus ini dilakukan apabila analis hanya memiliki sertifikat
kalibrasi). Dengan menaikan suhu sebesar 2oC diharapkan fluktuasi suhu didalam oven menjadi:

a.1 Titik pantau 1 (Gambar 1.d) titik ukur yang memiliki nilai maksimum terbesar, pada titik ini
diharapkan fluktuasi suhu menjadi 103.8oC ~ 104.4oC. Apabila dimasukan nilai ketidakpastian
pengukuran sebesar 1.5oC diperoleh fluktuasi suhu yang diharapkan adalah 102.3 oC ~ 105.9oC.
Berdasar persyaratan ISTA Rules dapat disimpulkan bahwa pada titik pantau 1 tetap tidak layak
pakai untuk pengujian kadar air, hal ini berlaku juga untuk titik pantau 2, 3, dan 4.

a.2 Titik pantau 7 (gambar 1.e) titik ukur yang memiliki nilai minimum terkecil, pada titik ini
diharapkan fluktuasi suhu menjadi 102.5oC ~ 103.2 oC. Apabila dimasukan nilai ketidakpastian
pengukuran sebesar 1.5oC diperoleh fluktuasi suhu yang diharapkan adalah 101.0 oC ~ 104.7oC.
Berdasar persyaratan ISTA Rules dapat disimpulkan bahwa pada titik pantau 7 layak pakai
untuk pengujian kadar air, hal ini berlaku juga untuk titik pantau 5, 6, dan 8.

a.3 Titik pantau 9, pada titik ini diharapkan fluktuasi suhu 102.6 oC ~ 103.7oC. Apabila dimasukan nilai
ketidakpastian pengukuran sebesar 1.5oC diperoleh fluktuasi suhu yang diharapkan adalah
101.1oC ~ 105.2oC. Berdasar persyaratan ISTA Rules dapat disimpulkan bahwa pada titik pantau 9
tetap tidak layak pakai untuk pengujian kadar air.

Berdasarkan hasil analisa dari titik pantau 1 sampai dengan 9 disimpulkan bahwa setelah dinaikan suhu
oven sebesar 2oC diharapkan titik pantau 5, 6, 7, dan 8 layak untuk dilakukan pengujian kadar air dan
analis dapat meletakan bahan uji (sampel) pada titik pantau tersebut. Adapun kelima titik pantau lainnya
didalam oven tersebut, yaitu 1, 2, 3, 4, dan 9 tidak layak untuk dilakukan pengujian.

Nilai suhu yang disetting sebaiknya ditulis (disematkan) pada oven agar setiap analis yang akan
melakukan pengujian mengetahui berapa besar nilai suhu yang harus disetting.

b. Mensetting oven saat dilakukan kalibrasi

Pengaturan (setting) oven dilakukan apabila analis bertemu dan berkomunikasi langsung dengan
petugas kalibrasi yang sedang melakukan kalibrasi oven. Analis harus meminta petugas kalibrasi untuk
mengkalibrasi pada suhu yang dipersyaratkan oleh metode pengujiannya. Analis harus memantau
fluktuasi suhu aktual dalam oven berdasarkan data hasil kalibrasi alat standar kerja yang dimiliki
petugas kalibrasi. Apabila suhu aktual dialam oven (hasil kalibrasi standar kerja) tidak masuk dalam
persyaratan pengujian, segera setting oven sampai diperoleh fluktuasi suhu yang diperbolehkan oleh
acuan standar pengujian.

Sangat disarankan bahwa analis harus mendampingi petugas kalibrasi agar hasil kalibrasi alat
laboratorium selalu terpantau dan memenuhi kriteria/syarat pengujiannya.

Disusun oleh

Vine Egistiani Suherman, Amiyarsi Mustika Yukti, Nandy Mardiansyah dan


Nugraheni PBT Balai Besar PPMB-TPH

Nara sumber :
Heru Ismoko, S.Si, M.SE (Balai Besar Pengujian Mutu Barang Jakarta)