Anda di halaman 1dari 5

SISTEM EKONOMI KERAKYATAN

Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah istilah yang relatif baru, yang menggantikan istilah ekonomi
rakyat yang konotasinya dianggap negatif dan bersifat diskriminatif.
Pakar-pakar ekonomi muda (arus utama) merasa muak (fedup) dengan istilah-istilah sistem
ekonomi Pancasila, karena :
1. Istilah-istilah ekonomi ditunggangi pesan-pesan politik dari pemerintah atau pejabat-pejabat
pemerintah, tidak saja kata rakyat atau ekonomi kerakyatan dicurigai bahkan kata Pancasila
dianggap terlalu berat untuk dipakai sebagai nama sistem ekonomi yang cocok atau tepat bagi
Indonesia.
2. Pemerintah Orde Baru telah secara sepihak memonopoli pengertian dan memanfaatkannya
sebagai pembenaran (justification) atas berbagai kebijaksanaan atau politik ekonomi liberal yang
berpihak pada ekonomi konglomerasi.
Demontrasi mahasiswa (rakyat) yang menuntut turunnya Soeharto dari pemerintahan pada
tahun 1997 dan meminta agar dilaksanakan reformasi. Reformasi yang dituntut adalah, antara
lain, reformasi di bidang politik dan reformasi di bidang ekonomi. Reformasi di bidang politik
adalah kebebasan bersuara, berpolitik, atau secara singkatnya adalah kebebasan demokrasi,
yang selam pemerintahan Soeharto (1965-1997) sangat dikekang atau dipasung. Reformasi di
bidang ekonomi dikatakan bahwa di bawah presiden Soeharto pemerintah terlalu memihak
kepada perusahaan besar, pada hal terbukti dari krisis yang lalu (1997) bahwa usaha kecil dan
menengah atau usaha rakyat terbukti tahan banting.
Yang mengalami kehancuran pada krisis 1997 adalah usaha besar, PHK juga dilakukan oleh
perusahaan besar, perusahaan multinasional. Kredit diarahkan terutama untuk kepentingan
perusahaan besar. Dominasi asing dalam perekonomian, seperti misalnya peranan Bank Dunia,
IMF dan lembaga asing lainnya, dianggap sebagai satu hal yang berlebihan dan rakyat
menginginkan agar perekonomian lebih bersifat berdiri di atas kaki sendiri. Oleh karena itu
hutang kepada IMF dan Bank Dunia dibayar lunas. Namun hutang luar negeri tidak seluruhnya
lunas dan dalam waktu setahun, dan ironisnya adalah bahwa sementara hutang luar negeri
berkurang ternyata hutang dalam negeri meningkat dengan tajam. Beberapa hal berikut ini
merupakan kebijakan pemerintah selama dalam sistem ekonomi kerakyatan:
1. Peranan IGGI dikurangi, semula diganti dengan CGI (consultative Group on Indonesia) sehingga
badan tersebut hanya bersifat konsultasi dalam menyusun kebijaksanaan ekonomi.
2. Investasi asing dengan UUPMA dan investasi dalam negeri dengan UUPMDN, yang memberikan
prioritas pada pengusaha besar tidak banyak mendapat sorotan, tidak dihapuskan, namun
berjalan seperti semula.
3. Tampak adanya usaha swastanisasi perusahaan Negara namun belum selesai dan usaha
swastanisasi ini merupakan isu internasional dan bukanlah disebabkan oleh karena sistem
ekonomi kerakyatan.
4. Dari tinjauan di atas dan pengamatan yang mendalam, sistem ekonomi kerakyatan ini masih
mempunyai ciri sangat kental sebagai sistem ekonomi pasar.

1. Ekonomi Kerakyatan sebagai Sistem Ekonomi


Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi
rakyat. Di mana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan ekonomi atau usaha yang
dilakukan oleh rakyat kebanyakan (populer) yang dengan secara swadaya mengelola sumber
daya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan dan dikuasainya, yang selanjutnya disebut sebagai
Usaha Kecil dan Menegah (UKM) terutama meliputi sektor pertanian, peternakan, kerajinan,
makanan, dsb., yang ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan keluarganya
tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat lainnya.
Secara ringkas Konvensi ILO169 tahun 1989 memberi definisi ekonomi kerakyatan adalah
ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat lokal dalam mempertahankan
kehidupannya. Ekonomi kerakyatan ini dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan
keterampilan masyarakat lokal dalam mengelola lingkungan dan tanah mereka secara turun-
temurun. Aktivitas ekonomi kerakyatan ini terkait dengan ekonomi subsistem antara lain
pertanian tradisional seperti perburuan, perkebunan, mencari ikan, dan lainnya kegiatan
disekitar lingkungan alamnya serta kerajinan tangan dan industri rumahan. Kesemua kegiatan
ekonomi tersebut dilakukan dengan pasar tradisional dan berbasis masyarakat, artinya hanya
ditujukan untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya sendiri. Kegiatan
ekonomi dikembangkan untuk membantu dirinya sendiri dan masyarakatnya, sehingga tidak
mengeploitasi sumber daya alam yang ada.
Sri-EdiSwasono dosen sistem ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang
berani dan tegas berbicara tentang Sistem Ekonomi Indonesia yang seharusnya secara mantap
disebut Sistem Ekonomi Pancasila, dalam pidato pengukuhan Guru Besar Juli 1988 dengan judul
Demokrasi Ekonomi: Komitmen dan pembangunan Indonesia Sri-Edi mengatakan :
Sistem ekonomi Indonesia yang berdasarkan atas Demokrasi Ekonomi itu akan lebih cepat
terwujud jika dalam setiap penyusunan kebijaksanaan dikaitkan lebih langsung dengan butir-
butir demokrasi ekonomi. Dengan demikian perencanaan pembangunan sekaligus perencanaan
sistem, dan pembangunan ekonomi sekaligus merupakan pembangunan sistemnya.
Widjojo Nitisastro, pemimpin teknokrat ekonomi pemerintah Orde Baru, menaruh
perhatian besar pada nasib ekonomi rakyat, untuk membangunnya dikembangkan sistem
ekonomi yang mengacu pada Pancasila dan UUD 1945.
..pembangunan ekonomi rakyat harus diberikan prioritas utama di antara soal-soal
nasionalLandasanidiil dalam membina Sistem Ekonomi Indonesia dan yang sementara harus
tercermin dalam kebijaksanaan ekonomi ialah Pancasila dan UUD 1945. Hakekat dari
landasanidiil ini adalah pembinaan sistem ekonomi terpimpin berdasarkan pancasila.
Pada sidang istimewa MPR November 1998 dihasilkan Sejumlah ketetapan reformatif yang
mengamanatkan pemerintah Reformasi Pembangunan untuk mengadakan berbagai koreksi
fundamental dan total terhadap tatanan-tatanan ekonomi Orde Baru.
Ketetapan ini berjudul Politik Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekonomi,berarti ada
perintah untuk menyusun Politik Ekonomi Baru yang berbeda, karena politik ekonomi lama yang
diterapkan pemerintah Orde Baru tidak membangun dan mengembangkan ekonomi rakyat.
Sebaliknya politik ekonomi dalam bentuk deregulasi bersifat liberal (kebablasan) yang lebih
menguntungkan sejumlah kecil perusahaan swasta konglomerat. Inilah pola pembangunan
ekonomi konglomerasi.
Tentang liberalisasi yang kebablasan ini Frans Seda selalu menunjuk pada kelalaian kita
untuk melaksanakan ajaran-ajaran Bung Hatta.
yang lebih prihatin lagi, bahwa sementara tantangan-tantangan secara fundamental itu terjadi
pemerintah sepertinya tidak siap, dan datang dengan konsep-konsep pragmatis dan piecemeal
seperti kebijakan deregulasi, debirokrasi,join grup ini, join grup sana, tanpa ada suatu visi yang
konsepsional komprehensif dan strategis. Dalam hal ini kita dapat berguru pada Bung Hatta.
TAP No. XVI/1998 menegaskan perlunya penerapan sistem ekonomi kerakyatan yang
berpihak pada upaya-upaya pemberdayaan ekonomi rakyat.

2. Ekonomi Kerakyatan dan Globalisasi


Dalam kancah persaingan global yang makin kompetitif maka peningkatan daya saing
ekonomi nasional mutlak dibutuhkan dan tak mungkin ditawartawar lagi untuk menyelamatkan
negara. Yang terasa aneh adalah ungkapan yang muncul dalam sidang APEC di Bogor November
1994 yaitu siap tidak siap, suka tidak suka, kita harus ikut globalisasi karena kita sudah berada
di dalamnya. Ungkapan ini bisa diartikan adanya rasa percaya diri dan optimisme Indonesia bakal
mampu bersaing dalam kancah perekonomian global, namun yang juga dapat dibantah adalah
bahwa Indonesia dipaksa melaksanakan tindakan-tindakan ekonomi yang mungkin tidak kita
sukai karena jelas-jelas merugikan ekonomi nasional atau melemahkan ketahanan nasional.
Sudah diperingatkan oleh Hadi Soesastro bahwa globalisasi adalah berbahaya, mahal, dan
resikonya besar bagi Negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jika memang demikian,
mengapa kita harus melaksanakannya juga?
Diterapkannya sistem ekonomi kerakyatan yaitu yang demokratis dan benar-benar sesuai
dengan sistem nilai bangsa Indonesia (sistem ekonomi atau aturan main yang kita buat sendiri)
tentunya memberikan peluang bahwa aturan main itu lebih sesuai dan lebih tepat bagi
bangsa Indonesia dalam upaya mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia.
Kita merasa pesimis menghadapi kekuatan-kekuatan ekonomi raksasa dari luar, sehingga
untuk berpikir beda saja sudah dianggap tidak wajar.
Mengapa dalam suasana globalisasi kita justru bertumpu pada ekonomi rakyat yang sudah jelas
tertinggal dan rendah efisiensinya?.
Adalah amat keliru menjadikan persaingan bebas secara global sebagai tujuan.
Pembangunan nasional adalah mewujudkan ketahanan nasional yang kuat dan tangguh yang
sudah terbukti tidak dapat diandalkan pada sejumlah kecil pengusaha konglomerat, tetapi justru
harus mengandalkan kekuatan dan ketahanan ekonomi rakyat. Jika dalam krisis ekonomi yang
kini masih berlangsung ekonomi rakyat terbukti tahanbanting dan banyak yang justru dapat lebih
berkembang, maka jika kita berhasil memberdayakannya, ketahanan ekonomi nasional
akan lebih kuat dan lebih tangguh lagi dimasa depan.
3. Peran Pemerintah dalam Ekonomi Kerakyatan

Kapitalisme
Ekonomi Kerakyatan
Negara Kesejahteraan Neoliberalisme
1. Menyusun perekonomian 1. Mengintervensi pasar untuk 1. Mengatur dan menjaga
sebagai usaha bersama menciptanya kondisi bekerjanya mekanisme
berdasarkan atas azas kesempatan kerja penuh. pasar; mencegah monopoli.
kekeluargaan;
mengembangkan koperasi
(Pasal 33 ayat 1)

2. Menguasai cabang-cabang 2. Menyelenggarakan BUMN 2. Mengembangkan sektor


produksi yang penting bagi pada cabang-cabang swasta dan melakukan
negara dan yang menguasai produksi yang tidak dapat privatisasi BUMN.
hajat hidup orang banyak; diselenggarakan oleh
mengembangkan BUMN perusahaan swasta
(Pasal 33 ayat 2).

3. Menguasai dan memastikan 3. Menjaga keseimbangan 3. Memacu laju pertumbuhan


pemanfaatan bumi, air, dan antara pertumbuhan ekonomi, termasuk dengan
segala kekayaan yang ekonomi dengan menciptakan lingkungan
terkandung di dalamnya pemerataan pembangunan. yang kondusif bagi
bagi sebesar-besarnya masuknya investasi asing.
kemakmuran rakyat (Pasal
33 ayat 3).

4. Mengelola anggaran negara 4. Mengelola anggaran negara 4. Melaksanakan kebijakan


untuk kesejahteraan rakyat; untuk kesejahteraan anggaran ketat, termasuk
memberlakukan pajak rakyat; memberlakukan menghapuskan subsidi.
progresif dan memberikan pajak progresif dan
subsidi. memberikan subsidi.

5. Menjaga stabilitas 5. Menjaga stabilitas 5. Menjaga stabilitas


moneter. moneter. moneter.

6. Memastikan setiap warga 6. Memastikan setiap warga 6. Melindungi pekerja


negara memperoleh haknya negara memperoleh haknya perempuan, pekerja anak,
untuk mendapatkan untuk mendapatkan dan bila perlu menetapkan
pekerjaan dan penghidupan pekerjaan dan penghidupan upah minimum.
yang layak bagi yang layak.
kemanusiaan (Pasal 27 ayat
2).

7. Memelihara fakir miskin 7. Memelihara fakir miskin 7. ---


dan anak terlantar (Pasal dan anak terlantar.
34).
Pemerintahan Indonesia, justru sampai saat ini masih sangat getol
melakukan kapitalismemurni yang sudah ditinggalkan orang lain bahkan pencetusnya sendiri
yaitu negara Amerika padahal amanat Undang-undang Dasar jelas mengarah kepada ekonomi
kerakyatan. Usaha kecil dan menengah tidak terkelola dengan baik. Sebagai contoh, pasar
pemerintah, yang banyak diisi oleh pedagang kecil dan menengah terpinggirkan oleh pasar
modern dan hipermarket. Ini bukanlah semata hasil persaingan yang fair. Ketika pasar rakyat
yang langsung di bawah binaan pemerintah tidak dikelola dengan baik, kumuh, berdesakan,
panas, becek, banyak copet, pungli dan adanya pungutan-pungutan liar akibat dari adanya
freemanisme, tidak terpenuhinya kebutuhan barang yang diinginkan oleh konsumen dan lain
sebagainya, yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, bagaimana mungkin bisa bersaing
dengan hypermarket yang nyaman dan serba ada. Mengapa tidak pemerintah memodernisasi
pasar tradisional, menghilangkan pungli dan lain sebagainya, sehingga kompetisi yang terjadi
adalah kompetisi yang fair. Belum lagi bicara masalah modal UKM. Akses terhadap modal dan
pinjaman yang terbatas atau kalaupun ada, sangat sulit, melewati banyak prosedur dan berbiaya
tinggi. Keberpihakan kepada perusahaan besar semakin kuat. Hal ini dapat dilihat dari indikasi
keberpihakan pemerintah terhadap sektor moneter seperti bank-bank konvensional dan
peraturan persaingan pasar yang kurang jelas dan tegas.
Harusnya, Peranan positif lembaga dalam membantu masyarakat meningkatkan
kesejahteraan, atau dalam hal koperasi mampu memperjuangkan kepentingan ekonomi
anggota-anggotanya, maka pemerintah atau Negara (thestate) yang demokratis harus mampu
berperanan memaksakan pematuhan peraturan-peraturan yang bersifat melindungi warga atau
sekedar meningkatkan kepastian hukum.
Berbagai organisasi bentukan pemerintah menurut Douglas North mungkin saja efisien
tetapi efisien dalam membuat suatu masyarakat tidak produktif.
Contoh: pemberian uang sogok (korupsi) kepada pejabat-pejabat/ instansi pemerintah untuk
mempercepat suatu urusan bisnis.