Anda di halaman 1dari 3

3.

Uji Daya Proteksi Salep


Pengujian Daya Proteksi salep dilakukan untuk mengetahui kemampuan salep untuk
melindungi kulit dari pengaruh luar seperti asam, basa, debu, polusi dan sinar matahari.

Alat:
Kertas saring

Prosedur:
Diambil sepotong kertas saring (10x10 cm). Basahi dengan larutan PP untuk
indikator. Setelah itu kertas dikeringkan
Dioleskan unguentum pada kertas saring satu muka, seperti lazimnya orang
menggunakan unguentum
Disiapkan kertas saring yang lain berukuran (2,5x2,5 cm) dengan pembatas paraffin
padat yang dilelehkan
Ditempelkan kertas saring yang lebih kecil diatas kertas saring yang lebih besar
Diteteskan areal dengan KOH 0,1 N
Diamati timbulnya noda kemerahan pada sebelah kertas yang dibasahi dengan
larutan PP

Persyaratan

Pada pengujian daya proteksi menggunakan KOH 0,1 N yang bersifat basa kuat dimana
mewakili zat yang dapat mempengaruhi efektivitas kerja salep terhadap kulit. KOH 0,1 N
akan bereaksi dengan phenoftalein yang akan membentuk warna merah muda, yang berarti
salep tidak mampu memberikan proteksi terhadap pengaruh luar. Sediaan salep yang baik
seharusnya mampu memberikan proteksi terhadap semua pengaruh luar yang ditandai dengan
tidak munculnya noda merah pada kertas saring yang ditetesi dengan KOH 0,1 N dapat
mempengaruhi efektifitas salep tersebut terhadap kulit.

4. Uji Ph Salep
Pengujian pH sangat penting dilakukan karena akan terjadi kontak langsung dengan kulit sehingga
akan mempengaruhi kondisi kulit. Pengujian pH salep dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman
dan kebasaan sediaan salep terhadap kulit.

Alat :

pH meter
Jumlah sampel:

Sebanyak 0,5 g salep

Prosedur:

Sebanyak 0,5 g salep diencerkan dengan 5 ml aquades, kemudian di cek pH larutannya (Naibaho
dkk., 2013)

Persyaratan

Sediaan salep harus memiliki pH yang sesuai dengan pH kulit yaitu 4- 6,5 (Yosipovitch, 2003) semakin
kecil pH atau semakin asam sediaan semakin mudah mengiritasi kulit sedangkan semakin tinggi nilai
pH dapat menjadikan kulit kering, oleh sebab itu pengujian pH sangat penting dilakukan dalam
pembuatan sediaan topical agar sediaan yang dibuat tidak mengiritasi kulit saat digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

Rahmawati, D., Sukmawati, A. & Indrayudha, P., 2010, Formulasi Krim Minyak Atsiri
Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val & Zijp): Uji Sifat Fisik dan Daya
Antijamur Terhadap Candida albicans Secara In Vitro, Majalah Obat Tradisional,
15 (2), 56-63.

Rahmawati, F.,Yetti. 2012. Uji Kontrol Kualitas Sediaan Salep Getah Pepaya (Carica
papaya) menggunakan Basis Hidrokarbon. Klaten: STIKES Muhammadiyah.

Ulaen, Selfie P.J., Banne, Yos Suatan & Ririn A., 2012, Pembuatan Salep Anti Jerawat dari
Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Jurnal Ilmiah
Farmasi, 3(2), 45-49.

Yosipovitch, G., Ali, SM. 2013. Skin pH: from basic science to basic skin care. Acta Derm
Vanereol, 93(3); 261-267.