Anda di halaman 1dari 24

Makalah Struktur Teori Akuntansi | Teori Akuntansi

MAKALAH
TEORI AKUNTANSI
Struktur Teori Akuntansi

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK ACCOUNTING
Akbar Arsyad
Indah Sari
Lestari
Nada

JURUSAN AKUNTANSI
STIE Muhammadiyah Palopo
Tahun Ajaran 2016/2017

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur terhadap kehadirat Allah SWT karena atas kekuasaan-Nya Kami
diberi nikmat sehat dan nikmat akal. Sholawat serta salam juga tercurah kepada Nabi
Muhammad, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Amin.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara
materil maupun secara non materil. Makalah ini berjudul Struktur Teori Akuntansi, disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi.
Semoga tugas makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam
belajar para mahasiswa ataupun para pembaca. Penyusun juga meminta maaf apabila ada
kekurangan ataupun kesalahan dalam penulisan dan pembahasan materi yang tidak lengkap
ataupun kurang penjelasan.

Palopo, 03 Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.............................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ............................................................................................... 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................... 4
A. Latar Belakang ............................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 4
C. Tujuan Penulisan ........................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................... 5
A. Sifat Struktur Teori Akuntansi ....................................................................... 5
B. Tujuan Laporan Akuntansi ............................................................................ 5
C. Sifat Postulat Akuntansi ............................................................................... 10
D. Postulat-Postulat Akuntansi ......................................................................... 10
E. Konsep-Konsep Teoritis Akuntansi ............................................................. 13
F. Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi ................................................................... 15
G. Standar (Teknik) Akuntansi.......................................................................... 16
BAB III PENUTUP................................................................................................... 19
A. Kesimpulan ................................................................................................ 19
B. Kritik dan Saran ......................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 20

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Apresiasi penuh pada lingkup akuntansi sekarang dan masa mendatang tergantung pada
pemahamanteknik akuntansi maupun struktur teori akuntansi di mana teknik diturunkan.
Pengembangan struktur teori akuntansi untuk memberikan justifikasi yang lebih baik pada
aturan-aturan dan teknik-teknik yang telah ada dimulai dengan pengujian yang dilakukan
oleh Paton tentang pondasi dasar akuntansi.

B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana sifat struktur teori akuntansi ?
b. Apakah tujuan laporan akuntansi ?
c. Seperti apa sifat postulat akuntansi itu ?
d. Apa postulat-postulat akuntansi ?
e. Apakah konsep-konsep teoritis akuntansi ?
f. Seperti apakah prinsip-prinsip dasar akuntansi ?
g. Apa saja standar (teknik) dari akuntansi ?

C. TUJUAN PENULISAN
a. Untuk mengetahui materi tentang struktur teori akuntansi
b. untuk memenuhi tugas dari Dosen yang bersangkutan

BAB II
PEMBAHASAN

A. SIFAT STRUKTUR TEORI AKUNTANSI


Pendekatan dan metodologi apa pun yang digunakan dalam penyusunan teori akuntansi
(deduktif atau induktif, normatif atau deskriptif), kerangka acuan yang dihasilkan didasarkan
pada serangkaian elemen dan hubungan yang mengatur pengembangan teknik akuntansi.
Struktur teori akuntansi terdiri dari beberapa elemen-elemen berikut ini :
1. Pernyataan tujuan laporan keuangan.
2. Pernyataan postulat dan konsep teoritis akuntansi yang terkait dengan asumsi-asumsi lingkungan
dan sifat unit akuntansi. Postulat dan konsep teoritis diturunkan dari pernyataan tujuan.
3. Pernyataan tentang prinsip-prinsip dasar yang didasarkan pada postulat dan konsep teoritis.
4. Batang tubuh teknik-teknik akuntansi yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi.
Empat elemen teori akuntansi yang ada, yaitu:
1. Postulat akuntansi
2. Konsep-konsep teoritis akuntansi
3. Prinsip-prinsip akuntansi
4. Standar (teknik) akuntansi

B. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN


Berikut adalah rumusan tujuan laporan keuangan yang telah dijabarkan oleh AAA, APB,
dan FASB :
1. ASOBAT
American Accounting Association (AAA) adalah sebuah organisasi akuntan pendidik
yang bergungsi memfasilitasi dalam pendidikan akuntansi dan memperlajari serta mengomentari
masalah-masalah yang terkait dengan standar akuntansi.
Pada tahun 1966, AAA menerbitkan AStatement of Basic Accounting Theory
(ASOBAT) yang berisi tentang rumusan tujuan akuntansi, yaitu :
a. Membuat keputusan mengenai penggunaan sumber daya yang terbatas dan menentukan sasaran
serta tujuan dari penggunaan sumber daya tersebut.
b. Mengarahkan dan mengendalikan sumber daya manusia dan factor produksi lainnya secara
efektif.
c. Memelihara dan melaporkan pengamanan atas sumber daya (Aktiva).
d. Memfasilitasi fungsi dan pengendalian social.
2. APB Statement No. 4
Accounting Principles Board (APB) dibentuk oleh AICPA pada tahun 1959. Tujuan
utama dari APB adalah mengajukan rekomendasi secara tertulis mengenai prinsip akuntansi,
menentukan praktek akuntansi yang tepat, dan mempersempit celah perbedaan-perbedaan yang
ada serta ketidak-konsistenan yang terjadi dalam praktek akuntansi saat itu.
Pada tahun 1970, APB menerbitkan Statement No. 4 yang berjudulBasic Concepts and
Accounting Principles Underlying Financial Statement Of Business Enterprises. Laporan
ini berisi tentang tujuan khusus dan tujuan umum laporan keuangan.
a. Tujuan khusus laporan keuangan menurut APB Statement No. 4 adalah menyajikan posisi
keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan sesuai dengan
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).
b. Tujuan Umum laporan keuangan menurut APB Statement No. 4 adalah :
c. Memberikan informasi yang terpecaya tentang sumber daya ekonomi (Aktiva) dan kewajiban
perusahaan, dengan maksud :
d. Untuk menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan.
e. Untuk menunjukkan posisi keuangan da investasi perusahaan.
f. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibannya.
g. Menunjukkan kemampuan sumber daya yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.
h. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari
kegiatan usaha dalam mencari laba, dengan maksud :
i. Memberikan gambaran tentang jumlah deviden yang diharapkan pemegang saham.
j. Menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban kepada supplier, kreditur,
pegawai, pemerintah dan kemampuannya dalam mengumpulkan dana untuk kepentingan
ekspansi perusahaan.
k. Memberikan informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam pelaksanaan fungsi
perencanaan dan pengendalian.
l. Menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba jangka panjang.
m. Memungkinkan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilakan laba.
n. Memnerikan informasi lainnya tentang perubahan aktiva dan kewajiban.
o. Mengungkapkan informasi yang relavan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan.

3. Trueblood Committee Report


Untuk menyusun konsep yang menjelaskan tentang tujuan laporan keuangan, Presiden
AICPA saat itu (Marsall S. Amstrong) pada tahun 1971 membentuk tim perumus tujuan laporan
keuangan, yang dikenal dengan nama Trueblood Committee. Tim ini pada tahun 1973 berhasil
merumuskan tujuan laporan keuangan, yang dimuat dalam sebuah laporan yang
berjudul Objectives of Financial Statement. Dalam laporan ini dirumuskan bahwa tujuan
laporan keuangan adalah :
a. Tujuan dasar laporan keuangan adalah memberikan informasi yang berguna bagi pengambilan
keputusan ekonomi.
b. Melayani pemakai umum yang memiliki wewenang, kemampuan, atau sumber daya yang
terbatas untuk memperoleh informasi dan pihak-pihak yang mengandalkan laporan keuangan
sebagai sumber informasinya mengenai aktivitas ekonomi perusahaan.
c. Memberikan informasi yang berguna bagi investor dan kreditur untuk pemakai untuk
memprediksi, membandingkan, dan mengevaluasi potensi arus kas berdasarkan jumlah, waktu,
dan ketidakpastian lainnya.
d. Memberikan informasi kepada pemakai untuk memprediksi, membandingkan, dan mengevaluasi
kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba.
e. Memberikan informasi yang berguna untuk menilai kemampuan manajemen dalam
memanfaatkan sumber daya perusahaan secara efektif dan mencapai tujuan utama perusahaan.
f. Memberikan informasi yang factual dan dapat diinterprestasikan mengenai transaksi dan
peristiwa lainnya, yang diharapkan dapat berguna untuk memprediksi, membandingkan, dan
mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba.
g. Memberikan laporan tentang posisi keuangan perusahaan, yang diharapkan dapat berguna untuk
prediksi, membandingkan, dan mengevuasi kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba.
h. Memberikan laporan tentang laba periode (berkala), yang diharapkan dapat berguna untuk
prediksi, membandingkan, dan mengevuasi kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba.
i. Memberikan laporan tentang aktivitas keuangan perusahaan, yang diharapkan dapat berguna
untuk prediksi, membandingkan, dan mengevuasi kemampuan perusahaan dalam mendapatkan
laba.
j. Memberikan informasi yang berguna untuk proses peramalan.
k. Tujuan laporan keuangan bagi organisasi pemerintah dan organisasi yang bukan pencari laba
adalah untuk memberikan informasi yang berguna dalam mengevaluasi aktivitas pengelolaan
sumber daya dalam mencapai tujuan organisasi.
l. Melaporkan aktivitas perusahaan yang mempengaruhi lingkungan social (masyarakat sekitar).

4. SFAC No. 1 dan No. 4


FASB merupakan organisasi sector swasta yang bertanggung jawab dalam pembentukan
standar akuntansi di Amerika saat ini. FASB didirikan pada tahun 1973, menggantikan APB.
Pada tahun 1976, FASB mulai mengembangkan kerangka kerja konseptual yang menjadi
dasar bagi penetapan standar akuntansi dan pemecahan masalah kontroversi pelaporan keuangan.
Fungsi utama FASB adalah menpelajari masalah akuntansi terkini dan menetapkan standar
akuntansi. FASB juga menerbitkan Statement of Accounting Concepts (SFAC) yang
memberikan kerangka kerja konseptual dimana memungkinkan untuk dikembangkannya standar
akuntansi khusus.
Pada tahun 1978, FASB menerbitkan SFAC No. 1 yang berjudulObjectives of
Financial Reporting by Business Enterprises. Laporan ini memuat tentang rumusan tujuan
laporan keuangan untuk organisasi pencari laba (profit Organization), yaitu :
a. Memberikan informasi yang berguna bagi investor, kreditur, dan pemakai lainnya dalam
membuat keputusan secara rasional mengenai investasi, kredit dan lainnya.
b. Memberikan informasi untuk membantu investor atau calon investor dan kreditur serta pemakai
lainnya dalam menentukan jumlah, waktu, dan prospek penerimaan kas dari deviden atau bunga
dan juga penerimaan dari penjualan, piutang, atau saham, dan pinjaman yang jatuh tempo.
c. Memberikan informasi tentang sumber daya (aktiva) perusahaan, klaim atas aktiva, dan
pengaruh transaksi, peristiwa, dan keadaan lain terhadap aktiva dan kewajiban.
d. Memberikan informasi tentang kinerja keuangan perusahaan selama satu periode.
e. Memberikan informasi tentang bagaimana perusahaan mendaparkan dan membelanjakan kas,
tentang pinjaman dan pengembaliannya, tentang transaksi yang mempengaruhi modal termasuk
deviden dan pembayaran lainnya kepada pemilik, dan tentang factor-faktor yang mempengaruhi
likuiditas dan solvabilitas perusahaan.
f. Memberikan informasi tentang bagaimana manajemen perusahaan mempertanggungjawabkan
pengelolaan perusahaan kepada pemilik atas penggunaan sumber daya (aktiva) yang telah
dipercayakan kepadanya.
g. Memberikan informasi yang berguna bagi manajer dan direksi dalam proses pengambilan
keputusan untuk kepentingan pemilik perusahaan.
Pada tahun 1980, FASB No. 4 yang berjudul Objectives of Financial Reporting by
Non-Business Organization . Laporan ini memuat tentang rumusan tujuan keuangan untuk
organisasi yang bukan pencari laba (non-profit organization), yaitu :
1. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan mengenai alokasi seumber daya (aktiva)
perusahaan.
2. Untuk menilai kemampuan organisasi dalam memberikan pelayanan kepada public.
3. Untuk menilai bagaimana manajemen melakukan pembiayaan dan investasi.
4. Memberikan informasi tentang sumber daya (aktiva), kewajiban, dan kekayaan perusahaan, serta
perubahannya.
5. Memberikan informasi tentang kinerja organisasi.
6. Memberikan informasi tentang kemampuan organisasi dalam melunasi kewajiban jangka
pendeknya.
7. Memuat penjelasan dan penafsiran manajemen.

C. SIFAT POSTULAT AKUNTANSI


Dalam teori akuntansi kita sering dibingungkan oleh istilah-istilah yang agak mirip, tetapi
mempunyai arti yang berbeda seperti istilah : aksioma, postulat, konsep, convention,
generalization, praktik, prosedur, prinsip, standar, norma, dll. Kebingungan seperti itu dapat
dihindari dengan mempertimbangkan penyusunan struktur teori akuntansi secara deduktif, proses
interaktif di mana tujuan akuntansi menyediakan dasar untuk postulat dan konsep teoritis dari
mana teknik-teknik diturunkan.
1. Postulat akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau
disebut juga aksioma yang sudah diterima kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan
yang menggambarkan lingkungan ekonomi, politik, sosiologi dan hokum di suatu tempat
dimana akuntansi itu beroperasi.
2. Konsep teoritis akuntansi adalah pernyataan yang tidak memerlukan pembuktian atau
aksioma, juga berterima umum berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan,
yang menggambarkan sifat entitas akuntansi yang beroperasi dalam ekonomi bebas yang
dikarakteristikkan oleh kepemilikan pribadi atas kekayaan.
3. Prinsip akuntansi adalah aturan keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan dan konsep
teoritis akuntansi yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi.
4. Teknik (standar) akuntansi adalah aturan spesifik yang diturunkan dari prinsip akun-akuntansi
untuk memperlakukan transaksi atau peristiwa tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi.

D. POSTULAT POSTULAT AKUNTANSI


1. Postulat Entitas (Entity)
Akuntansi mencatat hasil kegiatan operasi dari suatu entity (lembaga atau perusahaan)
yang terpisah dan dibedakan dari pemilik. Menurut konsep ini kita bisa menyusun laporan
keuangan sesuai dengan kebutuhan pemakainya, maka setiap perusahaan dianggap sebagai uni
akuntansi yang terpisah dari pemiliknya.
Berdasarkan pengertian ini maka yang menjadi objek dan perhatian dari akuntansi yang
dimasukkan ke dalam laporan keuangan adalah kejadian yang dialami oleh lembaga atau
perusahaan dan bukan merupakan gabungan dengan pribadi pemiliknya. Konsep ini disebut
dengan firm oriented.
Dari sisi lain konsep entity ini dilihat dari kepentingan ekonomi dari beberapa konsumen
laporan keuangan suatu entity bukan dari kegiatan administrasi lembaga tadi. Pengertian ini
disebut dengan user oriented.
Dalam konsep ini yang menjadi perhatian dalam penyusunan laporan keuangan adalah para
pemakainya. Informasi apa yang diinginkan pemakai itulah yang dilaporkan dalam laporan
keuangan . Untuk mengetahui apa yang diinginkan para pemakai laporan, perlu diketahui :
Kepentingan para pemakai laporan
Sifat-sifat dari para pemakai laporan
Contoh yang paling jelas di sini adalah Akuntansi Sosial, Akuntansi Lingkungan,
Akuntansi SDM, dll. Dalam bidang ini yang menjadi dasar bertolak adalah apa yang diinginkan
oleh para pemakai laporan keuangan dan bukan tentang apa maunya teori akuntansi.

2. Postulat Kelangsungan Usaha (going concern)


Postulat kelangsungan usaha, atau postulat kontinuitas, menyatakan bahwa entitas
akuntansi akan terus beroperasi untuk melaksanakan projek, komitmen, dan aktivitas yang
sedang berjalan. Postulat mengasumsikan bahwa perusahaan tidak diharapkan untuk dilikuidasi
dalam masa mendatang yang dapat diketahui dari sekarang atau bahwa entitas akan terus
beroperasi untuk periode waktu yang tidak tertentu.
Postulat ini memberikan pembenaran terhadap penilaian asset secara historical cost dan
book value bukan current value atau liquidation value. Dalam asumsi ini seolah dinyatakan
bahwa nilai atau harga yang terdapat dalam laporan keuangan didasarkan pada asumsi bahwa
perusahaan ini tidak akan dilikuidasi atau dijual sehingga nilai dari asset atau utang dari
perusahaan yang akan dibubarkan. Tentu pada kenyatannya, nilai aset pada perusahaan yang
sudah berhenti dan mennunggu akan dibubarkan umumnya berbeda atau jauh lebih rendah dari
perusahaan yang masih terus beroperasi dan lancar. Postulat ini juga membenarkan metode
alokasi akuntansi seperti pembebanan penyusutan, penyisihan, konsep konservatisme maupun
amortisasi selama masa penggunaannya tau selama perusahaan berjalan.
Postulat going concern ini juga dapat dipergunakan untuk mendorong agar manajer
bersikap forward looking, melihat jauh ke depan dan investor pun dengan pemahaman ini
diharapkan ia akan bersedia menanamkan modalnya dalam perusahaan dalam jangka waktu yang
lama atau terus menerus agar ia mendapatkan value added dari kinerja perusahaan.

3. Postulat unit pengukur (Unit Of Measure)


Postulat ini, yang disebut juga monetery unit postulate menganggap bahwa setiap
transaksi harus diukur dengan suatu alat ukur atau alat tukar yang seragam. Alat ukur yang
dipakai dalam akuntansi adalah alat ukur moneter. Postulat ini menimbulkan 2 keterbatasan yaitu
:
Akuntansi terbatas pada pemberian informasi dalam satuan moneter tanpa mencatat informasi
non moneter lainnya yang relevan. Sehingga akuntansi dianggap hanya menginformasikan
sebatas : kuantitatif, formal, terstruktur, dapat diaudit, angka-angka dan berorientasi pada masa
lalu.
Informasi non akuntansi dianggap kualitatif, informal, penjelasan, tidak dapat diaudit dan
berorientasi pada masa depan. Namun para ahli pada saat ini teus berupaya agar informasi yang
diberikan oeh akuntansi keuangan dapat memasukkan aspek kualitatif melalui berbagai
instrumen laporan.
Unit moneter itu sendiri sifatnya berfluktuasi tergantung pada kemampuan daya beli. Pada
kenyataannya, daya beli itu tidak stabil karena termakan oleh inflasi sehingga informasi
keuangan yang disajikannya akan kehilangan relevansi.

4. Postulat Periode Akuntansi


Meskipun postulat kelangsungan usaha menyatakan bahwa perusahaan akan tetap ada
untuk periode waktu yang tidak terbatas, pemakai meminta berbagai informasi tentang posisi
keuangan dan kinerja perusahaan untuk membuat keputusan jangka pendek. Sebagai tanggapan
terhadap kendala yang disebabkan lingkungan pemakai, postulat periode akuntansi menyatakan
bahwa laporan keuangan yang menggambarkan perubahan dalam kesejahteraan perusahaan
seharusnya diungkapkan secara periodik.
Panjangnya periode waktu dapat bervariasi tetapi hukum pajak penghasilan yang
mensyaratkan penentuan income dengan dasar tahunan dan praktik bisnis tradisional,
menggunakan periode normal satu tahun. Meskipun kebanyakan perusahaan menggunakan
periode akuntansi yang terkait dengan tahun kalender, beberapa perusahaan menggunakan tahun
fiskal atau tahun bisnis alami". Bila siklus bisnis tidak berhubungan dengan tahun kalender akan
lebih bermanfaat untuk mengakhiri periode akuntansi ketika aktivitas bisnis telah mencapai titik
terendah.

Karena kebutuhan akan informasi yang tepat waktu, relevan dan sering, kebanyaka
perusahaan juga menerbitkan laporan interim yang menyediakan informasi keuangan triwulanan
atau bulanan. Studi empiris tentang reaksi pasar modal atas penerbitan laporan interim dan
dampaknya terhadap keputusan investasi pemakai mengindikasikan kegunaan laporan interim.
Untuk menjamin kredibilitas laporan interim, Accounting Principles Board menerbitkan APB
Opinion No.28, yang mensyaratkan laporan interim seharusnya didasarkan pada prinsip
akuntansi dan praktik yang sama dengan yang digunakan dalam pembuatan laporan tahunan.

E. Konsep-konsep Teoritis Akuntansi


1. Teori Proprietary/Teori Kepemilikan
Menurut teori proprietary, entitas sebagai agen, perwakilan atau susunan melalui
wirausahawan individual atau pengoperasi pemegang saham". Sudut pandang kelompok pemilik
sebagai pusat kepentingan terefleksi dalam cara memelihara catatan akuntansi dan membuat
laporan keuangan. Tujuan utama teori proprietary adalah untuk menentukan dan menganalisis
kekayaan bersih pemilik, dengan persamaan akuntansi:
Aset - Utang = Ekuitas Pemilik.
Persamaan ini dibaca : pemilik memiliki aset dan sekaligus memiliki kewajiban, sehingga
kekayaan bersihnya adalah kekayaan perusahaan dikurangi dengan kewajiban perusahaan. Oleh
karena itu, teori ini berorientasi pada neraca (balance sheet oriented). Aset dinilai dan neraca
disajikanuntk mengetahui dan mengukur perubahan hak dan kekayaan pemilik, sedangkan
penghasilan dan biaya dianggap sebagai kenaikan atau penurunan harta kekayaan pemilik bukan
dianggap berasal dari investor atau pengambilan pemilik sehingga biaya dan dividen adalah
pengambilan modal.
Beberapa istilah akuntansi yang dipengaruhi oleh teori ini adalah seperti penyajian divide
per share, earning per share, equity method dalam pencatatan perkiraan investasi pada
perusahaan lain dan lain-lain.

2. Teori Entitas
Teori entitas memandang entitas sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari pihak
yang menyediakan modal pada entitas. Secara sederhana, unit bisnis, bukan pemilik, merupakan
pusat kepentingan akuntansi.
Unit bisnis memiliki sumber daya perusahaan dan bertanggung jawab terhadap pemilik maupun
kreditor. Menurut teori ini, persamaan akuntansinya adalah:
Aset = Ekuitas
Aset = Utang + Ekuitas Pemegang saham
Aset adalah hak perusahaan, ekuitas menunjukkan sumber aset yang berasal dari
kreditor atas pemilik yang merupakan kewajiban bagi perusahaan. Kreditor dan pemilim
sebenarnya adalah pemilik perusahaan yang merupakan tempat di mana perusahaan memiliki
kewajiban. Baik kreditor dan pemegang saham adalah pemilik ekuitas, meskipun mereka
memiliki hak yang berbeda terkait dengan income, control, risiko,dan likuidasi. Laba adalah
milik perusahaan sebelum dibagikan kepada pemilik.
Teori ini berorientasi pada laporan laba rugi (income statement oriented).
Pertanggungjawaban pada pemilik dilakukan dengan cara mengukur pestasi kegiatan dan prestasi
keuangan yang ditunjukkan perusahaan. Dengan demikian, income merupakan kenaikan equity
pemilik atau kenaikan kewajiban perusahaan kepada pemilik. Setelah dikurangi hak kreditor
kenaikan equity pemilik terjadi setelah dividen dikeluarkan dan laba ditahan tetap dianggap
sebagai hak milik perusahaan sampai suatu saat dibagikan. Dalam teori ini pajak dan bunga
pinjaman dianggap sebagai bagian laba untuk pemerintah dan kreditor. Oleh karena itu, bukan
biaya.
Beberapa pengaruh teori ini pada pencatatan dan penyajian akuntansi adalah :
Penggunaan LIFO dalam menilai persediaan pada masa inflasi. Metode ini lebih baik dalam
penentuan pendapatan dari pada FIFO di masa inflasi.
Penyajian laporan keuangan konsolidasi.
Definisi tentang revenuedan expenses yang lazim sesuai dengan konsep ini

3. Teori dana (Fund Theory)


Menurut teori yang dikemukakan W.Y Vatter (1995) ini yang menjadi perhatian bukan
pemilik dan bukan pula perusahaan, tetapi sekelompok aset yang ada dan kewajiban yang harus
ditunaikan disebut fund yang masing-masing pos memiliki aturan dalam penggunaannya.
Dengan demikian teori dana menganggap bahwa unit usaha merupakan sumber ekonomi (dana)
dan kewajiban yang ditetapkan sebagai pembatasan-pembatasan terhadap penggunaan aset atau
dana tersebut.
Persamaan akuntansinya adalah:
Aset = Pembatasan Aset
Dalam persamaan ini unit akuntansi didefinisikan dalam istilah aset, dan penggunaan aset
ini adalah terbatas. Kewajiban merupakan suatu pembatasan ekonomi secara hukum terhadap
penggunaan aset. Teoi dana ini memusatkan perhatian pada harta atau aset centered dalam arti
kata yang menjadi pusat perhatiannya adalah penggunaan aset yang dibatasi. Teori ini
berorientasi pada laporan sumber dan penggunaan dana. Laporan ini menggambarkan sumber
dari mana dana dan ke mana penggunaan dana perusahaan. Umumnya teori ini berlaku untuk
organisasi pemerintah atau non profit (nirlaba).

4. The enterprise Theory


Sejalan dengan kemajuan sosial dan meningkatnya pertanggungjawaban publik oleh
perusahaan, maka konsep teoritis akuntansi juga berubah. Dalam konsep teori ini yang menjadi
pusat perhatian adalah keseluruhan pihak atau kontestan yang terlibat atau yang memiliki
hubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. Misalnya, pemilik,
manajemen, masyarakat, pemerintah, kreditor, pegawai dan pihak yang berkepentingan lainnya.
Dalam teori ini pihak-pihak ini harus diperhatikan dalam penyajian informasi laporan
keuangannya. Menurut teori ini akuntansi jangna hanya mementingkan informasi bagi pemilik
perusahaan, tetapi juga pihak lainnya juga yang memberikan kontribusi langsung dan tidak
langsung kepada eksistensi dan keberhasilan suatu perusahaan atau lembaga.

F. PRINSIP-PRINSIP DASAR AKUNTANSI


Banyak pihak baik komite maupun perseorangan yang memberikan prinsip dasar
akuntansi tersebut. Antara yang satu dengan yang lain kadang memiliki kadang memiliki
perbedaan dan juga persamaan. Berikut ini akan kita berikan beberapa pendapat tersebut.
Standar Akuntansi Keuangan Indonesia memberikan dua asumsi dasar yaitu :
a. Dasar Acrual
Artinya dalam menyusun laporan keuangan pengakuan tansaksi didasarkan pada kejadian atau
perisiwa bukan didasarkan pada transaks kas.
b. Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan disusun berdasarkan asumsi bahwa entity yang dimaksud akan melanjutkan
usahanya, da;lam asumsi dasarnya tidak ada maksud untuk melakukan likudasi.
APB Statement No.4 memberikan smbilan prinsip dasar akuntansi sebagai berikut :
a. The cost Principle
Menurut pendapat ini, cost principle atau disebut juga acquisition cost adalah
dasar penilaian yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa, biaya, harga pokok
dan equity.
Dengan kata lain, setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada
tanggal perolehan.
APB statement No.4 mendefinisikan cost sebagai berikut :
Cost adalah suatu jumlah tertentu yang diukur dalam bentuk uang dari kas yang dibelanjakan
atau barang lain yang diserahkan , modal saham yang dikeluarkan, jasa yang diberikan, atau
utang yang dibebankan sebagai imbalan dari barang dan jasa yang diterima atau akan diterima.
Kelemahan dari prinsip ini yang paling utama adalah akibat nila uang atau kemampuan daya beli
yang tidak stabil sehingga bisa terjadi kemngkinan kesalahan pembaca dalam membaca lapran
keuangan yang disajikan secara cost principle.
b. The Revenue Principle
Prinsip ini menjelaskan sifat dan komponen, pengukuran dan pengakuan revenue sebagai salah
satu elemen penyusunan laporan laba rugi.

G. STANDAR (TEKNIK) AKUNTANSI


Standar atau teknik akuntansi adalah peraturan-peraturan khusus yang dijabarkan dari
prinsip dasar akuntansi, yang mengatur tentang bagaimana standar perrlakuan catatan dan
pelaporan terhadap semua transaksi dan peristiwa ekonomi yang terjadi dalam perusahaan.
Standar ini diperlukan sebagai patokan dalam penyusunan laporan keuangan yang baku.
Dengan adanya standar ini, pihak manajemen selaku pengelola dana dan aktivitas perusahaan
dapat mencatat, mengikhtisarkan, dan melaporkan seluruh hasil kegiatan operasional maupun
financial perusahaan secara baku dan transparan.
Standar akuntansi mencakup konvensi, peraturan dan prosedur yang telah disusun dan
disahkan oleh sebuah lembaga resmi (badan pembentuk standar) pada saat tertentu.
Belkaoli (1985) mengemukakan pentingnya standar akuntansi yang baku, yaitu :
a. Dapat menyajikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan kegiatan perusahaan yang
dapat dipercaya kebenarannya dan memiliki daya banding,
b. Memberikan pedoman bagi akuntan dalam melaksanakan pekerjaannya secara hati-hati dan
independen.
c. Memberikan database kepada pemerintah tentang berbagai informasi yang dianggap penting
dalam menghitung pajak penghasilan, peraturan tentang perusahaan, perencanaan dan
pengaturan ekonomi, dan peningkatan efiesiensi ekonomi, serta tujuan-tujuan makro lainnya.
d. Menarik perhatian parah ahli dan praktisi di bidang teori dan standar akuntansi.
Mengenai pihak-pihak yang dianggap memiliki peranan yang besar dalam proses perumusan
standar akutansi, Belkoei (1985) membaginya kedalam 3 fase sebagai berikut:
1. Fase Peranan Manajemen (1900-1933)
Dalam periode ini, manajemen dianggap memiliki peranan yang besar dalam perumusan
standar akuntansi. Peranan ini muncul sebagai akibat dari bertambahnya investor dan peranannya
yang besar dalam mengembangkan perusahaan.
Dengan adanya pemisahan fungsi antara pemilik dan manajemen telah menimbulkan atau
memberikan kekuasaaan yang besar pada manajemen untuk mengelola dan mengendalikan
perusahaan. Laporan keuangan disiapkan oleh manajemen sebagai bentuk
pertanggungjawabannya kepada pemilik.
Dalam periode ini, metode yang dipakai dalam memecahkan masalah akuntansi yang
timbul adalah lebih bersifat Pragmatis, bukan berdasarkan teori akuntansi yang ada. Yang
menjadi pusat perhatian manajemen pada saat itu adalah besarnya laba kena pajak dan upaya
untuk mengurangi pajak.
2. Fase Peranan Profesi (1933-1973)
Dalam periode ini, perumusan standar akuntansi didominasi oleh profesi, dimana
organisasi mulai tumbuh dan berkembang dengan pusat. Dalam periode ini pula (tahun 1934),
SEC untuk pertama kalinya dibentuk, dimana peran utamanya adalah mengatur penerbitan dan
transaksi perdagangan sekuritas oleh emiten kepada khalayak ramai (public). Atas desakan SEC,
pada tahun 1939, AICPA membentuk Committee on 51 Accounting Procedure (CAP).
Pada tahun 1959, AICPA mendirikan Accounting Principles Board(APB). Tugas utama
APB adalah mengajukan rekomendasi secara tertulis mengenai teknik akuntansi, menentukan
praktek akuntansi yang tepat, dan mempersempit celah perbedaan-perbedaan yang ada serta
ketidak-konsistenan yang terjadi dalam praktek akuntansi saat itu.
Dalam periode ini. Asosiasi dan organisasi profesi masih belum yakin terhadap kerangka
teori yang ada, dimana kekuatan atau otoritasnya juga tidak jelas. Oleh sebab itu, banyak sekali
alternatef yang timbul, yang pada akhirnya menciptakan fleksibilitas dalam penerapan standar
akuntansi.

3. Fase Politisasi (1973- Sekarang)


Berbagai kelemahan yang ada pada fase peranan manajemen dan profesi telah
menimbulkan kecenderungan pada lahirnya periode yang bersifat deduktid dan politisasi (adanya
keikutsertaan pemerintah) dalam perumusan standar akuntansi. Pada fase ini, FASB untuk
pertama kalinya dibentuk, yang merupakan peleburan dari unsur praktisi, bisnis, akademisi, dan
lembaga formal. FASB merupakan organisasi sector swasta yang bertanggungjawab dalam
pembentukan standar akuntansi di Amerika saat ini.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Aturan dan teknik akuntansi yang ada didasarkan pada pondasi teori akuntansi. Pondasi
ini dibentuk dari elemen-elemen hirarki yang berfungsi sebagai kerangka acuan atau struktur
teoritis. Pendekatan dan metodologi apapun yang digunakan dalam penyusunan teori akuntansi,
rerangka acuan atau struktur teori yang dihasilkan didasarkan pada serangkaian elemen dan
hubungan yang mengatur pengembangan teknik akuntansi.
Struktur teori akuntansi terdiri dari beberapa elemen sebagai berikut :
1. Pernyataan tujuan laporan keuangan
2. Pernyataan postulat dan konsep teroritis akuntansi yang terkait dengan asumsi-asumsi
lingkungan
dan sifat unit akuntansi. Postulat dan konsep teoritis diturunkan dari pernyataan tujuan
3. Pernyataan tentang prinsip-prinsip dasar yang didasarkan pada postulat dan konsep
teroritis.
4. Batang tubuh teknik-teknik akuntansi yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi

B. KRITIK DAN SARAN


Dalam penyusunan makalah ini, penyusun sudah berusaha memaparkan dan menjelaskan
materi dengan semaksimal mungkin, tapi tidak menutup kemungkinan adanya kekeliruan dalam
penyusunannya, baik dari segi materi, maupun penyusunannya. Oleh karena itu, Kami
mengharapakan sumbangsih pembaca untuk penyempurnaan makalah selanjutnya, dan harapan
bagi Kami, semoga makalah ini dapat memberi manfaat mengenai Struktur Teori Akuntansi.
Jadi, sebagai saran kami dalam mempelajari Akuntansi harus dengan cara yang teliti dan
baik karena apabila terjadi kesalahan pada pencatatan dapat merugikan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Belkaoui, Ahmed Riahi. 2006. Teori Akuntansi. Buku I Edisi 5. Salemba Empat: Jakarta.
Hery. 2009. Teori Akuntansi. Kencana: Jakarta.
http://wastinmendrofa.blogspot.com/2011/05/elemen-dan-strktur-akuntansi.html
https://dindaituchdindahoet.wordpress.com
Wiranyenyen.blogspot.com

31 DAFTAR PUSTAKA Chariri, Anis dan Imam Ghozali. 2007. Teori Akuntansi. Edisi Pertama.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Choi, F., Frost, C. A. D. S. & Meek, G. K. 1999.
International Accounting. Pretince Hall. Upper Saddle River, New York. Fahmi, I. (2011). Analisis Laporan
Keuangan. Lampulo: ALFABETA Gamayuni, R. R. 2009. Perkembangan Standar Akuntansi Keuangan
Indonesia Menuju International Financial Reporting Standard. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Vol. 14
No. 2, Juli 2009. Hadibroto, A. 2007. Peran IAI K.APd dan Perguruan Tinggi di Indonesia dalam
Menghadapi Tantangan Globalisasi. Simposium Nasional Standar Kualitas Pendidikan Tnggi
Akuntansi. April. Hoesada, J. 2008. Overview for Accounting Framework of IFRS. Lokakarya IFRS for
Today. Universitas Kristen Maranatha. Bandung. Ikatan Akuntan Indonesia. 2008. Prinsip Akuntansi:
Sejarah SAK. http://www.iaiglobal.or.id, diakses 3 April 2012. Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Program
Konvergensi IFRS 2009. http://www.iaiglobal.or.id, diakses 3 April 2012. Kartikahadi, H. (2010). Tinjauan
Kritis Penerapan Standar Akuntansi: Dulu dan Sekarang. Ebar: Jakarta Kasmir (2011) Analisis Laporan
Keuangan. Edisi 4. PT Raja Grafindon Persada Muchlis, S. 2011. Harmonisasi Standar Akuntansi
Internasional dan Dampak Penerapan dari Adopsi Penuh IFRS terhadap PSAK. Assets. Volume 1 Nomor
2. Munawir (2004). Analisa Laporan Keuangan. Edisi keempat. Yogyakarta: Liberty Nobes, C., & R., P.
1995. Comparative International Accounting, 4th Edition. Prentice-Hall International (UK). Hemel
Hempstead. Petreski, M. (2005) The Reverse Relationship between the Choice of Exchange Rate
Regime and the Macro-variables. SSRN Economic library, p.1-8. Prasetya, F. D. 2012. Perkembangan
Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi. Vol.1, No.4, Juli 2012.
Rudianto (2009). Pengantar Akuntansi. Erlangga: Jakarta Saputra, B. W. & Hermawan, A. 2012.
Perkembangan International Financial Reporting Standard (IFRS) dan Penerapannya di Indonesia.
Finance & Accounting Journal. Solomons, D. 1986. Making Accounting Policy: The Quest for Credibility in
Financial Reporting. Oxford University Press. New York. Sterling, Robert R., 1967. A Statement of Basic
Accounting Theory: A Review Article. Journal of Accounting Research, Vol. 5, No. 1 (Spring, 1967) , pp
95-112 Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta : BPFE
Suwardjono, 2012. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi Ketiga. BPFE, Yogyakarta
Wolk, Harry I., et al. 2013. Accounting Theory Conceptual Issues in a Political and Economic
Environment. Eighth Edition. SAGE Publication Inc. USA Zeff, S.A. 1984. Some Junctures in the
Evolution of the Prosess Establishing Accounting Principles in the U.S.A.: 1917-1972. Accounting
Review. Vol.59, No.3, p: 447-468. http://edhane.wordpress.com/2010/04/01/sejarah-sak/ . Diakses pada:
24 Maret 2015 http://www.ilmu-ekonomi.com/2012/03/pengertian-standar-akuntansi. Diakses pada: 24
Maret 2015 30

Nama Jurnal Jurnal Akuntansi Keuangan


Volume / Halaman Volume 2, No.1 / 1-7
Nama Penulis I Made Narsa
Judul Jurnal Struktur Meta Teori Akuntansi Keuangan (Sebuah Telaah dan
Perbandingan antara FASB dan IASC)
Tanggal Jurnal 2011
Tujuan Penelitian Untuk membahas struktur meta teori yang dipergunakan oleh
FASB dan IASC dalam mengembangkan rerangka konseptual,
menelaah perbedaan-perbedaan mendasar, menganalisis
hambatan-hambatan yang dialami serta mengidentifikasi upaya-
upaya yang harus dilakukan agar IFRS diterapkan oleh negara-
negara anggota
Metode Penelitian Komparatif
Variabel Penelitian -
Hasil Penelitian Model kerangka konseptual FASB ini mencakup empat
komponen dasar, yaitu :
a.Tujuan pelaporan keuangan yang dituangkan pada SFAC no 1
dan SFAC no 4
b.Kriteria kualitas informasi yang dituangkan pada SFAC no 2
c.Elemen-elemen laporan keuangan yang dituangkan pada SFCA
no 6 (pengganti SFAC no 3)
d.Pengukuran dan Pengakuan yang dituangkan pada SFAC no. 5
Model ini dirancang dengan cukup luas dan mencakup
perusahaan bisnis dan nonbisnis. Rerangka ini merupakan dasar
teoritis bagi FASB dalam mengembangkan standard akuntansi
keuangan (Statement of Financial Accounting Standard) di
Amerika Serikat.

Standar-standar tersebut berkenaan dengan pengukuran aktivitas


ekonomi, penentuan waktu kapan pengukuran dan pencatatan
harus dilakukan, ketentuan pengungkapan mengenai aktivitas
tersebut, penyiapan dan penyajian ringkasan aktivitas ekonomi
tersebut dalam bentuk laporan keuangan.

Kerangka dasar konseptual IASC memuat lima unsur utama,


yaitu
1) Tujuan laporan keuangan yang dituangkan dalam paragraf 12-
21
2) Asumsi dasar dituangkan pada paragraf 22-23, dan konsep
modal dan pemeliharaan modal yang dituangkan pada paragraf
102-110
3) Karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi
dalam laporan keuangan yang dituangkan pada paragraf 24-46
4) Elemen-elemen laporan keuangan yang dituangkan pada
paragraf 47-81
5) Definisi, pengakuan dituangkan pada paragraf 82-98, dan
pengukuran unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan
dituangkan pada paragraf 99-101.

Kerangka dasar ini dimaksudkan sebagai acuan bagi komite


penyusun standar akuntansi keuangan dalam pengembangan
standar akuntansi keuangan dimasa depan dan dalam peninjaun
kembali terhadap standar akuntansi keuangan yang berlaku.
Kesimpulan Penelitian Penerapan IFRS ternyata mengalami hambatan yang sangat
serius, karena banyak sekali terdapat perbedaan antar negara-
negara anggota, baik dalam bidang social, budaya, hukum,
ekonomi, politik, pendidikan, sistem pemerintahan, sistem pajak,
dan lain sebagainya.
Karakteristik dan tingkatan yang berbeda antar negara
merupakan hambatan mendasar yang dihadapi dalam proses
harmonisasi standar akuntansi keuangan. Hambatan lain yang
muncul adalah adanya perbedaan kebutuhan dan keinginan
antara Negara maju dengan yang belum maju dan antara Negara
yang tingkat pertumbuhan ekonominya sangat tinggi dan Negara
dengan tingkat pertumbuhan ekonomi lebih rendah bahkan
sangat rendah. Yang harus dilakukan oleh IASC sebagai badan
penyusun standar akuntansi interasional adalah membuat para
anggota merasa butuh menerapkan IFRS.
Pendapat Mengenai Jurnal Dengan adanya penelitian ini kita dapat mengetahui adanya
hambatan-hambatan yang dialami serta upaya-upaya apa saja
yang harus dilakukan agar IFRS diterapkan oleh negara-negara
internasional dalam meta teori yang dipergunakan oleh FASB
dan IASC dalam mengembangkan kerangka konseptual.

ANALISIS JURNAL POSITIVE ACCOUNTING THEORY: A CRITIQUE


(SINHA, 2008)

1. Hasil review jurnal secara umum


Tulisan Sinha secara umum membahas mengenai teori akuntansi positif yang dapat
memprediksi dengan baik praktek akuntansi yang terjadi. Teori akuntansi positif dikatakan
sangat kontras dengan teori akuntansi normatif. Tulisan Sinha bermaksud untuk menguji
validitas dari teori akuntansi positif dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Dari pembahasan
yang dilakukan dan berdasarkan literatur dari penulis yang lain, Sinha mengusulkan adanya
integrasi dari dua pendekatan ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Positive
accounting research(PAR) merujuk kepada desain penelitian akuntansi khusus yang berusaha
untuk menjelaskan praktek akuntansi dari perusahaan. Dasar dari PAR adalah adanya positive
accounting theory (PAT). Tiga dasar hipotesis dari PAT, seperti yang dikemukakan oleh Watts
dan Zimmerman (1978), yaitu bonus plan hypothesis, debt/equity hypothesis, dan political cost
hypothesis. Dalam tulisan ini, Sinha berusaha untuk memandang PAT dari berbagai sudut
pandang.

2. Poin utama pembahasan jurnal


Is PAT Scientific? (Apakah PAT bersifat sains?)
Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa praktek akuntansi bersifat ilmiah,
sedangkan penelitian akuntansi tradisional bersifat normatif sehingga non-ilmiah. Inti dari
metodologi akuntansi positif adalah bahwa tujuannya untuk menjelaskan dan memprediksi
praktek akuntansi. Hal ini menyebabkan klaim bahwa teori positif adalah teori akuntansi
ekonomi yang berbasis dan berevolusi dari penggunaan konsep ilmiah teori (Whittington, 1987).
Ada dua isu yang terlibat dalam pernyataan ini. Pertama-tama, seperti yang ditunjukkan oleh
Chambers (1993), sifat pengetahuan ilmiah secara simultan positif dan normatif, atau deskriptif
dan preskriptif. Masalah kedua, yang berkaitan dengan yang pertama adalah tentang keyakinan
teori positif merupakan ilmu yang bebas nilai dan non-sains adalah ilmu yang sarat nilai atau
normatif (Sterling, 1990). Sterling lebih lanjut menunjukkan bahwa praktek-praktek paling
ilmiah atau penelitian yang normatif dalam arti bahwa mereka berusaha untuk mengetahui
apakah praktek memenuhi standar, yang hampir selalu teori dependen. Teori-teori ilmiah
menjelaskan dan memprediksi fenomena alam, tapi salah satu fungsi dari teori adalah untuk
memberikan pedoman kepada para praktisi disiplin itu apakah mereka benar mengikuti kaidah
teori yang sesuai atau tidak.
Klaim PAT yang ilmiah dikritisi oleh Christenson (1983). Dia berpendapat bahwa karena
PAT berkaitan dengan menjelaskan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku akuntan dan
manajer, maka disiplin ilmu tersebut harus disebut sebagai 'sosiologi akuntansi.
Is PAT Economic-Based? (Apakah PAT berbasis ekonomi?)
Watts & Zimmerman mendefinisikan PAT sebagai teori akuntansi berbasis ekonomi. Mereka
menyatakan bahwa 'pandangan dalam teori, secara eksplisit maupun implisit, mendasari
kebanyakan studi empiris di bidang ekonomi' dan juga bahwa 'perkembangan teori akuntansi
positif memiliki tempat dalam arus utama ekonomi dan penelitian keuangan'. Dua fitur yang
menonjol dari penjelasan berbasis ekonomi ini adalah: (1) individualisme metodologis dan (2)
hipotesis maksimalisasi neoklasik. Individualisme metodologis adalah komitmen untuk
menjelaskan setiap fenomena sosial sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan individu
dan hipotesis maksimalisasi neoklasik mengklaim bahwa setiap individu yang membuat
keputusan tersebut secara eksklusif memiliki keinginan untuk memaksimalkan utilitas
pribadinya. Maka pertanyaan selanjutnya yang dikemukakan oleh Sinhan untuk menguji
validitas PAT adalah apakah maksimalisasi utilitas merupakan penjelasan yang valid?
Jika semua tindakan manusia dapat dijelaskan dalam hal prinsip maksimisasi utilitas maka
tidak ada tindakan manusia atau interaksi yang tidak menghasilkan maksimisasi utilitas bagi
individu yang bersangkutan. Seperti yang ditunjukkan oleh Sterling, terlepas dari apakah
perusahaan menggunakan LIFO atau FIFO, penjelasan akan sama, yaitu, LIFO (atau FIFO), akan
memaksimalkan utilitas dari manajer yang membuat keputusan. Dasar untuk penelitian juga akan
sama. Ini akan memandu peneliti positif untuk mencari cara bagaimana LIFO (atau FIFO)
memaksimalkan utilitas manajer, misalnya, melihat apakah LIFO (atau FIFO) memaksimalkan
laba yang dilaporkan dan jika pendapatan manajer terikat dengan laba yang dilaporkan sehingga
memaksimalkan utilitas manajer. Hal ini juga subjektif karena setiap manajer memiliki fungsi
utilitas yang berbeda dan parameter fungsi utilitas yang berbeda.

Element of Controversy (Bagian kontroversi)


Para ahli teori akuntansi positif telah mencoba untuk secara radikal mengubah pertanyaan
mendasar akuntansi dari 'apa sebaiknya praktek akuntansi itu?' menjadi 'apa praktek akuntansi
itu?' (Sterling, 1990). Sterling memperingatkan bahwa merubah pertanyaan secara radikal dalam
sebuah disiplin ilmu adalah masalah yang paling penting bagi disiplin ilmu itu sendiri.

Need for Integration (Kebutuhan untuk integrasi)


Kesenjangan antara dua pandangan berbeda dalam penelitian akuntansi telah begitu kuat dan
mendalam pada awal abad ke-21. Untuk hal ini, maka Sinhan mengusulkan adopsi pendekatan
kondisional-normatif, yang sudah cukup menonjol di bidang ekonomi. Ide dasar pendekatan ini
adalah bahwa bukan untuk tidak mengetahui bagaimana orang berperilaku atau bagaimana
mereka harus bersikap secara mutlak, tapi bagaimana mereka harus bersikap jika mereka ingin
mencapai tujuan tertentu (Mattessich, 2002). Seperti ditunjukkan oleh Mattessich, pendekatan
kondisional-normatif dapat digunakan dalam cara yang cukup netral. Tujuannya adalah untuk
terciptanya serangkaian model akuntansi yang baik.

Conclusion(Kesimpulan)
Watts & Zimmerman telah menunjukkan jalan ke arah penelitian masa depan bagi para
peneliti PAT. Mereka mencatat bahwa "PAT merupakan studi akuntansi yang paling berusaha
untuk menjelaskan pilihan dari metode akuntansi tunggal (misalnya, pilihan depresiasi) bukan
pilihan metode akuntansi kombinasi" (Watts dan Zimmerman, 1990). Mereka menekankan
perlunya meningkatkan hubungan antara teori dan tes empiris. Mereka lebih lanjut mencatat
bahwa mengembangkan dan menguji hipotesis alternatif bagi keteraturan empiris yang ada juga
akan meningkatkan hubungan antara teori dan tes.
Mangos dan Lewis (1995) menekankan bahwa "mengadopsi paradigma sosial-ekonomi untuk
menganalisis pilihan praktek akuntansi manajer dapat memberikan pemahaman yang lebih baik.
Identifikasi penjelasan seperti itu akan membantu manajer dalam memahami respon mereka
terhadap masalah-masalah sosial-ekonomi dan hubungannya dengan nilai perusahaan. Mereka
berpendapat bahwa variabel sosial berdampak pada perilaku manajer dan pilihan kebijakan
akuntansi adalah tindakan sosial dan tanggung jawab sosial perusahaan seperti yang ditunjukkan
dalam isi laporan tahunan perusahaan merupakan sebuah pengaruh sosial yang terlihat dan
terukur. Mereka lebih jauh mencatat bahwa kemungkinan ada hubungan antara tanggung jawab
sosial perusahaan dan kebijakan akuntansi yang dipilih yang merupakan perilaku manajer.
Perkembangan yang demikian akan membantu dalam solusi pemisahan bidang sosial dan
ekonomi dan mengarah pada paradigma awal sosial ekonomi.

Kritik bebas terhadap jurnal

Secara umum pertanyaan kritik yang disampaikan oleh Sinha didasarkan pada pengujian
apakah PAT dapat dikatakan sebagai sains dan apakah berbasis ekonomi. Kritik yang kami
berikan terhadap pembahasan jurnal Sinha adalah harus ada ringkasan penelitian-penelitian yang
pro dan kontra terhadap PAT. Ringkasan tersebut mungkin dapat berupa diagram atau tabel
sehingga pembaca dapat dengan mudah mengetahui judul-judul penelitian yang pro dan kontra
terhadap PAT.

1. Hasil review jurnal secara umum


Tulisan Suwaldiman ini membahas mengeni kritik terhadap teori akuntansi positif (PAT).
Suwaldiman membahas logika dan arti normatif dari PAT. Dalam tulisannya, Suwaldiman
berpendapat bahwa PAT tidak lebih baik dari bentuk teori yang lain dan hanya menjelaskan atau
memprediksi praktek-praktek akuntansi yang berkembang saat ini.
Masalah konstruksiteori akuntansi telah mengarah padaperdebatan pendekatan
deduktif dengan pendekatan induktif dan dua aliranteori akuntansi positif dengan teori
akuntansi normatif. Teori akuntansi positif menghasilkan penelitian yang didasarkan
pada pengamatan empiris, dan kemudian berdasarkan pada
pendekatan induktif, teoridibangun. Para pendukung akuntansi positif mengklaim bahwa mereka
bebasnilaidalam menjelaskan dan memprediksi praktek akuntansi. Di sisi lain, teori
akuntansi normatif dibangun berdasarkan pendekatan normatif. Para
pendukungnormatif berpendapat bahwa teoriakuntansi harus mendorong praktek sesuai dengan
tujuan dari teori (yaitu, standar akuntansi dan prosedur), sehingga tujuan teori akan
tercapai.Tulisan Suwaldiman ini dimulai dengan menjelaskan sifat positif dan teori
akuntansi normatifkemudian pembahasan ditekankan pada kritikdengan logikapenelitian
akuntansipositif dan indra normatif dari teori akuntansi positif.

2. Poin utama pembahasan jurnal


Sifat dari teori akuntansi positif
Ide dasar dari PAT adalah mengacu kepada ide Popper mengenai apa itu teori dalam
ilmu (Boland & Gordon, 1982, hal. 145). Fungsi teori adalah untuk menjelaskan dan
memprediksi tentang suatu bidang atau fenomena yang sedangdiamati. Selain
itu, fungsi teori adalah untuk menjawab apa dan mengapa tidak apa yang
seharusnya ataubagaimana melakukannya.
Teori akuntansi positif terungkap perdebatan dengan Watts dan Zimmermanbuku"Teori
Akuntansi Positif". Mengacu pada gagasan Popper, hal ini diklaim bahwa tujuan teori
akuntansi adalah untuk menjelaskan dan memprediksi praktek
akuntansi(Watts dan Zimmerman, 1986, hal. 2). Selanjutnya, mereka berpendapat bahwadefinisi
mereka tentang praktek akuntansi yang luas didasarkan pada alasan bahwaperkembangandan
sifat akuntansi terkait erat dengan audit, praktek audit dimasukkan sebagai bagian dari praktek
akuntansi (Watts dan Zimmerman, 1986, hal. 2).Mereka memberikan alasan untuk
praktek diamati, yaitu mengapa perusahaanmenggunakan metode LIFO daripada metode FIFO.
Selain itu, tujuan dari PAT adalah untuk memberikan penjelasan dan prediksi yang berguna
bagi pihak dalam menarik informasi akuntansi untuk memaksimalkan kekayaan mereka (yaitu
praktik akuntansi berakar pada tujuan manajer) (Williams, 1989, hal. 455). Oleh karena itu,
untuk mencapai tujuan ini, penelitian akuntansi harus dilakukan secara empiris untuk
mengembangkan PAT. Selanjutnya, agar PAT memiliki arti, harus mengandung setidaknya satu
premis atau proposisi yang memungkinkan atribusi kausal. Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa
PAT didasarkan pada asumsi bahwa individu bertindak untuk memaksimalkan utilitas mereka
sendiri (Williams, 1989, hal. 458).

Teori akuntansi normatif


Teori normatifyang dominan dikembangkan pada tahun 1950-an dan 1960-an(Deegan, 2003,
hal. 92). Tujuan utama dari teori akuntansi normatifadalah untuk memberikan arahan kepada
individu untuk memungkinkan mereka untuk memilihkebijakan akuntansi yang paling tepat
sesuai keadaan (Deegan, 2003, hal. 90). Oleh karena itu, hasil penelitian akuntansinormatif harus
memberikan penjelasan untuk menginformasikan orang lain tentang pendekatanakuntansi yang
optimal untuk mengadopsi dan mengapa pendekatan khusus ini dianggap optimal.
Penelitian akuntansi normatif telah menghasilkan teori akuntansi yang relevanuntuk
pengaturan standarpelaporan keuangan (Mozes, 1992, hal. 93). Dalamhal ini,FASBmengartikan
penelitian akuntansi normatif sebagai permintaan bagi para peneliti akuntansi untuk
menyelidiki kualitas keputusan spesifik yang dibuat oleh badan penyusun standar
berdasarkan data akuntansi(Mozes, 1992, hal. 93). Contoh
suksesdariteori akuntansi normatifadalah kerangka kerja konseptual untukpelaporan
keuangan yang diterbitkan olehFASB.
Pendukung teori akuntansi normatif menyatakan bahwa standar akuntansi harus berasal
dari norma-norma atau konsep tertentu, sehingga, standar akuntansi akan
konsisten, sistematis, logika, dan membentuk seperangkataturan. Norma-norma atau
konsep adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dan normadasar
dalamproses penetapan standar.

Kritik terhadap logika dari teori akuntansi positif


Tujuan utama dari PAT adalah untuk menjelaskan dan memprediksi praktek akuntansi dengan
membuat sejumlah asumsi tentang perilaku manusia. Diasumsikan bahwa tindakan
individu didasarkan padaupaya untuk memaksimalkan kesejahteraan mereka (Deegan, 1997,
hal. 64). Dalam hal ini PAT tidak memberikan penjelasan untuk akuntansi bagaimana
memaksimalkan kesejahteraan. Watts danZimmermanmenyatakan bahwa PATberkaitan
dengan menjelaskan praktek akuntansi.Hal ini dirancang untuk menjelaskan dan
memprediksi metode akuntansi yang dipergunakan oleh perusahaan (Watt &Zimmerman, 1986,
hal. 7).
Tampaknya PAT tidak memiliki peran untuk mempengaruhi masyarakatkarena
telah dibatasi untuk menjelaskan dan memprediksi. Bebas nilai diklaim
olehpendukung PAT telah membatasi bahwa penelitian akuntansi positif dan hasilnyahanya
untukmenjelaskan dan memprediksi, tapi tidakmenyarankan metode mana yang
harusdiadopsi oleh para manajer untuk memaksimalkan kekayaan mereka. Logikanya,di
bawah kondisi ekstra biasa seperti inflasi tinggi, manajer perlu memilikimetode terbaik untuk
memaksimalkankekayaan mereka. Oleh karena itu PATmasih menyisakan pertanyaan yang
belum terjawab dan kebingungan untuk manajer. Cukupmemberikan deskripsi, penjelasan, dan
prediksi fenomena akuntansi memberikan manfaat sedikit sosial dantidak memajukan
disiplin akuntansi.
Tingkat universalitasPAT juga dipertanyakan. Teori harus bersifat
universal karenadikembangkan di
bawah objektivitas (bebas nilai). Teori di PATdikembangkan dalam penelitian positif yang
mengasumsikan bahwa tindakan individu untuk memaksimalkan kesejahteraan
mereka. Hipotesis diuji dengan asumsi umumyang bias dan dirancangsubyektif. Berikut ini
adalah tanggapan pertanyaan umum untuk asumsi yang dibuat oleh para
peneliti PAT (Neu, 1997, hal 56.): Apakah manajer benar-benarberperilakudalam mementingkan
diri sendiri? Oleh karena itu, PAT gagaluntuk menjelaskan dan memprediksipraktek yang tidak
memenuhi asumsi. Dalam hal iniPATtampaknya tidak menjadi teori karena kadang-kadang tidak
universal.

Arti normatif dari teori akuntansi positif


Tidak dapat dipungkiri bahwa akuntansi bukan ilmu murni
seperti fisika, biologi,matematika, kimia, dll.Akuntansi merupakan ilmu terapan. Klaim
oleh Watts danZimmerman bahwaPAT adalah untuk menjelaskan dan memprediksi praktek
akuntansisangat berbeda
dengan kualifikasi Popper mengenai teori yang tepat diterapkanuntukilmu murni tidakuntuk ilmu
terapan.Ilmuwan menerapkan penggunaan penelitian ilmu murni untuk
mengembangkan nilai tetapi tidak membuatilmu terapan menjadi ilmu murni dan bebas darinilai.
PAT adalahbebas dari nilai seperti yang diklaim
oleh Watts danZimmerman. Teoriakuntansidikembangkan menjadi konsep
akuntansi, standar, dan prosedur. Ini akan sangat berarti jika teori akuntansi tidak
memiliki tujuan-orientasi tersebut.Selanjutnya, Tinker etal (1982, hal. 167) mencatat
bahwa PAT terbukti menjadi ilusikarena penelitian di bidang akuntansi (atau ilmu apapun) tidak
bisa bebas nilai. Oleh karena itu akuntansi harus memainkan peran penting dalam
mencapai kesejahteraan sosial dantidak dapat dicapai dengan hanya memberikan penjelasan
dan prediksi.Hal ini jelas bahwa jika PAT masih di
bidangakuntansi tidak akanmembebaskan nilai,tetapi juga sarat nilai.
Akuntansi harus memainkan peran penting dalam memaksimalkan kesejahteraan
sosial. Akuntansi merupakan alat untuk mencapai tujuan sosial, yaitu, tujuan ekonominasional di
negara di mana akuntansi diterapkan. Oleh karena itu, struktur akuntansidi negara tertentu sangat
mungkinberbeda dari negara lain. Standar akuntansi harus dikembangkan untuk mempengaruhi
distribusi kekayaan masyarakat.
Telah dikemukakan bahwa akuntansi memainkan peran penting dalam
mencapaidistribusikesejahteraan sosial, bukan hanyamenjelaskan atau memprediksi praktek
akuntansi. Akhirnya, bisa dikatakan bahwa jika akuntansibebas nilai, hanyamenjelaskan dan
memprediksi praktek akuntansi, akuntansi akan menjadi tidak berartidan tidak melakukan
apapun dalam mencapai kesejahteraan sosial.

Kesimpulan

Jelaslah bahwa "penjelasan, prediksi, kenetralan, dan bebas nilai" seperti yang diklaim
dalam teori akuntansi positif telah membatasi teori akuntansi dan praktekdalam
mendukung distribusikesejahteraan sosial. Praktek akuntansi harus mencapai tujuannya yang
tidak mewakili realitas ekonomi dengan cara ilmiah murni, tapiperkiraan itupragmatis atas
dasar norma-norma tertentu. Sayangnya, pendukung PATtampaknyatidak mau melihat bukti
yang mendukung pandangan bahwa akuntansiakademik merupakan disiplin ilmu
terapan. Akuntansiharus memainkan peran pentingperan dalam mencapai maksimalisasiindividu
dan kesejahteraan sosial. Oleh karena, itu mustahil bagi akuntansi untuk
bebas nilai. Penelitiakuntansi harus mengembangkan teori akuntansi yang fokus dalam
distribusi kesejahteraan sosial.