Anda di halaman 1dari 3

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keputihan adalah sekresi cairan berlebih dari saluran reproduksi wanita
(vagina). Keputihan dapat berlangsung secara fisiologis atau patologis. Pada ibu
hamil umumnya terjadi peningkatan cairan vagina, namun bukan merupakan hal
yang patologis (Cunningham, et al., 2008). Akan tetapi terdapat beberapa faktor
selama kehamilan seperti peningkatan hormon, perubahan pH pada vagina, dan
penurunan flora normal Lactobacillus yang berpotensi meningkatkan risiko
berkembangnya mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan infeksi vagina
pada ibu hamil (Pudjiati dan Soedarmadi, 2009). Ibu hamil dengan infeksi vagina
memiliki keluhan sekret vaginal abnormal disertai gatal, iritasi, dan rasa vulva
terbakar. Salah satu alasan yang paling sering ditemukan pada pasien saat
berkunjung ke ahli ginekologi (American College of Obstetricians and
Gynecologist, 2006). Penyebab tersering kelainan vagina baik infeksi maupun
non-infeksi adalah vaginosis bakterial, kandidiasis, dan trikomoniasis (Schorge,
2008).
Insidensi infeksi vagina pada ibu hamil terjadi peningkatan dalam tiga dekade
terakhir. Sekitar 75% dari ibu hamil pernah mengalami kandidiasis vulvovaginalis
satu episode dalam sepanjang hidupnya dan 50% dari mereka mengalami
rekurensi (Aslam, Hafeez, et al., 2008). Menurut penelitian di Rumah Sakit
Thapathali, Kathmandu, Nepal, 39% dari wanita hamil menderita vaginitis. Dari
keseluruhan penderita tersebut 52,6% menderita vaginosis bakterial, 29,5%
kandidiasis, dan 1,3% trikomoniasis. Infeksi vagina terjadi pada wanita dengan
kehamilan ketiga (Shrestha, Tuladhar, et al., 2011). Di Havana City, Kuba, angka
kejadian kandidiasis 42,3% dan trikomoniasis 9,84% (Limia, Lantero, et al.,
2007). Menurut data dari World Health Organization (WHO), angka kejadian
vaginosis bakterial pada ibu hamil berkisar 14-21% di negara Eropa, di Jepang
13,6%, di Thailand 15,9%, dan di Indonesia 32% (Anggraini, Pratiwi, et al.,

Universitas Sumatera Utara


2

2012). Sedangkan untuk wilayah Sumatera Utara, khususnya Medan belum


diketahui pasti mengenai prevalensi kandidiasis vulvovaginalis dan vaginosis
bakterial pada ibu hamil.
Menurut Parveen (2008), kebanyakan ibu hamil dengan infeksi vagina pada
usia 18 30 tahun 57,4%, usia 31-40 tahun 45,45%. Multigravida (82,72%)
mengalami infeksi vagina lebih tinggi dibandingkan primigravida (17,27%).
Kehamilan trimester I menunjukkan 50%, trimester III 45,23%. Berdasarkan
tingkat pendidikan, SD 35,9%, SMP 35,1%, SMA 34,6%, Perguruan Tinggi
18,2%.
Beberapa komplikasi kelainan vagina baik infeksi atau non-infeksi pada
kehamilan dapat terjadi karena infeksi secara langsung dari ibu ke bayi melalui
penyebaran pada saluran reproduksi atas (ascending infection) ataupun kontak
secara langsung melalui jalan lahir. Komplikasi yang dapat membahayakan ibu
serta bayi seperti prematuritas, aborsi spontan, chorioamnionitis, kerusakan fetal
secara tidak langsung, dan ketuban pecah dini.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, penulis tertarik untuk meneliti
prevalensi kandidiasis vulvovaginalis dan vaginosis bakterial pada ibu hamil di
Poli ibu hamil RSUP Haji Adam Malik Medan. Penulis ingin mengetahui
prevalensi tersebut berdasarkan usia ibu, usia kehamilan, kehamilan, riwayat
keputihan, dan tingkat pendidikan. Penulis tidak meneliti trikomoniasis
disebabkan keterbatasan alat dan waktu penelitian. Dengan penelitian ini
diharapkan bisa sebagai masukan kepada ibu hamil dan petugas Poli Ibu Hamil
dan pentingnya pemeriksaan keputihan pada ibu hamil dikarenakan banyaknya
komplikasi yang dapat membahayakan kehamilan.

2.1 Rumusan Masalah


Bagaimana prevalensi kandidiasis vulvovaginalis dan vaginosis bakterial pada
ibu hamil di Poli Ibu Hamil RSUP Haji Adam Malik Medan periode Agustus-
Oktober 2013?

Universitas Sumatera Utara


3

3.1 Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui prevalensi kandidiasis vulvovaginalis dan vaginosis bakterial
pada ibu hamil di Poli ibu hamil RSUP Haji Adam Malik Medan.

b. Tujuan Khusus

- Mengetahui distribusi penderita kandidiasis vulvovaginalis berdasarkan usia, usia


kehamilan, kehamilan, riwayat keputihan, tingkat pendidikan.
- Mengetahui distribusi penderita vaginosis bakterial berdasarkan usia, usia
kehamilan, kehamilan, riwayat keputihan, tingkat pendidikan.

4.1 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yakni :

1. Sebagai informasi kepada klinisi mengenai prevalensi dan gambaran distribusi


dari kandidiasis vulvovaginalis dan vaginal bakteriosis pada ibu hamil.
2. Dapat menjadi edukasi dan masukan bagi ibu hamil tentang bahaya kandidiasis
vulvovaginalis dan vaginosis bakterial pada kehamilan.
3. Dapat menjadi bahan masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
4. Hasil dari penelitian ini bisa menjadi bahan untuk pengembangan pengelolaan
infeksi vagina pada ibu hamil selanjutnya seperti dalam pencegahan ataupun
pengobatan.

Universitas Sumatera Utara