Anda di halaman 1dari 8

TUGAS TUTORIAL

Teknologi Konservasi Sumberdaya Lahan

Resume Video: Hydraulics Research: Soil Erosion Measurement

Oleh:
Nama : Nadya Awaliah
NIM : 155040201111216
Kelas :K
Asisten : Dimas Assania Akmal

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
Hydraulics Research: Soil Erosion Measurement

Video Soil Erosion Measurement menceritakan kondisi pertanian di Malawi,


Afrika bagian selatan, dimana mata pencaharian penduduk Malawi sebagian besar
mengandalkan hasil dari bertani yang kemudian dibawa ke pasar untuk diperjual
belikan demi memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya. Komoditas yang ditanam
antara lain adalah tanaman hortikultura, jagung, teh dan lain-lain.
Dalam video tersebut membahas tentang masalah yang dihadapi oleh para
petani pada daerah bagian Malawi, Afrika bagian selatan dimana permasalahan utama
pada sektor pertanian adalah erosi terutama pada wilayah lereng gunung. Dapat
dikatakan bahwa tanah di Malawi merupakan tanah subur jika dilihat dari teksturnya
yang gembur. Namun, kurangnya pengetahuan dari petani tentang manajemen
pengolahan lahan membuat lahan lama kelamaan mengalami kerusakan menjadi kering
dan tandus dan kemudian memancing terjadinya erosi. Erosi merupakan peristiwa
pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian- bagian tanah dari suatu tempat ke
tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian bagian tanah
terkikis dan terangkut, kemudian diendapkan ke tempat lain yang lebih rendah. Erosi
tanah merupakan proses alami yang selalu ada dalam perkembangan geomorfologis
suatu wilayah. Namun laju erosi yang melebihi batas erosi diperbolehkan (EDP) akan
menyebabkan penurunan produktivitas lahan bagi tanaman. Peningkatan laju erosi
tersebut dapat disebabkan oleh perubahan karakteristik lingkungan akibat perubahan
penggunaan lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan pertanian dan kawasan
terbangun (Arsyad, 2010). Pengikisan, pengangkutan, dan pemindahan tanah tersebut
dapat dilakukan oleh angin dan air. Pada daerah Malawi erosi yang terjadi disebabkan
oleh air serta peristiwa erosi tersebut menyebabkan penurunan produktivitas lahan
sehingga berpengaruh juga terhadap menurunnya hasil panen pada lahan pertanian.
Erosi yang disebabkan oleh air dapat berupa : a) Erosi Lempeng (Sheet Erosion)
Erosi lempeng yaitu erosi dimana butir-butir tanah diangkut lewat permukaan atas
tanah oleh selapis tipis limpasan permukaan, yang dihasilkan oleh intensitas hujan yang
mengalir diatas permukaan tanah. b) Pembentukan Polongan (Gully) yaitu erosi
lempeng terpusat pada polongan tersebut. Kecepatan airnya jauh lebih besar
dibandingkan dengan kecepatan limpasan pada erosi lempeng. Polongan akan
cenderung akan lebih dalam, yang akan menyebabkan terjadinya longsoran-longsoran.
Longsoran tersebut akan menuju kearah hulu. Ini dinamakan erosi kearah belakang
(backward erosion). c) Longsoran Massa Tanah, Longsoran ini terjadi setelah adanya
curah hujan yang panjang, yang lapisan tanahnya menjadi jenuh oleh air tanah. d) Erosi
Tebing Sungai Tebing mengalami penggerusan air yang dapat menyebabkan
longsornya tebing-tebing pada belokan-belokan sungai (Soemarto, 1995).

Gambar 1. Jenis Erosi Permukaan


(Sumber: http://www.cep.unep.org/) Commented [NA1]: http://www.cep.unep.org/pubs/Tech
Erosi besar terjadi di lereng lahan pertanian, awalnya hujan mengguyur lahan reports/tr41en/Image11.gif

dan membuat erosi percik. Lama kelamaan terbentuk aliran yang membawa agregat
tanah dan kesungai dan mengakibatkan tanah tersebut mengendap menjadi sedimen
pada dasar sungai. Hal tersebut dapat kita lihat bahwa pada video warna air di sungai
menjadi kecoklatan. Tidak hanya di lereng, di hutan yang telah ditebangi juga terdapat
erosi karena tidak adanya tanaman tahunan yang akarnya dapat mencekeram air
sehingga air terus mengalir membawa tanah bagian atas bersamanya. Hal tersebut
menjadi masalah penting yang memicu dilakukkannya penelitian oleh sekelompok
peneliti Hydraulics Research yang bekerja sama dengan peneliti dari daerah Afrika
untuk mengamati erosi yang terjadi pada daerah tersebut. Mereka melakukan
pengamatan sederhana dengan menggunakan secarik kertas, pertama kertas diletakkan
disekitar tanah, kemudian disiram dengan gembong air maka akan terlihat percikan
tanah dikertasnya.
Erosi tidak langsung terjadi begitu saja, melainkan melalui beberapa proses.
Banuwa (2008) berpendapat, bahwa erosi adalah proses kerja fisik yang keseluruhan
prosesnya menggunakan energi. Energi ini digunakan untuk menghancurkan agregat
tanah (detachment), memercikkan partikel tanah (splash), menyebabkan gejolak
(turbulence) pada limpasan permukaan, serta menghanyutkan partikel tanah.

Gambar 2. Proses Erosi (Sumber: http://wiki.ubc.ca)


Erosi tanah (soil erosion) terjadi melalui dua proses yakni proses penghancuran
partikel-partikel tanah (detachment) dan proses pengangkutan (transport) partikel-
partikel tanah yang sudah dihancurkan. Kedua proses ini terjadi akibat hujan (rain) dan
aliran permukaan (run off) yang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain curah
hujan (intensitas, diameter, lama dan jumlah hujan), karakteristik tanah (sifat fisik),
penutupan lahan (land cover), kemiringan lereng, panjang lereng dan sebagainya.
Faktor-faktor tersebut satu sama lain bekerja secara simultan dalam mempengaruhi
erosi. Hujan dengan ukuran butir-butir hujan memiliki energi kinetik dan massanya
dapat memukul agregat tanah sehingga hancur menjadi partikel- partikel tanah; dan
dengan mudah akan dibawa oleh limpasan hujan ke tempattempat yang lebih rendah
(sedimentation). Besar dan kecepatan limpasan hujan sangat tergantung dari
kemiringan tanah dan kapasitas infiltrasi (Nurpilihan, dkk., 2011).
Setelah dilakukan pengamatan terhadap lahan pada daerah tersebut, diketahui
bahwa besarnya ancaman erosi yang dapat terjadi diakibatkan oleh berbagai faktor
diantaranya adalah intensitas dari hujan yang terjadi dengan volume air yang jatuh pada
wilayah tertentu. Selain itu, kelerengan lahan juga memiliki pengaruh terhadap bahaya
erosi. Sebagian besar wilayah Malawi, Afrika bagian selatan memiliki kelerengan yang
curam sehingga hal tersebut menjadi alasan penyebab terjadinya erosi. Berdasarkan
wawancara yang dilakukan kepada narasumber, beliau mengatakan bahwa benar
adanya daerah tersebut memiliki kemiringan lereng yang dapat mempercepat laju erosi.
Morgan (1980) menyatakan bahwa, faktor-faktor yang mempengaruhi erosi antara lain
berupa iklim, tanah, topografi, tanaman atau vegetasi, macam penggunaan lahan,
kegiatan manusia, karakteristik hidrolika sungai, maupun kegiatan gunung berapi.
Selanjutnya Manik (2003), menyatakan bahwa dari faktor-faktor yang
mempengaruhi laju erosi tersebut, faktor yang dapat diubah manusia adalah jenis dan
tipe vegetasi (tumbuhan), sebagian dari sifat tanah (kesuburan tanah, ketahanan
agregat, dan kapasitas infiltrasi), serta panjang lereng. Faktor yang tidak dapat atau
sulit diubah manusia adalah iklim, tipe tanah, dan kecuraman lereng. Erosi tanah
memberikan dampak di dua tempat, yaitu di tempat terjadinya erosi (internal) dan di
luar terjadinya erosi (external). Dampak internal berupa penurunan kesuburan dan
produktivitas lahan, sedangkan dampak eksternal adalah terjadinya pencemaran
perairan dan sedimentasi, yang menyebabkan pendangkalan sungai, waduk, danau atau
pantai.
Dalam video dilakukan percobaan lainnya yaitu percobaan dengan mengamati
dampak internal dari erosi yang terjadi berupa penelitian terhadap sedimentasi yang
terjadi pada sungai disekitarnya dengan cara membatasi sepetak lahan dengan papan
dan mengukur tinggi dari tanah yang berada di petak tersebut dan membedakan
tingginya. Pada percobaan ini, dapat disimpulkan tanah yang terbawa oleh aliran air
cukup banyak sehingga membentuk sedimentasi.
Percobaan kedua dengan alat automatic pump, dimana air yang mengalir
ditampung dalam petak dalam yang dibentuk kolam. Air dari hasil sedimentasi tersebut
dibawa ke lab untuk diteliti lebih lanjut. Sampel endapan tersebut dikeringkan dengan
oven dan ditimbang berat keringnya. Sehingga dapat diketahui seberapa banyak tanah
yang ikut terbawa aliran air.
Percobaan ketiga menggunakan alat juga yang lebih modern, air yang masuk
kedalam alat diiukur setiap hari (terdapat 24 botol yang telah terisi air). Kemudian
botol-botol tersebut dianalisis, warna air pada botol satu sampai dua puluh empat
tentunya berbeda. Semakin besar nomor botol semakin sedikit tanah yang terbawa pula
sehingga warna dari airnya tidak begitu coklat. Setelah itu, endapan dari masing-
masing botol di analisi dilab.
Percobaan diatas dilakukan pada tiga lahan berbeda yaitu fully manage atau
lahan yang sepenuhnya dikelola yaitu lahan budidaya monokultur, un-manage atau
lahan yang tanpa dikelola yaitu hutan, dan partially manage atau lahan yang hanya
dikelola sebagian saja. Didapatkan hasil bahwa pada sampel tanah yang berasal dari un
manage area endapan sedimen tanah hanya sebesar 1% saja. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa pada daerah yang tidak terganggu atau daerah tanpa campur
tangan manusia memiliki potensi erosi yang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan
daerah yang dikelola sepenuhnya oleh manusia.
Dalam mengatasi permasalahan erosi seperti pada daerah Malawi tersebut dapat
dilakukan tindakan pencegahan atau pengendalian yang berupa konservasi tanah.
Konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang
sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan
persyaratan yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sifat fisika, kimia tanah
dan keadaan topografi lapangan menentukan kemampuan untuk suatu penggunaan dan
perlakuan yang diperlukan. Untuk penilaian tanah tersebut dirumuskan dalam sistem
klasifikasi kemampuan lahan yang ditujukan untuk; (1) mencegah kerusakan tanah
oleh erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak dan (3) memelihara serta meningkatkan
produktivitas tanah agar dapat dipergunakan secara lestari. Oleh karena itu, konservasi
tanah tidaklah berarti penundaan penggunaan tanah atau pelarangan penggunaan tanah,
tetapi menyesuaian macam penggunaannya dengan kemampuan tanah dan
memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan, agar dapat
berfungsi secara lestari.
Pengendalian atau pencegahan erosi (tindakan konservasi tanah) berarti
menjaga agar struktur tanah tidak terdispersi, yang dapat dilakukan dengan cara
mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan. Beberapa usaha yang
dilakukan untuk mengendalikan erosi, yaitu; (a) menutup tanah dengan
tumbuhtumbuhan dan tanaman atau sisa-sisa tanaman, agar tanah terlindung dari daya
rusak butir-butir hujan yang jatuh. Butir-butir hujan yang jatuh diusahakan tidak
langsung mengenai tanah sehingga tanah tidak terdispersi. Di samping itu dengan
adanya tanaman penutup tanah (sisasisa tanaman yang dapat menutup tanah), akan
menghindari butiran tanah untuk ikut terbawa aliran permukaan, (b) memperbaiki dan
menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap penghacuran butiran tanah dan terhadap
pengangkutan butir tanah oleh aliran permukaan serta memperbesar daya tanah untuk
menyerap air di permukaan tanah dan (c) mengatur aliran permukaan agar mengalir
dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi
ke dalam tanah (Rusdi, dkk., 2013).
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: Serial Pustaka IPB Press.
Banuwa, I. S. 2008. Pengembangan Alternatif Usahatani Berbasis Kopi Untuk
Pembangunan Pertanian lahan Kering Berkelanjutan Di DAS Sekampung Hulu.
Bogor: Disertasi Sekolah Pascasarjana IPB.
Manik, K.E.S. 2003. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Djambatan,
Jakarta.
Morgan R.P.C. 1985. Soil Erosion and Conservation, Longman Scientific & Teknical.
London.
Nurpilihan, Amaru, Kharistya, Suryadi, dan Edy, 2011. Perhitungan Run off pada
Lahan Curam yang Ditanami Jagung Hibrida DR Unpad, Laporan Penelitian
UNPAD, Bandung.
Rusdi, M. R. Alibasyah, dan A. Karim. 2013. Degradasi Lahan Akibat Erosi Pada Areal
Pertanian Di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. J.
Manajemen Sumberdaya Lahan 2 (3): Hal. 240-249.
Soemarto. 1995. Hidrologi Teknik. Jakarta : Erlangga.