Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...

(Suanro) 15-29

PRO KONTRA KEPUTUSAN PENGESAHAN PENGANGKATAN KEPALA


DAERAH SEBAGAI OBJEK SENGKETA TATA USAHA NEGARA
(Analisis Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor
153/G/2011/PTUN-JKT)

Oleh: Suanro
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai Palangka Raya
e-mail: suanro25@gmail.com

Abstrak: Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 45/PHPU.D-VIII/2010 memenangkan


pasangan calon Ujang Iskandar dan Bambang Purwanto dalam Pilkada Kotawaringin
Barat tahun 2010. Putusan tersebut dieksekusi dengan terbitnya Keputusan Menteri
Dalam Negeri tentang Pengangkatan dan Pengesahan Kepala Daerah Kotawaringin
Barat. Namun keputusan tersebut diuji di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta karena
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan dinyatakan batal. Terkait
dengan persoalan tersebut menarik untuk dikaji mengenai objek sengketa tata usaha
negara yakni keputusan pengesahan pengangkatan kepala daerah yang merupakan tindak
lanjut proses tahapan pemilukada yang telah diperiksa dan diputus Mahkamah
Konstitusi. Secara normatif, Undang-Undang Peradilan Tata Usaha Negara telah
menentukan bahwa Keputusan Tata Usaha Negara yang didasarkan pada Putusan
Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dikecualikan sebagai objek sengketa
Tata Usaha Negara.

Kata Kunci: Putusan Mahkamah Konstitusi, Keputusan Menteri Dalam Negeri,


Objek Sengketa Tata Usaha Negara.

LATAR BELAKANG MASALAH Tanggal 8 Agustus 2011 tentang


pemberhentian pejabat Bupati Kowaringin
Keberadaan putusan Mahkamah Barat dan Pengesahan Pengangkatan
Konstitusi (MK) yang final and binding Bupati Kotawaring Barat Provinsi
terkait pilkada Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah dan Keputusan
Kalimantan Tengah tahun 2010, tidak serta Menteri Dalam Negeri RI Nomor 132.62-
merta persoalan pilkada menjadi selesai. 585 Tahun 2011 tentang Pengesahan
Pelaksanaan putusan itu diuji melalui Pengangkatan Wakil Bupati Kotawaringin
sarana hukum administrasi di pengadilan Barat Provinsi Kalimantan Tengah.
tata usaha negara. Kewenangan pengadilan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta
tata usaha negara ialah memeriksa dan melalui Putusannya Nomor
mengadili sengketa tata usaha negara lahir 153/G/2011/PTUN-JKT yang dibacakan
sebagai akibat dikeluarkannya keputusan dipersidangan yang terbuka untuk umum
tata usaha negara. Keputusan itu adalah pada hari Rabu, tanggal 21 Maret 2012
Keputusan Menteri Dalam Negeri RI No. menyatakan batal :
131.62-584 tahun 2011,

ISSN : 2085-4757 15
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

a. Surat Keputusan Menteri Dalam individual, final dan konkrit merupakan


Negeri RI Nomor : 131.62-584 Tahun suatu pengecualian yang tidak menjadi
2011, tanggal 8 Agustus 2011 tentang objek sengketa tata usaha negara.3
Pemberhentian Pejabat Bupati Pendapat yang tergolong keras dikatakan
Kotawaringin Barat dan Pengesahan Fajar Laksono bahwa Putusan PTUN
Pengangkatan Bupati Kotawaringin tersebut merupakan pembangkangan
Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi.4
b. Surat Keputusan Menteri Dalam Pendapat demikian dapat dipahami karena
Negeri RI Nomor : 132.62-585 Tahun putusan PTUN dan MK seharusnya
2011, tanggal 8 Agustus 2011 tentang senafas dan tidak saling menegasi Pro dan
Pengesahan Pengangkatan Wakil kontra apakah keputusan pengangkatan
Bupati Kotawaringin Barat Provinsi kepala daerah adalah objek yang dapat
KalimantanTengah.1 dipersengketakan di pengadilan tata usaha
negara merupakan hal yang menarik untuk
Diujinya Keputusan Pengangkatan dikaji. Pada satu sisi keputusan tersebut
Kepala Daerah Kotawaringan Barat ialah beschikking yang memenuhi unsur
menimbulkan pro dan kontra. Pro dan yang dipersyaratkan undang-undang,
kontra tersebut mengenai apakah namun disisi yang lain keputusan itu dapat
keputusan pengangkatan dan pengesahan dikategorikan sebagai keputusan yang
kepala daerah merupakan kompetensi dikecualikan sebagai objek sengketa tata
absolut pengadilan tata usaha negara untuk usaha negara.
memeriksan dan memutusnya. Mantan
Hakim MK H.A.S. Natabaya dalam PERMASALAHAN
keterangannya sebagai ahli dalam dari
pihak pelawan dalam perlawanan terhadap Tulisan ini mencoba memberikan
dismissal prosedur Ketua Pengadilan Tata analisis terhadap sengketa tata usaha
Usaha Negara Jakarta yang dimohonkan negara yang diakibatkan dikeluarkannya
oleh Ir. Maliki, mengatakan bahwa keputusan pengesahan pengangkatan
sengketa tersebut bukan sengketa kepala daerah terpilih Kotawaringin Barat
mengenai hasil pemilukada tetapi sengketa Kalimantan Tengah oleh Menteri Dalam
terhadap proses penerbitan KTUN, Negeri sebagai tindaklanjut putusan
sengketa ini mengenai hasil dari Mahkamah Konstitusi Nomor 45/PHPU.D-
Keputusan Menteri Dalam Negeri.2 VIII/2010. Isu hukum yang dikemukakan
Sementara Maruarar Siahaan berpendapat adalah apakah Keputusan Menteri Dalam
sebaliknya, dikatakan bahwa KPU, Negeri a.n Presiden tentang Pengesahan
Presiden dan Menteri Dalam Negeri yang Pengangkatan Kepala Daerah Kota-
mengangkat pasangan calon bupati dan
wakil bupati sebagai KTUN yang 3
Maruarar Siahaan, Implementasi Putusan No
27/PHPU.D-VIII/2010 Mengenai Pemilihan Umum
Kepala Daerah Kabupaten Lamongan, Jurnal
1
Putusan PTUN Jakarta Nomor Konstitusi, Volume 8 Nomor 1, Februari 2011, hlm.
153/G/2011/TUN-JKT tanggal 21 Maret 2012 hlm. 20
4
107-108 Fajar Laksono, Pembangkangan Terhadap
2
Lihat keterangan ahli dalam Perkara Nomor Putusan Mahkamah Konstitusi Analisis Putusan
:09/PLW/2012/PTUN-JKT tanggal 12 April 2012, Nomor 153/G/PTUN-JKT/2012, Jurnal Yudisial,
hlm. 34 Volume 6 No. 3 Desember 2013

ISSN : 2085-4757 16
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

waringin Barat merupakan Objek Sengketa telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan
Tata Usaha Negara? dengan isu yang dihadapi yang telah
mempunyai kekuatan mengikat.8 Ratio
METODE PENELITIAN decidendi putusan pengadilan yang telah
Penelitian ini merupakan penelitian menjadi yurisprudensi digunakan sebagai
hukum normatif yang menekankan pada salah satu sumber hukum untuk
sumber data sekunder. Data sekunder menganalisis pembatalan pengesahan
tersebut berupa bahan hukum primer dan pengangkatan Bupati dan wakil Bupati
bahan hukum sekunder. Bahan hukum Kotawaringin Barat oleh Pengadilan Tata
primer menurut Peter Mahmud Marzuki Usaha Negara Jakarta. Pendekatan
merupakan bahan hukum yang bersifat konseptual dilakukan untuk mengkaji
otoritatif artinya mempunyai otoritas,5 perkembangan doktrin-doktrin hukum
sedangkan Soerjono Soekanto yang berkaitan dengan konsep Keputusan
menyebutnya sebagai bahan hukum yang Tata Usaha Negara dan pengujian tindakan
mengikat.6 Bahan hukum tersebut berupa aparatur pemerintah yang berbentuk
peraturan perundang-undangan baik dari beschikking dalam mengesahkan
tingkatan yang paling tinggi sampai yang pengangkatan jabatan yang bersifat politis.
paling rendah serta putusan peradilan atau
yurisprudensi.
Dalam penelitian hukum terdapat PEMBAHASAN
beberapa pendekatan yaitu pendekatan
undang-undang (statutory approach), Objek Sengketa Tata Usaha Negara.
pendekatan kasus (case approach), Berbicara objek sengketa berkaitan
pendekatan historis (historical approach), dengan kompetensi absolut badan
pendekatan komparatif (comparative peradilan. Tidak berwenangnya pengadilan
approach), dan pendekatan konseptual mengadili sengketa yang diajukan
(conceptual approach)7. Merujuk berakibat ditolaknya gugatan. Berdasarkan
pendekatan-pendekatan tersebut penulis Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5
menggunakan pendekatan undang-undang, Tahun 1986 Jo Pasal 1 angka 10 Undang-
pendekatan kasus dan pendekatan Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang
konseptual. Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Pendekatan perundang-undangan Nomor 5 Tahun 1986 Tentang Peradilan
digunakan untuk menelaah peraturan Tata Usaha Negara (dalam tulisan ini
perundang-undangan yang mengatur disingkat Undang-Undang Peratun),
tentang objek sengketa tata usaha negara Sengketa Tata Usaha Negara adalah
dengan jalan interpretasi. Pendekatan sengketa yang timbul dalam bidang tata
kasus dilakukan dengan cara melakukan usaha negara antara orang atau badan
hukum perdata dengan Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat
5
Peter Mahmud Marzuki, Peneltian Hukum, maupun di daerah, sebagai akibat
Edisi Revisi, (Jakarta : Kencana Prenada Media, dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha
2014), hlm. 133
6
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian
Negara, termasuk sengketa kepegawaian
Hukum (Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia, berdasarkan peraturan perundang-
2010), hlm. 52
7 8
Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit., hlm. 93 Ibid., hlm. 94

ISSN : 2085-4757 17
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

undangan yang berlaku. Mengacu pada Negara dijelaskan mengenai unsur-unsur


ketentuan tersebut, sengketa tata usaha dari KTUN yaitu :
negara muncul akibat adanya keputusan Pertama, istilah penetapan tertulis
tata usaha negara, yang oleh Muchsan terutama menunjuk kepada isi dan bukan
dikatakan bahwa keputusan TUN kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan
merupakan causa prima bagi timbulnya oleh badan atau pejabat tata usaha negara.
sengketa TUN.9 Jadi tanpa adanya keputusan ini memang diharuskan tertulis,
keputusan tata usaha negara maka tidak namun yang diisyaratkan tertulis bukanlah
ada sengketa tata usaha negara. Pasal 1 bentuk formalnya seperti surat keputusan
angka 9 Undang-Undang Peratun pengangkatan dan sebagainya.Penetapan
menyebutkan Keputusan Tata Usaha tertulis itu diharuskan untuk kemudahan
Negara adalah suatu penetapan tertulis segi pembuktian, oleh karena itu sebuah
yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat memo atau nota dapat memenuhi syarat
Tata Usaha Negara yang berisi tindakan tertulis tersebut dan akan merupakan suatu
hukum tata usaha negara yang keputusan badan atau pejabat tata usaha
berdasarkan peraturan perundang- negara menurut undang-undang ini apabila
undangan yang berlaku, yang bersifat :
kongkret, individual, dan final, yang a. Badan atau pejabat tata usaha negara
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang mana yang mengeluarkannya;
atau badan hukum perdata. b. Maksud serta mengenai hal apa isi
Bila melihat pengertian menurut tulisan itu;
undang-undang tersebut, maka dapat c. Kepada siapa tulisan itu ditunjukan dan
ditarik beberapa unsur : apa yang ditetapkan di dalamnya.
a. Bentuk penetapan itu harus tertulis Kedua, yaitu dikeluarkan oleh Badan
b. Dikeluarkan oleh badan atau pejabat atau Pejabat Tata Usaha Negara, Pasal 1
tata usaha negara angka 2 Undang-Undang Peratun
c. Berisi tindakan hukum tata usaha menyatakan badan atau pejabat tata usaha
negara negara adalah badan atau pejabat di pusat
d. Bersadasarkan peraturan perundang- yang melaksanakan urusan pemerintahan
undangan yang berlaku berdasarkan peraturan perundang-
e. Bersifat konkrit, individual, dan final undangan yang berlaku. Menurut
f. Menimbulkan akibat hukum bagi Indroharto, dari rumusan Pasal 1 angka 2
seseorang atau badan hukum perdata. dapat disimpulkan secara singkat, bahwa
yang dimaksud dengan Badan atau Pejabat
Dalam penjelasan Undang-Undang
Tata Usaha negara adalah keseluruhan
Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah
aparat pemerintahan yang berdasarkan
diubah terakhir dengan Undang-Undang
peraturan perundang-undangan yang
No 51 Tahun 2009 tentang Perubahan
berlaku pada suatu saat melaksanakan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5
suatu bidang urusan pemerintahan.10
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha

9
Muchsan, Sistem Pengawasan Terhadap
10
Perbuatan Aparat Pemerintah dan Peradilan Tata Indroharto, Usaha Memahami Undang-
Usaha Negara di Indonesia, Cet-4. (Yogyakarta : Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara :
Liberty, 2007), hlm. 59 Buku I Beberapa Pengertian Dasar Hukum Tata

ISSN : 2085-4757 18
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

Undang-Undang Peratun membaku- melaksanakan fungsi menyelenggarakan


kan namanya dengan sebutan Badan atau urusan pemerintahan yang bersifat
Pejabat TUN. Jadi apa saja dan siapa saja eksekutif, sesungguhnya tidak sama
yang berdasarkan peraturan perundang- dengan pengertian administrasi negara.
undangan yang berlaku pada suatu saat Sebab, pengertian administrasi negara
melaksakan suatu urusan pemerintahan, meliputi keseluruhan pemerintahan,
maka menurut undang-undang perdilan sedangkan pengertian administrasi negara
tata usaha negara dapat dianggap yang melaksanakan fungsi
berkedudukan sebagai badan dan atau menyelenggarakan urusan pemerintahan,
pejabat TUN. Jadi yang menjadi patokan hanya yang bersifat eksekutif saja,
bukanlah kedudukan struktural organ atau karenanya hanya terbatas pada kegiatan
pejabat yang bersangkutan dalam jajaran eksekutif saja, sehingga lebih sempit dari
pemerintahan bukan pula nama resminya, pengertian administrasi (negara).12
malainkan fungsi pemerintahan yang Penjelasan Pasal 1 butir 1 Undang-
dilaksanakan suatu saat. Apabila fungsi Undang Nomor 5 Tahun 1986 menyatakan
yang dilaksanakan itu berdasarkan bahwa yang dimaksud dengan urusan
peraturan perundang-undangan merupakan pemerintahan ialah kegiatan yang bersifat
suatu tugas urusan pemerintahan, maka eksekutif. Terhadap penjelasan tersebut
yang berbuat demikian itu menurut Indroharto memberikan komentar sebagai
undang-undang peradilan tata usaha negara berikut: Penjelasan itu tampak bahwa
dianggap sebagai Badan atau Pejabat TUN. pembuat undang-undang mengunakan
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang istilah yang sejajar dengan pendapat
Nomor 5 Tahun 1986 menyatakan Tata Montesquieu yang membagi kekuasaan
Usaha Negara adalah Administrasi Negara negara dalam kekuasaan legislatif,
yang melaksanakan fungsi untuk eksekutif dan yudikatif. Apabila itu yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan dimaksudkan, maka yang dimaksud
baik di pusat maupun di daerah. Dari sudut pembuat undang-undang dengan kegiatan
ilmu administrasi negara, istilah yang bersifat eksekutif untuk mudahnya
administrasi negara meliputi seluruh dapat dikatakan: semua kegiatan penguasa
kegiatan negara (legislatif, eksekutif dan dalam negara ini yang tidak merupakan
yudisial); sedangkan administrasi dalam kegiatan atau aktivitas pembuatan
hukum administrasi negara hanya meliputi peraturan perundang-undangan (legislatif)
lapangan bestuur (lapangan kegiatan dan bukan pula kegiatan atau aktivitas
negara di luar wetgeving dan rechtpraak).11 mengadili yang dilakukan badan
Terhadap istilah tata usaha negara dan pengadilan. Dengan demikian kegiatan
administrasi negara tersebut S.F Marbun administratif dari sekretariatan Jenderal
mengatakan bahwa : Pengertian tata dari Lembaga-Lembaga tertinggi dan
usaha negara yang dimaksud oleh hukum tinggi negara yang ada (umpama
positif, sebagai administrasi negara pengangkatan dan pemberhentian pegawai
DPRD) tersebut termasuk dalam
Usaha Negara, (Jakarta : Sinar Harapan, 2000), pengertian urusan pemerintahan. Sedang
hlm. 64
11 12
Philipus M Hadjon et al, Pengantar Hukum S.F. Marbun, Peradilan Administrasi Negara
Administrasi Indonesia, (Yogyakarta : Gadjah dan Upaya Administratif di Indonesia, (Yogyakarta
Mada University Press, 2008), hlm. 5 : Liberty, 1997), hlm. 45-46

ISSN : 2085-4757 19
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

kegiatan-kegiatan pokok lembaga tertinggi Kelima menimbulkan akibat hukum


(pengusulan pengangkatan Presiden oleh bagi seseorang atau badan hukum perdata,
MPR) dan tinggi negara seperti artinya perbuatan hukum yang diwujudkan
keikutsertaan pada proses pembentukan dalam pembuatan KTUN oleh Badan atau
undang-undang, pengusulan pengangkatan Pejabat Tata Usaha Negara itu dapat
pejabat negara oleh DPR dan juga menimbulkan hak dan kewajiban bagi
pengusulan pengangkatan Kepala Daerah seseorang atau badan hukum perdata.
oleh DPRD tidak termasuk dalam
pengertian pelaksanaan fungsi Pengecualian Objek Sengketa Tata
13
pemerintahan. Usaha Negara
Ketiga, berdasarkan peraturan Dalam Undang-Undang Peradilan
perundang-undangan yang berlaku artinya Tata Usaha Negara ditentukan
tindakan hukum tata usaha negara yang pengecualian objek sengketa tata usaha
bersumber pada suatu ketentuan hukum negara yang dapat ditemukan dalam Pasal
tata usaha negara yang dapat menimbulkan 2 Undang-Undang Peradilan Tata Usaha
hak dan kewajiban pada orang lain. Negara. Tidak termasuk dalam pengertian
Ketentuan dimaksud adalah peraturan yang Keputusan Tata Usaha Negara menurut
bersifat mengikat secara umum yang undang-undang ini; yaitu :
dikeluarkan oleh DPR bersama-sama a. Keputusan Tata Usaha Negara yang
dengan Pemerintah baik ditingkat pusat merupakan perbuatan hukum perdata;
maupun di tingkat daerah. b. Keputusan Tata Usaha Negara yang
Keempat, bersifat konkrit, idividual merupakan pengaturan yang bersifat
dan final. Konkrit artinya objek yang umum;
diputuskan dalam KTUN itu tidak abstrak, c. Keputusan Tata Usaha Negara yang
tetapi berwujud, tertentu dan dapat masih memerlukan persetujuan;
ditentukan, umpamanya keputusan d. Keputusan Tata Usaha Negara yang
mengenai Rumah si A, izin usaha bagi si dikeluarkan berdasarkan ketentuan
B, Pemberhentian si A sebagai pegawai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
negeri. Bersifat individual artinya KTUN atau Kitab Undang-Undang Hukum
itu tidak ditujukan untuk umum, tetapi Acara Pidana atau peraturan
tertentu baik alamat maupun hal yang perundang-undangan lain yang bersifat
dituju. Kalau yang dituju lebih dari hukum pidana;
seorang, tiap-tiap nama yang terkena e. Keputusan Tata Usaha Negara yang
keputusan itu disebutkan. Umpamanya, dikeluarkan atas dasar hasil
keputusan tentang pembuatan atau pemeriksaan badan peradilan
pelebaran jalan dengan lampiran berdasarkan ketentan peraturan
menyebutkan nama-mana yang terkena perundang-undangan yang berlaku;
keputusan tersebut bersifat final artinya f. Keputusan Tata Usaha Negara
sudah definitif dan karenanya mengenai tata usaha Angkatan
menimbulkan akibat hukum. Bersenjata Republik Indonesia;
g. Keputusan Panitia Pemilihan, baik di
pusat maupun di daerah mengenai hasil
13
pemilihan umum.
Indroharto, Usaha Memahami.. Op.Cit., hlm.
78

ISSN : 2085-4757 20
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

Selain pembatasan yang ditentukan maupun di daerah mengenai hasil


oleh Pasal 2 Undang-Undang Peratun, pemilihan umum.
Pasal 49 menyatakan Pengadilan tidak Berdasarkan ketentuan tersebut,
berwenang memeriksa, memutus, dan maka keputusan penyelenggara
menyelesaikan sengketa tata usaha negara pemilu/pemilukada terkait hasil pemilu
tertentu dalam hal keputusan yang bukan objek sengketa tata usaha negara,
dipersengketakan itu dikeluarkan : artinya tidak dapat digugat di pengadilan
a. Dalam waktu perang, keadaan bahaya, tata usaha negara. Ketentuan tersebut
keadaan bencana alam, atau keadaan ditegaskan Mahkamah Agung dalam surat
luar biasa yang membahayakan, Edaran Nomor 7 Tahun 2010 Tentang
berdasarkan peraturan perundang- Petunjuk Teknis Sengketa Mengenai
undangan yang belaku; Pemilukada menyatakan :
b. Dalam keadaan mendesak untuk Keputusan-Keputusan yang belum
kepentingan umum berdasarkan atau tidak merupakan hasil
peraturan perundang-undangan yang pemiluhan umum dapat
berlaku. digolongkan sebagai keputusan
dibidang urusan pemerintahan, dan
Berdasarkan Undang-Undang PTUN, oleh karenanya sepanjang
dapat disimpulkan bahwa yang menjadi keputusan tersebut memenuhi
objek sengketa Tata Usaha Negara adalah kriteria Pasal 1 butir 3 undang-
KTUN (Pasal 1 angka 3) ditambah dengan Undang Tentang Peradilan Tata
kategori-kategori KTUN yang diatur dalam Usaha Negara, maka tetap menjadi
Pasal 3 dan dikurangi dengan Pasal 2 serta kewenangan pengadilan tata usaha
limitasi Pasal 49 Undang-undang Peratun. negara untuk memeriksa dan
mengadilinya. Hal ini disebabkan
Sengketa Tata Usaha Negara karena keputusan tersebut berada
Pemilukada diluar jangkuan perkecualian
sebagaimana yang dimaksud oleh
Meskipun pada prinsipnya setiap
pasal 2 huruf g undang-undang
Keputusan Tata Usaha Negara dapat
tentang peradilan tata usaha negara.
digugat di Pengadilan Tata Usaha Negara,
Keputusan-keputusan yang berisi
undang-undang telah memberikan batasan
mengenai hasil pemilihan umum
bahwa adanya pengecualian yang diatur
adalah perkecualian yang dimaksud
dalam Pasal 2 Undang-Undang Peratun.
oleh Pasal 2 huruf g Undang-
Dalam konteks pemilukada, keputusan
Undang Peradilan Tata Usaha
KPUD yang dapat digugat di Peradilan
Negara tersebut, sehingga tidak
Tata Usaha Negara hanyalah keputusan
menjadi kewenangan peradilan tata
KPUD diluar keputusan mengenai
usaha negara. Maka berdasarkan
perhitungan hasil suara. Pasal 2 huruf g
pertimbangan tersebut diatas
Undang-Undang Peratun menyatakan:
dipandang perlu untuk menegaskan
Tidak termasuk dalam pengertian
kembali Surat Edaran Mahkamah
keputusan tata usaha negara menurut
Agung Nomor 8 Tahun 2005
undang-undang ini adalah keputusan
tanggal 6 Juni 2005 mengenai
komisi pemilihan umum, baik di pusat
Pemilihan Umum Kepala Daerah

ISSN : 2085-4757 21
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

(Pilkada), agar sesuai dengan sebagai Bupati dan Wakil Bupati


maksud pembentuk undang-undang Kotawaringin Barat merupakan Objek
yang dirumuskan dalam Sengketa Tata Usaha Negara. Terkait hal
perkecualian Pasal 2 huruf g tersebut penulis berpendapat bahwa
tersebut. Keputusan itu bukan kewenangan
Pengadilan Tata Usaha Negara untuk
Surat Edaran tersebut memberikan memeriksa, mengadili dan memutusnya
penjelasan terkait persoalan beschikking dengan alasan sebagai berikut:
yang dijadikan objek sengketa tata usaha
negara. Mengenai hasil pemilu, secara Kompetensi PTUN Berdasarkan
konstitusional Mahkamah Konstitusi Putusan Mahkamah Agung Nomor
berwenang memeriksa dan mengadili 312/K/TUN/2007
perselisihan hasil pemilu. Persoalan lain
akan muncul, apakah keputusan yang Salah satu putusan Mahkamah
dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri Agung yang objeknya Keputusan Menteri
atas nama Presiden berdasarkan hasil Dalam Negeri tentang Pengesahan
pemilihan kepala daerah merupakan objek Pengangkatan Kepala Daerah dan Wakil
sengketa tata usaha negara?. Kepala Daerah adalah Putusan Mahkamah
Salah satu permasalahan yang dapat Agung Nomor 312/K/TUN/200715. Dalam
dikaji lebih jauh mengenai Putusan PTUN sengketa TUN tersebut Pemohon Kasasi
Jakarta Nomor 153/G/2011/PTUN-JKT adalah Endang Setyaningdyah dan Nurul
sebagaimana dikuatkan oleh Putusan Huda, Terbanding Kasasi Adalah Menteri
Mahkamah Agung Nomor 452/K/TUN/ Dalam Negeri Republik Indonesia. Objek
2012 ialah isu hukum yang berkaitan sengketa adalah Surat Keputusan Menteri
dengan objek sengketa tata usaha negara. Dalam Negeri RI. Nomor 131.33-226
Objek sengketa tata usaha negara itu ialah Tahun 2006 tentang Pemberhentian
Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Pejabat Bupati dan Pengesahan
Pengesahan Pengangkatan Ujang Iskandar Pengangkatan Bupati Demak Propinsi
dan Bambang Purwanto sebagai Bupati Jawa Tengah tertanggal 28 April 2006 dan
dan Wakil Bupati Kotawaringin Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri
Kalimantan Tengah. Keputusan tersebut RI. Nomor : 132.33-227 Tahun 2006
merupakan pelaksanaan Putusan tentang Pengesahan Pengangkatan Wakil
Mahkamah Konstitusi No 45/PHPUD-
15
VIII/2010 yang amar putusannya Perkara Tata Usaha Negara Tingkat Kasasi,
Pemohon Kasasi adalah Endang Setyaningdyah dan
menyatakan Ujang Iskandar dan Bambang
Nurul Huda, Terbanding Kasasi Adalah Menteri
Purwanto sebagai Bupati dan wakil Bupati Dalam Negeri. Objek sengketa adalah Surat
terpilih.14 Sesuai dengan permasalahan Keputusan Menteri Dalam Negeri RI. Nomor
hukum yang dikaji yaitu apakah Keputusan 131.33-226 Tahun 2006 tentang Pemberhentian
Menteri Dalam Negeri yang mengesahkan Pejabat Bupati dan Pengesahan Pengangkatan
Bupati Demak Propinsi Jawa Tengah tertanggal 28
Ujang Iskandar dan Bambang Purwanto
April 2006 dan Surat Keputusan Menteri Dalam
Negeri RI. Nomor : 132.33-227 Tahun 2006
14
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor Putusan tentang Pengesahan Pengangkatan Wakil Bupati
Mahkamah Konstitusi dalam Perkara Demak Propinsi Jawa Tengah tertanggal 28 April
Nomor:45/PHPU.D-VIII/2010, tanggal 7 Juli 2010, 2006. Lihat Putusan Mahkamah Agung Nomor :
hlm. 193-194 312/K/TUN/2007, tanggal 26 Februari 2008.

ISSN : 2085-4757 22
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

Bupati Demak Propinsi Jawa Tengah dapat digugat di Peradilan Tata Usaha
tertanggal 28 April 2006. Pada halaman 32 Negara karena keputusan TUN a quo
Putusan Nomor 312/K/TUN/2007 tanggal sangat berkaitan dengan kewenangan
26 Februari 2008, pertimbangan hukum lembaga lain. Selain itu apabila ketentuan
Mahkamah menyatakan bahwa : Pasal 2 huruf g a quo dibatalkan justru
Menimbang, bahwa terlepas dari akan menimbulkan ketidakpastian hukum
pertimbangan tersebut di atas karena terjadi dualisme kewenangan
menurut pendapat Mahkamah Agung lembaga dalam menyelesaikan perselisihan
putusan Judex Factie harus hasil pemilu, yaitu Peradilan Tata Usaha
diperbaiki mengenai pertimbangan Negara dan Mahkamah Konstitusi.17
hukumnya dengan pertimbangan Pembahasan terkait Surat Keputusan
sebagai berikut : Pengesahan Ujang Iskandar dan Bambang
Bahwa Pemilihan Bupati dan Wakili Purwanto sebagai Bupati dan Wakil Bupati
Bupati Demak tersebut adalah definitif oleh Menteri Dalam Negeri tidak
menyangkut masalah Politik sebagai dapat dipisahkan dari kententuan Pasal 2
tindak lanjut dari Keputusan Komisi huruf g Undang-Undang Peradilan Tata
Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Usaha Negara dan Putusan Mahkamah
Demak, yang oleh karenanya Konsitusi Nomor 116/PUU-X/2012.
Keputusan Tergugat/Menteri Dalam Artinya ada hubungan antara putusan
Negeri tersebut bukan merupakan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap
wewenang Pengadilan Tata Usaha dengan keputusan tata usaha negara,
Negara, untuk memeriksa, memutus dimana dapat dipahami bahwa adanya
dan mengadilinya.16 putusan MK merupakan proses hukum
Ratio decidendi Putusan Mahkamah yang telah final, sementara itu Keputusan
Agung tersebut sudah tepat, dengan Tata Usaha Negara (Keputusan Menteri
demikian maka keputusan tata usaha Dalam Negeri) adalah perwujudan dari
negara yang bersifat politik dikecualikan pelaksanaan putusan pengadilan, dimana
sebagai objek sengketa tata usaha negara. sifat dari Keputusan Tata Usaha Negara
tersebut hanya bersifat deklaratoir saja,
Kompetensi PTUN Menurut Putusan artinya mengukuhkan apa yang telah
Mahkamah Konstitusi Nomor 116/PUU- konstitusif ditentukan oleh proses politik
X/2012 (Pilkada). Hal ini dikatakan oleh Maruarar
Pasal 2 huruf g Undang-Undang Siahaan yang menyatakan:
Peradilan Tata Usaha Negara membatasi Jika Surat Keputusan Presiden/
objek sengketa tata usaha negara. Mendagri demikian memiliki fungsi
Mahkamah Konstitusi melalui putusanya konstitutif dalam menentukan
Nomor 116/PUU-X/2012, intinya kedudukan Kepala Daerah, maka
menyatakan bahwa ketentuan Pasal 2 yang menetapkan seseorang menjadi
Huruf g Undang-Undang Nomor 5 Tahun kepala daerah bukan pemilihan
1986 sangat diperlukan supaya tidak secara demokratis, melainkan
semua keputusan yang dikeluarkan oleh pengangkatan oleh Presiden atau
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
17
Lihat Pertimbangan Hukum Hakim pada
paragraf [3.14.1 dan 3.14.2] Putusan Mahkamah
16
Ibid., hlm. 32 Konstitusi Nomor 116/PUU-X/2012, hlm. 14-15

ISSN : 2085-4757 23
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

Mendagri. KPU, Mendagri dan pasal 2 tersebut berarti membatasi


Presiden hanya bertugas pengertian penetapan tertulis yang
mengukuhkan atau mengesahkan akibatnya juga mempersempit ruang
secara administratif dalam bentuk lingkup kompetensi Peradilan Tata
yang sifatnya deklaratoir.18 Usaha Negara.20

Para tergugat baik tergugat I Pengecualian Menurut Pasal 2 Huruf e


(Menteri Dalam Negeri) maupun tergugat Undang-Undang Peradilan Tata Usaha
II Intervensi (Ujang Iskandar dan Negara
Bambang Purwanto) mendalilkan bahwa
Keputusan Menteri tentang Pengesahan Pasal 2 huruf e Undang-Undang
Pengangkatan Bupati dan Wakil Bupati Peratun menyatakan tidak termasuk
adalah didasari ketentuan Pasal 2 huruf e Keputusan Tata Usaha Negara menurut
dan g Undang-Undang Nomor 5 Tahun undang-undang ini ialah Keputusan Tata
1986 sebagaimana diubah terakhir dengan Usaha Negara yang dikeluarkan atas dasar
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 hasil pemeriksaan badan peradilan
tentang Perubahan Kedua Atas Undang- berdasarkan ketentan peraturan perundang-
Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang undangan yang berlaku. Berdasarkan
Peradilan Tata Usaha Negara.19 Tergugat ketentun tersebut maka dapat dijelaskan
menguatkan argumentasinya dengan apakah Keputusan Pengesahan
mengutip pendapat Indroharto yang Pengangkatan Kepala Daerah yang telah
mengatakan: melalui proses hukum di Mahkamah
Kalau Pasal 49 yang ditentukan Konstitusi dapat menjadi objek sengketa
sebagai macam KTUN yang Tata Usaha Negara. Terkait dengan
dikeluarkan dalam keadaan yang dibatalkannya Keputusan Pengesahan
ditentukan dalam pasal itu tidak Pengangkatan Ujang Iskandar dan
dapat diperiksa dan diputus oleh Bambang Purwanto sebagai Bupati dan
Peratun, maka sejumlah Keputusan Wakil Bupati Kotawaringin Barat, maka
TUN (tujuh buah) yang ditentukan perlu mencermati pertimbangan hukum
dalam pasal undang-undang ini oleh Majelis Hakim PTUN Jakarta yang
undang-undang sendiri dianggap menyatakan bahwa :
tidak termasuk dalam pengertian Surat Keputusan Objek sengketa a
KTUN. Oleh karena itu, ketentuan quo merupakan penetapan tertulis
yang dikeluarkan oleh Menteri
Dalam Negeri selaku Pejabat Tata
18
Maruarar Siahaan, Impementasi Putusan No: Usaha Negara yang bersifat konkrit,
27/PHPU.D-VIII/2010.... Op. Cit, hlm. 20
19
Pasal 2 huruf e UU Peratun menentukan, tidak
individual dan final karena berisi
termasuk dalam pengertian KTUN menurut Pengesahan Bupati dan Wakil Bupati
Undang-Undang ini, adalah KTUN yang Kotawaringin Barat yang ditujukan
dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan badan kepada tergugat II Intervensi dan
peradilan berdasarkan ketentuan peraturan telah menimbulkan akibat hukum
perundang-undangan yang berlaku. Huruf g,
Keputusan Panitia Pemilihan, baik dipusat maupun
bagi para penggugat, serta tanpa
di daerah mengenai hasil pemilihan umum. Lihat
20
Eksepsi Tergugat Intervensi dalam Perkara Nomor Indroharto, Usaha Memahami (Buku I),
153/G/2011/PTUN-JKT,...Op.Cit., hlm. 57 Op.Cit., hlm. 188

ISSN : 2085-4757 24
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

dimintakan persetujuan lagi dari Perdata yang telah memperoleh


pihak lain sehingga memenuhi Pasal kekuatan hukum tetap, yang
1 ayat (9) Undang-Undang Nomor menjelaskan bahwa tanah sengketa
51 Tahun 2009 tentang Perubahan tersebut merupakan tanah negara dan
Kedua atas Undang-undang Nomor 5 tidak berstatus tanah warisan yang
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata diperebutkan oleh para pihak.
Usaha Negara; 2) Keputusan serupa angka 1, tetapi
Menimbang, bahwa meskipun surat didasarkan atas amar putusan
keputusan objek sengketa diterbitkan Pengadilan Perdata yang telah
setelah ada Putusan Mahkamah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Konstitusi akan tetapi keputusan 3) Keputusan pemecatan seorang notaris
objek sengketa a quo yang oleh Menteri Kehakiman. Setelah
mengeluarkan adalah Menteri menerima usul Ketua Pengadilan
Dalam Negeri yang mendasarkan Negeri atas dasar kewenangannya
Putusan Mahkamah Konstitusi dan menurut Pasal 54 Undang-Undang
Surat KPU Provinsi, oleh karenanya Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan
bukan termasuk KTUN yang Umum.
dikecualikan sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan Pasal 2 huruf e Bila mencermati contoh yang dimuat
Undang-Undang tentang Peradilan dalam penjelasan Undang-Undang Peratun
Tata Usaha Negara, dengan demikian maka dapat dimengerti bahwa Putusan MK
eksepsi tersebut tidak beralasan yang dilaksanakan oleh Menteri Dalam
hukum dan harus ditolak.21 Negeri berdasarkan Penetapan oleh KPU
Dari pertimbangan hukum Majelis Provinsi Kalimantan Tengah bukan objek
Hakim di atas, menurut penulis ada dua hal sengketa Tata Usaha Negara. Keputusan
yang perlu diperhatikan yaitu: Pertama, Tata Usaha Negara yang didasarkan
pertimbangan hakim menyatakan bahwa putusan pengadilan yang berkekuatan
meskipun SK yang menjadi objek sengketa hukum tetap (inkracht van gewijsde)
terbit setelah adanya Putusan MK, tetapi dikecualikan sebagai objek sengketa Tata
yang menerbitkan adalah Menteri Dalam Usaha Negara, pengecualian yang
Negeri. Nampak bahwa Majelis Hakim demikian itu dapat dipahami dengan
keliru memaknai Pasal 2 huruf e Undang- penafsiran hukum guna memahami
Undang Peradilan Tata Usaha Negara. original intent dengan jalan penafsiran
Penjelasan Undang-Undang Peratun historis undang-undang22 terhadap Pasal 2
menyatakan : huruf e Undang-Undang Peradilan Tata
KTUN yang dimaksud pada huruf ini Usaha Negara. Dinamika lahirnya Pasal 2
umpamanya huruf e tersebut dapat dimengerti dari
1) Keputusan Direktur Jenderal Agraria keterangan Pemerintah dalam jawabannya
yang mengeluarkan sertifikat tanah atas terhadap pandangan umum fraksi-fraksi di
nama seseorang yang didasarkan atas DPR tentang Peradilan Tata Usaha Negara
pertimbangan Putusan Pengadilan
22
Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum
21
Lihat Perimbangan Hakim dalam Perkara Sebuah Pengantar, (Yogyakarta : Universitas
Nomor : 153/G/2011/PTUN-JKT, Op. Cit., hlm. 95 Atmajaya Yogyakarta, 2010), hlm. 79

ISSN : 2085-4757 25
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

pada tanggal 20 Mei 1986 yang harus menjalankan putusan lembaga


mengatakan : yudikatif dalam rangka check and
Mengenai persoalan tentang balances.
keputusan pejabat atau badan tata
usaha negara yang dikeluarkan atas Kompetensi PTUN Menurut Surat
dasar hasil pemeriksaan badan Edaran Mahkamah Agung Nomor 07
peradilan berdasarkan ketentuan Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis
peraturan perundang-undangan Sengketa Mengenai Pemilihan Umum
digolongkan sebagai bukan Kepala Daerah
keputusan sehingga tidak dapat
menimbulkan sengketa tata usaha Surat Edaran Mahkamah Agung
negara, misalnya tindakan notaris (SEMA) Nomor 07 Tahun 2010
atau seorang pengacara, pemerintah memberikan batasan tentang objek
berpendapat bahwa hal itu sengketa di Peradilan Tata Usaha Negara.
didasarkan pada ratio bahwa SEMA tersebut dapat dikatakan sebagai
sesungguhnya keputusan yang tafsir MA terhadap ketentuan Pasal 2 huruf
dikeluarkan oleh badan atau pejabat g Undang-Undang tentang Peradilan Tata
tata usaha negara tersebut adalah Usaha Negara. Adapun isi dari SEMA
tidak lain bersifat melaksanakan tersebut dipetik sebagai berikut:
rekomendasi Mahkamah Agung. Dalam hal ini perlu dibedakan
sehingga adalah wajar apabila dengan tegas antara dua jenis kelompok
keputusan yang bersifat sedemikian keputusan, yaitu keputusan-keputusan
itu jangan lagi dapat digugat di yang berkaitan dengan tahap persiapan
depan badan peradilan.23 penyelenggaraan PILKADA, dan di lain
Berdasarkan historis Pasal 2 huruf e pihak keputusan-keputusan yang berisi
di atas, Keputusan Menteri Dalam Negeri mengenai hasil pemilihan umum.
dalam rangka menindaklanjuti putusan MK Di dalam kenyataan pelaksanaan
tidak dapat menjadi objek sengketa di penyelenggaraan pilkada di lapangan,
Peradilan Tata Usaha Negara. sebelum meningkat pada tahap
Kedua, Pemerintah diperhadapkan pemungutan suara dan penghitungan suara
pada dua opsi, apakah meneruskan usulan (pencoblosan atau pencontrengan), telah
DPRD atas nama para Pengugat (Sugianto dilakukan berbagai pentahapan, misalnya
dan Eko Soemarno) yang telah tahap pendaftaran pemilih, tahap
didiskualifikasi MK, atau melaksanakan pencalonan peserta, tahap masa kampanye,
Putusan MK. Pertanyaannya yang mesti dan sebagainya. Pada tahap-tahap tersebut
dijawab oleh Majelis Hakim adalah, sudah ada keputusan-keputusan yang
apakah salah pihak eksekutif diterbitkan oleh Pejabat Tata Usaha
melaksanakan putusan pengadilan Negara (beschikking), yaitu keputusan
(yudikatif) yang berkekuatan hukum tetap Komisi Pemilihan Umum di tingkat Pusat
(putusan MK). Bukankah eksekutif juga dan Daerah.
Keputusan-keputusan tersebut yang
23
S.F Marbun, Op.Cit. hlm. 185. Jawaban
belum atau tidak merupakan "hasil
pemerintah terhadap pemandangan umum fraksi- pemilihan umum" dapat digolongkan
fraksi di DPR atas Rancangan Undang-Undang sebagai keputusan di bidang urusan
Peradilan Tata Usaha Negara, tanggal 20 Mei 1986.

ISSN : 2085-4757 26
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

pemerintahan, dan oleh karenanya Konsekuensinya keputusan tersebut tidak


sepanjang keputusan tersebut memenuhi menjadi kompetensi peradilan tata usaha
kriteria Pasal 1 butir 3 Undang-Undang negara.
tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Mengenai prosedur pengesahan
maka tetap menjadi kewenangan pengangkatan seorang kepala daerah yang
Pengadilan Tata Usaha Negara untuk terkadang sarat dengan kepentingan politik
memeriksa dan mengadilinya. Hal ini dan jika tidak terpenuhi menjadikan
disebabkan karena keputusan tersebut Keputusan Pengangkatannya menjadi
berada di luar jangkauan perkecualian objek Sengketa Tata Usaha Negara yang
sebagaimana yang dimaksud oleh Pasal 2 kemudian dibatalkan.Usul DPRD
huruf g Undang-Undang tentang Peradilan mengenai pengangkatan pengesahan
Tata Usaha Negara. kepala daerah dan wakil kepala daerah
Keputusan-keputusan yang berisi terpilih, menurut Indroharto bukan
mengenai hasil pemilihan umum adalah keputusan di bidang urusan
24
perkecualian yang dimaksud oleh Pasal 2 pemerintahan. Sehingga keputusan
huruf g Undang-Undang tentang Peradilan Presiden atau Menteri Dalam Negeri
Tata Usaha Negara tersebut, sehingga tidak sebagai tindaklanjut dari keputusan KPU
menjadi kewenangan Peradilan Tata Usaha mengenai penetapan calon terpilih dalam
Negara. pemilukada yang diusulkan oleh DPRD
Maka berdasarkan pertimbangan bukan pula sebagai keputusan di bidang
tersebut di atas dipandang perlu untuk urusan pemerintahan.
menegaskan kembali Surat Edaran Selain itu, dengan penafsiran historis
Mahkamah Agung Nomor 8 Tahun 2005 menurut undang-undang25 dapat dipahami
tanggal 6 Juni 2005 mengenai Pemilihan dari sejarah dibentuknya Undang-Undang
Umum Kepala Daerah (PILKADA), agar Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan
sesuai dengan maksud pembentuk Undang- Tata Usaha Negara. Pasal 2 huruf g yang
Undang yang dirumuskan dalam sebelumnya dalam RUU Peradilan Tata
perkecualian Pasal 2 huruf g tersebut di Usaha Negara terdapat dalam Pasal 2 huruf
atas. f, Fraksi PDI meminta agar Pemerintah
Berdasarkan Surat Edaran memberikan keterangan lebih lanjut
Mahkamah Agung tersebut di atas, mengenai Pasal 2 huruf f yaitu tentang
keputusan yang belum merupakan hasil keputusan panitia pemilihan umum
pemilu dapat digolongkan sebagai Indonesia di pusat maupun di daerah
keputusan dibidang urusan pemerintahan mengenai hasil pemilihan umum tidak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 butir masuk dalam pengertian keputusan badan
(3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 atau pejabat tata usaha negara. Dalam
jo Pasal 1 angka (9) Undang-Undang keterangannya Pemerintah memberikan
Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan keterangan sebagai berikut:
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 Alasan pokok bagi pemerintah untuk
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha tidak memasukannya ke dalam pengertian
Negara, sehingga dapat dipahami bahwa
keputusan yang merupakan keputusan 24
Indroharto, Usaha Memahami Op.Cit., hlm.
hasil pemilu bukan merupakan 78
25
keputusan di bidang urusan pemerintahan. Sudikno Mertokusumo, Penemuan
Hukum,Op.Cit., hlm 79

ISSN : 2085-4757 27
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

Keputusan Badan atau Pejabat Tata Usaha kepala daerah. Karena merupakan
Negara, adalah karena komposisi dari konsensus rakyat maka tidaklah digugat di
Penitian Pemilihan Indonesia terdiri dari PTUN terlebih lagi dengan adanya
unsur-unsur parpol, golkar, dan unsur- Mahkamah Konstitusi yang putusannya
unsur pemerintah, sehingga apabila hasil final dan mengikat. Selain itu, Surat
Pemilu itu sudah disahkan oleh Panitia Edaran Mahkamah Agung No. 7 Tahun
Pemilihan Indonesia dalam suatu 2010 tentang Petunjuk Teknis Sengketa
Keputusan maka berarti hal tersebut sudah Mengenai Pemilihan Umum Kepala
merupakan konsensus bersama yang tidak Daerah menentukan bahwa mengenai
dapat digugat lagi. hasil pemilu bukan merupakan
Selain daripada itu, alasan lainnya kompetensi absolut Pengadilan Tata Usaha
adalah bahwa putusan Panitia Pemilihan Negara.
Indonesia pada hakekatnya menyangkut
kepentingan nasional, sehingga tentunya KESIMPULAN
harus diutamakan. Pertanyaan hampir Bahwa Keputusan Pengesahan
serupa juga diajukan oleh Fraksi Persatuan Pengangkatan Bupati dan Wakil Bupati
Pembangunan tentang bagaimana Kotawaringin Barat bukanlah Objek
penyelesaian terhadap kemungkinan Sengketa Tata Usaha Negara menurut
terjadinya penyimpangan terhadap Undang-Undang Peradilan Tata Usaha
peraturan-peraturan pemilihan umum. Negara, sehingga gugatan yang diajukan
Menurut pendapat kami, materi yang oleh pihak penggugat semestinya ditolak.
dipertanyakan oleh Fraksi Persatuan
Pembangunan tersebut sudah ada SARAN
pengaturannya dalam undang-undang Suatu hal yang pernting ialah
Pemilihan Umum beserta peraturan mencegah terjadinya perbedaan putusan
pelaksanaannya terutama mengenai antara lembaga peradilan TUN dan MK,
ketentuan-ketentuan pidananya. Mahkamah Agung dan MK dapat
Perlu kami tambahkan bahwa melakukan komunikasi untuk memberikan
masalah pemilihan umum yang dimaksud penjelasan kepada hakim di lingkungan
dalam Pasal 2 huruf f, adalah sekedar peradilan tata usaha negara untuk benar-
mengenai hasil Pemilihan Umum itu, benar memahami objek Sengketa Tata
bukan mengenai pelaksanaan atau Usaha Negara yang dilatarbelakangi
penyelenggaraanya.26 adanya putusan Mahkamah Konstitusi.
Mengacu pada original intent dari Dengan demikian nantinya diharapkan
Pasal 2 huruf g Undang-Undang Peratun tidak ada lagi inkonsistensi dan
dapat dipahami dalam konteks kekinian disharmonisasi putusan antar lembaga
masih relevan bahwa hasil pemilu peradilan.
merupakan konsensus rakyat yang telah
menentukan pilihannya dalam pemilihan DAFTAR RUJUKAN

26
S.F Marbun, Op.Cit, hlm. 187-188, Jawaban Indroharto. 2000. Usaha Memahami
Pemerintah terhadap pandangan umum fraksi-fraksi Undang-Undang Peradilan Tata
di Dewan Perwakilan Rakyat atas Rancangan Usaha Negara,(Buku I) Beberapa
Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Pengertian Dasar Hukum Tata
Negara, Jakarta, 20 Mei 1986.

ISSN : 2085-4757 28
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Pro Kontra Keputusan...(Suanro) 15-29

Usaha Negara. Jakarta : Pustaka Jurnal Konstitusi, Volume 8 Nomor


Sinar Harapan 1, Februari 2011.

Muchsan. 2007. Sistem Pengawasan Peraturan Perundang-Undangan


Terhadap Perbuatan Aparat 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
Pemerintah dan Peradilan Tata tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Usaha Negara. Edisi Pertama, Cet- (LN RI Tahun 1986 Nomor 77, TLN
4. Yogyakarta : Liberty RI Nomor 3344)
2. Undang-Undang Nomor 51 Tahun
Philipus M Hadjon, et al. 2008. Pengantar 2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Hukum Administrasi Indonesia, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
Cetakan Kesepuluh. Yogyakarta : tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Gadjah Mada University Press (LN RI Tahun 2009 Nomor 160, TLN
RI Nomor 5079)
Peter Mahmud Marzuki. 2014. Peneltian 3. Surat Edaran Mahkamah Agung
Hukum. Edisi Revisi. Jakarta : Republik Indonesia Nomor 7 Tahun
Kencana Prenada Media 2010 tentang Petunjuk Teknis
Sengketa Mengenai Pemilihan Umum
S.F. Marbun. 1997. Peradilan Administrasi Kepala Daerah.
Negara dan Upaya Administratif di
Indonesia. Cetakan Pertama. Putusan Pengadilan
Yogyakarta : Liberty Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
45/PHPU.D-VIII/2010 tanggal 7 Juli 2010
Sudikno Mertokusumo. 2010. Penemuan
Hukum Sebuah Pengantar. Cet Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
Kelima. Yogyakarta : Universitas 116/PUU-X/2012, tanggal 5 Februari 2013
Atmajaya Yogyakarta
Putusan Mahkamah Agung Nomor
Soerjono Soekanto. 2010. Pengantar 452/K/TUN/2012, tanggal 22 Januari 2013
Penelitian Hukum. Jakarta :
Penerbit Universitas Indonesia Putusan Mahkamah Agung Nomor
312/K/TUN/2007, tanggal 26 Februari
Jurnal 2008
Fajar Laksono, Pembangkangan Terhadap
Putusan Mahkamah Konstitusi : Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara
Analisis Putusan Nomor Jakarta Nomor 09/PLW/2012/PTUN-JKT
153/G/PTUN-JKT/2012, Jurnal 12 April 2012
Yudisial, Volume 6 No. 3
Desember 2013 Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara
Maruarar Siahaan, Implementasi Putusan Jakarta Nomor 153/G/2011/PTUN-JKT
No 27/PHPU.D-VIII/2010 Meng- tanggal 21 Maret 2012
enai Pemilihan Umum Kepala
Daerah Kabupaten Lamongan,

ISSN : 2085-4757 29