Anda di halaman 1dari 7

Bab I

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam kegiatan belajar mengajar banyak faktor
yang memegang peran antara lain guru dan siswa sebagai pelakunya, proses belajar
mengajarnya itu sendiri, fasilitas pendukung yang tersedia, lingkungan tempat
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar tersebut dan lain sebagainya.
Namun dalam pengamatan serta pengalaman selama ini ternyata banyak sekali
keluhan para guru yang mengajar salah satu mata pelajaran. Salah satu diantaranya adalah
rendahnya kemampuan siswa dalam mempelajari mata pelajaran tersebut, di lain pihak guru
pada umumnya masih kurang memperhatikan kemampuan siswa dan pembelajaran masih
terpusat pada guru (teacher center). Padahal pembelajaran matematika merupakan usaha
membantu siswa mengkontruksi pengetahuan melalui proses (Marpaung: 2006). Proses
tersebut dimulai dari pengalaman, sehingga siswa harus diberi kesempatan seluas-luasnya
untuk mengkontruksi sendiri pengetahuan yang harus dimiliki.
Oleh sebab itu maka kami sedikit memberikan konstribusi tentang model dan teori
belajar yang dapat mendukung dalam proses pembelajaran. Karena dalam proses
pembelajaran dapat diikuti dengan baik dan menarik perhatian siswa apabila menggunakan
metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan sesuai dengan
materi pembelajaran.

II. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini antara lain :
a. Apa hakikat dari belajar dan pembelajaran ?
b. Bagaimankah model pembelajaran yang dapat di gunakan ?
c. Teori-teori apa sajakah yang melandasi model pembelajaran modern ?

III. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
a. Di ajukan untuk memenuhi tugas kuliah Model Pembelajaran Matematika.
b. Pembaca dapat memahami hakikat belajar, pengertian model serta teori-teori yang
melandasinya dalam pembelajaran.
c. Bisa memberikan konstribusi kepada rekan-rekan mahasiswa sebagai calon guru.
Bab II
MODEL PEMBELAJARAN DAN TEORI BELAJAR YANG MENDUKUNGNYA
I. Hakikat Belajar Dan Pembelajaran
a. Pengertian
Belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya,
yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori. Sehingga proses belajar
senantiasa merupakan perubahan tingkah laku, dan terjadi karena hasil pengalaman, sehingga
dapat dikatakan terjadi proses belajar apabila seseorang menunjukkan tingkah laku
yang berbeda. Mengenai perubahan itu, menurut Bloom meliputi tiga ranah yaitu kognitif,
afektif dan psikomotorik.
Anthony robbins, mendefenisikan belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara
sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu yang baru. Dari defenisi tersebut,
dimensi belajar memuat beberapa unsure yaitu : penciptaan hubungan, sesuatu hal yang
sudah dipahami dan sesuatu yang baru. Jerome brunner dalam ( Romberg & Kaput, 1999)
bahwa belajar adalah sesuatu proses aktif dimana siswa membagun pengetahuan baru
berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya.

Dalam pandangan konstruktivisme belajar bukanlah semata-mata mentransfer


pengetahuan yang ada diluar dirinya , tetapi belajar lebih pada bagaimana otak memproses
dan menginterprestasikan pengalaman yang baru dengan pengetahuan yang sudah
dimilikinya dalam format yang baru. Proses pembangunan ini bisa melalui asimilasi atau
akomodasi (Mc Mahon, 1996). Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada
individu yang terjadi melalui pengalaman dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan
tubuhnya atau karakteristik seseorang sejak lahir.

Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak


sepenuhnya dapat dijelaskan. Secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi
berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Pada hakikatnya pembelajaran
adalah usaha sadar oleh seseorang guru untuk membelajarkan kepada sisiwanya dalam
rangka mencapai tujuan yang diharapkan.

b. Efektifitas Pembelajaran

Dalam praktek proses pembelajaran masing sering didapatkan pola yang masih bersifat
transmisif, yaitu pengajar selalu mentransfer konsep-konsep secara langsung pada peserta
didik. Sehingga siswa menjadi pasif dalam menyerap struktur pengetahuan yang diberikan
guru atau dalalm buku pelajaran.

Sehingga interaksi social dalam belajar ini menjadi sangat penting dalam belajar.
Vygotsky (dalam Ackerman, 1996) berpendapat bahwa belajar adalah proses social
konstruksi yang dihubungkan oleh bahasa dan interaksi social.

Untuk mengahadapi hal tersebut maka perlu pembelajaran yang efektif. Keefektifan
pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.
Efesiensian dan keefektifan mengajar dalam proses interaksi belajar yang baik adalah segala
daya upaya guru untuk membantu para siswa agar bisa belajar dengan baik. Suatu
pembelajaran dikatakan efektif apabila memenuhi persyaratan berikut :

1. Persentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM


2. Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi diantara siswa
3. Ketetapan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa (orentasi
keberhasilan belajar) diutamakan
4. Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif mengembangkan struktur kelas
yang mendukung.
Keefektifan dalam pembelaran juga memerlukan guru yang efektif. Dalam hal ini guru
yang selalu berusaha agar anak didiknya terlibat secara tepat dalam suatu mata pelajaran
dengan persentasi waktu belajar akademis yang tinggi dan pelajaran berjalan tanpa
menggunakan teknik yang memaksa, negative, ataupun hukuman.
II. Pengertian Model Pembelajaran
Model dimaknakan sebagai objek atau konsep yang digunakan untuk mepersentasikan
sesuatu hal. Sesuatu yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih
komprehensip.
Dari istilah pengertian belajar dan model tersebut dapat dimaksudkan bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistimatis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi
sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan
aktivitas belajar mengajar.

Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode
atau prosedur. Model pembelajaran mempunyai empat ciri yaitu :

1. Rasional teorotis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya;
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar
3. Tingkah laku mengjara yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan
berhasil
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Selain ciri-ciri diatas model pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi criteria: shaih
(valid), praktis, dan efektif.
III. Teori-teori Belajar Modern Yang Melandasi Model Pembelajaran

Pada mulanya teori-teori belajar dikembangkan oleh para ahli psikologi dan kegiatan
belajar itu cenderung diketahui sebagai suatu proses psikologi, terjadi di dalam diri
seseorang. Oleh karena itu sulit diketahui dengan pasti bagaimana terjadinya. Karena
prosesnya begitu kompleks, maka timbul beberapa teori tentang belajar. Dalam hal ini antara
lain teori ilmu jiwa daya, ilmu jiwa gestalt, ilmu jiwa asosiasi dan kontruktivisme (Sardiman,
2003: 30).

Teori belajar menurut ilmu jiwa daya: jiwa manusia itu terdiri bermacammacam daya
dan masing-masing daya dapat dilatih untuk memenuhi fungsinya. Menurut ilmu jiwa Gestalt
menyatakan bahwa kegiatan belajar bermula pada suatu pengamatan. Teori belajar yang lain
yakni teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi yang terdiri dari Konektionisme dari Thorndike
dan teori Conditioning dari Pavlov.

Gagne, seperti yang dikutip oleh Mariana (1999: 25) menyatakan untuk terjadinya
belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi
eksternal.
Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu.
Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu
pembelajaran. Hasil belajar, Gagne seperti dikutip oleh Mariana (1999: 25) menyatakan
dalam lima kelompok, yaitu inetelkual skill, cognitive strategy, verbal information, motor
skill, dan attitude.

1. Teori Belajar Kontruktivisme


Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan
informasi kompleks, mngecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya
apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai.
Guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga memberi
kesempatan siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. Siswa harus
membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.
2. Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Teori ini memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara
aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman
dan interaksi-interaksi mereka.
Empat tingkat perkembangan kognitif:
a. Sensorimotor: lahir-2 tahun
b. Praoperasional: 2-7 tahun
c. Operasi konkret: 7-11 tahun
d. Operasi formal: 11 tahun sampe dewasa
Implikasi penting dalam model pembelajaran dari teori Piaget:
a. Memustakan perhatian pada berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya.
b. Memperhatikan peranan pelik dari inisiatif anak sendiri, keterlibatan aktif adalam kegiatan
pembelajaran.
c. Memaklumi akan adanya perbedaan individual adalam hal kemajuan perkembangan.
3. Metode Pengajaran John Dewey
Metode reflektif di dalam memecahkana masalah, yaitu proses berpikir aktif, hati-hati,
yang dilandasi proses berpikir ke arah kesimpulan-kesimpulan yang definitif melalui lima
langkah:
a. Siswa mengenali masalah
b. Siswa menyelidiki dan menganalisa.
c. Menghubungkan hasil analisa dan mengumpulkan berbagai kemungkinan untuk
dipecahkan.
d. Melakukan hipotesis
e. Mempraktekkan salah satu kemungkinan pemecahan masalah.
Bekerja sangat penting karena memberikan pengalaman yang dapat memimpin orang
berpikir sehingga dapat bertindak bijaksana dan benar.
4. Teori Pemrosesan Informasi
Teori ini menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali
pengetahuan dari otak.
a. Pentingnya Pengetahuan Awal
Yaitu sekumpulan pengetahuan dan pengalaman individu yang diperoleh sepanjang
perjalanan hidup mereka, dan apa yang ia bawa kepada suatu pengalaman belajar baru (Nuur,
2000: 11)
b. Register Penginderaan
Register penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera. Register
penginderaan ini, mengalami pemrosesan awal melalui:
- Persepsi
- Psikologi Gestalt
- Perhatian
c. Memori Jangka Pendek
Menurut Miller seperti yang dikutip dalam Nur (1998b: 9), memori jangka pendek
mempunyai kapasitas 5-9 bits informasi.
d. Memori Jangka Panjang
Yaitu tempat di mana pengetahuan disimpan secara permanen untuk dipanggil lagi
kemudian, apabila ingin dugunakan (Arends, 1997: 251). Tulving (1985) seperti yang dikutip
oleh Nur (1998b: 13), membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu:
- Memori episodic
- Memori semantic
- Memori procedural
Memori jangka panjang ini dapat diperkuat dengan beberapa cara:
- Tingkat pemrosesan
- Kode ganda
- Pemrosesan transfer-cocok
5. Teori Belajar Bermakna David Auseble
Inti teori ini adalah belajar bermakna. Yaitu suatu proses dikaitkannya informasi baru pada
konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Dahar, 1988: 137).
6. Teori Penemuan Jerome Bruner
Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan sendirinya memberi hasil
yang paling baik. Berusaha snediri untuk mencari pemecahan masalah serta pengethauan
yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Dahar, 1988:
125).
7. Teori Pembelajaran Sosial Vygotsky
Teori ini menekankan pada aspek sosial dari pembelajaran. Menurut Vygotsky bahwa
proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum
dipelajari, anmun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka disebut dengan
zone of proximal development (daerah tingkat perkembangan sedikit di atas daerah
perkembangan seseorang saat ini).
Satu lagi ide penting dari Vygotsky adalah scaffolding yaitu pemberian bantuan kepada
anak selama tahap-tahap awal perkembangannya dan mengurangi bantuan tersebut dan
memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggungjawab yang semakin
besar segera setelah anak dapat melakukannya.
8. Teori pembelajaran prilaku
Skinner merupakan salah satu tokoh yang sangat berperan dalam teori pembelajaran
perilaku yang telah mempelajari hubungan antara tingkah laku dan konsekuensinya
mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku (Gredler, 1994:177)
Prinsip yang paling penting dari teori belajar prilaku adalah bahwa perilaku berubah sesuai
dengan konsekuensi-konsekuensi langsung dari perilaku tersebut. Konsekuensi tersebut ada
yang menyenangkan disebut penguat (rainforcer) dan ada pula yang tidak menyenangkan
atau disebut hukuman (punisher).
Adapun tujuan adanya konsekuensi tersebut adalah untuk mengubah perilaku peserta didik.
Penggunaan konsekuensi ini disebut pengkondisian operan (operant condition).

Bab III
PENUTUP
I. Kesimpulan
Belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya,
yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori. Sedangkan pembelajaran pada
hakikatnya adalah usaha sadar oleh seseorang guru untuk membelajarkan kepada sisiwanya
dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.
Keefektifan pembelajaran adalah hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses
belajar mengajar. Efesiensian dan keefektifan mengajar dalam proses interaksi belajar yang
baik adalah segala daya upaya guru untuk membantu para siswa agar bisa belajar dengan
baik.
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang
sistimatis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar
tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar
dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Teori-teori Belajar Modern Yang Melandasi Model Pembelajaran
a. Teori belajar konstruktivisme
b. Teori perkembangan kognitif piaget
c. Metode pengajaran john dewey
d. Teori pemrosesan informasi
e. Teori belajar bermakna david ausubel
f. Teori penemuan Jerome bruner
g. Teori pembelajaran social vygotsky
h. Teori pembelajaran prilaku

II. Saran
a. Dalam proses kegiatan belajar mengajar hendaknya komunikasi antara siswa dan guru
sejalan, supaya dalam proses pembelajaran tersebut tidak pakum.
b. Sebagai guru hendaknya lebih memahami kondisi siswanya serta meluaskan wawasanya
supaya memperoleh teori-teori yang dapat diterapakan kepada siswanya.
c. Penulisan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan, hendaknya pembaca dapat
memberikan kritik saran untuk perbaikan kedepanya.
DAFTAR PUSTAKA
Trianto, M.Pd, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, 2010, Prenada Media
Group, Jakarta
Drs. Markaban, M.Si, Model Penemuam Terbimbing pada Pembelajaran Matematika SMK,
2008, Pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan Tenaga kependidikan
matematika, Yogyakarta
http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/20/belajar-dan-pembelajaran