Anda di halaman 1dari 9

DIMENSI HUKUM PIDANA

Oleh: Muhammad Ainul Syamsu


(Advokat)
A. Pengantar
Dimensi hukum pidana tidak hanya menyangkut persoalan doktriner dan prosesual ya
ng digunakan dalam persidangan. Lebih dari itu, dimensi hukum pidana mencakup pe
rsoalan kebijakan hukum pidana yang menentukan perbuatan-perbuatan yang dilarang
, penerapan ketentuan normatif yang dihasilkan dari kebijakan dan pelaksanaan pe
midanaan sebagai nestapa atas pelanggaran norma yang telah ditentukan dalam huku
m pidana. Dari sini terlihat bahwa korelasi hukum pidana telah tercipta sejak ad
anya keinginan untuk melakukan pengaturan terhadap perilaku tertentu dalam rangk
a menjaga tertib masyarakat dan memberikan perlindungan warga negara dari repres
i negara. Dalam konteks ini, dimensi hukum pidana diadakan dalam rangka memenuhi
fungsi hukum pidana. Profesor Sudarto menyatakan bahwa hukum pidana memiliki fu
ngsi primer dan fungsi sekunder. Fungsi primer hukum pidana adalah memberikan pe
ngaturan kepada masyarakat untuk menciptakan tertib hukum. Fungsi sekunder hukum
pidana adalah membatasi perilaku aparatur hukum dalam menjalankan hukum demi me
njaga hak-hak warga negara. Dalam kerangka menjalankan fungsi-fungsi tersebut, m
aka pembahasan hukum pidana tidak dapat dibatasi pada persoalan doktriner dan pr
osesual, tapi harus diperluas sehingga mencakup kebijakan hukum pidana, penguger
an norma dalam aturan hukum pidana dan hukum pelaksanaan pidana.
Pembahasan hukum pidana yang hanya menitikberatkan kepada doktriner dan prosesua
l justru mereduksi eksistensi hukum pidana karena akan memangkas sensifitas huku
m pidana terhadap nilai-nilai yang seyogyianya diatur dalam ketentuan normatif.
Hal ini disebabkan hukum pidana doktriner dan prosesual merupakan ketentuan norm
atif. Ketentuan normatif mempunyai arti menakala norma yang diatur dihasilkan da
ri kenyataan sosiologis yang benar-benar terjadi di masyarakat. Dengan kata lain
, pembentukan hukum pidana doktriner dan prosesuil harus didahului penentuan keb
ijakan hukum pidana agar pengugeran mempunyai relevansi dengan keadaan sosilogis
. Dalam konteks tersebut, makalah ini mengupas sekilas tentang dimensi hukum pid
ana yang meliputi kebijakan hukum pidana, hukum pidana normatif dan hukum pelaks
anaan pidana.

B. Kebijakan Hukum Pidana: Urgensi Krimonologi bagi Hukum Pidana


Kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan sosial. Kebijakan hukum p
idana atau yang lazim disebut politik kriminil merupakan upaya masyarakat dalam
menanggulangi kejahatan. Ungkapan ini berasal dari Profesor Marc Ancel yang meny
atakan bahwa kebijakan hukum pidana adalah “the rational organization of the con
trol of crime by society”. Sejalan dengan pengertian tersebut,Profesor GP Hoefna
gels mendefinisikan kebijakan hukum pidana dengan “criminal policy is the ration
al organization of the social reaction to crime”. Berdasarkan pengertian ini, ke
bijakan hukum pidana berupaya untuk mengidentifikasi hal-hal tertentu yang perlu
diatur dalam rangka menanggulangi kejahatan.
Sebagai ciri hukum pidana dalam negara modern, kebijakan hukum pidana mempunyai
pengaruh penting dalam menentukan arah dan pembaruan hukum pidana. Dalam konteks
ini, kebijakan hukum pidana meletakkan dasar bagi perilaku tertentu yang dilara
ng, penerapan ketentuan tersebut serta lembaga-lembaga yang berwenang dalam pene
gakan hukumnya. Kebijakan hukum pidana bertugas memberi masukan bagi legislasi d
an memformulasi kemampuan lembaga-lembaga yang berwenang atas penegakan hukumnya
, sehingga keberlakuan dan efektifitas hukum pidana dalam menjalankan fungsinya
dapat tercapai dengan baik. Lingkup kerja kebijakan hukum pidana yang begitu lua
s tercermin dalam pengertian kebijakan hukum pidana yang diungkapkan oleh Profes
or Sudarto, yang mengelaborasi beberapa pengertian yang lazim dianut dalam disku
rsus kebijakan hukum pidana, dengan merinci kebijakan hukum pidana terdiri dari
keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran
hukum yang berupa pidana, keseluruhan fungsi dari aparatur penegak hukum, termas
uk di dalamnya cara kerja dari pengadilan ataupun polisi dan keseluruhan kebijak
an, yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan resmi, yang bertuj
uan untuk menegakkan norma-norma sentral dari masyarakat.
Senada dengan pengertian yang diutarakan oleh Profesor Sudarto, Profesor Mulder
menyatakan bahwa kebijakan hukum pidana berfungsi untuk menentukan seberapa jauh
ketentuan pidana yang berlaku perlu diubah dan perbarui, pencegahan terjadinya
tindak pidana dan pengaturan tentang pelaksanaan proses judisial seperti penyidi
kan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan dan pelaksanaan pidananya.
Beberapa pengertian di atas menegaskan bahwa kebijakan hukum pidana mempunyai du
a tugas utama. Pertama, kebijakan hukum pidana memberikan arah bagi aturan hukum
pidana. Arah yang ingin dituju oleh aturan hukum pidana tercermin baik secara e
ksplisit maupun implisit dalam peraturan pidana yang dibentuk oleh lembaga legis
latif. Sementara itu, arah yang ditentukan dalam kebijakan hukum pidana harus te
tap dipedomani oleh lembaga legislatif. Kedua, kebijakan hukum pidana bertugas m
elakukan reevaluasi, rekonstruksi dan mereorganisasi aturan hukum pidana dan bad
an pelaksananya agar keduanya selalu sejalan dengan kehidupan sosial kemasyaraka
tan.
Dalam kerangka reformasi hukum pidana, tindakan reevaluasi, rekonstruksi dan reo
rganisasi hukum pidana mutlak dilakukan. Reformasi hukum pidana harus didasarkan
kepada pendekatan yang berorientasi kebijakan (policy-oriented approach) dan pe
ndakatan yang berorientasi kepada nilai (value-oriented approach). Dilihat dari
segi pendekatan kebijakan, reformasi hukum pidana merupakan bagian dari kebijaka
n sosial yang lebih luas yang secara integral diberlakukan dalam rangka pembangu
nan bangsa secara umum dan secara khusus memberikan perlindungan kepada masyarak
at. Dengan begitu, hukum pidana diharapkan dapat terus memperbarui diri berdasar
kan perubahan sosial dan masyarakat. Dilihat dari pendekatan nilai, reformasi hu
kum pidana menggambarkan upaya reaktualisasi atas nilai sosial, politik dan ekon
omi yang mendasari ketentuan normatif hukum pidana sehingga dimungkinkan perubah
an aturan hukum manakala ditemukan bahwa nilai sosial, politik dan ekonomi yang
dianut dalam aturan hukum di masa lalu tidak relevan lagi di zaman sekarang. Dal
am kerangka ini, kriminalisasi harus didasarkan atas orientasi kebijakan dan nil
ai dengan tetap membuka jalan dilakukannya dekriminalisasi terhadap tindak pidan
a yang tidak relevan dengan keadaan sosio politik dan ekonomi.
Proses kriminalisasi dalam hukum pidana Indonesia terlihat dari maraknya berbaga
i perundang-undangan di luar KUHP. Kendati kriminalisasi diperlukan karena KUHP
tidak dapat menampung semua ketentuan tentang tindak pidana, namun sering kali d
itemukan kriminalisasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan nyata masyarakat d
an tidak mempersiapkan kapabilitas badan pelaksana. Hal ini terlihat dalam Undan
g-undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi) yang mengabaikan
diversitas masyarakat Indonesia. Secara implisit, satu-satunya faktor dilakukan
nya kriminalisasi dalam bentuk UU Pornografi adalah pertimbangan moralitas yang
bersifat segmental dan tidak mewakili keseluruhan masyarakat Indonesia. Kendati
penulis menyetujui perlunya penanggulangan kejahatan pornografi dan kesusilaan,
namun penanggulangan pornografi tidak serta mengabaikan budaya dan adat yang tel
ah lama hidup di Indonesia. Aturan hukum pidana yang hanya didasarkan kepada asp
ek moralitas semata dan mengabaikan keadaan nyata masyarakat berpotensi menimbul
kan represi ataupun kelebihan kriminalisasi (overcriminalization) yang berakhir
dengan inefektifitas penerapan UU tersebut.
Rancangan KUHP pun tidak terlepas dari potensi kelebihan kriminalisasi karena pr
oses kriminalisasi tidak didukung dengan penelitian tentang nilai sosio politik
dan ekonomi masyarakat. Hal ini terlihat dalam ketentuan tentang santet yang dia
tur dalam Rancangan KUHP. Ketentuan tidak mencerminkan masyarakat modern yang me
nekankan rasionalitas. Kendati tindak pidana santet merupakan delik formil yang
tidak mensyaratkan akibat, paradigma yang mendasari tindak pidana santet tidak m
encerminkan budaya masyarakat modern. Bahkan dalam tulisannya, Profesor Barda Na
wawi Arief merujuk kepada kerajaan Majapahit yang mengatur tindak pidana santet.
Persoalan yang mengemuka dari tindak pidana santet berkaitan dengan sejauhmana
kebutuhan masyarakat terhadap pengaturan tersebut dan sejauhmana kemampuan kepol
isian dalam membuktikan tindak pidana tersebut. Oleh karena itu, tindak pidana s
ihir atau santet berpotensi menciptakan overreach criminal law karena ketidakmam
puan hukum acara dan badan pelaksananya untuk menegakkan hukum tentang sihir dan
santet.
Kenyataan serupa juga terjadi dalam penerapan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). UU TPPU memberikan kewenangan kepada Pusat Pel
aporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menganalisis transaksi keua
ngan yang mencurigakan berdasarkan kelaziman jumlah transaksi yang biasa dilakuk
an. Transaksi keuangan dinilai mencurigakan manakala transaksi tersebut melebihi
empat kali jumlah transaksi yang biasa dilakukan. Penilaian tersebut tidak dise
rtai dengan penyelidikan terhadap asal dana diperoleh sehingga memungkinkan PPAT
K menggunakan asumsi dalam menilai transaksi. Dalam pelaksanaannya, seringkali k
epolisian menerima begitu saja hasil analisis PPATK dan menyamakan transaksi keu
angan mencurigakan dengan tindak pidana pencucian uang. Hal ini terjadi dalam pe
rkara pidana yang diperiksa di Pengadilan Negeri Karawang yang menjatuhkan pidan
a kepada terdakwa dengan menggunakan bukti petunjuk yang bertentangan dengan ket
erangan saksi dan keterangan terdakwa, sedangkan pihak kepolisian dan kejaksaan
tidak mampu mendatangkan hasil pemeriksaan pajak. Sejatinya, kepolisian dan keja
ksaan membuktikan bahwa transaksi keuangan tersebut berasal dari tindak pidana s
ehingga memenuhi unsur tindak pidana pencucian uang.
Proses peradilan tersebut di atas memperlihatkan ketidakmampuan kepolisian dalam
menangani persoalan. Kemampuan terbatas kepolisian dalam menangani perbankan me
mbutuhkan ahli yang mendukung kerja kepolisian, sehingga hasil penyidikan tidak
mengandung asumsi. Hasil penyidikan yang sarat asumsi menegaskan bahwa kepolisia
n, sebagai lembaga yang berwenang untuk menyidik, tidak mempunyai keahlian cukup
sehingga alat perlengkapan hukum pidana tidak mampu menjangkau kebenaran substa
nsi yang ingin dituju dalam UU TPPU. Dengan kata lain, politik kriminal dalam UU
TPPU tidak mempersiapkan dengan baik lembaga pelaksana UU TPPU sehingga pengatu
ran UU TPPU berada di luar jangkauan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.
Seiring dengan kriminalisasi, dekriminalisasi juga mewarnai perkembangan hukum p
idana. Salah satunya adalah dekriminalisasi terhadap Pasal 134, Pasal 136 bis da
n Pasal 137 KUHP dengan manyatakan bahwa pasal-pasal tersebut tidak mengikat. Da
lam pertimbangan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 013-022/PUU-IV/2006 tanggal 6
Desember 2006 disebutkan bahwa Pasal 134, Pasal 136 bis dan Pasal 137 KUHP tida
k sesuai dengan alam demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Dis
ebutkan dalam pertimbangan Mahkamah Konstitusi bahwa “dengan mempertimbangkan pe
rkembangan nilai-nilai sosial dasar (fundamental social values) dalam masyarakat
demokratik yang modern, maka delik penghinaan tidak boleh lagi digunakan untuk
menghambat kritik dan protes terhadap kebijakan pemerintah (pusat dan daerah), m
aupun pejabat-pejabat pemerintah (pusat dan daerah)...”. Selain itu, pengertian
ratu (koning) tidak dapat dipersamakan begitu saja dengan presiden. Ratu mempuny
ai keterkaitan sedemikian rupa dengan martabat negara, sedangkan kedudukan presi
den, sekalipun berhak mendapat perhormatan secara protokoler, tidak diperkenanka
n memperoleh hak istimewa yang membedakannya dengan masyarakat pada umumnya. Hal
ini sejalan dengan prinsip persamaan di muka hukum. Oleh karenanya, manakala pe
nghinaan terhadap presiden atau wakil presiden bersifat pribadi, maka dicukupkan
menggunakan Pasal 310 KUHP. Sebaliknya, manakala perhinaan ditujukan kepada pre
siden sebagai kepala negara, maka dapat diterapkan Pasal 207 KUHP. Dekriminalisa
si ini menegaskan bahwa secara historis, perubahan pengertian koning menjadi pre
sident dalam Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie tidak mempunyai dasar
legitimasi sosio politik yang kuat, sehingga pasal-pasal tersebut tidak perlu di
pertahankan.
Serupa dengan kriminalisasi, proses dekriminalisasi sejatinya memperhatikan dime
nsi sosial. Dekriminalisasi bertujuan untuk melakukan reformasi hukum pidana sej
alan dengan iklim politik yang demokratis. Penghapusan UU subversif, misalnya, m
enunjukkan bahwa represi negara atas rakyatnya dengan menggunakan nama hukum tid
ak sejalan dengan fungsi-fungsi hukum (pidana) untuk mengatur perilaku masyaraka
t dan membatasi gerak negara guna memberikan perlindungan hukum kepada warganya.
Dengan membaiknya kehidupan berpolitik dan berbangsa berdasarkan demokrasi, mak
a UU Subversi tidak relevan lagi untuk dipertahankan.
Uraian di atas menguatkan pernyataan bahwa kebijakan hukum pidana mempunyai arti
positif bagi reformasi hukum pidana manakala kebijakan hukum pidana mempertimba
ngkan faktor sosial, ekonomi dan politik, serta mempersiapkan kemampuan badan pe
laksana UU. Dalam tahapan inilah, kriminologi mempunyai peran penting dalam memb
erikan masukan tentang realitas sosial masyarakat sehingga ketentuan normatif ya
ng diatur dalam hukum pidana sejalan dengan realitas sosial.
Kendati kriminologi dan hukum pidana berseberangan, namun sinergi keduanya dapat
menciptakan kebijakan hukum pidana yang lebih terarah. Di satu sisi, kriminolog
i merupakan ilmu empirik yang bersentuhan dengan realitas sosial dinilai mampu m
enggambarkan kenyataan masyarakat yang sebenarnya. Namun demikian, kriminologi t
idak mampu memberikan kata akhir guna mewujudkan pencegahan kejahatan. Di sisi l
ain, (kebijakan) hukum pidana merupakan ilmu normatif yang membutuhkan masukan t
entang fakta empirik masyarakat. Kemampuan hukum pidana terletak pada pengugeran
norma melalui mekanisme yang jelas. Karena itu, kualitas norma yang diatur dala
m hukum pidana bergantung kepada sejauh mana kriminologi memberikan masukan tent
ang realitas sosial yang perlu diatur sehingga norma hukum pidana menjadi lebih
berisi.
Sejalan dengan sinergi hukum pidana dan kriminologi, Profesor Sahetapy menegaska
n bahwa “... kriminologi menghidupkan dengan memberi masukan dan dorongan pada h
ukum pidana dan sebaliknya hukum pidana memberi bahan studi dan data kepada krim
inologi mengenai pelbagai ketentuan dan ancaman pidana...”.
Tanpa sinergi keduanya, maka kriminologi tidak lebih dari ilmu empirik yang hany
a menggambarkan kausa kejahatan, tanpa disertai kemampuan untuk memberikan sentu
han akhir dalam bentuk penanggulangan kejahatan. Sebaliknya, hukum pidana tanpa
krimonologi menjadi kosong karena mungkin saja hukum pidana keliru memindai peri
laku-perilaku masyarakat yang seharusnya diatur dalam hukum pidana.
Pengkajian kejahatan dengan menggunakan kriminologi harus selalu membumi dengan
keadaan masyarakat. Dikatakan demikian karena taqlid buta terhadap konsepsi krim
inologi negara maju justru menjauhkan krimiologi dan hukum pidana dari keadaan n
yata masyarakat. Dalam konteks itu, pengkajian tentang kejahatan yang hendak dia
tur dalam hukum pidana harus selalu sejalan dengan nilai sosial, aspek budaya da
n faktor struktural (“sobural”) masyarakat Indonesia. Dari segi nilai sosial, ma
syarakat selalu bergerak dalam skala nilai sosial tertentu. Adakalanya nilai sos
ial memiliki legitimasi yang kuat di masyarakat sehingga tidak diperlukan ancama
n sanksi untuk menjaga nilai sosial tersebut. Sebaliknya, terdapat nilai sosial
yang dirasakan begitu lemah di masyarakat sehingga hukum pidana dapat mempertimb
angkan untuk melakukan kriminalisasi dan menerapkan sanksi pidana untuk menjaga
eksistensi nilai sosial tersebut. Nilai sosial menggambarkan sesuatu yang abstra
k berdasarkan sesuatu yang riil dan konkrit sehingga meliputi nilai sosial yang
baik dan buruk. Dari segi aspek budaya, kriminologi menganalisis sampai sejauh m
ana aspek budaya mendorong kepatuhan lahiriah dalam kontekstualisasi realitas so
sial termasuk di dalamnya kepatuhan terhadap lembaga hukum. Adapun faktor strukt
ural lebih menekankan kepada raison d’etre, apakah dalam melaksanakan nilai sosi
al dan aspek budaya berdasarkan kesediaan tanpa pamrih ataukah berdasarkan keter
paksaan.
Sobural merupakan kesatuan konsepsi yang bertujuan untuk menyeimbangkan dimensi
kehidupan sosial dalam pengaturan hukum. Dominasi nilai sosial terhadap aspek bu
daya justru menciptakan pengaturan represif yang mengedepankan idealitas dan men
gabaikan diversitas masyarakat. UU Pornografi, misalnya, yang hanya menekankan n
ilai sosial di atas aspek budaya berpotensi merepresi bentuk diversitas budaya m
asyarakat. Dalam konteks ini, (kebijakan) hukum pidana yang terkandung dalam UU
Pronografi tidak dapat melakukan tugasnya untuk mengatur masyarakat dan menyeles
aikan permasalahan yang melingkupinya, tapi justru sebaliknya, menimbulkan perso
alan baru yang sangat mungkin tidak dapat diselesaikan oleh hukum pidana. Oleh k
arena itu, dibutuhkan keseimbangan dalam sobural agar dapat menciptakan hukum pi
dana yang membumi.
C. Hukum Pidana: Segi Normatif dari Hukum Pidana
Berbeda dengan kriminologi yang merupakan ilmu empirik yang membicarakan kejahat
an dan penyimpangan sebagai fenomena sosial, hukum pidana merupakan ilmu normati
f yang melakukan perumusan in abstracto tentang perbuatan terlarang. Hukum pidan
a menformulasi bentuk-bentuk perbuatan yang seharusnya dilarang dan diancam deng
an pidana dalam rangka menciptakan ketertiban masyarakat. Persoalan hukum pidana
merupakan persoalan yang melibatkan hubungan negara dan masyarakat yang menempa
tkan keduanya dalam kedudukan yang sama sentralnya. Di satu sisi, hukum pidana d
apat diartikan sebagai penegakan norma oleh penguasa dengan menerapkan sanksi te
rhadap siapapun yang melanggar aturan hukum pidana. Penegakan norma harus didahu
lui dengan pembentukan aturan hukum yang berfungsi untuk menjaga norma tersebut.
Di sisi lain, penegakan norma oleh negara dibatasi sedemikian rupa berdasarkan
aturan hukum sehingga tidak melanggar hak-hak warga negara. Dengan demikian, huk
um pidana dituntut untuk menjalankan fungsi dalam merekayasa hukum untuk keterti
ban masyarakat serta menjaga hak-hak masyarakat dari kesewenangan negara.
Hukum pidana mengatur syarat-syarat pemidanaan dan pidana. Profesor Herbert L Pa
cker merinci bahwa hukum pidana terdiri dari tiga prinsip dasar. Pertama, tindak
pidana yang mengatur tentang perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana.
Kedua, pertanggungjawaban pidana yang mengatur tentang kesalahan pembuat tindak
pidana. Ketiga, pidana yang merupakan nestapa bagi pembuat tindak pidana sebaga
i akibat dari tindak pidana dan kesalahan. Rangkaian ketiga prinsip tersebut tid
ak terlepas dari prinsip keadilan yang hendak dibangun hukum pidana. Di satu sis
i, pelanggar hukum harus tetap memperoleh peringatan terhadap pelanggaran norma.
Di sisi lain, pengenaan pidana harus tetap didasarkan pada tindak pidana dan ke
salahan pembuat sehingga pengenaan pidana harus tetap menekankan prinsip keadila
n.
Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh UU dan diancam dengan pidana.
Penentuan tindak pidana selalu berpegang teguh kepada asas legalitas. Dengan kat
a lain, penetapan suatu perbuatan sebagai tindak pidana harus didasarkan kepada
peraturan tertulis yang melarang perbuatan tertentu. Dengan begitu, masyarakat m
emperoleh kepastian hukum tentang kewajiban normatif dan kewajiban hukum yang ha
rus dilakukan.
Sementara itu, kesalahan yang termasuk dalam lingkup pertanggungjawaban adalah d
icelanya pembuat berdasarkan penilaian masyarakat karena pembuat diharapkan dapa
t berbuat lain dari pada tindak pidana. Kesalahan menunjuk kepada pembuat yang m
empunyai kewajiban hukum dan kewajiban normatif untuk mematuhi hukum. Penentuan
kesalahan bersifat eksternal-normatif karena penilaian berasal dari masyarakat t
erhadap pembuat, apakah dalam keadaan tersebut pembuat dapat diharapkan mematuhi
hukum? Karenanya, kesalahan (pertanggungjawaban pidana) pembuat berfungsi sebag
ai penyeimbang terhadap tindak pidana karena pembuat tindak pidana tidak serta m
erta dapat dipidana manakala dibuktikan bahwa dalam keadaan tertentu pembuat tid
ak dapat diharapkan berbuat selain tindak pidana.
Asas legalitas yang menjadi prasyarat bagi tindak pidana dan asas kesalahan menc
erminkan prinsip-prinsip monodualistik yang memperhatikan kepentingan masyarakat
dan kepentingan individu secara seimbang. Oleh karenanya, prinsip hukum pidana
berorientasi kepada perbuatan dan pembuatnya (daad en daaderstrafrecht). Di satu
sisi, asas legalitas memberikan kepastian hukum bagi masyarakat baik tentang at
uran hukum yang dibentuk dalam rangka menciptakan ketertiban maupun tentang anca
man nestapa yang diberlakukan terhadap sebagian masyarakat yang tidak memenuhi k
ewajiban hukum dan kewajiban normatif. Di sisi lain, asas kesalahan dalam hukum
pidana memberikan metode kepada masyarakat untuk melihat personalitas pembuat ti
ndak pidana. Dalam konteks yang terakhir ini, masyarakat membuat penilaian norma
tif tentang keadaan-keadaan yang dihadapi pembuat sehingga pembuat melakukan tin
dak pidana. Dalam keadaan tertentu, pembuat berada dalam keadaan yang memaksanya
melakukan tindak pidana sehingga tindak pidana tidak dapat dipersalahkan kepada
nya. Sebaliknya, dalam keadaan tertentu pembuat tindak pidana tidak menghindari
tindak pidana meskipun secara kapabilitas dan kondisional pembuat dinilai dapat
menghindari perbuatan terlarang.
Dengan demikian, kepentingan sosial yang tertuang dalam penetapan tindak pidana
harus mempertimbangkan kesalahan pembuat sebagai dasar dalam menerapkan sanksi p
idana. Dengan kata lain, sanksi tidak tunduk kepada tindak pidana yang memuat an
caman pidana tapi tunduk kepada kadar kesalahan pembuat atas tindak pidana.
Dengan mengacu kepada keseimbangan perbuatan dan pembuat, maka pemidanaan harus
selalu berorientasi kepada resosialisasi terpidana. Sanksi pidana tidak dapat di
reduksi sebagai nestapa belaka yang diwujudkan dengan perampasan kemerdekaan, ta
pi pidana harus diterapkan berdasarkan karakteristik pembuat yang memungkinkan t
ercapainya resosialisasi terpidana untuk diterima kembali dalam lingkungan masya
rakat. Dalam konteks inilah, diperlukan kebijakan pidana integratif yang mengela
borasi fungsi penghukuman terhadap pembuat dan pencegahan kejahatan. Dengan demi
kian, pemidanaan secara integrarif secara prinsipil memadukan berbagai macam tuj
uan pemidanaan yang berakhir kepada perlindungan sosial dan individu atau dengan
kata lain, pemidanaan integratif dapat menjaga ketertiban sosial dan mengembali
kan terpidana di tengah-tengah masyarakat.
Secara implementatif, pelaksanaan pidana integratif harus mensejajarkan pidana (
straf) yang mengandung penderitaan dan tindakan (maatregel) yang mengandung unsu
r edukatif. Dalam konteks sistem pemidanaan dua jalur (double track system), san
ksi tindakan tidak bersifat sekunder yang ditambahkan atas pidana perampasan kem
erdekaan, tapi baik sanksi pidana maupun tindakan merupakan dua macam sanksi pid
ana pokok yang sejajar dalam hukum pidana. Dengan penggunaan sanksi pidana dan s
anksi tindakan, maka pidana terhadap terpidana tidak selalu berupa perampasan ke
merdekaan jika perbuatan yang dilakukan sangat sepele dan terpidana sangat mungk
in disadarkan dengan sanksi tindakan.
Sejauh ini, hukum pidana Indonesia masih memandang sanksi tindakan dengan sebela
h mata. KUHP hanya mengatur sanksi pidana dalam Pasal 10 KUHP berupa pidana pera
mpasan nyawa, perampasan kemerdekaan dan denda sebagai pidana pokok. Sementara i
tu, sanksi tindakan hanya diperuntukkan bagi pembuat tindak pidana yang tidak ma
mpu bertanggung jawab disebabkan penyakit jiwa untuk dimasukkan ke Rumah Sakit J
iwa atau pembuat tindak pidana yang belum dewasa yang diserahkan kepada pemerint
ah untuk mendapat pendidikan negara. Di negara-negara maju, sanksi tindakan menj
adi primadona karena terbukti efektif untuk meresosialisasikan terpidana. Sement
ara itu, Rancangan KUHP memandang pentingnya pengaturan sanksi tindakan untuk pe
rbuatan tertentu yang harus terlebih dahulu diatur dalam UU. Kendati demikian, p
engaturan sanksi tindakan dalam RKUHP masih bersifat sekunder dan mengacu kepada
sanksi pidana.
Sejalan dengan prinsip hukum pidana yang berorientasi kepada perbuatan dan pembu
at, maka seyogiayanya pemidanaan juga menyeimbangkan antara sanksi pidana dan sa
nksi tindakan, serta menempatkan keduanya dalam kedudukan sejajar. Berdasarkan a
sas legalitas, UU mengatur perbuatan tertentu yang dihukum dengan sanksi pidana
dan perbuatan tertentu lainnya dapat dipidana dengan tindakan. Sanksi tindakan m
uncul sebagai alternatif baru pemidanaan karena pidana penjara dinilai tidak efe
ktif untuk tujuan-tujuan pembinaan. Justru pidana penjara menciptakan penjahat b
aru yang lebih terdidik dibandingkan dengan penjahat (ringan) yang pertama kali
masuk penjara. Di satu sisi, sanksi tindakan dapat mengoptimalkan kemampuan terp
idana untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui kerja sosial dan tin
dakan lain yang bermanfaat. Di sisi lain, sanksi tindakan mengurangi populasi te
rpidana yang melebihi kapasitas penjara yang terbatas.
Selain hukum pidana materiil yang mencerminkan fungsi primer hukum pidana dalam
bentuk pengaturan hukum guna mencapai ketertiban masyarakat, hukum pidana formil
justru menekankan pengaturan terhadap perilaku aparatur hukum dalam menegakkan
keadilan. Dalam konteks ini, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menc
erminkan fungsi sekunder hukum pidana yang membatasi ruang gerak aparatur hukum
demi menjaga hak-hak tersangka, terdakwa dan terpidana sebagai warga negara (pol
icing the police). Perhatian utama KUHAP adalah perlindungan hak asasi terdakwa
agar tidak menjadi korban dari represi negara. Hal ini tercermin dari pergeseran
dari HIR yang menekankan pengakuan tesangka/terdakwa ke KUHAP yang menekankan k
epada keterangan tersangka/terdakwa. Pada pemeriksaan terhadap keterangan tersan
gka atau terdakwa, hak-hak tersangka atau terdakwa harus tetap dilindungi. Prins
ip yang melindungi hak tersangka atau terdakwa juga tampak dalam asas praduga ti
dak bersalah (presumption of innocent), non self incrimination dan right to rema
in silent.

D. Hukum Pelaksanaan Pidana


Rangkaian terakhir dari dimensi hukum pidana adalah pelaksanaan pidana yang haru
s tetap berorientasi kepada kepentingan terpidana untuk dapat kembali membaur de
ngan masyarakat. Sejauh ini, hukum pidana Indonesia tidak mempunyai pengaturan y
ang komprehensif tentang pola dan pedoman sanksi pidana, sehingga landasan dan h
asil dari pemidanaan tidak dapat diukur dengan pasti. Pola pemidanaan menunjuk k
epada usaha penyusunan sanksi pidana yang dilakukan oleh legislatif, sedangkan p
edoman pemidanaan menunjuk kepada penjatuhan yang dilakukan oleh hakim dan pelak
sanaan pidana yang dilaksanakan oleh Departemen hukum & HAM. Dengan demikian, sa
nksi pidana mewarnai setiap proses dari sistem peradilan pidana.
Dapat dikatakan bahwa penerapan pidana diabaikan dalam hukum pidana Indonesia. H
ukum tidak menyediakan pengaturan tertulis secara komprehensif tentang pelaksana
an pidana sehingga kontrol terhadap pelaksanaan pidana relatif terabaikan. Kenya
taan ini berpotensi menimbulkan pelanggaran hak-hak terpidana karena tidak adany
a pengaturan yang membatasi pelaksanaan pidana. Manfaat lain dari pedoman pemida
naan adalah melakukan kontrol yang intensif atas perkembangan terpidana selama m
enjalani sanksi pidana. Badan pelaksana (lembaga pemasyarakatan) dapat menerapka
n sanksi pidana sesuai dengan putusan pengadilan, manakala terpidana tidak menun
jukkan perkembangan positif selama menjalani pidana. Sebaliknya, badan pelaksana
dapat memberikan pengurangan hukuman manakala terpidana menunjukkan perkembanga
n positif berdasarkan data-data obyektif sehingga dimungkinkan dilakukannya reso
sialisasi sebelum masa hukuman selesai. Hal ini perlu dilakukan karena tujuan ut
ama pidana adalah mengupayakan resosialisasi terpidana agar bersama dengan masya
rakat dapat menjaga ketertiban sosial. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan peng
aturan yang lebih komprehensif karena UU Nomor 12 Tahun 1995 tentang Sistem Pema
syarakatan tidak menyediakan perangkat yang memadai untuk melaksanakan pidana in
tegratif yang menyeimbangkan penderitaan nestapa kepada terpidana dan resosialis
asi terpidana di tengah-tengah masyarakat. Perhatian sistem pemasyarakatan masih
menitikberatkan kepada persoalan administratif dan tidak memberikan dasar-dasar
yang logis terkait dengan pengurangan pidana (remisi).

E. PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas, maka sepatutnya syarat syarat pemidanaan dan pidana
harus didasarkan pembahuruan hukum pidana. Hal ini juga termasuk pelaksanaan pid
ana yang tidak lagi diorientasikan kepada penghukuman semata melainkan juga dida
sari tujuan resosialisasi terpidana.
Oleh karena itu, spektrum hukum pidana harus selalu bertaut sejak kebijakan pida
na itu dibuat agar sejalan dengan arah pembaharuan hukum pidana nasional sehingg
a dilahirkan pengaturan yang komprehensif yang bertujuan untuk memenuhi fungsi h
ukum pidana dan memperhatikan kemampuan badan pelaksana keadilan.
Namun di atas itu semua, hukum pidana tetap berpijak pada upaya memanusiakan man
usia karena, sebagaimana diungkapkan oleh profesor Sudarto, bahwa hukum pidana t
idak bisa dilepaskan dari manusia, oleh karenanya hukum pidana harus tetap beror
ientasi kepada manusia dan menjaga kasih sayang terhadap manusia.

Makalah ini disampaikan dalam Pelatihan Dasar Bantuan Hukum (PDBH) yang disele
nggarakan oleh Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam di Graha Insan C
ita, Depok Jawa Barat tanggal 18 April 2009.
Advokat di Jakarta, menyelesaikan studi hukum dengan kekhususan hukum pidana d
i Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 2004. Saat ini menyelesaikan program Pas
ca Sarjana dengan kekhususan sistem peradilan pidana di Universitas Indonesia.
Sudarto, Sumbangan Kriminologi untuk Politik Hukum Pidana, dalam: Hukum dan Huku
m Pidana,(Bandung: Penerbit Alumni, 1986)hlm. 150-151.
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana: Perkembangan Penyusunan
KUHP Baru, (Jakarta: Penerbit Prenada Kencana,2008) hlm. 19-24. Dalam berbagai
literatur, kebijakan hukum pidana lazim juga disebut dengan politik hukum pidana
.
Marc Ancel, Social Defence: A Modern Approach to Criminal Problem, (London: Rout
ledge & Kegan Paul, 1965), hlm. 4-5
GP Hoefnagels, The Other Side of Criminology, (Kluwer Deventer, 1973), hlm. 57
Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Op. Cit, hlm. 159; Sudarto, Hukum Pidana dan Pe
rkembangan Masyarakat, (Bandung: Sinar Baru, 1983), hlm 20
Barda Nawawi Arief, Loc. Cit.
Ibid, hlm. 26.
Dapat dilihat Pasal 223 Rancangan KUHP tahun 1991/1992 (sampai Bulan Maret 1993)
.
Barda Nawawi Arief, Masalah Sihir atau Santet dalam Perspektif Pembaharuan Hukum
Pidana di Indonesia, dalam : Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Op. Cit, hlm.
291-300.
Kasus tersebut dapat dilihat dalam perkara nomor 446/Pid/B/2008/PN KRW. Dalam pe
rsidangan, Penulis yang menjadi kuasa hukum terdakwa mengkritik penilaian PPATK
terhadap transaksi keuangan yang dilakukan terdakwa yang tidak didasarkan kepada
keadaan faktual untuk menentukan adanya transaksi mencurigakan. Sementara itu,
kepolisian menyebutkan adanya tindak pidana pencucian uang hanya didasarkan pada
hasil pemeriksaan PPATK. Keterangan ahli dari PPATK mengakui bahwa penilaian PP
ATK didasarkan pada asumsi.
Penulis menggolongkannya sebagai dekriminalisasi, bukan depenalisasi karena Pasa
l 134, Pasal 136 bis dan Pasal 137 KUHP dinyatakan tidak berkekuatan hukum mengi
kat sehingga tidak dapat diberlakukan dan tidak memungkinkan adanya mekanisme de
ngan menggunakan hukum perdata atau administrasi untuk menerapkan pasal tersebut
. Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi, maka tindak pidana yang diatur dala
m Pasal 134, Pasal 136 bis dan Pasal 137 KUHP tidak lagi menjadi tindak pidana.
Dalam hal depenalisasi, maka pidana yang dicabut tapi masih memungkinkan untuk m
enggunakan Pasal tersebut dengan mekanisme hukum perdata ataupun hukum administr
asi negara.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 013-022/PUU-IV/2006 tanggal 6 Desember 2006, h
lm. 58
JE Sahetapy, Pisau Analisis Kriminologi, Pidana pengukuhan Guru Besar dalam Krim
inologi disampaikan di Universitas Airlangga pada tanggal 30 Juli 1983.
Sobural merupakan akronim dari Nilai sosial, aspek budaya dan faktor struktural.
Tujuan utama konsepsi sobural adalah agar kriminologi dan hukum pidana didasark
an kondisi riil masyarakat sehingga mekanisme penanggulangan kejahatan dan asas
hukum benar-benar lahir dari kenyataan sosial yang berkembangan di masyarakat. O
leh karena, konsepsi dan teori kriminologi yang populer di negara barat harus le
bih dulu ditakar untuk diterapkan di Indonesia. Konsepsi ini diperkenalkan oleh
Profesor Sahetapy pada pidato pengukuhan guru besar beliau dalam bidang kriminol
ogi di Universitas Airlangga.
JE Sahetapy, Sobural: Sebuah Konsep Kriminologis, dalam: Pisau Analisis Kriminol
ogi, (Bandung: Penerbit PT Citra Aditya Bhakti, 2005), hlm. 68.
JE Sahetapy, Pemahaman “Sobural”, dalam: Pisau Analisis Kriminologi, (Bandung: P
enerbit PT Citra Aditya Bhakti, 2005), hlm. 82-84.
Edwin Sutherland, Donald Ray Cressey & David F Luckenbill, Principles of Crimino
logy, (Lanham: Altamitra Press, 1992), hlm. 3 eleventh Edition.
Jan Remmelink, Hukum Pidana: Komentar atas pasal-pasal terpenting dari Kitab Und
ang-Undang Hukum Pidana Belanda dan padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum P
idana Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003) terjemahan Tristam Pasc
al Moeliono
Herbert L Packer, The limit of the Criminal Sanction,(Palo Alto: Stanford Univer
sity Press,1968).
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 1993);
Chairul Huda, Dari “Tiada Pidana Tanpa Kesalahan” Menuju Kepada “Tiada Pertanggu
ngjawaban Pidana Tanpa Kesalahan”: Tinjauan Kritis Terhadap Teori Pemisahan Tind
ak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana”, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006)
Pandangan hukum pidana yang berorientasi kepada perbutan dan pembuat (daad en da
aderstraafrecht) merupakan elaborasi dari pandangan hukum pidana yang telah ada
sebelumnya, yaitu hukum pidana yang menekankan kepada perbuatan sebagai alasan p
emidanaan (daad straafrecht) dan hukum yang menekankan kepada pembuat sebagai al
asan pemidanaan (daader straafrecht). Tentang perkembangan diskursus tersebut, d
apat dilihat dalam Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat, (Bandung: Alumni, 1986).
Ibid, hlm 60-61
M. Sholehuddin, Sistem Sanksi dalam Hukum Pidana, (Jakarta: PT Raja Grafindo Per
sada, 2003).
Pasal 101 dan seterusnya Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana, 2008.
Soedarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat, (Bandung: Sinar Baru, 1983)