Anda di halaman 1dari 9

PORTOFOLIO

SUPRAVENTRIKULAR TAKIKARDI (SVT)

Oleh:

Dr. Yulianti S. Arey

RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH BABAT

2016
No. ID dan Nama Peserta : dr. Yulianti S. Arey
No. ID dan Nama Wahana : RS Muhammadiyah Babat
Topik : Supraventrikular Takikardia
Tanggal (kasus) : 17 Mei 2016
Nama Pasien : Sdr A, 48th No. RM :
Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Erniek Saptowati
Tempat Presentasi : Ruang Bimbingan Dokter Internship RS Muh Babat
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Seorang laki-laki, 48 tahun kiriman perawat, mengeluh lemas, sesak dan berdebar-
debar sejak 1 hari SMRS. Keluhan dirasakan menetap tanpa ada perbaikan. Nyeri
dada seperti ditindih atau menjalar ke lengan kiri disangkal. Batuk dan mengi
Deskripsi : disangkal. Riwayat kaki bengkak, sesak untuk beraktivitas disangkal. Tiga hari
sebelumnya, pasien mengalami penurunan nafsu makan dan demam. Pasien juga
mengeluhkan rasa pusing, seperti mau pingsan. Perut terasa mual dan tidak nyaman.
Pasien menyangkal memiliki penyakit jantung, hipertensi, kencing manis.
Mampu mendiagnosis dan memberikan penanganan yang tepat, cepat, dan akurat
Tujuan :
pada pasien yang mengalami Supraventrikular Takikardia [SVT]
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail Pos
Membahas :

Data
Nama : Sdr A No. Registrasi :
Pasien :

Data Utama untuk Bahan Diskusi :

1. Diagnosis / Gambaran Klinis :


Diagnosis SVT sebagai salah satu gangguan irama jantung dapat ditunjukkan dari anamnesis
dan pemeriksaan fisik dengan didapatkan keluhan berdebar-debar, serta nafas yang pendek,
perut terasa mual, denyut jantung 186/menit, reguler. Dengan HR 186, maka pasien
dimasukkan pada kasus takikardia dengan nadi. Melalui pemeriksaan fisik TD 90/60, RR 32
x/menit, serta ekstremitas yang dingin, maka kasus ini termasuk takikardia simptomatik yan
tidak stabil. Untuk menentukan jenis gangguan irama yang terjadi, maka dibutuhkan
pemeriksaan EKG.
- Hasil EKG: EKG : HR 186 x/menit, irama reguler, gelombang P (-), dengan kompleks
QRS yang sempit (interval QRS <120 ms).
- Kesan : Supraventrikular Takikardia [SVT]

2. Riwayat Pengobatan :
Pasien dirujuk ke UGD RS MB oleh perawat desa, setelah diinfus NaCl 0,9%.
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit :
Pasien menyangkal memiliki penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis. Riwayat
dirawat di RS sebelumnya disangkal.
4. Riwayat Keluarga :
Pasien menyangkal adanya anggota keluarga dengan keluhan yang sama, riwayat penyakit
darah tinggi, kencing manis, jantung, ginjal.
5. Riwayat Pekerjaan :
Pasien bekerja sebagai petani.

6. Lain-lain :
- Dari pemeriksaan tanda vital ditemukan TD : 90/60 mm/Hg, HR 186x/menit reguler, RR
32 x/menit, suhu aksila 37,6 C. Pemeriksaan fisik ditemukan JVP normal, ronkhi -/-,
wheezing -/-. murmur (-), akral dingin (+).
EKG : HR 186 x/menit, irama reguler, gelombang P (-), dengan kompleks QRS yang sempit
(interval QRS <120 ms). Kesan : Supraventrikular Takikardia [SVT]

Daftar Pustaka :
1. ACLS Tachycardia Algorithm for Managing Unstable Tachycardia. 2010. Available at:
https://www.acls.net/acls-tachycardia-algorithm-unstable.htm
2. Colluci, Randall A.. Supraventricular Common Types of Supraventricular Tachycardia:
Diagnosis and Management. 2010. Available at:
http://www.aafp.org/afp/2010/1015/p942.html
3. Fauci.A.S. Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Dalam : Harrison Prinsip-Prinsil Ilmu Penyakit
Dalam. Volume 3. Edisi 13. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2000. Hal: 1185-9.
4. PERKI. Kasus-Kasus pada Bantuan Hidup Jantung Lanjut [BHJL]. In: Buku Panduan Kursus
Bantuan Hidup Jantung Lanjut [ACLS Indonesia]. 2010
5. PERKI. Mengenal Irama non Henti jantung pada EKG. In: Buku Panduan Kursus Bantuan
Hidup Jantung Lanjut [ACLS Indonesia]. 2010

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis SVT melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.
2. Penatalaksanaan pada kasus SVT (khususnya dalam konteks setting di ruang gawat
darurat/UGD)
3. Edukasi pada pasien dan keluarga bahwa SVT adalah keadaan gawat darurat di bidang
kardiovaskuler, dan harus mendapat pertolongan segera, dan selanjutnya mendapat
perawatan di ruang intensif jantung dan ditangani oleh dokter spesialis Jantung.

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

1. Subjektif :

Pasien mengeluh lemas, sesak dan berdebar-debar sejak 1 hari SMRS. Keluhan
dirasakan menetap tanpa ada perbaikan. Nyeri dada seperti ditindih, menjalar ke
lengan kiri disangkal. Batuk dan mengi disangkal. Riwayat kaki bengkak, sesak
untuk beraktivitas disangkal. Tiga hari sebelumnya, pasien mengalami penurunan
nafsu makan dan demam. Keluhan mimisan, BAB hitam, bintik merah pada kulit
disangkal. Pasien juga mengeluhkan rasa pusing, seperti mau pingsan. Perut terasa
mual dan tidak nyaman.

2. Objektif :

Pemeriksaan fisik didapatkan suara jantung S1-S2 reguler, murmur (-), suara paru
vesikuler dan tidak terdapat suara tambahan. Abdomen dalam batas normal. Akral
teraba dingin, CRT <2 detik. Vital Sign pasien; TD 90/60, HR 186, RR 32x, S
37,6C
- Hasil EKG: EKG : HR 186 x/menit, irama reguler, gelombang P (-), dengan
kompleks QRS yang sempit (interval QRS <120 ms). Kesan : Supraventrikular
Takikardia [SVT]
- Hasil Laboratorium: GDA 158, AL 12.100, PLT 210.000 lain-lain dalam batas
normal.
3. Assesment (penalaran klinis) :

Pasien pada kasus ini merupakan rujukan perawat dengan keterangan awal
hipotensi yaitu 90/60mmHg. Setelah dilakukan primary survey didapatkan kondisi
sesak nafas dengan RR 32x dan TD 90/60 mmHg, HR 182 (pada monitor).
Pemberian O2 NK 2 lpm segera dilakukan pada pasien ini, dan dilakukan resusitasi
cairan sebesar 500cc RL, tetapi tidak ada respon. Sehingga terdapat kemungkinan
penyebab hipotensi akibat gangguan irama jantung. Rekam EKG segera dilakukan
dan didapatkan hasil yang memenuhi kriteria SVT , yaitu 186 x/menit, irama
reguler, gelombang P (-), dengan kompleks QRS yang sempit (interval QRS <120
ms) pada pasien tersebut. Dengan klinis hipotensi dengan akral dingin, sesak nafas
dapat disimpulkan pasien mengalami kondisi takikardia dengan nadi yang tidak
stabil dengan QRS sempit. Secondary survey dilakukan, dengan anamnesis lebih
mendalam tidak ditemukan batuk dan mengi. Tidak terdapat riwayat gangguan
jantung sebelumnya. Pasien mengalami penurunan nafsu makan dan demam kurang
lebih 3 hari. Namun tidak dijumpai tanda perdarahan yang mungkin berhubungan
dengan kondisi demam berdarah dengan shock.

4. Plan :

Pasien ini mengalami kondisi takikardia yang TIDAK STABIL. Sesuai protokol
Algoritma ACLS dengan gambaran EKG Supraventrikular Takikardia pasien
seharusnya segera ditangani dengan synchronized cardioversion dengan dosis
inisial 50J hingga 100J. Apabila dosis 50J gagal maka dosis dapat dinaikkan secara
bertahap. Namun dikarenakan keterbatasan alat, setelah dipastikan tidak ada bruit
karotis pasien ditangani dengan percobaan Vagal Manuver selama 2 menit dan
memberikan respons penurunan nadi menjadi 162x per menit. Sesuai dengan
kriteria QRS sempit, pemberian Inj. Adenosin diindikasikan pada pasien ini,
dengan dosis bolus 6 mg IV cepat diikuti bolus normal saline 20ml kemudian
lengan diangkat. Tetapi obat tersebut tidak tersedia. Sehingga dilakukan pemberian
obat lain yaitu Inj. Amiodaron yang juga memiliki aktifitas rate control serta
diindikasikan secara luas untuk takiaritmia ventrikular maupun atrial fibrillasi.
Pasien ini diberikan Inj. Amiodarone 150mg IV dalam 5-10 menit dan dilanjutkan
dosis rumatan sebesar 1mg/ menit selama 6 jam.

Diagnosis : Supraventrikular Tachycardia

Pengobatan :

O2 nasal canule 2 lpm; Sp O2 98%


Infus RL loading 500cc (fluid challenge) tidak ada perbaikan TD
Inj. Amiodaron 150 mg IV 5-10 menit, respon HR turun menjadi 140x, TD tetap
90/60, irama SVT
Inj. Metamizole 1000 mg IV
Inj. Ranitidin 50 mg IV

Konsultasi : Dokter Spesialis Jantung

Rujukan : RS Tipe B dengan fasilitas ICU

Kegiatan Periode Hasil yang Diharapkan

Primary Survey dan Segera saat pasien MRS Pasien kondisi stabil dan
Stabilisasi pasien siap dilakukan proses
rujukan
Tinjauan Pustaka
DEFINISI: Supraventrikular takikardi (SVT) adalah detak jantung yang cepat dan reguler berkisar
antara 150-250 denyut per menit. SVT sering juga disebut Paroxysmal Supraventrikular Takikardi
(PSVT). Paroksismal artinya adalah gangguan tiba-tiba dari denyut jantung yang menjadi cepat.

Pada keadaan normal, impuls elektrik dihasilkan oleh pacemaker yang disebut SA node. Impuls elektrik
ini akan diteruskan ke ventrikel melalui AV node, dimana pada nodus ini akan terjadi perlambatan
impuls. Selanjutnya impuls ini akan disebarkan ke seluruh ventrikel. Pada SVT /PSVT, terjadi
gangguan konduksi impuls yang menyebabkan atrium dan kemudian ventrikel berdenyut sangat cepat.
Disebut paroksismal karena denyut yang cepat ini dapat terjadi tiba-tiba. Bagaimana mekanisme
terjadinya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pada saat impuls yang dihasilkan oleh SA node dialirkan ke AV node, tiba-tiba terjadi gangguan
konduksi yang biasanya disebabkan oleh atrial premature beat, dimana terjadi transient blok pada satu
sisi dari sistem konduksi (di ibaratkan berbentuk cincin ). Normalnya impuls yang masuk disebarkan
melalui dua arah dari kanan dan kiri. Bila terjadi blok pada satu sisi, maka impuls akan berjalan melalui
sisi satunya lagi. Pada saat blok tersebut menghilang maka impuls tersebut akan berjalan terus melintasi
area tersebut dan terciptalah suatu sirkuit tertutup yang disebut circus movement. Pada saat ini SA
node tidak bertindak sebagai pacemaker primary namun terdapat jalur aksesori kecil (circus movement)
yang memiliki impuls yang berputar-putar secara terus-menerus dengan cepat. Setiap kali impuls dari
sistem ini sampai ke AV node makan impuls ini akan diteruskan ke ventrikel. Oleh sebab itu pada
gambaran ECG komplek QRS tampak normal. Pada gambaran ECG gelombang P bisa tampak terbalik
(oleh karena lintasan impuls yang terbalik), namun pada kebanyakan kasus depolarisasi atrium dan
ventrikel terjadi hampir bersamaan sehingga gelombang P menghilang atau superimposed dengan
kompleks QRS.

IDENTIFIKASI:

1. Denyut jantung yang cepat, disebut takikardi yang artinya denyut jantung melebihi > 100
denyut per menit. Pada SVT denyut jantung ini berkisar antara 150-250 denyut per menit.

2. Denyut jantung yang reguler (dapat dilihat dari kompleks QRS yang teratur) dengan gelombang
P yang superimposed dengan komplek QRS (tidak terlihat gelombang P).

3. Komplek QRS sempit (QRS < 0,12 detik atau 3 kotak kecil)

Keluhan atau gejala tergantung pada ada tidaknya kelainan struktur jantung serta kemampuan
mempertahankan hemodinamik. Seseorang yang mengalami SVT dan mengeluhkan gejala ringan atau
mengalami gangguan kardiopulmoner yang berat. Keluhan yang sering muncul antara lain:

Berdebar-debar - >96%

Berkunang-kunang - 75%

Sesak nafas - 47%

Pingsan - 20%

Nyeri dada - 35%

Lemah - 23%
Keringat dingin - 17%

Mual - 13%

Rasa berdebar-debar dan berkunang kunang merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan pasien
dengan SVT. Rasa tidak nyaman di dada akibat kenaikan frekuensi denyut jantung biasanya akan
menghilang apabila tachycardia dapat dikendalikan. Anamnesis riwayat yang perlu ditanyakan antara
lain onset, faktor pencetus, adanya gangguan jantung dan pengobatan tertentu sebelumnya. Pemeriksaan
penunjang terutama EKG harus segera dilakukan.

Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana:

Apakah nadi teraba?

Jika YA, maka segera lakukan:

1. Pemeriksaan dan stabilisasi Airway, Breathing dan Circulation

2. Berikan oksigen dan pantau saturasi oksigen.

3. Periksa EKG

4. Identifikasi irama

5. Periksa ulang tekanan darah

6. Identifikasi dan tangani penyebab lain takikardia

Periksa apakah ada gangguan kesadaran, nyeri dada yang terus menerus, hipotensi dan tanda-tanda syok
yang lain.

Apabila tanda dan gejala klinis menetap setelah pemberian oksigen, stabilisasi airway dan circulation
DAN gejala yang signifikan tersebut disebabkan oleh takikardia (bukan sebab lain), maka disimpulkan
takikardia TIDAK STABIL sehingga indikasi untuk dilakukan synchronized cardioversion.

Pasien yang mengalami takikardia TIDAK STABIL, harus segera ditangani dengan synchronized
cardioversion. Yang harus segera dilakukan adalah

1. Pasang akses intravena.

2. Berikan sedasi apabila pasien sadar

3. Jangan tunda kardioversi

4. Pertimbangkan konsultasi ahli