Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

MAKALAH HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL


KASUS PELANGGARAN HAKI

NAMA : AGUS TRIYANTO


NIM : H1A116911
KELAS : C

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdullilah saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan segala rahmad, hidayah dan inayah-Nya. Sehingga
penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.

Makalah dengan judul ANALISIS KASUS PELANGGARAN HAKI


sebagai tugas mata kuliah HAK KEKAYAAN INELEKTUAL . Dalam penulisan
makalah ini saya banyak menerima bantuan bimbingan dan dorongan dari berbagai
pihak. Pada kesempatan kali ini saya tidak lupa mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu agar penulisan
makalah ini selesai tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
sempurna. Karena masih banyak kekurangan dan kesalahan, maka penulis
menerima kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah ini.

Dengan makalah ini penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat


bermanfaat dan berguna bagi penulis serta pembaca pada umumnya.

Kendari, 1 Juni 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. iii

BAB 1 PENDAHULUAN1
1.1. Latar Belakang Masalah ........................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah....................................................................................................... 1
1.3. Tujuan ............................................................................................................................ 1
BAB II KAJIAN TEORI
2.1. Pengertian Hak Atas Kekayaan Intelektual ......................................................... 2
2.2. Konsep Hak Atas Kekayaan Intelektual............................................................... 2
2.3. Pengertian Hak Cipta ................................................................................................. 3
2.4. Sejarah Hak Cipta di Indonesia .............................................................................. 3
2.5. UU Hak Kepemilikan di Indonesia ....................................................................... 3

BAB III PEMBAHASAN


3.1. Fungsi UU Hak Cipta ................................................................................................ 5
3.2. Kasus Pelanggaran Hak Cipta di Indonesia ........................................................ 5
3.2.1. Kasus 1: Gunakan Lagu Tanpa Izin, Inul Vizta Dilaporkan Tony Q
Rastafara ........................................................................................................... 5
3.2.2. Kasus 2: Pasang Foto Bu Ani, Dilaporkan ke Polisi ............................ 8
3.2.3. Kasus 3: Iwan Fals Dilaporkan Terkait Pelanggaran Hak Cipta ....... 9
3.3. Dampak Pelanggaran Hak Cipta .......................................................................... 10
3.4. Usaha Memberantas Pelanggaran Hak Cipta.................................................... 11
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan ................................................................................................................. 12
4.2. Saran ............................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................ 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Hak cipta adalah hak eksklusif bagi penciptaan atau penerima hak
untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberi izin untuk
itu dengan tidak mengurangi pembatasan pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku.Indonesia sebagai negara
kepulauan memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sangat kaya. Hal
itu sejalan dengan keanekaragaman etnik, suku bangsa, dan agama secara
keseluruhan merupakan potensi nasional yang perlu di lindungi.
Namun, hingga saat ini masih banyak sekali terjadi pelanggaran hak
kekayaan intelektual yang terjadi di Indonesia. Beberapa contoh pelanggaran
hak kekayaan intelektual tersebut terjadi dalam bentuk pencurian ide ataupun
plagiat pada suatu produk maupun merk tertentu.
Maka dari itu makalah ini akan membahas mengenai tindakan
pelanggaran hak kekayaan intelektual yang terjadi di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa saja fungsi dari UU Hak Cipta?

b. Apa saja pelanggaran hak cipta yang terjadi di indonesia?

c. Bagaimana dampak dari pelanggaran hak cipta?

d. Bagaimana upaya untuk memberantas pelanggaran Hak Cipta?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

1.4 Untuk mengetahui apa saja fungsi dari UU Hak Cipta.

1.5 Untuk mengetahui Apa saja pelanggaran hak cipta yang terjadi di
indonesia.

1.6 Untuk mengetahui apa dampak dari pelanggaran hak cipta.

1.7 Untuk Mengetahui usaha untuk memberantas pelanggaran Hak Cipta.

1
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Pengertian Hak Atas Kekayaan Intelektual
Pengertian Hak kekayaan intelektual menurut Saidin, H. OK. adalah hak
kebendaan, hak atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja
rasio. Hasil dari pekerjaan rasio manusia yang menalar. Hasil kerjanya itu berupa
benda immaterial, benda tidak berwujud.
2
HAKI ini berasal dari Intellectual Property Rights yang dibahas oleh
organisasi World Intellectual Property Organization (WIPO). WIPO membagi hak
kekayaan intelektual ini menjadi 2 bagian yaitu hak cipta (copyright) dan hak
kekayaan industri (industrial property right). Hak kekayaan industri adalah hak
yang mengatur segala sesuatu tentang milik perindustrian terutama yang mengatur
perlindungan hukum.
3
Dahulu secara resmi sebutan Intellectual Property Rights (IPR)
diterjemahkan dengan Hak Milik Intelektual atau Hak Atas Kekayaan Intelektual
yang di singkat HaKI.HaKI dapat diartikan sebagai hak atas kepemilikan terhadap
karya-karya yang timbul atau lahir karena ada memampuan intelektual manusia
dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Karya-karya intelektual tersebut,
apakah dibidang ilmu pengetahuan, ataukah seni, sastra, atau teknologi, dilahirkan
dengan pengorbanan tenaga, waktu bahkan biaya.

2.2. Konsep Hak Atas Kekayaan Intelektual


Perliondungan Hak atas Kekayaan Intelektual pada awalnya merupakan
bentuk perlindungan yang di berikan oleh negara atas ide atau hasil karya warga
negaranya, dan oleh karena itu maka Hak atas Kekayaan Intelektual pada pokoknya
bersifat teritorial kenegaraan. Adapun hukum akan HaKI ini bersifat teritorial
artinya jika didaftarkan di Indonesia maka hukum hanya dapat melindungi hak nya
jika ada pelanggaran di Indonesia. Hak atas kekayaan Intelektual ada dua yaitu
Copyrights (Hak Cipta) dan Industrial Property Rights (Hak Milik Industri).

2
2.3. Pengertian Hak Cipta
Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta
untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu.
Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan". Hak
cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi
penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta
memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.
Dalam Undang-Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002 pengertian
hak cipta adalah "Hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk
itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku".

2.4. Sejarah UU Hak Cipta di Indonesia


Di lihat dari perkembangan HaKI di tanah air, sistem hukum
intellectual propertyright yang pertama kali di terjemahkan menjadi hak milik
intelektual dan kemudian di terjemahkan menjadi hak atas kekayaan
intelektual atau HaKI telah di mulai sejak masa penjaajahan belanda.

Pada tahun 1982, Pemerintah Indonesia mencabut pengaturan tentang


hak cipta berdasarkan Auteurswet 1912 Staatsblad Nomor 600 tahun 1912 dan
menetapkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, yang
merupakan undang-undang hak cipta yang pertama di Indonesia. Undang-
undang tersebut kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun
1987, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997, dan pada akhirnya dengan
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 yang kini berlaku.

2.5. UU Hak Kepemilikan di Indonesia

Indonesia memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sangat


kaya sehingga sangat perlu adanya perlindungan dari negara dalam bentuk

3
undang-undang. Oleh karena itu melalui undang-undang yang diatur nomor
19 tahun 2002 tentang hak kepemilikan.

Pada BAB 1 dibahas mengenai ketentuan umum yang mengatur


mengenai undang-undang dari hak cipta, BAB 2 membahas mengenai
fungsi dan sifat hak cipta, BAB 3 mengatur mengenai masa berlaku hak
cipta, BAB 4 mengenai pendaftaran ciptaan, BAB 5 tentang lisensi, BAB 6
mengenai dewan hak cipta, BAB 7 Hak terkait, BAB 8 pengelolaan hak
cipta, BAB 9 mengenai biaya, Sedangkan BAB 10 mengatur mengenai
penyelesaian sengketa, BAB 11 penetapan sementara pengadilan, BAB 12
penyidikan, BAB 13 mengenai ketentuan pidana, BAB 14 ketentuan
peralihan, dan BAB 15 adalah ketentuan penutup.

4
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Fungsi Hak Cipta
Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang
Hak Cipta untukmengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang
timbul secara otomatis setelahsuatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundangundanganyang berlaku.

Pencipta dan/atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan


Program Komputermemiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang
lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut unt uk
kepentingan yang bersifat komersial.

Hak Cipta yang dimiliki oleh Pencipta, yang setelah Penciptanya


meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat,
dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak itu diperoleh secara
melawan hukum.
Hak Cipta yang tidak atau belum diumumkan yang setelah
Penciptanya meninggal dunia, menjadi milik ahli warisnya atau milik
penerima wasiat, dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita, kecuali jika hak
itu diperoleh secara melawan hukum.8
3.2. Kasus Pelanggaran Hak Cipta Di Indonesia
3.2.1. Kasus 1: Gunakan Lagu Tanpa Izin, Inul Vizta
Dilaporkan Tony Q Rastafara
Liputan6.com, Jakarta Inul Daratista selaku pemilik tempat
karaoke Inul Vizta kembali diadukan ke polisi terkait kasus hak cipta. Kali
ini giliran musisi reggae Tony Q Rastafara yang melaporkan Inul Vizta ke
Polda Metro Jaya. Inul dilaporkan Tony Q lantaran di tempat karaokenya
terdapat 10 lagu milik Tony tanpa izin.

"Kami laporkan Inul Vista Family KTV (PT. VIZTA PRATAMA),


Selasa (26/8/2014), dengan nomor Laporan Polisi,

5
No:LP/3006/VIII/2014/PMJ/Dit Reskrimsus," kata Kuasa Hukum Tony Q,
Ferry Aswan dalam rilisnya, Minggu (31/08/2014).
Tony Q mengetahui ada 10 lagu miliknya di Inul Vizta di Jalan
Melawai, Jakarta Selatan setelah beberapa orang sahabat Tony karaoke di
tempat tersebut pada 4 Desember 2013. Ke-10 lagu tersebut di antaranya,
Rambut Gimbal dengan Kode Lagu 89137; Cahayamu (10476); Kangen
(97790); Ngayogyakarta (97767); Om Fungky (100010); Pesta Pantai
(90214); Republik Sulap (90288); Tertanam (91703); Waiting Tresno
(90317) dan Woman (91662).

"Padahal Klien kami tidak pernah memberikan izin kepada Inul


Vista untuk menyiarkan, mempublikasikan atau mengkomersialkan lagu-
lagu Ciptaan Klien kami," kata Ferry.

"Pihak Inul Vizta juga selama ini tidak pernah membayar atau pun
memberikan royalty kepada Klien kami sehingga pihak Inul Vista Family
KTV telah mengambil keuntungan terhadap lagu-lagu Ciptaan Klien kami,"
sambung Ferry.

Sebelum melaporkan Inul Vizta ke Polda Metro Jaya, Ferry


mengaku telah memberikan somasi kepada Inul Vizta pada 4 Maret 2014.
"Dalam surat balasannya tertanggal 10 Maret 2014, H. Herman Kamal,
selaku Direktur Legal PT. VIZTA PRATAMA menanggapi Somasi,
menyatakan pihaknya tidak pernah melakukan pelanggaran Hak Cipta dan
akan menghapus semua lagu-lagu tersebut," jelas Ferry.

Ferry kemudian kembali memberikan surat balasan atas Jawaban


atas Surat Tanggapan Somasi pada 12 Maret 2014 kepada Inul Vizta yang
intinya telah ada pelanggaran hak cipta. Ferry kemudian mengundang Inul
Vizta untuk bertemu dan menyelesaikan masalah bersama pada 17 Maret
2014 namun pihak Inul Vizta tidak hadir.

6
Inul Vista diduga melakukan pelanggaran tindak pidana Pasal 72
ayat (1) dan ayat (2) UU RI No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta.

"Jika terbukti melakukan pelanggaran, PT. Vista Pratama dapat


dipidana dengan pidana penjara paling lama tujuh Tahun dan/atau denda
paling banyak Rp5 miliar," jelasnya.

Kasus pelanggaran hak cipta di Inul Vizta bukan kali ini saja terjadi.
Baru-baru ini, label Nagaswara melaporkan Inul Vizta karena menggunakan
lagu dari beberapa artis mereka tanpa izin. Band Radja juga sempat
melaporkan Inul Vizta karena memakai lagu mereka berjudul Parah tanpa
izin.

Jauh sebelumnya, sejumlah pencipta lagu lawas dan beberapa


penyanyi melaporkan Inul Vizta karena memakai lagu mereka tanpa izin
dan memberikan royalti.

3.2.1.1. Undang-Undang Yang Berlaku

Dalam kasus di atas terkena UUHC Pasal 72 Ayat 1 dan 2 yang


berbunyi:

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1)
dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling
singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00
(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,


mengedarkan, atau menjualkepada umum suatu Ciptaan atau
barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak
Terkaitsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana
denganpidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau

7
denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

3.2.1.2. Hukuman Yang Berlaku


Dalam kasus ini Jika terbukti bersalah maka akan di perjara
paling lama 7 tahun dan denda maksimal Rp
5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

3.2.2. Kasus 2: Pasang Foto Bu Ani, Dilaporkan ke Polisi

SURABAYA - Jangan sembarang memasang foto orang dalam


sebuah brosur tanpa izin. Apalagi yang dipasang foto Ibu Negara Ani
Yudhoyono, istri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono(SBY).

Kasus itulah yang dilaporkan Reno Halsamer, 50, warga


Mulyorejo, ke Polda Jatim. Awalnya, Reno yang menjadi pengelola
Museum D'topeng Kingdom di Bali mendapat teguran dari sekretariat
negara. Sebab, foto ibu negara yang berlatar belakang museum itu
disematkan dalam brosur sebuah kondotel di Jalan Setiabudi, Badung,
Bali. Brosur tersebut disebarkan saat pameran di sebuah mal di Surabaya
Timur.

M. Arifin, kuasa hukum Reno, menjelaskan, setelah ditelusuri,


ternyata pengelola kondotel itu adalah Steven Rusli alias Miki. Dia
mengungkapkan sudah ada usaha perdamaian agar Miki mau menarik
kembali brosur tersebut. Tetapi, permintaan itu tak dihiraukan Miki.

"Lalu, kami laporkan kasus itu ke Mapolda Jatim awal 2013.


Sekarang kasus itu sudah dilimpahkan ke kejati," ujar Arifin, Minggu
(29/9).

Dia menyebut laporan itu bernomor LP/ 01/I/2013/Sus/Jatim bertanggal


7 Januari lalu. Penyelidikan di Polda Jatim telah sampaipelimpahan tahap
kedua pada Jumat lalu (26/9). "Pasal yang disangkakan

itu undang-undang tentang hak cipta," imbuhnya.

8
3.2.2.1. Undang Undang Yang Berlaku

Dalam Kasus di Atas terkena UUHC Pasal 72 Ayat 2 yang


berbunyi:

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,


mengedarkan, atau menjualkepada umum suatu Ciptaan atau
barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak
Terkaitsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).10

3.2.2.2. Hukum Yang Berlaku

Dalam kasus ini Jika terbukti bersalah maka akan di perjara


paling lama 5 tahun dan denda maksimal Rp 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).

3.2.3. Kaus 3: Iwan Fals Dilaporkan Terkait Pelanggaran Hak


Cipta Kapanlagi.com - Iwan Fals kini harus menghadapi
masalah

hukum. Penyanyi ini dilaporkan ke pihak kepolisian dengan tuduhan


melakukan pelanggaran hak cipta. Iwan dilaporkan dengan nomer laporan
LP/1299/IV/2010/Dit. Reskrim Sus. Pelapor adalah pencipta lagu Toto
Dwiarso Goenarto.

"Hari ini kami melaporkan terkait masalah pelanggaran hak cipta.


Yang kami laporkan adalah Virgiawan Listanto ," ujar kuasa hukum Toto,
Jon Matias saat ditemui di SPK, Mapolda Metro Jaya, Selasa (20/4) siang.

awal mula pelaporan sendiri diceritakan oleh Toto ketika lagu


ciptaannya dinyanyikan oleh Iwan di sebuah TV swasta. "Kejadiannya
tanggal 16 Oktober 2009 saat dia manggung di TV One. Saat itu lagu itu

9
dicantumkan pencipta lagunya adalah Iwan Fals. Padahal penciptanya
adalah pak Toto," ujar Jon.

Pelantun lagu Bento dan Bongkar ini diduga telah melakukan tindak
pidana hak cipta Pasal 2 ayat 1 UU No. 19 tahun 2002 tentang hak cipta.

3.2.3.1. Undang Undang Yang Berlaku

Dalam kasus di atas terkena UUHC Pasal 2 ayat 1 yang


berbunyi:

Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau


Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak
Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan
dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan
perundangundangan yang berlaku.11

3.2.3.2. Hukuman Yang Berlaku

Dalam kasus ini Jika terbukti bersalah maka akan di perjara


paling lama 7 tahun dan denda maksimal Rp 5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).

3.3. Dampak Pelanggaran Hak Cipta

1. Sang pencipta menjadi takut untuk membuat sesuatu

2. Terciptanya hasil karya bajakan

3. Tidak dapat menghargai suatu ciptaan orang lain

4. Merugikan pencipta/pemegang hak cipta, misalnya mem-foto kopi


sebagian atau seluruhnya ciptaan orang lain kemudian dijual/belikan
kepada masyarakat luas;

10
5. Merugikan kepentingan negara, misalnya mengumumkan ciptaan yang
bertentangan dengan kebijakan pemerintah di bidang pertahanan dan
keamanan.

6. Bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan, misalnya


memperbanyak dan menjual video compact disc (vcd) porno.

7. Pelanggaran hak cipta akan membawa dampak buruk bagi pengembangan


i1mu pengetahuan, teknologi, seni dan sastra.

3.4. Upaya Untuk Memberantas Pelanggaran Hak Cipta

1. Membangun budaya masyarakat untuk menghargai hasil karya orang


lain.

2. Pemerintah, baik instansi-instansi terkait, jajaran penegak hukum dan

segenap lapisan masyarakat hendaknya sepakat untuk secara bersama-


sama memerangi pembajakan terhadap karya-karya intelektual.
contoh: Pembajakan perbuatan yang merugikan perekonomian bangsa,
menghancurkan kreativitas, dan merendahkan martabat bangsa.

3. Alternatif lain untuk menggunakan program yang memiliki lisensi


Open Source.

4. Lisensi Open Source adalah lisensi di mana setiap orang yang


menggunakan perangkat lunak diperbolehkan membuat salinan tak
terbatas, menjual atau bahkan memberikan program komputer secara
bebas tanpa ada kewajiban membayar kepada siapapun.

5. Ketersediaan SourceCode dalam program dengan lisensi ini mejadi


syarat utama untuk dilakukan modifikasi dan perbaikan program.

11
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Hak Atas
Kekayaan Intelektual adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang
bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio. Hasil dari pekerjaan rasio
manusia yang menalar. Hasil kerjanya itu berupa benda immaterial, benda
tidak berwujud. Serta Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau
Pemegang Hak Cipta untukmengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya,
yang timbul secara otomatis setelahsuatu ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangundanganyang
berlaku.
Hak Atas Kekayaan Intelektual merupakan sesuatu yang harus di
lindungi, dari banyaknya kasus pelanggaran yang terjadi di indonesia. Untuk
itu diperlukan upaya dari berbagai pihak agar pelanggaran hak cipta dapat di
minimalisir.
Peran pemerintah sangat penting karena pemerintah yang
mengendalikan peraturan tentang pelanggaran hak cipta tersebut, serta di
perlukan juga peran dari masyarakat untuk tidak melakukan pelanggaran
tersebut.

4.2. Saran
Pemerintah diharapkan dapat melakukan sosialisasi kepada
masyarakat mengenai hak kekayaan intelektual sehingga masyarakat dapat
mengerti hukum yang berlaku di Indonesia sekaligus memahami pentingnya
hak kekayaan intelektual setiap individu maupun organisasi. Selain itu
pelaksanaan dan pemberian ganjaran dilakukan dengan lebih tegas dan
pemerintah mempermudah akses pendaftaran HaKI. Masyarakat disarankan
lebih peduli akan tindakan pelanggaran HaKI, baik dari pengawasan akan
adanya usaha yang melanggar HaKI juga mempraktikkan tindakan
menghargai HaKI dengan membeli produk yang asli.

12
DAFTAR PUSTAKA

Kansil, C.S.T dan Christine S.T Kansil. 2004. Kitab Undang Undang HAK
KEKAYAAN INTELEKTUAL (HAKI). Jakarta: Pradnya Paramita.

Maulana, Insan Budi. 1999. Kompilasi Undang-Undang Hak Cipta, Paten, Merek
Dan Terjemahan Konvensi-Konvensi di Bidang Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI). Bandung: Citra Aditya Bakti.

Usman, Rachmadi. 2003. HUKUM HAK Atas KEKAYAAN INTELEKTUAL,


Perlindungan dan Dimensi Hukum di Indonesia. Bandung: Alumni.

Widjaja, Gunawan. 2001. Seri Hukum Bisnis Lisensi. Jakarta: RajaGrafindo


Persada.

13