Anda di halaman 1dari 16

KEMENTRIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

Kementerian Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia (disingkat Kementerian BUMN RI)

adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan pembinaan badan

usaha milik negara (BUMN). Kementerian BUMN dipimpin oleh seorang Menteri Badan Usaha

Milik Negara (Menteri BUMN) yang sejak 27 Oktober 2014 dijabat oleh Rini Soemarno.
RINI SOEMARNO

Rini Mariani Soemarno atau biasa dikenal Rini Soemarno (lahir di Maryland, Amerika Serikat, 9

Juni 1958; umur 59 tahun), adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara dalam Kabinet Kerja

periode 2014-2019 oleh Presiden Jokowi sejak 26 Oktober 2014. Sarjana Ekonomi lulusan 1981

dari Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat ini adalah termasuk salah seorang

menteri yang diangkat dari kalangan profesional.[1] Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai

Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Kabinet Gotong Royong tahun 2001 hingga tahun

2004.
SEJARAH KEMENTRIAN BUMN

Kementerian BUMN merupakan transformasi dari unit kerja eselon II Departemen


Keuangan (1973-1993) yang kemudian menjadi unit kerja eselon I (1993-1998 dan 2000-2001).
Tahun 1998-2000 dan tahun 2001 sampai sekarang, unit kerja tersebut menjadi Kementerian
BUMN.

Kementerian BUMN memiliki tugas pokok dan fungsi melaksanakan pembinaan terhadap
perusahaan negara/BUMN di Indonesia. Kementerian BUMN telah ada sejak tahun 1973, yang
awalnya merupakan bagian dari unit kerja di lingkungan Departemen Keuangan. Selanjutnya,
organisasi tersebut mengalami beberapa kali perubahan dan perkembangan. Dalam periode 1973
sampai dengan 1993, unit yang menangani pembinaan BUMN berada pada unit setingkat eselon
II. Awalnya, unit organisasi itu disebut Direktorat Persero dan PKPN (Pengelolaan Keuangan
Perusahaan Negara). Selanjutnya terjadi perubahan nama menjadi Direktorat Persero dan BUN
(Badan Usaha Negara). Terakhir kalinya pada unit organisasi setingkat eselon II, organisasi ini
berubah menjadi Direktorat Pembinaan BUMN sampai dengan tahun 1993.

Selanjutnya, seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk mengoptimalkan pengawasan dan


pembinaan terhadap BUMN, dalam periode 1993 sampai dengan 1998, organisasi yang awalnya
hanya setingkat Direktorat/eselon II, ditingkatkan menjadi setaraf Direktorat Jenderal/eselon I,
dengan nama Direktorat Jenderal Pembinaan Badan Usaha Negara (DJ-PBUN).

Mengingat peran, fungsi dan kontribusi BUMN terhadap keuangan negara sangat signifikan,
pada tahun 1998 sampai dengan 2000, pemerintah Indonesia mengubah bentuk organisasi
pembina dan pengelola BUMN menjadi setingkat kementerian. Awal dari perubahan bentuk
organisasi menjadi kementerian terjadi pada masa pemerintahan Kabinet Pembangunan VI,
dengan nama Kantor Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN/Kepala Badan
Pembinaan BUMN.

Pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2001, struktur organisasi kementerian ini dihapuskan dan
dikembalikan lagi menjadi setingkat eselon I di lingkungan Departemen Keuangan. Namun, pada
tahun 2001, ketika terjadi suksesi kepemimpinan, organisasi tersebut dikembalikan lagi
fungsinya menjadi setingkat kementerian dengan nama Kementerian Negara Badan Usaha Milik
Negara. Pada tahun 2009, mengikuti perubahan nomenklatur seluruh kementerian, kementerian
ini pun berganti nomenklatur menjadi Kementerian Badan Usaha Milik Negara.

TUGAS DAN FUNGSI


Kementerian Badan Usaha Milik Negara mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang
pembinaan badan usaha milik negara dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam
menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Badan Usaha
Milik Negara menyelenggarakan fungsi:

perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pembinaan badan usaha milik negara;
koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan badan usaha
milik negara;
pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian
Badan Usaha Milik Negara; dan
pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Badan Usaha Milik
Negara.[3]
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian


ESDM RI) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang bergerak di bidang energi, dan
sumber daya mineral. Kementerian ESDM dipimpin oleh seorang Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral(Menteri ESDM) yang sejak tanggal 14 Oktober 2016 dijabat oleh Ignasius Jonan.
IGNASIUS JONAN

Ignasius Jonan ( ejaan lama: Ignasius Djonan, lahir di Singapura, 21 Juni 1963; umur 54
tahun) adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia sejak 14
Oktober 2016. Sebelumnya, Ignasius Jonan menjabat sebagai Menteri Perhubungan
Indonesia sejak 27 Oktober2014 hingga di reshuffle oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan
digantikan oleh Budi Karya Sumadi pada tangga 27 Juli 2016. Dia juga pernah menjabat sebagai
Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) tahun 2009 s.d. 2014. Ignasius
Jonan menjabat sebagai Dirut PT KAI (Persero) sesuai dengan penugasan pemerintah
melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara Indonesia (BUMN) yang dipimpin
oleh Menteri BUMN Sofyan Djalil, menggantikan Ronny Wahyudi yang menjabat
sejak September 2005 yang kemudian Ronny diangkat kembali oleh pemerintah sebagai anggota
Dewan Komisaris PT Industri Kereta Api (Inka). Jonan diangkat pada tanggal 25
Februari 2009[1]

Ignasius Jonan terpilih kembali sebagai Dirut PT KAI (Persero) pada tahun 2013 oleh Menteri
BUMN saat itu, Dahlan Iskan.[2] Pada 26 Oktober 2014, Ignasius Jonan diangkat
menjadi Menteri Perhubungan dalam Susunan Kabinet Kerja Joko Widodo.[3][4] Setelah hampir 2
bulan pasca terjadi kekosongan jabatan Menteri ESDM sejak Arcandra Tahar diberhentikan
pada 15 Agustus2016 oleh Presiden Jokowi karena masalah dwikewarganegaraan, pada 14
Oktober 2016, Jonan kembali masuk ke dalam Kabinet Kerja Jokowi dan diangkat menjadi
Menteri ESDM bersamaArcandra Tahar yang diangkat sebagai Wakil Menteri ESDM.
SEJARAH KEMENTRIAN

Tahun 1945

Lembaga pertama yang menangani Pertambangan di Indonesia adalah Jawatan Tambang, dan

Geologi yang dibentuk pada tanggal 11 September 1945. Jawatan ini, semula bernama Badan

Survei Geologis ( Chisitsu Chsajo?), bernaung di Kementerian Kemakmuran.

Tahun 1952

Jawatan, dan Geologi yang pada saat itu berada di Kementerian Perindustrian, berdasarkan SK

Menteri Perekonomian no. 2360a/M Tahun 1952, di ubah menjadi Direktorat Pertambangan

yang terdiri atas Pusat Jawatan Pertambangan, dan Pusat Jawatan Geologi.

Tahun 1957

Berdasarkan Keppres no.131 Tahun 1957 Kementerian Perekonomian dipecah menjadi

Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian. Berdasarkan SK Menteri

Perindustrian no. 4247 a/M tahun 1957, Pusat-pusat di bawah Direktorat Pertambangan berubah

menjadi Jawatan Pertambangan, dan Jawatan Geologi.

Tahun 1959

Kementerian Perindustrian dipecah menjadi Departemen Perindustrian Dasar/Pertambangan, dan

Departemen Perindustrian Rakyat dimana bidang pertambangan minyak, dan gas bumi berada di

bawah Departemen Perindustrian Dasar, dan Pertambangan.

Tahun 1961

Pemerintah membentuk Biro Minyak, dan Gas Bumi yang berada di bawah Departemen

Perindustrian Dasar, dan Pertambangan.


Tahun 1962

Jawatan Geologi, dan Jawatan Pertambangan diubah menjadi Direktorat Geologi, dan Direktorat

Pertambangan.

Tahun 1963

Biro Minyak, dan Gas Bumi diubah menjadi Direktorat Minyak, dan Gas Bumi yang berada di

bawah kewenangan Pembantu Menteri Urusan Pertambangan, dan Perusahaan-perusahaan

Tambang Negara.

Tahun 1965

Departemen Perindustrian Dasar/Pertambangan dipecah menjadi tiga departemen yaitu:

Departemen Perindustrian Dasar, Departemen Pertambangan, dan Departemen Urusan Minyak,

dan Gas Bumi. Pada tanggal 11 Juni 1965 Menteri Urusan Minyak, dan Gas Bumi menetapkan

berdirinya Lembaga Minyak, dan Gas Bumi (Lemigas).

Tahun 1966

Departemen Urusan Minyak, dan Gas Bumi dilebur menjadi Kementerian Pertambangan, dan

Migas yang membawahi Departemen Minyak, dan Gas Bumi.

Tahun 1966

Dalam Kabinet Ampera, Departemen Minyak, dan Gas Bumi, dan Departemen Pertambangan

dilebur menjadi Departemen Pertambangan.

Tahun 1978

Departemen Pertambangan berubah menjadi Departemen Pertambangan, dan Energi.

Tahun 2000

Departemen Pertambangan, dan Energi berubah menjadi Departemen Energi, dan Sumber Daya

Mineral.
TUGAS KEMENTRIAN

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di

bidang energi, dan sumber daya mineral dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam

menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Energi dan

Sumber Daya Mineral menjalankan fungsi:

perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang energi, dan sumber daya

mineral;

pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian

Energi, dan Sumber Daya Mineral;

pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Energi, dan Sumber Daya

Mineral;

pelaksanaan bimbingan teknis, dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian

Energi, dan Sumber Daya Mineral di daerah

pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.


KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN

PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (dahulu Kementerian Negara

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, disingkat Kemeneg PP & PA) adalah

kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan pemberdayaan

perempuan dan perlindungan anak. Kementerian PP & PA dipimpin oleh seorang Menteri

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP & PA) yang sejak tanggal 27

Oktober 2014 dijabat oleh Yohana Yembise.


YOHANA SUSANA YEMBISE

Yohana Susana Yembise (lahir di Manokwari, Papua, 1 Oktober 1958; umur 58 tahun)

adalahMenteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam Kabinet Kerja 2014-

2019. Ia menjadi sangat dikenal karena menjadi menteri dan guru besar perempuan pertama dari

Papua. Sebelum diangkat menjadi menteri, ia adalah seorang profesor di Universitas

Cenderawasih
SEJARAH KEMENTRIAN

Tahapan pembangunan pemberdayaan perempuan adalah sebagai berikut:

Tahun 1978-1983, Menteri Muda Urusan Peranan Wanita (MENMUD UPW), oleh Ny.
Lasijah Soetanto.
Tahun 1983-1987, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (MENUPW), oleh Ny. Lasijah
Soetanto.
Tahun 1987-1988, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (MENUPW), oleh Ny. A.
Sulasikin Moerpratomo.
Tahun 1988-1993, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (MENUPW), oleh Ny. A.
Sulasikin Moerpratomo.
Tahun 1993-1998, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita (MENUPW), oleh Ny. Mien
Soegandi. Dalam GBHN 1993-1998 mengamanatkan bahwa melalui upaya pembangunan,
potensi sumberdaya nasional diarahkan menjadi kekuatan ekonomi, sosial budaya, politik,
dan keamanan yang nyata, didukung oleh SDM yang berkualitas, yang memiliki ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek) serta kemampuan manajemen. Dengan demikian, aspirasi,
peranan, dan kepentingan SDM termasuk perempuan sebagai penggerak pembangunan
nasional, dipadukan kedalam gerak pembangunan bangsa melalui peran aktif dalam seluruh
kegiatan pembangunan.
Tahun 1998-1999, Menteri Negara Peningkatan Peranan Wanita (MENPERTA), oleh Ny.
Tuty Alawiyah AS.
Tahun 1999-2001, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (MenegPP), oleh Ny.
Khofifah Indar Parawansa.
Tahun 2001-2004, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Kementerian PP), oleh Ny.
Sri Redjeki Sumarjoto, SH.
Tahun 2004-2009, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Kementerian Negara PP),
oleh Prof. DR. Meutia Hatta Swasono.
Tahun 2009-2014, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(Kementerian PP dan PA), oleh Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP.
TUGAS KEMENTRIAN

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mempunyai tugas


menyelenggarakan urusan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam
pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam
melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pemberdayaan perempuan dan


perlindungan anak;
2. Koodinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pemberdayaan perempuan
dan perlindungan anak;
3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; dan
4. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak.
KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia (disingkat Kemendag) adalah kementerian dalam

Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan perdagangan. Kementerian Perdagangan

dipimpin oleh seorang Menteri Perdagangan (Mendag) yang sejak tanggal 27 Juli 2016 dijabat

oleh Enggartiasto Lukita.


ENGGARTIASTO LUKITA

Drs. Enggartiasto Lukita (lahir di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1951; umur 65 tahun) adalah

politikus dan pengusaha berkebangsaan Indonesia yang sekarang menjabat sebagai Menteri

Perdagangan sejak 27 Juli 2016. Namanya dikenal secara luas saat menjadi anggota DPR RI dari

Partai Golongan Karya (1997-1999 dan 2004-2009). Namun sejak tahun 2013 Enggartiasto

Lukita memutuskan masuk di partai baru, Partai NasDem. Di partai ini, Enggar dipercaya

menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri. Dan pada Pemilu 2014, terpilih kembali

sebagai anggota DPR RI. Enggartiasto Lukita tercatat pernah memegang jabatan antara lain

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), periode 1992-1995.[1][2][3][4] Dia diangkat sebagai

Menteri Perdagangan dalam perombakan Kabinet Kerja Jilid II pada tanggal 27 Juli 2016.
TUGAS KEMENTRIAN

Kementerian Perdagangan mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang perdagangan

dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Dalam melaksanakan tugas, Kementerian Perdagangan menyelenggarakan fungsi:

1. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang perdagangan

2. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian

Perdagangan

3. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perdagangan

4. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian

Perdagangan di daerah

5. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.