Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada pemberian ASI sering terdapat masalah, baik pada teknik pemberian
ibu dan anatomi payudara ibu, serta kemampuan anak untuk menghisap dan
anatomi orofaringeal anak. Seringkali ketidakcukupan jumlah susu sering dinilai
sebagai suatu masalah, sehingga terjadi pemberhentian pemberian ASI. Seringkali
juga wanita mengeluh karena luka pada puting susu, dimana hal ini terjadi karena
posisi dan perlekatan anak yang salah ketika menyusui. Dalam keadaan normal,
wanita secara fisiologis mampu untuk memproduksi susu yang cukup.Kurangnya
pengertian dan pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui menyebabkan
ibu ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu botol (susu formula).
Kesehatan/status gizi bayi/anak serta kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada
ibu- ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini karena seorang ibu yang
berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan
untuk menerima informasi lebih tinggi.
Menyusui merupakan aktivitas yang sangat penting baik bagi ibu maupun
bayinya. Dalam proses menyusui terjadi hubungan yang erat dan dekat antara ibu
dan anak. Tentunya kaum ibu ingin dapat melaksanakan aktivitas menyusui
dengan nyaman dan lancar. Namun demikian, terkadang ada hal-hal yang
mengganggu kenyamanan dalam menyusui. Masalah-masalah yang sering dialami
oleh ibu sehubungan dengan menyusui dan bagaimana mengatasinya akan
dipaparkan pada pembahasan kali ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah masalah-masalah yang terjadi pada ibu saat pembererian ASI?
2. Apakah masalah yang terjadi pada bayi saat pemberian ASI?

C. Tujuan
1. Memberikan pengetahuan tentang masalah menyusui pada ibu.
2. Memberikan pengetahuan tentang masalah menyusui pada bayi.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang
berguna sebagai makanan bagi bayinya. ASI eksklusif adalah pemberian ASI
tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam
bulan. Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.
ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat
memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan
alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh
kembang yang optimal. Pada tahun 2001 World Health Organization / Organisasi
Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama
hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa
ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi.

B. Manfaat Asi Untuk Bayi


Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik,
terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu.
ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi
seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya.Pada umur 6 sampai 12
bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari
60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah
dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari
kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih
memberikan manfaat. ASI disesuaikan secara unik bagi bayi manusia, seperti
halnya susu sapi adalah yang terbaik untuk sapi.

2
C. Masalah Menyusui Pada Ibu
1. Payudara Bengkak (Engorgement)
Sekitar hari ketiga atau keempat sesudah ibu melahirkan, payudara sering
terasa lebih penuh, tegang, serta nyeri. Keadaan seperti itu disebut engorgement
(payudara bengkak) yang disebabkan oleh adanya statis di vena dan pembuluh
darah bening. Hal ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi.

Apabila dalam keadaan tersebut ibu menghindari menyusui karena alasan


nyeri lalu memberikan prelacteal feeding (makanan tambahan) pada bayi, keadaan
tersebut justru berlanjut. Payudara akan bertambah bengkak atau penuh karena
sekresi ASI terus berlangsung sementara bayi tidak disusukan sehingga tidak
terjadi perangsangan pada puting susu yang mengakibatkan refleks oksitosin tidak
terjadi dan ASI tidak dikeluarkan. Jika hal ini terus berlangsung, ASI yang
disekresi menumpuk pada payudara dan menyebabkan areola (bagian berwarna
hitam yang melingkari puting) lebih menonjol, puting menjadi lebih datar dan
sukar dihisap oleh bayi ketika disusukan. Bila keadaan sudah sampai seperti ini,
kulit pada payudara akan nampak lebih merah mengkilat, terasa nyeri sekali dan
ibu merasa demam seperti influenza.
Untuk mencegah terjadinya payudara bengkak, beberapa cara yang
dianjurkan antara lain sebagai berikut :
a. Menyusui bayi segera setelah lahir, apabila keadaan memungkinkan.
b. Menyusui bayi tanpa dijadwal (on demand / sesuka bayi).
c. Keluarkan asi dengan tangan atau pompa bila produksi melebihi kebutuhan
bayi.
d. Lakukan perawatan payudara pasca persalinan secara teratur (massase dan
kompres).
e. Menyusuinya pada payudara yang tegang jauh lebih lama dan sering.

3
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi payudara
bengkak adalah sebagai berikut :
a. Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek,
sehingga puting lebih mudah ditangkap/diisap oleh bayi.
b. Bila bayi belum dapat menyusu, asi dikeluarkan dengan tangan atau pompa
dan berikan pada bayi dengan cangkir atau sendok.
c. Tetap mengeluarkan asi sesering yang diperlukan sampai bendungan teratasi.
d. Berikan kompres dingin untuk mengurangi rasa sakit pada payudara,
dankompres hangat untuk memudahkan bayi mengisap (menangkap) puting
susu.
e. Bila ibu demam dapat diberikan obat penurun demam dan pengurang sakit.
f. Lakukan pemijatan pada daerah payudarah yang bengkak, bermanfaat untuk
membantu memperlancar pengeluaran asi.
g. Pada saat menyusui sebaiknya ibu tetap rileks
h. Makan-makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan
memperbanyak minum.
i. Jika ibu yang sedang menyusui terserang penyakit seperti : pilek, usahakan
tetap memberikan asi dengan meutup mulut dn hidung dengan masker.

2. Kelainan Puting Susu


Kebanyakan ibu tidak memiliki kelainan anatomis payudara. Meskipun
demikian, kadang-kadang dijumpai juga kelainan antomis yang menghambat
kemudahan bayi untuk menyusui, misalnya puting susu datar atau puting susu
terpendam (tertarik ke dalam). Disamping kelainan anatomis, kadang dijumpai
pula kelainan puting yang disebabkan oleh suatu proses, misalnya tumor.

4
Sebagian atau seluruh puting susu tampak terpendam atau masuk ke
dalam areola (tertarik ke dalam). Hal ini karena ada sesuatu di bawahnya yang
menarik puting ke dalam, misalnya tumor atau penyempitan saluran susu.
Kelainan puting tersebut seharusnya sudah dapat diketahui sejak hamil atau
sebelumnya sehingga dapat diperbaiki dengan meletakkan kedua jari telunjuk
atau ibu jari di daerah payudara, kemudian dilakukan pengurutan menuju ke
arah berlawanan. Perlu diketahui bahwa tidak semua kelainan tersebut di atas
dapat dikoreksi dengan cara tersebut. Untuk itu, ibu menyusui dianjurkan
untuk mengeluarkan ASI-nya dengan manual (tangan) atau pompa kemudian
diberikan pada bayi dengan sendok/pipet/gelas.

Penyebab puting terpendam


1) Adanya perlekatan yang menyebabkan saluran susu lebih pendek dari
biasanya sehingga menarik puting susu kedalam.
2) Kurangnya perawatan sejak dini pada payudara.
3) Penyusuan yang tertunda
4) Penyusuan yang jarang dan dalam waktu singkat.
5) Pemberian minum selain ASI
6) Ibu terlalu lelah dan tidak mau menyusui.

Cara penanganan puting susu terbenam


1) Saat memasuki usia kehamilan ke tujuh bulan, biasakan diri menarik
puting susu dengan jari tangan sampaia menonjol.
2) Adanya kemauan ibu untuk menyusui.
3) Pijat areola ketika mandi selama 2 menit.
4) Taring puting susu degan 4 jari dibawah dan ibu jari diatas ketika akan
menyusui.
5) Gunakan bantuan dengan menggunakan pompa payudara untuk menarik
payudara yang terbenam.

3. Putting Susu Nyeri (Sore Nipple) dan Putting Susu Lecet/ Luka
(Cracked Nipple)

5
Puting susu nyeri pada ibu menyusui biasanya terjadi karena beberapa
sebab sebagai berikut:
a. Posisi bayi saat menyusu yang salah, yaitu puting susu tidak masuk kedalam
mulut bayi sampai pada areola sehingga bayi hanya mengisap pada puting
susu saja. Hisapan/tekanan terus menerus hanya pada tempat tertentu akan
menimbulkan rasa nyeri waktu diisap, meskipun kulitnya masih utuh.
b. Pemakaian sabun, lotion, cream, alkohol dan lain-lain yang dapat mengiritasi
puting susu
c. Bayi dengan tali lidah (frenulum linguae) yang pendek sehingga menyebabkan
bayi sulit mengisap sampai areola dan isapan hanya pada putingnya saja.
d. Kurang hati-hati ketika menghentikan menyusu (mengisap).
Puting susu nyeri biasanya dapat disembuhkan setelah memperhatikan
tehnik menyusui yang benar, khususnya letak puting dalam mulut bayi, yaitu bibir
bayi menutup areola sehingga tidak nampak dari luar, puting di atas lidah bayi,
areola di antara gusi atas dan bawah.

Untuk menghindari puting susu nyeri atau lecet, perlu diperhatikan hal-
hal sebagai berikut :
a. Tidak membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, lotion, cream, dan
obat-obat yang dapat mengiritasi.
b. Sebaiknya selesai menyusukan untuk melepaskan hisapan bayi, tekanlah dagu
bayi atau pijit hidungnya atau masukkan jari kelingking ibu yang bersih ke
mulut bayi.
c. Ibu dianjurkan tetap menyusui bayinya mulai dari puting yang tidak sakit serta
menghindari tekanan lokal pada puting dengan cara merubah-rubah posisi

6
menyusui. Untuk puting yang sakit dianjurkan mengurangi frekuensi dan
lamanya menyusui.
Apabila dengan tindakan tersebut di atas puting tetap nyeri, sebaiknya
dicari sebab-sebab lain (misalnya moniliasis). Puting susu lecet/luka akan
memudahkan terjadinya infeksi pada payudara (mastitis).

4. Saluran Susu Tersumbat (Obstructive Duct)


Saluran susu tersumbat (obstructive duct) adalah suatu keadaan dimana
terjadi sumbatan pada satu atau lebih saluran susu yang disebabkan oleh tekanan
jari waktu menyusui atau pemakaian BH yang terlalu ketat. Hal ini juga dapat
terjadi karena komplikasi payudara bengkak yang berlanjut yang mengakibatkan
kumpulan ASI dalam saluran susu tidak segera dikeluarkan sehingga merupakan
sumbatan. Sumbatan ini pada wanita yang kurus dapat terlihat dengan jelas
sebagai benjolan yang lunak pada perabaannya.
Untuk mengatasi terjadinya saluran susu tersumbat (obstructive duct) ada
beberapa hal yang dianjurkan, antara lain.
a. Sebaiknya ibu melakukan perawatan payudara setelah melahirkan dengan
teratur agar tidak terjadi stasis dalam payudara yang mengakibatkan terjadinya
radang payudara (mastitis).
b. Gunakan BH dengan desain menopang (menyangga), bukan menekan
payudara.
c. Keluarkan ASI setiap kali selesai menyusui bila payudara masih terasa penuh.
Sumbatan saluran susu ini harus segera diatasi karena dapat berlanjut
menjadi radang payudara (mastitis). Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak
pada payudara dapat diberikan kompres hangat dan dingin, yaitu kompres hangat
sebelum menyusui dengan tujuan mempermudah bayi mengisap puting susu dan
kompres dingin setelah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak pada
payudara.

5. Radang Payudara (Mastitis)


Radang payudara (mastitis) adalah infeksi yang menimbulkan reaksi
sistemik (seperti demam) pada ibu. Hal ini biasanya terjadi pada 1-3 minggu

7
setelah melahirkan dan sebagai komplikasi saluran susu tersumbat. Keadaan ini
biasanya diawali dengan puting susu lecet/luka. Gejala-gejala yang bisa diamati
pada radang payudara antara lain kulit nampak lebih merah, payudara lebih keras
serta nyeri tekan dan berbenjol-benjol (merongkol).

Keadaan ini disebabkan kurangnya asi diisap/dikeluarkan atau dikeluarkan


penghisapan yang tidak efektif, dapat juga karena kebiasaan menekan payudarah
dengan jari atau karena tekanan baju atau bra, serta pengeluaran asi yang kurang
baik pada payudara yang besar, terutama pada bagian bawah payudara yang
menggantung.
Ada 2 jenis mastitis, yaitu yang terinfeksi milk statis disebut non infective
mastitis dan yang telah terinfeksi bakteri : infective mastitis. Lecet pada kulit
yang mengundang infeksi bakteri.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, ibu perlu dianjurkan agar tetap
menyusui bayinya supaya tidak terjadi stasis dalam payudara yang cepat
menyebabkan terjadinya abses. Ibu perlu mendapatkan pengobatan (Antibiotika,
antipiretik/penurun panas, dan analgesik/pengurang nyeri) serta banyak minum
dan istirahat untuk mengurangi reaksi sistemik (demam). Bila mana mungkin, ibu
dianjurkan melakukan senam laktasi (senam menyusui) yaitu menggerakkan
lengan secara berputar sehingga persendian bahu ikut bergerak ke arah yang sama.
Gerakan demikian ini akan membantu memperlancar peredaran darah dan limfe di
daerah payudara sehingga statis dapat dihindari yang berarti mengurangi
kemungkinan terjadinya abses payudara.

6. Abses Payudara
Kelanjutan/komplikasi dari radang payudara akan menjadi abses. Hal ini
disebabkan oleh meluasnya peradangan dalam payudara tersebut dan
menyebabkan ibu tampak lebih parah sakitnya, payudara lebih merah mengkilap,

8
benjolan tidak sekeras seperti pada radang payudara (mastitis), tetapi tampak lebih
penuh/bengkak berisi cairan. Bila payudara seperti ini perlu segera diperiksakan
ke dokter ahli supaya mendapat tindakan medis yang cepat dan tepat. Mungkin
perlu dilakukan tindakan insisi untuk drainase, pemberian antibiotik dosis tinggi
dan analgesik.

Ibu dianjurkan banyak minum dan istirahat. Bayi dihentikan untuk


menyusui sementara waktu pada payudara sakit dan setelah sembuh dapat
disusukan kembali. Akan tetapi, bayi tetap bisa menyusui pada payudara yang
sehat tanpa dijadwal (sesuka bayi).

7. Air Susu Kurang


Masih banyak ibu mengira bahwa mereka tidak mempunyai cukup banyak
ASI untuk bayinya, sehingga keinginan untuk menambah susu formula atau
makanan tambahan sangat besar.
Dugaan makin kuat apabila bayi sering menangis/bayi menolak menyusu,
tinja bayi keras kering atau berwarna hijau, payudara tidak membesar selama
kehamilan atau asi tidak keluar pasca kelahiran, berat bayi meningkat kurang dari
rata-rata 500 gram perbulan, berat badan bayi dalam waktu 2 minggu belum
kembali, mengompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam cairan urine pekat
bau berwarna kuning. pada ibunya dan terasa kosong/lembek meskipun produksi
ASI cukup lancar.
Menilai kecukupan ASI sebenarnya bukan dari hal tersebut di atas tapi
terutama dari berat badan bayi. Apabila ibu mempunyai status gizi yang baik, cara
menyusui benar, secara psikologis percaya diri akan kemauan dan kemampuan
untuk bisa menyusui bayinya serta tidak ada kelainan pada payudaranya maka

9
akan terjadi kenaikan berat badan pada 4-6 bulan pertama usia bayi. Hal ini dapat
dilihat dari KMS (Kartu Menuju Sehat) yang diisi setiap kali penimbangan di
Posyandu. Apabila tidak terjadi kenaikan berat badan bayi sesuai dengan usianya
biasanya hal ini disebabkan oleh jumlah ASI yang tidak mencukupi sehingga
diperlukan tambahan sumber gizi yang lain.

D. Masalah Menyusui Pada Bayi


Masalah pada bayi dapat berupa bayi bingung puting, bayi dengan kondisi
tertentu seperti BBLR, ikterus, bibir sumbing, bayi dengan lidah pendek(lingual
frenulum)

1. Bayi Bingung Puting (Nipple Confusion)


Bingung Puting(Nipple Confusion) terjadi akibat pemberian susu formula
dalam botol yang berganti-ganti. Hal ini akibat mekanisme menyusu pada puting
susu ibu berbeda dengan mekanisme menyusu pada botol. Menyusu pada ibu
memerlukan kerja otot-otot pipi, gusi, langit-langit dan lidah. Sedangkan menyusu
pada botol bersifat pasif, tergantung pada faktor pemberi yaitu kemiringan botol
atau tekanan gravitasi susu, besar lubang dan ketebalan karet dot.
Tanda bayi bingung puting antara lain:
a. Bayi menolak menyusu.
b. Isapan bayi terputus-putus dan sebentar-bentar.
c. Bayi mengisap puting seperti mengisap dot.
Penjegahannya yaitu:
a. Cara menyusu yang tepat
b. Menyusui lebih lama dan sering
c. Di perlukan kesabaran
d. Diusahakan bayi hanya menyusu pada ibu (ASI eksklusif)
e. Melakukan perawatan payudara

2. Bayi dengan BBLR dan Bayi Prematur


Bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi prematur maupun bayi kecil
mempunyai masalah menyusui karena

10
a. refleks menghisapnya lemah.
b. Bayi cepat lelah
c. Ketika menyusu sering tersedak sehingga bayi malas menghisap
Oleh karena itu,Bayi harus sering dilatih untuk menyusu.
Pada bayi prematur susui dengan sering walau pendek-pendek, rangsang
dengan sentuh langit-langit bayi dengan jari ibu yang bersih, jika tidak dapat
menghisap berikan dengan pipa nasogastrik, tangan dan sendok.
Uraian sesuai dengan umur bayi adalah sebagai berikut :
a. Bayi umur kehamilan <30 minggu : BBL <1250 gr. Biasanya diberi cairan
infus selama 24-28 jam lalu diberikan asi menggunakan pipa nasogastrik.
b. Usia 30-32 minggu : BBL 1250-1500 gr. Dapat menerima asi dari sendok 2
kali sehari, namun masih menerima makanan lewat pipa, lama kelamaan
makanan pipa makin berkurang dan asi ditingkatkan.
c. Usia 32-34 minggu : BBL 1500-1800 gr bayi mulai menyusui langsung dari
payudara namun perlu kesabaran.
d. Usia kurang >34 minggu : BBL > 1800 gr mendapatkan semua kebutuhn dari
payudara.

3. Bayi dengan Ikterus


Ikterik pada bayi sering terjadi pada bayi yang kurang mendapatkan ASI.
Ikterik dini terjadi pada bayi usia 2-10 hari yang disebabkan oleh kadar bilirubin
dalam darah tinggi.
Untuk mengatasi agar tidak terjadi hiper bilirubinemia pada bayi maka:
a. Segeralah menyusuibayi setelah lahir.
b. Menyusuibayi, sesering mungkin tanpa jadwal dan on demand.
Oleh karena itu, menyusui dini sangat penting karena bayi akan mendapat
kolustrum. Kolustrum membantu bayi mengeluarkan mekonium, bilirubin dapat
dikeluarkan melalui feses sehingga mencegah bayi tidak kuning.

4. Bayi dengan Bibir Sumbing


Bayi dengan bibir sumbing tetap masih bisa menyusu. Pada bayi dengan
bibir sumbingpallatum molle (langit-langit lunak) dan pallatum durum (langit-

11
langit keras), dengan posisi tertentu masih dapat menyusu tanpa kesulitan.
Meskipun bayi terdapat kelainan, ibu harus tetap menyusui karena dengan
menyusui dapat melatih kekuatan otot rahang dan lidah. Memperbaiki
perkembangan bicara mengurangi resiko terjadinya otitis media.
Anjuran menyusuiuntuk bayi palatoskisis pada keadaan ini dengan cara:
a. Posisi bayi duduk
b. Saat menyusui, puting dan areola dipegang.
c. Ibu jari digunakan sebagai penyumbat celah pada bibir bayi.
d. Asi perah diberikan pada bayi dengan labiopalatoskisis (sumbing pada bibir
dan langit-langit).
Sedangkan bayi yang mengalami labiopalatoskisis diberikan asi dengan
sendok, pipet, dan dot panjang.

5. Bayi dengan Lidah Pendek (Lingual Frenulum)


Bayi dengan lidah pendek atau lingual frenulum (jaringan ikat
penghubung lidah dan dasar mulut) yang pendek dan tebal serta kaku tak elastis,
sehingga membatasi gerak lidah dan bayi tidak dapat menjulurkan lidahnya untuk
mengurut puting dengan optimal.
Akibat lidah bayi tidak sanggup memegang puting dan areola dengan baik,
maka proses laktasi tidak dapat berjalan dengan sempurna. Oleh karena itu, ibu
dapat membantu dengan menahan kedua bibir bayi segera setelah bayi dapat
menangkap putting dan areola dengan benar. Kemudian posisi kedua bibir bayi
dipertahankan agar tidak berubah-ubah.

E. Ibu Menyusui dengan Penyakit


1. Ibu dengan Penyakit HIV
Padatahun 2001, Persatuan Kesehatan Dunia (the World Health Assembly)
mengeluarkan rekomendasi bahwa bayi harus diberikan ASI secara eksklusif
selama 6 bulan pertama dalam kehidupannya untuk mendapatkan tingkat
pertumbuhan, perkembangan serta kesehatan yang optimal. Setelahitu, bayi juga
harus mendapatka nmakanan pendamping yang bergizi dan jugaa bermanfaat
selain ASI yang diberikan sampai usia 24 bulan (WHO, 2007).

12
Pemberian ASI eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan bayi
dikaitkan dengan risiko penularan HIV yang justru tiga hingga empat kali lipat
lebih rendah dibandingkan bayi yang mendapat ASI namun juga mengasup susu
lain atau makanan lain.
Ibu dengan HIV positif dihadapkan pada dua pilihan sulit, menyusui
belum mengerti tehnik menyusuinya sehingga ternjadi MTCT (Mother-to-Child
Transmission), tidak menyusui dan tidak AFASS sehingga bayi menjadi kurang
gizi, diare, atau pneumonia. Konseling pemberian makan bayi pada ibu HIV dapat
membantu ibu HIV menentukan pilihan yang terbaik untuk bayinya.

Tabel Perkiraan angka mutlak MTCT HIV dengan waktu transmisi, tanpa
intervensi
Tingkat penularan HIV (%)
waktu TidakMenyusui Menyusui 6 menyusui 18-24
penularan HIV bulan bln

Selama 50 10 5 10 5 10
kehamilan
Selama 10 15 10 15 10 15
persalinan
Selama 0 5 10 15 20
menyusui
Keseluruhan 15 25 20 35 30 45

2. Bayi dengan Ibu Penyakit Tuberculosis (TBC)


Menurut WHO, TBC tidak termasuk dalam penghalang ibu untuk
menyusui. Ibu justru disarankan melanjutkan pengobatan hingga sembuh,
sehingga tidak menulari bayinya, kata konselor ASI, Danar Kusumawardhani
dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) pada seminar tentang persiapan
menyusui bersama New Parent Academy, Minggu (23/3/2014).
Pengobatan secara teratur bisa menekan terjadinya infeksi bakteri
penyebab TBC. Pengobatan dengan rifampisin dan isoniazid selama dua minggu

13
akan menyebabkan pasien noninfeksius sehingga tidak menularkan bakteri pada
lingkungan sekitar, termasuk anaknya yang masih menyusu.
Ibu dengan TBC tidak perlu khawatir pada kualitas ASI yang dihasilkan.
Pasalnya, konsentrasi obat TBC yang masuk ke dalam ASI sangat sedikit
sehingga tidak menimbulkan efek keracunan pada bayi. Ibu yang menyusui
biasanya mendapat pengobatan isoniazid dan suplementasi pyridoxine (vitamin
B6), sebanyak 10-25 miligram per hari. Bakteri penyebab TBC tidak menular
melalui ASI, sama halnya dengan obat untuk pemulihannya. Dengan ini maka ibu
dengan TBC tidak perlu khawatir melanjutkan pemberian ASI eksklusif maupun
hingga dua tahun.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
PemberianAsi merupakan aktivitas yang sangat penting baik bagi ibu
maupun bayinya. Dalam proses menyusui terjadi hubungan yang erat dan dekat
antara ibu dan anak. Dalam pelaksanaannya proses menyusui tidak selalu lancer
karena terdapat masalah-masalah dalam pemberian ASI baik dari ibu maupun
bayi.
Masalah Menyusui Pada Ibu yaitu Payudara Bengkak (Engorgement),
Kelainan Puting Susu, Putting Susu Nyeri (Sore Nipple) dan Putting Susu Lecet
(Cracked Nipple), Saluran Susu Tersumbat (Obstructive Duct), Radang Payudara
(Mastitis), Abses Payudara, Air Susu Kurang.
Masalah Menyusui Pada Bayi yaitu Bayi Sering Menangis, Bayi Bingung
Puting (Nipple Confusion),Bayi dengan BBLR dan Bayi Prematur, Bayi dengan
Ikterus, Bayi dengan Bibir Sumbing, Bayi Kembar, Bayi dengan Lidah Pendek
(Lingual Frenulum).

B. Saran
Bagi kita tenaga kesehatan sangat penting untuk mengetahui masalah-
masalah yang terjadi dalam pemberian ASI baik dari ibu maupun bayi. Karena
dengan demikian kita dapat memberikan asuhan yang tepat pada ibu agar ibu
dapat mengatasi masalahnya lebih dini dan dapat dilakukannya sendiri maupun
dengan bantuan dari keluarga.

15
DAFTAR PUSTAKA

Danuatmaja,Bonny dan mila miliasari.2003.40 Hari Pasca Persalinan.


Jakarta:Puspa Swara

Chapman,Vicky.2006.Asuhan Kebidanan:Persalinan dan Kelahiran.Jakarta:EGC.

Soetjiningsih.1997.Asi Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan.Jakarta.EGC

Cadwell,Karin.2011.Manajemen Laktasi.Jakarta.EGC

16