Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PEMETAAN GEOLOGI 2017

GEOLOGI DAERAH BANTARBOLANG DAN SEKITARNYA,


PEMALANG, JAWA TENGAH

Disusun Oleh :
Satria Maulana Rizaldy
111.140.087
Kelompok 10

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

YOGYAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Desa Bantarbolang merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten


Pemalang, Jawa Tengah. Daerah tersebut merupakan studio alam yang baik bagi
mahasiswa geologi untuk belajar dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat di
kuliah. Di daerah ini didapatkan beragam jenis batuan yang cukup lengkap dengan
hubungan stratigrafi dan struktur-strukur geologi yang kompleks dan dapat
diamati.

Pemetaan geologi mengajarkan kepada mahasiswa untuk dapat melakukan


pemetaan geologi dengan benar, mulai dari tahap pertama, yaitu: pembuatan
proposal, intepretasi peta, baik peta geologi maupun geomorfologi. Tahap kedua,
yaitu: lapangan yang melakukan pengecekan satuan batuan, struktur, serta
geomorfologi di lapangan, yang sebelumnya telah diinterpretasikan terlebih
dahulu, sehingga pemetaan lebih ekonomis, efektif, dan efeisien karena target
yang akan dituju sudah diketahui sebelumnya. Tahap ketiga, yaitu : membuat peta
geologi, geomorfologi, berdasarkan data-data lapangan yang sudah di ambil,
seperti data struktur, data batuan, data stratigrafi yang sudah di analisis di
laboratorium, serta menyusun laporan hasil lapoan.

Kegiatan pemetaan geologi ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk


menjadikan seorang calon ahli geologi yang profesional, baik secara teori maupun
aplikasi di berbagai bidang kajian. Kegiatan juga ditujukan untuk membekali
kompetensi yang berguna di masyarakat. Calon ahli geologi diharapkan dapat
menerangkan dan menafsirkan kejadian geologi suatu daerah dengan baik.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang ingin diselesaikan pada daerah telitian adalah :


1. Bagaimana strukur geologi di daerah tersebut?
2. Bagaimana pesebaran litologi daerah telitian?
3. Bagaimana stratigrafi daerah telitian?
4. Bgaimana sejarah geologi daerah telitian?

1
5. Bagaimana geomorfologi daerah telitian?
6. Bgaimana potensi geologi daerah telitian ?

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk pemetaan geologi pada daerah
Pemalang.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengintepretasikan keadaan geologi


dalam bentuk analisis geomorfologi, stratigrafi, dan struktur yang disajikan dalam
bentuk peta, profil, penampang terukur, dan analisis laboratorium berupa analisis
petrografi, fosil, kalsimetri di dalam laporan pemetaan geologi.

1.4 Keluaran

Keluaran yang di harapkan pada pemetaan geologi ini adalah laporan geologi
daerah Pemalang dan sekitarnya, dimana mencakup :

1. Peta geologi daerah Pemalang

2. Peta geomorfologi daerah Pemalang

3. Peta pola pengaliran daerah Pemalang

4. Potensi geologi daerah Pemalang

5. Peta lintasan di daerah Pemalang

1.5 Daerah Telitian

1.5.1 Infomasi Geografis Daerah Telitian

Daerah telitian berada di Kecamatan Bantar Bolang, Kecamatan Ampel


Gading, dan Kecamatan Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Total Kelurahan
daerah terlitian sebagai berikut :

2
Kelurahan Banjarsari Kelurahan Pedagung
Kelurahan Bantarbolang Kelurahan Pegiringan
Kelurahan Glandang Kelurahan Purana
Kelurahan Karanganyar Kelurahan Sambeng
Kelurahan Kebon Gede Kelurahan Sarwodadi
Kelurahan Kuta Kelurahan Sumurkidang
Kelurahan Lenggerong Kelurahan Suru
Kelurahan Pabuaran Kelurahan Wanarata
Kelurahan Paguyangan

Gambar 1.1 Batas administratif kecamatan Bantarbolang

Tabel 1.1 Koordinat Kavling 10

No. Koordinat No Koordinat

X: 324550 X: 328450
1. 2.
Y: 9226800 Y: 9226800

X: 324550 X: 328450
3. 4.
Y: 9222200 Y: 9222200

3
Gambar 1.2 Kecamatan Bantarbolang dari google maps

1.5.2 Lokasi Daerah Telitian

Lokasi kegiatan pemetaan geologi ini masuk kedalam kavling 10, yang secara
administratif terletak di Kecamatan Bantarbolang, Kecamatan Pemalang,
Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah dengan
luas daerah 5x5 km2.

Gambar 1.3 Peta topografi kavling 10 skala 1 : 12.500

4
Gambar 1.4 Kavling 10 melalui google earth

1.5.3 Kesampaian Daerah

Lokasi penelitian memiliki jarak 224 km dari kampus UPN Veteran


Yogyakarta. Perjalanan menggunakan bus dari kampus menuju Kecamatan
Bantarbolang dengan waktu 5 jam.

Gambar 1.5 Rute pejalanan menuju daerah telitian

5
1.6 Manfaat Penelitiaan

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :


1. Peneliti :
- Menambah ilmu dan pengetahuan tentang geologi
- Sebagai sarana mengasah kemampuan dalam mengaplikasikan ilmu
geologi yang didapat
2. Masyarakat :
- Mengenal kondisi dan aspek geologi di daerah telitian
- Sebagai evaluasi dan sarana informasi untuk pembangunan yang baik
infrastuktur maupun wisata.
3. Institusi :
- Menambah koleksi perpustakaan UPN Veteran Yogyakarta, khususnya
Program Studi Teknik Geologi.
- Mengenalkan kampus UPN Veteran Yogyakarta, khususnya Program
Studi Teknik Geologi kepada masyarakat.
4. Pemerintahan :
- Memberikan informasi geologi daerah telitian sehingga dapat dipergunakan
dalam perencanaan pembangunan / pengembangan wilayah.

6
BAB II

METODE DAN TAHAPAN PENELITIAN

2.1 Tahap Pra-Pemetaan

Pada tahap ini, pemetaan di lakukan secara studio, studi pustaka, persiapan
peralatan, field check, analisi lapangan jarak jauh (citra lansat). Dimana tahap-
tahapan pra-pemetaan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Diagram alir tahap pra-pemetaan

Pada tahap ini merupakan tahap sebelum dilakukan pemetaan kedaerah


telitian. Tahap ini meliputi studi pustaka, interpretasi dari peta geologi,
geomorfologi, peta pola pengaliran, serta peta lintasan.

1. Studi Pustaka
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan data yang
berkaitan dengan daerah penelitian yang bersumber dari literatur, paper maupun
hasil kegiatan peneliti terdahulu. Data yang diperoleh dapat berupa stratigrafi
regional daerah penelitian, fisiografi daerah penelitian, struktur geologi reginal
daerah penelitian dan peta topografi daerah penelitian.
2. Interpretasi Peta
Kegiatan dilakukan untuk memperkirakan kondisi di lapangan dengan cara
membuat interpretasi peta geomorfologi, kelurusan pada daerah penelitian, peta
pola pengaliran dan peta geologi. Interpretasi ini dilakukan dengan menggunakan
peta topografi daerah penelitian. Interpretasi didasarkan pada kaedah-kaedah yang
berlaku, seperti lereng, sungai dan kerapatan kontur pada peta topografi. Pada

7
interpretasi peta geomorfologi, akan didapatkan bentuklahan (berdasarkan Van
Zuidam) yang terdapat pada daerah penelitian. Interpretasi kelurusan akan
didapatkan perkiraan kemenurusan sesar. Sedangkan interpretasi peta pola
pengaliran akan didapatkan bentuk pola pengaliran pada daerah penelitian.
Interpretasi peta geologi, akan didapatkan perkiraan formasi yang akan dijumpai
pada saat kegiatan berlangsung.
3. Perencanaan Lintasan
Kegiatan ini bertujuan untuk menentukan jalur yang akan dilalui selama
kegiatan berlangsung. Perencaan lintasan sangat penting karena menentukan data
lapangan yang akan didapatkan. Lintasan sebaiknya dibuat tegak lurus jurus
perlapisan sehingga akan didapatkan varian litologi yang beragam dari tua hingga
muda.

2.2 Tahap Pemetaan

Gambar 2.2 Diagram alir tahap pemetaan

Pada tahap ini merupakan tahapan yang dilakukan di lapangan untuk


mengambil data stratigrafi (litologi, singkapan, satuan batuan, MS dan batas antar
satuan batuan serta kontak formasi), data struktur geologi (kekar, sesar, lipatan
dan kedudukan lapisan), sampel untuk analisa laboratorium, data geomorfologi
dan data dokumentasi (foto bentang alam, foto singkapan, foto sampel)

8
2.3 Tahan Pasca-Pemetaan

Gambar 2.3 Diagram alir tahap pasca-pemetaan

Pada tahapan ini, merupakan tahapan terakhir yang dilakukan dalam


pemetaan lapangan daerah telitian, dimana pada tahap ini sudah didapatkan
data-data lapangan dan analisa laboratorium, peta geologi, geomorfologi,
lintasan, yang kemudian disatukan dan disajikan dalam bentuk laporan hasil
dari pemetaan geologi daerah telitian. Data analisa laboratorium berupa data
sampel batuan, fosil, dan granulometri daerah telitian.

- Analisis Petrografi
Analisis petrografi bertujuan untuk mengetahui komposisi material
penyusun batuan dan nama batuan secara teliti dan akurat. Analisis ini
dilakukan dengan membuat sayatan tipis batuan dan diamati dibawah
mikroskop, kemudian menentukan komposisi material penyusun batuan lalu
menamai batuan sesuai komposisi yang didapatkan dari analisis berdasarkan
klasifikasi Williams (1954), Gilbert (1975) dan lain-lain.
- Analisis Mikropaleontologi
Analisis mikropaleontologi bertujuan untuk mengetahui kandungan fosil
pada batuan dan mengetahui umur relatif batuan berdasarkan kandungan fosil
dan lingkungan batimetri.

9
- Analisis Sedimentologi dan Stratigrafi
Analisis sedimentologi dan stratigrafi bertujuan untuk mengetahui
mekanisme pengendapan dan kandungan karbonat pada batuan sedimen.
Selain itu, juga untuk mengetahui urutan satuan batuan.
- Analisis Struktur Geologi
Analisis struktur geologi bertujuan untuk mengetahui arah umum kekar
dan sesar, pergerakan sesar, jenis sesar, jenis lipatan dan rekronstruksi lipatan
berdasarkan Rickard (1972).

2.4 Alat dan Bahan

1. Peta daerah telitian (Peta geologi, geomorfologi, lintasan)


2. GPS
3. Palu Geologi
4. Kompas
5. Meteran
6. Protaktor
7. Komparator batuan beku, sedimen, dan foto
8. Kamera
9. Loupe
10. Plastik sampel dan peta
11. HCL
12. Buku Lapangan
13. Peralatan Tulis

10
BAB III
HASIL KAJIAN PUSTAKA

3.1 Stratigrafi

Stratigrafi dalam arti luas artinya suatu ilmu yang mempelajari tentang
lapisan-lapisan batuan serta hubungan lapisan batuan itu dengan lapisan batuan
yang lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang sejarah
bumi.
Stratigrafi dalam arti luas adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan dan
kejadian (genesa) macam-macam batuan di alam dalam ruang dan waktu
sedangkan dalam arti sempit ialah ilmu pemerian lapisan-lapisan batuan.
Penggolongan Stratigrafi ialah pengelompokkan bersistem batuan menurut
berbagai cara, untuk mempermudah pemerian, aturan dan hubungan batuan yang
satu terhadap lainnya. Kelompok bersistem tersebut di atas dikenal sebagai Satuan
Stratigrafi (SSI, 1996).
Dalam penamaan Satuan Stratigrafi, terdapat aturan resmi dan tak resmi.
Dalam Sandi diakui nama resmi dan tak resmi. Aturan pemakaian satuan resmi
dan tak resmi masing-masing satuan stratigrafi, menganut batasan satuan yang
bersangkutan. Penamaan satuan tak resmi hendaknya jangan mengacaukan yang
resmi. Satuan Litostratigrafi Resmi ialah satuan satuan yang memenuhi
persyaratan Sandi, sedangkan Satuan Litostratigrafi Tak Resmi ialah satuan yang
tidak seluruhnya memenuhi persyaratan Sandi. Persyaratannya adalah Satuan tak
resmi sedapat-dapatnya harus bersendi kepada ciri litologi. Bila ciri litologi tak
dipergunakan, maka ciri-ciri yang didapat dengan cara mekanik, geofisika,
geokimia atau penelitian lainnya, dapat pula dipakai sebagai sendi satuan tak
resmi (SSI, 1996).

3.2 Petrologi

Endapan sedimen (sedimentary deposit) adalah tubuh material padat yang


terakumulasi di permukaan bumi atau di dekat permukaan bumi, pada kondisi
tekanan dan temperatur yang rendah. Sedimen umumnya (namun tidak selalu)
diendapkan dari fluida dimana material penyusun sedimen itu sebelumnya berada,
baik sebagai larutan maupun sebagai suspensi. Definisi ini sebenarnya tidak dapat

11
diterapkan untuk semua jenis batuan sedimen karena ada beberapa jenis endapan
yang telah disepakati oleh para ahli sebagai endapan sedimen: (1) diendapkan dari
udara sebagai benda padat di bawah temperatur yang relatif tinggi, misalnya
material fragmental yang dilepaskan dari gunungapi; (2) diendapkan di bawah
tekanan yang relatif tinggi, misalnya endapan lantai laut-dalam.
Jenis batuan sedimen ditentukan oleh proporsi relatif dari material
penyusunnya. Batuan yang terutama disusun oleh material hasil rombakan batuan
tua dimasukkan ke dalam golongan batuan sedimen klastika. Contohnya adalah
konglomerat, batupasir, dan batulempung. Batuan sedimen yang terutama disusun
oleh material padat yang berasal dari larutan dimasukkan ke dalam kategori
batuan sedimen kimia atau biokimia. Contohnya adalah batugamping, dolomit,
evaporit, batubesi, fosforit, rijang, dan berbagai jenis batuan silikaan.
Batuan sedimen berbeda dengan batuan beku karena batuan sedimen
memiliki komposisi yang lebih bervariasi, meskipun ada beberapa diantaranya
yang memiliki komposisi sangat sederhana. Konsentrasi unsur-unsur kimia di
kerak bumi terutama ditemukan dalam batuan sedimen. Sebagian konsentrat itu
merupakan produk pembersihan dan penggabungan residu pelapukan batuan tua,
misalnya saja pasir kuarsa yang dapat mengandung silika > 99%. Sebagian lain
merupakan produk proses-proses kimia dan biokimia selektif, jika kondisinya
memungkinkan. Contohnya adalah batugamping kalsium-tinggi (mengandung
CaCO3 > 99%), garam batu, dan gipsum. Tidak ada batuan beku yang memiliki
karakter seperti batuan-batuan yang disebut terakhir ini.

3.3 Struktur Geologi

Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari


tentang bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi.
Adapun deformasi batuan adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan
sebagai akibat dari gaya yang bekerja di dalam bumi. Secara umum
pengertian geologi struktur adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk
arsitektur batuan sebagai bagian dari kerak bumi serta menjelaskan proses
pembentukannya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa geologi struktur
lebih ditekankan pada studi mengenai unsurunsur struktur geologi, seperti
perlipatan (fold), rekahan (fracture), patahan (fault), dan sebagainya yang

12
merupakan bagian dari satuan tektonik (tectonic unit), sedangkan tektonik
dan geotektonik dianggap sebagai suatu studi dengan skala yang lebih besar,
yang mempelajari obyek-obyek geologi seperti cekungan sedimentasi,
rangkaian pegunungan, lantai samudera, dan sebagainya.
Sebagaimana diketahui bahwa batuan-batuan yang tersingkap dimuka bumi
maupun yang terekam melalui hasil pengukuran geofisika memperlihatkan bentuk
bentuk arsitektur yang bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Bentuk
arsitektur susunan batuan di suatu wilayah pada umumnya merupakan batuan-
batuan yang telah mengalami deformasi sebagai akibat gaya yang bekerja pada
batuan tersebut. Deformasi pada batuan dapat berbentuk lipatan maupun
patahan/sesar. Dalam ilmu geologi struktur dikenal berbagai bentuk perlipatan
batuan, seperti sinklin dan antiklin. Jenis perlipatan dapat berupa lipatan simetri,
asimetri, serta lipatan rebah (recumbent/overtune), sedangkan jenis-jenis patahan
adalah patahan normal (normal fault), patahan mendatar (strike slip fault), dan
patahan naik (trustfault).
Kekar adalah struktur retakan/rekahan terbentuk pada batuan akibat suatu
gaya yang bekerja pada batuan tersebut dan belum mengalami pergeseran. Secara
umum dicirikan oleh: a). Pemotongan bidang perlapisan batuan; b). Biasanya
terisi mineral lain (mineralisasi) seperti kalsit, kuarsa dsb; c) kenampakan
breksiasi. Struktur kekar dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan karakter
retakan/rekahan serta arah gaya yang bekerja pada batuan tersebut.
Kekar yang umumnya dijumpai pada batuan adalah sebagai berikut:
1. Shear Joint (Kekar Gerus) adalah retakan/rekahan yang membentuk pola saling
berpotongan membentuk sudut lancip dengan arah gaya utama. Kekar jenis shear
joint umumnya bersifat tertutup.
2. Tension Joint adalah retakan/rekahan yang berpola sejajar dengan arah gaya
utama, Umumnya bentuk rekahan bersifat terbuka.
3. Extension Joint (Release Joint) adalah retakan/rekahan yang berpola tegak lurus
dengan arah gaya utama dan bentuk rekahan umumnya terbuka.
Lipatan adalah deformasi lapisan batuan yang terjadi akibat dari gaya tegasan
sehingga batuan bergerak dari kedudukan semula membentuk lengkungan.
Berdasarkan bentuk lengkungannya lipatan dapat dibagi dua, yaitu a). Lipatan
Sinklin adalah bentuk lipatan yang cekung ke arah atas, sedangkan lipatan antiklin
adalah lipatan yang cembung ke arah atas.

13
Patahan / sesar adalah struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran.
Umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan, rekahan dsb. Adapun di
lapangan indikasi suatu sesar / patahan dapat dikenal melalui : a) Gawir sesar atau
bidang sesar; b). Breksiasi, gouge, milonit, ; c). Deretan mata air; d). Sumber air
panas; e). Penyimpangan / pergeseran kedudukan lapisan; f) Gejala-gejala struktur
minor seperti: cermin sesar, gores garis, lipatan dsb.
Sesar dapat dibagi kedalam beberapa jenis/tipe tergantung pada arah relatif
pergeserannya. Selama patahan/sesar dianggap sebagai suatu bidang datar, maka
konsep jurus dan kemiringan juga dapat dipakai, dengan demikian jurus dan
kemiringan dari suatu bidang sesar dapat diukur dan ditentukan.

3.4 Fisografi Regional

Wilayah Jawa Tengah secara fisiografi menurut (Van Bemmelen, 1949)


dibagi menjadi 5 (lima), yaitu:
Dataran Pantai Utara Jawa.
Jalur Pegunungan Serayu Utara.
Jajaran Gunung api Kuarter.
Jalur Pegunungan Serayu Selatan.
Jalur Pegunungan Selatan.
Secara regional daerah penelitian termasuk dalam Jalur pegunungan
Serayu Selatan. Cekungan Serayu Selatan dan Serayu Utara saat ini terpisah
oleh basement high Karangsambung yang membentang dengan pola arah
BaratdayaTimurlaut pada pulau jawa. Diantara Serayu Utara dan Serayu
Selatan, terdapat zona depresi yang disebut sebagai Zona Serayu, dimana
zona ini dapat ditemukan di daerah Majenang, Ajibarang, Purwokerto,
Banjarnegara dan Wonosobo (Van Bemmelen, 1949). Struktur Geologi yang
terjadi pada Cekungan Serayu Selatan adalah adanya Thrust Fault yang
berprogradasi ke arah selatan, deformasi ini terjadi pada kala Pliosen
Plistosen. Berdasarkan aspek struktur dan stratigrafi, dibagi menjadi empat
zona tektonostratigrafi, dari selatan ke utara: (1) Zona Pegunungan Selatan
(Southern Mountain Zone), (2) Busur Vulkanik masa kini (Present-day
Volcanic Arc), (3) Zona Kendeng (Kendeng Zone), dan (4) Zona Rembang
(Rembang Zone). Pembagian ini menganggap Pegunungan Serayu Selatan

14
(South Serayu Mountain) (Van Bemmelen, 1949) sebagai bagian dari Zona
Pegunungan Selatan. Zona ini merupakan busur vulkanik Eosen-Miosen yang
endapannya terdiri dari batuanbatuan siliklastik, vulkaniklastik, vulkanik
dan karbonat dengan kedudukan umum perlapisannya miring ke selatan.
Secara Fisiografi menurut Asikin (1992), bagian utara Lembar termasuk
dalam Lajur Serayu Selatan, dan bagian Lekukan Tengah. Daerah ini
merupakan pemisahan Lajur Pegunungan Selatan di Jawa Barat dan Jawa
Timur. Di Lembar ini dijumpai aliran sungai yang bersifat konsukuen ,
subsukuen dan obsekuen. Contoh pada aliran konsukuen adalah K.Rebug,
K.Karanganyar. Yang subsekuen adalah K.Gebang dan K.Kedungjati
sedangkan anak-anak sungai K.Gebang yang mengalir ke utara merupakan
contoh aliran obsekuen.

3.5 Struktur Geologi Regional

Secara struktur geologi regional, Pulau Jawa memiliki tiga pola


struktur (Pulunggono dan Martodjojo, 1994) yaitu : (1) Arah Meratus
(baratdaya-timurlaut), (2) Arah Sunda (utara-selatan) dan (3) Arah Jawa
(barat-timur). Penafsiran data gayaberat (Untung,1974; 1977; Untung dan
Wiriosudarmo, 1975; Untung dan Hasegawa, 1975; Untung dan Sato, 1978)
menyimpulkan bahwa terdapat arah lain di luar ketiga arah ini, yaitu Arah
Sumatra (baratlaut-tenggara).

Umur pembentukan keempat arah struktur ini dari tua ke muda adalah
berturut-turut : Arah Meratus (KapurAkhir) yang segera disusul Arah
Sumatra (Kapur Akhir-Paleosen), Arah Sunda (Eosen-Oligosen Akhir), dan
Arah Jawa (sejak Miosen Awal). Struktur-struktur Arah Meratus, Sumatra,
dan Sunda umumnya berupa sesar normal dan sesar mendatar; sedangkan
struktur Arah Jawa berupa jalur lipatan dan sesar naik.

Terdapat dua sesar mendatar yang berukuran regional yang mengapit


Jawa Tengah, dimana di beberapa bagian di sepanjang jalurnya mempunyai
sifat sesar naik maupun sesar normal. Kedua sesar mendatar ini masing-
masing disebut sebagai Sesar Mendatar Dekstral Pamanukan-Cilacap dan
Sesar Mendatar Sinistral Muria-Kebumen. Kedua sesar saling berlawanan

15
arah, membuka di lekukan utara Jawa Tengah dan saling mendekat dan
mungkin akhirnya berpotongan di bagian tengah lekukan selatan Jawa
Tengah.

Gambar 3.1 Peta Regional Jawa memperlihatkan pola struktur, dua sesar mendatar regional
pengapit lekukan struktur Jawa Tengah dan implikasinya (Satyana dan Purwaningsih, 2002).

Gambar 3.2 Peta regional Indonesia Barat memperlihatkan tektonik Jawa Tengah, dua sesar
mendatar (Satyana dan Purwaningsih, 2002).

16
Struktur geologi di daerah Pemalang dan sekitarnya yang dijumpai cukup
kompleks, yaitu berupa sesar, lipatan, kelurusan, yang melibatkan batuan
berumur Oligo-Miosen hingga barat-timur berupa sesar naik, dan sesar turun
yang berarah timur laut- barat daya. Sedangkan struktur sinklin dijumpai
dengan sumbu berarah barat laut tenggara. Kekar umumnya dijumpai dan
berkembang baik pada batuan Tersier dan Plistosen.

3.6 Stratigrafi Regional Cekungan Serayu Utara

Daerah Pemalang ini secara fisiografi terletak pada perbukitan bergelombang


kuat yang merupakan bagian dari Antiklinorium Bogor-Kendeng. Berdasarkan
Peta Geologi Lembar Majenang yang disusun oleh Kastowo dan N.Suwarna
(1996), stratigrafi daerah tersebut dan sekitarnya terdiri dari beberapa satuan
batuan, yaitu :
1. Formasi Pemali, terdiri atas serpihan, lempung, batupasir kuarsa, napal, dan
batu gamping dengan kandungan fosil Spirolypeus sp, sehingga menafsirkan
berumur Miosen bawah. Sedangkan Formasi Pemali bagian atas yang
mengandung fosil Cyclolypeus annusatus Martin, Lepidocycylina sp, dan
Miogypsina sp. Ditafsirkan berumur Miosen Tengah dan bagian atas dari
Miosen bawah. Ketebalan dari lapisan ini berkisar 500-1.200 meter untuk
bagian timur dari Jalur Bogor.
2. Formasi Rambatan, terletak selaras diatas Formasi Pemali. Di lembar
Majenang, Formasi Rambatna bagian bawah berupa batupasir gampingan,
berwarna abu-abu muda - jingga kebiruan, konglomerat dengan sisipan napal
dan serpih. Bagian atasnya terdiri dari napal abu-abu tua, lempung serpihan,
dan batupasir gampingan. Ketebalan formasi ini mencapai 300 meter.
Berdasarkan kandungan fosil foraminifera, maka umur Formasi ini adalah
Miosen Tengah (Marks,1961)
3. Formasi Halang, tersusun oleh endapan turbidit yang terdiri dari perselingan
batupasir, batulempung, napal, dan tuff dengan sisipan breksi. Struktur penciri
endapan turbidit ini adalah adanya lapisan bersusun, convolute, load cast, flute
cast, kepingan batulempung dan material vulkanik. Formasi ini mempunyai
umur Miosen-Pliosen

17
4. Formasi Kumbang menutup Formasi Halang secara tidak selaras
(Kastowo,1975). Litologinya terdiri atas breksi gunung api andesit, pejal, dan
tidak berlapis, termasuk aliran lava, tufa berwarna abu-abu dan batupasir
tufaan, konglomerat bersisipan lapisan magnetit. Breksi terpropilitisasi terdapat
didaerah yang sempit. Ketebalan formasi ini seluruhnya mencapai 2.000 meter.
Berdasarkan kedudukan stratigrafinya, umur formasi ini adalah Pliosen Bawah
(Hetzal, 1935 dan Kastowo, 1975). Sedangkan Van Bemmelen (1949)
menyebutkan bahwa umur formasi ini adalah Miosen Atas.
5. Formasi Tapak, terletak selaras di atas formasi Kumbang. Bagian bawah terdiri
atas batupasir kasar kehijauan, ke arah atas berangsur-angsur berubah menjadi
batupasir kehijauan dengan sisipan napalpasiran berwarna abu-abu sampai
kekuning-kuningan, batu gamping terletak di bagian atas. Ketebalan
maksimum formasi ini sampai 500 meter. Umur formasi ini adalah Pliosen
Tengah bagian bawah (Hetzel. 1935 dan Kastowo, 1975). Dan diendapkan
pada lingkungan laut neritik.
6. Formasi Kalibiuk, bagian bawah berupa batulempung dan napal biru fosilan,
bagian tengah mengandung lensa-lensa batupasir hijau dengan moluska
yang melimpah, sedangkan di bagian atas terlihat banyak sisipan tipis
batupasir. Lingkungan pengendapan diduga pasang surut. Umur formasi ini
Pliosen Awal sampai awal Pliosen Akhir dengan ketebalan mencapai 2.500
meter.
7. Formasi Kaligagah, bagian atas formasi ini terdiri dari batupasir kasar dan
konglomerat yang mengandung moluska air tawar dan mamalia, serta
batulempung dan napal yang makin berkurang kea rah atas. Bagian bawah
tersusun oleh batulempung hitam, napal hijau, batupasir bersusun andesit dan
konglomerat. Lingkungan pengendapan diperkirakan daratan laut dangkal
dengan ketebalan mencapai 350 meter serta berumur Pliosen akhir. Formasi ini
menumpang selaras di atas formasi Kalibiuk dan tertindih selaras formasi
Mengger.
8. Formasi Mengger, formasi ini tersusun atas tuf kelabu muda, batupasir tufan,
sisipan konglomerat, serta lapisan tipis pasir megnetit. Lingkungan
pengendapan darat dengan ketebalan 150 meter. Formasi ini berumur Pliosen
dengan kedudukan menindih selaras di atas formasi Kaligagah dan ditindih
selaras formasi GIntung.

18
9. Formasi Gintung, tersusun oleh perselingan konglomerat bersusun andesit
dengan batupasir kelabu kehijauan, batulempung pasiran dan batulempung.
Puncak batupasir gampingan dan napalan yang memperlihatkan pengarahan
terdapat di dalam lapisan batulempung pasiran dan batulempung. Umur
formasi ini Pliosen Tengah Akhir, lingkungan pengendapan darat sampai
peralihan dan ketebalan 800 meter dengan kedudukan menindih selaras di atas
formasi Mengger.
10. Endapan Lahar Slamet, endapan ini berupa lahar dengan beberapa lapisan
lava di bagian bawah. Kondisi setengah mengeras membentuk topografi
hamper rata dengan punggungan tajam sepanjang tepi sungai.
11. Endapan Alluvial, berupa kerikil, pasir, dan lempung yang berwarna kelabu.
Terendapkan sepanjang dataran banjir sungai-sungai besar, dengan tebal
kurang dari 5 meter.

Gambar 3.3 Kolom Stratigrafi Cekungan Serayu Utara (Astuti, 2012).

19
Gambar 3.4 Kolom Stratigrafi Daerah Telitian (Djuki, dkk, 1996).

Gambar 3.5 Kolom Stratigrafi Serayu Utara (Van Bemmelen, 1949)

20
BAB IV

HASIL ANALISA BENTANG ALAM

4.1 Pola Pengaliran Daerah Telitian

Gambar 4.1 Peta Pola Pengaliran Kavling 10

Tabel 4.1 Pemerian Pola Pengaliran Kavling 10

Pola Pengaliran dari daerah telitian merupakan pola pengaliran sub-


dendritik. Pola pengaliran sub-dendritik merupakan pola pengaliran ubahan
dari pola pengaliran dendritik. Pola ini terubahkan akibat adanya pengaruh
struktur yang bekerja di daerah tersebut. Hal ini disebabkan oleh proses
pengerosian secara lateral lebih lebih dominan daripada proses pengerosian

21
vertikal pada sungai besar (Sungai Comal) sehingga mempunyai bentukan
lembah sungai U.

4.2 Geomorfologi Daerah Telitian

Gambar 4.3 Peta Geomorfologi Kavling 10

22
Tabel 4.2 Pemerian Geomorfologi Kavling 10

4.2.1 Dasar Pembagian Bentuk Lahan


Perkembangan muka bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
proses, struktur dan tahapan. Proses yang mempengaruhi bentuk morfologi
adalah proses endogen dan proses eksogen. Proses endogen merupakan
proses yang disebabkan oleh tenaga yang ada di dalam bumi dan bersifat
konstruktif, seperti perlipatan dan pengangkatan. Proses eksogen
merupakan proses yang bersifat destruktif seperti pelapukan dan erosi.
Aspek-aspek geomorfologi (Van Zuidam, 1983) meliputi :
1. Aspek morfologi, mempelajari relief secara umum.
Morfografi, adalah susunan dari obyek alami yang ada
dipermukaan bumi, seperti bukit, lembah, gunung dan lain-lain.
Morfometri, adalah aspek kuantitatif dari suatu aspek bentuk lahan,
antara lain kelerengan, ketinggian, beda tinggi, pola pengaliran dan
lain-lain.
2. Aspek morfogenesa, mempelajari asal-usul pembentukan dan
perkembangan bentuklahan serta proses-proses geomorfologi yang
terjadi. Aspek ini mencakup :

23
Morfostruktur aktif, berhubungan dengan tenaga endogen seperti
perlipatan, pensesaran dan pengangkatan.
Morfostruktur pasif, klasifikasi bentuklahan berdasarkan tipe
batuan (resistensi batuan dan pelapukan).
Morfodinamis, berhubungan dengan tenaga eksogen seperti proses
air, fluvial, gumuk pasir dan lain-lain.

4.2.2 Geomorfologi Daerah Penelitian

Titik tertinggi daerah penelitian berada pada Desa Sarwodadi dan


titik terendah terletak pada Sungai Comal. Bentang alam daerah penelitian
terdiri dari perbukitan, dataran dan lereng.

Satuan geomorfologi daerah penelitian menggunakan modifikasi


klasifikasi Van Zuidam (1983). Pembagian satuan geomorfologi
memperhatikan aspek-aspek geomorfologi. Daerah penelitian dapat dibagi
menjadi tiga bentuk asal dan tujuh bentuk lahan.

4.2.2.1 Bentuk Asal Struktural

4.2.2.1.1 Bentuk lahan Perbukitan Antiklin (S1)

Bentuklahan ini merupakan bentuk asal struktural dengan


aspek morfometri bentuk lahan memiliki perbedaan elevasi 12 m
hingga 32 m. Pola pengaliran subdendritik dengan bentuk lembah
U-V. Bentuklahan ini dipengaruhi oleh morfostruktur aktif berupa
lipatan. Morfostruktur pasif pada bentuk lahan ini berupa batuan
sedimen dengan resistensi lemah (batulempung) - sedang
(batupasir). Morfodinamis dipengaruhi oleh erosi dan pelapukan.
Luasan pada peta adalah 27%.

4.2.2.1.2 Bentuk lahan Perbukitan Homoklin (S2)

Bentuklahan ini merupakan bentuk asal struktural dengan aspek


morfometri bentuk lahan memiliki perbedaan elevasi 6 m hingga
20 m. Pola pengaliran sub-dendritik dengan bentuk lembah U-V.
Bentuklahan ini dipengaruhi oleh morfostruktur aktif berupa

24
pengangkatan. Morfostruktur pasif pada bentuk lahan ini berupa
batuan sedimen dengan resistensi lemah (batulempung) - sedang
(batupasir). Morfodinamis dipengaruhi oleh erosi dan pelapukan.
Luasan pada peta adalah 18%.

4.2.2.1.3 Bentuk lahan Lembah Homoklin (S3)

Bentuklahan ini merupakan bentuk asal struktural dengan aspek


morfometri bentuk lahan memiliki perbedaan elevasi 5 m hingga 1
m. Pola pengaliran sub-dendritik dengan bentuk lembah U-V.
Bentuklahan ini dipengaruhi oleh morfostruktur aktif berupa
pengangkatan. Morfostruktur pasif pada bentuk lahan ini berupa
batuan sedimen dengan resistensi lemah (batulempung) - sedang
(batupasir). Morfodinamis dipengaruhi oleh erosi dan pelapukan.
Luasan pada peta adalah 3%.

4.2.2.2 Bentuk Asal Denudasional

4.2.2.2.1 Bentuklahan Dataran Denudasional (D1)

Bentuklahan ini merupakan bentuk asal denudasional dengan


aspek morfometri bentuk lahan memiliki perbedaan elevasi <5 m.
Pola pengaliran subdendritik dengan bentuk lembah U-V. Bentuk
lahan ini dipengaruhi oleh morfostruktur aktif berupa pelapukan.
Morfostruktur pasif pada bentuklahan ini berupa batuan sedimen
dengan resistensi lemah (batulempung) tinggi (konglomerat).
Morfodinamis dipengaruhi oleh erosi dan pelapukan. Luasan pada
peta adalah 37%.

4.2.2.2.2 Bentuklahan Bukit Terisolir (D2)

Bentuklahan ini merupakan bentuk asal denudasional dengan


aspek morfometri bentuk lahan memiliki perbedaan elevasi 24 m.
Pola pengaliran subdendritik dengan bentuk lembah U-V. Bentuk
lahan ini dipengaruhi oleh morfostruktur aktif berupa pelapukan.
Morfostruktur pasif pada bentuk lahan ini berupa batuan sedimen
dengan resistensi lemah (batulempung) tinggi (konglomerat).

25
Morfodinamis dipengaruhi oleh erosi dan pelapukan. Luasan pada
peta adalah 5%

4.2.2.3 Bentuk Asal Fluvial

4.2.2.3.1 Bentuklahan Dataran Limpah Banjir (F7)

Bentuklahan ini merupakan bentuk asal fluvial dengan morfografi


dataran dengan kelerengan 0-2o. Pada aspek morfometri bentuk lahan
memiliki perbedaan elevasi <5 m. Pola pengaliran subdendritik
dengan bentuk lembah U-V. Bentuk lahan ini dipengaruhi oleh
morfostruktur aktif berupa pengikisan. Morfostruktur pasif pada
bentuk lahan ini berupa material lepas dari rombakan batuan yang
telah tertransport. Morfodinamis dipengaruhi oleh fluviatil berupa
erosi dan pengikisan. Luasan pada peta adalah 7%.

4.2.2.3.2 Bentuklahan Tubuh Sungai (F22)

Bentuklahan ini merupakan bentuk asal fluvial dengan aspek


morfometri bentuk lahan memiliki perbedaan elevasi <5 m. Pola
pengaliran subdendritik dengan bentuk lembah U-V. Bentuk lahan ini
dipengaruhi oleh morfostruktur aktif berupa pengikisan.
Morfostruktur pasif pada bentuk lahan ini berupa material lepas dari
rombakan batuan yang telah tertransport. Morfodinamis dipengaruhi
oleh fluviatil berupa erosi dan pengendapan. Luasan pada peta adalah
3%.

26
4.3 Statigrafi dan Geologi Daerah Telitian

Gambar 4.4 Peta Geologi Kavling 10

Tabel 4.3 Kolom statigrafi Geologi Kavling 10

27
Tabel 4.4 Kolom pemerian Geologi Kavling 10

Dalam penelitian ini, penyusunan urutan stratigrafi berdasarkan satuan


litostratigrafi mengacu pada Sandi Stratigrafi Indonesia (SSI) pada tahun
1996. Pada penelitian ini, satuan litostratigrafi yang digunakan adalah satuan
litostratigrafi tidak resmi (satuan batuan) dan satuan litostratigrafi resmi
(formasi).
Pada daerah penelitian, didapatkan empat satuan batuan yang
menyusun daerah penelitian. Dasar pembagian satuan batuan ialah jenis
batuan, struktur sedimen, tekstur, komposisi serta kandungan fosil. Untuk
memastikan komposisi batuan dilakukan analisa petrografi pada tiga conto
batuan di dua satuan batuan. Satuan batuan yang menyusun daerah penelitian
dari tua ke muda, yaitu :
a. Satuan Batulempung karbonatan Rambatan
b. Satuan Batupasir Halang
c. Satuan Endapan Undak
d. Satuan Endapan Teras Sungai
e. Satuan Endapan Alluvial

Penjelas dari tiap-tiap satuan batuan akan dibahas secara berurutan


dari satuan yang paling tua hingga satuan yang paling muda.

28
4.3.1 Satuan Rambatan

4.3.1.1 Ciri Litologi

Satuan batulempung karbonatan Rambatan dicirikan dengan


batulempung yang tebal dengan hadirnya sisipan batulanau karbonatan,
dan sisipan batupasir karbonatan.

Batulempung yang dijumpai memiliki karakteristik berwarna segar


abu abu, warna lapuk abu abu gelap, mempunyai ukuran lempung
(<1/256 mm), komposisi fragmen : - , matriks : mineral berukuran
lempung dan semen : karbonatan. Struktur sedimen yang dijumpai
adalah masif dan laminasi.

Batupasir karbonatan dengan warna segar abu-abu, warna lapuk


coklat gelap dengan ukuran butir pasir kasar-pasir sangat halus (1 - 1/64
mm), bentuk membundar-membundar tanggung, terpilah baik - buruk,
kemas tertutup, komposisi fragmen : kuarsa, matriks : kalsit, kuarsa,
hornblende dan semen : karbonat. Struktur sedimen yang di jumpai
masif , perlapisan, dan wavey lamination.

Batulanau karbonatan yang dijumpai memiliki karakteristik


berwarna segar krem, warna lapuk coklat muda, mempunyai ukuran
butir lanau (1/64 1/256 mm), komposisi mineral berukuran lempung
dan semen : karbonatan. Struktur sedimen yang dijumpai adalah masif
dan wavey lamination.

4.3.1.2 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan batulempung karbonatan Rambatan menempati 25% dari


luasan wilayah penelitian. Pada peta geologi, satuan ini diberi warna
hijau. Satuan ini tersingkap baik di desa Pabuaran, desa Sarwodadi,
desa Bantarbolang, desa Parunggalih dan desa Kebongede. Ketebalan
satuan berdasarkan penampang stratigrafi adalah 119,6 m.

4.3.1.3 Umur dan Lingkungan Batimetri

Umur satuan batuan ini berdasarkan dari kandungan fosil


foraminifera plankton dari jalur MS (LP 16) adalah N 8,5 N 13 yaitu

29
Kala Miosen awal - Miosen Tengah (menurut zonasi Blow, 1969),
dengan kandungan fosil sebagai berikut :

Grobolotalia foshilobata
Groborotalia archimenardi
Groborotalia mayeri
Globogerina venezuela
Globoquadrina dehiscens
Orbulina Universal
Globoquadrina altispira
Globorotalia Obesa

Berdasarkan kandungan fosil bentos pada jalur MS (LP 16),


didapatkan lingkungan batimetri Bathial Bawah, dengan rasio plankton
dan bentos 83,25 % dengan kedalaman 900 1200 m (menurut
Grimsdale dan Mark Hoven, 1955) , dengan kandungan fosil sebagai
berikut :

Dentalina subemaciata
Stilostomella bradyi
Cystammina pauciloculata
Textulariella barrette
Cyclammina orbicularis

4.3.1.4 Lingkungan Pengendapan dan Mekanisme Pengendapan

4.3.1.5 Hubungan Stratigrafi

Satuan batulempung-karbonatan Rambatan secara stratigrafis


merupakan satuan batuan tertua yang tersingkap pada daerah penelitian.
Berdasarkan data umur serta kedudukan lapisan batuan yang
didapatkan, hubungan satuan batulempung-karbonatan Rambatan
dengan satuan batuan di atasnya yaitu satuan batupasir Halang adalah
menjari, dimana pada penampang sayatan geologi terlihat menjarinya
kedua formasi tersebut.

30
4.3.2 Satuan Batupasir Halang

4.3.2.1 Ciri Litologi

Satuan batupasir Halang dicirikan dengan hadirnya batupasir,


batupasir karbonatan, batupasir tuffan, dengan sisipan batulempung
karbonatan, napal, tuff, konglomerat polimik dan batulanau karbonatan.

Batupasir yang dijumpai memiliki karakteristik berwarna segar


coklat, warna lapuk hitam, mempunyai ukuran butir pasir kasar - pasir
sedang (1 - 1/4 mm), bentuk butir membundar membundar tanggung,
terpilah buruk, kemas terbuka, komposisi fragmen : litik, hornblende,
matriks : litik, kuarsa, hornblende dan semen : silika. Struktur sedimen
yang dijumpai adalah masif dan perlapisan.

Batupasir karbonatan dengan warna segar abu-abu, warna lapuk


abu-abu kehitaman dengan ukuran butir pasir kasar-pasir halus (1 -
1/8mm), bentuk membundar-membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, komposisi fragmen : litik, hornblende, matriks : litik,
feldspar, kuarsa, kalsit, hornblende dan semen : karbonat , dengan
struktur sedimen perlapisan

Batupasir tuffan dengan warna segar abu-abu, warna lapuk abu-abu


kecoklatan dengan ukuran butir pasir sedang-pasir halus (1/2 - 1/8mm),
bentuk membundar, terpilah buruk, kemas terbuka, komposisi fragmen :
hornblende, matriks : litik, tuff, kuarsa, dan semen : silika, dengan
struktur sedimen perlapisan.

Batulempung karbonatan dengan warna segar abu-abu, warna lapuk


abu-abu gelap dengan ukuran butir lempung (<1/256mm), komposisi
monomineralik lempung dan semen karbonatan dengan struktur
sedimen berupa laminasi. Batulanau karbonatan dengan warna segar
abu-abu, warna lapuk abu-abu terang dengan ukuran butir lanau (1/16-
<1/256mm), komposisi mineral berukuran lanau dan semen karbonat
dengan struktur sedimen laminasi.

Napal dengan warna segar abu abu kebiruan, warna lapuk coklat
gelap, dengan ukuran butir lempung (<1/256 mm), komposisi fragmen

31
: -, matriks : mineral berukuran lempung, semen : karbonatan, dengan
struktur sedimen laminasi dan wavey lamination.

Tuff dengan warna segar putih, warna lapuk coklat dengan ukuran
butir debu kasar-debu halus, bentuk membundar, terpilah baik, kemas
tertutup, komposisi mineral sialis kuarsa, feldspar, mineral
ferromagnesian horblende, material tambahan litik dengan struktur
sedimen laminasi.

Konglomerat dengan warna segar coklat kekuningan, warna lapuk


coklat dengan ukuran butir kerakal-pasir sedang (64-1/4mm), bentuk
membundar, terpilah buruk, kemas terbuka, komposisi fragmen litik,
andesit, matriks litik, feldspar, piroksen dan semen silika.

Andesit yang dijumpai memiliki karakteristik berwarna segar abu


abu, berwarna lapuk coklat, hipokristalin, afanitik fenerik sedang,
subhedral anhedral, inequi-vitroverik, dengan komposisi mineral
masa dasar gelas (55%), plagioklas (30%), hornblende (10%), dan
kuarsa (5%), masif.

4.3.2.2 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan barupasir Halang menempati 60% dari luasan wilayah


penelitian. Pada peta geologi , satuan ini diberi warna kuning. Satuan
ini tersingkap baik di Desa Parunggalih, Desa Sarwodadi, Desa
Pabuaran, Desa Sokawati dan Desa Paguyangan.

4.3.2.3 Umur dan Lingkungan Batimetri

Umur satuan batuan ini berdasarkan dari kandungan fosil


foraminifera plankton dari LP 28 adalah N 14 N 19 yaitu Kala Miosen
Tengah Pliosen Awal (menurut zonasi Blow, 1969), dengan
kandungan fosil yang di rajuk dari beberapa anggota kelompok 10, di
antaranya Javier Jayastu Budiarto, dan Gibran Prasadana Sunardi
adalah sebagai berikut :

Globigerinoides immaturus
Sphaerodinelopsis subdehiscens

32
Globorotalia miocenica
Globogerina neperithes
Globigerina conglobatus
Globorotalia menardi
Globigerina riveroae

Berdasarkan kandungan fosil bentos pada LP 28 didapatkan


lingkungan batimetri Bathial Atas - Bawah, dengan rasio plankton dan
bentos 47,94 % dengan kedalaman 100 600 m (menurut Grimsdale
dan Mark Hoven, 1955) , dengan kandungan fosil yang di rajuk dari
anggota kelompok 10, Fadhila Darwan adalah sebagai berikut :

Globulina minta
Hyperammina elongata
Spirophtholmidium acutimango
Hyperammina friabuis
Globulina rotundata
Noduphthalmidium sp.

4.3.2.4 Lingkungan Pengendapan dan Mekanisme Pengendapan

4.3.2.5 Hubungan Stratigrafi

Satuan batupasir Halang secara stratigrafis merupakan formasi


tertua kedua yang tersingkap pada daerah penelitian. Hubungan
batupasir Halang endapan di atasnya yaitu Endapan Undak adalah tidak
selaras.

4.3.3 Satuan Endapan Undak

4.3.3.1 Ciri Litologi

Satuan Endapan Undak dicirikan dengan hadirnya batupasir tuffan,


batupasir, tuff, dan konglomerat.

4.3.3.2 Penyebaran dan Ketebalan

33
Satuan Endapan Undak menempati 10% dari luasan wilayah
penelitian. Pada peta geologi , satuan ini diberi warna coklat muda.
Satuan ini tersingkap setempat di Desa Paguyangan.

4.3.3.3 Umur

Endapan ini diperkirakan berumur Pleistosen Recent, akibat dari


letusan gunung api Linggopodo.

4.3.3.4 Hubungan Stratigrafi

Satuan Endapan Undak secara stratigrafis merupakan endapan yang


paling tua yang tersingkap pada daerah penelitian. Hubungan Endapan
Undak dengan satuan batupasir Halang adalah tidak selaras.

4.3.4 Satuan Endapan Teras Sungai

4.3.4.1 Ciri Litologi

Satuan Endapan Teras Sungai dicirikan dengan hadirnya batupasir


dan konglomerat.

Batupasir karbonatan yang dijumpai memiliki karakteristik


berwarna segar coklat, warna lapuk hitam, mempunyai ukuran butir
pasir kasar halus (1 - 1/16 mm), bentuk butir membundar
membundar tanggung, terpilah baik, kemas tertutup, komposisi fragmen
: -, matriks : litik, kuarsa, semen : silika, . Struktur sedimen yang
dijumpai adalah perlapisan.

Konglomerat dengan warna segar coklat, warna lapuk abu abu


dengan ukuran butir kerakal pasir sedang (64-1/8 mm), bentuk
membundar membundar tanggung, terpilah buruk, kemas terbuka,
komposisi fragmen : andesit, litik, matriks : litik, feldspar, kuarsa dan
semen : -, dimana sudah berupa semi consolidated

Andesit yang dijumpai memiliki karakteristik berwarna segar abu


abu, berwarna lapuk coklat, hipokristalin, afanitik fenerik sedang,
subhedral anhedral, inequi-vitroverik, dengan komposisi mineral
masa dasar gelas (50%), plagioklas (30%), hernblende (15%), dan
kuarsa (5%), masif.

34
4.3.4.2 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan Endapan Teras Sungai menempati 1% dari luasan wilayah


penelitian. Pada peta geologi , satuan ini diberi warna coklat tua. Satuan
ini tersingkap setempat di Desa Paguyangan, Desa Kebon Gede, dan
Desa Parunggalih

4.3.4.3 Umur

Endapan ini berumur Recent, akibat dari sisa-sisa material-material


sungai tua yang pernah melalui daerah tersebut.

4.3.4.4 Hubungan Stratigrafi

Satuan Endapan Teras Sungai secara stratigrafis merupakan


endapan yang berada di tengah-tengah termuda dan tertua yang
tersingkap pada daerah penelitian. Hubungan Endapan Teras Sungai
dengan satuan batupasir Halang dan satuan batulempung karbonatan
Rambatan adalah tidak selaras.

4.3.5 Satuan Endapan Aluvial

4.3.5.1 Ciri Litologi

Satuan Endapan Aluvial dicirikan dengan hadirnya material lepas


berukuran mulai dari lempung hingga berangkal.

Batulempung karbonatan dengan warna segar abu-abu gelap, warna


lapuk abu-abu, dengan ukuran butir lempung (<1/256mm), komposisi
monomineralik lempung dan semen karbonatan dengan struktur
sedimen berupa masif. Batulanau karbonatan dengan warna segar abu-
abu, warna lapuk abu-abu terang dengan ukuran butir lanau (1/16-
<1/256mm), komposisi mineral berukuran lanau dan semen karbonat
dengan struktur sedimen laminasi.

Batupasir yang dijumpai memiliki karakteristik berwarna segar


coklat muda, warna lapuk coklat, mempunyai ukuran butir pasir kasar
halus (1/2 - 1/8 mm), bentuk butir membundar, terpilah buruk, kemas
terbuka, komposisi fragmen : litik, matriks : litik, kuarsa, hornblende,
semen : karbonatan . Struktur sedimen yang dijumpai adalah perlapisan.

35
Konglomerat dengan warna segar coklat muda, warna lapuk coklat
dengan ukuran butir pasir sangat halus lempung (1/8 1/256 mm),
bentuk membundar, terpilah baik, kemas tertutup, komposisi fragmen :
andesit, litik, tuff, kalsilutit, matriks : litik, kuarsa, hornblende dan
semen : -. Struktur sedimen yang di jumpai masif.

Andesit yang dijumpai memiliki karakteristik berwarna segar abu


abu, berwarna lapuk coklat, hipokristalin, afanitik fenerik sedang,
subhedral anhedral, inequi-vitroverik, dengan komposisi mineral
masa dasar gelas (60%), plagioklas (30%), hernblende (8%), dan kuarsa
(2%), masif.

4.3.5.2 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan Endapan Aluvial menempati 4% dari luasan wilayah


penelitian. Pada peta geologi , satuan ini diberi warna jingga. Satuan ini
tersingkap setempat di Desa Sarwodadi

4.3.5.3 Umur

Endapan ini berumur Recent, akibat dari material yang terendapkan


di sekitar sungai muda (sungai Comal).

4.3.5.4 Lingkungan Pengendapan dan Mekanisme Pengendapan

Lingkungan pengendapannya berada di darat dengan mekanisme


pengendapan akibat dari transportasi hasil aktivitas gunung api.

4.3.5.5 Hubungan Stratigrafi

Satuan Endapan Aluvial secara stratigrafis merupakan endapan


termuda yang tersingkap pada daerah penelitian. Hubungan satuan
Endapan Aluvial dengan dengan satuan batupasir Halang dan satuan
batulempung karbonatan Rambatan adalah tidak selaras.

36