Anda di halaman 1dari 34

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Demam berdarah dengue

Demam berdarah dengue (Dengue Hemoragic Fever (DHF) ialah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri
sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik.
Sindrom rejatan dengue adalah penyakit DHF yang disertai rejatan1.
Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat
kompleks, yaitu :
1. Pertumbuhan penduduk yang tinggi
2. Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali
3. Tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis
4. Peningkatan sarana transportasi
Morbiditas dan mortalitas infeksi virus dengue dipengaruhi berbagai faktor antara lain
status imunitas pejamu, kepadatan vektor nyamuk, transmisi virus dengue, keganasan
(virulensi) virus dengue, dan kondisi geografis setempat. Pola berjangkit infeksi virus dengue
dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Di Indonesia, karena suhu udara dan
kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola waktu terjadinya penyakit agak berbeda
untuk setiap tempat. Di Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari,
meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun.

ETIOLOGI
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang termasuk
kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai genus
Flavivirus , famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu ; DEN-1, DEN-2,
DEN-3, dan DEN-4 . Di Indonesia serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan
diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat. Di indonesia vektor
utamanya adala nyamuk Aedes aegypti, di samping itu pula ada nyamuk Aedes albopictus.
Vektor ini bersarang di bejana-bejana yang berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi,
drum penampungan air, kaleng bekas, dan lainnya3,4.
VEKTOR DBD dan CARA PENULARAN

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue,
yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti5. Nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesienesis dan
beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang
kurang banyak berperan. Nyamuk Aedes menggigit manusia mengandung virus dengeu
(viremia) Virus dalam kelenjar liur nyamuk berkembang biak 8-10 hari (extrinsic
incubation period) dalam tubuh nyamuk mengigit manusia sehat masa tunas 4-6 hari
(intrinsic incubation period) Demam dengue. Penularan dari manusia kepada nyamuk
hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2
hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.
Tidak semua orang yang digigit nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue,
akan terserang penyakit demam berdarah. Orang yang mempunyai kekebalan yang cukup
terhadap virus dengue, tidak akan terserang penyakit ini, meskipun dalam darahnya terdapat
virus itu6. Sebaliknya pada orang yang tidak mempunyai kekebalan yang cukup terhadap
virus dengue, dia akan sakit demam ringan atau bahkan sakit berat, yaitu demam tinggi
disertai perdarahan bahkan syok, tergantung dari tingkat kekebalan tubuh yang dimilikinya.
Ada 2 teori tentang terjadinya manifestasi yang lebih berat itu yang dikemukakan oleh
pakar demam berdarah dunia:
1. Teori infeksi primer/teori virulensi : yaitu munculnya manifestasi itu disebabkan karena
adanya mutasi dari virus dengue menjadi lebih virulen.
2. Teori infeksi sekunder : yaitu munculnya manifestasi berat bila terjadi infeksi ulangan
oleh virus dengue yang serotipenya berbeda dengan infeksi sebelumnya.

PATOGENESIS

Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan infeksi
pertama kali mungkin memberi gejala DF. Reaksi tubuh merupakan reaksi yang biasa terlihat
pada infeksi oleh virus. Reaksi yang amat berbeda akan tampak, bila seseorang mendapat
infeksi berulang dengan tipe virus yang berlainan. Berdasarkan hal ini timbullah yang disebut
dengan the secondary heterologous infection atau the sequential infection hypothesis yang
dianut oleh sebagian besar pakar dewasa ini6. Hipotesis ini menyatakan bahwa DBD dapat
terjadi bila seseorang setelah terinfeksi virus dengue pertama kali, mendapat infeksi berulang
virus dengue lainnya. Re-infeksi ini akan menyebabkan suatu reaksi anamnestik antibodi,
sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks antigen-antibodi (kompleks virus-antibodi)
yang tinggi.
Teraktifasinya sistem komplemen dilepaskan C3a dan C5a meningkatnya
permeabilitas dinding pembuluh darah ekstravasasi cairan plasma dari intra ke
ekstravaskular volume plasma intravascular menurun hemokonsentrasi rejatan
Kemudian yang berikutnya yang kedua, Agregasi trombosit melepaskan ADP
trombosit mengalami metamorfosis trombosit rusak dimusnahkan oleh RES terutama
terjadi di hati trombositopenia hebat perdarahan.
Dan yang ketiga ialah,terjadinya aktivasi faktor Hageman (faktor XII) dengan akibat
akhir terjadinya pembekuan intravaskular yang meluas. Dalam proses aktivasi ini,
plasminogen akan menjadi plasmin yang berperan dalam pembentukan anafilatoksin dan
penghancuran fibrin menjadi fibrin degradation product. Disamping itu aktivasi akan
merangsang sistem kinin yang berperan dalam proses meningginya permeabilitas dinding
pembuluh darah.

PATOFISIOLOGI9

Secondary heterologous dengue infection

Replikasi virus Anamnestic antibody response

Virus antibody complex

Agregasi trombosit Aktivasi koagulasi Aktivasi komplemen

plasma
Penghancuran Pengeluaran Aktivasi faktor Hageman
Trombosit Platelet
Oleh RES Faktor III

Trombositopenia Koagulopati Sistem kinin Anafilatoksin


Konsumtif

Gangguan Kinin Peningkatan


Fungsi permeabilitas
Trombosit Penurunan faktor kapiler
Pembekuan FDP
Meningkat

Perdarahan SYOK
Masif

Gambar 1. Patogenesis Perdarahan Renjatan pada DHF


Sumber : Suvatte, 1997

Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala
karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemia
di tenggorok, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin terjadi pada sistem
retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam
pada DF disebabkan oleh kongesti pembuluh darah di bawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF
dengan DBD ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena penglepasan zat
anafilatoksin, histamin dan serotonin serta aktivasi sistem kalikrein yang berakibat
ekstravasasi cairan intravaskular. Hal ini berakibat mengurangnya volume plasma, terjadinya
hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Plasma merembes selama
perjalanan penyakit mulai dari saat permulaam demam dan mencapai puncaknya pada saat
renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat volume plasma dapat menurun sampai lebih dari
30 %.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti
dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan sistem koagulasi
disebabkan di antaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang terbukti terganggu oleh
aktivasi sistem koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DBD/DSS, terutama pada
pasien dengan perdarahan hebat, sejak lama telah menjadi perdebatan.
Telah dibuktikan bahwa DIC secara potensial dapat terjadi juga pada pasien DBD
tanpa renjatan. Dikatakan pada masa dini DBD, peran DIC tidak menonjol dibandingkan
dengan perembesan plasma, tetapi bila penyakit memburuk dengan terjadinya asidosis dan
renjatan, maka renjatan akan memperberat DIC sehingga perannya akan menonjol.
GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis amat bervariasi, dari yang amat ringan (silent dengue infection)
hingga yang sedang seperti DF, sampai ke DBD dengan manifestasi demam akut, perdarahan
serta kecenderungan terjadi renjatan yang dapat berakibat fatal. Masa inkubasi dengue antara
3-15 hari, rata-rata 5-8 hari7.
Pada DF, suhu meningkat tiba-tiba, disertai sakit kepala, nyeri yang hebat pada otot
dan tulang (break bone fever), mual, kadang-kadang muntah dan batuk ringan. Sakit kepala
dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supraorbita atau retroorbital. Nyeri di bagian
otot terutama dirasakan bila tendon dan otot perut ditekan. Sekitar mata mungkin ditemukan
pembengkakan, injeksi konjungtiva, lakrimasi dan fotofobia. Otot-otot sekitar mata terasa
pegal.
Eksantem yang klasik ditemukan dalam 2 fase, mula-mula pada awal demam (intial rash)
terlihat jelas pada muka dan dada, berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak
diperhatikan oleh pasien. Ruam berikutnya (terminal rash) mulai antara hari ke 3-6, mula-
mula berbentuk makula-makula besar yang kemudian timbul bercak-bercak petechiae pada
dasarnya. Hal ini terlihat pada lengan dan kaki, kemudian menjalar cepat ke seluruh tubuh.
Pada saat suhu turun ke normal, ruam ini berkurang dan cepat menghilang, bekas-bekasnya
kadang-kadang terasa gatal.
Pada sebagian pasien ditemukan kurva suhu yang bifasik (saddle back fever).
Pemeriksaan fisis pasien DF hampir tidak ditemukan kelainan. Nadi pasien mula-mula cepat
dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. Bradikardia dapat menetap
untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.
Lidah sering kotor dan kadang-kadang pasien sukar buang air besar, terkadang dapat
diraba pembesaran kelenjar yang konsistensinya lunak dan tak nyeri. Pada pasien DBD,
gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petechiae, purpura, ekimosis,
hematemesis, melena dan epiktasis. Hati umumnya membesar dan nyeri tekan, tetapi
pembesaran hati tidak sesuai dengan beratnya penyakit dan tidak dijumpai ikterus.
Pada awal perjalanan penyakit, DBD dapat menyerupai kasus DF dengan
kecenderungan perdarahan dengan satu manifestasi klinis atau lebih, yaitu :
Uji tourniquet positif
Petechiae, ekimosis atau purpura
Perdarahan mukosa (epistaksis, perdarah gusi)
Hematemesis atau melena
Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000 mm3)
Hemokonsentrasi sebagai akibat dari peningkatan permeabilitas kapiler dengan
manifestasi satu atau lebih, yaitu :
Peningkatan hematokrit > 20 % dibandingkan standar sesuai umur dan jenis
kelamin
Penurunan hematokrit > 20 % setelah mendapatkan pengobatan cairan
Tanda perembesan plasma, yaitu efusi pleura, asites atau proteinemia

Demam pada DBD berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat. Kadang-
kadang suhu tubuh sangat tinggi hingga 40C dan dapat dijumpai kejang demam. Akhir fase
demam merupakan fase kritis pada DBD, oleh karena fase tersebut merupakan fase kritis
pada DBD, oleh karena fase tersebut dapat merupakan awal penyembuhan tetapi dapat pula
sebagai awal fase syok8.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

a. Trombosit : Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8

b. Hematokrit : Kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan

hematokrit 20% dari hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam.

c. Leukosit : Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemukan limfositosis

relative dan LPB > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat.

d. Protein/albumin : Dapat terjadi hipoalbuminemia akibat kebocoran plasma

e. Imunoserologi dilakukan pemeriksaaan IgM dan IgG terhadap dengue.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Pada foto thoraks didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitorak kanan tetapi apabila

terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua hemitoraks.
Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus kanan. Asites dan

efusi pleur dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.

DIAGNOSIS

Kriteria klinis Demam Dengue (DF)


1. Suhu badan yang tiba-tiba meninggi
2. Demam yang berlangsung hanya beberapa hari
3. Kurva demam yang menyerupai pelana kuda
4. Nyeri tekan terutama diotot-otot dan persendian
5. Adanya ruam-ruam pada kulit
6. Leukopenia

Kriteria diagnosis DBD (WHO, 1986)8

Kriteria Klinis
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7
hari
b. Terdapat manifestasi perdarahan, termasuk uji touniquet positif, petechiae, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena
c. Pembesaran hati
d. Syok, ditandai nadi cepat atau lemah serta penurunan tekanan nadi hipotensi, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah

Kriteria Laboratoris
a. Trombositopenia (100.000 /mm3 atau kurang)
b. Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20 % atau lebih, menurut
standar umum dan jenis kelamin
Diagnosis ditegakkan bila didapatkan 2 atau lebih gejala klinis disertai trombositopenia
dengan atau tanpa hemokonsentrasi. Efusi pleura dan atau hipoalbuminemia dapat
memperkuat diagnosis terutama pada pasien anemi dan atau terjadi perdarahan. Pada kasus
syok, adanya peningkatan hematokrit dan adanya trombositopenia mendukung diagnosis
DBD.
Pada seleksi pertama diagnosis ditegakkan berdasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan fisis
serta hasil pemeriksaan Hb, Ht, dan jumlah trombosit.
Indikasi rawat penderita DBD dewasa pada seleksi pertama ialah :
1. DBD dengan syok atau tanpa perdarahan
2. DBD dengan perdarahan masif dengan atau tanpa syok
3. DBD tanpa perdarahan masif dengan :
a. Hb, Ht normal dengan trombositopenia < 100.000 / mm3
b. Hb, Ht yang meningkat dengan trombositopenia < 150.000 / mm3

Pada kasus yang meragukan untuk sementara penderita tetap diobservasi di IGD
dengan ajuran minum yang banyak, serta diberikan infus Ringer Laktat sebanyak 500 cc
dalam empat jam. Setelah itu dilakukan pemeriksaan ulang Hb, Ht, dan trombosit.
Penderita dirawat apabila didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Hb, Ht dalam batas normal dengan jumlah trombosit kurang dari 100.000/ mm3
2. Hb, Ht yang meningkat dengan trombositopenia kurang dari 150.000 / mm3

Derajat Penyakit DBD8

Derajat Penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat :


Derajat I : demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi
perdarahan ialah uji torniquet.
Derajat II : seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit atau
perdarahan lain.
Derajat III : didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lembut,
tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi,
sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak
tampak gelisah.
Derajat IV : syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan
tekanan darah tidak terukur.
Adanya trombositopenia dan hemokonsentrasi membedakan DBD derajat I/II dengan DF.
Pembagian derajat penyakit dapat juga dipergunakan untuk kasus dewasa.
Diagnosis Laboratorium

Diagnosis definitif infeksi virus dengue hanya dapat dilakukan di laboratorium


dengan cara, isolasi virus,deteksi antigen virus atau RNA dalam serum atau jaringan tubuh,
dan deteksi antibodi spesifik dalam serum pasien.
Diagnosis Serologis8

Dikenal 5 jenis uji serologik yang biasa dipakai untuk menentukan adanya infeksi
virus dengue, yaitu :
1) Uji hemaglutinasi inhibisi (haemagglutination Inhibition test = HI test)
2) Uji komplemen fiksasi (Complement Fixation test = CF test)
3) Uji neutralisasi (Neutralization test = NT test)
4) IgM Elisa (Mac Elisa)
5) IgG Elisa

Pada infeksi sekunder Dengue Fever IgG akan timbul secara cepat dan dominan setelah
onset dari gejala timbul, puncaknya ialah 2 minggu setelah onset gejala awal dan akan
bertahan kemudian akan menurun selama kurang lebih 3-6 bulan setelah infeksi, dan IgM
tidak selalu muncul pada infeksi sekunder. Dan IgG ini sangat dominan pada infeksi
sekunder17.
Penatalaksanaan
Perhimpunan dokter penyakit dalam telah menyusun protocol penatalaksanaan DBD
pada pasien dewasa berdasarkan criteria :

a. Protokol 1 : Penanganan tersangka ( Probable) DBD dewasa tanpa syok.

Protokol ini digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama pada
penderita DBD atau yang diduga DBD di instalasi Gawat Darurat dan juga dipakai sebagai
petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat. Seseorang yang tersangka menderita DBD
diruang Gawat Darurat dilakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan
trombosit bila :
Hb,Ht, dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000,
pasien dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan.
Hb,Ht normal tetapi trombosit <100.000 dianjurkan untuk dirawat
Hb,Ht meningkat dan trombosit normal atau turun juga harus dirawat.

b. Protokol 2 : Pemberian cairan pada tersangka DBD Dewasa diruang rawat.

Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan massif dan tanp syok maka di
ruang awat diberikan cairan infus kristaloid dengan rumus :
1500 + { 20 x BB dalam kg 20}
Setelah pemberian cairan dilakukan pemeriksaan Hb, Ht tiap 24 jam :
Bila Hb,Ht meningkat 10-20 % dan trombosit < 100.000 jumlah pemberian cairan
tetap seperti rumus diatas tetapi pemantauan Hb,Ht dan trombosit dilakukan tiap 12
jam
Bila Hb,Ht meningkat > 20 % dan trombosit < 100.000, maka pemberian cairan
sesuai dengan protocol penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht > 20%.
c. Protokol 3 : Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht>20%

Pada keadaan ini terapi awal adalah pemberian cairan adalah dengan memberikan infuse
cairan kristaloid sebanyak 6-7 ml/kg/jam.Pasien dipantau setelah 3-4 jam pemberian
cairan. Bila keadaan membaik maka jumlah cairan iufus dikurangi. Bila keadaan tidak
kunjung membaik maka jumlah cairan infuse ditambah sampai keadaan membaik.

d. Protokol 4 : Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD dewasa

Perdarahan spontan dan massif pada pasien DBD adalah perdarahan hidung, perdarahan
saluran cerna, perdarahan saluran kencing, perdarahan otak dll. Pemeriksaan tanda vital
dilakukan sesering mungkin. Pemeriksaan Hb, Ht, dan trombosit dilakukan tiap 4-6 jam.
Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratories didapatkan tanda-tanda
koagulasi intravascular diseminata. Transfusi komponen darah diberikan sesuai indikasi.

e. Protokol 5 : Tatalaksana Sindrom Syok Dengue pada Dewasa


Hal pertama yang harus diingat adalah bahwa renjatan harus segera ditangani dan oleh
karena itu pengantian cairan harus dilakukan secepat mungkin. Selain itu pasien diberikan
oksigen 2-4 liter/menit.
Penatalaksanaan lingkungan
1. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014

Pada dokumen Renstra Kemenkes tahun 2010-2014 tertuang visi dan misi serta nilai-nilai
dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, yang menjadi dasar
dalam penentuan kebijakan dan strategi pengendalian DBD di Indonesia.
Guna mewujudkan visi dan misi rencana strategis pembangunan kesehatan, Kementerian
Kesehatan menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai
yaitu :
a. Pro Rakyat yang artinya dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kemenkes
selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan menghasilkan yang terbaik untuk rakyat.

b. Inklusif adalah melibatkan semua pihak dalam melaksanakan semua program


pembangunan kesehatan. Karena pembangunan kesehatan tidak mungkin
hanya dilaksanakan oleh Kemenkes saja.

c. Responsif yang dimaksud adalah program kesehatan harus sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan rakyat, serta tanggap dalam mengatasi permasalahan di daerah, situasi kondisi
setempat, sosial budaya dan kondisi geografis.

d. Efektif untuk mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan dan
bersifat efisien.

e. Bersih, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), transparan dan
akuntabel.
Adapun sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan 2011-2014
antara lain adalah :

a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam


pembangunan kesehatan melalui kerjasama nasional dan global.

b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan,


serta berbasis bukti; dengan pengutamaan pada upaya promotifpreventif.
c. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan terutama untuk mewujudkan jaminan
sosial kesehatan nasional.

d. Meningkatkan pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan yang merata dan


bermutu.

e. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta
menjamin keamanan/khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan
makanan.

f. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdayaguna dan berhasil


guna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab.

2. Visi, Misi dan Tujuan Pengendalian DBD

a. Visi

Untuk meningkatkan kemampuan penduduk khususnya di daerah endemis sehingga mampu


mencegah dan melindungi diri dari penularan DBD melalui perubahan perilaku (PSN DBD)
dan kebersihan lingkungan.

b. Misi
1) Program pengendalian DBD bertujuan untuk menghentikan dan mencegah penularan
penyakit dari penderita ke orang sehat melalui pengendalian vektor.

2) Penduduk yang menjadi sasaran program pengendalian termasuk individu, keluarga,


kelompok dan masyarakat terutama yang tinggal di daerah endemis, pimpinan lembaga
pemerintah, swasta dan organisasi kemasyarakatan dan lingkungan tempat pemukiman baik
yang ada di dalam dan di luar rumah agar bebas dari tempat perkembangbiakan
vektor.
c. Tujuan

1) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian DBD

2) Menurunkan jumlah kelompok masyarakat yang berisiko terhadap penularan DBD

3) Melaksanakan penanganan penderita sesuai standar

4) Menurunkan angka kesakitan DBD

5) Menurunkan angka kematian akibat DBD

3. Kebijakan, Strategi dan Sasaran Pengendalian DBD

a. Kebijakan Nasional Pengendalian DBD

Kebijakan Nasional untuk pengendalian DBD sesuai KEPMENKES No


581/MENKES/SK/VII/1992 (Lampiran 2) tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah
Dengue, adalah sebagai berikut :

1) Meningkatkan perilaku dalam hidup sehat dan kemandirian terhadap pengendalian DBD.

2) Meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit


DBD.
3) Meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pengendalian
DBD.

4) Memantapkan kerjasama lintas sektor/ lintas program.

5) Pembangunan berwawasan lingkungan.

b. Strategi Pengendalian DBD


Berdasarkan visi, misi, kebijakan dan tujuan pengendalian DBD, maka
strategi yang dirumuskan sebagai berikut :

1) Pemberdayaan masyarakat

Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian penyakit DBD
merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pengendalian DBD. Untuk mendorong
meningkatnya peran aktif masyarakat, maka KIE, pemasaran sosial, advokasi dan berbagai
upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan
melalui berbagai media massa maupun secara berkelompok atau individual dengan
memperhatikan aspek sosial budaya yang lokal spesifik.

2) Peningkatan kemitraan berwawasan bebas dari penyakit DBD

Upaya pengendalian DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja, peran sektor
terkait pengendalian penyakit DBD sangat menentukan. Oleh sebab itu maka identifikasi
stake-holders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial merupakan langkah awal dalam
menggalang, meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. Jejaring
kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala guna memadukan berbagai sumber
daya yang tersedia dimasing-masing mitra. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan
sampai tahap pelaksanaan, pemantauan dan penilaian melalui wadah Kelompok Kerja
Operasional (POKJANAL DBD) di berbagai tingkatan administrasi.

3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program

SDM yang terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu
unsur penting dalam mencapai keberhasilan pelaksanaan program pengendalian DBD.

4) Desentralisasi

Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelolaan kegiatan pengendalian DBD kepada


pemerintah kabupaten/kota, melalui SPM bidang kesehatan.

5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan

Meningkatkan mutu lingkungan hidup yang dapat mengurangi risiko penularan DBD kepada
manusia, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan akibat infeksi Dengue/DBD.

c. Sasaran

Berdasarkan strategi yang telah dirumuskan, maka sasaran pengendalian DBD adalah :
1) Individu, keluarga dan masyarakat di tujuh tatanan dalam PSN yaitu tatanan rumah tangga,
institusi pendidikan, tempat kerja, tempat-tempat umum, tempat penjual makanan, fasilitas
olah raga dan fasilitas kesehatan yang secara keseluruhan di daerah terjangkit DBD mampu
mengatasi masalah termasuk melindungi diri dari penularan DBD di dalam wadah organisasi
kemasyarakatan yang ada dan mengakar di masyarakat.

2) Lintas program dan lintas sektor terkait termasuk swasta/dunia usaha, LSM dan organisasi
kemasyarakatan mempunyai komitmen dalam penanggulangan penyakit DBD.

3) Penanggungjawab program Tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan


Desa/Kelurahan mampu membuat dan menetapkan kebijakan operasional dan menyusun
prioritas dalam pengendalian DBD.

4) SDM bidang kesehatan di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota,Kecamatan dan


Desa/Kelurahan
5) Kepala wilayah/pemerintah daerah, pimpinan sektor terkait termasuk dunia usaha, LSM
dan masyarakat.

Kegiatan Pokok Pengendalian DBD

a. Surveilans epidemiologi

Surveilans pada pengendalian DBD meliputi kegiatan surveilans kasus secara aktif maupun
pasif, surveilans vektor (Aedes sp), surveilans laboratorium dan surveilans terhadap faktor
risiko penularan penyakit seperti pengaruh curah hujan, kenaikan suhu dan kelembaban serta
surveilans akibat adanya perubahan iklim (climate change).

b. Penemuan dan tatalaksana kasus

Penyediaan sarana dan prasarana untuk melakukan pemeriksaan dan penanganan penderita di
Puskesmas dan Rumah Sakit.

c. Pengendalian vektor
Upaya pengendalian vektor dilaksanakan pada fase nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. Pada
fase nyamuk dewasa dilakukan dengan cara pengasapan untuk memutuskan rantai penularan
antara nyamuk yang terinfeksi kepada manusia. Pada fase jentik dilakukan upaya PSN
dengan kegiatan 3M Plus :

1) Secara fisik dengan menguras, menutup dan memanfaatkan barang bekas


2) Secara kimiawi dengan larvasidasi
3) Secara biologis dengan pemberian ikan
4) Cara lainnya (menggunakan repellent, obat nyamuk bakar, kelambu, memasang kawat
kasa dll)

Kegiatan pengamatan vektor di lapangan dilakukan dengan cara :


1) Mengaktifkan peran dan fungsi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan dimonitor olah
petugas Puskesmas.
2) Melaksanakan bulan bakti Gerakan 3M pada saat sebelum musim penularan.
3) Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) setiap 3 bulan sekali dan dilaksanakan oleh petugas
Puskesmas.
4) Pemantauan wilayah setempat (PWS) dan dikomunikasikan kepada pimpinan wilayah
pada rapat bulanan POKJANAL DBD, yang menyangkut hasil pemeriksaan Angka Bebas
Jentik (ABJ).

d. Peningkatan peran serta masyarakat

Sasaran peran serta masyarakat terdiri dari keluarga melalui peran PKK dan organisasi
kemasyarakatan atau LSM, murid sekolah melalui UKS dan pelatihan guru, tatanan institusi
(kantor, tempat0tempat umum dan tempat ibadah). Berbagai upaya secara polotis telah
dilaksanakan seperti instruksi Gubernur/Bupati/Walikota, Surat Edaran Mendagri,
Mendiknas, serta terakhir pada 15 Juni 2011 telah dibuat suatu komitmen bersama pimpinan
daerah Gubernur dan Bupati/Walikota untuk pengenadalian DBD.

e. Sistem kewaspadaan dini (SKD) dan penanggulangan KLB


Upaya SKD DBD ini sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya KLB dan apabila
telah terjadi KLB dapat segera ditanggulangi dengan cepat dan tepat. Upaya dilapangan yaitu
dengan melaksanakan kegiatan penyelidikan epidemiologi (PE) dan penanggulangan
seperlunya meliputi foging fokus, penggerakan masyarakat dan penyuluhan untuk PSN serta
larvasidasi. Demikian pula kesiapsiagaan di RS untuk dapat manampung pasien DBD, baik
penyediaan tempat tidur, sarana logistik, dan tenaga medis, paramedis dan laboratorium yang
siaga 24 jam. Pemerintah daerah
menyiapkan anggaran untuk perawatan bagi pasien tidak mampu.

f. Penyuluhan

Promosi kesehatan tentang penyakit DBD tidak hanya menyebarkan leaflet atau poster tetapi
juga ke arah perubahan perilaku dalam pemberantasan sarang nyamuk sesuai dengan kondisi
setempat. Metode ini antara lain dengan COMBI, PLA dsb.

g. Kemitraan/jejaring kerja

Disadari bahwa penyakit DBD tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan saja,
tetapi peran lintas program dan lintas sektor terkait sangat besar. Wadah kemitraan telah
terbentuk melalui SK KEPMENKES 581/1992 dan SK MENDAGRI 441/1994 dengan nama
Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL). Organisasi ini merupakan wadah koordinasi
dan jejaring kemitraan dalam pengendalian DBD.

h. Capacity building

Peningkatan kapasitas dari Sumber Daya baik manusia maupun sarana dan prasarana sangat
mendukung tercapainya target dan indikator dalam pengendalian DBD. Sehingga secara rutin
perlu diadakan sosialisasi/penyegaran/pelatihan kepada petugas dari tingkat kader,
Puskesmas sampai dengan pusat.

i. Penelitian dan survei

Penelitian dan upaya pengembangan kegiatan pengendalian tetap terus dilaksanakan oleh
berbagai pihak, antara lain universitas, Rumah Sakit, Litbang, LSM dll. Penelitian ini
menyangkut beberapa aspek yaitu bionomik vektor, penanganan kasus, laboratorium,
perilaku, obat herbal dan saat ini sedang dilakukan uji coba terhadap vaksin DBD.

j. Monitoring dan evaluasi

Monitoring dan evaluasi ini dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kelurahan/desa
sampai ke pusat yang menyangkut pelaksanaan pengendalian DBD, dimulai dari input,
proses, output dan outcome yang dicapai pada setiap tahun.

B. Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja (pasal 1, peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor
PER.01/MEN/1981) tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja. Definisi yang
digunakan dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja No.KEPTS.333/MEN/1989 tentang
Pelaporan Penyakit Akibat Kerja merujuk pada ketentuan Permen Nakertrans
No.PER.01/MEN/1981.3 Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit
yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja (Pasal 1, Keputusan Presiden
Nomor 22 Tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja (Keppres
No.22 Tahun 1993 ; Handayani,2008).

Terdapat 3 istilah untuk suatu kelompok penyakit yang sama yaitu penyakit yang timbul
karena hubungan kerja, penyakit yang disebabkan karena pekerjaan atau lingkungan
kerja dan penyakit akibat kerja. Ketiga istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama
dan masing-masing memiliki dasar hukum perundang-undangan yang menjadi
landasannya (Sumamur, 2006).

Kondisi yang Berhubungan dengan Penyakit Akibat Kerja


Kondisi yang berhubungan dengan penyakit akibat kerja antara lain (Sulistoma, 2002):
a. Peraturan perundang-undangan mengenai penyakit akibat kerja telah cukup banyak.
Ketentuan tersebut terdapat dalam undang-undang yang mengatur keselamatan kerja
dan undang-undang yang mengatur jaminan sosial tenaga kerja beserta peraturan-
peraturan pelaksanaannya. Substansi yang diatur mencakup hal-hal mendasar seperti
pengertian penyakit akibat kerja, cara diagnosis serta penggolongan penyakit dan
ketentuan-ketentuan yang dengan tegas wajib dilaksanakan yaitu kewajiban melapor
penyakit akibat kerja, jaminan sosial terhadap penyakit dimaksud, sanksi-sanksi, dan
lain-lain. Masalah yang dihadapi adalah kepatuhan melaksanakan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Upaya sosialisasi telah sering dilakukan, berbagai upaya penyuluhan dan pendidikan
telah dilakukan. Upaya ini masih terbatas dan hasilnya tidak serta merta menjadikan
perusahaan, pengusaha dan pekerja sepenuhnya patuh kepada ketentuan yang berlaku.
Program sosialisasi bukan aktivitas sesaat melainkan harus terus dilaksanakan secara
berkelanjutan. Masih banyak institusi yang bisa berpartisipasi dalam program
sosialisasi serta demikian pula aneka media masih terbuka luas guna dimanfaatkan.
Dari semua potensi dapat dipilih cara yang lebih efektif agar diraih hasil upaya yang
sebaik-baiknya.
c. Data mengenai penyakit akibat kerja yang bersumber kepada aktivitas pengawasan
dan juga pelaksanaan jaminan sosial terhadap penyakit akibat kerja sebagai suatu
aspek dari jaminan kecelakaan kerja relatif sangat minim. Pertahun tercatat sekitar
100.000 kecelakaan kerja, angka kecelakaan ini pada umumnya terus meningkat,
korban meninggal sebagai akibat kecelakaan kerja pertahunnya berkisar antara 1500
sampai 2000 orang. Data penyakit kerja relatif sangat minim yaitu kurang dari 1%
dari jumlah kasus kasus kecelakaan kerja. Hal ini berbeda dengan temuan penelitian
yang menunjukkan angka sakit dan keparahan yang jauh berbeda dengan data statistik
operasional.
d. Profesi kedokteran kerja adalah dengan kompetensi khusus terhadap penyakit akibat
kerja, yaitu okupasi. Kedokteran okupasi memiliki kolegium yang mempunyai
mengatur kedokteran okupasi.
e. Penyakit akibat kerja masih sangat jarang dilaporkan karena keengganan pihak
perusahaan atau pengurus perusahaan untuk melaporkannya. Perusahaan juga kuatir
akan konsekuensi hukum yang mungkin dihadapi apabila yang bersangkutan
melaporkan penyakit akibat kerja yang dialami oleh tenaga kerja atau pekerja di
perusahaan tersebut.
f. Perlunya koordinasi antara otoritas pengawasan yang menjalankan penegakan hukum
(law enforcement) dan institusi atau organisasi yang melakukan fungsi-fungsi
pelayanan, penyuluhan, pelatihan, pendidikan dan penelitian sehubungan dengan
penyakit akibat kerja.
Agar pencegahan terhadap penyakit akibat kerja dan semua ketentuan yang berlaku bagi
penyakit akibat kerja dapat diselenggarakan dengan baik serta penyelenggaraan jaminan
kecelakaan kerja yang berkaitan dengan penyakit yang disebabkan karena pekerjaan atau
lingkungan kerja dapat terlaksana dengan baik pula, perlu terwujud kesepahaman dan
pemahaman secara benar mengenai pengertian penyakit akibat kerja, metoda diagnosis
penyakit yang disebabkan karena pekerjaan atau lingkungan kerja, jenis penyakit akibat
kerja, deteksi dini terhadap penyakit dimaksud, pencegahan serta penatalaksanaannya.
Selain itu sangat penting peranan koordinasi yang sebaik-baiknya diantara unsur
pengawasan dan penelitian yang bersangkutan. Di atas segalanya pendekatan inovatif
dari semua pihak terkait dituntut untuk meningkatkan perannya dalam upaya promotif,
preventif, kuratif,dan rehabilitatif medis terhadap penyakit akibat kerja serta juga dalam
upaya sehubungan dengan pelaksanaan jaminan kecelakaan kerja yang penyakit akibat
kerja termasuk dalam cakupannya(Markkanen, 2004).
Upaya sosialisasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakit akibat kerja
kepada semua pihak yang bersangkutan dan juga menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan tentang penyakit aibat kerja terutama bagi dokter pemeriksa atau dokter yang
merawat tenaga kerja yang terkena penyakit akibat kerja, dokter penasehat dan pegawai
pengawas ketenagakerjaan merupakan syarat mutlak guna mencapai sukses penanganan
penyakit akibat kerja. Juga sangat penting masuknya penyakit akibat kerja dalam
pendidikan dokter dan berkembangnya profesi kedokteranyang secara khusus berfokus
kepada efek pekerjaan dan lingkungan kerja terhadap kesehatan. Peran penelitian atau
survei lapangan merupakan pintu masuk bagi diketahuinya problema penyakit akibat
kerja yang sebenar-benarnya, temuan yang dihasilkan oleh penelitian/survei perlu
dimanfaatkan seefektif mungkin bagi penatalaksnaan penyakit akibat kerja (Sulistoma,
2002).

Faktor Penyebab terjadinya Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Akibat Kerja antara
lain faktor manusia (pekerja), jenis pekerjaan yang dilakukan dan proses kerja (bahan
baku, peralatan kerja dan lingkungan tempat kerja) (Markkanen, 2004).
Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan (Sulistoma,
2002):
a. Golongan fisik
Contohnya: suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi,
vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik.
b. Golongan kimiawi
Bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang terdapat dalam
lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan dan kabut.
c. Golongan biologis
Bakteri, virus atau jamur
d. Golongan fisiologis
Biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja
e. Golongan psikososial
Lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.

Penggolongan Penyakit Akibat Kerja


Penggolongan Penyakit Akibat Kerja menurut Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993
diatur menurut jenis Penyakit Akibat Kerja. Secara teoritis penggolongan Penyakit
Akibat Kerja dapat pula dibuat atas dasar faktor penyebab yaitu faktor fisik, biologis,
fisiologis/ergonomis dan mental psikologis (Markkanen, 2004).
Keputusan Presiden RI No. 22 tahun 1993 tentang penyakit yang timbul akibat hubungan
kerja (Summamur, 2006):
1. Pneumokoniosis yang disebabkan oleh debu mineral pembentuk jaringan parut
(silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan siliko tuberkulosis yang silikosisnya
merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian.
2. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronchopulmoner) yang disebabkan oleh
debu logam keras.
3. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronchopulmoner) yang disebabkan oleh
debu kapas, vlas, hennep dan sisal (bissinosis).
4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang
yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan.
5. Alvolitis allergika yang disebabkan faktor dari luar sebagai akibat penghirupan
debu organik.
6. Penyakit yang disebabkan oleh berilium atau persenyawaannya yang beracun.
7. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium atau persenyawaannya yang beracun.
8. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor atau persenyawaannya yang beracun.
9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang beracun.
10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaannya yang beracun.
11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaannya yang beracun.
12. Penyakit yang disebabkan oleh air raksa atau persenyawaannya yang beracun.
13. Penyakit yang disebabkan oleh timbal atau persenyawaannya yang beracun.
14. Penyakit yang disebabkan oleh fluor atau persenyawaannya yang beracun.
15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida.
16. Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan hidrokarbon
alifatik atau aromatik yang beracun.
17. Penyakit yang disebabkan oleh benzena atau homolognya yang beracun.
18. Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena atau
homolognya yang beracun.
19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya.
20. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol dan keton.
21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan
seperti karbon monoksida, hidrogen sianida, hidrogen sulfida atau derivatnya yang
beracun, amoniak seng, braso dan nikel.
22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.
23. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot, urat
tulang, persendian, pembuluh darah tepi atau saraf tepi).
24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih.
25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi mengion.
26. Penyakit yang disebabkan oleh penyebab-penyebab fisik, kimiawi atau biologis.
27. Kanker kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, inyak
mineral, antrasena atau persenyawaan produk atau residu dari zat tersebut.
28. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes.
29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat
dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus.
30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau panas radiasi atau
kelembaban udara tinggi.
31. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk bahan obat.
Pedoman Diagnosis dan Penilaian Cacat Karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat
Kerja
Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja pada individu perlu dilakukan suatu
pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan
menginterpretasinya secara tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah
yang dapat digunakan sebagai pedoman (Sulistoma, 2002):
1. Tentukan diagnosis klinisnya
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan
fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk
mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinis ditegakkan baru dapat
dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau
tidak.

2. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini


Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah
esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini
perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti,
yang mencakup:
- Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara
kronologis
- Lama menekuni pekerjaan tersebut
- Bahan yang diproduksi
- Materi (bahan baku) yang digunakan
- Jumlah pajanannya
- Pemakaian alat perlindungan diri
- Pola waktu terjadinya gejala
- Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa)
- Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (Material
Safety Data Sheet/MSDS), label, dan sebagainya.

3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut.


Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat
bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam
kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di
atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam
kepustakaan ada yang mendukung, perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus
mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi,
jumlah, lama, dan sebagainya).

4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat
mengakibatkan penyakit tersebut.
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka
pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut
dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan
diagnosis penyakit akibat kerja.

5. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi.


Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang
dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD), riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat.
Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan
penderita lebih rentan atau lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami.

6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit.


Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab-penyakit. Apakah penderita
mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit.
Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk
menyingkirkan penyebab di tempat kerja.

7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya.


Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah.
Pencegahan Penyakit Akibat Kerja
Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya di lingkungan kerja
ditempuh tiga langkah utama (World Health Organization (WHO), 1997) yakni
(Wichaksana, 2002) :
a. Pengenalan lingkungan kerja
Pengenalan lingkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan
mengenal (walk through inspection), dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-
tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja.
b. Evaluasi lingkungan kerja
Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang
mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi
permasalahan.
c. Pengendalian lingkungan kerja
Pengendalian lingkungan kerja dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan
pemajanan terhadap agen berbahaya di lingkungan kerja .Kedua tahapan sebelumnya,
pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat.
Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang memadai untuk
mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja.

C. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak terduga oleh
karena dibelakang peristiwa itu tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam
bentuk perencanaan. Kecelakaan menurut Sumamur (1987) adalah suatu kerjadian tidak
diduga dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses suatu aktivitas yang telah
diatur. Kecelakaan akibat kerja adalah berhubungan dengan hubungan kerja pada
perusahaan. Hubungan kerja disini dapat berarti bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan
pekerjaan atau pada waktu pekerjaan berlangsung (Silalahi, 2003).

Oleh karena itu, kecelakaan akibat kerja ini mencakup dua permasalahan pokok, yakni
(Aditama, 2002):
1. Kecelakaan adalah akibat langsung pekerjaan
2. Kecelakaan terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan.
Bennett Silalahi dan Rumondang Silalahi menyatakan bahwa kecelakaan kerja adalah
setiap perbuatan atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan.
Adapun pengertian kecelakaan kerja menurut yang lazim berlaku di perusahaan-
perusahaan Indonesia diartikan sebagai suatu peristiwa atau kejadian yang tidak
direncanakan, tidak diharapkan terjadi diperusahaan yang dapat menimbulkan
penderitaan bagi pekerja.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja


Menurut Sumamur (1987) menyatakan bahwa kecelakaan kerja yang terjadi dapat
disebabkan oleh dua faktor, yaitu :
1. Faktor manusia meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja (usia, masa
kerja/pengalaman, kurangnya kecakapan dan lambatnya mengambil keputusan),
disiplin kerja, perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kecelakaan, ketidakcocokan
fisik dan mental. Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pekerja dan karena
sikap yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak mengindahkan
instruksi, kelalaian, melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar.
Kekurangan kecakapan untuk mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran
mengenai pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat, kelelahan
dan penyakit.
2. Faktor mekanik dan lingkungan.
Keadaan dan alat-alat kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Kesalahan letak
mesin, tidak dilengkapi dengan alat pelindung, alat pelindung tidak pakai, alat- alat
kerja yang telah rusak. Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja.
Faktor-faktor keadaan lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan kerja terdiri
dari pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan disini terletak pada
rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan alat kerja tidak pada
tempatnya, lantai yang kotor dan licin. Ventilasi yang tidak sempurna sehingga
ruangan kerja terdapat debu, keadaan lembab yang tinggi sehingga orang merasa
tidak enak kerja. Pencahayaan yang tidak sempurna misalnya ruangan gelap, terdapat
kesilauan dan tidak ada pencahayaan setempat.

Menurut Aditama dan Hastuti (2002) mengelompokkannya sebagai berikut :


1. Faktor Lingkungan Kerja (Work Environment)
a. Faktor Kimia
Disebabkan oleh bahan baku produksi, proses produksi dan hasil produksi
suatu kegiatan usaha. Untuk golongan kimia dapat digolongkan kepada benda-
benda mudah terbakar, mudah meledak dan lainnya.
b. Faktor Fisik
Misalnya penerangan yang cukup baik di luar ruangan maupun di dalam
ruangan, panas kebisingan dan lainnya.
c. Faktor Biologi
Dapat berupa bakteri, jamur, mikroorganisme lain yang dihasilkan dari bahan
baku proses produksi dan proses penyimpanan produksi, dapat juga berupa
binatang-binatang pengganggu lainnya pada saat berada di lapangan atau
kebun.
d. Faktor Ergonomi
Pemakaian atau penyediaan alat-alat kerja, apakah sudah sesuai dengan
keselamatan kerja sehingga pekerja dapat merasakan kenyamanan saat bekerja.
Ergonomi terutama dikhususkan sebagai perencanaan dari cara kerja yang baik
meliputi tata cara bekerja dan peralatan.
e. Faktor Psikologi
Perlunya dibina hubungan yang baik antara sesama pekerja dalam lingkungan
kerja, misalnya antara pimpinan dan bawahan.

2. Faktor Pekerjaan
a. Jam Kerja
Yang dimaksud jam kerja adalah jam waktu bekerja termasuk waktu istirahat
dan lamanya bekerja sehingga dengan adanya waktu istirahat ini dapat
mengurangi kecelakaan kerja.
b. Pergeseran Waktu
Pergeseran waktu dari pagi, siang dan malam dapat mempengaruhi terjadinya
peningkatan kecelakaan akibat kerja.

3. Faktor Manusia (human Factor)


a. Umur Pekerja
Penelitian dalam test refleks memberikan kesimpulan bahwa umur mempunyai
pengaruh penting dalam menimbulkan kecelakaan akibat kerja. Ternyata
golongan umur muda mempunyai kecenderungan untuk mendapatkan
kecelakaan lebih rendah dibandingkan usia tua, karena mempunyai kecepatan
reaksi lebih tinggi. Akan tetapi untuk jenis pekerjaan tertentu sering merupakan
golongan pekerja dengan kasus kecelakaan kerja tinggi, mungkin hal ini
disebabkan oleh karena kecerobohan atau kelalaian mereka terhadap pekerjaan
yang dihadapinya.
b. Pengalaman Bekerja
Pengalaman bekerja sangat ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja.
Semakin lama dia bekerja maka semakin banyak pengalaman dalam bekerja.
Pengalaman kerja juga mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja.
Pengalaman kerja yang sedikit terutama di perusahaan yang mempunyai resiko
tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja akan mengakibatkan besarnya
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.
c. Tingkat Pendidikan dan Keterampilan
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara berpikir dalam menghadapi
pekerjaan, demikian juga dalam menerima latihan kerja baik praktek maupun
teori termasuk diantaranya cara pencegahan ataupun cara menghindari
terjadinya kecelakaan kerja.
d. Lama Bekerja
Lama bekerja juga mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini
didasarkan pada lamanya seseorang bekerja akan mempengaruhi pengalaman
kerjanya.
e. Kelelahan
Faktor kelelahan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja atau turunnya
produktifitas kerja. Kelelahan adalah fenomena kompleks fisiologis maupun
psikologis dimana ditandai dengan adanya gejala perasaan lelah dan perubahan
fisiologis dalam tubuh. Kelelahan kan berakibat menurunnya kemampuan kerja
dan kemampuan tubuh para pekerja.

Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh berbagai penyebab, teori tentang terjadinya
suatu kecelakaan adalah (Sumamur, 1987):
1. Teori kebetulan Murni (Pure Chance Theory), yang menyimpulkan bahwa kecelakaan
terjadi atas kehendak Tuhan, sehingga tidak ada pola yang jelas dalam rangkaian
peristiwanya, karena itu kecelakaan terjadi secara kebetulan saja.
2. Teori Kecenderungan Kecelakaan (Accident prone Theory), pada pekerja tertentu
lebih sering tertimpa kecelakaan, karena sifat-sifat pribadinya yang memang
cenderung untuk mengalami kecelakaan kerja.
3. Teori Tiga Faktor (Three Main Factor), menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan
peralatan, lingkungan dan faktor manusia pekerja itu sendiri.
4. Teori Dua Faktor (Two main Factor), kecelakaan disebabkan oleh kondisi berbahaya
(unsafe condition) dan tindakan berbahaya (unsafe action).
5. Teori Faktor Manusia (Human Factor Theory), menekankan bahwa pada akhirnya
seluruh kecelakaan kerja tidak langsung disebabkan karena kesalahan manusia.

Klasifikasi Kecelakaan Kerja


Klasifikasi kecelakaan kerja menurut Organisasi perburuhan Internasional tahun 1962
adalah sebagai berikut ( Bukhari, 2007) :
1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
a. Terjatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Tertumbuk atau terkena benda-benda, terkecuali benda jatuh
d. Terjepit oleh benda
e. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan
f. Pengaruh suhu tinggi
g. Terkena arus listrik
h. Kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi
i. Jenis-jenis lain, termasuk kecelakaan yang dayanya tidak cukup atau kecelakaan
lain yang belum masuk klasifikasi tersebut.

2. Klasifikasi menurut penyebab


a. Mesin
pembangkit tenaga, terkecuali motor-motor listrik
mesin penyalur (transmisi)
mesin untuk mengerjakan logam
mesin pengolah kayu
mesin pertanian
mesin pertambangan
mesin lain yang tidak termasuk klasifikasi tersebut

b. Alat angkut dan alat angkat


mesin angkat dan peralatannya
alat angkutan di atas rel
alat angkutan lain yang beroda, terkecuali kereta api
alat angkutan udara
alat angkutan air
alat angkutan lain
c. Peralatan lain
bejana bertekanan
dapur pembakar dan pemanas
instalasi pendingin
instalasi listrik, termasuk motor listrik, tidak dikecualikan alat-alat listrik
(tangan)
alat-alat listrik (tangan)
alat-alat kerja dan perlengkapannya, kecuali alat-alat listrik
tangga
perancah (steger)
peralatan lain yang belum termasuk klasifikasi tersebut

d. Bahan-bahan, zat-zat dan radisai


bahan peledak
debu, gas, cairan dan zat-zat kimia, terkecuali bahan peledak
benda-benda melayan
radiasi
bahan-bahan dan zat-zat yang belum termasuk golongan tersebut

e. Lingkungan kerja
di luar bangunan
di dalam bangunan
di bawah tanah
f. Penyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan tersebut
hewan
penyebab lain

Kecelakaan Kerja di Perkebunan


Bentuk kecelakaan kerja di perkebunan, khususnya perkebunan sawit dan karet adalah
tertimpa pelepah dan buah, mata terkena kotoran dan tatal (getah) bagi buruh bagian
panen dan pembersihan lahan.Terkena tetesan gromoxone, roun-dup dan terhirup racun
pestisida, fungisida dan insektisida terutama pekerjaan yang berhubungan dengan
penyemprotan. Bentuk kecelakaan kerja tersebut berdampak pada resiko cacat anggota
tubuh seperti mata buta bagi pemanen buah sawit dan penderes karet, cacat kelahiran
terutama bagi wanita penyemprot, bahkan menemui ajal ketika tertimpa tandan buah
segar (TBS).

Umumnya penyebab kecelakaan kerja adalah tempat kerja yang tidak aman seperti
lokasi yang tidak rata menyulitkan memanen, lokasi kerja bersemak tempat bersemainya
binatang berbisa jalan licin dan berlobang terpeleset. Serta budaya kerja kurang beradap
seperti alat pelindung kerja tidak cukup atau tidak memenuhi standar keselamatan kerja
dan perilaku tidak mengindahkan kerja yang benar terutama akibat minimnya sosialisasi
dan pelatihan kerja bagi buruh perkebunan. Dengan demikian di sektor perkebunan,
potensi kecelakaan kerja cukup tinggi (Bennet dan Rumondang, 2003).
Sedangkan penyebab kecelakaan kerja di perkebunan umumnya
disebabkan oleh :
1. Lingkungan kerja fisik oleh pemakaian alat/mesin (suar, panas, sinar, dan lain-
lain)
2. Lingkungan kerja kimia oleh pemakaian bahan kimia (pupuk, pestisida, dan lain-
lain)
2. Lingkungan kerja biologis oleh makhluk hidup (babi, tikus, landak, lalat
anclylostoma, dan lain-lain)
3. Lingkungan kerja ergonomi oleh pemakaian alat yang tidak sesuai dengan
keterbatasan kemampuan anatomi dan fisiologis tenaga kerja. Lingkungan kerja
umumnya disebabkan oleh suasana kerja, lokasi pemukiman jauh dari kota.
4. Human Error (sikap kerja (Sumber daya manusia) yang salah).
Kecelakaan kerja yang mungkin terjadi pada sektor kerja perkebunan
adalah sebagai berikut :
1. Pembukaan Lahan
Luka akibat pemakaian alat pertanian untuk pembukaan lahan seperti parang, babat,
kampak, cidera akibat tertimpa pohon yang tumbang, serangan binatang buas dapat
juga menimbulkan cidera sedangkan digigit ular dapat menimbulkan kondisi yang
fatal akibat racun ular.
2. Pemeliharaan Tanaman
Pemakaian alat babat, cangkul, dodos, dan lain-lain dapat mengancam terjadinya
kecelakaan kerja bila tidak dilaksanakan dengan sikap kerja yang kurang hati-hati,
luka oleh duri sawit juga merupakan ancaman bagi pekerja pemeliharaan tanaman
sedangkan iritasi kulit dan keracunan bahan kimia dapat terjadi akibat pemakaian
pestisida dan pupuk, malahan terjadi nekrose jaringan tubuh akibat kena tetesan
pestisida yang pekat.
3. Panen
Kecelakaan akibat menggunakan alat panen yang tidak ergonomis terutama untuk
lokasi yang dipanen cukup tinggi seperti penggunaan egrek dapat menyebabkan
pemanen kena timpa buah yang dipanen.
4. Pengolahan
Kecelakaan kerja dapat terjadi akibat pemakaian boiler, luka oleh cutting machine,
jari terpotong oleh proses machine dan ancaman kecelakaan kerja oleh house keeping
yang jelek seperti susunan barang hasil panen yang tidak teratur, tangga yang curam,
lantai yang licin yang dapat menimbulkan tertimpa barang, terjatuh dari tangga dan
terpeleset.
5. Gudang
Dapat juga terjadi kecelakaan kerja di gudang yang merupakan lokasi penyimpanan
pupuk, bahan kimia dan lain-lain akibat house keeping yang jelek. Penyimpanan
Bahan Bakar Minyak (BBM) harus diawasi dengan ketat untuk mencegah terjadinya
kecelakaan untuk kebakaran.
6. Kabel Listrik
Kurang terpeliharanya kabel listrik (tegangan listrik) terutama dibangunan perusahaan
dapat mengundang terjadinya kebakaran.
Pencegahan Kecelakaan Akibat Kerja
1. Menurut Bennett NBS (2003) bahwa teknik pencegahan kecelakaan harus didekati
dengan dua aspek, yakni : 8
a. Aspek perangkat keras (peralatan, perlengkapan, mesin, letak, dan
b. sebagainya)
c. Aspek perangkat lunak (manusia dan segala unsur yang berkaitan)

2. Menurut Bukhari (2007) bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan


kerja professional dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut :
a. Memperkecil (menekan) kejadian yang membahayakan dari mesin, cara kerja,
material dan struktur perencanaan
b. Memberikan alat pengaman agar tidak membahayakan sumber daya yang ada
dalam perusahaan tersebut
b. Memberikan pendidikan (training) kepada tenaga kerja atau karyawan
c. tentang kecelakaan dan keselamatan kerja
d. Memberikan alat pelindung diri tertentu terhadap tenaga kerja yang berada pada
area yang membahayakan.

3. Menurut Sumamur (2006), kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah


dengan 12 hal berikut :
a. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan
b. mengenai kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi,
c. perawatan dan pemeliharaan , pengawasan, pengujian dan cara kerja
d. peralatan industri, tugas-tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi
e. medis, P3K dan pemeriksaan kesehatan.
a. Standarnisasi yang ditetapkan secara resmi, setengah resmi atau tidak
f. resmi mengenai misalnya syarat-syarat keselamatan sesuai instruksi
g. peralatan industri dan alat pelindung diri (APD)
a. Pengawasan, agar ketentuan UU wajib dipatuhi
h. Penelitian bersifat teknik, misalnya tentang bahan-bahan yang berbahaya,
i. pagar pengaman, pengujian APD, pencegahan ledakan dan peralatan
j. lainnya.
k. Riset medis, terutama meliputi efek fisiologis dan patalogis, faktor
l. lingkungan dan teknologi dan keadaan yang mengakibatkan kecelakaan.
m. Penelitian psikologis, meliputi penelitian tentang pola-pola kewajiban
n. yang mengakibatkan kecelakaan.
o. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang
p. terjadi.
q. Pendidikan
r. Latihan-latihan
s. Penggairahan, pendekatan lain agar bersikap yang selamat
t. Asuransi, yaitu insentif financial untuk meningkatkan pencegahan
u. kecelakaan
v. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan