Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pariwisata menurut Warta Demografi dalam Hudiyati (2002: 2) adalah sebagian dari aktifitas
mobilitas penduduk dunia, yaitu perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, bersifat sementara,
dilakukan perorangan atau kelompok sebagai usaha mencari keseimbangan dan kebahagiaan
dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Pariwisata merupakan
salah satu kegiatan manusia yang cukup penting. Hal ini dikarenakan tujuan khusus dari masing-
masing jenis wisata bermaksud untuk membuat suatu perasaan senang dan puas dari orang yang
menjalani dan cenderung berbeda dari rutinitas yang dilakukan sehari-hari. Sektor ini semakin
diperhitungkan karena permintaannya semakin melonjak, terutama pada era globalisasi seperti
saat ini.
Pariwisata merupakan salah satu sumber devisa negara selain dari sektor migas yang sangat
potensial dan mempunyai andil besar dalam membangun perekonomian yang saat ini
pertumbuhannya masih sangat lambat. Sektor pariwisata di Indonesia masih dapat dikembangkan
lebih maksimal lagi. Pengembangan sektor pariwisata yang dilakukan dengan baik akan mampu
menarik wisatawan domestik maupun wisatawan asing untuk datang dan membelanjakan
uangnya dalam kegiatan berwisata. Tujuan wisata dunia yang ada di Indonesia salah satunya
adalah Bali. Bali merupakan daerah tujuan wisata yang memiliki keanekaragaman budaya dan
keindahan alam. Selain Bali, banyak wisatawan yang berkunjung ke Lombok sebagai daerah
tujuan wisata dengan hanya transit di Bali untuk menuju ke Lombok.
Lombok merupakan pulau di kepulauan Nusa Tenggara yang dipisahkan oleh Selat Lombok
dari Bali di sebelah Barat dan Selat Alas di sebelah Timur dari Sumbawa. Pulau ini mempunyai
luas 4,725 km2. Dengan segala potensi keindahan alam, keramahtamahan penduduk, kesenian
serta kebudayaan yang dimiliki. Lombok dapat diandalkan sebagai sumber peningkatan
pendapatan dari sektor pariwisata yang sebagian besar berupa objek wisata bahari. Salah satu
daerah pariwisata bahari di Lombok berupa pulau-pulau kecil. Gili Air, Gili Meno dan Gili
Trawangan merupakan kelompok dari tiga buah pulau kecil di Lombok Barat bagian utara.
Letak Gili Trawangan sangat strategis di kawasan tropis dengan suhu udara rata-rata 24
sampai 29. Alat transportasi yang diperbolehkan untuk digunakan di Pulau Gili Trawangan

1
yaitu dengan konsep green transportation. Green transportation ini memanfaatkan transportasi
lokal yang ramah lingkungan yaitu transportasi cidomo dan penyewaan sepeda kayuh. Dalam
memenuhi keinginan wisatawan untuk berkunjung dan menuju ke Gili Trawangan telah tersedia
dermaga penyeberangan untuk masyarakat dengan berbagai macam speed boat. Semakin mudah
dicapai suatu daya tarik wisata maka akan semakin berpeluang untuk dikembangkan.
Untuk membuat destinasi wisata yang unggul sebelum destinasi diperkenalkan dan dijual,
terlebih dahulu harus mengkaji 4 aspek utama (4A) yang harus dimiliki, yaitu attraction,
accessibility, amenity dan ancilliary. Salah satu komponen penting dalam kegiatan pariwisata
adalah aksesibilitas atau kelancaran masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya dalam jarak
dekat, menengah ataupun jauh. Meliputi transportasi akses dari ataupun menuju kawasan wisata,
transportasi internal yang menghubungkan atraksi utama kawasan wisata dan kawasan
pembangunan, termasuk semua jenis fasilitas dan pelayanan yang berhubungan dengan
transportasi darat, air,dan udara. Berdasarkan hal tersebut, pokok yang menjadi bahan penelitian
adalah peran aksesibilitas dalam kepariwisataan di Gili Trawangan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas yang di kemukakan diatas, maka yang menjadi pokok
permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana kondisi aksesibilitas di Gili Trawangan?
2. Bagaimana persepsi wisatawan terhadap aksesibilitas di Gili Trawangan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana kondisi aksesibilitas di Gili Trawangan.
2. Untuk mengetahui bagaimana persepsi wisatawan terhadap aksesibilitas di Gili
Trawangan.
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Akademis

Manfaat akademis yang diharapkan adalah bahwa hasil penelitian dapat dijadikan
rujukan bagi upaya pengembangan ilmu pemerintah, dan berguna juga untuk menjadi
referensi bagi mahasiswa yang melakukan kajian terhadap penelitian.

2
1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis yang diharapkan adalah bahwa seluruh tahapan penelitian serta hasil
penelitian yang diperoleh dapat memperluas wawasan dan sekaligus memperoleh
pengetahuan empirik mengenai penerapan fungsi ilmu yang diperoleh saat penelitian.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Aksesibilitas


Aksesibilitas berasal dari kata accessibility merupakan bahasa inggris yaitu hal yang
dapat masuk atau hal yang mudah dijangkau (Kencanawati, 1998:4). Aksesibilitas dapat
diartikan pula sebagai kemudahan atau keterjangkauan terhadap suatu objek yang ada di
permukaan bumi. Terkait dengan lokasi maka salah satu faktor yang menentukan apakah
suatu lokasi menarik untuk dikunjungi atau tidak adalah tingkat aksesibilitas. Tingkat
aksesibilitas adalah tingkat kemudahan untuk mencapai suatu lokasi ditinjau dari lokasi lain
di sekitarnya. Tingkat aksesibilitas dipengaruhi oleh jarak, kondisi prasarana perhubungan
seperti kondisi jalan dan lebar jalan, ketersediaan berbagai sarana penghubung termasuk
frekuensinya dan tingkat keamanan serta kenyamanan untuk melalui jalur tersebut. Jika suatu
tempat atau wilayah memiliki kondisi jalan yang baik, bisa dilalui oleh berbagai jenis
kendaraan, banyak terdapat alat transportasi untuk menuju ke lokasi tersebut kapan saja siang
ataupun malam, dengan tingkat keamanan dan kenyamanan yang tinggi, tidak terdapat titik
kemacetan dan lain sebagainya, maka aksesibiliats menuju lokasi tersebut cukup baik.
Aksesibilitas didefinisikan suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara
lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan mudah atau susahnya lokasi tersebut
dicapai melalui sistem jaringan transportasi (Black, 1981). Setiap lokasi geografis yang
berbeda memiliki tingkat aksesibilitas yang berbeda hal ini disebabkan perbedaan kegiatan
dari masing-masing tata guna lahan. Untuk meningkatkan aksesibilitas dapat dilakukan
dengan memperbaiki sistem transportasi seperti pelebaran jalan, pembuatan jalan baru,
peningkatan layanan angkutan umum. Peningkatan aksesibilitas tidak menjamin peningkatan
mobilitas penduduk dalam memanfaatkan jaringan jalan yang ada.
2.1.1 Aksesibilitas Berdasarkan Tujuan dan Kelompok Sosial
Aksesibilitas menyediakan ukuran kinerja antara tata guna lahan dengan sistem
transportasi. Penghuni perumahan lebih tertarik dengan aksesibilitas menuju tempat kerja,
sekolah, toko, pelayanan kesehatan dan tempat rekreasi. Pedagang lebih memperhatikan
aksesibilitas menuju konsumen sedangkan para pemilik industri bergantung dengan

4
aksesibilitas ke pasar tenaga kerja dan penyedia bahan baku transportasi (J. Black, Urban
Transport Planning, 1981).
Kelompok populasi yang berbeda pada saat yang berbeda akan tertarik pada
aksesibilitas ke tempat pekerjaan, pendidikan, belanja, pelayanan kesehatan dan fasilitas
rekreasi. Pedagang akan lebih tertarik pada aksesibilitas untuk pelanggan, sedangkan industri
lebih tertarik pada aksesibilitas untuk tenaga kerja dan bahan mentah (Ofyar Z. Tamin,
Perencanaan & Pemodelan Transportasi, 2000).
2.1.2 Indikator Aksesibilitas
Indikator aksesibilitas secara sederhana dapat dinyatakan dengan jarak. Jika suatu
tempat berdekatan dengan tempat lainnya, dikatakan aksesibilitas antara kedua tempat
tersebut tinggi. Sebaliknya jika berjauhan aksesibilitas antara keduanya rendah. Selain jarak
dan waktu, biaya juga merupakan beberapa indikator aksesibilitas. Apabila antar kedua
tempat memiliki waktu tempuh yang pendek maka dapat dikatakan kedua tempat itu
memiliki aksesibilitas yang tinggi. Biaya juga dapat menunjukkan tingkat aksesibilitas. Biaya
disini dapat merupakan biaya gabungan yang menggabungkan waktu dan biaya sebagai
ukuran untuk hubungan transportasi (Ofyar Z. Tamin, Perencanaan & Pemodelan
Transportasi, 2000).
Aksesibilitas menjadi kunci penting terhadap kebijakan tata guna lahan dimana tata
guna lahan yang memiliki aksesibilitas tinggi akan mempunyai nilai lahan yang lebih baik.
Fakta ini telah menjadikan pendorong utama bagaimana suatu daerah perkotaan
dikembangkan dan berpengaruh langsung terhadap kebijakan tentang tata guna lahan saat ini
(John Edward Jr, Transportation Planning Handbook, 1992).
Kebijakan tata ruang sangat erat kaitannya dengan kebijakan transportasi. Ruang
merupakan kegiatan yang ditempatkan di atas lahan kota, sedangkan transportasi
merupakan sistem jaringan yang secara fisik menghubungkan suatu ruang kegiatan dengan
ruang kegiatan lainnya. Antara ruang kegiatan dan transportasi terjadi hubungan yang disebut
siklus penggunaan ruang transportasi. Bila akses transportasi kesuatu ruang kegiatan
diperbaiki, ruang kegiatan tersebut menjadi lebih menarik, dan biasanya menjadi lebih
berkembang. Dengan perkembangan ruang tersebut, meningkat pula kebutuhan akan
transportasi. Peningkatan ini kemudian menyebabkan kelebihan beban pada transportasi,

5
yang harus ditanggulangi, dan siklus akan terulang kembali bila aksesibilitas diperbaiki
(Ofyar Z. Tamin, Perencanaan & Pemodelan Transportasi, 2000).
2.1.3 Konsep Pariwisata
Konsep dan definisi tentang pariwisata, wisatawan serta klasifikasinya perlu
ditetapkan dikarenakan sifatnya yang dinamis. Dalam kepariwisataan, menurut Leiper dalam
Cooper et.al (1998:5) terdapat tiga elemen utama yang menjadikan kegiatan tersebut bisa
terjadi. Kegiatan wisata terdiri atas beberapa komponen utama :
1. Wisatawan
Wisatawan (tourist) adalah sebagai objek dalam kegiatan pariwisata. Wisatawan
disebut sebagai objek karena kegiatan pariwisata tidak bisa terlepas dari pelayanan terhadap
wisatawan atau orang sebagai objek pelayanan. The tourist is the actor in this system
(Cooper, et al, 1993:3). Maksudnya adalah bahwa wisatawan merupakan yang menjadi
perhatian oleh siapa pun yang terlibat dalam kegiatan pariwisata. Dari pendapat Cooper
tersebut dapat dikatakan bahwa tidak selamanya wisatawan diperlakukan sebagai obyek,
tetapi terkadang bisa saja sebagai subyek dalam pelayanan pariwisata. Definisi mengenai
wisatawan juga ditegaskan oleh IUOTO (International Union of Official Travel
Organization) dalam Pitana (2005: 43), pengertian wisatawan ini hanya berlaku untuk
wisatawan internasional, tetapi secara analogis dapat juga berlaku untuk wisatawan domestik.
Selanjutnya wisatawan dibedakan atas dua bagian, yakni:
1. Wisatawan (tourist), yaitu mereka yang mengunjungi suatu daerah lebih dari 24
jam.
2. Pelancong atau pengunjung (excursionists), yaitu mereka yang tinggal di tujuan
wisata kurang dari 24 jam.
Dari sisi yang lain, Inskeep (1991) mengidentifikasikan karakteristik wisatawan yang
berkunjung ke suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW) dimana mempengaruhi tingkat kunjungan
wisatawan ditentukan oleh beberapa hal, antara lain; asal negara wisatawan, tujuan dari pada
kunjungannya, lama tinggal, umur, jenis kelamin dan jumlah keluarga yang ikut berkunjung,
pekerjaan dan tingkat penghasilan, jumlah kunjungan, individu atau kelompok, jumlah uang
yang dihabiskan selama kunjungan serta perilaku dari kepuasan wisatawan itu sendiri.
2. Elemen geografi
Pergerakan wisatawan berlangsung pada tiga area geografi, yaitu :

6
a. Daerah Asal Wisatawan (DAW)
Daerah tempat asal wisatawan berada, tempat ketika is melakukan aktivitias
keseharian, seperti bekerja, belajar, tidur dan kebutuhan dasar lain. Rutinitas itu sebagai
pendorong untuk memotivasi seseorang berwisata. Dari DAW, seseorang dapat mencari
informasi tentang obyek dan days tarik wisata yang diminati, membuat pemesanan dan
berangkat menuju daerah tujuan.
b. Daerah Transit (DT)
Tidak seluruh wisatawan harus berhenti di daerah itu. Namun, seluruh wisatawan
pasti akan melalui daerah tersebut sehingga peranan DT pun penting. Seringkali terjadi,
perjalanan wisata berakhir di daerah transit, bukan di daerah tujuan. Hal inilah yang
membuat negara-negara seperti Singapura dan Hong Kong berupaya menjadikan
daerahnya multifungsi, yakni sebagai Daerah Transit dan Daerah Tujuan Wista.
c. Daerah Tujuan Wisata (DTW)
Menurut Cooper dkk (1995: 81) mengemukakan bahwa terdapat 4 (empat) komponen
yang harus dimiliki oleh sebuah objek wisata, yaitu:
1. Atraksi (Attraction), seperti alam yang menarik, kebudayaan daerah yang
menawan dan seni pertunjukan.
2. Aksesibitas (accessibilities) seperti transportasi lokal dan adanya terminal.
3. Amenitas atau fasilitas (amenities) seperti tersedianya akomodasi, rumah makan,
dan agen perjalanan.
4. Ancillary services yaitu organisasi kepariwisataan yang dibutuhkan untuk
pelayanan wisata seperti destination marketing management organization,
conventional and visitor bureau.
Undang-undang No. 10 Tahun 2009 menguraikan objek dan daya tarik wisata
sebagai segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Objek dan daya tarik wisata yang
dimaksud adalah:
1. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan
nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan
manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
2. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Distinasi Pariwisata adalah
kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang

7
didalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata,
asesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya
kepariwisataan.
Pasal 4 UU no.10 Tahun 2009 juga menguraikan beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pembangunan kepariwisataan bertujuan untuk :
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi
2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat
3. Menghapus kemiskinan
4. Mengatasi penganguran
5. Melestarikan alam, lingkungan, dan sumberdaya
6. Memajukan kebudayaan
7. Mengangkat citra bangsa
8. Memupuk rasa cinta tanah air
9. Memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa
10. Mempererat persahabatan antar bangsa.
3. Industri pariwisata
Elemen ketiga dalam sistem pariwisata adalah industri pariwisata. Industri yang
menyediakan jasa, daya tank, dan sarana wisata. Industri yang merupakan unit-unit usaha
atau bisnis di dalam kepariwisataan dan tersebar di ketiga area geografi tersebut. Sebagai
contoh, biro perjalanan wisata bisa ditemukan di daerah asal wisatawan, Penerbangan bisa
ditemukan balk di daerah asal wisatawan maupun di daerah transit, dan akomodasi bisa
ditemukan di daerah tujuan wisata.

2.1.4 Faktor Pendukung Pariwisata


Dewasa ini diharapkan sektor pariwisata dapat berkembang dengan baik dan optimal,
sudah barang tentu perlu didukung oleh berbagai faktor atau komponen yang secara langsung
maupun tidak berkaitan dengan aktivitas kepariwisataan. Misalnya, kondisi objek wisata,
fasilitas-fasilitas sosial di objek wisata, kemudahan transportasi untuk pencapaian ke objek
wisata, keamanan dan ketertiban di objek wisata, dan kebijakan pemerintah yang berhubungan
dengan sektor pariwisata.

8
Objek wisata yang baik adalah berbagai objek wisata yang menarik dan memiliki, serta
didukung oleh fasilitas-fasilitas sosial yang dibutuhkan pada objek wisata antara lain sebagai
berikut.
1. Penginapan yang memadai serta terjangkau oleh berbagai lapisan rnasyarakat dengan latar
belakang sosial ekonomi yang berbeda;
2. Fasilitas olah raga dan sarana ibadah yang layak,
3. Fasilitas pemandu wisata, yang senantiasa siap untuk mengantar dan memberikan penjelasan
kepada para wisatawan.
4. Keamanan dan kenyamanan para wisatawan senantiasa terjaga.
5. Terdapatnya areal penjualan cenderamata (souvenir), baik berupa barang-barang maupun
makanan khas yang dapat dibeli untuk oleh-oleh wisatawan.
6. Keramahan penduduk yang tinggal di sekitar objek wisata. Prasarana transportasi darat terdiri
atas jalur kereta api, dan jalan raya. Berdasarkan keterhubungannya jalur jalan raya
dibedakan menjadi:
a. Jalan negara, yaitu jalan yang menghubungkan antar ibukota provinsi,
b. Jalan provinsi, yaitu jalan yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota
kabupaten atau kota;
c. Jalan kabupaten atau kota, yaitu jalan yang menghubungka ibukota kabupaten atau kota
dengan ibukota kecamatan.
d. Jalan desa, yaitu jalan yang menghubugkan ibukota kecamatan dengan desa-desa di
sekitarnya.
Adapun sarana transportasi darat dapat berupa kendaran roda empat, roda dua, atau kereta
api. Prasarana transportasi air bisa memanfaatkan sumber daya sungai, danau, dan laut. Adapun
pelayaran laut terdiri atas pelayaran lokal (antar pelabuhan dalam satu wilayah), interinsuler
(antar pulau), dan pelayaran samudra. Untuk menghubungkan daerah-daerah terpencil dan sulit
dijangkau, kita dapat memanfaatkan pelayaran perintis. Jenis sarana transportasi perairan yang
bisa kita jumpai antara lain menggunakan kapal feri, Pelni (pelayaran nasional Indonesia), kapal
penyebrangan lokal yang dikelola oleh masyarakat setempat. Tansportasi yang paling cepat dan
nyaman adalah jalur udara, namun biaya atau ongkosnya jauh relatif mahal. Beberapa
perusahaan nasional yang melayani jalur penerbangan antara lain Garuda, Merpati, Mandala,
Bouraq, Batavia Air dan lain-lain.

9
Jenis transportasi yang tersedia untuk memudahkan akses wisatawan menuju maupun selama
di Gili Trawangan diantaranya :
1. Perahu getek
Perahu getek adalah perahu yang terbuat dari kayu dan bahan tradisional tanpa mesin
maupun bensin untuk mengemudikannya, getek menjadi alternatif warga dari satu pulau
ke pulau lainnya.
2. Feri
Feri adalah sebuah kapal transportasi yang memiliki peranan penting dalam sistem
pengangkutan bagi banyak kota pesisir pantai, membuat transit langsung antar kedua
tujuan dengan biaya lebih terjangkau.
3. Fast boat
Fast boat adalah boat atau perahu motor dengan kecepatan diatas rata rata.
4. Cidomo
Cidomo adalah alat transportasi dengan tenaga kuda khas pulau Lombok dan Kepulauan
Gili.
5. Sepeda
Sepeda kendaraan roda dua yang memiliki setang, tempat duduk, dan sepasang pengayuh
yang digerakan kaki untuk menggerakannya.

2.2 Persepsi Wisatawan


Rangkuti, (2003 : 33) menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses dimana individu
memilih mengorganisasikan, serta mengartikan stimulus yang diterima melalui alat indranya
menjadi suatu makna penafsiran yang telah diorganisasikan dengan mempengaruhi perilaku dan
bentuk sikapnya.
Menurut Sarwono, (2002 : 94) yang menyatakan bahwa persepsi dapat dideskripsikan
sebagai sebuah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat yang digunakan untuk
mendapatkan informasi adalah pancaindra dan untuk memahaminya diperlukan adanya
kesadaran dari dalam diri.
Menurut Rangkuti, (2003 : 31) makna dari persepsi dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
dari individu yang bersangkutan, selain itu juga ada 3 faktor yang dapat memberikan pengaruh
terhadap persepsi pelanggan terhadap produk ataupun jasa diantaranya :

10
1. Tingkat kepentingan pelanggan, yang didefinisikan sebagai keyakinan pelanggan
sebelum mencoba atau membeli produk atau jasa yang akan dijadikan standar acuan
dalam menilai kinerja produk atau jasa tersebut. Ada dua tonggak kepentingan pelanggan
yang diantaranya adequate service (kinerja jasa minimal) dan service (kinerja jasa yang
diharapkan).
2. Kepuasan pelanggan, yang didefinisikan sebagai jawaban konsumen terhadap
ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja yang dirasakannya
setelah penggunaan. Factor yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan salah satunya
adalah persepsi pelanggan mengenai kualitas jasa yang berfokus pada lima dimensi jasa.
3. Nilai, yang didefinisikan sebagai pengkajian secara menyeluruh manfaat dari suatu
produk, yang didasarkan pada persepsi pelanggan atas apa yang telah diterimanya
terhadap produk atau jasa yang diberikan. Pelanggan akan semakin loyal bila produk atau
jasa tersebut semakin bernilai bagi pelanggan.

Pendapat lain dinyatakan oleh Indrawijaya, (2000 : 45) bahwa persepsi adalah suatu proses
dengan mana seseorang mengorganisasikan dalam pikirannya, menafsirkan, mengalami dan
mengolah pertanda atau segala sesuatu yang terjadi dilingkungannya, bagaimana segala sesuatu
itu mempengaruhi persepsi seseorang, nantinya akan mempengaruhi pula prilaku seseorang.
Gasperz, (2001 : 34) mengungkapkan faktor faktor yang mempengaruhi persepsi dan
ekspektasi pelanggan atau konsumen adalah:
1. Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal hal yang dirasakan pelanggan
ketika sedang mencoba melakukan transaksi dengan produsen atau pemasok produk
(perusahaan). Jika pada saat itu kebutuhan dan keinginannya besar, harapan atau
ekspektasinya juga akan besar. Dan demikian juga sebaliknya.
2. Pengalaman masa lalu (terdahulu) ketika mengkonsumsi produk dari perusahaan maupun
pesaing pesaingnya.
3. Pengalaman dari teman teman, dimana mereka akan menceritakan mutu produk yang
akan dibelinya, hal ini jelas mempengaruhi persepsi pelanggan terutama pada produk
yang dirasakan beresiko tinggi.
4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran juga mempengaruhi persepsi pelanggan.
Orangorang dibagian penjualan dan periklanan setidaknya tidak membuat kampanye

11
yang berlebihan melewati ekspektasi pelanggan dan membuat persepsi pelanggan
menjadi negatif terhadap produk tersebut.

Menurut Undang-Undang No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisatan menyebutkan bahwa


wisatawan adalah orang yang melakukan peralanan wisata. Sedangkan (Shite:49) pengertian
wisatawan dapat di bagi menjadi duaa yaitu :
1. Wisatawan nusantara adalah seorang yang melakukan perjalanan dalam Negara dan
merupakan wisatawan domestic.
2. Wisatawan mancanegara adalah seorang yang melakukan perjalanan dari suatu Negara
yang keluar dari Negara asalnya.
Pengertian menurut Yoeti (2001: 142) menjelaskan bahwa wisatawan merupakan seorang
yang memasuki wilayah negeri asing dengan maksud tujuan apapun, asalakan bukan untuk
tinggal permanen atau untuk usaha-usaha yang teratur melintasi perbatasan dan mengeluarkan
uang nya di negeri yang di kunjungi yang mana penghasilan tersebut di perolehnya bukan daari
negeri yang di kunjungi melainkan dari asalnya.
Yoeti (1999: 34) juga memberikan batasan bahwa wisatwan dalah seorang yang melakukan
perjalaanan untuk sementara waktu, tidaak kurang selaama 24 jam dan semata-mata sebagai
konsumen, bukan pencari nafkaah ataau bekerja di tempat yang di kunjunginya.
Berdaasarkan batasan-batasan yang di jabarkan diatas maka beberapa ciri-ciri dari seorang
yang bisa di sebut sebagai wisatawan yaangg diantaranya sebagaai berikut :
1. Perjalanan yng dilakukan 24 jam
2. Perjalanan yang dilakukan hanya sementara waktu
3. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak untuk mencari nafkah di tempat dimana
Negara yang dikunjungi.
Apabila salah satu ciri tersebut yang ditunjukkan di atas tidaak dipenuhi, maka seorang
belum dikatakan sebagai wisatawan. Melihat sifat perjalanan dan ruang lingkup dimana
perjalanan wisata itu dilakukan, Maka dapat mengklasifikasikan wisatawan sebagai berikut :
1. Wisatawan asing ( foreign tourist )
Adalah orang yang melakukan perjalanan wisata yang datang memasuki suatu Negara
lain yang bukan merupakan Negara dimana jenis uang yang biasanya tinggal (biasanya

12
bisa dilihat dari status kewarganegaraan dokumen perjlanannya, dan jenis uang yang
dibelanjakannya)
2. Domestic Foreign Tourist
Orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal pada suatu Negara melakukan
perjalanan wisata di wilayah Negara dimana iya ia tinggal.
3. Domestik Tourist
Seorang warga Negara suatu Negara yang melakukan perjalanan dalam batasan wilayah
Negara nya sendiri tanpa melewati pembatasan Negaranya.
4. Indigenous Foreign Tourist
Warga Negara suatu Negara tertentu yang karena tugas atau jabatan nya di luar negeri,
pulang ke Negara asalnya dengan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya
sendiri.
5. Transit touris
Wisatawan yang melakukan perjalanan wisata ke suatu Negara tertentu, yang
menumpang kapal udara atau kapal laut atau ttransportasi lainya yang terpaksa mampu
ataau singgah untu sementara waktu guna melakukan perjalanan selanjutnya.
6. Busisnesss
Orang yang melakukan perjalanan ( apakah orang asing atau warga Negara sendiri) yang
melakukan perjalanan untuk tujuan lain bukan, tetapi perjalanan wisata akan
dilakukannya setelah tujuan yang utamanya selesai.
Profil mengacu pada sifat tertentu dari tipe wisatawan yang berbeda yang khususnya
dihubungakan dengan kebiaasaan perjalanan, tuntunan, dan kebutuhannya. Beberaapa kategori
wisatawan telah disebutkan pada bagian sebelumnya, dan dalam bagian ini akaan menyebutkan
beberapa karakteristik wisatawan yang melakukan perjalanan dari satu destinasi ke destinasi
lainnya diantaranya : ( Marpang 2000: 39 ).
1. Karakteristik Sosio-Demografis
Yang termasuk dalam karakteristik sosio demogafis diantara nya adaalah jenis kelamin,
umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan, kelas social, ukuran keluarga.
Pembagian berdasarkan karakteristik ini paling sering dilakukan untuk kepentingan
analisis pariwisata, perencanaan dan pemasaran, karena sangaat jelas definisinya dan
relative mudah dalam melakukan pembagiannya.

13
2. Karakteristik geografis
Karakteristik geografi membagi wisatawan berdasarkan lokasi tempat tinggal atau
dimana mereka berasal dan biasanya membedakan desa, kota, provinsi, maupun Negara
asalnya.
3. Karakteristik psikografis
Karakteristik Psikografis membagi wisatawan ke dalam kelompok berdasarkan kelas
social, life-style dan personal dari pada wisatawan itu sendiri.

14
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian


Gili Trawangan adalah pulau yang terbesar dari ketiga pulau kecil atau gili yang terdapat di
sebelah barat laut Lombok. Trawangan juga satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas
permukaan laut yang cukup signifikan dengan panjang 3 km dan lebar 2 km. Trawangan
berpopulasi sekitar 800 jiwa. Di antara ketiga gili tersebut, Trawangan memiliki fasilitas untuk
wisatawan yang paling beragam.
3.2 Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dan interpretasi dari
permalahan yang dikaji, maka beberapa variabel dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kemudahan akses. Kemudahan akses adalah keterjangkauan dalam mengakses objek
wisata Gili Trawangan.
2. Kondisi akses. Kondisi akses adalah keadaan sarana yang digunakan dalam mengakses
Gili Trawangan, meliputi jalan, bangunan pelengkap, dan perlengkapannya yang
diperuntukan bagi lalu lintas, yang serta diatas permukaan air.
3. Kondisi transportasi. Kondisi transportasi adalah keadaan layak atau tidaknya moda
transportasi yang digunakan di objek wisata Gili Trawangan.
4. Fasilitas pendukung. Fasilitas pendukung pariwisata adalah semua fasilitas yang
mendukung agar sarana pariwisata dapat hidup dan berkembang serta memberikan
pelayanan pada wisatawan guna memenuhi kebutuhan mereka yang beraneka ragam.
Fasililitas pendukung adalah semua fasilitas yang mendukung aksesibilitas di Gili
Trawangan. Fasilitas pendukung meliputi : jasa travel, rental sepeda, diving spot, dan
penyewaan getek.
5. Lama waktu mengakses. Lama waktu mengakses adalah banyaknya waktu yang
dibutuhkan dan dihabiskan untuk mencapai objek wisata Gili Trawangan.
6. Jenis transportasi. Sarana transportasi menuju Gili Trawangan adalah suatu alat
transportasi yang digunakan dalam perpindahan manusia atau barang dari satu tempat ke
tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia
atau mesin dari suatu tempat ke tempat lainnya.

15
7. Biaya. Biaya pariwisata adalah jumlah harga dari unsur unsur dasar produk pariwisata
seperti angkutan (pesawat udara, kereta api bis, dan lain lain) dan akomodasi (hotel,
dan lain lain) yang digunakan selama perjalanan wisata.
8. Persepsi wisatawan. Persepsi merupakan proses aktivitas wisatawan dalam memberikan
kesan, penilaian, dan pendapat mengenai aksesibilitas di Gili Trawangan.
3.3 Jenis dan Sumber Data
3.3.1. Jenis Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Data Kualitatif
Data yang tidak dinyatakan dengan angka, melainkan berupa informasi atau
keterangan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Dalam
penelitian ini meliputi informasi Aksesibilitas wisatawan yang berkunjung ke gili
trawangan.
2. Data Kuantitatif
Data yang berupa angka-angka seperti jumlah aksesibilitas yang menuju ke gili
trawangan.
3.3.2. Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan
menjadi dua, antara lain sebagai berikut :
1. Data primer, informasi yang diperoleh dari sumber pertama lokasi penelitian
yang dilakukan melalui pengamatan langsung (observasi), dan wawancara.
Seperti informasi tetang aksesibilitas yang di gunakan wisatawan ke Gili
Trawangan.
2. Data sekunder, yaitu informasi yang diperoleh bukan dari sumber asli yang
menjadi sasaran penelitian. Dalam penelitian ini adalah data pada dokumen-
dokumen yang pernah dicetak oleh pihak pemerintah dan pengelola objek wisata
yang ada di lombok seperti foto-foto, surat-surat keterangan (sertifikat), dan
sebagainya.

16
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui beberapa teknik pengumpulan data sebagai
berikut :
1. Observasi
Metode observasi adalah cara mengumpulkan data melalui pengamatan langsung
terhadap gejala fisik objek penelitian. Dalam penelitian ini kegiatan observasi dilakukan
untuk melihat aksesibilitas yang di gunakan oleh wisatawan ke gili trawangan. Kegiatan
penelitian ini juga disertai dengan mengambil foto dari lokasi penelitian
2. Kuisioner
Kuisioner adalah pengumpulan data dengan menggunakakan suatu rangkaian pertanyaan
yang tertulis dengan menyebarkan beberapa pertanyaan tertulis kepada responden.
Dalam hal ini ditujukan kepada wisatawan asing yang berkunjung di Gili Trawangan.
3. Wawancara Terstruktur
Wawancara berstruktur yaitu wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dengan
membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci. Dalam hal ini wawancara
diajukan kepada pihak pemerintah, pengelola objek wisata dan masyarakat sekitar.
Adapun pedoman wawancara dapat dilihat pada daftar lampiran yang sudah terlampir.
4. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memperoleh data mengenai hal hal atau variable yang diteliti. Teknik dokumentasi
yang diamati bukan benda hidup tapi benda mati.
3.5 Teknik Penentuan Informan
Dalam penelitian ini untuk menentukan informan digunakan Purposive Sampling yaitu cara
pengambilan sampel yang didasarkan atas tujuan tertentu. Sampel diambil secara sengaja kepada
orang yang dianggap mewakili dan memiliki kedalaman informasi serta mampu dan
berkompeten dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Informan dalam penelitian ini pihak
pengelola, pemerintah dan masyarakat yang ada di sekitar objek wisata.
3.6 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, masalah diteliti menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif yaitu
gambaran data yang disusun secara sistematis, aktual, akurat mengenai fakta-fakta yang ada.

17
Analisis ini digunakan menguraikan informasi untuk memperoleh data yang jelas dan objektif
mengenai motivasi wisatawan datang ke Gili Trawangan.

18
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Aksesibilitas di Gili Trawangan


Gili trawangan berlokasi di Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok
Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Gili Trawangan mempunyai luas 400 hektar dengan
jumlah penduduk sebanyak 500 KK dan diantaranya 1.800 orang penduduk asli. Akses dari Bali
menuju Gili Trawangan dapat ditempuh dari pelabuhan Padang Bay dengan waktu tempuh
selama 2 jam. Untuk mengetahui keadaan aksesibilitas Gili Trawangan, 50 kuisioner dibagikan
kepada 50 wisatawan asing yang berkunjung di Gili Trawangan. Berdasarkan hal tersebut, dapat
dijabarkan hasil analisis kuisioner penelitian aksesibilitas Gili Trawangan.
Tabel 1
Keadaan Aksesibilitas di Gili Trawangan
Kemudahan Akses Kondisi Akses Kondisi Transportasi Lama Waktu Akses Fasilitas Pendukung Biaya Jenis Transportasi
Wisat-
Awan Fast
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Feri Getek
Boat
1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0

2 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

3 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

4 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0

5 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

6 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0

7 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0

8 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

9 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

10 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0

11 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

12 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

13 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

14 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

15 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0

16 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

17 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

18 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0

19 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

20 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

21 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

22 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

19
23 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

24 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

25 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

26 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

27 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

28 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

29 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

30 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0

31 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

32 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0

33 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

34 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

35 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

36 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0

37 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

38 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

39 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0

40 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

41 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

42 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

43 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

44 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

45 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

46 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0

47 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

48 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0

49 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

50 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0

Total 0 0 2 33 15 0 3 8 25 14 0 2 7 25 16 0 0 4 41 5 8 23 13 5 1 0 0 4 9 37 43 7 0

Kemudahan akses adalah keterjangkauan dalam mengakses objek wisata Gili Trawangan.
Berdasarkan tabel 1 tentang dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden wisatawan
mancanegara dalam penelitian dapat dilihat pada tingkat kemudahan akses Gili Trawangan,
sebanyak 4% wisatawan menyatakan cukup mudah, 66% wisatawan menyatakan mudah, dan
30% menyatakan sangat mudah. Sesuai dengan data yang diperoleh dapat digambarkan bahwa
dilihat dari aspek tingkat kemudahan aksesibilitas menuju ke objek wisata Gili Trawangan cukup
mudah. Akses menuju Gili Trawangan dipermudah dengan 11 perusahaan fast boat yang

20
menyediakan transportasi relatif lebih cepat dibandingkan jenis transportasi lainnya. Jenis
transportasi yang banyak digunakan wisatawan adalah fast boat.
Berdasarkan data hasil kuisioner, dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden wisatawan
mancanegara dalam penelitian dapat dilihat pada tingkat kondisi akses Gili Trawangan, sebanyak
6% wisatawan menyatakan buruk, 16% wisatawan menyatakan cukup baik, 50% wisatawan
menyatakan baik dan 28% menyatakan sangat baik. Sesuai dengan data yang diperoleh dapat
digambarkan bahwa dilihat dari aspek tingkat kondisi akses Gili Trawangan menujukkan bahwa
kondisi akses Gili Trawangan adalah baik.
Berdasarkan data hasil kuisioner, dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden wisatawan
mancanegara dalam penelitian dapat dilihat pada tingkat kondisi transportasi Gili Trawangan,
sebanyak 4% wisatawan menyatakan buruk, 14% wisatawan menyatakan cukup baik, 50%
wisatawan menyatakan baik dan 32% menyatakan sangat baik. Sesuai dengan data yang
diperoleh dapat digambarkan bahwa dilihat dari aspek tingkat kondisi transportasi Gili
Trawangan menujukkan bahwa kondisi transportasi Gili Trawangan adalah baik. Sesuai dengan
pengamatan peneliti mengenai ketersediaan transportasi yang ada, guna mendukung kegiatan
pariwisata di Gili Trawangan diketahui bahwa ketersediaan tranpostasi khususnya transportasi
berupa rental sepeda dan cidomo. Cidomo dan sepeda merupakan beberapa pilihan alat angkutan
masyarakat dan wisatawan dalam menikmati atau mengelilingi Pulau Gili Trawangan. Tidak ada
dan tidak diijinkannya kendaraan bermotor ada di pulau Gili Trawangan. Populasi jumlah
Cidomo di Gili Trawangan sangat dibatasi, guna menjaga kelestarian lingkungan yang ada.
Jumlah populasi Cidomo adalah tetap berjumlah 15 cidomo. Dalam beroperasi masing-masing
cidomo dibagi atas dua bagian yaitu yang beroprasi pagi hari dan beroprasi pada sore hari dan
dilakukan pengurutan berdasarkan nomor. Hal ini dilakukan supaya aktifitas jalan tidak terlalu
padat oleh Cidomo itu sendiri.
Berdasarkan data hasil kuisioner, dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden wisatawan
mancanegara dalam penelitian dapat dilihat pada lama waktu akses menuju Gili Trawangan,
sebanyak 8% wisatawan menyatakan cukup cepat, 82% wisatawan menyatakan cepat, dan 10%
wisatawan menyatakan sangat cepat. Sesuai dengan data yang diperoleh dapat digambarkan
bahwa dilihat dari aspek lama waktu tempuh menuju Gili Trawangan menujukkan bahwa untuk
menuju Gili Trawangan memerlukan waktu tempuh yang relatif cepat. Sebagian besar wisatawan
yang menuju Gili Trawangan lebih memilih menggunakan moda transportasi fast boat yang

21
memerlukan waktu tempuh yang relative lebih cepat yaitu selama 3 jam. Fast boat yang
beroperasi di Gili Trawangan wajib transit terlebih dahulu di pelabuhan bangsal sebelum menuju
Gili Trawangan.
Berdasarkan data hasil kuisioner, dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden wisatawan
mancanegara dalam penelitian dapat dilihat pada kondisi fasilitas pendukung di Gili Trawangan,
sebanyak 16% wisatawan menyatakan sangat buruk, 46% wisatawan menyatakan buruk, 26%
wisatawan menyatakan cukup baik, 10% wisatawan menyatakan baik dan 2% wisatawan
menyatakan sangat baik. Sesuai dengan data yang diperoleh dapat digambarkan bahwa dilihat
dari kondisi fasilitas pendukung di Gili Trawangan menujukkan bahwa kondisi fasilitas
pendukung di Objek Wisata Gili Trawangan masih buruk. Hal ini disebabkan kurangnya
perhatian dari Pemerintah sehingga masyarakat lokal masih secara mandiri mengelola dan
membenahi fasilitas yang ada Gili Trawangan. Pemerintah masih belum mengambil andil banyak
di Objek Wisata Gili Trawangan, msih hanya sebatas memberikan ijin saja.
Berdasarkan data hasil kuisioner, dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden wisatawan
mancanegara dalam penelitian dapat dilihat pada biaya menuju Gili Trawangan, sebanyak 8%
wisatawan menyatakan cukup terjangkau, 18% wisatawan menyatakan terjangkau dan 74%
wisatawan menyatakan sangat terjangkau. Sesuai dengan data yang diperoleh dapat digambarkan
bahwa dilihat dari biaya akses menuju Gili Trawangan menujukkan bahwa biaya menuju Gili
Trawangan adalah sangat terjangkau.
Berdasarkan data hasil kuisioner, dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden wisatawan
mancanegara dalam penelitian dapat dilihat transportasi yang digunakan menuju Gili Trawangan,
sebanyak 86% wisatawan menyatakan menggunakan transportasi fast boat dan 14% wisatawan
menyatakan menggunakan transportasi kapal feri. Sesuai dengan data yang diperoleh dapat
digambarkan bahwa dilihat dari jenis transportasi yang digunakan menuju Gili Trawangan
menujukkan bahwa fast boat lebih diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Gili Trawangan.
Dari hasil survei di Pos Pengawasan Syahbandar terhadap jenis transportasi yang dikelola
masyarakat lokal ataupun pihak swasta yang mempermudah wisatawan menuju ataupun
beraktifitas di Gili Trawangan. Masyarakat lokal mengelola secara pribadi beberapa jenis
transportasi di Gili Trawangan yaitu rental sepeda, cidomo, dan getek. Beberapa transportasi
seperti fast boat dikelola oleh pihak swasta dengan 18 fast boat dari 11 pihak swasta yang masih
aktif beroperasi diantaranya : Marina Srikandi (8 Fastboat), Wahana (2 Fastboat), Semaya One

22
(2 Fastboat), Ganggari (1 Fastboat), Sindex (1 Fastboat), Mahimahi Dewata (1 Fastboat), Gili
Gateway (2 Fastboat), Superscoote (1 Fastboat), Gili Gili (2 Fastboat), dan Gili Cat II (1
Fastboat).

4.2 Persepsi Wisatawan terhadap Aksesibilitas di Gili Trawangan


Persepsi wisatawan mancanegara terhadap aksesibilitas dalam kepariwisataan di Gili
Trawangan dijelaskan dalam tabel 2, sebagai berikut
Tabel 2
Persepsi Wisatawan terhadap Aksesibilitas di Gili Trawangan
Jumlah Persentase
No Indikator Persepsi
(orang) (%)
1 Kemudahan akses Mudah 33 66
2 Kondisi akses Baik 25 50
3 Kondisi transportasi Baik 25 50
4 Lama waktu akses Cepat 41 82
5 Fasilitas pendukung Buruk 23 46
6 Biaya Sangat terjangkau 37 74

Wisatawan yang datang ke Pulau Gili Trawangan memiliki persepsi yang berbeda-beda
tentang keberadaan daerah tujuan wisata Pulau Gili Trawangan. Seunik, sekokoh, dan selenting
apapun sebuah potensi daya tarik wisata, tidak akan bernilai bila tidak dapat didatangi, dilihat,
dinikmati. Karena kemudahan untuk mengunjungi dan melihat menjadi karakter yang
membedakan kualitas daya tarik wisata. Semakin mudah dicapai suatu daya tarik wisata maka
akan semakin berpeluang untuk dikembangkan.
Dapat dilihat pada tabel 2, pada indikator kemudahan akses 33 orang (66%) wisatawan
menyatakan bahwa akses menuju gili trawangan mudah, pada indikator kondisi akses sejumlah
25 orang (50%) menyatakan bahwa kondisi akses di Gili Trawangan baik, pada indikator kondisi
transportasi sejumlah 25 orang (50%) menyatakan kondisi transportasi menuju dan di Gili
Trawangan baik, pada indikator lama waktu akses sejumlah 41 orang (82%) menyatakan bahwa
lama waktu dalam mengakses Gili Trawangan tergolong cepat, pada indikator fasilitas
pendukung sejumlah 23 orang (46%) menyatakan bahwa fasilitas pendukung yang ada di Gili
Trawangan buruk, dan pada indikator biaya sejumlah 37 orang (74%) menyatakan biaya menuju
Gili Trawangan sangat terjangkau.

23
Hal ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan yang ada masih perlu dioptimalkan sehingga
untuk pengembangan objek wisata ini akan mengalami kendala jika ketersediaan akses, sarana
maupun prasarana yang ada belum maksimal. Tidak hanya sarana, akses menuju daerah wisata
tersebut juga diperhatikan pengelola demi kemajuan suatu objek wisata, karena akses berperan
penting dalam perkembangan suatu objek wisata. Pulau Gili Trawangan sebagai sebuah
kepulauan aksesibilitas utamanya adalah melalui laut, namun pendukung aksesibilitas untuk
mecapai Pulau Gili Trawangan terbilang cukup bagus, seperti dermaga Bangsal dan Teluk Qodik
memiliki fasilitas dan kondisi yang baik. Dermaga Bangsal melakukan layanan penyebrangan
masyarakat dan wisatawan dari dan menuju Kepulauan Tiga Gili secara periodik dan terjadwal.
Biaya Penyebranganya terbilang cukup murah yaitu senilai Rp. 150.000 rupiah untuk sekali
hantaran. Selain dua dermaga tersebut layanan kapal cepat dari dan menuju Pulau Bali juga
keberadaannya sangat periodik.
Gili Trawangan bisa diakses dengan mudah dari Bali sebagai pusat pariwisata Indonesia,
Gili Trawangan berkembang menjadi destinasi wisata yang tak pernah sepi dari kunjungan
wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.

24
BAB V
PENUTUP

5.1. Simpulan
Keadaan aksesibilitas berdasarkan indikator aksesibilitas di objek wisata Gili Trawangan
di beberapa sektor keterjangkauan akses tergolong baik tetapi khusus pada kondisi akses dan
kondisi transportasi di Gili Trawangan masih perlu ditingkatkan khususnya pada sarana
pendukung aksesibilitas menuju Gili Trawangan yang masih kurang yang disebabkan kurangnya
perhatian dari pemerintah. Persepsi wisatawan terkait ketersediaan aksesibilitas di objek wisata
Gili Trawangan, persepsi wisatawan terhadap aksesibilitas Gili Trawangan tergolong cukup baik.
Dalam hal ketersediaan aksesibilitas yakni terkait dengan jarak dan keterjangkauan untuk
menuju lokasi wisata secara umum baik. Dikarenakan dari segi jalan yang cukup baik dengan
ketersediaan transportasi yang baik dapat mempermudah akses menuju ke Gili Trawangan.
5.2. Saran
Bagi Pemerintah Dusun Gili Indah sebagai pengelola objek wisata Gili Trawangan untuk
ikut memelihara aksesibilitas serta sarana dan prasarana pendukung bagi wisatawan dengan
mengupayakan untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah agar engelolaan objek wisata dapat
berjalan dengan lebih baik. Persepsi wisatawan haruslah menjadi patokan atau pondasi dasar yang
harus dipahami oleh pengelola, karena dari persepsi atau pendapat wisatawanlah pengelola dapat
mengetahui kekurangan dan kelebihan yang ada di objek wisata Gili Trawangan. Bagi peneliti
lain, dapat dijadikan sebagai bahan refrensi tambahan atau acuan bagi yang berminat untuk
melakukan penelitian sejenis dan dapat dijadikan sebagai perbandingan atau pertimbangan
dengan memperhatikan kendala-kendala yang dialami untuk perbaikan dan penyempurnaan
pelaksanaan penelitian.

25

Anda mungkin juga menyukai