Anda di halaman 1dari 2

TELUR EMAS

Disebuah desa tinggal dua orang perempuan tua. Keduanya bertetangga dan belum
pernah menikah. Walaupun rumahnya berdekatan, perbedaannya sangat menjolok. Rumah yang
satu sangat mewah. Beratap genting dan beralas ubin. Jendela-jemdelanya dari kaca. Sehingga
seluruh perabotan yang mahal-mahal terlihat dari luar. Tapi penghuninya, perempuan kaya itu,
sangat kikir. Ia tidak suka membantu orang miskin.Ia curiga, sombong dan iri hati. Kalau orang
lain memiliki barang yang mahal, ia akan membeli barang yang jauh lebih mahal. Tak
seorangpun yang boleh melebihi hidupnya.

Lain halnya perempuan tua tetangganya. Ia sangat miskin. Rumahnya buruk, atapnya
bocor dan dinding-dindingnya dibuat dari gedek bangunan bekas. Setiap malam ia tidur di atas
tikar yang terhampar di tanah. Hidupnya juga amat sulit. Sepanjang hari ia pergi jauh kedalam
hutan mencari kayu api. Kayu api itu ditukar dengan beras atau jagung. Bila musim hujan tiba, ia
tidak bisa ke hutan dan tentu saja ia tidak mendapatkan kayu api. Terpaksa ia meminjam beras
atau jagung kepada orang lain. Syukur, masih ada orang yang belas kasihan. Orang-orang itu
tidak sampai hati melihat perempuan miskin yang baik hati itu kelaparan. Oleh karena itu ia
memberikan bahan makanan itu cuma-cuma.

Suatu hari seekor burung merpati jatuh di pekarangan rumah perempuan kaya. Sebelah
sayapnya patah karena kena bidikan ketapel. Perempuan kaya itu sangat marah. Ia tak mau
rumahnya dikotori oleh binatang itu. Ia menangkap burung itu lalu mencampakkannya ke tanah.
Dengan susah payah burung merpati itu terbang namun akhirnya jatuh di rumah perempuan
miskin.

Perempuan miskin memungut burung ma itu. Kasihan burung yang malang ini,
gumamnya. Ia mengelus-elus kepala dan punggung burung merpati itu. Ia lalu mengobati
lukanya yang patah. Berhari-hari perempuan yang miskin itu merawat, member makan dan
menidurkannya di dalam kurungan yang terbuka.Setelah sembuh lalu dilepaskannya.

Seminggu kemudian merpati itu dating lagi dan hinggap di atas rumah perempuan
miskin. Pasti ia lapar, piker perempuan miskin sambil menebar biji jagung dihalaman
rumahnya. Burung itu turun namun tidak memakan biji jagung, melainkan masuk kedalam
kurungan. Tak lama ia melahirkan sebutir telur. Betapa terkejutnya si perempuan miskin. Telur
emas, katanya girang.

Makin hari telur itu makin banyak. Perempuan miskin menyadari bahwa telur itu hadiah
dari Yang Maha Kuasa Ia menjual beberapa butir, lalu uangnya ia gunakan untuk membayar
utang, membeli bahan makanan dan memperbaiki rumah. Sebagian lagi disedekahkannya pada
orang llain yang membutuhkannya. Dan sebagian lagi disumbangkan kepada desa.

Tentu saja perempuan kaya tetangganya itu iri hati. Ia tidak suka melihat semua orang
berbaik hati kepada perempuan miskin itu. Ia menuduh perempuan miskin itu pencuri. Kalau
tidak mencuri dari mana kekayaannya? katanya kepada setiap orang. Lama kelamaan ia tak rela
melihat tangganya itu memiliki banyak telur emas. Dan telur itu berasal dari burung merpati
yang dicampakkannya dahulu. Timbul niat jahatnya. Pada suatu malam yang sepi ia menyelusup
masuk ke rumah perempuan yang miskin itu. Burung merpati itu dicurinya lalu dikurungnya
disalam kamar. Mulai besok aku akan mempunyai telur emas. Tak seorangpun di desa ini yang
akan melebihi kekayaannk, katanya menyombongkan diri.

Keesokan harinya, karena tidak sabar pagi-pagi benar perempuan kaya itu melihat
kurungannya. Ia segera menggapaikan tangannya ke bawah pantat burung merpati itu. Yang
dipegangnya bukannya telur emas melainkan segumpal tahi burung yang berbau tengik. Timbul
marahnya, kurang ajar! Awas, akan kubunuh kau ! teriaknya. Dibukanya kurungan itu namun
yang keluar seekor ular yang cukup besar menjulur-julurkan lidahnya. Perempuan tua itu lari
ketakutan. Ular! Tolong, ada ular ! teriaknya lagi. Orang-orang yang mendengar teriakannya
berlari membawa tongkat. Sayang mereka dating terlambat, perempuan tua itu didapatinya sudah
tidak bernapas lagi. Dan disebuah pohon dilihatnya seekor ular yang berubah menjadi burung
merpati. Sesaat kemudian burung itu terbang menuju kearah hutan #mako#

Moral cerita : Keserakahan tak patut dipelihara, tetapi rejeki dan karunia patut disyukuri.

Anda mungkin juga menyukai