Anda di halaman 1dari 216

BAB 1

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Status kesehatan di suatu Negara ditentukan salah satunya oleh Angka Kematian Ibu (AKI)
dan Angka Kematian Bayi (AKB),apabila AKI dan AKB nya kecil maka dikatakan status
kesehatan negara tersebut baik. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) yang masih tinggi telah lama menggundang perhatian pemerintah . Menurut hasil
berbagai survei, tinggi rendahnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) disuatu Negara dapat dilihat dari kemampuan untuk memberikan pelayanan obstetric
yang bermutu dan menyeluruh.

Setiap tahun sekitar 160 juta perempuan di seluruh dunia hamil. Sebagian besar
kehamilan ini berlangsung dengan aman.Namun,sekitar 15 % menderita komplikasi
berat,dengan sepertiganya merupakan komplikasi yang mengancam jiwa ibu.Komplikasi ini
mengakibatkan kematian lebih dari setengah juta ibu setiap tahun.Dari jumlah ini
diperkirakan 90 % terjadi di Asia dan Afrika subsahara,10 % di negara berkembang
lainnnya,dan kurang dari 1 % di negara- negara maju.Di beberapa negara risiko kematian ibu
lebih tinggi dari 1 dalam 10 kehamilan,sedangkan di negara maju risiko ini kurang dari 1
dalam 6000.

Secara global 80 % kematian ibu tergolong pada kematian ibu langsung.Pola


penyebab langsung dimana-mana sama,yaitu perdarahan ( 25 % biasanya perdarahan pasca
persalinan ),sepsis ( 15 % ),hipertensi dalam kehamilan ( 12 % ),partus macet (8 %
),komplikasi aborsi tidak aman ( 13%),dan sebab sebab lain ( 8%).

Diperkirakan dari setiap ibu yang meninggal dalam kehamilan,persalinan atau nifas
16-17 ibu menderita komplikasi yang mempengaruhi kesehatan mereka,umumnya
menetap.Penyebab utama kematian ibu telah diuraikan diatas,yaitu
perdarahan,infeksi,hiperttensi dalam kehamilan,partus macet,dan aborsi.Kesakitan ibu terdiri
atas komplikasi ringan sampai berat berupa komplikasi permanen ata menahun yang terjadi
sesudah masa nifas.Contohnya komplikasi ini adalah fistula,inkontinensi urine,parut
uterus,penyakit randang panggul,palsi,dan sindrom Sheehan.

WHO memperkirakan sekitar 10% kelahiran hidup mengalami komplikasi perdarahan


pascapersalinan.Komplikasi paling sering dari perdarahan pascapersalinan adalah
anemia.Jika kehamilan terjadi pada seorang ibu yang telah menderita anemia,maka
perdarahan pascapersalinan dapat memperberat keadaan anemia dan dapat berakibat fatal.

Dalam rencana strategik nasional making pregnancy safer ( MPS ) di Indonesia


disebutkan bahwa dalam konteks rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat
adalah menurukan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem
kesehatan untuk menjamin akses terhadap intervensi yang cost effective berdasarkan bukti
ilmiah yang berkualitas,memberdayakan wanita,keluarga dan masyarakat melalui kegiatan
yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir,serta menjamin agar kesehatan
maternal dan neonatal dipromosikan dan dilestarikan sebagia prioritas program pembangunan
nasional.

Umumnya ukuran yang dipakai untuk menilai baik - buruknya keadaan pelayanan
kebidanan ( maternity care) dalam suatu negara atau daerah adalah kematian metrnal
(maternal mortality ).Menurut defenisi WHOkematian maternal ialah kematian seorang
wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berkhirnya kehamilan oleh sebab
apapun,terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri
kehamilan.Sebab-sebab kematian ini dapat dibagi 2 golongan,yakni yang langsung
disebabkan oleh komplikasi-komplikasi kehamilan,persalinan dan nifas dan sebab yang lain
seperti penyakit jantung,kanker dan sebagainya.Angka kematian maternal ( maternal
mortality rate ) ialah jumlah kematian maternal diperhitungkan terhadap 1000 atau 10000
kelahiran hidup.

Dengan tercapainya kematian maternal tersebut,maka sekarang kematian bayi


dianggap sebagai ukuran yang lebih baik serta lebih peka untuk menilai kualitas pelayanan
kebidanan.Untuk itu digunakan angka kematian perinatal ( perinatal mortality rate ) yang
terdiri jumlah anak yang tidak menunjukan tanda-tanda hidup waktu dilahirkan,ditambah
dengan jumlah anak yang meninggal dalam minggu pertama dalam kehidupannya,untuk 1000
kelahiran.Penurunan jumlah kematian perinatal dapat dicapai disamping dengan menbuat
persalinan seaman-amannya bagi bayi dengan mengusahakan agar janin dalam kandungan
dapat hidup dalam kondisi sebaik-baiknya.Hal ini menjadi dorongan kuat untuk lebih
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi janin dalam uterus,termasuk apa yang
menyebabkan prematuritas ( sebagian besar bayi yang meninggal dalam minggu pertama
ialah bayi prematur ).Perkembangan ini membuka bidang yang luas serta baru bagi ilmu
kebidananan

Sedangkan angka kematian bayi ( infant mortality rate ),yakni angka kematian bayi
dalam 1 tahun,dinegara negara maju telah turun dengan cepat ,mencapai 25 per 1000.Di
negara maju penyelenggaraan pelayanan kebidanan beraneka ragam.Bentuknya angat
tergantung dari perkembangan historis di negara masing-masing.

Dari hasil yang sudah kita ketahui diatas maka asuhan kehamilan sangat diperlukan karena
dalam masa ini janin dalam rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan yang saling
mempengaruhi, sehingga kesehatan ibu yang optimal akan meningkatkan kesehatan,
pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pengawasan
antenatal sebanyak 4 kali.

Asuhan persalinan diberikan kepada klien saat persalinan dengan memperhatikan


prinsip asuhan sayang ibu dan sayang bayi yang merupakan bagian dari persalinan yang
bersih dan aman. Salah satu bentuk dari asuhan persalinan yaitu menghadirkan keluarga atau
orang-orang terdekat pasien untuk memberikan dukungan bagi ibu.

Asuhan masa nifas dibutuhkan dalamperiode ini karena merupakan masa kritis baik
bagi ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi
setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. 5.

Asuhan masa neonatus sangat diprioritaskan karena merupakan masa kritis dari
kematian bayi. Dua per tiga dari kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan.
60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan
yang teratur pada waktu nifas dan bayinya, dapat mencegah mortalitas dan morbiditas ibu dan
bayinya.

Atas dasar itu maka upaya untuk meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal
menjadi sangat strategis bagi upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Usaha tersebut dapat dilihat dari penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi
baru lahir

Dari uraian di atas penulis sangat tertarik untuk melakukan Asuhan Kebidanan secara
Komprehensif pada Ny Nuriana di Klinik Bersalin Santi Meliala Jl.Starban Polonia Medan
Tahnu 2015 dimana penulis mengkaji dan mengikuti proses kehamilan 28 minggu sampai
masa nifas 42 hari.

1.2 Tujuan Penulisan

1.2.1 Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman secara nyata dalam melakukan asuhan
kebidanan secara komprehensif pada ibu hamil, bersalin, nifas, perawatan bayi baru lahir dan
KB.

1.2.2 Tujuan Khusus

1.Mahasiwa mampu melakukan pengkajian suhan kebidanan pada ibu hamil,bersalin,nifas


dan bayi baru lahir.

2.Mahasiswa mampu menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah


dalam pemberian asuhan kebidanan pada ibu hamil,bersalin,nifas dan bayi baru lahir.

3.Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa asuhan kebidanan pada ibu


hamil,bersalin,nifas,dab bayi baru lahir

4.Mahasiswa mampu menerapkan kebutuhan terhadap tindakan segera baik


mandiri,kolaborasi maupun merujuk dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu
hamil,bersalin,nifas,dab bayi baru lahir
5.Mahasiswa mampu menyusun rencana asuhan menyeluruh dengan tepat dan rasional
berdasarkan kebutuhan ibu hamil,bersalin,nifas,dan abyi baru lahir

6.Mahasiswa mampu menerapkan tindakan asuhan ini sesuai rencana yang efisies dan aman
pada ibu hamil,bersalin,nifas,dan bayi baru lahir

1.3 Ruang Lingkup

Dalam penulisan laporan studi kasus ini membahas Manajemen Kebidanan


Komprehensif pada Ny Nuriana mulai dari pengawasan kehamilan, persalinan, perawatan
pada masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelaksanaan program KB pada periode
setelah nifas ini.

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat bagi institusi

Sebagai bahan dari hasil yang sudah kita ketahui diatas maka asuhan kehamilan sangat
diperlukan karena dalam masa ini janin dalam rahim dan ibunya merupakan satu kesatuan
yang saling mempengaruhi, sehingga kesehatan ibu yang optimal akan meningkatkan
kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan
pengawasan antenatal sebanyak 4 kali.

Asuhan persalinan diberikan kepada klien saat persalinan dengan memperhatikan


prinsip asuhan sayang ibu dan sayang bayi yang merupakan bagian dari persalinan yang
bersih dan aman. Salah satu bentuk dari asuhan persalinan yaitu menghadirkan keluarga atau
orang-orang terdekat pasien untuk memberikan dukungan bagi ibu.

Asuhan masa nifas dibutuhkan dalamperiode ini karena merupakan masa kritis baik
bagi ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi
setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. 5.

Asuhan masa neonatus sangat diprioritaskan karena merupakan masa kritis dari
kematian bayi. Dua per tiga dari kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan.
60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan
yang teratur pada waktu nifas dan bayinya, dapat mencegah mortalitas dan morbiditas ibu dan
bayinya.

Atas dasar itu maka upaya untuk meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal
menjadi sangat strategis bagi upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Usaha tersebut dapat dilihat dari penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi
baru lahir

Dari uraian di atas penulis sangat tertarik untuk melakukan Asuhan Kebidanan secara
Komprehensif pada Ny Nuriana di Klinik Bersalin Santi Meliala di Starban Polonia Medan.
1.3 Ruang Lingkup

Dalam penulisan laporan studi kasus ini membahas Manajemen Kebidanan


Komprehensif dengan menggunkan 7 langkah Helen Varney pada Ny N mulai dari
pengawasan kehamilan, persalinan, perawatan pada masa nifas, perawatan bayi baru lahir,
hingga pelaksanaan program KB.

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat bagi institusi

Sebagai bahan dokumentasi, bahan perbandingan dan evaluasi dalam pelaksanaan program
studi selanjutnya.

1.4.2 Manfaat bagi lahan praktek

Dapat memberikan pelayanan yang komprehensif sehingga komplikasi kehamilan,


persalinan, nifas dan bayi baru lahir dapat terdeteksi sedini mungkin.

1.4.3 Manfaat bagi pasien komprehensif

Dapat lebih mengetahui dan lebih paham akan status kesehatannnya dalam masa kehamilan,
persalinan, nifas maupun saat perawatan bayi baru lahir, dan pelaksanaan program KB.

1.4.4 Manfaat bagi mahasiswa

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang asuhan kebidanan komprehensif pada
ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir dan ibu nifas, dan pelaksanaan program KB

an dokumentasi, bahan perbandingan dan evaluasi dalam pelaksanaan program studi


selanjutnya.

1.4.2 Manfaat bagi lahan praktek

Dapat memberikan pelayanan yang komprehensif sehingga komplikasi kehamilan,


persalinan, nifas dan bayi baru lahir dapat terdeteksi sedini mungkin.

1.4.3 Manfaat bagi pasien komprehensif

Dapat lebih mengetahui dan lebih paham akan status kesehatannnya dalam masa kehamilan,
persalinan, nifas maupun saat perawatan bayi baru lahir, dan pelaksanaan program KB.

1.4.4 Manfaat bagi mahasiswa

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang asuhan kebidanan komprehensif pada
ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir dan ibu nifas, dan pelaksanaan program KB
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.KEHAMILAN

1.Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah mata rantai yang berkesinambungan yang merupakan proses ovulasi
pelepasan ovum,Kemudian terjadi migrasi spermatozoa dan ovum kemudian terjadi konsepsi
dengan pertumbuhan zigot, terjadilah nidusi (implantasi) pada hasl konsepsi sampai
aterm,(Manuaba, 1999 : 95).

Kehamilan adalah dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari ( 40 minggu atau 9 bulan 7 hari ) di hitung dari hari pertama haid terakhir.

Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan, yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai
3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan
ketujuh sampai 9 bulan,( Saifuddin, 2006 : 89).

1.PERUBAHAN ANATOMI FISIOLOGI PADA KEHAMILAN

Perubahan anatomi dan fisiologis padakehamilanterjadi pada:

a.Sistem Reproduksi Dan Payudara

a. Uterus
Selama kehamilan uterus akan beradaptasi untuk menerima dan melindungi hasil
konsepsi(Janin,plasenta,amnion) sampai persalinan.Uterus mempunyai kemampuan yang
luar biasa untuk bertambah besar dengan cepaat selama masa kehamilan dan pulih
kembali seperti semula dalam beberapa minggu setelah persalinan.Pada perempuan tidak
hamil uterus mempunyai berat 70 gr dan kapasitas 10 ml atau kurang.
Selama kehamilan,uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu
menampung janin,plasenta dan cairan amnion. Pembesaran uterus meliputi pereganagan
dan penebalan sel-sel otot,sementara produksi miosit yang baru sangat
terbatas.bersamaan dengan hal itu terjadi akumulasi jaringan ikat dan elastik,terutama
pada lapisan otot luar.kerja sama tersebut akan meningkatkan kekuatan dinding
uterusDaerah korpus pada bulan bulan pertama akan menebal,tetapi seiring dengan
bertambahnya usia kehamilan akan menipis. Pada akhir kehamilan ketebalannyahanya
berkisar 1,5 cm bahkan kurang.

Pada awal kehamilan penebalan uterus distimulasi terutama oleh hormon estrogen
dan progesteron.Pada minggu-migggu pertama kehamilan uterus masih seperti bentuk
aslinya seperti bentuk buah avokad,seiring dengan perkembangan kehamilannya,daerah
fundus dan korpus akan membulat dan akan menjadi bentuk sferis pada usia kehamilan
12 minggu. Ismus uteri pada minggu pertama mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri
yang mengakibatkan ismus menjadi lebih panjang dan lunak yang di kenal dengan tanda
Hegar.

Sejak trimester pertama kehamilan uterus akan mengalami kontraksi yang tidak
teratur dan umumnya tidak di sertai nyeri.pada trimester kedua kontraksi ini dapat di
deteksi dengan pemeriksaan Bimanual.fenomena ini pertama kali di perkenalkan oleh
braxton Hicks pada tahun 1872 sehingga di sebut dengan kontraksi bracton
hicks.Kontraksi ini muncul tiba tiba dan sporadik,intesitanya bervariasi antara 5 25
mmHg.Sampai bulan terakhir kehamilan biasanya kontraksi ini sangat jarang dan
meningkat pada satu atau dua minggu sebelum persalinan.Hal ini erat kaitannya dengan
meningkatnya jumlah reseptor oksitosin dan gap junction diantara sel sel
miometrium.Pada saat ini kontraksi akan terjadi setiab 10 sampai 20 menit, dan pada
akhr kehamilan kontraksi ini akan menyebabkan rasa tidak nyaman dan dianggap sebagai
persalinan palsu.

Usia kehamilan Besar uterus

8 Minggu Telur bebek


12 Minggu Telur angsa

16 Minggu Tinju orang dewasa

28 Minggu 3 jari dibawah pusat

32 Minggu jarak pusat ke prossesus xypoideus

36 Minggu 1 jari dibawah prossesus xypoideus

40 Minggu 3 jari dibawah prosessus xypoideus

b. Serviks
Seviks manusia merupakan organ yang kompleks dan heterogen yang mengalami
perubahan luar biasa selama kehamilan dan persalinan. Serviks didominasi jaringan ikat
fibrosa. Komposisinya berupa jaringan dan matriks ekstraseluler terutama mengandung
kolagen dengan elastin dan proteoglikan dan bagian sel yang mengandung otot dan
fibroblas,epitel serta pembulh darah.Rasio relatif jaringan ikat terhadap otot tidak sama
sepanjang serviks yang semakin ke distal rasio ini semakin besar.

Pada perempuan yang tidak hamil berkas kolagen pada serviks terbungkus rapat
dan tidak beraturan.Selama kehamilan,kolagen secara aktif disintesis dan secara terus
menerus diremodel oleh kolagenase,yang disekresi oleh sel sel serviks dan
neutrofil.Kolagen didegrasi oleh kolagenase intraseluler yang menyingkirkan struktur
prokolagen yang tidak sempurna untuk mencegah pembentukan kolagen yang lemah dan
kolagenase ekstraseluler yang secara lambat akan melemahkan matriks kolagen agar
persalinan dapat berlangsung.

Perubahan ditemukan sebulan setelah konsepsi ,perubahan kekenyalan,tanda


goodel serviks menjadi lunak warna menjadi biru,membesar ( oedem ) pembuluh darah
menigkat,lendir menutupi oesteum uteri ( kanalis servikalis ) serviks menjadi lebih
mengkilap.Vaskularisasi ke serviks meningkat selama kehamilan sehingga serviks
menjadi lebih lunak dan warnanya lebih biru.Perubahan serviks terutama terjadi atas
jaringan fibrosa.Glandula servikalis mensekresikan lebih banyak mucus dan plak bahan
mukus yang akan menutupi kanalis servikalis dan untuk memperkecil resiko infeksi
genetalia yang meluas keatas. Menjelang akhir kehamilan kadar hormon relaksin

memberikan [engaruh perlunakan kandungan kolagen pada serviks.

c. Vagina dan Vulva


Vagina dan serviks akibat hormon estrogen selama kehamilan akan mengalami
perubahan juga karena adanya hipervaskularisasi yang mengakibatkan vagina dan vulva
tampak lebih merah agak kebiru-biruan (livide) disebut tanda chadwick.Vagina membiru
karena pelebaran pembuluh darah,PH 3,5 6 merupakan akibat meningkatnya produksi
asam laktat karena kerja laktobaci acidophilus,keputihan,selaput lendir vagina
mengalami edematus,hypertropy,lebih sensitifmeningkat seksual terutama triwulan III.

d. Ovarium
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan pematangan folikel baru juga
ditunda. Hanya satu korvus luteum yang dapat ditemukan di ovarium.Folikel ini akan
berfungsi maksimal selama 6 - minggu awal kehamilan dan setelah itu akan berperan
sebagai penghasil progesteron dalam jumlah yang relatif minimal.

Relaksin suatu hormon protein yang mempunyai struktur mirip dengan insulin
dan insulinlike growth factor I Dan II disekresikan oleh korpus luteum,desidua,plasenta
dan hati. Aksi biologi utamanya adalah dalam proses remodelling jaringan ikat pada
saluran reproduksi yang kemudian akan mengakomodasi kehamilan dan keberhasilan
proses persalinan.Perannya belum diketahui secara menyeluruh tetapi diketahui
mempunyai efek pada perubahan struktur bioimia serviks dan kontraksi miometrium
yang akan berimplantasi pada kehamilan preterm.

e. Perubahan pada payudara (Mammae)


Pada awal kehamilan perempuan akan merasakan payudaranya menjadi lebih
lunak.Setelah bulan kedua payudara akan bertambah ukurannya dan vena vena
dibawah akan lebih terlihat,puting payudara akan lebih besar,kehitaman dan tegangyang
disebabkan oleh hormon somatomammotropi,estrogen dan progesteron.Payudara terus
tumbuh sepanjang kehamilan dan ukuran serta beratnya meningkat hingga mrncapai 500
gram untuk masing masing payudara.Aerola akan menjadi lebih gelap dan dikelilingi
oleh kelenjar sebasea yang menonjol yang biasanya terlihat setelah usia kehamilan 16
minggu.

Setelah bulan pertama suatu cairan berwarna kekuningan yang disebut kolostrum
akan keluar.Kolostrum ini berasal dari kelenjar asinus yang mulai bersekresi.Meskipun
sudah dapat dikeluarkan air susu belum dapa diproduksi karena hormon prolaktin ditekan
oleh prolaktin inhibiting hormone.Setelah persalinan kadar estrogen dn progesteron
menurun sehingga pengaruh inhibiti progesteron terhadap @-laktalbulmin akan
hilang.Peningkatan prolaktin akan merangsang sintesis laktose dan pada akhirnya akan
meningkatkan produksi ASI.Ukuran payudara sebelum kehamilan tidak mempunyai
hubungan dengan baanyaknya air susu yang akan dihasilkan.

a) Perubahan Sistem Endokrin,Kekebalan dan Perkemihan


a. Sistem Endokrin
Selama kehamilan normal kelenjar ini akan membesar sekitar 135 % .Akan
tetapi,kelenjar ini tidak begitu mempunyai arti penting dalam kehamilan.Pada
perempuan yang mengalami hipofisektomi persalinan dapat berjalan dengan
lancar.Hormon prolaktin akan meningkat paa saat kehamilan aterm sebaliknya setelah
persalinan konsentrasinya pada plasma akan menurun yang ditemui juga pada ibu
menyusui.

Selama minggu pertama,korvus luteum dalam ovarium menghasilkan estrogen


dan progesteron,fungsi utamanya pada stadium ini adalah untuk mempertahankan
pertumbuhan desidua dan mencegah pelepasan serta pembebasan desidua
tersebut.Setelah plasenta mengambil alih sekresi estrogen dan progesteron akan
mengalami peningkatan yang nyata.Kadar kedua hormon ini akan tetap tinggi sampai
sesaat sebelum aterm,ketika fungsi plasenta dengan rentang usia yang terbatas mulai
mengalami penurunan.

Estrogen Merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan darah


bervariasi dan Progesteron Mempengaruhintubuh ibu melalui relaksasi otot
polos,relaksasi jaringan ikat,kenaikan suhu .
b. Sistem Kekebalan
Hitung leukosit darah bervariasi cukup besar selama kehamilan
normal.Biasnya berkisar dari 5.000 12.000 per ml.Kehamilan berkaitan dengan
penekanan berbagai macam fungsi imunologi secara humoral dan seluler untuk
menyesuaikan diri dengan graft janin semialogenik. Titer antibody humoral melawan
beberapa virus kisalnya herves simpleks,campak dan influenza A dengan efek
hemodilusi pada kehamilan.

c. Perubahan pada Traktus Urinarius (Saluran berkemih)


Pada ginjal wanita hamil bertambah besar,glomerular filtration rate dan renal
plasma flow juga akan meingkat.Pada ekskresi akan dijumpai kadar asam amino dan
vitamin yang larut air dalam jumlah yang lebih banyak.Glukosuria juga merupakan
suatu hal yang umum,tetapi kemungkinan adanyandiabetes melitus juga tetap harus
diperhitungkan.Sementara itu proteinuria dan hematuria merupakan suatu hal yang
tetap harus diperhitungkan.sementara itu,proteinuria dan hematuria merupakan suatu
hal yang abnormal.Pada fungsi renal akan dijumpai peningkatan creatinine clearance
lebih tinggi 30 %.
Pada bulan pertama kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh
uterusmyang mulai membesar sehingga menimbulkan sering berkemih.Keadaan ini
akan menghilang dengan semakin tuanya usia kehamilan bila uterus keuar dari rongga
panggul. Pada akhir kehamilan,jika kepala janin mulai turun ke pintu atas
panggul,keluhan itu akan timbul kembali.

b.Sistem pencernaan,Musculoskeletal,Kardiovaskular,Integument
a. Traktus digestivus
Seiring dengan makin besarnya uterus lambungdan usu akan
bergeser.Demikian juga dengan yang lainnya seperti apendiks yang akan bergeser
kearah atas dan lateral.Perubahan yang nyata akan terjadi pada penurunan pada
motilitas otot polos pada traktus digestivus dan penurunan sekresi asam hidroklorid
dan peptin dilambung sehingga akan menimbulkan gejala berupa pyrosis yang
disebabkan oleh refluks asam lambung ke esofagus bawah sebagai akibat perubahan
posisi lambung menurunnya tonus sfingter esofagus bagian bawah. Mual terjadi
akibat penurunan asam hidroklid dan penurunan motilitas serta konstipasi sebagai
akibat penurunan motilitas usus besar.
Gusi akan menjadi lebih hiperemesis dan lunak sehingga dengan trauma
sedang saja bisa menyebabkan perdarahan.Epulis selama kehamilan akan muncul
tetapi setelah persalinan akan berkurang secara spontan.Hemorrhoid juga merupakan
suatu hal yang sering terjadi sebagai akibat konstipasi dan peningkatan tekanan vena
pada bagian bawah karena pembesaran uterus.
Hati pada manusia tidak mengalami perubahan selama kehamilan baik secara
anatomik maupun morfologik.Pada fungsi hati kadar alkalin fosfatase akan meningkat
hampir dua kali lipat sedangkan serum aspartat transamin,alani transamin,v-glutamil
transferase,albumin dan bilirubin akan menurun.

b. Sistem Musculoskeletal
Lordosis yang progresif akan menjadi bentuk yang umumpada
kehamilan.Akibatbkompensasi dari pembesaran uterus ke posisi anterior,lordosis
menggeser pusat daya berat ke belakang kearah dua tungkai.Sendi
sakroilliaka,sakrokoksigisdan pubis akan meningkat mobilitasnya yang diperkirakan
karena pengaruh hormonal.Mobilitas tersebut dapat mengakibatkan perubahan sikap
ibu dan pada akhirnya menyebabkan perasaan tidak enak pada bagian bawah
punggung terutama pada akhir kehamilan.

c. Kardiovaskular
Perubahan yang terjadi pada jantung yang khas denyut nadi meningkat sekitar
10-15 denyut permenit dalam kehamilan karena diafragma semakin naik terus selama
kehamilan,jantung digeser kekiri dan ke atas sementara pada waktu yang sama organ
ini agak berputar pada sumbu panjangnya.Akibatnya apeks jantung digerakkan agak
ke lateral dari posisinya pada keadaan tidak hamil.

d. Integument
Pada kulit dinding perutakan terjadi perubahan warna menjadi kemerahan,
kusam, dan kadang-kadang juga akan mengenai daerah payudara dan paha. Perubahan
ini dikenal dengan nama striae gravidarum.Pada banyak perempuan kulit digaris
pertengahan perutnya (linea alba) akan berubah menjadi hitam kecoklatan yang
disebut dengan linea nigra. Kadang-kadang akan muncul dalam ukuran yang
bervariasi pada wajah dan leher yang disebut cloasma gravidarum. Selain itu areola
juga akan mengalami hiperpigmentasi yang berlebihan. Pigmentasi yang berlebihan
akan hilang setelah persalinan.
Perubahan ini dihasilkan dari cadangan melanin pada daerah epidermal dan
dermal yang menyebabkan pastinya belum diketahui. Adanya peningkatan kadar
serum melanocyte stimulating hormone pada akhir bulan kedua masih sangat
diragukan sebagai penyebabnya. Estrogen dan progesteron diketahui mempunyai
peran dalam melanogenesis dan iduga bisa menjadi faktor pendorongnya.

1. PERUBAHAN ADAPTASI PSIKOLOGI DALAM MASA


KEHAMILAN
Selama kehamilan kebanyakan wanita mengalami perubahan psikologis dan
emosional yang tampaknya berhubungan dengan perubahan biologis yang dialami
wanita selama kehamilan.Berikut akan dijelaskan perubahan psikologi yang terjadi
pada ibu hamil pada setib trimester,yaitu sebagai berikut :

a. Perubahan dan Adaptasi Psikologi Dalam Masa Kehamilan


Trimester pertama sering dianggap sebagai periode penyesuaian.Penyesuaian
terhadap kenyataan bahwa ia sedang mengandung.Sebagian wanita merasa sedih
tentang kenyataan bahwa ia hamil.Hasrat seksual pada trimester pertama sangat
bervariasi.Ada beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual,tetapi secara
umum merupakan waktu terjadinya penurunan libido.Libido secara umum sangat
dipengaruhi oleh keletihan,nausea,depresi,payudara membesar dan
nyeri,kecemasan,kekawatiran dan masalah lain yang merupakan hal normal terjadi
pada trimester pertama ( varney,2007 ).
Stres yang terjadi selama kehamilan trimester pertama ada dua tipe yaitu yang
negativ dan positif,kedua stres ini dapat mempengaruhi reaksi individu.Ada pula yang
bersifat intristik dan ekstrinsik.Stres ekstrinsik berhubungan dengan tujuan pribadi
dari individu,yang mana individu berusaha untuk membuat sempurna mungkin baik
dalam kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan sosialnya secara
profesional.Stres ekstrinsik timbul karena faktor eksternal seperti rasa
sakit,kehilangan,kesendirian dan masa reproduksi.
Reaksi psikologi dan emosi timbul pada beberapa
wanita.Kecemasan,kegusaran,ketakutan,perasaan panik terhadap kehamilan dan
segala akibatnya.Dalam pikiran mereka kehamilan merupakan
ancaman,kegawatan,ketakutan,bahaya bagi dirinya.Fokus utama mereka hanya pada
dirinya sendiri bukan untuk janinnya.Perubahan fisik dan meningkatnya derajat
hormonal dapat menyebabkan emosi menjadi labil,mood berubah dengan cepat dari
gembira menjadi mudah tersinggung,sering tidur dan menunda pekerjaan. Perubahan
mood merupakan hal yang normal dan jangan menjadi masalah yang tidak
terselesaikan.

b. Perubahan Psikologis Pada Kehamilan Trimester II


Trimester kedua sering disebut sebagai periode pancaran kesehatan saat ibu
merasa sehat.Ini disebabkan selama trimester ini umumnya wanita suda merasa baik
dan terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan.Peningkatan rasa memiliki dan mulai
dapat kembali pada minat semula,adanya gerak anak menjadikan ibu semakin
merasakan kehamilannya,mulai membanyangkan fisik calon bayi dan merancang
rencana masa depan untuknya.Trimester kedua dapat dibagi menjadi 2 fase,yaitu :

1. Fase prequickening
Selama akhir trimester pertama dan masa prequickening pada trimester kedua,
ibu hamil mengevaluasi lagi hubungannya dan segala aspek didalamnya dengan
ibunya yang telah terjadi selama ini.Proses yang terjadi dalam masa pengevaluasian
kembali ini adalah peruahan identitas dari penerimaan kasih sayang ( dari ibunya )
menjadi pemberi kasih sayang ( persiapan menjadi seorang ibu ).Transisi ini
memberikan pengertian yang jelas bagi ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya
sebagai ibu yang memberikan kasih sayang kepada anak yang akan dilahirkannya.
2. Fase postquickening
Setelah ibu hamil merasakan quickening,identitas keibuan yang jelas akan
muncul.Ibu akan fokus pada kehamilannya dan persiapan menghadapi peran baru
sebagai seorang ibu.Perubahan ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran
lamanya sebelum kehamilan,terutama pada ibu hamil yang pertama kali dan wanita
karir.Respon psikologi trimester kedua : konsep abstrak kehamilan menjadi
identifikasi nyata,perut membesar,gerakan janin terasa ( quickening ) gerakan ini
merupakan peristiwa penting karena gerakan janin yang lembut ini bahwa kehidupan
terjad dalam rahim sehingga wanita sudah dapat menyesuaikan diri dengan
kenyataan,ia mulai memikirkan janin merupakan bagian dari dirinya yang secara
keseluruhan bergantung padanya dan sekarang ia mengatakan saya akan mempunyai
bayi .

c. Perubahan psikologi pada trimester III


Trimester ketiga sering disebut sebagai periode penantian dengan penuh
kewaspadaan.Pada periode ini wanita mulai menyadari kehadiran bayinya sebagai
mahluk yang terpisah sehingga ia tidak sabar menanti kehadiran bayinya.Pada
timester ketiga ibu akan kembali merasakan ketidaknyamanan fisik yang semakin
kuat menjelang akhir kehamilan.Ia akan merasa canggung,jelek,berantakan dan
memerlukan dukungan yang sangat besar dan konsistensi dari pasangannya.
Respon psikologi trimester ketiga : calon ibu sudah menyesuaikan
diri,kehidupan psikologik emosional dikuasai oleh perasaan dan pikiran mengenai
persalinan yang akan datang.

2. DIAGNOSA KEHAMILAN
Tanda-tanda Kehamilan,yaitu :
Tanda Tanda mungkinan Hamil
a. Reaksi kehamilan HCG positif
b. Rahim / uterus membesar sesuai dengan tuanya kehamilan.
c. Tanda hegar yaitu segmen bawah rahim lebih lunak
d. Tanda Piscasek yaitu uterus membesar kesalah satu jurusan hingga menonjol
jelas ke jurusan pembesaran perut secara simetris menjauhi garis tengah tubuh
tempat persalinan.yang lebih besar terdapat pada tempat melekatnya (
implantasi )
e. Tanda Chadwick yaitu perubahan warna pada servik dan vagina menjadi
merah agak kebiru biruan timbul karena adanya vaskularisasi pada daerah
tersebut
f. Teraba ballottement,(Manuaba,1998 : 125 126)
Tanda Pasti Kehamilan
a. Gerakan janin dalam rahim (mulai terasa pada UK 18 20 minggu)
b. Teraba bagian bagian anak saat di palpasi
c. Terdengar DJJ ( dimulai UK 18 20 minggu), dapat didengar dengan
stetoskop laenek, alat kadiotokografi, alat Doppler.
d. Dapat dilihat pada pemeriksaan ultrasonografi (USG), rontgen,(Sarwono,
1990)

Tanda Kehamilan Tidak Pasti


a. Amenorea
Gejala ini sangat penting diketahui karena pada umumnya wanita hamil
tidak dapat haid lagi karena konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi
pembentukan folikel deegraf dan ovulasi.Mengetahui tanggal hari pertama haid
terakhir supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan dan tanggal perkiraan
persalinan.

b. Mual dan Muntah


Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung
yang berlebihan menimbulkan mual dan muntah terutama pada pagi hari yang
disebut dengan morning sickness,akibatnya nafsu makan berkurang.

c. Mastodinia
Mammae menjadi tegang dan membesar yang disebabkan oleh pengaruh
estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli di mamme.

d. Mengidam
Mengidam sering terjadi pada bulan bulan pertama akan tetapi
menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

e. Keluhan kencing
Sering kencing terjadi karena kandung kencing pada bulan pertama
kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar.Pada triwulan kedua
umumnya keluhan ini hilang oleh karena uterus yang membesar keluar dari
rongga panggul.Pada akhir triwulan gejala ini bisa timbul kembali karena janin
mulai masuk ke rongga panggul dan menekan kembali kandung kemih.

f. Konstipasi / obstipasi
Dapat terjadi karena tonus otot menurun karena disebabkan oleh pengaruh
hormon steroid.

3. FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEHAMILAN


A. FAKTOR FISIK
1. Status Kesehatan
Kondisi kesehatan sangat penting dalam kehamilan karena jika wanita yang
sedang hamil dapat lebih berbahaya.Serangan penyakit sebelum dan selama
kehamilan yang dapat membahayakan janin terbagi atas dua kategori yaitu:

Penyakit umum
Penyakit umum yang dikategorikan seperti :

Diabetes melitus
Anemia berat
Penyakit ginjal kronik
Penyakit menular
Rubella
Sifilis
Jika seorang wanita hamil memiliki status kesehatan yang tidak baik atau
sedang menderita suatu penyakit maka wanita tersebut perlu mendapatkan
pertolongan medis dan jika wanita hamil sebelumnya pernah menderita suatu penyakit
seperti hepatitis,infeksi kandung kemih,ginjal,TBJ dan lain lain maka bidan perlu
mengkaji kembali kondisi wanita tersebut untuk mengetahui apakah ia masih
menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit tersebut.

2. Status Gizi
Status gizi merupakan hal yang penting diperhatikan pada masa kehamilan
karena faktor gizi sangat berpengaruh terhadap status kesehatan ibu selama kehamilan
serta guna pertumbuhan dan perkembangan janin.Kebutuhan zat gizi pada ibu hamil
secara garis besar adalah sebagai berikut:

a. Asam Folat
Menurut konsep evdence bahwa pemakaian asam folat pada masa pre dan
perikonsepsi menurunkan resiko kerusakan otak,kelainan neural,anensepaliti,baik
pada ibu hamil normal maupun berresiko.Asam folat juga berfungsi untuk membantu
produksi sel darah merah,sintesis DNA pada janin dan pertumbuhan plasenta.

b. Energi
Diit ibu hamil tidak hanya difokuskan pada tinggi protein saja tetapi pada
susunan gizi seimbang energi dan juga protein untuk menurunkan kejadian BBLR dan
kematian perinatal.Kebutuhan energi ibu hamil adalah 285 kalori untuk proses
tumbuh kembang janin dan perubahan pada tubuh ibu.

c. Protein
Pembentukan jaringan baru dari janin dan untuk tubuh ibu dibutuhkan protein
sebesar 910 gram dalam 6 bulan terakhir kehamilan.Dbutuhkan tambahan 12 gram
sehari untuk ibu hamil.

d. Zat Besi (Fe)


Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi secara rutin adalah
untuk membangun cadangan besi,sintesa sel darah merah dan sintesa darah otot.Setiab
tablet mengandung FeSO4 320 mg minimal 90 tablet selama hamil.Dasar pemberian
zat besi adalah adanya perubahan volume darah atau hydraemia.Tablet besi sebaiknya
tidak diminum bersama teh atau kopi karena mengandung tanin atau pitat yang
menghambat penyerapan zat besi.

e. Kalsium
Untuk pembentukan tulang dan gigi bayi.Kebutuhan kalsium untuk ibu hamil
adalah sebesar 500 mg sehari.
4. KEBUTUHAN DASAR IBU HAMIL TRIMESTER I,II,III
A. Kebutuhan Fisik Ibu Hamil
1. Oksigen
Kebutuhan oksigen berhubungan dengan perubahan system pernafasan pada
masa kehamilan.Kebutuhan oksigen pada masa kehamilan sangat meningkat sebagai
respon tubuh terhadap akselerasi metabolisme rate perlu untuk menambah masa
jaringan pada payudara,hasil konsepsi dan massa uterus akibat :

a. Terjadi perubahan anatomi paru, diameter thorak meningkat + 2 cm lingkaran


dadaakan meningkat 5 7 cm,sudut costa + 68 derajat sebelum kehamilan
menjadi 103 derajat.
b. Fungsi Pulmonary
Wanita hamil bernafas lebih dalam ( karena meningkatnya tidal
volume,jumlah perlukaan gas pada setiab bernafas )
c. BMR
Meningkat 15 20 % vasodilatasi periper dan akselerasi aktifitas kelenjar
keringat membantu menghilangkan panas yang berlebihan dan dihasilkan dari
peningkatan metabolisme selama kehamilan.

2. Nutrisi
Gizi pada ibu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori perhari,ibu hamil
seharusnya mengonsumsi makanan yang mengandung protein,zat besi dan minum
cukup cairan.jenis jenis kebutuhan nutrisi pada ibu hamil sebagai beriukut :

a. Kalori
Jumlah kalori yang dibutuhkan ibu hamil adalah 2300 2800 kkal yang
dipergunakan untuk produksi kalori.sumber kalori yang mudah dipenuhi yaitu
sayur sayuran,buah buahan.

b. Protein
Jumlah protein yang dibutuhkan ibu hamil adalah 30 gr/hari yang
dibutuhkan untuk perkembangan kehamilan yaitu untuk pertumbuhan
janin,uterus,plasenta.Sumber protein yang mudah dipenuhi yaitu seperti
daging,susu,telur,keju dan ikan karena mengandung komposisi asam amino yang
lengkap.

c. Mineral
Pada umumnya semua mineral dapat terpenuhi dengan makan makanan
buah buahan,sayur sayuran dan susu untuk mencegah kemungkinan terjadinya
defisiensi.

3. Personal Hygiene
Kebersihan harus dijaga pada masa kehamilan karena ibu hamil
cenderung untuk mengeluarkan banyak keringat,menjaga kebersihan diri
terutama pada lipatan kulit dijaga agar tidak lembab.Kebersihan gigi dan
mulut perlu mendapat perhatian karena sering kali mudah terjadi gigi
berlubang dan dapat menimbulkan karies gigi karena rasa mual selama
kehamilan dapat mengakibatkan perburukan hygiene mulut.Bila kerusakan
gigi tidak diperhatikan dengan baik dapat mengakibatkan komplikasi seperti
nefritis,septikemia,sepsis puerperalis.Maka dari itu bila keadaan mengijinkan
tiap ibu hamil harus memeriksakan giginya secara teratur sewaktu hamil.

4. Pakaian Selama Hamil


Pakaian hendaknya digunakan yang longgar dan mudah dipakai dan
bahan yang mudah dmenyerap keringat.Hal yang harus diperhatikan yaitu
sabuk dan stoking yang terlalu ketat karena akan mengganggu aliran
balik.Sepatu dengan hak tinggi akan menambah lordosis sehingga sakit
pinggang akan bertambah.

5. Eliminasi
Masalah buang air kecil tidak mengalami kesulitan bahkan cukup
lancar.Dengan kehamila terjadi perubahan hormonal sehingga daerah kelamin
menjadi mudah basah/lembab yang menyebabkan jamur tumbuh sehingga ibu
hamil mengeluh gatal dan mengeluarkan keputihan.Untuk mengurangi
terjadinya infeksi kandung kemih yaitu dengan minum dan menjaga
kebersihan alat kelamin yaitu dengan membersihkan dari depan ke belakang
setiab kali selesai berkemih atau buang air besar dan menggunakan handung
bersih untuk mengeringkannya.

6. Seksual
Selama kehamilan berjalan normal melakukan hubungan suami istri
diperbolehkan jika tidak ada keluhan.Meninkatnya vaskularisasi pada vagina
dapat meningkatkan sensitifitas seksual sehingga meningkatkan seksualitas.

7. Mobilisasi dan Body Mekanik


Ibu hamil boleh melakukan kegiatan / aktifitas fisik biasa selama tidak
terlalu melelahkan.Sikap tubuh yang perlu diperhatikan ibu hamil yaitu:

a. Duduk
Tempatkan tangan dilutut dan tarik tubuh keposisi tegak.Atur dagu ibu
dan tarik bagian atas kepala seperti ketika ibu berdiri.

b. Berdiri
Sikap berdiri yang benar sangat membantu sewaktu hamil disaat berat
janin semakin bertambah dan jangan berdiri dengan jangka waktu yang
lama.

c. Berjalan
Ibu hamil penting untuk tidak memakai sepatu berhak tinggi karena
akan menghilangkan keseimbangan dan mempermudah kelelahan.

d. Tidur
Ibu dapat tidur dengan posisi miring dan sebaiknya setelah usia
kehamilan 6 bulan hndari tidur terlentang karena akan menekanan
pembuluh darah.

e. Bangun dan Berbaring


Untuk bangun dari tempat tidur geser dulu tubuh ibu ke sudut tempat
tidur kemudian tekuk lutut bawah miring terlebih dahulu.Dengan disangga
oleh tangan secara perlahan lahan duduk.
8. Exercise
Ibu hanil perlu menjaga kesehatan tubuhnya dengan cara berjalan
jalan dipagi hari,olah raga ringan dan senam hamil.

9. Istirahat
Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik karena
istirahat dan tidur teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan
rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin.Tidur
pada malam hari seharusnya kurang lebih 8 jam/hari dan pada siang hari
kurang lebih 1 jam/hari.

10. Imunisasi
Pemberian imunisasi tetanus toxoid pada kehamilan umumnya
diberikan 2 kali saja,imunisasi pertama diberikan pada usia kehamilan 16
minggu untuk yang kedua diberikan 4 minggu kemudian.Akan tetapi untuk
memaksimalkan perlindungan maka dibentuk program jadwal pemberian
imunisasi pada ibu hamil,yaitu:

Antigen Interval ( selang waktu minimal) Lama perlindungan %


perlindungan
TT I Pada kunjungan antenatal pertama - -
TT 2 4 minggu setelah TT 1 3 Tahun 80
TT 3 6 Bulan setelah TT 2 5 Tahun 95
TT 4 1 Tahun setelah TT 3 10 Tahun 99
TT 5 1 Tahun setelah TT 4 15 Tahun 99

Keterangan : artinya dalam waktu 3 tahun WUS tersebut


melahirkan maka bayi yang dilahirkan akan terlindung dari tetanus
neonatorium ( saifudin,2002 )
11. Traveling
Ibu hamil diperbolehkan untuk berpergian selama ia telah
mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya
selama dalam perjalanan dan kondisi kesehatan fisik ibu cukup baik.

5. Standar Pelayananan Masa kehamilan


Standar asuhan kehamilan adalah acuan dalam proses tindakan yang
dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya
berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan dalam melakukan asuhan kehamilan.Standar
pelayanan kehamilan berguna dalam penerapan norma dan tingkat kinerja yang
diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penerapan standar pelayanan
akan sekaligus melindungi masyarakat, karena penilaian terhadap proses dan hasil
pelayanan dapat dilakukan dengan dasar yang jelas. Dengan adanya standar
pelayanan, yang dapat dibandingkan dengan dasar yang jelas dan pelayanan yang
diperoleh, maka masyarakat akan mempunyai kepercayaan yang lebih mantap.

Suatu standar akan efektif bila dapat diobservasi dan diukur, realistik,
mudah dilakukan dan dibutuhkan. Bila setiap ibu diharapkan mempunyai akses
terhadap pelayanan kebidanan, maka diperlukan standar pelayanan kebidanan
untuk penjagaan kualitas terutama saat kehamilan. Pelayanan berkualitas dapat
dikatakan sebagai tingkat pelayanan yang memenuhi standar yang telah
ditetapkan. Dengan demikian, standar penting untuk pelaksanaan, pemeliharaan,
dan penilaian kualitas pelayanan. Hal ini menunjukan bahwa standar pelayanan
perlu dimiliki oleh setiap pelaksanaan pelayanan.
Terdapat 6 standar dalam standar pelayanan antenatal seperti sebagai berikut:

1. Standar 3 : Identifikasi ibu hamil


Melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara
berkala untuk penyuluhan dan motivasi untuk pemeriksaan dini dan teratur. Hasil
yang diharapkan dari identifikasi ibu hamil ini adalah

a. Ibu memahami tanda dan gejala kehamilan,


b. Ibu, suami, anggota masyarakat menyadari manfaat pemeriksaan kehamilan
secara dini dan teratur, serta mengetahui tempat pemeriksaan kehamilan.
c. Meningkatnya cakupan ibu hamil yang memeriksakan diri sebelum kehamilan
16 minggu.

2. Standar 4 : Pemeriksaan dan pemantauan antenatal


Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan
Kunjungan Waktu Alasan
Trimester I Sebelum 14 minggu Mendeteksi masalah yang dapat ditangani sebelum
membahayakan jiwa.
Mencegah masalah, misal : tetanus neonatal, anemia,
kebiasaan tradisional yang berbahaya)
Membangun hubungan saling percaya
Memulai persiapan kelahiran & kesiapan menghadapi
komplikasi.
Mendorong perilaku sehat (nutrisi, kebersihan ,
olahraga, istirahat, seks, dsb).
Trimester II 14 28 minggu Sama dengan trimester I ditambah: kewaspadaan
khusus terhadap hipertensi kehamilan (deteksi gejala
preeklamsia, pantau TD, evaluasi edema,
proteinuria)
Trimester 28 36 minggu Sama, ditambah : deteksi kehamilan ganda.
III Setelah 36 minggu Sama, ditambah : deteksi kelainan letak atau kondisi
yang memerlukan persalinan di RS.

Kebijakan ini adalah jumlah minimal yang ditetapkan. Semakin sering ibu
hamil melakukan kunjungan akan semakin baik untuk pemantauan kehamilan dan
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.Kunjungan yang ideal adalah :
Awal kehamilan 28 mg : 1 x 1 bulan
28 minggu 36 minggu : 1 x 2 minggu
36 minggu lahir : 1 x 1 minggu
Dalam kunjungan, pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan
janin, mengenal kehamilan risiko tinggi, imunisasi, nasehat dan penyuluhan, mencatat
data yang tepat setiap kunjungan, dan tindakan tepat untuk merujuk.

3. Standar 5 : Palpasi Abdominal


Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan
palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian
terendah janin, dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul untuk mencari
kelainan, serta melakukan rujukan tepat waktu.

4. Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada kehamilan


Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil (Fe) adalah mencegah defisiensi zat
besi pada ibu hamil, bukan menaikkan kadar hemoglobin. Wanita hamil perlu
menyerap zat besi rata-rata 60 mg/hari (Tablet mengandung FeSO4 320 mg = zat besi
60 mg dan asam folat 500 g), kebutuhannya meningkat secara signifikan pada
trimester II karena absorpsi usus yang tinggi. Fe diberikan satu tablet sehari sesegera
mungkin stelah rasa mual hilang, diberikan sebanyak 90 tablet semasa kehamilan.
Tablet zat sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi karena akan mengganggu
penyerapan. Jika ditemukan/diduga anemia berikan 2-3 tablet zat besi per hari. Selain
itu untuk memastikannya dilakukan pemeriksaan darah hemoglobin untuk mengetahui
kadar Hb yang dilakukan2 kali selama masa kehamilan yaitu pada saat kunjungan
awal dan pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih sering jika ada tanda-tanda
anemia.Selain anemia, seorang bidan juga dapat memberi obat-obatan bagi ibu hamil
seperti medikasi berbagai jenis obat secara rutin (zat besi, calcium, multivitamin dan
mineral) dan obat khusus (anti parasit cacing dan malaria)

5. Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada kehamilan


Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan,
mengenali tanda dan gejala preeklampsia lainnya, mengambil tindakan yang tepat,
dan merujuknya.

6. Standar 8 : Persiapan persalinan


Memberi saran pada ibu hamil, suami dan keluarga untuk memastikan
persiapan persalinan bersih dan aman, persiapan transportasi, biaya. Bidan sebaiknya
melakukan kunjungan rumah untuk hal ini. Dalam memberikan asuhan/pelayanan
standar minimal 7 T (timbang BB), ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, TT,
tablet besimin 90 tablet selama hamil, tes PMS, temu wicara dalam rangka persiapan
rujukan. Namun standar ini sudah berkembang menjadi 10 T hingga 14 T.

6. Pelayanan/Asuhan Standar
Standar minimal asuhan antenatal care (10 T), yaitu
1. Timbang berat badan dan pengukuran berat badan
Pertambahan berat badan yang normal pada ibu hamil yaitu berdasarkan masa
tubuh (BMI: Body Mass Index) dimana metode ini untuk menentukan pertambahan
berat badan yang optimal selama masa kehamilan, karena merupakan hal yang
penting mengetahui BMI wanita hamil. Total pertambahan berat badan pada
kehamilan yang normal 11,5-16 kg. adapun tinggi badan menentukan ukuran panggul
ibu, ukuran normal tinggi badan yang baik untuk ibu hamil antara lain >145 cm.
2. Ukur tekanan darah
Tekanan darah perlu diukur untuk mengetahui perbandingan nilai dasar
selama masa kehamilan, tekanan darah yang adekuat perlu untuk mempertahankan
fungsi plasenta, tetapi tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg pada
saat awal pemeriksaan dapat mengindikasi potensi hipertensi.
3. Ukur tinggi fundus uteri
Apabila usia kehamilan dibawah 24 minggu pengukuran dilakukan dengan
jari, tetapi apabila kehamilan diatas 24 minggu memakai pengukuran mc Donald yaitu
dengan cara mengukur tinggi fundus memakai cm dari atas simfisis ke fundus uteri
kemudian ditentukan sesuai rumusnya
4. Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT) lengkap
Pemberian imunisasi tetanus toxoid pada kehamilan umumnya diberikan 2 kali
saja, imunisasi pertama diberikan pada usia kehamilan 16 minggu untuk yang kedua
diberikan 4 minggu kemudian . akan tetapi untuk memaksimalkan perlindungan maka
dibentuk program jadwal pemberian imunisasi pada ibu hamil.
Imunisasi TT 0,5 cc

Interval (Selang Lama


Antigen % Perlindungan
Waktu Minimal) Perlindungan
Pada kunjungan
TT 1 - -
antenatal pertama
4 minggu setelah
TT2 3 tahun* 80
TT1

TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95

TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99

TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun 99

Keterangan : * artinya dalam waktu 3 tahunWUS tersebut melahirkan, maka bayi


yang dilahirkan akan terlindung dari TN (Tetanus Neonatorum).

5. Pemberian Tablet Besi minimal 90 tablet selama kehamilan


6. Tes terhadap penyakit menular seksual
Menganjurkan untuk pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) lain pada
kecurigaan adanya resiko IMS.

7. Temu wicara (konseling dan pemecahan masalah)


Temu wicara pasti dilakukan dalam setiap klien melakukan kunjungan. Bisa
berupa anamnesa, konsultasi, dan persiapan rujukan. Anamnesa meliputi biodata, riwayat
menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas, biopsikososial,
dan pengetahuan klien. Memberikan konsultasi atau melakukan kerjasama penanganan.
Tindakan yang harus dilakukan bidan dalam temu wicara antara lain:
a. Merujuk ke dokter untuk konsultasi dan menolong ibu menentukan pilihan yang
tepat.
b. Melampirkan kartu kesehatan ibu serta surat rujukan
c. Meminta ibu untuk kembali setelah konsultasi dan membawa surat hasil rujukan
d. Meneruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi selama kehamilan
e. Memberikan asuhan antenatal
f. Perencanaan dini jika tidak aman melahirkan dirumah
g. Menyepakati diantara pengambilan keputusan dalam keluarga tentang rencana proses
kelahiran.
h. Persiapan dan biaya persalinan

8. Tentukan persentasi janin dan hitung DJJ


Tujuan pemantauan janin itu adalah untuk mendeteksi dari dini ada atau tidaknya
faktor-faktor resiko kematian prenatal tersebut (hipoksia/asfiksia, gangguan pertumbuhan,
cacat bawaan, dan infeksi). Pemeriksaan denyut jantung janin adalah salah satu cara
untuk memantau janin.Pemeriksaan denyut jantung janin harus dilakukan pada ibu hamil.
Denyut jantung janin baru dapat didengar pada usia kehamilan 16 minggu / 4 bulan.
Gambaran DJJ:
a. Takikardi berat; detak jantung diatas 180x/menit
b. Takikardi ringan: antara 160-180x/menit
c. Normal: antara 120-160x/menit
d. Bradikardia ringan: antara 100-119x/menit
e. Bradikardia sedang: antara 80-100x/menit
f. Bradikardia berat: kurang dari 80x/menit
9. Tetapkan status gizi
Pada ibu hamil (bumil) pengukuran LiLA merupakan suatu cara untuk mendeteksi
dini adanya Kurang Energi Kronis (KEK) atau kekurangan gizi.Malnutrisi pada ibu hamil
mengakibatkan transfer nutrient ke janin berkurang, sehingga pertumbuhan janin
terhambat dan berpotensi melahikan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
BBLR berkaitan dengan volume otak dan IQ seorang anak. Kurang Energi Kronis atau
KEK (ukuran LILA < 23,5 cm), yang menggambarkan kekurangan pangan dalam jangka
panjang baik dalam jumlah maupun kualitasnya.
Cara melakukan pengukuran lila
a. Menentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan meteran
b. Lingkarkan dan masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita LiLA. Baca
menurut tanda panah
c. Menentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan pita LiLA.

10. Tatalaksana kasus


Namun, dalam penerapan praktis pelayanan ANC, menurut Dinkes (1998), standar
minimal pelayanan ANC adalah 14 T yaitu :
a. Timbang berat badan
b. Tekanan darah
c. Tinggi fundus uteri
d. Tetanus toxoid lengkap
e. Tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan.
f. Tes penyakit menular seksual (PMS)
g. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
h. Terapi kebugaran.
i. Tes VDRL
j. Tes reduksi urine.
k. Tes protein urine
l. Tes Hb
m. Terapi iodium
n. Terapi malaria
Apabila suatu daerah tidak bisa melaksanakan 14 T sesuai kebijakan dapat
dilakukan standar minimal pelayanan ANC yaitu 7 T (nomor 1-7 pada 10 T di atas).
Pelayanan antenatal ini hanya dapat diberikan oleh tenaga kesehatan professional
7. Pemeriksaan Fisik Masa Kehamilan
Pemeriksaan Fisik adalah pemeriksaan yang di lakukan pada bagian tubuh dari
kepala sampai kaki.Pemeriksaan fisik pada kehamilan dilakukan melalui pemeriksaan
yaitu:

a. Pandang(Inspeksi)
b. Pemeriksaan Raba(Palpasi)
c. Pemeriksaan dengar(Auskultasi)
d. Pemeriksaan Ketuk(Perkusi)
Tujuan Pemeriksaan Fisik yaitu:

a. Mengetahui kesehatan Ibu dan Janin


b. Mengetahui perubahan yang terjadi pada ibu.

SENAM HAMIL

A. Defenisi

Senam hamil dimulai pada umur kehamian sesudah kehamilan 22 minggu .Senam

haamil bertujuan untukmempersiapkan dan melatih otot otot sehingga dapat

berfungsi secara optimal dalam persalian normal serta mengimbangi perubahan

titik berati tubuh.

B. Etiologi

Senam hamil ditujukan bagi ibu ibu hamil tanpa kelainan atau tidak terdapat

penyakit yang menyertai kehamilan,yaitu penykit jantung ginjal ,dan penyulit

dalam kehamilan

Syarat senam haamil adalah :

Telah dilakukan pemeriksaan kehamilan oleh dokter dan bidan

Latihan dilkukan setelah kehamilan 22 minggu


Latihan dilakukan secara displin dan teratur

Cara latihan senam hamil

1. Latihan Pendahulu

Tujuan pendahulu ini adalah untuk mengetahui daya kontraksi otot otot tubuh,

luas gerakan persendian , menghilangkan serta mengurangi kekakuan tubuh.

a. Latihan 1

Sikap: duduk tegak bersandar ditopang kedua tangan ,kedua kaki

diluruskan dan dibuka sedikit, seluruh tubuh lemas dan rilaks.

Latihan

1. Gerakan kaki kiri jauh kedepan ,kaki kanan jauh kebelakang;lalu

sebaliknya gerakan kaki kanan jauh kedepan ,kaki kiri jauh

kebelakang.Lakukan masing masing 8 kali

2. Gerakkan kaki kanan dan kiri sama sama jauh kedepan dan

belakang (fleksi plantar dan dorsal)

3. Gerakan kaki kanan dan kiri bersama sama kekanan dan kiri

4. Gerakan kaki kanan dan kiri bersama sama kearah

dalam(endorotasi)sampai ujiung jari menyentuh lantai ,lalu

gerakkan kedua kaki kearah luar (ekstsorotasi)

5. Putarkan kedua kaki bersama sama (sirkumduksi)kekanan dan

kekiri masing masingv 4 kali

6. Angkat kedua lutu tanpa menggeser kedua tumit dan

bokong,tekankan kedua kaki kelantai sambil mengerutkan otot


dubur ,lalu tarik otot otot perut sebelah atas simpisis kedalam

(kempisan perut)kemudian relaks kembali .Lakukan sebanyak 8

kali

b. Latihan 2

Sikap :duduk tegak ,kedua tungkai lurus dan rapat

Latihan : Letakkan tungkai kanan diats tungkai kiri ,emudian tekan

tungkai kiri dengan kekuatan seluruh tungkai kanan dengan

mengempeskan dinding perut bagian atas dan mengerutkan bagian

ubur selama beberapa saat,kemudian istrahat.Ulangi gerakan ini

dengan tungkai kiri diatas tungkai kanan .Lakukan gerakan tersebut

masing masing 8 kali.

c. Latihan 3

Sikap :duduk tegak,kedua tungkai kaki lurus,rapat dan rilaks

Latihan

1. Angkat tungkai kanan keatas ,lalu letakkan kembali : tungkai kiri

keatas ,lalu letakkan kembali ,lakukan hal ini bergantian sebanyak

8 kali

2. Lakukan pula latihaan ini seperti diatas dalam posisi berbaring

telentang kedua tungkai kaaki lurus,angkat kedua tungkai bersama

sama,kedua lutut jangan ditekuk kemudian turunkan lagi perlahan-

lahan .Lakukan gerakan ini sebanyak 8 kali.

d. Latihan
Sikap :duduk bersila,badan tegak,kedua tangan diatas bahu ,kedua

lengan disamping badan.

Latihan

1. Tekan samping payudara dengan sisi lengan atas

2. Lalu putar kedua lengan tersebut kedepan ,keatas samping telinga

3. Teruskan sampai kebelakang dan akhirnya kembali kesikap

semula.Lakukan gerakan diatas sebanyak 8 kali.

e. Latihan 5 :berbaring terlentang kedua lengan disampin badan dan

kedua lutut ditekuk.

Latihan :angkat pinggul sampai badan dan kedua tungkai atas

membentuk sudut dengan lantai yang ditahan dengan kedua kaaki daan

bahu.Turunkan pelan-pelan.Lakukan sebanyak 8 kali

f. Latihan 6

Sikap :berbaring telentang,kedua tungkai lurus,kedua lengan berada

disamping badan,keseluruhan badan rilaks

Latihan :panjang tungkai kanan dengan menarik tungkai kiri

mendekati bahu kiri,lalu kembali pada posisi semula.Keaadanan dan

gerakan serupa dilakukan sebaliknya untuk tungkai kiri.Setiap gerakan

dilakukan maasing masing dua kali.Gerakan ini diulngi sebanyak 8 kali

g. Latihan 7

Panggul diputar kekanan dan kekiri masing masing empat kali.Gerakan

panggul kekiri yang dilakukaan sebagai berikut :Tekankan pinggaang

kelantai sambil mengempiskaan perut dan mengerutkan otot

dubur,gerakkan panggul kekanan ,angkat pinggang,gerakkan panggung

kekiri dan seterusnya


2. Latihan intim

Klasifikasi dan tujuan dari latihan ini adalah :

a. Latihan pembentukan sikap

Untuk mendapatkan sikap tubuh yang baik selama hamil,sehingga janin

berada dalam kedudukn normal,sedangkan sikap tubuh ibu tidak

menyebabkan tulang panggul turun ,sehingga kedudukan janin kurang

baik

b. Latihan kontraksi dan relaksasi

Untuk memperoleh sikap tubuh dan mengatur relaksasi pada waktu yang

diperlukan

c. Latihan pernapasan

Untuk melatih berbagai teknik pernapasan supaya bisa digunaka sewaktu

waktu sesuai dengan kebutuhan.

a. Minggu ke 22-25

1. Latihan pembentukkan sikap tubuh

Sikap :berbaring telentang,kedua lutut ditekuk,kedua lengan disamping

badan dan santai

Latihan :Angkat pinggang sampai badan memebentuk lengkungan .Lalu

tekan pinggang kelantai sambil mengempiskan perut,serta kerutkan otot-

otot dubur.Lakukan berulang kali 8-10 kali

2. Latihan kontraksi relaksasi

Sikap :berbaring telentang,kedua lengan disamping badan,keduakaki

ditekuk dan lutut rileks.


Latihan : Tegangkan otot otot muka dengan jalan mengerutkan

dahi,mengatupkan tulang rahang dan menegangkan otot otot leher selama

beberapa detik,lalu lemaskan daan rilaks.Lakukan gerakan ini 8-10 kali

3. Latihan pernapasan

Sikap : berbaring telentang,kedua lengan disamping badan,kedua kaki

ditekukpada lutut dan santai

Latihan :

a. Letakkan tangan kiri diatas perut

b. Lakukan pernapasan diafragma :tarik nafaas melalui hidung,tangan kiri

naik keatas mengikuti dinding perut yang menjadi naik.lalu hembuskan

nafas melalui mulut.Frekuensi latihan adalah 12-14 kali permenit

c. Lakukan gerakan ini sebanyak 8 kali dengan interal 2 menit

b. Minggu ke 26-30

Sikap :merangkak,kedua tangan sejajar dengan bahu .Tubuh sejajar dengan

lantai ,sedangkan tangan dan paha tegak lurus

1. Latihan pembentukan sikap tubuh

a. Tundukkan kepala,sampai melihat kearah vulva,pinggang diangkat sambil

mengempiskan perut bawah dan mengerutkan dubur

b. Lalu turunkan pinggang,angkat kepala sambil lemaskan otot otot dinding

perut dan dasar panggul .Ulangi kegiatan diatas 8 kali.

2. Latihan kontraksi dan relaksasi

Sikap : berbaring telentang ,kedua tangan disamping badan ,kedua kaki

ditekuk pada lutut dan santai

Latihan :lemaskan seluruh tubuh ,kepalkan kedua lengan dan tegangkan

selama beberapa detik ,lalu lemaskan kembali.Kerjakan sebanyak 8 kali


3. Latihan pernapasan

Sikap : berbaring terlentang,kedua kaki ditekuk pada lutut ,kedua lengan

disamping badan dan lemaskan badan

Latihan :

a. Lakukan pernapasan dada yang dalam selama 1 menit,lalu ikuti dengan

pernapasan diafragma.Kombinasi kedua pernapasan ini dilakukan 8

kali selama interval 2 menit

b. Latihan pernapasan bertujuan untuk mengatasi rasa nyeri pada waktu

persalinan

c. Minggu ke 31-34

1. Latihan pembentukan sikap tubuh

Sikap : berdiri tegak ,kedua lengan disamping badan,kedua kaki selebar

bahu dan rilaks

Latihan :

a. Lakukan gerakan jongkok perlahan lahan ,badan tetap lurus ,lalu

tegak berdiri perlahan lahan

b. Pada mula berlatih ,supaya jangan terjatuh,kedua tangan boleh

berpegangan pada misalnya,sandaran kursi,lakukan sebanyak 8 kali

2. Latihankontraksi dan rileksasi

Sikap :tidur telentang,kedua tangan disamping badan,kedua kaki

ditekuk,dan lemaskan badan,kedua kaki ditekuk dan lemaskan badan.

Latihan :lakukan pernapasan diafragma dan dada yang dalam

3. Latihan pernapasan
Latihan pernapasaan seperti telah diharapkan tetap dengan frekuensi 26-28

permenit dan lebih cepat

d. Minggu ke 31 34

1. Latihan Pembentukan Sikap Tubuh

Sikap : Berdiri tegak, kedua lengan di samping badan, kedua kaki selebar bahu dan

berdiri rileks.

Latihan :

a. Lakukan gerakan jongkok perlahan-lahan, badan tetap lurus, lalu tegak berdiri

perlahan-lahan.

b. Pada mula berlatih, supaya jangan jatuh, kedua tangan boleh berpegangan

pada misalnya sandaran kursi. Lakukan seanyak delapan kali.

2. Latihan Kontraksi dan Relaksasi

Sikap : Tidur terlentang, kedua tangan di samping badan, kedua kaki di tekuk dan

lemaskan badan.

Latihan :Lakukan pernafasan diafragma dan dada yang dalam seperti telah di

bicarakan.

3. Latihan Pernafasan.

Latihan pernafasan seperti telah diharapkan tetap dengan frekuensi 26-28/menit dan

lebih cepat.

Gunakan untuk menghilangkan rasa nyeri.

e. Minggu ke 35 sampai akan Partus.

1. Latihan Pembentukan Sikap Tubuh


Sikap : Berbaring terlentang, kedua lengan di samping badan, kedua kaki ditekuk

pada lutut dan rileks.

Latihan :

Angkat badan dan bahu, letakkan dagu diatas dada melihat kearah vulva. Kegiatan

ini pertahankan beberapa saat, lalu kembali ke sikap semula dan santailah. Latihan

ini di ulang 8 kali denagan interval 2 menit.

2. LatihanKontraksi dan Relaksasi

Sikap : Tidur terlentang kedua lengan disamping badan kedua kaki lurus lemaskan

seluruh tubuh lakukan pernafasan secara teratur dan berirama.

Latihan :

Tegangkan seluruh otot tubuh dengan cara : katubkan rahang kerutkan dahi,

tegangkan otot-otot leher kepalkan kedua tangan, tegangkan bahu tegangkan otot-

otot perut, kerutkan dubur tegangkan kedua tungkai kaki dan tahan nafas, setelah

beberapa saat kembali ke sikap semula dan lemaskan seluruh tubuh. Lakukan

kegitan ini sebanyak 9 kali.

3. Latihan Pernafasan

Sikap : Tidur terlentang, kedua lutut dipegang oleh kedua lengan (posisi litotomi)

dan rileks.

Latihan :

Buka mulut sedikit dan bernafaslah sedalam-dalamnya. Lalu tutup mulut. Latihan

mengejan seperti buang air besar (defekasi) ke arah bawah dan depan. Setelah lelah

mengejan, kembali ke posisi semula. Latihan ini diulang 4 kali dengan interval 2

menit.
4. Latihan Penegangan dan Relaksasi.

a. Latihan Penegangan

Tujuan : Latihan ini berguna untuk menghilangkan tekanan (stress) pada waktu

melahirkan. Dengan latihan inii diharapkan ibu dapat menjadi tenang dan

memperoleh rileksasi sempurna menghadapi persalinan.

Sikap : Berbaring miring kearah punggung janin, misalnya ke kiri, maka lutut

kanan diletakkan di depan lutut kiri keduanya di tekuk. Tangan kanan di tekuk

di depan badan, sedangkan tangan kiri di belakang badan.

Latihan : Tenang, lemaskan selluruh badan, mata di picingkan, hilangkan

semua suara yang mengganggu. Lakukan latihan ini selama 5-10 menit.

b. Latihan Relaksasi

Syarat :

- Tutuplah mata dan tekukkan semua persendian.

- Lemaskan seluruh otot-otot baan termasuk muka.

- Pilihlah tempat yang tenang atau tutuplah mata dan telinga.

- Pusatkan pikiran pada suatu titik, misalnya pada irama pernafasan.

- Pilihlah posisi relaksasi yang paling anda senangi.

Ada 4 posisi rileksasi yaitu : a) Posisi terlentang kedua kaki lurus, b)

Berbaring terlentang kedua lutut ditekuk, c) Berbaring miring atau, d) Posisi rileksasi

sedang duduk yaitu dengan duduk menghadap sandaran kursi dalam posisi

membungkuk, kedua kaki ke lantai, kedua tangan di atas sandaran. Duduklah dengan

tenang. Pada keempat posisi di atas rileksasi dilakukan dengan jalan

menutup/memicingkan mata, melemaskan oot-otot seluruh tubuh, tenang dan bernafas

dalam dan teratur. Gunanya untuk memberikan ketenangan dan mengurangi nyeri

oleh his, karena itu dapat dilakukan pada Kala pendahuluan dan Kala pembukaan.
B.Persalinan

1.Pengertian persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran (kelahiran) hasil konsepsi yang dapat hidup

diluar uterus melalui vagina ke luar dunia. (sarwono ,2008 : 100 dalam Jenny J.S Sondakh,

2013)

Persalinan adalah keluarnya/lahirnya janin dan plasenta dari rahim (Yohana,dkk : 2011)

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uetrus

ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup

bulan(stelah 37 minggu) tanpa disertai penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus

berkontraksi dan menyebeabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan

berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkp. (JNPK-KR, 2012)

Persalinan (partus = labor) adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi

(janin+uri) yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan

lahir.(Amru Sofian,Sp.OG : 2011).


Persalinan adalah kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi serviks dan

mendorong janin melalui jalan lahir. (Canningham, F. Gary., 2006).

Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal.Persalinan


adalah merupakan proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam jalan
lahir.Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir.
(Sarwono ,2009 ).

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan ( 37-42 minggu ) lahir spontan dengan persentase belakang kepala
yang berlangsung dalam 18 jam,tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin

( Sarwono,2009 )

Persalinan merupakan proses pergerakan keluarnya janin,plasenta dan membran dari


dalam rahim melalui jalan lahir.Proses ini berawal dari pembukaan dan dilatasi serviks
sebagai akibat kontraksi uterus dengan frekuensi,durasi dan kekuatan yang teratur.Mula-mula
kekuatan muncul kecil, kemudian terus meningkat sampai puncaknya pembukaan serviks
lengkap sehingga siap untuk pengeluaran janin dari rahim ibu ( Rohani dkk,2011 ).

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi ( janin dan plasenta ) yang telah
cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan
lain,dengan bantuan atau tanpa bantuan ( kekuatan sendiri ).Proses ini dimulai dengan
adanya kontraksi persalinan sejati,yang ditandai dengan perubahan serviks secara progresif
dan diakhiri dengan kelahiran plasenta ( Sulistyawati dan Nugraheny,2013 ).

Persalinan merupakan kejadian fisiologis yang normal dalam kehidupan.Kelahiran


seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial bagi ibu dan keluarga.Peranan ibu adalah
melahirkan bayinya,sedangkan peranan keluarga adalah memberkan bantuan dan dukungan
pada ibu ketika terjadi proses persalinan ( Sumarah dkk,2011 )

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun kedalam
jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban terdorong keluar melalui jalan
lahir

( Sarwono,2008 :100 )

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi ( janin dan uri ) yang dapat
hidup kedunia luar,dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.

Beberapa istilah yang berhubungan dengan partus

1.Menurut cara persalinan :

Partus biasa ( normal ) disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada
LBK,dengan tenaga ibu sendiri,tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan
bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
Partus luar biasa ( abnormal ) adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat
atau melalui dinding perut dengan operasi caesaria.
2.Menurut tua ( umur ) kehamilan :

Abortus ( keguguran ) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup


(viable ),berat janin dibawah 1000 gram ,tua kehamilan dibawah 28 minggu.
Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36
minggu,janin dapat hidup tetapi premature,berat janin antara 1000-2500 gram.
Partus maturus atau atrem ( cukup bulan ) adalah partus pada kehamilan 37-40
minggu,janin matur ,berat badan janin diatas 2500 gram
Partus postmaturus ( serotinus ) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih
dari waktu partus yang ditaksir,janin disebur postmature.
Partus presipatatus adalah partus yang berlangsung cepat.
Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti
tentang ada atau tidaknya disproporsi sefalopelvik.
3.Gravida dan para

Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil


Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya
Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat
hidup(viable)
Nullipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan beberapa kali
(sampai 5 kali )
Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi hidup untuk
pertama kalinya
Multipara atau pleuipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable
beberapa kali ( sampai 5 kali)
Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih
hidup atau mati.
Hampir 96 % janin berada dalam uterus dengan presentase kepala dan pada persentase kepala
ditemukan 58 % ubun-ubun kecil terletak dikiri depan ,kurang lebih 23% dikanan depan
,kurang lebih 11% dikanan belakang,dan kurang lebih 8 % dikiri belakang.Keadaan ini
mungkin disebabkan terisinya ruangan dikiri belakang oleh kolon sigmoid dan rektum.

Seperti telah jelaskan 3 faktor penting yang memegang peranan pada persalinan ialah:

1.kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan kekuatan mengejan

2.keadaan jalan lahir

3.janin

His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks membuka dan
mendorong janin kebawah.Pada persentase kepala,bila his sudah kuat , kepala akan turun dan
mulai masuk kedalam rongga panggul.
Masuknya kepala melintasi pintu atas panggul dapat dalam keadaan sinklitismus,ialah
bila arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas panggul.Dapat pula kepala
masuk dalam kedaan asinklitismus, yaitu arah sumbu kepala janin miring dengan pintu atas
panggul.Asinklitismus anterior menurut Naegle adalah apabila arah sumbu kepala membuat
sudut lancip ke depan dengan pintu atas panggul.Dapat pula asinklitismus posterior menurut
Litzman; adalah apabila keadaan sebaliknya dari asinklitismus anterior.

Keadaan asinklitismus anterior lebih menguntungkan daripada mekanisme turunnya


kepala dengan asinklitismus posterior karena ruangan pelvis didaerah posterior lebih luas
jika dibandingkan dengan ruangan pelvis di daerah anterior . Hal asinklitismus penting,
apabila daya akomodasi panggul agak terbatas.

Akibat sumbu kepal janin yang eksentrik atau tidak simetris, dengan sumbu lebih
mendekati suboksiput, maka tahanan oleh jaringan dibawahnya terhadap kepala yang akan
menurun,menyebabkan kepala mengadakan fleksi didalam rongga panggul menurut hukum
Koppel.

Dengan fleksi kepala janin memasuki ruang panggul dengan ukuran yang paling
kecil,yakni dengan diameter suboksipitobregmatikus ( 9,5 cm ) dan dengan sikumferensia
suboksipitobregmatikus ( 32 cm ) sampai didasar panggul kepala janin berada didalam
keadaan fleksi maksimal.Kepala yang sedang turun menemui diafragma pelvis yang berjalan
dari belakang atas ke bawah depan.Akibat kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan
intraiuterin disebabkan oleh his yang berulang-ulang,kepala mengadakan rotasi ,disebut pula
putaran paksi dalam.Didalam hal mengadakan rotasi ubun-ubun kecil akan berputar kearah
depan,sehingga didasar panggul ubun-ubun dibawah simfisis, dan dengan suboksiput sebagi
hipomoklion,kepala mengadakan gerakan defleksi unutk dapat dilahirkan. Pada tiap his vulva
lebih membuka dan kepala janin makin tampak.Perineum menjadi makin lebar dan tipis,anus
membuka dinding rektum.Dengan kekuatan his bersamaan dengan kekuatan
mengejan,berturut-turut tampak bregma,dahi,muka dan akhirnya dagu.Sesudah kepala
lahir,kepala segera mengadakan rotasi,yang disebut putar paksi luar .Putaran paksi luar ini
ialah grakan kembali keposisi sebelum putaran paksi dalam terjadi, untuk menyesuaikan
kedududkan kepala dengan punggug anak.

Bahu melintasi pintu atas panggul dalam keadaan miring. Di daam rongga panggul
bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang dilaluinya, sehingga di dasar
panggul, apabia kepala telah dilahirkan, bahu akan berada dalam posisi depan belakang.
Selanjutnya dilahirkan bahu depan terlebih dahulu, baru kemudian bahu belakang. Demikian
pula dilahirkan trokanter depan terlebih dahulu, baru kemudian trokanter belakang.
Kemudian bayi lahir seluruhnya.

Apabila bayi telah lahir, tali pusat dijepit diantara 2 cunam pada jarak 5 dan 10 cm,
kemudian, diguntin diantara kedua cunam tersebut, lalu diikat. Umumnya bila telah lahir
lengkap, bayi segera akan menarik nappas dan menangis.

Bila bayi telah lahir, uterus mengecil. Partus berada dalam kala III (kala uri). Walaupun bayi
telah lahir, kala uri ini tidak kalah pentingnya dari pada kala I dan II. Kematian ibu karena
perdarahan pada kal uri ini tidak jarang terjadi apabila pimpinan kala III kurang cermat
dikerjakan. Seperti telah dikemukakan, segera setelah bayi lahir, his mempunyai amplitud
yang kira-kira sama tingginya, hanya frekuensinya berkurang. Akibat his ini, uterus akan
mengecil sehingga perlekatan plasenta dengan dinding uterus akan terlepas. Melepasnya
plasenta dari dinding uterus ini dapat dimulai dari:

Tengah (sentral menurut Schultze)


Pinggir (marginal Mathew- Duncan)
Kombinasi 1 dan 2.
Yang terbanyak ialah menurut Schultze. Umumnya kala III berlangsung selama 6 sampai 15
menit. Tinggi fundus uteri setelah kala III kira- kira 2 jari dibawah pusat.

2.Etiologi Terjadinya Persalinan


Kemampuan uterus dalam mempertahankan kehamilan mempunyai jangka waktu tertentu
dan dibatasi oleh kemampuan meregang,besarnya janin dalam uterus dan jangka waktu
tuanya plasenta.

Sejak umur kehamilan 20-32 minggu telah mulai makin frekuennya kontraksi Braxton
Hicks,yang mempunyai arti sangat penting untuk dimulainya proses pematangan serviks
(yang berfungsi sebagai penyangga dan pintu persalinan )

Bagaimana proses dimulainya persalinan masih merupakan pertanyaan yang sulit


dijawab.Diperkirakan terdapat beberapa faktor dominan yang mempengaruhi proses
persalinan atau dimulainya kontraksi uterus,yaitu sebagai berikut :

1.Faktor perubahan endokrin yang makin mengecil dengan makin tuanya kehamilan yang
bersumber dari :

a.Plasenta

b.Janin sendiri

c.Perubahan feto maternal

2.Faktor parakrin yaitu hubungan langsung terhadap janin :

a.Perubahan yang terjadi pada miometrium

b.Perubahan yang terjadi pada desidua

c.Perubahan yang terjadi pada selaput ketuban

Kedua faktor tersebut dapat merupakan inisiasidimulainya his ( kekuatan ) untuk proses
persalinan,yang sesungguhnya telah muali sejak umur kehamilan 20-32 minggu.

Sedangkan pada proses yang telah berjalan,dengan dilewatinya kala pertama,maka


pada kala kedua baru yang berasal dari proses mengejan.Proses mengejan merupakan
kekuatan yang dapat dikendalikan dari luar sehingga resultantenya diharapkan menunjang his
sehingga persalinan dapat berlangsung lebih cepat.

Untuk dapat lebih memahami proses persalinan dijabarkan beberapa hals ebagi
berikut.Uterus terbentuk dari pertemuan duktuk Mueller kanan dan kiri digaris tengah
sehingga otot rahim terbentuk dari dua spiral yang saling beranyaman dan membentuk sudut
disebelah kanan dan kiri sehingga pembuluh darah dapat tertutup dengan kuat saat terjadi
kontraksi.

Otot uterus terdiri dari: jaringan ikat dan glycosaminoglycans.Pada bagian fundus dan
korpus uteri jumlah dominan,sedangkan makin kearah serviks jumlahnya semakin berkurang.

Pada saat hamil pertumbuhan dan perkembangan otot uterus dikendalikan oleh
hormon estrogen dan prostaglandin inhibitor.Disamping itu perkembangannya dikendalikan
oleh pembesaran uterus yang mempunyai sifat elastis sehingga saat uterus bertambah besar
tidak akan terjadi peningkatan tekanan intrauteri.Dengan demikian,tumbuh kembang uteus
saat hamil tidak akan menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim.

Hal yang menjadi penyebab mulainya persalinan belum diketahui benar,yang ada hanyalah
merupakan teori teori yang kompleks.

Teori penyebab persalinan

2.1.Teori penurunan Hormon

Saat 1-2 minggu sebelum proses melahirkan dimulai,terjadi penurunan kadar estrogen
dan progesteron.Progesteron bekerja sebagai penenang otot otot polos rahim,jika kadar
progesteron turun akan menyebakan tegangnya pembuluh darah dan menimbulkan his.

2.2 Teori plasenta menjadi tua

Seiring matangnya usia kehamilan, vili chorialis dalam plasenta mengalami beberapa
perubahan,hal ini menyebabkan turunnya kadar estrogen dn progesteron yang mengakibatkan
tegangnya pembuluh darah sehingga akan menimbulkan kontraksi uterus.

2.3.Teori Distensi Rahim

1.Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.

2.Setelah melewati batas tersebut,akhirmya terjadi kontraksi sehingga persalinan


dapat dilmulai.

3.Contohnya pada kehamilan gameli,sering terjadi kontraksi karena uterus teregang


oleh ukuran janin ganda,sehingga kadang kehamilan gemeli mengalami persalinan yang lebih
dini.

2.4.Teori Iritasi Mekanis


Dibelakang serviks terletak ganglion servikalis ( fleksus frankenhauser ),bila ganglion
ini digeser dan ditekan ( misalnya oleh kepala janin),maka akan timbul kontraksi uterus.

2.5.Teori Oksitosin

1.Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjr hipofisi posterior.

2.Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensivitas otot


rahim,sehingga sering terjadi kontraksi Braxton hicks.

3.Menurunnya konsentrasi progesteron karena matangnya usia kehamilan


menybabkan oksitosin meningkatkan aktivitasnya dalam merangsang otot rahim untuk
berkontrak,dan akhirnya persalinan dimulai.

2.6.Teori Hipotalamus pituitari dan grandula suprarenalis

1.Glandula suprarenalis merupaka pemicu terjadinya persalinan.

2.Teori ini menunjukan, pada kehamilan dengan bayi anensefalus sering terjadi
kelambatn persalinan karena tidak terbentuknya hipotalamus.

2.7.Teori Prostaglandin

Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua disangka sebagai salah satu sebab
permulaan persalinan.Hasil percobaan menunjukan bahwa prostaglandin yang diberikan secra
intravena menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap usia kehamilan.Hal ini juga
didukung dengan adanya kadar prostaglandinyang tinggi baik dalam air ketuban darah perifer
pada ibu hamilsebelum melahirkam atau sebelum proses persalinan.

2.8. Teori keregangan

Otot mempunyai kemampuan meregang dalam batas waktu tertentu. Setelah melewati batas

waktu tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan mulai berlangsung. Keadaan uterus

yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskhemia otot-otot uterus.

2.9. Teori oksitosin internal

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise posterior. Perubahan keseimbangan

estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahi, sehingga sering terjadi

kontraksi braxton hicks. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan

mengakibatkan oksitosin meningkat sehingga persalinan dimulai.

2.10. Teori Iritasi mekanik


Tekanan pada ganglion servikale dari fleksus frankenhauser yang terletak di

belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, maka kontraksi uterus dapat dibangkitkan.

Induksi persalinan(induction of labour)

Partus dapat juga ditimbulkan dengan :

a. Gagang Laminaria : Beberapa laminaria dimasukkan ke dalam kanalisservikalis

dengan tujuan merangsang Fleksus Frankenhauser.

b. Amniotomi : Pemecahan ketuban

c. Oksitosin Drips : Pemberian Oksitosin melalui tetesan infus per menit

Dalam hal mengadakan induksi persalinan perlu diperhatikan bahwa serviks sudah

matang (serviks sudah pendek dan lembek) dan kanalis servikalis terbuka utuk 1 jari.

Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita

memasuki bulannya yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labour). Ini

memberikan tanda-tanda sebagai berikut :

Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu

atas panggul terutama pada primigravida.Pada multipara tidak begitu

kentara.

Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri menurun.

Perasaan sering atau susah BAK (polakisuria) karena kandung kemih

tertekan oleh bagian terbawah janin.

Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi leah

dari uterus, kadang-kadang disebut false labour pains.

Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa

bercampur darah.
III.PEMBAGIAN PROSES PERSALINAN

Kehamilan secara umum ditandai dengan aktivitas otot polos miometrium yang relatif tenang
yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan janin intrauteri sampai dengan
kehamilan aterm.Menjelang persalinan,otot polos uterus mulai menunjukkan akitvitas
kontraksi secara terkordinasi,diselingi dengan satu periode relaksasi,dan mencapai puncaknya
menjelang persalinan,serta secara berangsur menghilang pada periode
postpartum.Mekanisme regulasi yang mengatur aktivitas kontraksi miometrium selama
kehamilan,persalinan,dan kelahiran.

Fase Fase persalinan

Beberapa jam terkahir kehamilan ditandai dengan adanya kontraksi uterus yang
menyebabkan penipisan,dilatasi serviks,dan mendorong janin keluar melalui jalan
keluar.Banyak energi dikeluarkan pada waktu ini.Oleh karena itu,penggunaan istilah in
labour ( kerja keras ) dimaksudkan untuk menggambarkan proses ini.Kontraksi miometrium
pada persalinan terasa nyeri persalinan digunkan untuk mendeskripsikan proses ini.

Tiga Kala Persalinan

Persalinan aktif dibagi menjadi tiga kala yang berbeda.Kala satu persalinan mulai ketika telah
tercapai kontraksi uterus dengan frekuensi,intensitas,dan durasi yang cukup untuk
menghasilkan pendataran dan dilatasi serviks yang progresif.Kala satu persalinan selesai
ketika serviks sudah membuka lengkap ( sekitar 10 cm ) sehingga memungkinkan kepala
janin lewat.Oleh karena itu,kala satu persalinan disebut stadium pendataran dan dilatasi
serviks.Kala dua persalinan dimulai ketika dilatasi serviks sudah lengkap,dan berakhir ketika
janin sudah lahir.Kala dua juga disebut juga stadium ekspulsi janin.Kala tiga persalinan
dimulai segera setelah bayi lahir,dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban
janin.Kala tiga persalinan juga disebut sebagai stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta.

Persalinan dibagi menjadi 4 tahap.Pada kala 1 serviks membuka dari 0 sampai 10


cm.Kala Idinamakan juga kala pembukaan.Kala II disebut juga dengan kala pengeluaran,oleh
karena kekuatan his dan kekuatan mengedan,janin didorong sampai keluar sampai
lahir.Dalam kala III atau disebut juga kala uri,plasenta terlepas dari dinding uterus dan
dilahirkan.Kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam kemudian.

Persalinan aktif dibagi menjadi 3 kala yang berbeda .Kala 1 persalinan dimulai ketika
telah tercapai kontraksi uterus dengan frekuensi,intensitas,dan durasi yang cukup untuk
menghasilkan pendataran dan dilatasi serviks yang progresif. Kala 1 persalinan selesai ketika
serviks sudah membuka lengkap ( 10 cm ) sehingga memungkinkan kepala janin lewat.Oleh
karena itu , kala 1 persalinan disebut stadium pendataran dan dilatasi serviks.

Kala II persalinan dimulai ketika dilatasi serviks sudah lengkap,dan berakhir ketika janin

sudah lahir.Kala II persalinan disebut juga sebagai stadium ekspulsi janin.Kala III persalinan
dimulai segera setelah janin lahir, dan berkhir dengan alhirnya plasenta dan selaput ketuban

janin. Kala III persalinan disebut sebagai stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta.

3.1 Kala I (Kala Pembukaan)

3.1.1 Diagnosis

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan

meningkatkan (frekuensi dan kekuatanya) hingga serviks membuka lengkap (10cm).

Perubahan fisiologis pada kala 1 persalinan

1.Awitan persalinan adalah suatu proses,bukan sebuah kejadian .Penipisan servis terjadi sejak
36 minggu getasi.

2.Kontraksi dan retraksi :pemendekan otot uteri yang terjadi setiap kontraksi,terutama
disegmen atas.Tarikan progresif pada segmen bawah yang lebih lemah menyebabkan
penipisan dan dilatasi serviks pada fase laten kala satu diperkirakan sampai 3 cm pembukaan
serviks,sementara fase aktif dimulai sejak pembukaan 3-10 cm.

3.Cincin retraksi : kejadian normal pada semua persalinan.Pembentukan lipatan yang terjadi
antara segmen otot atas yang tebal dan bereraksi dengan aspek segmen bawah yang tipis dan
terdistensi.Hanya terlihat pada yang persalinan macet,ketika lipatan tranversal terbentuk
melintasi abdomen yang disebut cincin Bandls mengindikasikan akan terjadi ruptur uteri

4.Segmen atas yang akitf/segmen bawah yang pasif : pemendekan segmen atas menarik
segmen bawah yang pasif.Memulai refleks pelepasan oksitosin melalui hipofisis posterior
serta membantu panipisan dan dilatasi.

5.Polaritas uterus : koordinasi antara segmen atas da bawah ;proses berlangsung secara
seimbang,harmonis dan ritmis.Segmen atas berkontraksi secara lebih kuat dan segmen bawah
berkontraksi secara kuat dan segmen bawah berkontraksi secara lebih lemah dab berdilatasi.

6.Tonus istirahat : selama kontraksi aliran darah ke plasenta terganggu sehingga pertukaran
oksigen dan karbondioksida didalam ruang intervilus berkurang.Tonus istirahat adalah
periode relaksasi antara kontraksi yang memampukan aliran darah plasenta mencapai kadar
normal,untuk memastikan oksigenasi janin yang adekuat.

7.Intensitas kontraksi : kontraksi menyebabkan peningkatan tekanan didalam uteri


(amplitudo ).yang dapt dicatat.Kontraksi meningkat secara cepat hingga mencapai suatu
puncak,kemudian secara lambat menghilang

8.Pembentukan forewaters dan hindwaters : merupakan hasil dari penurunan kepala janin
ke serviks,yang memisahkan kantong cairan amnion yang kecil dibagian depan presentasi
janin.Forewaters membantu penipisan serviks dan dilatasi awal.Hindwaters mengisi rongga
uterus yang menyeimbangkan tekanan didalam uterus selama kontraksi sehingga
memberikan perlindungan pada janin dan plasenta.

9.Ketuban pecah : diduga terjadi akibat peningkatan produksi prostaglandin E2 dari amnion
selama persalinan,bersamaan dengan kekuatan kontraksi.

10.Show : pergeseran operkulu akibat penipisan dan dilatasi serviks.Ini dapat terjadi setiap
saat selama persalinan,tetapi lebih sering terjadi menjelang akhir kala satu atau saat dilatasi
lengkap.

11.Tekanan aksis janin : ini adalah tekanan yang ditransmisikan oleh kontraksi uterus yang
menuruni spinal janin menuju kepala janin. ( kebidanan OXFORD.2013 )

3.1.1.1 Kemajuan persalinan dalam kala 1

Kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala 1 ditandai dengan :

1. Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekuensi dan durasi.

2. Selama fase aktif dalam persalinan, kecepatan pembukaan serviks paling sedikit

1cm per jam (dilatasi serviks berlangsung atau ada disebelah kiri garis waspada)

3. Serviks tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin.

Kemajuan yang kurang baik pada persalinan kala 1 dtandai dengan :

1. Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten.

2. Selama persalinan fase aktif , kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1cm

per jam (dilatasi serviksberlangsung atau ada disebelah kanan gariswaspada).

3. Serviks tidak dipenuhi oleh bagian terbawah janin

Kemajuan yang kurang baik pada persalinna dapat menyebabkan persalinan

berlangsung berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

3.1.1.2 Kemajuan pada kondisi janin

1. Jika ditemui DJJ tidak normal (<100 atau >180 denyut per menit), mungkin terjadi

gawat janin
2. Posisi atau persentasi selain oksiput anterior dengan vertex fleksi sempurna

digolongkan kedalam malposisi dan malpersentasi.

3. Jika didapat kemajuan yang kurang baik atau adanya persalinan lama

(primigravida >18jam, multigravida >8jam) setelah adanya tanda-tanda inpartu.

3.1.1.3 Kemajuan pada kondisi ibu

Untuk menilai kegawatan pada ibu, dapat dilihat melalui hal-hal sebagai berikut :

1. Jika denyut nadi ibu meningkat, mungkin ibu sedang mengalami dehidrasi atau

kesakitan.

2. Jika tekanan darah ibu menurun, curigai adanya perdarahan.

3. Jika terdapat aseton didalam urin ibu, curigai intake nutrisi kurang.

Kala satu persalinan terdiri atas dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif, yaitu :

1. Fase laten pada kala satu persalinan

Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan

seriks secara bertahap

Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4cm

Pada umumnya, fase laten berlangsung antara 6 hingga 8 jam

2. Fase aktif pada kala satu persalinan

Berlangsung selama 7jam

serviks membuka dari 4cm sampai 10cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-

rata 1cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1cm hingga

2cm(multipara)

kontraksi lebih kuat dan sering

Terjadinya penurunan bagian terbawah janin.


Fase aktif dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

Fase akselerasi (percepatan)

Dalam waktu 2jam pembukaan 3cm menjadi 4cm.

Fase dilatasi maksimal (lengkung maksimal)

Dalam waktu 2jam pembukaan berlangsung sangat cepat dar 4cm menjadi

9cm.

Fase deselerasi (perlambatan)

Pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9cm

menjadi lengkap.

Proses diatas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida

memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung 12jam,

sedangkan pada multigravida 8jam.

Faktor yang mempengaruhi membukanya serviks :

Otot-otot serviks menarik pada pinggir ostium dan membesarkannya.

Waktu kontraksi, segmen bawah rahim dan serviks diregang oleh isi rahim terutama

oleh air ketuban dan ini menyebabkan tarikan pada serviks.

Waktu kontraksi, bagian dari selaput yang terdapat di atas kanalis servikalis adalah

yang disebut ketuban, menonjol ke dalam kanalis servikalis dan membukanya

3.1.2 Partograf

Partograf adalah alat bantu untuk mengobservasi kemajuan kala 1 persalinan dan

menberika informasi untuk membuat keputusan klinik. Tujuan utama pengguanaan

partograf adalah sebagai berikut :


1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks

dengan pemeriksaan dalam.

2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan normal. Dengan demikian, juga dapat

mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.

3. Data lengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik

kemajuan proses persalinan.

Jika digunakan dengan tepat dn konsisten, partograf akan membantu penolong

persalinan untuk :

1. Mencatat kemajuan persalinan.

2. Mencatat kondisi ibu dan janinnya.

3. Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.

4. Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini penyulit persalinan.

5. Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan kinik yang sesuai

dan tepat waktu.

Halaman depan partograf menginstruksikan observasi dimulai pada fase aktif

persalinan dan menyediakan lajur dan kolon untuk mencatat hasil pemeriksaan selama fase

aktif persalinan, yaitu :

1. Informasi tentang ibu

Meliputi nama, umur, gravida, para, abortus, nomor catatan medis/nomor

puskesmas, tanggal dan waktu mulai dirawat, serta waktu pecahnya selaput

ketuban.

2. Kondisi janin

a) DJJ

b) Warna dan adanya air keruban.


Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dalam dan nilai

warna air ketuban jika ketuban pecah.

U : ketuban utuh (belum pecah)

J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur

dengan mekonium

D : ketuban pecah bercampur dengan darah.

K : ketuban keruh

c) penyusupan kepala janin.

0 :tulang tulang kepala janin terpisah , sutura dengan

mudah dapat dipalpasi

1 :tulang tulajng kepala jani hanya sebagian yang

bersentuhan

2 : tulang tulang kepala janin saling tumpang tindih , tapi

masih dapat dipisahkan

3 : tulang tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak

dapat dipisahkan

3. Kemajuan persalinan

Pembukaan serviks, penurunan bagian terbawah, atau persentasi janin, garis

waspada, dan garis bertindak.

4. Jam dan waktu

Waktu mulainya fase aktif persalinan, waktu aktual saat pemeriksaan atau

penilaian.

5. Kontraksi uterus

Frekuensi uterus dalam watu 10 menit, lama kontraksi dalam detik


6. Obat dan cairan yang diberikan

Oksitosin, obat, dan cairan IV yang diberikan.

7. Kondisi ibu

Nadi, tekanan darah, temperatur tubuh, dan urin (volume, aseton, protein).

Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang

terjadi selama persalinan dan kelahiran bayi. Itulah sebabnya bagian ini disebut catatan

persalinan. Catatan persalinan ini terdiri dari data atau informasi umum kala I, II, III, bayi

baru lahir, dan kala IV.

3.2 Kala II

Yang dimaksud dengan kala II persalinan adalah Proses pengeluaran buah kehamilan

sebagai hasil pengenalan proses dan penatalaksanaan kala pembukaan, batasan kala dua

dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan kelahiran

bayi, kala II juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi ( Depkes RI 2007).

Selama kala II persalinan yaitu kala pengeluaran janin, proses oksigenasi janin secara

perlahan akan berkurang akibat adanya retraksi uterus dan penurunan dalam sirkulasi

plasenta. ( jenny j.s.sondakh,2013).

3.2.1 Tanda dan gejala kala dua persalinan

Telah terjadi pembukaan lengkap, tampak bagian kepala janin melalui bukaan

introitus vagina, ada rasa ingin meneran saat kontraksi, ada dorongan pada rectum atau
vagina, perineum terlihat menonjol, vulva dan sfingter ani membuka, peningkatan

pengeluaran lendir dan darah. (Ai Yeyeh Rukiyah dkk,2011).

Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi

Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum dan atau vaginanya

Perineum menonjol

Vulva dan sfingter ani membuka

Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

(JNPK-KR, 2012.APN)

Kala II persalinan adalah kala pengeluaran dimulai saat serviks telah membuka

lengkap dan berlanjut hingga bayi lahir. Mean durasi kala dua pada persalinan spontan tanpa

komplikasi adalah sekitar 40 menit pada primigravida dan 15 menit pada wanita multipara.

Bayi yang gagal lahir dalam batas waktu ini tidak harus mengindikasikan persalinan operatif,

tetapi tentunya memerlukan penilaian ulang situasi dalam hal posisi dan atau ukuran bayi

dalam hubungannya dengan panggul. Pada wanita dengan blok epidural yang efektif, kepala

bayi sering kali tampak terletak rendah di dalam panggul, pada perineum tetapi tidak dapat

maju lebih lanjut karena keinginan ibu untuk mendorong telah melemah.(atlas kebidanan)

3.2.2 Perubahan Fisiologis Pada Kala II Persalinan

1.Kontraksi Uterus

Dimana kontraksi ini bersifat nyeri yang disebabkan oleh anoxia dari sel sel otot tekanan

pada ganglia dalam serviks dan segmen bawah rahim (SBR), regangan dari serviks, regangan

dan tarikan pada peritoneum, itu semua terjadi pada saat kontraksi yang bersifat berkala dan

yang harus diperhatikan adalah lamanya kontraksi berlangsung 60 90 detik, kekuatan


kontraksi secara klinis ditentukan dengan mencoba apakah jari kita dapat menekan dinding

rahim kedala, interval antara kedua kontraksi, pada kala pengeluaran sekali dalam 2 menit.

2.Perubahan perubahan uterus

Keadaan segmen atas rahim (SAR) dan segmen bawah rahim (SBR), dalam persalinan

perbedaan SAR dan SBR akan tampak lebih jelas, dimana SAR dibentuk oleh korpus uteri

dan sifat memegang peranan aktif (berkontraksi) dan dindingnyabertambah tebal dengan

majunya persalinan, dengan kata lain SAR mengadakan suatu kontraksi menjadi tebal dan

mendorong anak keluar. Sedangkan SBR dibentuk oleh isthimus uteri yang sifatnya

memegang peranan pasif dan makin tipis dengan majunya persalinan (disebabkan karena

regangan) dengan kata lain SBR dan serviks mengadakan relaksasi dan dilatasi.

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam ( informasi obyektif) yang hasilnya

adalah :

Pembukaan serviks telah lengkap

Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina

Gejala utama kala II sebagai berikut :

1. His yang semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai

100 detik.

2. Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan

secara mendadak.

3. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengedan

akibat tertekannya pleksus frankenhauser.


4. Kedua kekuatan his dan lebih mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi

: kepala membuka pintu, subocciput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara

berturut turut lahir ubun-ubun besar, dahi hidung dan muka serta lepala seluruhnya.

5. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu penyesuain kepala

pada punggung.

6. Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan cara :

Kepala dipegang pada occiput dan dibawah dagu, kemudian ditarik dengan

menggunakan cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan keatas untuk

melahirkan bahu belakang.

Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisi badan bayi

Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.

7. Lamanya kala II untuk primigravida 1,5-2 jam dan multigravida 1,5-1 jam.

3.2.3 Persiapan penolong persalinan

Salah satu persiapan penting bagi penolong adalah memastikan penerapan prinsip dan

praktik pencegahan infeksi (PI) yang dianjurkan, termasuk mencuci tangan, memakai sarung

tangan DTT/Steril dan mengenakan perlengkapan pelindung diri.

1. Sarung tangan DTT

Sarung tangan DTT/Steril harus selalu dipakai selam melakukan periksa dalam,

membantu kelahiran bayi, episiotomy, penjahitan laserasi dan asuhan segera bayi baru

lahir. Sarung tangan DTT/ Steril harus menjadi bagian dari perlengkapan untuk

menolong persalinan (partus set) dan prosedur penjahitan (suturing atau hecting set).

Sarung tangan harus diganti apabila terkontaminasi, robek atau bocor.

2. Perlengkapan pelindung diri


Pelindung diri merupakan penghalang atau barier antara penolong dengan bahan

bahan yang berpotensi untuk menularkan penyakit. Oleh sebab itu penolong

persalinan harus memakai celemek yang bersih dan penutup kepala atau penutup

rambut pada saat pertolongan persalinan. Juga gunakan masker penutup mulut dan

pelindung mata (kaca mata) yang bersih dan nyaman.Kenakan semua perlengkapan

pelindung pribadi selama membantu kalahiran bayi dan plasenta serta saat melakukan

penjahitan laserasi atau luka episiotomy.

3. Persiapan tempat persalinan, peralatan dan bahan

Penolong persalinan harus menilai ruangan dimana proses persalinan akan

berlangsung. Ruangan tersebut harus memiliki pencahayaan/penerangan yang cukup

(baik melalui jendela, lampu langit langit kamar atau pun sumber cahaya lainnya).

Dimensi ruang untuk 1 ranjang bersalin adalah 3 x (1 x 2 x 3m) dimana angka 3

pertama menunjukan jumlah orang yang ada ( 1 pasien, 1 penolong dan 1

pendamping) dan angka yang ada didalam kurung adalah dimensi atau rung yang

digunakan untuk setiap orang (12m) yang terbagi dalam ukuran panjang, lebar dan

tinggi. Jika dikamar bersalin ditempatkan 2 ranjang bersalin makan dimensi

ruangannnya adalah 2 kali ukuran tersebut diatas atau 2 x 3 x12m atau 72m atau 4

meter x 6 meter x 3 meter ( panjang kali lebar dan tinggi).

Ibu dapat melaksanakan persalinan ditempat tidur dengan kasur yang dilapisi kain

penutup yang bersih, kain tebal dan pelapis anti bocor (plastic).Jika tempat bersalin

hanya beralaskan kayu atau diatas kasur yang diletakkan diatas lantai maka lapisan

bawah adalah kain tebal yang diatasnya dilapisi dengan plastic anti bocor. Ruangan

harus hangat dan terhalang dari tiupan angin secara langsung.Selain itu, harus

tersedia meja atau permukaan yang bersih, kering dan mudah dijangkau untuk

meletakkan semua peralatan yang diperlukan.


4. Penyiapan tempat dan lingkungan untuk kelahiran bayi

Persiapan untuk mencegah terjadinya kehilangan panas tubuh yang berlebihan pada

bayi baru lahir harus dimulai dari sebelum kelahiran bayi. Siapkan lingkungan yang

sesuai bagi proses kelahiran bayi atau bayi baru lahir dengan memastikan bahwa

ruangan tersebut bersih, hangat (minimal 25 C), pencahayaaan cukup dan bebasa

dari tiupan angin (matikan kipas angina tau pendingin udara bila sedang terpasang).

Sediakan penghangat tubuh bayi diatas meja asuhan bayi baru lahir yaitu lampu pijar

60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.Lebih baik jika tersedia infant warmer

elektrik yang dapat diatur tingkat kehangatan atau temperature dibawah elemen

pemanas.

5. Persiapan ibu dan keluarga

Asuhan sayang ibu

Anjurkan ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan

kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua dan kerabat yang disukai ibu

sangat diperlukan dalam menjalani proses persalinan.

Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu untuk

berganti posisi, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan dan minuman,

teman bicara dan memberikan dukungan dan semangat selama persalinan dan

melahirkan bayinya.

Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan

anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses persalinan

atau kelahiran bayinya.

Tenteramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani kala dua persalinan. Lakukan

bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan.

Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran.


Setelah pembukaan lengkap anjurkan ibu hanya meneran jika ada kontraksi atau

dorongan spontan dan kuat untuk meneran. Jangan anjurkan ibu untuk meneran

berkepanjangan sehingga upaya bernafas akan terhalang. Alasannya : meneran secara

berkepanjangan menyebabkan upaya bernapas terganggu sehingga terjadi kelelahan

yang tak tak perlu meningkatkan risiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunya

pasokan oksigen melalui plasenta.

Anjurkan ibu untuk minum selama persalina kala II. Alasannya: ibu bersalin mudah

mengalami dehidrasi selama persalinan dan proses kelahiran bayi. Cukupnya asupan

cairan dapat mencegah ibu mengalami dehidrasi.

Jika ibu khawatir dalam menghadapi kala II persalinan, berikan rasa aman, semangat

dan dukungan selama persalinan berlangsung. Semua itu akan mengurangi

ketegangan sehingga dapat melancarkan proses persalinan dan kelahiran bayi.Jelaskan

tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan yang akan dilakukan, jawab semua

pertanyaan yang diajukan ibu dan jelaskan apa yang mungkin terjadi dialami ibu dan

bayi. Juga temuan hasil yang dilakukan. (misalnya tekanan darah, denyut jantung

janin, hasil pemeriksaan dalam, dsb).

Membersihkan perineum ibu

Praktik terbaik pencegahan infeksi pada persalinan kala dua diantaranya adalah

melakukan pembersihan vulva dan perineum menggunakan air matang (DTT). Gunakan

gulungan kapas atau kassa bersih yang dibasahi dengan air DTT, bersihkan mulai dari

bagian atas kearah bawah ( dari bagian anterior vulva kearah anus ), cegah terjadinya

kontaminasi tinja saat ibu meneran, jelasakan bahwa hal itu biasa terjadi. Bersihkan tinja

dengan kain alas bokong atau gulungan kassa sambil tetap menggunakan sarung

tangan. Ganti kain alas bokong dan sarung tangan DTT yang terkontaminasi tinja. Jika

tak tersedia cukup waktu untuk membuang tinja kewadah yang tersedia atau ibu meneran
dan bayi akan segera lahir maka sisihkan dan tutupi tinja tersebut dengan kain bersih

lainnya agar tidak mengkontaminasi bayi.

Mengosongkan Kandung Kemih

Anjurkan ibu dapat berkemih setiap 2jam atau lebih sering jika kandung kemih

selalu terasa penuh. Jika di perlukan, bantu ibu untuk ke kamar mandi. Jika ibu tak dapat

berjalan ke kamar mandi, bantu agar ibu dapat duduk dan berkemih di wadah

penampung urin.

Alasan: kandung kemih yang penuh dapat mengacau penilaian sensasi nyeri,

apakah akibat kandung kemih penuh atau kontraksi. Sebelum ini, kandung kemih yang

penuh dianggap sebagai penghambat penurunan kepala bayi tetapi tidak ada bukti sah

yang menyokong pendapat tersebut. Untuk menghindari cedera pada kandung kemih,

pastikan kandung kemih telah dikosongkan sebelum melakukan tindakan per vagina (

misalnya, ekstraksi vakum ekstraksi forceps, penanganan ditosia bahu, dsb).

Jangan melakukan kateterisasi rutin pada kandung kemuh sebelum/ setelah

kelahiran bayi dan/ atau plasenta.Kateterisasi kandung kemih hanya di lakukan

bila terjadi retensi urin dan ibu tak mampu berkemih sendiri.

Alasan: Selain menyakitkan, kateterisasi dapat meningkatkan resiko infeksi,

trauma, perlukaan, atau morbiditas pada saluran kemih ibu.

3.2.4 Penatalaksanaan Fisiologi kala Dua

Proses fisiologis kala dua persalinan diartikan sebagai serangkaian peristiwa alamiah

yang terjadi sepanjang periode tersebut dan diakhiri dengan lahirnya bayi secara normal(

dengan kekuatan Ibu sendiri). Gejala dan tanda kala dua juga merupakan mekanisme alamiah

bagi ibu dan penolong persalinan bahwa proses pengeluaran bayi sudah di mulai. Setelah
pembukaan lengkap, beri tahu pada ibu bahwa akan terjadi dorangan alamiah berupa rasa

tegang pada dinding perut yang diikuti rasa nyeri dan ingn meneran (jika kepala bayi

menekan pleksus frankenhauser pada rektum)untuk mengeluarkan bayi dari jalan lahir.

Setalah itu, kontraksi mereda dan ibu harus beristrahat hingga timbul kembali gejala alamiah

tersebut diatas ( ibu harus beristrahat diantara kontraksi). Ibu dapat memilih posisi yang

nyaman, baik berdiri, merangkak, berjongkok atau miring untuk memberi rasa nyaman dan

mempersingkat kala dua.Beri keleluasaan untuk ibu mengeluarkan suara selama persalinan

dan kelahiran bayi jika ibu memang menginginkannya atau dapat mengurangi rasa tidak

nyaman yang dialaminya.

Pada masa sebelum ini, sebagian besar penolong akan segera meminta ibu agar

menarik nafas panjang dan meneran setelah terjadi pembukaan lengkap. Ibu dipimpin

meneran tanpa henti selama 10 detik atau lebih ( meneran dengan tenggorakan terkatup

atau menuver valsava) hengga tiga sampai empat kali per kontraksi( Sagady, 1995)

Hal ini ternyata akan mengurangi pasokan oksigen ke bayi yang ditandai dengan

menurunnya denyut jantung janin (DJJ) dan nilai APGAR yang lebh rendah dari normal

(Enkin, et al, 2000). Cara meneran seperti tersebut diatas, bukan merupakan tatalaksa

fisiologis kala dua.Pada tatalaksana fisisologis kala dua. Ibu mengendalikan dan mengatur

saat meneran dengan fasilitasi cara meneran yang efektif dan benar dari penolong persalinan.

Harap di ingat bahwa sebagian besar daya dorong untuk melahirkan bayi, di hasilkan dari

kontraksi uterus.Meneran hanya menambah daya kontraksi untuk mengeluarkan bayi.

3.2.4.1 Membimbing Ibu Untuk Meneran

Jika kala dua telah dapat dipastikan, tunggu sampai ibu merasa adanya dorongan spontan

untuk meneran.Teruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi.


Diangnosis Kala II dan Memulai Upaya Meneran:

Cuci tangan (gunakan sabun dan air bersih yang mengalir)

Pakai satu sarung tangan DTT/ steril untuk periksa dalam.

Beritahun Ibu saat, prosedur dan tujuan periksa dalam.

Lakukan periksa dalam (hati-hati) untuk memastikan pembukaan sudah lengkap

(10cm), lalu lepaskan sarung tangan sesuai prosedur PI.

Jika pembukaan belum lengkap, tenteramkan ibu dan bantu ibu mencari posisi

nyaman (bila ingin berbaring) atau berjalan jalan di sekitar ruangan bersalin. Ajarkan

cara bernapas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayinya ( lihat

pedoman fase aktif persalinan) dan catatkan semua temuan pada patograf.

Jika Ibu merasa ingin meneran tapi pembukaan belum lengkap, beritahukan belum

saatnya untuk meneran, beri nasehat untuk tidak meneran dan ajarkan cara bernafas

cepat selama kontraksi berlangsung. Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang

nyaman dan beritahu untuk menahan diri untuk meneran hingga penolong

memberitahukan saat yang tepat untuk ibu.

Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu mengambil

posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif dan benar dan

mengikuti dorongan alamiah yang terjadi. Anjurkan keluarga ibu untuuk membantu

dan mendukung Usahanya. Catatkan hasil pemantauan pada patograf. Beri cukup

minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Pastikan ibu dapat beristrahat di antra

kontraksi.

Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran, bantu ibu

untuk memperoleh posisi yang nyaman ( bila masi mampu, anjurkan untuk berjalan

jalan). Posisi berdiri dapat membantu penurunan bayi yang berlanjut dengan

dorongan untuk meneran. Ajarkan cara bernapas selama kontraksi berlangsung.


Pantau kondisi ibu dan bayi ( lihat pedoman fase aktif persalinan ) dan catatkan semua

temuan pada patograf. Berikan cukup cairan dan anjurkan / perbolehkan ibu untuk

berkemih sesuai kebutuhan. Pantau DJJ setiap 15 menit. Stimulasi puting susu

mungkin dapa meningkatkan kekuatan dan kualitas kontraksi. Jika ibu ingin meneran,

lihat petunjuk pada butir 7 diatas.

Jika ibu masi merasa ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit (nulipar) atau 30

menit (multipara) sejak pembukaan lengkap, anjurkan ibu hanya meneran disetiap

puncak (fase acme) kontraksi. Anjurkan ibu mengubah posisinya secara teratur,

tawarkan untuk minum, dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Lakukan stimulasi puting

susu untuk memperkuat kontraksi.

Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit (nulipara) atau 30 menit( multipara) meneran

dan kontraksi adekuat atau jika kelahiran bayi tidak akan segera terjadi, rujuk ibu

segara karena tidak turunnya kepala bayi mungkin disebabkan oleh disproporsi kepala

panggul (CPD).

3.2.4.2 Posisi Ibu Saat Meneran

Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman. Ibu dapat mengubah ubah

posisi secara teratur selama kala II karena hal ini dapat membantu kemajuan persalinan,

mencari posisi meneran yang paling efektif dan menjaga sirkulasi utero plasenta tetap baik.

Posisi duduk atau setengah duduk dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu dan memberi

kemudahan baginya beristrahat di antara kontraksi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah

gaya grafitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya.Beberapa ibu merasa bahwa

merangkak atau berbaring miring ke kiri membuat mereka lebih nyaman dan efektif untuk

meneran. Kedua posisi tersebut juga akan membaantu perbaikan posisi oksiput yang

melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput anterior.


Posisi merangkak seringkali membantu ibu mengurangi nyeri punggung saat

persalinan. Posisi berbaring miring ke kiri memudahkan ibu untuk beristrahat diantara

kontraksi jika ia mengalami kelelahan dan juga dapat mengurangi resiko terjadinya laserasi

perineum.

Cara Meneran

Anjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongaan alamiahnya selama kontraksi

Beritahukan untuk tidak menahan nafas saat meneran.

Minta untuk berhenti meneran dan beristrahat di antara kontraksi

Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah untuk meneran

jika lutut ditarik ke arah dada dan dagu ditempelkan ke dada.

Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.

Tidak diperoleh untuk mendorong fundus untuk membantu kelahiran bayi.

Catatan: Jika ibu adalah primigravida dan bayinya belum lahir atau persalinan tidak akan

segera terjadi setelah dua jam meneran maka ia harus segera dirujuk ke fasilitas rujukan.

Lakukan hal yang sama apabila seorang multigravida belum juga melahirkan bayinya atau

persalinan tidak akan segera terjadi setelah satu jam meneran.

3.2.5 Pemantauan selama kala II persalinan

Pantau dan periksa dan catat:

Nadi setiap 30 menit

Sfrekuenai dan lama selama 30 menit

DJJ setaiap selesai meneran atau setiap 5-10 menit

Penurunan kepala bayi setiap 30 menit

Warna cairan ketuban

Apakah ada persentasi majemuk atau talipusat menembung


Putaran paksi luar segera setelah kepala bayi lahir

Catatkan semua pemeriksaan dan intervensi yang di lakukan pada persalinan

3.3 Kala III

Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung
tidak lebih dari 30 menit. Proses lepasnya plasenta dapat diperkirakan dengan
mempertahankan tanda-tanda di bawah ini

1. Uterus menjadi bundar


2. Uterus terdorong ke atas karena plasenta di lepas ke segmen bawah rahim
3. Talipusat bertambah panjang
4. Terjadi semburan darah tiba-tiba
Cara melahirkan plasenta adalah dengan menggunakan teknik dorsokranial
Pengeluaran selaput ketuban. Selaput janin biasanya lahir dengan mudah namun kadang-
kadang masih ada bagian plasenta yang tertinggal. Bagian tertinggal tersebut dapat dikeluarka
dengan cara:
1. Menarik plasenta pelan-pelan
2. Memutar atau memilinnya seperti tali
3. Memutar pada klem
4. Manual dan digital
(Jenny J.S Sondakh. 2013, Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir)

3.3.1Manajemen Aktif Kala Tiga


Tujuan MAK adalah membuat uterus berkontaksi lebih efektif sehingga uterus
berkontraksi lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan
mengurangi kehilangan darah selama kala III persalinan jika dibandingkan dengan pelepasan
plasenta secara spontan. Sebagian besar (25-29 %) morbiditas dan mortalitas ibu di indonesia
deseabkan oleh perdarahan pascapersalinan akibat atonia uteri dan separasi parsial/retensio
plasenta yang dapat dicegah dengan manajemen aktif kala III
Keuntungan Manajemen Aktif Kala III :
Persalinan kala tiga yang lebih singkat
Mengurangi jumlah kehilangan darah
Mengurangi kejadian retensio plasenta
Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama :
Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir
Melakukan penegangan tali pusat terkendali
Masase fundus uteri

3.3.1.1 Pemberian Suntikan Oksitosin


1. Letakkan bayi baru lahir di atas kain bersih yang telah di siapkan di perut bawah ibu
dan minta ibu atau pendampingnya untuk membantu memegang bayi tersebut.
2. Pastikan tidak ada bayi lain (undiagnosed twin) di dalam uterus
Alasan : Oksitosin menyebabkan uterus berkontraksi kuat dan dapat menyebabkan
hipoksia berat pada bayi kedua atau ruptura uteri. Hati-hati jangan menekan
kuat (ekspresi) dinding korpus uteri arena dapat menyebabkan kontraksi
tetanik atau spsme serviks sehingga terjadi plasenta inkarserata atau
kesulitan untuk mengeluarkan plasenta.
3. Beritahu ibu bahwa ia akan di suntikkan
4. Segera (dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir) suntikkan oksitosin 10 I.U. IM di
perbatasan 1/3 bawah tengah lateral paha (aspektus lateralis).
Alasan: Oksitosin menyebabkan uterus berkontaraksi efektif sehingga akan
mempercepat pelepasan plasenta dan mengurangi kehilangan darah.
Lakukan aspirasi sebelum penyuntikan untuk mencegah oksitosin masuk
langsung ke pembuluh darah.
Catatan: jika oksitosin tidak tersedia, minta ibu untuk melakukan stimulasi puting
susu atau melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) segera. Upaya ini akan
merangsang produksi diberikan per oral/sublingual jika tidak tersedia
oksitosin.
5. Lakukan kembali alat suntik pada tempatnya, ganti kain alas dan penutup tubuh bayi
dengan kain bersih dan kering yang bari kemudian lakukan penjepitan (2-3 menit
setelah bayi lahir) dan pemotongan tali pusat sehingga dari langkah 4 dan 5 ini akan
tersedia cukup waktu bagi bayi untuk memperoleh sejumlah darah kaya zat besi dari
ibunya.
6. Serahkan bayi yang telah terbungkus kain pada ibu untuk IMD kontak kulit-kulit
dengan ibu dan tutupi ibu-bayi dengan kain.
7. Tutup kembali perut ibu dengan kain bersih.
Alasan : Kain akan mencegah kontaminasi tangan penolong persalinan yang sudah
memakai sarung tangan dan mencegah kontaminasi darah pada perut ibu.

3.3.1.2 Penegangan Tali Pusat Terkendali


1. Berdiri di samping ibu
2. Pindahkan klem (penjepit tali pusat) ke sekitar 5-10 cm dari vulva.
Alasan : Memegang tali pusat lebih dekat ke vulva akan mencegah avulasi.
3. Laetakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat di atas simfisis
pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dengan menekan uterus
pada saat melakukan penegangan pada tali pusat. Setelah terjadi kntraksi yang kuat,
tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain (pada dinding abdomen)
menekan uterus ke arah lumbal dan kepala ibu (dorso-kranial). Lakukan secara hati-
hati untuk mencegah terjadinya inversio uteri
4. Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali (sekitar dua
atau tiga menit berselang) untuk mengulangi kembali penegangan tali pusat
terkendali.
5. Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat mnjulur) tegangkan tali
pusat ke arah bawah, lakukan dorso-kranial hingga tali pusat makin menjulur dan
korpus uteri bergerak ke atas yang menandakan plasenta telah lepas dan dapat
dilahrkan.
6. Tetapi langkah 5 di atas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan plasenta tidak turun
setelah 30-40 detik sejak dimulainya penegangan tali pusat, jangan teruskan
penegangan tali pusat.
a. Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi
berikutnya. Jika perlu, pindahkan klem lebih dekat ke perineum pada saat tal pusat
menjadi lebih panjang. Pertankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta.
b. Pada saat kontraksi berikutnya terjdi, ulangi penegangan tali pusat terkendali dan
tekanan dorso-kranial pada korpus uteri secara serentak. Ikuti langkah-langkah
tersbut pada setiap kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding uterus.
c. Jika setelah 15 menit melakukan PTT dan dorongan dorso-kranial, plasenta belum
juga lahir maka ulangi pemberian oksitosin 10 I.U. IM, tunggu kontraksi yang
kuat kemudian ulangi PTT dan dorongan dorso-krnial hingga plasenta dapat
dilahirkan.
d. Setelah plasenta terlepas dari dinding uterus (bentuk uterus menjadi globuler dan
tali pusat menjulur ke luar maka anjurkan ibu untuk meneran agar plasenta
terdorong keluar melalui introitus vagin. Bantu kelahiran plasenta dengan cara
menegangkan dan mengarahkan tali pusat sejajar dengan lantai (mengikuti proses
jalan lahir).

Alasan: segera melepaskan plasenta yang telah terpisah dari dindin uterus akan
mencegah kehilangan darah yang tidak perlu.

7. Pada saat plasenta terlihat pada introitus vagina, lahirkan plasenta dengan mengangkat
tali pusat ke atas dengan menopang plasenta dengan tangan lainnya untuk di letakkan
dalam wadah penampung. Karena selaput ketuban mudah robek, pegang plasenta
dengan kedua tangan dan secara lembut putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin
menjadi satu.
8. Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan-lahan untuk melahirkan selaput
ketuban.
Alasan : Melahirkan plasenta dan selaputnya dengan jalan memilin keduanya akan
membantu mencegah tertinggalnya selaput ketuban di uterus dan jalan lahir.
9. Jika selput ketuban robek dan tertinggal di jalan lahir saat melahirkan plaseta, dengan
hati-hati periksa vagina dan serviks secara seksama. Gunakan jari-jari tangan anda
atau klem atau cunam ovum DTT/Steril untuk mengeluarkan selaput ketuban tersebut.
(JNPK-KR.2012, Asuhan Persalinan Normal).

3.3.1.3 Rangsangan Taktil (Masase) Fundus Uteri


Prosedur uantuk memberikan rangsangan taktil (masase) fundus uteri adalah
1. Telpak tangan diletakkan pada fundus uteri
2. Memberi penjelasan tindakan kepada ibu, dengan mengatakan bahwa mungkin ibu
terasa agak tidak nyaman karena tindakan yang di berikan.
3. Dengan lembut tetapi mantap, tangan digerakkan dengan arah memutar pada
fundus uteri agar uterus berkontraksi. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu
15 detik, maka dilakukan penatalaksanaan atonia uteri.
4. Melakukan pemeriksaan plasenta dan selaputnya untuk memastikan keduanya
lengkap atau utuh:
Memeriksa plasenta sisi maternal (yang melekat pada dinding uterus)
untuk memastikan bahwa semuanya lengkap dan utuh (tidak ada bagian
yang hilang).
Memasangkan bagian-bagian plasenta yang robek atau terpisah untuk
memastikan tidak ada bagian yang hilang.
Memeriksa plasenta sisi fetal (yang menghadap ke bayi).
Mengevaluasi selaput untuk memastikan kelengkapannya.
5. Memriksa kembali uterus setelan 1-2 menit untuk memastikan uterus
berkontraksi. Jika uterus masih belum berkontraksi dengan baik, masase fundus
uteri di ulang. Ibu dan keluarganya di ajarkan bagaimana cara melakukan masase
uterus sehingga mampu untuk segera mengetahui jika uterus tidak berkontraksi
baik.
6. Memeriksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertama pascapersalinan
dan setiap 30 menit selama 1 jam kedua pascapersalinan.

3.3.2 Pemeriksaan Plasenta, Selaput Ketuban dan Tali Pusat

3.3.2.1Pemeriksaan Plasenta

1. Menginspeksi plasenta untuk melihat adanya noda pada meconium dan area-area
kalsifikasi.
2. Menginspeksi sisi fetal untuk melihat adanya kista dan untuk menentukan apakah
ini merupakan plasenta di luar korion (plasenta sikuvalata atau plasenta
marginata). Apabila dibutuhkan, robek atau inverse membran untuk melihat
keseluruhan permukaan janin. Permukaan janin juga harus diperiksa dengan
cermat untuk melihat apakah apakah ada pembuluh darah yang robek atau utuh
yang mengarah pada membran dalam upaya mengidentifikasi lobus suksenturiata
yang utuh.
3. Menginspeksi sisi maternal untuk melihat adanya kista, tumor, edema, warna yang
tidak normal dn plasenta mutipel.
4. Menginspeksi sisi maternal untuk melihat adanya infark dan luas pembentukan
infark.
5. Memeriksa sisimaternal untuk melihat keutuhan. Untuk melakukan ini, plasenta di
tempatkan diatas permukaan datar dengan sisi maternal di atas. Kasa berukuran
4x4 digunakan untuk menghapus darah dan benda-benda dari luar untuk melihat
permukaan plasenta dengan jelas.
6. Untuk mengidentifikasikan kotiledon yang hilang dari margin plasenta atau lobus
aksesori yang hilang, margin plasenta di raba dan jari di gerakkan mengelilingi
tepi plasenta. Gerakan ini harus mulus, dan area yang kasar harus diselidiki
dengan saksama karena area yang kasar merupakan indikasi jaringan plasenta
robek.
7. Plasenta di ukur dan di timbang. Hal ini biasanya di tetapkan oleh kebijakan
institusi masing-masing dan tidak selalu dilakukan. Terlepas dari kebijakan
tersebut, bila plasenta muncul dengan ukuran abnormal, maka mengukur dan
menimbang di indikasikkan. Informasi yang didapatkan kemudian
didokumentasika pada catatan.

3.3.2.2 Pemeriksaan Selaput Ketuban

Selaput ketuban di periksa dengan menggantung plasenta sedemikian rupa dengan


memegang tali pusat, sehingga selaput ketuban tergantung ke bawah. Anda dapat
melihat lubang di mana janin dilahirkan dan periksa lah apakah tidak ada selaput
ketuban yang tertinggal.

3.3.2.3 Pemeriksaan Tali Pusat

1. Menghitung jumlah pembuluh darah tali pusat. Untuk melakukannya gunakan kasa
berukuran 4x4 cm dan tali pusat yang telah di potong. Dari tekanan dari lubang
pembuluh darah yang terdapat pada ujung tali pusat, dapat di hitung dari jumlah
pembuluh darahnya. Apabila untuk beberapa alasan, waktu sudah lewat dan pembuluh
darah kolaps sebelum dapat di identifikasi, maka tali pusat di klem dan di potong
kembali, kemudian di cari pembuluh darah tersebut pada tempat potongan yang baru,
tempat pembuluh darah akan mudah terlihat.

1. Mengukur panjang tali pusat. Pengukuran tali pusat biasanya di tentukan oleh
kebijakan masing-masing institusi dan tidak setiap institusi membutuhkannya.
Tanpa memperhatikan kebijakan tersebut, bila tali pusat tampak tidak normal
panjang atau pendek, maka tali pusat tersebut harus di ukur. Pengukuran tali pusat
di lakukan ketika tali pusat dilakukan ketika tali pusat bayi di klem dan telah di
potong.
2. Menginspeksi tali pusat untuk melihat adanya simpul, hematom, tumor, kista
,edema, dan jumlah jelly wharton.

3.3.4 Kebutuhan Ibu Kala III

Kala III merupakan kala setelah keluarnya bayi sampai plasenta lahir. Asuhan yang
dapat di lakukan pada ibu antara lain:

1. Memberikan kesempatan kepada ibu untuk segera memeluk bayinya dan


menyusuinya.
2. Memberitahu setiap tindakan yang akan dilkukan
3. Pencegahan infeksi pada kala III
4. Pemantauan keadaan ibu (tanda vital, kontraksi,perdarahan)
5. Melakukan kolaborasi/rujukan bila terjadi kegawatdaruratan.
6. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi
7. Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III

3.4 Kala IV(kala pengawasan)

Kala IV persalinan adalah waktu atau kala di dalam suatu proses persalinan yang

dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah itu(Affandi,2005)

Kala IV persalinan adalah kala pada dua jam pertama persalinan(saifuddin dkk,2004).

Kala IV persalinan adalah dimulai dari dua jam lahirnya plasenta sampai dua jam

pertama postpartum.(saifuddin dkk,2006)

Secara umum kala IV dalah 0 menit sampai 2 jam setelah persalinan plasenta

berlangsung.ini merupakan masa kritis bagi ibu, karena kebanyakan wanita melahirkan

kehbaisan darah atau mengalami suau keadaan yang menyebabkan kematian pada kala IV ini.

Bidan harus terus memantau keadaan ibu sampai masa kritis ibu elah terlewati.

Kala IV adalah kala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta lahir untuk

memantau kondisi ibu.keadaan dimana segera setelah terlahirnya plaenta terjadiperubahan


maternal terjdi pada saat strees fisik dan emosional akibat persalinan dan kelahian mereda

dan ibu memasuki penyembuhn pascapartum dan bonding(ikatan).Banyak perubahan

fisiologi yang terjadi selama persalinan dan pelahiran kembali ke level pra-persalinan dan

menjadi stabil selama 1 jam pertama pascapartus.

3.4.1 Asuhan pemantauan kala IV

Segera setelah plasenta lahir :

1. Lakukan rangsangan taktil (masase uterus) dapat membuat uterus berkontraksi secara

adekuat dan efektif.

2. Evaluasi tinggi fundus dilakukan dengan cara meletakkan telunjuk sejajar tepi atas

fundus. Umumnya , fundus uteri setinggi atau 2 jari dibawah pusat.

3. Estimasi kehilangan darah secara keseluruhan.

4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi) perineum.

5. Evaluasi keadaan ibu.

6. Dokumentasi semua asuhan/temuan selama persalinan kala IV dihalaman 2 partograf

segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.

3.4.1.1 Memperkirakan kehilangan darah

Salah satu cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan melihat volume

darah yang terkumpul dan memperkirakan berapa banyak botol 500ml dapat

menampung semua darah tersebut. Jika darah bisa mengisi dua botol, ibu telah

kehilangan darah satu liter darah. Jika darah bisa mengisi setengah botol, ibu

kehilangan 250ml darah. Memperkirakan kehilangan darah hanyalah salah satu cara

untuk menilai kondisi ibu. Cara tak langsung untuk mengukur jumlah kehilangan

darah adalah melalui penampakan gejala dan tekanan darah.


Apabila perdarahan menyebabakan ibu lemas, pusing, dan kesadaran

menurun serta tekanan darah sistolik turun lebih dari 30 mmHg dari kondisi

sebelumnya maka telah terjadi perdarahan 500-1000ml. Bila ibu mengalami syok

hipovolemik maka ibu telah kehilangan darah 50% dari total jumlah darah ibu (2000-

2500ml). Penting untuk selalu memantau keadaan umum dan menilai jumlah

kehilangan darah ibu selama kala empat melalui tanda vital, jumlah darah yang

keluar dan kontraksi uterus.

3.4.1.2 Memeriksa Kondisi Perineum

Perhatikan dan temukan penyebab perdarahan dari laserasi/robekan perineum atau

vagina. Laserasi di klasifikasikan berdasarkan luasnya robekan.

Derajat Luas Robekan Episiotomi

Derajat Area Robekan


Derajat Satu Mukosa vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Derajat Dua Mukosa vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Otot perineum
Derajat Tiga Mukosa vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Otot perineum
Otot sfingter ani
Derajat Empat Mukosa vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Otot perineum
Otot sfingter ani
Dinding depan rectum

3.4.1.3 Pencegahan infeksi

Setelah persalinan, dilakukan dekontaminasi plastik, tempat tidur, dan matras dengan

larutan klorin 0,5% kemudian dicui dengan detergen dan dibilas dengan iar bersih.

Jika sudah bersih, dikeringkan dengan kain bersih supaya ibu tidak berbaring diatas

matras yang basah. Linen yang digunakan selama persalinan didekontaminasi dalam

larutan klorin 0,5% kemudian segera dicuci dengan air dan detergen.

3.4.1.4 Pemantauan keadaan umum ibu

Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan

pascapersalinan terjadi selama 4jam pertama setelah kelahiran bayi. Oleh karena itu,

sangatlah penting untuk memantau ibu secara ketat setelah persalinan. Jika tanda-

tanda vitaal dan kontraksi uterus menunjukkan akan mengalami perdarahan

pascapersalinan, maka penting untuk berada disamping ibu dan bayinya selama 2jam

pertama pascapersalinan.

Kain pembebat perut tidak boleh digunakan selama 2jam pertama pascapersalinan

atau hingga kondisi ibu stabil. Kain pembebat perut dapat menyulitkan penolong

untuk menilai kontraksi uterus secara memadai. Jika kandung kemih ibu penuh, ibu

dapat di bantu ntuk mengosongkan kandung kemihnya dan menganjurkan untuk


mengosongkan setiap kali diperlukan. Ibu perlu diingatkan bahwa keinginan untuk

berkemih mungkin berbeda setelah ia melahirkan bayinya. Jika ibu tidak dapat

berkemih, ibu dapat dibantu dengan cara menyiram air bersih dan hangat ke

perineumnya, privasi perlu diberikan. Jari-jari ibu dapat dimasukkan kedalam air

hangat untuk merangsang keinginan untuk berkemih secara spontan.

4. ASUHAN PERSALINAN NORMAL

4.1. Asuhan sayang ibu

Asuhan sayang ibu adalah asuhan yang menghargai budaya, kepercayaan, dan

keinginan sang ibu. Cara yang paling mudah membayangkan mengenai asuhan sayang ibu

adalah dengan menanyakan pada diri kita sendiri, Seperti inikah asuhan yang ingin saya

dapatkan? atau Apakah asuhan yang seperti ini yang saya inginkan untuk keluarga saya

yang sedang hamil

Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami

dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil penelitian

menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan

kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang

akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan hasil yang lebih baik.4.1.1

4..2. Asuhan sayang ibu dalam persalinan

1. Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai

martabatnya.
2. Jelaskan semua asuhan dan perawatan kepada ibu sebelum memulai asuhan

tersebut.

3. Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.

4. Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.

5. Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.

6. Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tentramkan hati ibu beserta

anggota-anggota keluarganya.

7. Anjurkan ibu untuk ditemani suami atau keluarga yang lain selama

persalinan dan kelahiran bayinya.

8. Ajarkan suami dan anggota keluarga cara-cara bagaimana mereka dapat

memperhatikan dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.

9. Secara konsisten lakukan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik.

10. Hargai privasi ibu

11. Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan

kelahiran bayinya.

12. Anjurkan ibu untuk minum dan makan makanan ringan sepanjang ia

menginginkannya.

13. Hargai dan hargai praktik-praktik tradisional yang tidak merugikan

kesehatan ibu.

14. Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotomi,

pencukuran, dan klisma.

15. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya sesegera mungkin.

16. Membantu memulai pemberian ASI dalam 1jam pertama setelah bayi lahir.

17. Siapkan rencana rujukan (bila perlu).


18. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan-

bahan, perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap untuk melakukan

resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayinya.

4.3 Asuhan sayang ibu dan bayi pada masa pascapersalinan

1. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung)

2. Bantu ibu untuk menyusukan bayinya, anjurkan memberika ASI sesuai yang

diinginkan bayinya dan ajarkan tentang ASI eksklusif.

3. Ajarkan ibu dan keluarganya tentang nutrisi dan istirahat yang cukup setelah

melahirkan.

4. Anjurkan suami dan anggota keluarganya untuk memeluk bayi dan

mensyukuri kelahiran.

5. Anjurkan ibu dan anggota keluarganya tentang gejala dan tanda bahaya yang

mungkin terjadi dan anjurkan mereka untuk mencari pertolongan jika timbul

masalah atau rasa khawatir.

Pencegahan komplikasi selama persalinan dan setelah bayi lahir akan mengurangi
kesakitan dan kematian ibu serta bayi baru lahir.Penyesuaian ini sangat penting dalam upaya
menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.Hal ini dikarenakan sebagian besar
persalinan di Indonesia masih terjadi ditingkat pelayanan kesehatan primer dengan
penguasaan keterampilan dan pengetahuan petugas kesehatan di fasilitas pelayanan tersebut.

Tujuan asuhan persalinan normal adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan


mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya,melalui berbagai upaya kualitas
pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.

Kegiatan yang tercakup dalam asuhan persalinan normal adalah sebagi berikut.

1.Secara konsisten dan sistematik menggunakan praktik pencegahan infeksi,misalnya


mencuci tangan secara rutin,menggunakan sarung tangan sesuai dengan yang diharapkan
,menjaga lingkungan yang bersih bagi proses persalinan dan kelahiran bayi,serta menerapkan
standar proses peralatan.
2.Memberikan asuhan rutin dan pemantauan selam persalinan dan setelah bayi lahir,termasuk
penggunaan partograf.Partograf digunakan sebagi alat banut untuk membuat suatu keputusan
klinik,berkaitan dengan pengenalan dini komplikasi yang mungkin terjadi dan memilih
tindakan yang paling sesuai.

3.Memberikan asuhan sayang ibu secara rutin selam persalinan,pascapersalinan,dan


nifas,termasuk menjelaskan kepada ibu dan keluarganya mengenai proses kelahiran bayi dan
meminta suami dan kerabat untuk turut berpartisipasi dalam proses persalinan dan kelahiran
bayi.

4.Menyiapkan rujukan bagi setiap ibu bersalin atau melahirkan bayi

5.Menghindari tindakan-tindakan berlebihan atau berbahaya,seperti episiotomi


rutin,amniotomi,kateterisasi,dan penghispan lendir secra rutin sebagai upaya untuk mencegah
perdarahan pascapersalinan.

6.Memberikan asuhan bayi baru lahir,termasuk mengeringkan dan menghangatkan tubuh


bayi,memberi ASI secara dini,mengenal sejak dini komplikasi dan melakukan tindakan yang
bermanfaat secara rutin.

7.Memberikan asuhan dan pemantaun ibu dan bayi baru lahir,termasuk dalam masa nifas dini
secaa rutin.Asuhan ini akan memastikan ibu dan bayinya berada dlam kondisi yang
nyaman,mengenal sejak dini komplikasi pascapersalinan dan mengambil tindakan yang
sesuai dengan kebutuhan.

8.Mengajarkan kepada ibu dan keluarganya untuk mengenali secara dini bahaya yang
mungkin terjadi selama masa nifas dan bayi baru lahir.

9.Mendokumentasikan semua suhan yang telah diberikan.

Terdapat 5 aspek dasar yang penting dan salin terkait dalam asuhan persalinan yang bersih
dan aman.Aspek aspek tersebut adalah :

a.Membuat Keputusan Klinik

Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan digunakan
untuk merencanakan asuhan bayi baru lahir.Empat langkah mengambil keputusan klinik :

1.pengumpulan data

Data subjektif
Data objektif
2.Diagnosis

3.Penatalaksanaan asuhan dan perawatan

Membuat rencana
Melaksanakan rencana
4.Evaluasi

b.Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi

Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai budaya,kepercayaan dan
keiinginan sang ibu.Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan
mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi.Asuhan
sayang ibu dalam proses persalinan :

1.Panggil ibu sesuai namanya,hargai,dan perlakukan ibu sesuai martabatnya

2.Jelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum memulai asuhan
tersebut.

3.Jelaskan proses persalinan pada ibu dan keluarga

5.Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu

6.Berikan dukungan ,besarkan hatinya,dan tentramkan persaan ibu beserta anggota keluarga
lainnya.

7.Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan anggota keluarga lainnya.

8.Ajarkan kepada suami dan anggota keluarga mengenai cara-cara bagaimana memperhatikan
dan mendukung ibu selama persalinan dan kelahiran bayinya.

9.Lakukan praktik-praktik pencegahan infeksi yang baik dan konsisten

10.Hargai privasi ibu

11.Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selam persalinan dan kelahiran bayi.

12.Anjurkan ibu untuk minum cairan dan makan makanan ringan bila ia menginginkan.

13.Hargai dan perbolehkan praktik-praktik tradisional yang tidak memberi pengaruh


merugikan.

14.Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti episiotomi,pencukuran


klisma.

15.Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya segera setelah lahir.

16.Membantu mulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi.

17.Siapkan rencana rujukan

18.Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik serta bahan-


bahan,perlengkapan,dan obat-obatan yang diperlukan.Siap untuk melakukan resusitasi bayi
baru lahir pada setiap kelahiran bayi.
c.Pencegahan Infeksi

Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan pada ibu dan
bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan
kelahiran,saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal atau pasca
persalinan/bayi baru lahir atau saat menatalaksana penyulit.

d.Dokumentasi

Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan atau/bayinya.Jika asuhan tidak
dicatat dianggap bahwa tidak pernah dilakukan asuhan yang dimaksud.

e.Rujukan

Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waaktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang
memiliki sarana lebih lengkap diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi
baru lahir.Setiap tenaga penolong harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan terdekat yang
mampu untuk melayani kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir,seperti :

Pembedahan
Transfusi darah
Persalinan menggunkan ekstraksi vakum atau forseps
Antibiotika
Resusitasi bayi baru lahir dana asuhan lanjutan bagi bayi baru lahir.

LANGKAH ASUHAN PERSALINAN NORMAL

Melihat dan tanda dan gejala kala II

1.Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua

Ibu mempunyai keinginan untuk meneran


Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum/vaginanya
Perineum menonjol
Vulva vagina dan sfingterani membuka.
Menyiapkan Pertolongan Persalinan

2.Memastikan perlengkapan,bahan.dan obat-obatan esensial siap digunakan.Mematahkan


ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam psrtus set

3.Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih

4.Melepaskna semua perhiasan yang dipakai di bawah siku,mencuci kedua tangan dengan
sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tengan dengan handuk satu kali
pakai/pribadi yang bersih.

5.Memakai satu sarung tangan DTT atau steril untuk semua pemriksaan dalam.
6.Menghisap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik ( dengan memakai sarung tangan
desinfeksi tingkat tinggi atau steril ) dan meletakkan kembali dipartus set/wadah DTT .

Memastikan Pembukaan Lengkap Dengan Janin Baik

7.Membersihkan vulva dan perineum,menyekanya dengan hati-hati dari depan kebelakang


dengan menggunakan kapas atau kassa yang sudah dibasahi air DTT.Jika mulut vagina
,perineum,atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,membersihkannya dengan seksama
dengan cara menyeka dari depan ke belakang.Membuang kapas atau kassa yang
terkontaminasi dalam wadah yang benar.Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (
meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminasi )

8.Dengan menggunakan teknik aseptik,melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan


bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.Bila selaput ketuban belum pecah,sedangkan
pembukaan sudah lengkap ,lakukan aminotomi.

9.Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai
sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5 % dan kemudian melepaskannya dalam
keadaan terbalik serta merendamnya didalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.

10.Memeriksa DJJ setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas
normal ( 100-180 x/m )

Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal


Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam,DJJ,dan semua hasil-hasil
penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
Menyiapkan Ibu dan Keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran

11.Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.Membantu ibu berada
dalam posisi yang nyaman sesuai dengan keinginannya

Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran.Melanjutkan pemantauan


kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif
dan mendokumentasikan temuan-temuan.
Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan
memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12.Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran ( pada saat
his,bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman

13.Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat meneran :

Membimbing ibu untuk menerann saat ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran
Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai dengan pilihannya ( tidak
meminta ibu berebaring telentang ).
Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu
Menganjurkan asupan cairan peroral
Menilai DJJ setiap lima menit
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120
menit ( 2 jam ) meneran untuk primipara atau 60 menit ( 1jam ) untuk ibu
multipara,merujuk segera berjalan ,berjongkok,atau mengambil posisi yang
nyaman.Jika belum ingin meneran dalam 60 menit,anjurkan ibu untuk mulai meneran
pada puncak kontarksi-kontraksi tersebut dan beristirahat diantara konraksi.
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setelah 60 menit
meneran,merujuk ibu dengan segera.
Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi

14.Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm ,lindungi perineum dengan
satu tangan yang dilapisi kai tadi,letakkan tangan yang lain dikepala bayi dan lakukan
tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,membiarkan kepala keluar
perlahan-lahan.Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan lahan atau bernafas cepat saat
kepala lahir.

19.Dengan lembut menyeka muka,mulut,dan hidung bayi dengan kain kassa yang bersih.

20.Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi,dan
kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :

Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar,lepaskan lewat bagian atas kepala
bayi
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat ,mengklemnya didua tempat dan
memotongnya.
21.Menunggu hingga kepala bayi melakukan putar paksi luar secara spontan.

Lahir Bahu

22.Setelah kepala melakukan putar paksi luar,tempatkan kedua tangan dimasing-masing sisi
muka bayi.Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya.Dengan lembut
menarik kearah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior.

23.Setelah kedua bahu dilahirkan ,menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada
dibagian bawah kerah perineum,membiarkan bahu dan lengan poterior lahir ketangan
tersebut.Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum,gunakan
lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.Menggunakan tangan
anterior bayi saat keduanya lahir.

24.Setelah tubuh dari lengan lahir,menelusurkan tangan yang ada diatas (anterior ) dari
punggung kearah kaki bayi untuk menyangganya saat punggng kaki lahir.Memegang kedua
mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

Penanganan Bayi Baru Lahir


25.Menilai bay dengan cepat ( dalam 30 detik ),kemudian meletakkan bayi diatas perut ibu
dengan posisi kepaya bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek
,meletakkan bayi ditempat yang memungkinkan ).Bila bayi mengalami asfiksia,lakukan
resusitasi

26.Segera membungkus kepala dan bayi dengan handuk dan biarkan kontak kulit ibu dan
bayi.Lakukan penyuntikan oksitosin/IM

27.Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.Melakukan urutan
pada tali pusat mulai dari klem karah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem
pertama.

28.Memegang tali pusat dengan satu tangan,melindungi bayi dari gunting dan memotong tali
pusat diantara kedua klem tersebut

29.Mengeringkan bayi,mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain
atau selimut yang bersih dan kering,menutupi bagian kepala,membiarkan tali pusat
terbuka.Jika bayi mengalami kesulitan bernapas,ambil tindakan yang sesuai.

30.Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan
memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.

OKSITOSIN

31.Meletakkan kain yang bersih dan kering .Melakukan palpasi abdomen untuk
menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.

32.Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik

33.Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi,berikan suntikan oksitosin 10 unit/IM di


gluteus atau 1/3 atas paha kanan ibu bagian luar,setelah mengaspirasinya terlebih dahulu.

Penegangan Tali Pusat Terkendali

34.Memindahkan klem pada tali pusat.

35.Meletakkan satu tangan diatas kain yang ada diperut ibu ,tepat diatas tulang pubis,dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan
uterus.Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.

36.Menunggu uterus berkontraksi dan kemudia melakukan penegangan kearah bawah tali
pusat dengan lembut.Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus
dengan cara menekan uterus kearah atas dan belakang ( dorso kranial ) dengan hati-hati
untuk membantu mencegah terjadinya inversio uterus.Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40
detik,hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hinggga kontraksi berikut mulai.

Jika uterus tidak berkontraksi .meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk melakukan
rangsangan puting susu.
Mengeluarkan Plasenta

37.Setelah plasenta terlepas,meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat kearah
bawah dan kemudian kearah atas,mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekananan
berlawanan arah pada uterus

Jika tali pusat bertambah panjang ,pindahkan klem hingga berjarak 5-10 cm dari
vulva
Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selam 15 menit :
Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit /im
Menilai kandung kemih dan dilakukan kateterisasi kandung kemih
dengan menggunakan teknik aseptik jika perlu
Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan
Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya
Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak
kelahiran bayi.
38.Jika plasenta terlihat diintroitus vagina,melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan.Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati
memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin.Dengan lembut perlahan melahirkan selaput
ketuban tersebut.

Jika selaput ketuban robek,memakai sarung tangan DTT atau steril dan memeriksa vagina
dan serviks ibu dengan seksama.Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau foseps DTT
atau steril untuk melepaskan bagian selaput yang tertinggal.

Pemijatan Uterus

39.Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir,lakukan masase uterus,meletakkan


telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut
hingga uterus berkontraksi ( fundus menjadi keras ).

Menilai Perdarahan

40.Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dans selaput
ketuban untuk memastikan bahwa plasenta dan selaput ketuban lengkap dan utuh.

Meletakkan plasenta didalam kantung plastik atau tempat khusus.Jika uterus tidak
berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik mengambil tindakan yang sesuai.

41.Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi
yang mengalami perdarahan aktif.

Melakukan Prosedur Pascapersalinan

42.Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.


43.Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%
membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air DTT dan
mengeringkan dengan kain yang bersih dan kering.

44.Menempatkan klem tali pusat DTT atau steril atau mengikatkan tali DTT dengan simpul
mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dai pusat

45.Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang berseberangan dengan simpul mati
yang pertama.

46.Melepaskan klem bedah dan meletakannya kedalam larutan klorin 0,5 %

47.Menyelimuti kembali bayi dengan menutupi bagian kepalanya.Memastikan handuk atau


kainnya bersih atau kering.

48.Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI

49.Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam :

2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan


Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan
Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan
Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik,laksanakan perawatan yang sesuai untuk
melaksanakan atonia uteri
Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan,lakukan penjahitan dengan
anestesia lokal dan menggunakan teknik yang sesuai
50.Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan memeriksa
kontraksi uterus.

51.Mengevaluasi kehilangan darah

52.Memeriksa tekana darah,nadi,dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam
pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selam satu jam kedua pascapersalinan.

Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam pascapersalinan
Melakukan tindakan yangs sesuai untuk temuan yang tidak normal.
Kebersihan dan Keamanan

53.Menempatkan semua peralatan didalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi ( 10


menit) .Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontaminasi.

54.Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat sampah yang sesuai .

55.Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT .Membersihkan cairan


ketuban,lendir,dan darah.Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.

56.Memastikan bahwa ibu nyaman.Membantu ibu memberikan ASI.Menganjurkan keluarga


untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
57.Mendekontaminasikan daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin
0,5% dan membilas dengan air bersih.

58.Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% membalikan bagian dalam
keluar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

59.Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

Dokumentasi

60.Melengkapi partograf

C.MASA NIFAS

1.Pengertian nifas

Masa nifas (puerperium) dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan

6 minggu ( 42 hari ) setelah itu. Pelayanan pascapersalinan harus terselenggara pada masa itu

untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini, dan

pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan

pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu. (Sarwono

Prawirohardjo,Edisi ketiga, Jakarta,2010).

Periode pascapersalinan meliputi masa transisi kritis bagi ibu, bayi, dan keluarganya

secara fisiologis, emosional, dan sosial. Bik di negara maju maupun negara berkembang,

perhatian utama bagi ibu dan bayi terlalu banyak tertuju pada masa kehamilan dan persalinan,

sementara keadaan sebenarnya justru merupakan kebalikannya, oleh karena resiko kesakitan

dan kematian ibu serta bayi lebih sering terjadi pada masa pascapersalinan. Keadaan ini

terutama disebabkan oleh konsekuensi ekonomi, disamping ketidaksediaan pelayanan atau

rendahnya peranan fasilitas kesehatan dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang cukup

berkualitas. Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan juga menyebabkan rendahnya


keberhasilan promosi kesehatan dan deteksi dini serta penatalaksanaan yang adekuat terhadap

masalah dan penyakit yang timbul pada masa pascapersalinan. (Sarwono

Prawirohardjo,Edisi ketiga, Jakarta,2010).

Pengertian masa nifas

Masa nifas berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi dan parous yang

artinya melahirkan atau berarti masa sesudah melahirkan.Masa nifas atau masa puerpurium

adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Masa nifas adalah

masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta,serta selaput yang diperlukan untuk

memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6

minggu.(Media Ausculaplus,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,).

Masa nifas atau masa puerperium yaitu masa setelah persalinan selesai sampai 6

minggu atau 42 hari. Selama masa nifas, organ reproduksi secara perlahan akan mengalami

perubahan seperti keadaan sebelum. (Dewi Maritalia,2012)

Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selam 6-8 minggu setelah

persalinan. Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat

reproduksi kembali setelah keadaan sebelum hamil /tidak hamil sebagai akibat dari adanya

perubahan fisiologis dan psikologis karena proses persalinan.(Salemba medika,saleha,2013).

Alat-alat genetalia eksterna dan interna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan

sebelum hamil,yang disebut involusi. Setelah janin dilahirkan, fundus uteri setinggi pusat.

Segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat. Pada hari ke-5

pascapersalinan, uterus kurang lebih setinggi 7 cm atas simfisis atau setengah simfisis-pusat,

sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi diatas simfisis. Berat uterus gravidus aterm

kira-kira 1.000g. satu minggu pascapersalinan menjadi kira-kira 500g, 2 minggu


pascapersalinan 300g, dan setelah 6 minggu pascapersalinan 40 sampai 60g (berat uterus

normal kira-kira 30g).(Salemba Medika,saleha,2013).

Pada Masa Pascapersalinan, Seorang Ibu Memerlukan

1. Informasi dan konseling tentang:

Perawatan bayi dan pemberian ASI

Apa yang terjadi termasuk gejala adanya masalah yang mungkin timbul

Kesehatan pribadi, higiene, dan masa penyembuhan

Kehidupan seksual

Kontrasepsi

Nutrisi

2. Dukungan dari :

Petugas kesehatan

Kondisi emosional dan psikologis serta keluarganya

3. Pelayanan kesehatan untuk kecurigaan dan munculnya tanda terjadinya komplikasi

(Sarwono Prawirohardjo,Edisi ketiga, Jakarta,2010).

2.Program Dan Kebijakan Teknis Masa Nifas

Paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu

dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang

terjadi.

Frekuensi kunjungan masa nifas

Kunju Waktu Tujuan

ngan

1. 6-8 jam setelah Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
persalinan Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan: rujuk

jika perdarahan berlanjut

Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena

atonia uteri.

Pemberian ASI awal

Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia

Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal

dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah

kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil.

2. 6 hari setelah Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus

persalinan berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada

perdarahan abnormal, tidak ada bau

Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan

abnormal

Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan

istirahat

Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit

Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi,

tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi

sehari-hari

3. 2 minggu setelah Sama seperti diatas ( 6 hari setelah persalinan)


persalinan

4. 6 minggu setelah Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau

persalian bayi alami

Memberikan konseling tentang KB secar dini-

(Sarwono Prawirohardjo,Jakarta,2002).

Tahap Masa Nifas

Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut:

1. Periode immediate postpartum

Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering

terdapat masalah, misalnya perdarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan

dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokia,

tekanan darah, dan suhu.

2. Periode early postpartum ( 24 jam- 1 minggu)

Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada

perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan

dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.

3. Periode late postpartum ( 1 minggu 5 minggu).

Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta

konseling KB. (Salemba Medika,saleha,2013)

3.Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas

Endometrium mengalami perubahan yaitu timbulnya trombosis, degenarasi, dan

nekrosis di tempat implantasi plasenta. Ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang

sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur kembali seperti semula. Ligamentum

rotundum dapat mengendor sehingga pada hari ke-2 pascapersalinan harus dilakukan latiha
senam. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pascapersalinan. Dinding

vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira setelah tiga minggu. Suhu

badan pascapersalinan dapat naik lebih dari 0,5 derajat celsius dari keadaan normal tapi tidak

lebih dari 39 derajat celsius. Sesudah 12 jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan

kembali normal. Bila lebih dari 38 derajat celsius mungkin ada infeksi. Nadi umumnya 60-80

denyut per menit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi. Bila terdapat takikardi dan

badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada penyakit jantung. Pada masa

nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibanding suhu badan. (Media Ausculaplus,Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia,).

Involusi Alat-Alat Kandungan

1) Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil ( involusi ) sehingga akhirnya kembali

seperti sebelum hamil.

Tabel Tinggi fundus uterus menurut masa involusi

Involusi Tinggi fundus Uterus Berat Uterus

Bayi lahir Setinggi pusat 1.000 gram

Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 gram

1 minggu Pertengahan pusat simfisis 500 gram

2 minggu Tidak teraba diatas simfisis 350 gram

6 minggu Bertambah kecil 50 gram

8 minggu Sebesar normal 30 gram

2) Bekas Implantasi Plasenta : Plasenta mengecil karena kontraksi dan menonjol ke

kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu

keenam 2,4 cm, dan akhirnya pulih.


3) Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari

4) Rasa sakit, yang disebut after pains, (merian atau mules-mules) disebabkan kontraksi

rahim, bisanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian pada

ibu mengenai hal ini dan bila terlalu menggangu dapat diberikan obat-obat antisakit

dan antimules.

5) Lochia adalah cairan sekret yang bersala dari kavum uteri dan vagina dalam masa

nifas.

Lochia rubra :berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,

verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari pasca persalinan.

Lochia sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke

3-7 pasca persalinan

Lochia serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14

pascapersalinan.

Lochia alba : Cairan putih, setelah 2 minggu

Lochia purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk

Lochiostasis : lochia tidak lancar keluarnya

6) Serviks : setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna

merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan

kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim ,setelah 2 jam dapat

dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dalalui 1 jari.

7) Ligamen-ligamen : Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu

persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali

sehungga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena

ligamentum rotumdum menjadi kendor. (Sinopsis obstetri: Rustam Mochtar,Jakarta

EGC )
Proses Laktasi Dan Menyusui

Proses ini dikenal juga dengan istilah inisiasi menyusui dini, dimana ASI baru akan

keluar setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta mengandung hormon pengambat prolaktin

(hormon plasenta ) yang menghambat pembentukan Asi. Setelah plasenta lepas, hormon

plasenta tersebut tidak diproduksi lagi, sehingga susu pun keluar. Umumnya ASI keluar 2-3

hari setelah melahirkan. Namun, sebelumnya dipayudara sudah terbentuk kolostrum yang

baik sekali untuk bayi, karena mengandung zat kaya gizi dan antibodi pembunuh kuman.

Laktasi

Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi karena mengandung

kebutuhan energi dan zat yang dibutuhkan selama enam bulan pertama kehidupan bayi.

Namun, ada kalanya seorang ibu mengalami masalah dalam pemberian ASI. Kendala yang

utama adalah karena produksi ASI tidak lancar.

Proses Laktasi

Proses ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta mengandung hormon

penghambat prolaktin (hormon plasenta ) yang menghambat pembentukan ASI. Setelah

plasenta lepas, hormon plasenta tersebut tak ada lagi, sehingga susu pun keluar.

Pengaruh Hormonal

Mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang

menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara. Hormon-hormon yang terlibat dalam

proses pembentukan ASI adalah sebagai berikut,


1. Progesteron : mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Kadar progesteron

dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi

ASI secara besar-besaran.

2. Estrogen : menstimulasi sistem saluran SI untuk membesar. Kadar estrogen dalam

tubuh menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama

tetap menyusui.

3. Prolaktin : berperan dalam membesarnya alveoli pada masa kehamilan.

4. Oksitosin : mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan

setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Setelah melahirkan, oksitosin juga

mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran

susu.

5. Human placental lactogen (HPL) : sejak bulan kedua kehamilan, plasenta

mengeluarkan banyak HPL yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting,

dan areola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan,

payudara siap memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga diproduksi tampa

kehamilan ( induced lactation).

( Salemba Medika,Sitti,Jakarta 2013)

Proses Pembentukan Laktogen

Proses pembentukan laktogen melalui tahapan-tahapan berikut ini:

1. Laktogenesis 1

Pada fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase laktogenesis 1. Saat

itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan cairan kental yang

kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi

ASI sebenarnya. Namun hal ini bukan merupakan masalah medis. Apabila ibu
hamil mengeluarkan (bocor ) kolostrum sebelum bayinya lahir, hal ini bukan

merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI.

2. Laktogenesis II

Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon

progesteron, estrogen, dan HPL secar tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap

tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan

fase laktogenesis II. Apabila payudara dirangsang, jumlah prolaktin dalam darah

akan meningkat dan mencapai puncaknya dalam periode 45 menit, kemudian

kembali kelevel sebelum rangsangan tiga jam kemudian.

3. Laktonegesis III

Sistem kontrol hormon endokrim mengatur produksi ASI selama kehamilan dan

beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil,

sistem kontrol otokrin dimulai. Fase ini dinamakan laktogenesis III. Pada tahap

ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan

banyak pula. Dengan demikian produksi ASI sangat dipengaruhi oleh beberapa

sering dan seberapa baik bayi menghisap, juga beberapa sering payudara

dikosongkan.

( Salemba Medika,Sitti,Jakarta 2013)

INFEKSI NIFAS

Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alaalat genetalia

dalam masa nifas.

Dalam beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu sedikit naik,antara 37,2-

37,8oC oleh karena resorpsi benda-benda dalam rahim dan mulainya laktasi,

dalam hal ini disebut demam resorpsi. Hal ini adalah normal
Morbiditas puerpuralis adalah kenaikan suhu badan sampai 38oC selama 2 hari

dalam hari pertama postpartum, kecuali pada hari pertama. (Sinopsis obstetri:

Rustam Mochtar,Jakarta EGC )

ETIOLOGI

Bermacam macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan, seperti

eksogen(kuman dating dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam

tubuh), endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak adalah >50 %

adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak pathogen sebagai penghuni

normal jalan lahir.

Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah :

1. Streptococcus haemoliticus aerobic

Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari

penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama , tangan penolong dan

sebagainya.

2. Staphylococcus aureus

Masuk secara eksogen , infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai

penyebab infeksi di rumah sakit.

3. Escherichia coli

Sering berasal dari kandung kemih dan rectum, menyebabkan infeksi terbatas.

4. Clostridium welchii

Kuman anaerobic yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus

kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit.
Cara Terjadinya Infeksi

Manipulasi penolong yang tidak suci hama, atau pemeriksaan dalam

yang berulang ulang dapat membawa bakteri yang sudah ada ke dalam

rongga rahim.

Alat-alat yang tidak suci hama

Infeksi droplet, sarung dan alat-alat terkena infeksi kontaminasi yang

berasal dari hidung, tenggorokan dari penolong

PREDISPOSISI

Partus lama, partus premature, dan ketuban pecah lama

Tindakan obstetri operatif baik pervaginam maupun

perabdominal

Tertinggalnya sisa-sisa uri, selaput ketuban,dan bekuan darah

dalam rongga rahim

Keadaan-keadaan yang menurunkan daya tahan seperti perdarahan, kelelahan,

malnurisi, pre-eklamsi, eklamsi, dan penyakit ibu lainnya (penyakit jantung,

tuberculosis paru, pneumonia, dan lai-lain).(Sinopsis obstetri: Rustam

Mochtar,Jakarta EGC )

METRITIS

Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu

penyebab terbesar kematian ibu. Bila pengobatan terlambat atau kurang

adekuat dapat menjadi abses pelvic, peritonitis, syok septic, thrombosis vena
yang dalam, emboli pulmonal, infeksi pelvic yang menahun, dispareunia,

penyumbatan tuba dan infertilitas.

Berikan tranfusi bila dibutuhkan. Berikan packed red cell

Berikan antibiotioka broadspektum dalam dosis yang tinggi

Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 g setiap 6 jam ditambah gentamisin 5

mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan metronidzol 500 mg IV

setiap 8 jam. Lanjutkan antibiotika ini sampai ibu tidak panan selama

24 jam.

Pertimbangkan pemberian antitetanus profilaksis

Bila dicurigai adanya sisa plasenta, lakukan pengeluaran (digital atau

dengan kuret yang lebar)

Bila ada pus lakukan draines (kalau perlu kolpotomi), ibu dalam posisi

flowler

Bila ada perbaikan dengan pengobatan konservatif dan ada tanda

peritonitis generalisata lakukan laparatomi dan keluarkan pus. Bila

pada evaluasi uterus nekrotik dan septic lakukan histerektomi subtotal.

BENDUNGAN PAYUDARA

Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara

daalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini bukan disebabkan

overdistensi ari saluran sistem laktsi.

Bila ibu menyusui bayinya:

Susukan sesering mungkin

Kedua payudara disusukan


Kompres hangat payudara sebelum disusukan

Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui

Sangga payudara

Kompres dingin pada payudara diantara waktu menyusui

Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam

Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasilnya

Bila ibu tidak menyusui:

Sangga payudara

Kompres dingin pada payudara untuk mengurangi pembengkakan dan

rasa sakit

Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam

Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara

INFEKSI PAYUDARA

Mastitis

Payudara tegang/indurasi dan kemerahan

Berikan kloksaasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari. Bila

diberikan sebelum terbentuk abses biasanya keluhannya akan

berkurang

Sangga payudara

Kompres dingin

Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam

Ibu harus didorong menyusui bayinya walau ada pus

Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan


Abses payudara

Terdapat masa padat, mengeras di bawah kulit yang kemerahan.

Diperlukan anastesi umum (ketamin)

Insisi radial dari tengah dekat pinggir areola, ke pinggir supaya tidak

memotong saluran ASI

Pecahkan kantung pus dengan tissue forceps atau jari tangan

Pasang tampon atau drain

Tampon dan drain dingkat setelah 24 jam

Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari

Sangga payudara

Kompres dingin

Berikan parasetamol 500 mg setiap 4 jam sekali bila diperlukan

Ibu didorong tetap memberikan ASI walau ada pus

Lakukan follow up setelah pemberian pengobatan selama 3 hari

Abses pelvis

Bila pelvic abses ada tanda cairan fluktuasi pada daerah cul-de-sac,

lakukan kolpotomi atau dengan laparatomi. Ibu posisi fowler

Berikan antibiotika broadspektrum dalam dosis yang tinggi

Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 gr setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5

mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan meronidazol 500 mg IV

setiap 8 jam. Lanjutkan antibiotika ini sampai ibu tidak panas selama

24 jam

peritonitis
Lakukan nasogastrik suction

Berikan infuse (NaCL atau Ringer Laktat)

Berikan antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam:

Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 gr setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5

mg/kgBB IV dosis tunggal/hari dan metonidazol 500 mg IV setiap 8

jam

Laparatomi diperlukan untuk pembersihan perut (peritoneal lavage)

Infeksi luka perineal dan luka abdominal disebabkan oleh keadaan yang kurang

bersih dan tindakan pencegahan infeksi yang kurang baik.

Bedakan antara wound abcess, wound seroma, wound hematoma, dan

wound cellulitis

- Wound abcess, wound seroma, dan wound hematoma suatu

pengerasan yang tidak biasa dengan mengeluarkaan cairan serous

atau kemerahan dan tidak ada/sedikit erithema sekitar lukaa insisi

- Wound cellulitis didapatkan eritema dan edema meluas mulai dri

tempat insisi dan melebar

Bila didapat pus dan cairan pada luka, buka dan lakukan pengeluaran

Daerah jahitan yang terinfeksi dihilangkan dan lakukan debridemen

Bila infeksi sedikit tidaak perlu antibiotika

Bila infeksi relatif superfisial, berikan ampisilin 500 mg per oral setiap

6 jam dan metronidazol 500 mg per oral 3 kali/hari selama 5 hari

Bila infeksi dalam dan melibatkan otot ddan menyebabkan nekrosis,

beri penisilin G 2 juta U IV setiap 4 jam (atau ampisilin inj 1 g 4x/hari)

ditambah dengan gentamisin 5 mg/kgBB per hari IV sekali ditambah

dengan metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam, sampai bebas panas


selama 24 jam. Bila ada jaringan nekrotik harus dibuang. Lakukan

jahitan 2-4 minggu setelah infreksi membaik.

Berikan nasehat kebersihan dan pemakaian pembalut yang bersih dan

sering diganti.

Tromboflebitis

Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan atau invasi mikroorganisme

pathogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan cbang-cabangnya sehingga

terjaddi tromboflebitis.

Klasifikasi

Pelviotromboflebitis

Pelviotromboflebitis mengenai ven-vena dinding uterus dan ligamentum latum, yaitu

vena ovarika, vena uterine dan vena hipogastrika. Vena yang paling sering terkena

ialah vena ovarika dekstra karena infeksi pada tempat implantasi plasenta treletak di

bagian atas uterus; proses biasanya unilateral. Perluasan infeksi dari vena ovarika

sinistra ialah ke vena renalis, sedang perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra ialah

ke vena kava inferior. Peritoneum, yang menutupi vena ovarika dekstra, mengalami

inflamasi dan akan menyebabkan perisalpingo-ooforitis dan periapenditis. Perluasan

infeksi dari vena uterin ialah ke vena iliaka komunis.

Tromboflebitis femoralis

Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya vena femoralis,

vena poplitea, dan vena safena.


Pelviotromboflebitis

Nyeri, yang terdapat pada perut bagian bawah dan/atau perut bagian samping, timbul

pada hari ke 2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.

Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:

Menggigil berulang kali. Menggigil inisial terjadi sangat berat (30-40 menit) dengan

interval hanya beberapa jam saja dan kadang-kadang 3 hari. Pada waktu memggigil

penderita hamper tidak panas

Suhu badan naik turun secara tajam (36 oC-40 oC), yang diikuti dengan penurunan

suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis).

Penyakit dapat berlangsung selama 1-3 bulan

Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama ke paru-paru

Gambaran darah:

Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar ke sirkulasi, dapat

segera terjadi leucopenia)

Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat sebelum mulainya

menggigil. Meskipun bakteri ditemukan di dalam darah selama menggigil, kultur

darah sangat sukar dibuat karena bakterinya adalah anaerob.

Pada periksa dalam hamper tidak ditemukan apa-apa karena yang paling banyak

terkena iaalah vena ovarika, yang sukar dicapai pada pemeriksaan dalam.

Komplikasi

Komplikasi pada paru-paru: infark, abses, pneumonia

Komplikasi pada ginjal sinistra, nyeri mendadak, yang diikuti proteinuria dan

hematuria

Komplikasi pada persendian, mata dan jaringan subkutan


Penanganan

Rawat inap

Penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakitnya dan mencegah terjadinya

emboli pulmonim

Terapi medic

Pemberian antibiotika (lihat antibiotika kombinasi dan alternative, seperti yang

tercantum dalam penatalaksanaan korioamnionitis) heparin jika terdapat tanda-tanda

atau dugaan adanya emboli pulmonum

Terapi operatif

Peningkatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septic terus berlansung

samapai mencapai paru-paru, meskipun sedang dilakukan heparinisasi

Tromboflebitis femoralis

Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari, kemudian suhu

mendadak naik pada hari ke 10-20, yang disertai dengan menggigil dan nyeri sekali

Pada salah satu kaki yang terkena biasanya kaki kiri, akan memberikan tanda-tanda

sebagai berikut:

Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi ke luar serta sukar bergerak, lebih panas

dengan kaki lainnya

Seluruh bagian dari salah satu vena dari kaki terasa tegang dank eras pada paha

bagian atas
Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha

Reflektorik akan terjadi spasmus arteri sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih,

nyeri dan dingin, dan pulsasi menurun.

Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau setelah nyeri dan pada umumnya terdapat

pada paha bagian atas, tetapi lebih sering dimulai dari jari- jari kaki dan pergelangan

kaki, kemudian meluas dari bawah ke atas

Nyeri pada betis, yang dapat terjadi spontan atau dengan memijit betis atau dengan

meregangkan tendo akhiles (tanda human)

Penanganan

Perawatan

Kaki ditinggikan untuk mengurangi edema, lakukan kompresi pada kaki. Setelah

mobilisasi hendaknya tetap dibalut elastic atau memakai kaos kaki panjang yang

elastic selama mungkin

Mengingat kondisi ibu yang sangat jelek, sebaiknya jangan menyusui

Terapi medik: pemberian antibiotika dan analgetika


D. Bayi Baru Lahir

1. Pengertian Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir normal adalah yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu

dengan berat lahir 2500-3000 gram ( Sarwono, 2005)

Bayi lahir normal adalah bayi yang lahir cukup bulan, 38-42 minggu dengan

berat badan sekitar 2500-3000 gram dan panjang badan sekitar 50-55 cm (Sarwono,

2005)

Menurut Syaifuddin,b (2002) bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama 1 jam
pertama kelahiran.1.Pengertian Bayi Baru Lahir Normal

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram samapi 4000 gram ( Depkes RI,2005).

Bayi baru lahir normal adalah bayi dengan berat lahir antara 2500-4000 gram,cukup
bulan,lahir langsung menangis,dan tidak ada kelainan kongenital ( cacat bawaan ) yang berat
( M.Sholeh Khosim,2007 ).

Ciri ciri umum bayi baru lahir normal adalah sebagi berikut.

1.Berat badan : 2500-4000 gram

2.Panjang badan : 48-52 cm

3.Lingkar kepala : 33-35 cm

4.Lingkar dada : 30-38 cm

5.Masa kehamilan : 37-42 minggu

6.Denyut jantung : pada menit-menit pertama 180 x/m,kemudian turun menjadi


120 kali/menit.
7.Respirasi : pada menit-menit pertama cepat,yaitu 80 kali/menit,kemudian
turun menjadi 40 kali/menit

8.Kulit : berwarna kemerahan dan licin karena jaringan subkutan cukup


terbentuk dan diliputi verniks kaseosa.

9.Kuku : agak panjang dan lemas

10.Genitalia :

a.perempuan : labia mayor sudah menutupi labia minor

b.laki-laki : testis sudah turun dalam skrotum

11.Refleks : refleks menghisap dan menelan,refleks moro,refleks


menggenggam sudah baik,jika dikagetkan,bayi akan
memperlihatkan gerakan seperti memeluk( moro );jika
diletakkan suatu benda ditelapak tangan bayi,bayi akan
menggenggam ( refleks menggenggam )/grasping refleks.

12.Eliminasi :eliminasi baik urine dan mekonium keluar dalam 24 jam


pertama.

13.Suhu : 36,5-37 0 C

2. Perubahan yang segera terjadi sesudah kelahiran.

Menurut Jenny J.S sondakh 2013

Fisiologis neonatus adalah ilmu yang mempelajari fungsi dan proses vital neonatus.

Neonatus adalah individu yang baru saja mengalami proses kelahiran dan harus

menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin. Selain itu neonatus adalah individu

yang sedang bertumbuh.

2.1. Perubahan pada sistem pernapasan

Rangsangan untuk gerak pernapasan :

a. Tekanan mekanik dari toraks penurunan PAO2 dan kenaikan PACO2

b. Daerah Rangsangan dingin pada daerah muka.

Upaya pernapasan pertama pada seorang bayi berfungsi untuk :


1. Mengeluarkan cairan dalam paru-paru

2. Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.

Perkembangan sistem Pulmoner

Umur kehamilan Perkembangan

24 hari Bakal paru-paru terbentuk

26-28 hari Kedua bronchi membesar

6 minggu Di bentuk segmen bronchus

12 minggu Diffrensial lobus

24 minggu Dibentuk alveolus

28 minggu Dibentuk surfaktan

34-36 minggu Struktur matang

2.2. Perubahan pada sistem kardiovaskuler

Terjadi perubahan besar yaitu :

a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung

b. Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta

c. Denyut jantung BBL rata-rata 140 detik/menit

d. Volume darah pada BBL berkisar 80-110 ml/kg

2.3. Perubahan pada sistem hemogenik

Empat kemungkinan mekanisme yang dapat menyebabkan bayi baru lahir

kehilangan panas pada tubuhnya :

1. Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang kontak langsung

dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui

kontak langsung). Sebagai contoh : konduksi bias terjadi ketika menimbang

bayi tanpa alas timbangan, memegang bayi saat tangan dingin, dan

menggunakan stetoskop dingin untuk pemeriksaan BBL

2. Konveksi

Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak

(jumlah panas menghilang bergantung pada kecepatan dan suhu udara)

Contoh: konveksi dapat terjadi ketika membiarkan/menempatkan BBL dekat

jendela atau membiarkan BBL di ruangan yang terpasang kipas angin.

3. Radiasi

Panas dipancarkan dari BBL keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih

dingin (pemindahan panas anatara 2 objek suhu yang berbeda)

Contoh : membiarkan BBL dalam AC tanpa diberikan pemanas (radian

warm),membiarkan BBL dalam keadaan telanjang, atau menidurkan BBL

berdekatan dengan ruangan yang dingin (dekat tembok).

4. Evaporasi

Panas hilang melalui proses penguapan dan bergantung pada kecepatan dan

kelembapan udara ( perpindahan panas dengan cara mengubah cairan

menjadi uap). Evoporasi ini dipengaruhi oleh jumlah panas yang dipakai,

tingkat kelembapan udara, dan aliran udara yang melewati. Apabila BBL

dibiarkan dalam suhu kamar 25 C maka bayi akan kehilangan panas

melalui konveksi, radiasi, dan evaporasi yang besarnya 200 kg/BB,

sedangkan yang dibentuk hanya sepersepuluhnya saja. Agar dapat

mencegah terjadinya kehilangan panas pada bayi, maka lakukan hal berikut:
a. Keringkan bayi secara seksama

b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang kering dan hangat.

c. Tutup bagian kepala bayi.

d. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.

e. Jangan segera menimbang atau memandikan BBL.

f. Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat.

2.4. Perubahan pada metabolisme

Luas permukaan tubuh neonatus relative lebih luas dari tubuh orang

dewasa, sehingga metabolisme basal/kg berat badan akan lebih besar. Oleh

karena itulah BBL harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sehingga

energy dapat diperoleh dari metabolisme karbohidrat dan lemak.

Pada jam- jam pertama kehidupan, energy didapatkan dari perubahan

karbohidrat. Pada hari ke-2, energy berasal dari pembakaran lemak. Setelah

mendapat susu, sekitar dihari ke 6 energi diperoleh dari lemak dan karbohidrat

yang masing- masing sebesar 60 dan 40 %

2.5. Perubahan adaptasi Neurologis

1. Sistem neurologis secara anatomic atau fisiologis belum berkembang

sempurna.

2. BBL menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi, pengaturan suhu

yang labil, konrol otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada

ekstemitas.

3. Perkembangan neonatus menjadi lebih cepat. Saat bayi tumbuh, perilaku

yang lebih kompleks (misalnya : kontrol kepala, tersenyum dan meraih

dengan tujuan) akan berkembang.

4. Refleks BBL meruapakan indikator penting perkembangan normal.


Beberapa refleks yang terdapat pada BBL antara lain:

a. Refleks moro/peluk

b. Rooting refleks

c. Refleks menghisap dan menelan

d. Refleks batuk dan bersin

e. Refleks genggam

f. Refleks melangkah dan berjalan

g. Refleks otot leher.

2.6. Adaptasi Gastrointestinal

1. Enzim-enzim digestif aktif saat lahir dan dapat menyokong kehidupan

ekstrauterin pada kehamilan 36-38 minggu.

2. Perkembangan otot dan refleks yang penting untuk menghantarkan

makanan sudah terbentuk saat lahit\r.

3. Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai, pencernaan dan absorpsi

lemak kurang baik karena tidak adekuatnya enzim-enzim prankreas dan

lipase.

4. Kelenjar saliva imatur saat lahir, sedikit saliva diolah sampai bayi berusia 3

bulan.

5. Pengeluaran mekonium, yaitu feses bewarna hitam kehijauan, lengket dan

mBengandung darah samar, diekresikan dalam 24 jam pada 90% BBL

yang normal.

6. Variasi besar terjadi diantara BBL tentang minat terhadap makanan, gejala-

gejala lapar, dan jumlah makanan yang ditelan pada saat pemberian

makanan.
7. Beberapa BBL menyusu segera bila diletakkan pada payudara, sebagian

lainnya memerlukan 48 jam untuk menyusui secara aktif.

8. Gerakan acak tangan ke mulut dan menghisap jari tangan telah diamati di

dalam uterus, tindakan-tindkan ini berkembang baik pada saat lahir dan

diperkuat rasa lapar.

2.7. Adaptasi Ginjal

1. Laju filtrasi glomerolus relative rendah pada saat lahir disebabkan oleh

tidak adekuatnaya area permukaan kapiler glomerulus.

2. Meskipun keadaan ini tidak mengancam BBL yang normal, tetapi

menghambat kapasitas bayi untuk berespon terhadap stressor.

3. Penurunan kemampuan untuk mengekresikan obat-obatan dan kehilangan

cairan yang rlebihan mengakibatkan asidosis dan ketidakseimbangan

cairan.

4. Sebagian besar BBL berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir dan 2-6

kali perhari pada 1-2 jam pertama, setelah itu mereka berkemih 5-20 kali

dalam 24 jam.

5. Urine dapat keruh karena lendir dan garam urat, noda kemerahan (debu

batu bata) dapat diamati pada popok karena Kristal asam urat.

2.8. Adaptasi Hati

1. Selama kehiduapan janin dan sampai tingkat tertentu setelah lahir, hati terus

membantu pembentukan darah.

2. Selama periode neonatus, hati memproduksi zat yang esensial untuk

pembekuan darah.
3. Penyimpanan zat besi ibu cukup memadai sampai bayi 5 bulan kejidupan

ekstrauterin, pada saat ini, BBL menjadi rentan terhadap defisiensi zat Besi.

4. Hati juga mengontrol jumlah bilirubin tak terkonjugasi yang bersirkulasi,

pigmen berasal dari hemoglobin dan dilepaskan dengan pemecahan sel-sel

darah merah.

5. Bilirubin tidak terkonjugasi dapat meninggalkan sistem vascular dan

menembus jaringan lainnya, misalnya : kulit, sclera, dan membrane mukosa

oral mengakibatkan warna kuning yang disebut jaundice atau ikterus.

6. Pada stress dingin lama, glikolisis aneorobik terjadi dan jika terdapat defek

fungsi pernapasan, asidosis respiratorik dapat terjadi. Asam lemak yang

berlebihan menggeser bilirubin dari tempat-tempat peningkatan albumin.

Peningkatan kadar bilirubin tidak berikatan yang bersirkulasi

mengakibatkan peningkatan resiko kern-ikterus pada kadar bilirubin serum

10 mg/DL atau kurang.

2.9. Perlindungan Termal ( termoregulasi)

1. Pastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi

dengan kulit ibu.

2. Gantilah handuk/ kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan

selimut, serta jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindung

dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh. Pastikan bayi tetap

hangat.

3. Mempertahankan lingkungan termal netral

Letakkan bayi dibawah alat penghangat pancaran dengan

menggunakan ensor kulit untuk mementau suhu sesuai kebuuhan.

Tunda memandikan bayi sampai suhu bayi labil.


Pasang penutup kepala rajutan untuk mencegah kehilangan panas

dari kepala bayi.

2.10. Adaptasi Imun

a. BBL tidak dapat membatasi organisme penyerang di pintu masuk

b. Imaturitas jumlah sistem pelindung secara signifikan meningkatkan resiko

infeksi pada periode BBL.

Respon inflamasi berkurang, baik secara kualitatif maupun

kuantitatif.

Fogositos lambat.

Keasaman lambung dan produksi pepsin dan tripsin belum

berkembang sempurna sampai usia 3-4 minggu.

Immunoglobulin A hilang dari saluran pernapasan dan perkemihan,

kecuali jika bayi tersebut menyusui ASI, IgA juga tidak terdapat

pada saluran GI.

c. Infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas selama

periode neonatus.

3. Penilaian Bayi Untuk Tanda- Tanda Kegawatan

Menurut Prawirohhardjo,2002 BBL dinyatakan sakit apabila :

a. Sesak nafas : frekuensi pernafasan 60 kali/menit

b. Gerak retraksi di dada

c. Malas minum

d. Panas atau suhu badan bayi rendah

e. Kurang aktif

f. Berat lahir rendah ( 500 2500 gram)


g. Kesulitan minum.

Tanda- tanda bayi sakit berat, apabila :

1. Sulit minum.

2. Sianosis sentral ( tidak biru).

3. Perut kembung.

4. Periode apneu.

5. Kejang/periode kejang-kejang kecil.

6. Merintih.

7. Perdarahan.

8. Sangat kuning

9. Berat badan lahir < 1500 gram.

4. Inisiasi Menyusui Dini ,Menurut Jenny J.S. Sondaks halaman 170

4.1 Pengertian Inisiasi Menyusui Dini

Inisiasi menyusui dini atau permulaan menyusui dini adalah

bayi mulai menyusui sendiri segera setelah lahir. Seperti halnya bayi

mamalia lainnya, bayi manusia mempunyai kemampuan untuk

menyusui sendiri. Kontak antara kulit bayi dengan kulit ibunya

dibiarkan setidaknya selama 1 jam segera setelah lahir, kemudian

bayi akan mencari payudara ibu dengan sendirinya. Cara bayi untuk

melakukan inisiasi menyusui dini ini dinamakan the brest crawl atau

merangkak mencari payudara.

4.2.1. Prinsip Menyusui atau Pemberian ASI

Beberapa prinsip dalam pemberian ASI adalah sebagi berikut :

1. Setelah bayi lahir, tali pusat segera diikat.


2. Letakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bersentuhan

langsung ke mulut ibu.

3. Biarkan kontak kulit berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih,

bahkan sampai bayi dapat menyusui sendiri apabila sebelumnya

tidak berhasil.

4. Bayi diberi topi dan diselimuti.

5. Ibu diberi dukungan untuk mengenali saat bayi siap untuk

menyusui.

6. Menyusui dimulai 30 menit setelah bayi baru lahir.

7. Memberikan kolostrum kepada bayi.

8. Tidak memberikan makanan praklatal seperti air gula atau air tajin

kepada BBL sebelum ASI keluar, tetapi mengusahakan bayi

menghisap untuk merangsang produksi ASI.

9. Menyusui bayi dari kedua payudara secara bergantian sampai tetes

terakhir, masing-masing 15-25 menit.

10. Memberikan ASI saja selama 4-6 bulan pertama (on demand)

11. Memperhatikan posisi tubuh bayi saat menyusui dan

carabayimenghisap diman putting susu dan oreola mammae harus

masuk seluruhnya ke mulut untuk menghindari putting lecet.

12. Menyusui sesuai kebetuhan bayi (on demand).

13. Setelah berumur 4 bulan, selain ASI, MP-ASI sampai anak berusia

2 tahun.

14. Meneruskan menyusui bayi dengan tambahan MP-ASI sampai anak

berusia 2 tahun.

15. Berikan ASI lebih dahulu, baru MP-ASI.


16. Setelah usia 2 tahun, menyapih dilakukan secara bertahap.

17. Kebersihan ibu dan bayi, lingkungan dan peralatan yang digunakan

waktu member makan anak perlu diperhatikan.

18. Memperhatikan gizi/makanan ibu saat hamil dan menyusui. Ibu

memerlukan ekstra makanan dan minuman lebih banyak dari

keadaan sebelum hamil.

19. Bagi ibu yang bekerja, dapat memberikan ASI sebelum dan sesudah

pulang kerja.

Manfaat Imunisasi Menyusui Dini (IMD)

1. Keuntungan kontak kulit dengan kulit untuk bayi

Kehangatan dada ibu dapat menghangatkan bayi, sehingga bayi

diletakkan apabila bayi diletakkan di dada ibunya segera

setelah melahirkan, dapat menurunkan resiko hipotermia dan

menurunkan kematian akibat kedinginan.

Getaran cinta, saat ibu dipeluk oleh suaminya, maka akan

merasakan ketenangan, merasa dilindungi, dan kuat secara

spikis. Begitu juga dengan bayi, saat bayi diletakkan di dada

ibu, bayi akan lebih tenang dan mengurangi stress, sehingga

pernapasan dan detak jantungnya pun lebih stabil.

Bayi terlebih dahulu tercemar oleh bakteri ibu yang TIDAK

BERBAHAYA atau terdapat antinya di ASI, sehingga bakteri

baik membuat koloni di usus dan kulit bayi, serta dapat

menyaingi bakteri yang lebih ganas di lingkungan luar.

Tidak ada yang meragukan kolostrum, cairan yang kaya akan

antibodi dan sangat penting untuk pertumbuhan usus dan


ketahanan terhadap infeksi yang sangat dibutuhkan bayi demi

kelangsungan hidupnya. Saat bayi dapat menyusu segera

setelah lahir, maka bayi bisa mendapatkan kolostrum tersebut

dan tidak tergantikan formula lain. Ada beberapa ibu yang

memberikan susu formula setelah melahirkan, sehingga susu

formula tersebut akan menggantikan kolostrum yang

sebenarnya sangat dibutuhkan bayi.

Pemberian makanan awal selain ASI (susu hewan) yang

mengandung bukan protein susu manusia dapat sangat

menganggu pertumbuhan fungsi usus.

Bayi yang diberikan kesempatan menyusu dini akan

mempunyai kesempatan lebih berhasil menyusui ekslusif dan

mempertahankan menyusui kesempatan menyusui daripada

yang menunda menyusu dini. Lalu sentuhan, kuluman/emutan

dan jilatan bayi pada putting ibu akan merangsang oksitosin

yang penting untuk :

1. Membuat rahim berkontraksi sehingga dapat membantu

pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan.

2. Merangsang hormone lain, yang membuat ibu menjadi

tenang, rileks dan mencintai bayinya.

3. Merangsang pengaliran ASI dari payudara.

2. Keuntungan Inisiasi Menyusui DinI

a. Oksitosin

Stimulasi kontraksi uterus dan menurunkan resiko perdarahan

pasca-persalinan.
Merangsang pengeluaran kolostrum dan meningkatkan

produksi ASI.

Keuntungan dan hubungan mutualistik ibu dan bayi.

Ibu menjadi lebih tenang, memfasilitas kelahiran plasenta,

dan penglihatan rasa nyeri dari berbagai prosedur pasca

persalinan lainnya.

b. Prolaktin

1. Meningkatkan produksi ASI

2. Membantu ibu mengatasi stress terhadap berbagai rasa

kurang nyaman

3. Member efek relaksasi pada ibu setelah bayi selesai

menyusui

4. Menunda ovulasi

3. Keuntungan Inisiasi Menyusui Dini Untuk Bayi

makanan dengan kualitas dan kuantitas optimal. Mendapat kolostrum

segera, disesuaikan dengan kebutuhan bayi.

Segera memberikan kekebalan pasif pada bayi. Kolostrum adalah

imunisasi pertama bagi bayi.

Meningkatkan kecerdasan

Membantu bayi mengoordinasikan kemampuan menghisap, menelan,

dan napas.

Meningkatkan jalinan kasih sayang ibu-bayi.

Mencegah kehilangan panas.

Meningkatkan berat badan.

4. Memulai Menyusui Dini


Sebanyak 22 % bayi dapat selamat jika dapat menyusu 1 jam pertama

dan sebanyak 16 % bayi akan selamat jika dapat menyusu pada hari

pertama. Jadi, kematian bayi meningkat secara bermakna setiap

permulaan menyusu ditangguhkan.

Meningkatkan keberhasilan menyusui secara eksklusif dan lamanya

bayi menyusui.

Merangsang produksi ASI

Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada

bayi paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

5. Langkah Inisiasi Menyusui Dini dalam Asuhan Bayi Baru Lahir

Langkah I : Lahirkan, lakukan penilaian pada bayi, keringkan

Catat waktu kelahiran bayi

Letakkan bayi di perut bawah ibu.

Kaji bayi apakah diperlukan resusitasi, keringkan tubuh bayi mulai dari

wajah, kepala, dan bagian ubuh lainnya dengan halus tanpa

membersihkan vernik. Setelah kering, selimuti bayi dengan kain kering

untuk menunggu 2 menit sebelum tali pusat diklem.

Hindari mengeringkan tangan bayi.

Lendir cukp dilap dengan kain bersih. Penghisapan lendir di dalam

mulut atau hidung bayi dapat merusak selaput lendir dan meningkatkan

risiko infeksi pernapasan.

Periksa kembali uterus untuk memastikan hamil tunggal. Kemudian,

suntikkan oksitosin 10 IU secara IM pada ibu, dan jaga bayi tetap

hangat.
Langkah II : Lakukan kontak kulit dengan kulit selama paling sedikit
1 jam

Setelah tali pusat dipotong dan diikat, letakkan bayi dengan posisi

tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga menempel di dada

ibu. Kepala bayi harus berada di antara payudara ibu, tetapi lebih

rendah dari putting.

Kemudian, selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di

kepala bayi.

Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling

sedikit 1 jam, mintalah ibu untuk memeluk dan membelainya. Bila

perlu, letakkan bantal dibawah kepala ibu untuk mempermudah kontak

visual antara ibu dan bayi. Senagian besar bayi akan berhasil melakukan

IMD dalam waktu 30-60 menit.

Hindari membasuh atau menyeka payudara ibu sebelum bayi menyusu.

Selama kontak kulit tersebut, lanjutkan dengan langkah manajemen

aktif kala III persalinan.

Langkah III : Biarkan bayi mencari dan menemukan putting ibu dan
mulai menyusu

Biarkan bayi mencari dan menemukan putting dan mulai menyusu.

Anjurkan ibu dan orang lainnya untuk tidak menginterupsi supaya bayi

menyusu. Misalnya, memindahkan bayi dari satu payudara ke payudara

lainnya. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit,

bayi cukup menyusu di satu payudara.

Menunda semua asuhan BBL lahir normal lainnya hingga bayi selesai

menyusu. Tunda memandikan bayi 6-24 jam setelah bayi lahir untuk

mencegah hipotermi.
Usahakan tetap menempatkan ibu dan bayi di ruang bersalin hingga

bayi selesai menyusu.

Segera setelah BBL selesai menghisap, bayi akan berhenti menelan dan

melepaskan putting. Bayi dan ibu akan merasa mengantuk. Bayi

kemudian diselimuti dengan kain bersih. Lalu lakukan penimbangan

dan pengukuran bayi, mengoleskan salep antibiotic pada mata bayi, dan

memberikan suntikan vit. K.

5. Tanda Tanda Bahaya Pada Bayi

Tanda dan gejala sakit berat pada bayi baru lahir dan bayi muda sering

tidak spesifik. Tanda ini dapat terlihat pada saat atau sesudah bayi lahir, saat bayi

baru lahir datang atau saat perawatan di rumah sakit. Pengelolaan awal bayi baru

lahir dengan tanda ini adalah stabilisasi dan mencegah keadaan yang lebih buruk.

Tanda ini mencakup :

1. Tidak bisa menyusu

2. Kejang

3. Mengantuk atau tidak sadar

4. Frekuensi napas < 20 kali/menit atau apnu (pernapasan berhenti selama >15

detik)

5. Frekuensi napas > 60 kali/menit

6. Merintih

7. Tarikan dada bawah ke dalam yang kuat

8. Sianosis sentral.

Tatalaksana Kedaruratan Berdasarkan Tanda Bahaya:


a. Beri oksigen melalui nasal prongs atau kateter nasal jika bayi muda

mengalami sianosis atau distres pernapasan berat.

b. Beri VTdengan oksigen 100% (atau udara ruangan jika oksigen tidak tersedia)

jika frekuensi napas terlalu lambat (< 20 kali/menit).

c. Jika terus mengantuk, tidak sadar atau kejang, periksa glukosa darah. Jika

glukosa < 45 mg/dL koreksi segera dengan bolus 200 mg/kg BB dekstrose

10% (2 ml/kg BB) IV selama 5 menit, diulangi sesuai keperluan dan infus

tidak terputus (continual) dekstrosa 10% dengan kecepatan 6-8 mg/kg

BB/menit harus dimulai. Jika tidak mendapat akses IV, berikan ASI atau

glukosa melalui pipa lambung.

d. Beri fenobarbital jika terjadi kejang

e. Beri ampisilin (atau penisilin) dan gentamisin jika dicurigai infeksi bakteri

berat (lihat bagan dosis obat bayi baru lahir).

f. Rujuk jika pengobatan tidak tersedia di rumah sakit ini.

g. Pantau bayi dengan ketat.

6. Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir

Menurut Jenny J.S. Sondaks halaman 160

a. Kepala : pemeriksaan terhadap ukuran, bentuk, sutura menutup/melebar,

adanya caput succedanum,sepal hematoma, kraniotabes, dan sebagainya.

b. Mata : pemeriksaan terhadap perdarahan, subkonjungtiva, tanda-tanda infeksi

(pus).

c. Hidung dan mulut : pemeriksaan terhadap labio skitis, labiopalatokisis,dan

refleks isap (dinilai saat bayi menyusu).

d. Telinga : pemeriksaan terhadap preaurical tog, kelainan daun/bentuk/telinga.


e. Leher : pemeriksaan terhadap hematom sternocleidomastoideus, ductus

thyroglossalis, hygroma colli.

f. Dada : pemeriksaan terhadap bentuk, pembesaran buah dada, pernapasan,

retraksi intercrostal, subcostal sifoid, merintih, penapasan cuping hidun, serta

bunyi paru-paru (sonor, vesikuler, bronchial, dan lain-lain)

g. Jantung : pemeriksaan terhadap pulsasi, frekuensi bunyi jantung, kelainan

bunyi jantung.

h. Abdomen :pemeriksaan terhadap membuncit (pembesaran hati, limfa, tumor

aster) scaphoid (kemungkinan bayi menderita diafragmatika/atresia esofagus

tanpa fistula)

i. Tali pusat :pemeriksaan terhadap perdarahan, jumlah darah pada tali

pusat,warna dan besar tali pusat, hernia di tali pusat atau selangkangan.

j. Alat Kelamin : pemeriksaan terhadap testis apakah berada dalam skrotum,

penis berlubang pada ujung (pada bayi laki-laki), vagina berlubang, apakah

labia mayora menutupi labio minora (bayi perempuan)

k. Lain-lain : mekonium harus keluar dalam 24 jam setelah lahir, bila tidak,

harus waspada terhadap atresiani ani atau abstruksi anus. Selain itu, urin juga

harus keluar dalam 24 jam. Kadang pengeluaran urin tidak diketahui karena

pada saat bayi lahir, urin keluar bercampur dengan air ketuban. Bila urin tidak

keluar dalam 24 jam, maka harus diperhatikan adanya obstruksi saluran

kemih.

7. Jadwal imunisasi.

a. Pengertian

Jadwal imunisasi adalah informasi mengenai kapan suatu jenis

vaksinasi atau imunisasi harus diberikan kepada anak. Jadwal imunisasi suatu
Negara dapat berbeda dengan Negara lain tergantung kepada lembaga

kesehatan yang berwenang mengeluarkannya.

Berikut adalah jadwal imunisasi anak rekomendasi Ikatan Dokter

Indonesia (IDAI) Periode 2004 (revisi September 2003):

Keterangan jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI, periode 2004

Umur Vaksin Keterangan


Saat Hepatitis HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir,
lahir B-1 dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan.Apabila
statusHbsAg-B ibu positif dalam 12 jam setelah lahir
diberikan HbAg 0,5 ml bersamaan dengan bersamaan
dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu
tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya
diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka dapat diberikan
HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
Polio- 0 Polio 0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi
yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi
dipulangkan untuk menghindari imunisasi virus vaksin
kepada bayi lain)

1 bulan Hepatitis Hb-2 diberikan pada bayi umur 1 bulan, interval HB-1 dan
B-2 HB-2 adalah 1 bulan.
0-2 BCG BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan
bulan diberikan pada umur > 3 bulan dilakukan uji tuberculin
terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji Tuberkulin
negative
2 bulan DPT-1 DPT-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat
dipergunakan DTwp atau DTap, DTP-1 diberikan secara
kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T )
Hib-1 Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2
bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau
dikombinasikan dengan DPT-1
Polio 1 Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DPT-1
4 bulan DPT-2 DPT-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah
atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T)
Hib-2 Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan
dengan DPT-2
Polio-2 Polio-2 diberikan bersamaan dengan DPT-2
6 bulan DPT-3 DPT-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan
dengan Hib-3 (PRP-T)
Hib-3 Apabila mempergunakan Hib-OMG, Hib-3 pada umur 6
bulan tidak perlu diberikan.
Polio-3 Polio-2 diberikan bersamaan dengan DPT-3
Hepatitis HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respon
B-3 imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan,
terbaik 5 bulan.
9 bulan Campak 1 Campak-1 diberikan pada bayi umur 9 bulan, campak-2
merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6 bulan.
Apabila telah mendapat MMR pada umur 15 bulan,
campak-2 tidak perlu diberikan.
15-18 MMR Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan
bulan imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12
bulan
Hib-4 Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP)
18 DPT-4 DPT-4 (DPT atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3
bulan
Polio-4 Polio-4 diberikan bersamaan dengan DPT-4
2 tahun Hepatitis A Vaksin Hepatitis A direkomendasikan pada umur > 2
tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.
2-3 Tifoid Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk
tahun umur . 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu
diulang setiap 3 tahun.
5 tahun DPT-5 DPT-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap)
Polio -5 Polio-5 diberikan bersamaan dengan DPT-5
6 tahun MMR Diberikan untuk catch-upimmunization pada anak yang
belum mendapatkan MMR-1
10 Dt/TT Menjelang pubertas, vaksin teanus ke-5 (Dt/TT) diberikan
tahun untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun
Varisela Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun.
BAB III

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA Ny NURIANA USIA 26


TAHUN G1P0AO USIA KEHAMILAN 29 MINGGU DI KLINIK SANTI STARBAN
POLONIA

I. PENGUMPULAN DATA

A. IDENTITAS / BIODATA

Nama : Ny.Nuriana Nama : Tn. Tomi

Umur : 26 tahun Umur : 30 tahun

Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat :Jl Starban Polonia Alamat : Jl Starban Polonia

B. ANAMNESE (DATA SUBJEKTIF)

Pada tanggal : 27-10-2014 Pukul : 09.00 WIB Oleh : Heni Banjarnahor

1. Alasan kunjungan ini : Untuk Memeriksakan kehamilan

2. Keluhan-keluhan : ibu mengatakan ada keputihan tidak berbau sejak 2

minggu yang lalu

3. Riwayat Menstruasi

Haid pertama : Usia 14 tahun

Lamanya : 3 hari

Siklus : 28 hari

Dismenorhoe : tidak ada

Banyaknya : 3 x ganti doek

Sifat darah : Encer


4. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu : G1 P0 Ab0

Keadaan
Tgl Persalinan Komplikasi Bayi
Usia Nifas
No. Lahir/
Kehamilan PB/BB
Umur Jenis Tempat Penolong Ibu Bayi Keadaan Lactasi Kelainan
Bayi
1. H A M I L I N I

5. Riwayat Kehamilan Sekarang

a. HPHT : 4-4 2014

b. TTP : 11-1 -2015

c. Usia Kehamilan : 29 minggu

d. Gerakan janin pertama kali bulan : september 2014

e. Imunisasi TT :-

f. Kecemasan : tidak ada

g. Tanda tanda bahaya : tidak ada

h. Tanda- tanda persalinan : tidak ada

6. Riwayat yang pernah di derita

a. Jantung : tidak ada

b. Hipertensi : tidak ada

c. Diabetes Mellitus : tidak ada

d. Malaria : tidak ada

e. Ginjal :tidak ada

f. Asma : tidak ada

g. Hepatitis : tidak ada

h. Riwayat operasi abdomen : tidak ada

7. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Hipertensi : tidak ada.

b. Diabetes Mellitus : tidak ada

c. Asma : tidak ada

d. Lain-lain : tidak ada riwayat kembar

8. Riwayat KB : belum pernah memakai KB

9. Riwayat spikososial

a. status perkawinan : sah Kawin : 1 kali

b. perasaan ibu terhadap kehamilan : senang

c. pengambil keputusan dalam keluarga : ayah dan ibu

d. tempat dan tugas yang diinginkan untuk membantu persalinan : klinik dan

bidan

e. tempat rujukan jika terjadi komplikasi : RS

f. persiapan menjelang persalinan : pakaian bayi dan biaya persalinan

10. Activity Daily Living

a. Pola makan dan minum :

Diet / makan

- Pagi : 2-3 sendok nasi +1/2 potong ikan + air putih

- Siang : 3 sendok nasi + 1/2 potong ikan + 1sendok sayur + 1 gelas air

putih.

- Malam : 2-3 sendok nasi + 1/2 potong ikan + 1 gelas air putih

Minum : > 8 gelas setiap hari

b. Pola istirahat

Tidur siang : 2 jam

Tidur malam : 8 jam

c. Pola eliminasi
BAK : 8 9 x/hari

BAB : 1 x sehari

d. Personal Hygiene

mandi : 2 kali/hari

ganti pakaian/ pakaian dalam : 4 kali/hari

e. Pola aktivitas

pekerjaan sehari-hari : IRT

f. Kebiasaan hidup

merokok : tidak pernah

minum-minuman keras : tidak pernah

obat terlarang : tidak pernah

minum jamu : tidak pernah

C. PEMERIKSAAAN FISIK (DATA OBJEKTIF)

1. Keadaan umum : Stabil

2. Tanda-tanda vital

TD : 100/80 mmHg

Temp : 36,70C

Pols : 84 x/menit

RR : 22 x/menit

3. Pengukuran tinggi badan dan berat badan

Berat badan : 57 kg , kenaikan BB selama hamil 7 kg

Tinggi badan : 155 cm

LILA : 27 cm

4. Pemeriksaan fisik
a. postur tubuh : lordosis

b. kepala

Muka : simetris cloasma : tidak ada odema : tidak ada

Mata : simetris conjungtiva : merah muda sclera : tidak

ikterik

Hidung : simetris polip : tidak ada

Mulut/ bibir : bersih tidak ada caries

c. Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid

d. Payudara

Bentuk : simetris

Keadaan putting susu : menonjol

Areola mammae : hiperpigmentasi

Colostrum : (-)

e. Perut

Inspeksi : tidak ada bekas luka operasi

Palpasi :

a. Leopold I : TFU : 26 cm, di fundus teraba bulat, lunak dan tidak

melenting,melebar.

b. Leopold II : dibagian sisi kanan perut ibu terabab bagian yang

keras,memapan,memanjang ( punggung janin),dibagian

sisi kiri perut ibu teraba bagian kecil tubuh janin

c. Leopold III : bagian terbawah janin teraba bulat, keras dan

melenting (kepala )

d. Leopold IV : pada bagian simfisis kepala masih dapat digoyangkan

belum memasuki PAP


e. TBJ : 2170 gr

f. TFU : 26 cm

g. Kontraksi :

auskultasi : ada (+) teratur

DJJ : 140 x/i

h. ekstermitas

Atas : simetris, tidak oedema

Bawah : simetris, tidak oedema

i. genetalia

anus : tidak hemoroid

5. Pemeriksaan Panggul

a. Lingkar panggul : 96 cm

b. Distosia Cristarum : 26 cm

c. Distosia Spinarum : 24 cm

d. Conjugata Eksterna : 20 cm

6. Pemeriksaan Dalam : tidak dilakukan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG :

Hemoglobin : 11 gr%

Protein urine : (- )

II.INTERPRETASI DATA DASAR

Diagnosa : Ny Nuriana usia 25 tahun G1P0A0 usia kehamilan 29 minggu janin

tunggal hidup intrauteri punggung kanan persentase kepala belum

masuk PAP keadaan ibu dan janin baik


Dasar

DS

1.Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama dan belum pernah abortus

2.Ibu mengatakan HPHT 4-4 2014/ HPL 11 -1-2015

3.Ibu mengatakan sudah pernah planotes di klinik dengan hasil ( + ) oleh bidan

4.Ibu mengatakan sudah pernah USG dengan hasil baik oleh dokter

5.Ibu mengatakan merasakan pergerakan janin aktif pada bulan september 2014

6.Ibu mengatakan merasakan pergerakan janin lebih sering dibagian kiri

DO

Keadaan umum : baik

Keadaan emosional : stabil

Kesadaran : compos mentis

TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 36,7 0 C

RR : 22 x/m

HR : 84 x/m

Lila : 26 cm

TB : 155 cm

BB : 57 kg kenaikan selama hamil 7 kg

TFU : 26 cm

TBBJ : ( TFU -12 ) x 155 = 2170 gram

DJJ : 140 x/m teratur


Leopold : TFU 26 cm,punggung kanan,persentase kepala dan masuk

PAP

Distansia spinarum : 24 cm

Distansia cristarum : 26 cm

Conjugata eksterna : 20 cm

Lingkar panggul : 96 cm

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

Masalah : Ibu mengatakan ada keputihan tidak berbau sejak 2 minggu

yang lalu

Kebutuhan

1.Menganjurkan ibu untuk menjaga hygiene khususnya kebersihan genetalia

2.Menganjurkan ibu untuk mengganti celana dalam jika terasa lembab atau kotor

3.Menjelaskan kepada ibu tentang perubahan yang dialani merupakan hal yang fisiologis

III.Diagnosa masalah potensial

Tidak ada

IV .Antisipasi masalah potensial

Tidak ada

V.INTERVENSI

Tanggal : 27 -10- 2014 pukul : 9.10 wib oleh : Heni Banjarnahor

No Intervensi Rasionalisasi

1 Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan saat Memberitahu mengenai hasil tindakan
ini dan kondisi janinnya saat ini dan proses dan pemeriksaan kepada pasien

kemajuan kehamilan TTV,TFU,UK,DJJ,dan merupakan langkah awal bagi bidan

hasil pemeriksaan Head to toe dalam membina hubungan komunikasi

yang efektif sehingga dalam proses

KIE akan tercapai pemahaman materi

KIE yang optimal.

2 Anjurkan ibu untuk menjaga pola personal Perubahan fisiologis pada TM III pada

hygiene setiap hari khususnya kebersihan ibu hamil disebabkan oleh hormon

genitalia dan daerah vulva untuk yang naik ,hipervlasia pada mukosa

menghindari penularan kuman patogen vagina menyebabkan sekresri

melalui cairan atau sekret yang keluar endoservik meningkat

melalui vagina

3 Anjurkan ibu untuk mengganti celana dalam Kelembapan Ph vagina akan dapat

saat terasa basah dan lembab atau kotor dan mempengaruhi pertumbuhan kuman

anjurkan ibu untuk membersihkan genitalia patogen.Sekret vagina timbul karena

dari daerah depan kemudian kebelakang lalu peningkatan hormon estrogen.

dilap dengan menggunakan tissue atau kain

kering dan lembut.

4 Jelaskan kepada ibu tentang perubahan yang Memberikan informasi akan hal-hal

sering terjadi pada kehamilan TM III dan yang mungkin terjadi pada masa

cara mengatasinya kehamilan TM III sangat penting jika

sewaktu-waktu ibu mengalami akan

tahu bagaimana cara untuk

mengatasinya

5 Beri informasi kepada ibu dan keluarga Memberikan informasi mengenai


tentang tanda-tanda bahaya pada kehamilan tanda bahaya kehamilan TM III

TM III kepada ibu/keluarga dalam

pemantauan dan deteksi dini

komplikasi kehamilan,sehingga jika

terjadi salah satu tanda bahaya,ibu dan

keluarga dapat mengambil keputusan

dan bertindak dengan cepat

6 Tinjau ulang tentang pemenuhan nutrisi dan Memberi informasi tentang pola

pola cairan.Nutrisi yang dibutuhkan saat pemenuhan cairan dan nutrisi yang

kehamilan TM III vitamin,besi sulfat,protein dibutuhkan ibu hamil selama TM III

dan kalsium dengan kadar tinggi untuk mencegah terjadinya

kekurangan gizi dan berlanjut pada

kehamilan dengan anemia yang dapat

menyebabkan persalinan abnormal

7 Anjurkan ibu untuk tetap meningkatkan pola Ibu hamil pada masa TM III

istirahat dan tidur yang baik selama membutuhkan waktu istirahat yang

kehamilan TM III banyak untuk mengurangi kelelahan

ibu dengan aktivitas yang terlalu

berat,ibu hamil dengan tidur yang

cukup akan menambah pemulihan

energi untuk persiapan proses

persalinan.

8 Berikan informasi mengenai perlunya Mempertahankan tingkat cairan dan

masukan cairan 6-8 gelas/hari,penurunan perfusi ginjal adekuat .Mengurangi

masukan 2-3 jam sebelum beristirahat dan natrium diet untuk mempertahankan
penggunaan garam,dan produk natrium yang stasu isotonik normal

terlalu banyak.

9 Anjurkan ibu menghindari tidur telentang Posisi telentang memungkinkan

dalam waktu lebih dari 10 menit,biasakan terjadinya syndrom vena cava dan

tidur dengan posisi miring ,perthatikan juga menurunkan aliran vena darah menuju

keluhan yang dirasakan ibu saat tidur. janin.

10 Beikan informasi tentang persiapan Informasi ini untuk disampaikan

persalinan kepada pasien dan keluarga untuk

mengantisipasi adanya ketidak siapan

jika sewaktu-waktu persalinan dimulai

11 Berikan tablet besi sebanyak 30 tablet Ibu hamil memiliki peningkatan

dengan dosis 1x1 dan lactas untuk tulang kebutuhan zat besi yang dibutuhkan

dan gigi untuk mencegah kemungkinan

terjadinya anemia pada ibu hamil

12 Anjurkan ibu untuk mengikuti senam Senam hamil dapat memberi ibu

hamil.Senam hamil dapat dilakukan dirumah kenyamanan,melancarkan sirkulasi

darah,peregangan pada persendiaan

dan otot-otot ibu,pencernaan semakin

baik dan membantu mempercepat

proses persalinan nantinya.

13 Anjurkan ibu untuk kunjungan berikutnya Kunjungan ini dimaksudkan untuk

jika ada keluhan dan juga untuk memantau menegaskan ibu bahwa meskipun saat

kembali kemajuan proses kehamilan dan ini tidak ditemukan kelainan,namun

mendeteksi kembali tentang adanya keluhan tetap diperlukan pemantauan karena


yang dirasakan ibu dan tanda bahaya. ini sudah TM III

VI IMPLEMENTASI

Tanggal : 17-10-2014

Waktu Implementasi paraf


9.20 1.Memberi ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu dan Heni
wib keadaan janin dalam batas normal

TTV
TD : 100/80 mmHg
T : 36,7 0 C
RR : 22 x/m
HR : 84 x/m
DJJ : 140 x/m ,teratur
TBBJ : 2170 gram
Hasil leopold : pada bagian fundus teraba bokong,punggung
kanan,persentase kepala dan belum masuk PAP
Hasil pemeriksaan head to ote dalam batas normal
Usia kehamilan saat ini memasuki 29 minggu

Ev : ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan dan keadaan janin


saat ini dalam keadaan sehat.

2.Menjelaskan kepada ibu tentang perubahan yang dialaminya saat ini


9.23 merupakan hal yang fisiologis khususnya keputihan yang
wib berlebihan.Pengeluaran cairan pervaginam disebabkan oleh hipervlasia
pada mukosa vagina akibat naiknya hormon progesteron,biasanya hal ini
akan berlanjut sampai akhir kehamilan.

Ev : ibu sudah mengetahui tentanh perubahan yang dialami saat ini dan
ibu tidak terlalu khawatir lagi.

9.26 3.Menganjurkan ibu untuk selalu mempertahankan pola personal


wib hygiene khususnya perawatan pada baian genitalia untuk mencegah
terjadinya penularan kuman yang semakin meluas.Membersihkan vagina
dengan menggunakan air bersih saja dan menghindari sabun pencuci
vagina yang bersifat kimiawi karena dapat menyebabkan
iritasi,mengganti celana dalam jika terasa kotor/lembab,memakai celana
dalam yang bersifat menyerap keringat dan membersihakan daerah
vulva dari daerah depan kearah belakang.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara menjaga personal hygiene


khususnya kebersihan ganitali setiap hari.
9.29 4.Menjelaskan kepada ibu tentang perubahan-perubahan yang sering
wib terjadi pada masa kehamilan TM III dan cara mengatasi.Perubahan fisik
yang tampak seperti perut semakin membesar,hal ini disebabkan oleh
perkembangan janin yang semakin membesar dalam uterus.Payudara
yang semakin menegang dan terasa berat sebagai faktor pembentukan
produksi ASI.Hiperpigmentasi pada aerola semakin tampak jelas
disebabkan oleh peningkatan hormon.Sering BAK sebagia faktor
dorongan kepala janin terhadap uterus,uterus yang tertekan oleh kepala
janin menyebabkan kandung kemih ibu terjepit sehingga isi kandung
kemih terdorong untuk berkemih.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang perubahan-perubahan yang terjadi


dalam TM III

9.32 5.Memberi informasi tentang tanda-tanda bahaya kehamilan yang sering


wib terjadi pada TIM III

Perdarahan pervaginam : perdarahan pervaginam dapat


menandakan terjadinya abortus,plasenta previa atau solutio
plasenta
Nyeri kepala hebat : sakit kepal hebat yang berkelanjutan atau
menetap merupakan gejala kemnugkinan preeklamsia
Nyeri abdomen hebat dan tidak hilang saat istirahat hal ini
kemungkinan apendititis,gastritis,abrupsi plasenta,infeksi saluran
kemih.
Gerakan janin berkurang merupakan tanda awal kemungkinan
terjadi gangguan didalam uterus menandakan bayi kemungkinan
dalam gawat janin atau bahkan meninggal

Ev : ibu sudah mengetahui tentang tanda-tanda bahaya kehamilan dalam


masa TM III

9.35 6.Memberitahu ibu tentang pola pemenuhan nutrisi ibu hamil TM


wib III.Ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi cairan minimal 6-8
gelas/hari dan penurunan konsumsi garam/mineral ,hindari minuman
beralkohol/bersoda.Menganjurkan makanan yang banyak mengandung
vit B seperti beras merah sebagi cadangan energi untuk proses
persalinan,mengkonsumsi sayuran atau buah yang banyak mengandung
serat seperti pepaya,bayam,hindari konsumsi makanan yang banyak
mengandung lemak,minyak.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara pemenuhan nutrisi yang baik


selama TM III

9.38 7.Mengkaji ulang pemenuhan/konsumsi tablet FE 30 tablet dosis


wib 1x1.Menjelaskan kepada ibu tentang fungsi tablet FE untuk mencegah
kemungkinan terjadinya anemia pada ibu.Tablet FE diminum ketika
perut dalam keadaan agak kosong,hindari minum tablet FE bersamaan
dengan teh kopi,minuman soda atau susu,usahakan minum tablet FE
bersama dengan air jeruk atau minuman yang mengandung vit C karena
akan meningkatkan proses absorbsi FE

Ev : ibu sudah mengetahui prosedur konsumsi tablet FE sesuai dengan


anjuran bidan

9.41 8.Menganjurkan ibu untuk mendapatkan cukup istirahat terutama saat


wib tidur siang dan tidur malam.Tidur siang minimal 2jam/hari.Tidur malam
7-8 jam /hari.Kehamilan pada TM III sangat melelahkan karena tidur
akan terganggu saat perut semakin membesar.Menjelaskan juga kepada
ibu tentang hal-hal yang mempengaruhi gangguan istirahat dan tidur
Berikut ini cara untuk mendapatkan lebih banyak tidur :
Berolahraga : oahraga dipagi/sore akan menimbulkan rasa
nagantuk pada malam hari

9.43 9.Memberitahukan ibu tanda-tanda persalinan,kelahiran berhubung


wib dengan ini adalah anak pertama.Tanda-tanda persalinan contonhya
keluar lendir bercampur darah ( bloody slim ),nyeri punggung dan
pinggang menjalar sampai keperut ( fundadominal ),kontraksi ( his )
yang semakin kuat dan teratur.Beritahu ibu untuk menyepakati tempat
persalinan.pendamping saat persalinan,penolong saat bersalin biaya
persalinan,perlengkapan persalinan.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang tanda-tanda persalinan dan persiapan


menghadapi persalinan

9.46 10.Menganjurkan ibu untuk mengikuti kelas senam hamil


wib dasar.Gerakan-gerakan ini dilakukan sebanyak 2x8 hitungan :

Gerakan untuk melatih pernafasan yaitu pernafasan perut dan


pernafasan dada yaitu menghirup udara melalui hidung dan
keluarkan melalui mulut (2x8 )
Pernafasan kombinasi yaitu menghirup udara melalui hidung lalu
mengeluarkan melalui mulut dengan duduk tegak lurus dan kaki
bersilah mendekati arah perineum
Gerakan mengangkat bahu kearah atas dengan menaikkan bahu
kearah atas denagn posisi tegak lurus ( duduk ),kemudian
gerakkan bahu kearah belakang 4x gerakan lalu gerakkan bahu
kearah depan.
Gerakan punggung yaitu dengan mencodongkan punggung
kearah depan dengan posisi berada tegak lurus dan ke2 tangan
berada dipaha
Gerakan tungkai ( ekstremitas ) yaitu dengan mengangkat kaki
secara bergantian dengan posisi ibu miring lalu lakukan secara
bergantian dengan ke2 kaki
Kemudian gerakan punggung dengan cara merangkak,lakukan
secara bergantian yaitu dengan langkah pertama meluruskan
punggung kemudian merundukkan bagian vertebrata lalu melihat
kearah perut lalu kembali menegakkan punggung.
Kemudian gerakan terakhir adalah gerakan knee chest yaitu
gerakan ini dikhususkan bagi ibu hamil yang letak janinnya
melintang atau sungsang

Ev : ibu sudah mengetahui tentang teknik senam hamil dan berjanji


melakukannya di rumah

9.52 11.Menganjurkan ibu untuk kunjungan berikutnya untuk mengkaji


wib peertumbuhan /perkembangan proses kehamilan dan mendeteksi adanya
tanda bahaya selama kehamilan

Ev : ibu berjanji akan mendatangi klinik jika ada tanda bahaya.

VII.EVALUASI

Tanggal : 27-10-2014 pukul : 9.55 wib oleh:Heni Banjarnahor

1.Ibu mengatakan sudah lebih mengetahui tentang keadaan dan hasil pemeriksaan saat ini

2.Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang cara menjaga personal hygiene khusunya
perawatan genitalia

3.Ibu mengatakan sudah mengetahui cara senam hamil yang baik

4.Ibu mengatakan cara pemenuhan nutrisi,cairan,istirahat dengan baik dan tidak ada keluhan

5.Ibu mengatakan sudah mengetahui tanda-tanda bahaya kehamilan dan tanda persalinan

6.Ibu mengatakan sudah mempersiapkan persalinan dengan baik

7.Ibu berjanji akan datang kunjungan ulang

8.Ibu sudah mendapat tablet FE 30 tablet

Kunjungan II

Tanggal 25-11-2014 pukul : 14.30 wib oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF
1.Ibu mengatakan keadaan saat ini sehat dan tidak ada keluhan

2.Ibu mengatakan janin semakin aktif

3.Ibu mengatakan merasakan perubahan fisik yang semakin tampak seperti perut semakin
membesar,sering BAK

4.Ibu mengatakan tidak ada tanda bahaya yang dirasakan ibu

5.Ibu mengatakan sudah mempersiapkan perlengkapan pakaian bayi

6.Ibu mengatakan akan melahirkan di klinik bidan terdekat

OBJEKTIF

Keadaan umum : baik

Keadaan emosional : stabil

Kesadaran : compos mentis

TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 37 0 C

RR : 22 x/m

HR : 82 x/m

Lila : 26 cm

TB : 155 cm

BB : 59 kg kenaikan selama hamil 9 kg

TFU : 29 cm

TBBJ : ( TFU -11 ) x 155 = 2790 gram

DJJ : 140 x/m teratur

Leopold : TFU 29 cm,punggung kanan,persentase kepala dan masuk

PAP

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal


ASSESMENT

Diagnosa : Ny Nuriana 25 tahun G1P0A0 hamil 33 minggu janin tunggal hidup

intrauteri punggung kanan persentase kepala belum masuk PAP

keadaan ibu dan janin baik

Masalah : Ibu mengatakan sering BAK terutama pada malam hari

Kebutuhan

1.menganjurkan ibu untuk tetap menjaga personal hygiene khususnya genitalia

2.menganjurkan ibu untuk mengurangi konsumsi cairan 2-3 jam sebelum tidur

3.menganjurkan ibu untuk mengososngkan kandung kemih sebelum tidur

4.penkes ibu tentang perubahan yang dialaminya saat ini adalah fisiologis

PLANNING pukul : 14.50 wib oleh : Heni Banjarnahor

1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dan kondisi janin saat ini dalam batas normal

Hasil TTV

TD : 100/80 mmHg DJJ : 150 x/m

T : 37 0 C TFU : 29 cm

RR : 22x/m TBBJ : 2790 gram

HR : 84 x/m

BB : 59 kg kenaikan 9 kg

Usia kehamilan saat ini memasuki 33 minggu

Hasil leopold : pada bagian Fu terdapat bokong janin,punggung kanan persentase

kepala dan belum masuk PAP

Hasil pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

Ev : ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan dan kondisi janin saat ini dalam batas

normal
2.Menganjurkan ibu mengurangi pola pemasukan cairan dimalam hari yaitu 2-3 jam sebelum

tidur malam,mengosongkan kandung kemih sebelum tidur.Frekuensi BAK yang terlalu sering

akan menggangu pola istirahat atau tidur ibu,sehingga ibu dianjurkan untuk mengurangi

pemasukan cairan.Cairan tetap diperhatikan dan disarankan untuk mengkonsumsi air putih 6

-8 gelas minimal/hari.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang pola pemenuhan cairan yang baik pada ibu hamil

3.Menjelaskan kepada ibu tentang perubahan yang dialaminya saat ini merupakan hal yang

fisiologis khususnya BAK yang terlalu sering.BAK terlalu sering adalah akibat dari

penekanan uterus yang dekat dengan kandung kemih.Janin yang semakin membesar

mendorong kandung kemih untuk bergerak menekan kebagian bawah sehingga ada dorongan

untuk berkemih terlalu sering.Hal ini berlangsung sampai masa akhir kehamilan.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang perubahan yang dialaminya saat ini dan ibu tidak khawatir

dengan kondisinya saat ini.

4. Menganjurkan ibu untuk selalu mempertahankan pola personal hygiene khususnya


perawatan pada baian genitalia untuk mencegah terjadinya penularan kuman yang semakin
meluas.Membersihkan vagina dengan menggunakan air bersih saja dan menghindari sabun
pencuci vagina yang bersifat kimiawi karena dapat menyebabkan iritasi,mengganti celana
dalam jika terasa kotor/lembab,memakai celana dalam yang bersifat menyerap keringat dan
membersihakan daerah vulva dari daerah depan kearah belakang.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara menjaga personal hygiene

5. Menganjurkan ibu untuk mendapatkan cukup istirahat terutama saat tidur siang dan tidur
malam.Tidur siang minimal 2jam/hari.Tidur malam 7-8 jam /hari.Kehamilan pada TM III
sangat melelahkan karena tidur akan terganggu saat perut semakin membesar.Menjelaskan
juga kepada ibu tentang hal-hal yang mempengaruhi gangguan istirahat dan tidur

Berikut ini cara untuk mendapatkan lebih banyak tidur :

Berolahraga : oahraga dipagi/sore akan menimbulkan rasa nagantuk pada malam hari
Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara pemnuhan istirahat yang baik.

6. Menganjurkan ibu untuk mengikuti kelas senam hamil dasar.Gerakan-gerakan ini


dilakukan sebanyak 2x8 hitungan :

Gerakan untuk melatih pernafasan yaitu pernafasan perut dan pernafasan dada yaitu
menghirup udara melalui hidung dan keluarkan melalui mulut (2x8 )
Pernafasan kombinasi yaitu menghirup udara melalui hidung lalu mengeluarkan
melalui mulut dengan duduk tegak lurus dan kaki bersilah mendekati arah perineum
Gerakan mengangkat bahu kearah atas dengan menaikkan bahu kearah atas denagn
posisi tegak lurus ( duduk ),kemudian gerakkan bahu kearah belakang 4x gerakan lalu
gerakkan bahu kearah depan.
Gerakan punggung yaitu dengan mencodongkan punggung kearah depan dengan
posisi berada tegak lurus dan ke2 tangan berada dipaha
Gerakan tungkai ( ekstremitas ) yaitu dengan mengangkat kaki secara bergantian
dengan posisi ibu miring lalu lakukan secara bergantian dengan ke2 kaki
Kemudian gerakan punggung dengan cara merangkak,lakukan secara bergantian yaitu
dengan langkah pertama meluruskan punggung kemudian merundukkan bagian
vertebrata lalu melihat kearah perut lalu kembali menegakkan punggung.
Kemudian gerakan terakhir adalah gerakan knee chest yaitu gerakan ini dikhususkan
bagi ibu hamil yang letak janinnya melintang atau sungsang

Ev : ibu sudah mengetahui tentang teknik senam hamil dan berjanji melakukannya di rumah

7.Mengkaji tanda tanda bahaya pada ibu,menanyakan adanya tanda bahaya yang sedang
dialami ibu seperti kepala pusing,penglihatan kabur,perdarahan pervaginam.

Ev : ibu mengatakan tidak ada mengalami tanda bahaya tersebut.

8.Mengkaji kambali konsumsi tablet FE dan multivitamin ibu yag sudah diberikan oleh bidan
dan menganjurkan untuk tetap mengkonsumsi sesuai jadwal dan teratur yang sudah
ditentukan

Ev : ibu mengatakan rajin mengkonsumsi tablet FE dan multivitamin yang sudah diberikan
oleh bidan.
9.Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan kunjungan ulang pemeriksaan terhadap bidan
jika ada keluhan atau mengkaji kemungkinan adanya tanda bahaya yang dialami ubu selama
kehamilan ini

Ev : ibu berjanji akan tetap melakukan kunjungan ulang di klinik bidan

KUNJUNGAN III

Tanggal : 1-12-2015 pukul :15.00 wib Oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan keadaan saat ini sehat dan tidak ada keluhan

2.Ibu mengatakan janin semakin aktif

3.Ibu mengatakan merasakan perubahan fisik yang semakin tampak seperti perut semakin
membesar,sering BAK

4.Ibu mengatakan tidak ada tanda bahaya yang dirasakan ibu

5.Ibu mengatakan sudah mempersiapkan perlengkapan pakaian bayi,dana biaya persalianan

6.Ibu mengatakan akan melahirkan di klinik bidan terdekat

7.Ibu mengatakan tidak sabar akan kelahiran bayi

OBJEKTIF

Keadaan umum : baik

Keadaan emosional : stabil

Kesadaran : compos mentis

TTV

TD : 110/80 mmHg

T : 36 0 C

RR : 22 x/m

HR : 84 x/m

BB : 60 kg kenaikan selama hamil 10 kg


TFU : 31 cm

TBBJ : ( TFU -11 ) x 155 = 3100 gram

DJJ : 150 x/m teratur

Leopold : TFU 31 cm,punggung kanan,persentase kepala dan belum

masuk PAP

Colostrum : (-)

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

ASSESMENT

Diagnosa : Ny Nuriana 25 tahun G1P0A0 hamil 33 minggu 6 hari janin tunggal

hidup intrauteri punggung kanan persentase kepala belum masuk PAP

keadaan ibu dan janin baik

Masalah : tidak ada

Kebutuhan

1.Anjurkan ibu untuk tetap melakukan senam hamil

2.Anjurkan ibu untuk tetap menjaga personal hygiene

PLANNING pukul : 15.20 wib oleh : Heni Banjarnahor

1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dan kondisi janin saat ini dalam batas normal

Hasil TTV

TD : 110/80 mmHg DJJ : 150 x/m

T : 36 0 C TFU : 31 cm

RR : 22x/m TBBJ : 3100 gram

HR : 84 x/m

BB : 60 kg kenaikan 10 kg

Usia kehamilan saat ini memasuki 33 minggu 6 hari


Hasil leopold : pada bagian Fu terdapat bokong janin,punggung kanan persentase

kepala dan belum masuk PAP

Ev : ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan dan kondisi janin saat ini adalah dalam

batas normal.

2.Menginformarsikan kepad ibu tentang proses persalinan yang akan dijalani ibu ketika tiba

waktunya.Persalinan akan dimulai saat ada kontraksi yang kuat dan teratur dan terus

berlanjut muali dari pinggang dan menjalar sampai ke perut.Persalinan juga ditandai dengan

keluarnya lndir bercampur darah ( bloody slim ),disertai dengan pecah ketuban.Saat tanda ini

mulai ibu rasakan ,segeralah datang ke klinik untuk memastikan bahwa bayi akan

lahir.Persalinan ini akan ditolong oleh mahasiswi dan dipantau oleh bidan di klinik.Ibu harus

mempersiapkan mental dan fisik dan ibu juga harus mengikuti petunjuk yang akan diberikan

oleh bidan saat persalinan nanti contohnya cara mengejan yang baik,cara menarik nafas

panjang.Ibu juga boleh didampingi suami/keluarga terdekat saat proses persalinan.

Ev : ibu sudah mengerti tentang penjelasan yang sudah diberikan ,dan ibu tampak termotivasi

3.Mengkaji kembali pemenuhan nutrisi yang baik pada ibu dan cairan pada ibu,menganjurkan

ibu untuk tetap mempertahankan pola pemenuhan nutirisi dan cairan yang baik saat

kehamilan ini.Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung

Vit B yang berasal dari beras merah,sebagai cadangan energi saat proses persalinan

nanti,mengkonsumsi juga makanan yang banyak mengansung serat untuk membantu proses

sistem pencernaan dan menghindari konstipasi pada ibu,menghindari makanan yang

berlemak,berminyak yang dapat menyebabkan kenaikan BB yang drastis.

Mengkonsumsi air putih minimal 3 liter setiap hari.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara pemenuhan pola nutirisi dan cairan yang baik saat ke
hamilan ini.

4. Menganjurkan ibu untuk mengikuti kelas senam hamil dasar.Gerakan-gerakan ini


dilakukan sebanyak 2x8 hitungan :

Gerakan untuk melatih pernafasan yaitu pernafasan perut dan pernafasan dada yaitu
menghirup udara melalui hidung dan keluarkan melalui mulut (2x8 )
Pernafasan kombinasi yaitu menghirup udara melalui hidung lalu mengeluarkan
melalui mulut dengan duduk tegak lurus dan kaki bersilah mendekati arah perineum
Gerakan mengangkat bahu kearah atas dengan menaikkan bahu kearah atas denagn
posisi tegak lurus ( duduk ),kemudian gerakkan bahu kearah belakang 4x gerakan lalu
gerakkan bahu kearah depan.
Gerakan punggung yaitu dengan mencodongkan punggung kearah depan dengan
posisi berada tegak lurus dan ke2 tangan berada dipaha
Gerakan tungkai ( ekstremitas ) yaitu dengan mengangkat kaki secara bergantian
dengan posisi ibu miring lalu lakukan secara bergantian dengan ke2 kaki
Kemudian gerakan punggung dengan cara merangkak,lakukan secara bergantian yaitu
dengan langkah pertama meluruskan punggung kemudian merundukkan bagian
vertebrata lalu melihat kearah perut lalu kembali menegakkan punggung.
Kemudian gerakan terakhir adalah gerakan knee chest yaitu gerakan ini dikhususkan
bagi ibu hamil yang letak janinnya melintang atau sungsang

Ev : ibu sudah mengetahui tentang teknik senam hamil dan berjanji melakukannya di rumah

5.Menganjurkan ibu untuk selalu mempertahankan pola personal hygiene khususnya


perawatan pada baian genitalia untuk mencegah terjadinya penularan kuman yang semakin
meluas.Membersihkan vagina dengan menggunakan air bersih saja dan menghindari sabun
pencuci vagina yang bersifat kimiawi karena dapat menyebabkan iritasi,mengganti celana
dalam jika terasa kotor/lembab,memakai celana dalam yang bersifat menyerap keringat dan
membersihakan daerah vulva dari daerah depan kearah belakang.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara menjaga personal hygiene

6. Menganjurkan ibu untuk mendapatkan cukup istirahat terutama saat tidur siang dan tidur
malam.Tidur siang minimal 2jam/hari.Tidur malam 7-8 jam /hari.Kehamilan pada TM III
sangat melelahkan karena tidur akan terganggu saat perut semakin membesar.Menjelaskan
juga kepada ibu tentang hal-hal yang mempengaruhi gangguan istirahat dan tidur

Berikut ini cara untuk mendapatkan lebih banyak tidur :


Berolahraga : oahraga dipagi/sore akan menimbulkan rasa ngantuk pada malam hari

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara pemenuhan istirahat yang baik.

7.Mengkaji kambali konsumsi tablet FE dan multivitamin ibu yag sudah diberikan oleh bidan
dan menganjurkan untuk tetap mengkonsumsi sesuai jadwal dan teratur yang sudah
ditentukan

Ev : ibu mengatakan rajin mengkonsumsi tablet FE dan multivitamin yang sudah diberikan
oleh bidan.

8.Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan kunjungan ulang pemeriksaan terhadap bidan
jika ada keluhan atau mengkaji kemungkinan adanya tanda bahaya yang dialami ubu selama
kehamilan ini

Ev : ibu berjanji akan tetap melakukan kunjungan ulang di klinik bidan

KUNJUNGAN IV

Tanggal 20-12-2014 Pukul : 15.00 wib Oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan keadaan saat ini sehat dan tidak ada keluhan

2.Ibu mengatakan janin semakin aktif disisi kiri perut ibu

3.Ibu mengatakan merasakan perubahan fisik yang semakin tampak seperti perut semakin
membesar.

4.Ibu mengatakan tidak ada tanda bahaya yang dirasakan ibu

5.Ibu mengatakan sudah mempersiapkan perlengkapan pakaian bayi,dana biaya persalianan

6.Ibu mengatakan tidak sabar akan kelahiran bayi

OBJEKTIF

Keadaan umum : baik

Keadaan emosional : stabil

Kesadaran : compos mentis


TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 36 0 C

RR : 22 x/m

HR : 84 x/m

BB : 59 kg kenaikan selama hamil 9 kg

TFU : 32 cm

TBBJ : ( TFU -11 ) x 155 = 3255 gram

DJJ : 150 x/m teratur

Leopold : TFU 32 cm,punggung kanan,persentase kepala dan sudah

masuk PAP

Colostrum : (+)

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

ASSESMENT

Diagnosa : Ny Nuriana 25 tahun G1P0A0 hamil 36 minggu 4 hari janin tunggal

hidup intrauteri punggung kanan persentase kepala sudah masuk PAP

keadaan ibu dan janin baik

Masalah : tidak ada

Kebutuhan

1.Anjurkan ibu untuk tetap melakukan senam hamil

2.Anjurkan ibu untuk tetap menjaga personal hygiene

3.Beritahu ibu tentang tanggal/waktu tafsiran persalinan semakin dekat

4.Beri motivasi pada ibu

PLANNING pukul : 15.20 wib oleh : Heni Banjarnahor


1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dan kondisi janin saat ini dalam batas normal

Hasil TTV

TD : 100/80 mmHg DJJ : 150 x/m

T : 36 0 C TFU : 32 cm

RR : 22x/m TBBJ : 3255 gram

HR : 84 x/m

BB : 60 kg kenaikan 10 kg

Usia kehamilan saat ini memasuki 36 minggu 4hari

Hasil leopold : pada bagian Fu terdapat bokong janin,punggung kanan persentase

kepala dan sudah masuk PAP

Ev : ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan dan kondisi janin saat ini adalah dalam

batas normal.

2. Menganjurkan ibu untuk mengikuti kelas senam hamil dasar.Gerakan-gerakan ini


dilakukan sebanyak 2x8 hitungan :

Gerakan untuk melatih pernafasan yaitu pernafasan perut dan pernafasan dada yaitu
menghirup udara melalui hidung dan keluarkan melalui mulut (2x8 )
Pernafasan kombinasi yaitu menghirup udara melalui hidung lalu mengeluarkan
melalui mulut dengan duduk tegak lurus dan kaki bersilah mendekati arah perineum
Gerakan mengangkat bahu kearah atas dengan menaikkan bahu kearah atas denagn
posisi tegak lurus ( duduk ),kemudian gerakkan bahu kearah belakang 4x gerakan lalu
gerakkan bahu kearah depan.
Gerakan punggung yaitu dengan mencodongkan punggung kearah depan dengan
posisi berada tegak lurus dan ke2 tangan berada dipaha
Gerakan tungkai ( ekstremitas ) yaitu dengan mengangkat kaki secara bergantian
dengan posisi ibu miring lalu lakukan secara bergantian dengan ke2 kaki
Kemudian gerakan punggung dengan cara merangkak,lakukan secara bergantian yaitu
dengan langkah pertama meluruskan punggung kemudian merundukkan bagian
vertebrata lalu melihat kearah perut lalu kembali menegakkan punggung.
Kemudian gerakan terakhir adalah gerakan knee chest yaitu gerakan ini dikhususkan
bagi ibu hamil yang letak janinnya melintang atau sungsang

Ev : ibu sudah mengetahui tentang teknik senam hamil dan berjanji melakukannya di rumah
3.Mengkaji kembali pemenuhan nutrisi yang baik pada ibu dan cairan pada ibu,menganjurkan

ibu untuk tetap mempertahankan pola pemenuhan nutirisi dan cairan yang baik saat

kehamilan ini.Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung

Vit B yang berasal dari beras merah,sebagai cadangan energi saat proses persalinan

nanti,mengkonsumsi juga makanan yang banyak mengansung serat untuk membantu proses

sistem pencernaan dan menghindari konstipasi pada ibu,menghindari makanan yang

berlemak,berminyak yang dapat menyebabkan kenaikan BB yang drastis.

Mengkonsumsi air putih minimal 3 liter setiap hari.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara pemenuhan pola nutirisi dan cairan yang baik saat ke

hamilan ini.

4. Menganjurkan ibu untuk mendapatkan cukup istirahat terutama saat tidur siang dan tidur
malam.Tidur siang minimal 2jam/hari.Tidur malam 7-8 jam /hari.Kehamilan pada TM III
sangat melelahkan karena tidur akan terganggu saat perut semakin membesar.Menjelaskan
juga kepada ibu tentang hal-hal yang mempengaruhi gangguan istirahat dan tidur

Berikut ini cara untuk mendapatkan lebih banyak tidur :

Berolahraga : oahraga dipagi/sore akan menimbulkan rasa ngantuk pada malam hari

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara pemenuhan istirahat yang baik.

5.Menganjurkan ibu untuk selalu mempertahankan pola personal hygiene khususnya


perawatan pada baian genitalia untuk mencegah terjadinya penularan kuman yang semakin
meluas.Membersihkan vagina dengan menggunakan air bersih saja dan menghindari sabun
pencuci vagina yang bersifat kimiawi karena dapat menyebabkan iritasi,mengganti celana
dalam jika terasa kotor/lembab,memakai celana dalam yang bersifat menyerap keringat dan
membersihakan daerah vulva dari daerah depan kearah belakang.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara menjaga personal hygiene

6.Mengkaji kambali konsumsi tablet FE dan multivitamin ibu yag sudah diberikan oleh bidan
dan menganjurkan untuk tetap mengkonsumsi sesuai jadwal dan teratur yang sudah
ditentukan

Ev : ibu mengatakan rajin mengkonsumsi tablet FE dan multivitamin yang sudah diberikan
oleh bidan.
7.Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan kunjungan ulang pemeriksaan terhadap bidan
jika ada keluhan atau mengkaji kemungkinan adanya tanda persalinan yang dialami ibu
selama kehamilan ini

Ev : ibu berjanji akan tetap melakukan kunjungan ulang di klinik bidan

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN PADA Ny NURIANA


G1P0A0

USIA KEHAMILAN 39 MINGGU 4 HARI DI KLINIK SANTI

Tanggal masuk : 10 -01-2015 Tgl Pengkajian: 10-01 -2015

Jam masuk : 15.00 wib Jam Pengkajia : 15.10 wib

Tempat :Klinik Santi Pengkajian : Heni Banjarnahor

1.PENGUMPULAN DATA

A.BIODATA

Nama : Ny Nuriana Nama : Tn Tomi

Umur : 26 tahun Umur : 30 Tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Suku /bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Pendidikan : SMA Pendidikan :SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : JL.Starban Gg Pamili Alamat : Jl.Starban Gg Pamili

Starban Polonia Starban Polonia.

B.ANAMNESE (DATA SUBJEKTIF )

a.Alasan utama masuk kamar bersalin :


Ibu mengatakan ada keluar lendir bercampur darah sejak pagi ,nyeri pinggang menjalar
sampai keperut,kontraksi pada abdomen yang semakin kuat dan teratur tidak disertai dengan
pecah ketuban sejak pukul 09.00 wib.

b.Riwayat menstruasi :

Menarche : 14 Tahun

Siklus :28 hari , teratur

Lama : 3 hari

Banyak : 3 x ganti pembalut/hari

Dismenorea : tidak ada

c.Tanda- tanda persalinan

Kontraksi sejak tanggal : 10 januari 2015 pukul : 07.00 Wib

Frekuensi :3-4x/10 menit

Lamanya :10 menit kekuatannya : 30-40 detik

Lokasi ketidaknyamanan :pinggang ke perut

d.Pengeluaran pervaginam

Darah : ada jumlah : 30 cc Warna : putih kemerahan

Air ketuban : tidak ada jumlah: - Warna: -

Darah :tidak ada jumlah: - Warna: -

e.Riwayat kehamilan/persalinan yang lalu

Ana T.Lah U Jen Tempat Penolo Komplik Bayi Nifas


k ir K Persalin Persalin ng asi
ke Umur an an Ba Ib PB/BB/ KEAD La
yi u JK AAN kta
si

f. Riwayat kehamilan sekarang

G1P0A0
HPHT : 4-4 2014

HPL :11-01-2015

UK : 39 minggu 3 Hari

ANC : Teratur ,frekuensi :7x di : klinik

Pergerkan janin dalam 24 jam terakhir : aktif ( > 10 x /hari )

Riwayat imunisasi : TT1: TT2:

Keluhan : Tidak ada

Obat-obat yang biasa dikonsumsi : Tablet FE dan Vitamin

Tanda-tanda bahaya : tidak ada

g.Riwayat penyakit yang pernah diderita sekarang/yang lalu

Jantung : tidak ada

Hipertensi : tidak ada

Diabetes Mekitus : tidak ada

Asma : tidak ada

Hepatitis : tidak ada

Riwayat operasi abdomen/SC : tidak ada

h.Riwayat penyakit keluarga

Hipertensi : tidak ada

Diabetes Melitus : tidak ada

Asma : tidak ada

Lain-lain : tidak ada

I .Riwayat KB

J.Riwayat Sosial Ekonomi & psikologi

Status perkawinan : sah kawin : 1 kali


Lama nikah 1tahun, menikah prtama pada umur 24 tahun
Kehamilan ini direncanakan
Perasaan ibu dan keluarga terhadap kehamilan dan persalinan : senang
dan menerima
Pengambilan keputusan dam keluarga adalah : suami
Tempat rujukan jika ada komplikasi : Rumah Sakit
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan,persalinan dan nifas :
tidak ada

k.Activity Daily Living

a.Pola makan da minum

Frekuensi : 3 x sehari, makan terakhir jam : 13.30 wib

Jenis : nasi,ikan ,sayur

Porsi : piring

Minum : 8-9 gelas/hari, jenis : air putih,teh manis,susu

Keluhan/pantangan : tidak ada

b. Pola istirahat

Tidur siang : 2 jam /hari

Tidur malam : 7 jam /hari

Tidur terakhir jam : 06.00 wib

Keluhan : tidak ada

c. Pola Eliminasi

BAK : 8 kali/hari, konsistensi : cair warna : kuning jernih

BAB :1-2 Kali/hari, konsitensi : lembek warna :-

BAB terakhir jam 14.00 wib

d. Persona hygiene

Mandi : 2 kali/hari

Ganti pakaian/pakaian dalam : 2 kali/hari

e.Pola aktivitas

Pekerjaan sehari-hari : memasak,mencuci,menyapu,menyetrika

Keluhan : tidak ada

Hubungan seksual :- x/minggu Hubungan seksual terakhir :-


f.Kebiasaan hidup

Merokok : tidak ada

Minum-minuman keras : tidak ada

Obat terlarang : tidak ada

Minum jamu : tidak ada

C.DATA OBJEKTIF

1.Pemeriksaan umum

Keadaan umum : baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda tanda vital :

Tekanan darah : 100/80 mmHg

Nadi : 82x/menit

Suhu : 36 0 C

Respirasi : 22 x/menit

Pengukuran tinggi badan dan berta badan

Berat badan : 59 kg, kenaikan BB selama hamil 9 kg

Tinggi badan : 155 cm

LILA : 27 cm

2.Pemeriksaan fisik

Inspeksi

a.Postur tubuh : Lordosis

b.Kepala :

Muka : cloasma : ada oedema: tidak ada

Mata : conjungtiva : merah muda skelera : tidak ikterik

Hidung : polip : tidak meradang


Gigi dan mulut/bibir : bersih,tidak ada karies,gigi tidak berlubang,gusi tidak
berdarah,bibir tidak pecah-pecah dan tidak pucat

c.Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid dan vena jugularis

d.payudara :

Bentuk simetris : kiri dan kanan

Keadaan puting susu : menonjol

Aerola mamae : hiperpigmentasi

Colostrum

Palpasi :

Colostrum : ada

Benjolan : tidak ada

e.Ekstremitas

Tangan dan kaki

Simetris : kiri dan kanan

Oedema pada tungkai bawah : tidak ada

Varises : tidak ada

Pergerakan : aktif

f.Abdomen

inspeksi

pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilan

Linea nigra : ada

Bekas luka operasi : tidak ada

Palpasi

TFU : 34 cm

Leopold I : Pada bagian fundus uterus ibu teraba bagian tubuh janin yang
lembek,melebar dan tidak melenting ( bokong janin ).

Leopold II : Pada bagian kanan ibu teraba bagian tubuh janin yang keras,
memapan ,memanjang ( punggung janin ).
Leopold III : Pada bagian simfisis teraba bagian yang bulat,keras dan tidak
melenting ( kepala janin ).

Leopold IV : Pada bagian simfisis kepala tidak dapat digoyangkan ( sudah


masuk PAP )

Kontraksi : 3-4x /menit, lama detik, : kuat teratur

Auskultasi

DJJ :

Frekuensi : 150 x/menit,teratur

Punctum maksimum :

3.Pemeriksaan Panggul

Lingkar panggul : 90 cm

Distosia cristarum : 28 cm

Distosia spinarum : 24 cm

Conjugata bourdeloque : 20 cm

4.Pemeriksaan Genitalia :

Varises : tidak ada

Oedema : tidak ada

Pembesaran kelenjar bartolini: tidak ada

Pengeluaran pervaginam : ada,lendir darah

Bekas luka/jahitan perineum : tidak ada

Anus : tidak ada hemoroid

Pemeriksaan Dalam

Atas indikasi : menilai pembukaan pukul : 15.30 wib oleh : bidan

Dinding vagina : lembab

Portio : membuka

Pembukaan serviks : 7 cm

Konsistensi : menipis

Ketuban : utuh
Presentasi fetus : LBK

Posisi : uuk

Penurunan bagian terendah : kepala

D.PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal : Jenis pemeriksaan

Hasil :

II.INTERPRETASI DATA DASAR

Diagnosa : Ibu Nuriana 26 tahun G1P0A0 aterm usia 39 minggu 3 hari inpartu kala 1
fase aktif janin tunggal hidup intrauteri punggung kanan persentase kepala
sudah masuk PAP ,keadaan ibu dan janin baik.

Dasar

Ds : Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama

Ibu mengatakan HPHT 4-4-2014/HPL 11-1 -2015.

Ibu mengatakan merasakan pergerakan janin semakin aktif.

Ibu mengatakan ada mengeluarkan lendir bercampur darah.

Ibu mengatakan nyeri kontraksi pada pinggang sampai keperut semakin kuat
dan teratur.

Do

Keadaan umum : baik

Keadaan emosional : stabil

Kesadaran : compos mentis

Tanda tanda vital


Tekanan darah : 100/80 mmHg

Suhu : 36 0 C

RR : 22X/menit

HR : 82X/menit

TFU : 34 cm

TBBJ : ( TFU-11 )X 155 MC JHONSON

( 34-11)X155= 3565 gram

Leopold 1 : pada bagian fundus uterus ibu teraba bagian tubuh janin yang
lembek,melebar dan tidak melenting ( bokong janin )

Leopold II : pada bagian kanan ibu teraba bagian yang keras ,memapan dan
memanjang ( punggung janin )

Leopold III : pada bagian simfisi s teraba bagian yang bulat,keras dan tidak
melenting

( kepala janin )

Leopold IV : pada bagian simfisis kepala tidak dapat digoyangkan

( sudah masuk PAP ).

His : 3-4x / 10 menit lamanya : 10 menit, kekuatan : 30-40 detik

DJJ : 150X/menit, teratur

VT

Dinding vagina : lembab

Portio : membuka

Pembukaan serviks : 7 cm

Konsistensi : menipis

Ketuban : utuh

Presentasi fetus : lbk

Posisi : UUK

Penurunan bagian terendah : kepala

Inspeksi
Pengeluaran pervaginam : pada bagian genitalia tampak mengeluarkan cairan darah
bercampur lendir dan membasahi celana dalam.

Masalah : ibu mengatakan nyeri dari daerah punggung sampai ke arah perut
dan semakin kuat.

Kebutuhan : Menginformasikan tentang kondisi yang dialami saat ini

Memberi posisi yang nyaman pad ibu

Mengajari ibu dan suami unutk mengurangi rasa nyeri

Mempertahankan pola nutrisi dan cairan adekuat

III.IDENTIFIKASI DIAGNOSA dan MASALAH POTENSIAL

Tidak ada

IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA dan MASALAH POTENSIAL

Tidak ada

V. INTERVENSI

Tanggal : 10 januari 2015 pukul : 15.50 wib

NO Intervensi Rasionalisasi
1 Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan Memberitahu mengenai hasil tindakan dan
dan kondisi janin saat ini dalam pemeriksaan merupakan langkah awal bagi
keadaan normal dan sehat bidan dalam membina hubungan
komunikasi efektif sehinga dalam proses
KIE akan tercapai
pemahaman materi KIE yang optimal

2 Beri informasi tentang kondisi yang Memberi informasi yang tepat pada ibu
dialami saat ini khususnya nyeri pada akan membantu ibu untuk mengurangi rasa
bagian punggung sampai keperut cemas dan khawatir.Ibu/keluarga perlu
mengetahui tentang proses persalinan yang
akan dihadapi ibu

3 Atur posisi pasien unutk mengurangi Posis yang rileks pada ibu akan membantu
rasa nyeri seperti posisi rileks mengurangi rasa nyeri ,biasanya ibu lebih
disarankan unutk miring ke arah
kiri,jongkok,duduk atau bahkan berdiri
unutk membebaskan aliran darah dan
oksigen pada janin melalui pembuluh vena

4 Hadirkan suami atau orang terdekat Menghadirkan suami/orang terdekat dalam


dalam pendampingan persalinan pemdampingan persalianan memberi rasa
nyaman da perasaan terlindungi/termotivasi
oleh dukungan suami maupun orang
terdekat

5 Ajari pasien untuk rileks dengan Latihan rileksasi dengan pernafasan melalui
menarik nafas melalui hidung dan hidung membantu untuk membebaskan
mengeluarkan melalui mulut aluran oksigen kearah janin dan
melancarkan sirkulasi darah

6 Beri pasien cairan dan nutris yang Asupan cairan akan menambah energi ibu
adekuat dan terhindar dari dehidrasi yang keluar
melalui keringat atau urine.Asupan
makanan akan membantu peyimpanan
energi cadangan saat proses persalinan
nanti

7 Beri pasien masase dan sentuhan Masase pada daerah punggung dan
pinggang hingga abdomen dengan masase
perlahan akan mengurangi rasa nyeri

8 Anjurkan pasien untuk mengosongkan Kandung kemih yang penuh akan


kandung kemih atau anjurkan unutk mempengaruhi kontraksi dan turunnnya
berkemih ke kamar mandi atau kepala janin sehingga mempengaruhi
siapkan pispot didekat ibu proses persalinan

9 Jaga kebersihan pasien ( personal Personal hygiene untuk mencegah


hygiene ) terjadinya infeksi dan penularan kuman
patogen melalui tindakan medis contohnya
VT,hindari pemakaian alat medis nonsteril.

10 Siapkan alat partus ,set hecting Set partus disusun secara ergonomis
,pakaian pasien dan pakaian bayi mempermudah untuk melakukan tindakan
dan mempercepat proses pertolongan
persalinan. Pakaian pasien dan pakaian bayi
disiapkan 1 set untuk memberi rasa
nyaman dan diganti jika terasa kotor atau
basah

11 Ajari ibu cara mengejan yang baik Mengejan yang baik dengan cara menarik
nafas melalui hidung dan mengeluarkan
melalui mulut,menarik nafas panjang saat
kontraksi mulai dan mengejan saat puncak
kontraksi
12 Observasi keadaan pasien,janin dan Partograf dibuat untuk mengkaji dan
kemajuan persalinan dengan mendeteksi kemungkinanan adanya
menggunakan partograf dan buat komplikasi atua tanda bahaya selama proses
dalam dokumentasi persalinan sehingga dengan cepat bidan
harus segera bertindak.

13 Lakukan pemeriksaan vaginal Menilai pembukaan /4jam untuk memeriksa


toucher/4 jam kemajuan persalinan dan penurunan kepala
janin

V. IMPLEMENTASI

Tanggal : 10-1-2015

Waktu Implementasi Paraf


16.00 1.Menjelaskan kepada pasien mengenai hasil pemeriksaan bahwa pasien Heni
wib dan janinnya dalam keadaan baik dan sehat dan memberi dukungan
bahwa pasein bisa melahirkan dengan normal
Hasil pemeriksaan :
TTV
TD : 100/80 mmHg DJJ : 150 x/m
T : 37 0 C VT : 7 cm
RR : 22 x/m TBBJ : 3565 gram
HR : 82 x/m

Hasil leopold : pada bagian FU terdapat bokong janin,punggung


kanan,persentase kepala dan sudah masuk PAP

EV : ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan dan keadaannya


bahkan kondisi janin saat ini dalam batas normal

16.05 2. Menginformasikan dan menjelaskan kepada ibu tentang informasi dan


wib hasil pemeriksaan normal dan proses persalinan yang aman .Menjelaskan
kepada ibu bahwa ersalinannya akan berlangsung aman jika ibu mengikuti
instruksi bidan ,menjelaskan kepada ibu bahwa nyeri yang dialami saat ini
juga dialami semua ibu hamil yang ingin partus,nyeri ini terjadi sebagai
akibat dorongan yang kuat bayi terhadap rongga panggul saat kepala janin
memasuki jalan lahir dan tekanan yang semakin kuat dari fundus.

EV: Ibu mengatakan telah mengetahui tentang nyeri yang sedang


dialaminya saat ini dan berusaha untuk beradaptasi dengan nyeri yang
dirasakan

16.08 3.Mengatur posisi ibu senyaman mungkin unutk mengurangi rasa sakit (
wib nyeri ) pada ibu,ibu boleh duduk,jongkok,miring kiri ,merangkak,atau
berdiri unutk mambantu proses turunnya kepala janin ,dengan turunnya
kepala jajin akan mempercepat dan memperpendek waktu persalinan.
Memberitahu ibu untuk tidak telentang lebih dari 10 menit karena jika
ibu berbaring telentang ,maka isi uterus akan menekan vena cava
inferior.Hal ini akan mengakibatkan turunnya aliran darah dari sirkulasi
darah ibu kejanin.

16.15 4. Melibatkan suami dan orang terdekat dalam pendampingan persalinan.


wib Suami/keluarga yang mendampingi ibu memungkinkan ibu untuk lebih
memiliki rasa percaya diri lebih besar untuk bertanya langsung atau
melalui pendamping.Dukungan yang baik membawa dampak positif bagi
,pendamping juga diajarkan untuk mengosok punggung atau memegang
tangan pendamping juga dapat melakukan perannya sebagi misalnya :
Mengusap keringat
Membantu ibu unutk jongkok,duduk,merangkak,miring
Membrikan minum
Mengubah posisi
Memijat punggung ,kaki,atau kepala

Ev : ibu didampingi oleh suami dan mertua saat proses persalinan dan
membantu pemberian minum.
16.18 5.Mengajari ibu cara bernafas dengan baik yaitu menarik nafas melalui
wib hidung dan mengeluarkan mulut.Bernafas dalam dengan rileks sewaktu
ada his,dengan cara meminta ibu unutk menarik nafas panjangtahan nafas
sebentar,kemudian dilepaskan dengan cara meniup sewaktu ada his.

Ev : ibu sudah mengerti cara menarik nafas panjang/dalam dengan baik.


16.23 6.Memberi pasien makanan dan minuman,makanan ringan dan asupan
wib cairan yang cukup selama persalinan akan memberi lebih banyak energi
dan mencegah dehidrasi.Dehidrasi dapat memperlambat
kontraksi/membuat kontraksi menjadi tidak teratur dan kurang efektif.

Ev : Suami telah memberikan ibu 1 gelas teh manis dan roti 1bungkus,ibu
dapat minum dengan baik saat his hilang.
16.28 7.Memasase punggung /memijat daerah pinggang dan perut.Masase ini
wib dilakukan oleh suami atau orang terdekat unutk mengurangi rasa
nyeri.Usapan itu berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri punggung bawah
akibat penurunan kepala.Dilakukan dengan cara ,tangan pendamping
berda dititik maksimal dan melakukan penekanan selama
kontraksi.Lokasi penekanan ini berubah-ubah seiring dengan proses
penurunan kepala.Upayakan pasein untuk dapat menunjukana lokasi nyeri
dengan tepat sehingga proses masase dapat efektif.

Ev : suami mengerti cara memasase punggung dan pinggang dengan


benar.
16.35 8.Menganjurkan ibu unutk berkemih atau BAB ,kija pasien tidak mampu
wib turun dari tempat tidur menyediakan pispot di dekat tempat tidur .Urine
yang terlalu banyak harus dikeluarkan karena akan mempengaruhi
penurunan kepala janin,menganjurkan ibu untuk Bak di tempat tidur saja
jika tidak mampu ke kamar mandi.

Ev : ibu mengatakan tidak ada perasaan ingin berkemih dan kandung


kemih terasa kosong.

16.38 9.Menjaga personal hygyene pasein untuk memberi rasa nyaman bagi
wib pasien.Beberapa upaya yang dapat dilakukan unutk menjaga kebersihan
tubuh pasien antara lain :

saat tidak ada his,membantu ibu menggantikan baju terutama jika


sudah basah dengan keringat
menyeka keringat ibu yang membasahi dahi dan wajah dengan
menggunakan handuk bersih
mengganti kain alas bokong jika sudah basah oleh darah atau
cairan ketuban.
Ev : baju ibu tampak bersih,keringat dilap oleh suami dengan kain bersih,
alas bokong tampak belum penuh oleh cairan

16.45 10.Menyiapkan alat partus steril dan ergonomis unutk mempermudah


wib tindakan persalinan

SAFT 1 :

1.Partus set didalam wadah steril tertutup


Gunting tali pusat 1 buah
Artery clem 2 buah
Benang tali pusat/umbilical cord 2 buah
Handscoen DTT /Steril 2 pasang
kocher 1 buah
Gunting episiotomi 1 buah
Kassa steril atau kain kecil
2.Stetoskop monoral
3.Tensimeter
4.Stetoskop bimonoral
5.Obat oksitosin : lidocain
6.Spuit 3cc 1 buah,5 cc 1 buah
7.Nierbeken
8.Kom bertutup berisi air DTT
9.Kom bertutup berisi kaps steril dan kering
10.Korentang
11.Tempat benda tajam ( ampul ) dan tempat spuit bekas

SAFT 2:

1.Bak intrumen steril ( hecting set )


Nald hecting 1 buah
Nald folder 1 buah
Pinset anatomis 1 buah
Pinset sirurgis 1 buah
Gunitng benang 1 buah
Handscoen steril /DTT 1 pasang
Kain kassa secukupnya
Benang hecting catgut

2.Bak intrument steril ( emergency set )


Kateter de lee/slim seher 1 buah
Kateter metal 1 buah
Gunting episiotomy 1 buah
Hanscoen panjang 1 buah

3.Alat Nonsteril
Piring plasenta
Betadine
Cairan infus dan set infus

SAFT 3

Waskom berisi air DTT 1 buah


Waskom berisi air klorin 1 buah
Brush
Sarung tangan rumah tangga untuk pencegahan infeksi
Alat resusitasi :
o Selang
o Tabung O2
o 2 buah kain sarung untuk alas dan penyangga bahu
o 1 buah handuk bayi
o Lampu sorot bayi
Perlengkapan ibu dan bayi :
Washlap 2 buah
Celemek ,tutup kepala,masker dan kaca mata
2 buah kain lap pribadi
Pakaian bayi,topi dam kain bedong
Doek ibu
Kain sarung ibu 2 buah
Underpad
Handuk ibu dan bayi
Sepatu karet

Ev : alat set partus steril sudah dipersiapkan dan disusun dengan


ergonomis dan lengkap.
17.00 11.Mengajari ibu cara mengejan yang baik menganjurkan ibu untuk
wib meneran bila ada dorongan yang kuat dan spontan untuk
meneran.Menganjurkan ibu untuk beristirahat dalam waktu his hilang.
Hal ini mencegah untuk ibu lelah terlalu cepat dan resiko asfiksia (
kekurangan O2 pada janin ) karena suplai oksigen melalui plasenta
berkurang.Ibu boleh memilih posisi meneran yang nyaman sepserti :
Duduk atau setengah duduk
Dengan posisi ini penolong persalinan akan lebih leluasa dalam
membantu kelahiran janin
Merangkak
Posisi ini cocok untuk persalinan dengan nyeri pada
punggung,mempermudah janin dalam melakukan rotasi
Jongkok atau berdiri
Mempermudah peunurunan kepala janin,memperluas panggul
sebesar 28% dari besar pintu bawah panggul,memperkuat
dorongan untuk meneran.

Miring ke kiri
Posisi ini dapa mengurangi penekanan pada vena cav inferior
sehinggadapat mengurangi kemungkinaan terjadinya hipoksia

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara meneran yang baik dan tehu
tentang posisi meneran yang benar

17.05 12.Mengobservasi kembali keadaan pasien ,janin dan kemajuan


wib persalinan dan mengisi partograf, memasukan semua hasil pemeriksaan
kedalam partograf
Hasil pemreriksaan :
KU ibu : baik
TTV : dalam batas normal
VT : 7 cm
DJJ : 150 x/m
Hodge : 4/5

Ev : hasil pemeriksaan telah dimasukkan dalam partograf oleh mahasiswi.

SUBJEKTIF

1 .Ibu mengatakan ada persaan ingin meneran seiring dengan bertambahnya kontraksi

2. Ibu mengatakan adanya peningkatan tekanan pada rektum dan vagina

3. Ibu mengatakan ada dorongan untuk BAB

4. Ibu mengatakan nyeri punggung semakin kuat

OBJEKTIF
Keadaan umum : baik

Kesadaran : compos mentis

Keadaan emosional : stabil

TTV : TD : 100/80 mmHg

T : 36 0 C

RR : 22 x/m

HR : 82 x/m

Hasil pemeriksaan dalam ( VT )

Dinding portio : lembab

Portio : membuka

Effacement : 100%

Pembukaan : 10 cm

Ketuban : pecah spontan

Persentase : LBK

Posisi : UUK

Penurunan : 0/5

DJJ : 150 x/m

His : 4-5 x/m lamanya : 40-50 detik

Kandung kemih : kosong

Inspeksi pada vagina keluar lendir bercampu darah dan membasahi sarung dan vulva
tampak membuka da perineum semakin menonjol.

ASSASEMENT

Diagnosa : Ibu Nuriana dalam persalinan kala II keadaan ibu dan janin baik
Masalah : Ibu mengatakan nyeri semakin kuat

Kebutuhan :

1.beri motivasi/dukungan pada ibu

2.atur posisi meneran ibu

3.bantu persalinan dengan APN yang aman dan bersih

PLANNING :

1.Memberi informasi dan motivasi kepada ibu bahwa pembukaan sudah lengakap dan
anjurakn ibu untuk meneran jika ada perasaan ingi BAB saat puncak his.

Ev : ibu tampak termotivasi dan bersemangat unutk menghadapi persalinan

2.Memimpin ibu meneran saat puncak his dan menyuruh ibu unutk menarik nafas sat his
hilang dan mengajarkan ibu cara posisi yang nyaman dan menyuruh ibu unutk merangkul
kedua paha sampai menyentuh dada dan saat persaan mengejan ibu melihat kearaha perut

Ev : ibu telah mengetahui posisi yang nyaman dan cara mengejan yang baik,ibu sedang
tampak miring kiri dan mencoba unutk menarik nafas panjang.

3.Mempertahankan pemenuhan pola nutrisi dan cairan yang adekuat pada ibu dengan
memberikan teh manis 1 gelas,menawarkan ibu unutk minum saat tidak ada his untuk
mencegah dehidrasi pada ibu dan mencegah untuk terjadinya kekurangan energi saat proses
persalinan nantinya.

Ev : suami telah memberikan ibu minun teh manis 1 gelas saat tidak ada his,ibu dapat minum
dengan baik 1 gelas teh manis saat his hilang.

4.Mempertahankan kandung kemih ibu tetap kosong dengan menyuruh ibu untuk
berkemih,menekan bagian kandung kemih diarah simfisis unutk menilai isi kandung kemih
untuk mempertahankan kontraksi tetap kuat dan mempercepata turunnya kepala jain terhadap
rongga panggul dan mempercepat proses persalinan.

Ev : ibu mengatakan tidak ada perasaan ingin berkemih dan simfisis teraba kosong.

5.Mendekatkan alat-alat partus disamping ibu dan memimpin ibu meneran saat puncak
kontraksi dan membantu pertolongan persalinan dengan aman dan bersih :

Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua :


Ibu mempunyai dorongan unutk meneran
Ibu merasakan tekanan yang semakin meingkat pada rektum/vagina
Perineum menonjol
Vulva vagina dan sfingterani membuka
Menyiapkan tempat tidur datar dan keras ,2 kain 1 handuk bersih dan kering dan
lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi,untuk penanganan bayi
asfiksia.
Menggelar kain ditempat resusitasi serta ganjal bahu bayi
Mematahkan ampul oksitosin 10 unit,dan meneptakan tabung suntik steril sekali pakai
didalam set partus.
Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku.Mencuci kedua tangan
dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk
satu kali pakai/pribadi yang bersih.
Memakai sarung tangan DTT.Memakai sarung tangan DTT atau steril untuk semua
pemeriksaan dalam
Menghisap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik ( dengan memakai sarung tangan
DTT ) dan meletakkannya kembali dipartus set/wadah DTT atau steril tanpa
mengkontaminasi tabung suntik.
Membersihkan vulva dan perineum,menyekanya dengan hati-hati dari depan ke
belakang dengan menggunakan kapas atau kassa yang dibasahi air DTT
Jika introitus vagina,perineum atau anus terkontaminasi tinja,bersihkan
dengan seksama dari arah depan kebelakang.
Buang kapas atau kassa pembersih ( terkontaminasi ) dalam wadah yang
tersedia
Ganti sarung tangan jika terkontaminasi ( dekontaminasi,lepaskan dan rendam
dalam larutan klorin 0,5 %.
Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap dengan cara :
Dengan hati-hati pisahan labia dengan jari manis dan ibu jari tangan kiri
pemeriksa.Masukkan jari telunjuk tangan kanan pemeriksa dengan hati-hati diikuti
oleh jari tengah.Setelah kedua jari tangan berada didalam vagina,tangan kiri
diletakkan difundus ibu.Pada saat kedua jari berada didalam vagina,jangan
mengeluarkannyaa sebelum pemeriksaan selesai.Jika pembukaan sudah lengkap tetapi
ketuban pecah,lakukan amniotomi.
Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih
memakai sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% dan kemudian
melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya dilarutan klorin 0,5 %
selam 10 menit.
Mencuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan
Memeriksa denyut jantung janin ( DJJ ) setelah kontraksi uterus berakhir unutk
memastikan DJJ dalam batas normal (120-160 x/m ).
Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam,DJJ dan semua haisl-hasil
penilaian serta asuhan lainnya dalam partograf.
Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik
Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya
Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan unutk meneran
Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan
memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran
Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk meneran :
Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan unutk
meneran
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran
Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya
(tidak meminta ibu untuk telentang )
Menganjurkan ibu untuk istirahatdisaat tidak ada his
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat
pada ibu
Menilai DJJ setiap kontraksi selesai

Letakkan handuk bersih diatas perut ibu,jika kepala bayi telah membuka
divulva 5-6 cm
Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian,dibawah bokong ibu
Membuka set partus dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
Setelah kepala tampak divulva 5-6 cm lindungi perineum dengan satu tangan
yang dilapisi dengan kain bersih dan kering.Tangan yang lain menahan kepala
bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala.Anjurkan
ibu unutk meneran perlahan atau bernafas cepat dan dangkal.
Memeriksa kemungkinan lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang
sesuai jika hal itu terjadi,dan segera lanjutkan proses kelahiran bayi
Jika tali pusat melilit leher secara longgar,lepaskan lewat
bagian atas kepala bayi
Jika tali pusat melilit leher secara kuat,klem tali pusat didus
tempat dan potong diantara kedua kelm tersebut
Menunggu hingga kepala bayi melakukan putar paksi luar secara spontan
Setelah kepala melakukan putar paksi luar,tempatkan kedua tangan di masing-
masing sisi muka bayi ( biparietal ).Menganjurkan ibu untuk meneran saat
kontraksi berikutnya.Dengan lembut menariknya kearah bawah dan kearah
luar hingga bahu anterior muncul dibawah arkus pubis dan kemudian dengan
lembut menarik keatas dan kearah luar unutk melahirkan bahu posterior.
Setelah kedua bahu bayi dilahirkan,menelusurkan tangan mulai kepala bayi
yang berada dibagian bawah kearah perineum tangan,membiarkan bahu dan
lengan posterior lahir ketangan tersebut.Mengendalikan kelahiran siku dan
tangan bayi saat melewati perineum,gunakan lengan bagian bawah untuk
menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.Menggunakan tangan anterior ( bagian
atas ) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir
Setelah tubuh dan lengan lahir,menelusurkan tangan yang ada diatas (anterior)
dari punggung kearah kaki bayi unutk menyangganya saat punggung dan kaki
bayi lahir.Memegag kedua mata kaki bayi dab dengan hati-hati membantu
kelahiran kaki.
Melakukan penilaian bayi :
Menilai apakah bayi segera menangsis kaut/bernafas spontan
Apakah bayi bergerak aktif
Mengeringkan bayi dan posisikan bayi diatas perut ibu,keringkan mulai dari
muka,kepala,dan bagian tubuh lainnya .Ganti handuk bayi yang basah dengan
handuk yang kering
Memeriksa kembali peurt ibu unutk memastikan tidak ada janin kedua
Memberitahu ibu bawaha akan disuntikan oksitosin agar uterus ibu
berkontraksi dengan baik 1/3 paha atas bagian distal lateral
Dengan menggunakan klem,jepit tali pusat pada sekitar 3 cm dari pusat
bayi.Dari sisi luar klem penjepit,dorong isi tali pusat kearah distal ibu dan
lakukan penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem pertama.
Dengan satu tangan ,angkat tali pusat yang telah dijepit kemudian lakukan
pengguntingan tali pusat ( lindungi perut bayi ) diantara 2 klem
Mengikat tali pusat dengan benang DTT/steril pada satu sisi kemudian lingkari
kembali benang kesisi berlawanan dan lakukan ikatan kedua menggunakan
dengan simpul kunci
Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan
Menempatkan bayi unutk melakukan kontak kulit ibu kekulit bayi
Meletakkan bayi dengan posisi tengkurap didada ibu.Luruskan bahu bayi
sehingga bahu bayi menempel dengan baik didinding perut ibu.Usahakan
kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari
puting payudara ibu.
Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi dikepala bayi.

SUBJEKTIF :

1.Ibu mengatakan senang dengan kelahiran bayi

2.Ibu mengatakan perut masih mules

3.Ibu mengatakan sedikit lelah

4.Ibu mengatakan nyeri masih ada pada daerah jalan lahir

5. Ibu mengatakan sedikit haus

OBJEKTIF :
Keadaan umum : baik

Kesadaran : compos mentis

Keadaan emosional : stabil

Kandung kemih : kosong

Kontraksi : baik

TFU : setinggi pusat

Plasenta : belum lahir

Perdarahan : membasahi alas bokong ibu

Inspeksi : pada bagian vulva tampak tali pusat semakin


memanjang,semburan darah banyak membasahi
sarung,perut semakin globular.

Tidak ada janin kedua

ASSESMENT

Diagnosa : ibu P1A0 dalam persalinan kala III

Masalah : tidak ada

Kebutuhan : melakukan manajemen aktif kala III

Masase Fundus uterus ibu


Suntik oksitosin
Lakukan PTT

PLANNING

1.Memasase fundus uterus ibu unutk menghasilkan kontraksi yang baik dan untuk
mempercepat kelahiran plasenta

Ev : uterus berkontraksi dengan baik, kuat dan teratur

2.Memindahkan klem tali psat 5-10 cm didepan vulva dan meletakkan tangan kiri difundus
untuk melakukan teknik dorsocranial,dan tangan kanan memegang ujung tali pusat untuk
melakukan PTT

Ev : saat ada kontraksi tangan kanan menegangkan tali pusat,tampak tali pusat semakin
memanjang di depan vulva
3.Melakukan teknik dorsocranial saat ada kontraksi dengan tangan kiri sehingga mengikuti
jalannya kontraksi dan tetap melakukan penegangan tali pusat sambil memindahkan klem
didepan vulva

Ev : tangan kiri melakukan teknik dorsocranial dan uterus berkontraksi dengan baik,tampak
plasenta berada didpan vulva

4.Ketiak plasenta telah berada didepan vulva,melahirkan plasenta dengan cara memilin
searah jarum jam dan meletakkan dipiring plasenta dan memeriksa kelengkapan plasenta
untuk menghindari adanya sisa plasenta yang akan mempengaruhi kontraksi uterus yng dapat
menyebabkan atonia uterus.

Ev : plasenta lahir lengkap pukul 18.30 wib,selubung utuh,kotiledon lengkap

5.Masase kembali uterus ibu untuk menghasilkan kontraksi yang baik dan mencegah
perdarahan abnormal.

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan perut masih terasa mules

2.Ibu mengatakan masih ada nyeri didaerah jalan lahir

3.Ibu mengatakan masih sedikit lelah

4.Ibu mengatakan ingin BAK

5.Ibu mengatakan sedikit haus

OBJEKTIF

Keadaan umum : baik

Keadaan emosional : stabil

Kesadaran : compos mentis

TTV : TD : 100/80 mmHg

T : 37 0 C

RR : 22x/m

HR : 82x/m

Kandung kemih : kosong


Kontraksi : baik

Perdarahan : membasahi pembalut

Perineum : tidak ada robekan

TFU : 2 jari dibawah pusat

Plasenta : lahir spontan lengkap dengan selubung dan jumlah

Kotiledon 20 buah,panjang tali pusat 52 cm,berat


plasenta 500 gram pukul 18.30 wib

ASSESMENT

Diagnosa : ibu P1A0 dalam pemantauan kala IV

Masalah : tidak ada

Kebutuhan :

1.Ajarkan keluarga /suami unutk memasase fundus uterus ibu

2.Anjurkan ibu untuk beristirahat ditempat tidur

3.Berikan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat

4.Penkes ibu tentang nyeri pada jalan lahir

PLANNING

1.Mengajarkan suami untuk memasase fundus uterus ibu untuk menghasilkan kontraksi yang
baik untuk mencegah atonia yang menyebabkan perdarahan

EV : Suami mengetahui cara memasase fundus ibu dengan baik,kontraksi tetap kuat dan ibu
masih merasakan mules,perdarahan dalam batas normal

2.Menganjurkan ibu untuk istirahat ditempat tidur untuk memulihkan tenaga yang habis saat
proses persalinan

Ev : ibu sedang tampak berbaring ditempat tidur dan istirahat

3.Memberi ibu minum teh manis 1 gelas dan makan roti 1 bungkus untuk mencegah ibu
dehidrasi atau kekurangan energi

Ev : ibu dapat minum dan makan dengan baik setelah proses persalinan
4.Membersihkan tubuh ibu dari keringat,darah ,kotoran dan cairan lainnya untuk memberi
rasa nyaman.Melap tubuh ibu dengan menggunakan air hangat dengan washlap,mengganti
pakaian ibu yang basah dan kotor,memasang pembalut ibu dan mengganti sarung ibu yang
sudah kotor

Ev : ibu tampak sudah nyaman dan bersih

5.Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya untuk membantu menghasilkan kontraksi


uterus yang baik dan meghasilkan hormon oksitosin alami melalui isapan bayi sekaligus
membantu proses produksi ASI bagi bayi melalui kelenjar hormon hifofisis posterior.

Ev : ibu mengatakan bersedia untuk menyusui bayinya setiap waktu

6.Melakukan pemantauan kala IV 2 jam pertama

Ev : kontaksi baik,perdarahan normal ( membasahi pembalut ),TTV dalam batas normal.

7.Melakukan antropometri pada BBL ( bayi baru lahir )

Ev : Berat badan : 3400 gram

Panjang badan : 50 cm

Jenis kelamin : Laki-laki

A/S : 9/10

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal


MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA Ny NURIANA G1P1A0
POSTPARTUM HARI PERTAMA

Tanggal masuk : 10 -01-2015 Tgl Pengkajian : 10-01 -2015

Jam masuk : 15.00 wib Jam Pengkajian : 15.10 wib

Tempat :Klinik Santi Pengkaji : Heni Banjarnahor

1.PENGUMPULAN DATA

A.BIODATA

Nama : Ny Nuriana Nama : Tn Tomi

Umur : 26 tahun Umur : 30 Tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Suku /bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Pendidikan : SMA Pendidikan :SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : JL.Starban Gg Pamili Alamat : Jl.Starban Gg Pamili

Starban Polonia Starban Polonia.

B.ANAMNESE (DATA SUBJEKTIF )

a.Alasan utama masuk kamar bersalin :

Ibu mengatakan ada keluar lendir bercampur darah sejak pagi ,nyeri pinggang
menjalar sampai keperut,kontraksi pada abdomen yang semakin kuat dan teratur tidak disertai
dengan pecah ketuban sejak pukul 09.00 wib.

b.Riwayat menstruasi :

Menarche : 14 Tahun

Siklus :28 hari teratur

Lama : 3 hari

Banyak : 3 x ganti pembalut/hari


Dismenorea : tidak ada

3.Riwayat kehamilan/persalinan yang lalu

An T.Lah U Jen Tempat Penolo Komplik Bayi Nifas


ak ir K Persalin Persalin ng asi
ke Umur an an Ba Ib PB/BB/ KEAD La
yi u JK AAN kta
si
10-1- 39 KLNIK MAHA - - 50CM BAIK BA
1 2015 SPONT SISWI 3400gr IK
AN LK

4.Riwayat persalinan

Tanggal /jam persalinan : 10 januari 2015/Pukul :18.05 wib

Tempat persalinan : klinik santi

Penolong persalinan : mahasiswi

Jenis persalinan : spontan

Komplikasi persalinan : tidak ada

Keadaan plasenta : utuh

Tali pusat : 52 cm

Lama persalinan : kala I : 12 jam kala II : 30 menit

kala III : 25 menit kala IV:2 jam

Selama operasi : tidak ada

Bayi

BB : 3400 gram PB: 50cm Nilai apgar : 9/10

Cacat bawaan : tidak ada

Masa gestasi : 39 minggu 4 hari

5.Riwayat penyakit yang pernah dialami

Jantung : tidak ada

Hipertensi : tidak ada

Diabetes melitus : tidak ada


Malaria : tidak ada

Ginjal : tidak ada

Asma : tidak ada

Hepatitis : tidak ada

Riwayat operasi abdomen/sc : tidak ada

6.Riwayat penyakit keluarga

Hipertensi : tidak ada

Diabetes melitus : tidak ada

Asma : tidak ada

Lain lain : tidak ada

7.Riwayat KB : ibu mengatakan tidak pernah menggunakan


kontrasepsi apapun

8.Riwayat sosial ekonomi & psikologi

Status perkawinan : sah kawin : 1 kali


Lama nikah : 1 tahun,menikah pertama pada umur 23 tahun
Respon ibu dan keluarga terhadap kelahiran : senang dan menerima
Pengambilan keputusan dalam keluarga : suami
Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan,persalinan dan nifas : tidak ada
Adaptasi psikologis selama masa nifas : stabil

9.Activity Dailiy Living ( setelah nifas )

a.Pola makan dan minum

Frekuensi : 3 kali sehari

Jenis : nasi,ikan sayur,buah

Porsi : 1 piring

Minum : 8 gelas/hari jenis : air putih

Keluhan/pantangan : tidak ada

b.Pola istirahat

Tidur siang : 2 -3 jam

Tidur malam : 7-8 jam


c.Pola eliminasi

BAK : 8 x/hari konsistensi : cair, warna : kuning jernih

BAB : 1 x/hari konsitensi : lembek warna :

d.Personal hygiene

Mandi : 2x/hari

Ganti pakaian/pakaian dalam : 2x/hari

10.Pola akitivitas

Pekerjaan sehari-hari : memasak,mencuci,menyapu

Keluhan : tidak ada

Menyusui : ada

Keluhan : tidak ada

Hubungan seksual : belum ada

11.Kebiasaan hidup

Merokok : tidak ada

Minum- minuman keras : tidak ada

Obat terlarang : tidak ada

Minum jamu : tidak ada

C.DATA OBJEKTIF

1.Pemeriksaan umum

Keadaan umum : baik

Tanda tanda vital

Tekanan darah : 100/80 mmHg

Nadi : 80x/m

Suhu : 37 0C

Respirasi : 20x/m

Pengukuran tinggi badan dan berat badan


Berat badan : 59 kg,kenaikan selama hamil 9 kg

Tinggi badan : 155 cm

LILA : 27 cm

2.Pemeriksaan fisik

Inspeksi

Postur tubuh : tegak

Kepala : tidak ada benjolan

Rambut : hitam,tidak rontok,tidak ada ketombe

Muka

Cloasma : ada

Oedema : tidak ada

Mata

Conjungtiva : merah muda scelera : tidak ikterik

Hidung

Polip : tidak ada peradangan

Gigi dan mulut/bibir : bersih,tidak ada karies,gusi tidak berdarah,bibir tidak sariawan

Leher

Pemeriksaan kelenjar tyroid : tidak ada pembengkakan

Payudara

Bentuk simetris : kiri dan kanan

Keadaan puting susu : menonjol

Aerola mamae : hiperpigmentasi

Colostrum : ada

Abdomen

Inspeksi

Bekas luka/operasi : tidak ada

Palpasi
TFU : 2 jari dibawah pusat

Kontraksi uterus : baik

Kandung kemih : kosong

Genitalia

Varises : tidak ada

Oedema : tidak ada

Pembesaran kelenjar bartolini : tidak ada

Pengeluaran pervaginam :

Lochea : rubra

Bau : tidak ada

Bekas luka/jahitan perineum : tidak ada

Anus : tidak ada hemoroid

Tangan dan kaki

Simetris : kiri dan kanan

Oedema pada tungkai bawah : tidak ada

Varices : tidak ada

Pergerakan : aktif

Kemerahan pada tungkai : tidak ada

D.PEMERIKSAAN PENUNJANG

II.INTERPRETASI DATA DASAR

Diagnosa : ibu P1A0 postpartum hari pertama keadaan ibu dan janin baik

Dasar

DS :

1.Ibu mengatakan masih ada mules sedikit

2.Ibu mengatakan masih ada nyeri pada jalan lahir


3.Ibu mengatakan keadaan semkain membaik

4.Ibu mengatkan sudah bisa mobilisasi ke kamra mandi dibantu oleh suami

5.Ibu mengatakan istirahat dapat terpenuhi dengan baik

6.Ibu mengatakan bayi dapat menyusui dengan baik dan asi lancar

7.Ibu mengatkan perdarahan membasahi pembalut

DO

Keadaan umum : baik

Kesadaran : compos mentis

Keadaan emosional : stabil

TTV

TD : 100/80 mmHg

Suhu : 37 0 C

Respirasi : 20 x/m

Nadi : 80x/m

TFU : 2 jari dibawah pusat

Lokea : rubra dan tidak berbau

Volume perdarahan : membasahi pembalut

Kandung kemih : kosong

Colostrum : ( + ) dan banyak

Kontraksi uterus : baik

Perineum : utuh dan tidak ada laserasi

Payudara : simetris,puting susu menonjol dan tidak keras

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

Masalah : tidak ada


Kebutuhan

1.Penkes ibu tentang adaptasi fisiologis masa nifas

2.Anjurkan ibu unutk mendapat pemenuhan cairan dan nutrisi yang adekuat

3.Anjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya

4.Anjurkan ibu untuk melakukan personal hygiene

5.Anjurkan ibu unutk mobilisasi dini

III.IDENTIFIKASI DIAGNOSA dan MASALAH POTENSIAL

Tidak ada

IV.Antisipasi Tindakan Segera dan Kolaborasi

Tidak ada

V.INTERVENSI

Tanggal : 10-1-2015 pukul : 17.00 wib oleh : Heni Banjarnahor

No Intervensi Rasionalisasi
1 Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan Informasi yang diberikan pada
keluarga/pasien meningkatkan rasa
nyaman dan menjalin komunikasi yang
baik pada saat pemberian KIE.Keluarga
perlu mengetahui kondisi dan hasil
pemriksaan tentang dirinya unutk
memberi keyakinan dan mengurangi rasa
khawatir yang berlebihan.
2. Beritahu ibu tentang adaptasi fisiologis Adaptasi fisiologis yang dirasakan sebgai
khususnya rasa mules yang dirasakan saat proses involusi uterus yang akan
ini adalah normal berlanjut sampai uterus kebentuk normal
melalui kontraksi yang masih berjalan
dan menyebabkan mules.
3 Beritahu ibu tentang pola pemenuhan Pemenuhan pola istirahat yang baik saat
istirahat yang baik selama nifas ini nifas untuk memulihkan tenaga yang
habis selama proses persalinan.Pola
istirahat yang baik mengurangi keletihan
ibu.
4 Anjurkan ibu untuk mendapat pola Gizi ibu nifas harus tercukupi dengan
pemenuhan nutrisi yang adekuat baik unutk mengganti energi yang sudah
habis selama proses persalinan .Nutrisi
sangat dibutuhkan untuk membantu
pemenuhan tenaga dan membantu proses
produksi ASI untuk bayi.
5 Beritahu ibu tentang cara perawatan tali Perawatan tali pusat dilakukan setiap hari
pusat agar tidak terjadi infeksi tali pusat dan rutin dengan tetap menbungkus
dengan menggunkan kassa steril dan
tidak membubuhi bahan apapun kedaerah
umbilical misalnya bedak atau rempah-
rempah
6 Ajarkan ibu tentang cara menjaga Bayi yang dibiarkan diruangan terbuka
kehangatan bayi dan cegah hipotermi dapat berisiko terjadi hipotermi ditandai
dengan ekstremitas yang kebiruan .Bayi
perlu perawatan dan jaga kehangatan
terhadap masa adaptasi dan transisi.
7 Ajari ibu cara dan teknik menyusui Teknik menyusui yang baik
dengan baik unutk membantu proses mempengaruhi produksi ASI melalui
pengeluaran ASI isapan bayi yang merangsang hormon
untuk menghasilkan kelenjar mama
dalam proses laktasi,isapan bayi saat
menyusui dapat memperbaiki kontraksi
uterus karena menghasilkan oksitosin
alami oleh hifoisis peoterior
8 Anjurkan ibu untuk tetap menjaga pola Personal hygiene mempengaruhi rasa
personal hygyene khusunya kebersihan nyaman ibu berhubungan dengan proses
genitalia dan payudara ekskresi oleh keringat ,darah dan cairan
dari dalam tubuh.
9 Anjurkan ibu unutk mobilisasi dini Pergerakan ( mobililasi ) dini pada ibu
ditempat tidur dan beraktivitas ringan jika nifas sangat dianjurkan untuk mencegah
ibu mampu kekakuan tungkai atau ekstremitas dan
mempercepat proses terjadinya involusi
10 Dekatkan ibu dengan bayi dan Hubungan antara bayi dan ibu akan
menciptakan kontak kulita antara bayi tecapai melalui sentuhan dan dekapan
dan kulit ibu ( bounding attcahment ) sang ibu terhadap bayi
skin to skin untuk memberi kehangatan
bayi dan menciptakan ikatan kasih
sayang antara ibu dan bayi
11 Kaji ,kontraksi,TFU,TTV,volume Menilai kontraksi dan perdarahan untuk
perdarahan ibu memastikan involusi uterus baik dan
berjalan normal,TFU 2 jari dibawah
pusat,TTV dalam batas normal

V.IMPLEMENTASI

Waktu IMPLEMENTASI Paraf


1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dalam batas normal
TTV
TD : 100/80 mmHg
T : 37 0 C
RR : 20x/m
HR : 80 x/m
TFU : 2 jari dibawah pusat
Lokea : rubra dan tidak berbau
Volume perdarahan membasahi pembalut ibu
Asi banyak dan lancar
Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

Ev : ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaa dalam batas normal

2.Memberitahu ibu tentang perubahan adapatasi fisiologis dan mules


yang dirasakan saat ini adalah normal.Rasa mules terjadi sebagai akibat
proses involusi pada uterus ibu unutk menghasilkan kontraksi.Kontraksi
ini akan menyebabkan rasa mules sampai uterus benar-benar kembali
kebentuk semulanya.

Ev : ibu sudah mengetahui tentang penjelasan ( KIE ) yang diberikan


dan mencoba beradaptasi dengan mules dan nyeri.

3.Memberitahu ibu tentang pola pemenuhan istirahat yang baik untuk


mengurangi keletihan ibu saat proses persalinan.Ibu harus tidur siang
yang cukup untuk memulihkan tenaga dan tidur malam meskipun
menyusui.

Ev : ibu mengatkan dapat istirahat dengan baik dan tidak gangguan


selama tidur

4.Memberitahu ibu tentang pola pemenuhan nutrisi dan cairan yang


adekuat,memberitahu ibu tentang gizi yang seimbang agar kebutuhan
bayi pada masa laktasi bisa terpenuhi seperti minum susu dan lain-
lain,minum tablet penambah darah.

Ev : ibu mengatakan dapat makan dan minum dengan baik 1 porsi


nasi,ikan ,sayur dan buah

5.Memberitahu ibu tentang cara perawatan bayi baru lahir terutama


kebersihan tali pusat.Tali pusat hanya dapat dibungkus dengan
menggunakan kassa steril,jangan dibubuhi dengan rempah-rempah atau
bedak unutk mencegah iritasi dan infeksi

Ev : ibu mengatakan akan menjaga kebersihan tali pusat

6.Menganjurkan ibu untuk menjaga kehangatn bayi,memberitahu ibu


untuk selalu memakaikan selimut dan topi bayi unutk mencegah
hipotermi,mengganti pakaian/popok bayi saat basah atau lembab untuk
mencegah bayi kedinginan oleh cairan BAK.

Ev : ibu mengatkan bayi dibungkus dengan selimut dan selalu


mengganti pakaian dan popok saat BAK.

7.Mengajari ibu untuk menyusui dengan baik,memberitahu ibu tentang


proses menyusui yang baik agar tidak dijadwal ( on demand ) atau
apabila bayi lapar agar kebutuhan bayi terpenuhi,isapan bayi saat
menyusui akan membantu proses pembentukan ASI semakin lancer
karena dihasilkan hormone oksitosin alami oleh hormone hifofisis
posterior

Ev : ibu mengatakan selalu bersedia unutk menyusui bayinya kapan saja


bayi butuh

8.Memberitahu ibu tentang personal hygiene,memberitahu ibu tentang


kebersihan diri agar mandi setiap hari unutk mambantu mengurangi
sumber penyakit ( kuman ) yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan
pada ibu .Mengganti pakaina ibu setiap basah atau kotor,mengganti
pembalut ibu setiap kali teras penuh dan mencuci genitalia dengan
menggunakan air bersih dan vulva dibersihkan muali dari depan
kebelakang dan lap memggunakan lap kering dan lembut.

Ev : ibu mengatakan akan tetap mejaga personal hygiene

9.Menganjurkan ibu unutk mobilisasi dan berakitivitas sesuai dengan


kemampuan ibu.Ibu boleh beraktivitas ringan dan menghindari
pekerjaan berat untuk membantu mengurangi kekakuan pada bagian
otot-otot terutama ekstremitas ,mobilisasi juga akan membantu
mempercepat proses involusi

Ev : ibu mengatakan telah dapat mobilisasi dengan baik dan perlahan


seperti ke kamar mandi tetapi masih dibantu oleh suami.

10.Mendekatkan ibu dengan agar tercipta ikatan kasih sayang,ibu dapat


dengan leluasa bersama bayi kapan bayi butuh misalnya menyusui,saat
bayi BAK/BAB.

Ev : bayi tampak sedang bersama ibunya

11.Menilai perdarahan ,kontraksi uterus,TFU,TTV,volume perdarahan

Ev : TFU 2 jari dibawah pusat, TTV dalam batas normal,volume


perdarahan membasahi pembalut,kontraksi uterus baik

Kunjungan nifas 6 hari

Tanggal : 17-01-2015 pukul:15.40 wib oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIFs

1.Ibu mengatakan mules tidak ada lagi

2.Ibu mengatakan nyeri pada jalan lahir tidak ada lagi


3.Ibu mengatakan warna darah yang keluar sudah muali bersih atau sedikit kekuningan

4. Ibu mengatakan dapat menyusui dengan baik dan ASI banyak,bayi dapat menghisap
dengan baik

5.Ibu mengatakan sudah dapat beraktivitas seperti biasa.

6.Ibu mengatakan tidak ada keluhan saat ini dan ibu dalam keadaan sehat

OBJEKTIF

Keadaan umum : baik

Kesadaran : compos mentis

Keadaan emosional : stabil

TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 37 0 C

RR : 22 x/m

HR : 80x/m

TFU : 2 jari dibawah pusat

Lokea : rubra,tidak berbau

Asi : (+ ) dan banyak

Payudara : simetris kiri dan kanan,putting susu menonjol

Pemriksaan fisik head to toe dalam batas normal

ASSESMENT

Diagnosa : ibu P1A0 postpartum hari ke7 keadaan ibu baik

Masalah : ibu mengatakan tidak ada masalah

Kebutuhan :

1.Memastikan involusi uterus berjalan normal,kontraksi uterus harus tetap baik,TFU dan
perdarahan abnormal

Ev : ibu sudah mengetahui tentang kondisi dan hasil pemeriksaan saat ini dalam batas normal
TFU 2 jari diatas simfisis,lokea berwarna kekuningan dan tidak berbau,perdarahan dalam
batas normal,uterus berkontraksi dengan baik.

2.Mengkaji tanda tanda infeksi pad aibu nifas dan tanda bahaya seperti demam,perdarahan
abnormal dan komplikasi nifas saat ini

Ev : ibu mengatakan belum pernah demam,perdarahan dalam batas normal dan tidak ada
keluhan sampai saat ini.

3.Menganjurkan ibu untuk tetap mempertahankan pola pemenuhan nutrisi dan cairan yang
adekuat,ibu menyusui harus mengkonsumsi tambahan kalori 500 kkal tiap hari,makan dengan
diet berimbang unutk mendapatkan protein,mineral,dan vitamin yang cukup,minum air putih
paling sedikit 3 liter setiap hari,pil zat besi diminum unutk menambah zat gizi dan minum
kapsul vit A 200000 unit.

Ev : ibu mengatakan kebutuhan nutrisi dan cairan terpenuhi,ibu tetap mengkonsumsi tablet
FE dan Vit A

4.Menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya dengan baik atau on demand untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi pokok bayi dan memberi kekebalan pada tubuh bayi

Ev : ibu mengatakan selalu menyusui bayi sesering mungkin dan saat bayi lapar

5.Menganjurkan ibu unutk tetap melakukan perawatan BBL seperti menjaga kebersihan
pusat,menjaga kehangatan bayi dan memandikan bayi 2x sehari dengan air hangat dan
mengganti pakaian/popok bayi saat basah dan kotor.

Ev : ibu mengatakan selalu memandikan bayi 2x sehari dan menjaga kehangatan bayi dengan
membungkus bayi dengan popok /selimut dan memakaikan topi

Kunjungan nifas 2 minggu

Tanggal : 26 -01-2015 pukul: 15.30 wib oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan keadaan semakin membaik

2.Ibu mengatakan sudah bias beraktivitas seperti biasa

3.Ibu mengatakan tidak ada perdarahan lagi dan sudah berwarna putih

4.Ibu mengatakan bayi dapat menyusui dengan baikdana ASI banyak

5.Ibu mengatakan tidak ada keluhan saat ini.

OBJEKTIF

Keadaan umum : baik


Keadaan emosional : stabil

Kesadaran : compos mentis

TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 37 0C

RR : 22 x/m

HR : 80x/m

TFU : tidak teraba

Lokea : alba dan tidak berbau

ASI : ( + ) dan banyak

Payudara : simetris,tidak bengkak putting susu menonjol

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

ASSESMENT

Diagnosa : Ibu P1A0 postpartum hari ke 14 keadaan ibu dan bayi baik

Masalah : tidak ada

Kebutuhan :

1.anjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya

2.anjurkan ibu unutk tetap mempertahan pola pemenuhan cairan dan nutrisi ibu

3.ajari ibu untuk tetap menjaga personal hygiene

PLANNING

1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dalam batas normal

TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 37 0C

RR : 22 x/m
HR : 80 x/m

TFU : tidak teraba

Lokea : alba dan tidak berbau

Asi : ( + ) dan banyak

Payudara : simetris kiri dan kanan,putting susu menonjol

Uterus berinvolusi dengan baik

Ev : ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan dan kondisi saat ini dalam batas
normal

2.Mengkaji kembali tanda-tanda demam,infeksi atau perdarahan abnormal dan komplikasi


nifas saat ini dalam batas normal

Ev : ibu mengatakan belum pernah demam,perdarahan tidak ada lagi dan lokea berwarna
putih ( alba )

3.Menganjurkan ibu untuk tetap mempertahankan pola pemenuhan nutrisi dan cairan yang
adekuat,ibu menyusui harus tetap mengkonsumsi kalorai 500 kkal tiap hari,makan dengan
diet seimbang unutk mendapatkan protein,mineral dan vitamin yang cukup,minum paling
sedikit 3 liter air putih,minumpil zat besi diminum unutk menambah zat gizi dan minum
kapsul multivitamin.

Ev : ibu mengatakan kebutuhan nutrisi dan cairan terpenuhi dengan baik dan ibu tetap
mengkonsumsi multivitamin

4.Menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya denagn baik on demand untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi pokok bayi dan memberi kekebalan pada tubuh bayi

Ev : ibu mengatakan selalu menyusui bayi sesering mungkin

5.Menganjurkan ibu unutk tetap melakukan perawatan bayi menjaga personal


hygiene,menjaga kehangatan bayi,mengganti pakaian /popok bayi saat basah dan
kotor,memandikan bayi dengan air hangat 2 x sehari.

Ev : ibu mengatakan tetap menjaga kehangatan bayi dan personal hygiene bayi,bayi selalu
dibungkus dengan menggunakan selimut dan memakaikan topi untuk mencegah kedinginan.
Kunjungan nifas 6 minggu

Tanggal : 15 -02-2015 pukul: 15.45 wib oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan keadaan semakin membaik

2.Ibu mengatakan perdarahan tidak ada lagi

3.Ibu mengatakan bayi dapat menyusui dengan baik

4.Ibu mengatakan dapat beraktivitas dengan baik

5.Ibu mengatakan ASI keluar banyak

OBJEKTIF

Keadaan umum : baik

Kesadaran : compos mentis

Keadaan emosional : stabil

TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 37 0C

RR : 22x/m

HR : 80 x/m

TFU : tidak teraba

Payudara : simetris,tidak ada pembengkakan ,puting menonjol


dan tidak lecet.

Lokea : alba dan tidak berbau

ASI : ( + ) dan banyak

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

ASSESMENT
Diagnosa : Ibu P1A0 postpartum 40 hari keadaan ibu baik

Masalah : tidak ada

Kebutuhan :

1.Anjurkan ibu untuk tetap mempertahankan pola menyusui yang baik

2.Anjurkan ibu untuk tetap mempertahankan pola nutrisi dan cairan

PLANNING

1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dalan batas normal dan kondisi saat ini

Hasil pemeriksaan

TTV

TD : 100/80 mmHg

T : 37 0C

RR : 22 x/m

HR : 82 x/m

TFU : tidak teraba

Lokea : alba,tidak berbau

Asi : ( + ) dan banyak

Payudara : simetris dan putting susu menonjol

Pemeriksan fisik head to toe dalam batas normal

Ev : ibu sudah mengetahui tentang ahsil pemeriksaa dan kondisinya dalam batas normal

2.Mengkaji kembali tanda-tanda komplikasi pada nifas 40 hari seperti demam,infeksi dan

perdarahan abnormal

Ev : ibu mengatakan tidak ada tanda bahaya nifas dan komplikasi yang dirasakan

3.Menganjurkan ibu untuk tetap mempertahankan pola pemenuhan nutrisi adekuat,ibu

menyusui harus tetap mengkonsumsi kalori minimal 500 kkal tiap hari,makan dengan diet

seimbang untuk mendapatkan protein,mineral dan vitamin yang cukup,minum air paling
sedikit 3 liter air stiap hari,pil zat besi dan kapsul vitamin

ev : Ibu mengatakan kebutuhan nutrisi dan cairan terpenuhi dan ibu tetap mengkonsumsi

tablet Fe dan Vitamin

4.Menganjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya dengan baik on demand untuk memenuhi

Kebutuhan nutrisi pokok bayi dan memberi kekebalan pada tubuh bayi

Ev : ibu mengatakan selalu menyusui bayi sesering mungkin

5.Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan perawatan bayi seperti memandikan setiap hari,

Mengganti pakian yang basah atau kotor,menjaga kehangatan bayi

Ev : ibu mengatakan tetap menjaga kehangatan dan kebersihan bayi yaitu selalu memandikan

Bayi 2 x/sehari dan mengganti pakaian jika basah dan kotor.

6.Menginformasikan kepada ibu tentang menfaat KB dan menganjurkan ibu untuk mengguna

Kan KB.Memberitahu bahwa idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2

tahun sebelum ibu hamil kembali.Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur ( ovulasi)

sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama menyusui.Oleh karena itu metode amenore

laktasi dapat dipakai sebelum HPHT kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru.

Menjelaskan kepada ibu tentang :

1.Cara kerja dan efektifitas

2.Kelebihan / keuntungan

3.Kekurangan

4.Efek samping

5.Cara pemasangan/pemakaian

6.Waktu penggunaan dan jangka waktu pemakaian

Ev : ibu mengetahui tentang MAL dan bersedia akan menggunakan salah satu jenis

Kontrasepsi yang aman dan cocok


MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PADA BAYI NURIANA
USIA 2 JAM DI KLINIK BERSALIN SANTI MELIALA AMKeb STARBAN
POLONIA

Tanggal masuk :10 Januari 2015 Tgl pengkajian : 10 Januari 2015


Jam masuk :15.00 wib Jam pengkajian : 15.10 wib
Tempat :klinik Santi Meliala Pengkaji : Heni Banjarnahor

1.PENGUMPULAN DATA
A.BIODATA
1. Identitas Pasien
Nama : By. Nuriana
Umur : 2 jam
Tgl/Jam lahir : 10 januari 2015/ 18.05 wib
Jenis Kelamin : Laki-laki
BB Lahir : 3400 gram
Panjang Badan : 50 cm

2.Identitas Istri Identitas Suami


Nama Ibu :Ny.Nuriana Nama Suami :Tn Tomi
Umur :25 Tahun Umur :30 Tahun
Agama :Islam Agama :Islam
Suku/bangsa:Jawa/Indonesia Suku/Bangsa :Jawa /Indonesia
Pendidikan :SMA Pendidikan :SMA
Pekerjaan :IRT Pekerjaan :Wiraswasta
Alamat : JL.Starban Gg Pamili Alamat : Jl.Starban Gg Pamili

Starban Polonia Starban Polonia

B.ANAMNESA ( DATA SUBJEKTIFE)


1.Riwayat Kesehatan Ibu
Jantung : Tidak pernah
Hipertensi : Tidak pernah
Diabetes Mellitus : Tidak pernah
Malaria : Tidak pernah
Ginjal : Tidak pernah
Asma : Tidak pernah
Hepatitis : Tidak pernah
Riwayat Operasi Abdomen/SC : Tidak pernah

2. Riwayat Penyakit Keluarga


Hipertensi : Tidak pernah
Diabetes Mellitus : Tidak pernah
Asama : Tidak pernah
Lain-Lain : Tidak pernah Ada Riwayat Kembar

3.Riwayat Persalinan Sekarang


G1 P1 A0 Uk : 39 Minggu 4 hari
Tanggal/ Persalinan :10 Januari /18.05 Wib
Tempat Persalinan : Klinik Santi
Penolong Persalinan : Mahasiswi
Jenis Persalinan : Spontan
Komplikasi Persalinan
Ibu : Tidak Ada
Bayi : Tidak Ada
Ketuban Pecah : Spontan
Keadaan Plasenta : Utuh
Tali Pusat : 52 cm
Lama Persalinan : Kala I : 12 Jam Kala II : 30 Menit Kala III: 25 Menit Kala IV: 2 Jam
Jumlah Perdarahan : Kala I :35 cc Kala II : 100cc Kala III: 150 cc Kala IV : 100 cc
4. Riwayat Kehamilan
A. Riwayat Komplikasi Kehamilan
Perdarahan : Tidak Ada
Preeklamsi : Tidak Ada
Penyakit Kelamin : Tidak Ada
Lain-Lain : Tidak Ada
B. Kebiasaan Ibu Waktu Hamil
Makanan : Tidak Ada
Obat-Obatan : Tidak Ada
Jamu : Tidak Ada
Merokok : Tidak Ada
5. Kebutuhan Bayi
Intake : Asi ( IMD)
Eliminasi
Miksi : Ya ( tanggal 10 januari 2015, pukul 22.00 wib)
Mekonium : Ya (tanggal 4 januari 2015, pukul 01.20 wib)

C.DATA OBJEKTIF
Antropometri
1) Berat Badan : 3400 gram
2) Panjang Badan : 50cm
3) Lingkar Kepala : 34 cm
4) Lingkar Dada :32 cm
5) Lingkar Perut ( Jika Ada Indikasi) : Tidak Dilakukan

Pemeriksaan Umun
1) Jenis Kelamin : Laki-laki
2) Apgar Skore : Menit 1: 9 Menit 2 : 10
3) Keadaan Umum Bayi : Baik
4) Suhu : 37 0c
5) Bunyi Jantung
Frekuensi : 140 Kali/menit
Respirasi : 40 Kali/menit
Pemeriksaan Fisik
1.Kepala
Fontanel Anterior : Lunak
Satura Sagitalis :Datar
Caput Succedaneum : Tidak Ada
Cepal Hematoma : Tidak Ada
2. Mata
Letak : Simetris,sejajar dengan telinga
Secret :Tidak ada
Konjungtiva : Merah muda
Sclera : Tidak ikterik
3. Hidung
Bentuk : Simetris
Secret : Tidak ada
4. Mulut
Bibir : Tidak ada labioskizys,utuh
Palatum : Utuh
5. Telinga
Bentuk : Simetris
Secret : Tidak Ada
6. Lehar
Pergerakan : Aktif
Pembengkakan : Tidak Ada
Kekakuan : Tidak Ada
7. Dada
Bentuk Simetris : Ya
Retraksi Diding Dada : Tidak ada

8. Paru-Paru
Suara Nafas Kiri Dan Kanan : Sama
Suara Nafas : Normal
Respirasi : 40 Kali Permenit
9. Abdomen
Kembung : Tidak ada
Tali Pusat : Tidak ada infeksi
10. Punggung : Ada tulang belakang
11.Genitalia : Labia mayora menutupi labia minora
11. Tangan Dan Kaki
Gerakan : Aktif
Bentuk : Simetris
Jumlah : Lengkap
Warna : kemerahan
12. Reflex
Reflek Morrow : Ada
Refleks Rooting : Ada
Reflek Walking : Tidak dilakukan
Reflek Babinski : Ada
Reflek Graping : Ada
Reflek Suching : Ada
Reflek Tonic Neck : Ada

D.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

II . INTERPETASI DATA DASAR


Diagnosa : Bayi baru lahir, spontan, segera menangis, aterem, usia 6 jam
Ds
Ibu mengatakan senang akan kelahiran bayinya
Ibu mengatakan senang mendengar tangisan bayinya setelah lahir

DO :
KU : Baik
Kesadaran : CM
Jenis kelamin : laki-laki
TTV
Suhu : 37 0c secara rectal
Hr : 140 kali/rmenit
RR : 40 kali/menit
APGAR SKORE : 9/10
Antropometri
Berat Badan : 3600 gram
Panjang Badan : 50 cm
Lingkar Kepala : 34 cm
Lingkar Dada :32 cm
Reflek
Reflek Morrow : Ada
Refleks Rooting : Ada
Reflek Walking : Tidak Dilakukan
Reflek Babinski : Ada
Reflek Graping : Ada
Reflek Suching : Ada
Reflek Tonic Neck : Ada

Masalah : Masa transisi


Kebutuhan :
1) Obsi. TTV dan K.U bayi
2) Pertahankan suhu tubuh bayi
3) Lakukan perawatan tali pusat
4) Anjurkan ibu untuk memberikan ASI esklusif

III. IDENTIFIKASI MASALAH POTENSIAL


1) Hipotermi
2) Infeksi
3) Ikterus

IV. TINDAKAN SEGERA/ KOLABORASI


Tidak ada

V.INTERVENSI
Tanggal 10 januari 2015
Pukul 18.35 wib
No Planning Rasional
1 Observasi tanda vital sign bayi Agar kondisi bayi tetap
terkontrol dengan baik
2 Pertahankan suhu tubuh bayi dengan cara Membedong bayi adalah cara
membedong bayi untuk mencegah hipotermi
3 Lakukan perawatan tali pusat dengan cara Tali pusat yang terbungkus
membungkus dengan kasa steril. merupakan cara mencegah
infeksi.
4 Anjukan ibu untuk membarikan ASI esklusif Asi kolostrum sangat berguna
untuk daya tahan tubuh bayi dan
nurtrisi bayi.
5 Berikan suntikan Vit K pada paha kiri dan Tindakan awal untuk
imunisasi hepatitis B satu jam setelah pemberian meningkatkan daya tahan tubuh
vit K, yang harus diberikan pada bayi
untuk mencegah hepatitis

6 Mandikan bayi setelah 6 jam kelahirannya Untuk meningkatkan


kenyamanan dan kesegaran
tubuh bayi
7 Ajari ibu cara perawatan bayi baru lahir dirumah Agar keluarga mengetahui cara
merawat bayi baru lahir dirumah

8 Beritahu keluarga tanda bahaya pada bayi baru Agar keluarga cepat membawa
lahir bayinya kepelayanan yang lebih
memadai jika hal tersebut terjadi
9 Beritahu ibu dan keluarga sudah dapat pulang Agar keluarga dan ibu tidak
setelah 8 jam dari kelahiran bayinya. cemas akan kondisi bayinya

10 Anjurkankan ibu untuk mengimunisasikan bayinya Bayi baru harus mendapat


2 bulan berikutnya kekebalan tubuh sebagai
pertahanan imun.
VI. IMPLEMENTASI / PELAKSANAAN
Tanggal 10 januari 2015
Pukul 19.00 wib
No Waktu Tindakan paraf
1 19.05 Memberitahu hasil pemeriksaan dan keadaan bayi kepada ibu Heni
dengan keadaan umum bayi :baik dengan hasil observasi :
Suhu : 37 0C secara rectal
Hr : 140 kali permenit
RR : 40 kali permenit
APGAR SKORE : 9/10
Antropometri
Berat Badan : 3400 gram
Panjang Badan : 50 cm
Lingkar Kepala : 35 cm
Lingkar Dada :40 cm
Eliminasi
Miksi : Ya ( tanggal 10 januari 2015, pukul 22.00 wib)
Mekonium : Ya (tanggal 11 januari 2015, pukul 01.20 wib)

2 19.07 Membedong bayi dengan kain kering dan bersih untuk mencegah Heni
hopotermi pada bayi,memakaikan topi pada bayi
3 19.09 Melakukan perawatan tali pusat dengan mengeringkan tali pusat Heni
terlebih dahulu dengan kassa steril lalu membungkus tali pusat
dengan kassa steril agar tali pusat cepat puput dan tidak terjadi
infeksi.
4 19.12 Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI esklusif, karena ASI Heni
adalah makanan terbaik bayi untuk tumbuh kembang dan
pertahanan tubuh dengan kebutuhan nutrisi 60 cc/kg/hari
5 19.15 Memberikan pada bayi suntikan Vit k 1 mg dosis tunggal IM pada Heni
anterolateral paha kiri dan memberitahu ibu tujuan pemberian
adalah untuk mencegah resiko terjadinya perdarahan karena
pembekuan darah pada bayi baru lahir masih belum sempurna.
6 19.30 Memberitahu ibu dan keluarga tanda bahaya pada bayi baru lahir Heni
Bayi tidak mau minum dan mengalami muntah yang berlabihan,
kulit dan mata bayi mengalami kuning,demam tinggi,kejang.

7 19.32 Mengajari ibu cara perawatan bayi baru lahir dirumah dengan Heni
cara: mangajurkan ibu dan keluarga untuk membersikan bayi
sesegera mungkin jika bayi BAB dan BAK,dengan cara mengganti
popok bayi yang basa agar bayi tidak mengalami hipotermi, dan
memperhatikan tali pusat bayi apakah basa terkena BAB dan BAK
jika basa maka tali pusat harus dikeringkan dan di bungkus
kembali,memandikan bayi 2 kali sehari dengan menggunakan air
hangat kukuh,menjaga kebersihan tempat tidur bayi.
8 19.38 Menganjurkan keluarga untuk membawa bayinya imunisasi ke Heni
klinik 2 bulan berikutnya untuk memberikan perlindungan pada
bayi sebelum terjadi paparan penyakit secara dini.

VII. EVALUASI

Tangga: 11 januari 2015 pukul :07.00 wib oleh :Heni Banjarnahor

1.Ibu dan keluarga sudah mengetahui tentang keadaan/kondisi bayi saat ini daalam keadaan
baik dan sehat

2.Ibu sudah mengetahui tentang fungsi ASI bagi bayi dan bersedia untuk menyusui bayi

3.Ibu sudah mengerti cara perawatan bayi baru lahir di rumah

4.Ibu sudah mengetahui tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir

5.Ibu berjanji akan membawa anaknya untuk imunisasi sesuai anjuran bidan
Kunjungan 6 hari Neonatus

Tanggal : 17-01-2015 pukul: 16.00wib oleh: Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan bayi dalam keadaan sehat

2.Ibu mengatakan bayi dapat menghisap dengan baik dan ASI ibu banyak

3.Ibu mengatakan bayi dapat BAK/BAB dengan baik dan lancar

4.Ibu mengatakan menangis dengan kuat saat haus,BAK/BAB

5.Ibu mengatakn tali pusat sudah kering dan sudah puput 1 hari yang lalu

6.Ibu mengatakan bayi dapat tidur dengan tenang

OBJEKTIF

KU : Baik
Kesadaran : Compos mentis
TTV
Suhu : 37 0 Csecara rectal
Hr : 150 kali/rmenit
RR : 42 kali/menit

Antropometri
Berat Badan : 3400 gram
Panjang Badan : 50 cm
Lingkar Kepala : 34 cm
Lingkar Dada :32 cm
Refleks
Reflek Morrow : ada
Refleks Rooting : ada
Reflek Walking : ada
Reflek Babinski : ada
Reflek Graping : ada
Reflek Suching : ada
Reflek Tonic Neck : ada
ASESSMENT
Diagnosa : bayi baru lahir spontan aterm usia 6 hari keadaan bayi baik

Masalah : tidak ada

Kebutuhan

1.jaga tetap kehangatan bayi

2.beri ASI eksklusif on demand

3.jaga personal hygiene

PLANNING

1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bayi dalam batas normal

Hasil pemeriksaan

TTV dalam batas norma

Temperatur : 37 0 C

Nadi : 150 x/m

Pernafasan : 42 x/m

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

Kenaikan BB : 200 gram

Ev : ibu sudah mengetahui tentang kondisi bayi dalam keadaan sehat dan normal

2.Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayi dengan membesong bayi
menggunakan kain bersih dan lembut,mengganti pakaian bayi saat basah,mengganti popok
bayi saat BAK/BAB

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara menjaga kehangatan bayi dengan baik

3.Menganjurkan ibu untuk tetap memberi ASI ekslusif tanpa dijadwal atau minimal 2 kali
/jam dan saat bayi haus.

Ev : ibu mengataka selalu memberikan asi pada bayi sesering mungkin dan pada saat bayi
lapar
4.Menganjurkan ibu untuk tetap mempertahankan personal hygiene yang baik pada bayi yaitu
dengan memandikan bayi 2 kali sehari dengan menggunkan air hangat,mengganti popok bayi
saat terkena BAB/BAB,mengganti pakaian bayi saat kotor,membersihkan
mata,telinga,hidung saat terasa kotor dengan rutin,menggunting kuku bayi jika terasa
panjang.

Ev : ibu sudah mengatakan selalu menjaga kebersihan bayi secara rutin

5.Memastikan bayi dapat tidur dengan baik

Letakkan bayi pada permukaan yang tidak terlalu lembek,pasang alas yang bersih dan tidak
licin,jangan merokok disekitar bayi,jangan sekali-kali meninggalkan bayi.

Ev : ibu mengatakan bayi dapat tidur/istirahat setiap hari dengan baik

6.Memastikan bayi dapat BAK/BAB dengan baik 7-10 x/hari dan konsistensi lembek dan
sudah berwarna kuning,warna urine kuning jernih

Ev : ibu mengatkan bayi dapat BAK/BAB dengan lancar dan tidak ada gangguan sampai saat
ini

7.Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan perawatan bayi baru lahir sesuai dengan anjuran
bidan setiap hari dan rutin

Ev : ibu mengatakan bersedian untuk tetap melakukan perawatan bayi baru lahir setiap hari
dan rutin

8.Menganjurkan kepada keluarga untuk membawa bayi ke klinik jika ada keluhan atau tanda
bahaya seperti bayi tidak mau minum dan menyebabkan warna kulit kuning,suhu badan
panas dan berlangsung lama,bayi sulit bernafas.

Ev : keluarga mengetahui tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir dan bersedia untuk
membawa anaknya jika ada tanda bahaya tersebut.

KUNJUNGAN BAYI BARU LAHIR 2 MINGGU

Tanggal : 26-01-2015 pukul :16.00 wib oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan bayi dalam keadaan sehat

2.Ibu mengatakan bayi dapat menghisap dengan baik dan ASI ibu banyak
3.Ibu mengatakan bayi dapat BAK/BAB dengan baik dan lancar

4.Ibu mengatakan menangis dengan kuat saat haus,BAK/BAB

5.Ibu mengatakan bayi dapat tidur dengan tenang

OBJEKTIF

KU : Baik
Kesadaran : Compos mentis
TTV
Suhu : 37 0 Csecara rectal
Hr : 148 kali/rmenit
RR : 44 kali/menit

Antropometri
Berat Badan : 3800 gram
Panjang Badan : 50 cm
Lingkar Kepala : 34 cm
Lingkar Dada :32 cm
Refleks
Reflek Morrow : ada
Refleks Rooting : ada
Reflek Walking : ada
Reflek Babinski : ada
Reflek Graping : ada
Reflek Suching : ada
Reflek Tonic Neck : ada

ASESSMENT
Diagnosa : bayi baru lahir spontan aterm usia 14 hari keadaan bayi baik

Masalah : tidak ada

Kebutuhan
1.jaga tetap kehangatan bayi

2.beri ASI eksklusif on demand

3.jaga personal hygiene

PLANNING

1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bayi dalam batas normal

Hasil pemeriksaan

TTV dalam batas norma

Temperatur : 37 0 C

Nadi : 148 x/m

Pernafasan : 44 x/m

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

Kenaikan BB : 500 gram

Ev : ibu sudah mengetahui tentang kondisi bayi dalam keadaan sehat dan normal

2. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayi dengan membesong bayi
menggunakan kain bersih dan lembut,mengganti pakaian bayi saat basah,mengganti popok
bayi saat BAK/BAB

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara menjaga kehangatan bayi dengan baik

3.Menganjurkan ibu untuk tetap memberi ASI ekslusif tanpa dijadwal atau minimal 2 kali
/jam dan saat bayi haus.

Ev : ibu mengataka selalu memberikan asi pada bayi sesering mungkin dan pada saat bayi
lapar

4.Menganjurkan ibu untuk tetap mempertahankan personal hygiene yang baik pada bayi yaitu
dengan memandikan bayi 2 kali sehari dengan menggunkan air hangat,mengganti popok bayi
saat terkena BAB/BAB,mengganti pakaian bayi saat kotor,membersihkan
mata,telinga,hidung saat terasa kotor dengan rutin,menggunting kuku bayi jika terasa
panjang.

Ev : ibu sudah mengatakan selalu menjaga kebersihan bayi secara rutin

5.Memastikan bayi dapat tidur dengan baik


Letakkan bayi pada permukaan yang tidak terlalu lembek,pasang alas yang bersih dan tidak
licin,jangan merokok disekitar bayi,jangan sekali-kali meninggalkan bayi.

Ev : ibu mengatakan bayi dapat tidur/istirahat setiap hari dengan baik

6.Memastikan bayi dapat BAK/BAB dengan baik 7-10 x/hari dan konsistensi lembek dan
sudah berwarna kuning,warna urine kuning jernih

Ev : ibu mengatkan bayi dapat BAK/BAB dengan lancar dan tidak ada gangguan sampai saat
ini

7.Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan perawatan bayi baru lahir sesuai dengan anjuran
bidan setiap hari dan rutin

Ev : ibu mengatakan bersedian untuk tetap melakukan perawatan bayi baru lahir setiap hari
dan rutin

8.Menganjurkan kepada keluarga untuk membawa bayi ke klinik jika ada keluhan atau tanda
bahaya seperti bayi tidak mau minum dan menyebabkan warna kulit kuning,suhu badan
panas dan berlangsung lama,bayi sulit bernafas.

Ev : keluarga mengetahui tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir dan bersedia untuk
membawa anaknya jika ada tanda bahaya tersebut.

KUNJUNGAN BAYI BARU LAHIR 6 MINGGU

Tanggal :10-02-2015 pukul: 15.00 wib oleh : Heni Banjarnahor

SUBJEKTIF

1.Ibu mengatakan bayi dalam keadaan sehat

2.Ibu mengatakan bayi dapat menghisap dengan baik dan ASI ibu banyak

3.Ibu mengatakan bayi dapat BAK/BAB dengan baik dan lancar

4.Ibu mengatakan menangis dengan kuat saat haus,BAK/BAB

5.Ibu mengatakan bayi dapat tidur dengan tenang

OBJEKTIF

KU : Baik
Kesadaran : Compos mentis
TTV
Suhu : 37 0 Csecara rectal
HR : 140 kali/rmenit
RR : 40 kali/menit

Antropometri
Berat Badan : 4100 gram
Panjang Badan : 52 cm
Lingkar Kepala : 35cm
Lingkar Dada :33cm
Refleks
Reflek Morrow : ada
Refleks Rooting : ada
Reflek Walking : ada
Reflek Babinski : ada
Reflek Graping : ada
Reflek Suching : ada
Reflek Tonic Neck : ada

ASESSMENT
Diagnosa : bayi baru lahir spontan aterm usia 42 hari keadaan bayi baik

Masalah : tidak ada

Kebutuhan

1.jaga tetap kehangatan bayi

2.beri ASI eksklusif on demand

3.jaga personal hygiene

PLANNING

1.Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dan kondisi bayi saat ini adalah sehat dalam
batas normal

TTV dalam batas normal


Temperatur : 36,5 0 C

Nadi : 142 x/m

Pernafasan : 40 x/m

Pemeriksaan fisik head to toe dalam batas normal

Kenaikan BB : 1000 gram

Ev : ibu sudah mengetahui tentang kondisi bayi dalam keadaan sehat dan normal

2.Menimbang berat badan bayi untuk mengetahui kenaikan/penurunan BB bayi untuk


mendeteksi pertumbuhan atau adanya komplikasi yang dapat menyebabkan bayi mengalami
kurang nutrisi .

Ev : BB bayi saat ini adalah 4100 gram berarti mengalami kenaikan sekitar 700 gram

3.Menganjurkan ibu untuk tidak sering membiarkan bayi tertinggal sendiri ditempat yang
yang berbahaya misalnya tempat tidur yang tinngi,dan tetap menganjurkan ibu agar menjaga
kebersihan lingkungan dan rumah khususnya tempat tidur bayi untuk memberikan
kenyamanan pada bayi

Ev :ibu mengatakan selalu menjaga kebersihan tempat tidur bayi setiap hari

4. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayi dengan membesong bayi
menggunakan kain bersih dan lembut,mengganti pakaian bayi saat basah,mengganti popok
bayi saat BAK/BAB

Ev : ibu sudah mengetahui tentang cara menjaga kehangatan bayi dengan baik

5. Menganjurkan ibu untuk tetap memberi ASI ekslusif tanpa dijadwal atau minimal 2 kali
/jam dan saat bayi haus.

Ev : ibu mengataka selalu memberikan asi pada bayi sesering mungkin dan pada saat bayi
lapar

6. Memastikan bayi dapat tidur dengan baik

Letakkan bayi pada permukaan yang tidak terlalu lembek,pasang alas yang bersih dan tidak
licin,jangan merokok disekitar bayi,jangan sekali-kali meninggalkan bayi.

Ev : ibu mengatakan bayi dapat tidur/istirahat setiap hari dengan baik

7.Memastikan bayi dapat BAK/BAB dengan baik 7-10 x/hari dan konsistensi lembek dan
sudah berwarna kuning,warna urine kuning jernih

Ev : ibu mengatkan bayi dapat BAK/BAB dengan lancar dan tidak ada gangguan sampai saat
ini
8.Menganjurkan ibu untuk tetap melakukan perawatan bayi baru lahir sesuai dengan anjuran
bidan setiap hari dan rutin

Ev : ibu mengatakan bersedian untuk tetap melakukan perawatan bayi baru lahir setiap hari
dan rutin

9.Menganjurkan kepada keluarga untuk membawa bayi ke klinik jika ada keluhan atau tanda
bahaya seperti bayi tidak mau minum dan menyebabkan warna kulit kuning,suhu badan
panas dan berlangsung lama,bayi sulit bernafas.

Ev : keluarga mengetahui tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir dan bersedia untuk
membawa anaknya jika ada tanda bahaya tersebut.

10.Menganjurkan ibu untuk membawa anak imunisasi untuk menghindari paparan penyakit
secara dini dan anak mendapat imun sebagai pertahanan /kekebalan

Ev : ibu berjanji akan membawa bayinya untuk imunisasi.