Anda di halaman 1dari 16

VINA ZAVIRA NIZAR (021611133144)

HUBUNGAN ANTARA SISTEM ENDOKRIN DENGAN KONTRAKSI UTERUS


DAN PELEPASAN AIR SUSU

A. KONTRAKSI UTERUS

Menjelang akhir kehamilan, uterus secara terus menerus menjadi makin peka sampai
akhirnya terbentuk kontraksi ritmis sehingga bayi dilahirkan. Penyebab pasti peningkatan
aktivitas uterus tidak diketahui, tetapi setidaknya ada dua kategori efek utama yang
menyebabkan timbulnya kontraksi yang sangat kuat, berperan dalam persalinan, yaitu
perubahan hormonal progresif yang menyebabkan peingkatan ekstabilitas otot-otot uterus, dan
perubahan mekanik yang progresif.

Faktor-faktor hormonal yang meningkatkan kontraktilitas uterus.

1. Peningkatan rasio estrogen terhadap progesteron


Progesterone menghambat kontraksi uterus selama kehamilan, sehingga membantu
mencegah keluarnya fetus. Sebaliknya, estrogen mempunyai kecenderungan untuk
meningkatkan derajat kontraktilitas uterus, sebagian karena estrogen meningkat taut
imbas (gap junction) antara sel-sel otot polos uterus yang berdekatan, namun juga
karena pengaruh lain yang masih belum dimengerti. baik progesteron maupun estrogen
disekresi dalam jumlah yang secara progresif makin bertambah selama kehamilan,
tetapi sejak kehamilan bulan ke-7 dan seterusnya, sekresi estrogen terus meningkat
sedangkan sekresi progesterone tetap konstan atau mungkin sedikit menurun. Oleh
karena itu, diduga bahwa rasio estrogen terhadap progesterone cukup meningkat
menjelang akhir kehamilan, sehingga paling tidak berperan sebagian dalam
peningkatan kontraktilitas uterus.
2. Oksitosin menyebabkan kontraksi pada uterus
Oksitosin merupakan suatu hormone yang disekresi oleh neurohipofisis yang secara
khusus menyebabkan kontraksi uterus. Ada empat alas an yang diyakini bahwa
oksitosin mungkin penting dalam meningkatkan kontraktilitas uterus menjelang
persalinan :
a. Otot uterus meningkatkan jumlah reseptor oksitosin, oleh karena itu, meningkatkan
responya terhadap dosis oksitosin yang diberikan selama beberapa bulan terakhir.
b. Kecepatan sekresi oksitosin oleh neurohipofisis sangat meningkat pada saat
persalinan
c. Pada hewan coba yang telah menjalani hipofisektomi masih dapat melahirkan anak
aterm, namun persalinan berlangsung lama.
d. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa iritasi atau regangan pada hewan
menunjukkan bahwa iritasi atau regangan pada serviks uteri, seperti yang terjadi
selama persalinan, dapat menimbulkan reflex neurogenic melalui nucleus
paraventrikular dan supraoptik hipotalamus yang menyebabkan kelenjar hipofisis
posterior meningkatkan sekresi oksitosin.
3. Pengaruh hormone fetus pada uterus
Kelenjar hipofisis fetus menyekresi sejumlah oksitosin yang meningkat, yang mungkin
berperan dalam merangsang uterus. Kelenjar adrenal fetus juga menyekresi sejumlah
besar kortisol, mungkin merupakan stimulant uterus juga. Selain itu, membrane fetus
melepaskan prostaglandin dalam konsentrasi tinggi saat persalinan. Prostaglansin ini
juga dapat meningkatkan intensitas kontraksi uterus.

Gambar 1 Teori mengenai mulainya kontraksi yang sangat kuat selama persalinan.
B. PELEPASAN AIR SUSU

Payudara, tampak pada gambar 82-10, mulai berkembang saat pubertas. Perkembangan ini
dirangsang oleh estrogen yang berasal dari siklus seks bulanan perempuan; estrogen yang
merangsang pertumbuhan kelenjar mamae payudara dan deposit lemak membentuk massa
payudara. Selain itu, pertumbuhanyang jauh lebih besar terjadi selama keadaan estrogen tinggi
pada kehamilan, dan pada saat itulah jaringan kelenjar berkembang sempurna untuk
pembentukan air susu.
Gambar 2 Payudara dan lobus sekretoriknya, alveoli, dan duktus laktiferus (duktus susu) yang
membentuk kelenjar mamaria (A). Pembesaran menunjukkan satu lobus (B) dan sel-sel
penyekresi susu sebuah alveolus (C).
1) Estrogen merangsang pertumbuhan system duktus payudara.
Sepanjang masa kehamilan, sejumlah besar estrogen yang disekresi oleh
plasenta menyebabkan system duktus payudara tumbuh dan bercabang. Secara
bersamaan, jumlah stroma payudara menngkat dan sejumlah besar lemak terbentuk
dalam stroma.
Sedikitnya terdapat empat hotmon lain yang juga penting untuk pertumbuhan
system duktus, yaitu hormone pertumbuhan, prolactin, glukotiroid adrenal, dan insulin.
Masing-masing hormone ini diketahui setidaknya sedikit berperan dalam metabolism
protein, yang agaknya menjelaskan fugsi hormon-hormon tersebut dalam
perkembangan payudara.
2) Progesteron dibutuhkan untuk perkembangan lengkap system Lobulus-Alveolus
Perkembangan skhir payudara menjadi organ penyekresi air susu juga memerlukan
progesterone. Segera setelah system duktus berkembang, progesteron bersinergi
dengan estrogen, juga dengan semua hormone-hormon lain, menyebabkan
pertumbuhan lebih lanjut lobules payudara, dengan pertunasan alveolus, da
perkembangan sifat-sifat sekresi sel-sel alveoli. Perubahan-perubahan ini analog
dengan efek sekretorik progesterone pada endometrium uterus selama paruh siklus seks
perempuan.
3) Prolaktin merangsang laktasi
Walaupun estrogen dan progesterone penting untuk perkembangan fisik
payudara selama kehamilan, pengaruh khusus dari kedua hormone tersebut adalah
menghambat sekresi air susu yang sesungguhnya. Sebaliknya, hormone prolactin
mempunya efek yang berlawanan pada sekresi air susu, yaitu merangsangnya.
Hormone ini disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior ibu, dan konsentrasinya dalam
darah ibu meningkat secara tetap dari minggu ke-5 kehamilan dan sampai kelahiran
bayi meningkat menjadi 10 sampai 20 kali dari kadar normal saat tidak hamil.
Konsentrasi prolactin yang tinggi pada akhir kehamilan ini digambarkan gambar 82-
11.
Disamping itu, plasenta menyekresi sejumlah besar human chorionic
somatomammotropin, yang memungkinkan mempunyai sifat laktogenik, jadi
menyokong prolactin dari hipofisis ibu selama kehamilan. Meskipu demikian, karena
efek supresi dari estrogen dan progesterone, hanya beberapa milliliter cairan yang
disekresi selama beberapa hari terakhir sebelum dan beberapa hari pertama selama
persalinan yang disebut kolustrum. Klustrum terutama mengandung protein dan laktosa
dalam konsentrasi yang sama seperti air susu, tetapi hamper tidak mengandung lemak,
dan kecepatan maksimum produksinya adalah sekitar 1/100 kecepatan produksi air susu
berikutnya.
Segera setelah bayi dilahirkan, hilangnya tiba-tiba sekresi estrogen maupun
progesterone dari plasenta memungkinkan efek laktogenik prolactin dari kelenjar
hipofisis ibu untuk berperan dalam memproduksi air susu secara alami, dan setelah 1
sampai 7 hari kemudian, payudara mulai menyekresi air susu dalam jumlah sangat besar
sebagai pengganti kolustrum. Sekresi air susu ini juga memerlukan sekresi pendahuluan
yang adekuat dari sebagian besar hormon-hormon ibu lainnya, tetapi yang paling
penting adalah hormone pertumbuhan, kortisol, hormone paratiroid, dan insulin.
Hormone-hormon ini dibutuhkan untuk menyediakan asam amno, asam lemak,
glukosa, dan kalsium yang diperlukan untuk pembentukan air susu.
Setelah kelahiran bayi, kadar basal sekresi prolactin kembali ke kadar sewaktu
tidak hamil, seperti yang tampak pada pambar 82-11. Namun, setiap kali ibu menyusui
bayinya, sinyal syaraf dari putting susu ke hipotalamus menyebabkan lonjakan sekresi
prolactin sebesar 10 sampai 20 kali lipat berlangsung kira-kira 1 jam, yang juga
ditunjukkan pada gambar 82 11. Prolactin ini bekerja pada paudara ibu untuk
mempertahanan kelenjar mammae agar menyekresi air susu ke dalam alveoli untuk
periode laktasi berikutnya. Bila lonjakan prolactin ini tidak ada atau dihambat karena
kerusakan hipotalamus atau hipofisis, atau bila laktasi tidak berlanjut, payudara akan
kehilangan kemampuannya untuk memproduksi air susu dalam waktu sekitar 1 minggu.
Akan tetapi, produksi air susu dapat berlangsung beberapa tahun bila anak terus
mengisap, walaupun kecepatan pembentukan air susu biasanya jauh lebih berkurang
setelah 7 sampai 9 bulan.

Gambar 3 perubahan kecepatan sekresi estrogen, progesterone, dan prolactin selama 8


minggu sebelum persalinan dan 36 minggu setelahnya. Perhatiikan kususnya
penurunan sekresi prolactin kembali ke kadar basal dalam beberapa minggu setelah
persalinan, tetapi juga perhatikan periode intermiten sekresi prolactin yang bermakna
(setiap sekital 1 jam) selama dan setelah periode menyusui.
HUBUNGAN ANTARA SISTEM ENDOKRIN DAN FUNGSI REPRODUKSI

A. REPRODUKSI LAKI-LAKI
Andil utama dari pengaturan fungsi seks pada laki-laki maupun perempuan
dimulai dengan sekresi gonadotropinereleasing hormone (GnRH) oleh hipolatamus.
Hormon ini selanjutnya merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk menyekresi dua
hormone lain yang disebut hormone-hormon gonadotropin. Hormone tersebut adalah
hormone luteinasi (LH) dan hormone perangsang folikel (FSH). Selanjutnya, LH
merupakan perangsang utama untuk sekresi testosterone oleh testosterone oleh testis,
dan FSH merangsang spermatogenesis.

GnRH dan pengaruhnya dalam meningkatkan sekresi LH dan FSH


GnRH merupakan suatu peptide dengan 10 asam amino yang disekresi oleh
neuron yang badan selnya terletak di nucleus arkuata hipotalamus. Bagian ujung
syaraf ini berakhir terutama di eminensia mediana hipotalamus, tempat neuron-
neuron tersebut melepaskan GnRH ke dalam system pembuluh portal hipotalamus-
hipofisis. GnRH kemudian diangkut ke kelenjar hipofisis anterior dalam darah
portal hipofisis dan merangsang pelepasan dua jenis gonadotropin, LH dan FSH.
Gn RH disekresi secara intermiten selama beberapa menit setiap 1 sampai 3
jam. Intensitas selama bebrapa menit setiap 1 sampai 3 jam. Intensitas rangsangan
hormone ini ditentukan dalam dua cara: (1) oleh frekuensi siklus sekresi dan (2)
oleh jumlah GnRH yang dilepaskan pada setiap siklus.
Sekresi LH oleh kelenjar hipofisis anterior juga merupakan suatu siklus yaitu
sekresi LH hamper selalu mengikuti pelepasan bertahap dari GnRH. Sebalinya,
peningkaan dan penurunan sekresi FSH hanya sedikit mengikuti setiap fluktuasi
sekresi GnRH; bahkan, sekresi FSH berubah lebih lambat setelah beberapa jam
sebagai respons terhadap perubahan jangka panjang GnRH. Oleh karena hubungan
antara sekresi GnRH dan sekresi LH yang jauh lebih dekat, GnRH juga dikenal
secara luas sebagai hormone pelepas-LH.

Pengaturan produksi testosterone oleh LH.


Testosterone disekresi oleh sel-sel interstisial Leydig di testis, namun hanya terjadi
bila sel-sel interstisial leydig dirangsang oleh LH dari kelenjar hipofisis anterior.
Selanjutnya, jumlah testosterone yang disekresi meningkat kira-kira sebanding
dengan jumlah LH yang ada.
Sel-sel leydig matang biasanya ditemukan dalam testis anak dalam beberapa
minggu setelah kelahiran, namun kemudian menghilang sampai setelah usia kira-
kira 10 tahun. Akan tetapi, penyuntikan LH murni pada anak dengan usia berapa
pun atau sekresi LH pada masa pubertas akan menyebabkan sel interstisial testis
yang memyerupai fibroblas berevolusi menjadi sel untestisial Leydig yang
fungsional.

Pengaturan umpan balik negatif Sekresi testosterone


Testosterone yang disekresi oleh testis sbagai respon terhadap LH mempunyai efek
timbal balik dalam menghambat sekresi LH (lihat gambar 1). Sebagian besar
inhibisi ini kemungkinan disebabkan efek langsung testosterone terhadap
hipotalamus untuk menurunkan sekresi GnRH. Keadaan ini selanjutnya
menyebabkan penurunan sekresi LH dan FSH oleh hipofisis anterior, dan
penurunan LH akan menurangi sekresi testosterone oleh testis. Jadi, jika sekresi
testosterone terlalu banyak, efek umpan balik negative otomatis yang beroperasi
mulai hipotalamus dan kelenjar hipofisis mengurangi sekresi testosterone kembali
ke tingkat yang diharapkan, sebaliknya, telalu sedikit testosterone akan
menyebabkan hipotalamus menyekresi sejumlah besar GnRH, disertai peningkatan
sekresi LHdan FSH oleh hipofisis anterior dan berakibat peningkatan sekresi
testosterone testis.

Pengaturan spermatogenesis oleh FSH dan testosterone


FSH berikatan dengan reseptor-reseptor FSH spesifik yang melekat pada sel-sel
sertoli di dalam tubulus seminiferous. Pengikatan ini mengakibatkan sel-sel sertoli
tumbuh dan menyekresi berbagai unsur spermatogenik. Secara bersamaan,
testosterone yang berdifusi ke dalam tubulus seminiferus dan sel-sel leydig di dalam
ruang intestrisial, juga mempunyai efek tropis yang kuat terhadap spermatogenesis,
jadi untuk memulai spermatogenesis dibutuhkan FSH maupun testosterone.

Peran inhibin dalam control umpan balik negative


Bila tubulus seminiferus gagal menghasilkan sperma, sekresi FSH oleh kelenjar
hipofisis anterior meningkat dengan nyata. Sebaliknya, bila spermatogenesis
berlangsung terlalu cepat, sekresi FSH hipofisis akan berkurang. Penyebab efek
umpan balik negative ini pada hipofisis anterior diyakini berupa sekresi hormone
lain oleh sel-sel sertoli, yaitu inhibin (lihat gambar 1). Hormone ini mempunyai
efek langsung yang kuat terhadap hipofisis anterior dalam menghambat sekresi FSH
dan mungkin berefek kecil terhadap hipotalamus dalam menghambat sekresi
GnRH.
Efek penghambatan umpan balik inhibin yang kuat terhadap kelenjar hipofisis
anterior merupakan suatu mekanisme umpan balik negative yang penting untuk
mengatur spermatogenesis, yang bekerja secara bersama-sama dan sejalan dengan
mekanisme umpan balik negative yang mengatur sekresi testosterone.
Gambar 1 Pengaturan umpan balik aksis hipotalamus hipofisis-testis pada laki-
laki. Efek perangsangan diperlihatkan dengan tanda (+) dan efek inhibisi umpan
balik negative diperlihatkan dengan tanda (-).

B. REPRODUKSI WANITA

Hormon Gonadotropin
GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior
untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).

LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)


Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu
perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya
ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan
mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron.
Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu
paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat.
(Pada pria : LH memicu sintesis testosteron di sel-sel Leydig testis).

FSH (Follicle Stimulating Hormone)


Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi
memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada
pria : memicu pematangan sperma di testis). Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh
eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat
oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa ovarium, melalui mekanisme feedback negatif.

Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan


Lutheineizing Hormone (LH)
Hipothalamus mengeluarkan GnRH dengan proses sekresinya setiap 90-120 menit melalui
aliran portal hipothalamohipofisial. Setelah sampai di hipofise anterior, GnRH akan mengikat
sel gonadotrop dan merangsang pengeluaran FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH
(Lutheinizing Hormone)
Waktu paruh LH kurang lebih 30 menit sedangkan FSH sekitar 3 jam. FSH dan LH berikatan
dengan reseptor yang terdapat pada ovarium dan testis, serta mempengaruhi fungsi gonad
dengan berperan dalam produksi hormon seks steroid dan gametogenesis .
Pada wanita selama masa ovulasi GnRH akan merangsang LH untuk menstimulus produksi
estrogen dan progesteron. Peranan LH pada siklus pertengahan (midcycle) adalah ovulasi dan
merangsang korpus luteum untuk menghasilkan progesteron. FSH berperan akan merangsang
perbesaran folikel ovarium dan bersama-sama LH akan merangsang sekresi estrogen dan
ovarium .

Selama siklus menstruasi yang normal, konsentrast FSH dan LH akan mulai meningkat pada
hari-hari pertama. Kadar FSH akan lebih cepat meningkan dibandingkan LH dan akan
mencapai puncak pada fase folikular, tetapi akan menurun sampai kadar yang yang terendah
pada fase preovulasi karena pengaruh peningkatan kadar estrogen lalu akan meningkat kembali
pada fase ovulasi.Regulasi LH selama siklus menstruasi, kadarnya akan meninggi di fase
folikular dengan puncaknya pada midcycle, bertahan selama 1-3 hari, dan menurun pada fase
luteal .

Sekresi LH dan FSH dikontrol oleh GnRH yang merupakan pusat control untuk basal
gonadotropin, masa ovulasi dan onset pubertas pada masing-masing individu. Proses sekresi
basal gonadotropin ini dipengaruhi oleh beberapa macam proses:
a. Episode sekresi (Episodic secretadon)
Pada pria dan wanita, proses sekresi LH dan FSH bersifat periodik, dimana terjadinya
secara bertahap dan pengeluarannya dikontrol oleh GnRH .
b. Umpan balik positif (Positive feedback)
Pada wanita selama siklus menstruasi estrogen memberikan umpan balik positif pada
kadar GnRH untuk mensekresi LH dan FSH dan peningkatan kadar estrogen selama
fase folikular merupakan stimulus dari LH dan FSH setelah pertengahan siklus,
sehingga ovum menjadi matang dan terjadi ovulasi. Ovulasi terjadi hari ke 10-12 pada
siklus ovulasi setelah puncak kadar LH dan 24-36 jam setelah puncak estradiol. Setelah
hari ke-14 korpus luteurn akan mengalami involusi karena disebabkan oleh penurunan
estradiol dan progesteron sehingga terjadi proses menstruasi.
c. Umpan balik negatif (Negative Feedback)
Proses umpanbalik ini memberi dampak pada sekresi gonadotropin. Pada wanita
terjadinya kegagalan pernbentukan gonad primer dan proses menopause disebabkan
karena peningkatan kadar LH dan FSH yang dapat ditekan oleh terapi estrogen dalam
jangka waktu yang lama.

HORMON SEKS STEROID


Hormonsteroid disintesis dari kolesterol yang berasal dari sintesis asetat, dari kolesterol ester
pada janingan steroidogenik, dan sumber makanan. Sekitar 80% kolesterol digunakan untuk
sintesis hormon seks steroid . Pada wanita, ovum yang matang akan mensintesis dan
mensekresi hormone steroid aktif. Ovarium yang normal merupakan sumber utama dari
pembentukan Pada wanita menopause dan kelainan ovarium estrogen dihasilkan dari precursor
androgen pada jaringan lain. Selain itu ovariurn juga memproduksi progesterone selama fase
luteal pada siklus menstruasi, testoteron dan androgen dalam jumlah sedikit. Korteks adrenal
juga memproduksi hormon testoteron dan androgen dalam jumlah yang sedikit yang digunakan
bukan hanya untuk prekursor estrogen tetapi langsung dikeluarkan ke jaringan perifer.
1. Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara
primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui
konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis. Selama
kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta.
Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ
reproduksi wanita.
Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks.
Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina.
Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
Juga mengatur distribusi lemak tubuh.
Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan /
regenerasi tulang. Pada wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos /
osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti.

Estrogen terdiri dari tiga jenis hormon yang berbeda, yaitu estron, estradiol, dan estriol.
Pada wanita normal, estrogen banyak diproduksi oleh folikel selama proses ovulasi dan
korpus luteum selama keharmilan. Pada saat keluar dari sirkulasi, hormon steroid
berikatan dengan protein plasma. Estradiol berikatan dengan transpor globulin yang
dikenal dengan seks hormone binding globulin (SHBG) dan berikatan lemah dengan
albumin, sedangkan estrone berikatan kuat dengan albumin. Sirkulasi estradiol secara
cepat diubah menjadi estrone di hepar dengan bantuan 17-hidroksisteroid dehidrogenase.
Sebagian estrone masuk kernball ke sirkulasi, dan sebagian lagi dimetabolisme menjadi
__ hidroksiestrone yang dikonversi menjadi estriol .
Pada awal siklus ovulasi - produksi estradiol akan menurun sampai titik terendah, tetapi
karena pengaruh hormon FSH estradiol akan mulai meningkat. Sebelum fase mid cycle
kadar estradiol dibawah 50 pg/mL, tetapi akan terus meningkat sejalan dengan
pematangan ovum. Estradiol akan mencapai puncaknya sebesar 250-500 pg/mL pada hari
ke 13-15 siklus ovulasi. Pada fase luteal, kadar estrogen akan menurun sampai 125 pg/mL.
Progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum bersarna-sarna dengan estrogen akan
memberikan umpanbalik negatif pada hipotalamus dan hipofise antenior. Kadar dibawah
30 pg/mL menunjukan keadaan oligomenore atau amenore sebagai indikasi kegagalan
gonad. Hormon estradiol dipenganihi oleh ritme sirkadian yaitu adanya variasi diurnal
pada wanita pasca menopause yang diperkirakan. karena adanya variasi pada kelenjar
adrenal.
Hormon estrogen yang dapat diperiksa yaitu estrone (El), estradiol (E2), dan estriol (E3).
Pemeriksaan estadiol dipakal , untuk mengetahui aksis hipotalamus-hipofise-gonad
(ovarium dan testis), penentuan waktu ovulasi, menopause dan monitoring pengobatan
fertilitas. Waktu pengambilan sampel untuk pemeriksaan estradiol adalah pada fase
folikular (preovulasi) dan fase luteal
Kadar estrogen meningkat pada keadaan ovulasi, kehamilan, pubertas prekoks,
ginekomastia, atropi testis, tumor ovarium., dan tumor adrenal. Kadarnya akan menurun
pada keadaan menopause, disfungsi ovarium, infertilitas, sindroma turner, amenorea
akibat hipopituitari, anoreksia nervosa, keadaan stres, dan sindroma testikular ferninisasi
pada wanita. Faktor interfeernsi yang meningkatkan estrogen adalah preparat estrogen,
kontrasepsi oral, dan kehamilan. Serta yang menurunkan kadarnya yaitu obat clomiphene.
2. Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi
di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Progesteron
menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium
uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika
terjadi implantasi.
Progesteron bersama-sama dengan estrogen memegang peranan penting di dalam regulasi
seks hormon wanita. Pada wanita, pregnenolon diubah menjadi progesteron atau 17a-
hidroksipregnenolone dan perubahan ini tergantung dari fase ovulasi dimana progesteron
disekresi oleh korpus luteum dalam jumlah yang besar. Progesteron juga merupakan
prekursor untuk testoteron dan estrogen, pada saat terjadi metabolisme 17-
hidroksiprogesteron menjadi dehidroepiandrosteron yang dikonversi menjadi 4 andr
ostenedion dengan bantuan enzim 17 hidroksilase pregnenolon .
Pada awal menstruasi dan fase folikular kadar progesteron sekitar 1 ng/mL. Pada saat
sekresi LH, konsentrasi progesteron dapat bertahan selama 4-5 hari di dalam plasma dan
mencapai puncaknya yaitu sebesar 10-20 ng/mL selama fase luteal. Pengukuran
progesteron di dalam plasma dapat digunakan untuk memonitor keadaan ovulasi. Jika
konsentrasi progesteron lebih dari 4-5 ng/mL mungkin sudah terjadi ovulasi .
Progesteron berperan di dalam organ reproduksi termasuk kelenjar mamae dan
endometrium serta peningkatkan suhu tubuh manusia. Organ target progesteron yang lain
adalah uterus, dimana progesteron membantu implantasi ovum. Selama kehamilan
progesteron mempertahankan plasenta, menghambat kontraktilitas uterus dan
mempersiapkan mamae untuk proses laktasi.
Pada umumnya pemeriksaan kadar progesteron dilakukan untuk pemeriksaan fungsi
plasenta selama kehamilan, fungsi ovarium pada fase luteal, dan monitoring proses
ovulasi. Pada pemeriksaaan ini sampel diambil satu sampai dua kali pada fase luteal.
Kadamya meningkat pada kehamilan, ovulasi, kista ovarium, tumor adrenal, tumor
ovarium, mola hidatidosa. Dan menurun pada keadaan amonorea, aborsi mengancarn, dan
kematian janin. Faktor yang mempengaruhi pemeriksaan hormon progesteron adalah
penggunaan steroid, progesteron, dan kontrasepsi oral.

3. Testoteron
Pada wanita yang normal, ovarium akan memproduksi testoteron dalam jumlah yang
sedikit yaitu kurang dari 300 ng selama 24 jam. Testoteron berperan dalam proses
pertumbuhan rambut selama masa pubertas. Penigkatan testoteron yang berlebih akan
menyebabkan amenorea, pertumbuhan rambut dan kelenjar sebasea yang berlebih . Kadar
androgen meningkat pada hirsustisme, amenorea hipotalamus, dan turnor sel sertoll. Dan
menurun pada andropause, sindrom klinefelter, aplasia sel leydig, dan criptorchidism .

Berikut gambar yang akan menjelaskan tentang sintesis hormon steroid dan siklus ovulasi
pada wanita normal
Gambar 2. Siklus ovulasi pada wanita normal

Gambar 4. Regulasi steroid dan peptida gonad atas fungsi ovarium. Hypothalamus
menghasilkan GnRH, yang merangsang pelepasan LH dan FSH hypofise. Peptida hypofise ini
merangsang steroidogenesis dan pematangan folikel.
4. Prolaktin
Prolaktin terdiri dari 199 pasang asam. amino hormon polipeptida dengan berat molekul
23.000 Dalton dan disintesis serta disekresi oleh laktotrop yang terdapat pada hipofise
anterior. Sama seperti hormon hipofise anterior yang lain, prolaktin juga dikontrol oleh
hypothalamic-releasin .factors. Sekresi prolaktin terutama dihambat oleh dopamin yang
disekresi oleh neuron dopaminergik tuberoinfundibular.
Prolaktin akan merangsang pengeluaran ASI pada saat sesudah melahirkan. Selama
kehamilan prolaktin akan banyak disekresi dan dipengaruhi oleh bormon lain seperti
estrogen, progesteron, human placenta lactogen (HPL), dan cortisol untuk merangsang
pertumbuhan mamae. Setelah melahirkan, kadar estrogen dan progesteron akan menurun
sehingga kadar prolaktin akan meningkat dan merangsang mamae untuk mengeluarkan
ASI. Kadar prolaktin akan meningkat pada fetus dan bayl baru lahir terutama pada usla
bulan pertama .
Dalam keadaan fisiologis, prolaktinemia dapat terjadi pada saat kehamilan, ibu menyusui,
tidur, stres, dan, konsumsi protein tinggi dan olah raga. Keadaan patologis yang
menyebabkan hiperprolaktinemi adalah tumor pituitari, adenomapituitari, - gagal ginjal,
akromegali, dan anoreksia nervosa. Dan kadarnya menurun dalam keadaan osteoporosis,
ginekomasti, nekrosis hipofise, dan hirsutism. Pada wanita, hiper-protaktinemia dapat
menyebabkan memendeknya fase luteal sehingga dapat menyebabkan anovulasi,
amenorea, bahkan infertil. Fluktuasi prolaktin lebih nyata pada wanita premenopause
dibandingkan pasca menopause. Pemeriksaan prolaktin akan memberikan fluktuasi hasil
yang berbeda pada masing-masing individu. Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan 3-
4 jam setelah pasien bangun tidur.
Faktor interferensi yang mempengaruhi pemeriksaan prolaktin adalah penggunaan steroid,
kontrasepsi oral, progesteron, metil dopa, fenotoazid, antidepresan, morfin, haloperidol,
levodopa, dan ergot alkaloid.

5. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)


Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta).
Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar
100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian
naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml).
Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi
hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga
memiliki fungsi imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai
tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).

6. LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin


Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan
sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi
pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum. Pada kehamilan, prolaktin
juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen). Fungsi laktogenik /
laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi / pascapersalinan. Prolaktin juga
memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan
(hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan pematangan follikel, gangguan ovulasi dan
gangguan haid berupa amenorhea.

DAFTAR PUSTAKA

Fauci Anthony et al. 2008. Harrison's Principles Of Internal Medicine Seventeenth Edition.
US: McGraw-Hill Companies, Inc.

Guyton, A. C. & Hall, J. E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Schorge, John et al. 2008. William Gynecology. US: McGraw-Hill Companies, Inc.
Daftar Pustaka
Greenspan, F.S dan Strewler, G.D. Appendix. In Francis S.G and GordonJ. S (eds), Basic and
Clinical Endocrinology. 5th ed. 1997 London: Prentice-Hall International Inc

Anwar, Ruswana. 2005. Sintesis, Fungsi Dan Interpretasi Pemeriksaan Hormon Reproduksi.
Bandung : Fakultas Kedokteran Unpad