Anda di halaman 1dari 21

JAKARTA - Rencana penerapan kebijakan full day school pada tahun ajaran baru Juli

nanti menimbulkan beragam spekulasi dari berbagai kalangan. Termasuk dari kalangan
mahasiswa yang notabene mengalami full day school.
Muhammad Arif, salah satu mahasiswa di Jakarta mengatakan, kebijakan full day school
belum layak diterapkan di Indonesia saat ini.

BERITA REKOMENDASI
Catat! Program Penguatan Pendidikan Karakter Wajib Diterapkan di Sekolah
Jokowi Terbitkan Perpres Pendidikan Karakter, DPR Minta Kementerian Tak Salah
Menafsirkan
DPR: Terbitkan Perpres 87, Presiden Jokowi Mendengar Kegundahan Masyarakat
"Masih banyak permasalahan pendidikan di Indonesia yang kompleks dan masih belum
dibenahi," tuturnya kepada Okezone, baru-baru ini.
Masalah yang dimaksud Arif yakni soal perbedaan karakter setiap siswa dari berbagai
daerah dan kondisi perekonomian yang masih belum baik.
"Banyak siswa berbagai latar daerah dan perekonomian. Contohnya, banyak teman-
teman kami yang jadi tulang punggung keluarga," ungkap mahasiswa semester empat
yang juga tergabung dalam Aliansi Remaja Independen.
Latar ekonomi, menurut Arif, menjadi penting. Pasalnya full day school pasti
membutuhkan bekal makan dan minum yang cukup. Sedangkan perekonomian
masyarakat di Indonesia belum merata dan masih banyak yang kesulitan. Selain
ekonomi, masalah mental siswa juga harus jadi perhatian pemerintah.
"Memiliki mata pelajaran yang banyak, jam belajar juga banyak, dan ditambah pula.
Kondisi psikologis siswa sebagian besar tentu tertekan," imbuhnya.
Apalagi belakangan ini, banyak fenomena bullying dan kekerasan di sekolah yang
dilakukan oleh tenaga pendidik. Oleh sebab itu, Arif bersama Aliansi Remaja
Independen membuat platform Tolak 8 Jam berbentuk surel dan blog yang menyediakan
siswa untuk bersuara melalui surat terbuka.
"Rencananya kami akan mengumpulkan suara siswa di Indonesia. Banyak yang ingin
berteriak soal ini dan kami coba akomodir suara mereka," ungkap Arif. Menurut dia,
surat terbuka itu nantinya akan disampaikan pada Presiden Joko Widodo.
Wacana Full day School yang digulirkan Mendikbud mendapatkan tanggapan pro dan kontra.
Banyak yang memberi tanggapan kontra hanya berdasarkan asumsi, anggapan, dan hal-hal
negatif yang membayangi sistem full day school. Sebagian besar dilatari ketidaktahuan terhadap
sistem fullday school yang sudah berjalan. Sebagian memang sudah antipati terhadap wacana
tersebut.

Full day school tentu tak bisa diterapkan untuk semua sekolah karena full day school memiliki
kekhasan tersendiri. Berikut ini beberapa masalah dalam sistem full day school yang menjadi
citra negatif bagi sebagian orang, beserta solusi yang bisa dipertimbangkan.

~1~
Full day School Mengurangi Waktu Kebersamaan Anak dengan Orangtua
Kekhawatiran tersebut tidak akan muncul jika kita mengetahui latar belakang perlunya full day
school. Sebagian orangtua saat ini memiliki pekerjaan yang menyita waktu dari pagi hingga
sore.

Jika siang hari anak sudah pulang, tidak ada orangtua yang menyambut dan membersamai di
rumah. Salah satu akibatnya, aktivitas anak bisa tidak terkontrol.

Full day school menawarkan solusi bagi masalah tersebut. Oleh karena itu, full day school
dengan kekhasannya memang tidak untul semua orang. Para orangtua yang memiliki kesibukan
pekerjaan bisa memilih full day school sebagai alternatif bagi pendidikan anaknya. Harapannya
agar aktivitas anak bisa terkontrol selagi orangtuanya bekerja.

Jadi, latar belakang masalah di atas jangan dibalik: full day school menyita waktu kebersamaan
anak dengan orangtua. Tapi, yang lebih tepat latar belakang masalahnya ialah karena orangtua
tua tidak memiliki waktu untuk membersamai anak pada siang hari maka perlu adanya full day
school.

Sekali lagi, full day school hanya alternatif sistem pendidikan bagi sebagian orangtua, khususnya
yang memiliki kesibukan pekerjaan.

~2~
Full day School Mengurangi Waktu Bermain Anak

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan full day school, sebagian orang
mengkhawatirkan anak-anak tidak memiliki waktu untuk bermain lagi. Sekali lagi, full day
school tidak untuk diterapkan bagi semua sekolah atau semua kalangan.

Permasalahan urban saat ini ialah semakin kurangnya interaksi sosial antartetangga. Di
kampung-kampung, kita bisa mengenal seluruh warga kampung beserta pekerjaannya, jumlah
anak dan namanya, dll. Tapi, di perumahan perkotaan, hal tersebut terasa sulit. Mungkin tetangga
yang dikenal namanya hanya beberapa.

Hal tersebut berimbas pada perkembangan sosial anak. Jika anak tinggal di daerah yang interaksi
sosialnya kurang, saat pulang sekolah anak akan bermain apa dan dengan siapa? Justru sekarang
ini orangtua banyak yang menyediakan alat berteknologi tinggi sebagai mainan anak: video
game, game di smartphone, internet, dll.

Dengan full day school, anak bisa bermain di sekolah bersama teman-temannya. Tentu waktu
full day itu tidak sepenuhnya diisi dengan materi pelajaran kan. Di sebagian sekolah full day
yang sudah berjalan, diterapkan pembagian waktu untuk belajar, ibadah, bermain, makan siang,
tidur siang, dll.

~3~
Full day School Membuat Anak Stress
Stres pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Waktu di sekolah yang lama belum tentu
membuat anak stres. Pada awalnya mungkin iya, tapi setelah beradaptasi anak akan terbiasa.

Ambil contoh sistem pendidikan di pondok pesantren yang memiliki waktu libur (perpulangan) 1
bulan sekali, 2 bulan sekali, 4 bulan sekali, 6 bulan sekali, atau bahkan 1 tahun sekali. Apakah
anak stres? Mungkin sebagian iya. Tapi, kenyataannya pondok pesantren masih banyak
peminatnya. Dan kita akui pondok pesantren banyak melahirkan orang-orang yang baik.

Full day school juga begitu. Kita memang belum familiar dengan sekolah dari pagi sampai sore
(pukul 15.00 atau 16.00) sehingga mengkhawatirkan sesuatu yang tidak pasti.

***

*bersambung ke Full day School: Prasangka, Permasalahan, dan Solusinya (bagian 2)


Mendikbud: Kebijakan full
day school tidak
dibatalkan tapi diperkuat
Sambil menunggu terbitnya Perpres maka Permendikbud mengenai hari sekolah tetap
berlaku

Rappler.com
Published 12:04 PM, June 21, 2017
Updated 12:04 PM, June 21, 2017

1
0
Twitter
Reddit
Email
0

RAPAT. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy saat rapat dengan Komisi X DPR,
Selasa, 13 Juni. Foto oleh Puspa Perwitasari/ANTARA
JAKARTA, Indonesia - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy
membantah program sekolah seharian penuh (full day school) dibatalkan oleh Presiden
Joko Jokowi Widodo. Justru akan diperkuat dengan peraturan menteri menjadi
peraturan presiden.

Arahan Presiden, peraturan terkait PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) akan ditata
ulang. Permendikbud akan diperkuat dengan menjadi Perpres. Kemudian,
Kemendikbud akan menjadi leading sector dalam penyusunannya, ujar Muhadjir dalam
keterangan tertulis yang diterima Rabu, 21 Juni.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah itu mengatakan Permendikbud nomor 23


tahun 2017 tentang Hari Sekolah tetap berlaku sambil menunggu terbitnya perpres
mengenai penguatan pendidikan karakter. Penerbitan perpres tentang PPK akan
melibatkan lintas kementerian dan lembaga terkait serta ormas-ormas Islam seperti
Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama (Muhammadiyah). Isi perpres bisa jadi akan
berbeda dari Permendikbud yang ada saat ini. Kemendikbud akan melihat
perkembangan dalam pembahasan.

Muhadjir berharap penerbitan perpres nanti dapat mengatur mekanisme PPK secara
lebih komprehensif dan dapat menghadirkan harmoni di masyarakat. Sejak awal, dia
menegaskan bahwa program full day school (FDS) sudah disepakati saat di dalam
rapat terbatas bersama dengan Presiden dan Wapres yang dilakukan pada 3 Februari
2016.

Muhadjir merasa perlu mengklarifikasi hal tersebut agar tidak muncul persepsi bahwa
dia jalan sendiri dalam merealisasikan kebijakan itu.

Jadi, saya ikuti apa yang diputuskan oleh ratas ketika itu, kata Muhadjir saat ditemui di
Istana Kepresidenan pada Senin kemarin.

Aturan baru

Staf Ahli Mendikbud bidang Regulasi Chatarina Mulia Girsang mengatakan


Permendikbud tentang hari sekolah masih berlaku sampai dicabut dengan peraturan
baru. Terkait pembahasan penyusunan petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk
pelaksanaan (juklak) yang sedang berjalan akan dilakukan sinkronisasi dan
harmonisasi dengan peraturan yang sedang disusun.

"Tentu, kami akan melibatkan kementerian dan lembaga terkait dalam setiap
penyusunan rancangannya. Uji publik juga akan kami lakukan dengan melibatkan
elemen-elemen masyarakat," kata Chatarina.

PPK kata dia, merupakan amanat Nawa Cita yang bertujuan menyiapkan generasi
emas 2045. Lima nilai karakter utama yang menjadi target penguatan adalah religius,
nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Setidaknya terdapat 8.000 sekolah
yang telah mendapat pelatihan penerapan praktik PPK dari Kemendikbud sejak tahun
2016.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf JK Kalla yang
menepis pemberitaan soal dibatalkannya program full day school. JK menyebut
program tersebut akan dikaji lebih dulu agar lebih baik.

Jika sudah ada persiapan yang matang, maka program tersebut bisa dijalankan. Tetapi,
jika ada yang belum siap, maka akan dikaji.

Secara umum, JK mengakui konsep program full day school judah baik. Tetapi, ada
beberapa hal yang menyesuaikan dengan kondisi saat ini. - dengan laporan
ANTARA/Rappler.com

Mendikbud Tegaskan Tetap Ajukan


Kebijakan Full Day School
Siswa kelas I mengikuti kegiatan belajar di Ruang kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) Galunggung I, Kota
Tasikmalaya, Jawa Barat. Sekolah tersebut sudah menerapkan program sekolah sepanjang hari (full day
school) sejak 2007 meneruskan program sekolah berbasis Internasional. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi.

114 Shares

Muhadjir Effendy

tiMeter: -33

Reporter: Yuliana Ratnasari

17 Juli, 2017dibaca normal 1:30 menit

Kebijakan sekolah lima hari dibuat untuk guru dengan beban kerja guru dialihkan seperti beban kerja
pegawai negeri sipil

Mendikbud Muhadjir Effendy menegaskan tetap mengajukan kebijakan sekolah lima hari dengan delapan
jam per hari yang berlaku untuk guru, bukan murid.
tirto.id - Kebijakan sekolah lima hari dengan durasi delapan jam per hari atau yang dikenal dengan full
day school dengan tegas tetap diajukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir
Effendy. Namun, ia beralasan, kebijakan itu nantinya ditujukan untuk guru bukan murid.

"Kan mau ditingkatkan jadi Peraturan Presiden tidak hanya menteri (Peraturan Menteri), jadi nanti akan
lengkap dan mengakomodasi saran-saran," kata Muhadjir saat berkunjung ke SMP Pawyatan Daha
Kediri, Jawa Timur, Minggu (16/7/2017).

Dikatakan Muhadjir, salah satu syarat pedidikan karakter bisa berjalan baik adalah keberadaan guru di
sekolah secara mutlak. Salah satu yang menjadi masalah saat ini adalah beban kerja guru.

Ia menyebut, dengan adanya masalah itu menyebabkan sejumlah guru yang tidak memenuhi jam mata
pelajaran atau yang jam pelajarannya terbatas misalnya PPKn, kesenian, agama, guru yang mengajar tidak
mendapatkan tunjangan profesi.

"Guru yang terbatas jam pelajarannya tidak dapat tunjangan profesi kecuali mencari tambahan dari
sekolah lain. Guru yang sudah cukup juga ikut-ikutan cari tambahan juga," katanya menjelaskan.

Untuk diketahui, pada tahun pelajaran 2017/2018 ini, guru sudah diwajibkan memenuhi ketentuan beban
kerja 40 jam per pekan. Ketentuan ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Mendikbud menegaskan, kebijakan sekolah lima hari itu dibuat ditujukan untuk guru. Beban kerja guru
dialihkan seperti beban kerja pegawai negeri sipil, dimana PNS itu jam kerja efektifnya adalah 37,5 jam
per pekan lima hari kerja. Dalam rapat terbatas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diminta untuk
menyinkronkan hari libur sekolah dan pegawai, agar ada waktu keluarga mendidik anaknya dan tidak
sepenuhnya diserahkan ke sekolah.

"Kami diminta sikronkan hari libur sekolah dan pegawai agar ada waktu keluarga didik anaknya tidak
sepenuhnya serahkan ke sekolah. Keluarga juga memiliki peran untuk tanamkan karakter. Juga
diharapkan libur untuk berwisata, bisa menikmati keindahan alam dalam rangka membangun rasa
kebhinekaan," katanya sebagaimana dikutip dari Antara.

Lebih lanjut, ia mengatakan Indonesia ini majemuk dan anak-anak bisa diajak jalan-jalan. Dengan dasar
itulah adanya kebijakan membuat Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2017, perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Salah satunya membahas terkait dengan hari sekolah.

"Jadi saya tegaskan di sini, sebetulnya lima hari kerja, delapan jam itu adalah merujuk pada beban kerja
guru, bukan pelajaran di sekolah. Dengan guru sama dengan bekerja PNS pada umunya, maka beban
kerja itu tidak harus terpaku pada jam mengajar kelas" ujarnya.

Ia juga mengapresiasi pendidikan di Kota Kediri yang sudah berlangsung dengan baik. Ia tetap berharap,
pemerintah juga menekankan pentingnya pendidikan karakter bangsa yang juga mengacu program
Presiden Joko Widodo.

Dalam acara tersebut, Mendikbud Muhadjir Effendy didampingi oleh Wali Kota Kediri Abdullah Abu
Bakar. Kegiatan itu juga dihadiri oleh kepala sekolah se-Kota Kediri, serta tamu undangan lainnya.

Mendikbud juga disambut para siswa dari SMP Pawyatan Daha Kediri tersebut. Selain disambut dengan
atraksi drum band, juga mainan ular tangga raksasa. Isi dari permainan itu mengajak anak beraktivitas
serta berpikir. Mendikbud juga sempat bermain dengan anak-anak.

Mendikbud juga sengaja datang ke Kediri. Selain menghadiri Pekan Budaya dan Pariwisata serta Festival
Panji Nasional 2017 di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, juga berkunjung ke
SMP Pawyatan Daha Kediri dan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri.

Baca juga artikel terkait FULL DAY SCHOOL atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari

(tirto.id - rat/rat)

Mendikbud Ingin Akhiri Polemik Full Day


School
Dika Dania Kardi , CNN Indonesia
Kamis, 13/07/2017 08:37 WIB

Sebarkan:

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy ingin mengakhiri
polemik full day school atau kebijakan delapan jam dan lima hari sekolah.

"Ini adalah kebijakan penguatan pendidikan karakter atau PPK," kata Muhadjir di kantor
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu (12/7).

Lihat juga:
Semrawut PPDB Online, dari Hacker Hingga Manipulasi Jarak

Muhadjir menilai tak tepat kebijakan diterjemahkan bebas sebagai full day school. Kebijakan itu
menurutnya adalah salah satu dari implementasi kebijakan PPK.
Kebijakan tersebut, kata Muhadjir, merupakan implementasi dari visi Nawacita yang dicita-citakan
Presiden RI Joko Widodo. Kebijakan itu juga disebut sebagai kelanjutan dari paradigma ekosistem
pendidikan yang pernah dicetuskan Ki Hadjar Dewantara.

Muhadjir pun membantah bahwa implementasi dari kebijakan tersebut mengharuskan seorang
siswa menjalani kegiatan pendidikan selama delapan jam dan lima hari sekolah.

"Ini sebaliknya diterjemahkan kepada beban kerja untuk guru," kata Muhadjir.

Selain pengajaran yang masuk kurikulum, lewat kebijakan penguatan pendidikan karakter pemerintah ingin kegiatan
kokurikuler dan ekstrakulikuler pun dinilai guru. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)

Beban Kerja Guru

Muhadjir menerangkan selama ini dengan sistem klasik enam hari sekolah, guru memiliki beban
mengajar 24-40 jam tatap muka di kelas selama sepekan. Akibat dari peraturan tersebut, sambung
Muhadjir, para guru spesialis seperti guru agama dan mata pelajaran non-Ujian Nasional akan sulit
memenuhi waktu tersebut.

Melalui perubahan beban kerja, kata Muhadjir, jam kerja guru akan sama dengan aparat sipil negara
(ASN) lainnya yaitu delapan jam dan lima hari kerja.

"Lima hari itu mengacu pada jam kerja guru, bukan siswa," ujar dia.
Staf Ahli Mendikbud bidang Regulasi, Chatarina Muliana menjelaskan para siswa pada dasarnya
diwajibkan berada di sekolah selama pelajaran yang masuk kurikulum atau Intrakurikuler.
Selanjutnya, setelah kegiatan mengajar dalam program intrakurikuler tersebut selesai, siswa diberi
kebebasan untuk mengikuti kegiatan Kokurikuler atau Ekstrakurikuler.

Kokurikuler adalah kegiatan memperdalam kompetensi dasar pada kurikulum, sementara


ekstrakurikuler adalah kegiatan mengasah bakat dan minat anak, serta keagamaan.

"Kalau sekolah itu mampu dan telah disepakati untuk melaksanakan kegiatan di luar intrakurikuler,
maka kegiatan tersebut dilakukan di sekolah. Atau, andai siswa tertentu ingin melaksanakan
kegiatan non-intrakurikuler di luar kelas, itu boleh. Asal tetap terpantau dan tercatat oleh guru," kata
Chatarina yang sebelum menjadi staf ahli Mendikbud pernah mengabdi sebagai kepala biro hukum
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lihat juga:
'Pendidikan Karakter Pintu Masuk Reformasi Pendidikan'

Muhadjir menekankan, di luar intrakurikuler, kegiatan korikuler dan ekstrakurikuler tersebut akan
masuk dalam buku penilaian dari guru atas murid.

"Nanti akan tercatat dalam penilaian tersebut, murid tertentu melakukan apa dan hasilnya apa. Itu
akan dicatat oleh guru," kata Muhadjir.

Muhadjir tegas membantah penerapan lima hari sekolah akan menggerus sekolah berbasis agama.

"Kami (pemerintah) juga akan mengatur agar sekolah mampu menjalin kerja sama dengan lembaga
pendidikan di masyarakat. Kegiatan itu tetap akan jadi catatan dalam rekaman sebagai penilaian
untuk siswa," ujar Muhadjir.
Ini Isi Peraturan Mendikbud tentang Full
Day School
Ini Isi Peraturan Mendikbud tentang Full
Day School

kumparan

Rabu 14 Juni 2017 - 11:17


Murid-murid berkumpul di halaman sekolah. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Mendikbud Muhadjir Effendy telah menetapkan Peraturan Menteri (Permen)


Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang mengatur sekolah 8 jam
sehari selama 5 hari alias full day school pada 12 Juni 2017.

Kebijakan ini berlaku mulai tahun ajaran baru yang jatuh pada Juli 2017.
Namun bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya dan sarana
transportasi yang memadai, maka kebijakan ini dilakukan secara bertahap.

Berikut pasal-pasal yang tertuang dalam Peraturan Menteri tentang full day
school tersebut:
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK
INDONESIA

NOMOR 23 TAHUN 2017

TENTANG

HARI SEKOLAH

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Sekolah adalah adalah bentuk kelompok layanan pendidikan yang


menyelenggarakan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK)/Taman Kanak-
kanak Luar Biasa (TKLB)/Raudatul athfal (RA), Sekolah Dasar (SD)/Sekolah
Dasar Luar Biasa (SDLB)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah
Pertama (SMP)/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)/Madrasah
Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Atas
Luar Biasa (SMALB)/Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang diselenggarakan oleh
pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

2. Hari Sekolah adalah jumlah hari dan jam yang digunakan oleh guru, tenaga
kependidikan, dan peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan di
Sekolah.

3. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,


membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.

4. Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri


dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan yang mencakup
pengelola satuan pendidikan, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium,
teknisi sumber belajar, tenaga administrasi, psikolog, terapis, tenaga
kebersihan dan keamanan, serta tenaga dengan sebutan lain yang bekerja
pada satuan pendidikan.
5. Sumber Daya adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam
penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat,
dana, sarana, dan prasarana.

6. Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan


potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan tertentu.

Pasal 2

(1) Hari Sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40
(empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(2) Ketentuan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam
selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), termasuk waktu istirahat selama 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu)
hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(3) Dalam hal diperlukan penambahan waktu istirahat sebagaimana


dimaksud pada ayat (2), Sekolah dapat menambah waktu istirahat melebihi
dari 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam
selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(4) Penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak
termasuk dalam perhitungan jam sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 3

(1) Hari Sekolah digunakan oleh Guru untuk melaksanakan beban kerja
Guru.

(2) Beban kerja Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

- merencanakan pembelajaran atau pembimbingan;

- melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan;

- menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan;

- membimbing dan melatih Peserta Didik; dan


- melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan
pokok sesuai dengan beban kerja Guru.

(3) Beban kerja Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 4

Hari Sekolah digunakan oleh Tenaga Kependidikan untuk melaksanakan


tugas dan fungsinya.

Pasal 5

(1) Hari Sekolah digunakan bagi Peserta Didik untuk melaksanakan kegiatan
intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

(2) Kegiatan intrakurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan


kegiatan yang dilaksanakan untuk pemenuhan kurikulum sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Kegiatan kokurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan


kegiatan yang dilaksanakan untuk penguatan atau pendalaman kompetensi
dasar atau indikator pada mata pelajaran/bidang sesuai dengan kurikulum.

(4) Kegiatan kokurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi


kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan
budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain untuk penguatan karakter Peserta
Didik.

(5) Kegiatan ekstrakurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan


kegiatan di bawah bimbingan dan pengawasan Sekolah yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama,
dan kemandirian Peserta Didik secara optimal untuk mendukung pencapaian
tujuan pendidikan.

(6) Kegiatan ekstrakurikuler sebagaimana dimaksud pada ayat (5) termasuk


kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah-bakat/olah-minat, dan keagamaan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(7) Kegiatan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) meliputi
aktivitas keagamaan meliputi madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah
keagamaan, katekisasi, retreat, baca tulis Alquran dan kitab suci lainnya.

Pasal 6

(1) Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dalam pelaksanaan Hari Sekolah


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat dilaksanakan di dalam
Sekolah maupun di luar Sekolah.

(2) Pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler baik di dalam


Sekolah maupun di luar Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan dengan kerja sama antarsekolah, Sekolah dengan lembaga
keagamaan, maupun Sekolah dengan lembaga lain yang terkait.

Pasal 7

(1) Ketentuan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
tidak berlaku bagi Peserta Didik TK/TKLB/RA atau sederajat pada sekolah
keagamaan lainnya.

(2) Peserta Didik berkebutuhan khusus dan layanan khusus dapat mengikuti
ketentuan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
sesuai dengan jenis kekhususan.

Pasal 8

Penetapan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mulai


dilaksanakan pada tahun pelajaran 2017/2018.

Pasal 9

(1) Dalam hal kesiapan sumber daya pada Sekolah dan akses transportasi
belum memadai, pelaksanaan ketentuan Hari Sekolah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 dapat dilakukan secara bertahap.

(2) Pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai kewenangannya wajib


menjamin pemenuhan sumber daya pada Sekolah yang diselenggarakan oleh
Pemerintah pusat atau pemerintah daerah, dan ketersediaan akses
transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam penerapan
ketentuan tentang Hari Sekolah, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
ini.

(3) Masyarakat penyelenggara pendidikan wajib menjamin pemenuhan


sumber daya pada Sekolah yang diselenggarakannya untuk melaksanakan
ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini.

(4) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai kewenangannya


melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap pemenuhan
sumber daya dan ketersediaan akses transportasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (3) dalam penerapan ketentuan Hari Sekolah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.

Pasal 10

(1) Guru pada Sekolah yang belum dapat melaksanakan ketentuan Hari
Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tetap melaksanakan
ketentuan 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu untuk memenuhi
beban kerja guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).

(2) Peserta Didik pada Sekolah yang belum dapat melaksanakan ketentuan
Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tetap
melaksanakan ketentuan jam sekolah sesuai dengan beban belajar pada
kurikulum dan dapat melaksanakan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Pasal 11

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap
orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini
dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Wacana Full day school yang digulirkan Mendikbud mendapatkan tanggapan pro dan kontra.
Banyak yang memberi tanggapan kontra hanya berdasarkan asumsi, anggapan, dan hal-hal
negatif yang membayangi sistem full day school. Sebagian besar dilatari ketidaktahuan terhadap
sistem full day school yang sudah berjalan. Sebagian memang sudah antipati terhadap wacana
tersebut.
Full day school tentu tak bisa diterapkan untuk semua sekolah karena full day school memiliki
kekhasan tersendiri. Berikut ini beberapa masalah dalam sistem full day school yang menjadi
citra negatif bagi sebagian orang, beserta solusi yang bisa dipertimbangkan. Tulisan ini
merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya: Full day School: Prasangka, Permasalahan, dan
Solusi (bagian 1)

4. Full day School Menyita Waktu Guru


Guru memiliki kewajiban untuk mengajar minimal 24 jam per minggu. Dengan penerapan full
day school pada beberapa sekolah pilihan-- kewajiban mengajar guru tentu tidak berubah,
kecuali ada peraturan perundangan yang baru. Dalam full day school, guru tidak mengajar dari
pagi sampai sore. Ada pembagian kerja dan tugas sesuai dengan kewajiban dan hak guru.

Di sebagian sekolah swasta yang menerapkan full day school, guru mengajar pada jam reguler
(pagi-siang). Jam setelah siang diisi program yang disesuaikan dengan kondisi anak. Jika waktu
pagi-siang pembelajaran lebih cenderung pada pendalaman kognitif/akademis, waktu siang-sore
diisi kegiatan yang lebih santai, kegiatan pengembangan minat-bakat, atau kegiatan
ekstrakurikuler. Pembelajaran siang-sore ini diampu oleh guru/pembina di luar guru reguler.
Atau, guru reguler bisa mengajar pada jam sore dengan waktu bergiliran (tidak setiap hari).

Jadi, penerapan full day school tidak menyita waktu guru karena guru sudah memiliki kewajiban
(beban jam mengajar) yang sudah ditetapkan oleh peraturan menteri. Penerapan full day
school justru membuka lowongan pekerjaan tenaga pendidik.

5. Full day School Membutuhkan Biaya Besar


Memang benar full day school membutuhkan biaya besar. Biaya tersebut digunakan di antaranya
untuk gaji tenaga pendidik tambahan, penambahan fasilitas sekolah, penyiapan makan
siang/makanan ringan, dll. Biaya yang besar ini idealnya dibebankan kepada pemerintah. Dan
jika hal tersebut terealisasi, masyarakat tidak terlalu memikirkan permasalahan ini.

Selama ini, sekolah yang menerapkan full day school hampir semuanya sekolah swasta yang
membebankan biaya pendidikan kepada orang tua / wali siswa. Masyarakat sudah memberikan
cap bahwa full day school berbiaya mahal. Stigma inilah yang membuat banyak orang
menolak penerapan full day school.

Oleh karena itu, full day school memang tidak bisa diterapkan bagi semua sekolah atau semua
kalangan. Sekolah dengan sumber pembiayaan yang besar yang bisa menerapkan full day
school. Full day school bisa juga menjadi alternatif bagi orang tua / wali siswa yang memiliki
kemampuan pembiayaan yang cukup.

Peribahasa Jawa berbunyi Jer Basuki Mawa Bea, bahwa sebuah keberhasilan itu memerlukan
pengorbanan, khususnya pengorbanan harta/biaya. Jika dirasa full day school memiliki program
yang baik, maka perlu mendapat dukungan dana, baik dari pemerintah maupun orang tua / wali
siswa. Namun, sekali lagi, full day school adalah pilihan.
6. Full day School Adalah Ide Konyol
Sebagian orang menganggap wacana full day school adalah ide yang konyol, yang tidak bisa
diterapkan, sebuah gagasan yang mengada-ada. Padahal, full day school sudah sudah diterapkan
beberapa sekolah.

Sebuah gagasan, pasti ada nilai positif dan negatifnya. Sebuah sistem yang sudah dijalankan pun
ada kelebihan dan kelemahannya. Akan menjadi tidak proporsional jika kita hanya memandang
salah satunya. Memandang keunggulannya saja sehingga hanya menghasilkan pujian tinggi.
Atau sebaliknya, melihat kelemahannya saja sehingga terlihat sangat buruk. Pihak-pihak yang
berkompeten hendaknya mengkaji permasalahan full day school secara mendalam dan saksama.

---
Demikian beberapa prasangka, permasalahan, dan solusi terkait sistem pendidikan full day
school. Tulisan di atas tentu mengandung banyak subyektifitas karena tak lepas dari latar
belakang dan wawasan terbatas yang dimiliki oleh penulis.