Anda di halaman 1dari 7

Definisi Arsitektur Sustainable (Berkelanjutan)

Sustainable Architecture adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk
mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar
bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan
lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri,
kehutanan, dan tentu saja arsitektur.

Penerapan Arsitektur Berkelanjutan

Efisiensi penggunaan energi

Efisiensi penggunaan lahan

Efisiensi penggunaan material

Penggunaan teknologi dan material baru

Manajemen limbah

SUSTAINABLE CONSTRUCTION ASSESSMENT TOOLS (SCAT)

SCAT merupakan alat bantu untuk mengukur dan memberi penilaian apakah sebuah
bangunan cukup sustainable atau tidak. Software ini dikembangkan oleh Departemen
Sustainable Construction PT Holcim Indonesia Tbk.
Ada 3 indikator utama yang diangkat menjadi isu utama alat bantu ini. Tiap indikator utama
tersebut membawahi beberapa sub-point kriteria yang harus diberi penilaian secara
kuantitatif.

Indikator sosial meliputi:

o Kenyamanan pengguna bangunan

o Akses dalam bangunan

o Kemudahan akses menuju lokasi bangunan

o Partisipasi dan kontrol

o Segala hal yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan keselamatan


Indikator ekonomi meliputi:

o Pendayagunaan komponen lokal demi memajukan pendapatan lokal

o Efisiensi bangunan

o Fleksibilitas dalam tata ruang dalam dan luar bangunan

o Biaya biaya yang keluar sejak proyek bangunan akan dimulai

o Alokasi total dana yang dipakai untuk membangun

Indikator Lingkungan meliputi:

o Penggunaan air

o Penggunaan energi

o Pengolahan limbah

o Pemilihan material dan komponen bahan

o Situasi site
Contoh Bangunan Sustainable

Grha Wonokoyo

Lokasi : Gresik, Surabaya

Fungsi : Markas Besar perusahaan pakan Wonokoyo

Tinggi Bangunan : 10 Lantai, 47 Meter

Arsitek : Jimmy Priatman

Penghargaan : Penghargaan dari ASEAN Center for Energy (ACE)


Penerapan Prinsip Arsitektur Berkelanjutan :

1. Efisiensi Penggunaan Energi

Bangunan hanya menggunakan energy sebanyak 88 kWh/m2/tahun, hal ini


jauh di bawah standar yang ditetapkan ACE sebesar 200 kWh/m2/tahun.

Sistem pencahayaan, Siang hari memaksimalkan cahaya alami untuk


pencahayaan umum. Secara prinsip, demi mencapai hemat energi, upaya yang
diterapkan adalah menggunakan kombinasi local lighting, spot lighting, dan
skylight.Organisasi ruang kerja kantor berhubungan erat dengan sistem pencahayaan
alami. Pada sore dan malam hari, pencahayaan buatan yang digunakan sangat efisien.

Sistem penghawaan, Penghawaan menggunakan AC dengan sistem hemat


energi (Variable Refrigerant Volume),ramah lingkungan, zone control,dan waterless
operation.Efisiensi penggunaan lampu dan AC, utamanya pagi hingga menjelang
siang hari. Reduksi beban pendinginan AC disiasati dengan konfigurasi bentuk dan
orientasi masa bangunan dan perancangan selubung bangunan. Sehingga peranan
perancangan fasadebangunan sangat penting dalam mencapai kenyamanan thermal
ruang dengan orientasi hemat energi
2. Efisiensi Penggunaan Lahan

Perancangan menggunakan analisis diagram sun path untuk


menentukan arah hadap, fasade, dan organisasi ruang. Arah hadap utama adalah
Barat, (jalan raya utama). Strategi yang diterapkan adalah massa bangunan depan
berupa area penerima 2 lantai, tengah adalah transisi 4 lantai, dan berakhir pada
menara 10 lantai sebagai klimaks (membujur Utara-Selatan sesuai tapak). Lay out
menara terbagi atas zona perkantoran pada sisi Selatan dan Timur. Zona thermal
barrier berada di sisi Barat, dengan penempatan ruang penerima, ruang rapat kolektif,
dan service core, sedangkan zona thermal barrier di sisi Utara, untuk kegiatan
outdoor,unit AC, pantrydan ruang arsip.

3. Efisiensi Penggunaan Material

Lantai menggunakan marmer, keramik, karpet, dan kayu. Dinding bangunan


menggunakan metal cladding-indal dan high performance glass-stopsol Asahi dilapis
V-kool untuk mereduksi cooling load. Atap menggunakan tegola dan multipleks.
Langit-langit lobbymenggunakan perforated alumunium dan acrylic pada area
skylight. Perabot bernuansa kaca, logam, dan kayu.

4. Penggunaan teknologi dan material baru

Sumber polusi dari aktivitas dalam ruang (meterial finishing, maintenance,


dan perangkat kerja). Penanggulangan menggunakan AC yang berfasilitas filter udara
kotor dan mengalirkan udara bersih dan siste maintenanceyang ketat. Estimasi
ketersediaan udara segar (oksigen) melalui AC dan bukaan (pintu dan jendela) yang
diterapkan adalah 20 CFM per orang dalam ruang kerja, sedang standar ketersediaan
udara segar (oksigen) minimal adalah 15 CFM (Cubic Feet/Meter). Sehingga ada
garansi cukup untuk ketersediaan udara segar dalam ruang.
5. Manajemen limbah

Sumber air bersih dari PDAM yang disimpan dalam tandon air bawah dan
atas, serta dialirkan ke titik-titik keluar air dengan sistem gravitasi. Karena kebutuhan
air hanya terbatas pada aktivitas kerja siang hari, maka efisiensi penggunaan dapat
diterapkan. Dapur hanya dirancang untuk aktivitas memasak bersih, dan toilet
menggunakan teknologi efisiensi air, serta tidak ada fasilitas kamar mandi.
Pengolahan air buangan menggunakan STP (Sewage Treatment Plant) dengan sistem
rotor disk, sebelum dialirkan ke sistem buangan public.

Aspek aspek Sustainable berdasarkan SCAT

Sosial

o Hampir mencakup semua kriteria yang ada, kenyamanan pengguna benar


benar diperhatikan dengan menciptakan bukaan bukaan yang tinggi (3,75 m)
sehingga hanya 1 m area lantai kantor yang tidak terkena cahaya matahari.
Pencahayaan alami terbukti meningkatkan tingkat produktivitas kerja. Selain
itu, lokasi bangunan berada di daerah strategis sehingga memudahkan
pencapaian ke gedung ini dengan transportasi publik.

Ekonomi
o Pemilik grha ini melibatkan kontraktor dan arsitek lokal dalam
pembangunannya, serta sebagian besar komponen dan material menggunakan
produk lokal.
o Efisiensi bangunan ditunjukkan melalui tingkat hunian yang tinggi yaitu
mencapai 85%, dengan jam operasional 8 jam sehari.
o Efisiensi berinteraksi juga dipertimbangkan dengan mengalokasikan satu
lantai untuk satu divisi.
o Fleksibilitas ruang ditunjukkan antara lain dengan plafon dengan tinggi lebih
dari 3 m, dan tiap lantainya tidak menggunakan partisi permanen sehingga
dapat dibongkar dan dengan mudah dialihfungsikan untuk kebutuhan yang
lain.
Lingkungan
o Mematikan AC secara otomatis pada jam istirahat dan pada jam 16.00
o Pemanfaatan potensi cahaya matahari sebagai penerangan alami pada jam
jam kerja, lampu hanya dinyalakan saat kondisi cuaca ekstrem, misalnya
mendung.
o Dari sisi penghematan air, dilakukan efisiensi system plumbing yang
dipusatkan dalam satu area core plumbing.
o Dampak yang signifikan dari penghematan energi ini adalah running cost bias
ditekan sampai 40% jika dibandingkan bangunan bangunan lain yang
berskala hampir sama.

Hasil penilaian menggunakan SCAT oleh

Sumber :

- http://riandito.blogspot.co.id/2009/10/sustainable-architecture_16.html

- http://download.portalgaruda.org/article.php

- https://www.academia.edu/18045421/ARSITEKTURE_DAN_LINGKUNGAN