Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Hukum Jual Beli...

(Thea Farina) 52-57

HUKUM JUAL BELI MELALUI INTERNET (E-COMMERCE) DITINJAU DARI


ASPEK HUKUM PERDATA

Oleh: Thea Farina


Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya
e-mail: thea_farina@yahoo.co.id

Abstrak: Melakukan kesepakatan jual beli melalui internet dalam hal aspek hukum
perdata, pada saat ini E - Commerce menpunyai nilai yang cukup mudah dalam hal jual
beli dansangat seringdigunakan oleh masyarakat pada umumnya.Tetapi tidak ada aturan
hukum yang mengatur E - Commerce secara pasti.Penelitianhukum ini menggunakan
metode normatif berfokus pada hukum positif yang berlaku. Hasil daripenelitian hukum
ini sehingga terpenuhi kebutuhan pasal 1320 KUHPerdata di validitasdari E -Commerce
dan sengketa resolusi dalam E - Commerce. E Commerce dapat dikategorikan dalam
wanprestasi apabila salah satu tidak memnuhi kewajiban dalam perjanjian jual beli yang
telah disepakati.

Kata Kunci: Jual Beli Online, Hukum Perdata

PENDAHULUAN para pihaknya yang menggunakan media


internet termasuk ke dalam transaksi
Seiring dengan perkembangan ilmu elektronik. Transaksi elektronik dalam
pengetahuan dan teknologi yang semakin dunia bisnis terdapat berbagai macam
pesat, maka perdagangan yang pada bentuknya diantaranya adalah electronic
awalnya dilakukan secara bertemu commerce atau biasa disebut dengan
langsung dan bertatap muka antar para e-commerce maupun e-com. Electronic
pihaknya juga mengalami perubahan. commerce yang selanjutnya dalam
Perkembangan teknologi tersebut penulisan ini disebut dengan e-commerce
diantaranya adalah dengan ditemukannya dapat diartikan secara gramatikal sebagai
internet yaitu teknologi yang perdagangan elektronik maksud dari
memungkinkan kita melakukan pertukaran perdagangan elektronik ini adalah
informasi dengan siapapun dan dimanapun perdagangan yang dilakukan secara
orang tersebut berada tanpa dibatasi oleh elektronik dengan menggunkan internet
ruang dan waktu.Selain itu internet juga sebagai sebagai medianya. Selain itu
dapat diartikan sebagai hubungan antar e-commerce juga dapat diartikan sebagai
berbagai jenis komputer dan jaringan di suatu cara berbelanja atau berdagang
dunia yang berbeda sistem operasi maupun secara online atau direct selling yang
aplikasinya dimana hubungan tersebut memanfaatkan fasilitas internet dimana
memanfaatkan kemajuan media terdapat website yang dapat menyediakan
komunikasi (telepon dan satelit). layanan get and deliver.
Proses transaksi yang dilakukan Transaksi Electronic commerce
dalam dunia bisnis tanpa adanya adalah transaksi dagang antara penjual dan
pertemuan antar pembeli dalam rangka penyediaan barang

ISSN : 2085-4757 52
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Hukum Jual Beli...(Thea Farina) 52-57

atu jasa termasuk melelangkan barang atau menggunakan media elektronik yang ada
jasa, dan atau mengalihkan hak dengan hanya form atau blanko klausul perjanjian
menggunakan media elektronik computer yang dibuat salah satu pihak yang ditulis
maupun internet. Sementara itu Kalakota dan ditampilkan dalam media elektronik
dan Wiston mendefinisikan e-commerce (halaman web), kemudian pihak yang lain
dari berbagai perspektif yaitu 1) dari cukup menekan tombol yang disediakan
perspektif komonikasi, e-commerce adalah untuk setuju mengikatkan diri terhadap
pengiriman informasi, produk atau jasa, perjanjian tersebut. Hal ini tentu saja
atu pembayaran melalui jaringan telepon, menimbulkan berbagai macam persoalan
atau jalur komunikasi lainnya; 2) dari di dalam perjanjian secara elektronik
perspektif proses bisnis, e-commerce mengenai sah tidaknya perjanjian tersebut.
adalah aplikasi teknologi menuju
otomatisasi transaksi bisnis dan work flow; METODE PENELITIAN
3) dari perspektif pelayanan, e-commerce
adalah alat yang digunakan untuk Jenis penelitian yang digunakan
mengurangi biaya dalam pemesanan dan adalah penelitian hukum doktrinal/
pengiriman barang; 4) dari perspektif normatif atau penelitian hukum
online, e-commerce menyediakan kepustakaan, yaitu penelitian hukum yang
kemampuan untuk menjual dan membeli dilakukan dengan cara meneliti bahan
produk dan jasa informasi melalui internet pustaka atau data sekunder yang terdiri
dan jasa online lainnya. dari bahan hukum primer, bahan hukum
Menurut Subekti (2001), suatu sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan-
perjanjian dianggap sah apabila memenuhi bahantersebut disusun secara sistematis,
syarat subyektif dan syarat obyektif. dikaji, kemudian ditarik suatu kesimpulan
Pemenuhan atas syarat tersebut berakibat dalam hubungannya dengan masalah yang
pada perjanjian yang telah dibuat menjadi diteliti. Hal ini sesuai dengan pandangan
sah.Perjanjian juga mengikat bagi para Soerjono Soekanto (2001:13), bahwa
pihak mengenai hak dan kewajibannya, penelitian hukum yang dilakukan dengan
sehingga pemenuhan syarat sahnya suatu cara meneliti bahan pustaka atau data
perjanjian mutlak untuk dipenuhi.Hal ini sekunder belaka, dapat dinamakan
kelak apabila dikemudian hari terjadi suatu penelitian hukum normatif atau penelitian
permasalahan atau sengketa maka hukum kepustakaan. Penelitian hukum
penyelesaiannya dapat didasarkan pada normatif atau kepustakaan tersebut
perjanjian yang telah disepakati. mencakup.
Perjanjian dalam e-commerce
dengan perjanjian biasa tidaklah berbeda PEMBAHASAN
sangat jauh, yang membedakan hanya pada
bentuk dan berlakunya.Media dalam Berbicara mengenai transaksi jual
perjanjian biasa yang digunakan adalah beli secara elektronik, tidak terlepas dari
tinta dan kertas serta dibuat berdasarkan konsep perjanjian secara mendasar
kesepakatan para pihak. Setelah dibuat dan sebagaimana termuat dalam Pasal 1313
disepakati maka perjanjian tersebut KUH Perdata yang menegaskan bahwa
mengikat setelah ditandatangani, perjanjian adalahsuatu perbuatan dengan
sedangkan dalam ecommerce perjanjian mana satu orang atau lebih mengikatkan

ISSN : 2085-4757 53
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Hukum Jual Beli...(Thea Farina) 52-57

dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Jika dikaitkan dengan proses
Ketentuan yang mengatur tentang terjadinya kontrak e-commerce menurut
perjanjian terdapat dalam Buku III Santiago Cavanilas dan A. Martines Nadal
KUHPerdata, yang memiliki sifat terbuka yang dikutip Ridwan Khairandy (Ridwan
artinya ketentuan-ketentuannya dapat Khairandy, 2001: 49) maka kesepakatan
dikesampingkan, sehingga hanya berfungsi para pihak dapat terjadi melalui cara:
mengatur saja. 1. Kontrak melalui chatting dan video
E-commerce sebagai dampak dari conference
perkembangan teknologi memberikan 2. Kontrak melalui e-mail
implikasi pada berbagai sektor, implikasi 3. Kontrak melalui website
tersebut salah satunya berdampak pada
sektor hukum, pengaturan mengenai Kontrak dalam perdagangan melalui
masalah ecommerce di Indonesia belum internet (e-commerce) belum diatur di
ada aturan yang secara khusus mengatur dalam Buku III KUHPerdata, pengaturan
mengenai masalah tersebut.Pengaturan terhadap kontrak dalam ecommerce dapat
mengenai e-commerce masih digunakan aturan yang berlaku secara
menggunakan aturan dalam Buku III umum.Kontrak dalam e-commerce
KUHPerdata khususnya pengaturan mengikat dan berlaku bagi para pihaknya
mengenai masalah perjanjian yang terjadi ketika kontrak tersebut disepakati oleh
dalam e-commerce. Perjanjian dalam e- kedua belah pihak, hal ini terjadi
commerce terjadi antara kedua belah pihak dikarenakan adanya sifat terbuka dari
yang mana salah satu pihak berjanji kepada Buku III KUHPerdata. Meskipun ada salah
pihak yang lain untuk melakukan sesuatu. satu syarat sahnya perjanjian yang tidak
Hal ini sesuai dengan Pasal 1313 terpenuhi yaitu mengenai syarat kecakapan
KUHPerdata, yang mana disebutkan: para pihak perjanjian atau kontrak yang
Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dibuat oleh merchant dan customer tetap
dengan mana satu orang atau lebih berlaku dan mengikat serta menjadi
mengikatkan dirinya terhadap satu orang undang-undang bagi merchant dan
atau lebih. customer karena syarat kecakapan
Perjanjian atau kontrak yang terjadi termasuk dalam syarat subyektif dimana
dalam e-commerce terjadi karena adanya suatu syarat meskipun tidak terpenuhi
kesepakatan, apabila dikaitkan dengan dalam perjanjian tidak menyebabakan
teori dalam perjanjian yang diungkapkan perjanjian atau kontrak menjadi tidak sah,
oleh Munir Fuady (1999), maka untuk namun perjanjian atau kontrak tersebut
menentukan kapan suatu kesepakatan dapat dimintakan pembatalan. Selain itu
kehendak terjadi dapat digunakan sebagai kontrak dalam e-commerce juga telah
suatu patokan untuk menentukan memenuhi asas-asas dalam perjanjian
keterikatan seseorang pada perjanjian sehingga dengan adanya pemenuhan
tertutup sehingga perjanjian dianggap telah terhadap syarat sahnya perjanjian menurut
mulai berlaku, teori tersebut yaitu: KUHPerdata dan asas-asas perjanjian
1. Teori Penawaran dan Penerimaan maka Kontrak dalam e-commerce adalah
(offer and acceptance) sah dan dapat dikenakan aturan
2. Teori Pernyataan (verklarings theorie) KUHPerdata sebagai pengaturnya.
3. Teori Konfirmasi

ISSN : 2085-4757 54
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Hukum Jual Beli...(Thea Farina) 52-57

Syarat perjanjian yang tertera dalam perusahaan penyediaan jasa pengriman


pasal. 1320 KUH Perdata hanya bisa (packaging), dan jasa pembayaran (bank).
berlaku untuk transaksi konvensional. Biasanya disetiap bagian pekerjaan
Padahal tidak demikian halnya, (penawaran, pembayaran, pengiriman)
perkembangan teknologi adalah satu dari masing-masing pihak membagi tanggung
sebuah realitas teknologi. Realitas jawab sesuai dengan kompetensi masing-
teknologi hanya berperan untuk membuat masing. Pada proses penawaran dan proses
hubungan hukum konvensional bisa persetujuan jenis barang yang dibeli maka
berlangsung efektif dan efisien. transaksi antara penjual (seller) dengan
Gambarannya adalah sebagai pembeli (buyer) selesai. Penjual menerima
berikut, dalam transaksi jual beli tetap saja persetujuan jenis barang yang dipilih dan
dikenal proses pembayaran dan pembeli menerima konfirmasi bahwa
penyerahan barang. Apakah dalam e- pesanan atau pilihan barang telah diketahui
commerce tidak ada pembayaran dan oleh penjual.
peneyerahan barang, saya pikir tetap saja Bisa dikatakan bahwa transaksi
ada. Dari situ disimpulkan bahwa, dengan antara penjual dengan pembeli dalam
adanya internet atau e-commerce hanyalah tahapan persetujuan barang telah selesai
membuat jual beli atau hubungan hukum sebagian sambil menunggu barang tiba
yang terjadi menjadi lebih singkat, mudah, atau diantar ke alamat pembeli. Karena
dan sederhana. Secara hukum, tidak ada biasanya Bank baru akan mengabulkan
perubahan konsepsi dalam suatu transaksi permohonan dari pembeli setelah penjual
yang berlangsung. menerima konfirmasi dari Bank yang
Kemudian, kapan suatu perjanjian ditunjuk oleh penjual dalam transaksi e-
dalam transaksi e-commerce tersebut ber- commerce tersebut. Setelah penjual
langsung tentunya sangat berkaitan erat menerima konfirmasi bahwa pembeli telah
dengan siapa saja suatu transaksi tersebut membayar harga barang yang dipesan,
dilakukan. Dalam transaksi biasa, selanjutnya penjual akan melanjutkan atau
perjanjian berakhir ketika masing-masing mengirimkan konfirmasi kepada
pihak melakukan kewajibannya masing- perusahaan jasa pengiriman untuk
masing. mengirimkan barang yang dipesan ke
Sebenarnya tidak berbeda dengan alamat pembeli. Setelah semua proses
transaksi yang berlangsung secara on line. terlewati, dimana ada proses penawaran,
Namun memang tidak sesederhana jika pembayaran, dan penyerahan barang maka
dibandingkan dengan transaksi perjanjian tersebut dikatakan selesai
konvensional. Dalam transaksi on line, seluruhnya atau perjanjian tersebut telah
tanggung jawab (kewajiban) atau berakhir. Pihak yang terkait langsung
perjanjian tadi dibagi kepada beberapa dalam transaksi paling tidak ada empat
pihak yang terlibat dalam jual beli tersebut. pihak yang terlibat, diatas telah disebutkan
Paling tidak ada tiga pihak yang terlibat antara lain; penjual, pembeli, penyedia jasa
dalam transaksi on line baik B2B (business pembayaran, penyedia jasa pengirima
to business) dan B2C (business to
cumsomer), antara lain perusahaan Perkembangan e-commerce tidak
penyedia barang (seller), kemudian dapat dilepaskan dengan adanya faktor
pendorong dan penghambat, dengan

ISSN : 2085-4757 55
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Hukum Jual Beli...(Thea Farina) 52-57

adanya faktor pendorong yang ada dalam Di dalam setiap pekerjaan selalu ada
e-commerce lebih banyak karena 2 (dua) macam subyek hukum, yang
kemudahan-kemudahan yang diberikan masing-masing subyek hukum mempunyai
dalam e-commerce dari pada proses hak dan kewajiban secara timbal balik
perdagangan biasa. Meskipun terdapat dalam pelaksanaan perjanjian yang
kemudahan-kemudahan yang diberikan e- dibuatnya. Apabila salah satu subyek tidak
commerceternyata juga terdapat suatu melaksanakan apa yang semestinya
faktor yang menghambat atas pelaksanaan dilakukan sesuai dengan dalam perjanjian
ecommerce yang ternyata memberikan maka perbuatan tersebut dikatakan
permasalahan terhadap pelaksanaan e- wanprestasi. Wanprestasi memiliki empat
commerce itu sendiri.Faktor penghambat macam, yaitu : (a) tidak melakukan apa
tersebut mengenai masalah keaslian data, yang disanggupi akan dilakukan, (b)
keabsahan (validity), kerahasiaan melaksanakan apa yang di janjikan tetapi
(confidentiality/privacy), keberadaan terlambat, (c) melaksanakan apa yang
barang (availability), pembuktian dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana
kecakapan para pihak serta masalah dijanjikan, (d) melakukan sesuatu yang
yurisdiksi. menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
Permasalahan dalam pelaksanaan e- Dari kebanyakan kasus yang ada
commerce sebenarnya dapat diatasi dengan wanprestasi dilakukan oleh pelaku usaha
menggunakan bantuan teknologi, misalnya telat mengirimkan barang, salah
diantaranya kriptograpi dan digital dalam mengirim produk barang yang
signature yang berguna untuk memberikan dipesan, barang yang dibeli tidak sesuai
jaminan keaslian data, kerahasiaan data, dengan keterangan informasi yang
serta keabsahan data serta penggunaan ditampilkan atau bisa juga pelaku usaha
SSL (Secure Socket Layer) pada browser yang dengan sengaja berniat tidak
engine guna memberikan keamanan memenuhi kewajibannyaUpaya konsumen
terhadap tindakan penyadapan data dalam untuk menuntut ganti rugi dapat dilakukan
proses transaksi elektronik. Kerjasama melalui cara :
anatara merchant dengan bank dan 1. Litigasi, sesuai dengan Pasal 38
penerbit rekening dan kartu kredit guna Undang-Undang ITE yang
menjamin kebenaran data yang menjelaskan para pihak dapat
disampaikan khususnya mengenai menggugat apabila dalam
kecakapan. Itikad baik dari merchant dan penyelenggaraan transaksi elektronik
menggunakan software yang telah teruji merugikan pihak lain. Dengan
untuk selalu melakukan update informasi diakuinya alat bukti elektronik sebagai
yang disampaikan guna memberikan alat bukti yang sah di pengadilan
informasi yang benar mengenai sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5
keberadaan barang. Penerapan teori the ayat 1,2 dan 3 Undang-Undang ITE,
most characteristic connection untuk maka alat-alat bukti yang dapat
menentukan pilihan hukum yang akan digunakan oleh konsumen di
digunakan jika terjadi, dimana hukum yang pengadilan adalah bukti transfer atau
digunakan adalah hukum pemberi prestsi bukti pembayaran, SMS atau pesan
terbanyak. dari media social yang menyatakan
kesepakatan melakukan pembelian,

ISSN : 2085-4757 56
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 11, No 1, April 2016 Hukum Jual Beli...(Thea Farina) 52-57

nama , alamat, nomor telp dan nomor Penyelesaian sengketa yang terjadi dalam
rekening pelaku usaha. perjanjian jual beli online apabila ada
pihak yang dirugikan yaitu dapat meminta
Non Litigasi, dalam pasal 39 ayat (2) ganti rugi atas wanprestasi, karena
Undang-Undang ITE yang menjelaskan wanprestasi tersebut telah merugikan pihak
bahwa selain penyelesaian gugatan lain. Ganti rugi atas wanprestasi tersebut
perdata, para pihak dapat menyelesaikan dapat berupa pemenuhan perjanjian,
sengketa melalui arbitrase, atau lembaga pemenuhan perjanjian serta ganti rugi,
lainnya. Penyelesaian sengketa melalui ganti rugi biasa, pembatalan perjanjian
jalur non litigasi dapat ditempuh melalui disertai ganti rugi. Apabila dalam
Lembaga Swadaya Masyarakat, Direktorat perjanjian jual beli online tahap yang dapat
Perlindungan Konsumen Disperindag, diambil antara lain : melalui Litigasi
Badan penyelesaian sengketa Konsumen menurut Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang
(BPSK) dan pelaku usaha sendiri secara ITE dan melalui non Litigasi menurut
kekeluargaan. Masing-masing badan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang ITE.
hukum ini memiliki pendekatan yang
berbeda-beda dalam menyelesaikan DAFTAR RUJUKAN
perkara yang ada.
Buku III KUHPerdata
KESIMPULAN
Munir Fuady. 1999, Hukum Kontrak Dari
Keabsahan perjanjian jual beli Sudut Hukum Bisnis. Bandung: PT
melalui internet harus memiliki keabsahan Citra Aditya Bakti
yang sama dengan perjanjian konvensional
sepanjang dapat dibuktikan dan memenuhi Subekti. 2001. Pokok-Pokok Hukum
ketentuan dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Perdata. Jakarta: Intermasa
Dasar keabsahan terjadi apabila keduanya
sama-sama sepakat dan adanya kata Soerjono Soekanto. 2001, Pengantar
kesepakatan antara pembeli dan penjual Penelitian Hukum.Jakarta : Universitas
dalam berkomunikasi mengenai penawaran Indonesia (UI Press)
barang dan pemilihan barang yang
diinginkan serta keduanya telah http://www.balinter.net/news_184_Pengert
menyetujui bahwa adanya kesepakatan. ian_Ecommerce_dan_Teknologi_In
Keabsahan sendiri terjadi pada saat proses formasihtml
pembayaran dalam perjanjian di mana
pembayaran tersebut dapat dibayarkan
secara langsung ataupun dibayarkan secara
bertahap dari harga yang disepakati.
Perjanjian jual beli melalui internet juga
harus memenuhi syarat-syarat sah nya
suatu perjanjian seperti yang terdapat
dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang dapat
dibuktikan dan juga tidak boleh.

ISSN : 2085-4757 57