Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Otitis eksterna fungi atau otomikosis merupakan proses inflamasi pada

meatus akustikus eksterna yang berhubungan dengan infeksi jamur. Infeksi dapat

akut, subakut, dan kronik dan keluhannya bisa berupa gatal, otalgia, otore, rasa

penuh di telingga, penurunan pendengaran dan tinitus. Kasus otomikosis yang berat

disertai dengan perforasi membran timpani, infeksi telinga tengah dan kadang-

kadang keterlibatan infeksi tulang temporal, hal ini dihubungkan dengan kondisi

pasien yang mengalami imunosupresi.(1)(2)(3)

Otomikosis merupakan masalah klinik yang umum ditemukan pada praktek,

khususnya pada keadaan cuaca yang panas dan lembab. Prevalensinya diperkirakan

sebesar 9-50% dari seluruh kasus otitis eksterna.(4)

Otomikosis lebih sering terjadi pada daerah beriklim tropis dan subtropis.

Jamur yang menyebabkan otomikosis pada umunya adalah spesies jamur saprofitik

yang banyak terdapat di alam dan merupakan sebagian dari flora normal pada

meatus akustikus eksternus. Jamur ini umumnya adalah Aspergillus dan Candida.

Flora normal atau komensal ini sebenarnya tidak bersifat patogen apabila

lingkungan kanalis aksutikus eksterna dan keseimbangan antara bakteri dan jamur

tetap terjaga. (4)(5)

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 1


BAB II
LAPORAN KASUS
2.1. Identitas Kasus
Nama : Ny. S. A.

Umur pasien : 31 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal lahir : 30 Januari 1985

Alamat : BTN Kolhua

Pekerjaan : PNS

Pendidikan Terakhir : S1

Agama : Islam

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Nomor MR : 35.88.95

Tanggal pemeriksaan/Status : Senin, 25 April 2016/Rawat Jalan

2.2. Anamnesis
a. Keluhan utama:
Telinga kiri terasa penuh dan gatal.

b. Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke Poli THT-KL dengan keluhan telinga kiri terasa penuh

dan gatal yang dialami sejak 5 hari SMRS. Rasa gatal dan penuh ini

berlangsung terus-menerus. Pasien mengaku jika dirinya telah mengorek

telinganya menggunakan cotton bud sebagai usaha untuk mengurangi rasa

gatal dan penuh tersebut, namun keluhannya tidak berkurang. Saat

membersihkan telinga kirinya pasien mendapatkan seperti adanya

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 2


keputihan pada ujung cotton bud yang bercampur dengan sekret jernih dan

darah. Rasa penuh dan gatal semakin dirasakan memberat, sehingga pasien

memeriksakan dirinya ke Poli THT-KL 3 hari sebelumnya dan telah

mendapat pengobatan berupa tampon mikonazole. Menurut pasien ia tidak

mengalami penurunan pendengaran, dan juga merasakan bunyi dengungan

pada telinga tetapi tidak dirasakan terlalu berat. Pasien mengalami sakit

pilek 1 minggu sebelumnya.

Saat ini pasien sedang mengandung anak ke-4 dan usia kehamilan

pasien ialah 16 minggu.

c. Riwayat penyakit dahulu:


Menurut pasien, pasien tidak pernah mengeluhkan keluhan yang sama.

Riwayat penyakit lain juga disangkal oleh pasien.

d. Riwayat pengobatan:
Pasien mengkonsumsi obat-obatan herbal berupa jeruk nipis dan kecap
untuk meredakan pilek yang dideritanya.
e. Riwayat alergi:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat-obatan, tidak pernah
mengalami bersin-bersin saat terkena debu, perubahan suhu yang ekstrim,
bau-bauan tertentu dan sebagainya.
f. Riwayat trauma:
Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan dan trauma tajam atau tumpul di
bagian kepala, wajah, dan telinga.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 3


2.3. Pemeriksaan Fisis
a. Status Generalis
b. Keadaan umum : Baik
c. Kesadaran : Compos mentis (E4V5M6)
d. Tanda vital : Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 86x/menit
Respirasi : 24x/menit
Suhu : 37,2 0C

e. Pemeriksaan Telinga

Pemeriksaan Telinga kanan Telinga kiri


telinga

Edema (-) Edema (-)


Hiperemi (-) Hiperemi (-)
Auriculum Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Nyeri tarik (-) Nyeri tarik (-)
Nyeri tekan tragus (-) Nyeri tekan tragus (-)

Edema (-) Edema (-)


Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Sekret (-) Sekret (-)
Serumen (-) Serumen (-)
Furunkel (-) Furunkel (-)
Otorrhea (-) Otorrhea (-)
Mukosa eritema (-) Mukosa eritema (+)
Meatus Jamur warna hitam jamur warna hitam
Akustikus bercampur putih (-) bercampur putih (+)
Eksternus

Terdapat sekret atau debris


berwarna hitam bercampur
sedikit warna putih yang
menempel pada dinding liang
telinga.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 4


Retraksi (-) Retraksi (-)
Bulging (-) Bulging (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-) Edema (-)
Perforasi (-) Perforasi (-)
Refleks cahaya (+) Refleks cahaya (+)
Gambaran pulsasi (-) Gambaran pulsasi (-)
Membran
timpani

Normal Normal

Edema Edema
Retro Hiperemis Hiperemis
aurikuler Nyeri tekan Nyeri tekan

Tes bisik Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tes garpu tala Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Audiometri Tidak dilakukan Tidak dilakukan

f. Pemeriksaan Hidung

Keadaan Hidung kanan Hidung kiri


Hidung luar Kelainan bentuk (-) Kelainan bentuk (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Vestibulum nasi Normal Normal,
Ulkus (-) Ulkus (-)
Cavum nasi Bentuk normal Bentuk normal
Mukosa warna merah Mukosa warna merah
muda muda
Rhinorrhea (-) Rhinorrhea (-)
Meatus nasi Mukosa normal Mukosa normal
media Sekret (-) Sekret (-)
Konka nasi Edema (-) Edema (-)
inferior

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 5


Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Septum nasi Deviasi (-) Deviasi (-)
Perdarahan (-) Perdarahan (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Mukosa warna merah Mukosa warna merah
muda muda

g. Pemeriksaan Tenggorok
Uvula Bentuk normal
hiperemis (-)
edema (-)
pseudomembran (-)
Tonsil T1/T1
tidak hiperemis
Palatum mole Ulkus (-)
hiperemis (-)
edema (-)
Faring Mukosa hiperemis (-)
refleks muntah (+)
pseudomembran (-)
sekret (-)
Fossa tonsilaris dan arkus faringeus Hiperemis (-)

2.4. Diagnosis
Otitis eksterna fungi (H.62.2 otitis externa in mycosis)

2.5. Penatalaksanaan
a. Otoskopi dan irigasi telinga
b. Tampon telinga kiri dengan salep mikonazole 2%
c. Medikamentosa
- Tetes telinga otopain dan tetes mata fukricin 5% yang
dicampurkan.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 6


d. Edukasi
- Tetes telinga yang telah dicampurkan diteteskan 5 tetes pada
masing-masing telinga. Selanjutnya dibiarkan selama 1 jam.
Sebaiknya dilakukan 2 kali sehari.
- Pasien dianjurkan untuk tidak mengorek-ngorek liang telinga.
- Sebaiknya telinga yang masih sakit tidak terkena air dulu. Bila
mandi, telinga ditutup menggunakan kapas.
- Jika pasien merasa ada cairan yang keluar dari telinga, atau telinga
kemasukan air, gunakan tisu yang telah dipotong dan dibentuk
meruncing ujungnya, dimasukkan ke dalam liang telinga untuk
menyerap cairan.
- Datang kontrol kembali 1 minggu kemudian untuk melihat
perkembangan terapi terhadap jamur.

2.6. Prognosis
Dubia et bonam

2.7. Saran
a. Pasien disiplin dalam menjaga kebersihan telinga dan menjaga agar
telinganya tetap kering.
b. Pasien disiplin dalam meneteskan obat tetes telinga yang diberikan.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 7


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Anantomi Telinga(6)
Telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam telinga luar

terdiri atas daun telinga sampai membran timpani. Telinga luar terdiri dari daun

telinga dan liang telinga sampai ke membran timpani. Daun telinga terdiri atas

tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka

tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan duapertiga bagian dalam

rangkanya terdiri atas tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 cm -3 cm. Pada sepertiga

bagian luar liang telinga terdapat banyak kelenjar keringat, kelenjar serumen dan

rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga, sedangkan

kelenjar serumen hanya sedikit ditemui pada duapertiga bagian dalam liang telinga.

Telinga tengah adalah ruangan berisi udara di dalam os temporal pas petrosa

yang dilapisi membran mukosa, berisi tulang-tulang pendengaran. Telinga dalam

berisi labirin tulang (vestibulum, kanalis semisirkularis, dan koklea) dan labirin

membranasea (utrikulus dan sakulus di dalam vestibulum, tiga duktus

semisirkularis di dalam kanalis semisrikularis, dan duktus koklearis di dalam

koklea).

3.1.1. Daun Telinga(7)(8)


Daun telinga terletak di kedua sisi kepala, merupakan lipatan kulit dengan

dasarnya terdiri dari tulang rawan yang juga ikut membentuk liang telinga bagian

luar. Hanya cuping telinga atau lobulus yang tidak mempunyai tulang rawan, tetapi

terdiri dari jaringan lemak dan jaringan fibrous. Bentuk dari kulit, tulang rawan dan

otot pada suatu keadaan tertentu dapat menentukan bentuk dan ukuran dari

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 8


orifisium liang telinga bagian luar, serta menentukan sampai sejauh mana serumen

akan tertahan dalam liang telinga, disamping itu mencegah air masuk kedalam liang

telinga.

3.1.2. Liang Telinga Luar(6)(7)(8)


Liang telinga luar yang sering disebut meatus, merupakan suatu struktur

berbentuk S yang panjang kira-kira 2,5 cm -3 cm, membentang dari konka telinga

sampai membran timpani. Bagian tulang rawan liang telinga luar sedikit mengarah

keatas dan kebelakang dan bagian sedikit kebawah dan kedepan. Penarikan daun

telinga ke arah belakang atas luar akan membuat liang telinga cenderung lurus

sehingga memungkinkan terlihatnya membran timpani pada kebanyakan telinga.

Bentuk dari daun telinga dan liang telinga luar menyebabkan benda asing

serangga dan air sulit memasuki liang telinga bagian tulang dan mencapai

membrane timpani. Liang telinga luar yang kecil dari tumpang tindih antara tragus

dan antitragus merupakan garis pertahanan pertama terhadap kontaminasi dari liang

telinga dan trauma membran timpani. Garis pertahanan kedua dibentuk oleh

tumpukan massa serumen yang menolak air, yang mengisi sebagian liang telinga

bagian tulang rawan tepat dimedial orifisium liang telinga. Garis pertahanan ketiga

rawan dan bagian tulang liang telinga, hal ini sering lebih terbentuk oleh dinding

liang telinga yang cembung. Penyempitan ini membuat sulitnya serumen

menumpuk atau benda asing memasuki lumen liang telinga bagian tulang dan

membran timpani.

3.1.3. Kulit Liang Telinga(9)


Liang telinga sebenarnya mempunyai lapisan kulit yang sama dengan

lapisan kulit pada bagian tubuh lainnya yaitu dilapisi epitel skuamosa. Kulit liang

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 9


telinga merupakan lanjutan kulit daun telinga. Epidermis dari liang telinga bagian

tulang rawan biasanya terdiri dari 4 lapis yaitu sel basal, sel granuler dan lapisan

tanduk.

3.1.4. Folikel-Folikel Rambut(7)


Folikel rambut terdapat pada sepertiga bagian luar liang telinga tetapi

pendek tersebar secara tidak teratur dan tidak begitu banyak pada duapertiga liang

telinga bagian tulang rawan. Pada liang telinga bagian tulang, rambut-rambutnya

halus dan kadang-kadang terdapat kelenjar pada dinding posterior dan superior.

Dinding luar folikel rambut dibentuk oleh invaginasi epidermis yang mana menipis

ketika mencapai dasar folikel, dinding sebelah dalam folikel adalah rambut sendiri.

Ruang potensial yang terbentukdisebut kanalis folikularis. Kelenjar sebasea atau

kelenjar lemak banyak terdapat pada liang telinga dan hampi semuanya bermuara

ke folikel rambut.

3.1.5. Perdarahan(9)
Arteri-arteri dari daun telinga dan liang telinga luar berasal dari cabang

temporal superfisial dan aurikular dari posterior arteri karotis eksterna. Permukaan

anterior telinga dan bagian luar telinga diperdarahi oleh cabang aurikular anterior

dari arteri temporalis superfisial. Suatu cabang dari arteri aurikular posterior

memperdarahi permukaan posterior telinga. Banyak dijumpai anastomosis diantara

cabang-cabang dari artei ini. Perdarahan kebagian lebih dalam dari liang telinga

luar dan permukaan luar membran timpani adalah oleh cabang auricular dalam

arteri maksilaris interna.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 10


Vena telinga bagian anterior, posterior dan bagian dalam umumnya

bermuara ke vena jugularis eksterna dan vena mastoid. Akan tetapi beberapa vena

telinga mengalir kedalam vena temporalis superfisial dan ena aurikularis posterior.

3.1.6. Persyarafan(9)
Persyarafan telinga luar bervariasi berupa tumpang tindih antara saraf-saraf

kutaneus dan kranial. Cabang aurikular temporalis dari bagian ketiga saraf

trigeminus mensarafi permukaan anterolateral permukaan telinga, dinding anterior

dan superior liang telinga dan sekmen depan membran timpani.

3.2. Fisiologi Pendengaran(6)


Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun

telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke

koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani, kemudian diteruskan ke

telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplikasi

getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas

membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini

akan diteruskan ke stapes yang menggerakan tingkap lonjong sehingga perilimfa

pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran reissner yang

mendorong endolimfe sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membran

basillaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan ransang mekanik yang

menyebabkan terjadi defleksi stereosilia sel-sel rambut sehingga kanal ion terbuka

dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dan badan sel. Keadaan ini

menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter

ke dalam sinapsis yang menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 11


dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di

lobus temporalis.

3.3. Definisi(4)
Otitis eksterna fungi atau otomikosis adalah infeksi akut, subakut, dan kronik

pada maetus akustikus eksterna oleh ragi dan filamen jamur. Meskipun jamur

adalah patogen primer, namun hal ini bisa juga merupakan dampak akibat infeksi

bakteri kronis pada kanalis auditorius eksternus atau telinga tengah yang

menyebabkan menurunnya imunitas lokal sehingga memudahkan terjadinya infeksi

jamur sekunder.

3.4. Epidemiologi(9)
Prevalensi otitis eksterna fungi bervariasi sesuai dengan keadaan geografis

dan faktor predisposisi pasien dan merupakan 9-50% dari seluruh kasus otitis

eksterna. Lingkungan yang lembab dengan iklim tropis meningkatkan insiden otitis

eksterna fungi karena kontribusinya dalam meningkatkan produksi keringat dan

mengubah permukaan epitel kanalis akustikus eksterna sehingga menjadi media

yang baik bagi pertumbuhan dan proliferasi jamur. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa otitis eksterna fungi lebih sering didapati pada wanita dan

lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak.

3.5. Etiologi
Bermacam-macam jamur sudah dapat diidentifikasi sebagai penyebab

otomikosis. Dimana 80 % disebabkan oleh jamur Aspergillus spp. dan Candida.

Aspergillus Niger adalah patogen yang biasanya dominan meskipun A. flavus, A.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 12


fumigatus, A. terreus (jamur filamentosa), Candida albicans dan C. parapsilosis

(jamur ragi) sering ditemukan. Selain itu beberapa jamur lain yang juga dapat

menyebabkan otitis eksterna fungi namun jarang ditemukan ialah jamur jenis

Phycomycetes, Rhizopus, dan Penicillium.(10)

Pada penelitian yang dilakukan Kumar (2005) pada pasien otitis eksterna

fungi menunjukkan bahwa jenis jamur yang paling sering ditemui, yakni

Aspergillus niger (52,43%), Aspergillus fumigates (34,14%), Candida albicans

(11%), Candida pseudotropicalis (1,21%). Beberapa peneliti juga melaporkan

jamur kausatif yang lain, yakni jenis Penicillium sp. dan jenis Candida yang lain

dalam berbagai persentase. Umumnya penelitian-penelitian tersebut menunjukkan

bahwa persentase jenis jamur Aspergillus lebih banyak dibandingkan Candida.(11)

3.6. Patofisiologi
Patofisiologi otitis eksterna fungi berkaitan dengan anatomi, fisiologi dan

histologi meatus akustikus eksterna. Saluran atau kanal ini berbentuk silinder dan

dilapisi dengan epitel berlapis gepeng bertanduk hingga ke bagian luar membrana

timpani. Bagian depan dari resesus membrana timpani, hingga isthmus sering

menjadi tempat akumulasi debris keratin dan serumen dan sulit dibersihkan.(9)

Serumen memiliki bahan antimikotik, bateriostastik, dan perangkap

serangga. Serumen terdiri dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas, dan ion

mineral yang juga mengandung lisozim, imunoglobulin, dan asam lemak. Asam

lemak rantai panjang terdapat pada kulit yang dapat mencegah pertumbuhan

bakteri. Komposisi hidrofobik ini memungkinkan serumen berperan dalam

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 13


mengeluarkan air dari kanalis akustikus eksterna, serta membuat permukaan kanalis

tidak permeabel, dan mencegah maserasi dan kerusakan epitel.(5)

Faktor faktor yang berperan dalam perubahan lingkungan kanalis akustikus

eksterna yang kemudian mengakibatkan jamur saprofit menjadi patogen,

diantaranya faktor lingkungan (suhu dan kelembaban), perubahan pada epitel

kanalis akustikus eksterna akibat dermatitis atau trauma mikro, peningkatan pH,

penurunan kualitas dan kuantitas serumen, faktor sistemik (imunokompromise,

neoplasma, diabetes melitus, penggunaan antibiotik lama, agen sitostatik dan

kortikosteroid), riwayat otitis eksterna bakteri atau otitis media supuratif,

dermatomikosis, serta kondisi sosial dalam hal ini ialah pemakaian penutup kepala

yang dapat menyebabkan peningkatan kelembapan dan menjadi tempat yang ideal

untuk pertumbuhan jamur.(12)

Flora normal atau komensal yang terdapat di dalam kanalis akustikus eksterna

diantaranya, Staphylococcus epirdemidis, Corynebacterium sp, Bacillus sp, Gram

positive cocci (Staphylococcus aureus, Streptococcus sp, non-pathogenic

micrococci), Gram negative bacilli (Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli,

Hemophilus influenza, Morazella catarrhalis, etc) dan jenis jamur miselia dari

genus Aspergillus dan Candida sp. Flora normal atau komensal ini tidak bersifat

patogen apabila lingkungan kanalis aksutikus eksterna dan keseimbangan antara

bakteri dan jamur tetap terjaga.(9)

Jamur melimpah pada tanah atau pasir yang mengandung bahan organik yang

membusuk. Materi ini cepat mengering pada kondisi tropis dan tertiup oleh angin

sebagai partikel debu yang kecil. Spora jamur yang menyebar melalui udara

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 14


terbawa oleh uap air. Dimana terdapat hubungan akan terjadinya infeksi dengan

peningkatan kelembapan udara.

Jamur mengakibatkan inflamasi, eksfoliasi epitel superfisial, massa debris

yang mengandung hifa, supurasi dan nyeri. Karateristik yang paling banyak

ditemukan pada pemeriksaan telinga adalah munculnya debris tebal berwarna putih

keabu-abuan yang sering dikenal sebagai web blotting paper.(9)

Jamur tidak pernah menonjol keluar dari meatus acusticus eksternus, bahkan

pada kasus kronis sekalipun. Hal ini dikarenakan jamur tidak menemukan

kebutuhan nutrisinya di luar meatus acusticus eksternus. Hasil penelitian terbaru

didapatkan pertumbuhan Aspergillus ditemukan paling banyak pada temperatur

37C, sebuah fakta bahwa kondisi klinis ini didukung oleh predileksi dari jamur

untuk tumbuh di sepertiga dalam dari meatus acusticus eksternus.(9)

3.7. Gejala Klinis(9)


Gejala klinis pada otitis eksterna bakteri dan otomikosis sulit dibedakan.

Gejala yang sering menjadi keluhan utama pasien ialah rasa gatal dan juga rasa

tidak nyaman, nyeri pada liang telinga, rasa penuh dalam telinga, tinitus, penurunan

pendengaran, dan kadang-kadang disertai sekret atau cairan dari dalam telinga.

Keluhan ini bersifat rekuren atau hilang timbul.

Umumnya akan didapatkan lumen meatus akustikus eksternus mengalami

edema ringan, eritem, dan terlihat debris atau sekret jamur berwarna putih, keabuan,

atau hitam. Pasien biasanya sudah menggunakan berbagai obat tetes telinga

antibiotik maupun per oral, namun keluhan tidak berkurang.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 15


Karateristik pada otitis eksterna fungi ialah pada infeksi akibat Aspergillus

umumnya akan terlihat hifa halus dan spora (konidiofor) sedangkan pada infeksi

akibat Candida akan terlihat miselia yang panjang yang jika bercampur dengan

serumen akan berwarna kekuningan.

3.8. Penegakan Diagnosa(1)(6)


Penegakan diagnosa dapat dilakukan dengan cara :
a. Anamnesis
Pada umumnya pasien akan datang karena rasa gatal, rasa penuh pada

telinga dan nyeri. Dapat pula disertai adanya keluhan keluarnya cairan pada

telinga, mendengar bunyi berdengung, penurunan pendengaran.

b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan telinga yang dicurigai otomikosis, didapati adanya

akumulasi debris fibrin yang tebal, permukaan hifa berfilamen yang

berwarna putih dan panjang dari permukaan kulit, hilangnya pembengkakan

signifikan pada dinding kanalis, dan area melingkar dari jaringan granulasi

diantara kanalis ekterna atau pada membran tympani.

c. Pemeriksaan Laboratorium
Preparat langsung : skuama dari kerokan kulit liang telinga diperiksa

dengan KOH 10% akan tampak hifa-hifa lebar, berseptum, dan kadang-

kadang dapat ditemukan spora-spora kecil.

Pembiakan : skuama dibiakkan pada media agar Saboraud, dan

dieramkan pada suhu kamar. Koloni akan tumbuh dalam satu minggu

berupa koloni filament berwarna putih. Dengan mikroskop tampak

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 16


hifa-hifa lebar dan pada ujung-ujung hifa dapat ditemukan sterigma dan

spora berjejer melekat pada permukaannya.

3.9. Penatalaksanaan(9)
Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan beberapa obat baik topikal

maupun per oral yang dapat digunakan dalam penanganan otitis eksterna fungi,

namun belum ada konsesus yang memuat mengenai obat dan cara yang paling

efektif diantara yang lain. Penanganan yang sering dilakukan saat ini adalah dengan

pemberian antifungi topikal dan pembersihan liang telinga dari debris dan sekret

jamur yang terbukti dapat memberikan hasil yang baik, walaupun membutuhkan

waktu yang cukup lama.

Banyak peneliti meyakini bahwa hal terpenting dalam penanganan otitis

eksterna fungi adalah dengan mengidentifikasi jamur penyebab untuk memberikan

terapi medikamentosa yang adekuat. Untuk saat ini, belum ada terapi khusus yang

direkomendasikan untuk otitis eksterna fungi karena banyaknya antifungi yang

dapat digunakan klinisi secara luas yang membuktikan bahwa terapi ini juga

tergantung pada pasien sebagai individu.

Sediaan antifungi dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni antifungi spesifik

dan non spesifik. Antifungi non spesifik diantaranya adalah larutan asam dan

pembersih:

- Boric acid adalah medium asam dan sering digunakan sebagai antiseptik

dan insektisida. Dapat diberikan bila penyebabnya adalah Candida

albicans.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 17


- Gentian Violet yang disediakan dalam bentuk larutan konsentrasi rendah.

Misalnya 1% dalam air. Gentian violet bersifat antibakteri, antifungi,

antiinflamasi dan antiseptik. Beberapa penelitian menunjukkan efektivitas

agen ini hingga 80%.

- Castellanis paint (acetone, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol)

- Cresylate (merthiolate, M-cresyl acetate, propyleneglycol, bric acid, dan

alkohol)

- Merchurochrome yang merupakan antiseptik topikal dan antifungi.

Penelitian menunjukkan efektivitasnya hingga 93, 4%.

Antifungi spesifik, diantaranya:

- Nystatin adalah antibiotik makrolid polyene yang dapat menghambat

sintesis sterol di membran sitoplasma. Keuntungan dari nistatin adalah tidak

diserap oleh kulit yang intak. Dapat diresepkan dalam bentuk krim, salep,

atau bedak. Efektif hingga 50-80%.

- Azole adalah agen sintetis yang mengurangi konsentrasi ergosterol, sterol

esensial pada membran sitoplasma normal.

1. Clotrimoxazole digunakan secara luas sebagai topikal azole. Efektif

hingga 95-100%. Clotrimoxazole memiliki efek bakterial dan ini adalah

keuntungan untuk mengobati infeksi campuran bakteri-jamur.

Clotrimazole tersedia dalam bentuk bubuk, lotion, dan solusio dan telah

dinyatakan bebas dari efek ototoksik.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 18


2. Ketokonazole dan fluconazole memiliki spektrum luas. Ketokonazole

(2% krim) efektif hingga 95-100% melawan Aspergillus dan C.

Albicans. Fluconazole topikal efektif hingga 90% kasus.

3. Mikonazole (2% krim) adalah imidazole yang telah dipercaya

kegunaannya selama lebih dari 30 tahun untuk pengobatan penyakit

superfisial dan kulit. Agen ini dibedakan dari azole yang lainnya dengan

memiliki dua mekanisme dalam aksinya. Mekanisme pertama adalah

inhibisi dari sintesis ergosterol. Mekanisme kedua dengan inhibisi dari

peroksida, dimana dihasilkan oleh akumulasi peroksida pada sel dan

menyebabkan kematian sel. Efektif hingga 90%.

4. Bifonazole. Solusio 1% memiliki potensi sama dengan klotrimazol dan

miconazole. Efektif hingga 100%.

5. Itraconazole memiliki efek in vitro dan in vivo melawan spesies

Aspergillus.

Bentuk salep lebih memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan

formula tetes telinga karena dapat bertahan di kulit untuk waktu yang lama. Salep

lebih aman pada kasus perforasi membran timpani karena akses ke telinga tengah

sedikit diakibatkan tingginya viskositas. Penggunaan cresylate dan gentian violet

harus dihindari pada pasien dengan perforasi membran timpani karena memiliki

efek iritasi pada mukosa telinga tengah. Serta menghentikan penggunaan antibiotik

topikal bila dicurigai sebagai penyebabnya.Pada pasien immunocompromised,

pengobatan otitis eksterna fungi harus lebih kuat untuk mencegah komplikasi

seperti hilangnya pendengaran dan infeksi invasif ke tulang temporal.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 19


Otitis eksterna fungi terkadang sulit diatasi walaupun telah diobati dengan

pengobatan yang sesuai. Maka dari itu perlu ditentukan apakah kondisi ini akibat

penyakit otomikosis itu sendiri atau berhubungan dengan gangguan sistemik

lainnya atau hasil dari gangguan immunodefisiensi yang mendasari. Pengobatan

lain selain medikamentosa yaitu menjaga telinga tetap kering dan mengarahkan

pada kembalinya kondisi fisiologis dengan mencegah gangguan pada kanalis

akustikus eksternus.

3.10. Differensial Diagnosa(9)


Otomikosis dapat di diagnosa banding dengan otitis eksterna yang disebabkan

oleh bakteri, kemudian dengan dermatitis pada liang telinga yang sering

memberikan gejala yang sama.

3.11. Komplikasi(1)(9)
Perforasi membran dapat terjadi sebagai komplikasi dari otomikosis yang

bermula pada telinga dengan membran timpani intak. Insidens perforasi timpani

pada mikosis ditemukan menjadi 11%. Perforasi lebih sering terjadi pada

otomikosis yang disebabkan oleh Candida albicans. Kebanyakan perforasi terjadi

bagian malleus yang melekat pada membran timpani. Mekanisme dari perforasi

dihubungkan dengan trombosis mikotik dari pembuluh darah membran timpani,

menyebabkan nekrosis avaskuler dari membran timpani. Enam pasien pada grup

immunocompromised mengalami perforasi timpani. Perforasi kecil dan terjadi pada

kuadran posterior dari membran timpani. Biasanya akan sembuh secara spontan

dengan pengobatan medis. Jarang namun jamur dapat menyebabkan otitis eksterna

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 20


invasif, terutama pada pasien immunocompromised. Terapi antifungal sistemik

yang adekuat sangat diperlukan pada pasien ini.

3.12. Prognosis(9)(12)

Umumnya baik bila diobati dengan pengobatan yang adekuat.

Bagaimanapun juga resiko kekambuhan sangat tinggi jika faktor yang

menyebabkan infeksi sebeanrnya tidak dikoreksi, dan fisiologis lingkungan normal

dari kanalis auditorius eksternus masih terganggu.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 21


BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis otitis eksterna fungi atau otomikosis didapatkan melalui hasil

anamnesis dan pemeriksaan fisik telinga yang dilakukan. Pada anamnesis

tergambar jelas mengenai faktor predisposisi dan perjalanan penyakit pasien. Pada

anamnesis didapatkan pasien mengeluhkan telinga kiri terasa penuh dan gatal.

Pasien juga mengakui memiliki kebiasaan membersihkan telinga menggunakan

cotton bud yang rutin dilakukan 2-3 kali dalam seminggu. Mengorek-ngorek telinga

sebelumnya menunjukkan bahwa perjalanan timbulnya otitis eksterna fungi

merupakan efek dari trauma lokal akibat kebiasaan tersebut dan berubahnya kondisi

normal dari lingkungan liang telinga, terutama kelembaban dan pH. Peningkatan

pH ini berakibat pada ketidakseimbangan flora normal/komensal dalam liang

telinga yang kemudian menjadi patogen.

Selain itu, pasien juga mengenakan penutup kepala yang terbuat dari bahan

nylon dimana bahan ini merupakan bahan yang tidak mudah menyerap keringat dan

pasien berkerja pada ruangan ber AC selama kurang lebih 8 jam per hari. Keadaan

kelembapan yang tinggi ini dapat mempengaruhi kondisi di dalam meatus akustikus

eksternus. Pada kelembapan yang yang relatif diatas 80% lapisan tanduk epitel

dapat mengabsorpsi air dari udara dalam jumlah yang banyak. Pertambahan cairan

akan menyebabkan obstruksi orifisium akibat pembengkakan daerah polisebaseus

sehingga pembentukan serumen akan berkurang. Serumen memainkan peranan

penting dalam proteksi dari bakteri dan fungi, dimana kondisi berkurang atau tidak

adanya serumen dapat membuat daerah meatus akustikus akan menjadi rentan

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 22


terhadap infeksi. Faktor predisposisi lain pada pasien ini, ialah pasien sedang dalam

masa kehamilan dimana kehamilan dapat menyebabkan perubahan hormonal yang

berujung pada sistem imunitas selulernya menurun dan memudahkan pasien

terinfeksi bakteri, virus atau jamur. tetapi bagaimana patofiologinya belum dapat

diketahui secara pasti.

Pada pemeriksaan fisik telinga menggunakan otoskopi terlihat reaksi

inflamasi akut pada kanalis akustikus eksterna. Mukosa kanalis hiperemis dan

tampak sekret/debris berwarna hitam dan sedikit warna putih yang menempel di

mukosa kanalis dan sedikit di dekat membran timpani telinga kiri. Membran

timpani pada telinga kiri terlihat agak baik, refleks cahaya baik dan tidak ada tanda-

tanda inflamasi atau perforasi.

Penanganan awal ditujukan untuk mengurangi inflamasi Mukosa kanalis

pasien mengalami tanda-tanda inflamasi seperti hiperemis dan edema ringan,

sehingga diberikan melebarkan kanalis akustikus dengan cara mengurditujukan

untuk mengeradikasi jamur penyebab dan mengembalikan kanalis akustikus

eksterna dalam kondisi normalnya serta mengurangi keluhan pasien. Pasien juga

mengeluhkan rasa gatal pada kedua telinganya yang mengganggu sehingga

diberikan antihistamin. Pilihan antihistamin mempertimbangkan pekerjaan pasien

sebagai seorang perawat, maka diberikan antihistamin generasi ke 2, sehingga tidak

menyebabkan kantuk. Selanjutnya telinga pasien ditampon menggunakan salep

antifungi mikonazole yang dicampur dengan otopain. Tampon telinga bertujuan

untuk mengeradikasi jamur penyebab sekaligus melebarkan liang telinga yang

menyempit akibat akumulasi sekret/debris jamur dan edema ringan. Dalam kasus

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 23


ini, otopain dapat memberikan efek antiinflamasi dan anastesi. Untuk penanganan

lanjutan pasien diberikan obat tetes telinga campuran dari otopain dan fukricin 5%

untuk mengeradikasi jamur. Berdasarkan terapi empiris, tetes telinga campuran ini

efektif dan efisien dalam menangani otitis eksterna fungi. Tetes telinga ini

dianjurkan untuk digunakan secara teratur untuk mencegah terjadinya rekurensi dan

resistensi. Tetes telinga ini juga tidak berbahaya karena pasien tidak mengalami

inflamasi atau perforasi pada membran timpani.

Pasien diedukasi untuk datang kembali 2 hari berikutnya, agar dilakukan

tampon pada telinga kanan, mengingat kedua telinga menunjukkan tanda-tanda

inflamasi. Edukasi lain yang sangat penting, yakni pasien harus menjaga agar

telinganya tetap kering untuk sementara waktu hingga keluhan ini membaik. Jika

mandi, jangan membasahi kepala dan daerah telinga, serta menutup lubang telinga

menggunakan kapas atau ear plug.

Umumnya prognosis otitis eksterna fungi baik, namun penanganan dan

pemantuan penyakit ini membutuhkan waktu yang lama sehingga kadang-kadang

menimbulkan rasa frustrasi dan ketidaksabaran baik bagi dokter spesialis THT-KL

yang menangani dan pasien, terutama bila pasien memiliki faktor predisposisi

tertentu, pasien tidak kooperatif, atau keadaan imunokompromis yang

memudahkan terjadinya rekurensi.

Dalam kasus ini, pasien dianjurkan untuk disiplin dalam menjaga

kebersihan telinganya dan menjaga kedua telinganya tetap kering, serta disiplin

dalam hal mengontrol penyakit penyertanya.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 24


BAB V
PENUTUP

Telah dilaporkan suatu laporan kasus tentang otitis eksterna fungi

(otomikosis). Otitis eksterna fungi dapat ditegakkan melalui anamnesis,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang bila perlu. Berdasarkan tinjauan

tersebut telah dibahas mengenai otitis eksterna fungi meliputi: definisi,

epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan

penunjang, diagnosis banding, penatalaksaan dan prognosis.

Diharapkan laporan kasus ini dapat dijadikan suatu pedoman dalam

mengenal dan mengobati pasien otitis eksterna fungi, serta mencegahnya agar

menjadi komplikasi.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 25


DAFTAR PUSTAKA

1. Ho T, Vrabec J, Yoo D. Otomycosis. Clinical Features and Treatment


Implications Otolaryngol - Head and Neck Surgery. New York: Mc Graw
Hills Lange; 2006. p. 70791.

2. Mugliston T, ODonoghue G. Otomycosis; A Continuiting Problems.


Laryngolotol. 1985. p. 32733.

3. Fasunla J, Ibekwe I, P Onakoya. Otomycosis in Western Nigeria. J


Mycosis. 2007;51:6770.

4. Ho T, Vrabec J, Yoo D, Coker N. Otomycosis: Clinical Feaures and


Treatment Implication. Otolaryngol-Head Neck Surg. 2006;135:78791.

5. Guiterez P, Alfares S, Saundo S. Otomycosis. J Acta Otorinolaringol.


2005;56:1816.

6. Soepardi E, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti R. Buku Ajar Ilmu


Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6th ed. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI; 2010. 60-3 p.

7. Abdulah F. Anatomi Telinga dalam Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan


Burruwi Saring dengan Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna
Akut. Dep Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher Fak Kedokt
Sumatra Utara. 2003;411.

8. Abdullah Farhaan. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi Saring


dengan Salep Ichtyol (Ichthammol) Pada Otitis Eksterna Akut. Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatra Utara; 2003.

9. Yan E, Irfandy Dolly. Otomycosis. Otolaryngol Head Neck Surg Dep Med
Fac Andalas Univ. 2010;16.

10. Lawani A. External & middle ear: Disease of the external ear. Current
diagnosis & treatment, Head & Neck Surgery. New York: Mc Graw Hills
Lange;

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 26


11. Y Edward, D Irfandy. Otomycosis [Internet]. Available from:
http://repository.unand.ac.id/17717/1/crotomycosis.pdf

12. Ozcan K, Ozcan M, Karaarsian A, Karaarsian F. Otomycosis in Turkey;


Predisposing Factors, Etiology and Therapy. Laryngol otol. 2003;117:39
42.

Laporan Kasus |Otitis Eksterna Fungi (Otamikosis) 27