Anda di halaman 1dari 72

HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT

LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD Dr. PIRNGADI


MEDAN TAHUN 2013

SURIYANTI SIREGAR

125102090

KARYA TULIS ILMIAH

PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2013

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT LAHIR
RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT UMUM DR. PIRNGADI MEDAN TAHUN
2013

Abstrak

Suriyanti Siregar

Latar belakang : bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan penyumbang terbesar kematian
dan kesakitan bayi. Kejadian bayi berat lahir rendah berhubungan dengan banyak faktor
seperti faktor kesehatan ibu, perilaku selama hamil, lingkungan serta faktor janin dan
plasenta. Perilaku yang buruk selama kehamilan seperti paparan asap rokok dapat
mempengaruhi suplai oksigen dari tubuh ibu ke janin dan plasenta. Paparan asap rokok juga
dapat menurunkan kadar asam folat ibu yang berakibat terganggunya pertumbuhan janin di
dalam kandungan.

Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah
(BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

Metodologi : penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional yang bertujuan untuk
mendapatkan gambaran tentang hubungan antara dua atau lebih variabel penelitian. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah 76 orang. Pengambilan sampel diakukan secara sampling
aksidental. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.
Analisa data digunakan dengan chi square. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari
Maret 2013.

Hasil : hasil uji statistik fishers exact test diperoleh ada hubungan antara suami perokok
dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) (nilai p = 0,000)

Kesimpulan : dari hasil penelitian ini dapat dibuktikan bahwa Suami Perokok mempengaruhi
terjadinya bayi berat lahir rendah (BBLR). Oleh karena itu disarankan kepada responden
untuk meningkatkan pemahaman bahaya rokok terhadap kesehatan, terutama terhadap janin
dan kemudian berupaya untuk mengendalikan resiko yang terjadi terutama BBLR .

Kata kunci : Suami Perokok, bayi berat lahir rendah (BBLR)

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang

berjudul, Hubungan antara Suami Perokok dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah di RSUD

Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013 yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam

menyelesaikan pendidikan pada program D-IV Bidan Pendidik Falkultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara.

Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak menerima bantuan moril maupun

materil dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. dr. Dedi Ardinata, M. Kes selaku Dekan Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

2. Nur Asnah Sitohang, S. Kep, Ns, M.Kep selaku Ketua Pelaksana Program Studi D-IV Bidan

Pendidik Falkultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

3. Mula Tarigan, SKp. M. Kes selaku pembimbing penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang telah

dapat menyediakan waktu, memberikan arahan dan masukan berharga dalam menyelesaikan

Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Direktur RSUD Dr. Pirngadi Medan dan SMF Obgyn yang telah memberikan izin kepada penulis

tempat untuk melakukan penelitian.

5. Seluruh dosen dan staf administrasi studi D-IV Bidan Pendidik Falkultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu pengetahuan, bimbingan serta nasehat selama

menjalani penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

6. Rekan-rekan mahasiswa D IV Bidan Pendidik Falkultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

T.A. 2012/2013 yang telah banyak memberi dukungan terhadap peneliti dalam menyelesaikan

Karya Tulis Ilmiah ini

Universitas Sumatera Utara


7. Dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

Peneliti menyadari atas kekurangan dari Karya Tulis Ilmiah ini, peneliti memberikan

kesempatan kepada berbagai pihak untuk melakukan koreksi dan kritik untuk kesempurnaan laporan

ini, semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan dan ilmu

pengetahuan.

Medan, Januari 2013

Penulis

(Suriyanti Siregar)

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

ABSTRAK. ...................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Beakang. ..................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah. ............................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 5
1. Tujuan Umum. ............................................................................... 5
2. Tujuan Khusus................................................................................ 6
D. Manfaat Penelitian................................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSATAKA

A. PEROKOK
1) Pengertian Perokok .......................................................................... 7
2) Komponen Racun dalam Rokok ...................................................... 8
1. Zat Kimia.................................................................................. 8
2. Nikotin...................................................................................... 9
3. Timah hitam ............................................................................. 9
4. Gas Karbon monoksida ............................................................ 10
5. Tar ............................................................................................ 10
3) Bahaya Perokok Aktif dan Fasif .................................................... 11

B. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)


1. Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah (BBR). ................................. 12
2. Pengaruh Paparan Asap rokok terhadap BBLR. ............................ 13
3. Penyebab Kelahiran Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). .............. 14
4. Tanda Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)....................................... 15
5. Gmbaran klinis. .............................................................................. 16
6. Penatalaksanaan. ............................................................................ 17

Universitas Sumatera Utara


BAB III KERANGKA KONSEPTUAL
A. Kerangka Konseptual ........................................................................... 19
B. Hipotesis............................................................................................... 19
C. Defenisi OperasionL ............................................................................ 20

BAB IV METODOOGI PENELITIAN


A. Desain Penelitian.................................................................................. 21
B. Populasi dan sampel ............................................................................. 21
C. Tempat Penelitian................................................................................. 22
D. Waktu Penelitian .................................................................................. 22
E. Etika Penelitian .................................................................................... 22
F. Instrument Penelitian............................................................................ 22
G. Pengumpulan Data ............................................................................... 24
H. Analisa Data ......................................................................................... 25

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian ..................................................................................... 27


1. Analisa Univariat........................................................................... 27
2. Analisa Bivariat............................................................................. 29

B. Pembahasan. .......................................................................................... 30
1. Interpretasi data diskusi hasil. ....................................................... 30

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan........................................................................................... 36
B. Saran..................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden di RSUD


Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013....................................................................... 27

Tabel 5.2 Distribusi Suami perokok dan tidak merokok di RSUD Dr. Pirngadi
Medan Tahun 2013............................................................................................ 28

Tabel 5.3 Distribusi frekuensi jumlah BBLR di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013
................................................................................................................. 29

Tabel 5.4 Hubungan Antara Suami Perokok dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di
RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013. ................................................ 29

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR SKEMA

Skema 1. Kerangka konsep dari penelitian yang berjudul Hubungan Antara Suami Perokok
dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr.
Pirngadi Medan Tahun 2013.....................................19

Skema 2. Dedain Penelitian............................................................................. 21

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Time Table

Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 3 : Lembar Kuesioner

Lampiran 4 : Master Data Penelitian

Lampiran 5 : Hasil Output Data Penelitian

Lampiran 6 : Surat Izin Penelitian Program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawata
USU

Lampiran 7 : Balasan Surat Izin Penelitian dari RSU Dr. Pirngadi Medan

Lampiran 8 : Daftar Konsultasi

Lampiran 9 : Curriculum Vitae

Universitas Sumatera Utara


HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT LAHIR
RENDAH (BBLR) DI RUMAH SAKIT UMUM DR. PIRNGADI MEDAN TAHUN
2013

Abstrak

Suriyanti Siregar

Latar belakang : bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan penyumbang terbesar kematian
dan kesakitan bayi. Kejadian bayi berat lahir rendah berhubungan dengan banyak faktor
seperti faktor kesehatan ibu, perilaku selama hamil, lingkungan serta faktor janin dan
plasenta. Perilaku yang buruk selama kehamilan seperti paparan asap rokok dapat
mempengaruhi suplai oksigen dari tubuh ibu ke janin dan plasenta. Paparan asap rokok juga
dapat menurunkan kadar asam folat ibu yang berakibat terganggunya pertumbuhan janin di
dalam kandungan.

Tujuan : untuk mengetahui hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah
(BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

Metodologi : penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional yang bertujuan untuk
mendapatkan gambaran tentang hubungan antara dua atau lebih variabel penelitian. Jumlah
sampel dalam penelitian ini adalah 76 orang. Pengambilan sampel diakukan secara sampling
aksidental. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.
Analisa data digunakan dengan chi square. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari
Maret 2013.

Hasil : hasil uji statistik fishers exact test diperoleh ada hubungan antara suami perokok
dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) (nilai p = 0,000)

Kesimpulan : dari hasil penelitian ini dapat dibuktikan bahwa Suami Perokok mempengaruhi
terjadinya bayi berat lahir rendah (BBLR). Oleh karena itu disarankan kepada responden
untuk meningkatkan pemahaman bahaya rokok terhadap kesehatan, terutama terhadap janin
dan kemudian berupaya untuk mengendalikan resiko yang terjadi terutama BBLR .

Kata kunci : Suami Perokok, bayi berat lahir rendah (BBLR)

Universitas Sumatera Utara


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Target Milleneum Development Goals (MDGs) sampai dengan tahun 2015 adalah

mengurangi angka kematian bayi dan balita sebesar dua per tiga dari tahun 1990 yaitu sebesar

20 per 1000 kelahiran hidup. Dari data Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari

tahun 2003 turun menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2007 sudah turun

menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup (Depkes, 2010, dalam Amalia, 2011).

Di Indonesia secara umum berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)

tahun 2007, angka kematian bayi (AKB), berada pada angka 34 per 1.000 kelahiran hidup. Di

Sulawesi Selatan Berdasarkan profil kesehatan dalam tahun 2008, angka kematian bayi

mencapai 4,39 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

di Negara berkembang relatif masih tinggi. Angka tersebut bervariasi di setiap daerah. Hasil

riset kesehatan 2007, menyinpulkan bahwa kejadian BBLR secara proporsional untuk tingkat

nasional mencapai 15%. Hasil studi 3 wilayah, presentase kejadian BBLR terendah di

Propinsi Bali sebesar 5,8%, tertinggi di propinsi Papua sebesar 27,0% dan Sulawesi Selatan

mencapai 1,36% (Rakhmawati dan Jaya, 2010).

Faktor penyebab BBLR sampai saat ini masih terus dikaji. Beberapa studi menyebutkan

penyebab BBLR adalah multifaktor, antara lain faktor demografi, biologi ibu, gizi, riwayat

obstetri, morbiditas ibu selama hamil, periksa hamil (prenatal care) dan paparan toksis

(merokok). Berbagai program kesehatan untuk mengatasi masalah tersebut telah dilakukan

baik ditingkat rumah sakit rujukan maupun ditingkat pelayanan dasar namun hasilnya belum

Universitas Sumatera Utara


memadai. Dengan di lakukannya analisis faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR

berdasarkan data SDKI pada tahun 1994 maka hasilnya diharapkan dapat dipergunakan

sebagai masukan untuk perencanaan program kesehatan ibu dan anak (KIA) terutama dalam

upaya menurunkan kejadian BBLR (Kristanti dkk 1996).

Bayi berat lahir rendah merupakan penyumbang terbesar kematian dan kesakitan bayi.

Kejadian bayi berat lahir rendah berhubungan dengan banyak faktor seperti faktor kesehatan

ibu, perilaku selama hamil, lingkungan serta faktor janin dan plasenta. Perilaku yang buruk

selama kehamilan seperti paparan asap rokok dapat mempengaruhi suplai oksigen dari tubuh

ibu ke janin dan plasenta. Paparan asap rokok juga dapat menurunkan kadar asam folat ibu

yang berakibat terganggunya pertumbuhan janin di dalam kandungan (Irnawati dkk, 2011).

Berat badan bayi ibu perokok pada umumnya kurang dan mudah menjadi sakit. Berat

badan bayi tersebut lebih rendah 40-400 gram dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu

bukan perokok. Sekitar 75% dari ibu-ibu hamil yang merokok satu bungkus sehari mungkin

akan melahirkan anak yang beratnya kurang dari 2500 gram, dan persentase ini meningkat

menjadi 12% pada ibu-ibu hamil yang menghabiskan dua bungkus rokok seharinya (Aditama,

1997).

Merokok selama hamil berkaitan dengan keguguran, perdarahan vagina, kelahiran

prematur, dan BBLR. Kejadian BBLR pada pada ibu perokok adalah dua kali lipat dibanding

yang bukan perokok dan perokok ringan (<5 rokok sehari) dikaitkan dengan peningkatan

kejadian BBLR. Secara keseluruhan tingkat kejadian BBLR adalah 8,8% untuk kelahiran

perokok dan 4,5% untuk kelahiran bukan perokok. Di antara perokok, tingkat BBLR terus

meningkat dengan meningkatnya konsumsi rokok ( Ventura,et al, 2003 dalam Amalia ,2011).

Rokok merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat menyebabkan cacat lahir.

Kebiasaan merokok pada wanita hamil dapat menyebabkan abortus spontan dan kematian

Universitas Sumatera Utara


janin prenatal, bahkan dapat menyebabkan meromelia. Sekalipun telah diperingatkan bahwa

rokok dapat merusak perkembangan janin, masih ada 25 % wanita tetap merokok selama

kehamilannya. Pada perokok berat 20 batang atau lebih perhari, dapat menyebabkan kelahiran

prematur dua kali lebih sering dibanding ibu ibu yang tidak merokok, dan bayinya memiliki

berat badan rendah (kurang dari 2000 gram), yang sering menyebabkan kematian janin

(Razak, 2005 dalam Oktavianis 2011).

Asap rokok terdiri dari 4000 bahan kimia dan 200 diantaranya beracun, antara lain

Karbon Monoksida (CO) yang dihasilkan oleh asap rokok dan dapat menyebabkan pembuluh

darah kramp, sehingga tekanan darah naik, dinding pembuluh darah dapat robek. Gas CO

dapat pula menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung peredaran oksigen

untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di

hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran

atau penebalan dinding pembuluh darah). Nikotin juga merangsang peningkatan tekanan

darah. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit

(pengumpalan) kedinding pembuluh darah. Nikotin, CO dan bahan lainnya dalam asap rokok

terbukti merusak dinding pembuluh endotel (dinding dalam pembuluh darah), mempermudah

pengumpalan darah sehingga dapat merusak pembuluh darah perifer (Sirajuddin dkk 2011).

Radikal bebas akan merusak tiga komponen molekul utama dari sel tubuh yaitu lipid,

protein dan DNA. Kerusakan pada lipid disetiap oksidasi dan pada proses dasar oksidasi DNA

sel akan mengganggu integritas sel, sehingga akan menimbulkan kematian sel ( Haliwell and

Gutteridge, 1999).

Ibu hamil perokok pasif berisiko terhadap kejadian bayi berat lahir rendah. Ibu hamil,

baik yang terpapar rokok lebih dari 11 batang maupun hanya 1 sampai 10 batang per hari

berisiko lebih tinggi untuk terjadinya bayi berat lahir rendah. Faktor risiko lain yang berperan

Universitas Sumatera Utara


dapat meningkatkan risiko terjadinya bayi berat lahir rendah pada ibu hamil perokok pasif

adalah riwayat BBLR sebelumnya (Irnawati dkk, 2011).

Dampak negatif rokok dan asapnya terhadap ibu hamil diantaranya ancaman persalinan

prematur, ketuban pecah sebelum waktunya, ancaman lepasnya plasenta sebelum lahir,

plasenta previa, sedangkan dampak terhadap janin adalah berat badan janin lebih rendah dari

normal, kematian janin di dalam rahim, miningkat kematian janin mendadak ( Sudden Infant

Death Syndrom/SIDS ) ( Valleria, 2009 ).

Yuliana (2009) dalam tuisannya mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan Oleh

British Medica Association Tobacco Control Resource Centre menunjukkan bahwa ibu yang

merokok selama kehamilan memiliki resiko melahirkan BBLR sebesar 1,5-9,9 kali

dibandingkan dengan berat badan lahir bayi dari ibu yang tidak merokok, ditambah lagi

menurut Kuroki (1988) mengatakan bahwa 1,34% dari wanita perokok tidak melahirkan bayi

cacat dengan kelainan berupa polidaktili, talipes, kelainan anorectal, kelainan gigi dan

magrognatia.

Data yang dihimpun selama tiga tahun terakhir oleh Stephen G. Grant, peneliti

kesehatan lingkungan di Universitas Pittsburgh, menunjukkan bahwa wanita yang menjadi

perokok pasif melahirkan bayi yang mengalami mutasi genetis atau sama halnya wanita

perokok. Menurutnya perokok pasif memiliki pengaruh buruk bagi janin. Hasil penelitiannya

ini dimuat dalam online jurnal BMC Pediatric (Maulana, 2009 dalam Amalia, 2011).

Semakin jelas bahwa merokok tidak hanya berpengaruh pada orang yang

menghisapnya, namun juga mempengaruhi semua orang disekitarnya, termasuk janin yang

sedang berkembang yang ibunya kebetulan berada di dekat orang yang merokok. Jadi, bila

suami anda (atau siapa saja yang tinggal di rumah anda atau bekerja dekat anda) yang

Universitas Sumatera Utara


merokok, tubuh bayi juga akan terkena kontaminasi asap tembakau, terlebih banyak bila anda

sendiri yang merokok (Onggo, 2010 dalam Amalia, 2011).

Berdasarkan fenomena di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk

mengetahui hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah di rumah sakit Dr.

Pirngadi Medan Tahun 2013.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui Apakah

Ada Hubungan Antara Suami Perokok Dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di Rumah

Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan tahun 2013?.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah (BBLR)

di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan 2013.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik Responden di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

b. Mengetahui jumlah suami yang merokok dan tidak merokok pada kasus BBLR di

RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

c. Mengetahui jumlah bayi BBLR di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

d. Mengetahui hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah (BBLR)

di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan 2013.

Universitas Sumatera Utara


D. Manfaat Penelitian

a. Bagi pihak Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan, dapat digunakan sebagai bahan

masukan dalam peningkatan kualitas pelayanann pada perinatologi serta memberikan

pelayanan dan perawatan pada bayi berat lahir rendah dengan optimal.

b. Bagi peneliti yaitu dapat diketahui dengan jelas tingkat hubungan antara suami

perokok dengan bayi berat lahir rendah dan menambah pengetahuan dan wawasan

serta sebagai penerapan ilmu dan bahan informasi serta acuan bagi peneliti untuk

melakukan penelitian lebih lanjut.

c. Bagi Institusi pendidikan sebagai sumber bacaan dan referensi di Perpustakaan untuk

menambah wawasan mahasiswa Progam D IV Bidan Pendidik.

d. Bagi masyarakat umum untuk meningkatkan pemahaman bahaya rokok terhadap

kesehatan, terutama terhadap janin dan kemudian berupaya untuk mengendalikan

risiko yang terjadi terutama BBLR.

Universitas Sumatera Utara


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perokok

1. Pengertian Perokok

Menurut Sitepoe, M. (1997) Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara

70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi

daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan

membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya. Merokok adalah suatu kata

kerja yang berarti melakukan kegiatan atau aktifitas menghisap, sedangkan perokok adalah

orang yang suka merokok (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).

Setiap anggota keluarga tidak boleh merokok. Rokok ibarat pabrik bahan kimia.

Dalam satu batang rokok yang dihisap akan dikeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya,

diantaranya yang paling berbahaya adalah nikotin, Tar, dan Carbon monoksida (CO). Nikotin

menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen, sehingga sel-sel tubuh

akan mati.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), yang menjadi kebutuhan dasar derajat

kesehatan masyarakat, salah satu aspeknya adalah tidak ada anggota keluarga yang

merokok. Sedangkan PHBS harus menjadi kewajiban dan para kader kesehatan untuk

mensosialisasikannya. Setiap kali menghirup asap rokok, baik sengaja mapun tidak sengaja,

berarti juga menghisap lebih dari 4.000 racun. Karena itulah merokok sama dengan

memasukkan racun-racun ke dalam rongga mulut dan tentunya paru-paru. Merokok

mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat dipungkiri. Banyak penyakit telah terbukti

menjadi akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan

Universitas Sumatera Utara


merokok bukan saja merugikan siperokok, tetapi juga bagi orang yang berada di sekitarnya.

Bahkan organisasi kesehatan sedunia telah memberikan peringatan bahwa dalam dekade

2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun, 70% diantaranya terjdi di

negara-negara berkembang (Proverawati dan Rahmawati, 2012).

2. Komponen Racun dalam rokok

Komponen Racun dalam rokok yaitu :

1.Zat Kimia

Pembuatan rokok tidak dapat dipisahkan dari bahan bakunya adalah tembakau. Di

Indonesia, tembakau ditambah cengkeh dan bahan-bahan lain dicampur untuk dibuat rokok

kretek. Selain kretek, tembakau juga dapat digunakan sebagai rokok linting, rokok putih,

cerutu, rokok pipa, dan tembakau tanpa asap (chewing tobacco atau tembakau kunyah).

Komponen gas asap rokok diantaranya adalah karbon monoksida, amoniak, asam hidrosianat,

nitrogen oksida, dan formaldehid. Fartikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbarzol, dan kresol.

Zat-zat yang terkandung dalam rokok tersebut beracun, mengiritasi, dan menimbulkan kanker

(karsinogen). Asap yang diembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama (main stream

smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama merupakan asap tembakau yang

dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang

disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif. Telah

ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis di antaranya bersifat

karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana bahan racun ini lebih banyak di dapatkan

pada asap samping, misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan

pada asap samping daripada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak 50 kali. Bahan-

bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah rokok berhenti.

Umumnya fokus penelitian ditunjukan pada peranan nikotin dan CO. Kedua bahan ini, selain

Universitas Sumatera Utara


meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard)

sehingga merugikan kerja miokard.

2. Nikotin

Zat yang paling sering dibicarakan dan diteliti orang, meracuni saraf tubuh,

meningkatkan tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi, dan

menyebabkan ketagihan dan ketergantungan pada pemakainnya. Kadar nikotin 4-6 mg yang

diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan. Di Amerika

Serikat, rokok putih beredar di pasaran memiliki kadar 8-10 mg nikotin per batang, sementara

di Indonesia berkadar nikotin 17 mg per batang.

Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan

oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga meransang pelepasan

adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung,

serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan

banyak bagian tubuh lainnya. Nikotin mengaktifkan trombosit (pengumpulan) ke dinding

pembuluh darah.

3. Timah Hitam (Pb)

Timah hitam yang dihasilkan oleh batang rokok sebanyak 0,5 ug. Sebungkus rokok

(isi 20 batang) yang habis di isap dalam satu hari akan menghasilkan 10 ug. Sementara

ambang batas bahaya timah hitam yang masuk ke dalam tubuh adalah 20 ug per hari. Bisa

dibayangkan, bila seorang perokok berat menghisap rata-rata 2 bungkus rokok per hari,

berapa banyak zat berbahaya ini masuk ke dalam tubuh.

4. Gas Karbonmonoksida

Karbon monoksida memiliki kecenderungan yang kuat untuk berikatan dengan

hemoglobin dalam sel-sel darah merah. Seharusnya, hemoglobin dalam sel-sel darah merah.

Universitas Sumatera Utara


Seharusnya, hemoglobin ini berikatan dengan oksigen yang sangat penting untuk pernapasan

sel-sel tubuh, tapi karena gas CO lebih kuat daripada oksigen, maka gas CO ini merebutnya

di sisi hemoglobin. Jadilah, hemoglobin bergandengan dengan gas CO. Kadar gas CO

dalam darah bukan perokok kurang dari 1 persen, sementara dalam darah mencapai 4-1

persen. Karbon monoksida menimbulkan desaturasasi hemoglobin, menurunkan lansung

persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat

oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis

(pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian,CO menurunkan

kapasitas latihan fisik, meningkatkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah

pengumpulan darah. Nikotin, CO, dan bahan-bahan lain dalam asap rokok terbukti merusak

endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan mempermudah timbunya pengumpulan darah.

Di samping itu, asap rokok mempengaruhi profil lemak. Di bandingkan dengan bukan

perokok, kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida darah perokok lebih tinggi,

sedangkan kolesterol HDL lebih rendah.

5. Tar

Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok,

dan bersifat karsinogen. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam rongga mulut sebagai

uap padat. Setelah dingin, akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna cokelat

pada permukaan gigi, saluran pernapasan, dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-

40 mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-45 mg. (Rahmawati,

2012).

3. Bahaya Perokok Aktif dan Perokok Pasif

Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan oleh banyak

orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak

Universitas Sumatera Utara


penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai

penyakit. Seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker

rongga mulut, kanker laring, kanker esofagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi,

serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin. Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya

bahaya dari secondhand-smoke, yaitu asap rokok yang menghirup oleh orang-orang bukan

perokok karena berada di sekitar perokok. Ini sering disebut juga dengan perokok pasif

(Proverawati dan Rahmawati, 2012).

Merokok baik secara aktif maupun secara pasif membahayakan tubuh, diantaranya

seperti menyebabkan kemandulan dan impotensi, kanker rahim dan keguguran, kerontokan

rambut, gangguan pada mata seperti katarak, kehilangan pendengaran lebih awal dibanding

bukan perokok, menyebabkan paru-paru kronis, merusak gigi dan menyebabkan bau mulut

yang tidak sedap, menyebabkan stroke dan serangan jantung, tulang lebih mudah patah, dan

menyebabkan kanker kulit.

Merokok sangat berbahaya bagi wanita hamil, baik perokok pasif yang terpapar asap

rokok. Ini karena ada zat kimia yang berbahaya masuk ke dalam jaringan, dan meresap

kepada janin yang sedang berkembang di dalam rahim (Sitorus, 2010).

Merokok memiliki banyak efek negatif yang dapat mengancam kehidupan janin.

Terdapat hampir lima puluh juta remaja putri Amerika ada dalam usia mengandungnya

beresiko tinggi untuk mengalami keguguran, kematian janin, gangguan plasenta (ari-ari), dan

keahiran prematur. Sebagaimana anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang merokok, akan

lebih rendah mengalami kekurangan berat badan dan terserang penyakit alat pernapasan yang

berbahaya, bisa berakibat kematian (Charles, 2012).

Universitas Sumatera Utara


B. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

1. Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

BBLR adalah bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram. BBLR

merupakan salah satu komplikasi pada bayi yang bila tidak ditangani dengan benar dapat

menyebabkan kematian. BBLR kemungkinan dapat prematur (kurang bulan), dan dapat juga

dismatur (BBLR tidak sesuai usia kehamilan), penyebab bayi baru lahir rendah sebagian

belum diketahui namun kebanyakan karena komplikasi pada saat ibu hamil (Deslidel dkk,

2011).

2. Pengaruh Paparan Asap Rokok terhadap BBLR

Penelitian tentang pengaruh paparan asap rokok selama kehamilan terhadap kejadian

BBLR belum banyak dilakukan. Fakta ilmiah membuktikan rorok menyebabkan kanker paru,

risiko penyakit kardiovaskular, aterosklerosis, penyakit jantung koroner. Transmisi unsur

karsigonik jantung koroner. Transmisi unsur karsinogenik dapat menyebabkan kelahiran

prematur, gangguan perkembangan postnatal dan Fetal hypoxemia melalui reduksi darah dari

plasenta (Shiono dkk, dalam Sirajuddin dkk, 2011).

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan Berat Lahir kurang dari

2500 gram yang ditimbang dalam satu jam setelah lahir tanpa memandang masa gestasi.

Prevalensi BBLR di dunia diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran. Lebih dari 97% terjadi di

negara berkembang atau sosial ekonomi rendah. Di Indonesia prevalensi BBLR berkisar

7.5%. Penyebab BBLR sebelumnya, faktor janin dan plasenta, usia BBLR sebelumnya, faktor

janin dan plasenta, usia ibu, paritas, pekerjaan ibu seperti malaria, anemia, sipilis, TORCH

(toxoplasma, rubella, Cyto Megalo Virus/CMV, herpes), dan komplikasi pada kehamilan

(perdaraha antepartum, pre-eklamsia), penyebab lain yaitu faktor lingkungan tempat tinggal

serta paparan zat-zat racun.

Universitas Sumatera Utara


BBLR 40 kali beresiko mengalami kematian. Komlpikasi yang ditimbukan antara lain

: hipotermia, hipoglikemia, gangguan cairan dan elektrolit, paten duktus arteriosus, infeksi,

perdarahan intraventrikuler, dan opnoe. Selanjutnya akan mengalami gangguan

perkembangan dan pertumbuhan, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, penyakit

paru kronis yang berakibat pada peningkatan mortalitas, serta tingginya biaya perawatan yang

di butuhkan (Irnawati dkk, 2011).

Kelahiran BBLR pada hamil perokok pasif yang mempunyai riwayat BBLR terdahulu

beresiko untuk kelahiran BBLR. Ibu yang mempunyai riwayat pernah melahirkan BBLR

cenderung lebih sering untuk melahirkan kembali BBLR dibandingkan dengan ibu yang tidak

pernah melahirkan. Faktor medis dan non medis pada kehamilan sebelumnya diduga menjadi

penyebabnya. Faktor-faktor tersebut kembali berperan dalam kehamilan selanjutnya. Faktor

medis dan non medis ini kadang-kadang tidak dapat diperbaiki, sehingga dibutuhkan

perhatian khusus pada kelompok bagi ibu perokok pasif yang dapat memperbaiki risiko

kelahiran BBLR.

Kekurangan gizi selama kehamilan yang di sertai dengan adanya paparan asap rokok

selama kehamilan dapat memperberat penyebab gangguan pertumbuhan janin dalam

kandungan. Meningkatkan gizi ibu selama ibu hamil merupakan cara potensial untuk

membantu prtumbuhan janin di dalam kandungan. Status gizi ibu yang baik selama kehamilan

akan memperlancar suplai oksigen ke janin, sehingga janin menerima cukup oksigen untuk

pertumbuhannya. Namun demikian ketercukupan zat-zat gizi janin selama di dalam

kandungan juga tergantung dari banyak faktor ini seperti paparan dari asap rokok tembakau.

Paparan asap tembakau yang terus-menerus dapat menurunkan kadar asam folat dalam tubuh

ibu. Akibatnya janin juga mengalami kekurangan asam folat. Paparan karbonmonoksida dan

nikotin yang terus menerus dan penurunan asam folat mengakibatkan gangguan pertumbuhan

Universitas Sumatera Utara


janin di dalam kandungan. Karena ibu dengan status gizi dan terpapar asap rokok selama

kehamilan lebih beresiko untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang tidak

terpapar.

Ibu hamil diharapkan dapat menghindari asap rokok selama kehamilan, terutama ibu

dengan riwayat BBLR pada persalinan sebelumnya dan ibu hamil dengan status gizi buruk.

Bila para prokok aktif yang tingga serumah dengan ibu hamil tidak dapat menghentikan

kebiasaan merokok, disarankan agar tidak merokok selama berada di dekat ibu hamil terutama

di dalam rumah (Irnawati dkk, 2011).

3. Penyebab kelahiran Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Penyebab kelahiran BBLR yaitu bisa dari faktor ibu, diantaranya status gizi ibu hamil

pada dasarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi pada masa kehamilan ibu

dan hal ini berhubungan dengan masalah perekonomian keluarga sehingga pemenuhan

kebutuhan konsumsi makanan pun berkurang, peyakit yang di derita ibu selama hamil, dan

paparan asap rokok saat hamil, toksemia gravidarum, yaitu preeklampsia dan eklampsia,

kelainan bentuk uterus (misalnya uterus bikornis, inkompeten serviks), tumor (misalnya

mioma uteri, sistoma), Ibu yang menderita penyakit panas tinggi (misalnya tifus abdominal,

malaria), Trauma pada masa kehamilan seperti jatuh dan stress, usia ibu pada waktu hamil

kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, plasenta previa dan solusio plasenta

(Pantiawati, 2010).

4. Tanda Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, tergantung pada usia

kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin prematur atau makin kecil umur kehamilan saat bayi

dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir cukup bulan. Tanda dan

gejala bayi prematur diantaranya adalah umur kehamilan atau sama dengan atau kurang dari

Universitas Sumatera Utara


37 minggu, berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram, Panjang badan sama

dengan atau kurang dari 46 cm, kuku panjang belum melewati ujung jari, Batas dahi dan

rambut kepala tidak jelas, lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm, Lingkar dada

sama dengan atau sama dengan atau kurang dari 30 cm, Rambut lanugo masih banyak,

Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang, Tulang rawan daun telinga belum sempurna

pertumbuhannya, sehingga tidak teraba tulang rawan daun telinga, Tumit mengkilap, alat

kelamin pada laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang, testis belum turun kedalam

skrotum, untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minora belum tertutup oleh labia

mayora, tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah, fungsi saraf

yang belum atau kurang matang mengakibatkan refleks hisap, menelan dan batuk masih

lemah, jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak

masih kurang (Pantiawati, 2010).

5. Gambaran Klinis

Banyak masalah klinis yang di hadapi bayi BBLR baik prematur dikarenakan belum

maturnya fungsi-fungsi tubuh untuk hidup di luar uterus. Masalah-masalah tersebut, antara

lain :

a. Masalah pernafasan, antara lain: sindrom kegawatan pernapasan, dispasia

bronkopulmonal, pneumotoraks, pneumomediastinum, emfisema, pneumonia kongenital,

hipoplasia paru, perdarahan paru dan apneu.

b. Masalah saluran pencernaan, antara lain : mortalitas jelek, entrokolitis nekrotikans,

anomali kongenital yang mennghasikan polihidramnion.

c. Masalah metabolik endokrin, antara lain : hipokalsemia, hipoglikemi, hiperglikemi,

asidosis metabolik lanjut, hipotermia serta eutiroid T4 rendah.

Universitas Sumatera Utara


d. Masalah pada ginjal, antara lain : hiponatremia, hipernatremia, hiperkalemia, asidosis

tubular ginjal, glikosuri ginjal, edema.

e. Masalah kardiovaskular, antara lain : duktus arterius paten, hipotensi, hipertensi,

breadikardia dengan apneu, malformasi kongenital.

f. Masalah hematologis, antara lain : anemia, hiperbillirubinemia, subkutan dan organ,

koagulati intravaskular tersebar, defisiensi Vitamin K, hidropisum atau non imun.

g. Masalah pasa susunan saraf pusat, antara lain : perdarahan intraventrikuer, leukomalasia,

periventrikular, enselopati kejang retinopati, ketulian, hipotonia, masalah lain, antara lain :

infeksi (kongenital, perinatal, nosokomial) (Vince dalam Purnamaningrum, 2010).

6. Penatalaksanaan

Berbagai masalah klinis yang dihadapi BBLR disebabkan karena belum maturnya

organ-organ, untuk itu diperlukan perhatian dan perawatan khusus untuk mempertahankan

kelangsungan hidupnya. Menurut Shann dan Vince tahun 2003 ada empat prinsip dalam

perawatan BBLR, yaitu menjaga bayi tetap berwarna merah muda, menjaga bayi tetap hangat,

memenuhi kebutuhan makan dan minum, serta pencegahan infeksi. (Kholifah, 2006 dalam

Purnamaningrum,2010).

1. Jaga bayi tetap berwarna muda

a. Pemberian oksigen

Ekspansi paru-paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm sebagai

akibat jaringan paru-paru yang kurang berkembangan yaitu tidak adanya aveoli dan surfaktan.

Pemberian oksigen pada bayi ini harus dikendalikan dengan seksama karena konsentrasi

yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan timbulnya kerusakan pada jaringan

retina bayi sehingga menimbulkan kebutuhan yang dikenal dengan istilah Fibroplasi

retrolental. Konsentrasi oksigen yang dianjurkan adalah sekitar 30-35% dan untuk menjamin

Universitas Sumatera Utara


dipertahankannya maka harus dilakukan pengujian secara teratur. Oksigen hanya diperlukan

bila bayi mengalami sianosis dan kesulitan bernafas. Oksigen diberikan dengan aliran rendah

untuk membuat bayi tetap berwarna merah muda ( kurang lebih 0.5% liter/menit da tidak

boleh lebih dari 10 liter/menit). (Vince.2003 dalam Purnamaningrum, 2010).

b. Pencegahan terjadinya Apnoe

Apnoe umum terjadi pada bayi dengan umur gestasi kurang dari 32 minggu sehingga

diperlukan aat untuk memonitor apnoe bila tersedia. Dapat juga di berikan Aminophyllin

(Vince,2003 dala Purnamaningrum, 2010).

2. Jaga kesehatan tubuh bayi

Pemeliharaan suhu tubuh merupakan aspek yang paling penting dalam manajemen

BBLR. Seorang bayi akan berkembang secara memuaskan bila suhu rektal dipertahankan

antara 35,5 C-37C. Semakin kecil bayi maka lebih rendah suhu rektalnya. Dengan

bertambahnya berat badan dan membaiknya kondisi umum maka akan ditemukan juga

kestabilan yang lebih besar dari suhu tubuhnya berat badan dan membaiknya kondisi umum

maka akan ditemukan juga kestabilan yang lebih besar bia mereka dirawat dalam atau dekat

dengan lingkungan panas netralnya. Mereka harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan

dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolik yang minimal. Tetapi

juga tidak diinginkan untuk meningkatkan suhu tubuh secara cepat karena dapat mengarah

pada timbulnya hiperpireksia yang berkaitan dengan adanya peningkatan kecepatan

metabolisme dan peningkatan kebutuhan akan oksigen. Untuk pememeliharaan suhu tubuh

BBLR dapat dimasukkan dalam inkubator.

Universitas Sumatera Utara


BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep dari penelitian yang berjudul Hubungan Antara Suami

Perokok dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi

Medan Tahun 2013 sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

SuamiPerokok BBLR

Skema 1. Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Antara Suami Perokok dengan Bayi

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

B. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan kerangka konseptual maka dapatlah dikemukakan

hipotesis penelitian sebagai berikut :

. 1. Ha=Ada hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah Rendah (BBLR)

di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan 2013.

Universitas Sumatera Utara


C. Definisi Operasional

Skala
No. Variabel Definisi operasional Alat ukur Cara ukur Hasil ukur ukur
1. Suami Suami perokok adalah kuesioner Nominal
Perokok suami yang suka 1. Perokok
melakukan kegiatan 2. Tidak
atau aktifitas perokok
menghisap rokok
setiap hari atau
disebut perokok.

2. Bayi Berat Bayi berat badan lahir Lembar 1. BBLR Nominal


Badan Lahir rendah (BBLR) check list 2. Tidak
Rendah adalah bayi yang baru BBL
(BBLR) alhir kurang dari 2500 (Normal)
gram.

Universitas Sumatera Utara


BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah desain penelitian

korelasional yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan antara dua atau

lebih variabel penelitian (Suyanto & Salamah, 2009), yaitu untuk mengetahui hubungan

antara suami perokok dengan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi

Medan Tahun 2013.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo,

2010). Yang akan menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bapak yang

mempunyai bayi baru lahir dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi

Medan. Adapun kasus BBLR yang ada di RSUD Dr. Pirngadi Medan 116 bayi berat lahir

rendah pada Tahun 2011.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek penelitian dan dianggap

mewakili populasi tersebut (Suyanto & Salamah, 2009). Dalam penelitian ini teknik sampling

yang akan digunakan adalah secara sampling aksidental. Sampel pada penelitian ini adalah

bayi baru lahir yang kebetulan ada di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013 sebanyak 76

bayi bayi baru lahir.

Universitas Sumatera Utara


Adapun kriteria dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi yang memenuhi

kriteria inklusi dan eksklusi.

a. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel

penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Notoatmodjo, 2002) yaitu :

Kriteria Inklusi

1) Semua Suami yang mempunyai bayi baru lahir dan bayi berat badan lahir rendah

(BBLR).

2) Suami Perokok.

b. Kriteria eksklusi

Kriteria eksklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili

sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Notoatmodjo, 2002).

1) Kriteria eksklusi penelitian ini adalah suami perokok yang memiliki bayi dengan

gangguan perkembangan postnatal dan fetal hypoxemia.

C. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

D. Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan pada bulan Februari - Maret tahun 2013.

E. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini akan dilakukan setelah penulis mendapat persetujuan

izin dari institusi pendidikan yaitu program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara kemudian penulis mengajukan permohonan izin penelitian

kepada RSUD Dr. Pirngadi Medan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa hal yang

berkaitan dengan permasalahan etik, yaitu peneliti Akan memberikan penjelasan kepada calon

responden tentang tujuan dan prosedur pelaksanaan penelitian dan juga menjelaskan bahwa

kuesioner ini untuk mengetahui adakah hubungan antara suami perokok dengan bayi berat

badan lahir rendah (BBLR). Kerahasiaan catatan mengenai data responden dijaga dengan cara

tidak menuliskan nama responden pada instrumen penelitian, tetapi menggunakan inisial

nama. Data-data yang diperoleh dari responden juga hanya digunakan untuk kepentingan

penelitian.

F. Alat Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, instrumen yang akan digunakan yaitu kuesioner tertutup yang

terdiri dari :

a. Kuesioner Perokok yang terdiri dari tujuh pertanyaan.

b. Kuesioner yang berbentuk lembar observasi (lembar checklist).

2. Jenis Data

Jenis data yang digunakan untuk pencapaian tujuan penelitian adalah data primer dan

sekunder.

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan melalui pihak pertama yang berhubungan

dengan peneitian biasanya dapat melalui wawancara dengan bapak-bapak yang mempunyai

bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dengan menggunakan kuesioner berupa daftar

checklist.

Universitas Sumatera Utara


G. Prosedur Pengumpulan Data

1. Penulis mengajukan permohonan izin untuk melakukan survey awal penelitian

kepada program D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara.

2. Penulis mengajukan permohonan izin survey awal kepada RSUD Dr. Pirngadi Medan

Tahun 2013.

untuk melihat populasi dan sampel penelitian.

3. Setelah melakukan survey awal, penulis mengajukan permohonan izin penelitian

kepada RSUD Dr. Pirngadi Medan yang sebelumnya telah disetujui oleh program D-

IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

4. Pada proses pengumpulan data dari responden penulis akan menjelaskan tujuan

penelitian kepada calon responden dan meminta kesediaannya untuk menjadi subjek

penelitian.

5. Setelah respoden setuju, penulis akan menjelaskan cara pengisian kuesioner pada

responden.

6. Penulis akan mengingatkan kepada responden untuk mengisi kuesioner dengan jujur

serta mengingatkan kepada responden agar mengisi semua daftar pertanyaan pada

kuesioner tersebut.

7. Penulis akan mengambil kembali kuesioner yang telah diisi oleh responden dan

memeriksa kelengkapan jawaban responden.

8. Semua data yang telah terkumpul kemudian akan dianalisa.

Universitas Sumatera Utara


H. Rencana Analisa Data

1. Pengolahan Data

a. Editing, yaitu memeriksa kembali apakah ada jawaban responden atau hasil observasi

yang ganda atau belum dijawab, jika terdapat kekeliruan maka akan dilakukan

pendataan ulang.

b. Coding, yaitu melakukan pemberian kode checklist untuk setiap pertanyaan untuk

mempermudah pengolahan data.

c. Prosessing, yaitu jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang berbentuk

kode (angka atau huruf) akan dimasukkan ke dalam program atau software

komputer.

d. Cleaning, yaitu apabila semua data dari reponden selesai dimasukkan, penulis akan

mengecek kembali untuk melihat adanya kesalahan atau ketidaklengkapan data. Jika

terdapat kekeliruan di dalamnya, maka akan dilakukan pembetulan atau koreksi.

2. Analisa Data

Analisa data hasil penelitian hendaknya diawali dengan anaisis yang sederhana agar

dapat mengenal dengan baik data yang sederhana agar dapat mengenal dengan baik data yang

dihadapi kemudian perlu dilanjutkan dengan analisis yang lebih kompleks sesuai dengan

tujuan penelitian. Analisa dilakukan dengan dua cara yaitu :

a. Analisis Univariat :

Deskripsi data demografi, data perokok dan data BBLR akan disajikan dalam bentuk

tabel distribusi frekuensi dan persentase.

Universitas Sumatera Utara


b. Analisis Bivariat :

Analisa ini mempunyai tujuan untuk mencari Hubungan antara variabel, yaitu variabel

independen (suami perokok) dengan variabel dependen (BBLR)dan dilakukan uji statistik

dengan melakukan Chi-square. Untuk uji hipotesis yang digunakan adalah Chi-square Test

dengan kemaknaan signifikan 0,05 dengan df=2 untuk mengetahui apakah ada hubungan

antara suami perokok dengan bayi berat badan lahir rendah (BBLR). Apabila uji chi-square

tidak memenuhi persyaratan, maka akan dilakukan uji fisher. Hasil penelitian bermakna

apabila nilai p atau pada derajat kemaknaan 95% ( = 0,05).

Universitas Sumatera Utara


BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Dalam bab ini akan diuraikan hasil penelitian mengenai hubungan antara suami perokok

dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013. Adapun

jumlah seluruh responden dalam penelitian ini adalah 76 responden.

1. Analisis Univariat

a. Data demografi

Berdasarkan Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa dari 76 responden penelitian mayoritas

berumur 20-35 tahun sebanyak 44 orang (57,9%). Mayoritas responden bersuku Batak

sebanyak 41 orang (53,9%) dan berpendidikan SMA sebanyak 49 orang (64,5%).

Berdasarkan pekerjaan, mayoritas responden adalah Wiraswasta sebanyak 55 orang (72,4%).

Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden

di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013

Karakteristik responden Frekuensi Persentase


(%)
1. Umur
1.<20 1 1,3
2.20-35 44 57,9
3.>35 31 40,8

2. Suku

Universitas Sumatera Utara


1.Melayu 4 5,3
2.Jawa 29 38,2
3.Batak 41 53,9
4.Lain-lain 2 2,6

Pendidikan
1.Sekolah Dasar (SD) 6 7,9
2. SMP 18 23,7
3. SMA 49 64,5
4. Perguruan Tinggi 3 3,9

4. Pekerjaan
1.Wiraswasta 55 72,4
2.Pegawai swasta 17 22,4
3.PNS 4 5,3

2. Jumlah suami Perokok dan tidak Perokok di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun

2013.

a. Distribusi frekuensi suami merokok dan tidak merokok di RSUD Dr. Pirngadi Medan

Tahun 2013

Pada Tabel 5.2 dapat diketahui Suami perokok dan tidak merokok di RSUD Dr.

Pirngadi Medan Tahun 2013 yang Perokok adalah sebanyak 61 orang (80,3%), sedangkan

suami yang tidak perokok yaitu sebanyak 15 orang (19,7%).

Tabel 5.2

Distribusi Suami perokok dan tidak merokok di RSUD Dr. Pirngadi MedanTahun 2013

No Suami Perokok Frekuensi Presentase(%)

1 Perokok 61 80,3

2 Tidak Perokok 15 19,7

Universitas Sumatera Utara


Total 76 100,0

3.Distribusi frekuensi jumlah BBLR di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki memiliki

bayi normal sebanyak 42 orang (55,3%) dan sebagian kecil responden memiliki BBLR

sebanyak 34 (44,7%) .

Tabel 5.3 Distribusi Jumlah BBLR di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013

No Bayi Frekuensi Presentasi(%)

1 BBLR 34 44,7

2 Normal 42 55,3

Total 76 100,0

4. Hubungan Antara Suami Perokok dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di

RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013

Analisa hubungan anatara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah di RSUD Dr.

Pirngadi Medan Tahun 2013 dengan menggunakan uji statistik Fisher`s Exact Test. Dari hasil

analisa data didapat nilai p = 0,000 yang berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara

suami perokok dengan berat badan lahir rendah dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) di

RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 5.4

Hubungan Antara Suami Perokok dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di RSUD

Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

Bayi baru lahir

BBLR Normal Total Value

Suami Perokok n % n % N %

Perokok 34 55,7 27 44,3 61 100 0,000


B.
Tidak Perokok 0 0 15 100 15 100
Pem

baha Total 34 44,7 42 55,3 76 100

san

Pembahasan hasil penelitian disajikan dengan mengacu pada tujuan penelitian ini yaitu

untuk mengidentifikasi Hubungan Antara Suami Perokok dengan bayi berat lahir Rendah

(BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013.

1. Tidak Perokok Dengan Bayi Normal

Dari hasil penelitian terhadap 76 orang responden sebagian besar memiliki bayi normal

sebanyak 42 orang (55,3%) dan sebagian kecil memiliki bayi BBLR sebanyak 34 orang

(44,7%).

Menurut World Health Organization (WHO) 1961, istilah prematur baby dengan low

birth weight baby (bayi dengan berat lahir rendah : BBLR). Hal ini dilakukan karena tidak

semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi prematur. Keadaan

Universitas Sumatera Utara


disebabkan oleh masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai mall for

gestational age (SGA) yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat untuk masa kehamilan

(Sarwono, 2005).

Melahirkan bayi prematur (Ridwan Amiruddin, 2006). Hasil penelitian yang telah

dilakukan Ridwan Amiruddin, 2006 menunjukkan bahwa, ibu hamil yang terpapar rokok

berpeluang melahirkan bayi prematur 46,3%. Sehingga pada penelitian tersebut disimpulkan

bahwa ibu hamil yang terpapar rokok berpeluang 2,3 kali lebih besar dibanding dengan ibu

hamil yang tidak terpapar rokok. Sedangkan penelitian di RS Sitti Fatimah Makasar (2005)

didapatkan hasil bahwa jumlah bayi yang lahir BBLR dari suami yang merokok lebih 10

batang perhari. Sebesar 59,5% dan untuk yang kurang dari 10 batang perhari lahir BBLR

sebanyak 45,5%. Salah satu penyebab bayi berat badan lahir rendah (BBLR) di berbagai

Negara berkembang menurut WHO (work health organization) 2004 adalah kebiasaan

merokok.

Rokok dapat menyebabkan deformasi pada sperma dan kerusakan pada DNA-nya

sehingga mengakibatkan aborsi. Beberapa studi menemukan bahwa pria yang merokok

meningkatkan resiko menjadi ayah dari anak yang berbakat kanker. Rokok juga memperkecil

jumlah sperma dan infertilitas (ketidaksuburan) banyak terjadi pada perokok (Sitorus, 2008).

Di Indonesia, 92% perokok biasanya merokok di rumah saat bersama anggota keluarga

lainnya. Dan anggota keluarga yang tidak merokok tapi ikut terpapar oleh asap rokok tersebut

menjadi jauh lebih rendah kesehatannya (kompas 2004). Berdasarkan peneliatian wanita

merokok lebih dari 20 batang sehari melahirkan bayi dengan berat badan kurang tapi ternyata

bukan hanya para ibu hamil yang perokok tetapi ibu hamil yang tidak merokok juga dapat

terjadi bila sehari hari selalu berada di tengah tengah perokok dan selalu terpapar asap rokok

Universitas Sumatera Utara


(perokok pasif) bisa memngalami efek negatif yang hampir sama tingkatannya dengan

perokok. Jadi bila suami atau setiap orang yang tinggal di rumah ibu hamil merokok, tubuh

bayi akan mendapat pengotoran oleh asap tembakan hampir sebanyak pengotoran yang ia

dapat jika ibunya sendiri yang menghisapnya. Bahkan menurut canra (2000) bahan kimia

yang keluar dari asap bakaran ujung rokok kadarnya lebih tinggi dari pada yang di hisap

perokoknya.

Penelitian yang dilakukan oleh BMA Tobacco Control Resource Centre menunjukkan

bahwa ibu yang merokok selama kehamilan memiliki risiko melahirkan bayi berat lahir

rendah (BBLR) sebesar 1,5-9,9 kali dibandingkan dengan berat badan lahir bayi dari ibu yang

tidak merokok. Kondisi BBLR sangatlah merugikan. Bayi dengan kondisi BBLR sering

disertai dengan komplikasi, antara lain: sindrom gangguan pernapasan idiopatik, pneumonia

aspirasi, perdarahan intraventrikuler, hiperbilirubinemia, sindrom aspirasi mekonium,

hipoglikemia simtomatik, dan asfiksia neonatorum. Bahkan, bayi dengan BBLR merupakan

salah satu penyebab utama kematian perinatal. Angka kematian perinatal pada bayi BBLR

lebih daripada 2 kali angka kematian bayi normal. Berikut penjelasan singkat mengenai

mekanisme yang diduga mendasari terjadinya kelahiran bayi berat lahir rendah pada ibu yang

terpapar asap rokok baik sebelum maupun selama kehamilannya.

2. Perokok dengan BBLR

Dari hasil penelitian terhadap 76 orang responden, mayoritas responden dengan perokok

memiliki bayi BBLR sebanyak 34 orang (55,7%). Dari sisi kesehatan, bahaya rokok sudah

tak terbantahkan lagi. Bukan hanya menurut WHO, tetapi lebih dari 70 ribu artikel ilmiah

membuktikan hal itu. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4000 racun kimia berbahaya, dan

43 diantaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Berbagai zat

Universitas Sumatera Utara


berbahaya itu adalah : tar, karbon monoksida (CO) dan nikotin. Mungkin Masyarakat sudah

mengerti bahayanya, kerena dalam setiap bungkus rokok ada peringatan merokok dapat

menyebapkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin

(Abadi,T, 2005). Dari peringatan tersebut dapat diketahui dengan jelas bahwa rokok memiliki

pengaruh buruk bagi kehamilan dan janin dalam kandungan.

Rokok merupakan penyebab utama penyakit di seluruh dunia. Bahaya merokok telah

banyak diketahui oleh semua orang, namun merokok masih menjadi kebiasaan yang sulit

untuk dihilangkan (Aditama,1997). Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia,

termasuk juga lebih dari 40 senyawa yang dapat menyebabkan kanker dan menimbulkan

kerusakan fungsi organ. Bahaya rokok tidak hanya mengenai perokok itu sendiri, namun

dapat juga membahayakan orang-orang.

di sekitar perokok tersebut yang disebut dengan perokok pasif. (Mangoenprasodjo &

Hidayati, 2005).

Kebiasaan merokok para calon ibu ternyata membawa akibat buruk pada anak yang

akan dilahirkanya. Terdapat bukti kuat bahwa ibu hamil yang merokok dapat langsung

mempengaruhi dan merusak perkembangan janin dalam rahim, yang paling sering terjadi

adalah berat lahir yang rendah (Arlene, 1996). Berat badan bayi ibu perokok pada umumnya

kurang dan mudah menjadi sakit. Berat badan bayi tersebut lebih rendah 40-400 gram

dibandingkan dengan bayi yang lahir dari Ibu bukan perokok. Sekitar 7% dari ibu-ibu hamil

yang merokok satu bungkus sehari mungkin akan melahirkan anak yang beratnya kurang dari

2500 gram, dan persentase ini meningkat menjadi 12% pada ibu-ibu hamil yang

menghabiskan dua bungkus rokok seharinya (Aditama, 1997).

Jumlah berat badan lahir rendah masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil estimasi dan

Universitas Sumatera Utara


survei demografi dan kesehatan Indonesia, angka BBLR secara nasional pada periode tahun

2002-2003 mencapai 7,6 % (Profil Kesehatan Indonesia, 2005). Sedangkan Di Propinsi

Lampung, angka BBLR pada tahun 2005 mencapai 2210 orang (Profil Kesehatan Propinsi

Lampung, 2005). Dan di Kota Metro angka kejadian BBLR pada tahun 2005 mencapai 68

orang (Profil Kesehatan Profinsi Lampung, 2005).

Berdasarkan penelitian, 1 dari 3 wanita yang merokok lebih dari 20 batang sehari

melahirkan bayi dengan berat badan kurang (Syahbana, 2001), namun hal tersebut tidak

hanya terjadi pada ibu hamil yang merokok saja, ternyata ibu hamil yang tidak merokokpun

bila sehari-hari selalu berada di tengah-tengah perokok dan selalu terpapar asap rokok

(perokok pasif), bisa mengalami efek negatif yang hampir sama tingkatannya dengan perokok

(Syahbana, 2001).

Perokok pasif menurut Susenas (2001) adalah penduduk yang bukan perokok, namun

tinggal serumah dengan perokok aktif yang merokok di dalam rumah. The Pregnancy

Nutrition Surveilence System (2005) menyatakan yang dimaksud dengan perokok dalam

rumah tangga selama kehamilan adalah setiap orang yang tinggal serumah dengan ibu hamil,

merokok di dalam rumah kecuali dirinya sendiri.

Data Susenas 2001 menunjukkan prevalensi perokok pasif di Indonesia sebesar 48,9%

atau 97.560.002 penduduk, yaitu pada laki-laki 31,8% dan perempuan 66%. Di setiap propinsi

di Indonesia perokok pasif pada perempuan selalu lebih tinggi daripada lakilaki. Pada

perempuan berstatus belum kawin prevalensi perokok pasif sebesar 29,6%, sedangkan pada

perempuan yang telah kawin prevalensi perokok pasif cukup tinggi, yaitu mencapai 70,4%.

Susenas (2004) menemukan prevalensi perokok aktif yang merokok di dalam rumah di

Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mencapai 58,5% penduduk.

Universitas Sumatera Utara


Sekarang ini makin banyak diketahui bahwa merokok tidak hanya berpengaruh terhadap

orang yang menghisapnya, tetapi juga mempengaruhi semua orang yang berada di sekitarnya.

Termasuk janin yang sedang berkembang dari ibu hamil yang kebetulan berada di dekatnya.

Jadi, bila suami anda atau setiap orang yang tinggal di rumah anda atau bekerja di meja

disamping anda merokok, tubuh bayi anda akan mendapat pengotoran oleh asap tembakau

hampir sebanyak pengotoran yang ia dapat jika anda sendiri yang menghisapnya. Bahkan

menurut Candra (2000), bahan kimia yang keluar dari asap bakaran ujung rokok kadarnya

lebih tinggi dari pada yang dihisap perokoknya. Semakin dekat jarak perokok dengan perokok

pasif, akan semakin besar bahayanya, karena itu penelitian banyak dilakukan pada istri si

perokok. Belakangan ini para ahli juga menemukan hubungan antara penurunan berat bayi

yang dilahirkan oleh isteri seorang perokok akibat gangguan perkembangan janin selama

dalam kandungan (Aditama, 1997).

Berdasarkan data pra survei, di Wilayah Kerja Puskesmas Karangrejo terdapat 9 bayi

dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram (data Puskesmas Karangrejo, 2006-2007).

Setelah 5 orang suami yang memiliki bayi tersebut ditanyakan tentang kebiasaan merokok, 4

diantaranya menjawab ya dan menghabiskan lebih dari 10 batang rokok per hari dan 1 orang

menjawab tidak.

Universitas Sumatera Utara


B. Keterbatasan Penelitian

Dalam setiap penelitian pasti mempunyai kelemahan-kelemahan dimana kelemahan

tersebut ditulis dalam keterbatasan. Dalam bab ini disajikan keterbatasan penelitian, seperti :

keterbatasan instrumen penelitian dan keterbatasan waktu dalam memasukkan jumlah rokok

dan tempat merokok. Diharapkan kepada penelitian selanjutnya dapat dikembangkan lebih

dalam dan akurat.

Universitas Sumatera Utara


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan antara suami perokok dengan

bayi berat lahir rendah (BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013 diperoleh

kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah( BBLR) , dari

76 orang responden mayoritas perokok dengan BBLR sebanyak 34 orang (55,7%) dan

yang perokok dengan bayi normal sebanyak 27 orang (44,3%). Berdasarkan hasil analisa

uji Chi-Square dengan uji statistik fishers exact test di peroleh nilai p = 0,000, maka Ho

ditolak artinya ada hubungan antara suami perokok dengan bayi berat badan lahir rendah

(BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013 .

2. Distribusi berdasarkan suami perokok dan tidak perokok di RSUD Dr. Pirngadi Medan

Tahun 2013 sebanyak 61 orang (80,3%), sedangkan suami yang tidak perokok yaitu

sebanyak 15 orang (19,7%).

3. Distribusi frekuensi jumlah BBLR di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013 bahwa

sebagian besar responden memiliki BBLR sebanyak 34 (44,7%)

4. Hasil uji Fisher`s Exact Test di peroleh nilai p = 0,000, maka Ho ditolak artinya ada

hubungan yang signifikan anatara suami Perokok dengan bayi berat lahir rendah (BBLR)

di RSUD Dr. Pirrngadi Medan Tahun 2013.

5.

Universitas Sumatera Utara


B. Saran

1. Bagi tenaga kesehatan

Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk giat memberikan promosi kesehatan khususnya

mengenai bahaya rokok terhadap janin.

2. Bagi tempat penelitian

Hendaknya pelayanan kesehatan khususnya RSUD Dr. Pirngadi Medan agar lebih

meningkatkan pelayanan penanganan BBLR sehingga dapat memberikan pelayanan yang

bermutu.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi para peneliti

selanjutnya terlebih mengenai hubungan antara suami perokok dengan bayi berat badan

lahir rendah (BBLR). Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan

penelitian saya ini untuk lebih baik lagi karena peneliti menyadari masih banyak kesalahan

dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Aditama, 1997. Skripsi Hubungan Antara Suami Perokok dengan Bayi Berat Lahir Rendah(
BBLR ) di Wilayah Kerja Puskesmas. http//www.skripsi 2010

Aditama, T. Y. (2011). Rokok dan Kesehatan. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian . Jakarta: Rineka Cipta.

Asiyah, S., Suyono, Mahaendriningtyastuti. (2010). Karakteristik Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) sampai Tribulan II Tahun 2009 di Kota Kediri. ISSN : 2086-3098 , 210-222.

Banon, I.H. (2006). Analisis Yuridis Penyelesaian Sengketa Rokok Kretek antara Indonesia
dan Amerika Serikat (DS406). Jurnal Perdagangan Republik Indonesia , 1-12.

Budiarto, E. (2004). Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC.

Chandra, B. (2008). Metodologi Penelititian Kesehatan. Jakarta: EGC.

Deslidel, Hasan, Z., Hevrialni, R., Sartika, Y. (2011). Asuhan Neoantus Bayi & Balita.
Jakarta: EGC.

Festy, P. (2010). Analisis Faktor pada Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di Kabupaten
Sumenep . Program Studi Ilmu Keperawatan Fakulatas Keperawatan Fakultas Ilmu
Kesehatan UM Surabaya Pipitbiostat@yahoo.com , 1-13.

Halliwell & Gutteridge. 1999. Free Radical, Other Reactivev Species and Disease In Free
Radical In Biology Medicine. New York : Oxford University

Hidayat, A.A. (2007). Metode Peneitian Kebidanan & Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba
Medika.

Hidayat, A. A. (2009). Metode Peneitian Keperawatan Teknik Analisis Data. Jakarta:


Salemba Medika.

Hypponen, E., Smith, G.D., Chris Power. (2003). Effects of grandmothers' smoking in
pregnanci on Birth Weight : Integenerational cohort Study. Centre for paediatric
Epidemiology and Biostatistic , 1-4.

Universitas Sumatera Utara


Irnawati. (2007). Risiko Terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah pada ibu Hamil Perokok pasif
di kota Banda Aceh Propinsi Nanggroe Darussalam. Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada.

Irnawati, Hakimi, M., Wibowo, T. (2011). Ibu Hamil Perokok Pasif sebagai Faktor Resiko
Bayi Berat Lahir Rendah. Jurnal Gizi Klinik Indonesia , 54-59.

Pantiawati, I. (2010). Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Yogyakarta: Nuha
Medika.

Purnamaningrum, Y. E. (2010). Penyakit Pada Neonatuis, Bayi dan Balita. Yogyakarta:


Fitramaya.

Proverawati, Rahmawati, E. (2012). Periaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS). Yogyakarta:
Nuha Medika.

Rahmawati, R., Jaya, A.N(2010). Pengaruh Faktor Maternal Terhadap Kejadian Bayi Berat
Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Daerah Ajjatpanngewatan Soppeng
Kabupaten Soppeng Tahun 2010. Jurnal Media Kebidanan Potekes Makassar , 56-66.

Razak Datu, 2005. Cacat Lahir Disebabkan Oleh Faktor Lingkungan. Bagian Anatomi FK
Universitas Hasanuddin. J. Med Nus. Vol 26 N0. 3 Juli September

Riwidikdo, H. (2008). Statistik Kesehatan. Jogjakarta: Mitra Cendekia.

Rukiyah, A.Y., Yulianti. L. (2010). Asuahan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: CV.
Trans Info Media.

Ruth Roemer, R.A. (1993). Legislative Action To Combat The World Tobbacco Epidemic.
California Los Angeles, CA, USA.: WHO.

Setyowati, T., Soesanto, S.S., Budiarso, L.R., Kristanti, Djaja, S., Ma'roef, S. (1996). Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah (Analisi Lsnjut
SDKI,1994). Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan , 38-54.

Sirajuddin, Tamrin, A., Hartono, R., Manjilala. (2011). Pengaruh Paparan Asap Rokok
Terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Bayi di Sulawesi Selatan. Media Gizi Pangan ,
34-40.

Sistiarani. (2008). Faktor maternal dan kualitas pelayananan atenatal yang berisiko terhadap
kejadian berat badan lahir rendah (bblr) studi pada ibu yang periksa hamil ke

Universitas Sumatera Utara


tenagakesehatan dan Melahirkan di RSUD Banyumas Tahun 2008. Semarang:
program pascasarjana universitas diponegoro semarang.

Sitorus, R. (2008). Gejala Penyakit & Pencegahannya . Bandung: Yrama Wiidya.

Valleria,2006. Dampak Negatif Rokok dan Asapnya. http//www. Klik dokter menuju sehat

Wetherall, C. F. (2008). Quit, Read This Book and Stop Smoking. Jakarta: Darul Haq.

Yuliana, 2009. Rokok Terhadap Defesiensi Asam Folat Selama Kehamilan. Diakses dari
http//pediatric Info Wordpress.com. 12-03-2010.

Zaluchu, F. (2011). Praktis Penelitian Kesehatan. Medan: Aulia Grafika.

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
FORMULIR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN

Hubungan Antara Suami Perokok Dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi
Medan Tahun 2013

Saya yang bernama Suriyanti Siregar dengan Nim 125102090 adalah mahasiswa

Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Saat

ini sedang melakukan penelitian tentang Hubungan Antara Suami Perokok Dengan Bayi

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013 .

Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di

Program Studi D-IV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Untuk keperluan tersebut saya mohon kesediaan Bapak-Bapak untuk menjadi responden

dalam penelitian ini. Penelitian ini bersifat bebas untuk menjadi responden penelitian atau

menolak tanpa ada sanksi apapun. Identitas pribadi Bapak-bapak dan semua informasi yang

Bapak berikan akan dirahasiakan dan hanya digunakan untuk keperluan ini saja. Jika Bapak-

bapak bersedia menjadi responden silahkan Bapak-bapak menandatangani formulir

persetujuan ini.Terima kasih atas partisipasi Bapak-bapak dalam penelitian ini.

Peneliti Medan, Februari 2013

Responden

(Suriyanti Siregar) (...)

Universitas Sumatera Utara


LEMBAR KUESIONER

HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT

BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) TAHUN 2013

No. Responden :

Petunjuk pengisian : Berilah tanda check list () pada salah satu pilihan yang menjadi

jawaban ibu dan isilah titik-titik yang tersedia di bawah ini.

I. DATA DEMOGRAFI

1) Umur :

a. <20 tahun c. 20-35 tahun

b. >35 tahun

2) Suku :

a. Melayu c. Batak

b. Jawa d. Lain-lain

3) Pendidikan :

a. SD c. SMP

b. SMU d. Perguruan Tinggi

4) Pekerjaan :

a. Pengangguran c. Pegawai swasta

b. Wiraswasta d. Pegawai negeri

5) Apakah bapak seorang perokok?

a.Ya b. Tidak

Universitas Sumatera Utara


6) Berapa batang rokok per hari yang Bapak hisap?

a. 10 batang rokok/hari c. <10 batang rokok/hari

b. >20 batang rokok/hari

7) Apakah sewaktu merokok bapak sering di sekitar Istri?

a. Ya b. Tidak

II. DATA OBSERVASI PENELITIAN

No Suami Perokok Bayi Baru Lahir


Responden
Ya Tidak BBLR Normal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Universitas Sumatera Utara


21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59

Universitas Sumatera Utara


60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

Universitas Sumatera Utara


MASTER TABEL
HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)
DI RSUD DR. PIRNGADI MEDAN TAHUN 2013

Sewaktu
merokok
Suami Jumlah rokok disekitar
no Perokok Umur Suku Pendidikan Pekerjaan yang dihisap/hari istri Bayi
1 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
2 Ya 20-35 thn Jawa SMP Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
3 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
4 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
5 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
6 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
7 Ya 20-35 thn Jawa SMP Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
8 Ya 20-35 thn Batak SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
9 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Ya
10 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
11 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
12 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
13 Ya 20-35 thn Jawa SD Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Ya
14 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
15 Ya > 35 thn Jawa SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
16 Ya > 35 thn Batak SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Ya
17 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Ya
18 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
19 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta <10 batang rokok /hari Ya Ya

Universitas Sumatera Utara


20 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
21 Ya < 20 thn Melayu SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
22 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
23 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
24 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
25 Ya 20-35 thn Jawa SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
26 Ya > 35 thn Jawa SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
27 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
28 Ya > 35 thn Jawa SMP Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
29 Ya > 35 thn Batak SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
30 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Ya Ya
31 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Ya
32 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
33 Ya > 35 thn Melayu SD Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
34 Ya > 35 thn Batak SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Ya
35 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Tidak
36 Ya 20-35 thn Batak SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Tidak
37 Ya > 35 thn Batak SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Tidak
38 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Tidak Tidak
39 Ya > 35 thn Jawa SD Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
40 Ya > 35 thn Batak SMP Wiraswasta 10 batang rokok/hari Tidak Tidak
41 Ya > 35 thn Batak PT PNS 10 batang rokok/hari Tidak Tidak
42 Ya > 35 thn Batak SMA Wiraswasta 10 batang rokok/hari Ya Tidak
43 Ya 20-35 thn Jawa SMA Pegawai swasta 10 batang rokok/hari Ya Tidak
44 Ya > 35 thn Melayu PT Pegawai swasta <10 batang rokok /hari Ya Tidak
45 Ya > 35 thn Batak SMA Pegawai swasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
46 Ya > 35 thn Batak SMA Pegawai swasta >20 batang rokok/hari Tidak Tidak

Universitas Sumatera Utara


47 Ya > 35 thn Batak SMA Pegawai swasta <10 batang rokok /hari Ya Tidak
48 Ya > 35 thn Batak SMA Pegawai swasta 10 batang rokok/hari Tidak Tidak
49 Ya > 35 thn Jawa SMA Pegawai swasta 10 batang rokok/hari Tidak Tidak
50 Ya > 35 thn Batak SMP Wiraswasta <10 batang rokok /hari Ya Tidak
51 Tidak > 35 thn Jawa SD Pegawai swasta Tidak ada 0 Tidak
52 Ya 20-35 thn Lain-lain SD Pegawai swasta 10 batang rokok/hari Ya Tidak
53 Tidak > 35 thn Batak SMA Wiraswasta Tidak ada 0 Tidak
54 Tidak 20-35 thn Jawa SMA Pegawai swasta Tidak ada 0 Tidak
55 Tidak > 35 thn Jawa SMA Pegawai swasta Tidak ada 0 Tidak
56 Ya > 35 thn Lain-lain SMA Wiraswasta >20 batang rokok/hari Tidak Tidak
57 Ya > 35 thn Batak SMA Pegawai swasta 10 batang rokok/hari Tidak Tidak
58 Tidak 20-35 thn Batak SMP Wiraswasta Tidak ada 0 Tidak
59 Tidak 20-35 thn Jawa SMA Pegawai swasta Tidak ada 0 Tidak
60 Tidak 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta Tidak ada 0 Tidak
61 Ya 20-35 thn Jawa SMA Pegawai swasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
62 Ya 20-35 thn Batak SMP Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
63 Ya 20-35 thn Jawa SMP Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
64 Tidak 20-35 thn Batak SMP Pegawai swasta Tidak ada 0 Tidak
65 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
66 Tidak 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta Tidak ada 0 Tidak
67 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
68 Tidak 20-35 thn Jawa SMA Pegawai swasta Tidak ada 0 Tidak
69 Tidak 20-35 thn Batak PT PNS Tidak ada 0 Tidak
70 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
71 Tidak 20-35 thn Melayu SD Wiraswasta Tidak ada 0 Tidak
72 Tidak 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta Tidak ada 0 Tidak
73 Ya 20-35 thn Batak SMA Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak

Universitas Sumatera Utara


74 Ya 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta <10 batang rokok /hari Tidak Tidak
75 Tidak 20-35 thn Jawa SMP Pegawai swasta Tidak ada 0 Tidak
76 Tidak 20-35 thn Jawa SMA Wiraswasta Tidak ada 0 Tidak

Universitas Sumatera Utara


Statistics
umur suami

N Valid 76
Missing 0

umur suami

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <20 1 1,3 1,3 1,3
20-35 44 57,9 57,9 59,2

>35 31 40,8 40,8 100,0

Total 76 100,0 100,0

Statistics
suku suami

N Valid 76
Missing 0

suku suami

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid melayu 4 5,3 5,3 5,3
jawa 29 38,2 38,2 43,4

batak 42 55,3 55,3 98,7

lain-lain 1 1,3 1,3 100,0

Total 76 100,0 100,0

Statistics
pendidikan suami

N Valid 76
Missing 0

Universitas Sumatera Utara


pendidikan suami

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 6 7,9 7,9 7,9
SMP 20 26,3 26,3 34,2

Batak 47 61,8 61,8 96,1

Perguruan tinggi 3 3,9 3,9 100,0

Total 76 100,0 100,0

Statistics
pekerjaan suami

N Valid 76
Missing 0

pekerjaan suami

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid wiraswasta 56 73,7 73,7 73,7
pegawai swasta 18 23,7 23,7 97,4

PNS 2 2,6 2,6 100,0

Total 76 100,0 100,0

Statistics
jumlah rokok yang dihisap
suami/hari

N Valid 76
Missing 0

jumlah rokok yang dihisap suami/hari

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Universitas Sumatera Utara


Valid 0 14 18,4 18,4 18,4
10 batang rokok/hari 26 34,2 34,2 52,6

<10 batang rokok/hari 15 19,7 19,7 72,4

>20 batang rokok/hari 21 27,6 27,6 100,0

Total 76 100,0 100,0

sewaktu merokok sering disekitar istri

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 0 14 18,4 18,4 18,4
ya 35 46,1 46,1 64,5

tidak 27 35,5 35,5 100,0

Total 76 100,0 100,0

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent


suami perokok * berat bayi 76 100,0% 0 ,0% 76 100,0%
lahir

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided)
a
Pearson Chi-Square 15,129 1 ,000
b
Continuity Correction 12,958 1 ,000
Likelihood Ratio 20,756 1 ,000
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear 14,930 1 ,000
Association
N of Valid Cases 76

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,71.
b. Computed only for a 2x2 table

Universitas Sumatera Utara


Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper


For cohort berat bayi lahir = ,443 ,334 ,587
normal
N of Valid Cases 76

Crosstabs

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent


suami perokok * berat bayi 76 100,0% 0 ,0% 76 100,0%
lahir

suami perokok * berat bayi lahir Crosstabulation

berat bayi lahir

bblr normal Total

suami perokok perokok Count 34 27 61


% within suami perokok 55,7% 44,3% 100,0%

tidak perokok Count 0 15 15


% within suami perokok ,0% 100,0% 100,0%
Total Count 34 42 76

% within suami perokok 44,7% 55,3% 100,0%

Symmetric Measures

Asymp. Std.
a b
Value Error Approx. T Approx. Sig.
c
Interval by Interval Pearson's R ,446 ,062 4,289 ,000
c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation ,446 ,062 4,289 ,000
N of Valid Cases 76

Universitas Sumatera Utara


Symmetric Measures

Asymp. Std.
a b
Value Error Approx. T Approx. Sig.
c
Interval by Interval Pearson's R ,446 ,062 4,289 ,000
c
Ordinal by Ordinal Spearman Correlation ,446 ,062 4,289 ,000
N of Valid Cases 76

a. Not assuming the null hypothesis.


b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

Risk Estimate

95% Confidence Interval

Value Lower Upper


For cohort berat bayi lahir = ,443 ,334 ,587
normal
N of Valid Cases 76

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
CURRICULUM VITAE

Nama : Suriyanti Siregar

Tempat/Tanggal Lahir : Padang Garugur, 24 Apri 1990

Agama : Islam

Anak ke : 1 dari 5 bersaudara

Alamat : Gunung Tua Kabupaten Padang Lawas Utara

DATA ORANG TUA

Nama Ayah : Pangondian Siregar

Pekerjaan Ayah : PNS

Nama Ibu : Emlina Harahap

Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga

RIWAYAT PENDIDIKAN :

1. Tahun 1997 - 2003 : SD MIN Padang Garugur

2. Tahun 2003 - 2006 : SMP N. 4. Padang Bolak

3. Tahun 2006- 2009 : SMA N. 1. Padang Bolak Julu

4. Tahun 2009 2012 : DIII AKBID INDAH MEDAN

5. TAHUN 2012-2013 : DIV Bidan Pendidik Fakultas Keperawatan USU

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai