Anda di halaman 1dari 3

Operasi Kapal Motor Penumpang Sabuk Nusantara 29 yang melayani transportasi ke pulau terluar

adalah salah satu program kemaritiman untuk memanusiakan manusia pulau-pulau terluar Ucapan ini
disampaikan oleh mantan Menteri Perhubungan, E.E.Mangindaan, pada saat acara penyerahan salah
satu kapal perintis, KM Sabuk Nusantara 29, kepada Pemerintah Daerah Propinsi Papua pada 7 Februari
2012 lalu.

Memanusiakan manusia. Rasanya, Ungkapan ini memiliki makna yang sangat mendalam dan menyentuh
hati. Dalam konteks di atas, ungkapan tersebut memang kerap ditujukan pada pelayanan pemerintah
kepada rakyatnya. Terlebih, ungkapan tersebut merupakan bentuk keprihatinan Bapak Mangindaan
terhadap kondisi transportasi laut yang sering digunakan masyarakat pulau-pulau terluar. Masih sering
ditemukan penumpang berbaur dengan barang muatan, fasilitas kapal yang terbatas, baik itu fasilitas
untuk tidur hingga air bersih.

Sejatinya, konsep "Memanusiakan Manusia" merupakan bagian dari humanisme. Budi Hardiman dalam
bukunya, Humanisme dan Sesudahnya, menjabarkan humanisme sebagai suatu paham yang
menitikberatkan pada kemampuan kodrat dan kehidupan duniawi seorang manusia. Makna tersebut
jika dikembalikan kepada konsep memanusiakan manusia bisa disimpulkan yaitu bagaimana kita
menjadi manusia seutuhnya.

Namun, disini saya bukan ingin membahas bagaimana memanusiakan manusia lainnya, ataupun cara
untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Melainkan bagaimana sebuah perjalanan di atas kapal perintis
dapat memanusiakan manusia seperti yang dikatakan Pak Mangindaan diatas.

----------------------------------------------------------------------

Sabuk Nusantara 57, itulah kapal perintis yang akan menemani kami, 26 orang ekspeditor ENJ ITB 2017,
mengarungi luasnya lautan menuju satu titik kecil dalam peta yang dipenuhi indahnya bebatuan nan
eksotis, Pulau Marabatuan. Tibanya kami diatas Sanus 57 merupakan anugerah yang patut disyukuri,
karena adanya insiden yang hampir membuat kami gagal berangkat. Kami segera meletakkan segala
perlengkapan kami yang cukup banyak di ruang penumpang (tatami) sekaligus ruang tidur, karena sudah
dilengkapi dengan ranjang bertingkat sekaligus kasurnya. Saya bersama beberapa kawan kemudian
menuju geladak untuk menatap jauhnya lautan yang akan kami tempuh. Dari pelabuhan Tanjung Perak,
Surabaya Sanus 57 bertolak, untuk membawa kami dan ratusan penumpang lainnya mengarungi luasnya
laut Jawa. Sang Perwira Angkatan Laut yang berdiri gagah di monument Jalasveva Jayamahe seolah
melepas kepergian kami dengan tatapannya yang tajam, melihat ke arah kami yang larut dalam
kebahagiaan. Tatapannya seolah mengatakan Perjalanan kalian masih panjang, jangan menganggap
remeh gelombang dan badai di lautan.

3 hari 2 malam, itulah lama perjalanan kami hingga tiba di pulau Marabatuan. Sebelum sampai di Pulau
tersebut, Sanus 57 akan singgah di beberapa pulau dahulu, yaitu Pulau Masalembu dan Karamaian, yang
masih bagian dari Jawa Timur serta Pulau Maradapan dan Pulau Matasiri, tetangga dari Marabatuan.
terombang-ambing di atas laut selama itu bukanlah hal yang mudah bagi kami, pemuda-pemudi
tanggung yang minim pengalaman naik kapal perintis seperti ini. Rasa mual akibat guncangan kapal yang
dihantam ombak ditambah tanda silang di pojok layar gawai kami, membuat beberapa di antara kami
mulai berpikir bahwa tidur adalah penawar terbaik dalam kondisi seperti ini
Rasa bosan dan penat serta mual yang tidak bisa diusir hanya dengan tidur, membuat kami akhirnya
bersosialisasi dengan para penumpang lainnya. Selain itu juga, kami memanfaatkan momen seperti ini
untuk lebih mengenal satu sama lain. Maklum, kami dipertemukan sebagai tim ekspeditor yang belum
mengenal satu sama lain selama di kampus. Setelah beberapa jam, kami dipertemukan dengan Capt.
Tri, biasa dipanggil kep, di Ruang kemudi Sanus 57. Beliau merasa bahwa senang bisa bertemu dengan
mahasiswa-mahasiswi seperti kita, dan terbuka dengan kita, entah untuk bertukar ilmu, hingga minta
bantuan apapun itu. Kami juga berkenalan dengan para Anak Buah Kapal (ABK) lainnya. Dengan sifat
mereka yang unik dan cerita-cerita menarik yang kami dapatkan dari pengalaman mereka, membuat
kami tidak merasa sendiri lagi di atas kapal.

Keramah-tamahan yang di balut oleh senyum ketulusan para penumpang kapal juga membuat saya
merasa terenyuh. Sebagai orang yang lama tinggal di perkotaan, hal-hal sederhana ini walaupun remeh,
rasanya sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Maklum, saya yang sudah bertahun-tahun
tinggal di wilayah perkotaan sudah jarang menemui hal-hal seperti ini. Kalaupun ingin memulai
pembicaraan dengan orang asing di angkutan umum, keraguan selalu menghampiri ketika melihat
tatkala orang asing di sekitarku fokus terpaku pada layar gawainya masing-masing. Disini sangat
berbeda, penumpang dengan bangga menceritakan kisah hidup dan tempat tinggalnya kepada kami.
Bahkan beberapa penumpang yang kami baru kenal menawarkan rumahnya untuk disinggahi oleh kami.
Betapa baiknya masyarakat pesisir, kesanku saat itu.

Dari total 12 hari ekspedisi, kami habiskan setengahnya di Pulau Marabatuan. Dengan niat ingin belajar
sebanyak-banyaknya dari masyarakat disana, kami mencoba untuk bercengkrama dengan mereka setiap
harinya. 6 hari tentunya bukan waktu yang lama untuk dapat mempelajari kehidupan masyarakat
Marabatuan, namun kami memaksimalkan hari-hari yang kami jalani. Kami belajar Bahasa mandar dan
bugis, belajar rasanya menjadi nelayan di tengah lautan,belajar mengenai pesta laut yang merupakan
upacara adat setiap pergantian musim untuk memohon berkat kepada para nelayan hingga belajar
merelokasi telur penyu hijau di Pulau Denawan bersama salah satu ahlinya, Mas Busdar.

Walaupun kami termasuk beruntung dapat mengecapi pendidikan di ITB, namun tidak berarti bahwa
ilmu yang kami miliki lebih banyak dari mereka. Justru kami sangat berterimakasih kepada masyarakat
sana yang menerima kami dengan tangan terbuka dan mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan kepada
kami semua. Kami seharusnya lebih banyak bersyukur dan mengurangi kufur, karena faktanya hidup
kami lebih berkecukupan dibanding mereka.

Terkadang miris juga, sebagian dari kita yang berpendidikan merasa sudah memiliki ilmu untuk
mengubah hidup masyarakat terpinggir tanpa mencoba untuk hidup dulu didalamnya. Sejatinya,
kehidupan masyarakat pesisir sudah ideal dan tidak perlu diubah-ubah lagi. Mereka pun hidup bahagia
walaupun serba pas-pasan. Dari mereka juga kami belajar, bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi
petani ataupun nelayan, tidak ada yang salah juga mereka tidak pernah punya cita-cita untuk berkuliah,
bahkan SD pun tidak tamat, namun nyatanya, mereka punya tempat belajarnya sendiri entah itu di
lautan ataupun ladang sawah. Maka dari itulah, pentingnya menjejaki masyarakat-masyarakat seperti ini
adalah banyak nilai kehidupan yang bisa kita ambil. Dan itupun tergantung apakah kita datang dengan
pikiran terbuka atau tidak.

Maka dari itu, berkaitan dengan perkataan bapak Mangindaan diatas. Menurut saya, berlayar dengan
kapal perintis menuju pulau-pulau terluar, merupakan salah satu tahap yang dapat membentuk manusia
menjadi manusia. Termasuk saya sendiri, mengakui bahwa masyarakat sana justru lebih humanis
dibandingkan diri ini yang masih diliputi egoisme dan keangkuhan yang selalu tidak saya sadari.