Anda di halaman 1dari 7

Metode Pemasangan Geotextile

Metode (Cara) Pemasangan Geotextile (Geotekstil) pada proyek jalan :

1. Harus digelar di atas tanah dalam keadaan terhampar tanpa gelombang atau kerutan.
2. Aturan untuk overlapping dan penyambungan Geotextile adalah :

3. Pada daerah pemasangan yang berbentuk kurva (misalnya tikungan jalan), maka

Geotextile dipasang mengikuti / searah kurva.


4. Jangan membuat overlapping atau jahitan pada daerah yang searah dengan beban roda
(beban lalu lintas).
5. Jika Geotextile dipasang untuk terkena langsung sinar matahari maka gunakanlah yang
berwarna hitam.
6. Selamat Datang,
7. GEOTEXTILE CENTER atau lebih tepatnya GEOSINTETIK CENTER
(Geosynthetics Center) dibuat sebagai media untuk memberikan informasi mengenai hal-
hal yang berkaitan dengan material Geosintetik (Geosynthetics) termasuk informasi
mengenai penjualan. Karena masih banyak penggunaan material ini, dilapangan (proyek),
yang belum tepat sasaran.
8. Contohnya adalah mengenai kesalahan pemahaman istilah Geotextile dan Geosintetik.
Semua material Geosintetik sering dianggap/disebut sebagai Geotextile/Geotekstil.
Padahal Geotextile adalah hanya bagian kecil dari material Geosintetik.
9. Contoh kesalahan lain adalah bahwa penggunaan Geotextile sering dianggap dapat
menyelesaikan semua permasalahan tanah dasar yang lunak (CBR rendah). Padahal
masih ada material lain yang lebih tepat digunakan pada kasus-kasus tertentu
permasalahan tanah dasar lunak.
10.
11. Material Geosintetik

Pondasi Cerucuk adalah salah satu jenis pondasi yang biasanya diaplikasikan didaerah dengan
kondisi tanah yang kurang stabil dimana umumnya dengan jenis tanah lumpur ataupun tanah
gambut dengan elevasi muka air yang cukup tingggi. Cerucuk dalam defenisinya adalah
susunan tiang kayu dengan diameter antara 8 sampai 15 meter yang dimasukkan atau
ditancapkan secara vertikal kedalam tanah yang ditujukan untuk memperkuat daya dukung
terhadap beban diatasnya. Dalam konstruksinya ujung atas dari susunan cerucuk disatukan
untuk menyatukan kelompok susunan kayu yang disebut dengan kepala cerucuk. Kepala cerucuk
dapat berupa pengapit dan tiang -tiang kayu , matras, kawat pengikat , papan penutup atau balok
poer.

Perlunya pemberian pondasi cerucuk didasarkan atas :

1. Daya dukung tanah yang cukup rendah.


2. Kesulitan saat konstruksi, dimana untuk mengerjakan pondasi dalam saat konstruksi akan
mengalami kesulitan oleh ketinggian elevasi muka air tanah yang cukup tinggi.
Untuk perencanaan kedalaman dan jarak anatara tiang pancang harus dilakukan berdasarkan
pemeriksaan tanah.

Secara konstruksi, pelaksanaan pekerjaan pondasi cerucuk dapat dibagi atas :

1. Perkuatan tanah dasar, dilakukan penggantian tanah dasar dengan menimbun tanah baru
yang lebih stabil, dilakukan dengan menguruk tanah pada lokasi yang sudah
direncanakan.
2. Penancapan kayu cerucuk, dilakukan dengan menancapkan kayu terhadap lokasi pondasi
yang akan dikerjakan, Pelaksanakan diseuaikan dengan jarak antar titik kayu dan
kedalaman yang direncanakan.
3. Pemasangan kepala cerucuk. Dialakukan dengan menyatukan ujung kepala kayu yang
sudah ditanamkan dengan membuat ikatan antar kepala kayu dan dibuat bidang datar
sebagai penempatan pondasi konstruksi yang direncanakan.

Kadang dalam hal tertentu, pondasi cerucuk ditanamkan pada kedalam tertentu dimana
sebelumnya kita terlebih dahulu melakukan penggalian tanah asli sesuai dengan kedalaman yang
direncanakan, dan setelah itu baru dilakukan penancapan kayu cerucuk.
Untuk pelaksanaan pemancangan kayu cerucuk dapat dilakukan secara manual (tenaga manusia)
dan dapat juga dilakukan dengan mekanik atau alat mesin yang sering disebut mesin pancang
(back hoe). Pada prinsipnya kedua cara tersebut adalah melakukan pemberian tekanan ke kepala
kayu pancang sehingga kayu akan tergeser secara vertikal kedalam tanah yang ditumbukkan.

Secara umum, untuk pondasi cerucuk kayu yang dipergunakan harus mengikuti persyaratan
teknis yaitu :

1. Kayu harus mempunyai diameter yang seragam yaitu antara 8 15 cm, dimana pada
ujung terkecil tidak boleh kurang dari 8 cm dan pada ujung terbesar tidak melebihi 15 cm
2. Kayu harus dalam bentang yang lurus untuk kemudahan penancapan dan juga daya
dukung yang makin besar.
3. Jenis kayu harus merupakan kayu yang tidak busuk jika terendam air, kayu tidak dalam
kondisi busuk dan tidak dalam keadaan mudah patah jika ada pembebanan.

Jenis kayu yang sering dipergunakan adalah :

1. Kayu Gelam
2. Kayu Medang
3. Kayu Betangor
4. Kayu Ubah
5. Kayu Dolken

Peningkatan Kuat Dukung Tanah dengan Pondasi Cerucuk

Masyarakat di daerah pantai, rawa dan daerah pasang surut sering menggunakan cerucuk
bambu/dolken sebagai pondasi atau perkuatan tanah untuk bangunan rumah/gedung, bangunan jalan,
bangunan drainase/irigasi, bangunan break water dan bangunan lainnya. Pada akhir-akhir ini cerucuk
bambu dengan matras bambu mulai banyak digunakan sebagai soil improvement untuk dasar reklamasi
pantai atau badan jalan di daerah rawa atau tambak.

Sampai saat ini para Engineer atau para teknisi geoteknik dalam perencanaan cerucuk belum ada acuan
yang jelas, sehingga dalam penerapannya didasarkan pangalaman masing-masing Perencana, sehinga
hasil perencanaan akan berdampak kurang aman atau terlalu aman sehingga kurang efektif. Agar para
Perencana dan Teknisi merasa yakin dalam merencanakan konstruksi cerucuk dan dapat diterima
secara teknis, maka perlu metode atau pedoman perhitungan cerucuk yang diakui oleh para ahli
geoteknik. Untuk mendapatkan metode perhitungan tersebut perlu adanya penelitian yang mendalam
tentang analisis interaksi tanah lunak dengan cerucuk dan dibuktikan dengan model di laboratorium
atau skala penuh.
Sampai sekarang ini belum ada penjelasan ilmiah, bagaimana sistim cerucuk tersebut dapat
meningkatkan kapasitas daya dukung tanah dan dapat mengurangi penurunan tanah, akan tetapi dalam
praktek dilapangan telah menunjukkan peningkatan daya dukung tanah lunak/lembek bilamana
menggunakan cerucuk bambu/dolken dengan jarak tertentu. Pengembangan cerucuk nantinya harus
lebih ekonomis, dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, dapat dilaksanakan dengan mudah dan
dalam perencanaan dapat dengan mudah dipahami oleh para perencana.

Pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum telah menerbitkan pedoman teknis Tata cara
Pelaksanaan Pondasi Cerucut Kayu di Atas Tanah Lembek dan Tanah Gambut No.029/T/BM1999
Lampiran No. 6 Keputusan Direktur Jendral Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember
1999. Dari pedoman teknis tersebut tidak menjelaskan tentang Perencanaan.

Ide- ide Yang Mendasari

Menyadur dari suntingan pidato Prof. DR. Ir. R. Roeseno pada Asian Regional Conferention On Tall
Building and Urban Habitat di Kuala Lumpur, 1998, menceritakan pengalamnya pada waktu membangun
gedung Laboratorium Unair Surabaya tingkat 4 (empat) dengan cerucuk bambu berdiameter 12 cm dan
panjang 4-5 meter. Sistem pemasangan cerucuk bambu betul- betul terlepas dari struktur pondasi,
adapun yang diharapkan adalah peningktan daya dukung tanah lunak yang sangat kecil menjadi lebih
besar, yaitu : dari (q all. ) = 0,25 kg/cm2 menjadi dua kalinya. Dari hasil pengalaman bapak Prof. Roeseno
tersebut ada 3 (tiga) hal penting yang perlu dicatat yaitu :

Dengan pemasangan cerucuk bambu kedalam tanah lunak maka cerucuk bambu tersebut akan
memotong bidang longsor (sliding plane) sehingga kuat geser tanah secara keseluruhan akan
meningkat.
Dalam pemasangan cerucuk bambu berdiamter 12 cm, jarak antar cerucuk bambu 40 cm dan
panjang 4-5 m, daya dukung tanah yang semula 0,25 kg/cm dapat meningkat sampai 0,50
kg/cm.
Dari penulis tersebut memberikan informasi bahwa penjelasan secara ilmiah bagaimana sistim
cerucuk dapat meningkatkan kapasitas daya dukung tanah lunak perlu dikaji lebih lanjut, akan
tetapi dalam praktek dengan jarak cerucuk tertentu dapat meningkatkan daya dukung 2 (dua)
kali lipat dari aslinya.

Studi daya dukung tiang cerucuk pada model skala kecil yang telah dilakukan oleh Abdul Hadi, Tesis S2,
1990 ITB Bandung difokuskan pada daya dukung pondasi telapak bercerucuk dengan ukuran 20 x 20
cm. Dengan konfigurasi jarak cerucuk dapat disimpulkan bahwa jarak tiang cerucuk yang lebih
dekat/pendek dan jumlah cerucuk semakin banyak maka akan terjadi peningkatan daya dukung pondasi
telapak yang cukup besar.

Evaluasi hasil percobaan daya dukung pondasi cerucuk ukuran 20x20 cm2, menunjukkan bahwa model
cerucuk 2 x 2 jarak 9 d (diameter), model 3 x 3 jarak 4,5d, model 4 x 4 jarak 3 d, model 5 x 5 jarak 2,25 d,
model 6 x 6 jarak 1,8 d, tidak menimbulkan keruntuhan blok pondasi, maka daya dukung cerucuk dapat
dihitung dengan menggunakan factor effisiensi. Untuk model 7 x 7 jarak 1,5 d, dan model 8x8 jarak 1,25
d, memberikan keruntuhan blok, maka daya dukung cerucuk dapat dihitung sebagai blok tiang.

Yang cukup menarik dalam penelitian tersebut adalah adanya perubahan peningkatan cohesi undrained
(CU) pada pengukuran vane shear test yang dilakukan pada tanah dalam box, dengan jarak 7,5 cm dari
sisi model pondasi cerucuk dan kedalaman 30 cm dari permukaan tanah. Melihat kondisi ini berarti
terdapat pemadatan tanah disekeliling kelompok tiang meskipun peningkatan nilai kohesi undrained
(Cu) relative kecil, akan tetapi pengaruh daya dukung tanah pondasi akan besar.

Studi Daya Dukung Tanah dengan Cerucuk Bambu di pantai Utara kota Semarang dilakukan oleh Tim
penelitii Universitas Katolik Sugiyapranata Semarang pada tahun 1995 (Ir. Y Daryanto dkk). Penelitian
tersebut merupakan lanjutan dari Abdul Hadi dengan skala penuh yang dilakukan di daerah terboyo
Semarang. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa pondasi cerucuk bambu tidak dapat
dikatakan sebagai Pondasi tetapi lebih tepat merupakan perbaikan daya dukung tanah pendukung
pondasi.

Berikut adalah contoh desain pondasi cerucuk yang pernah kami kerjakan untuk pembangunan
beberapa Kantor di daerah Kendal dengan jenis tanah lunak.
Materi diatas bersumber dari semnar pondasi cerucuk yang pernah disampaikan oleh Ir Muhrozi, MS
(Ketua Labolatorium Mekanika Tanah Undip). Untuk mendapakan uraian yang lebih lengkap tentang
pondasi cerucuk, dapat download materi seminar di link berikut ini.